Jumat, 09 April 2010

Toko Buku Gramedia vs. Amazon.com


Tradisi membaca yang cukup tangguh tampaknya terus tumbuh di kalangan masyarakat, terutama di kalangan kelas menengah perkotaan. Cobalah datang ke toko buku yang banyak tersebar di mal pada akhir minggu, maka kita akan animo pembeli yang antusias memborong beragam buku baru yang ditampilkan.

Dan tentu tak ada yang lebih beruntung pada kondisi pasar semacam itu selain jaringan toko buku Gramedia. Harus diakui jaringan ini telah menjelma menjadi semacam penguasa tunggal (hegemonic leader) dalam pasar retail buku di tanah air. Setiap kali saya berkunjung ke kota-kota besar di pelosok Nusantara, saya selalu melihat kehadirannya secara mencolok di setiap mal besar yang ada di kota tersebut.

Dan memang dalam hal koleksi dan desain interior gedungnya, Gramedia tampaknya jauh meninggalkan para pesaing terdekatnya, seperti Gunung Agung atau Kharisma. Di banyak toko Gramedia, kita bakal menemukan suasana interior yang lapang, nyaman dan setiap rak bukunya menawarkan beragam buku dengan topik yang sangat variatif. Apalagi jika Anda pernah datang ke toko Gramedia terbesar di Plaza Indonesia, Jakata……wow, desain interior dan penataan bukunya sungguh spektakuler.

Namun demikian dalam kompetisi buku-buku import (buku berbahasa Inggris), Gramedia rupanya cukup mendapat pesaing yang tangguh. Begitulah kita kemudian mengenal toko buku khusus berbahasa Inggris seperti Kinokuniya, Times Book store ataupun Periplus (toko buku Periplus di Bandara Soekarno Hatta adalah salah satu satu tempat favorit saya; saya selalu mampir dan membeli buku/majalah dari toko ini setiap kali saya datang ke bandara).

Selain pesaing toko off line seperti diatas, dalam pasar buku impor, Gramedia sejatinya memiliki pesaing yang jauh lebih tangguh, yakni Amazon.com. Kios Amazon ini kita tahu merupakan toko buku online terbesar di dunia (dulunya mereka hanya berjualan buku secara online, tapi kini juga berjualan musik, DVD, gadget dll melalui situs online mereka).

Sebagai toko buku terbesar di dunia, koleksi buku mereka hampir tak terhitung (dan koleksi buku impor Gramedia nyaris tidak ada apa-apanya dibanding Amazon). Kekuatan koleksi inilah yang membuat saya memutuskan menjadi pelanggan Amazon.com sejak tahun 1997 silam hingga hari ini.

Melakukan pembelian online malalui Amazon relatif simple. Rata-rata harga buku di Amazon sekitar U$ 15 plus biaya kirim $ 5/buku (jadi harga total rata-rata $ 20). Lama pengiriman sekitar 2 minggu. Kalau Anda atau kantor Anda membutuhkan buku manajemen/bisnis dengan judul yang spesifik, saya kira Amazon.com merupakan salah satu tempat alternatif terbaik (banyak buku manajemen bagus yang tidak tersedia di Gramedia, namun dengan mudah bisa kita beli via Amazon.com).

Selain menawarkan koleksi buku manajemen/bisnis yang lengkap, situs Amazon.con juga selalu menayangkan review menarik dari para pembeli/pengunjungnya. Selain itu, mereka juga selalu mengupdate daftar buku-buku best seller bidang manajemen dengan ekstensif. Pendeknya, melakukan browsing ke situs Amazon.com selalu merupakan wisata pengetahuan yang menyenangkan.

So, omong-omong mengenai pengalaman membeli buku via amazon.com, berikut daftar tiga buku yang rencananya akan saya beli mingggu ini secara online dari mereka.

happiness-re.jpgBuku yang pertama berjudul : Authentic Happiness - Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential. Penulis buku ini adalah Martin Seligman, profesor ilmu psikologi positive, sebuah cabang ilmu yang menawarkan kekuatan positive thinking dan spirit optimisme. Tesis utama buku ini : renggutlah kebahagiaan sejati, sebab dengan itu Anda baru bisa menjelma menjadi insan yang produktif nan mulia.

the-presentation-secrets-of-steve-jobs-re.jpgBuku kedua : The Presentation Secrets of Steve Jobs - How to Be Insanely Great in Front of Any Audience. Banyak orang bilang Steve Job, pendiri Apple, adalah salah satu presentator legendaris dan terbaik di dunia. Ia hanya melakukan presentasi ketika Apple melakukan peluncuran produk baru (iPod, iPhone, iMac, dll). Ia sendiri selalu yang akan naik panggung dan mempresentasikan kekuatan produknya. Nah disinilah, ribuan audien yang menjadi pemirsanya selalu dibuat tertegun-tegun dengan gaya presentasi Steve Jobs. Buku ini akan memberitahu kepada kita rahasia dibalik penampilan presentasi Steve Jobs yang selalu memukau itu.

coveraudacity-to-win-re.jpgBuku ketiga : The Audacity to Win -The Inside Story of Barack Obama’s Historic Victory. Buku ini ditulis oleh David Pluoffe, mantan campaign manager yang menjadi arsitek kemenangan historis Obama. Buku ini saya kira memberikan pelajaran sangat penting tentang bagaimana meracik sebuah strategi, dan bagaimana kemudian strategi itu dieksekusi dengan penuh kesempurnaan.

Akhir kata, salam selamat Senin pagi yang produktif teman. Selamat bekerja and have a wonderful week !!

--

"Jika Anda melihat apa yang Anda miliki dalam hidup, Anda akan selalu memiliki lebih banyak. Jika Anda melihat apa yang tidak Anda miliki dalam hidup, Anda tidak akan pernah cukup."

Oprah Winfrey
Televisi Host, Produser, dan dermawan

--

"Waspadalah terhadap pikiran yang Anda simpan, karena segala sesuatu dalam realitas mewujudkan dari pikiran."

Justin Palmer
Tahun Kedua Mahasiswa

"Mereka yang tujuan cenderung berhasil karena mereka fokus dan tahu ke mana mereka pergi, sedangkan yang tanpa tujuan tidak."

Ted Karam
Penulis, dari buku baru Jumping On Air: Bangkit Anda Joy - Empower Your Life

"Bagaimana kita berpikir menunjukkan melalui bagaimana kita bertindak. Sikap adalah cermin pikiran. Mereka mencerminkan berpikir."

David J. Schwartz
Trainer dan Pengarang

"Kata-kata tidak akan pernah cukup menyampaikan dampak luar biasa sikap kita terhadap kehidupan. Semakin lama saya hidup semakin yakin saya menjadi bahwa hidup adalah 10 persen apa yang terjadi pada kita dan 90 persen bagaimana kita menanggapinya."

Charles Swindoll
Pendeta dan Pengarang

"Ini bukan apa yang Anda lakukan sesekali, melainkan apa yang Anda lakukan hari demi hari yang membuat perbedaan."

Jenny Craig
Diet Spesialis

"Meskipun Anda mungkin ingin bergerak maju dalam kehidupan Anda, Anda mungkin memiliki satu kaki di rem. Dalam rangka untuk bebas, kita harus belajar bagaimana melepaskannya. Lepaskan terluka. Lepaskan ketakutan. Menolak untuk menghibur rasa sakit lama Anda . Energi yang diperlukan untuk menggantung ke masa lalu menahan Anda dari kehidupan baru. Apa yang kau akan melepaskan hari ini? "

Mary Manin Morrissey
Pencipta Penguasaan Keajaiban Konferensi

Jika saya menerima Anda sebagai Anda, saya akan membuat Anda lebih buruk, namun jika saya memperlakukan anda seolah-olah Anda adalah apa yang Anda mampu menjadi, saya membantu Anda menjadi itu."

Johann Wolfgang von Goethe
1749-1832, Penulis dan Filsuf


Melejitkan Kinerja Bisnis dengan Formula 7S

Dinamika kompetisi bisnis terus berlangsung nyaris tanpa rehat. Disana setiap organisasi terus didorong memeras peluh demi pelayanan terbaik kepada pelanggannya. Disana nyaris tak ada kata maaf bagi perusahaan yang hanya menghasilkan produk abal-abal; atau memberikan pelayanan yang kering akan inovasi. Disana, setiap buku sejarah akan mencatat siapa organisasi yang terus bisa mengibarkan benderanya, dan siapa yang harus mengucapkan salam sayonara.

Dalam konteks itulah, para pelaku bisnis beruntung lantaran mereka pernah mengenal sebuah jurus yang bertajuk formula 7S. Sejatinya, skema 7S ini dirajut pertama kali oleh McKinsey, sebuah lembaga konsultan manajemen paling prestisius di kolong jagat. Meski diciptakan sekitar 30 tahun silam, formula ini rasanya masih memiliki relevansi yang kuat dengan dunia bisnis mutakhir. Dan karena itulah, kita mencoba membincangkannya pada kesempatan kali ini.

Formula 7S sendiri pada dasarnya merupakan singkatan dari 7 dimensi yang dianggap merupakan pilar bagi tegaknya sebuah kejayaan bisnis. Mari kita mencoba menelisiknya satu per satu.

S yang pertama merujuk pada kata Strategy – atau sebuah elemen vital yang acap menentukan wajah organisasi bisnis ditengah persaingan yang brutal. Yamaha pada tahun 2010 ini akan menjadi nomer satu di tanah air lantaran strategi brilian mereka beberapa tahun silam : yakni ketika mereka menggebrak pasar dengan motor skutik, jauh mencuri start dibanding Honda yang kini tengah kalang kabut. Aqua menjadi nomer satu hingga hari ini lantaran strategi mereka yang sangat dramatis : melakukan inovasi radikal dengan membuat air mineral sebagai minuman utama – sesuatu yang nyaris dianggap sebagai kegilaan ketika pertama kali dimunculkan.

S yang kedua adalah Structure. Duh, berapa diantara kita yang acap frustasi lantaran bebalnya rantai birokrasi di kantor, atau karena lenyapnya komunikasi produktif antar bagian/departemen. Ini semua mungkin terjadi karena bentuk struktur organisasi yang tidak ramping. Atau juga struktur yang terlalu kaku sehingga menciptakan tembok-tembok pembatas yang kokoh diantara departemen yang ada dalam organisasi. Pesannya jelas : bentuk struktur yang tidak pas ternyata diam-diam bisa berdampak sangat destruktif bagi kinerja bisnis.

S yang ketiga adalah System. Astra menjadi handal lantaran mereka punya sistem pengembangan SDM yang cemerlang. BCA menjadi terdepan lantaran mereka punya sistem IT perbankan yang paling pioner diantara yang lainnya. Dan Apple berkali-kali membuat orang terkesima dengan produknya yang cantik nan eksotis lantaran mereka punya sistem inovasi yang mempesona. Jadi bagaimana dengan sistme pada kantor dimana Anda bekerja? Apakah sistem manajemen mutu-nya sudah oke? Apakah sistem pengembangan SDM-nya sudah prima? Atau apakah sistem IT-nya sudah ekselen?

S yang keempat dan kelima adalah Skills dan Staff. Kedua elemen ini saling berkaitan erat : esensinya adalah bagaimana sebuah perusahaan mesti secara konstan mengembangkan ketrampilan (skills), sikap kerja dan pengetahuan para karyawannya. Merujuk pada best practice di Asia, setiap perusahaan sebaiknya memberikan training minimal 40 jam (5 hari) setiap tahun kepada setiap karyawannya. Tentu saja pelatihan dan pengembangan skills ini selalu harus juga disertai dengan skema monitoring yang sistematis; untuk memastikan bahwa skills itu bisa diaplikasikan buat melejitkan kinerja bisnis.

7s-mckinsey-model.jpgS yang keenam dan ketuju adalah Style dan Shared Values. Style merujuk pada gaya kepemimpinan (leadership style) yang ada dalam organisasi. Sementara shared values adalah nilai budaya kerja yang hidup ditengah organisasi tersebut. Kedua elemen ini biasanya saling berkelindan. Gaya kepemimpinan dari top management (terutama owner) yang visioner cenderung akan menghasilkan budaya organisasi yang visoner pula.

Kedua elemen tersebut memiliki peran yang amat penting bagi kinerja bisnis. Kepemimpinan yang tangguh pada semua lini, dan terutama pada jajaran top management, akan memberikan dampak yang dramatis bagi peningkatan kinerja bisnis. Kepemimpinan yang tangguh ini juga diharapkan akan memberikan kontribusi penting bagi tumbuh dan mekarnya budaya organisasi yang berorierntasi pada prestasi atau performance-based culture. Dan bukan budaya kerja yang saling menyalahkan, budaya kerja dengan mutu pas-pasan, atau budaya kerja yang miskin kreativitas.

Demikianlah 7 pilar kunci yang mesti dirawat dengan penuh ketulusan. Jika segenap elemen ini bisa dirajut dengan optimal, maka sinergi 7 pilar ini niscaya akan membuka rute bagi perjalanan bisnis yang cemerlang. Sebaliknya, jika 7 pilar itu terus diabaikan maka gerak kinerja bisnis akan selalu terkoyak penuh luka. Dan itu artinya : sebentar lagi kidung kematian (alias kebangkrutan bisnis) mungkin harus segera dilantunkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar