Sabtu, 10 April 2010

I Am A Hawk

[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend

Penulis : Andrie Wongso
Senin, 09-Juli-2007

This story all started when an earthquake happened in a far distance. Trees fell down, wind blew very fast, and loud cracking noise was everywhere, land tore down to two pieces. After the disaster, a young farmer happened to pass the area. He saw a broken nest under a tree that attracted him. It seemed like it fell down from a tree because of the quake. He found an egg in the nest. He was amazed to see its size as it was much bigger than chicken eggs. He decided to take the egg home to have one of his laying hens to brood it.

After a few week, the giant egg finally hatched following other eggs that had hatched before. It was a bird, looked like chicken but just bigger. The hen thought the bird was just like her other chicks, so she raised him. Ever since, he lived with other chicks. He ate, made noise and played with his fellow chicks. He felt like the members of the family.

One day, up on the sky, there was a hawk flying around fearlessly up on the sky. He flew around, went down and circled in the air like the king of the air. From the distance, his eyes carefully watched all around to find targets. At the same time, the weird chicken looked up at the sky and felt excited to see the hawk.

"Wow, what is that flying up there in the sky ? It was so great, so brave and the wing is so beautiful. The voice is roaring up there, I can hear it from here," he said excitedly. Then he turned sad. " I wish I could fly like that. I must be very proud and happy," whispered the bird


One day, the hawk flew down circling the young bird. "Hey, you….!" shouted the hawk. "Why do you just look up to the sky and walk, not fly …" Come on, you have to fly…!"
The young chicken was so surprised. "What, you want me to fly? You are not serious are you? I cannot fly. I was born to walk," answered the young chicken.
"You are wrong…? You are a hawk. You can fly just like me!" shouted the hawk to remind him of what he really was.
"No. I am different from you! I do dream that I could fly like you, but this is my faith. I will never fly."
The hawk began to lose his patience. Then he flew up and down as fast as he could, he grabbed the bird with his feet and took him flying. " Now, get ready, I will let you off…spread your wings as hard you can !"
And hop… the hawk let him off in the air. He was so afraid; he pushed himself to spread his wings as hard as he could. After a few moment, he could control his balance and fly. He just realized that he really could fly. " Hi I am flying. I don't fall. I am really flying… I really can fly !" he shouted very loudly and happily.
He then happily started his new life as hawk. " I am a hawk. The land is not my place. I don't have to walk to find food. I belong to the air. I will fly wherever I want, I will travel the world.

Dear readers,
The story reminds us of all good potencies we have deep inside us. As human being, all of us have talents and potencies. But most of the time, we just do not see it. We never realize their existence. They are buried deep down inside because we dare not to try to push them out. Like what I always say, "All things are impossible simply because we never try them."

If I look back and think about my formal education, that I never finish my elementary school, it seems that it is impossible for me to be a motivator, Indonesia's No. 1 motivator as the media says. Speaking on stage, sharing spirit to hundreds or thousands of audience, sharing experience in seminar, all of them are activities that I have never imagined before. I really do not believe that it happens to me.
I never blame my parents that I never go to school, not because I am not smart. It was due to the condition of my family that stopped me from finishing my school. With such a background, it is normal if I am poor, stupid and I have failed my life. I should be a blue collar worker; such as office boy, porter or others.

I realized with minimum formal education that I posses, I must drive my self with strong effort. I promised that I must study and study, work hard and be tough in living this life. I don't want to give up to my condition. I always know that what I am doing is basically right. I always learn and work hard. And as the result, there is no single effort in this life that does not bring any result to me; even you can enjoy the joy in short time.
Now I am in a phase of life in which I can enjoy and harvest the result of my hard work and strong willingness to keep on learning. Today, I can stand tall and greet everyone one," Great success, excellent." I also always try to share my philosophy of life to anyone who would like to learn from me, "success is my right. " Success is my right, your right. It belongs to anyone who strives hard for it.

Let's find and improve all your potencies. You will be surprised to find out how great you are.

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Anjing Yang Setia
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Senin, 09-Juli-2007

Dikisahkan, di sebuah dusun tinggallah keluarga petani yang memiliki seorang anak masih bayi. Keluarga itu memelihara seekor anjing yang dipelihara sejak masih kecil. Anjing itu pandai, setia, dan rajin membantu si petani. Dia bisa menjaga rumah bila majikannya pergi, mengusir burung-burung di sawah dan menangkap tikus yang berkeliaran di sekitar rumah mereka. Si petani dan istrinya sangat menyayangi anjing tersebut.

Suatu hari, si petani harus menjual hasil panennya ke kota. Karena beban berat yang harus di bawanya, dia meminta istrinya ikut serta untuk membantu, agar secepatnya menyelesaikan penjualan dan sesegera mungkin pulang ke rumah. Si bayi di tinggal tertidur lelap di ayunan dan dipercayakan di bawah penjagaan anjing mereka.

Menjelang malam setiba di dekat rumah, si anjing berlari menyongsong kedatangan majikannya dengan menyalak keras berulang-ulang, melompat-lompat dan berputar-putar, tidak seperti biasanya. Suami istri itu pun heran dan merasa tidak tenang menyaksikan ulah si anjing yang tidak biasa. Dan Betapa kagetnya mereka, setelah berhasil menenangkan anjingnya…astaga, ternyata moncong si anjing berlumuran darah segar.
“Lihat pak! Moncong anjing kita berlumuran darah! Pasti telah terjadi sesuatu pada anak kita!” teriak si ibu histeris, ketakutan, dan mulai terisak menangis.
“Ha…benar! Kurang ajar kau anjing! Kau apakan anakku? Pasti telah kau makan!” si petani ikut berteriak panik.

Dengan penuh kemarahan, si petani spontan meraih sebuah kayu dan secepat kilat memukuli si anjing itu dan mengenai bagian kepalanya. Anjing itu terdiam sejenak. Tak lama dia menggelepar kesakitan, memekik perlahan dan dari matanya tampak tetesan airmata, sebelum kemudian ia terdiam untuk selamanya.

Bergegas kedua suami istri itu pun berlari masuk ke dalam rumah. Begitu tiba di kamar, tampak anak mereka masih tertidur lelap di ayunan dengan damai. Sedangkan di bawah ayunan tergeletak bangkai seekor ular besar dengan darah berceceran bekas gigitan.

Mereka pun segera sadar bahwa darah yang menempel di moncong anjing tadi adalah darah ular yang hendak memangsa anak mereka. Perasaan sesal segera mendera. Kesalahan fatal telah mereka lakukan. Emosi kemarahan yang tidak terkendali telah membunuh anjing setia yg mereka sayangi. Tentu, penyesalan mereka tidak akan membuat anjing kesayangan itu hidup kembali.

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Murid Si Pematung
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Rabu, 25-Juli-2007

Alkisah, di pinggir sebuah kota, tinggal seorang seniman pematung yang sangat terkenal di seantero negeri. Hasil karyanya yang halus, indah, dan penuh penghayatan banyak menghiasi rumah-rumah bangsawan dan orang-orang kaya di negeri itu. Bahkan, di dalam istana kerajaan hingga taman umum milik pemerintah pun, dihiasi dengan patung karya si seniman itu.

Suatu hari, datang seorang pemuda yang merasa berbakat memohon untuk menjadi muridnya. Karena niat dan semangat si pemuda, dia diperbolehkan belajar padanya. Bahkan, ia juga diijinkan untuk tinggal di rumah paman si pematung.

Sejak hari itu, mulailah dia belajar dengan tekun, mengukur ketepatan bahan adonan semen, membuat rangka, cara menggerakkan jari-jari tangan, dan mengenali setiap tekstur sesuai bentuk dan jenis benda yang akan dibuat patung, dan berbagai kemampuan mematung lainnya.

Setelah belajar sekian lama, si murid merasa tidak puas. Sebab, menurutnya, hasil patungnya belum bisa menyamai keindahan patung gurunya. Dia pun kemudian menganalisa dengan seksama, lantas memutuskan meminjam alat-alat yang biasa dipakai gurunya. Dia berpikir, rahasia kehebatan sang guru pasti di alat-alat yang dipergunakan.

“Guru, bolehkan saya meminjam alat-alat yang biasa Guru pakai untuk mematung? Saya ingin mencoba membuat patung dengan memakai alat-alat yang selalu dipakai guru agar hasilnya bisa menyamai patung buatan Guru.” “Silakan pakai, kamu tahu dimana alat-alat itu berada kan? Ambil saja dan pakailah,” jawab sang guru sambil tersenyum.

Selang beberapa hari, dengan wajah lesu si murid mendatangi gurunya dan berkata, “Guru, saya sudah berusaha dan berlatih dengan tekun sesuai petunjuk Guru, memakai alat-alat yang biasa dipakai Guru. Kenapa hasilnya tetap tidak sebagus patung yang Guru buat?”

“Anakku, gurumu ini belajar dan berlatih membuat patung selama puluhan tahun. Mengamati obyek benda, mencermati setiap gerak dan tekstur, kemudian berusaha menuangkannya ke dalam karya seni dengan segenap hati dan seluruh pikiran. Tidak terhitung berapa kali kegagalan yang telah dibuat, tapi tidak pernah pula berhenti mematung hingga hari ini. Bukan alat-alat bantu yang engkau pinjam itu yang kamu butuhkan untuk menjadi seorang pematung handal, tetapi jiwa seni dan semangat untuk menekuninya yang harus engkau punyai. Dengan begitu, lambat laun engkau akan terlatih dan menjadi pematung yang baik.”
“Terima kasih Guru, saya berjanji akan terus berlatih, mohon Guru bersabar mengajari saya.”

Pembaca yang berbahagia,
Untuk menciptakan sebuah maha karya, tidak cukup hanya mengandalkan talenta semata. Kita butuh proses belajar dan ketekunan berlatih bertahun-tahun. Bahkan, meski dibantu alat-alat secanggih apapun, hasil yang didapat sebenarnya sangat tergantung pada tangan-tangan terampil dan terlatih yang menggerakkannya.



Demikian pula dalam kehidupan ini, jika ingin meraih prestasi yang gemilang, ada harga yang harus kita bayar! Apapun bidang yang kita geluti, apapun talenta yang kita miliki, kita membutuhkan waktu, fokus dan kesungguhan hati dalam mewujudkannya hingga tercapai kesuksesan yang membanggakan!!!

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Aktualisasi Diri
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Jumat, 10-Agustus-2007

Seorang pemuda karyawan sebuah kantor sering mengeluhkan tentang karirnya. Ia merasakan bahwa setiap kali bekerja, tidak mendapatkan kepuasan. Karirnya sulit naik, Gaji yang didapat pun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena itu ia pun sering berpindah-pindah tempat kerja. Ia berharap, dengan cara itu ia bisa memperoleh pekerjaan yang memberikannnya kepuasan, dari segi karir, maupun gaji.

Setelah sekian lama ia berganti pekerjaan, bukannya kepuasan yang ia dapat, namun justru sering muncul penyesalan. Setiap kali pindah pekerjaan, ia merasa menjumpai banyak kendala. Dan, begitu seterusnya.

Suatu ketika, pemuda itu berjumpa dengan kawan lamanya. Kawan lama itu sudah menduduki posisi direktur muda di sebuah perusahaan. Pemuda itu pun lantas bertanya, bagaimana caranya si kawan bisa memperoleh kedudukan yang tinggi dengan waktu yang relative cepat.
"Kamu dekat dengan bosmu ya?" Tanya si pemuda penasaran.

Kawan lamanya itu hanya tersenyum. Ia tahu, si pemuda curiga padanya bahwa posisi saat ini dikarenakan faktor koneksi.

"Memang, aku dekat dengan bos aku." Jawab kawan itu, "Tapi aku juga dekat dengan semua orang di kantorku. Bahkan, sebenarnya aku berhubungan dekat dengan semua orang, baik dari yang paling bawah sampai paling atas. Kamu curiga ya? Aku bernepotisme karena bisa menduduki posisi tinggi dalam waktu cepat?"

Dengan malu, pemuda itu segera meminta maaf, "Bukan itu maksud aku. Aku sebenarnya kagum dengan kamu. Masih seusia aku, tapi punya prestasi yang luar biasa sehingga bisa jadi direktur muda."

Setelah menceritakan keadaannya sendiri, si pemuda kembali bertanya, “Kawan, apa sih sebenarnya rahasia sukses kamu?”

Dengan tersenyum bijak si kawan menjawab, "Aku tak punya rahasia apapun. Yang kulakukan adalah mengaktualisasikan diriku atau fokus pada kekuatan yang aku punyai, dan berusaha mengurangi kelemahan-kelemahan yang aku miliki. Itu saja yang kulakukan. Mudahkan?"

"Maksudmu bagaimana?"

"Aku pun sebenarnya pernah mengalami hal yang sama denganmu, merasa jenuh dengan pekerjaan yang ada dan juga tak bisa naik jabatan. Namun, suatu ketika, aku menemukan bahwa ternyata aku punya kemampuan lebih di bidang pemasaran. Maka, aku pun mencoba untuk fokus di bidang pemasaran. Aku menikmati bertemu dengan banyak orang. Selain itu, aku pun mencoba terus belajar untuk mengusir kejenuhan pada pekerjaan. Dan, inilah yang aku dapatkan.”
Pembaca yang berbahagia,

Jangan kita memilih pindah tempat kerja hanya karena ingin “melarikan diri” dari masalah. Seringkali kita merasakan sudah berjuang maksimal tetapi belum mendapatkan yang kita inginkan. Jangan pernah putus asa! Kita belum berhasil bukan karena kita tidak mampu, namun, kita belum memaksimalkan semua kekuatan yang kita miliki.

Jika kita mau mengaktualisasikan diri dengan menggali kemampuan dalam diri terus menerus, niscaya, karir kita pasti akan meningkat lebih pesat dan kesuksesan menanti kita disana.


--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Batu-batu Berharga
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Senin, 10-September-2007

Alkisah, di sebuah sekolah perniagaan, seorang guru besar sedang menyampaikan mata pelajaran tentang ekonomi sosial. Di depan kelas, dengan hati-hati si guru meletakkan sebuah toples kaca di atas meja. Dengan diikuti tatapan mata para siswanya, dia mengeluarkan sekantong penuh batu dan memasukannya satu persatu ke dalam toples itu sampai tidak ada lagi batu yang bisa dimasukkan lagi. Setelah melakukan hal tersebut, si guru bertanya kepada para siswanya, "Anak-anak, apakah toples ini sudah penuh?"
"Ya!" jawab mereka serempak.

Sambil tersenyum, sang guru meraih tas kedua dari bawah mejanya yang berisi batu kerikil. Dia kemudian menuangkan kerikil itu sambil menggoyang-goyangkan toples untuk mengisi celah-celah di antara batu-batu yang telah ada di dalam toples tadi. Untuk kedua kalinya, dia bertanya kepada para siswanya, "Sekarang, apakah toples ini sudah penuh?"
"Belum!" jawab mereka setelah tahu arah pertanyaan si guru.

Kali ini jawaban mereka benar. Si guru mengambil kantong berisi pasir halus. Ia pun kemudian menuangkan pasir halus ke dalam toples untuk mengisi celah-celah di antara batu-batu besar dan kerikil-kerikil yang telah dimasukkan sebelumnya. Lagi-lagi dia bertanya, "Nah, apakah sekarang toples ini sudah penuh?"
"Mungkin penuh, mungkin juga belum penuh Pak. Yang tahu jawabannya cuma bapak," jawab para siswa.

Jawaban itu membuat si guru tersenyum. Ia lantas mengeluarkan seteko air dan menuangkan ke dalam toples hingga air pun memenuhi permukaan toples. Dia meletakkan teko dan memandang ke seluruh kelas.
"Lantas, dari hal-hal tadi, pelajaran apakah yang dapat kalian petik?"
"Tak peduli seberapa padat jadwal kegiatan kita, selalu akan bisa ditambahkan sesuatu ke dalamnya," jawab seorang siswa karena merasa sedang mengikuti kelas perniagaan.

"Bukan sekadar itu! Yang ditunjukkan disini adalah dengan memasukkan batu-batu besar lebih dahulu, disusul batu kerikil lalu pasir, dan terakhir air, maka cara seperti itu bisa membuat toples terisi secara maksimal. Artinya, ini merupakan sebuah pelajaran tentang prioritas. Kalian mengerti?" sebut si guru. Serentak para murid pun mengangguk-anggukkan kepala, tanda mendapat jawaban dan pelajaran yang memuaskan.

Pembaca yang budiman,
Pengertian tentang prioritas sangatlah penting. Sebab, kadangkala kita melakukan pekerjaan dengan hasil yang tidak optimal, hanya karena kita tidak memperhitungkan dengan cermat mana pekerjaan yang penting dan mendesak untuk lebih dahulu dikerjakan.

Jikalau kita mampu memilih dan memilah pekerjaan dengan memprioritaskan atau mendahulukan pekerjaan yang penting dan mendesak, maka, apa yang kita lakukan akan bisa berjalan lebih efektif dan berdayaguna. Dengan begitu, hasil yang dicapai pun akan bisa lebih maksimal.

Itulah inti dari pengertian prioritas. Cukup sederhana, namun membutuhkan latihan demi latihan, dalam praktek pekerjaan atau kegiatan di kehidupan kita sehari-hari. Maka, mari kita raih kesuksesan dengan cara membangun kebiasaan menentukan skala prioritas dalam segala aktivitas yang kita lakukan.

Dalam kesempatan kali ini, saya juga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa 1428 H bagi saudara-saudara umat Islam.
Semoga ibadah kali ini dapat berlangsung khusyuk dan makin membawa kebaikan bagi kita semua.

Salam Sukses Luar Biasa!!!

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
A Suicidal Coward
Penulis : Andrie Wongso
Rabu, 19-September-2007

A young man was standing thoughtfully on a bridge. The currents of the river below were very strong. With a far-away look in his eyes, he would sometimes sigh. He was frustrated and desperate. Then a thought arose in him, "I am very rich. I have known all the pleasures of this world. I have visited the most beautiful places, tasted the most delicious foods, and enjoyed all the pleasures that money could buy. Yet I am very unhappy now. My family is falling apart. My children died and my wife left me. I cannot stand it any longer. Although I still have my wealth, my heart is so empty and I suffer a lot." He intended to commit suicide by jumping into the raging water.

When he was about to do it, a filthy beggar approached him, "Sir, please give me some money to buy some food. I will pray for your health and long life."

Hearing this, he took out the wallet from his pocket. He took all his money and gave it to the beggar, "Take all of this," he said.

"All of this?" the beggar repeated. He could not believe his luck.

"Yes, take it all. I am going to a place where I won't need it any more," said the man. He looked back at the river below.

The beggar felt something was wrong in this man's attitude. After looking at the money and holding it for a while, he hurriedly returned it and said, "No, I won't take it. I am a beggar but I am not a coward. I don't want to receive any money from a coward! Bring your money with you to the river." He walked away quickly, shouting "Good bye, Mister Coward!"

Hearing what the beggar said, the man was very shocked. The satisfaction and happiness of giving his money to the beggar disappeared instantly. He really wanted the beggar to accept his money before he committed suicide, but the beggar refused it.

At that moment, he suddenly realized that the feeling that he felt just now, the good feeling coming from giving others in need, had given him happiness! It was a new feeling and experience for him. He looked at the river one more time, turned around, and walked away - trying to catch up with the beggar. He wanted to thank him and tell him that he did not want to be a coward. He promised himself that he would keep struggling to attain happiness by giving those in need.


Dear Kind Readers,

It is a shame to see someone end his life by committing suicide, especially over a simple matter. Courage should be put in the right place. Life will be more respectable if we have "the courage to live" rather than "the courage to die."

What is the reason behind this? Life is a responsibility, ren sen she ik cung cek ren! As warriors, no matter what kind of battles we are going to face, we must have the confidence that we have the responsibility to come to the finish line! We have the duty to carry on. Regardless of the results, the true enjoyment lies on the struggling process. The satisfaction will even be greater if the results are also beneficial for others.

How meaningful our life is if we can give something to others. It is one of our responsibilities as a human being. If we truly understand this and do it sincerely, the success we gain will even be more valuable. This way, when we meet challenges, our mentality is already well trained so that we can face them courageously. So, let us restraint from dying a coward and fill our life with the courage to live as a warrior. Life is worth living.

"Life means responsibility! Let us restraint from dying a coward and fill our life with the courage to live as a warior. Then life is worth living"

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Bodoh Teriak Bodoh
Penulis : Toni Yoyo, STP, MM, MT
Rating Artikel :
Rabu, 10-Januari-2007

Dua orang Bos 'berlomba' menonjolkan kebodohan sopirnya. Bos A kemudian memanggil sopirnya, "Sono, tolong beli mobil BMW seri terbaru dengan uang Rp 100 ribu ini". "Baik Tuan". Dengan cepat Sono berlalu.

Bos A dengan senyum kemenangan, "Tuh lihat sendiri kan betapa bodohnya sopir saya". "Ah itu sih belum apa-apa dibanding kebodohan sopirku", sahut Bos B. "Sunu, tolong cek apakah Bapak (Bos B) ada di rumah saat ini". "Segera Tuan" sahut Sunu. Diapun segera berlalu. Dengan tertawa keras Bos B memandang Bos A untuk menunjukkan bahwa dialah yang menang dalam 'pertandingan kebodohan' ini.

Kedua sopir kemudian bertemu di jalan. Sono berkata, "Ampun deh Bosku itu sangat tolol". "Ah kamu sih belum tahu kalau Bosku jauh lebih tolol dibanding Bosmu", respon Sunu.

Tidak mau kalah Sono menyambung, "Bayangkan Bosku memberi uang Rp 100 ribu untuk membeli BMW seri terbaru. Mana mungkin itu ???". "Masa Bos tidak tahu kalau hari ini hari Minggu. Mana ada show room yang buka sehingga aku bisa membeli mobil BMW seri terbaru ?".

"Iya.. ya benar juga. Tapi dengar dulu ceritaku sebelum kamu berpikir bahwa Bosmulah yang paling bodoh". "Masa Bosku minta tolong aku untuk mengecek apakah dia yang saat ini bersama Bosmu di sini, ada di rumah saat ini ?. Aneh sekali". "Kan Bosku punya HP, kenapa dia tidak langsung telpon ke rumah untuk menanyakan apakah dia ada di rumah atau tidak saat ini?".

Mungkin kita akan tersenyum lebar membaca cerita di atas sambil berpikir apakah benar ada orang sebodoh Sono dan Sunu, kedua sopir tersebut.

Dalam dunia nyata, kita sangat dekat dengan orang-orang 'bodoh' yang teriak 'bodoh' seperti kedua sopir yang mengatakan kedua Bos mereka bodoh tanpa mereka mengerti bahwa sebenarnya mereka 'lebih bodoh'. Bahkan, tanpa bertendensi apapun, jangan-jangan kitapun termasuk kelompok 'bodoh teriak bodoh' ini.

Banyak orang yang terbiasa mencela orang lain terutama karena kesalahan dan kekurangan orang lain tersebut. Tidak jarang celaan itu muncul dari pikiran iri, dengki, takut kalah, dan lain-lain penyakit pikiran yang banyak menghinggapi orang jaman sekarang. Padahal setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada keterbatasan dalam diri setiap orang. Tidak ada yang sempurna segala-galanya. Apakah kita memiliki hak untuk mengatakan orang lain bodoh, selalu salah, jelek, dan lain-lain yang tidak baik ? Bukankah kita sendiri pasti pernah melakukan kesalahan dan 'kebodohan' sewaktu kita belum 'sepintar' saat ini ?

Bos A dan B juga termasuk kelompok 'bodoh teriak bodoh' karena mempertandingkan kebodohan sopirnya. Mereka tidak sadar bahwa merekapun dikatakan bodoh oleh kedua sopir yang dibodoh-bodohi oleh mereka walaupun pemberian 'cap bodoh' oleh kedua sopir kepada kedua Bos dalam konteks yang berbeda.

Kita perlu sering 'berkaca' dan mengevaluasi diri untuk terus melakukan perbaikan terhadap diri sendiri baik dalam tataran pemahaman maupun perbuatan langsung melalui pikiran, ucapan dan perbuatan.
Jangan habiskan waktu kita untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain. Manfaatkan waktu tersebut untuk mengolah diri menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kita menjadi orang-orang yang punya daya saing tinggi untuk berkompetisi dalam dunia bisnis atau profesional, dan sosial kemasyarakatan.

Pada akhirnya kita tidak akan terperosok ke dalam kelompok 'bodoh teriak bodoh' dan bisa menjadi orang-orang yang 'pintar', yang tidak mudah memberikan klaim atau label (terutama 'bodoh') kepada orang lain.

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Kok Blon Juga Sukses Ya ?
Penulis : Riduan Goh
Rating Artikel :
Rabu, 10-Januari-2007

Training hebat hingga "Jalan di atas Api", ... sudah
Goal Setting ... hingga Kerja Keras, Apalagi !

1938, kalau saja bukan himpitan ekonomi berat yang memaksa Om Liem muda untuk memutuskan meninggalkan ibunya dan kampungnya Fu Tzing menuju Kudus, mungkin tidak ada Salim Group yang melegenda di Indonesia.

Ribuan orang Hokian menuju Pulau Jawa, kenapa justru Om Liem yang dapat melompat ke jalur Fast Track menuju sukses, hingga didaulat menjadi orang terkaya dunia no.39 versi Fortune 1987.

Friksi internal perusahaan membuat Mochtar Riyadi meninggalkan PANIN bank, justru melahirkan perjodohan di penghujung 1974 yang mempertemukannya dengan Om Liem dalam pesawat Jakarta - Hongkong, ini merupakan cikal bakal sukses BCA sebagai retail banking terhebat di Indonesia.

Tonny Robbins, guru besar sukses tingkat dunia mengajarkan
1. Decission
2. Foccuss on Goal
3. Flexible approach
4. Affirmation
5. Massive Action

Kesemua diatas sejalan dengan ajaran "Success is My Right" Andrie Wongso merupakan harga yang mutlak harus dibayar untuk menuju sukses.

Tapi, saya sudah training Tonny Robbins sampai Kiyosaki, Andrie Wongso sampai AA Gym, sudah PD abis & mati-matian usaha. Tapi kenapa blon juga sukses ya ?

Bila kita cermati, "Sukses" adalah suatau keadaan kehidupan yang mau tidak mau harus melibatkan peran serta
1. Tuhan
2. Alam Semesta
3. Manusia sendiri

Sukses bukanlah keadaan absolut, selalu Ceteris Paribus adanya (selama komponen lain tidak berubah). Kita tidak pernah akan mencapai "Sukses" apabila kita sendiri belum memahami apa itu definisi "Sukses".

Kebanyakan orang mendifinisikan sukses sebagai adalah kekayaan semata.

Bisa punya rumah tipe RS 35, mungkin ini merupakan perwujudan sukses dari orang yang selama ini hanya bisa tinggal di bedeng kali Angke. Tapi lain halnya dengan definisi sukses seorang Gandhi, Mohammad Ali atau Michael Jackson.

Harta kita yang termahal adalah waktu, berapapun uang yang kita punyai, tidak akan dapat membeli kembali waktu yang telah kita hamburkan dan hilang begitu saja. Kebanyakan orang bilang bahwa "waktu sehari lewat sehari" tapi sejatinya adalah "waktu sehari berkurang sehari" . Maka hidup Sukses itu harus hukumnya dan itu hak kita. Dengan kesuksesan kita akan bisa membantu orang yang lebih banyak atau paling tidak menjadi contoh positif bagi orang banyak.


Mind ~ Body ~ Soul

Untuk mencapai Sukses yang kita harapkan, kita harus bisa mendefinisikan dan melibatkan Mind, Body & Soul.

Mind
Umumnya orang sudah piawai memakai mind (pikirannya) untuk berpikir sukses, menghadiri training, membaca buku sukses, goal setting. Tapi ini cuma sebatas memakai Mind (pikiran) saja, hanya dengan berpikir sukses tidak akan cukup untuk mengundang sukses datang kepada kita.

Body
Sukses memerlukan kerja keras, kerja nyata untuk mengeluarkan apa yang kita pikirkan menjadi suatu tindakan nyata, sehingga kita dapat beriteraksi langsung dengan lingkungan sekitar kita.Apakah kerja keras cukup ?

Soul
Soul (jiwa) atau spirit merupakan suatu keharusan yang prinsip yang akan melengkapi jalan kita menuju sukses.

SUKSES dilahirkan oleh KERJA KERAS POSITIF (Body)
KERJA KERAS POSITIF dilahirkan oleh PIKIRAN POSITIF (Mind)
PIKIRAN POSITIF dilahirkan oleh JIWA POSITIF (Soul)
JIWA POSITIF dilahirkan oleh SYUKUR atau GRATITUDE setiap saat.

IMAN & AMIN

Kalau hingga saat ini kita sudah melakukan apa yang sudah kita pelajari dalam training-training sukses dan kita belum juga sukses, kita harus melakukan pengecekan, apakah kita sudah melakukan dan melibatkan faktor berikut.

Iman
Berpikir dan melakukan setiap bagian sukses dengan baik setiap saat. Keimanan inilah yang akan membawa kita dalam dukungan alam semesta. Ini adalah Mestakung menurut Prof. Yohanes Surya, atau Tai Chi, konsep kekuatan besar alam semesta dalam Taoism.

Amin
Amin, ini merupakan faktor yang paling sederhana dan sering kita ucapkan sehari-hari, tapi tidak mudah untuk melakukannya.

Amin derajatnya paling tinggi dalam menentukan kesuksesan kita. Amin mempunyai arti "Dengan perkenan Tuhan, maka Terjadilah". Ini adalah wujud rasasyukur, pasrah atau nrimo akan apapun hasil yang kita dapat, tapi bukan nrimo saja, melainkan bersyukur dan menerima apapun hasilnya, mengevaluasi kekurangan, memperbaiki dan melakukannya lagi dengan lebih baik.

Banyak diantara kita merasa, semakin keras kita berusaha sukses, malah semakin jauh dari sukses. Jangan heran, ini merupakan reaksi alam biasa, Achimedes pun telah mengatakan hal serupa beberapa abad yang lalu. Maka kita perlu check & recheck bagaimana dengan Iman & Amin kita ?

Dengan setiap saat melakukan langkah yang benar dan matang serta selalu melibatkan Iman dilengkapi dengan Amin, maka ini merupakan pasport menuju sukses, kita akan tetap selalu bersuka cita dan besyukur apapun hasilnya, kita akan selalu siap mengevaluasi dan melangkah lebih baik, serta mendapatkan restu dari Tuhan pemilik dan pencipta alam semesta untuk mendapatkan hak kita, yaitu "Success is My Right" dan segera mengenapinya menjadi "Success is Mine" untuk dapat membantu dan berbagi kepada orang yang lebih banyak.

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
The Choice Is In Your Hand
Penulis : Muk Kuang
Rating Artikel :
Selasa, 09-Januari-2007

Siapa yang bertanggung jawab atas semua kondisi hidup Anda sekarang ?
Anda sendiri ? Atau justru Orang lain ?

Banyak orang memilih untuk menyalahkan pihak lain seperti atasan mereka di perusahaan, keluarga atau pasangan hidupnya, sistem pemerintahan, dan ironisnya juga menyalahkan Yang Kuasa atas semua kegagalan yang di alaminya. Sayangnya tidak banyak yang menyadari bahwa peran dan tindakan yang mereka ambil di masa lampau adalah salah satu penentu atas apa yang terjadi pada hidupnya sekarang.

Apapun yang sudah Anda lakukan baik itu positif ataupun negatif, Anda sendirilah yang mengambil pilihan itu dan logikanya semua yang terjadi atas Anda adalah tergantung Anda sendiri bukan orang lain.

Anda beli motor untuk dikendarai, Anda memilih pekerjaan, Anda berasosiasi dengan kelompok tertentu, Anda membaca buku pilihan Anda, Anda menonton acara televisi, bahkan koran yang Anda baca, dan artikel yang Anda baca saat ini semuanya atas dasar pilihan yang telah Anda buat.

Semua pilihan yang Anda buat punya dampak untuk orang lain, terutama untuk diri Anda sendiri. Pilihan yang Anda ambil hari ini akan membawa dampak yang dahsyat untuk masa depan Anda.

Cara pandang dan cara kita memahami sesuatu yang terjadi disekeliling kita, semuanya murni tergantung pada diri Anda. Ketika Anda berkenalan dengan seseorang, Anda bisa memilih untuk melihat sisi baiknya atau fokus kepada kekurangan yang dimilikinya. Anda tentu masih ingat sebuah analogi mengenai gelas yang terisi setengah, manusia memiliki pilihan bagaimana melihatnya. Jika Anda cukup optimis maka Anda akan mengatakan setengah penuh atau jika Anda begitu pesimis Anda akan mengatakan setengah kosong.

Mereka yang optimis akan cukup senang karena dibenaknya berpikir bahwa masih ada setengah gelas air yang dapat saya minum, sementara mereka yang pesimis akan mengeluh karena hanya berpikir setengahnya kosong dan menganggapnya sebagai kekurangan.

Dalam hidup ini, Anda dapat memilih untuk hanya melihat hambatan dan rintangan atau Anda justru memilih untuk melihat sebuah tantangan sebagai pengalaman unik dan baru.

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Sir Winston Leonard Spencer Churchill
Penulis : Haryo Ardito - Ketua Harian AMA-DKI
Rating Artikel :
Sabtu, 30-Desember-2006

Suatu hari di usia tuanya Winston Churchill mengunjungi sebuah sekolah dasar dimana ia pernah bersekolah saat masih kecil dan akan menyampaikan sebuah pidato.Sang kepala sekolah berpesan kepada murid-muridnya "Ini adalah saat-saat bersejarah, Winston Churchill adalah pembicara berbahasa inggris yang paling hebat.Tuliskan semua kata-kata yang diucapkannya.Ia akan menyampaikan sebuah pidato yang tak terlupakan"

Ketika Churchill berpidato, sejenak ia memandang ke anak-anak itu dengan kacamata yg dilorotkan, kemudian berkata :"Jangan… jangan… jangan pernah menyerah !!" lalu ia kembali ke tempat duduknya.

Sebagian besar murid sekolah tsb sangat kecewa dengan pidato yang sangat singkat itu, namun sang kepala sekolah merasa bahwa itu adalah pidato Churchill yang paling hebat.Sebuah ciri khas Churchill yang paling menonjol adalah keuletannya.Ia tidak pernah menyerah dan sikap itulah yang menginspirasikan Inggris saat Perang Dunia II untuk terus berjuang ketika yang lainnya telah menyerah.

Keuletan artinya terus berpegang pada perjuangan kita.Keuletan artinya kita konsisten dengan kata-kata kita.Keuletan adalah tentang "mengamalkan ucapan kita dengan perbuatan nyata".

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Komunikasi Berdasarkan Golongan Darah " O "
Penulis : Ponijan Liaw
Rating Artikel :
Jumat, 29-Desember-2006

Pada edisi sebelumnya, telah dibahas karakter orang bergolongan darah A, B dan AB hasil temuan seorang ilmuwan Jepang, Furukawa Takeji. Beliau adalah orang yang pertama kali meneliti dan menyatakan bahwa golongan darah seseorang akan memengaruhi kepribadian dan karakter orang tesebut secara langsung (baca lengkap di buku saya: Understanding Your Communication Styles - Memahami Gaya Komunikasi Anda). Pada edisi ini, sampailah kita kita pada pembahasan karakter dan gaya komunikasi yang sebaiknya diterapkan jika berhadapan dengan orang bergolongan darah terakhir dalam seri ini, yaitu 'O'.

Karakter Orang Bergolongan Darah 'O'

Orang-orang dengan golongan darah O adalah mereka yang tidak banyak ambil pusing, penuh semangat dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Mereka adalah orang yang paling fleksibel di antara semua golongan darah yang ada. Mereka akan dengan cepat memulai sebuah proyek namun mengalami masalah ketika melanjutkannya dan tidak jarang banyak juga yang dengan mudah menyerah di tengah jalan. Mereka terkadang bertingkah dan tidak terlalu dapat dijadikan sandaran. Mereka selalu mengatakan apa yang ada di pikiran mereka secara langsung. Mereka selalu jujur. Mereka menghargai pendapat orang lain dan suka menjadi pusat perhatian. Selain itu, orang-orang bergolongan darah O ini memiliki rasa percaya diri yang sungguh kuat. Di Jepang, golongan darah ini merupakan golongan darah rata-rata orang disana.

Gaya Komunikasi dengan Orang Bergolongan Darah O

Ketika berhadapan dengan orang bergolongan darah O yang penuh semangat dan percaya diri, terus terang, optimistis, terkadang egois dan kreatif, hal-hal berikut dapat dijadikan pedoman:

* Berbicaralah dengan semangat dan penuh vitalitas. Karena mereka kurang menyukai orang-orang yang terkesan lemah, letih, lesu, lemas, letoy, dan loyo yang dianggap tidak dapat mengikuti ritme mereka yang penuh dengan energi.
* Jangan gunakan kata-kata negatif dan pesimis karena kelompok kata itu tidak terdapat dalam kamus mereka yang penuh dengan semangat positif dan optimis.
* Ketika mengikat sebuah kontrak, pastikan dengan tegas bahwa mereka komit dengan apa yang telah disepakati dan dapat bertanggung jawab atas penyelesaiannya.
* Berkatalah dengan jujur karena mereka juga demikian adanya. Sekali kebohongan terdeteksi, mereka tidak akan percaya lagi pada lain kesempatan.
* Tunjukkan bahasa tubuh yang penuh keceriaan dan semangat.

Orang dengan golongan darah O paling suka berkomunikasi dengan mereka yang penuh semangat. Orang-orang yang tidak memiliki semangat hidup yang baik sulit menjadi teman dekat orang golongan ini. Karena mereka selalu semangat sejalan dengan vitalitas yang mereka miliki. Mereka akan dapat berkomunikasi berjam-jam dengan orang yang cocok dan dapat mengikuti ritme bicara mereka yang sangat optimistis dan motivatif.

Silahkan pelajari dengan saksama seluruh karakter dan gaya komunikasi orang berdasarkan golongan darah masing-masing. Semoga kita akan menjadi 'penjahit' yang luar bisa dengan jahitan yang sesuai dengan ukuran seseorang. Semoga!

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Menetapkan Resolusi Hidup Baru
Penulis : Eko Jalu Santoso - Founder Motivasi Indonesia, Penulis Buku "Life Revolution"
Minggu, 24-Desember-2006

Apakah Anda selama ini merasa disibukkan oleh berbagai langkah kehidupan, namun merasa belum menggapai impian hidup Anda ? Apakah Anda merasa sudah meluangkan banyak waktu untuk pekerjaan dan karier, namunbelum berhasil mewujudkan cita-cita hidup Anda ?

Menyambut pergantian tahun baru 2007 adalah saat yang tepat bagi kita semua untuk mengerem sedikit langkah-langkah kegiatan dan mengurangi kecepatan langkah sejenak. Kemudian sediakan waktu khusus untuk memikirkan kembali bagaimana Anda telah menjalani hidup ini dan kemana sebaiknya langkah kehidupan ke depan.

Saya mengajak Anda melakukan sebuah "retreat" kecil, menetapkan sebuah resolusi hidup baru, dalam menghidupkan kembali mimpi-mimpi baru Anda.
Sediakan waktu khusus untuk menyatukan unsur-unsur fisik, psikologis, mental dan spiritual untuk menetapkan sebuah resolusi hidup baru. Persiapkan pula pensil dan kertas, lalu ikuti langkah demi langkah dibawah ini.

PERTAMA,
Tenangkan diri Anda. Kemudian pejamkan mata Anda dan fokus pada pernafasan selama beberapa menit dengan menarik dan melepaskan pernapasan perlahan-lahan. Lakukan dengan rileks, rileks dan rileks. Biarkan pikiran melintas dan jangan ditahan. Rasakan tubuh yang rileks saat menghembuskan nafas panjang dengan perlahan-lahan.

Letakkan kedua tangan di jantung Anda. Teruskan lagi bernafas dan bernapas dengan perlahan dan tetap fokus pada pernapasan. Biarkan perut terasa bergelombang ibarat Anda sedang dalam pesawat yang akan take off. Rasakan pernapasan Anda dalam ketenangan melalui pusat spiritual Anda.

KEDUA,
Bukalah mata Anda, kemudian luangkan waktu beberapa menit untuk
menjawab beberapa pertanyaan dibawah ini :

1. Apa yang paling penting untuk Anda kerjakan bagi diri sendiri, bagi pasangan, hubungan dengan keluarga dan teman-teman Anda di tahun 2007 nanti ?
2. Apa tujuan paling bermakna bagi kesuksesan Anda yang ingin Anda capai di tahun 2007 ?
3. Apa tujuan kehidupan spiritual yang ingin Anda capai dalam tahun 2007 nanti?

Tulis, tulis dan tulislah semua jawaban Anda di kertas.
Padatnya aktivitas sering membuat orang melupakan resolusi tujuan hidup yang telah dibuatnya. Tulislah resolusi tersebut dalam jurnal anda, kalau perlu tempelkan di tempat yang sering anda lihat.

KETIGA,
Berikutnya ambil waktu lagi beberapa menit untuk kembali memejamkan mata, bernapas dengan meletakkan tangan di jantung Anda.
Rasakan kembali rileks, rileks dan rileks dalam denyut jantung dan pernapasan Anda. Bayangkan dengan gambaran yang jernih dan jelas seolah-olah Anda telah berada pada situasi kehidupan sesuai dengan impian atau tujuan hidup yang sudah anda tetapkan.


Berikutnya buka mata Anda perlahan-lahan dan kembali ke dalam kehidupan nyata dengan selembar kertas yang sudah Anda isi dengan tujuan dan rencana Anda.
Resolusi bukanlah sekedar resolusi, tetapi harus terus diingat apa yang sudah Anda tetapkan.Baca kembali apa yang Anda tulissetiap sebelum tidur untuk mengingatkan diri Anda.

Pastikan anda tak hangat-hangat tahi ayam. Diperlukan proses dan butuh waktu berbulan-bulan untuk mencapai sebuah tujuan, maka tetaplah semangat. Jadikanlah resolusi tujuan hidup sebagai kebiasaan baru dalam hidup anda. Jangan dibuat sebagai beban. Nikmati saja setiap proses pencapaian yang Anda lakukan.

Selamat menjadi manusia baru dengan tujuan hidup baru.


--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Berani Hidup
Penulis : Jennie S. Bev
Rating Artikel :
Jumat, 15-Desember-2006

Stop worrying, start living. ~Anonymous

One isn't necessarily born with courage, but one is born with potential.
Without courage, we cannot practice any other virtue with consistency.
We can't be kind, true, merciful, generous, or honest.
~Maya Angelou

Be a warrior, not a worrier.
~Jennie S. Bev

Banyak lagu di Indonesia yang bertemakan kesedihan dan kenestapaan. Betapa kasihannya diriku karena aku orang miskin dan tidak punya. Ayah juga tidak punya, Ibunda juga tiada. Istri juga belum punya, apalagi anak. Rumah juga hanya terbuat dari bilik saja dan bepergian ke mana-mana naik bis kota yang sumpek dan berbau keringat. Seringkali dihina pula. Ah, betapa aku orang yang sungguh perlu dikasihani. Aku segan hidup, tapi belum mau mati.

Apa yang tersirat di dalam lirik seperti itu? Kurangnya keberanian untuk hidup. Kurangnya rasa syukur yang dalam akan makna hidup yang sebenarnya. Sudah diberi hidup untuk hari ini, masih juga mempermasalahkan kemiskinan dan tidak punya ini dan itu. Padahal, cukup dengan modal "hidup" saja, masalah kemiskinan dan tidak punya pasangan hidup bisa dicari sendiri pemecahannya. Pendapat seperti ini banyak membuat hati saya tidak enak, karena seakan-akan tidak bersyukur sama sekali akan harta tidak ternilai, yaitu kehidupan yang diberikan kepada kita karena kita begitu istimewa di mataNya.

Kekhawatiran luar biasa membebani setiap langkah yang diambil di dalam hidup. Ini sangat tidak baik. Kegalauan hati juga memberi warna kelabu, apalagi ketidakberanian untuk mengubah diri. Dengan mempercayai bahwa diri kita lemah dan tidak berdaya, maka alam bawah sadar kita sungguh percaya bahwa kita itu lemah dan tidak berdaya. Jadilah di dalam benak hanya ada satu yang dicari-cari: rasa belas kasihan bagi diri kita, yang datang baik dari luar maupun dari dalam diri.

Mungkin Anda sekarang berpikir, "Ah, Ibu Jennie ini bisa saja, karena dia toh tidak pernah merasakan naik bis kota. Dia kan ke mana-mana naik mobil mewah dan makan di hotel berbintang lima." Eit, nanti dulu. Ketika saya kuliah di Depok, saya memang mempunyai pilihan untuk diantar jemput oleh sopir pribadi maupun naik bis kota karena orang tua mampu membiayai, walaupun mungkin dengan sangat pas-pasan. Yang mana pilihan saya, menurut Anda? Naik bis kota setiap hari. Aneh bukan?

Waktu itu belum ada bis Patas ber-AC, sehingga mau tidak mau saya naik bis dari Sarinah ke Pancoran, terus dari Pancoran ke Pasar Minggu, dan dari Pasar Minggu baru ada mobil unyil ke Depok. Turun di Margonda yang masih belum sepenuhnya beraspal saat itu, saya jalan kaki di tanah yang kadang-kadang becek di kala musim hujan dan selalu berlumpur tanah merah sepanjang tahun. Repot sekali karena berarti celana jins dan sepatu kets saya mesti dicuci begitu tiba di rumah, kalau tidak ya tanah merahnya akan menempel permanen nodanya.

Selama perjalanan di dalam bis, tidak jarang saya mengalami hal-hal yang memalukan dan diolok-olok karena tinggi tubuh saya yang 172 sentimeter, sangat jangkung untuk ukuran Indonesia. Belum lagi wajah saya yang sangat "amoy" itu. Hal-hal rasis dan olok-olok yang tidak-tidak karena fisik saya sudah menjadi makanan sehari-hari. Paling tidak pasti ada sinar mata penuh rasa ingin tahu yang saya terima setiap hari dari sesama para penumpang. Untunglah karena saya langganan setiap hari, para supir dan kenek bis sudah kenal dengan si "amoy jangkung" ini. Hal-hal begini sudah membuat saya "kebal" juga akhirnya.

Saat itu pernah terbesit di benak saya, betapa sesungguhnya saya sangat berbeda dari orang kebanyakan. Jika dituliskan lagi mendayu-dayu ala dangdut maupun pop sendu Indonesia, mungkin ada lirik begini, "Betapa malangnya nasibku, ayah tidak punya, ibunda hidup susah kerja sendirian. Belum lagi tampangku Cina dan tinggiku seringkali mentok di dalam Metro Mini. Aku hidup susah, semua orang melihatku aneh dan berbeda dari orang lain." Lucu dan "kasihan banget" bukan?

Eh, anehnya, tidak pernah satu kalipun saya merasa demikian. Malah kalau terdengar lagu-lagu mendayu, hati ini rasanya geli sekali. Tidak jarang saya tertawa terbahak-bahak mendengar hal-hal yang "mengasihani diri sendiri." Mengapa? Karena di dalam benak saya, setiap hari haruslah menjadi hari yang lebih baik daripada kemarin. Dan ini tidak bisa di dapat dengan memanjakan diri bahwa "aku ini orang yang perlu dikasihani."

Seperti billionaire philanthropist terkenal James Stowers pendiri American Century Investments pernah berkata, "If you don't think tomorrow is going to be better than today, why get up? You've got to believe each new day is going to be better, and you have to be determined to make it so. If you are determined, then certainlyl... the best is yet to be." Jika Anda tidak yakin bahwa hari esok akan lebih baik, mengapa bangun pagi? Anda harus percaya bahwa setiap hari baru akan menjadi lebih baik dari kemarin dan Anda mesti usahakan untuk menjadikannya demikian. Keyakinan Anda akan menjadikannya yang terbaik, jauh lebih baik.

Beberapa waktu lalu, pemerintah Indonesia memberikan label "desa miskin" untuk desa-desa yang mempunyai income level di bawah garis kemiskinan. Saya sendiri kalau diizinkan untuk berkomentar sedikit, tapi mudah-mudahan tidak dianggap asbun ya. Bukankah sebaiknya ditulis "desa yang sedang membangun dengan semangat besar menuju masa depan yang lebih cerah lagi." Untuk singkatnya, ya "desa membangun" saja. Bagaimana efeknya ketika dibaca? Memberi semangat keberanian untuk maju, bukan? Mudah-mudahan saja label "desa miskin" seperti ini sudah ditiadakan saat ini. Saya doakan. Namun siapalah saya ini memberi masukan seperti ini.

Nah, keberanian untuk hidup berarti juga tidak mengasihani diri sendiri sama sekali. Berani hidup berarti berani menanggung kesulitan hidup karena mempunyai kepercayaan diri yang besar bahwa semuanya pasti bisa diatasi. Setiap hari adalah hari baru yang pasti lebih baik daripada hari kemarin. Kalau begitu, apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Mari kita mentertawai kekhawatiran dan ketakutan.

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Sang Tunanetra Yang Luar Biasa
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Jumat, 11-Januari-2008


Hidup adalah pembelajaran tanpa henti. Setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu, jika kita telaah lebih jauh, selalu menjadi momen pembelajaran. Baik itu berupa halangan, rintangan, tantangan, atau berbagai kejadian apapun yang kita temui. Jika bisa disikapi dengan cara yang bijak, maka selalu ada sisi positif yang bisa kita ambil sebagai bagian proses belajar.

Maka, tak salah, jika orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Namun, semua itu harus dikembalikan kepada individu yang menjalaninya. Jika tak ada proses evaluasi dan tindakan perbaikan, pembelajaran yang didapatkan pun tak kan maksimal. Hadirnya pengalaman, baru akan bernilai jika kita bisa memaknainya dengan sudut pandang dan mindset positif.

Seperti yang saya jumpai saat saya memberikan seminar di Asian Agri Medan pada tanggal 8 Januari 2008, dengan tema "If Better is Possible, Good is Not Enough". Ketika acara, saya mendapat "pelajaran" yang sangat berharga. Sebagaimana setiap kali seminar, ada banyak orang yang antusias mengikuti seminar. Kemudian, banyak pula yang lantas ingin berfoto dan meminta tanda tangan. Namun, ada satu hal yang luar biasa saat itu. Salah satu orang yang sangat antusias tersebut ternyata adalah seorang penyandang tunanetra.

Yang menjadikannya luar biasa, orang yang bernama Roswidi itu, adalah tekadnya. Meski punya keterbatasan fisik, hal tersebut tidak menjadi halangan baginya untuk berkarya. Hebatnya, dengan kekurangan itu, ia ternyata adalah sosok yang berada di balik suksesnya acara seminar. Pria yang mengaku sebagai pendengar setia acara saya, Smart Motivation di radio Smart FM setiap Senin ini, adalah event organizer acara yang khusus menangani sound system acara. Dengan keterbatasan itu, Roswidi membuktikan pada semua orang, bahwa ia tak beda dengan orang kebanyakan.

Bicaranya yang terdengar semangat, menunjukkan betapa keterbatasan yang dimilikinya, sama sekali bukan halangan untuk sukses. Bahkan, ia mengaku sudah menjalani usaha sound system itu selama lima tahunan. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi pemain keyboard di berbagai acara. Selain itu, ia ternyata juga menjadi pengusaha onderdil sepeda. Roswidi benar-benar menunjukkan kepada saya dan semua orang yang hadir saat itu, bahwa sukses memang hak siapa saja, "Success is my right!" Ia adalah contoh nyata orang yang bisa "melihat" dengan tekad dan hati, bahwa halangan dan tantangan, sebenarnya hanyalah bagian dari proses pembelajaran diri.

Jika menengok keadaan kita, hal ini tentu adalah sebuah hal yang sangat luar biasa. Semangat dan daya juang Roswidi patut dicontoh. Apalagi, bagi kita yang dikaruniai tubuh lengkap dan tak kurang suatu apa pun. Seharusnya, dari contoh kisah Roswidi ini, bisa menumbuhkan semangat dalam diri.

Sungguh, perjalanan saya kali ini ke kota Medan memberi pengalaman yang luar biasa. Apalagi, Roswidi sempat berkata, "Kita dapat melakukan apapun, meski tanpa kedua mata. Sebab, kita masih punya kaki, tangan, otak, dan pikiran yang bisa kita maksimalkan." Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung arti yang sangat luar biasa. Roswidi membuktikan, bahwa dengan tindakan nyata, ia pun bisa berkarya layaknya manusia seutuhnya.

Untuk itu, seperti komitmen saya untuk menjadikan tahun ini sebagai tahun Think and Action 2008, kisah Roswidi ini seharusnya mampu memacu kita untuk berpikir dan bertindak maksimal. Jika orang yang kurang secara fisik saja (maaf: buta) mampu, bagaimana dengan kita yang sehat?

Maka, mari kita jadikan semua cobaan dan tantangan, bukan sebagai halangan. Namun, justru jadi batu loncatan menuju kesuksesan. Dengan think and action, kita buktikan diri mampu menjemput semua impian.

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Year 2008 - Think & Action !!!
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Selasa, 01-Januari-2008


Tanpa terasa, kita sudah berada di awal tahun 2008. Seperti tahun-tahun yang terlewati, awal tahun selalu dianggap sebagai sebuah awal baru di mana rencana-rencana untuk satu tahun ke depan sudah disiapkan. Sayangnya, tak jarang, berbagai rencana manis yang disusun, hanya berujung pada sebuah catatan tanpa makna. Berbagai rencana kadang hanya tinggal rencana, sebab tak ada eksekusi yang menjalankannya. Padahal, sebagus apapun rencana yang dicanangkan, akan menjadi sia-sia belaka jika tak ada tindakan nyata.

Inilah yang melatarbelakangi saya untuk menetapkan tahun 2008 ini sebagai tahun think and action! Awal tahun ini menjadi momen yang sangat tepat untuk mempersiapkan diri kita agar setahun ke depan, kita mampu menjadi insan yang beruntung. Saya sebut beruntung, karena jika kita hanya mampu menjadi orang yang sama saja dengan tahun kemarin, kita sebenarnya adalah orang yang merugi. Apalagi, jika sampai kita menjadi orang yang lebih jelek dari tahun kemarin, maka kita akan termasuk orang yang celaka. Tentu, kita tidak ingin masuk dalam golongan orang yang merugi atau celaka ini bukan?

Karena itulah, agar masuk sebagai orang yang beruntung, yakni orang-orang yang termasuk pemenang sejati, kita harus mencanangkan perbaikan di sana-sini pada tahun 2008 ini. Kita perlu memikirkan hal apa saja yang masih perlu dievaluasi dan dikoreksi pada tahun kemarin. Dan, dari evaluasi inilah, kita harapkan akan muncul pemikiran-pemikiran yang bisa kita jadikan batu loncatan menuju perbaikan di tahun baru ini.

Inilah think yang saya maksud. Yakni, kita perlu bertanya pada diri sendiri. Apa saja kelebihan yang kita miliki dan bisa kita maksimalkan di tahun baru ini. Kita harus berusaha mengetahui dan memahami apa saja kekuatan yang kita miliki, dan kemudian merencanakan apa yang bisa kita lakukan demi perbaikan di sepanjang tahun 2008. Karena hanya dengan memaksimalkan kemampuan dan potensi yang kita miliki, jalan menuju sukses akan selalu terbuka lebar.

Unsur kedua, yang lebih penting, yaitu action alias mengambil tindakan nyata dari semua yang kita rencanakan tersebut. Sebab, hanya dengan eksekusi terhadap rencana, kita bisa mendapatkan hasil nyata dari semua rencana tersebut. Tentu, saat bertindak ini, akan banyak sekali hal-hal yang akan kita temui. Baik itu berupa halangan, rintangan, cobaan, dan bahkan kekuatan alam yang kadang datang tak terduga. Seperti banjir yang menimpa saudara kita di beberapa penjuru negeri ini.

Tetapi, sebenarnya, justru dari semua kejadian itulah, kita akan terus bisa belajar. Belajar untuk memperbaiki diri, belajar untuk lebih bijaksana dalam menyikapi segala kondisi, dan belajar banyak hal lain yang pada akhirnya akan membimbing kita menuju pada jalan sukses masing-masing. Sebab, sejatinya, manusia itu tak kan pernah berhenti belajar. Hanya mereka yang mau selalu belajar lah yang akan tampil sebagai manusia seutuhnya.

Hal inilah yang ingin saya tegaskan di awal tahun ini. Inilah saatnya bagi kita untuk menjadikan tahun 2008 sebagai tahun think and action! Dengan cara inilah, kita akan bisa membangkitkan potensi-potensi dalam diri. Tak hanya itu, kita juga akan tumbuh menjadi manusia luar biasa yang punya kesadaran lebih bahwa sukses, memang hak setiap orang, "Success is My Right!"

Mari, berpikir dan bertindak, think and action, kita jadikan tahun ini menjadi tahun yang lebih baik dari tahun kemarin.

Salam sukses Luar Biasa!!!

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
UbahDuluYangDiDalam
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Senin, 24-Desember-2007
Audio/Video :
Saat renovasi rumah, si empunya rumah sudah merencanakan untuk memasang sebuah lukisan potret keluarga di ruang tamu yang telah ditatanya dengan indah. Lukisan itu telah dipesannya melalui seorang seniman pelukis wajah yang terkenal dengan harga yang tidak murah. Tetapi, saat lukisan itu tiba di rumah dan hendak di pasang, dia merasa tidak puas dengan hasil lukisan dan meminta si pelukis merevisiya sesuai dengan gambar yang dibayangkan. Apa daya, setelah diperbaiki hingga ke tiga kalinya, tetap saja ada sesuatu yang tidak disukai pada lukisan tersebut sehingga setiap si pemilik rumah melintas ruang tamu, selalu timbul ketidakpuasan dan kekecewaan. Itu sangatlah mengganggu pikirannya. Menjadikan dirinya tidak senang, uring-uringan, jengkel, kecewa dan sebal dengan ruang tamunya yang indah itu. Semua gara-gara sebuah lukisan!

Suatu hari, datang bertamu satu keluarga sahabat ke rumah itu. Sahabat ini termasuk pengamat seni yang disegani di lingkungannya. Saat memasuki ruang tamu, setelah bertukar sapa dengan akrab dengan tuan rumah, tiba-tiba mereka bersamaan terdiam di depan lukisan potret keluarga itu. Si tuan rumah buru-buru menyela, "Teman, tolong jangan dipelototi begitu dong. Aku tahu, lukisan itu tidak seindah seperti yang aku mau, tetapi setelah di revisi beberapa kali jadinya seperti itu, ya udah lah, mau apalagi?" "Lho, apa yang salah dengan lukisan ini? Lukisan ini bagus sekali, sungguh aku tidak sekedar memuji. Si pelukis bisa melihat karakter obyek yang dilukisnya dan menuangkan dengan baik di atas kanvas, perpaduan warna di latar belakangnya juga mampu mendukung lukisan utamanya. Betul kan bu?" Tanyanya sambil menoleh kepada istrinya.

"Iya, lukisan ini indah dan berkarakter. Jarang-jarang kami melihat karya yang cantik seperti ini. Kamu sungguh beruntung memilikinya", si istri menambahkan dengan bersemangat. Kemudian mereka pun asyik terlibat diskusi tentang lukisan itu.

Setelah kejadian itu, setiap melintas di ruang tamu dan melihat lukisan potret keluarga itu, dia tersenyum sendiri teringat obrolan dengan sahabatnya. Kejengkelan dan kemarahannya telah lenyap tak berbekas.

Pembaca yang budiman,

Jika sebuah lukisan tidak bisa diubah atau banyak hal lain di luar diri kita yang tidak mampu kita rubah sesuai dengan keinginan kita atau selera kita, maka tidak perlu menyalahkan keadaan! Karena sesungguhnya, belum tentu lukisan atau keadaan luar yang bermasalah, tetapi cara pandang kitalah yang berbeda. Jika kita tidak ingin kehilangan kebahagiaan maka kita harus berusaha menerima perbedaan yang ada.

Dengan merubah cara berpikir kita yang di dalam, tentu kondisi diluar juga ikut berubah.

Di kesempatan yang baik ini, saya mengucapkan, Selamat hari natal 2007 dan Tahun Baru 2008! Mari kita pelihara semangat dan kebahagiaan kita, bukan dengan merubah dunia sesuai dengan keinginan kita, tetapi menerima perubahan dengan cara merubah yang ada di dalam diri kita terlebih dulu.


Salam sukses luar biasa!!!

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
DaunDiMusimGugur
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Senin, 10-Desember-2007
Audio/Video :
Pada suatu pagi hari di sebuah musim gugur, tampak seorang anak bekerja menyapu halaman luar sebuah asrama. Pohon-pohon yang rindang di sekitar situtampak berguguran daunnya. Walaupun bekerja dengan rajin dan teliti menyapu dedaunan yang rontok, tetap saja halaman dikotori dengan ranting dan daun.

"Aduh capek deh. Biarpun menyapu dengan giat setiap hari tetap saja besok kotor lagi. Bagaimana caranya ya supaya aku tidak harus bekerja terlalu keras setiap hari?" sambil masih memegang sapu, si anak sibuk memutar otak memikirkan cara yang jitu.

Kepala asrama yang melintas di situ menghampiri dan menyapa, " selamat pagi Anakku, kenapa kamu melamun ? Apa gerangan yang sedang kamu pikirkan?" "Eh, selamat pagi paman. Saya sedang berpikir mencari cara bagaimana supaya halaman ini tetap bersih tanpa harus menyapunya setiap hari. Dengan begitu kan saya bisa mengerjakan yang lain dan tidak harus melulu menyapu seperti sekarang ini".

Sambil tersenyum si paman menjawab, "Bagaimana kalau kamu coba menggoyangkan setiap pohon agar daunnya jatuh lebih banyak. Siapa tahu, dengan lebih banyak daun yang gugur, paling tidak besok daunnya tidak mengotori halaman dan kamu tidak perlu menyapu". "Wah ide paman hebat sekali!" segera dia berlari mendekat ke batang pohon dan menggoyang-goyangkan sekuat tenaga. Semua pohon diperlakukan sama, dengan harapan, setidaknya besok dia tidak perlu menyapu lagi. "Lumayan bisa istirahat satu hari tidak bekerja", katanya dalam hati dengan gembira.

Malam hari si anak pun tidur dengan nyenyak dan puas. Ketika bangun keesokan harinya, cepat-cepat dia berlari keluar kamar. Seketika harapannya berubah kecewa saat melihat halaman yang kembali dipenuhi dengan rontokan daun-daun. Saat itu pula paman sedangada di luar dan memperhatikan ulah nya sambil berkata " Anakku , musim gugur adalah fenomena alam. Bagaimanapun kamu hari ini bekerja keras menyapu daun2 yang rontok, esok hari akan tetap ada daun-daun yang rontok untuk di bersihkan,Kita tidak bisa merubah kondisi alam sesuai dengan kemauan kita. Daun yang harus rontok, tidak bisa ditahan atau dipaksa rontok. Maka jangan kecewa karena harus bekerja setiap hari. Nikmati pekerjaanmu dengan hati yang senang , setuju?" kata si paman memberikan sebuah pelajaran hidup yang begitu berarti. "Setuju paman. Terima kasih atas pelajarannya", segera dia berlari menghampiri sapunya.

Pembaca yang budiman,

Kalau kita bekerja dengan suasana hati yang tidak gembira , maka semua pekerjaan yang kita lakukan akan terasa berat dan mudah timbul perasaaan bosan.

Pepatah mandarin mengatakan

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Tulisan Di Atas Pasir
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Senin, 03-Desember-2007
Audio/Video :


Di pesisir sebuah pantai, tampak dua anak sedang berlari-larian, bercanda dan bermain dengan riang gembira. Tiba-tiba, terdengar pertengkaran sengit di antara mereka,salah seorang anak yang bertubuh lebih besar memukul temannya sehingga wajahnya menjadi biru lebam. Anak yang dipukul seketika diam terpaku. Lalu, dengan mata berkaca-kaca dan raut muka marah menahan sakit, tanpa berbicara sepatah katapun, dia menulis dengan sebatang tongkat di atas pasir: "Hari ini temanku telah memukul aku !!!"

Teman yang lebih besar merasa tidak enak, tersipu malu tetapi tidak pula berkata apa-apa. Setelah berdiam-diaman beberapa saat, ya ..dasar-anak-anak, mereka segera kembali bermain bersama. Saat lari berkejaran, karena tidak berhati-hati, Tiba-tiba, anak yang dipukul tadi terjerumus ke dalam lobang perangkap yang dipakai menangkap binatang "Aduh.... Tolong....Tolong!" ia berteriak kaget minta tolong. Temannya segera menengok ke dalam lobang dan berseru "Teman, apakah engkau terluka? Jangan takut, tunggu sebentar, aku akan segera mencari tali untuk menolongmu". Bergegas anak itu berlari mencari tali. Saat dia kembali, dia berteriak lagi menenangkan sambil mengikatkan tali ke sebatang pohon "Teman, Aku sudah datang! Talinya akan kuikat ke pohon, sisanya akan ku lemparkan ke kamu, tangkap danikatkan dipinggangmu, pegang erat-erat, aku akan menarikmu keluar dari lubang".

Dengan susah payah, akhirnya teman kecil itupun berhasil dikeluarkan dari lubang dengan selamat. Sekali lagi, dengan mata berkaca-kaca, dia berkata, "Terima kasih, sobat!". Kemudian, dia bergegas berlari mencari sebuah batu karang dan berusaha menulis di atas batu itu "Hari ini, temanku telah menyelamatkan aku".

Temannya yang diam-diam mengikuti dari belakang bertanya keheranan, "Mengapa setelah aku memukulmu, kamu menulis di atas pasir dan setelah aku menyelamatkanmu, kamu menulis di atas batu?" Anak yang di pukul itu menjawab sabar, "Setelah kamu memukul, aku menulis di atas pasir karena kemarahan dan kebencianku terhadap perbuatan buruk yang kamu perbuat, ingin segera aku hapus, seperti tulisan di atas pasir yang akan segera terhapus bersama tiupan angin dan sapuan ombak.

Tapi ketika kamumenyelamatkan aku, aku menulis di atas batu, karena perbuatan baikmu itu pantas dikenang dan akan terpatri selamanya di dalam hatiku, sekali lagi, terima kasih sobat".

Pembaca yang budiman,

Hidup dengan memikul beban kebencian, kemarahan dan dendam, sungguh melelahkan. Apalagi bila orang yang kita benci itu tidak sengaja melakukan bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa dia telah menyakiti hati kita, sungguh ketidakbahagiaan yang sia-sia.

Memang benar.... bila setiap kesalahan orang kepada kita, kita tuliskan di atas pasir, bahkan di udara, segera berlalu bersama tiupan angin, sehingga kita tidak perlu kehilangan setiap kesempatan untuk berbahagia.

Sebaliknya.. tidak melupakan orang yang pernah menolong kita, seperti tulisan yang terukir di batu karang. Yang tidak akan pernah hilang untuk kita kenang selamanya.

Salam sukses luar biasa!!

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Ulat KecilYangBerani
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Senin, 19-November-2007
Audio/Video :


Dikisahkan, ada seekor ulat kecil sejak lahir menetap di daerah yang tidak cukup air, sehingga sepanjang hidupnya, dia selalu kekurangan makanan. Di dalam hati kecilnya ada keinginan untuk pindah dari rumah lamanya demi mencari kehidupan dan lingkungan yang baru. Tapi dari hari ke hari dia tidak juga memiliki keberanian untuk melaksanakan niatnya. Hingga suatu hari, karena kondisi alam yang semakin tidak bersahabat, si ulat terpaksa membulatkan tekat memberanikan diri keluar dari rumahnya, mulai merayap ke depan tanpa berpaling lagi ke belakang.

Setelah berjalan agak jauh, dia mulai merasa bimbang, katanya dalam hati, "Jika aku sekarang berbalik kembali ke rumah lama rasanya masih keburu, mumpung aku belum berjalan terlalu jauh. Karena kalau aku berjalan lebih jauh lagi, jangan-jangan jalan pulang pun takkan kutemukan lagi, mungkin aku akhirnya aku tersesat dan... entah bagaimana nasibku nanti!" Ketika si ulat sedang maju mundur penuh kebimbangan dan pertimbangan, tiba-tiba ada sebuah suara menyapa di dekatnya, "Halo ulat kecil! Apa kabar? Aku adalah kepik. Senang sekali melihatmu keluar dari rumah lamamu. Aku tahu, engkau tentu bosan kekurangan makan karena musim dan cuara yang tidak baik terus menerus. Kepergianmu tentu untuk mencari kehidupan yang lebih baik, kan". Si ulat pun bertanya kepada si kepik yang sok tau, "Benar kepik. Aku memutuskan pergi dari sarangku untuk kehidupan yang lebih baik. Apakah engkau tau, apa yang ada di depan sana?" " oh...Aku tahu, jalan ke depan yang akan kau lalui, walaupun tidak terlalu jauh tetapi terjal dan berliku, dan lebih jauh di sana ada sebuah goa yang gelap yang harus kau lalui, tetapi setelah kamu mampu melewati kegelapan, aku beritahu, pintu goa sebelah sana terbentang sebuah tempat yang terang, indah dan sangat subur. Kamu pasti menyukainya. Di sana kau pasti bisa hidup dengan baik seperti yang kamu inginkan".

Si kepik dengan bersemangat memberi dorongan kepada ulat yang tampak ragu dan ketakutan. "Kepik, apakah tidak ada jalan pintas untuk sampai ke sana?" Tanya ulat. "Tidak sobat. Jika kamu ingin hidup lebih baik dari hari ini, kamu harus melewati semua tantangan itu. Nasehatku, tetaplah berjalan langkah demi langkah, fokuskan pada tujuanmu dan tetaplah berjalan.Niscaya kamu akan tiba di sana dengan selamat. Selamat jalan dan selamat berjuang sobat!" sambil berteriak penuh semangat, si kepik pun meninggalkan ulat.

Pembaca yang budiman,

Memang benar.... kemenangan , kesuksesan adalah milik mereka yang secara sadar,tau apa yang menjadi keinginannya sekaligus siap menghadapi rintangan apapun yang menghadang serta mau memperjuangkannya habis habisan melalui cara2 yang benar sampai mencapai tujuan akhir yaitu kesuksesan.

Pengertian sukses secara sederhana demikian, telah di praktekan oleh manusia sukses berabad abad lampau sampai saat ini sesuai dengan bidangnya masing2.

Maka ...untuk meraih kesuksesan yang maksimal,kita tidak memerlukan teori teori kosong yang rumit. Cukup tau akan nilai yang akan di capai dan take action! Ambil tindakan!

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
KekuatanPikiran
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Senin, 05-November-2007
Audio/Video :
Dikisahkan, ada seorang ibu yang sangat menyayangi putra tunggalnya. Karena rasa kuatir yang sangat, ditambah maraknya berita penculikan di media massa, si ibu pun memberi nasehat kepada putranya, "Nak, kalau matahari sudah tidak bersinar lagi, jangan keluar rumah ya. Karena saat gelap seperti itulah roh jahat mulai bermunculan. Ada yang disebut kuntilanak, genderuwo, dan lain-lain. Pokoknya mahluk jelek, hitam dan jahat. Maka belajar baik-baik di dalam rumah saja ya, terutama malam hari, oke?" Sang anak, yang sedikit penakut, dengan senang hati mematuhi nasehat ibunya.

Setelah beranjak remaja, si anak tumbuh menjadi pemuda cilik yang penakut dan pengecut. Seringkali, ketakutannya yang berlebihan itu terbawa-bawa dalam mimpi. Tidak jarang, ketika tidur ia tiba-tiba terbangun dengan berteriak histeris serta bersimbah peluh ketakutan. Kedua orang tuanya pun menjadi khawatir melihat perkembangan jiwa si anak. Berbagai nasehat bernada menghibur yang disampaikan si orang tua kepada anaknya tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan, kadang si anak justru merasa orangtuanya berusaha mencelakai dia.

Suatu hari, sang kakek mendengar kondisi cucunya tersebut. Maka, ia pun segera menyempatkan diri berkunjung ke rumah anaknya. Setelah memikirkan dengan seksama, suatu sore, si kakek mengajak cucunya berjalan-jalan ke pasar malam bersama-sama dengan beberapa orang tetangga dan teman si cucu. Sesampainya di pasar malam itu, mereka pun bersenang-senang. Sang cucu dan teman-temannya bermain dan melihat berbagai pertunjukkan hingga malam hari. Setelah puas dan lelah bermain, mereka pun berjalan kaki pulang ke rumah.

Tiba di rumah, si kakek meneruskan berbincang santai dengan cucunya. "Cucuku, terang dan gelap adalah sifat alam. Tidak ada hubungannya dengan roh gentayangan dan kejahatan. Sudah kita buktikan sendiri kan? Bukankah sepanjang jalan dalam kegelapan tadi tidak ada satupun roh jahat yang mengganggu? Ketahuilah, roh jahat hanya ada di pikiran kamu sendiri. Usir dia dari pikiranmu, maka tidak akan ada yang namanya roh jahat di muka bumi ini. Kakek yang sudah setua ini telah membuktikan sendiri. Ketakutan hanya ada di pikiran kita. Gunakan pikiranmu untuk hal-hal yang baik, maka engkau akan membuat segalanya menjadi baik, indah, dan membahagiakan."

Demikianlah, berkat kata-kata bijak dari si kakek, lewat proses waktu, akhirnya si cucu mampu merubah mindset dan memiliki kesehatan mentalitas yang positif. Ia pun tumbuh jadi pemuda yang pemberani.

Pembaca yang budiman,

Mendidik anak dengan nada ancaman atau dengan menakutinya, walaupun untuk tujuan yang baik, bisa berdampak buruk dan merusak kesehatan mental, bila tidak disertai dengan pengertian benar!

Hukum pikiran bersifat universal dan berlaku untuk siapa saja, baik anak-anak atau orang dewasa, yakni you are what you think, Anda adalah apa yang Anda pikirkan! Maka, apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi.You are what you believe, Anda adalah apa yang Anda percayai!

Karena itu, kalau yang kita tanamkan ke dalam pikiran kita setiap hari adalah hal-hal yang negatif, dampaknya akan destruktif atau merusak. Sebaliknya, kalau baik dan positif sifatnya, tentu dampak dalam kehidupan kita akan menjadi positif dan konstruktif.

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
AyahkuTukangBatu
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Jumat, 26-Oktober-2007
Audio/Video :


Alkisah, sebuah keluarga sederhana memiliki seorang putri yang menginjak remaja. Sang ayah bekerja sebagai tukang batu di sebuah perusahaan kontraktor besar di kota itu. Sayang, sang putri merasa malu dengan ayahnya. Jika ada yang bertanya tentang pekerjaan ayahnya, dia selalu menghindar dengan memberi jawaban yang tidak jujur. "Oh, ayahku bekerja sebagai petinggi di perusahaan kontraktor," katanya, tanpa pernah menjawab bekerja sebagai apa.

Putri lebih senang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Ia sering berpura-pura menjadi anak dari seorang ayah yang bukan bekerja sebagai tukang batu. Melihat dan mendengar ulah anak semata wayangnya, sang ayahnya bersedih. Perkataan dan perbuatan anaknya yang tidak jujur dan mengingkari keadaan yang sebenarnya membuatnya telah melukai hatinya.

Hubungan di antara mereka jadi tidak harmonis. Putri lebih banyak menghindar jika bertemu dengan ayahnya. Ia lebih memilih mengurung diri di kamarnya yang kecil dan sibuk menyesali keadaan. "Sungguh Tuhan tidak adil kepadaku, memberiku ayah seorang tukang batu," keluhnya dalam hati.

Melihat kelakuan putrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Maka, suatu hari, si ayah mengajak putrinya berjalan berdua ke sebuah taman, tak jauh dari rumah mereka. Dengan setengah terpaksa, si putri mengikuti kehendak ayahnya.

Setelah sampai di taman, dengan raut penuh senyuman, si ayah berkata, "Anakku, ayah selama ini menghidupi dan membiayai sekolahmu dengan bekerja sebagai tukang batu. Walaupun hanya sebagai tukang batu, tetapi ayah adalah tukang batu yang baik, jujur, disiplin dan jarang melakukan kesalahan. Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, lihatlah gedung bersejarah yang ada di sana. Gedung itu bisa berdiri dengan megah dan indah karena ayah salah satu orang yang ikut membangun. Memang, nama ayah tidak tercatat di sana, tetapi keringat ayah ada di sana. Juga, berbagai bangunan indah lain di kota ini dimana ayah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung tersebut. Ayah bangga dan bersyukur bisa bekerja dengan baik hingga hari ini."

Mendengar penuturan sang ayah, si putri terpana. Ia terdiam tak bisa berkata apa-apa. Sang ayah pun melanjutkan penuturannya, "Anakku, ayah juga ingin engkau merasakan kebanggaan yang sama dengan ayahmu. Sebab, tak peduli apa pun pekerjaan yang kita kerjakan, bila disertai dengan kejujuran, perasaan cinta dan tahu untuk apa itu semua, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu."

Setelah mendengar semua penuturan sang ayah, si putri segera memeluk ayahnya. Sambil terisak, ia berkata, "Maafkan putri Yah. Putri salah selama ini. Walaupun tukang batu, tetapi ternyata Ayah adalah seorang pekerja yang hebat. Putri bangga pada Ayah." Mereka pun berpelukan dalam suasana penuh keharuan.

Pembaca yang budiman,

Begitu banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri apa adanya. Entah itu masalah pekerjaaan, gelar, materi, kedudukan, dan lain sebagainya. Mereka merasa malu dan rendah diri atas apa yang ada, sehingga selalu berusaha menutupi dengan identitas dan keadaan yang dipalsukan.

Tetapi, justru karena itulah, bukan kebahagiaan yang dinikmati. Namun, setiap hari mereka hidup dalam keadaan was was, demi menutupi semua kepalsuan. Tentu, pola hidup seperti itu sangat melelahkan.

Maka, daripada hidup dalam kebahagiaaan yang semu, jauh lebih baik seperti tukang batu dalam kisah di atas. Walaupun hidup pas-pasan, ia memiliki kehormatan dan integritas sebagai manusia.

Sungguh, bisa menerima apa adanya kita hari ini adalah kebijaksanaan. Dan, mau berusaha memulai dari apa adanya kita hari ini dengan kejujuran dan kerja keras adalah keberanian!

Salam Sukses Luar Biasa!!!!

--


[Simpan dalam bentuk PDF] SocialTwist Tell-a-Friend
Menjadi Diri Sendiri
Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Rabu, 10-Oktober-2007

Alkisah, di puncak sebuah mercusuar, tampak lampu mercusuar yang gagah dengan sinarnya menerangi kegelapan malam. Lampu itu menjadi tumpuan perahu para nelayan mencari arah dan petunjuk menuju pulang.

Dari kejauhan, pada sebuah jendela kecil di rumah penjaga mercusuar, sebuah lampu minyak setiap malam melihat dengan perasaan iri ke arah mercusuar. Dia mengeluhkan kondisinya, “Aku hanyalah sebuah lampu minyak yang berada di dalam rumah yang kecil, gelap dan pengap. Sungguh menyedihkan, memalukan, dan tidak terhormat. Sedangkan lampu mercusuar di atas sana, tampak begitu hebat, terang dan perkasa. Ah….Seandainya aku berada di dekat mercusuar itu, pasti hidupku akan lebih berarti, karena akan banyak orang yang melihat kepadaku dan aku pun bisa membantu kapal para nelayan menemukan arah untuk membawanya pulang ke rumah mereka dan keluarganya.”

Suatu ketika, di suatu malam yang pekat, petugas mercusuar membawa lampu minyak untuk menerangi jalan menuju mercusuar. Setibanya di sana, penjaga itu meletakkan lampu minyak di dekat mercusuar dan meninggalkannya di samping lampu mercusuar. Si lampu minyak senang sekali. Impiannya menjadi kenyataan. Akhirnya ia bisa bersanding dengan mercusuar yang gagah. Tetapi, kegembiraannya hanya sesaat. Karena perbandingan cahaya yang tidak seimbang, maka tidak seorang pun yang melihat atau memperhatikan lampu minyak. Bahkan, dari kejauhan si lampu minyak hampir tidak tampak sama sekali karena begitu lemah dan kecil.

Saat itu, lampu itu menyadari satu hal. Ia tahu bahwa untuk menjadikan dirinya berarti, dia harus berada di tempat yang tepat, yakni di dalam sebuah kamar. Entah seberapa kotor, kecil dan pengapnya kamar itu, tetapi di sanalah lebih bermanfaab. Sebab, meski nyalanya tak sebesar mercusuar, lampu kecil itu juga bisa memancarkan sinarnya menerangi kegelapan untuk orang lain. Lampu kini tahu, sifat iri hati karena selalu membandingkan diri dengan yang lain, justru membuat dirinya tidak bahagia dan memiliki arti.


Pembaca yang budiman,
Hidup kita tentu akan menderita jika merasa diri sendiri selalu lebih rendah dan kecil. Maka, tidak akan tenang hidup jika kita selalu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain dan menganggap orang lain lebih hebat. Apalagi, jika kita kemudian secara membuta mencoba menjadi orang lain.
Meniru orang memang sah dan boleh saja. Namun, belajarlah dari orang lain dari sisi yang baik saja, tentu dengan tanpa mengecilkan dan meremehkan diri sendiri.
Karena itu, apapun keadaan diri, kita harus senantiasa belajar bersyukur dan tetap bangga menjadi diri sendiri. Selain itu, kita juga butuh melatih danmemelihara keyakinan serta kepercayaaan diri. Dengan menyadari kekuatan dan kelebihan yang kita miliki, dan mau berjuang selangkah demi selangkah menuju sasaran hidup yang telah kita tentukan, ditambah bekal kekayaan mental yang kita miliki, pastilah kemajuan dan kesuksesan yang lebih baik akan kita peroleh.

Jadilah diri sendiri! Be your self!
Salam sukses luar biasa!!!

--

Be
the Best You Can Be

“Be 100%” Pernah dengar slogan iklan
minuman isotonic itu melalui televisi atau radio? Mengapa Danone Aqua sebagai
produsen Mizone menggunakan slogan seperti itu?

“Be 100%” merupakan salah satu kunci
untuk sukses, karena dengan 100% orang dapat melakukan sesuatu dengan baik,
bahkan sangat baik, karena dengan 100% orang bisa maksimal. Tak heran Danone
menggunakan slogan itu, karena Danone pasti ingin Mizone sukses di pasaran.

Dalam iklan minuman yang laris manis
di pasaran tersebut, seorang pria muda yang menjadi model digambarkan sebagai
orang yang loyo dan tak bergairah, sehingga dia tertimpa sejumlah ban mobil
yang jatuh dari atasnya, dan tertinggal oleh tukang ojek yang akan
ditumpanginya. Adegan dalam iklan ini mengandung makna, jika Anda loyo dan
tidak bergairah seperti itu, banyak hal merugikan terjadi dalam hidup Anda.
Karenanya, Anda harus berupanya menjadi 100% agar Anda menjadi manusia yang
penuh semangat dan vitalitas.

Dalam dunia usaha, setiap pekerja,
apakah yang berada pada posisi sebagai pengambil kebijakan seperti direktur
utama dan jajaran direksinya, atau pelaksana kebijakan seperti manajer,
dituntut untuk 100% dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, karena
mereka mengemban visi dan misi perusahaan. Jika mereka bekerja
setengah-setengah, laju pertumbuhan perusahaan akan lambat, bahkan mungkin
stagnan, karena mereka akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk
melakukan aktifitas-aktifitas yang tidak ada kaitannya dengan tugas dan
tanggung jawab yang diemban, seperti
chatting melalui Facebook, bermain game on line, mengobrol, tidur, dan
lain-lain. Karena tidak melaksanakan tugas dan tangung jawab dengan 100%, maka
tentu saja banyak pekerjaan menjadi terbengkalai atau tertunda-tunda
penyelesaiannya, sehingga waktu pencapaian goal dapat molor dari jadwal.

Jika Anda mampu bekerja 100%, Anda
akan tumbuh menjadi pekerja berkualitas dan menonjol di lingkungan tempat kerja
Anda, karena untuk dapat bekerja 100%, secara naluriah Anda akan terdorong
untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin (manajemen waktu), dan memanajemini
diri Anda sebaik mungkin. Karena kedua hal ini, Anda akan selalu berusaha
datang tepat waktu ke kantor, tak suka menggunakan jam kerja untuk hal-hal yang
tidak terkait dengan tugas dan tanggung jawab, dan selalu berusaha
menyelesaikan semua pekerjaan yang dibebankan sebelum atau tepat pada waktu
yang dijadwalkan.

Bagi sebagian orang lembur bukanlah
prestasi yang perlu dibanggakan. Orang yang dapat bekerja 100% bahkan tidak
membutuhkan waktu lembur, karena semua pekerjaan telah diselesaikan pada
rentang jam kerja. Lembur sebenarnya merugikan pekerja, karena lembur membuat
waktu istirahat dan waktu bersama keluarga ‘terampas’. Bagi perusahaan pun
lembur merugikan, karena harus mengeluarkan dana ekstra untuk membayar waktu
lembur pegawai.

Selamat berakhir pekan. Manfaatkan waktu
libur Anda sebaik-baiknya, se-seratuspersen mungkin untuk keluarga, liburan,
refreshing, menenangkan diri hingga mempersiapkan diri untuk aktivitas yang akan
Anda jalani di minggu depan yang penuh gairah. “Jangan kerja di waktu libur dan
jangan libur di waktu kerja”, Be 100% dimana pun Anda berada. Pastikan keberadaan
Anda membawa dampak positif dan significant bagi lingkungan tersebut.

Menjadi 100% tentu perlu perjuangan
dan komitmen tinggi, karena untuk menjadi seperti ini dibutuhkan kemauan yang
kuat, dedikasi yang tinggi, dan loyalitas terhadap tujuan. Namun sebanding
dengan hasil yang akan Anda peroleh. Mau?

Hasil
akhir yang berkwalitas dimulai dari Implementasi yang berkwalitas (Quality Implementation / QI)

--

Bagi anda yg sedang mengalami masalah, pertimbangkan hal ini:

Wilma Rudolf adalah anak ke 20 dari 22 bersaudara (bisa dibayangkan kecukupan gizinya). Dia lahir secara prematur dengan harapan hidup yang sangat tipis. Saat berusia 4 tahun ia terserang radang paru-paru dan demam Scarlet yang menyebabkan kaki kirinya lumpuh, namun ia tidak patah semangat, pada usia 9 tahun ia sudah dapat melepaskan penyangga kakinya dan dapat berjalan sedikit tanpa bantuan alat, pada usia 13 tahun ia sudah dapat berjalan normal yg menurut dokternya adalah suatu keajaiban, di tahun berikutnya ia memutuskan untuk menjadi pelari. dia mengikuti beberapa perlombaan selama beberapa tahun dan selalu mendapat posisi TERAKHIR. Setiap orang menyuruhnya berhenti, namun ia tetap bertahan dan berlari, sampai suatu hari ia berhasil memenangkan suatu perlombaan. kemudian ia menang, menang, dan menang lagi di setiap perlombaan yang diikutinya. Akhirnya, gadis kecil ini yang dulu pernah divonis tidak bisa berjalan lagi, akhirnya berhasil MEREBUT 3 MEDALI EMAS OLIMPIADE.

Inti cerita ini, "JANGANLAH PERNAH MENYERAH, PERCAYALAH PADA USAHA MANUSIA DAN KEAJAIBAN TUHAN.", katanya "IBU SAYA MENGAJARKAN SEJAK AWAL UNTUK PERCAYA BAHWA SAYA BISA MENCAPAI APA YANG SAYA INGINKAN" inilah bukti hasil dari keyakinan manusia.

Anonimous..!

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar