Rabu, 21 April 2010

If Life Is Too Short

Wednesday, 14 April 2010
Saya pertama kali bertemu dengan Charles dan Linda Graham saat pasangan asal Amerika itu ikut serta dalam rombongan tur ke Eropa Barat yang saya pimpin, kira-kira 12 tahun yang lalu. Ketika itu mereka mengadakan perjalanan dalam rangka memperingati ulangtahun emas perkawinan mereka. Saya banyak berkomunikasi dengan mereka sebab mereka duduk di baris pertama pada bus yang kami kendarai sepanjang perjalanan, tepat di belakang bangku tempat duduk saya

Selama 14 hari perjalanan mengunjungi 9 kota di 5 negara, pasangan yang sudah berusia lebih dari 70 tahun itu kerap menjadi perhatian saya. Bukan karena saya mengkhawatirkan kondisi fisik mereka yang mungkin kelelahan akibat perjalanan panjang, karena untuk ukuran kebanyakan orang seusianya, mereka tergolong cukup sehat dan lincah. Yang saya perhatikan justru bagaimana mereka tampak begitu menikmati setiap momen dalam perjalanan tersebut.

'Pengamatan' yang saya lakukan secara sembunyi-sembunyi terhadap mereka - entah dengan mencuri pandang melalui kaca spion bus yang kebetulan mengarah langsung pada mereka, atau memperhatikan bagaimana mereka berunding untuk menentukan mau pergi ke mana ketika acara bebas-membuat saya melihat ada sesuatu yang 'berbeda' diantara keduanya dibandingkan para peserta lain. Keduanya tampak sangat ceria, yang terpancar jelas dari raut wajah mereka yang sudah dipenuhi keriput.

Rasa penasaran saya atas pasangan Charles dan Linda belum sempat terjawab ketika perjalanan yang kami lakukan sudah harus berakhir. Seluruh rombongan berpisah untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing, sementara saya melanjutkan hidup saya seperti biasa.

Setahun berikutnya, ketika ditugaskan untuk memimpin sebuah rombongan tur ke Eropa Timur, secara tak sengaja saya bertemu lagi dengan Charles dan Linda yang ternyata juga ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin saat itu. Kali ini mereka melakukan perjalanan untuk merayakan ulangtahun perkawinan yang ke-51.

Lantaran sudah saling kenal sebelumnya, kami menjadi cepat akrab. Sebenarnya, saat itu saya hanyalah seorang tur leader pengganti lantaran tur leader yang seharusnya memimpin perjalanan tersebut mendadak jatuh sakit. Di awal perjalanan, saya berterus terang kepada para peserta tur bahwa saya kurang familiar dengan rute perjalanan kali ini.

Di luar dugaan, Charles secara diam-diam berbicara banyak tentang saya kepada para peserta tur lainnya berdasarkan pengalaman yang dialaminya saat ikut serta dalam rombongan tur yang saya pimpin setahun sebelumnya. Tentang bagaimana saya sudah menjadi tur leader yang menurut dia sangat baik dan caring serta berbagai hal-hal positif lainnya..

Berkat dia pulalah, sebagian besar peserta tur jadi memiliki penilaian positif terhadap saya. Konsekuensinya, saya jadi lebih tertantang untuk berbuat semaksimal mungkin, memberikan kualitas layanan yang terbaik dan memuaskan.

Pengalaman memimpin grup tur ke Eropa Timur saat itu adalah awal perjalanan karir saya sebagai seorang tur leader, namun justru di saat saya merasa banyak kemungkinan untuk melakukan kesalahan karena minimnya 'jam terbang' dan penguasaan medan, hampir seluruh peserta tur malah memberikan dukungan positif atas apa yang saya lakukan saat itu sehingga saya merasakan situasi yang nyaman sepanjang perjalanan tersebut. Dan semua itu disebabkan karena berbagai pernyataan positif yang disampaikan oleh Charles.

"Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, kalau bisa membuatnya lebih indah, kenapa harus dijalani dengan airmata. Kalau bisa memotivasi orang lain dengan pujian, mengapa kita harus menyampaikannya dengan celaan?" demikian kata Linda saat saya menyampaikan terimakasih atas 'promosi' yang dilakukan suaminya untuk saya.

Prinsip "Life is too short" yang dianut oleh Charles dan Linda itu membuat saya merenung tentang makna hidup yang sudah saya jalani saat ini. Usia pernikahan yang mereka jalani hingga sanggup mencapai angka di atas 50 tahun adalah suatu hal yang langka, dan menurut saya perjalanan hidup mengarungi kehidupan selama 70 tahun lebih bukanlah waktu yang singkat pula.

"Kita tidak pernah tahu kapan hidup ini bakal berakhir, kapan saat terakhir kita bakal bertemu dengan orang yang kita kasihi. Bisa saja besok saya atau kamu dipanggil Tuhan, dan alangkah menyesalnya kita ketika menyadari betapa banyak hal yang sebenarnya ingin kita capai, ternyata tidak pernah terwujudkan. Jika setiap saat kita berpikir bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dijalani, maka kita akan termotivasi untuk memberikan makna terbaik pada hari-hari yang kita jalani saat ini," demikian ungkap Charles panjang lebar. "Dan jika pada kenyataannya kita diberi anugerah untuk menjalani hidup ini lebih lama, bukankah hari-hari yang sudah kita lalui bakal menjadi rangkaian kenangan nan indah? "

Selama kehidupan pernikahan kami, rasanya kami tidak sempat meributkan hal-hal kecil karena waktu kami telah tersita dengan pemikiran bagaimana mengisi hari-hari 'pendek' kami dengan sebaik mungkin."

Perkataan Charles dan Linda itu terus melekat di benak saya hingga kini. Prinsip hidup yang mereka anut telah berhasil mempengaruhi jalan pemikiran saya, sehingga sejak saat itu saya menjalani kehidupan dengan lebih bersemangat.

Ketika menikah beberapa tahun yang lalu, saya bersama istri juga telah bersepakat untuk menjalani kehidupan ini dengan prinsip 'life is so short'. Setiap saat kami selalu berpikir bagaimana caranya agar mengisi hari-hari kami dengan sebaik mungkin. Peringatan hari ulang tahun saya dan istri, maupun ulang tahun pernikahan, kami menjadi ajang untuk introspeksi tentang hari-hari yang telah kami lewati bersama, sekaligus merencanakan apa yang akan kami lakukan untuk kurun waktu setahun ke depan.

Kami menjadi lebih ekspresif dalam mengungkapkan isi hati dan perasaan masing-masing dan tidak ragu-ragu untuk saling mempersembahkan yang terbaik dan berupaya untuk saling membahagiakan satu sama lain. Setiap kali ada konflik yang terjadi, kami berupaya untuk menyelesaikannya dengan sesegera mungkin.

Banyak orang yang mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga yang kami jalani barulah 'seumur jagung', sehingga saat ini kami baru menikmati yang manis-manis saja. Memang benar, selama hampir dua tahun kehidupan pernikahan kami, hampir bisa dipastikan kami jarang bertengkar. Perselisihan memang ada, namun kami berdua senantiasa mengupayakannya agar persoalan yang kami hadapi tidak melebar dan meluas ke mana-mana. "If you can make it simple, why make it hard?", begitu kata Linda.

Apabila setiap saat kami mempertahankan prinsip yang sama dalam menjalani hidup ini, dan ketika nantinya kami dikaruniakan umur panjang untuk bisa merayakan ulangtahun pernikahan yang ke-10, 20, 30 atau bahkan yang ke-50 seperti Charles dan Linda, wow.... betapa bernilainya hari-hari yang telah kami jalani selama ini, dan betapa banyak kenangan indah yang telah terukir sepanjang kehidupan ini.

Dan kalaupun toh kami tidak dikaruniakan usia yang panjang, setidaknya kami berdua sudah pernah melewati hari-hari yang indah bersama-sama.

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kiriman surat dari Linda (kami memang sering saling berkirim surat semenjak pertemuan kami di Eropa bertahun-tahun lalu). Di suratnya Linda menceritakan bahwa Charles telah meninggal dunia, beberapa saat setelah peringatan ulangtahun pernikahan mereka yang ke-62. Herannya, saya tidak menangkap kesan kesedihan di dalam suratnya tersebut.

Bahkan dia mengatakan bahwa mereka berdua sudah sejak lama bersiap menghadapi momen perpisahan yang tak mungkin terelakkan oleh manusia manapun di dunia ini. Linda mengungkapkan bagaimana beruntungnya mereka bisa melewati saat kebersamaan yang panjang, dan bersyukur atas begitu banyak peristiwa yang boleh mereka jalani berdua. Dan ketika memang 'saat' itu tiba, yang terungkap justru rasa syukur karena telah diberi banyak kesempatan untuk menjalani hari demi hari bersama dengan orang yang dicintainya.

When you think your life is so short and when you always keep trying to fill up your days with cheers and laughter; someday you'll be amazed, how many great moments you've been through in your lifetime.

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mzm. 90:12)

--

Alison Botha PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest
Wednesday, 14 April 2010
Pada Desember 1994, Alison diculik di luar rumah oleh dua orang yang memperkosa, menusuk dan akhirnya menebas tenggorokannya 16 kali untuk memastikan ia sudah mati. Tidak seorang pun bisa percaya bahwa siapa pun dengan luka parah seperti itu bisa hidup tapi, secara ajaib, dia melakukannya.

Cara di mana ia selamat, dengan kekuatan batin dan tekad, kurangnya kepahitan, ketenangan dan kerendahan hati menarik perhatian dari seluruh Afrika Selatan. Pada tahun 1995, dia dianugerahi penghargaan bergengsi Rotarian Paul Harris Award untuk 'Keberanian di atas normal'. Pada tahun yang sama ia menjadi penerima pertama penghargaan 'Perempuan Pemberani' dari majalah Femina. Dia juga terpilih sebagai Port Elizabeth's Citizen of the Year pada upacara yang berkilauan.

Alison telah berbicara di area pembicara profesional selama beberapa tahun. Tujuannya adalah untuk 'membuat perubahan' adalah luar biasa ketika ia telah berbicara kepada ribuan orang yang mencakup perusahaan bisnis besar, perempuan dan kelompok-kelompok sosial, serta beberapa sekolah. Dia telah dibahas khalayak internasional di lebih dari 20 negara termasuk Amerika Serikat, Australia, Eropa, Asia dan Afrika.

Bertemu Alison Botha. Pertama kali membaca tentang dia di buku Andrew Matthews : Kebahagiaan dalam Masa Sulit. Hati saya sakit ketika saya membaca pengalamannya. Benar-benar buruk. Hal terburuk yang pernah bisa dibayangkan terjadi padanya. Ketika dia berumur 27, dua pria menculiknya, diperkosa, dan brutal menyakitinya. Dia hampir mati. Tetapi Tuhan punya rencana lain untuknya. Ia masih hidup. Dia bertemu dengan seorang mahasiswa dokter hewan yang menyelamatkan hidupnya. Dan yang membuatnya terjadi dalam kehidupan ini. Dia menemukan pasangan jiwa, menikah pada tahun 1997 (3 tahun setelah peristiwa tragis). Dan sekarang dia bepergian di seluruh dunia, memberikan kesaksian perjalanan dalam menghadapi penderitaan. I Have Life: Alison's Journey seperti diceritakan kepada Marianne Thamm adalah judul bukunya. Buku yang mengilhami dunia. Mengilhami semua orang yang membaca kisahnya.

Yah, hidup ini benar-benar tidak terduga. Anda tidak mungkin bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Satu saat Alison adalah seorang broker asuransi dengan bisnis Port Elizabeth di Afrika Selatan, kemudian beberapa menit setelah itu, semuanya telah berubah secara drastis. Mimpi buruk yang terburuk yang pernah terjadi pada hidupnya. Tapi kemudian ia bisa berdiri sekali lagi dan membuat perbedaan.

Salut kepada Alison! Hidup tidak selalu mudah. Tapi pemenangnya akan berjuang sampai akhir. Tidak peduli betapa buruknya keadaan. Dan entah bagaimana, aku menemukan bahwa aku malu dengan keluhanku. Setelah membaca perjuangannya dalam hidup ini, sungguh, keluhan saya bukan apa-apa dibandingkan dengan miliknya. Dan saya ingin memiliki sikap seperti itu dalam hidup ini. Aku dapat melihat kasih karunia Tuhan dalam kehidupan Alison. TanganNya itu yang memungkinkan dia untuk melakukannya. Tanpa Dia, saya pikir tidak mungkin untuk menikmati apa yang dia sekarang alami. Tuhan telah begitu baik kepadanya.

Terima kasih kepada Alison atas cerita inspirasionalnya. Dan untuk semua orang di luar sana, Anda dapat membuat perbedaan. Seperti apa yang dikatakannya di situs web: "Tidak peduli situasi, Anda selalu mengontrol sikap, keyakinan Anda dan pilihan-pilihan yang Anda buat .."

Hari ini adalah Hari Perempuan. Saya tidak menyadari hal itu sampai kasir supermarket di apartemen kami bilang begitu. Meskipun bunga, hadiah, hadiah romantis yang telah mengalir di sini di Ho Chi Minh City, saya telah belajar pelajaran lain dari Alison. Seorang wanita yang sangat berani menginspirasi kehidupan banyak orang. Bukan saja ia dapat berdiri di kakinya, ia juga melawan para pemerkosa-membawa mereka ke pengadilan dan menang. Mereka akhirnya penjara seumur hidup. Dan untuk Alison? Dia telah memenangkan pertempuran hidupnya. Dia seorang wanita luar biasa. Terima kasih untuk berbagi hidup Anda dan kisah inspirasional dunia, Alison!

Yang terakhir, dia memeberikan kutipan indah : Hidup adalah indah. Hidup ini patut diperjuangkan. Bukan apa yang terjadi pada Anda, melainkan apa yang Anda lakukan dengan itu.

Jadi, sudahkan kau temukan keindahan di matamu? Masih bisakah melihat keindahan di tengah-tengah badai kehidupan? Mudah-mudahan, hari ini kita dapat belajar sesuatu dari Alison.

Tetapi aku, tentu aku akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku. Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya (Ayub 5:8,9)

--

Antonius Memulai Hidupnya Sebagai Pertapa PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest
Wednesday, 14 April 2010
Salah seorang pendiri terpenting komunitas biara sebenarnya tidak punya ide untuk mendirikan apapun. Ia hanya peduli pada kondisi spiritualnya sendiri dan menghabiskan sebagian besar waktunya seorang diri.

Antonius lahir di Mesir sekitar tahun 250, dalam keluarga kaya. Ketika ia berumur dua puluh tahun, orang tuanya wafat, meninggalkan seluruh harta untuknya. Sebuah teks khotbah yang merupakan perintah Yesus kepada pengusaha muda yang kaya, “Jika ingin memperoleh hidup yang kekal, pergi dan juallah segala yang kau miliki ..”, telah mengubah hidup anak muda ini. Kata-kata tersebut seolah-olah ditujukan kepadanya dan Antoniuspun mengartikannya secara harafiah. Ia membagikan tanah miliknya kepada orang-orang sekampung, menjual harta lainnya dan menyumbangkan uangnya kepada orang-orang miskin. Ia berguru pada seorang Kristen yang sudah berumur, dan belajar tentang suka cita penyangkalan diri. Antonius makan hanya satu kali sehari, yang terdiri dari roti dan air, serta tidur di atas lantai tidak beralas.



Dengan pertobatan Kaisar Konstantinus pada tahun 312, situasi gereja berubah drastis. Kedudukan orang Kristen tidak lagi sebagai kaum minoritas yang buronan, tetapi telah menjadi penganut suatu agama yang terhormat dengan dukungan resmi. Karena besarnya jumlah orang yang masuk gereja, maka tidak mudah lagi untuk mengenal orang-orang yang benar-benar memiliki komitmen pada Kristus dengan mereka yang datang hanya untuk dikenal sebagai bagian dari agama yang populer ini. Mudah percaya, namun belum tentu setia dalam penderitaan.



Orang-orang Kristen sejati pada zaman ini lebih memilih melawan (arus) daripada mengkompromikan keyakinan mereka, dengan meninggalkan (kehidupan) duniawi. Maka Antoniuspun memilih sebuah kuburan sebagai tempat tinggalnya. Menurut penulis biografinya, Athanasius, Antonius selama lebih kurang dua belas tahun ‘ditawan’ setan-setan yang mengambil bentuk bermacam-macam binatang buas dan terkadang menyerang dia serta meinggalkannya dalam keadaan hampir mati. Mereka mencoba menggoda Antonius untuk masuk ke dalam dunia maksiat, tetapi Antonius selalu menang.



Untuk lebih menjauhkan diri dari dunia ini, Antonius pindah ke sebuah benteng yang telah ditinggalkan. Di sana ia tinggal selama dua puluh tahun tanpa menemui seorang manusiapun. Makanan untuknya dilemparkan melalui tembok. Namun orang-orang telah mendengar penyangkalan dirinya dan pergumulannya dengan setan. Beberapa pengahumnya mendirikan pondok-pondok sementara dekat benteng tersebut dan iapun dengan rasa segan menjadi penasihat spiritual mereka dengan memberikan petunjuk dalam hal berpuasa, berdoa dan kegiatan-kegiatan amal. Antonius, dengan sendirinya telah menjadi panutan dalam penyangkalan diri.



Pertapa ini tidak pernah dapat melepaskan dirinya secara penuh dari dunia. Pada tahun 311, Maximianus, salah seorang kaisar kafir terakhir, menganiaya orang-orang Kristen, dan Antonius pun meninggalkan kediamannya untuk mati bagi keyakinannya. Tetapi ia malah melayani orang-orang Kristen terhukum yang dipekerjakan di tambang-tambang kekaisaran. Pengalaman ini meyakinkannya bahwa hidup secara Kristen pun sama salehnya dengan mati untuknya (agama Kristen). Sekali lagi, pada tahun 350, ia meninggalkan kediamannya untuk membela ortodoksi melawan ajaran sesat arius, yang dipicu Konsili Nicea (325). Orang-orang, termasuk Kaisar Konstantinus meminta nasihat spiritual dari sang pertapa ini.



Antonius wafat pada usia 105 tahun dan sampai pada akhir hayatnya, ia berada dalam keadaan sehat pikiran dan jasmani. Untuk mencegah berkembangnya pemujaan di kuburannya, ia meminta agar ia dikubur secara diam-diam.



Namun, pemujaan yang ditakutkannya tetap berkembang. Athanasius – teolog berpengaruh yang peranannya penting dalam konsili Nicea – telah menulis buku “Kehidupan Antonius” (Life Of Anthony) yang sangat populer. Di dalamnya ia menggambarkan Antonius sebagai seorang rahib ideal, yang dapat melakukan keajaiban dan yang dapat mengenal roh jahat serta roh baik. Tidak lama kemudian, kisah seorang pahlawan spiritual yang telah menjadi rahib dan telah menyangkali dirinya pun mulai mempengaruhi Gereja.



Praktik komunitas rahib yang hidup bersama telah dirintis Pachomius, seorang teman Antonius. Seperti Antonius yang kuat dan ulet, sebagian besar pengikutnya memilih menjadi rahib. Antonius telah menyampaikan ide bahwa pribadi religius yang sejati akan mengundurkan diri dari kehidupan dunia dengan menjauhkan diri dari hidup berkeluarga dan kenikmatan duniawi.



Hingga era Reformasi, ide ini tidak pernah mendapat tantangan serius.

--

Ajaran Sesat PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest
Wednesday, 14 April 2010
Dalam sebulan terakhir ini YBA menerima beberapa pertanyaan yang mempersoalkan beberapa ajaran di kalangan Kristen yang cenderung berarah kepada penyesatan seperti ajaran 'Toronto Blessing' yang mengajarkan mujizat 'gigi emas' atau soal 'Benny Hinn' yang katanya bertobat dan menyesali ajarannya semula. Berikut diskusi mengenai pertanyaan/tanggapan yang masuk:

1. Saya mengamati bahwa ajaran 'Toronto Blessing' yang begitu menggebu-gebu di tahun 1995-1996 sekarang kok kelihatannya sudah tidak lagi dipraktekkan orang. Apakah saya bisa mengatakan bahwa ajaran tersebut sesat? (Tansen, Bandung)

Bahwa ajaran itu sekarang sudah tidak lagi populer memang menunjukkan bahwa ajaran itu bukanlah ajaran Yesus dan para Rasul yang diberitakan Alkitab, atau dapat disebut menurut sebutan Anda sebagai 'ajaran sesat.' Toronto Blessing memang 'meng-klaim bahwa gejala itu menunjukkan bahwa Roh Allah melawat.' Dengan pandangan demikian maka dengan sepinya gejala itu sekarang, kita dapat mempertanyakan 'kalau begitu sekarang Allah tidak melawat mereka?'



Bambang Wijaya, ketika diwawancarai oleh Majalah Bahana tentang mengapa sebagai pembela gigih 'Toronto Blessing' sekarang kok tidak lagi dan komentarnya sekarang berbeda sekali dengan pendapatnya yang dulu, menjawab: "Ha … ha … ha … Yah, orang kalau semakin dewasa kan juga berkembang. Ini suatu proses." (BAHANA, September 1999, h.23-24).



Pengalaman ini seharusnya mengingatkan kita bahwa kita harus berhati-hati dengan setiap ajaran baru yang tidak didasarkan Alkitab karena ajaran demikian menyesatkan orang dari Injil yang benar. Berita Injil yang begitu kaya disesatkan pada gejala-gejala emosional dan menggunakan cap 'Lawatan Roh Allah' yang kenyataannya samasekali tidak ada hubungannya dengan Roh Allah yang benar.



John Arnott sendiri pendiri 'Toronto Airport Christian Fellowship' (TACF semula disebut sebagai Toronto Airport Vineyard Fellowship) yang mempopulerkan ajaran Toronto Blessing ke seluruh dunia memang cenderung menekankan manifestasi-manifestasi emosional yang aneh-aneh sehingga gereja itu dikeluarkan dari persekutuan 'Vineyard Fellowship' yang dipimpin oleh John Wimber, padahal John Wimber sendiri adalah tokoh yang menekankan 'Signs & Wonders.'



Memang kenyataannya sejak Toronto Blessing kehilangan kegairahan, gereja TACF merosot pengunjungnya dan rupanya kemerosotan itu dicoba diatasi dengan mempopulerkan kembali 'ajaran sensasi baru' yaitu 'mujizat tambalan gigi amalgam yang di-klaim berubah menjadi emas!' Di awal tahun 1999 TAFC memproduksi sebuah video 30 menit berjudul 'Go for the Gold' dimana John Arnott mengajarkan sensasi baru ini dan mengumumkan kepada jemaat bahwa: "Bila Anda menghendaki Tuhan menyentuh gigi Anda, berdirilah dan sentuhlah wajah Anda." Para petugas kebaktian Arnott membawa-bawa flashlight untuk memeriksa gigi-gigi jemaat yang hadir.



Sensasi mujizat tambalan gigi berubah menjadi emas ini didasarkan kutipan ayat Mazmur 81:11 yang berbunyi: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir; bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh." Padahal ayat ini konteksnya berhubungan dengan Israel yang akan diberi makan gandum yang terbaik dan akan dikenyangkan dengan madu dari gunung (ayat.17).



kita harus berhati-hati dengan 'penginjilan' dengan menyalah gunakan ayat-ayat Alkitab dengan maksud menipu demikian sebab kalau praktek ini lagi-lagi ditiru penginjil Indonesia tentu bakal ramai soalnya banyak orang Indonesia tidak menambal giginya dengan amalgam tetapi dengan perak atau emas, dan kalau ini di'aku-aku' sebagai mujizat, sekali lagi jemaat akan tertipu dan disesatkan!





2. Saya sudah membaca Makalah Sahabat Awam berjudul 'The 7 Habits, vitamin atau toksin?' (MSA-52) dan merasa bersyukur dengan adanya informasi tentang 'penyesatan' terselubung demikian. Saya sudah mempelajari buku 'The 7 Habits' dan rencananya saya diminta untuk mengajarkannya kepada guru-guru sekolah minggu di gereja saya, tetapi setelah membaca buku tersebut saya berniat membatalkannya. Lalu, apa yang sebaiknya saya lakukan? (Dona, Jakarta)

Dapat dimaklumi bahwa pada saat Dona membaca buku 'The 7 Habits' Dona tentu tidak sadar, karena banyak pendeta dan tokoh-tokoh Kristen pun banyak yang sudah terkecoh bahkan mengajarkannya 100%, tetapi puji syukur kepada Tuhan yang mengingatkan Dona akan penyesatan terselubung demikian sebelum Dona sendiri menyeret orang lain pada penyesatan yang sama.



Mengenai langkah apa yang sebaiknya dilakukan Dona, sebaiknya tidak membatalkan acara untuk mengajarkan 'The 7 Habits' kepada guru-guru sekolah minggu di gereja, tetapi tetaplah mengajarkan 'The 7 Habits,' dan buku 'T7H of Highly Effective People' (Stephen Covey) bisa dijadikan acuan betapa kita cenderung bisa disesatkan sesuai 'jalan dunia' yang 'berpusat diri sendiri' dan Dona bisa membawa guru-guru sekolah minggu itu kepada sikap 'T7H of Humble Faithful Servant' sesuai teladan Musa (Kel.18:13-27) yang digambarkan dalam MSA-52.





3. Saya sudah lama tertarik MSA dan tertarik soal topik soal "The 7 Habits, vitamin atau toksin?" (MSA-52). Para manager di kantor saya mengikuti training tersebut dan mengaplikasikannya dalam operasional kantor sehar-hari. Saya berbeban membagikan bahan itu kepada mereka, dapatkah YBA mengirimkan file itu melalui e-mail? (Yohanes, Jakarta)

Kalau Anda berbeban, pesanlah beberapa copy MSA-52 dan bagikan kepada para manajer di kantor Anda. Soal file MSA-52 agar dikirimkan via e-mail, YBA sejak Oktober 1999 sudah merintis pelayanan pengiriman MSA melalui internet dan sudah dimulai dengan mengirimkan file MSA-51 (DOM). Akan diusahakan, file berikutnya adalah file MSA-52 tentang 'The 7 Habits, vitamin atau toksin.' Cara memperolehnya, bukalah www.melsa.net.id/~yba atau www.in-christ.net/yba dan daftarkan diri Anda melalui join-i-kan-untuk-yba@...This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it





4. Beberapa pengkhotbah Kharismatik mengatakan bahwa Yesus Kristus tidak hanya berkhotbah tentang kerajaan Allah saja agar orang bertobat, namun Yesus Kristus juga menyembuhkan sakit penyakit (Mat 4:23, 9:35). Yesus Kristus pun ketika memanggil ke-12 murid-Nya memberikan mereka kuasa kepada mereka untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit, bangkitkanlah orang mati, usirlah setan-setan, dan kelemahan (Mat 10:1, 10:8). Bagaimana pandangan pengasuh tentang statement dari kalangan Kharismatik yang mengatakan bahwa pekabaran Injil tidak cukup hanya dengan khotbah saja, namun harus disertai dengan kuasa Allah yang berupa mujizat kesembuhan? (Sonny, Surabaya).

Memang ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa Yesus melakukan kedua pelayanan tersebut dan Ia juga memberi kuasa kepada para rasul untuk melakukannya, tetapi kita harus juga menyadari bahwa tidak semua murid mendapat dan melakukan kuasa yang sama. Paulus sendiri sakit dan tidak disembuhkan (Gal.4:13;2.Kor.12:7-10) dan ia tidak selalu menyembuhkan penyakit murid-muridnya seperti Timotius (1.Tim.3:23) dan Trofimus (2.Tim.4:20). Kita harus menyadari keterbatasan manusia bahwa tidak semua pelayanan Karismatik menghasilkan mujizat dan kesembuhan, dan adanya praktek mujizat dan kesembuhan yang didasarkan nama Tuhan belum tentu dari Tuhan (Mat.7:15-23). Harus dibedakan 'Injil Keselamatan' dengan tanda-tanda yang 'Menyertai Umat Percaya.' Injil bisa ada tanpa tanda-tanda, tetapi tanda-tanda tanpa Injil tidak ada artinya. Tidak semua murid bisa melakukan tanda-tanda (Mar.16:17-18). Lebih dari itu, sepanjang sejarah Tuhan sudah memberikan karunia melalui perkembangan ilmu kedokteran, karena itu pada masa sekarang sudah ada diversifikasi karunia sehingga tidaklah benar kalau ada klaim bahwa keduanya harus berjalan bersama seperti pada abad pertama. Pada abad pertamapun Yesus tidak menyembuhkan semua orang dan tidak semua orang yang disembuhkan mempunyai hubungan iman dengan Yesus. Menghadapi penginjil-penginjil yang terlalu memegang ayat Mar.16:17-18 secara harfiah, sebenarnya pemecahannya tidak sukar. Mintalah mereka untuk mendemonstrasikan bahwa semuanya bisa mengusir setan, berbahasa lidah, memegang ular berbica atau minum racun, dan menyembuhkan setiap orang yang sakit! Kita dapat melihat apakah klaim mereka benar atau hanya kepercayaan kosong!





5. Di Surabaya (juga di Indonesia dan seluruh dunia) gereja Kharismatik mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Semisal, GBI Bethany, GBT Mawar Sharon, GBT Bukit Zaitun, Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB) Masa Depan Cerah, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS). Saya mengamati bahwa ajaran Kharismatik banyak yang tidak alkitabiah, namun jika demikian kemajuan pesat tersebut apakah benar-benar dari Allah? Menurut pengasuh, apakah ajaran Kharismatik akan terus abadi di masa yang akan datang? Dengan kemajuan Kharismatik yang sangat pesat, benarkah saat ini jumlah pengikut Kharismatik (dan juga Katolik Kharismatik) telah mendominasi kekristenan di seluruh dunia? (Sonny, Surabaya).

Pertambahan anggota jemaat tidak otomatis menunjukkan bahwa ajarannya benar dihadapan Allah dan jemaat itu diberkati oleh Tuhan, apalagi sudah terbukti bahwa jemaat-jemaat itu umumnya datang dari gereja lain. Di Jabar, Bimas Kristen mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini ada pertambahan jumlah gereja sebanyak 40% tetapi jumlah pertambahan orang Kristen hanya 0,8% (padahal pertambahan karena kelahiran nasional 2%). Di seluruh dunia, jemaat tunggal yang paling maju dan berkembang adalah Saksi Yehuwa dan kita tahu apa ajarannya. Ajaran Karismatik akan terus berkembang dan berpecah belah selama manusia mengalami krisis dalam hatinya dan haus akan hal-hal transendental. Yang perlu bagi kita adalah mengajarkan Injil yang Alkitabiah dan dibanyak negara justru iman yang besar dijumpai dalam jemaat-jemaat yang sedikit tetapi mengalami penganiayaan dari pihak komunis atau agama lain.





6. Saya membaca dari majalah BAHANA (September 1999, h.16-17), disitu ditulis bahwa orang yang sangat gencar menyerang Benny Hinn adalah Hank Hanegraff dan mengatakan bahwa ajaran Benny Hinn sebagai bidat. Namun, Benny Hinn dikabarkan telah mengubah pandangannya. Tentang `allah-allah kecil' Benny Hinn mengaku bahwa ia telah menggunakan ayat-ayat yang tidak pas. Kitab Suci mengatakan kita ikut mengambil bagian dalam alam ilahi, tetapi kita bukan Allah. Kita tidak akan pernah menjadi Allah. Hanya ada satu Allah. Tentang klaim yang mengatakan bahwa ajaran Benny Hinn dari `wahyu ilahi' Benny Hinn mengaku bahwa Alkitab menjadi otoritas puncak doktrin Kristen. "Dulu saya pernah beberapa kali melakukan kesalahan tentang apa yang saya anggap sebagai wahyu. Saya kira saya mendengar suara Tuhan, tetapi saya salah." Benarkah Benny Hinn sekarang telah berubah sikap dan semakin alkitabiah? Menurut pengamatan pengasuh, apakah sekarang ini banyak pemimpin Kharismatik yang berubah sikap dan semakin alkitabiah? (Sonny, Surabaya)

Benny Hinn adalah suatu fenomena yang menarik untuk diamati. Ia adalah seorang penginjil yang sering bertukar lidah, bahkan begitu mudahnya menyangkali pendapatnya semula kemudian mengajarkannya lagi. Dalam pertanyaan ada tersembul kenyataan, bahkan apa yang disebutnya sebagai 'wahyu Allah' kemudian disangkali. Memang ia sempat menghapus beberapa kasetnya, tetapi kaset-kaset yang telah beredar dan buku-bukunya yang menyesatkan tidak pernah ditarik. Lebih dari itu, pernyataan dalam BAHANA September 1993 itu adalah pengakuan pada majalah Charisma beberapa waktu sebelumnya, sebelumnya ia juga pernah mengaku salah pada majalah Christianity Today (1991), tetapi sesudahnya ia mencaci maki para pengeritiknya dan mengutuk anak-anak mereka sebagai akan mengalami celaka (1992). Setelah komentarnya berubah kembali ia masih melakukan kesalahan yang sama kembali dan pada bulan September 1994 pertemuan 'Evangelical Ministries to New Religions Conference' masih menyebut 'Benny Hinn' masih mengajarkan ajaran-ajaran 'Word of Faith'nya semula. Kita perlu mendoakan penginjil-penginjil yang telah merasa dirinya besar itu agar tidak makin menyesatkan umat Kristen dan kita tetap harus mendoakan para penginjil Karismatik agar mereka makin Alkitabiah. Kita harus bergembira karena sekarang makin banyak pendeta/calon pendeta dari gereja Pentakosta/Karismatik yang mulai belajar teologia di sekolah teologia Injili sehingga diharapkan emosi yang menggebu-gebu dapat diimbangi dengan pengertian Alkitab yang lurus.





7. Bagaimana pendapat YBA mengenai berita yang menyebutkan bahwa pada waktu ada KKR Morris Cerullo di Senayan, Jakarta, di langit terlihat gambar salib? (Kanaan, Jakarta)

Kita harus kritis dalam menerima klaim-klaim demikian. Bila kita mengamati foto yang disebarluaskan, kita dapat mengetahui bahwa bila foto itu benar, sebetulnya gejala demikian adalah gejala wajar tentang fenomena alam dimana sinar matahari sore karena terhalang awan membentuk garis lurus di langit yang memisahkan sisi gelap dan terang. Dalam foto hanya terlihat satu garis padahal kaki salib mempunyai dua garis bila dilihat frontal dan tiga garis bila dilihat tiga demensional. Adanya garis lain yang dikatakan menyilang garis itu adalah fenomena alam yang sama bila berurusan dengan baik sinar matahari atau sinar stadion. Yang menjadi masalah mengapa itu ditafsirkan sebagai salib? Apa hubungan tanda salib dengan KKR Morris Cerullo? Perlu diketahui bahwa Morris Cerullo adalah penginjil yang tidak menghargai salib Kristus dan mengaku dirinya sebagai Tuhan/Yesus, karena itu perlu dipertanyakan kaitan keduanya. Berikut beberapa ucapan Morris Cerullo:

"Tahukah kamu bahwa sejak awal kejadian alam seluruh maksud Tuhan adalah mengembang biakkan dirinya? … Dan bila kita berdiri disini, saudara, kamu tidak melihat kepada Morris Cerullo; kamu sedang melihat Tuhan. Kamu sedang melihat Yesus." (The End Time Manifestation of the Sons of God, Morris Cerullo World Evangelism, tape 1)

"Kata Morris Cerullo: 'Kamu mewakili apa yang menjadi keberadaan Allah dan apa yang dimiliki Allah … Yesus adalah wujud kelihatan dari Allah. Yesus adalah anak Allah yang hidup. Sekarang siapakah kamu? Anak-anak Allah seperti dikatakan setiap orang. Apa yang bekerja di dalam diri kita adalah manifestasinya. Kalau kamu melihat kepadaku, kamu sedang melihat Yesus. Melihat Yesus adalah melihat Allah. (Joels Army," Jewel van der Merwe, Discernment Ministries).

"Meng-klaim bahwa Allah berkata langsung kepadanya, Cerullo mengaskan, 'Maukah kamu menyerahkan buku sakumu kepadaKu, kata Allah, dan membiarkan aku menjadi Tuhan buku sakumu … Yea, hendaknya taat kepad suaraku." (A Word from God at the Deeper Life World Conference,' Deeper Life, March 1982, h.15).



Herlianto (Yayasan Bina Awam)

--

Garam Yang Tidak Asin PDF Print E-mail
User Rating: / 12
PoorBest
Sunday, 21 March 2010

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak oramg" (Matius 5:13)

Bagi kita yang tinggal di Indonesia tentu akan merasa sangat bingung jika mendengar tentang garam yang bisa menjadi tawar, kehilangan rasa asinnya. Sebab di mana pun kita tinggal di Indonesia ini, kalau kita meraup segenggam garam, lalu kita mencicipinya, rasa garam itu pasti asin. Dan belum pernah seorangpun di Indonesia yang pernah bersaksi telah meraup senggenggam garam atau mengambil segumpal garam kemudian mencicipinya dan rasanya tidak asin.

Sedangkan jika kita membaca Matius 5:13, Yesus mengatakan jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Pertanyaannya mungkinkah garam bisa menjadi tawar? Sehingga ketika ada orang meraup segenggam garam atau mengambil segumpal garam dan menggunakannya untuk masak, ternyata garam itu tidak memberi pengaruh apa-apa karena telah kehilangan rasa asinnya.

Kalau demikian dalam konteks yang bagaimanakah garam bisa kehilangan rasa asinnya? Apakah ketika Yesus mengatakan kalimat tersebut Dia hanya asal bicara? Tentu tidak! Jika tidak asal bicara, tentu Dia memiliki dasar yang kuat untuk memberikan pengajran kepada murid-murid- Nya tentang garam yang telah kehilangan rasa asinnya tersebut.

Dalam konteks masyarakat pada zaman Yesus, mereka tidak mengalami kebingungan seperti kita di Indonesia ketika mendengar bahwa ada garam yang telah kehilangan rasa asinnya. Mengapa? Karena di tanah Kanaan kuno; rumah tangga selalu mempunyai dapur. Dapur itu berupa semacam tungku yang diletakkan di luar rumah. Tungku itu dibuat dari batu dengan alas tanah liat seperti batu bata. Untuk memperoleh dan mempertahankan panas maka di bawah alas batu bata tersebut diletakkan garam yang cukup tebal. Kalau garam tersebut telah kehilangan rasa asinnya, maka panas pada tungku tersebut menjadi berkurang. Kemudian orang akan membongkar tanah bersama garam yang telah kehilangan rasa asinnya tersebut ke pinggir jalan dan akan diinjak-injak oleh orang.

Adam Clarke menjelaskan tentang garam yang menjadi tidak asin itu sangat mungkin di Judea pada waktu itu, hal tersebut dikutip dari penjelasan Mr. Maundrell yang telah membuktikan sendiri dengan memberi penjelasan sebagai berikut: "Along, on one side of the valley, toward Gibul, there is a small precipice about two men's lengths, occasioned by the continual taking away of the salt; and, in this, you may see how the veins of it lie. I broke a piece of it, of which that part that was exposed to the rain, sun,and air, though it had the sparks and particles of salt, YET IT HAD PERFECTLY LOST ITS SAVOUR: the inner part, which was connected to the rock, retained its savor, as I found by proof " (Clake, Clarke's Commentary Matthew - Luke, Ages Software, 1996, 1997:95).

Pada jurang tersebut ditemukan lempengan garam yang muncul oleh karena terkena terpaan hujan, matahari dan udara. Dan lempengan garam itu benar-benar telah kehilangan rasa asinnya. Sedangkan dibagian dalam dari jurang itu lempengan garam yang menempel pada batu karang rasanya tetap asin.

Mengapa garam itu bisa berbentuk menjadi lempengan? Kita tahu jika garam dipres akan menjadi padat dan bentuknya bisa dibuat sesui dengan kehendak pembuatnya. Demikian pula garam yang berada dilembah sebagaimana dijelaskan oleh Mr. Maundrell tersebut, secara alami garam itu akan terus menerus bertumpuk dan menjadi padat sehingga berbentuk lempengan.

Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa garam yang menjadi padat karena dibentuk dengan disengaja atau secara alami itu akan kehilangan rasa asinnya setelah digunakan sebagai pembantu daya panas tungku yang biasa dibuat oleh orang-orang Palestina kuno. Dan ketika daya panas pada tungku itu menjadi berkurang karena kekuatan rasa asin garam telah hilang, maka tungku itu akan dibongkar dan dibuang dan akan dibuat tungku yang baru lagi dengan cara yang sama sebagaimana sebelumnya.

Dengan demikian, kita dapat memahami perkataan Yesus yang mengatakan jika garam kehilangan asinnya, maka garam itu hanya akan dibuang dan diinjak-injak orang. Tetapi muncul pertanyaan, sebenarnya melalui ucapan tersebut Yesus mau mengapungkan pokok persoalan apa kepada para pendengar-Nya?

Pokok utama yang hendak dikemukakan oleh Yesus adalah ketidakbergunaan hanya akan selalu mengundang kesia-sian. Mengapa demikian? Karena garam itu memiliki daya guna yang sangat banyak. 1. Garam selalu dihubungkan dengan kemurnian. 2. Garam merupakan bahan pengawet. 3. Garam memberi cita rasa kepada banyak hal, dsb.

Lantas apa aplikasinya bagi kita pada masa kini? Kalau orang Kristen tidak dapat memenuhi standar hidupnya sebagai orang Kristen, maka ia berada pada jalan yang menuju kepada kesia-sian. Karena bagi Yesus, kita sebagai orang-orang yang percaya kepada-Nya, dimaksud agar kita menjadi garam dunia. Kalau dalam hidup kita tidakmemberlakukan sebagai daya pemurni, sebagai daya pengawet dan sebagai daya pemberi cita rasa dalam banyak hal, maka hidup kita ini sebenarnya sedang menuju kepada kesia-sian belaka. Karena itu, Yesus mengatakan jika garam itu akan menjadi tawar hanya akan dibuang di jalan dan dinjak-injak orang. Artinya, semuanya hanya kesia-siaan belaka.

-

Siapa Yang Pendeta? PDF Print E-mail
User Rating: / 2
PoorBest
Sunday, 21 March 2010
Ada kisah di suatu kota yang penduduknya penduduknya 99% pemeluk agama Kristen. Setiap minggu kota terasa begitu sepi, karena mereka beribadah ke gereja. Jadi kalau mau mencari pak hakim, pak RT, pak walikota dan sebagainya, datang saja ke gereja pasti ketemu.

Hingga suatu hari, di sebelah gereja ada proyek bangunan yang mulai dikerjakan ...

Lalu suatu hari pak pendeta bertanya ke tukang bangunan tersebut, "Akan dibuat gedung apa di sini?"

Kata pekerja di sana, "Akan dibangun sebuah diskotik."

Pendeta itu tersenyum dan berkata dalam hatinya, "Apa masih waras ini orang membangun diskotik di tengah kota yang warganya 99% beragama Kristen. Pasti tidak akan laku."

3 bulan kemudian diresmikanlah diskotik yang sangat mewah di kota itu tepat di sebelah gereja. Orang-orang mulai ramai mengunjungi diskotik itu pada hari sabtu malam.

Pak pendeta masih tidak khawatir. Dia pikir, "Mungkin mereka hanya coba-coba saja ingin tahu apa itu disko."

Besoknya hari minggu, 50% jemaat tidak hadir karena mereka begadang semalaman, dan minum-minum. Pendeta masih berpikir positif minggu depan mereka pasti balik lagi beribadah.

Minggu berikutnya perkiraan pendeta meleset. Ternyata 75% jemaat tidak hadir - dan minggu berikutnya 90% jemaat tidak hadir.

Mulailah pendeta khawatir dan berdoa, "Ya Tuhan kasihanilah umatMu yang tersesat. Turunkanlah api dari langit seperti Engkau membakar Sodom dan Gomorah. Musnahkan diskotik di sebelah ini!" Teriak sang pendeta dengan keras. Begitulah yang dia lakukan selama seminggu berdoa dengan keras.

Pada hari sabtu malam terjadilah konsleting listrik, yang mengakibatkan kebakaran yang hebat di diskotik sebelah gereja. Diskotik itu pun habis terbakar.

Maka hari minggu keesokan harinya, gereja ramai kembali seperti biasa dan pendeta mengucap syukur, "Terima kasih Tuhan Engkau telah mendengar doa hambaMu."

Pada hari Senin datanglah surat pemanggilan yang berisi tuntutan pada pak pendeta atas kebakaran yang terjadi. Tertulis di sana, pendeta dijadikan tersangka utama atas kebakaran diskotik yang terjadi hari Sabtu lalu.

Membaca surat tersebut, lalu pendeta menelpon hakim yang membuat surat penangkapan yang kebetulan dia kenal, "Pak hakim apa tidak salah Anda membuat surat seperti ini? Apakah bapak tidak percaya saya tidak melakukan tindakan seperti itu? Bukankah yang membaptis dan memberkati pernikahan Anda adalah saya?"

"Ya saya percaya kepada Anda pak pendeta. Tapi sebagai hakim saya berkewajiban untuk menanggapi segala laporan yang masuk dan disidangkan, untuk dicari solusinya dan menjatuhkan vonis kepada siapa yang terbukti bersalah," jawab hakim.

"OK deh kalo begitu!" kata pendeta.

Di dalam persidangan keesokan harinya ...

"Pak hakim saya adalah pendeta dan tidak mungkin saya melakukan pembakaran seperti yang dituduhkan!" kata pendeta membela diri

"Memang dia yang melakukan pembakaran!" jawab pemilik diskotik dengan sengit.

"Saya punya bukti dan saksi mata yang melihat dia berdoa selama seminggu dengan keras agar Tuhan membakar diskotik saya! Maka saya percaya Tuhan mengirimkan api dari langit dan membakar habis diskotik saya! Itu karena suruhan pendeta ini," lanjut pemilik diskotik.

Pendeta membantah dengan keras, "Mana mungkin ada peristiwa ajaib seperti itu, Tuhan mengirim api dari langit. Ini kan jamannya perjanjian baru!"

Sang hakim menatap pendeta dan pemilik diskotik dengan bingung, dan bertanya dalam hati, "Ini yang pendeta yang mana? Pemilik diskotik percaya Tuhan mengirim api dari langit dan pendeta malah membantahnya ... "

* * * *

Pesan Moral: Apakah kita kadang menjual keimanan kita, saat dihadapkan dengan kejadian yang serupa ini?

IMAN KADANG TIMBUL DI TEMPAT DAN DI SAAT YANG TIDAK DISANGKA SANGKA - TETAPI KADANG GUGUR DI TEMPAT DI MANA SEHARUSNYA IA BERTAHAN.
HEAVEN IS NOT HEAVEN IF WE ALL NOT THERE !

--

Mama Mengasihimu Jennifer PDF Print E-mail
User Rating: / 4
PoorBest
Thursday, 11 March 2010
Saat saya berusia 19 tahun, saya diperkosa dengan ancaman pisau belati di Hollywood, California. Saya merasa kotor, bekas terpakai dan semua kebanggaan saya terhampas begitu saja. Memang kehamilan akibat dari pemerkosaan hanya kurang dari 1%, tetapi saya termasuk satu di antara yang sedikit tersebut.

Pada mulanya untuk beberapa waktu lamanya saya menyangkal, namun sementara tubuh saya mengalami perubahan, saya sadar bahwa saya tidak dapat menutupi kenyataan tersebut lebih lama lagi - saya hamil. Saya pikir pasti ada jalan keluar yang terbaik! Saya baru saja menjalani wawancara untuk pekerjaan sebagai pramugari. Tetapi lebih daripada resiko dalam karir saya, pikiran saya tidak tahan untuk menanggung bayi dari orang yang memperkosa saya.

Saat saudara perempuan saya menyebut hal aborsi, hal itu terdengar seperti solusi yang sempurna. Aborsi masih belum disahkan pada waktu itu, tetapi saudara perempuan saya mengatur persiapannya. Saya menemui seorang laki-laki di Griffith Park, yang membawa saya dengan mata tertutup kain ke sebuah kantor dokter. Tetapi ternyata dokter tersebut tidak mau melakukan aborsi karena saya menderita infeksi kerongkongan yang sedemikian buruk - bila infeksi tersebut menyerang rahim, saya bisa mati. Maka ia menyuruh saya pulang dan menghadapi kenyataan bahwa saya hamil, dan entah bagaimana saya bisa menjalaninya.

Kemudian saya menemukan seorang dokter yang sangat peduli yang membantu saya melihat bahwa setiap kehidupan itu berharga. Saya mulai merasakan kasih dan menerima anak saya, terlebih saat saya merasakan bayi saya bergerak. Saya merasa sukacita karena kehidupan yang baru di dalam diri saya dan nyaris lupa asal mulanya. Saat saya akhirnya memberitahukan orang tua, ayah saya terkejut mengetahui saya hamil, apalagi dari seorang pemerkosa. Dokter keluarga membawa ayah saya berkenalan dengan Planned Parenthood (Keluarga Berencana), tempat saya mendapat informasi bahwa aborsi adalah "satu-satunya solusi." Mereka tidak menawarkan alternatif lain.

Saya mempercayai mereka bahwa mimpi buruk saya akan berlalu, dan saya dapat meneruskan kehidupan saya sesudah aborsi seolah-olah "tak pernah terjadi apa-apa." Orang tua saya menghubungi District Attorney (D.A. yaitu Pengacara Daerah) untuk memberi kesaksian tentang pemerkosaan sehingga saya dapat memperoleh aborsi sah. Saat D.A. menyetujuinya, saya sudah hamil 22 minggu (5,5 bulan) , dan telah memutuskan bahwa saya sungguh ingin mempertahankan bayi saya.



Namun saya merasakan tekanan yang hebat dari semua pihak - terutama untuk menyenangkan orang tua saya - sehingga akhirnya saya mengalah. Saya tidak akan pernah melupakan hari saat orang tua saya meninggalkan saya di rumah sakit.

Saya merasa sendiri, kosong dan terlupakan. Saya ingin melarikan diri, lari - tetapi disana tidak ada tempat atau orang untuk saya tuju. Hati saya tercabik - saya tahu bayi saya akan mati dan saya memperbolehkannya, namun demikian saya begitu takut menyusahkan hati orang tua saya.

Dokter menyuruh saya berbaring tenang saat ia menembakkan larutan garam ke dalam perut saya. Saya berbaring disana berharap untuk mati. Saya pergi ke tempat bersalin, dan berkhayal bahwa saya akan melahirkan bayi yang hidup. Tak seorang pun mengatakan persalinan macam apa yang akan saya jalani. Selama 18 jam saya meronta-ronta sendirian saat kontraksi berlangsung. Kemudian, hanya dengan bantuan seorang perawat yang masih muda yang berdiri di sebelah saya, saya melahirkan bayi perempuan saya yang mungil ke dalam sebuah bejana sorong.

Ia sudah terbentuk seluruhnya sempurna, tetapi ia tidak bergerak dan tenang. Saya terguncang saat saya melihat kepada apa yang orang katakan kepada saya hanyalah segumpal daging.

Pada saat itu saya rasa-rasanya sedang menunggu untuk melihat dia mulai menangis, masih berharap dia hidup. Saya merasakan kekosongan yang tidak dapat diisi oleh apa pun dan segera menyadari bahwa akibat aborsi terus berkelanjutan lama meskipun ingatan akan pemerkosaan telah berkurang.

Untuk tiga tahun berikutnya saya mengalami depresi dan mimpi-mimpi buruk yang menakutkan. Saya bermimpi sedang melahirkan, tetapi kemudian orang-orang merampas bayi saya. Saya mendengar tangisannya dan memeriksa ke segala tempat, tetapi saya tidak berhasil menemukannya. Saya hanya mendengar tangisannya bergema di kejauhan. Saya menguburkannya dalam-dalam dan mengeraskan hati saya atas derita tersebut.

Berlawanan dengan apa yang dikatakan orang selama ini, aborsi adalah hal yang jauh lebih sulit untuk dihadapi daripada pemerkosaan itu sendiri. Pemerkosaan adalah suatu kejahatan yang mengandung kekerasan yang menimpa saya, seorang korban yang tak berdosa. Sedangkan aborsi adalah pembunuhan yang mengandung kekerasan terhadap anak saya, dan saya adalah salah seorang pelakunya.

Saya berusaha untuk menipu diri saya sendiri bahwa saya mempunyai alasan yang baik untuk melakukan aborsi - bagaimanapun juga, saya telah diperkosa. Akan tetapi kenyataan itu sangat melukai saya saat mengingatnya, maka saya berusaha mengubur kenyataan tersebut. Kemudian saya menikah dan memiliki dua orang anak laki-laki.

Saat yang kecil berusia tiga bulan, suami saya dan saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kami. Kesembuhan banyak terjadi di banyak segi kehidupan saya, tetapi derita aborsi yang pernah saya lakukan masih menghantui kehidupan saya. Saya belum mau mengakui bahwa peristiwa itu telah mempengaruhi kehidupan saya.

Meskipun saya telah memutuskan tidak akan pernah melakukan aborsi lagi, namun saya tidak dapat menyangkal bahwa orang-orang lain akan memilihnya. Tiap kali aborsi tersebut diucapkan, dalam diri saya terasa sakit. Saya tidak ingin mendengarnya. Beberapa tahun kemudian saya didiagnosa menderita kanker tengkuk dan membutuhkan hysterectomy - ini menghancurkan impian saya selamanya untuk memperoleh bayi perempuan.

Akhirnya Tuhan mengangkat beban berat yang tertanam dalam hati saya yang terluka. Ia mengangkat kepermukaan segala luka, derita dan duka cita atas kematian putri saya. Saya merasa bersalah dan menyadari luka dalam yang terjadi, memerlukan kesembuhan. Pada mulanya saya marah, marah karena saya membiarkan diri saya mengaborsi, dan berpikir bahwa Tuhan sedang menghukum saya atas perbuatan tersebut.

Sulit untuk menghadapi tanggung jawab saya sendiri dengan penuh keberanian. Kenyataannya, sayalah yang memilih untuk menjalani aborsi. Kami sungguh menuai apa yang kami tabur. Namun saat saya mengakui dosa saya, Tuhan itu setia dan berkenan mengampuni dosa saya dan menjauhkannya sejauh timur dari barat. Dia adalah Tuhan yang mengampuni, tetapi saya harus berjuang berat untuk dapat mengampuni diri sendiri.

Beberapa tahun sebelum menderita kanker saya bermimpi mengadopsi anak perempuan bernama "Harapan". Allah mengingatkan saya akan mimpi ini setelah 'hysterectomy' . Saya percaya Dia sedang membuat janji dengan saya, yaitu janji atas seorang anak perempuan. Lima tahun kemudian, sesuai janji -Nya, "Harapan" datang ketengah keluarga kami saat ia berumur tiga minggu. Ia nyaris menjadi korban aborsi.

Meski saya tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya, saya berdoa untuknya setiap hari. Ia memberikan kehidupan pada anak perempuan saya - hadiah yang paling berharga. Dan ibunya memberikan bayinya lebih daripada itu harapan untuk medapatkan keluarga yang mengasihi yang tidak bisa diberikannya.

Pada mulanya saya ingin "Harapan" menggantikan putri saya yang hilang, tetapi segera saya sadar bahwa tak ada seorang anak pun yang dapat digantikan. Tuhan mulai menyingkapkan segi-segi lain yang membutuhkan kesembuhan akibat aborsi. Kerusakan yang terjadi jauh lebih parah daripada yang orang pahami. Secara fisik, tentu saja, seorang bayi direnggut dari kandungan ibunya.

Namun secara emosional, saya yakin sudah ada ikatan batin antara si ibu dan anak, seakan-akan ada bagian yang terenggut dari jiwa saudara sendiri. Bagian dari dirimu juga sudah mati. Kesedihan adalah proses penting yang saya jalani untuk mendapat kesembuhan dari trauma aborsi saya. Saya percaya bagian dari proses kesedihan itu seumpama mengidentifikasikan kehidupan si bayi kecil tersebut sebagai seorang individu, seperti memberi nama bayi saudara tersebut.

Saya tidak akan lupa detik-detik ketika putri saya yang tak bernyawa terbaring di dekat saya, tetapi melalui anugerah kesembuhan dari Yesus, saya tahu bahwa saat ini ia berada di surga bersama-Nya, di dalam gendongan-Nya. Namun saya masih melewati waktu-waktu ketika saya menangis untuk Jennifer mungil saya yang tidak pernah diperkenankan tertawa atau menangis atau mendengar ombak lautan atau memanjat pohon dan merasakan sinar mentari pada wajahnya atau tahu air mata atau perjuangan dan sukacita kehidupan. Akhirnya saya menulis sepucuk surat untuk putri saya.

Jennifer sayang,

Mama tahu saat kau Mama kandung, meski Mama berusaha keras untuk mengabaikannya. Oleh karena engkau adalah hasil dari pemerkosaan, Mama merasa begitu kesepian dan bingung.

Pada mulanya Mama hanya ingin membinasakanmu. Tetapi saat Mama mulai merasakan gerakan-gerakanmu di dalam tubuh Mama, Mama mendapati diri Mama mau menerima keberadaanmu. Kamu berumur 22 minggu saat ijin untuk aborsi sah Mama diberikan, padahal Mama telah memutuskan untuk menerima dirimu. Mama mulai semakin mengasihi dirimu, tetapi dibawah tekanan dari orang-orang disekitar Mama, Mama langsung setuju dengan aborsi.

Untuk bertahun-tahun sesudahnya tangismu menggema dalam mimpi-mimpi yang tiada akhir sampai akhirnya kesembuhan terjadi. Lalu Mama menamai dirimu dan membiarkan diri Mama meratap atas kematianmu. Mama juga menjadi korban sebagai akibat dari mengambil keputusan berdasarkan beberapa potong informasi yang salah.

Bagian dalam diri Mama mati bersamamu. Saat kau dari surga memandang kebawah, Mama tahu kau mengampuni Mama seperti halnya Mama telah belajar mengampuni diri Mama sendiri.

Sekarang ini Mama menekankan kepada orang lain untuk membantu mereka yang telah berbuat kesalahan dalam aborsi, dan juga menolong orang-orang lain untuk tidak berbuat kesalahan seperti yang telah Mama buat. Kesembuhan hanya dapat datang melalui kasih Yesus yang berkuasa.

Sampai kita bertemu lagi, Jenniferku, Mama mengasihimu.

--

Refleksi Hari Kasih Sayang PDF Print E-mail
User Rating: / 2
PoorBest
Tuesday, 23 February 2010

Antonius Steven Un

Hari ini, tanggal 14 Februari 2007, seluruh dunia merayakan Valentine's Day, merayakan matinya martir seorang imam, St. Valentine's pada 14 Februari.

Memang ada banyak versi cerita tentang sejarah Valentine's Day. Salah satu versi menyatakan bahwa seorang tokoh St. Valentine mati martir di tahun 270 AD di bawah kekejaman kaisar Romawi, Claudius.



Kaisar Claudius menetapkan bahwa kekaisarannya akan kekurangan prajurit terbaik jika para pria memutuskan untuk menikah. Karena itu, ia melarang pernikahan pria dan wanita. Tetapi, karena menerima pasangan yang saling mengasihi, St. Valentine sebagai seorang imam akhirnya menikahkan salah satu pasangan yang datang kepadanya.



Ketika kasus ini sampai ke telinga kaisar Claudius, ia tidak langsung membunuh St. Valentine tetapi mencoba menjadikannya sebagai seorang penganut agama kafir. Sang imam tidak tinggal diam, dia malah merubah strategi dan mencoba mempertobatkan kaisar Claudius menjadi seorang penganut agama Katolik.



Karena upaya ini gagal, akhirnya St. Valentine mati martir, dilempar batu hingga ajal menjemputnya. Apa yang dilakukan oleh St. Valentine dalam versi cerita ini adalah mengasihi dengan tulus dan rela berkorban. Di tengah maraknya komersialisasi dan selebrasi menyambut peringatan Hari Kasih Sayang, kita ingin kembali kepada main dari peringatan ini agar tidak terjebak sekedar kepada supplement, yakni aksesoris dan pesta.



Supplement bersifat contigency, boleh ada, boleh tidak ada tetapi main bersifat sina qua non, tidak boleh tidak ada. Dan kalau menelusuri kembali kepada apa yang terjadi menurut versi cerita di atas, cinta beresensi/ berhakekat di dalam pengorbanan, mengutip lirik salah satu lagu pop memory yang pernah ngetop, “cinta itu pengorbanan”.



Ketika merenungkan hal ini, seyogyanya tidak terjebak memahami cinta sekedar dalam kerangka/ paradigma relasi pria-wanita. Kita perlu memahami cinta secara lebih kaya seperti dalam paradigma pejabat-rakyat, orang tua-anak, guru-murid dan lainnya.



Cinta sebagai pengorbanan mendapat ekspresi di dalam beberapa hal. Pertama, cinta berarti penerimaan. Penerimaan tidak bertanya siapa, apa atau bahkan mengapa. Kita tahu bahwa pertanyaan mengapa lebih penting dari pertanyaan apa, siapa atau bagaimana.



Tetapi penerimaan bersifat melampaui pertanyaan mengapa (acceptance is beyond reason). Tidak berarti bahwa cinta menyebabkan kebodohan seperti yang banyak dipraktekan cinta monyet: cinta tanpa pertimbangan. Cinta tidak bersifat menetang melainkan melampaui akal/ hal yang rasional.



Dengan kata lain, cinta bersifat melampaui segala alasan. Kita perlu membangkitkan cinta sejati di dalam relung jiwa insan bumi pertiwi supaya dapat mengeliminir konflik horizontal antar suku seperti yang pernah terjadi di Kalimantan, atau antar agama seperti yang pernah terjadi di Ambon dan Poso.



Sebab tanpa cinta dalam nurani dan sanubari masyarakat dan elit, sekalipun secara politik negara ini mencapai substansi demokrasi atau secara ekonomi mencapai substansi kesejahteraan rakyat, barangkali masyarakat kita hanyalah masyarakat individualistik, sekuler serta konsumeristik-hedonistik.



Bila kondisi ini yang terjadi, rasionalitas, kritik dan kinerja memang berkembang pesat tetapi kepekaan moral, sosial dan nurani telah menjadi almarhum alias telah mati. Kedua, cinta bersifat melampaui hukum.



Paradigma hukum lex talionis yang mengedepankan keseimbangan menuntut satu kesalahan harus dihukum tidak boleh lebih dari satu hukuman, satu mata korban dipecahkan maka satu mata pelaku juga dipecahkan. Sebelum paradigma ini diberlakukan dalam kebudayaan Mesir, Yahudi dan Babilonia beribu-ribu tahun yang lalu, si pelaku/ terdakwa selalu akan mengalami ketidakadilan pembalasan dendam.



Setiap korban teroris berpotensi menjadi pelaku teroris baru karena si korban ingin mencari kepuasan di dalam pembalasan dendam. Padahal, sama sekali tidak mungkin mendapatkan kepuasan, malah menimbulkan lingkaran setan, karena korban akan menjadi pelaku baru.



Sebagai contoh, mahasiswa perguruan tinggi angkatan 2006 yang diplonco, akan menjadi pelaku kekerasan mahasiswa tahun 2007, membalas dendam kepada adik kelasnya untuk mencari kepuasan. Tidak berarti cinta itu menentang hukum sebab dengan begitu akan timbul anarkisme dan kebencian, sesuatu yang secara substansi bertentangan dengan cinta.



Tetapi cinta ingin melakukan sesuatu yang melampaui hukum. Sekalipun secara yuridis-formal telah mencapai kebenaran dan keadilan tetapi tanpa cinta, hal itu justru akan menjadi monster menakutkan. Sebaliknya dengan cinta, sekalipun seseorang berhak menerima keadilan atas kejahatan yang ia terima, ia tidak akan balas dendam atau main hakim sendiri, melainkan ia mengampuni.



Hal ini pernah dipertontonkan oleh mantan pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, mendiang Paus Yohanes Paulus II, yang mengampuni Mehmed Ali Agca, pemuda Turki yang pernah melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya, tahun 1981.



Ketiga, cinta membangkitkan kepekaan nurani melampaui aspek yuridis formal. Dengan cinta, seorang pejabat tidak hanya akan mempertimbangkan aspek yuridis formal tetapi kepekaan nurani terhadap rasa keadilan masyarakat. Apa yang dilakukan para pejabat di Kalimantan Timur mencederai dan melukai hati rakyat.



Hal semacam demikian bukanlah cinta tetapi benci, bukanlah tindakan altruis tetapi egois, bukanlah eksploitasi diri tetapi mengeksploitasi rakyat yang membayar pajak dari keringat dan air mata.



Jika benar-benar ada cinta, seorang suami yang sudah lelah seharian bekerja, rela mengantar istri/ anaknya yang terserang penyakit, sekalipun pada jam tengah malam, jam istirahatnya.



Jika benar-benar ada cinta, seorang pejabat tidak hanya akan bekerja hingga pukul 16.00, tetapi rela bekerja hingga tengah malam tanpa tuntutan uang lembur, karena ia mengasihi rakyat. Jika seorang guru mencintai muridnya maka ia rela, sekalipun diluar jam dinas, untuk mengajari muridnya hingga kaya ilmu pengetahuan, sekalipun tanpa imbalan. Mencari perilaku demikian di bumi pertiwi barangkali bagaikan mencari air segar di tengah padang gurun.



Antonius Steven Un, Ketua Sekolah Teologi Reformed Injili Malang



Renungan: William Carey

Tokoh Pekabaran Injil Modern



Carey dilahirkan dari sebuah keluarga miskin di Paulerspury, Northamptonshire, Inggris pada tahun1761. Orangtuanya bekerja sebagai pegawai klerikel rendahan, anggota Gereja Anglikan. Tahun 1779 Carey mengalami pertobatan, yaitu ketika berusia 18 tahun. Ia lalu masuk ke Gereja Baptis, menjadi pengkhotbah dan guru sekolah pada siang hari, sedang malam harinya ia bekerja sebagai tukang sepatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.



Carey adalah tipe orang yang suka belajar keras dan tak kenal menyerah dalam menghadapi tantangan. Ia belajar sendiri bahasa Yunani, Ibrani, Belanda dan Perancis hingga menguasainya dengan baik. Sebagai hamba Tuhan yang sudah mengalami pembaharuan, Carey memiliki perhatian yang kuat pada kegiatan penginjilan.

Tahun 1792 Carey menjadi penggerak terbentuknya lembaga pekabaran yang diberi nama Baptis Missionary Society (Lembaga Pekabaran Injil Baptis) di Nottingham. Ia mencetuskan suatu semboyan terkenal, “Mengharapkan perkara-perkara besar dari Allah dan mengusahakan perkara-perkara besar bagi Allah”. Bagi Carey, amanat agung yang diberikan Yesus adalah mengabarkan Injil bagi segala mahluk, dan setiap orang Kristen harus menjadi pemberita kabar baik.

Ia menjadi pendeta di Kapel Gereja Baptis di Moulton tahun 1786. Lalu Lembaga Pekabaran Injil Baptis mengirimnya sebagai misionaris yang pertama ke India pada tahun 1792. Bersama dengan keluarganya ia berangkat ke India menumpang kapal barang dan tiba di Malda, sebagai pusat kegiatan pekabaran Injilnya yang pertama. Namun kemudian perusahaan East India Company melarang Carey memberitakan Injil disitu sehingga ia bekerja pada sebuah perkebunan nila sambil belajar bahasa setempat. Setelah 5 tahun, ia berhasil mempelajari bahasa Bengali dengan baik dan mulai menterjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa tersebut. Di tahun 1799, perkebunan nila tempat Carey bekerja bangkrut, dan hal ini mengharuskannya pindah ke Serampore, daerah koloni Denmark.

Di tempat baru ini Carey bergabung dengan dua orang pekabar Injil Gereja Baptis yang lain, yaitu Joshua Marshman dan William Ward. Mereka bertiga lalu dikenal dengan sebutan “Trio Serampore”. Dengan bantuan kedua teman Inggrisnya ini, Carey berhasil menerbitkan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Bengali. Pada tahun 1801, ia membuka sekolah yang diberi nama “Fort William College” untuk mendidik orang pribumi India menjadi pendeta. “Hanya dengan pemberita kaum setempat, kita bisa berharap negeri yang luas ini mendengar kabar baik,” katanya dengan yakin. Carey berpendapat bahwa Lembaga Pekabaran Injil harus segera mendidik orang pribumi untuk menjadi pemberita Injil bagi bangsanya sendiri. Di sekolah tersebut Carey mengajar bahasa Sansekerta, Bengali dan Marathi kurang lebih 30 tahun.

Selain itu Carey juga aktif menghimpun dana untuk membiayai penelitian di dunia pertanian. Upaya ini dilakukan dalam usahanya untuk memikirkan masalah pangan di negeri dimana Tuhan mengutusnya. Kegiatannya yang lain adalah menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bengali dan bahasa-bahasa lainnya, menyusun tata bahasa dan Kamus Bahasa Sansekerta, Marathi, Punyab dan Telugu.

Selain dikenal sebagai bapa pekabaran Injil, Carey juga dikenal sebagai tokoh oikumenis. Dialah yang mencetuskan ide agar setiap 10 tahun diadakan konferensi bersama dari seluruh Lembaga Pekabaran Injil di Tanjung Harapan. Ide ini belum terwujud semasa hidupnya, tetapi baru tercapai pada tahun 1910 di Edinburg. Pengertian oikumene dalam pengertian modern adalah berasal darinya. William Carey akhirnya meninggal dunia tahun 1834 dalam usia 73 tahun. Pada masa pemerintahan Inggris di Indonesia, orang-orang Kristen di tanah Maluku turut merasakan pekerjaan dan pelayanan anak dari William Carey, yaitu Yabez Carey.

--

Gerakan Nama Suci Di Indonesia PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest
Tuesday, 23 February 2010

Sambungan dari GERAKAN NAMA SUCI

Imbas Hebraic Roots Movement dan Sacred Name Movement dari Israel dan terutama memasuki Amerika Serikat melalui misi mereka juga dialami beberapa kalangan Kristen yang berziarah ke Israel dan bepergian atau mengadakan hubungan dengan gerakan itu di Amerika Serikat. Gerakan nama suci ini terlihat di beberapa kalangan kristen di Indonesia sejak lebih dari dua dasawarsa yang lalu.

Sekalipun mirip dengan gerakan itu di mancanegara yaitu menekankan kembali ibadat yang berakar Yudaik dan memulihkan nama Yahweh, di Indonesia ada ciri khas yang ditunjukkan, yaitu semangat menolak nama 'Allah' yang dianggap mereka sebagai nama berhala. Di tahun 1980-an, beberapa mantan penganut muslim yang menjadi kristen merintis usaha penginjilan untuk menobatkan umat Islam melalui ceramah-ceramah, dan kemudian mendirikan Yayasan Nehemia (1987) untuk mendidik para penginjil. Yayasan ini dalam siar agamanya pelan dan pasti memperkenalkan 'nama Yahweh' dan menekankan kembalinya ibadat ke akar yudaik dengan membangkitkan kembali penggunaan bahasa Ibrani, mereka juga memulihkan nama 'Eloim dan Yesua Hamasiah.'

Misi Yayasan itu terutama ditujukan untuk menginjili umat Islam dan membina mereka menjadi penginjil untuk menjangkau umat dimana mereka berasal. Dari kelompok ini di tahun 1990-an diterbitkan seri traktat berjudul 'Siapakah yang Bernama Allah itu?.' Pada umumnya dalam traktat itu disebutkan bahwa 'Allah' adalah nama dewa Arab (dewa bulan/pengairan) masa jahiliah, karena itu bila umat Kristen menggunakan nama itu berarti mereka menghujat Yahwe. Puncak dari penerbitan seri traktat itu adalah pada tahun 2000 diterbitkan 'Kitab Suci Torat dan Injil' (KS-TDI / Kitab Suci 2000). Kitab Suci ini menggunakan dasar Terjemahan Baru Alkitab yang diterbitkan Lembaga Alkitab Indonesia (TB-LAI) dengan beberapa nama diganti seperti 'TUHAN' dengan YAHWE, Allah dengan Eloim, Yesus dengan Yesua, dan beberapa nama lain seperti Musa dengan Mose, Daud dengan Dawid, Yohanes dengan Yokhanan, dsb.

Karena siar agama mereka yang berani dan sering menggunakan ayat-ayat Al-Quran yang menurut penafsiran sebuah forum ulama dinilai keliru, dua tokohnya sempat dijatuhi Fatwa Mati oleh kalangan tertentu sehingga keduanya menghindar ke mancanegara. Fatwa Mati jelas melanggar hukum negara Indonesia yang berazaskah Pancasila dan Bhineka Tunggal Eka itu, namun situasi ini mencerminkan bahwa telah ada benih yang tumbuh dari semangat kembali ke akar yudaik yang berpotensi mengganggu kerukunan beragama di Indonesia.

Pada tahun 2002, kelompok lainnya menerbitkan Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan (KS-UPT), yang sama dengan KS-TDI menggunakan terjemahan LAI sebagai dasar dan mengganti nama 'TUHAN' dengan YAHWEH, dan 'Allah' dengan Tuhan. Yang menarik, KS-UPT berbeda dalam menyebut YHWH, dimana KS-TDI menyebut YAHWE dan KS-UPT menyebut YAHWEH. KS-UPT juga tetap menggunakan nama Yesus dan mengganti nama Allah bukan dengan Eloim tetapi dengan terjemahan 'Tuhan.'

KS-UPT menyebutkan dalam Prakatanya bahwa mereka menyalahkan: (1) Yudaisme orthodok, karena mengganti nama YHWH dengan Adonai; (2) Septuaginta, karena menerjemah-kan nama 'Yahweh' ke bahasa Yunani Kurios; dan (3) Perjanjian Baru Yunani, yang mengikuti jejak Septuaginta.

Tahun-tahun berikutnya, berkembang generasi baru kelompok yang berbeda yang dipimpin pendeta-pendeta muda yang beberapa diantaranya bergelar teologia. Beberapa pendeta berhenti dari gerejanya semula karena mengajarkan 'Nama Yahweh' dan kemudian mendirikan jemaat sendiri-sendiri.

Semangat menolak 'nama Allah' yang digunakan kalangan Kristen juga datang dari kalangan tertentu dalam Islam. Pada tahun 2004 keluar teguran yang ditujukan kepada Pimpinan Lembaga Alkitab Indonesia, dan yang kedua ditujukan Dirjen Bimas Kristen Protestan Depag RI dan Lembaga Alkitab Indonesia.

Isi surat kedua itu pada prinsipnya menegur umat Kristen berdasarkan pertimbangan:
1. Bahwa Allah adalah nama sesembahan umat muslim;
2. Agar menarik semua Alkitab dan buku rohani yang menggunakan nama Allah;
3. Agar menegur dengan keras Gereja-Gereja yang masih memakai nama Allah;
4. Agar memberikan peringatan keras kepada para pendeta, pendeta muda, pendeta pembantu dan para Evangelis untuk tidak menggunakan kata Allah dalam menyampaikan Firman, Seminar dll.

Karena para tokoh agama Islam sendiri menyadari bahwa nama Allah sudah digunakan oleh orang Kristen Arab sebelum hadirnya agama Islam bahkan dalam Al-Qur'an juga disebut (QS. 22:40), maka surat edaran demikian tidak berdampak apa-apa.

Berbeda dengan KS-TDI dan KS-UPT yang menggunakan terjemahan LAI sebagai dasar, pada tahun 2007 terbit Kitab Suci Indonesian Literal Translation (KS-ILT) yang diakui diterjemahkan langsung dari naskah bahasa Inggris 'The Interlinear Bible' karya J.P. Green (USA) yang berdasar sumber naskah asli Kitab Suci. Sekalipun lebih baik motivasinya dari kedua pendahulunya, KS-ILT masih memperlihatkan adanya bayang-bayang Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia (TB-LAI).

Yang paling akhir dari perkembangan ini adalah adanya penganut gerakan nama suci yang pada akhir 2007 memeja-hijaukan Lembaga Alkitab Indonesia ke Pengadilan Negeri dengan tuduhan LAI telah mengubah nama YHWH menjadi Allah dan menuntut agar: "Bimas Kristen dan LAI segera menarik semua Alkitab dan buku rohani yang memakai nama Allah. Kedua lembaga ini juga diminta untuk memberikan peringatan keras kepada para pendeta untuk tidak lagi menggunakan nama Allah dalam kotbahnya."

Adanya beberapa pengikut gerakan ini yang vokal seperti yang diperlihatkan oleh yang dikenai fatwa mati dan yang memeja-hijaukan LAI, dan adanya pengikut yang secara vokal menyalahkan orang-orang yang tidak setuju dengan mereka, membuat banyak pembicara kristen yang semula terbuka untuk berdiskusi dengan pengikut Gerakan Nama Suci kemudian enggan meneruskan karena diskusi demikian tidak akan menghasilkan jalan keluar kearah pemecahan.

Dibalik itu di kalangan mayoritas tenang gerakan ini (silent majority), dalam beberapa tahun terakhir ini telah tumbuh banyak jemaat Gerakan Nama Suci dengan berbagai nama, namun situasi antar jemaat-jemaat itu dapat dilihat dari kesimpulan salah satu sumber dari dalam Gerakan Nama Suci itu sendiri, yaitu:

"Akhir-akhir ini rasa frustasi mengghinggapi komunitas Qahal Mesianik di Indonesia. Frustasi terhadap apa? Frustasi terhadap kondisi komunitas ini yang semakin tidak jelas arah dan tujuan pergerakannya. Beberapa orang mulai mengeluh mengenai perselisihan diantara pemimpin, beberapa orang lainnya mengeluh tidak siap melihat perubahan demi perubahan dan pembenahan demi pembenahan. Sebagian yang lain mulai tidak nyaman dengan berbagai pengajaran tentang "tefilah" [doa harian], "ibadah shabat", "pembaruan tata ibadah". Sementara yang lain hanya berpuas diri dengan penggunaan nama Yahweh namun pemahaman teologis maupun tata cara ibadah masih mencerminkan denominasi yang lama [pentakostal, kharismatik, protestan dll]" (Buletin Nafiri Yahshua Ministry, No.32, Februari 2007, hlm.4)

Kesimpulan itu bisa juga dibandingkan dengan kenyataan bahwa di Indonesia, dalam 7 tahun terakhir saja sudah 3 versi Kitab Suci diterbitkan kalangan Gerakan Nama Suci dan ketiganya tidak seragam, dan rupanya para penyusunnya bekerja sendiri-sendiri dan tampaknya tidak adanya koordinasi yang satu dengan yang lainnya.

Dari kesimpulan di atas, dan melihat perkembangannya yang selama tiga perempat abad di Amerika Serikat, terlihat bahwa perkembangan masing-masing kelompok Gerakan Nama Suci di Indonesia itu bermacam-macam, ada yang baru mengalami Eforia pemulihan nama Yahweh tetapi dalam hal iman percaya tidak beda dengan pengikut aliran Kristen lainnya, ada yang sudah melangkah lebih jauh dengan mengganti nama Yesus dengan Yahshua atau Yehshua, namun ada juga yang sudah menggunakan ibadat hari-hari raya Yahudi menggantikan hari-hari raya Kristen, dan ada yang sudah lebih lanjut tidak lagi merayakan Paskah Kebangkitan Yesus dari antara orang mati sebagai kenangan penebusan dosa umat, dan menggantikannya dengan perayaan Pesakh yang mengenang keluarnya Israel dari tanah Mesir.

Ketidak-seragaman ini, seperti yang diperlihatkan 3 versi Kitab Suci gerakan ini, kelihatannya timbul diakibatkan kelompok-kelompok berbeda dihasilkan dan dipengaruhi oleh pelayanan misi yang berbeda-beda pula.

Tidak berbeda jauh dengan Hebraic Roots Movement dan Sacred Name Movement di Amerika Serikat, perkembangan Gerakan Nama Suci di Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Menjalankan misi Hebraic Roots Movement untuk kembali keakar Yudaik dengan menjalankan ritual dan adat-istiadat Yahudi;
2. Terpengaruh Sacred Name Movement, yaitu menekankan perlunya dipulihkan nama 'YHWH'. Ada juga yang menekankan kembali nama Elohim dan Yahshua;
3. Khususnya di Indonesia ada usaha Gerakan Nama Suci untuk menolak penggunaan terjemahan 'Allah' dalam Alkitab terbitan LAI yang dianggap oleh mereka sebagai nama berhala.

Yang menarik untuk diketahui, dalam hubungan dengan butir ketiga, adalah bahwa sejak sebelum kehadiran agama Islam, umat Kristen di Siria-Aram menyebut El/Elohim/Eloah dengan 'Elah/Elaha' dan di Arab menyebutnya 'Allah/al-Ilah.' Saat ini ada 29 juta umat Kristen berbahasa Arab dan semuanya menyebut 'El/Elohim/Eloah' dengan nama 'Allah.' Baik umat Yahudi, Kristen maupun Islam yang berbahasa Arab, dari dahulu sampai sekarang, semuanya menyebut nama 'Allah' untuk menyebut Tuhan Pencipta Langit dan Bumi yang dipercayai oleh Abraham. Dalam Al-Qur'an sendiri kita juga melihat bahwa penyebutan nama Allah sudah bersama-sama diucapkan di Gereja, Sinagoge, dan Mesjid pada masa awal berdirinya Islam, itu berarti penggunaannya di kalangan Yahudi dan Kristen yang sudah ada lebih dahulu, tentunya sudah jauh lebih lama lagi:

"(Yaitu) orang-orang yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah. Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja-gereja pendeta dan gereja-gereja Nasrani dan gereja-gereja Yahudi dan mesjid-mesjid, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (Q.S. 22:40, Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim)

Sejak Alkitab berbahasa Arab ditulis pertama kalinya pada abad V, 'El/Elohim/Eloah' sudah diterjemahkan dengan nama 'Allah.' Saat ini ada empat versi Alkitab berbahasa Arab dimana 'El/Elohim/Eloah' diterjemahkan 'Allah,' termasuk 'Arabic-Bible' yang secara resmi digunakan Lembaga Alkitab Arab dan 'Todays Arabic Version.' Menarik untuk diketahui bahwa bila dalam Alkitab berbahasa Arab nama 'El/Elohim/Eloah/Theos' diterjemahkan menjadi 'Allah,' maka terjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Ibrani justru menerjemahkan nama 'Allah' menjadi 'Elohim.' (Al-Qur'an Tigrem Avrit, Devir Publishing House, Tel Aviv, Israel, 1945).

Mengenai nama 'Yahweh' (butir 2) juga perlu diketahui, bahwa arus utama Yudaisme yaitu 'Yudaisme Orthodoks' karena merasa nama YHWH terlalu suci diucapkan mereka kemudian menyebutnya dengan nama 'Adonai' atau 'Ha-Syem' (Nama Itu). Dalam Alkitab dalam bahasa Arab, nama 'Yahweh' diterjemahkan dengan nama 'Ar-Rabb.'

Amin.



Salam kasih dari Herlianto

--

Bubuk Kopi PDF Print E-mail
User Rating: / 2
PoorBest
Wednesday, 10 February 2010
Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.

Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

+--

Odol Dari Surga PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest
Wednesday, 10 February 2010
Ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
(fotografer yang hobby menulis)

Cerita menggelikan ini kudengar ketika duduk dibangku SMA dulu. Cerita yang akhirnya tertulis begitu dalam di relung-relung hati. Cerita yang meskipun naif, namun bermakna sangat dalam.

Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol dipenjara.

Malam itu adalah malam terakhir bagi odol di atas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan. Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan. Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu : tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal dan iseng muncul. Bagaimana jika ia meminta odol pada TUHAN ?

Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar mendapatkan jawaban dari-NYA . Meminta dibukakan jalan keluar dari setumpuk permasalahan pun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat gagah untuk diucapkan. Tetapi meminta odol kepada Sang Pencipta jutaan bintang gemintang dan ribuan galaksi, tentunya harus dipikirkan berulang-ulang kali sebelum diutarakan. Sesuatu yang sepele dan mungkin tidak pada tempatnya. Tetapi apa daya, tidak punya odol untuk esok hari - entah sampai berapa hari - menjengkelkan hatinya amat sangat. Amat tidak penting bagi orang lain, tetapi sangat penting bagi dirinya.

Maka dengan tekad bulat dan hati yang dikuat-kuatkan dari rasa malu, lelaki itu memutuskan untuk mengucapkan doa yang ia sendiri anggap gila itu. Ia berdiri ragu-ragu di pojok ruangan sel penjara, dalam temaram cahaya, sehingga tidak akan ada orang yang mengamati apa yang ia lakukan. Kemudian dengan cepat, bibirnya berbisik : "TUHAN, Kau mengetahuinya aku sangat membutuhkan benda itu". Doa selesai. Wajah lelaki itu tampak memerah.

Terlalu malu bibirnya mengucapkan kata amin. Dan peristiwa itu berlalu demikian cepat, hingga lebih mirip dengan seseorang yang berludah di tempat tersembunyi. Tetapi walaupun demikian ia tidak dapat begitu saja melupakan insiden tersebut. Sore hari diucapkan, permintaan itu menggelisahkannya hingga malam menjelang tidur. Akhirnya, lelaki itu - walau dengan bersusah payah - mampu melupakan doa sekaligus odolnya itu.

Tepat tengah malam, ia terjaga oleh sebuah keributan besar dikamar selnya. "Saya tidak bersalah Pak !!!", teriak seorang lelaki gemuk dengan buntalan tas besar di pundak, dipaksa petugas masuk kekamarnya, "Demi TUHAN Pak !!! Saya tidak salah !!! Tolong Pak...Saya jangan dimasukin kesini Paaaaaaaaak. .!!!"

Sejenak ruangan penjara itu gaduh oleh teriakan ketakutan dari 'tamu baru' itu.

"Diam !!" bentak sang petugas, "Semua orang yang masuk ke ruangan penjara selalu meneriakkan hal yang sama!! Jangan harap kami bisa tertipu !!!!"

"Tapi Pak...Sssa.."

Brrrraaaaang !!!!

Pintu kamar itu pun dikunci dengan kasar. Petugas itu meninggalkan lelaki gemuk dan buntalan besarnya itu yang masih menangis ketakutan.
Karena iba, lelaki penghuni penjara itupun menghampiri teman barunya.

Menghibur sebisanya dan menenangkan hati lelaki gemuk itu. Akhirnya tangisan mereda, dan karena lelah dan rasa kantuk mereka berdua pun kembali tertidur pulas.

Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun karena kaget. Kali ini karena bunyi tiang besi yang sengaja dibunyikan oleh petugas. Ia terbangun dan menemukan dirinyanya berada sendirian dalam sel penjara. Lho mana si Gemuk, pikirnya. Apa tadi malam aku bemimpi? Ah masa iya, mimpi itu begitu nyata?? Aku yakin ia disini tadi malam.

"Dia bilang itu buat kamu !!", kata petugas sambil menunjuk ke buntalan tas dipojok ruangan. Lelaki itu segera menoleh dan segera menemukan benda yang dimaksudkan oleh petugas. Serta merta ia tahu bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

"Sekarang dia dimana Pak ?" tanyanya heran.

"Ooh..dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi...biasa salah tangkap !", jawab petugas itu enteng, "Saking senangnya orang itu bilang tas dan segala isinya itu buat kamu". Petugas pun ngeloyor pergi.

Lelaki itu masih ternganga beberapa saat, lalu segera berlari ke pojok ruangan sekedar ingin memeriksa tas yang ditinggalkan Si Gemuk untuknya.

Tiba-tiba saja lutunya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri. "Ya..TUHAAANNN !!!!", laki-laki itu mengerang. Ia tersungkur di pojok ruangan, dengan tangan gemetar dan wajah basah oleh air mata. Lelaki itu bersujud disana, dalam kegelapan sambil menangis tersedu-sedu. Di sampingnya tergeletak tas yang tampak terbuka dan beberapa isinya berhamburan keluar. Dan tampaklah lima kotak odol, sebuah sikat gigi baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai pakaian sehari-hari.

* * * * *

Kisah tersebut sungguh-sunguh kisah nyata. Sungguh-sungguh pernah terjadi. Dan aku mendengarnya langsung dari orang yang mengalami hal itu. Semoga semua ini dapat menjadi tambahan bekal ketika kita meneruskan berjalan menempuh kehidupan kita masing-masing. Jadi suatu ketika, saat kita merasa jalan dihadapan kita seolah terputus. Sementara harapan seakan menguap diganti deru ketakutan, kebimbangan dan putus asa.

Pada saat seperti itu ada baiknya kita mengingat sungguh-sungguh bahkan Odol pun akan dikirimkan oleh Surga bagi siapa pun yang membutuhkannya. Apalagi jika kita meminta sesuatu yang mulia. Sesuatu yang memuliakan harkat manusia dan IA yang menciptakan mereka.

Seperti kata seorang bijak dalam sebuah buku : "Seandainya saja engkau mengetahui betapa dirimu dicintai-NYA, hatimu akan berpesta pora setiap saat"

(selesai).

--

Menara Babel vs Burj Dubai PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest
Wednesday, 10 February 2010
Burj Dubai = Menara Dubai (diganti menjadi Burj Kalifah), gedung pecakar langit tertinggi di dunia yang memiliki ketinggian 824,55 meter. Burj Dubai memiliki ketinggian sedemikian rupa, sehingga perbedaan suhu udara antara lantai paling bawah dengan paling atas, bisa mencapai delapan derajat Celcius. Gedung ini memiliki Musholla di lantai 158. Tidak ada bangunan lainnya di kolong langit ini yang memiliki Musholla pada ketinggian seperti itu. Mungkin kalau kita berdoa disitu akan bisa merasa lebih dekat lagi dengan Sang Pencipta.

Konon kalau ada orang yang berani dan mampu memasang ujung puncak dari menara Burj Dubai; ia akan diperkenankan tinggal di apartement Burj Dubai selama hidupnya plus biaya pendidikan untuk anak-anaknya.

Sebelumnya Gedung Taipeh 101 dengan ketinggian 508 m merupakan gedung tertinggi di dunia, tetapi ironisnya lima tahun kemudian tepatnya di tahun 2010 gedung 101 ini dikalahkan oleh Burj Dubai. Perlu diketahui, bahwa lima dari Top Ten gedung bangunan tertinggi dunia berada di China.
Taipei 101

Tidak bisa dipungkiri, bahwa Burj Dubai merupakan gedung yang super relativ dimana pada saat ini tiada tandingannya. Burj Dubai bisa dilihat dengan jelas dari jarak 100 km. Burj Dubai dibangun dengan biaya AS$ 4,1 milyar atau hampir mencapai empat triliun Rp. Jadi wajarlah kalau harga beli apartemen disitu per quadrat meter AS$ 43.000 (Rp. 400 juta), walaupun sedang krisis harga apartemen di Burj Dubai tetap bisa bertahan.

Burj Dubai terdiri dari 160 lantai dengan luas total 330.00 qm. Memiliki 57 lift. Dimana diantaranya memiliki kecepatan 64 km per jam; merupakan lift tercepat di dunia. Gedung ini dibangun dalam jangka waktu lima tahun, tiga bulan dan limabelas hari oleh 12.000 buruh pendatang dari India, Pakistan maupun Indonesia dengan gaji per hari sekitar Rp. 40 ribu. Memiliki Mall terbesar didunia dengan 1.200 toko.

Pencakar langit tersebut memiliki desain berbentuk huruf Y, rancangan arsitek Adrian Smith. Bentuk huruf Y ini memakai referensi geometri Islam dengan bentuk-bentuk lengkung lancip. Hanya sayangnya Burj Dubai belum bisa mendobrak ketinggian 1 km (1.000 m), walaupun demikian dalam jangka waktu 10 tahun mendatang pasti gedung dengan ketinggian lebih dari seribu meter akan selesai dibangun. Misalnya sudah direncanakan dan akan dibangun Menara Jedah dengan ketinggian dua kali lipat lebih tinggi dari Burj Dubai (1.600 meter) oleh Biliuner Alwaleed bin Talal atau menara Silk City yang akan dibangun di Kuwait dengan ketinggian lebih dari 1.000 m.

Sudah dari sejak dahulu kala manusia itu memiliki sifat Megalomania dimana ingin selalu membangun bangunan yang besar dan tinggi. Hal ini sudah dimulai sejak dibangunnya Menara Babel yang memiliki luas 91,48 m x 91,66 m dan ketinggian 91 m. Menara ini dibangun sekitar lk 2.100 sM. Nama Babel ini diserap dari kata Ibrani = Balal yang berarti kekacauan. Kisah tentang menara Babel bukan hanya tercantum dalam Alkitab Kejadian 11:1-11 saja, tetapi juga telah terbuktikan akan keberadaannya oleh ahli arkeologi Robert Kaledewey yang menemukan sisa reruntuhannya pada tahun 1913.


Menara Babel

Setelah itu bangsa Mesir membangun piramid Gizeh dengan ketinggian yang pada awalnya 146,6 m sekarang hanya tinggal tersisa 138,75 m. Pada tahun 1311 Katedral Lincoln di London dibangun dengan ketinggian 160 m.

Pada tahun 2004 atau saat Burj Dubai mulai dibangun, Pdt Dr. Abraham Alex Tanusaputera dari Gereja Bethany mendapatkan visi juga untuk membangun Menara Doa di Kemayoran Jakarta atau gereja tertinggi di kolong langit dengan ketinggian 558 m atau lebih tinggi dari Taipeh 101 maupun Petronas Tower. Dengan bantuan doa dan dukungan uang kolekte diharapkan bisa terkumpulkan dana sebesar 2,5 triliun Rp. untuk membiaya megaprojek ini. Hanya sayangnya visi ini rupanya hanya sekedar mimpi.

Jadi tepatlah apa yang diucapkan oleh Syeik Muhammad dari Dubai, banyak sekali pemimpin yang mengobral janji, tetapi hanya sedikit yang mampu mewujudkannya. Harus diakui, bahwa ia telah berhasil membangun gedung tertinggi, walaupun untuk mewujudkan impian tinggi ini; Dubai harus menanggung hutang tertinggi pula sebanyak 80 milyar AS Dollar.

Bagaimana kalau terjadi perang Teluk Persia lagi, atau bencana alam ataupun serangan dari teroris? Apakah Burj Dubai dapat bertahan? Entahlah.

Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip: Yesaya 47:11 "Tetapi malapetaka akan menimpa engkau, engkau tidak tahu mempergunakan jampimu terhadapnya; bencana akan jatuh atasmu, engkau tidak sanggup menampiknya dengan mempersembahkan korban; kebinasaan akan menimpa engkau dengan sekonyong-konyong, yang tidak terduga olehmu."

--

Cinta Sejati PDF Print E-mail
User Rating: / 3
PoorBest
Sunday, 31 January 2010
John dan Jessica telah berumah tangga selama 7 tahun

Mereka saling mencintai, namun Jessica sejak awal menutupi semua perasaan cintanya terhadap John..Ia begitu takut apabila John mengetahui betapa ia mencintai pria itu, John lantas meninggalkannya sebagaimana kekasih-kekasihnya selama ini..Tapi tidak bagi John..Ia selalu menyatakan perasaan cintanya kepada Jessica dengan tulus dan begitu terbuka..Setiap saat ketika bersama Jessica, John selalu menunjukkan cintanya yang besar, seolah-olah itulah saat akhir John bersama Jessica..

Jessica selalu bersikap tidak menyenangkan terhadap John..Setiap saat dia selalu mencoba menguji seberapa besar cinta John terhadapnya. Jessica selalu mencoba melakukan hal-hal yang keterlaluan dan diluar batas kepada John..Meski Jessica tahu betapa hal itu sungguh salah, namun melihat sikap John yang tetap berlaku baik padanya, membuat Jessica tetap bertahan untuk melihat seberapa besar kesungguhan cinta pria yg dinikahinya itu..

Hari pertama pernikahan mereka.. Jessica bangun siang..Dia tidak sempat menyiapkan sarapan untuk John ketika John hendak berangkat kerja..Namun John tetap tersenyum dan mengatakan, "Tidak apa-apa..Nanti aku bisa sarapan di kantor.."


Saat John pulang dari kantor, Jessica tidak sengaja memasak makanan yang tidak disukai John..Meski menyadari hal itu, Jessica tetap memaksakan agar suaminya mau makan makanan itu..John tetap tersenyum dan berkata, " Wah..sepertinya sudah saatnya aku belajar menghadapi tantangan..Masakanmu sepertinya tantangan yang hebat, sayang..Aku sudah tidak sabar untuk menyantapnya." Jessica terkejut, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam saat Jessica terlelap John memanjatkan doa, "Tuhan....Di pagi pertama pernikahan kami Jessica tidak membuatkanku sarapan. Padahal aku begitu ingin bercakap-cakap di meja makan bersamanya sambil membicarakan betapa indah hari ini, di hari pertama kami menjalani kehidupan baru sebagai suami istri.. Tapi tidak apa-apa, Tuhan.. Karena sepertinya Jessica kelelahan setelah resepsi pernikahan kami tadi malam..Bantulah kekasih hatiku ini, Tuhan agar dia boleh punya tenaga yang cukup untuk menghadapi hari baru bersamaku besok..Tuhan, Engkau tau betapa aku tidak bisa makan spaghetti karena pencernaanku yang tidak begitu baik..Tapi sepertinya Jessica sudah bekerja keras untuk masak makanan itu..Mampukan aku untuk menghargai setiap apa yang dilakukan istriku kepadaku, Tuhan..Jangan biarkan aku menyakiti perasaannya meski itu tidak mengenakkan bagiku.."

Tahun kedua pernikahan mereka..John membangunkan Jessica pagi-pagi untuk berdoa bersama..Namun Jessica menolak dan lebih memilih melanjutkan tidurnya. John tersenyum dan akhirnya berdoa seorang diri.

Sore hari sepulang kantor, John mengajak Jessica berjalan-jalan ke taman..Meski terpaksa, Jessica akhirnya mau juga ke tempat dimana dulu perasaannya begitu berbunga-bunga saat bersama John..Tetapi Jessica menolak rangkulan John, dan berkata, "Jangan, John..Aku malu.."..John tersenyum dan berkata, "Ya, aku mengerti.." Jessica melihat kekecewaan dimata John, namun tidak melakukan apapun untuk menghilangkan kekecewaan itu..

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.." Tuhan..Ampuni aku yang tidak bisa membawa istriku untuk lebih dekat padaMU pagi hari ini..Mungkin tidurnya kurang karena pikirannya yang sedang berat..Tapi aku yakin, Tuhan besok Jessica mau bersama-sama denganku bercakap-cakap kepadaMu..Tuhan, Engkau juga tahu kesedihanku saat Jessica meolak kurangkul ketika ke taman hari ini. Tapi tidak apa-apa Dia sedang datang bulan, mungkin karena itu perasaannya juga jadi lebih sensitive Mampukan aku untuk melihat suasana hati istriku, Tuhan."

Tahun ketiga pernikahan mereka. Mereka kini mempunyai seorang putera bernama Mark. Jessica menjadi tidak pernah lagi meneruskan kebiasaannya membaca bersama John sebelum tidur. Jessica semakin sering menolak ciuman John..

Jessica memarahi John habis-habisan sore itu ketika John lupa mencuci tangan saat akan menggendong Mark ketika John pulang kerja..Jessica tahu betapa hal itu membuat John terpukul..Namun idealismenya terhadap mendidik Mark membuat Jessica mengabaikan perasaan John..Dan John tetap tersenyum..

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.."Tuhan, Engkau tahu betapa sedih hatiku saat ini..Semenjak kelahiran Mark, aku kehilangan begitu banyak waktu bersama Jessica..Aku merindukan saat-saat kami membaca bersama sebelum tidur dan menciuminya sebelum ia tertidur..Tapi tidak apa-apa..Dia begitu capek mengurusi Mark seharian saat aku bekerja di kantor..Hanya saja, biarkanlah dia tetap terus tertidur dalam pelukanku, Tuhan....Karena aku begitu mencintainya. Sore tadi Jessica memarahiku karena aku lupa mencuci tangan saat menggendong Mark, Tuhan..Aku begitu kangen pada anakku sehingga teledor melakukan sebagaimana yg diminta istriku..Engkau tahu betapa aku terluka akan kata-kata Jessica, Tuhan..Tapi tidak apa-apa..Jessica mungkin hanya kuatir terhadap kesehatan anak kami Mark apabila aku langsung menggendongnya. .Kesehatan Mark lebih penting daripada harga diriku."

Tahun keempat pernikahan mereka.. Jessica tidak ingat memasak makanan kesukaan John di hari ulang tahunnya..Jessica terlalu sibuk belanja sehingga lupa bahwa John selalu minta dibuatkan Blackforest dengan taburan coklat dan ceri diatasnya setiap ulang tahunnya tiba..

Jessica juga lupa menyetrika kemeja John yang menyebabkan John terlambat ke kantor pagi itu karena John terpaksa menyetrika sendiri kemejanya..Jessica tau kesalahannya, namun tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu hal yang penting.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.."Tuhan, Untuk kali pertama Jessica lupa membuatkan Blackforest kesukaanku di hari ulang tahunku ini..Padahal aku sangat menyukai kue buatannya itu. Menikmati kue Blackforest buatannya membuatku bersyukur mempunyai istri yang pandai memasak sepertinya, dan merasakan cintanya padaku.. Namun tahun ini aku tidak mendapatinya. Tapi tidak apa-apa..mungkin lebih banyak hal-hal lain yang jauh lebih penting daripada sekedar Blackforest itu. Paling tidak, aku masih mendapatkan senyuman dan ciuman darinya hari ini. Ampuni aku, Tuhan apabila tadi pagi aku lupa tersenyum kepada Jessica..Aku terlalu sibuk menyetrika bajuku dan memikirkan pekerjaanku di kantor..Jessica sepertinya lupa untuk melakukan hal itu, meski aku sudah meminta tolong padanya tadi malam. Jangan biarkan aku melampiaskan emosiku karena dampratan atasanku akibat keterlambatanku hari ini kepada Jessica, Tuhan.. Jessica mungkin keliru menyetrika kemeja mana yang seharusnya kupakai hari ini.. Lagipula, sepatuku begitu mengkilap..Aku yakin Jessica sudah berusaha keras agar aku kelihatan menarik saat presentasiku tadi..Terima kasih untuk kebaikan istriku, Tuhan."

Tahun kelima pernikahan mereka. Jessica menampar dan menyalahkan John karena Mark sakit sepulang mereka berenang..John terlalu asyik bermain-main dengan Mark sehingga tidak menyadari betapa Mark sangat sensitive terhadap dinginnya air kolam renang, yang mengakibatkan Mark terpaksa dirawat dirumah sakit....

Jessica mengancam akan meninggalkan John apabila terjadi apa-apa dengan Mark..Jessica melihat genangan air mata di mata John, namun kekerasan hatinya lebih menguasainya ketimbang perasaan John.

Tetapi Malaikat tahu betapa saat itu John lantas menuju ke Kapel rumah sakit dan memanjatkan doanya sambil menangis.." Tuhan..Tadi Jessica menamparku karena kelalaianku menjaga Mark sehingga dia sakit.. Belum pernah Jessica bersikap dan berkata sekasar itu padaku, Tuhan..Tapi tidak apa-apa..Jessica benar-benar kuatir terhadap anak kami sehingga ia bersikap demikian..Tapi Tuhan, aku begitu terluka saat ia mengatakan akan meninggalkanku. Engkau tahu betapa ia adalah belahan jiwaku. Jangan biarkan hal itu terjadi, Tuhan..Mungkin dia begitu dikuasai kekuatiran sehingga melampiaskannya padaku..Tidak apa-apa, Tuhan..Tidak apa-apa. Asal dia mendapat ketenangan, aku akan merasa bersyukur sekali.. Dan sembuhkanlah putera kami, Mark agar dia boleh kembali dapat ceria dan bermain-main bersama kami lagi, Tuhan.."

Tahun keenam pernikahan mereka.. Jessica semakin menjaga jarak dengan John setelah kehadiran Rebecca, puteri mereka..Jessica tidak pernah lagi menemani John makan malam karena menjaga puteri mereka yang baru berusia 5 bulan..

Jessica juga menjual kalung berlian pemberian John dan menggantinya dengan perhiasan lain yang lebih baru. Ketika John mengetahui hal itu, Jessica tau John menahan amarahnya, namun Jessica berdalih, "John, itu hanya kalung berlian biasa. Lagipula, aku bukan menjualnya, melainkan menukarnya dengan perhiasan yang lebih baru.."

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.."Tuhan, Aku begitu kesepian melewatkan makan malam sendirian tanpa Jessica bersamaku.. Aku begitu ingin terus bercerita dan tertawa bersamanya di meja makan..Engkau tau, itulah penghiburanku untuk melepas kepenatanku setelah seharian bekerja di kantor..Tapi tidak apa-apa..Rebecca tentu lebih membutuhkan perhatiannya daripadaku.. Lagipula, Mark kadang-kadang mau menemaniku.. Hanya saja, jangan biarkan aku memendam sakit hati kepada Jessica karena menjual kalung pemberianku. .Engkau tau begitu lama aku menabung dan bekerja ekstra demi menghadiahinya kalung itu, hanya untuk membuktikan terima kasihku padanya atas kesetiaan dan pengabdiannya sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku. Ampuni aku apabila tadi aku sempat berpikir untuk marah padanya.."

Tahun ketujuh pernikahan mereka.. Jessica sama sekali tidak mengindahkan kebiasaannya membelai kepala John dan mencium kening suaminya sebelum John berangkat kantor..Padahal Jessica tau, selama ini apabila dia lupa melakukannya, John selalu kembali kerumah siang hari demi mendapatkan belaian dan ciuman Jessica untuknya..Karena John tidak akan pernah tenang bekerja apabila hal itu belum dilakukan Jessica padanya..Jessica tidak mengucapkan I LOVE YOU untuk kali pertama dalam 7 tahun pernikahan mereka..

Dan di tahun ketujuh itu pula, John mengalami kecelakaan saat akan berangkat ke kantor..Ia mengalami pendarahan yang hebat, yang membuatnya terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit..

Jessica begitu terguncang dan terpukul.. Ia begitu takut kehilangan John, suami yang dicintainya. .Yang selalu ada kapan saja dia butuhkan..Yang selalu dengan tersenyum menampung semua emosi dan kemarahannya. Yang tak pernah berhenti mengatakan betapa John mencintainya.. Tak sedikitpun Jessica beranjak dari sisi tempat tidur John..Tangannya menggenggam erat jemari suaminya yang terbaring lemah tak sadarkan diri..Bibirnya terus mengucapkan I LOVE YOU, karena ia ingat kalau ia belum mengatakan kalimat itu hari ini..

Karena begitu sedih dan lelah menunggui John, Jessica tertidur..Dalam tidurnya, malaikat yang selama ini mendengar doa-doa John pada Tuhan membawa Jessica melihat setiap malam yg John lewatkan untuk mendoakan Jessica..Ia menangis sedih melihat ketulusan dan rasa cinta yg besar dari John padanya..Tak sedikitpun John menyalahkannya atas semua sikapnya yang tidak mempedulikan perasaan dan harga diri John selama ini..Alih-alih demikian, John malahan menyalahkan dirinya sendiri.. Jessica menangis menahan perasaannya. Dan untuk kali pertama dalam hidupnya, Jessica berdoa, "Tuhan, ampuni aku yang selama ini menyia-nyiakan rasa cinta suamiku terhadapku.. Ampuni aku yang tidak memahami perasaan dan harga dirinya selama ini.. Beri aku kesempatan untuk menunjukkan cintaku pada suamiku, Tuhan.. Beri aku kesempatan untuk meminta maaf dan melayaninya sebagai suami yang kucintai.."

Dan ketika Jessica terbangun, Ia melihat pancaran kasih suaminya menatapnya.." Kamu keliatan begitu lelah, sayang.. Maafkan aku yang tidak berhati-hati menyetir sehingga keadaannya mesti jadi begini dan membuatmu kuatir..Aku tidak konsentrasi saat menyetir karena memikirkan bahwa kau lupa mengatakan I LOVE YOU padaku.."..Belum selesai John berbicara, Jessica lantas menangis keras dan menghambur ke pelukan suaminya..

"Maafkan aku, John..Maafkan aku..I LOVE YOU..I really Love you..Kaulah matahariku, John..Aku tidak bisa bertahan tanpamu..Aku berjanji tidak akan pernah lupa lagi mengatakan betapa aku mencintaimu. .Aku berjanji tidak akan pernah mengabaikan perasaan dan harga dirimu lagi..I LOVE YOU, John..I LOVE YOU."


Berapa banyak diantara kita yg menjadi seperti Jessica? Yang mengabaikan perasaan kekasih hati kita demi kepentingan dan harga diri kita sendiri? Jangan sampai terjadi sesuatu yang berat untuk kita lalui demi menyadari betapa berharganya orang-orang yang mengasihi kita..

Lebih dari itu, cinta yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa seperti John, yang mengabaikan kepentingan dirinya dan perasaannya demi menjaga dan menunjukkan cintanya kepada pasangannya. Yang menjadikan pasangan hidup kita sebagai subjek untuk dikasihi dan dilayani, bukan sebaliknya..

Salam,
Naomi



Renungan: Telemachus (404 Masehi)

Batu-Bati Tersembunyi Dalam Pondasi Kita



Tindakan berani dari satu orang mengakhiri pertandingan yang mengerikan di Coliseum pada jaman Romawi kuno untuk selamanya. Karena protes damainya terhadap perlaukan biadab, Telemachus membayar dengan hidupnya. Semasa kekuasaan Kekaisaran Romawi, orang-orang Romawi menonton pertandingan gladiator di Coliseum sebagai hiburan. Disana para gladiator akan melawan para penjahat, narapidana dan hewan buas sampai mati.



Seorang biarawan pertapa bernama Telemachus melakukan perjalanan menuju Roma untuk melihat pertunjukkan bertepatan dengan perayaan kemenangan tentara Romawi. Telemachus menonton kengerian saat para gladiator merobohkan petarung demi petarung. Ia tidak tahan hanya berdiam diri. Ia melompat masuk ke arena.



“Jangan membalas kemurahan Tuhan dengan kejahatan,” Teriak Telemachus, “Letakkan pedang dari musuhmu dari membunuh satu sama lain!”

Penonton maupun para petarung tidak memperdulikannya. Nekat, ia berlari dari satu gladiator ke gladiator lainnya, memohon mereka untuk berhenti. Para penonton mengolok-oloknya, meneriakinya, “Hasutan! Hasutan! Singkirkan dia!



Ini bukan tempatnya berkhotbah! Budaya lama Romawi harus dijalankan! Hidup gladiator!”



Beberapa catatan berkata Telemachus dipukul jatuh dalam arena pertandingan itu. Yang lian berkata para penonton yang marah merajam penengah ini hingga tewas. Dalam kasus ini, tindakan-tindakannya dan kematiannya telah berakibat lebih jauh atas Romawi. Telemachus telah membuat yang lainnya sadar bahwa kontes pembunuhan berdarah tidak mempunyai tempat diantara orang-orang kristen sejati. Mendengar pendamai ini telah terbunuh. Kaisar Honorarius, seorang Kristen mengeluarkan dekrit melarang pertarungan gladiator. Telemachus menyelamatkan orang lain yang tidak terhitung jumlahnya dengan kasih sayangnya, ketidak egoisannya.

--

Gerakan Nama Suci PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest
Friday, 22 January 2010
"LAI dimejahijaukan Pemuja Yahwe," demikianlah cover story tabloid Reformata, edisi 80 (1-15 Maret 2008).

Ada apa dengan 'Pemuja Yahwe,' dan siapakah mereka? Pemuja Yahwe atau 'Gerakan Nama Suci' (Sacred Name Movement, nama yang disebut sebagai awal sejarahnya), adalah gerakan yang berkembang dari kalangan kristen yang dipengaruhi Yudaisme yang populer di Amerika Serikat dan kemudian dipopulerkan di Indonesia sejak dua dasawarsa lalu. Gerakan ini juga dikenal sebagai 'Hebraic Roots Movement',' yang pada dasarnya menekankan usaha kembali ke akar yudaik praktek ibadat Yahudi dengan adat-istiadat ritualnya.

Disebut 'Gerakan Nama Suci' karena para pengikutnya menekankan pemulihan 'Nama Yahweh' dalam bahasa Ibrani sedangkan umat Kristen menerjemahkan nama itu. Umat Kristen sebenarnya juga 'Memuja Yahweh' namun karena memuja dan mempermuliakan Yahweh, umat Kristen mengikuti petunjuk-Nya yang dalam dua millenium terakhir dimana Yahweh memperkenankan nama-Nya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa agar dikenal, terutama pada masa Perjanjian Baru dimana terlihat strateginya telah berkembang dari Perjanjian Lama (Tanakh) yang bersifat 'sentripetal' (memusat ke bangsa & bahasa Ibrani, dan berkiblat ke Yerusalem) menjadi Perjanjian Baru yang bersifat 'sentrifugal' (pergi menyebar ke bangsa-bangsa lain [Yunani: panta ta ethnee, Mat.28:19]).

Latar belakang Hebraic Roots Movement sudah terjadi lebih dari seabad, yaitu ketika pada akhir abad-19, ada gerakan internasional kebangkitan Yahudi (Zionisme) yang kala itu hidup dalam diaspora khususnya di Eropah dan Amerika Serikat. Seperti kita ketahui, bangsa Yahudi/Israel sepanjang sejarah mengalami diaspora, dan di perantauan, bangsa Yahudi tidak selamanya merasa dapat hidup dengan damai dan sejahtera, karena situasi itulah umumnya mereka memiliki kerinduan untuk sekali waktu kembali berkumpul di tanah yang dijanjikan oleh Yahweh sendiri yaitu Palestina, tanah perjanjian yang dijanjikan melalui para nabi. Sejalan dengan makin meningkatnya sikap anti-semitisme di Eropah pada abad XIX banyak orang Yahudi perantauan mulai kembali berduyun-duyun pindah ke Palestina. Kendaraan utama gerakan kembali ke Palestina itu adalah gerakan 'kembali ke Zion' atau tepatnya disebut 'Zionisme.' Kata 'Zion' biasa ditunjukkan sebagai salah satu nama kota 'Yerusalem' dan juga ditujukan kepada 'tanah Israel secara keseluruhan.' Gerakan Zionisme sebenarnya berlandaskan pesan agama berkenaan dengan janji Tuhan Israel bahwa umat Israel akan kembali ke tanah perjanjian.

Puncak dari gerakan Zionisme yang bersifat internasional itu adalah dibentuknya World Zionist Organization (WZO) pada abad XIX yang melakukan berbagai pertemuan dan diadakannya kongres pertama di Basel (1897) dimana gerakan WZO secara resmi didirikan dengan salah satu tokohnya Theodor Herzl. Gerakan ini semula bersifat politik, karena umumnya umat Israel di perantauan cenderung sudah menjadi sekular, dengan tujuan mendirikan negara Yahudi di tanah Palestina (Eretz Yisrael), namun dalam gerakan ini terdapat beberapa aliran yang memiliki kepentingan yang saling berbeda sekalipun mereka disatukan dengan semangat 'kembali ke tanah Israel.'

Tidak semua orang Yahudi mendukung Zionisme, dan tidak semua Zionis bermotif politik, ada yang bermotif sosialis (Labor Zionism), liberal (Liberal Zionism) ini yang paling dominan, dan revisionis (Revisionist Zionism), namun dalam gerakan Zionisme Internasional ini, ada kelompok yang menekankan kehidupan keagamaan Yahudi atau Religious Zionism. Umumnya kalangan Yahudi perantauan sudah tidak mempedulikan agama mereka dan menjadi sekuler, namun ada kalangan orthodox Yahudi yang berpendapat bahwa 'Zionisme harus dicapai dengan mengembalikan orang Yahudi kepada akar yudaik agama dan bahasa Ibrani.'

Misi Religious Zionism adalah menggerakkan umat Yahudi sedunia untuk kembali ke akar Yudaik mereka, dengan menggali lagi agama dan adat-istiadat tradisi Yahudi dengan Torat mereka dan menghidupkan kembali bahasa Ibrani bukan sekedar sebagai bahasa tulis tetapi juga sebagai bahasa percakapan yang selama berabad-abad menjadi bahasa lisan yang mati.

Kelompok Religious Zionism sangat aktif menyebarkan fahamnya terutama pada dasawarsa 1920-30-an di Amerika Serikat, dimana dari kalangan ini terbentuk banyak fraksi orthodox Yahudi yang merupakan gerakan kembali kepada 'Akar Yudaik' (Hebraic Roots Movement). Ada orang-orang Yahudi yang percaya Yesus sebagai Messias dan kembali membangunkan akar tradisi yudaik mereka (Messianic Jews/Judaism). Namun, diantaranya ada juga timbul sekte yang lebih jauh ingin memulihkan kembali 'Nama Yahweh' (YHWH, tetra-grammaton), gerakan ini disebut Sacred Name Movement.

Semangat fundamentalisme agama Yahudi ini bukan saja terjadi di kalangan orang Yahudi sendiri, namun dengan mulainya banyak orang berziarah ke Israel terutama sejak tahun 1917 ketika kerajaan Islam Turki Otoman dikalahkan oleh Inggeris dan Inggeris diberi mandat Liga Bangsa-Bangsa untuk menguasai Palestina, banyak umat Kristen yang berziarah ke Palestina dan di Amerika Serikat juga dialami perjumpaan dengan gerakan ini. Kondisi ini terlebih lagi terasa ketika Israel menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1948, maka lalu lintas umat Yahudi dan Kristen dari dan ke tanah Israel menjadi terbuka, dan perjumpaan umat Kristen dengan kelompok-kelompok religius itu menjadi terbuka lebar.

Pada kwartal keempat abad XX, nasionalisme klasik Israel mengalami kemunduran, namun dibalik kemunduran itu tumbuh dua gerakan antagonistik, yaitu post-Zionism dan neo-Zionism, dua kutub yang saling berseberangan. Bila post-Zionism menekankan sikap inklusif yang lebih luas menuju normalisasi dan sikap universalistik, neo-Zionism yang eksklusif menekankan semangat nasionalisme dan mesianik Yahudi.

Berbeda dengan Yudaisme Mesianik yaitu orang Yahudi yang menerima Yesus sebagai Mesias dan tetap menjalankan ritual agama Yahudi, di Amerika Serikat tumbuh gerakan yang menunjukkan gejala sebaliknya namun memiliki kemiripan dengan Yudaisme Mesianik yang bernafaskan Hebraic Roots Movement namun juga menganut Sacred Name Movement. Mereka adalah umat dari kalangan Kristen non-Yahudi yang ingin mengembalikan ibadat Kristen kembali ke akar Yudaik kepercayaan Perjanjian Lama, tetapi lebih dari itu, gerakan ini berbeda dengan Yudaisme Messianik, terkena imbas Sekte Yahudi yang menekankan kesucian Nama Yahweh (YHWH, Tetragrammaton).

Abad XIX, di Amerika Serikat terjadi kekosongan rohani yang luar biasa disebabkan oleh Perang Saudara (Civil War) yang berdampak masyarakat yang menderita dan bangkitnya industri yang mengabaikan aspek rohani dalam kehidupan modern. Ditengah kekosongan rohani, dan materialisme yang menjadi-jadi, banyak aliran baru tumbuh di kalangan Kristen, khususnya yang menekankan nubuatan tentang Akhir Zaman, yaitu Adventis (1844) dan Jehovah Witnesses atau Saksi-Saksi Yehuwa (1874). Kedua aliran ini terpengaruh lobi Yudaisme yang bergerak kuat di Amerika Serikat sejak abad XIX.

Disamping Yesus yang dipercaya sebagai Tuhan dan Juruselamat, Adventisme yang dirintis oleh William Miller, menekankan kedatangan Yesus (Advent) yang segera pada tahun 1843 (karena tidak datang kemudian digeser menjadi 1844). Ketidak-datangan Yesus pada tahun-tahun itu seperti yang diharapkan, membuat Hiram Edson menafsirkannya kembali dengan keyakinan bahwa pada tahun itu yang terjadi adalah 'Yesus masuk ke ruang mahasuci di sorga.'

Tokoh lainnya, Joseph Bates mulai terkena imbas Hebraic Roots Movement dan memasukkan ide pemeliharaan hari Sabat dan kesucian makanan seperti yang dilakukan umat Yahudi. Elen Gould White-lah yang kemudian meletakkan dasar gereja '7th Day Adventist' yang didirikannya pada tahun 1860. Ia percaya bahwa Yesus telah masuk ke ruang mahasuci di sorga pada tahun 1844 dan bahwa Yesus akan kembali ke dunia pada akhir zaman. Selanjutnya memelihara hari Sabat dan Kesucian Makanan menjadi bagian dari kepercayannya.

Gereja Adventis pecah menjadi dua aliran, yaitu 7thday Adventist dan Church of God, 7thday. 7thday Adventist mengganggap Ellen G. White sebagai nabiah dan percaya bahwa Yesus telah masuk ke ruang mahasuci di surga pada tahun 1844, sedangkan COG 7thday menolak kenabian Ellen G. White dan mengganggap tahun 1844 tidak memiliki arti rohani apa-apa.

COG, 7thday mulai merintis kegiatannya sejak akhir tahun 1850-an di kalangan jemaat Adventis di Michigan dan Iowa dan pada tahun 1863, gereja di Michigan meluaskan pelayanan ke bagian Tengah dan Timur Amerika Serikat melalui penerbitan mereka 'The Hope of Israel.' Penerbitan ini mengajak umat Kristen melalui pertemuan seminar dan retret untuk kembali mempercyai ajaran mereka yang khas yang menekankan pemeliharaan hari Sabat dan kedatangan Yesus kedua-kali.

Baik 7thday Adventist maupun COG, 7thday masih mirip dengan gereja Kristen pada umumnya dan juga mengaku sebagai Kristen dan umumnya mempercayai keyakinan Tritunggal dan percaya akan Injil, kecuali bahwa mereka juga menerima ke-10 hukum Allah sebagai tetap berotoritas sampai sekarang terutama dalam memelihara hari Sabat. Mereka tidak merayakan hari-hari raya Yahudi melainkan merayakan dua sakramen kristen, yaitu baptisan dengan selam dan perjamuan kudus. COG, 7thday mengadakan General Conference yang pertama pada tahun 1884.

Aliran Jehovah Witnesses atau Saksi-Saksi Yehuwa (SSY) terpengaruh Adventisme tentang kedatangan Yesus namun menubuatkan tahun yang berbeda, yaitu kedatangan Yesus ke duakali dipercaya sudah dimulai sejak tahun 1874 dan setelah 40 tahun persiapan, Yesus akan datang pada tahun 1914, dan berbeda dengan Adventisme, SSY mengajarkan ajaran Unitarian subordinasionis/Arian yang menganggap bahwa Yesus adalah ciptaan yang lebih rendah dari Bapa, roh kudus hanya tenaga aktif Allah, dan akhir hidup manusia di akhir zaman manusia akan diselamatkan atau akan dimusnahkan.

Tidak dapat disangkal bahwa Sacred Name Movement mendapat momentum penting di tahun 1920/30-an dimana pada kurun waktu itu Religious Zionism meningkatkan kegiatannya menyebarkan semangat kembali ke akar yudaik keseluruh dunia terutama Amerika Serikat dimana lobi Yahudi sangat kuat. SSY kelihatannya yang pertama terkena imbas Sacred Name Movement sekte Yahudi yang menekankan pemulihan nama YHWH sehingga pada pertemuan mereka di Ohio (1931) mereka secara resmi menggunakan nama Jehovah Witnesses (Saksi-Saksi Yehuwa) dan menganggap nama YHWH itu suci dan bahwa penerjemahan nama itu adalah dosa. Sekalipun Saksi-Saksi Yehuwa menekankan kembali nama YHWH yang disebutnya Jehovah/Yehuwa, dalam Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru mereka yang diterjemahkan dari New World Translation of the Holy Scripture, mereka tetap menggunakan nama Allah untuk menerjemahkan El/Elohim/Eloah.

Tiga tokoh dibelakang gerakan yang merintis pemulihan nama Yahweh di kalangan gereja COG, 7thday, yang kemudian mendirikan COG, 7thday, Salem (1933), yaitu Andrew N. Dugger, Clarence O. Dodd dan Herbert W. Armstrong. Dodd mengklaim didatangi dua malaekat dan setelah dikeluarkan dari COG, 7thday, Salem, karena pandangan yudaiknya yang kental kemudian mendirikan Assembly of Yahweh yang memulihkan kembali nama Yahweh, merayakan hari Sabat, dan hari-hari raya Yahudi, dan menerbitkan majalah 'The Faith' (1937) untuk menyebarkan pandangannya itu. COG, 7thday tetap kembali kepada kepercayaannya semula yang bercorak Adventis.

Assembly of Yahweh berasal dari kalangan kristen non-yahudi yang menekankan 'kembali ke akar yudaik' dimana mereka mengaku sebagai 'Israel yang benar' (True Israel) dan memulihkan doktrin yang berdasarkan Tanakh Yahudi (Kitab Suci Ibrani atau PL) seperti yang diajarkan oleh Yashua yang adalah nabi dan Mesias. Mereka menolak Paulus sebagai rasul, itulah sebabnya banyak jemaat Assembly of Yahweh kemudian menjadikan surat-surat Paulus dalam Perjanjian Baru kurang berotoritas atau bahkan ada yang menolaknya sama sekali.

Sekalipun kepercayaan mereka bervariasi, pada umumnya penganut gerakan ini sepakat bahwa nama Yahweh harus dipulihkan dan tidak menyebut diri sebagai Kristen karena nama itu dianggap berasal kafir. Assembly of Yahweh dan para pengikut gerakan Sacred Name Movement cenderung mendirikan gereja dengan nama mengikuti kepercayaan mereka yang khas seperti House of Yahweh yang menolak pre-eksistensi Yahshua. The Assembly of Yahvah lebih memilih nama Yahvah dan The Assemblies of Yah memilih nama Yah daripada Yahweh, yang lainnya memilih ejaan sendiri untuk menyebut nama Yahweh dan Yahshua.

Angelo B. Triana, murid Dodd, menolak surat-surat Paulus, namun kemudian dengan dasar King James Bible mengganti nama-nama 'LORD' dengan Yahweh, 'God' dengan Elohim, dan 'Jesus' dengan Yahshua dan menyebutnya Holy Name Bible (PB-1950 dan PL&PB-1963), ini sejalan dengan terbitnya pada tahun-tahun itu New World Translation (NW) dari Jehovah Witnesses (PB-1950 dan PL&PB-1961) yang memunculkan kembali nama YHWH. John Briggs, murid Triana mempopulerkan nama Yahshua dan kemudian mendirikan Yahveh Beth Israel.

Murid Triana lainnya, Jacob O Meyer melepaskan diri dari Assembly of Yahweh dan mendirikan Assemblies of Yahweh (1960). Assembly of Yahweh, Bethel Pennsylvania, mengaku bahwa mereka mengambil posisi sama dengan Nasrani (Kis.24:5), dan karenanya mereka ingin menjadi 'orang-orang Kudus yang benar' seperti tertulis dalam Why 12:17;14:12, dengan cara memegang hukum-hukum Yahweh dan beriman kepada Messiah.

Salah satu tokoh Assemblies of Yahweh, Donald Mansager mendirikan Yahweh's Assembly in Messiah (1980). Adanya skandal beberapa pendeta mendorong Mansager memisahkan diri dan mendirikan Yahweh's New Covenant Assembly (1985), dan terbagi menjadi Yahweh's Assembly in Yahshua (2006) yang dalam situs mereka percaya bahwa 'bahasa Ibrani adalah bahasa yang digunakan Yahweh di surga dan di taman Eden dan digunakan dalam penulisan kitab suci PL dan PB. Bahasa Ibrani adalah induk semua bahasa di dunia.' Putranya, Alan Mansager berbeda dengan beberapa pendapat ayahnya lalu mendirikan Yahweh's Restoration Ministry. Assembly of Yahweh kemudian terbagi lagi dan Robert Wirl mendirikan Yahweh's Philadelphia Truth Conggregation (2002).

L. D. Snow dalam tulisannya berjudul A Brief History of the [Sacred] Name Movement in America, yang mengaku sudah menyukai nama Jehovah sejak ia bertobat di tahun 1929 dan mengikuti gerakan itu sejak awal pertumbuhannya, mengemukakan bahwa nama YHWH disebut bermacam-macam oleh para pengikut Sacred Name Movement, seperti a.l. IHVH, JHVH, JHWH, YHVH, YHWH, JAHAVEH, JAHVAH, JAHVE, JAHVEH, YAHVE, YAHVEH, YAHWE, YAHWEH. Bukan hanya itu, C. O. Dodd, yang disebutnya sebagai orang yang paling berjasa dalam menyebarkan 'Nama Suci' itu, bila semula menggunakan nama Jehovah yang digunakan Jehovah Witnesses, kemudian menggantinya menjadi Jahovah, Yahovah, Yahavah, dan beberapa tahun sebelum meninggal dunia ditahun 1955, ia menggunakan nama Yahweh. Karena itu dapat dimaklumi kalau nama-nama jemaat gerakan ini juga jadinya bermacam-macam pula.

Nama Yesus pun dipulihkan dengan berbagai sebutan, seperti YESHUA, YEHSHUA, YEHOSHU, YEHOWSHUWA, JEHOSHUA, JEHOSHUAH, JOSHUA, YASHUA, YAHSHUA, YAOHUSHUA, dll.

Dari perkembangan sidang jemaat Sacred Name Movement yang tumbuh di Amerika Serikat ini yang kenyataannya bertebaran dimana-mana yang umumnya tidak berhubungan satu dengan lainnya itu, kita dapat melihat bahwa mereka tidak bersifat satu gerakan tunggal namun terdiri dari banyak fraksi dan memberi nama baru sesuai dengan penekanan mereka, namun sekalipun begitu, ada beberapa butir sejalan yang bisa disimpulkan, yaitu mereka pada umumnya:
1. Menjalankan misi Hebraic Roots Movement untuk kembali keakar Yudaik dengan menjalankan ritual dan adat-istiadat Yahudi. Umumnya mereka menolak Paskah Kebangkitan Kristus, perayaan Natal, dan ibadat di hari Minggu yang dianggap perkembangan gereja kafir dan menggantinya dengan perayaan hari-hari raya Yahudi terutama Pesakh dan memelihara Sabat;

2. Terpengaruh Sacred Name Movement (yang mula-mula mempengaruhi Jehovah Witnesses, yaitu menekankan perlunya dipulihkan nama 'YHWH'. Ada juga yang menekankan kembali nama Elohim dan Yahshua dan menolak penggunaan terjemahan nama-nama Tuhan seperti Lord, God, bahkan Jesus yang dianggap nama kafir. Karena itu, mereka menolak kitab-kitab suci dalam bahasa Inggeris yang tidak memuat nama Yahweh, Elohim dan Yahshua. Saat ini ada puluhan versi 'Kitab Suci' dalam bahasa Inggeris yang diterbitkan gerakan ini di Amerika Serikat;

Sacred Name Movement tidak hanya bergerak di Amerika Serikat saja, mereka juga menjalankan misi ke mancanegara.

Bersambung ke GERAKAN NAMA SUCI DI INDONESIA

--

Buku Harian Ayah PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest
Thursday, 07 January 2010

Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.

Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit.

Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal-hal kecil dalam rumah tangga. Malam minggu saya pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya. Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku-buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.

Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas. Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu..

Semuanya merupakan catatan hal-hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya."

"Anak-anak terlalu berisik, untung ada dia."

Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak-anak dan terhadap keluarga ini. Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."

Ayah menggelengkan kepalanyadan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."

Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan?"

"Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara-gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu."

Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"

Ayah hanya tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala di malam hari, menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha."

Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba-tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan :

"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana... ingat dan catat kebaikan dari orang lain...Lupakan segala kesalahan dari pihak lain."

* * * * *

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan pemohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:4-6)

--

Respons Terhadap Kelahiran Kristus PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest
Saturday, 02 January 2010

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk 2:8-19)

Sebentar lagi kita akan merayakan hari Natal, yaitu hari kelahiran Tuhan Yesus. Respons terhadap kelahiran Tuhan Yesus beraneka ragam. Yang pasti umat Tuhan pasti bersukacita menyambut kelahiran Kristus, namun bagi orang lain bukan merupakan sukacita sejati. Hal itu semua dilatarbelakangi oleh motivasi yang beres/murni Vs tidak beres/tidak murni. Mereka yang bersukacita atas kelahiran Kristus sebenarnya dilatarbelakangi oleh motivasi yang tulus dari umat-Nya karena mereka menyadari Sang Penyelamat telah lahir yang nantinya mati dan bangkit demi manusia berdosa. Sebaliknya, mereka yang tidak bersukacita atas kelahiran Kristus dilatarbelakangi oleh motivasi yang kurang tulus. Mereka hendak memanfaatkan momen kelahiran Kristus demi keuntungan pribadi mereka sendiri. Realitas ini ternyata dijumpai baik di seputar kelahiran Tuhan Yesus sampai zaman sekarang. Kesemuanya itu menyangkut lahirnya atau kehadiran Tuhan Yesus yang berinkarnasi di bumi ini. Mari kita menelusuri jejaknya beserta implikasi praktisnya.



Respons terhadap Kelahiran Tuhan Yesus

Ketika kita kembali menelusuri seputar kelahiran Tuhan Yesus di Alkitab, kita mendapati respons orang-orang mendengar berita lahirnya Tuhan Yesus. Mari kita membaca Lukas 2:8-20 dan Matius 2. Matthew Henry di dalam tafsirannya menyebutkan bahwa para gembala adalah orang-orang pertama yang menaruh perhatian setelah Kristus lahir.[1][1] Pada saat itu, mereka menjaga kawanan ternak. Albert Barnes dan Adam Clarke di dalam tafsiran mereka menyebutkan bahwa kejadian ini menjadi alasan bahwa penempatan tanggal 25 Desember sebagai hari lahir Tuhan Yesus itu tidak tepat. Mengapa? Karena di situ, bulan Desember suhu udaranya dingin, sehingga tidak mungkin gembala dan ternak bisa berkeliaran di padang di musim dingin. Kembali, ketika sedang menjaga kawanan ternak, tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan memberitakan sukacita besar bagi semua bangsa, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk. 2:11) Kemudian malaikat tersebut menunjukkan lokasinya. Setelah itu, para malaikat memuji Allah (ay. 14). Sesudah itu, para gembala ke Betlehem sesuai dengan petunjuk malaikat dan ketika bertemu dengan Maria dan Yusuf, para gembala menceritakan semua yang dikatakan malaikat. Akibatnya, semua orang heran mendengar apa yang dikatakan oleh para gembala (ay. 18). Segera setelah itu, Alkitab mencatat dua respons. Respons pertama adalah respons Maria yang “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” (ay. 19) Dan respons kedua adalah respons para gembala (ay. 20).



Sekarang, kita beralih ke Injil Matius 2. Injil Matius 1 mencatat kelahiran Tuhan Yesus. Setelah itu, di pasal 2 disusul dengan respons orang-orang setelah mendengar berita kelahiran Kristus. Respons ketiga dan keempat yang akan kita soroti adalah respons para orang Majus dan raja Herodes. Kedatangan para orang Majus ini, menurut Matthew Henry, dua tahun setelah kelahiran-Nya. Di dalam pasal ini di ayat 2, orang-orang Majus yang mendengar berita kelahiran Kristus langsung bertanya, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Kita mungkin bertanya-tanya, siapakah orang Majus itu? Matthew Henry dalam tafsirannya menjelaskan bahwa majus di dalam Injil disebut Magoi (ahli sihir).[2][2] Ada beragam tafsiran mengenai siapakah orang majus ini. Henry menjelaskan dua tafsiran. Pertama, bagi orang Persia, para Magi merupakan ahli filsafat dan imam. Mereka tidak akan mengakui siapa pun sebagai raja, jika tidak termasuk dalam kelompok Magi ini. Ada juga yang menyebut Magi ini sebagai orang yang berurusan dengan keahlian-keahlian terlarang, seperti tukang sihir (seperti Simon di Kis. 8:9, 11 dan Elimas di Kis. 13:6, 8). Henry sendiri tidak mengatakan mana yang benar, namun beliau memaparkan tiga fakta penting yang pasti tentang siapakah orang majus itu. Pertama, orang Majus ini tentu tidak termasuk bangsa Israel. Kedua, mereka merupakan cendekiawan yang berurusan dengan ilmu yang membutuhkan penyelidikan yang saksama. Ketiga, mereka datang dari Timur yang terkenal dengan tenung (Yes. 2:6). “Tanah Arab disebut Tanah Timur (Kej. 25:6), sedangkan bangsa Arab disebut orang-orang dari sebelah timur (Hak. 6:3).”[3][3] Geneva Bible Translation Notes menafsirkan orang majus ini sebagai “wise and learned men” (orang-orang yang bijaksana dan terpelajar).



Lalu, bagaimana cara para orang Majus itu mencari kelahiran Kristus tersebut? Dari penjelasan tafsiran Matthew Henry, saya menyimpulkan bahwa mereka bisa mencari kelahiran Kristus tersebut melalui tanda di langit yaitu berupa bintang (Mat. 2:9) yang tampak berhenti agak rendah di langit seperti sebuah komet atau lebih mungkin sebuah meteor dan itu terjadi tepat di atas Yudea. Karena seorang cendekiawan, maka mereka menafsirkan bahwa tanda bintang yang tidak biasa ini menandakan suatu peristiwa yang tidak biasa juga.[4][4] Yang menjadi pertanyaan kita kemudian, mengapa mereka melaksanakan pencarian itu di Yerusalem? Henry menafsirkan bahwa mereka datang dari Timur ke Yerusalem, karena Yerusalem merupakan ibu kota Yudea di mana bintang itu bersinar dengan terang tersebut.[5][5]



Kedatangan para orang majus ke Yerusalem mengakibatkan raja Herodes panik (2:3-3:18). Siapa Herodes? Herodes adalah orang Edom yang diangkat menjadi raja atas Yudea oleh Kaisar Augustus dan Antonius, penguasa Romawi waktu itu. Dia sangat jahat dan keji, meskipun demikian, ia digelari Herodes yang Agung.[6][6] Jika kita menelusuri reaksi raja Herodes, kita seolah-olah terkecoh dengan respeknya akan kelahiran Kristus, namun setelah kita mengerti totalitas ceritanya, maka kita akan benar-benar mengerti siapa raja Herodes itu. Pada waktu itu, raja Herodes memanggil para imam kepala dan ahli Taurat untuk menanyakan tentang lahirnya Mesias itu dan mereka memberitahukan bahwa Mesias lahir di Betlehem (ay. 4-6). Setelah itu, Herodes memanggil para orang majus yang sudah mengetahui tanda bintang itu. Perhatikan apa yang Herodes katakan kepada orang majus, “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.” (ay. 8) Perhatikan empat kalimat yang saya garis bawahi. Herodes berkata kepada orang majus agar mereka menyelidiki tempat kelahiran Mesias, supaya dia datang menyembah Mesias. Tetapi, benarkah motivasi Herodes itu tulus? TIDAK. Kebusukan motivasi Herodes sudah Tuhan ketahui, sehingga Ia menyuruh para orang majus untuk tidak kembali kepada Herodes (ay. 12) dan memang benar Herodes memang bermotivasi busuk ingin menyingkirkan Mesias, karena kehadiran Mesias bisa menganggu otoritasnya sebagai raja Yudea. Demi mencapai tujuannya, ia memerintahkan membunuh semua anak di bawah umur 2 tahun di Betlehem (ay. 16-18).



Kembali ke kisah orang majus. Setelah mendengar kata-kata dari Herodes, maka para orang majus melanjutkan perjalanan menyelidiki arah bintang Timur itu dan bintang Timur itu akhirnya berhenti tepat di palungan tempat Kristus lahir. Setelah sampai tujuan, maka Alkitab mencatat bahwa orang majus itu bersukacita (ay. 10). Setelah itu, mereka menyembah Dia dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu: emas, kemenyan, dan mur (ay. 11).





Respons terhadap Kelahiran Tuhan Yesus dan Implikasinya

Setelah menyimak empat respons terhadap kelahiran Tuhan Yesus baik dari Lukas 2 maupun Matius 2, maka sekarang kita akan menarik implikasi praktisnya. Tiga respons pertama (Maria, para gembala, dan para orang majus) adalah respons umat Tuhan terhadap berita kelahiran Kristus dan respons terakhir (raja Herodes) terhadap berita kelahiran Kristus menunjukkan respons manusia duniawi.





Respons umat Tuhan terhadap berita kelahiran Kristus adalah:

Pertama, bersukacita. Alkitab mencatat baik para gembala maupun para orang majus sangat bersukacita ketika mereka mendengar kabar kelahiran Kristus. Jika para gembala bersukacita akan kelahiran Kristus itu wajar, karena mereka diperkirakan adalah orang-orang Yahudi, namun jika para orang majus yang bersukacita, itu merupakan hal unik. Mengapa? Karena para orang majus bukanlah seorang yang mempelajari Taurat Musa. Di sinilah, anugerah Allah tiba pada orang non-Yahudi di momen kelahiran Kristus. Jika kita bandingkan dengan reaksi orang-orang Yahudi, hal ini sungguh aneh. Pada saat kelahiran Kristus di Betlehem, sedikit sekali orang-orang Yahudi yang mengetahui bahkan merayakannya, padahal mereka sangat dekat dengan tempat di mana Kristus lahir. Berkenaan dengan perbandingan dua realitas ini, Matthew Henry menafsirkan, “Orang Yahudi tidak peduli dengan Kristus, tetapi orang-orang dari bangsa bukan-Yahudi ini mencari keterangan mengenai diri-Nya. Perhatikanlah, sering kali mereka yang terdekat dengan sumber justru adalah yang paling jauh dari tujuan (Mat. 8:11-12). Rasa hormat yang ditunjukkan kepada Kristus oleh orang-orang dari bangsa bukan-Yahudi ini merupakan pertanda dan contoh indah tentang apa yang akan terjadi ketika mereka yang jauh akan dibuat menjadi dekat oleh Kristus.”[7][7]



Bagaimana dengan kita? Karena setiap tahun merayakan Natal, maka Natal bukan lagi momen yang indah, karena Natal sudah menjadi rutinitas. Sering kali Natal menjadi momen di mana kita melupakan inti Natal sesungguhnya. Kita sibuk dengan merias pohon Natal, gereja sibuk mengadakan Christmas Carol, menyelenggarakan kebaktian Natal, dll. Hal-hal tersebut tentu tidak salah, tetapi terlalu memfokuskan pada hal-hal demikian lama-kelamaan akan mengakibatkan kita menjadi kehilangan makna Natal sesungguhnya. Kita bersukacita bukan karena Kristus yang lahir, tetapi karena semaraknya kebaktian Natal, yang lebih parah lagi, karena semaraknya hiasan Natal di gereja dan toko-toko. Sukacita yang kita tunjukkan karena kelahiran Kristus seharusnya ditunjukkan bukan melalui gegap gempita sebuah perayaan Natal atau hiasan Natal di gereja, namun melalui kerelaan kita mewartakan inti berita Natal itu kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus. Ingatlah, Tuhan memperingatkan kita melalui para orang majus (non-Yahudi) bisa mengetahui tempat kelahiran Kristus bahkan menyembah-Nya bahwa Ia menginginkan kita merayakan kelahiran-Nya dengan mewartakan Injil kepada mereka yang belum percaya. Natal dan Injil adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Natal tanpa Injil menjadi Natal rutinitas dan yang lebih parah lagi menjadi Natal humanis egois yang jauh dari esensi Natal sesungguhnya.



Kedua, merenungkan. Setelah heran mendengar perkataan para gembala tentang berita yang mereka dengar dari para malaikat, maka Alkitab mencatat respons Maria adalah menyimpan hal tersebut dan merenungkannya. Ya, merenungkan Natal dan artinya adalah sebuah tindakan yang Tuhan inginkan. Kita tidak hanya cukup bersukacita merayakan kelahiran Kristus, namun kita juga harus merenungkan makna kelahiran Kristus itu. Kelahiran Kristus yang disebut inkarnasi (Allah menjadi manusia) adalah sebuah momen agung yang tidak ada bandingannya yang Allah kerjakan bagi umat-Nya. Mengapa? Karena Allah sendiri menjadi manusia. Orang-orang non-Kristen menjebak Kekristenan dengan mengatakan bahwa manusia tidak mungkin menjadi Allah. Hal tersebut memang benar. Namun yang mereka tangkap itu salah. Tuhan Yesus bukan manusia yang dijadikan Allah, namun Allah sendiri yang menjadi manusia. Ketika Sang Pencipta menjadi ciptaan, itulah momen di mana Allah rela membatas diri agar dapat dikenal oleh umat-Nya. Itulah bukti imanensi Allah, Allah yang dekat dengan umat-Nya. Semua agama di luar Kristen hampir tidak ada yang memiliki konsep imanensi Allah di mana Ia dekat dengan umat-Nya. Meskipun ada agama yang mengajarkan bahwa Allah dekat dengan umat-Nya, namun sayangnya, itu hanya konsep dan tidak ada bukti kuat yang menunjukkan hal tersebut. Tetapi puji Tuhan, Alkitab berkata bahwa Ia dekat dengan umat-Nya dan hal tersebut dibuktikannya dengan menjelmanya Allah sebagai manusia di dalam Pribadi Tuhan Yesus Kristus. Bukankah ketika kita merenungkan agungnya Natal ini seharusnya membuat kita makin bersyukur atas anugerah-Nya?



Ketiga, menyembah Dia. Alkitab tidak mencatat respons menyembah Kristus dari para gembala, namun sebaliknya Alkitab mencatat bahwa para orang majus yang datang menyembah setelah menemui bayi Yesus (Mat. 2:11). Dari peristiwa ini, kita belajar prinsip penting bahwa Natal identik dengan penyembahan kepada Kristus (atau berpusat kepada Kristus). Natal yang dipisahkan dari penyembahan kepada Kristus adalah Natal yang sia-sia dan yang lebih fatal lagi menjadi Natal humanis atheis. Dewasa ini, kita menjumpai berita Natal sudah mulai diselewengkan oleh beberapa gereja baik dari gereja arus utama maupun gereja kontemporer yang pop. Gereja arus utama menekankan aspek sosial dari Natal, sehingga Injil Kristus sejati jarang ditekankan. Aspek sosial tidaklah salah, namun terlalu menekankan aspek sosial lebih daripada Injil Kristus itu bisa berbahaya. Sebaliknya, beberapa gereja kontemporer yang pop menekankan aspek materialistis dari Natal. Mereka mengajar bahwa ketika Raja segala raja lahir, maka anak-anak Raja akan diberkati dan menjadi kaya, kemudian jemaat serentak bersuara, “Haleluya.” Sebenarnya dua berita Natal yang didengungkan oleh aliran-aliran kurang bertanggungjawab tersebut seharusnya menyadarkan kita akan pentingnya memberitakan kembali Kristus di hari Natal. Natal yang berpusat kepada Kristus mengakibatkan hidup kita pun berpusat kepada Kristus, sebagaimana penginjilan yang berpusat kepada Allah mengakibatkan gaya hidup orang yang bertobat juga berpusat kepada Allah. Will Metzger mengatakan, “Mereka yang diselamatkan melalui penginjilan yang berpusat kepada Allah dan berorientasi pada anugerah akan memiliki kerangka dasar yang ajaib untuk suatu kehidupan Kristen yang dikuduskan dengan berpusat pada Allah, dan berorientasi pada anugerah.”[8][8] Bagaimana dengan kita, khususnya para pengkhotbah mimbar? Apakah Anda masih memberitakan Natal dengan berpusat kepada Kristus? Ataukah Anda masih memberitakan hal-hal yang sebenarnya kurang berkaitan dengan Natal? Biarlah Tuhan menguji dan membakar hati Anda kembali untuk memberitakan Kristus di hari Natal, karena itu inti Natal.



Keempat, memberi persembahan kepada-Nya. Dari ketiga respons, Alkitab hanya mencatat bahwa para orang majus lah yang memberi persembahan kepada Kristus, yaitu: emas, kemenyan, dan mur (Mat. 2:11b). Ada yang menafsirkan bahwa ketiga jenis persembahan itu bukti/tanda bahwa Kristus adalah Raja, Imam, dan Nabi. Apa pun arti ketiga jenis persembahan itu, satu hal yang dapat kita pelajari adalah respons orang majus terhadap Kristus yaitu memberi persembahan kepada-Nya. Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa justru orang non-Yahudi yang menghormati dan menyembah-Nya bahkan memberi persembahan yang tentu tidak murah harganya kepada-Nya. Ketika mereka memberi persembahan kepada-Nya, tentu lahir dari hati yang tulus ingin menyembah dan memuliakan-Nya. Dengan kata lain, selain sebagai momen yang memberitakan Kristus, Natal juga sebagai momen kita memberi persembahan kepada-Nya. Tuhan tidak menuntut kita memberi persembahan yang mahal. Tuhan menuntut ketulusan hati kita di dalam memberi persembahan kepada-Nya di saat Natal. Apa yang harus kita persembahkan? Tuhan menuntut hati dan ketaatan kita. Ketika kita mempersembahkan hati kita kepada-Nya, maka seluruh hidup kita akan menjadi berubah di dalam proses pengudusan yang Roh Kudus kerjakan. Sudahkah kita rela dan terus-menerus taat memberi persembahan kepada-Nya berupa hati kita? Ketika dunia menawarkan dan menjalankan konsep bermuka dua dan tidak tulus/murni hatinya, maka sudah seharusnya orang Kristen (anak Tuhan) memiliki hati yang murni di hadapan-Nya. Hati yang murni mengakibatkan seluruh pikiran, perkataan, tingkah laku, gaya hidup, dan tindakan pun murni. Tidak ada dualisme di dalam hati umat Tuhan. Hal ini sangat sulit saya jumpai di zaman postmodern ini. Biarlah kita dipakai Tuhan menjadi berkat bagi sesama kita melalui kemurnian hati kita.





Respons manusia duniawi terhadap kelahiran Kristus:

Pertama, memanfaatkan situasi demi keuntungan sendiri. Raja Herodes ketika mendengar berita kelahiran Kristus langsung memanggil para imam kepala dan ahli Taurat serta para orang majus untuk bertanya tentang tanda kelahiran Kristus. Ia berkata bahwa ia ingin menyembah Kristus sama seperti para orang majus setelah mengetahui tanda bintang itu. Benarkah motivasinya tulus? TIDAK. Alkitab mencatat bahwa Tuhan mengetahui motivasi busuknya itu, maka Ia menyuruh para orang majus tidak kembali kepada Herodes (Mat. 2:12). Reaksi Herodes tidak ada bedanya dengan reaksi beberapa orang dunia (bahkan tidak terkecuali Kristen di dalamnya). Momen Natal bukan saatnya merenungkan, bersukacita, menyembah-Nya, dan memberi persembahan kepada-Nya, malahan momen Natal dipakai untuk mengeduk keuntungan pribadi. Hal ini ditandai dengan maraknya sale di momen Natal. Momen Natal biasanya dipakai oleh banyak toko di seluruh dunia untuk menggelar diskon sebesar-besarnya atau sale. Dari tindakan ini, banyak toko di mal meraup keuntungan besar. Seolah-olah orang non-Kristen melihat Natal identik dengan sale dan untung besar.



Kedua, meminimalkan berita kelahiran Kristus. Karena marah dengan para orang majus yang tidak kembali ke Herodes, maka Herodes memerintahkan untuk membunuh semua anak yang berusia di bawah 2 tahun di seluruh Betlehem dan sekitarnya (Mat. 2:16). Tindakannya ini adalah tindakan yang dilatarbelakangi oleh motivasi agar tidak ada yang bisa menggeser otoritasnya sebagai raja. Ambisi pribadi mengakibatkan seseorang melakukan segala cara. Tindakan ini juga terjadi di dalam zaman kita. Dilatarbelakangi oleh presuposisi bahwa semua agama itu sama dan membawa damai, maka orang-orang non-Kristen (atau orang-orang “Kristen”) yang sebenarnya tidak mengerti makna Natal sesungguhnya (hanya mengerti Natal secara sebagian atau mendengar dari orang Kristen yang tidak mengerti inti Natal sesungguhnya) biasanya meminimalkan pemberitaan inti Natal. Kita bisa melihat minimnya pemberitaan inti Natal ini di stasiun televisi. Bukan sesuatu yang baru, jika di TV, kita melihat beberapa stasiun TV menampilkan ucapan selamat Natal yang berintikan damai bagi sesama. Hal ini tentu tidak salah, namun bukan inti Natal sesungguhnya. Jika Natal berintikan damai bagi sesama, apa bedanya Kekristenan dengan agama lain? Mungkin hal inilah (semua agama itu sama) yang hendak disodorkan oleh pemilik stasiun TV baik yang Kristen maupun non-Kristen. Benarkah ajaran damai bagi sesama itu? Para malaikat berkata memuji Tuhan di dalam Lukas 2:14, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Di ayat ini, ada dua konsep yang hendak ditekankan oleh para malaikat berkenaan dengan kelahiran Kristus. Kelahiran Kristus membawa kemuliaan bagi Allah dan sekaligus damai sejahtera bagi manusia pilihan-Nya (umat-Nya). Dengan kata lain, Natal berkaitan erat dengan kemuliaan Allah dan damai sejahtera bagi umat-Nya. Alkitab tidak mencatat bahwa Natal itu membawa damai bagi sesama, namun Alkitab mencatat bahwa Natal memberi damai sejahtera bagi manusia pilihan (umat)-Nya di samping kemuliaan Allah.





Setelah kita menyimak dua respons terhadap kelahiran Kristus, apa yang menjadi respons kita terhadap kelahiran Kristus? Tuhan menginginkan kita meneladani sosok Maria, para gembala, dan para orang majus ketika meresponi kelahiran Kristus, yaitu: bersukacita, merenungkan, menyembah-Nya, dan memberi persembahan kepada-Nya. Itulah respons yang benar dari umat-Nya kepada Pribadi yang telah mencipta dan menebus mereka. Biarlah Roh Kudus mencerahkan hati dan pikiran kita di dalam menyambut Natal dan inti Natal yaitu Kristus.



Amin.

Soli Deo Gloria.



[1] Matthew Henry, Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 1-14 (Surabaya: Momentum, 2007), hlm. 24.

[3] Ibid., hlm. 26.

[4] Ibid., hlm. 26-27.

[5] Ibid., hlm. 28.

[6] Ibid., hlm. 25.

[7] Ibid., hlm. 25-26.

[8] Will Metzger, Beritakan Kebenaran: Injil yang Seutuhnya bagi Pribadi yang Seutuhnya oleh Pribadi-pribadi yang Seutuhnya (Surabaya: Momentum, 2005), hlm. XIV.



Renungan: Mencari Tuhan

Ada sebuah pengalaman seorang sahabat yang mencari dan melayani Tuhan dengan setia. Ia telah berkomitmen untuk menjalani hidup dengan benar dan mengejar jalan Tuhan. Ia mencari Tuhan dengan segenap hati, dan Tuhan pun memberikan kejayaan kepadanya. Tuhan menghendaki semua orang senantiasa terhubung dengan-Nya, sama seperti seorang anak yang berhubungan dengan orangtuanya akan selalu ditandai dengan kasih yang dalam. Usaha kita dalam mencari Tuhan haruslah ditandai dengan hal-hal berikut ini:

Kesungguhan hati.

Bila kita berdoa dengan pikiran melayang-layang ke mana-mana, itu berarti kita sedang mendua hati. Tuhan menghendaki perhatian yang sepenuhnya dari kita; Dia menghendaki agar kita mengutamakan Dia di atas apapun, bahkan yang terpenting sekalipun di dalam hidup kita. Karena dengan mencari Tuhan dan kebenaran-NYA, maka semua karunia-NYA itu akan ditambahkan kepada kita.

Ketekunan.

Ibadah kita yang sejati kepada Tuhan dan perhatian kita yang sepenuhnya terhadap firman yang dikatakan-Nya, pastilah menuntut usaha yang tekun dan tak pernah goyah, untuk memahami karya dan kehendak-Nya atas kita.

Keyakinan.

Tuhan menghendaki agar kita mengenal-Nya dan percaya bahwa Dia selalu menyediakan yang terbaik bagi kita. Dengan percaya kepada Tuhan, kita menanggalkan kebergantungan pada diri sendiri. Sebab itu percayalah kepada TUHAN dengan segenap hati, dan janganlah bersandar kepada pengertian pikiran pribadi.

Kerendahan hati.

Yaitu sikap yang bergantung sepenuhnya pada Tuhan untuk segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Tuhan sungguh senang bila kita datang kepada-Nya dengan sepenuh kerendahan hati.

Bila hati kita rindu akan Tuhan, maka Dia pasti akan dengan senang hati menunjukkan diri-Nya dan mencurahkan berkat-berkat-Nya atas diri kita.

Maka dari itu mulailah membuat suatu penilaian yang jujur tentang seberapa sungguh-sungguhkah Anda dalam mencari Dia.

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar