Sabtu, 17 April 2010

Efek Buruk Ketagihan Masturbasi

Wednesday, 14 April 2010 14:07

Dorongan seks yang memuncak dan tidak tersalurkan memang bisa mengganggu kesehatan. Karena itu, banyak orang menjadikan masturbasi sebagai jalan keluar yang dianggap aman untuk meredakan gairah dan stres.


Bagi sebagian orang memang ada yang mampu menahan godaan bermasturbasi dengan melakukan kegiatan lain yang lebih bermanfaat seperti olahraga. Namun cukup banyak yang tidak kuat untuk melawannya sehingga harus melakukannya. Di balik kepuasan yang diperoleh, sebenarnya kegiatan ini juga punya efek samping yang buruk, mulai dari efek psikologis hingga menyebabkan ketagihan.

Salah satu dampak buruk masturbasi, menurut Dr Hernano Chavez, konsultan seks, adalah sulit mencapai klimaks saat berhubungan seks atau justru mempercepat ejakulasi atau ejakulasi dini.

"Dengan masturbasi, kita bisa mencapai orgasme sendiri. Lama-kelamaan otak akan terlatih untuk merespons sentuhan-sentuhan tangan sendiri dan mengurangi sensitivitas sentuhan yang berasal dari orang lain. Akibatnya, akan lebih sulit mencapai klimaks," kata Chavez, seperti dikutip situs askmen.com

Secara biologis, ketagihan masturbasi bisa memengaruhi otak dan zat-zat kimia dalam tubuh sehingga berpengaruh pada diproduksinya seks hormon secara berlebihan. Meski dampaknya pada tiap orang berbeda, masturbasi kronik ini bisa menyebabkan rasa lelah, sakit di bagian pelvic, sakit punggung, sakit di bagian testis, hingga rambut rontok.

Karena terbiasa memuaskan diri sendiri tanpa melibatkan orang lain, dikhawatirkan seseorang akan lebih menyukai aktivitas seks sendiri dibandingkan dengan pasangan. Padahal, hubungan seks yang sehat seharusnya bisa memuaskan kedua belah pihak.

Pada orang yang belum menikah, masturbasi yang terlalu sering akan menyebabkan kompulsif masturbasi yang bisa mengganggu kehidupan sehari-hari. Ketidakseimbangan antara hasrat dan kebutuhan pribadi ini bisa menimbulkan rasa pusing dan ingin marah bila belum onani. Pada akhirnya ini akan mengganggu pekerjaan serta hubungan sosial dengan orang lain.

Selain dari yang disebutkan di atas, masturbasi dipandang dari perspektif Alkitab merupakan suatu perbuatan yang tidak berkenan bagi Tuhan. Tetapi karena tidak ada ayat firman Tuhan yang berbicara secara langsung tentang masturbasi, masalah ini masih menjadi perdebatan apakah berdosa atau tidak.

Namun demikian, dalam proses melakukan masturbasi terdapat hal-hal yang dianggap melanggar, yang mengarah kepada perzinahan. "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." (Matius 5:27-28)

Karena itu, dari pada masturbasi memikirkan wanita/pria dan membayangkan yang tidak-tidak, Paulus memberikan nasihat untuk sebaiknya memikirkan hal-hal yang baik dan berkenan pada Tuhan, yaitu di Filipi 4:8. (kompas/hart)

--
Majalah Pornografi Braile Diterbitkan untuk Tunanetra
Wednesday, 14 April 2010 10:55
Usaha penyesatan iblis melalui pornografi rupanya tidak pandang bulu sebatas ditujukan bagi manusia yang memiliki indra penglihatan yang sempurna. Usahanya kini semakin luas menjangkau mereka yang tidak bisa melihat melalui inovasi baru semacam huruf Braile.

Seorang desainer Kanada, Lisa Murphy telah membuat "Tactile Minds", semacam huruf Braile namun berbentuk lukisan orang telanjang baik wanita dan pria. Braile untuk pornografi tersebut memungkinkan penyandang tunanetra memuaskan imajinasi seksualnya dengan menyentuh gambar-gambar timbul tersebut.

Pada Selasa (13/4/2010) situs Telegraph melansir, Lisa memiliki 17 gambar telanjang timbul, salah satunya berbentuk payudara perempuan. Gambar-gambar porno khusus tersebut dijual sekitar USD150.

Menurut Lisa, gambar-gambar tersebut dikembangkan untuk menghilangkan kesenjangan antara penyandang tunanetra dengan manusia normal yang memiliki penglihatan. Sebenarnya pada tahun 1970 dan 1985, majalah dewasa Playboy pernah memiliki edisi khusus untuk penyandang tunanetra tapi tak dilengkapi dengan gambar-gambar timbul.

Dengan adanya "Tactile Minds" ini, maka penyandang tunanetra pun kini bisa jatuh dalam dosa pornografi seperti layaknya orang bermata normal. Tak ada tempat di dunia ini yang aman dari incaran iblis kecuali kita menyerahkan seluruh tubuh dan pikiran pada Tuhan dan senantiasa menjaga hidup kudus dan berkenan padaNya.

Jika Yesus menyuruh "untuk mencungkil dan membuang mata yang menyesatkan," kini tanpa mata sekalipun seseorang tetap bisa juga berbuat dosa zinah. Jadi, pada dasarnya permasalahan bukan pada mata itu tapi pada hati dan pikiran kita. Karena itu jaga dan kuduskanlah selalu setiap hari. (telegraph/hart)

"Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." (Matius 5:28)

--

Dengan Berdoa Dalam Roh, Gadis Florida yang Hilang Berhasil Ditemukan
Thursday, 15 April 2010 13:24

Nadia Bloom, gadis 11 tahun yang menderita sindrom Asperger, yaitu salah satu gejala autisme, ditemukan masih hidup setelah lima hari terhilang di sebuah rawa yang dikenal sebagai sarang buaya di Florida, Amerika Serikat. Ini berkat pertolongan dan anugerah Tuhan yang luar biasa.


Telegraph, Rabu (14/4/2010), melaporkan, gadis itu terakhir terlihat menaiki sepeda dan pergi ke dalam hutan untuk membuat video alam. Kevin Brunelle, kepala polisi di Winter Springs, Florida, mengatakan, gadis remaja itu menderita gigitan nyamuk, dehidrasi, serta lapar, tetapi dia baik-baik saja. "Saya tidak pernah percaya pada mujizat, sekarang saya percaya," kata Brunelle.

Ketika ditemukan, kondisi Nadia terbenam di rawa hingga pinggangnya. Kepada tim penolong, ia mengatakan, "Saya senang kalian menemukan saya. Saya tidak percaya kalian menyelamatkan saya."

Pihak berwenang telah mencari dia di daerah berhutan itu dengan menggunakan peralatan radar pencari-panas, helikopter, anjing pelacak, dan tim penyelam. Para sukarelawan juga telah menyisir daerah itu. Mereka menggunakan parang untuk memotong rerumputan.

Nadia ditemukan James King, seorang anggota Gereja di Metro Winter Springs di mana Keluarga Bloom berjemaat. King mengatakan, "Saya berdoa dalam bahasa lidah, saat saya berdoa dalam roh, Tuhan telah mengarahkan saya langsung kepadanya (Nadia)."

Jemaat gereja, teman dan tetangga telah senantiasa berdoa bagi Nadia, dan setelah penyelamatannya usai, kerumunan orang segera berkumpul di lapangan parkir Gereja Metro dan mulai menyanyikan puji-pujian syukur bagi Tuhan.

"Saya bahkan tidak bisa menggambarkannya," kata Jeff Bloom, ayah Nadia, saat ditanya bagaimana perasaannya tentang putrinya yang telah berhasil diselamatkan. "Mari kita memberikan kemuliaan kepada Allah," ujarnya.

Keajaiban kasih Tuhan tidak pernah berhenti dan terus terjadi sepanjang zaman untuk menyatakan bahwa Dia Allah yang hidup. Ia menyatakan diriNya melalui kejadian-kejadian yang kadang tak terduga untuk menunjukkan kasih dan anugerahNya. Dan akhir dari kisah menakjubkan ini, benar seperti dikatakan ayah Nadia, kiranya nama Allah semakin ditinggikan. (kompas/charisma/hart)

--

Ten Tips For Design Website

* Keep Your Pages Fast-Loading

Web users are impatient. Don't force visitors to wait through JavaScript-enabled introductions or QuickTime movies before they can enter your site. Always provide a "Skip" or "Stop" button when using these elements.

* Avoid Dead-End Pages

Always offer your customers a way out of a page. This could mean including a link to the main page on every page. Users are becoming increasingly accustomed to a navigation bar that links to all the sections of a site, and company logos that act as a navigation link to the home page. You can also offer text links on each page for going to "Top of page" or "Back."

* Facilitate Scanning

Study after study shows that most people don't read on the Web. They scan content for information that is relevant. Facilitate this process by breaking up text with headings and subheadings. Use text links that allow readers to jump from section to section. Don't expect people to scroll to find information on your site.

* Avoid Overusing Graphics, Animation, and Multimedia

If they don't add functionality, don't use graphics, animation, movies, sounds, and so on. Only use these features if they enhance your customers' experience. Product photos are often valuable additions to your site, but you might want to minimize the delays they could cause in load times by using thumbnail (small) images. You can link these thumbnail images to larger, more detailed images for customers who are interested in having a closer look. You can even include technology that allows viewers to zoom in on features or rotate the view of the product. Limit the number of images on each page for faster load times. If pages or files will take some time to download, it's best to forewarn your customers by noting the file size next to the link to them. If anything, users have less patience for state-of-the-art technology these days as the Web becomes dominated by new users, and the upgrade speeds for new browsers and plug-ins decline.

* Don't Assume That Everyone Uses the Same Browser

Avoid designing for a certain browser or trying to force a certain look. Some Web authors make extensive use of elaborate formatting tricks in a determined effort to coerce a client program into creating a specific visual rendering. These pages look good when viewed with the author's browser of choice, but look bad in most or all other browsers.

* Provide a Text Option

Browser preferences allow users to turn off graphics if they choose, and those who are using older browsers may not have the ability to view all images. So provide text links or alternative text tags in addition to graphics, including navigational buttons or bars.

* Delay Registration

There are many reasons for asking visitors to register at your Web site, but don't put your registration form on the first page. Show your content first; demonstrate that registration has its rewards before you ask visitors to spend their time on it.

* Make Your Forms Flexible

Online forms are often necessary and useful for placing an order or setting up accounts. But try to make your forms flexible by limiting the number of required fields. Also, make errors easy to find and correct. If users have incorrectly entered a phone number, they shouldn't need to complete the entire form again. Just have them correct the portion with the error, which should be highlighted to make the mistake obvious. Include a "Help" link in case customers run into problems while filling out a form. It's just not worthwhile to people to take time to figure out how to make something work on your site when there are 5 million other sites to visit.

* Avoid "Under Construction" Signs

By definition, Web documents change over time. Either your pages are useful to people (in which case you need not apologize for them) or they're not - in which case, you aren't ready to show them to the world and shouldn't be making them public.

* Provide a Clear Path for Customers to Make a Purchase

Display your products, descriptions, and prices prominently. If you're going to talk about a product your company sells, explain how to order it. Many Web sites are guilty of not fully disclosing product and pricing information or making it clear how to buy their products. Even if you are not yet prepared to process transactions online, you can let customers know how to buy your products by including a telephone number or retail location where they can complete a purchase, or a date when the product will become available online.

Read more: http://articleflix.com/index.php/web-design/10-design-tips-for-improving-your-website.html#ixzz0lJhK4FX3


--

Mahfud MD: Kebebasan Beragama Adalah Hak Asasi
Friday, 16 April 2010 11:28

Mahkamah Konstitusi (MK) akan memutus perkara uji materiil Undang-Undang Pencegahan Penodaan Agama, Senin 19 April 2010. Ketua MK Mahfud MD menjanjikan hakim bekerja dengan independen.


"Tak terpengaruh oleh tekanan atau opini publik yang berkembang di luar sidang," katanya dalam rilis yang dikutip dari www.mahfudmd.com, Jumat 16 April 2010.

Dalam memutus perkara ini, "MK tidak mendasarkan pertimbangan pada ayat-ayat agama, melainkan ayat-ayat konstitusi yang berlaku di Indonesia. MK berprinsip bahwa hak dan kebebasan beragama adalah hak asasi yang tak boleh diganggu atau saling mengganggu," kata pria kelahiran Madura ini.

Selain itu, Mahfud juga menegaskan Mahkamah tidak terikat pada pandangan-pandangan teoritis atau pendapat ahli dan pengalaman di negara lain. Pandangan ahli, teori konstitusi, dan pengalaman negara lain hanya sebagai sumber pembanding dan bukan sumber penentu. Sumber penentunya adalah UUD 1945 yang tafsir-tafsirnya memang bisa saja ditemukan dalam pendapat ahli atau teori-teori.

“Tapi pendapat ahli atau teori itu tak mengikat, sebab meskipun baik belum tentu dianut di dalam UUD 1945,” ujarnya.

Permohonan uji materi ini diajukan oleh beberapa lembaga dan perseorangan. Mereka adalah almarhum Abdurrahman Wahid, Musdah Mulia, Dawam Rahardjo, dan Maman Imanul Haq. Sementara lembaga yang mengajukan uji materi adalah Imparsial, Elsam, PBHI, Demos, Perkumpulan Masyarakat Setara, Desantara Foundation, dan YLBHI.

Para pemohon berdalil beberapa pasal dalam UU ini diskriminatif. Sebab, UU ini merupakan pengutamaan terhadap enam agama yang diakui di Indonesia, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu dan mengecualikan beberapa agama dan aliran keyakinan lainnya yang juga berkembang. Mahkamah mulai menggelar sidang perdana pada 17 November 2009 lalu. Sidang uji materi ini tercatat paling banyak menghadirkan ahli dan pihak yang terkait. (viva)

--

Tempat Suci Bersama Kristen dan Islam di Makedonia
Thursday, 15 April 2010 17:49

Setelah menaiki tangga berjumlah 240 buah, di balik pintu kayu terkunci, terletak satu tempat suci bagi penganut umat Kristen dan Islam. Tempat suci ini tidak terkenal. Khawatir akan kedatangan pengunjung, warga Makedonski Brod, Makedonia barat daya, menyembunyikan rahasia ini selama bertahun-tahun.


Gedung tua, yang hanya ditandai satu tanda salib di luarnya, di dalamnya dihiasi dengan benda-benda Kristen dan juga foto Yesus serta para nabi Islam. Satu batu—yang disebut berasal dari kuburan seorang nabi dari kelompok Islam Bektash, diletakkan di tengah ruangan.

Kelompok Islam Bektash adalah cabang dari Islam Sufi yang berasal dari Turki dan tersebar di sebagian wilayah kerajaan Ottoman, termasuk wilayah Balkan. Bagi warga yang percaya gedung ini adalah tempat mereka berdoa.

Bagi umat Kristen, gedung itu adalah Gereja Santo Nikola. Tetapi para pemeluk kedua agama itu selama bertahun-tahun berbagi tempat itu dengan tenang. Ini merupakan satu keadaan yang luar biasa di wilayah yang beberapa tahun lalu dilanda peperangan akibat perbedaan agama dan etnis.

Baba Ejup Rakipi, kepala pemimpin kelompok Bektash, bercerita bagaimana umat Kristen dan Islam sekali setahun berkumpul di tempat itu untuk merayakan hari Santo Gregorius yang dikenal sebagai "Gjurgjovden".

Pada hari besar itu, setelah berdoa, umat duduk bersama di "meja kasih". Mereka minum dari gelas yang sama dan makan dengan garpu yang sama.

Para pakar sejarah di ibukota Makedonia, Skopje mengatakan tempat suci di Makedonski Brod ini pertama kali dibangun sebagai gereja di abad ke-14, tetapi hancur saat invasi Ottoman. Tetapi legenda di wilayah ini menyebut bahwa gereja itu dibangun kembali sebagai tempat suci di abad ke-18 oleh seorang ulama Muslim, dalam upaya mengusir kutukan dari rumah yang sedang dia bangun dan selalu ambruk.

Di tempat suci itu sekarang, pendeta gereja Ortodoks, Marko, mengatakan dia seringkali berdoa untuk umat Islam yang datang ke tempat suci ini dan kadang keajaiban memang ada. Dia bercerita tentang seorang anak Muslim bisu yang tiba-tiba bisa berbicara setelah didoakan secara Kristen Ortodoks.

"Sayangnya, saya tidak punya bukti ilmiah untuk mendukung peristiwa itu," tambahnya.

Sementara itu menurut para pakar sejarah, tempat suci di Makedonski Brod bukan satu-satunya tempat seperti itu di negara tersebut. Pakar etnologi Elizabeta Koneska selama bertahun-tahun mempelajari fenomena ini. Dia mengatakan tempat berdoa seperti itu sangat biasa dijumpai di negara kecil seperti Makedonia.

"Selama berabad-abad, warga yang tinggal di tempat yang sama juga berdoa di tempat pemujaan yang sama," ujarnya. "Meski upacara keagamaan dilakukan dengan diam-diam, warga menghormati dan memiliki rasa toleransi terhadap satu sama lain." (BBC)

--

Kesalahan yang Direncanakan Allah
Thursday, 15 April 2010 19:27

Suatu hari, seorang tukang kayu sedang membuat sebuah peti yang akan digunakan untuk mengirim bantuan pakaian dari gerejanya ke sebuah panti asuhan di China. Dalam perjalanan pulang ke rumah, dia mencari kacamata di kantongnya, tetapi dia tidak menemukannya.


Ketika dia mencoba mengingatnya kembali, dia tersadar kalau kacamatanya telah terjatuh dan masuk ke dalam salah satu peti yang dibuatnya dan peti itu sudah dipaku dengan kuat. Dan lebih parah lagi, kacamatanya yang baru dibeli itu terkirim bersama dengan baju-baju itu ke China.

Tukang kayu itu merasa sangat sedih dan mengalami depresi. Saat itu dia memiliki 6 orang anak. Dia sudah menabung untuk kacamata senilai USD 20 itu setiap hari. Dia sedih mengingat harus membeli sebuah lagi.

"Ini tidak adil," dia berbicara kepada Allah saat perjalanan menuju rumah dengan frustasi. "Aku sudah beriman memberikan waktu dan uang untuk pekerjaanMu, dan sekarang hasilnya seperti ini."

Beberapa bulan kemudian, sang misionaris, pemimpin dari panti asuhan di China sedang berlibur dan berada di Amerika Serikat. Dia ingin mengunjungi gereja yang telah membantunya selama berada di China untuk berterima kasih. Suatu kali tiba gilirannya ia berbicara di gereja kecil tempat sang tukang kayu itu di kota Chicago.

Misionaris tersebut mengawali dengan ucapan terima kasih untuk iman dalam membantu panti asuhan. "Tetapi, dari semuanya," dia mengatakan, "Saya harus berterima kasih untuk sebuah kacamata yang dikirim tahun lalu. Anda tahu, komunis telah membersihkan panti asuhan, mereka merusak semuanya, termasuk kacamata saya. Saya sangat putus asa. Walaupun saya memiliki uang, tetapi tidak dapat membeli yang baru."

"Karena tidak dapat melihat dengan jelas, saya sering mengalami sakit kepala setiap hari. Jadi saya dengan staf secara sehati berdoa untuk ini. Dan ketika peti kiriman datang. Saat staf saya membuka tutupnya, mereka menemukan sebuah kacamata ada di posisi paling atas!"

Si misionaris berdiam cukup lama, dan melanjutkan ceritanya. "Saudaraku, saat saya mencoba memakai kacamata itu, sepertinya ini memang buat saya! Saya ingin berterima kasih pada anda yang telah menjadi bagian dari pelayanan ini."

Orang-orang mendengarkan begitu gembira pada mujizat kacamata tersebut. Tetapi bagi sang misionaris, ini terasa aneh, karena kacamata tidak ada di dalam list pengiriman. Dengan duduk diam, dan air mata mengalir di wajahnya, seorang tukang kayu biasa yang sedang duduk mendengarkan kesaksian itu, kini menyadari bahwa Allah telah memakai dirinya dengan cara yang ajaib.

Pernahkan Anda mengalami situasi seperti kisah di atas? Seringkali kita menyalahkan Tuhan karena suatu kejadian yang merugikan kita. Tak seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi pada hari esok atau bahkan satu jam atau satu menit ke depan. Karenanya, ucapkan syukur atas apapun yang kita alami. Mungkin di balik kejadian yang menjengkelkan itu, ada rencana Tuhan yang ada di luar pemikiran kita. Mungkin Tuhan sedang memakai kita untuk menjadi saluran berkatNya bagi orang lain tanpa kita sadari. Bersyukurlah selalu untuk apapun juga. (TD)


-

Vivos Menawarkan Bunker Penyelamat "Kiamat 2012"
Wednesday, 14 April 2010 14:10

Fenomena kabar kiamat pada tahun 2012, rupanya telah menginspirasi seorang pengusaha untuk membangun serangkaian bunker bawah tanah yang dapat menyelamatkan 4.000 orang kaya, jika tiba-tiba ada yang tidak beres dengan bumi.


Dalam situsnya, Vivos yang digagas Robert Vicino memuat daftar bencana mahadahsyat yang bisa dilindungi oleh bunker produksinya. Dari, perang nuklir, senjata biologis, datangnya Panet X atau Nibiru, badai matahari, pembalikan kutub Bumi, tsunami global, jatuhnya komet atau asteroid, dan meletusnya gunung berapi super dari bawah Taman Nasional Yellowstone, Wyoming yang mirip spekulasi penyebab kiamat 2012.

Vicino tak hanya sesumbar, ia bahkan mengajak sebuah stasiun televisi di bawah NBC News, untuk tur keliling di bunker miliknya di sebuah lokasi yang dirahasiakan dekat Gurun Mojave di wilayah Barstow, California.

Untuk tahap pertama Vicino merencanakan 20 bunker dalam fasilitas bawah tanah 20.000 kaki persegi yang katanya memiliki dinding dengan tebal dua hingga tiga kaki. Ruang untuk puluhan kamar tidur itu untuk menampung 200 penghuni, ditambah rumah sakit dan dapur.

Robert Vicino bertujuan membantu orang-orang biasa yang ketakutan menghadapi potensi kiamat. Orang-orang 'pilihan' itu tentu saja harus berduit. "Pemerintah AS sebenarnya punya fasilitas seperti ini, tapi itu bukan untuk orang-orang seperti Anda atau saya," kata Vicino, seperti dimuat The Register, Selasa 13 April 2010.

Jadi, jika ada yang bersedia membayar US$50.000 maka Vicino menyediakan ruang namun harus melalui daftar tunggu. Ia mengklaim telah memiliki sekitar 1.000 calon pelanggan paranoid.

Catatan situs Vivos menyebut 2012 adalah tanggal akhir dunia Maya. Mitos ini disebut-sebut untuk menarik pembeli, bahkan di situ terpasang perhitungan waktu mundur hingga 2012. Situs ini juga mengutip kiamat berdasarkan kekristenan, Yudaisme, Freemasonry, Indian Hopi, Nostradamus, Edgar Cayce, dan berbagai budaya kuno.

“Dan apakah Anda tahu bahwa pada 21 Desember 2012 tata surya kita akan selaras dengan celah gelap Bima Sakti untuk pertama kalinya dalam 26.000 tahun? hal itu bukan sesuatu yang baik,” tulis situs itu.

Tapi Vicino mengatakan bahwa akhir dunia pada tahun 2012 adalah bukan satu-satunya yang perlu dikhawatirkan. "Selain 2012 ada yang terjadi di Iran, ada yang terjadi dalam perekonomian AS, anarki sosial, anarki ekonomi, dan gempa bumi baru-baru ini." (oz/viva)

--

Menguak Keaslian Kain Kafan Yesus
Wednesday, 14 April 2010 10:45
Kain yang memiliki sebutan Kain Kafan dari Turin yang dipercaya membungkus jenazah Yesus setelah wafat di kayu salib mencetak wajah Sang Juru Selamat. Tercetaknya wajah Yesus, yang kemudian menjadi acuan berbagai lukisan atau patung Yesus itu memicu debat soal keasliannya.

Berbagai referensi sejarah soal kain kafan Yesus sudah tersedia, namun satu-satunya catatan yang paling bisa diandalkan adalah yang tersimpan di Katedral Turin sejak abad ke-16. Kain berpola kerangka berukuran 1,21 x 4,42m itu berlumuran bercak darah manusia dan tampak jelas menunjukkan sosok seseorang yang baru saja menjalani hukuman penyaliban.

Gambaran yang paling terkenal yaitu sosok wajah Yesus lengkap dengan janggut tebalnya memang tak bisa dengan mudah dilihat mata telanjang. Gambaran wajah itu baru terlihat pada akhir abad ke-19 dalam sebuah foto yang diambil oleh seorang fotografer amatir.

Pada tahun 1988 kain itu tak lagi bisa dilihat dengan bebas. Para ahli penanggalan karbon dari Universitas Oxford, Zurich dan Arizona saat itu "membuktikan" kain kafan itu adalah buatan abad ke-14 sehingga wajah yang tercetak di atasnya bukan wajah Yesus.

Kini, banyak kalangan yang mempertanyakan proses penelitian dan menganggap proses penelitian kurang akurat. Seorang sejarawan yang telah banyak menulis buku seputar masalah ini, Ian Wilson yakin kain kafan Turin itu memang kain yang membungkus jenazah Yesus. Apa yang mendasari keyakinan Wilson itu?

"Sampel yang diambil untuk penelitian tahun 1988 itu diambil dari tempat yang tidak seharusnya, yaitu pojok kiri atas," kata Wilson. "Sebab, sebelum tahun 1840 satu-satunya cara memamerkan kain itu adalah kain itu direntangkan dan dipegang oleh sedikitnya tiga orang uskup sehingga sangat mungkin ujung kain itu sudah terkontaminasi."

Keraguan lainnya adalah sampel yang diambil adalah bagian yang sudah diperbaiki dengan menggunakan kain biasa.

"Masalah lain adalah kain itu nyaris terbakar tahun 1532 dan asap kebakaran mengakibatkan banyak pengaruh. Semua faktor inilah yang memungkinkan penelitian karbon menjadi tidak akurat," tambah Wilson.

Ian Wilson menambahkan, penggunaan kain seperti kain kafan Turin itu jauh lebih populer pada abad-abad awal ketimbang pada abad pertengahan. Selain itu, bukti-bukti medis juga memperkuat teori Wilson.

"Memang pada jaman Yesus hidup, ribuan orang dihukum mati dengan cara disalib. Namun, berbeda dalam proses penyaliban Yesus adalah mahkota duri dan di atas kain kafan itu terdapat noda luka tusukan di sekitar kepala yang terluka," tandas Wilson.

Dan meskipun banyak lukisan yang menggambarkan Yesus dipaku pada telapak tangannya, namun kain kafan itu menunjukkan bahwa Yesus dipaku pada pergelangan tangannya.

Cara memaku pada pergelangan tangan, papar Wilson, adalah agar tubuh Yesus tetap bisa tergantung di kayu salib. Tapi bagaimana menjelaskan soal gambaran wajah yang diyakini banyak orang sebagai wajah Yesus di atas kain itu?

"Itu memang hal yang aneh. Kain kafan ini berperan sebagai cetakan negatif badan yang dibungkusnya. Sehingga mungkin Anda akan bertanya benarkah ada kebangkitan Yesus?" tukas Wilson.

Gereja Katolik selalu menolak untuk memperdebatkan soal keaslian kain kafan itu. Sementara itu Direktur Pusat Sindologi Internasional Turin, Bruno Barberis, menegaskan keaslian kain tersebut.

"Banyak penelitian membuktikan bahwa noda di atas kain itu adalah darah manusia bukan buatan pelukis. Gambaran yang ditinggalkan memang sebuah citra yang diakibatkan oleh jenazah yang sesungguhnya. Sehingga saya pikir, tingkat keaslian kain kafan ini sangat tinggi," kata Barberis yang lembaganya giat meneliti soal kain kafan Yesus ini.

Pandangan ilmuwan
Meski demikian, sejumlah ilmuwan tetap meragukan keaslian kain kafan itu. Profesor Gordon Cook dari Pusat Riset Alam Universitas Skotlandia dengan tegas mengesampingkan teori bahwa kain itu telah banyak "terkontaminasi" tangan manusia mengganggu hasil penelitian karbon.

"Metode pra perawatan yang kami lakukan seharusnya mampu menyingkirkan kontaminasi itu," kata Prof Cook yang dikenal sebagai pakar penanggalan karbon.

"Perhitungan karbon kami lakukan di tiga laboratorium berbeda sehingga kami yakin kami telah melakukan perhitungan yang benar," tambah dia.

Satu-satunya pertanyaan saat itu, lanjut Cook, adalah apakah kain kafan itu sudah tercampur dengan kain yang usianya jauh lebih mudah atau tidak.

Sebagian besar ilmuwan yang melakukan penelitian tahun 1988 sudah pensiun atau meninggal dunia. Salah satu peneliti Dr Hans Arno Synal mengingat saat-saat penelitian saat itu dengan baik. Hans Synal yang kini adalah kepala Laboratorium Fisika Ion Universitas Zurich sangat yakin penelitian tahun 1988 sudah memecahkan misteri.

"Kami sudah melakukan prosedur yang benar dan ketat. Jika ada kontaminasi manusia maka kami akan melihat perbedaan suhu saat kami melakukan pembersihan. Namun, tak ada perbedaan itu," kata Synal.

Soal kain yang digunakan untuk memperbaiki kain kafan, Synal yakin para ahli tekstil saat itu sudah memisahkan semua material yang akan mengganggu penelitian. Pendeknya, Synal yakin kain kafan Turin adalah kain buatan abad ke-14 bukan kain kafan yang membungkus jenazah Yesus. Meski demikian dia menilai kain itu tetaplah sebuah artefak sejarah yang menarik.

"Kain itu sangat menarik, tidak masalah apakah usianya 2.000 atau 700 tahun. Jadi saya tidak akan menilai apa-apa bagi mereka yang tertarik melihat pameran kain itu. Mungkin saya juga akan pergi melihat. Mengapa tidak? Kain itu sebuah obyek sejarah," tandas Synal.

Soal mengapa sebagian besar orang tidak mau mengakui hasil penelitian itu, Synal memiliki pandangan sendiri. "Sangat jelas bahwa kain itu bukan berasal dari masa Yesus hidup dan perdebatan soal kain kafan kemungkinan tak akan pernah berakhir. Selalu ada kelompok orang yang percaya bahwa kain itu memang kain kafan Yesus," kata Synal.

Menariknya, kata Synal, yang sangat mempercayai keaslian kain ini justru bukan Gereja Katolik. "Mungkin sebagian orang ingin melihat bukti keberadaan Tuhan. Namun, saya tak yakin kain ini adalah buktinya." (BBC)

--

Letters to God: Perjuangan Iman Seorang Anak Melawan Kanker
Tuesday, 13 April 2010 12:33
Diproduksi oleh David Nixon, salah satu sutradara di balik film sukses bertema Kristen "Facing The Giants" dan "Fireproof," "Letters to God" bercerita tentang Tyler Doherty, seorang anak delapan tahun penderita kanker yang menulis surat kepada Tuhan dalam bentuk doa.

Dalam suratnya, Tyler (Tanner Maguire) berbicara kepada Allah seperti layaknya teman dekat dengan cara yang menyiratkan bahwa ia akan bertemu Sang Khalik tidak terlalu lama lagi. Tyler memiliki semangat yang tangguh. Dia selalu berusaha melakukan apa yang Yesus akan lakukan, meskipun ia menderita tumor otak dan harus melalui kemoterapi.

Ayahnya meninggal beberapa tahun sebelumnya. Kakaknya Ben (Michael Bolten), merasa marah pada hilangnya figur ayah dan juga ibunya, Maddy Doherty (Robyn Lively) karena dia harus mengurus Tyler sepenuh waktu.

Nenek Tyler datang untuk tinggal bersama mereka dan memberikan perspektif Kristen yang kuat bagi seisi rumah. Sementara tetangga sebelahnya seorang gadis bernama Samantha (Bailee Madison), siap untuk menjadi pembela Tyler. Ketika suatu hari Tyler pergi ke sekolah setelah dua bulan absen, seorang anak mengolok-olok dia. Sam mendorong wajah anak itu ke dalam makan siangnya di kantin sekolah.

Ketika surat Tyler tiba di kantor pos, seperti yang dapat dibayangkan, timbul kebingungan akan dikemanakan surat-surat tersebut. Dan tugas ini menimpa Brady McDaniels (Jeffrey SS Johnson), untuk mengurusnya. Brady adalah petugas pengantar surat yang tengah terpisah dari istri dan anak laki-lakinya.

Tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan surat-surat itu, Brady mencoba membawanya ke gereja—sebuah tempat yang tampaknya baik untuk bisa menyampaikan surat tersebut kepada Allah—tetapi pendeta setempat menjelaskan bahwa surat-surat itu dipercayakan kepada Brady karena suatu alasan. Jadi akhirnya Brady harus bergumul dengan dirinya sendiri, dan ia memutuskan akan melakukan misi dari Tuhan.

Seiring waktu, Brady mulai membentuk persahabatan dengan Tyler dan keluarganya. Melalui jalan surat-surat Tyler, akhirnya kehidupan Brady kemudian berbalik dan dia datang kepada Kristus. Bahkan, satu per satu, tetangga Samantha dan teman-temannya datang kepada Kristus.

Film "Letters to God" ini banyak berbicara tentang Yesus. Orang-orang berdoa secara terbuka dalam film ini, mendiskusikan tentang kematian, dan bersukacita dalam hidup mereka. Meski dibuat dengan biaya rendah, film ini berhasil menembus Top 10 Box Offixe pada minggu pertama pemutaran yang dimulai 9 April 2010.

Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini memberikan kesan yang begitu mendalam. Dikelilingi oleh keluarga serta orang-orang yang mencintai dan dipersenjatai dengan iman, Tyler menghadapi pertarungan hari demi hari melawan kanker dengan keberanian dan anugerah. Akankah doa-doa itu dijawab dan Allah menyembuhkan Tyler? (Hartono Tj) — dari berbagai sumber

Genre: Drama
Pemain: Robyn Lively, SS Jeffrey Johnson, Maree Cheatham, Maguire Tanner, Christopher Michael Bolton, Madison Bailee, Ralph Waite
Sutradara: David Nixon
Distributor: Vivendi Entertainment
Eksekutif Produser: Tom Swanson
Produser: David Nixon, Cameron "Kim" Dawson
Penulis: Doughtie Patrick, Art D'Alessandro, Sandra Murah, Cullen Douglas
Durasi: 110 Menit

--

Yang Paling Penting Dalam Hidup
Tuesday, 13 April 2010 12:29

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…” (Mat. 22:37-40)


“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1Kor. 13:13)

Apa tujuan utama manusia hidup di bumi? Belajar mengasihi dan menjadikannya gaya hidup. Alkitab berkata bahwa semua akan berlalu tetapi hanya ada satu yang kekal, yaitu kasih. Tuhan tidak pernah berkata supaya kita mengasihi diri kita sebanyak mungkin, tetapi Dia berkata supaya kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri. Hukum dunia dan hukum Tuhan ternyata bertentangan. Fokus utama kita bukan pada diri sendiri, tetapi pada Tuhan dan pada sesama.

Mengapa kasih?
1. Hidup tanpa kasih itu tak bernilai. Jangan menganggap bahwa hubungan itu adalah suatu bagian dalam jadwal harian kita. Terkesan sepertinya hubungan itu hanya berupa bagian dari kehidupan ini sama seperti kegiatan lainnya. Pandanglah seperti ini: hidup itu tentang hubungan.

Yang paling berkenan bagi Tuhan adalah kasih kita padaNya dan juga pada sesama, “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannnya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4).

Gaya hidup sorga adalah kasih. Semuanya akan berlalu tetapi karakter ini yang akan kita bawa ke sorga, lagipula hidup akan menjadi kosong dan tak bermakna jika kita jalani tanpa kasih. Bukan apa yang kita lakukan, tetapi apa motivasi kita itu yang penting. Orang yang berhikmat menyadari betapa pentingnya kasih.

2. Kita dievaluasi berdasarkan kasih kita. Tuhan mengukur kedewasaan rohani seseorang berdasarkan kualitas hubungannnya dengan sesama. Di sorga nanti, Tuhan tidak akan bertanya tentang karir, uang yang kita miliki, prestasi yang kita ukir, hebatnya pelayanan yang kita lakukan. Dia akan meninjau bagaimana kita memperlakukan orang lain, khususnya mereka yang membutuhkan “…sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Cara kita mengasihi Tuhan adalah dengan mengasihi dan peduli pada saudaraNya yang paling hina. Jangan sia-siakan hari ini tanpa kasih.

--

Kesembuhan yang Ajaib
Tuesday, 13 April 2010 12:27
Sakit penyakit menjadi masalah yang umum dialami oleh manusia saat ini dan tak jarang penyakit itu merenggut nyawanya. Dalam pergumulan dengan penyakit, kita seringkali melihat atau mendengar banyak juga yang disembuhkan meski sakit yang diderita adalah penyakit mematikan.

Memperhatikan fenomena ini, timbullah pertanyaan, "Mengapa Allah menyembuhkan beberapa orang dan tidak menyembuhkan yang lainnya?" Pertanyaan ini telah menjadi pokok persoalan dari sejumlah besar hati yang mencari di sepanjang sejarah. Opini-opini masyarakat telah menyebabkan luka dan euforia—tetapi apakah mereka telah memberikan terang pada topik yang emosional ini?

Dr Henry Frost mencoba mengupas dan menjawab pertanyaan di atas dan menuliskannya di sini. Buku "Kesembuhan yang Ajaib" ini telah menjadi sebuah batu uji yang berotoritas tentang isi dari kesembuhan yang ajaib sejak penerbitan pertamanya pada tahun 1931; hingga kini buku ini masih dikutip secara luas.

Dalam pengantar bukunya, Dr Henry Frost menulis, judul yang ia pilih untuk buku ini adalah "Kesembuhan yang Ajaib" bukannya frase yang biasa yaitu "Kesembuhan Ilahi." Perubahan frase ini memang sengaja dibuat untuk memberi perbedaan di antara keduanya. Tema utama dari buku ini adalah Allah menyembuhkan tanpa adanya alat, di mana inilah yang diindikasikan dari kata-kata "Kesembuhan yang Ajaib." Tetapi bukan kesembuhan seperti itu yang dimaksud dalam kata-kata "Kesembuhan Ilahi," sebab sebagaimana yang dipahami, frase "Kesembuhan Ilahi" berarti Allah menyembuhkan dengan atau tanpa alat.

Hal ini benar karena faktanya kesembuhan segala penyakit sesungguhnya bersifat ilahi. Seorang tabib/dokter tidak menyembuhkan, bukan pula karena obat, atau diet ilmiah, atau sebuah lingkungan yang baik, atau hal lain yang dapat disebutkan sebagai penyembuh. Semua ciptaan atau ciptaan ulang adalah dari Tuhan; dan oleh karena itu, dalam segala jenis kesembuhan, Dialah satu-satunya yang menyembuhkan, apakah la bertindak secara langsung melalui hukum-hukum yang tidak dikenal atau secara tidak langsung melalui hukum-hukum yang dikenal.

Oleh karena itu, di dalam buku ini, di mana kata-kata "Kesembuhan Ilahi" muncul, ini berarti menunjuk pada semua bentuk kesembuhan. Namun di mana kata-kata "Kesembuhan yang Ajaib" muncul, ini berarti menunjuk hanya pada kesembuhan tanpa adanya alat.

Sakit penyakit dan kecacatan bukanlah isu akademik dan buku ini sangat menarik untuk dibaca bagi siapapun yang sedang bergumul dengan penyakit, atau mengasihi seseorang yang mengalami sakit. Metode Frost sungguh-sungguh menolong. Ia memulai dengan tingkatan yang praktis dengan mengutip kasus-kasus dan contoh-contoh yang membuktikan fakta kesembuhan yang ajaib. Kemudian ia melanjutkan dengan membahas kesulitan-kesulitan, baik dalam bidang praktikal ataupun eksperimental, serta dalam wilayah pemikiran yang benar dan jelas. Di atas semuanya, pembahasan Dr Frost sangat biblikal. (hart)

Data buku:
Judul asli: Miraculous Healing
Penulis: Henry Frost
Penerjemah: Maria Fennita
Penerbit: Visi Anugerah, Bandung, 2009
Tebal: 176 halaman

Tentang penulis:
Henry Frost adalah Direktur Nasional pertama dari China Inland Mission (sekarang OMF International) di Amerika Utara, dan seorang teman dari Hudson Taylor, seorang misionaris di daratan China.

--

Ucapkan Terima Kasih Dapat Meningkatkan Kekuatan Hubungan
Monday, 12 April 2010 14:30

Banyak cara dapat dilakukan untuk mempererat hubungan dengan pasangan kita. Kadang kala hal-hal kecil justru membuat hubungan itu semakin kuat. Misalnya saja saling mengucapkan terima kasih. Dengan mengucapkannya, rasa kepuasan kita kepada pasangan juga akan meningkat.


Ungkapan syukur dan terima kasih, bila disampaikan dengan tulus, akan meningkatkan kekuatan sebuah hubungan. Demikian menurut Nathaniel Lambert, pakar psikologi dalam jurnal Psychological Science.

"Saat kita mengekspresikan rasa terima kasih kepada seseorang, kita akan lebih fokus pada hal-hal baik yang telah dilakukan orang itu kepada kita. Hal ini akan membuat kita lebih fokus pada hal-hal positif dalam hubungan Anda dan dia," ujar Lambert.

Dalam penelitian yang dilakukan Lambert diketahui, mayoritas responden yang mengungkapkan rasa terima kasih mereka kepada orang terdekatnya merasa hubungannya menjadi lebih kuat. "Orang yang mendapat ungkapan terima kasih juga akan tergerak untuk melakukan hal yang sama," katanya.

Lambert menjelaskan, dalam kehidupan modern saat ini, kita cenderung berkutat dengan keuntungan pribadi. "Kita sering mencari-cari apa yang belum orang lakukan untuk kita. Di sinilah pentingnya ucapan terima kasih karena ia bisa mengubah fokus negatif menjadi positif," tuturnya.

Bagaimana dengan Anda, apakah ucapan terima kasih sudah jadi ucapan langka dalam kehidupan dengan pasangan? Mengucapkan terima kasih merupakan tanda ucapan syukur dan penghargaan kita kepada orang lain, karena itu, tunjukkanlah itu sebagai perhatian dan kasih Anda kepada mereka. Meskipun hanya sederhana, dengan melakukan hal tersebut, akan memberikan dampak yang baik bagi diri Anda sendiri dan orang lain. (healthday/kompas)

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)

--

Menjadi "Koki" Bagi Tuhan
Monday, 12 April 2010 10:11
Sekilas kedai ini tidak menarik, terletak di ujung jalan, bangunannya terbuat dari papan dan kayu-kayu yang disusun rapi, sangat sederhana, tanpa ornamen apapun, sangat bertolak belakang dengan bangunan di sekitarnya yang megah dan mentereng.

Namun hal ini tidak menyurutkan niat orang-orang untuk datang ke tempat ini, sekalipun harus mengantri, para pembeli dengan senang hati menunggunya dan biasanya orang yang baru pertama kali datang akan tertarik dan menjadi pelanggan setia.

Promosi dari mulut ke mulut hingga suatu hari berita ini sampai ke telinga seorang reporter dan dia tertarik untuk mengeksposnya. Saat mencicipi masakan itu, lidahnya berdecap-decap, matanya terbelalak dan penuh kekaguman. “Wow…belum pernah saya makan seenak ini. Baru kali ini saya benar-benar menikmati sebuah masakan yang dibuat dengan cita rasa tinggi. Tidak salah tempat ini banyak dikunjungi, karena tempat ini memberikan taste yang berbeda. Aku harus menemui kokinya, untuk bertanya apa rahasianya.”

Bergegas reporter mengunjungi dapur dan bertanya, “Koki, maukah engkau memberitahukan kepadaku apa rahasia masakanmu ini. Masakanmu memang masakan biasa yang dengan mudah dijumpai di mana-mana. Namun ada sesuatu yang berbeda dari masakan ini. Setelah memakannya, aku merasa senang, bahagia, tenang dan sepertinya ada suatu kekuatan yang mengalir keluar dari dalam diriku,” ujar reporter tersebut.

Dengan tersenyum lebar, koki ini menjawab, “Tidak ada rahasia apapun dalam masakan yang saya buat, saya menyajikan makanan yang biasa namun dengan cara yang berbeda. Saya selalu memilih bahan baku yang masih segar dan berkualitas tinggi, bumbu-bumbunya kami racik sendiri dan juga menggunakan kombinasi yang tepat. Hati yang bersukacita adalah bumbu terpenting dalam setiap masakan.

Karena dari sanalah aroma kehidupan itu mengalir dan membuat orang yang memakannya benar-benar puas. Seperti yang anda katakan tadi, anda merasakan ada kekuatan yang mengalir dari dalam diri anda. Itulah tujuan kami, kami tidak ingin hanya menjual makanan dan membuat kenyang tapi kami ingin agar setiap orang yang datang ke tempat kami, mereka benar-benar dipuaskan."

Kita semua adalah koki-kokinya Tuhan yang bertugas untuk menyediakan 'makanan' bagi dunia, bagi orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Saat mereka datang kepada kita, apakah yang akan kita sediakan?

Apakah kita akan menyediakan makanan yang sudah kadaluarsa dan tidak fresh lagi. Ataukah kita akan menolak mereka dan berkata bahwa sudah tidak ada makanan lagi. Dan membuat mereka mencari jawaban di gunung-gunung, aliran new ages, kundalini, atau kepercayaan lainnnya. Ataukah kita menjadi orang-orang yang sibuk dengan keselamatan diri sendiri, kemakmuran sendiri dan sibuk dengan doktrin-doktrin gereja/aliran tanpa benar-benar menyentuh kehidupan mereka?

Tuhan telah mengutus kita ke dalam dunia untuk menyediakan apa yang mereka butuhkan dan membuat mereka benar-benar terikat dengan Allah. Secara materi mereka mungkin hidup dalam kelimpahan dan bisa membeli apa yang mereka inginkan. Secara intelektual mereka mungkin jauh lebih pintar dan berbobot dari kita dan membuat kita merasa minder. Walaupun mereka merasa kenyang, itu hanya bersifat sementara tidak mampu memuaskan hasrat terdalam mereka. Jauh di lubuk hati mereka sesungguhnya ada rasa lapar dan dahaga yang tidak pernah terpuaskan.

Tuhan mau melalui kesederhanaan hidup kita dan keberadaan diri kita (siapapun kita), kita menjadi alatnya Tuhan untuk menuntun orang-orang ini mendapatkan kebenaran sejati. Tuhan mau melalui hidup kita, mereka akan menemukan arti kasih yang sejati, penerimaan tanpa syarat, sukacita yang mengalir, kesembuhan bagi yang terluka, kekuatan bagi yang lemah.

Maukah anda menjadi alatnya Tuhan untuk membawa kehidupan bagi dunia, membawa kerajaan Allah bagi orang-orang yang lapar dan haus akan kebenaran? Jawabannya hanya ada pada diri anda. (Liesye Herlyna)

--

Perubahan
Wednesday, 07 April 2010 10:28

Saya begitu terkejut melihat pesatnya pembangunan di Manado Sulawesi Utara. Pesisir pantai yang tadinya lahan non produktif kini disulap menjadi area bisnis, Di sana tumbuh banyak pusat perbelanjaan megah. Suatu hal yang belum hadir beberapa tahun lalu saat terakhir kali saya berkunjung ke sana. Ada perubahan di wajah kota itu.


Perubahan terjadi dimana-mana. Tanpa terasa tubuh berubah melar, kulit berubah kendor. Rambut berubah memutih. Gigi berubah ompong. Itulah sebagian kecil perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Ini belum ditambah dengan perubahan dalam hidup keluarga. Dari seorang bayi hingga menikah. Dari memiliki anak hingga meninggal. Dari cinta ke perceraian. Dari sekolah ke putus sekolah. Dan masih banyak lagi perubahan yang bisa diurutkan satu persatu.

Luar biasanya jauh sebelum kita menyadari akan perubahan itu, Tuhan Yesus sudah mengantisipasinya dengan mendeklarasikan firman bahwa Dia tidak berubah dulu, sekarang dan selamanya (Ibrani 13:8). Ini bukan hanya untuk menghibur tapi juga menguatkan dan menopang semua orang yang mengalami perubahan dalam hidup. Sebab banyak orang stress, depresi bahkan bunuh diri ketika perubahan terjadi dalam hidupnya. Kulit yang berubah keriput saja sudah buat seorang wanita uring-uringan. Seseorang yang di PHK dari pekerjaan sudah membuat ia menjadi pembunuh. Seseorang yang di putus pacar sudah membuat ia menjadi gila. Dan masih banyak reaksi negatif yang sering dimunculkan manusia ketika perubahan terjadi dalam hidupnya.

Itu sebabnya Yesus katakan, "Aku tidak berubah... dari dulu sekarang sampai selamanya." Itu maksudnya apa? Maksudnya adalah saat manusia menghadapi beragam kesulitan, Dia ada untuk menolong, mengangkat serta mengobati. Maka dibagian lain dari Alkitab Dia berkata, "Mari datang kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan beri kelegaan kepadamu"; dan "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."

Apakah sekarang ini anda sedang mengalami suatu perubahan yang dramatis dalam hidup? Datanglah kepadaNya, Dia akan memberi kelegaan kepada Anda. Di lain pihak ada beberapa langkah terbaik yang bisa anda terapkan dalam menghadapi setiap perubahan yang akan datang atau sudah datang dalam kehidupan. Yakni:

1. Antisipasilah sebelum perubahan terjadi
Perubahan itu pasti akan datang. Nah, sebelum datang antisipasilah dalam doa, puasa, perencanaan dan persiapan matang. Ester dan orang Israel berdoa dan puasa sebelum Haman akan merubah kehidupan mereka dengan mencabut nyawa orang Yahudi. Ester merencanakan pertemuan dengan raja untuk menyampaikan persoalan mereka. Dan Ester mempersiapkan segala kemungkinanjika raja tidak berkenan. Terbukti antisipasi mereka berhasil, mereka selamat dari pembantaian. Hingga hari ini orang Israel merayakan hari itu sebagai hari kemenangan. Nah, bagaimana dengan Anda? Sudahkah anda mengantisipasi perubahan yang akan terjadi dalam hidup anda. Sadarilah bahwa suatu hubungan suatu saat akan retak atau putus. Suatu usaha atau pekerjaan suatu saat hilang. Maka antisipasilah sebelum semuanya terlambat.

2. Ketika perubahan itu akhirnya datang dalam hidup and terimalah apa adanya.
Dengan menerima maka kita bisa menyesuaikan diri dengan apa yang sudah terjadi. Ayub berkata kepada istrinya yang tidak mau menerima perubahan yang terjadi dalam hidup keluarga dan kesehatan Ayub, "Apa kamu hanya mau menerima apa yang baik saja dan tidak mau menerima yang buruk?" Hal-hal yang buruk ternyata berguna bagi kita untuk mengingatkan kita bahwa apa yang ada di dunia ini fana. Dan bahwa kita perlu lebih bersandar kepada Tuhan serta berbalik dari jalan-jalan kita yang jahat. Hal-hal yang buruk pasti akan datang, jika itu tiba terimalah apa adanya dan berjalanlah bersama Yesus yang tidak pernah berubah. Maka perubahan itu akan semakin memperkuat iman anda, membuat anda menjadi dewasa rohani dan hidup penuh kemuliaan.

3. Ketika perubahan terjadi banyaklah memberi.
Seorang wanita di Perjanjian Lama mengalami perubahan dalam kehidupan. Dari tadinya banyak makanan menjadi kekurangan. la dan keluarga terancam kelaparan. Tapi justru dalam kekurangannya dia memberi kepada hamba Tuhan. Disitulah ternyata rahasia berkat. Usai memberi ia menerima kelimpahan. Ketika ada perubahan dalam hidup misalnya keluarga mati, banyak keluarga rebutan warisan. Tapi orang Kristen sejati akan memilih memberi daripada menghancurkan hubungan baik antar keluarga. Harta boleh dicari, tapi keluarga yang sakit hati tidak bisa diobati. Abraham memilih tanah yang kurang subur hanya untuk menjaga hubungan baik dengan keponakannya Lot. Terbukti kemudian pilihan Abraham terbaik. Karena Tuhan memberkati dimanapun anak-anaknya berada.

Nah, sekarang saya ingin bertanya, ketika perubahan datang dalam hidup sudahkah anda siap? Siap menghadapi penyakit, kemalangan, bahkan kematian? Kalau belum, hari ini juga serahkan diri anda sepenuhnya kepada Yesus, Dia akan menolong anda melewati hari-hari yang suram. Puji Tuhan. (Hendra Kasenda)

--
Saling Sikut dan Menjatuhkan
Thursday, 25 March 2010 10:24

Saat memasak secara tak sengaja jari tengah saya terkena sayatan pisau dan darah mengucur lumayan banyak. Luka itu tidak segera saya obati karena dalam pikiran saya, luka itu akan menutup dengan sendirinya. Dan ternyata tidak, darah segar terus mengucur, hingga akhirnya saya mengambil obat dan perban untuk membalutnya.

Walau hanya jari tengah yang luka, sangat berpengaruh terhadap aktivitas yang lain. Membuat saya kesulitan untuk memegang sesuatu dengan benar dan terutama untuk mengetik. Melalui perkara ini, Roh Kudus mengajar mengenai tubuh Kristus. Seringkali kita mengaku sebagai orang Kristen, sebagai pengikut Kristus tapi satu sama lain saling sikut dan menjatuhkan. Dengan sadar, kita menegur orang lain bukan dengan motivasi untuk membangun tapi dengan motivasi untuk mempermalukan dan menunjukkan superioritas bahwa dirinyalah yang benar dan orang lainlah yang salah.

Saudaraku, kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus. Tuhan telah tempatkan kita masing-masing pada posisinya, ada yang menjadi tangan (karunia melayani), ada yang menjadi mulut (karunia motivasi), menjadi bahu (karunia memimpin), ada yang menjadi otak (karunia hikmat/pengajaran/pengetahuan), ada yang menjadi kaki (karunia penginjilan/misionaris), ada yang menjadi hati (karunia belas kasihan/empati), ada yang menjadi lutut (karunia pendoa syafaat), ada yang menjadi telinga (karunia konselor), etc.

Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. (1 Korintus 12:4-5)

Supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. (1 Korintus 12:25-27)

Coba sekarang anda angkat satu buah buku dengan hanya memakai jari tengah anda? Apakah anda bisa mengangkatnya? Saya jamin anda tidak akan bisa mengangkatnya, beda kasus kalau anda memiliki tenaga seperti Hercules.

Bayangkan lagi bila salah satu jari anda berkata kepada tubuh, “Saya sudah bosan bergabung dengan kamu, sekarang saya mau memisahkan diri dan hidup merdeka.” Menurut anda apa yang akan terjadi? Cepat dan pasti jari tengah itu akan mati mengering dan tidak berfungsi apa-apa.

Demikian pula dengan anda dan saya, kita adalah satu tubuh, satu di dalam Kristus. Kita tidak dapat hidup sendiri dan tidak dapat berfungsi apa-apa bila tidak saling bekerja sama dengan bagian yang lain. Ada satu saja yang terluka, seluruh tubuh akan merasakannya. Misalkan di kelompok kita ada dua orang yang bersengketa, secara tidak langsung kitapun terlibat di dalamnya. Mau membela si A, si B juga rekan kita. Mau membela si B, si A rekan kita, posisi kita serba sulit bagai makan buah simalakama. Sikap yang bijaksana adalah kita menjadi penengah dan membereskan masalah ini, supaya racun yang ditebarkan itu tidak mengkhamirkan semua orang.

Kesatuan anggota tubuh mencakup dalam semua bidang kehidupan baik dalam bidang bisnis atau kerohanian. Tuhan memakai anak-anakNya bergerak dalam bisnis untuk membiayai pekerjaan Tuhan di muka bumi ini. Kita tidak dapat menjangkau orang-orang yang berada di pedalaman seorang diri, kita butuh partner para misionaris untuk menjangkaunya. Bagian kita adalah mensubsidi dana bagi misionaris ini. Kita tidak dapat mengatur suatu organisasi sendiri, kita butuh partner/rekan sekerja untuk mewujudkannya.

Setiap anggota tubuh memiliki posisi yang sejajar, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah, semua memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Dan kesemua anggota tubuh itu diikat oleh kasih agape. Kasih Agape = kasih yang tidak bersyarat, kasih yang memberi dan tidak menuntut, kasih yang “meskipun” dan bukan “jika”. Semua bertanggung jawab kepada Yesus sebagai pemimpin dari semuanya.

Manusialah yang seringkali membuat perbedaan itu dan membuatnya semakin menyolok dengan memilah-milah, posisi ini penting, posisi ini tidak. Akibatnya setiap orang berlomba-lomba untuk mengejar posisi penting dan dipandang hebat oleh dunia daripada menempati posisi yang tepat menurut apa kata Tuhan.

Dan akibatnya sungguh fatal, banyak hamba Tuhan yang jatuh bergelimpangan dalam dosa. Hal ini tak lain dan tak bukan karena mereka sudah tidak fokus lagi kepada Tuhan dan mengejar apa yang bukan menjadi bagian mereka. Hidupnya telah dikuasai oleh keserakahan akan nama baik, popularitas, kesenangan dunia. Dan itu adalah awal kejatuhan manusia.

Mari kita belajar dari pengalaman mereka, jangan sampai kita mengalami hal yang sama. Merasa masih berjalan bersama Tuhan, merasa masih berada dalam kebenaran tapi sebenarnya kita sedang hidup memisahkan diri dari tubuh Krisus. Kematianlah yang akan anda hadapi bukan keselamatan.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan hal ini:
- Tiap-tiap orang menempati posisinya masing-masing
- Bekerja dengan benar dan disertai tanggung jawab atas setiap bidang yang dipercayakan kepada anda
- Tetaplah fokus kepada Tuhan sebagai pemimpin dari semua
- Terima kekurangan saudara seiman sebagai bagian dari diri anda
- Perlakukan rekan sekerja sama seperti kita memperlakukan diri sendiri (bila ingin dihormati hormati mereka, bila ingin didengar dengarkan mereka dan bukan menuntut sebaliknya)
- Berhentilah bersengketa dengan saudara seiman, karena itu tidak mengerjakan keselamatan dan kebenaran dalam hidup anda
- Kenakan kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Liesye Herlyna)

--

Buatlah Perjanjian Dengan Tuhan
Thursday, 18 March 2010 09:56

Dalam seluruh isi Alkitab berisi kisah mengenai perjanjian-perjanjian. Mulai dari Perjanjian Allah dengan Manusia hingga perjanjian Manusia dengan Allah serta perjanjian manusia dengan manusia. Ambil contoh perjanjian Allah dan manusia di Taman Eden hingga Perjanjian Yesus dengan murid-muridNya bahwa Dia akan menyertai mereka senantiasa hingga akhir jaman.

Ada pula kisah mengenai perjanjian Yakub dengan Tuhan, Perjanjian Yusuf dengan saudara-saudaranya, Perjanjian Daud dan Yonatan dll. Pokoknya banyak sekali perjanjian dalam Alkitab maka tak heran kemudian kita kenal ada Perjanjian Lama dan ada Perjanjian Baru.

Rupanya perjanjian-perjanjian dipandang Allah dengan serius. Allah kita sangat menghargai perjanjian dengan umatNya. Sejak dulu Dia suka manusia yang memegang teguh perjanjianNya. Sayang manusia seringkali tidak setia dengan perjanjian yang dibuatnya dengan Tuhan. Adam dan Hawa contohnya, mereka bersepakat dengan Tuhan untuk tidak akan menjamah pohon yang dilarangNya. Namun begitu kesenangan sudah mereka raih, goadaan si setan membuat mereka lupa diri. Akhirnya mereka melalaikan perjanjian dengan Tuhan dan kemudian diusir keluar dari Taman Eden.

Abraham dan Tuhan membuat perjanjian. Bahwa Abraham akan keluar dari Mesir dan Tuhan akan memberkati dia serta membuat keturunannya sangat banyak. Bahkan Tuhan akan mengutuk orang yang mengutuk Abraham dan keturunannya. Abraham setia dengan perjanjian itu, dia pergi dari tanah nenek moyangnya, mengikuti Tuhan dan Tuhan setia dengan perjanjianNya, memberkati ABraham serta memberikan anak meski dia sudah sangat tua umurnya.

Dalam hidup saya seringkali membuat perjanjian dengan Tuhan. Saya bilang kepada Tuhan, baiklah Tuhan saya akan menulis banyak artikel Rohani untuk Engkau sebagai makanan rohani bagi anak-anakMu, tapi tolong ya urus makanan sehari-hari ku. Dan Tuhan setia. Kami tidak pernah kekurangan makanan.

Saat ini Tuhan menanti anda juga untuk melakuan perjanjian denganNya. Saya tahu ada banyak persoalan anda, tapi Tuhan menanti anda. Buatlah perjanjian dengan Nya. Serahkan diri anda dan lihatlah Tuhan akan bekerja untuk anda.

Ada seorang Bapak yang sangat hebat dalam membuat dan menjual narkoba. Tapi suatu kali ia ditangkap polisi lalu kemudian ia bertobat di penjara. Sekarang ini dia sudah bebas dan membuat perjanjian dengan Tuhan bahwa ia tidak akan menjamah narkoba lagi tapi Tuhan tolong semua kebutuhannya. Dan luar biasa Tuhan setia dengan perjanjian itu. Sampai sekarang dia diberkati. Bagaimana dengan anda? (Hendra Kasenda)

--

Nothing Is Impossible
Tuesday, 06 April 2010 11:47
Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami. Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Markus 9:22-24)

Kisah di atas sangat menarik karena menceritakan tentang seorang ayah yang memiliki anak yang sejak kecil menderita sakit karena kerasukan setan. Anak ini seringkali mengalami kejang-kejang dan mulutnya berbusa. Roh jahat ingin membinasakan anak ini, sehingga seringkali ia dibawa ke air agar tenggelam dan ke dalam api agar mati terbakar.

Suatu kali ia mendengar cerita orang-orang tentang Yesus yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Ayat mas dalam kisah Alkitab di atas terdapat pada ayat 23. Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”

Ayat ini adalah ayat yang luar biasa, karena seringkali kita mendengar kata-kata “tidak ada yang mustahil bagi Allah”. Ternyata, ayat ini menyatakan bahwa bukan saja tidak ada yang mustahil bagi Allah, tapi juga tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.

Perhatikanlah kata-kata Yesus ini, bahwa “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.”Lalu, percaya seperti apakah yang bisa membuat tidak ada yang mustahil dalam hidup kita:

1. Percaya bahwa kuasa Tuhan tidak terbatas oleh situasi dan keadaan.
Seringkali yang membuat kita kehilangan kepercayaan adalah situasi/keadaan dalam hidup kita. Contoh:
• Menderita sakit kanker, kita seringkali ragu apakah bisa memperoleh kesembuhan.
• Suami yang sudah bertahun-tahun nakal, kita seringkali ragu apakah masih bisa berubah menjadi suami yang baik.
• Kondisi bisnis di ambang kehancuran, kita seringkali ragu apakah masih bisa tertolong.

Tokoh dalam Alkitab yang mengalami mujizat karena memiliki kepercayaan pada Tuhan yang melampaui situasi/keadaan adalah Daud.
1 Samuel 17:45-47 — Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: ”Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu, hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”

Kondisi di atas sebenarnya sangat mencekam ketika Daud melawan Goliat yang tubuhnya sangat besar dan merupakan pahlawan perang bangsa Filistin yang tidak pernah terkalahkan. Saat itu tentara Israel dihina dan diejek, sehingga iman mereka hilang karena situasi itu. Seringkali kita juga mengalami peristiwa yang sama seperti yang dialami oleh tentara Israel, di mana kita seringkali lupa semua Firman Tuhan.

Tetapi Daud memiliki iman yang kuat yang tidak terpengaruh oleh kondisi/keadaan saat itu. Padahal waktu itu Daud bukanlah tentara Israel, ia hanya kebetulan tiba di lokasi perang mengantarkan makanan untuk kakaknya seorang tentara Israel yang sedang berperang melawan tentara Filistin. Tetapi ketika di sana ia mendengar Tuhan dihina, timbullah kemarahan kudus dalam hatinya karena tentara Filistin menghina tentara Tuhan. Akhirnya Daud mengalami kemenangan yang luar biasa atas tentara Filistin.

Dari kisah di atas, jelas terlihat bahwa pada saat tentara Israel ketakutan menghadapi tentara Filistin, Daud tetap percaya bahwa kuasa Tuhan melampaui semua kondisi dan keadaan. Alkitab mengajarkan bahwa iman bisa diperoleh melalui 3 sarana:
• Mendengarkan firman Tuhan
Oleh karena itu kita harus membaca firman Tuhan dengan suara yang terdengar telinga. Karena iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan. Tidak cukup bila kita hanya mendengarkan firman Tuhan seminggu sekali pada saat ibadah di gereja. Kita harus rutin membaca firman Tuhan setiap hari agar iman kita semakin bertumbuh.
• Melalui pengalaman hidup
Masalah dan problem hidup yang kita temui dalam kehidupan kita sebenarnya Tuhan ijinkan terjadi untuk melatih iman kita. Iman itu bisa kita gambarkan seperti otot manusia yang apabila dilatih akan semakin berkembang. Ketika masalah dan persoalan datang, maka iman kita akan bertumbuh dan menjadi semakin kuat.
• Melalui karunia iman
Roh Kudus memberikan 9 karunia ketika memberkati kita, salah satunya adalah karunia iman. Jadi ketika kita mengalami kondisi/keadaan yang berat dalam hidup kita, kita ingin percaya tapi tidak bisa karena iman kita tidak sampai, maka kita bisa minta salah satu karunia Roh Kudus yaitu karunia iman untuk menolong kita.

Kalau kita fokus melihat janji dan kebesaran Tuhan, maka kebutuhan dan masalah kita akan menjadi kecil. Kuasa Tuhan yang besar sanggup menolong kita. Kuasa-Nya tidak dibatasi oleh kondisi/situasi.

2. Percaya bahwa Tuhan memiliki 1001 macam cara untuk menolong kita.
Tuhan memiliki banyak jalan untuk menolong kita. Jangan membiarkan diri kita membatasi kuasa Tuhan dengan terlalu banyak berpikir bagaimana dan dari mana datangnya pertolongan untuk kita, padahal Tuhan bisa melakukan berbagai macam cara untuk menolong dan memberkati kita.

1 Raja-raja 17:3-6 — ”Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana.” Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN, ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu..

Dalam kisah di atas, yang memberi makan Elia adalah burung gagak yang dikirim oleh Tuhan. Jadi Tuhan bisa memakai apapun untuk menolong kita. Contoh lain:
- Tuhan dalam seketika bisa memberikan sekaligus 30an butir telur ayam yang kemudian menjadi santapan lauk yang luar biasa bagi sebuah keluarga miskin di suatu desa. Telur-telur itu ditemukan di balik semak oleh seorang anak laki-laki kecil dari keluarga itu ketika sedang bermain kelereng. Telur itu menjadi santapan yang luar biasa karena dengan ditemukannya telur sebanyak itu maka setiap anak dari empat bersaudara dalam keluarga itu bisa memakan sebutir telur setiap harinya. Padahal biasanya, kadang dalam sehari ibunya hanya bisa membeli sebutir telur yang setelah dicampur dengan air dijadikan selembar telur ceplok untuk dibagikan sebagai lauk kepada 4 bersaudara itu.
- Naaman dalam Alkitab diceritakan bahwa ia mesti mandi di sungai yang kotor dan menyelam sebanyak tujuh kali di sungai itu, barulah ia sembuh dari penyakit kustanya.

Tuhan bisa memakai orang yang tidak terduga sama sekali bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun. Tuhan bisa memberkati dan menolong kita dengan 1001 macam cara. Oleh karena itu janganlah kita membatasi kuasa Tuhan, termasuk di dalam doa-doa kita. Tuhan memiliki cara yang berbeda dari yang kita harapkan. Ekstrimnya adalah Tuhan bisa memakai orang gila sekalipun untuk memberkati dan menolong kita. Kita hanya cukup memiliki iman dan percaya pada kuasa Tuhan.

3. Kita harus percaya bahwa waktu Tuhanlah yang terbaik.
Tuhan memiliki waktu untuk setiap kita. Kalau sampai hari ini Tuhan belum mengabulkan doa kita, bukan berarti Tuhan tidak mau atau tidak mampu menolong kita.

Yohanes 11:5-7 — Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: ”Mari kita kembali lagi ke Yudea.”

Walaupun kelihatan terlambat, Tuhan tidak pernah terlambat karena waktu-Nya Tuhan bukanlah waktunya kita. Lazarus dibangkitkan dari kematiannya, padahal dalam kisah di atas Tuhan Yesus diberitahu bahwa Lazarus sakit keras tetapi Ia menunda dua hari lagi untuk menolongnya dan akhirnya Lazarus meninggal dunia. Bagi manusia hal itu tampaknya terlambat, tetapi bagi Tuhan tiada yang mustahil karena Lazarus akhirnya Tuhan bangkitkan dari kematiannya.

Kesimpulan:
• Kita harus tetap berdoa dan tetap percaya walau apapun yang terjadi dalam hidup kita, karena pertolongan Tuhan tepat pada waktu-Nya.
• PUSH (Pray Until Something Happen). Tetap tekun berdoa sampai sesuatu terjadi dalam hidup kita, karena Tuhan pasti menolong kita tepat pada waktu-Nya.
• Mujizat tidak bisa terjadi bila ada orang yang masih keras kepala/tidak percaya. Ketika akhirnya ia tersungkur di kaki Tuhan, maka itulah waktu yang tepat untuk Tuhan menolongnya.
• Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya.
• Mintalah karunia iman, katakan pada-Nya: ”Tuhan, aku percaya dan tolonglah aku yang tidak percaya ini. Dan biarkanlah mujizat-Mu terjadi dalam hidupku.”

Pengkhotbah: Pdt Yosia Abdisaputera
Gembala Sidang GBI Nafiri Allah, Jakarta

--

At the Cross
Wednesday, 31 March 2010 09:52
Hari “Kesengsaraan Tuhan Yesus” kita sebut “Jumat Agung”. Ada banyak orang memahami hari yang bersejarah bagi iman Kristen tersebut, tetapi adakah orang yang hadir pada hari yang Agung itu? Ketika Yesus disalib, orang-orang Yahudi, serdadu-serdadu dan prajurit-prajurit Romawi merayakan kemenangan kematian Yesus di atas kayu salib. Murid-murid merasa gagal dan sirna harapannya. Bagi Allah merupakan suatu kemenangan, rencanaNya yang dinubuatkan berabad-abad dan misi yang mulia dalam diri Tuhan Yesus sudah digenapi secara sempurna, maka Yesus berkata: “Sudah selesai” (Yoh. 19:30). Bagaimanakah sikap orang-orang menyambut hari-hari kesengsaraan Yesus?

At the Cross (Mat. 27:27-31)
Ketika Yesus digiring serdadu-serdadu dan wali negeri ke pengadilan, namun tidak ada keadilan untukNya. Mereka melecehkan Yesus, pakaianNya dicopot satu persatu. Mereka mengenakan mahkota duri sebagai penghinaan dan penyiksaan. Mereka mengolok-olok Dia, katanya: “Salam, hai Raja orang Yahudi!” Mereka meludahiNya dan mengambil bulu itu dan memukulkannya ke kepalaNya.” (Mat. 27:27-31). Lalu mereka keluar untuk menyalibkan Dia. Bukankah hari ini masih banyak orang turut melecehkan Kristus dan menyiksa pengikut-pengikutNya? Apa yang kita lakukan di samping salibNya?

Take Up the Cross (Mat. 27:32-44)
Dalam perjalanan menuju ke bukit Golgota, Yesus tidak kuat lagi memikul salibNya, mereka memaksa Simon untuk memikul salib Yesus (Mat. 27:32). Di manakah murid-muridNya tidak ada satupun yang datang ikut menggotong salib Yesus, di manakah penggemar/pengikut Yesus, yang pernah mengecap berbagai kesembuhan, orang buta, orang tuli, orang timpang, yang kerasukan, yang dikenyangkan oleh roti dan yang dibangkitkan dari kematian? TIDAK ADA SATUPUN yang menawarkan diri dengan sukarela memikul salibNya. Yesus pernah berkata, “Barang siapa tidak memikul salibNya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu.” (Mat. 10:38). Hari ini banyak orang tidak rela memikul salibnya sendiri jika ada itu karena terpaksa. Tuhan Yesus rela memikul salib untuk kita, hidup matiNya berarti bagi kita. Charles Spurgeon, berkata ”As long there is breath in our bodies, let us serve Christ; as long as we can thinks, we can speak, we can work, let us serve him with our last gasp, let set some work to glorify Him before we face dead.”

Die On the Cross (Mat 27:45-56)
Sesudah Yesus berteriak, “Eli, Eli lama sabakhtani” (Mat. 27:46) Lalu, “Yesus, berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya.” (Mat. 27:50). Inilah kematian yang paling besar, kematian di atas kayu salib bukan karena kejahatan diriNya. Selama berabad-abad hukuman perbuatan jahat/dosa oleh Romawi berakhir di kayu salib. Tapi Kematian Yesus adalah demi dosa-dosa manusia, bukan karena diriNya. Kematian yang sangat berarti dan mulia bagi kita semua.

Maynard Belt dalam khotbahnya “Anda Tidak Dapat Minum Anggur.” Ilustrasi ini memberi makna rohani yang dalam. Saat Perjamuan, Tuhan menggunakan dua simbol, yaitu makan roti dan minum anggur. Roti melambangkan tubuh Kristus; anggur melambangkan darahNya yang tercurah. Akan tetapi bagaimanakah anggur-anggur tersebut dapat menjadi minuman harum dan manis? Anggur yang matang dan lezat harus dihancurkan dan diperas seluruh airnya baru bisa menjadi minuman harum dan manis.

Untuk menggenapkan rencana Allah, Tubuh Yesus harus diremukkan, seperti yang dikatakan dalam Yesaya, “Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia. Ia dihina dan dihindari orang…” (Yes. 53:2-3). Ia mati, darahNya yang tercurah untuk menebus dosa-dosa kita. Jumat Agung, karena ada karya yang Agung di hari Jumat. Adakah kita bersyukur dan mati untukNya?

Isaac Watts menulis sebuah lagu, “At the Cross” Ia menyadari kematian Yesus di atas kayu salib adalah karya terbesar. Kristus rela mati untuk kita yang tidak layak (seperti cacing).

Alas! And did my savior bleed And did my Sovereign die?
Would He devote that sacred head For such a worm as I.
Was it for crimes that I have done He groaned upon the tree?
Amazing pity! Grace unknown! And love beyond degree!
At the cross, at the cross where I first saw the light, and the burben of my heart rolled away.
It was there by faith.
I receive my sight, and now I am happy all the way.

Pengkhotbah: Pdt Alex Lim
Gembala Sidang GKA Gloria, Surabaya



--

Luka Dalam Pelayanan
Thursday, 25 March 2010 10:32
Dalam kisah “Orang Samaria yang Murah Hati” dalam Lukas 10:25-37, terdapat pernyataan bahwa ada orang yang terluka secara fisik. Dalam kehidupan pelayanan, kita bisa menjumpai jenis luka yang lain, yaitu luka dalam hati.

Ketika ada orang menggosipkan kita tanpa tahu masalah kita, kita terluka. Ketika ada orang yang mulai tidak menghargai kita dalam pelayanan, kita terluka. Ketika ada orang kepercayaan kita kemudian "menikam" dari belakang dan bicara yang buruk, kita terluka. Ketika kita dapati pemimpin tidak sesuai hidup dan perkataannya, kita tertuka. Tanpa sadar, banyak hamba Tuhan yang tetap berdoa menumpangkan tangan kepada jemaat yang sakit dan si sakit mengalami kesembuhan, melayani doa pengurapan dan yang kita doakan mengalami lawatan, namun ada begitu banyak luka dalam hati kita.

Sekarang kita akan perhatikan, mengapa iblis menaruh luka dalam hati kita? Yang saya pelajari ada beberapa hal yang menjadi alasan:

I. Orang yang luka tidak dapat berbuat banyak.
Injil Lukas 10:30 mengatakan, orang yang dirampok itu dipukul sampai setengah mati. Tidak bisa buat apa-apa, hanya terkapar tanpa mampu bergerak. Banyak pendeta yang terluka oleh sikap isteri yang terluka. Akhirnya, jemaat juga terima rasa luka. Dan semua terluka sehingga semua tidak dapat berbuat banyak.

Dalam Alkitab terdapat contoh sederhana, yaitu seorang yang bernama Saul. Saul adalah orang pilihan Tuhan. Dia tidak pernah kampanye untuk menjadi raja. Itu artinya Saul adalah orang yang hebat, dia bukan orang biasa. Tapi waktu Saul mendengar sorak-sorai oleh karena Daud telah mengalahkan Goliat dengan mengatakan: "Saul mengalah beribu-ribu musuh tapi Daud mengalahkan berlaksa-laksa."

Saul marah, padahal Daud tidak berbuat apa-apa. Saul terluka karena sorak-sorai itu, oleh karena pikirannya menjadi sempit dan picik. Banyak hamba Tuhan hari-hari ini menjadi begitu terbatas oleh karena pikirannya yang sempit, sehingga luka-luka yang ada dalam hati menguasainya. Dan, ketika hatinya terluka ia menjadi orang yang sangat merugikan bagi perkerjaan Tuhan.

Saul bukan orang yang gampang takut dan bukan juga orang yang gampang khawatir. Tetapi ketika hatinya terluka, ia menjadi orang berpikiran negatif. Sehingga ia merencanakan pembunuhan bagi Daud yang pernah menyelamatkan reputasinya.

Alkitab juga mencatat sesuatu yang luar biasa tentang Yusuf karena dia tidak pernah terluka. Hampir semua orang melukai dia. Kakak-kakaknya membuang dia. Dan ketika sadar kalau dibuang tidak ada untungnya, maka mereka menjual Yusuf. la tidak berkata kepada kakak-kakaknya, "mengapa engkau lakukan itu kepadaku? Apakah salahku?"

Ketika dia diperlakukan tidak adil oleh karena menolak ajakan isteri Potifar, dia pun tidak membela diri. Karena dia tidak membiarkan hatinya terluka. Sehingga ia tidak berusaha untuk membalasnya. Bukankah banyak hamba Tuhan yang tidak tenang dalam pelayanannya dan akhirnya tidak dapat berbuat apa-apa. Berusaha mencari kambing hitam sebagai kompensasi dari pelampiasan rasa luka hatinya. Ingat, orang yang hatinya tidak luka, tidak mungkin punya niat jahat.

Kita lihat di sini perbedaan antara Saul dan Yusuf. Saul tidak dapat berbuat banyak lagi, bahkan hancur. Tapi Yusuf lebih mampu berbuat banyak bahkan menjadi berhasil luar biasa.

II. Orang yang luka akan dikuasai oleh trauma.
Orang yang trauma selalu berpikiran negatif. Negatif terhadap orang lain, curiga terhadap orang lain. Makanya setan ingin menaruh luka dalam hati hamba-hamba Tuhan.

Perlu diperhatikan, ketika terluka jangan salahkan orang. Yusuf mengalami hal-hal yang melukai tetapi ia tidak terluka. Saul tidak dilukai oleh siapapun tetapi ia terluka. Jadi, kita terluka atau tidak terluka bukan disebabkan oleh karena orang berbuat sesuatu bagi kita. Sebagai hamba Tuhan kita harus percaya bahwa di hadapan Tuhan kita semua tidak bergantung dari siapa yang paling hebat, yang paling banyak karunianya, besar atau kecilnya gereja yang kita layani.

Melayani Tuhan tidak tergantung dari siapa yang paling besar, siapa yang paling hebat. Di dalam Matius 25 disebutkan cuma ada dua macam hamba Tuhan yaitu, hamba Tuhan yang jahat dan hamba Tuhan yang baik. Kita yang melayani di gereja yang kecil tidak usah minder dan kita yang melayani di gereja yang besar, tidak perlu berbangga karena gereja kita besar.

III. Orang yang terluka tidak akan stabil.
Ada masanya dia hebat sekali, tapi ada masanya dia jahat sekali. Ada masanya dia lembut dan penuh Ron Kudus, tapi ada masanya dia menjadi orang yang garang, Orang yang ada luka mudah emosi. Mulutnya susah di 'rem'. Jadi sederhana saja, jika ada orang yang suka 'sikat' orang lain, suka menjatuhkan orang lain, tidak mudah terima kelemahan dan keberhasilan orang lain, orang itu sedang terluka.

Ada orang yang mudah putus asa, mudah mengeluh dan berkata: "yah... inilah pelayanan saya begini-begini aja.. mungkin Tuhan nggak pake saya..." Kita perlu tahu bahwa Allah kita bukalah 'Allah yang begini-begini saja.' Tetap berlaku bahwa barang siapa setia dalam perkara yang kecil, Tuhan akan berikan perkara yang besar (Mat. 25:21; Luk. 16:10). Dan jika kita setia dalam perkara yang besar, maka Tuhan akan memberikan kepada kita perkara yang lebih besar lagi, sampai perkara yang tidak terbatas.

Satu hal lain yang ingin saya sampaikan kali ini, untuk itu mari kita lihat tentang Yohanes Pembaptis dalam Yohanes 3:26, lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya."

Salah satu penyebab luka kadangkala bukan orang yang anti terhadap kita, tetapi orang-orang yang terlalu sayang sama kita. Banyak hamba Tuhan jatuh bukan karena disakiti oleh orang lain, tapi karena ‘dijilat' oleh pengikutnya sendiri. Jangan berpikir bahwa orang yang membuat kita terluka cuma orang yang selalu mengkritik kita.

Untung Yohanes Pembaptis tidak menjadi ragu ketika murid-muridnya memberikan laporan apa yang terjadi di lapangan. Banyak pemimpin menjadi terluka karena laporan-laporan dari orang-orang kepercayaannya. Sehinga terpancing dan menjadi marah, jengkel dengan apa yang telah dia dengar.

Perhatikan jawaban Yohanes dalam Yoh. 3:27-28: Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat member! kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya."

Yohanes sadar bahwa semua yang di ada padanya adalah dikaruniakan dari sorga. Jemaat kecil adalah karunia dari sorga harus dihargai dan tetap semangat. Jemaat besar adalah juga karunia dari sorga.

Pada dasarnya kita selalu berhadapan dengan tiga orang. Yang pertama, orang-orang yang di atas kita. Kedua, orang-orang yang di samping kita. Yang ketiga, orang-orang yang di bawah kita. Orang yang luka, ketika dia melihat orang yang ada di atas, diomongin supaya dia jatuh. Ada orang di samping dia, dia sikut supaya jauh. Ada orang yang di bawah dia, dia injak. Untuk orang yang tidak luka, melihat orang yang di atas dia belajar, ada orang di samping, dia bergandengan tangan, ada orang di bawah dia angkat agar dapat bersama-sama. Haleluya!

Pengkhotbah: Pdt Gilbert Lumoindong

--
It's Time To Pray!
Saturday, 13 March 2010 15:41
Meski rajin pergi ke gereja, tapi banyak orang Kristen tidak memiliki kehidupan doa. Mereka menganggap doa bukan prioritas. Namun, tidak bisa dipungkiri, ada banyak orang yang dipulihkan secara ajaib karena berdoa.

Seorang yang pemah mengalami kuasa doa mengatakan, "Banyak doa, banyak berkat. Kurang berdoa, kurang berkat. Tidak berdoa, tidak ada berkat." Berkat di sini bukan berkat secara jasmani saja, tapj menyeluruh. Dia mengalami sendiri, bahwa ada berkat Tuhan dalam doa. Ada kuasa dalam doa. Di akhir zaman ini, setiap orang yang mengandalkan dirinya sendiri, tidak akan mendapat berkat Tuhan.

Mengapa kita harus berdoa? Dalam kalimat pembuka Doa Bapa Kami, "Bapa kami yang ada di sorga, dikuduskanlah nama-Mu…' (Mat. 6:9), kita mendapati tiga hal penting mengenai doa:

Pertama, kita diciptakan untuk berdoa setiap hari. Dalam Kejadian 1:27 jelas dikatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita memiliki kebutuhan rohani (karena Allah adalah Roh--kata Firman Tuhan).

Sesuatu yang bersifat immateri (rohani) tidak bisa dipuaskan oleh materi. Contohnya, kebahagiaan. Kebahagiaan bersifat rohani. oleh karena itu kebahagiaan yang sejati (bertahan lama) tidak bisa dipuaskan dengan materi seperti uang dan harta. Kebahagiaan yang sejati hanya bisa didapatkan melalui hubungan yang intim dengan Tuhan. Hal ini hanya mungkin terjadi lewat berdoa kepada Allah, Sang Sumber Kebahagiaan.

Ada juga orang Kristen yang mengatakan bahwa doa adalah "milik” orang-orang Kristen tertentu saja. seperti pendeta, hamba-hamba Tuhan dan para pendoa saja. Hal ini salah. Setiap orang percaya dipanggil untuk berdoa, Allah ingin supaya kita mencari Dia dan berbicara kepadaNya. Bahkan, Roh KudusNya ditaruh di dalam diri kita untuk menolong kita menyatakan permohonan-permohonan kepada Bapa (Roma 8:26).

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa doa adalah komunikasi umat percaya dengan Allah Bapa. Berarti, berdoa hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah lahir baru di dalam Kristus. Hanya orang yang sudah diadopsi menjadi anak Allah yang dapat menyebut Allah dengan sebutan "Bapa". Tetapi sekali lagi. hal itu bukan karena kuat dan gagah kita, melainkan karena Roh Kudus yang ada di dalam diri orang percaya.

Umat Tuhan mengerti bahwa doa adalah kebutuhan utama untuk hidup. Tanpa doa. orang Kristen hanyalah mayat hidup (zombie), yang secara jasmani kelihatan hidup, tapi rohaninya mati. Kalau rohani seseorang mati, maka apapun yang dikerjakannya pada hakikatnya adalah sia-sia bagi dirinya, karena kesudahannya adalah kematian kekal.

Kedua, perjumpaan pribadi dengan Tuhan melalui doa selalu menguatkan kita. Berdoa selalu merupakan perjumpaan yang istimewa dengan Tuhan. Ada sebuah anekdot. Suatu hari ada seseorang yang mengeluh bahwa dia sudah berdoa selama bertahun-tahun untuk sakit yang dideritanya, tetapi tidak kunjung sembuh. Dia kemudian berniat untuk berhenti berdoa karena merasa doa itu sia-sia belaka.

Seseorang di sampingnya kemudian menjawabnya, "Doa itu seperti makan. Mungkin menunya sama setiap hari, hanya sayur dan nasi. Mungkin kita merasa makanan itu tidak enak, tetapi tetap kita makan juga. Namun justru karena makanan itulah yang membuat kita bisa bertahan hidup lebih lama!"

Kita tidak pernah tahu bagaimana Tuhan bekerja melalui doa-doa kita, tapi yang pasti doa itu memberi kita kekuatan melewati hari demi hari. Masalah akan selalu datang, bahkan mungkin dengan tiba-tiba dan bersamaan. Tetapi melalui doa, kita akan kuat menghadapi dan melalui masalah.

Kita butuh kekuatan setiap hari, dan kekuatan sejati hanya bersumber dari doa. Selain itu, melalui doa, kita beroleh kekuatan dan keberanian untuk tidak berkompromi dengan dosa. Sebuah ungkapan menarik mengatakan demikian. 'Christianity is not a religion, Christianity is a relationship, with a living God.' Kita percaya bahwa doa kita pasti dijawab Tuhan, karena kita percaya bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Dia pernah turun ke dunia 2000 tahun yang lalu, mati menebus dosa kita, dan bangkit dari kematian. Dia adalah Allah yang benar-benar hidup dan berkuasa untuk menjawab segala doa-doa kita.

Ketiga, pengalaman-pengalaman rohani lewat doa mengubah hidup kita. Tuhan tidak menghendaki orang Kristen mengenal Allah sejauh pengetahuan atau teori saja, melainkan la ingin kita benar-benar mengenalNya secara pribadi.

MengenalNya secara penuh berarti juga mengalami karya-karyaNya yang ajaib, termasuk ketika Dia secara perlahan-lahan atau cepat mengubahkan karakter kita menjadi serupa denganNya. Orang Kristen pasti berubah ke arah Kristus. Semakin kudus serupa dengan Kristus. Setiap orang Kristen yang tidak pernah berubah, mungkin dikarenakan Dia tidak mengenal Allah dengan penuh dan benar. Dalam arti, dia tidak pernah "berkonsultasi" dengan Allah melalui doa. Jadi, mulailah berdoa, sekarang juga!

Bagaimana caranya berdoa? Ya berdoa saja! Cuma itu caranya. Doa itu mudah, jadi jangan dipersulit. Allah adalah Bapa kita. Kita adalah anakNya, dan Dia mengasihi kita apa adanya. Jadi, jangan takut berdoa karena tidak tahu bagaimana caranya berdoa. Allah tidak pernah mempersulit anakNya untuk datang kepadaNya.

Ungkapkan segala isi hatimu kepada Tuhan dengan sejujur-jujumya, dan biarkan Roh Kudus menuntunmu. Maka, tidak hanya karaktermu akan Tuhan ubahkan, tetapi juga apa yang engkau doakan. Semakin dekat dengan Tuhan, engkau akan melihat betapa besar kuasa doa. Engkau akan semakin takjub melihat apa yang Tuhan bisa kerjakan atas hidupmu melalui doa. Selamat berdoa!

Pengkhotbah: Ps Philip Mantofa

--

Efek Buruk Ketagihan Masturbasi
Wednesday, 14 April 2010 14:07

Dorongan seks yang memuncak dan tidak tersalurkan memang bisa mengganggu kesehatan. Karena itu, banyak orang menjadikan masturbasi sebagai jalan keluar yang dianggap aman untuk meredakan gairah dan stres.


Bagi sebagian orang memang ada yang mampu menahan godaan bermasturbasi dengan melakukan kegiatan lain yang lebih bermanfaat seperti olahraga. Namun cukup banyak yang tidak kuat untuk melawannya sehingga harus melakukannya. Di balik kepuasan yang diperoleh, sebenarnya kegiatan ini juga punya efek samping yang buruk, mulai dari efek psikologis hingga menyebabkan ketagihan.

Salah satu dampak buruk masturbasi, menurut Dr Hernano Chavez, konsultan seks, adalah sulit mencapai klimaks saat berhubungan seks atau justru mempercepat ejakulasi atau ejakulasi dini.

"Dengan masturbasi, kita bisa mencapai orgasme sendiri. Lama-kelamaan otak akan terlatih untuk merespons sentuhan-sentuhan tangan sendiri dan mengurangi sensitivitas sentuhan yang berasal dari orang lain. Akibatnya, akan lebih sulit mencapai klimaks," kata Chavez, seperti dikutip situs askmen.com

Secara biologis, ketagihan masturbasi bisa memengaruhi otak dan zat-zat kimia dalam tubuh sehingga berpengaruh pada diproduksinya seks hormon secara berlebihan. Meski dampaknya pada tiap orang berbeda, masturbasi kronik ini bisa menyebabkan rasa lelah, sakit di bagian pelvic, sakit punggung, sakit di bagian testis, hingga rambut rontok.

Karena terbiasa memuaskan diri sendiri tanpa melibatkan orang lain, dikhawatirkan seseorang akan lebih menyukai aktivitas seks sendiri dibandingkan dengan pasangan. Padahal, hubungan seks yang sehat seharusnya bisa memuaskan kedua belah pihak.

Pada orang yang belum menikah, masturbasi yang terlalu sering akan menyebabkan kompulsif masturbasi yang bisa mengganggu kehidupan sehari-hari. Ketidakseimbangan antara hasrat dan kebutuhan pribadi ini bisa menimbulkan rasa pusing dan ingin marah bila belum onani. Pada akhirnya ini akan mengganggu pekerjaan serta hubungan sosial dengan orang lain.

Selain dari yang disebutkan di atas, masturbasi dipandang dari perspektif Alkitab merupakan suatu perbuatan yang tidak berkenan bagi Tuhan. Tetapi karena tidak ada ayat firman Tuhan yang berbicara secara langsung tentang masturbasi, masalah ini masih menjadi perdebatan apakah berdosa atau tidak.

Namun demikian, dalam proses melakukan masturbasi terdapat hal-hal yang dianggap melanggar, yang mengarah kepada perzinahan. "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." (Matius 5:27-28)

Karena itu, dari pada masturbasi memikirkan wanita/pria dan membayangkan yang tidak-tidak, Paulus memberikan nasihat untuk sebaiknya memikirkan hal-hal yang baik dan berkenan pada Tuhan, yaitu di Filipi 4:8. (kompas/hart)

--

Seperti Kami Juga Mengampuni
Monday, 12 April 2010 10:03
Pada doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan, ”Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Dalam terjemahan bahasa Inggris, terdapat dua varian besar. Pada varian pertama, bagian tersebut diterjemahkan dengan, ”Seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (= ”as we forgive our debtors”). Sedang varian kedua berbunyi, ”Seperti kami juga sudah mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (= ”as we also have forgiven our debtors").

Tak ada perbedaan mendasar antara keduanya. Mereka sama-sama hendak menekankan bahwa ada hubungan yang tak terpisahkan antara ”diampuni” dan ”mengampuni”. Karena itu, anjuran saya adalah inti pengertian inilah yang harus lebih kita perhatikan. Jangan mengasyikkan diri dalam perdebatan mendetil mengenai hal-hal yang relatif remeh, dan yang tidak punya kaitan langsung dengan kehidupan kita.

Etika Kristen memang selalu menekankan hubungan antar manusia yang seimbang, yang adil (= fair) dan yang timbal balik. Anda ingin dihormati orang lain? Hormatilah orang lain! Anda minta dilayani? Jadilah pelayan! Begitu pula bila Anda mengharapkan pengampunan. Tiket yang mesti Anda bayar adalah, tiket kesediaan untuk mengampuni.

Hukum timbal-balik ini berlaku bagi semua orang dari semua tingkatan. Bagi yang berkedudukan ”tinggi” maupun yang ”rendah”. Yang lebih ”tinggi” hanya dapat menuntut ketaatan dan kesetiaan yang di ”bawah”, apabila ia juga menunjukkan rasa hormat serta perhatian kepada yang ”rendah”. Keadilan Kristen tidak menghapuskan perbedaan, tetapi sangat menentang penindasan dan kesewenang-wenangan. Menuntut pengampunan tapi emoh mengampuni, adalah kesemena-menaan.

Persoalan yang lain adalah bagaimana seyogyanya menafsirkan kata ”seperti”, dalam ”seperti kami juga mengampuni…”. Apakah kata tersebut lebih baik dimengerti dalam arti ”proporsi”? Yaitu bahwa Tuhan akan mengampuni kita, ”sebanding” atau ”setara” atau ”dalam proporsi yang sama” dengan kesediaan kita mengampuni orang lain?

Jadi kalau kita bersedia mengampuni, tapi dengan menengok-nengok ”siapa”-nya (”Oke, saya bersedia memaafkan, asal jangan si Badar! Sudah terlalu sering ia menyakiti hati”), atau dengan menimbang-nimbang ”apa” nya (”Kesalahannya sudah keterlaluan, bagaimana mungkin saya maafkan?!); maka Tuhan pun akan bersikap begitu terhadap kita.

Ataukah, kata itu seyogyanya kita artikan sebagai ”sama dengan” atau ”sejajar dengan” atau ”analog dengan”? Sehingga doa kita menjadi, ”Ampunilah kami, dengan cara yang sama seperti cara kami mengampuni orang lain”?

Artinya, kalau kita—seperti yang sering kita lakukan—mengampuni dengan setengah hati, atau dengan tidak tuntas, karena tetap menyimpan kesalahan-kesalahan orang lain itu dalam hati maupun ingatan kita, maka pengampunan dengan kualitas seperti itu pula yang maksimal dapat kita harapkan dari Tuhan. Yaitu ”pengampunan formal” (= mulut memaafkan, tapi hati tetap panas menanti saat pembalasan). Atau ”pengampunan sementara” (= sekarang memaafkan, tapi siap untuk mengungkit-ungkitnya kembali kemudian). Kesalahan-kesalahan orang cuma disimpan di ”gudang”, tidak dibuang jauh-jauh ke ”pelimbahan”.

Mengenai adanya dua versi penafsiran ini pun, saya anjurkan agar kita tidak terjebak pada hal-hal yang ”jelimet”, dengan risiko kehilangan pandangan kepada hal-hal yang lebih pokok, lebih besar, dan lebih mendasar. Dalam hubungan ini, versi Lukas—lebih dari versi Matius—dapat menolong kita melepaskan diri dari ambiguitas.

Menurut penuturan Lukas, doa kita berbunyi, ”Ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami” (Lukas 11:4). Kita tidak berhak memohon pengampunan kepada Tuhan, sebelum kita mengampuni orang lain. Karenanya, doa ini sekaligus juga harus merupakan laporan dan pertanggungjawaban kepada Tuhan. ”Lapor! Perintah mengampuni sudah dilaksanakan! Sekarang, mohon pengampunan. Laporan selesai!”

Bagian ini kita mengerti lebih mendalam, dengan membacanya dalam terang beberapa ayat Alkitab yang lain. Misalnya, Matius 6:14-15, yang memuat perkataan Yesus, ”Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Apa artinya? Artinya ialah, ada saling keterkaitan yang amat erat antara ”pengampunan manusia” dan ”pengampunan Allah”. Ada hubungan ”sebab-akibat” antara ”kesediaan kita mengampuni” dan ”kesediaan-Nya mengampuni”. Orang-orang yang tidak pengampun, adalah orang-orang yang dengan sengaja menutup pintu pengampunan bagi dirinya sendiri. Mengerikan sekali, bukan?

Karena begitu mudahnya minta pengampunan, tetapi begitu sulitnya mengampuni, maka kata Chrysostomus, banyak orang dengan sengaja memotong dan membuang bagian kedua doa ini. Aneh kedengarannya, bukan? Tapi marilah kita meneliti kembali doa-doa kita. Apakah dengan sadar atau tidak sadar, kita tidak melakukan hal yang sama? Hanya mau pengampunan-Nya, tanpa mau mengampuni?

Bila Anda lakukan ini, Anda sungguh melakukan kealahan besar! Sebab Perjanjian Baru begitu sarat dengan penekanan, bahwa ada inter-relasi yang tak terputuskan antara ”pengampunan manusia” dan ”pengampunan Allah”. Bahwa hanya mereka yang murah hati, akan memperoleh kemurahan Allah (Matius 5:7). Atau bahwa ”Penghakiman yang tak berbelas-kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas-kasihan” (Yakobus 2:13).

Bila persyaratan untuk masuk ke SMU adalah memiliki ijazah SLTP, maka persyaratan yang tak dapat ditawar-tawar untuk menerima pengampunan, adalah memiliki roh pengampunan. Beberapa ribu tahun yang lalu, Gregorius dari Nyssa telah mengatakan, bahwa ini tidak mungkin lain. Mengapa? Sebab dua hal yang secara hakiki bertolak-belakang, tak mungkin berdampingan dengan serasi.

”Mustahillah seorang fasik berakrab-akrab dengan seorang saleh, atau pikiran yang kotor bercampur dengan pikiran yang bersih. Karena itu mustahil pula dendam bersanding dengan pengampunan, dan seorang yang pikirannya dibakar benci menghampiri takhta Allah yang maha suci”. Dengan perkataan lain, ada tembok pembatas yang mutlak antara Allah dan orang yang tidak pengampun. Tidak mau mengampuni berarti menolak pengampunan-Nya.

Martin Luther menghubungkan sikap tidak pengampun dengan kata-kata pemazmur mengenai orang fasik, ”Biarlah doanya menjadi dosa” (Mazmur 109:7). Mengapa? Sebab berdoa dengan mulut memuji-muji Tuhan, tapi dengan hati yang sesak oleh amarah yang tertahan, dan rasa dendam yang tak terlampiaskan, adalah dosa.

William Barclay bercerita tentang pengalaman Robert Louis Stevenson, yang mempunyai kebiasaan melakukan ibadah keluarga setiap hari, di mana doa Bapa Kami diucapkan bersama-sama. Pada suatu ketika, di tengah-tengah doa, Robert berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan. Istrinya, menyangka suaminya sakit mendadak, segera bangkit menyusulnya. ”Ada apa? Sakitkah engkau?”, tanya sang istri. ”Tidak”, jawab Robert, ”Aku cuma merasa tidak pantas berdoa dengan doa Bapa Kami, khususnya hari ini. Aku belum bisa memaafkan Sam.”

Bila kita seserius dia, wah, saya khawatir apakah ada di antara kita yang ”pantas” dan ”memenuhi syarat” untuk menaikkan doa Bapa Kami? Tapi pantas atau tidak pantas, kita tak punya pilihan lain.
Konon, pada suatu ketika Jenderal Oglethorpe dengan ketegasan militernya berkata kepada John Wesley, ”Aku tidak pernah mengampuni! Tidak akan!”. John Wesley menjawab, ”Bila demikian, Jenderal, saya cuma berharap Anda juga tidak pernah berdosa!” Tepat dan telak betul jawaban ini, bukan?

Berbicara dengan bahasa dagang, mengampuni dapat dianalogikan dengan memberi "persekot” atau "uang muka". Anda membayar sekarang, untuk memperoleh hasilnya kemudian. Anda harus mengampuninya sekarang, sebab siapa tahu Anda membutuhkan pengampunannya kemudian. Sedang tidak mau mengampuni? Ia dapat dianalogikan dengan membuang sampah ke dalam got. Kemudian gigit jari karena harus memungut banjir, ketika musim penghujan datang.

Apa yang dikatakan oleh Gregorius dari Nyssa berikut ini, mungkin terdengar agak keterlaluan. Namun ia toh berhasil memperlihatkan keistimewaan doa yang tengah kita bahas ini. Doa yang sepintas lalu kelihatan ”tidak ada apa-apanya” ini, kata Gregorius, adalah satu-satunya doa, di mana melaluinya, ”kita mengundang Allah untuk meniru/mencontoh kita!”

”Ampunilah kami, seperti kami mengampuni.” Allah meniru kita? Astaga, benarkah yang dikatakan Gregorius itu? Tentu tidak seluruhnya benar. Sebab dalam hal pengampunani—bahkan dalam segala hali—kitalah yang mesti mencontoh dan meniru Allah. ”Hendaklah kamu saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Efesus 4:32). Tapi yang paling penting dan paling benar dari semuanya adalah, bahwa Allah hanya berkenan mengampuni orang-orang yang pengampun! (Eka Darmaputera/SH

---

Ketika Kristus datang ke dunia, kedamaian dinyanyikan; dan ketika Dia meninggalkan dunia ini, kedamaian diwariskan." — Francis Bacon (1561–1626), filsuf, negarawan dan penulis Inggris

"Kasih kepada Tuhan adalah perintah pertama dan terbesar. Tetapi kasih kepada saudara adalah cara yang kita gunakan untuk memenuhi perintah tersebut." — Augustine of Hippo (354–430), santo, doktor gereja Katolik Roma

"Jika engkau berhasil tanpa mengalami kegagalan, itu adalah karena orang lain sebelum engkau telah menderita. Jika engkau mengalami penderitaan tanpa melihat keberhasilan, itu adalah karena orang lain setelah engkau akan mengalami keberhasilan." — Edward Judson (1844-1914), profesor teologi Colgate University, AS

"Karena Yesus Kristus adalah Tuhan dan mati bagiku, maka tidak ada pengorbanan yang lebih besar yang dapat aku berikan bagiNya." — CT Studd (1860-1931), pendiri WEC International

"Hubungan antara Tuhan dan seorang manusia lebih pribadi dan intim daripada hubungan manapun yang mungkin terjadi antara dua makhluk yang bersaudara." — CS Lewis (1898-1963), penulis Inggris

"Saya mengenal sifat manusia dan saya memberitahu Anda bahwa Yesus Kristus bukan hanya manusia semata-mata. Tidak ada kata-kata yang bisa digunakan untuk memberikan perbandingan antara Dia dengan siapapun di dunia ini." — Napoleon Bonaparte (1769-1821), Kaisar Perancis

"Jangan berdoa hanya saat engkau merasa ingin berdoa. Miliki perjanjian dengan Tuhan dan tepatilah itu. Karena kekuatan seseorang berada di lututnya." — Corrie Ten Boom (1892-1983), penulis Belanda yang selamat dari kamp Nazi

"Tidak ada kehidupan yang begitu berdosa sehingga anugerah Allah tidak dapat mengampuni dan tidak ada kehidupan yang begitu buruk sehingga kuasa Allah tidak dapat mengubah." — John Newton (1725-1807), pencipta lagu 'Amazing Grace'

"Orang yang berintegritas selalu sama di tempat tertutup seperti di tempat terbuka. Mereka melakukan apa yang benar entah ada orang yang melihat atau tidak." — Joel Osteen (1963), gembala, penulis, televangelis

"Setiap orang bisa marah, itu hal yang mudah; tetapi marah terhadap orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, pada waktu yang tepat, dan untuk tujuan yang benar, itu tidaklah mudah." — Aristoteles (384–322 BC), filsuf Yunani

"Anda harus berdoa dengan segenap kekuatan. Dengan sungguh-sungguh, dengan tidak lelah memohon pada Tuhan. Doa semacam ini akan melawan kemalasan Anda dan akan menimbulkan api dalam diri Anda." — William Booth (1829–1912), pendiri Bala Keselamatan


“Pada saat kita melihat hikmat Allah, kita melihat sesuatu dalam pikiran-Nya. Pada saat kita memikirkan kuasa-Nya, kita melihat sesuatu dari tangan-Nya. Pada saat kita memikirkan firman-Nya, kita belajar tentang mulut-Nya. Akan tetapi sekarang, pada saat merenungkan kasih-Nya, kita melihat ke dalam hati-Nya.” — James Innell Packer (1926), teolog, penulis


"Firman adalah wajah, raut muka, dan perwujudan dari Tuhan, yang di dalamnya Ia diungkapkan dan dikenal." — Clement of Alexandria (150-215), teolog Yunani

--

Pendeta Kaya Luar Biasa
Sunday, 15 November 2009 23:13
Zaman ini tepat seperti yang digambarkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 3:2; zaman uang. “Manusia akan menjadi hamba uang,” tegas Paulus. Ya, kecintaan akan uang memang telah menggilas habis nurani banyak orang. Dalam surat yang sebelumnya kepada Timotius, Paulus juga telah menyinggung hal ini.

Dalam 1 Timotius 6:10, dia berkata: Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Sebuah kenyataan yang menggelisahkan.

Idealisme nyaris tak tersisa, bahkan jika ada yang memilikinya sering kali dianggap bodoh, tidak realistis, melepas kesempatan emas, dan berbagai penilaian lainnya. Orang tak segan-segan menjual kebenaran demi uang. Hati nurani secara perlahan tapi pasti, teriris habis. Dengan mudah kita menemukan pertengkaran hingga permusuhan karena uang. Bahkan kasus pembunuhan bermotif uang semakin meninggi jumlahnya. Pertalian darah dengan mudah bisa “putus” karena harta warisan yang juga sama dengan uang. Wajah dunia makin hari makin menyedihkan, tak lagi mampu memancarkan kemurnian yang murni.

Kehidupan terus berubah, penuh basa-basi, semakin kehilangan arti kasih yang sejati, karena semua bisa dibeli. Orang kini bisa membeli senyuman, bahkan “perkawanan” hingga “pernikahan”. Semboyan asal ada uang semua bisa datang, semakin mendapat pembenaran dalam kenyataan. Namun yang paling menyedihkan adalah runtuhnya tembok keimanan.

Iman, yang seharusnya membuat manusia beriman berdiri teguh di tengah badai godaan uang, ternyata, juga turut mengalami goncangan. Banyak orang “beriman” kini tak lagi menyukai iman. Iman dianggap menyingkirkan diri dari pergaulan zaman. Orang tak dihargai karena beriman, melainkan karena beruang, begitu sinis yang muncul. Di lingkungan rohani virus ini terus menyebar luas. Ironis. Kini ada guyonan pahit: Jika berbisnis bukalah gereja, dijamin tak rugi, bahkan terkesan suci. Mengapa? Karena ternyata banyak “petinggi gereja” yang memang berbisnis dalam membuka gereja. Jabatan “pendeta” menempel tanpa pernah jelas dari mana asalnya, dan bagaimana bisa meraihnya. Pemahaman theologi tak ada, berkhotbah tak pernah, yang ada hanya kata bagaikan mantera, “Roh Tuhan berbicara pada saya…” Visi diungkapkan seakan datang dari sorga untuk digarap di Bumi. Namun jika dicermati, hati tersentak karena semua bermuara pada sang pendeta.

Yang lain mungkin sedikit lebih baik dalam kemampuan. Sekalipun tak memiliki pemahaman theologi, namun karena fasih lidah sang pendeta berkhotbah. Yang dikisahkan selalu yang meninabobokkan umat. Sukses yang semu dikumandangkan dalam apa yang disebut kesaksian, sementara kebenaran sebagai buah hidup orang percaya, nyata-nyata, tak tampak. Pendekatan emosi selalu menjadi pola karena sukses mendulang hasil. Lagi-lagi ungkapan rohani: “sentuhan Roh Kudus”, menjadi kata-kata sakti yang membutakan umat untuk tak lagi menguji segala sesuatu. Padahal Alkitab jelas berkata, “jangan padamkan Roh, namun ujilah segala sesuatu” (1Tes. 5:19, 21). Umat percaya habis, dan dana mengalir kencang. Tampaknya tak jelas berakhir di mana. Karena ada gedung gereja, aset gereja dan lainnya. Seakan pemakaian uang tampak nyata, namun ternyata, di balik semuanya tersisa masalah yang luar biasa. Aset atas nama pribadi pendeta, sering terungkap setelah pendeta tiada. Terjadilah tarik-menarik aset yang sungguh tak menarik sama sekali.

Yang sedikit lebih canggih, aset atas nama yayasan, atau bahkan gereja. Namun dalam akte notaris ternyata susunan pengurus didominasi oleh keluarga pendeta. Lagi-lagi untuk suara terbanyak, pengurus dan umat kecele. Tapi ada yang lebih halus lagi, seakan pengurus tidak didonimasi keluarga pendeta, namun ternyata bunyi klausul yang ada memberikan kekuasaan tak terbatas pada pendeta atau segelintir orang dekat pendeta, atas aset yang ada.

Umat selalu berkata, itu urusan pendeta dengan Tuhan, dan tentu saja pendeta senang karena memang pemahaman itu yang ditabur untuk dituai. Umat telah digiring pada paham yang salah, sehingga tak lagi kritis, apalagi menguji sesuai kata Alkitab. Belum lagi ketakutan akan kutuk yang selalu ditebar, seperti “jangan mengganggu pendeta, karena dia adalah biji mata Tuhan”. Pengultusan dilakukan dalam waktu yang lama lewat indoktrinasi. Sayangnya, umat semakin teggelam dan gelap mata menghargai pendeta, sekalipun nyata-nyata salah. Apalagi jika lingkungan pelayanan diwarnai suasana adan ajaran yang mistis, dan lagi-lagi, obral kata-kata “kehendak Roh”.

Penguasaan pendeta atas umat, sudah tak bertepi. Nah, ketika pendeta kaya raya, maka alasannya sangat mudah: itulah bukti pendeta diberkati, pendeta beriman. Padahal kekayaan pendeta yang bertumpuk justru bukti ketidakpedulian pada yang susah. Banyak umat yang susah, apalagi dalam konteks Indonesia. Tidak salah pendeta memiliki mobil karena memang dia membutuhkannya. Namun jika mobil itu mewah dan jumlahnya yang berlebih, bukankah itu tak lazim? Pendeta harus memiliki rumah, karena dia dan keluarga memerlukannya. Tapi jika rumah itu mewah dan ukurannya wah, bagaimana mungkin dia bisa berkata, sangat peduli pada umat yang kebanyakan tak, atau, belum, memiliki rumah. Umat yang dimaksud tentulah orang percaya yang baik, di berbagai tempat secara merata.

Terhadap berbagai hal ini, biasanya dengan mudah pula pendeta berkelit dan berucap, ini adalah pemberian umat juga. Mungkin dia benar. Hanya saja, mengapa umat memberi, itu tetap harus diuji. Jangan-jangan hasil indoktrinasi. Belum lagi, namanya “diberi”, apakah dia tak bisa menerima yang pas, sesuai kebutuhan, menolak yang berlebih, sehingga berkat bisa terdistribusi.

Dengan demikian juga menjadi pembelajaran bagi umat untuk saling menolong. Karena ada juga umat yang suka memberi pada pendeta ternyata pelit pada sesama. Mengapa? Anda pasti tahu alasannya. Ini adalah kenyataan yang menyedihkan. Sudah waktunya kita mengembalikan semuanya pada kebenaran. Gereja bukan kerajaan, sehingga yang ada suksesi keturunan, kekeluargaan, padahal tidak ada panggilan yang jelas. Sangat menyenangkan jika anak pendeta menjadi pendeta karena panggilan, tapi jangan dengan motivasi melanggengkan kekayaan. Jangan lagi terucap kalimat “pendeta harus kaya sebagai bukti diberkati”, karena yang benar adalah pendeta yang diberkati akan menjadi berkat bagi banyak orang. Jangan lagi menumpuk kekayaan untuk diri, karena Alkitab telah mengatakan, “adalah terlebih berkat memberi daripada menerima.” Bukankah “Doa Bapa Kami” yang antara lain berkata “Berilah kami makanan kami yang secukupnya”, nadanya sangat indah? Atau mungkin kita telah lupa pada apa yang diajarkan Yesus?

Biarlah para pebisnis hidup sesuai dunia mereka (pakaian, mobil dan rumah mewah sebagai bukti prestasi) dan pendeta di panggilannya (kejujuran, kesetiaan, kesederhanaan). Berpunya tapi tak berlebih, karena memilih fungsi bukan prestise. Mari menjadi pendeta, yang adalah gembala, tapi bukan upahan tentunya. Berani menyatakan kebenaran dan menjadi model dalam kehidupan. Selamat menjadi pak pendeta yang kaya rasa, bukan kaya harta. Semoga umat jeli mengamati dan membantu pendeta agar berada di jalurnya.

Pengkhotbah: Pdt Bigman Sirait.

-

Respons Mewakili Karakter Anda
Wednesday, 04 November 2009 12:14

Banyak SMS dikirimkan oleh terangdunia kepada ratusan orang yang menjadi anggota terangdunia, dan penasehat maupun relasi. Setelah dikirimkan respon setiap orang saat menerima SMS itu beragam. Ada yang berterimakasih, ada yang diam saja tapi ada juga yang mengeluarkan makian dan kata-kata kotor. Beberapa respon mereka dituliskan seperti di bawah ini:

- Terimakasih Kawan, firman ini mari kita refleksikan bersama.
- Terimakasih atas peneguhan imannya.
- Wow, sms ini datang tepat waktu saya sangat diberkati. Maju terus jadi berkat bagi banyak orang
- Terimakasih buat kata-kata motivasinya.
- Kamu adalah manusia pengecut, lebih baik kamu berhenti mengenal Tuhan
- Jangan kamu menasehati dan menghakimi orang karena kamu adalah pembohong… (sambil menyebut nama kebun binatang)
- Trims. Doing the right thing the right way memang sulit tapi amin pasti bisa
- Terima kasih Tuhan memberkati anda.
- Kuliahi saja dirimu sendiri jangan orang lain… (sambil mengeluarkan makian)

Rata-rata sms yang dikirimkan adalah berisi firman Tuhan dan kata-kata bijak. Namun timbul pertanyaan mengapa kalimat-kalimat indah itu diresponi beragam? Rupanya latar belakang seseorang dan apa saja yang dialaminya sekarang membuat seseorang memberikan respon yang berbeda. Seorang yang hidupnya telah diubahkan Tuhan dan memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan akan melihat setiap firman yang datang sebagai sebuah jawaban Tuhan atas pergumulan yang dialami. Ia juga membuat setiap firman itu sebagai senjata dalam menghadapi persoalan-persolan yang ada. Ia akan menerima dengan ucapan syukur dan berterima kasih atas firman Tuhan yang datang.

Demikian pula seorang yang mengalami berkat dari Tuhan juga akan merasakan setiap firman sebagai hal yang seharusnya diresponi dengan positif. Sebaliknya seseorang yang tidak memiliki hubungan baik dengan Tuhan dan hatinya belum dipulihkan akan melihat suatu firman yang datang sebagai suatu pukulan baginya. Ia akan meresponi dengan negative dan berpikir bahwa orang yang mengirimkan firman itu sebagai seorang musuh, atau seorang yang ingin mengolok-oloknya.

Demikian pula seorang (tidak semua) yang merasa bahwa dirinya sudah hebat dan banyak uang akan melihat setiap firman bukan untuknya melainkan buat orang lain. Kalaupun ia ditemplak dengan firman itu maka dia akan merasa bahwa apa yang disampaikannya itu adalah tidak benar dan tidak perlu ditanggapi.

Kondisi-kondisi ini bisa saja berlainan dengan keadaan yang terjadi namun pada dasarnya sikap dan karakter seseorang menentukan bagaimana ia meresponi sebuah firman yang datang. Sikap berbicara bagaimana anda melakukan sesuatu dan bagaimana anda tampil saat sebuah keadaan atau situasi terjadi. Ini semua bersumber dari bagaimana kondisi hati anda. Apa yang anda masukan ke dalam hati dan pikiran anda. Bagaimana anda berpikir. Apa yang anda ucapkan, dan bagaimana anda biasanya melakukan atau meresponi sesuatu.

Orang-orang yang menganggap sebuah firman sebagai sebuah peluru yang ditembakkan kepadanya dan menerimanya dengan sukacita adalah seperti seorang yang membangun rumah diatas batu. Sementara orang yang menganggap sebuah firman sebagai peluru yang merendahkan dia, yang memalukan dia atau yang menyinggung dia akan tidak menerima firman itu dan menjadi seperti orang bodoh yang membangun rumah diatas pasir.

Mereka yang Tidak Mau Menerima
Saat sebuah sms firman dikirimkan atau saat seorang pengkhotbah atau pembicara menyampaikan firman maka ia yang diurapi Roh Kudus biasanya digerakan Tuhan untuk menyinggung sebuah ayat Firman Tuhan. Sayangnya ini bisa menjadi pedang bermata dua. Mata pedang pertama menusuk hati mereka yang bijaksana yang memperlakukan firman itu sebagai suatu masukan berharga. Dan mata pedang kedua menusuk hati mereka yang merasa tersinggung dengan firman itu. Biasanya memang tidak semua orang atau pendengar merasa diberkati dengan firman yang disampaikan bahkan oleh seorang pengkhotbah hebat sekalipun. Ada yang marah, tersinggung atau merasa ditelanjangi ada pula yang merasa diberkati.



Jika kita membuka Alkitab maka kita tidak akan heran dengan situasi ini. Karena rupanya Yesus sendiri juga mengalami hal serupa. Saat Dia mengeluarkan statement-statementNya, pengajaran-pengajaran, firman-firman maka ada banyak orang yang diberkati namun ada pula orang yang tersinggung dan bahkan mengundurkan diri. Orang-orang yang tidak mau menerima Yesus ini adalah:

1. Orang Farisi dan Ahli Taurat
Ini orang-orang yang jago ilmu agama, orang-orang yang sudah dari sononya menjadi pemimpin agama. Mereka hafal ayat-ayat alkitab. Mereka memegang pada tradisi dan kepercayaan tradisional. Orang yang tak gampang percaya begitu saja pada suatu yang baru. Mereka merasa benar sendiri, dan sering merendahkan orang yang tak segolongan dengan mereka. Yesus mengatakan orang-orang ini adalah orang yang munafik, keras kepala, tidak mau bertobat. Setiap kali mereka mendengar firman Yesus mereka merasa tertusuk hatinya. Lambat laun mereka menjadi dendam dengan Yesus dan berencana hendak membunuh DIA. Bukan hanya itu mereka juga merealisasikan dengan melenyapkan Dia dari muka bumi.
Orang-orang jenis seperti ini akan menerima firman Tuhan atau sms berisi firman dengan hati yang memberontak. Mereka akan merasa bahwa penyampaian firman itu sebagai upaya melangkahi mereka. Bisa juga mereka bertanya siapa kamu berani-beraninya mengatakan hal seperti itu. Mereka tidak mencocokan firman itu dengan keberadaan diri sendiri malahan mencari-cari kesalahan si pemberita firman. Jeleknya mereka akan berusaha menjatuhkan dan menghakimi si pemberita firman dengan cara yang sangat tidak manusiawi.

2. Murid-murid yang tidak kuat imannya
Dalam Yohanes 6:66 dikatakan. “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.” Perkataan Yesus dinilai murid-muridNya adalah perkataan yang keras dan kasar. Mereka menjadi tersinggung dan mengundurkan diri.
Seseorang atau anggota organisasi banyak pula yang mengundurkan diri hanya karena menerima suatu firman yang dirasanya menyinggung martabat atau harga dirinya. Mereka akan merengut dan mengungkapkan dengan bahasa sendiri sesuatu yang menjelek-jelekan si pemberita firman. Padahal mereka adalah orang-orang yang tidak mau dibentuk dan tidak mau berubah.

3. SaudaraNya sendiri
Yohanes 7:5 memberitahukan kita bahwa saudara-saudara Yesus sendiripun tidak percaya kepada-Nya. Banyak orang merasa diberkati dengan perkataan Yesus namun saudaranya sendiri tidak percaya padaNya. Orang-orang terdekat seringkali memperlakukan seorang pemberita firman sebagai seorang yang lemah dan bukan kapasitasnya menasehati. Mereka lebih terbiasa melihat orang lain yang lebih hebat. Mereka tidak akan mudah melihat saudaranya sendiri juga bida dipakai Allah untuk menyampaikan sebuah kebenaran Allah.

Lantas bagaimana respon Yesus saat menghadapi ketiga golongan orang di atas. Mudah saja menebak bagi Dia yang datang dari Allah tak akan mudah menyerah untuk bungkam meski dihasut, dilecehkan, dihina, dihindari, tidak dihiraukan bahkan diancam dibunuh. Yesus tetap memberitakan firman yang sesuai dengan kehendak Allah. Dia tidak mau hanya menyenangkan para pendengarnya. Melainkan Dia memberitakan firman itu apa adanya. Belajar dari Yesus, maka setiap firman yang terangdunia sampaikan akan tetap seperti firman itu apa adanya tidak ditambah atau dikurangi tidak peduli apakah orang itu mau menerima atau menolak. Bagaimana dengan anda?

--
Menjadi Yohanes Pembaptis
Wednesday, 04 November 2009 12:16

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan:"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya."

Yohanes Pembaptis sebetulnya secara darah, masih famili dengan Yesus. Namun secara rohani Yohanes menjadi pembuka jalan bagi datangnya Mesias. Yohanes menyerukan pertobatan, Yesus mengajarkan Firman Allah. Yohanes membaptis, Yesus menunjukkan kasih dan pertolongan. Yohanes membaptis dengan air tapi Yesus membaptis dengan Roh Kudus.

Andil pelayanan Yohanes pembaptis sangat besar sebelum munculnya Yesus. Dia adalah seorang yang mendobrak dan mau dipakai Allah bagi munculnya suatu kemuliaan yang akan datang.

Tahukah anda Tuhan sekarang ini membutuhkan beribu-ribu orang yang mau menjadikan dirinya sebagai Yohanes pembaptis. Yakni mereka yang mau menjadi pembuka jalan bagi hadirnya Yesus dalam diri orang lain. Berapa banyak orang di keluarga kita, tetangga kita bahkan teman-teman kita yang belum mengenal Yesus. Tuhan sedang mencari orang-orang yang mau berseru-seru dalam doa meminta hadirnya jiwa-jiwa baru ini dalam kerajaanNya.

Tuhan mau setiap Orang Percaya mau memberikan waktunya dalam doa meminta pertobatan bagi mereka yang belum percaya. Jika Yohanes merupakan pembuka jalan bagi Yesus, maka Tuhan juga mau anda menjadi pembuka jalan bagiNya untuk hadir dalam keluarga besar anda.

Kemarin seorang teman bercerita bagaimana orang tua temannya kini sangat rindu mendengarkan khotbah, dan suka sekali mendengar kisah Yesus. Namun sebelum ini terjadi mereka telah menghabiskan waktu berbulan-bulan mendoakan orang tua itu. Tapi hasilnya luar biasa, karena doa Tuhan jawab dengan mujizat mengubah hati orang yang selama ini menolak dengan tegas akan Yesus.

Mari jadikan diri anda sebagai Yohanes Pembaptis, yang tidak malu menyatakan pertobatan bagi orang lain. Meskipun diri anda rendah di mata manusia, tidak berpendidikan tinggi, bahkan anda tidak dianggap, tapi anda berharga dimata Tuhan. Tuhan butuh anda untuk membawa jiwa-jiwa bagi kerajaanNya. Relakanlah diri anda menjadi Yohanes Pembaptis. (Hendra Kasenda)


--

Mengkomunikasikan Injil
Wednesday, 04 November 2009 12:17

Setiap adzan maghrib yang berdengung disemua TV terdengar, anak perempuan saya segera mengecilkan volume TV atau mematikannya. Pernah saya tanya kenapa kamu mengecilkan suara TV setiap azan, dia bilang, "Itu kan bukan buat kita pa."


Sejak usia dua tahun dia sudah sangat fasih berdoa dan memuji Tuhan. Dia sangat senang sekali mendengar cerita sekolah minggu khususnya tentang Yesus. Tapi begitu dia mendengar kisah tentang yang tidak berkaitan dengan imannya dia secara otomatis memblok itu dan tidak mau menerimanya.

Seorang anak SD telah memiliki sebuah pagar untuk melindunginya dari hal-hal yang tidak sesuai dengan imannya. Bayangkan bagaimana seorang dewasa juga telah dengan kokoh memiliki pagar-pagar pembatas agar tak mudah menerima hal-hal yang bertentangan dengan iman, kepercayaan, kebiasaan dan budanyanya.

Dengan latar belakang pendidikan, sosial, pergaulan, ekonomi dan tentu saja agama ia telah menaruh di dalam pikirannya penghalang-penghalang yang mencoba mengalihkan apa yang dia percayai selama ini. Kondisi ini merupakan tantangan serius bagi siapa saja yang ingin mengkomunikasikan injil.

Bayangkan setiap kali anda berbicara Yesus, orang-orang dengan penghalang-penghalang ini telah memasang penghalang dan tak mengijinkan diri mereka menerima apa saja yang anda katakan. Mereka tidak akan percaya pada anda karena ajaran dan budaya mereka menyatakan ketidaksetujuannya. Sejak muda mereka telah menanamkan pengetahuan tentang berbagai hal yang negative mengenai Yesus, orang Kristen, Trinitas, dll. Tentu saja akan sangat sukar bagi anda untuk melayani mereka.

Tapi apakah itu membuat kita putus asa? Apakah tidak ada jalan lain? Tentu ada. Apalagi jika kita mengingat bahwa Tuhan yang kita sembah adalah pencipta semua manusia. Maka siapapun akan mudah dijamah sang Pencipta. Namun tentu saja ada caranya. Apakah itu:

1. Kita perlu memakai DOA. Doa adalah senjata rahasia kita untuk membuat orang-orang takluk kepada Allah.

2. Kita perlu Roh Kudus. Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang bekerja di dunia ini untuk mendatangkan pertobatan. Mintalah Dia menjamah hati orang-orang yang anda layani

3. Kita perlu Hidup Kudus. Tuhan akan menyalurkan urapanNya yang luar biasa untuk menjangkau orang-orang yang anda layani namun itu hanya bisa dirasakan mereka jika anda mengkuduskan diri agar dipakaiNya.

Ketiga hal diatas, jika digabungkan dengan pemahaman seni komunikasi yang jitu yakni bagaimana menyampaikan pesan injil kepada orang lain maka akan menghasilkan tuaian besar.

Di tahun-tahun awal saat saya melayani di sebuah media massa elektronik yang melayani seluruh Indonesia, mentor-mentor saya yang adalah pakar komunikasi dari Inggris, Amerika dan Australia memborbardir pikiran kami dengan bagaimana caranya menembus penghalang-penghalang diatas. Kami harus membuat naskah siaran sedemikian rupa sehingga bisa diterima siapa saja yang mendengar. Kami tidak boleh menggunakan istilah-istilah yang umum digunakan. Kami harus mampu mengkomunikasikan kabar baik dengan cara yang tepat sehingga mereka yang memiliki penghalang-penghalang itu tidak menyadari bahwa mereka perlu membuat barikade. Komunikasi yang tepat membuat orang yang menyampaikan pesan tahu persis siapa penerima pesannya, bagaimana mereka berpikir dan bagaimana mereka meresponinya. Dia harus membuat pesan yang dapat diterima target audiencenya. Mudah sekali menjangkau yang seiman tapi sangat sulit menjangkau yang tak seiman. Maka seringkali mereka dengan latar belakang iman yang berbeda namun sudah menerima Yesus akan dengan mudah memenangkan orang yang tak seiman karena ia memiliki pola pikir dan budaya yang sama.

Jika anda sedang membuat target menuai jiwa-jiwa anda perlu mengerti bagaimana mereka berpikir dan bagaiamana budaya mereka. Sehingga anda dapat mengkomunikasikan injil dengan lebih tepat. Anda perlu menerjemahkan berita kabar baik ke dalam bahasa mereka dan budaya mereka. Mencari persamaan-persamaan adalah lebih baik ketimbang mencari kesalahan-kesalahan dalam budaya mereka. Masuk ke dalam hidup mereka dengan sikap jujur dan senang menolong adalah jembatan juga untuk membuka jalan bagi penyampaian kabar baik itu.

Akhirnya kisah seorang Paulus yang ditangkap Yesus meski dia sudah membunuh beribu-ribu orang Kristen dapat dimengerti karena dia adalah orang yang tepat untuk dipakai Yesus dalam mengabarkan injilnya. Paulus adalah seorang pintar, menguasai budaya Yahudi dan juga warga Negara Roma . Yesus tahu dia akan sanggup menceritakan injil kepada banyak orang karena dia bisa masuk ke semua tingkatan dan golongan. Selain pakar agama Paulus juga seorang pebisnis yang dengan mudah dapat menjangkau kaum agamawan dan market place. Yesus berkeinginan besar untuk menyelamatkan paulus dan menjadikannya hambaNya karena DIA tahu Paulus orang yang tepat untuk menghancurkan penghalang dalam pikiran orang Yahudi dan yunani serta Romawi. Dan Paulus melakukannya dengan sukses yakni dengan berhasilnya dia membuka puluhan jemaat baik dari Yerusalem hingga Asia Kecil.

Yesus mencari Paulus-Paulus masa kini yang sanggup mengkomunikasikan injilNya dengan cara yang tepat. Andakah itu? (Hendra Kasenda)

--

Tidak Sama
Thursday, 05 November 2009 18:35
Saya tampak kagum dengan keseriusan seorang ibu yang berdiri sambil mengangkat tangan di depan saya. Saat itu saya sedang mengikuti suatu ibadah di sebuah gereja yang megah. Saya diundang untuk melayani di sana. Saya salut dengan kesungguhan sang ibu yang dengan serius menyembah Tuhan. Sayang, usai ibadah saya lihat tidak melihat hal yang sama.

Di depan pengerjanya ia dengan arogan memaki-maki dan menunjuk-nunjuk. Tidak ada senyum di wajahnya yang menor oleh bedak dan lipstik tebal. Juga tidak nampak kasih mengalir dari tatapan matanya yang dingin. Seorang jemaat nyelutuk, "Memang ibu gembala kita kalau menyembah Tuhan hebat, tapi gak tahu apa yang terjadi saat dia berhubungan dengan sesama."

Saya tersentuh dan dengan cepat memutar kembali ribuan video kehidupan saya pribadi. Kadang sikap saya tidak sama dengan apa yang saya pikirkan dan mungkin ajarkan. Suatu saat istri saya terkena bisul di kakinya, dengan segera saya berkata kepadanya kamu sih kurang menjaga kebersihan tubuh. Selang seminggu kemudian giliran saya yang terkena bisul di tangan. Ternyata saya juga yang tak bisa menjaga kebersihan tubuh.

Beragam sikap dan tindakan kita ternyata direkam oleh jutaan mata. Alkitab berkata ada saksi-saksi yang melihat di sekeliling kita. Saksi-saksi yang akan memberikan jempol yang naik ke atas atau jempol yang turun ke bawah. Saya lebih condong untuk tidak memikirkan siapa yang hidupnya tidak sama dengan khotbahnya. Tapi saya lebih condong melihat diri sendiri saja. Supaya saya tidak menggenapi apa yang dikatakan pepatah, gajah di mata tidak tampak tapi pelanduk di seberang lautan kelihatan jelas.

Menulis artikel ini bukanlah saya maksudkan untuk menghakimi ibu gembala di atas tadi atau seseorang tapi lebih kepada suatu refleksi saya atas kehidupan saya sendiri. Mungkin hari ini anda melihat ada orang, pendeta anda, bos anda, suami anda, istri anda atau presiden anda yang tdak sama kelakuannya dengan apa yang diucapkannya. Saya kira sejauh kita bisa memberitahukan kepadanya maka mari kita sampaikan dengan penuh kasih dan tidak menghakimi. Namun jika orang itu tidak bisa kita temui maka doa adalah jalan terbaik untuk mengubahkan mereka.

Kemarin sore datang ke rumah seorang jemaat bersama suaminya. Suaminya mengaku sejak kecil sudah mengerti Alkitab, namun istrinya bilang kalau dia marah istrinya digampar, dilempari dan bahkan dimaki-maki. Tadinya si istri melawan namun sejak saya nasehati agar tunduk maka ada perubahan besar dalam suaminya. "Iya pak apalagi sejak saya mulai mendoakan suami saya dia berubah banyak," katanya.

Namun sang suami dengan cepat menimpali," Saya tidak berubah kok pak, istri saya yang berubah. Dulu suka membangkang sekarang dia nurut apa yang saya katakan. Makanya saya jadi sayang dengan dia."

Apapun yang terjadi kita ditantang untuk menyamakan apa yang kita percayai dan apa yang kita sampaikan dengan sikap dan kelakuan kita. Supaya kita bisa benar-benar menjadi garam dan terang dunia. Sudahkah anda? (Hendra Kasenda)

--

Perselisihan Tajam
Sunday, 06 December 2009 09:57
Di sebuah gereja terjadi perselisihan tajam. Masalahnya sederhana. Paduan Suara A dijadwalkan mengisi pujian sesudah khotbah di kebaktian Minggu. Namun, rupanya ada salah komunikasi. Pada Minggu itu ternyata ada Paduan Suara tamu yang akan membawakan dua pujian, sebelum dan sesudah khotbah. Setelah berunding, diputuskan Paduan Suara A digeser mengisi pujian sebelum Doa Syafaat. Beberapa angota Paduan Suara A tidak terima, merasa tersinggung, lalu "meledak". Sampai ada yang mundur dari pelayanan, bahkan yang pindah gereja.

Perselisihan di gereja tidak jarang dipicu dan dipacu oleh masalah kecil. Namun, karena disikapi dengan kekerasan hati, tidak mau mengalah, prasangka buruk, dan sikap egoistis, akhirnya menjadi masalah besar yang menguras waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan. Padahal, seperti dikatakan oleh Paulus, "Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu" (1 Korintus 6:7). Dengan kata lain, kalau orang-orang di dalam gereja berantem, tidak ada yang akan diuntungkan. Malah yang rugi gereja sendiri; persekutuan jemaat jadi terganggu, sukacita melayani hilang, dan keluar juga jadi promosi buruk.

Maka, penting sekali untuk kita kembali ke identitas kita sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasih-Nya (Kolose 3:12). Dan hidup berpadanan sesuai identitas tersebut, yaitu dengan menunjukkan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Kiranya damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita, sehingga kita dijauhkan dari segala pikiran dan perasaan yang tidak membangun. *



--

Mengikut Tuhan
Saturday, 13 February 2010 12:58
Kekristenan adalah satu agama yang berpusat kepada Allah, segala sesuatu diarahkan kepada Allah. Sekitar 200-300 tahun yang lalu kekristenan di Eropa mengalami kejenuhan, sekian lama mengikut Tuhan tetap mengalami permasalahan hidup. Masalah-masalah yang tidak teratasi ini menimbulkan satu pemikiran kalau kekristenan sudah tidak bisa kita andalkan, lalu bagaimana kita mengatasinya kalau kita terus-menerus menghadapi permasalahan.

Pada saat seperti inilah keresahan anak-anak Tuhan dibaca oleh Iblis. Iblis berusaha secara halus, perlahan dia bekerja melalui solusi yang ditawarkan yaitu “new age movement” (gerakan zaman baru) kalau kita mau mengalami perubahan-perubahan dalam hidup kita, kita harus kembali ke kesadaran batin dan tidak lagi mengarah pada Allah, kita punya kemampuan, energi, hanya belum dikembangkan.

Hati-hati! Ini sangat berbahaya dan sekarang perlahan-lahan mulai dikembangkan. 1 Timotius 4:7b-10 - Latihlah dirimu beribadah... Kata latih berarti latihan, disiplin. Kalau ibadah mau menghasilkan sesuatu harus terus-menerus latihan, harus disiplin. Ibadah yang teratur, disiplin berguna untuk hidup kita selagi berada di muka bumi sampai kekal dan tidaklah mudah karena kita harus berjerih payah dan berjuang dengan pengorbanan.

2 Korintus 2:11 - supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita... Seharusnya yang memetik keuntungan dari ibadah itu kita bukan Iblis, tapi Iblis tahu bersiasat, 200-300 tahun yang lalu orang-orang Eropa beribadah tapi jenuh dan tidak memperoleh keuntungan, justru Iblis yang memperoleh keuntungan. Apa keuntungan yang diperoleh Iblis? Ini merupakan proses, ada solusi yang diberikan oleh Iblis sehingga muncul New Age Movement prinsipnya one in all and all in one menuju pada one world, unity, oneness (menuju pada antikris).

Waktu kita dalam ibadah tidak sungguh-sungguh, tidak disiplin maka Iblis menawarkan kalau engkau mau mengikuti dunia, dunia tinggal di dalammu, kamu dikuasai dunia dan akan ada solusi, padahal Alkitab katakan dalam 1 Yohanes 2:17 - Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Bagaimana supaya tidak lenyap? 1 Yohanes 5:4 - sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Iman kepada Allah hari-hari ini yang sedang dikikis sehingga saat seseorang menghadapi permasalah tidak lagi beriman kepada Allah, merasa Tuhan terlambat menolong. Gerakan zaman baru bertujuan fokus kepada Allah perlahan-lahan digeser sehingga manusia mengandalkan kemampuan diri sendiri supaya dunia menguasai dan tinggal dalam dirinya, manusia didorong untuk mencapai keutuhan, kesatuan dengan cara:

1. Harus mengembangkan potensi dan meluaskan kesadaran diri;
2. Menyerap sebanyak mungkin energi (dunia merupakan jaringan gelombang energi-energi alam);
3. Energi itu ada di dalam allah (ilah-ilah), dunia, bumi dan manusia, cara menyerapnya dengan meditasi, penyembuhan batin, bola kristal, musik, warna, terapi kelompok (sharing pengalaman trauma, rasa, visi), oneness, one world sebagai keseimbangan keharmonisan yang merupakan order agar memperoleh peace (damai), love (kasih), not war (tidak ada perang).

Kekristenan, kesehatan dan sukacita itu bukan bayangan tapi kenyataan apabila Roh Allah tinggal dalam hidup kita. New age movement menjadi nyata waktu kelompok The Beatles yang mempunyai guru spiritual dan lahir lagu ‘imagine’ (bayangkan), yang menjadi sasaran gerakan zaman baru supaya kita tidak menyembah Allah, tidak mengasihi Tuhan dengan bulat hati. Iman, pusat penyembahan perlahan-lahan mulai digeser karena tujuannya hanya hal-hal lahiriah dan kalau tidak terpenuhi maka hal-hal rohaniah dikorbankan.

Apa yang dikatakan Alkitab soal kesehatan? Pola hidup yang sehat adalah memperhatikan jenis-jenis makan kesehatan, pola kebersihan dan berolah raga.

Bagaimana sebab-sebab timbulnya penyakit:
1. Ketidaktaatan – Keluaran 15:26. Solusinya mengaku dosa dan mohon pengampunan Tuhan.
2. Keserakahan – II Raja-raja 5:20-27. Solusinya kesadaran dan pengendalian diri.
3. Pekerjaan Iblis – Ayub 2:7. Solusinya pemulihan dari Allah.
4. Pemberontakan – Bilangan 12:1, 10. Solusinya mendatangi orang yang disakiti dan menyelesaikan masalahnya.
5. Lanjut usia – Mazmur 90:10.
6. Kebencian dan kepahitan – Ulangan 7:16. Solusinya masalah diselesaikan dan beban pikiran diserahkan pada Tuhan.

Bila keinginan belum terpenuhi (sudah melakukan pembenahan tapi permasalahan masih ada): I Tesalonika 5:18 - Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Allah siap menolong kita (Roma 8:28). Allah menentukan batas-batas di mana musuh boleh menyerang kita (Ayub 1:12; 2:6), Ayub mengalami penderitaan-penderitaan tapi musuh diberikan batas-batas oleh Tuhan. Waktu kita mengalami permasalahan yang belum terselesaikan sampai sekarang kebaikan Allah yang bagaimana yang bisa kita lihat? Tuhan sedang menunjukkan kepada dunia, ini anakKu yang memiliki kualitas, ini yang Allah pertahankan sehingga kita tidak mudah menyerah, tidak mudah jatuh dan menyangkal Allah tapi kita tetap fokus kepada Allah. Amin.

Pengkhotbah: Pdt FZ. Assa (Temanggung)

--

Man of Value
Friday, 05 February 2010 09:44
Man of value: manusia yang bernilai/berbobot/berkualitas. Ada banyak orang yang salah mengerti tentang hidup yang berkualitas, contoh: seorang wanita baru merasa "percaya diri" bila sudah memakai asesoris/tas yang bermerk, sepatu buatan perancang ternama, dll.

Daniel 5:23-28: "Tuanku meninggikan.." Firman Tuhan ini membahas sebuah pesta yang menggetarkan, diselenggarakan oleh Raja Belsyazar. Perkakas dari Bait Allah yang kudus untuk penyembahan dan pemujaan kepada Allah dipakai untuk pesta mabuk-mabukan oleh raja dan para gundiknya. Tiba-tiba muncul tangan dan menulis di dinding: "Mene, mene, tekel ufarsin". Makna tulisan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia.

Manusia yang berbobot bukanlah orang yang kaya harta, jabatan yang tinggi, terkenal/terpandang di dunia. Karena hal-hal tersebut hanya bersifat sementara. Manusia yang bernilai adalah orang-orang yang nantinya akan memerintah bersama Yesus dalam Kerajaan Sorga untuk selama-lamanya.

Ada 3 hal penting yang akan membuat kita menjadi "Man of value":
1. Orang yang bernilai/berkualitas adalah orang yang menghormati Tuhan.
Raja Belsyazar adalah contoh orang yang tidak memiliki rasa hormat dan takut akan Tuhan. Kalau kita ingin menjadi manusia yang berkualitas, kita harus menghormati Tuhan terlebih dahulu. Menghormati Tuhan bisa terlihat dari hal-hal sederhana, contoh:
a. Cara kita mengikuti kebaktian di gereja.
Di tempat kebaktian ada hadirat Tuhan. Kita mesti datang tepat waktu. Bukan berarti kita mesti tegang, tetapi kita sebaiknya mengikuti acara-acara ibadah di gereja dengan tertib.

b. Dari setiap keputusan dan langkah-langkah hidup yang kita ambil. apakah hidup kita dipengaruhi oleh Tuhan.
Misal: Kalau kita menjadi hamba Tuhan jangan fokus hanya pada masalah uang, pilih-pilih orang untuk dilayani, dll. Apabila kita menghormati Tuhan, maka semua hal-hal yang akan kita lakukan akan dipengaruhi oleh Firman Tuhan. Ketika kita menghormati Tuhan, maka kita akan menjadi orang yang bernilai dan berkualitas di mata Tuhan. Dan apabila kita tidak menghormati dan tidak peduli pada Firman Tuhan, kita akan menjadi seperti raja Belsyazar tersebut di atas.

2. Orang yang bernilai/berkualitas adalah orang yang berbudi luhur.
1 Petrus 4, 8-10, "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah."
Yesaya 32:8, "Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian."
Berbudi luhur artinya berwatak mulia dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Jadi, orang yang berbudi luhur adalah:
a. Orang yang memiliki karakter yang baik.
Menjadi jemaat yang dewasa adalah berbicara mengenai karakter, yaitu memiliki karakter seperti Kristus. Memang betul kita perlu berkat jasmani dalam hidup ini. Tapi berkat tersebut akan otomatis mengikuti anak Tuhan yang memiliki karakter seperti Kristus. Karena berkat adalah hak kita sebagai anak-anak Allah. Persoalannya adalah berkat besar yang seharusnya menjadi hak kita tidak dapat kita terima karena karakter kita yang tidak siap. Berkat akan melimpah secara luar biasa bila kita memiliki karakter seperti Kristus. Kekayaan/ berkat jasmani harus disertai dengan karakter yang baik. Perubahan karakter bisa terlihat dari kehidupan kita sehari-hari, misal: pemarah menjadi lebih sabar, pembohong menjadi orang yang jujur, orang sombong menjadi ramah-tamah, dll.

b. Orang yang memiliki nilai-nilai kebenaran.
Pengalaman menunjukkan bahwa ketika kita bergaul dengan orang-orang yang sukses secara material, ternyata di dalam kehidupan mereka berbisnis banyak ditemukan cara-cara yang tidak memiliki nilai-nilai kebenaran. Walaupun di mata orang-orang dunia mereka adalah orang-orang yang sukses, tetapi di mata Tuhan mereka sebenarnya tidak bernilai. Kesuksesan dan kekayaan orang-orang Kristen harus dibangun di atas nilai-nilai kebenaran. Contoh: Olahragawan, jangan melakukan doping atau meminta kekuatan dari ilmu-ilmu hitam. Pengusaha, jangan egois atau ingin cepat kaya dengan menghalalkan segala cara yang merugikan orang lain. Hamba Tuhan, dalam pelayanan harus berhati-hati agar tidak tergiur pada kekayaan dan ketenaran diri sendiri. Salah satu contoh tokoh rohani yang patut diteladani kita semua, yaitu: Madame Theresa yang memiliki falsafah hidup "Berdoalah untuk kesetiaan kepada Tuhan Yesus, bukan untuk meminta kesuksesan."
Matius 7:21, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."

c. Orang yang berdampak.
Orang yang memiliki dampak bagi orang lain. Marilah kita merenungkan, apakah hidup kita sudah memiliki dampak bagi orang lain?
Matius 5:13, "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang."
Kita akan memiliki hidup yang penuh dengan sukacita dan damai sejahtera bila kita memiliki dampak bagi orang lain. Nilai hidup kita bukan ditentukan dari apa yang kita miliki, tetapi dari seberapa dampak yang bisa kita bagikan kepada orang lain, seberapa besar yang bisa kita berikan kepada orang lain.

Howard Hughes, seorang pengusaha yang sukses dan memiliki banyak perusahaan besar. Pada akhir kehidupannya, ia meninggal dalam kesepian. Marilah kita mencoba merenungi sebentar kehidupan kita, "Andaikan kita meninggal pada hari ini, apakah ada orang-orang yang menangisi kematian kita?" atau "Apakah orang-orang malah bersyukur atas kematian kita?"

Apa yang akan dirasakan orang-orang di sekitar kita pada saat kematian kita, tergantung dari seberapa dampak kita kepada mereka, cara kita memperlakukan dan memberikan perhatian kepada orang lain, janganlah kita yang mencari perhatian dari orang lain. Begitu pula dengan cara kita memperlakukan harta kita di dunia. Apakah dengan kekayaan materi dan harta yang kita miliki, kita bersedia menjadi saluran berkat bagi orang-orang lain yang kekurangan dan membutuhkannya. Karena banyak kita temukan, orang yang rajin menebar hartanya tetapi berkatnya tak berkekurangan melainkan semakin berlimpah. Tetapi ada pula orang yang kikir tetapi selalu berkekurangan. Albert Einstein berkata "Berusahalah bukan untuk menjadi orang kaya, tetapi menjadi orang yang bernilai."

Pengkhotbah: Pdt Yosia Abdisaputera
Gembala Sidang GBI Nafiri Allah, Jakarta

--

Gratis Tetapi Tidak Murah!
Saturday, 19 December 2009 11:21
Seseorang sangat mungkin untuk salah dalam memberikan makna pada sesuatu, misalnya menempatkan makna yang sangat tinggi kepada sesuatu yang kurang bernilai dan tidak penting, atau sebaliknya menganggap sesuatu yang sebetulnya penting dan bernilai sebagai sesuatu kurang bernilai dan kurang penting.

Evelyn Adams memenangkan lotre New Jersey dua kali berturut-turut pada tahun 1985 dan 1986 sejumlah $5,4 juta dan sebagian besar ludes di mesin jackpot Atlantic City. Ia pun kemudian harus hidup di Trailer Park. Adams berkata: “Saya harap saya punya kesempatan lagi.”

Mungkinkah Adams menganggap remeh uang sebesar 5,4 juta dolar Amerika karena ia mendapatkannya dengan mudah dua kali berturut-turut? Sikap dan pemikiran (mind set) seperti ini bisa terjadi pada orang Kristen dalam memahami aspek-aspek keselamatan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Banyak orang Kristen yang menganggap murah anugerah Allah dengan menjadi seorang Kristen namun menjauhi ibadah, tidak mau terlibat dalam pelayanan, tidak mau bertumbuh dan tetap mencintai dosa. Di sisi lain banyak orang Kristen yang merasa pasti masuk surga dan setiap mengaku dosa pasti diampuni oleh Tuhan (1Yoh. 1:9) lantas dengan alasan itu tetap bermain-main dengan dosa dan tidak hidup dalam kekudusan.

Alkitab mengajarkan dan menegaskan bahwa keselamatan adalah pemberian cuma-cuma dan manusia tidak bisa menambah atau menyumbangkan apa pun sehingga keselamatan itu diberikan Allah kepadanya (Rm. 3:20). Namun karena cuma-cuma alias gratis (Ef. 2:8-9), keselamatan dan Kekristenan itu sering dipandang sebelah mata dan dianggap murah melalui sikap dan cara hidup orang Kristen yang tidak hidup dalam kekudusan. Mengapa demikian? Mungkin banyak orang Kristen yang melupakan kemutlakan sifat moral Allah, seperti diungkapkan TC. Hammond (1938): “Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.”

Menghitung Harga Anugerah
Mengapa ada orang yang berpikir yang gratis itu pasti murah? Padahal yang gratis tidak selalu murah, tergantung nilai yang terkandung di dalamnya. Kata gratis mungkin dapat menjelaskan tindakan Allah menyelamatkan orang berdosa.

“Gratis” berasal dari kata latin “gratia” (for zero price, free of charge) atau dalam bahasa Inggris “grace” yang diterjemahkan dalam Alkitab sebagai anugerah atau kasih karunia (Ef. 2:8-9; Rm. 3:24). Secara penuh dan mutlak penebusan dosa telah dibayar lunas dalam kematian Kristus di kayu salib bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus (1Ptr. 1:18-19). Apakah penebusan itu murah, sehingga Allah mau memberikan keselamatan itu bagi orang-orang berdosa yang telah memberontak bahkan telah melakukan banyak kejahatan dan kekejian di hadapan-Nya?

Strategi manajemen ‘six sigma’ menekankan beberapa prinsip antara lain: “You don’t know until you measure, you don't measure what you don't value, you don't value what you don't measure.” Dengan kata lain prinsip di atas menegaskan bahwa setiap orang Kristen harus melakukan perhitungan atau kalkulasi total atas tindakan yang dilakukan Allah atas keselamatan yang diberikan secara gratis kepadanya.

Berapa harga anugerah Allah? Tergantung tindakan apa yang dilakukan oleh Allah untuk keselamatan tersebut. Surat Petrus mengatakan: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1Ptr. 1:18-19).

Harga keselamatan tidak bisa diukur dengan uang atau dengan apa pun yang ada di dunia ini, harga itu tidak bisa dibayar dengan usaha apa pun yang dapat dilakukan oleh manusia karena terlalu mahal harganya (Mzm. 49:8-10), karena hanya bisa dibayar dengan darah Kristus sang domba Allah. Begitu mahal harga penebusan dosa manusia sehingga Allah harus menjadi manusia, harga yang tak terhingga bagi manusia. Mengapa Allah mau melakukannya? Tentunya karena kasih-Nya yang sangat besar (Yoh. 3:16), kitab Hosea juga menggambarkan betapa besarnya hasrat Allah untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang berdosa (Hos. 14:5), dan puncak dari semuanya itu adalah pengorbanan Kristus di kayu salib (Rm. 5:8). Kalau seseorang diselamatkan dan menjadi seorang Kristen itu berarti anugerah diberikan kepadanya, mengapa mendapat anugerah? Tentu tidak ada alasan pada manusia selain dari kasih Allah semata. Paulus mengatakan, “Karena anugerah Allah di dalam Kristus kita tidak binasa” (Rm.. 3:24; 6:23).

Free, but not cheap
Dietrich Bonhoeffer, teolog Jerman yang meraih gelar Ph.D. pada usia 21 tahun dari University of Berlin, sangat menggumuli fenomena di atas. Dari pengamatannya di Jerman maupun ketika di Amerika ia melihat banyak hal yang tidak wajar terjadi dalam Kekristenan. Ia melihat Kekristenan yang semakin sekuler dan mengakomodasi tuntutan sosial daripada menaati Kristus, sehingga anugerah menjadi property umum. Tahun 1937 ia menulis buku “The Cost of Discipleship,” yang mengulas tentang “anugerah yang murah atau anugerah yang mahal” (“cheap grace or costly grace”).

Ia menegaskan “anugerah yang murah adalah musuh gereja yang mematikan, kita berjuang hari ini untuk anugerah yang mahal, anugerah yang mahal adalah inkarnasi Kristus dan kematian-Nya di kayu salib (Flp. 2:5-8). Baginya anugerah yang murah adalah mengkhotbahkan pengampunan tanpa tuntutan pertobatan, memberikan baptisan tanpa disiplin, melakukan perjamuan kudus tanpa pengampunan dosa. Anugerah yang murah adalah Kekristenan tanpa pemuridan, Kekristenan tanpa salib dan tanpa Kristus. Ia menegaskan bahwa tuntutan menjadi orang Kristen adalah menjadi murid Kristus berapa pun harganya (following Jesus at all costs), dan ia dieksekusi hukuman mati oleh Hitler karena memperjuangkan Kekristenan.

Tuhan Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk. 9:23). Salah satu tuntutan dan kualitas tertinggi yang diharapkan Yesus dalam ayat tersebut pastilah berbicara tentang kekudusan dan hal ini ditegaskan dalam Ibrani 12:10: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.”



Sinclair Ferguson (1985) dalam bukunya “A Heart for God,” mengatakan: “Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa – secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel.” Harga yang harus dibayar untuk menjadi orang Kristen “KTP” pasti murah sekali, namun Alkitab menegaskan: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1Yoh. 2:6).

Sejatinya yang gratis tidak berarti murah (free, but not cheap) dan gratis hanya berlaku bagi kita yang menerima penebusan tetapi harus dibayar oleh Kristus dengan pencurahan darah yang mahal di kayu salib. Haleluya!

Pengkhotbah: Pdt Robert R. Siahaan
Gembala Sidang Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI) Kebayoran Baru, Jakarta

--

Diberkati dan Menjadi Berkat
Tuesday, 15 December 2009 09:51
Kejadian 24:1, "Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal." Untuk dapat diberkati Tuhan, kita jangan hanya berdoa dan bukan hanya melakukan 'perkara rohani' (=berpuasa, rajin ke gereja, memberikan perpuluhan dll); itu tidak salah. Untuk menjadi orang yang diberkati Tuhan bukan hanya oleh perbuatan kita, tetapi bagaimana membuat sorga tertarik memberkati kita karena Tuhan melihat hidup kita. Diberkati Tuhan itu bukan hanya materi, tetapi damai sejahtera, sukacita, pengharapan, kekuatan dll. Saat ini kita akan belajar bagaimana diberkati dan menjadi berkat.

Kejadian 12:1-4, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

Abraham dipakai Tuhan untuk menjadi berkat dan memberkati banyak orang, demikian juga dengan kita. Agar kita dapat menjadi berkat dan bagaimana sorga memberkati kita, adalah:

1. Membiarkan firman Tuhan menerobos hidup kita (ayat 1a, Berfimanlah TUHAN..).
Kita harus menjadikan firman Tuhan menjadi esensi dalam kehidupan kita, bukan hanya sesuatu yang
menghibur dan menegur.Tetapi membiarkan firman menjadi sesuatu dalam hidup kita, menjadi daging dalam hidup kita. Ibrani 11:3 berkata bahwa dunia ini tercipta oleh karena firman. Firman adalah materi yang dipakai Tuhan untuk menjadikan segalanya (Yoh.1:1-3). Firman itu yang akan memberkati kita. Jangan anggap enteng firman Tuhan. Manusia hidup bukan hanya oleh roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

Ketika kita mendengar firman Tuhan, maka akan timbul iman. Ketika ada iman maka tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya. Orang yang sering mendengar firman maka semuanya itu akan dirubah oleh Tuhan menjadi kreatifitas, inspirasi, pencerahan, ide-ide. Di masa krisis ini kita tidak hanya mencari uang, namun sangat membutuhkan firman, karena firman Tuhan itu akan menunjukkan di mana ada uang. Mujizat hanya terjadi oleh karena firman dan iman. Firman dan iman adalah bahan/materi agar
mujizat dapat terjadi dalam hidup kita. Tuhan mau membuat mujizat setiap hari dalam hidup kita, namun
Tuhan melihat apakah ada materi (=firman dan iman) dalam hidup kita.

2. Melepaskan diri dari ikatan dan kebiasaan (ayat 1b, Pergilah......)
Setiap pola pikir negatif, kekecewaan, ketakutan, kekuatiran, kepahitan, sakit hati dan dendam yang di simpan di hati akan menghalangi berkat Tuhan dalam hidup kita (baca Filipi 4:8). Masuklah dalam hadirat Tuhan, dalam doa dan penyembahan, pembacaan firman. Orang sukses adalah orang yang tidak memikirkan apa yang ada dalam pikiran orang gagal; sebaliknya, orang gagal adalah orang yang tidak
memikirkan apa yang ada dalam pikiran orang sukses.

Yang menentukan kita adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Lihat Kolose 3:1,2, artinya pilihan dan keputusan ada pada kita sendiri. Orang yang takut gagal sama dengan orang yang takut berhasil. Kalau
kita menjauhi kegagalan sama dengan menjauhi keberhasilan, sebab kegagalan sangat dekat dengan keberhasilan. Orang yang trauma dengan masa lalu sehingga takut untuk melangkah, akan sulit menerima berkat Tuhan. Penguasaan dan pengendalian emosi akan membuat kita berhasil.

3. Harus tahu visi Tuhan dalam hidup kita ( ayat 1c, ke negeri yang akan Kutunjukkan...)
Tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan. Ada rencana Tuhan dalam hidup kita, tidak hanya
sukses, dan banyak uang. Isilah hidup ini dengan hidup yang penuh dengan arti. Kita lahir di dunia ini bukan kebetulan, tetapi ada rencana Tuhan bagi kita. Cari dan temukanlah itu.

Pengkhotbah: Pdt Leonardo A. Sjiamsuri

--

Kuasa Darah Yesus
Friday, 11 December 2009 09:48

Darah Yesus itu tidak sama dengan darah kita, lihat Luk. 1:34-35. Kelahiran Yesus bukan dari benih laki-laki, bukan karena hubungan suami isteri. Tetapi, Yesus lahir dari Roh Kudus. Ada enam kuasa darah Yesus, yaitu:


1. Darah yang berkuasa untuk mengampuni dosa.
Mat. 26:28, "Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa."
’Pengampunan’ (bah. Yun. ’apesis’, artinya: membebaskan dari hukuman). Ketika kita percaya kepada Yesus, berarti kita diampuni, dibebaskan dari tuntutan hukuman. Mengapa bisa? Karena darah Yesus itu tercurah/keluar karena lewat suatu penghukuman dan penderitaan yang luar biasa. Dia sudah menanggung penghukuman bagi kita.

2. Darah Yesus membenarkan kita.
Rm. 5:9, "Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah."
’Dibenarkan’ (bah. Yun. ’dikaiao’, artinya: merubah status menjadi benar). Yang benar adalah walaupun kenyataannya belum benar, namun statusnya adalah orang benar. Walaupun belum sempurna, darah Yesus berkuasa merubah status menjadi ’orang benar.’

3. Darah Yesus berkuasa untuk menguduskan kita.
Ibrani 13:12, "Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri." Dan lihat 1Yoh. 1:7.
’Menguduskan’ (bah. Yun. ’hagiazo’, artinya: dibuat jadi kudus). Kudus itu berarti dipisahkan bagi Allah. Itulah sebabnya kita dapat melayani Tuhan. Lewat darah Yesus kita dikuduskan dan dilayakkan untuk melayani: berkhotbah, Worship Leader, Singer, diaken, dll. Kita bukan dari dunia, tetapi dari sorga. Kewarganegaraan kita adalah sorga, dan akan kembali ke sorga.

4. Darah Yesus menebus kita.
Efesus 1:7, "Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya."
’Penebusan’ (bah. Yun. ’apoletrosis’, artinya: tindakan menebus seluruhnya). Bukan menebus yang Dia suka, tetapi semua umat manusia sepanjang zaman ini. Ketika kita berdosa, kita berada di bawah kekuasaan dosa (=iblis). Dan, darah Yesus yang tercurah itu berkuasa untuk menebus kita dari kuasa dosa dan membuat kita menjadi milik Kristus. Mengapa menebusnya pakai darah? Lihat Imamat 17:11, "Karena yawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa." Yang ditebus adalah nyawa, sebab itu yang dipakai untuk menebusnya adalah dengan nyawa. Dan, nyawa ada di dalam darah.

5. Darah Yesus mendamaikan kita.
Rm. 3:25, "Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya."
Lihat Ibrani 10:19. Pada awalnya kita (karena dosa) adalah seteru Allah. Dan lewat darah Yesus kita diperdamaikan dengan Allah. Hubungan kita menjadi dekat: Bapa dengan anak.

6. Darah Yesus berkuasa mengalahkan iblis.
Wahyu 12:10-11, "Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." Kuasa darah Yesus membawa kemenangan bagi kita. Perkatakan itu setiap saat. Amin. *

Pengkhotbah: Pdt Yosia Abdisaputera
Gembala Sidang GBI Nafiri Allah, Jakarta

--

Tegar di Masa Sukar
Tuesday, 08 December 2009 16:33

Seluruh umat manusia di muka bumi ini tanpa terkecuali mengalami satu situasi, yang semakin sulit. Segala aspek yang ada tidak ada yang terhindar dari kata sulit,semua serba susah dan menyentuh titik krisis. Ketahuilah bahwa pada hari-hari terahir akan datang masa yang sukar. (2Tim. 3:1)

Hal serupa juga dialami oleh orang orang percaya (gereja), satu situasi yang memang sudah dinubuatkan dalam Alkitab, sebut saja dalam 2Tim. 3:1, pada hari–hari terahir akan datang masa yang sukar; Efesus 6:10—Paulus menguatkan jemaat efesus untuk kuat, dalam ayat 12 dikatakan kita menghadapi perang.

Sebagai orang percaya yang mempunyai sandaran firman Tuhan,situasi sulit yang dihadapi tentunya tidak melemahakan iman kita,karena Tuhan lewat FirmanNya memang memberikan kiat-kiat dalam menghadapi masa-masa sukar itu,dalam pendalaman Alkitab kali ini, kita membahas 3 (tiga) kiat menghadapi hal-hal yang menyulitkan dan membuat sesak hidup ini. Kiat tersebut adalah:

1. Berdoa.
Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah dengan berdoa masalah Kita akan segera berakhir? Melihat hal ini Yak. 5:16 mengatakan doa-doa orang benar sangat besar kuasanya, jika dilakukan dengan iman. Ternyata ada persyaratan dalam kita berdoa yaitu iman, iman yang menguatkan hati kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. (Luk. 1:37; Mat. 21:22)

Lepas dari itu langkah doa adalah satu nasehat yang Tuhan sendiri berikan kepada kita. Saat Daniel menghadapi masalah dalam kepentingan ibadah, Daniel tetap berdoa, karena ia yakin bahwa Tuhan pasti memberikan jalan keluar terhadap masalahnya.

Salomo mengingatkan dalam ayatnya yang terkenal Ams. 3:5-6 percayalah kepada Tuhan dengan segenap hati, termasuk dalam hal doa, kita berdoa karena memang kita tidak punya daya apa-apa, untuk melakukan sesuatu, semua karena pertolongan Tuhan. Mzm. 127:1,2

Kita harus bersyukur, karena dapat mengambil langkah (kiat) untuk berdoa, karena tidak semua manusia mampunyai kiat seperti ini, dengan berdoa masalah kita dapat selesai. Paulus dan Silas mengambil langkah berdoa saat mereka harus menghadapi kurungan dan belenggu (Kis. 16:25). Lewat doa setiap ikatan (hal-hal yang sulit) dapat terlepas.

2. Mengaku dengan jujur/tulus atas setiap dosa dan pelanggaran kita.
Ananias dan Safira gagal (Kis. 5:1-11), karena mereka tidak jujur atas dosa mereka, kita harus menyadari dosa membawa kerugian yang sangat besar. Yer. 5:25 bahkan dosa mendatangkan pemisahan hidup kita dengan Allah (maut), Rm. 6:23; Yeh. 18:20. Dalam rumus kitab Taurat, seorang yang mengalami satu kesalahan/pelangaran harus dikenai hukuman yang setimpal (misal mata ganti mata gigi ganti gigi) tetapi syukur kepada kita yang mendapat kasih karunia Tuhan Yesus, mati bagi kita menghapus segala dosa pelangaran kita.

Daud menyadari kekeliruannya yang besar dalam hidupnya Mzm. 51:5, skandalnya dengan Betsyeba membuat hubungannya dengan Allah rusak oleh sebab itu ia mengaku dengan jujur dan tulus setiap kesalahan, dan langkah selanjutnya yang diambil oleh Daud adalah memohon ampun kepada Allah. (Mzm 32:5; Bil. 5:5-7).

Kitab Taurat telah menentukan tentang pengakuan dosa karena kita sudah mengerti dosa membawa kerugian yang sangat besar. (Yes. 59:1,2; 2Kor. 7:10; Mzm. 51:1-9). Kita juga harus mempunyai sikap meyakini pemgampunan Allah yang luar biasa Mzm. 130:3,4 ;103:12.

3. Teguhkan hati melalui janji-janji-Nya, karena Allah bukan manusia terhadap janji itu.
Bil. 23:19—Dengan keteguhan hati hidup kita akan lebih dipenuhi dengan semangat dan kepercayaan yang tinggi terhjadap janji-janji Allah. Ams. 14:8 saat Elia mengalami lemah iman menghadapi Izebel, Allah menguatkan hati dan memulihkan jiwa hidup Elia. Hanya Allah dapat memberikan semangat seperti yang diungkap dalam Yes. 40:28-31. Daud sukses mengalalahkn Goliat, karena ia yakin akan kebesaran Allah, jadi taguhkan hati kita terhadap janji-janji Allah.

Firman Tuhan sudah memberikan langkah (kiat-kiat) bagi kita untuk menghadapi masalah hari-hari yang semakin sulit dan sukar ini, percaya Tuhan Yesus mampu menolong kita, janji-Nya tidak pernah dan akan berubah, Amin. *

Pengkhotbah: Pdt F Pattiradjawane

--
Mengampuni Orang Lain
Wednesday, 09 December 2009 09:45

Tuhan Yesus mengerti betapa berbahayanya dosa tidak mengampuni kesalahan orang lain, dan betapa pentingnya Tuhan harus memberi pengertian tentang hal ini kepada anak-anak-Nya. Oleh sebab itu Ia menaruh hal mengampuni orang lain di dalam deret kalimat doa Bapa kami (Matius 6:9-13).


Pentingnya pengampunan terhadap sesama:
1. Mengampuni orang lain adalah perintah tegas dari Tuhan yang harus dipatuhi. Mengampuni orang lain ini adalah perwujudan tindakan kasih. Bila seseorang tidak mengampuni orang lain, itu berarti ia tidak mengasihi sesamanya. Bila ia tidak mengasihi sesamanya itu berarti ia adalah seorang “pembunuh” (1Yoh. 3:15, Why. 21:8). Seorang pembunuh tidak akan masuk dalam kerajaan Allah.

2. Mengampuni orang lain ialah syarat untuk menerima pengampunan dari Allah. Agar kita menerima pengampunan dari Tuhan kita harus mengampuni orang lain (Mat. 6:14-15; 18:35). Dalam doa Bapa kami jelas disinggung hal mengampuni orang lain, bahwa seperti kita mengampuni orang lain demikianlah Bapa mengampuni kita.. Pengampunan dari Tuhan tidak dapat dipisahkan dari pengampunan kita kepada orang lain. Bila kita tidak mengampuni sesama kita Tuhan juga tidak akan mengampuni kita.

3. Mengampuni orang lain adalah jalan agar doa kita diresponi atau ditanggapi Allah (Mrk. 11:24-26). Dari ayat-ayat ini telah ternyata bahwa jawaban doa dan respon Tuhan terhadap doa kita sangat berkaitan dengan pengampunan kita kepada orang lain. Kalau doa-doa kita mau terjawab, maka kita harus membereskan hubungan kita dengan sesama, dalam hal ini mengampuni saudara kita. Oleh sebab itu kalau kita menjumpai kenyataan doa-doa kita tidak diresponi oleh Bapa, patut kita memeriksa hidup kita dan menemukan penyebabnya, bukan tidak mungkin penyebabnya adalah tidak mengampuni sesama kita.

4. Mengampuni sesama agar tidak ada akar pahit di dalam hati kita (Ibr. 12:14-15). Ada banyak sakit penyakit yang tak disebabkan oleh virus atau baksil pada mulanya, tetapi disebabkan oleh hati yang tidak mau mengampuni orang lain. Ilmu kedokteran membuktikan bahwa suasana jiwa yang tidak sehat dapat mempengaruhi kesehatan tubuh. Akar pahit ini bisa timbul di hati istri terhadap suami, atau sebaliknya, mertua terhadap menantu sebaliknya, relasi bisnis dll. Tidak sedikit orang yang sakit oleh karena kepahtian terhadap sesamanya. Lepaskan pengampunan kepada suami, istri, menantu, mertua atau siapapun yang melukai hatimu dan terimalah kesembuhan.

5. Tuhan tidak menghendaki kita kehilangan sahabat dan saudara oleh kesalahan kita sendiri dengan tidak mengampuni orang lain (Ibr. 12: 14-15). Hidup berdamai dengan semua orang, maksudnya adalah agar kita tidak bertikai dengan siapapun dengan alasan apapun. Barangkali orang lain yang menciptakan atau memulai pertikaian tetapi kita harus dapat mengampuni.

Cara Kita Mengampuni
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita dalam Matius 18:21-23. Dalam perikop ini Petrus mencoba menawarkan kepada Tuhan Yesus satu bentuk pengampunan yang luar biasa yang lebih tinggi dari pola pengampunan yang biasa dilakukan dalam masyarakat Yahudi. Orang Yahudi biasa memberi batas mengampuni orang lain 3x. Petrus mencoba menawarkan lebih tinggi sedikit, yaitu 7 kali. Tetapi ternyata jawaban Tuhan Yesus jauh sekali dari pola pikir dan konsep hukum yang ditawarkan manusia. Tuhan Yesus memberikan konsep baru tentang pengampunan ini, yaitu: 70 x 7 kali.

Maksud dari ajaran Tuhan Yesus tentang mengampuni 70 x 7 kali adalah:
(1) Bahwa tidak ada alasan atau sebab apapun yang boleh diterima untuk tidak mengampuni orang lain.
(2) Cara kita mengampuni orang lain harus sesuai dan sama persis sebagaimana Allah mengampuni kita (Ef. 4:32; Kol. 3:13). Ini bukan hal yang mudah, tetapi pasti bisa dilakukan. Tuhan memberikan standar ini tentu dengan hikmat dan pertimbangan-Nya yang sangat bijaksana dan itu pasti telah disesuaikan dengan kemampuan manusia untuk melakukannya.

Pengampunan yang diajarkan Tuhan ini berarti sebuah pengampunan yang tidak bersyarat, artinya: Pertama, mengampuni semua kesalahan, ini berarti tidak ada sesuatu yang kita anggap sebagai kesalahan yang tidak dapat diampuni. Kedua, melupakan kesalahan-kesalahan, ini berarti kita tidak membangkit-bangkitkan kesalahan orang lain dengan membicarakannya dengan orang lain pula. Ketiga, tidak menghukum. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus mengampuni dengan segenap hati (Mat. 18:35). Tidak menghukum dengan segala cara, misalnya tidak mau berdamai, tidak mau memberi salam, mencela dan merusak nama baik orang yang kita anggap telah bersalah kepada kita.

Akhirnya kita harus membalas kejahatan dengan kebaikan (Rm. 12:21). Tuhan akan menunjukkan siapa yang berdiri dipihak-Nya. Berdiri dalam kebenaran dan kasih Allah. Kepada orang-orang seperti inilah Allah memberikan penghargaan-Nya. Amin. *

Pengkhotbah: Pdt Erastus Sabdono, M.Th

--

Berkemenangan Dalam Situasi Apapun
Thursday, 03 December 2009 10:59
2 Tawarikh 20:1-4, Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Datanglah orang memberitahukan Yosafat: "Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar," yakni En-Gedi. Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.

Raja dalam Perjanjian Lama adalah sebagai gambaran orang yang berada dalam dunia market place. Dalam cerita di atas, ada 3 musuh yang menghadang dan Raja Yosafat menjadi takut. Ketakutan adalah akibat yang normal ketika ada masalah; tetapi, jangan kita tertekan dan terfokus oleh masalah saja. Sebab itu kita harus mengalami kemenangan dari masalah tersebut. Jadi, untuk mengalami kemenangan adalah:

1. Ketika masalah ada, kita terpaksa jadi berpikir lebih keras, jadi lebih kreatif. Ketika ada krisis, para pengusaha menjadi lebih ketat dalam mengendalikan cost. Masalah membuat kita lebih mengandalkan Tuhan, membuat mujizat menjadi lebih nyata dalam hidup kita. Sebab itu, jangan terlalu takut terhadap masalah, lihatlah Tuhan yang bisa menolong kita. Ketika kita terlalu banyak berpikir, kita tidak dapat melihat masalah secara proporsional.

Sebab itu mari posisikan masalah dengan benar, jangan melihat masalah dengan terlalu berlebih-lebihan. Lewati masalah bersama Tuhan maka masalah itu akan selesai. Dalam Mazmur 12:7,8, berkata bahwa Tuhan tidak pernah ingkar janji. Dia sanggup menggenapi janji-Nya. Jangan melihat fakta terus-menerus, tetapi lihatlah janji Tuhan. Fakta selalu berubah, tetapi Tuhan tidak akan pernah berubah kuasa-Nya dan kesetiaan-Nya. Bagi Tuhan menenangkan badai
(= masalah) adalah kecil, tetapi bagaimana Tuhan lebih dulu hendak menenangkan hati Petrus dan murid-murid-Nya yang ada di dalam perahu, menenangkan hati kita saat dalam masalah.

Jangan terlalu takut kepada Iblis. Jangan terlalu membesar-besarkan kuasa Iblis. Kuasa TUHAN lebih besar dari Iblis. Roh Tuhan dalam kita lebih besar dari dunia (setan) ini. Gelap tidak bisa menutupi terang. Kalau di dalam kita ada terang, kegelapan (setan) akan pergi.

2. Laporan siapa yang kita percayai? (Datanglah orang...)
Berita yang kita dengar akan mempengaruhi kondisi iman kita. Berita krisis ekonomi akan membuat kita semakin ketakutan dan kuatir. Sebab itu dengarkanlah firman Tuhan, maka kita akan memperoleh kemenangan. Yosua dan Kaleb memberikan laporan yang baik tentang tanah Kanaan. Tuhan tidak pernah merancangkan hal buruk, tetapi rencana yang penuh damai sejahtera. Sering-seringlah mendengar firman Tuhan, jangan mencari orang yang tidak mengenal Tuhan
(Mazmur 1:1-3). Jangan terlalu percaya dengan berita dan laporan dunia ini, tetapi dengarkanlah apa kata firman Tuhan.

3. Jagalah kualitas keputusan (Yosafat mengambil keputusan...)
Hidup kita ditentukan oleh keputusan yang kita ambil, bukan hanya oleh karena mendengarkan khotbah, bukan hanya oleh karena doa, bahkan bukan hanya setelah mendengarkan suara Tuhan sekali pun, tetapi keputusan apa yang kita ambil atas semua itu? Supaya kita dapat mengambil keputusan yang benar adalah:
a. selaraskan pikiran kita dengan firman Tuhan.
b. tinggal dalam komunitas orang percaya (beriman) untuk dapat saling menasehati.

4. Cari Tuhan dengan konsisten, bahkan saat ada ketakutan atau saat sedang malas berdoa/beribadah.
Marilah kita seperti Yosafat, di mana saat ketakutan dia mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Lihat Mazmur 56:1-4, Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu... Mencari Tuhan harus konsisten, jangan hanya saat ada masalah. Datanglah ke gereja/ beribadah bukan hanya kebiasaan, tetapi sebagai kerinduan kepada Tuhan.

Pengkhotbah: Pdt Leonardo A. Sjiamsuri

--

The Secret Of Praise
Wednesday, 25 November 2009 15:12

Pada saat kita memuji Tuhan, kita harus melakukannya dengan penuh ekspresi dan dengan segenap hati kita, karena kita percaya Tuhan hadir di tengah-tengah pujian kita. Memuji Tuhan bila dilakukan dengan segenap hati, dengan penuh rasa syukur, maka ada kuasa Allah hadir di atas puji-pujian kita, sehingga terjadilah mukjizat, pemulihan, kesembuhan, dan segala belenggu iblis dipatahkan.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kolose 3:17)

Tuhan ingin ucapan syukur sebagai jiwa dan kehidupan orang percaya. Jadi apapun yang kita kerjakan, kita lakukan dan kita perkatakan, lakukanlah semuanya itu dengan ucapan syukur. Jadilah orang Kristen yang memiliki gaya hidup yang senantiasa bersyukur. Hal ini memang tidak mudah untuk selalu dilakukan. Tetapi apabila kita berlatih terus-menerus untuk senantiasa mengucap syukur di dalam segala perkara dalam kehidupan kita, masukkan ke dalam hati kita segala ucapan syukur pada-Nya, maka lama-kelamaan kita akan menjadi terbiasa dan akhirnya menjadi gaya hidup kita untuk senantiasa bersyukur atas apapun yang kita alami dalam kehidupan kita.

Alkitab mengatakan bahwa pada akhir jaman dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang tidak bisa bersyukur. Generasi di mana kita hidup saat ini adalah generasi yang tidak tahu berterima kasih. Oleh karena itu kita sebagai umat Kristen harus tampil beda, kita harus tahu bersyukur dan berterima kasih. Bagaimana agar kita bisa menjadi umat Kristen yang selalu bersyukur pada Tuhan:

Filipi 4, 6-8: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginan kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

Ayat 8 di atas adalah ayat emas, yaitu: bagaimana caranya kita menjadi orang yang selalu bersyukur dalam segala keadaan. Sikap hati yang senantiasa bersyukur berawal dari pikiran yang benar. Jadi kuncinya adalah pikiran yang benar.

Kita tidak bisa mengontrol semua keadaan yang terjadi di sekitar kita. Orang yang memiliki kekuasaan yang besar di dunia pun tidak bisa mengontrol keadaan yang terjadi di luar dirinya. Tapi manusia bisa mengontrol yang ada di dalam dirinya, yaitu pikirannya. Kita bisa mengontrol diri kita dengan pertolongan Tuhan dan anugerah Tuhan untuk senantiasa berpikir tentang hal-hal yang benar, sehingga pandangan dan perspektif kita atas semua masalah yang kita alami dan kita temui menjadi benar.

Ada 3 hal besar tentang pikiran yang benar:
1. Pikirkan yang benar tentang Allah.
Ini adalah langkah awal untuk senantiasa bersyukur. Mazmur 118,1 berkata: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Jadi pada saat kita berpikir benar tentang Tuhan, maka sungguh nyata terjadi dalam kehidupan kita bahwa Tuhan itu baik, setia dan tidak pernah meninggalkan kita. Firman Tuhan memberitahukan bahwa Tuhan yang kita percaya adalah Tuhan yang baik dan penuh kasih setia. Bila kita memiliki pikiran yang benar tentang Allah, maka apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita akan tetap bersyukur. Salah satu taktik iblis yang berhasil menjatuhkan Hawa adalah dengan berusaha menyerang pikiran Hawa untuk ragu-ragu akan kebaikan Tuhan.

Kejadian 3, 4-5: Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Iblis berusaha memutar-balikkan fakta dan berusaha untuk membuat kita berpikir bahwa Allah itu jahat. Iblis berusaha menyerang kita melalui pikiran kita, sehingga kita mulai berpikir bahwa jangan-jangan Tuhan tidak baik, misalnya melalui bencana alam, sakit-penyakit, kegagalan dalam bisnis, rumah tangga, dll.

Firman Tuhan berkata “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik.” Jadi jangan sekali-kali kita mendengarkan iblis yang menyerang pikiran kita, karena Tuhan melampaui apapun yang iblis lakukan. Ada satu hal yang merupakan senjata kita untuk melawan iblis yaitu membangun monumen-monumen dan peringatan dalam pikiran kita untuk menangkal iblis.

Mazmur 103, 2: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" Agar kita tidak melupakan kebaikan Tuhan pada setiap kali iblis menyerang pikiran kita, maka kita perlu membangun monumen-monumen kebaikan Tuhan dalam hidup kita.”

Contoh (kesaksian Pdt. Josia Abdisaputera):
• Pertama kali datang dari Surabaya ke Jakarta, menempuh perjalanan 18 jam dengan kereta api yang mogok berkali-kali. Membawa koper berwarna merah pemberian dari seorang kerabat.
• Mobil pertama diberikan oleh salah seorang jemaat, setelah sebelumnya rutin berkendaraan mikrolet/bis sambil mengantongi dasi untuk memenuhi undangan pelayanan khotbah di berbagai tempat.
• Pembelian gereja baru di Central Park seharga Rp 50 Milyar. Perjalanan panjang dari sebuah gereja kecil di jalan Morotai (tahun 1991), kemudian berkembang menjadi gedung yang lebih besar di Green Ville (tahun 1994), bertambah lagi dengan gedung baru di Prisma Sport Club Kedoya (tahun 2004), dan saat ini bertambah lagi dengan gereja baru yang sedang dibangun di Central Park Podomoro City.

Dengan mengingat semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita, kita dapat bersyukur pada-Nya atas kebaikan-Nya sepanjang hidup kita. Ketika kita mengingat semua kebaikan dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita, maka kita akan menyadari bahwa Tuhan itu baik, bahwa benar untuk selama-lamanya kasih karunia-Nya. Ucapkan melalui mulut kita, katakan bahwa “Tuhan itu baik, bahwasanya untuk selamanya kasih setia-Nya.”

2. Pikirkan yang benar tentang diri kita.
Ada banyak orang yang tidak berpikir benar tentang dirinya sendiri. Memang itu bukanlah hal yang mudah untuk mengubah persepsi kita tentang diri kita sendiri.

Roma 12, 3: “Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

Di satu pihak kita diperintahkan untuk berpikiran yang besar, mimpikan dan cita-citakan hal yang besar, visi yang besar. Tapi perhatikan kebenaran Firman Tuhan di atas ini, bahwa di lain pihak kita diminta untuk “tahu diri”. Berpikir dalam takaran iman. Tuhan ingin kita berpikir dan belajar “tahu diri” dan menerima diri kita. Kita harus tahu siapa diri kita. Memang tidak mudah untuk berpikir tentang siapa diri kita sebenarnya. Ada dua ekstrem yang biasanya terjadi:
• Over estimate: Sombong/angkuh, misal : lulusan luar negeri yang menolak gaji kecil, akhirnya menjadi pengangguran.
• Under estimate: Minder/rendah diri/tidak percaya diri , misal : pada saat berdoa menggambarkan diri sendiri sebagai cacing-cacing kecil. Padahal Tuhan sudah berfirman bahwa kita adalah terang dunia.

Tuhan ingin kita berpikiran yang benar. Setiap diri kita memiliki kadar kasih karunia masing-masing. Oleh karena itu, pada saat kita sedang berada dalam posisi di atas/sukses dalam hidup ini, kita perlu mengingat kebaikan Tuhan agar tidak menjadi sombong. Ketika kita mengalami kebaikan Tuhan yang luar biasa, kita perlu menyadari bahwa itu melampaui talenta kita.

Kiranya lirik lagu rohani berikut ini bisa mengingatkan kita kembali tentang “siapakah diri kita sebenarnya”.. :
“Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji matamu.. dengan apakah kubalas Tuhan, selain puji dan sembah Kau..”

Ketika kita sedang diberkati Tuhan, kita harus ingat untuk membalas kebaikan Tuhan. Apa yang kita terima seringkali melampaui apa yang sebenarnya layak kita terima. Janganlah kita berpikiran terlalu tinggi tentang kesuksesan kita, sadarlah akan siapa diri kita sebenarnya karena semua itu hanyalah anugerah Tuhan semata sehingga kita ada sebagaimana kita ada saat ini.

3. Pikirkan yang benar tentang persoalan kita.
Orang tidak bisa bersyukur karena berpikir salah tentang persoalannya.
Yakobus 1, 2-3: “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”

Kalau kita memiliki pikiran yang benar tentang persoalan kita, maka masalah atau persoalan yang kita hadapi akan menghasilkan ketekunan. Jadi ada sesuatu yang baik terjadi ketika kita menghadapi masalah/problem yang datang dalam hidup kita. Ada berkat di balik setiap masalah kita. Kita bisa bersyukur bukan karena terpaksa/dipaksa, tetapi kita bisa bersyukur dengan sungguh-sungguh bahwa di balik setiap persoalan kita ada berkat. Selama kita hidup di dunia ini pasti akan menemukan masalah.

Melalui masalah yang kita temui, kita bisa semakin dekat pada Tuhan. Ada berkat, mukjizat dan kuasa Tuhan bisa kita saksikan melalui masalah yang kita hadapi. Firman Tuhan lebih dahsyat dari apapun juga di dunia ini karena Tuhan Yesus tidak berubah, dulu sekarang sampai selama-lamanya. Ia ada dimanapun dan kapanpun untuk menjamah kita. Tuhan tidak pernah mengijinkan persoalan atau masalah di luar dari perkiraan kita. Setiap masalah yang Tuhan ijinkan masuk dalam kehidupan kita tidak akan melampaui kekuatan kita, tidak ada kesulitan hidup yang melampaui kekuatan kita bila kita percaya dan senantiasa bersandar pada-Nya. Masalah kita adalah hal yang biasa, tapi Yesus adalah Tuhan yang luar biasa. Oleh karenanya janganlah kita sibuk mengasihani diri kita sendiri. Karena tidak ada masalah yang terjadi dalam hidup kita tanpa seijin Tuhan. Kalau Tuhan anggap hal itu baik, maka terjadilah dalam hidup kita.

Ada beberapa hal yang menyebabkan orang menangis:
• Menangis karena bersyukur atas kebaikan Tuhan/hancur hati/pertobatan
• Menangis karena mengasihani diri sendiri
Kebanyakan orang menangis karena mengasihani diri sendiri. Berhentilah seperti itu. Serahkanlah segala masalah kita pada Tuhan dan percayalah bahwa ada jalan keluar yang Tuhan sediakan untuk kita masing-masing.

1 Tesalonika 5, 18: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Kesimpulan
Kita bisa senantiasa bersyukur kepada Tuhan atas apapun yang terjadi dalam hidup kita, walaupun sedang di dalam problem sekalipun, bila kita melakukan 3 hal di atas, yaitu:
1. Pikirkan yang benar tentang Allah.
2. Pikirkan yang benar tentang diri kita.
3. Pikirkan yang benar tentang persoalan kita.

Pengkhotbah: Pdt. Josia Abdisaputera
(Diringkas oleh: Kresentia) - www.nafiriallah.org

--

Surga dan Neraka Adalah Suatu Tempat
Thursday, 12 November 2009 06:16
‘Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. (2) Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (3) Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. (4) Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.’ (5) Kata Tomas kepadaNya: ‘Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?’ (6) Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”.


I. Kegelisahan hati murid-murid
1) Mengapa murid-murid gelisah?
Kata-kata Yesus dalam ay 1 menunjukkan bahwa murid-murid memang gelisah. Mengapa mereka gelisah? Karena perkataan Yesus dalam pasal sebelumnya, yang mengatakan bahwa Ia akan meninggalkan mereka.

Yoh 13:31-33,36 - “(31) Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: ‘Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. (32) Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diriNya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. (33) Hai anak-anakKu, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu. ... (36) Simon Petrus berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, ke manakah Engkau pergi?’ Jawab Yesus: ‘Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.”.

Juga mungkin karena kata-kata Yesus sebelum ini, yaitu dalam Yoh 13:21 - “Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.’”.

Ingat bahwa mereka masih tetap mempunyai pengertian Yahudi tentang Mesias, yaitu bahwa Mesias itu akan memimpin mereka untuk mengalahkan Romawi. Sekarang, dengan adanya kata-kata Yesus di atas, mereka sangat bingung dan kecewa. Mereka sudah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus, dan sekarang Yesus akan meninggalkan mereka.

2) Apapun alasannya, Yesus melarang mereka untuk terus gelisah.
Ay 1a: ‘Janganlah gelisah hatimu’.
Baik Hendriksen maupun Leon Morris mengatakan bahwa maksud dari ay 1a bukanlah: ‘janganlah mulai menjadi gelisah’, tetapi ‘berhentilah gelisah’, atau ‘janganlah gelisah terus’.

William Barclay: “In a very short time life for the disciples was going to fall in. Their world was going to collapse in chaos around them. At such a time there was only one thing to do - stubbornly to hold on to trust in God. ... There comes a time when we have to believe where we cannot prove and to accept where we cannot understand. If, in the darkest hour, we believe that somehow there is a purpose in life and that that purpose is love, even the unbearable becomes bearable and even in the darkness there is a glimmer of light” (= Sebentar lagi hidup untuk para murid akan runtuh. Dunia mereka akan runtuh dalam kekacauan di sekitar mereka. Pada saat seperti itu hanya ada satu hal yang harus dilakukan - secara bandel terus percaya kepada Allah. ... Akan datang saat dimana kita harus percaya pada saat kita tidak bisa membuktikan, dan menerima pada saat kita tidak bisa mengerti. Jika, pada saat yang paling gelap, kita percaya bahwa bagaimanapun juga
ada suatu tujuan / rencana dalam hidup dan bahwa tujuan / rencana itu adalah kasih, bahkan hal-hal yang tak tertahankan menjadi tertahankan, dan bahkan dalam kegelapan ada cahaya yang redup / berkelap-kelip) - hal 152-153.

3) Beda kegelisahan dalam diri Yesus dan dalam diri kita / para murid.
Yesus sendiri pernah mengalami kegelisahan / kekacauan hati, dan itu dinyatakan dalam Yoh 11:33 12:27 13:21, dimana kata Yunani yang digunakan adalah kata Yunani yang sama seperti dalam Yoh 14:1 ini. Lalu mengapa Ia melarang para murid untuk gelisah, padahal Ia sendiri gelisah? Apakah Ia berdosa dengan merasa gelisah?

Matthew Poole: “Our Saviour himself was troubled, but not sinfully; his trouble neither arose from unbelief, nor yet was in undue measure; it was (as one well expresseth it) like the mere agitation of clear water, where was no mud at the bottom: but our trouble is like the stirring of water that hath a great deal of mud at the bottom, which upon the rolling, riseth up, and maketh the whole body of the water in the vessel impure, roiled and muddy” [= Juruselamat kita sendiri gelisah, tetapi tidak dengan cara yang berdosa; kegelisahanNya tidak muncul dari ketidakpercayaan, dan juga tidak dilakukan dalam takaran yang tidak semestinya; itu adalah (seperti seseorang menyatakannya dengan benar / baik) seperti pengadukan terhadap air bersih, dimana tidak ada lumpur di dasarnya: tetapi kegelisahan kita adalah seperti pengadukan terhadap air yang mempunyai banyak lumpur di dasarnya, yang karena pengadukan itu naik ke atas dan membuat seluruh air dalam tempat
itu kotor, keruh dan berlumpur] - hal 353.


II. Apa yang harus mereka lakukan?
1) Percaya / beriman.
Ay 1: “percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu”.

a) Terjemahan bagian ini.
Kedua kata ‘percayalah’ dalam ay 1b ini, dalam bahasa Yunaninya bisa diterjemahkan sebagai indicative / pernyataan (‘Kamu percaya kepada Allah / Aku’) atau imperative / perintah (‘Percayalah kepada Allah / Aku’).
KJV menterjemahkan yang pertama sebagai pernyataan, dan yang kedua sebagai perintah.
KJV: ‘ye believe in God, believe also in me’ (= engkau percaya kepada Allah, percayalah juga kepadaKu).
Calvin memilih terjemahan ini, tetapi hampir semua penafsir mengatakan bahwa keduanya harus dalam imperative / perintah, seperti dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia, RSV, NIV, NASB.
RSV: ‘believe in God, believe also in me’ (= percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu).
NIV/NASB seperti RSV, tetapi NIV menggunakan kata ‘trust’ bukan ‘believe’.

Mungkin penterjemah KJV dan Calvin berpikir bahwa para murid itu tentu sudah percaya kepada Allah, dan sekarang Yesus menyuruh mereka juga percaya kepadaNya. Tetapi dalam Mark 11:22 murid-murid juga diperintahkan oleh Yesus untuk percaya kepada Allah (yang ini pasti adalah perintah). Jadi kalau dalam Yoh 14:1b ini bagian pertama juga diterjemahkan sebagai imperative / perintah, itu bisa dipertanggung-jawabkan.

b) Kita harus percaya kepada Allah dan kepada Kristus.
(i) Tidak ada orang bisa beriman kepada salah satu saja! Pulpit Commentary: “Such is the relationship between God and Christ that faith in one involves faith in both. Whether faith begins from the human or Divine side, it will find itself embracing the Father and Son, or neither. Thus, when Christ appeared in our world, those who had genuine faith in God readily believe in him, and those who had not rejected him. Faith in the visible and incarnate Son was a test of faith in the invisible and eternal Father” (= Begitulah hubungan antara Allah dan Kristus sehingga iman kepada yang satu melibatkan / menyebabkan iman kepada keduanya. Apakah iman mulai dari sisi manusia atau ilahi, iman itu akan mendapati dirinya mencakup Bapa dan Anak, atau tidak kedua-duanya. Demikianlah, ketika Kristus muncul dalam dunia kita, mereka yang mempunyai iman yang sejati kepada Allah dengan rela / mudah percaya kepadaNya, dan mereka yang tidak mempunyai iman yang sejati menolakNya. Iman kepada Anak yang telah berinkarnasi dan yang kelihatan merupakan ujian iman kepada Bapa yang tak kelihatan dan kekal) - hal 249.

Matthew Henry: “Those that rightly believe in God will believe in Jesus Christ” (= Mereka yang percaya kepada Allah dengan benar akan percaya kepada Yesus Kristus).

(ii) Ini membuktikan bahwa Yesus adalah Allah.
Kitab Suci melarang kita untuk percaya kepada manusia, tetapi menyuruh kita percaya hanya kepada Allah (bdk. Yes 31:1 Yer 17:5-8). Bahwa di sini Yesus menyuruh murid-muridNya percaya kepadaNya, menunjukkan bahwa Ia adalah Allah.

Lenski: “The two ‘believe’ are used in the same sense, demanding the same trust in Jesus as God. Both are equally trustworthy, and the ground for this is the deity of Jesus, 10:30; 14:9; Matt. 16:16 ” (= Kedua kata ‘percayalah’ itu digunakan dalam arti yang sama, menuntut kepercayaan kepada Yesus seperti kepada Allah. Keduanya sama-sama layak dipercaya, dan dasar dari hal ini adalah keilahian Yesus, 10:30; 14:9; Mat 16:16) - hal 969.

Thomas Whitelaw: “A mere man (if a good man) would never have connected his name with God’s as Christ here does. Moses never said, ‘Believe in God and believe in me.’” [= Seseorang yang semata-mata adalah manusia (jika ia adalah orang yang baik) tidak akan pernah menghubungkan namanya dengan nama Allah seperti yang Kristus lakukan di sini. Musa tidak pernah berkata: ‘Percayalah kepada Allah dan percayalah kepadaku.’] - hal 302.

(iii). Iman adalah obat kegelisahan.
Matthew Henry: “believing in God through Jesus Christ is an excellent means of keeping trouble from the heart. The joy of faith is the best remedy against the griefs of sense” (= percaya kepada Allah melalui Yesus Kristus merupakan cara yang sangat baik untuk menjauhkan kegelisahan dari hati. Sukacita dari iman merupakan obat yang terbaik terhadap perasaan sedih).

c) Baik dalam ay 1a (janganlah gelisah) maupun ay 1b (percayalah), digunakan present imperative (= kata perintah bentuk present), yang menunjukkan bahwa Ia menghendaki supaya perintah ini ditaati terus menerus.

2) Berpikir tentang surga.
a) Iman / kepercayaan kepada Allah dan Yesus itu dihubungkan dengan kekekalan / kehidupan setelah kematian.
Ay 2-3: “(2) Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (3) Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada”.

Matthew Henry: “what must they trust God and Christ for? Trust them for a happiness to come when this body and this world shall be no more, and for a happiness to last as long as the immortal soul and the eternal world shall last” (= untuk apa mereka harus mempercayai Allah dan Kristus? Mempercayai Mereka untuk suatu kebahagiaan yang akan datang pada saat tubuh ini dan dunia ini tidak ada lagi, dan untuk suatu kebahagiaan yang berlangsung selama jiwa yang kekal / tidak bisa mati dan dunia yang kekal tetap ada).

Bdk. 1Kor 15:19 - “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia”.

Penerapan: apakah saudara mempercayai Allah dan Kristus hanya untuk hidup yang sekarang ini? Atau untuk kehidupan yang akan datang?

b) Banyak tempat tinggal di surga.
1. Ay 2a: ‘Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal’.
(i). Kata-kata ‘rumah BapaKu’ jelas menunjuk pada ‘surga’. Jadi, surga digambarkan sebagai ‘rumah’.
Bdk. 2Kor 5:1 - “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia”.
KJV: ‘For we know that if our earthly house of this tabernacle were dissolved, we have a building of God, an house not made with hands, eternal in the heavens’ (= Karena kami tahu bahwa jika rumah dari kemah di bumi ini dihancurkan, kita mempunyai sebuah bangunan dari Allah, suatu rumah yang tidak dibuat dengan tangan, kekal di surga).

(ii). Yesus mengatakan bahwa di surga itu ada ‘banyak tempat tinggal’.
Adaorang-orang yang memberikan arti yang sesat untuk kata-kata ‘banyak tempat tinggal’ ini, dan mengartikannya bahwa ini menunjuk pada adanya banyak tempat untuk orang-orang dari bermacam-macam kepercayaan dan agama.
Lenski: “The word ‘many’ is misapplied when it is referred to men of all kinds of opinions, convictions, faiths, and the like; for only true believers may enter” (= Kata ‘banyak’ diterapkan secara salah pada waktu itu dihubungkan dengan orang-orang dari segala jenis pandangan, keyakinan, iman, dan sebagainya; karena hanya orang-orang percaya yang sejati yang bisa masuk) - hal 971.
JC. Ryle: “The modern idea of some divines, that our Lord meant that heaven was a place for all sorts of creeds and religions, seems utterly unwarranted by the text. From the whole context He is evidently speaking for the special comfort of Christians” (= Kepercayaan modern dari beberapa ahli theologia, bahwa Tuhan kita memaksudkan bahwa surga adalah suatu tempat untuk semua jenis pengakuan dan agama, kelihatannya sama sekali tidak bisa dipertanggung-jawabkan oleh text ini. Dari seluruh kontext Ia jelas sedang berbicara tentang penghiburan khusus bagi orang-orang Kristen) - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 62.

Catatan: Yoh. 14:6 lebih-lebih membuang kemungkinan penafsiran sesat ini. Yoh. 14:6 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”.

- Ada juga yang memberi arti yang salah untuk kata-kata ‘banyak tempat tinggal’ dengan mengatakan bahwa kata-kata ini menunjuk pada adanya perbedaan tingkat kemuliaan di surga (Clarke). Sekalipun di surga memang ada perbedaan tingkat kemuliaan, tetapi dasar untuk hal itu harus diambil dari ayat-ayat lain, karena kata-kata di sini jelas tidak menunjuk pada arti tersebut.

- Arti yang benar: ‘banyak tempat tinggal’ menunjuk pada cukupnya tempat di surga bagi semua orang percaya. Calvin dan kebanyakan penafsir lain mengatakan bahwa kata-kata ini hanya menunjukkan bahwa tempat di surga itu cukup bagi semua.

Penerapan:
* Karena itu, janganlah saudara tidak memberitakan Injil, dengan pemikiran bahwa kalau terlalu banyak orang yang percaya kepada Yesus, nanti kita akan berdesak-desakan di sorga! Kalau saudara banyak memberitakan Injil dan menghasilkan banyak jiwa, paling-paling kita akan berdesak-desakan di gereja, tetapi tidak di surga!
* Alangkah berbedanya ajaran ini dengan theologia dari Saksi-Saksi Yehuwa! Mereka berkata bahwa yang masuk surga hanya 144.000 orang, dan pada sekitar tahun 1931, pada waktu jumlah mereka melampaui 144.000 itu mereka lalu ‘menciptakan’ tempat baru, yaitu Firdaus, yang mereka katakan sebagai bumi yang akan disempurnakan nanti. Jadi, yang tidak kebagian tempat di surga, akan dimasukkan ke Firdaus ini!

c. Tempat tinggal di surga itu merupakan tempat tinggal yang permanen.
Kata ‘tempat tinggal’ dalam KJV adalah ‘mansions’, dan dalam bahasa Yunani adalah MONAI (bentuk jamak). Matthew Henry mengatakan bahwa kata MONAI berasal dari kata MANEO, dan berarti tempat tinggal yang kekal. Jadi, kita tidak tinggal di sana hanya untuk sementara tetapi untuk selama-lamanya. Di dunia ini kita tinggal seperti di penginapan / hotel, tetapi di surga kita mendapat tempat tinggal yang tetap.

Pulpit Commentary: “The settled life is thought of rather than the wandering one. Jesus knew full well what a wandering life his disciples would have, going into strange and distant countries. They would have to travel as he himself had never travelled. The more they apprehended the work to which they had been called, the more they would feel bound to go from land to land, preaching the gospel while life lasted. To men thus constantly on the move, the promise of a true resting-place was just the promise they needed” (= Yang dipikirkan adalah hidup yang menetap dan bukannya hidup yang mengembara. Yesus tahu sepenuhnya kehidupan mengembara yang bagaimana yang akan dijalani oleh para muridNya, pergi ke negara yang asing dan jauh. Mereka akan pergi ke tempat dimana Ia sendiri tidak pernah pergi. Makin mereka memahami pekerjaan kemana mereka dipanggil, makin mereka akan merasa bahwa mereka harus pergi dari satu tempat ke tempat lain, memberitakan Injil
sementara mereka masih hidup. Bagi orang-orang yang terus bergerak seperti itu, janji tentang tempat istirahat yang sejati adalah janji yang mereka butuhkan) - hal 260.

d. Semua ini menunjukkan bahwa surga adalah suatu tempat / lokasi, bukan sekedar suatu kondisi.
Dalam ay 2-3 versi Kitab Suci Indonesia, kata ‘tempat’ muncul 5 x, dan ini menunjukkan bahwa surga betul-betul merupakan suatu tempat. Konsekwensinya, neraka juga pasti merupakan suatu tempat. Bdk. Wah 20:10 - “dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya”.
Mengatakan bahwa surga dan neraka bukanlah ‘suatu lokasi’ tetapi hanya ‘suatu kondisi’ menunjukkan suatu kebodohan dan sikap tidak peduli pada Kitab Suci!

Pulpit Commentary: “Heaven is a definite locality. Jesus is there in his glorified body” (= Surga adalah suatu tempat tertentu. Yesus ada di sana dalam tubuhNya yang telah dimuliakan) - hal 232.

Tentang ‘ascension’ / ‘kenaikan Kristus ke surga’, Charles Hodge berkata sebagai berikut: “It was a local transfer of his person from one place to another; from earth to heaven. Heaven is therefore a place” (= Itu merupakan perpindahan tempat dari pribadiNya dari satu tempat ke tempat lain; dari bumi ke surga. Karena itu, surga adalah suatu tempat) - ‘Systematic Theology’, Vol II, hal 630.

Herman Hoeksema: “Heaven is a definite place, and not merely a condition” (= Surga adalah tempat yang tertentu, dan bukan semata-mata merupakan suatu kondisi / keadaan) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 422.

Catatan: kalau saudara masih belum yakin bahwa surga dan neraka merupakan suatu tempat, dan menginginkan lebih banyak dasar Kitab Suci untuk hal itu, bacalah ayat-ayat ini: Ul 26:15 1Raja 8:30,39,43,49 2Taw 6:21,30,33,39 2Taw 30:27 Ayub 16:19 Ayub 23:3 Ayub 25:2 Ayub 31:2 Ayub 36:29 Maz 33:14 Maz 68:19 Maz 93:4 Maz 92:9 Maz 113:5 Maz 144:7 Maz 148:1 Maz 150:1 Amsal 21:16 Yes 7:11 Yes 26:21 Yes 30:27 Yes 33:5 Yes 57:15 Yes 58:4 Yer 25:30 Mikha 1:3 Mikha 6:6 Zakh 2:13 Mat 5:19 Mat 25:46 Mark 9:44,46 Luk 2:14 Luk 16:28 Luk 19:38 Luk 24:49 Yoh 6:62 Yoh 7:34,36 Yoh 8:21-22 Yoh 13:33,36 2Kor 5:1-2 Ef 2:6 Ef 4:8 Ibr 1:3 Ibr 3:18 Ibr 4:3,5,6,10 Ibr 8:2 Ibr 9:12,24 2Pet 2:17 Yudas 13.

3) Mengetahui dan memikirkan tentang tujuan kepergian Yesus.
Barnes’ Notes: “‘I go to prepare a place for you.’ By his going is meant his death and ascent to heaven” (= ‘Aku pergi untuk menyediakan suatu tempat bagimu’. Dengan kepergianNya dimaksudkan kematianNya dan kenaikanNya ke surga).

Matthew Henry: “Believe and consider that the design of Christ’s going away was to prepare a place in heaven for his disciples. ‘You are grieved to think of my going away, whereas I go on your errand, as the forerunner; I am to enter for you.’” (= Percayalah dan pertimbangkanlah bahwa tujuan kepergian Kristus adalah untuk mempersiapkan suatu tempat di surga bagi murid-muridNya. ‘Kamu sedih memikirkan kepergianKu, padahal Aku pergi untuk keperluanmu, sebagai pendahulumu; Aku masuk bagi / demi kamu’).

Matthew Poole: “the place was prepared of old; those who shall be saved, were of old ordained unto life. That kingdom was prepared for them before the foundation of the world; that is, in the counsels and immutable purpose of God. These mansions for believers in heaven were to be sprinkled with blood: the sprinkling of the tabernacle, and all the vessels of the ministry, were typical of it; but the heavenly things themselves with better sacrifices than these, saith the apostle, Heb. 9:21,23” (= tempat ini disiapkan sejak dulu; mereka yang akan diselamatkan, sudah sejak dulu ditentukan untuk hidup. Kerajaan itu disiapkan untuk mereka sebelum dunia dijadikan; yaitu, dalam rencana Allah yang kekal. Tempat tinggal - tempat tinggal untuk orang-orang percaya di surga ini harus diperciki dengan darah: pemercikan terhadap kemah suci, dan semua alat-alat pelayanan / alat-alat untuk ibadah merupakan TYPE dari itu; tetapi hal-hal / benda-benda surgawi itu
sendiri dengan persembahan / korban yang lebih baik dari ini, kata sang rasul, Ibr 9:21,23) - hal 353.

Matthew Henry: “Heaven would be an unready place for a Christian if Christ were not there. He went to prepare a table for them, to prepare thrones for them, Lu. 22:30” (= Surga akan merupakan suatu tempat yang tidak siap bagi seorang Kristen seandainya Kristus tidak di sana. Ia pergi untuk mempersiapkan suatu meja bagi mereka, untuk mempersapkan takhta-takhta bagi mereka, Luk 22:30).
Luk 22:30 - “bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam KerajaanKu dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel”.

4) Mengetahui bahwa Yesus akan kembali untuk membawa mereka ke surga.
a) Ay 3b: ‘Aku akan datang kembali’.
Calvin: Ini tidak menunjuk pada turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta, tetapi menunjuk pada kedatangan Kristus yang keduakalinya.
Calvin: “This place is said to be prepared for the day of the resurrection” (= Dikatakan bahwa tempat ini disiapkan untuk hari kebangkitan) - hal 82.
Hendriksen mempunyai pandangan yang sama dengan Calvin, tetapi Pulpit Commentary mengatakan bahwa ini tidak menunjuk pada Pentakosta, pertobatan, maupun hari penghakiman, tetapi menunjuk pada kematian setiap murid (hal 232).
Ada juga orang yang menggabungkan kedua pandangan di atas.
Thomas Whitelaw: “first at the death of the believer ... and finally at the last day” (= Pertama-tama pada saat kematian orang percaya ... dan akhirnya pada hari terakhir) - hal 303.

Saya lebih setuju dengan pandangan Calvin dan William Hendriksen. Tetapi bukankah orang percaya sudah masuk surga pada saat mati? Ya, tetapi itu hanya jiwa / rohnya saja, tubuhnya belum. Jadi, seluruh orang itu baru betul-betul bersama-sama dengan Kristus di surga pada saat Kristus datang kembali, karena pada saat itu tubuh dibangkitkan dan dipersatukan kembali dengan jiwa / rohnya, dan masuk ke surga secara utuh.

b) Ay 3c: ‘membawa kamu ke tempatKu’. Ini salah terjemahan.
NASB: ‘receive you to Myself’ (= menerimamu kepadaKu sendiri).
NIV: ‘take you to be with me’ (= membawamu untuk bersamaKu).
RSV: ‘take you to myself’ (= membawamu kepadaKu sendiri).
KJV: ‘receive you unto myself’ (= menerimamu kepadaKu sendiri).
Hendriksen: ‘I will take you to be face to face with me’ (= Aku akan membawamu untuk berhadapan muka dengan Aku ).
Terjemahan Hendriksen ini merupakan terjemahan hurufiah, karena di sini digunakan kata Yunani PROS, yang juga digunakan dalam Yoh 1:1 dan 1Yoh 1:2 (diterjemahkan ‘bersama-sama dengan’).
Ini masih disambung lagi dengan ay 3d: ‘supaya di tempat dimana Aku berada, kamupun berada’.
Bandingkan ini dengan Yoh 17:24 - “Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu, agar mereka memandang kemuliaanKu yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan”.

Lenski: “His departure is not a permanent separation but a necessary step for a glorious and eternal reunion” (= KepergianNya bukanlah merupakan suatu perpisahan yang permanen tetapi merupakan suatu langkah yang perlu untuk suatu reuni yang mulia dan kekal) - hal 972-973.

JC. Ryle: “Let us note that one of the simplest, plainest ideas of heaven is here. It is being ‘ever with the Lord.’ Whatever else we see or do not see in heaven, we shall see Christ. Whatever kind of a place, it is a place where Christ is. (Phil 1:23; 1Thess. 4:17)” [= Hendaklah kita perhatikan bahwa salah satu dari gagasan-gagasan yang paling sederhana dan jelas tentang surga ada di sini. Itu adalah ‘selalu ada bersama Tuhan’. Apapun yang lain yang kita lihat atau tidak kita lihat di surga, kita akan melihat Kristus. Tempat apapun itu adanya, yang jelas itu merupakan tempat dimana Kristus ada. (Fil 1:23; 1Tes 4:17)] - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 63.

William Hendriksen: “So wonderful is Christ’s love for his own that he is not satisfied with the idea of merely bringing them to heaven. He must needs take them into his own embrace” (= Begitu ajaibnya kasih Kristus untuk milikNya sehingga Ia tidak puas dengan gagasan tentang sekedar membawa mereka ke surga. Ia harus membawa mereka ke dalam pelukanNya sendiri) - hal 265-266.

John G. Mitchell: “the important thing is not heaven. The important thing is being with Him” (= hal yang penting bukanlah surga. Hal yang penting adalah bersama dengan Dia) - hal 268.

Penerapan: Tuhan mementingkan persekutuan / kebersamaan dengan saudara yang adalah orang percaya. Apakah saudara juga mementingkan persekutuan dengan Tuhan?
· Apakah saudara menganggap mati sebagai suatu keuntungan (bdk. Fil 1:21) karena dengan demikian saudara akan masuk surga atau karena saudara akan bersama dengan Kristus (bdk. Fil 1:23 - ‘aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus’)?
· Apakah dalam berbakti saudara hanya ‘pergi ke gereja’ atau ‘bersekutu dengan Tuhan’?
· Pada waktu bersaat teduh, apakah saudara melakukan sekedar sebagai tradisi, atau karena ingin bersekutu dengan Tuhan?
· Apakah pada waktu berdoa saudara hanya sekedar ‘meminta sesuatu / meminta terhindar dari sesuatu’ atau ‘ingin bersekutu dengan Tuhan’?

5) Kepergian Yesus ke surga menjamin bahwa kita yang percaya juga akan masuk ke surga.
Ay 3 yang menunjukkan bahwa Yesus pergi (termasuk pergi ke surga) untuk menyiapkan tempat tinggal bagi kita ini, harus dibandingkan dengan Ibr 6:20, dimana Yesus disebut sebagai ‘Perintis’.
Ibr 6:20 - “di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya”.
KJV/RSV/NASB: ‘forerunner’ (= pendahulu / pelopor / perintis).
Kata Yunaninya adalah PRODROMOS, dan hanya muncul 1 x dalam Perjanjian Baru.

William Barclay: “There are two uses of this word which light up the picture within it. In the Roman army the prodromoi were the reconnaissance troops. They went ahead of the main body of the army to blaze the trail and to ensure that it was safe for the rest of the troops to follow. The harbour of Alexandria was very difficult to approach. When the great corn ships came into it a little pilot boat was sent out to guide them along the channel into safe waters. That pilot boat was called the prodromos. It went first to make it safe for others to follow. That is what Jesus did. He blazed the way to heaven and to God that we might follow in his steps” (= Ada 2 penggunaan dari kata ini yang menjelaskan hal ini. Dalam tentara Romawi PRODROMOI adalah pasukan pengintaian. Mereka berjalan di depan pasukan utama dari tentara itu untuk membuka jalan dan memastikan keamanan dari sisa pasukan untuk mengikuti mereka. Pelabuhan Alexandria adalah tempat yang sukar didekati. Pada saat kapal jagung / gandum yang besar datang kepadanya, sebuah perahu pembimbing yang kecil dikeluarkan untuk memimpin mereka di sepanjang jalan kepada air / tempat yang aman. Perahu pembimbing itu disebut PRODROMOS. Perahu itu berangkat dulu untuk membuat yang lain bisa mengikutinya dengan aman. Itulah yang Yesus lakukan. Ia membuka jalan ke surga dan kepada Allah sehingga kita mengikuti langkah-langkahNya) - hal 155.
Catatan: prodromoi adalah bentuk jamak dari prodromos.

Calvin: “By these words Christ intimates that the design of his departure is, to prepare a place for his disciples. In a word, Christ did not ascend to heaven in a private capacity, to dwell there alone, but rather that it might be the common inheritance of all the godly, and that in this way the Head might be united to his members”(= Dengan kata-kata ini Kristus menunjukkan bahwa tujuan dari kepergianNya adalah untuk mempersiapkan suatu tempat bagi murid-muridNya. Dengan kata lain, Kristus tidak naik ke surga dalam kapasitas pribadi, untuk tinggal di sana sendirian, tetapi supaya surga itu bisa menjadi warisan umum bagi semua orang saleh, dan supaya dengan cara / jalan ini sang Kepala bisa dipersatukan dengan anggota-anggotaNya).

Pdt. Budi Asali M.Div
E-mail: budi_golgota_asali@yahoo.co.ukThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Yohanes 14:1-6 (1)

--

Perumpamaan Gadis Bijaksana dan Bodoh
Tuesday, 10 November 2009 10:57
Injil Matius banyak membahas tentang tema Kerajaan Sorga, suatu pokok yang terus dibicarakan oleh Yesus sepanjang masa pelayananNya di bumi. Demikian pula teks yang kita baca hari ini membicarakan tentang Kerajaan Sorga yang dikaitkan dengan akhir zaman (eskatologi). Pembahasan mengenai akhir zaman dimulai sejak pasal yang ke-24 dari Injil Matius.

Nas: Lukas 23:33-43
Perumpamaan ini sendiri didahului dengan 1 perumpamaan (tentang hamba yang setia dan jahat) dan disambung lagi dengan 1 perumpamaan lagi (tentang talenta) dan diakhiri dengan gambaran tentang penghakiman terakhir. Ketiga perumpamaan yang disampaikan ini memiliki tekanan yang semakin memuncak berkenaan dengan kehidupan orang percaya yang dibicarakan secara radikal (radikal maksudnya sampai kepada poros hati yang terdalam, sebagai lawan dari hanya sebatas permukaan).

Pada perumpamaan yang pertama (hamba yang setia dan jahat), Yesus memperingatkan orang-orang yang hidup berbuat jahat, memukul sesamanya, makan minum bersama pemabuk-pemabuk, pendek kata, hidup terus melampiaskan nafsunya sendiri, orang-orang seperti ini akan dihakimi dan akhirnya dibinasakan oleh Tuhan sendiri. Orang-orang ini, sekalipun tidak berlaku munafik dalam kejahatan mereka (mereka terang-terangan melakukannya), namun akan dibuat senasib dengan orang-orang munafik.

Sementara pada perumpamaan ini (gadis bodoh dan bijaksana), hukuman ditimpakan bagi mereka yang ‘hanya’ (pakai tanda kutip karena ‘hanya’ inilah yang membuat mereka binasa!) tidak mempersiapkan diri dengan baik. Mereka tidak mengumbar nafsu dan berlaku jahat seperti pada perumpamaan yang pertama, mereka ‘sekadar’ tidak siap saja, ‘sekadar’ terlambat.

Lalu pada perumpamaan yang ketiga (tentang talenta), hamba yang ketiga ini binasa juga bukan karena berbuat jahat seperti pada perumpamaan yang pertama, atau tidak siap seperti perumpamaan yang kedua (hamba yang ketiga pun telah melakukan perhitungan dan pertimbangan sebelum ia memendam talenta yang dipercayakan kepadanya, tidak seperti lima gadis bodoh yang tidak menghitung minyak mereka), hamba yang ketiga ini sesungguhnya dianggap banyak orang tidak terlalu jahat karena dia toh tidak melakukan apa-apa (doing nothing), namun justru itulah yang akhirnya membinasakan dia.

Firman Tuhan tetap menyebutnya sebagai hamba yang jahat. Kejahatannya adalah karena dia tidak melakukan apa-apa. Dan akhirnya, gambaran tentang penghakiman terakhir mencatat orang-orang yang dibuang dan ditolak karena mereka tidak mengasihi sesamanya. Ada penanjakan di sini dari dosa yang dianggap paling keji sampai kepada dosa yang seringkali dianggap bukan merupakan kejahatan oleh manusia pada umumnya (mengumbar nafsu –tidak siap–tidak melakukan apa-apa– tidak mengasihi sesama), namun di hadapan Tuhan itu tetap merupakan suatu dosa yang harus dihakimi.

Kembali kepada perumpamaan gadis bodoh dan bijaksana. Siapakah gadis-gadis yang digambarkan di sini? Kita tidak mengetahuinya dengan pasti (yang pasti kita tidak dapat memasukkan gambaran perkawinan kontemporer dalam cerita ini), namun ada kemungkinan bahwa gadis-gadis ini adalah hamba dari mempelai laki-laki (panggilan “Tuan” pada ayat 11). Sebagian gadis ini bodoh dan sebagian lagi bijaksana.

Alkitab seringkali membuat kontras antara kedua hal ini dan sekali lagi, bodoh yang dimaksud di sini sama sekali tidak berarti memiliki inteligensia rendah. Firman Tuhan sesungguhnya tidak pernah menghina mereka yang kurang di dalam kecerdasan dalam arti seperti ini dan juga tidak menghormati mereka yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Di hadapan Allah Yang Mahakudus semua orang sama-sama berdosa! Manusia yang suka membanggakan hal-hal yang tidak dihargai oleh firman Tuhan sesungguhnya sedang berlaku bodoh.

Lalu apa yang dimaksud bodoh dan bijaksana di sini? Secara sederhana bodoh adalah sikap yang tidak mau diajar oleh kebenaran firman Tuhan (betapapun tinggi inteligensianya, orang itu tetap adalah bodoh!), sedangkan bijaksana adalah mereka yang mendengar dan melakukan firman Tuhan (betapapun sederhana pemikiran orang tersebut). Dalam konteks bacaan kita hari ini, dalam pengertian yang lebih khusus, bodoh berarti tidak mempersiapkan diri dengan baik, sementara bijaksana berarti bersiap dan berjaga-jaga.

Lalu artinya pelita dan minyak, mengapa di sini dikatakan 5 dan 5, bukan 3 dan 3 atau 10 dan 10? Dalam menafsir perumpamaan, kita tidak boleh menafsir sampai kepada detail-detailnya, karena itu bukanlah tujuan dari perumpamaan. Kebahayaan dari cara penafsiran seperti ini adalah kita akhirnya jatuh dalam penafsiran yang disebut alegoris (penafsiran ini banyak dikembangkan oleh Bapa Gereja seperti Origen, sesungguhnya banyak dipengaruhi oleh cara penafsiran Yunani Kuno dalam menafsir tulisan-tulisan pada zaman itu, dan karena dipengaruhi oleh filsafat Neoplatonisme yang mengajarkan makna spiritual yang lebih dalam).

Kita tidak perlu menafsir bagian ini sampai sedetail-detailnya karena perumpamaan ini pada intinya mengajarkan dua macam orang, yaitu yang bersiap sedia dan yang tidak. Ayat 5 mencatat bahwa mempelai itu lama tidak datang-datang juga (Ing.: delayed). Tuan itu ‘terlambat’. Tuan ini sebenarnya Tuhan yang akan datang kembali bukan? Masakan Tuhan bisa terlambat? Di sinilah kesulitannya, manusia seringkali menilai Tuhan dari cara pandangnya sendiri, termasuk dari kacamata waktu dunia, seolah-olah Tuhan harus datang jam segini, tanggal ini, tahun itu.

Pada kenyataannya, Tuhan tidak dikuasai oleh waktu kita, sebaliknya saat di mana Tuhan datang yang akan mengakhiri waktu kita! Ada seorang profesor yang pernah mengatakan kalimat demikian “Jesus doesn’t have to come on time because He is not in time.” Kalimat ini menyatakan bahwa seringkali kita membelenggu Tuhan dalam pola pemikiran kita yang terbatas, dan yang paling celaka adalah kita pikir itu adalah Tuhan yang sesungguhnya! Allah adalah Allah yang berdaulat, kapan Dia akan datang kembali, itu adalah sepenuhnya berada dalam kehendak kedaulatan-Nya, Dia tidak perlu mencocokkan saat kedatangan-Nya dengan jam dan tanggalan kita.

Namun, secara antropomorfis (istilah ini kurang cocok, lebih baik menggunakan antropokronos, yaitu waktu manusia) Dia memang seolah datang terlambat. Dalam bagian firman Tuhan yang lain kita juga membaca bahwa Yesus memang sengaja datang terlambat (peristiwa Lazarus yang dibangkitkan).

Mengapa Tuhan sengaja mengulur-ulur waktu? Yang pertama, menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan atas waktu, Dia yang menetapkan saat-Nya, bukan kita, bukan mereka yang menunggu. Kedua, ini sekaligus menjadi ujian karena waktu yang ‘tertunda’ itu justru menyatakan sikap manusia yang sesungguhnya. Bukan karena tertunda lalu manusia boleh membenarkan diri untuk tidak mempersiapkan diri. Gadis-gadis itu mulai mengantuk dan akhirnya semuanya tertidur.

Di sini kita melihat tidak ada perbedaan antara anak-anak Tuhan dan anak-anak binasa. Secara fenomenal mereka semua terlihat sama, dan memang to certain extent kita tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya: kita perlu istirahat, tubuh kita bisa sakit, dagang bisa rugi, kita pergi berbelanja, berkeluarga, sama seperti semua orang yang lain. Menjadi Kristen bukan berarti menjadi manusia yang eksentrik, fanatis, dan reduktif (sempit). Namun, sesungguhnya kedua jenis orang yang sama-sama tertidur itu sama sekali berbeda.

Sama, dua orang bisa sama-sama berdagang dan bekerja tapi bagaimana mereka melihat harta bisa sama sekali berlainan, sama-sama berkeluarga tapi cara menempatkan keluarga bisa sangat berbeda, bahkan sama-sama melayani, akan tetapi di dalam arah hati tidak tentu sama. Ketika mempelai itu datang, mereka pun bangun semuanya (tidak ada yang tetap tertidur), semuanya lalu membereskan pelita mereka masing-masing.

Sampai di sini, secara fenomena semua terlihat sama. Akan tetapi ayat 8 dan 9 segera menyatakan keberbedaan mereka. Ternyata gadis-gadis bodoh itu tidak siap untuk menyongsong mempelai laki-laki, pelita mereka hampir padam! Mereka lalu berharap agar gadis-gadis yang membawa persediaan minyak itu untuk membaginya kepada mereka, akan tetapi gadis-gadis bijaksana itu menolak untuk memberikannya. Ini semacam keegoisankah? Pelit? Tidak ada belas kasihan! Tidak punya jiwa pengorbanan?! Hanya memikirkan keselamatan diri sendiri?? Tidak, sama sekali bukan begitu. Pengajaran dari bagian ini adalah setiap orang harus bertanggungjawab secara pribadi di hadapan Tuhan.

Saya tidak bisa melimpahkan tanggung jawab saya untuk menjadi tanggung jawab orang lain. Keselamatan hidup adalah urusan setiap pribadi, bukan urusan kelompok. Tidak ada yang bisa menjamin saya kelak pada akhir zaman, saya harus berdiri seorang diri di hadapan Tuhan. Kesiapan hati orang lain adalah milik orang lain, orang lain memang memiliki tanggung jawab juga atas sesamanya (termasuk mungkin sebagian atas diri saya), akan tetapi ia tidak mungkin dituntut untuk bertanggung jawab atas tanggung jawab saya (sebagaimana diajarkan oleh E. Levinas misalnya).

Selalu mempertanggung jawabkan tanggung jawab orang lain dapat menghancurkan kedewasaan orang yang ‘dibantu’ itu. Lagipula, manusia mana yang dapat bertanggung jawab atas tanggung jawab semua manusia di seluruh dunia? Kita bukan Juruselamat dan Mesias, bahkan Mesias yang sejati pun tidak melakukan hal tersebut (bertanggung jawab atas tanggung jawab orang lain).

Manusia harus belajar dengan segala kerendahan hati untuk mengatakan bahwa ia terbatas. Bahkan sahabat yang terbaik pun juga tetap terbatas. Ia tidak Mahakuasa, hanya Tuhan saja yang dapat menolong setiap orang yang berharap kepada-Nya. Gadis-gadis bodoh itu pergi untuk mempersiapkan minyak mereka yang kurang, dan celakanya, pada saat itulah mempelai datang! Orang-orang seperti itu selalu berpikir masih ada kesempatan untuk bertobat, masih ada waktu untuk berubah, mereka pikir the last minute akan sanggup menyelesaikan persiapan untuk menyongsong Tuan itu.

Mereka adalah orang-orang malas yang tidak mempersiapkan diri, yang begitu sombong dan menilai diri terlalu tinggi yang membawa kepada keyakinan diri sendiri yang begitu naif! Sangkanya mereka masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mempersembahkan diri mereka pada menit-menit terakhir sebelum kematian menjumpai mereka. Yang lebih konyol lagi adalah mereka berpikir bahwa selama ini mereka sudah mengenal Tuan itu, mungkin bahkan hidup bersama-sama, bekerja untuk Tuan itu, namun dalam kenyataannya, Tuan itu menyatakan tidak mengenal mereka semua. Mereka terhilang untuk selama-lamanya.

Sudahkah hatimu dimiliki oleh Yesus? Seberapa penuh? Firman Tuhan tidak memberi tahu kepada kita kapan Tuan itu akan datang kembali, kapan hidup kita akan berakhir. Justru adalah lebih baik bagi kita untuk tidak mengetahuinya. Karena dengan tidak mengetahui saatnya, kita perlu untuk senantiasa berjaga-jaga, mempersiapkan diri untuk menyongsong kedatangan-Nya.

Dia tidak akan datang lagi sebagai bayi kecil, Dia akan datang sebagai Hakim yang akan mengakhiri segala perbuatan manusia di bumi. Marilah pada masa adven ini, menjelang peringatan hari kelahiran Yesus Kristus, kita mempersiapkan diri untuk menyongsong kedatangan-Nya kembali. Para penggubah lagu, di dalam pimpinan Tuhan, memilih untuk mengambil teks yang diinspirasi dari bagian perumpamaan ini untuk menjadikannya sebagai karya yang dinyanyikan pada masa adven.

Bukanlah merupakan suatu kebetulan, bahwa masa adven yang merupakan masa penantian kedatangan Yesus Kristus, sesungguhnya merupakan suatu sikap eskatologis, sikap yang menanti kedatangan-Nya kembali. Sudah siapkah kita? Sleepers, wake! A voice astounds us The shout of rampart guards sourrounds us Awake, Jerusalem, arise! Midnight’s peace their cry has broken Their urgent summons clearly spoken The time has come, O maidens wise! Rise up, and give us light The Bridegroom is in sight Alleluia! Your lamps prepare and hasten there That you the wedding feast may share

“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

Pengkhotbah: Pdt. Billy Kristanto
(Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio)

--

The Secret Of Praise
Wednesday, 25 November 2009 15:12

Pada saat kita memuji Tuhan, kita harus melakukannya dengan penuh ekspresi dan dengan segenap hati kita, karena kita percaya Tuhan hadir di tengah-tengah pujian kita. Memuji Tuhan bila dilakukan dengan segenap hati, dengan penuh rasa syukur, maka ada kuasa Allah hadir di atas puji-pujian kita, sehingga terjadilah mukjizat, pemulihan, kesembuhan, dan segala belenggu iblis dipatahkan.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kolose 3:17)

Tuhan ingin ucapan syukur sebagai jiwa dan kehidupan orang percaya. Jadi apapun yang kita kerjakan, kita lakukan dan kita perkatakan, lakukanlah semuanya itu dengan ucapan syukur. Jadilah orang Kristen yang memiliki gaya hidup yang senantiasa bersyukur. Hal ini memang tidak mudah untuk selalu dilakukan. Tetapi apabila kita berlatih terus-menerus untuk senantiasa mengucap syukur di dalam segala perkara dalam kehidupan kita, masukkan ke dalam hati kita segala ucapan syukur pada-Nya, maka lama-kelamaan kita akan menjadi terbiasa dan akhirnya menjadi gaya hidup kita untuk senantiasa bersyukur atas apapun yang kita alami dalam kehidupan kita.

Alkitab mengatakan bahwa pada akhir jaman dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang tidak bisa bersyukur. Generasi di mana kita hidup saat ini adalah generasi yang tidak tahu berterima kasih. Oleh karena itu kita sebagai umat Kristen harus tampil beda, kita harus tahu bersyukur dan berterima kasih. Bagaimana agar kita bisa menjadi umat Kristen yang selalu bersyukur pada Tuhan:

Filipi 4, 6-8: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginan kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

Ayat 8 di atas adalah ayat emas, yaitu: bagaimana caranya kita menjadi orang yang selalu bersyukur dalam segala keadaan. Sikap hati yang senantiasa bersyukur berawal dari pikiran yang benar. Jadi kuncinya adalah pikiran yang benar.

Kita tidak bisa mengontrol semua keadaan yang terjadi di sekitar kita. Orang yang memiliki kekuasaan yang besar di dunia pun tidak bisa mengontrol keadaan yang terjadi di luar dirinya. Tapi manusia bisa mengontrol yang ada di dalam dirinya, yaitu pikirannya. Kita bisa mengontrol diri kita dengan pertolongan Tuhan dan anugerah Tuhan untuk senantiasa berpikir tentang hal-hal yang benar, sehingga pandangan dan perspektif kita atas semua masalah yang kita alami dan kita temui menjadi benar.

Ada 3 hal besar tentang pikiran yang benar:
1. Pikirkan yang benar tentang Allah.
Ini adalah langkah awal untuk senantiasa bersyukur. Mazmur 118,1 berkata: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Jadi pada saat kita berpikir benar tentang Tuhan, maka sungguh nyata terjadi dalam kehidupan kita bahwa Tuhan itu baik, setia dan tidak pernah meninggalkan kita. Firman Tuhan memberitahukan bahwa Tuhan yang kita percaya adalah Tuhan yang baik dan penuh kasih setia. Bila kita memiliki pikiran yang benar tentang Allah, maka apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita akan tetap bersyukur. Salah satu taktik iblis yang berhasil menjatuhkan Hawa adalah dengan berusaha menyerang pikiran Hawa untuk ragu-ragu akan kebaikan Tuhan.

Kejadian 3, 4-5: Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Iblis berusaha memutar-balikkan fakta dan berusaha untuk membuat kita berpikir bahwa Allah itu jahat. Iblis berusaha menyerang kita melalui pikiran kita, sehingga kita mulai berpikir bahwa jangan-jangan Tuhan tidak baik, misalnya melalui bencana alam, sakit-penyakit, kegagalan dalam bisnis, rumah tangga, dll.

Firman Tuhan berkata “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik.” Jadi jangan sekali-kali kita mendengarkan iblis yang menyerang pikiran kita, karena Tuhan melampaui apapun yang iblis lakukan. Ada satu hal yang merupakan senjata kita untuk melawan iblis yaitu membangun monumen-monumen dan peringatan dalam pikiran kita untuk menangkal iblis.

Mazmur 103, 2: “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" Agar kita tidak melupakan kebaikan Tuhan pada setiap kali iblis menyerang pikiran kita, maka kita perlu membangun monumen-monumen kebaikan Tuhan dalam hidup kita.”

Contoh (kesaksian Pdt. Josia Abdisaputera):
• Pertama kali datang dari Surabaya ke Jakarta, menempuh perjalanan 18 jam dengan kereta api yang mogok berkali-kali. Membawa koper berwarna merah pemberian dari seorang kerabat.
• Mobil pertama diberikan oleh salah seorang jemaat, setelah sebelumnya rutin berkendaraan mikrolet/bis sambil mengantongi dasi untuk memenuhi undangan pelayanan khotbah di berbagai tempat.
• Pembelian gereja baru di Central Park seharga Rp 50 Milyar. Perjalanan panjang dari sebuah gereja kecil di jalan Morotai (tahun 1991), kemudian berkembang menjadi gedung yang lebih besar di Green Ville (tahun 1994), bertambah lagi dengan gedung baru di Prisma Sport Club Kedoya (tahun 2004), dan saat ini bertambah lagi dengan gereja baru yang sedang dibangun di Central Park Podomoro City.

Dengan mengingat semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita, kita dapat bersyukur pada-Nya atas kebaikan-Nya sepanjang hidup kita. Ketika kita mengingat semua kebaikan dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita, maka kita akan menyadari bahwa Tuhan itu baik, bahwa benar untuk selama-lamanya kasih karunia-Nya. Ucapkan melalui mulut kita, katakan bahwa “Tuhan itu baik, bahwasanya untuk selamanya kasih setia-Nya.”

2. Pikirkan yang benar tentang diri kita.
Ada banyak orang yang tidak berpikir benar tentang dirinya sendiri. Memang itu bukanlah hal yang mudah untuk mengubah persepsi kita tentang diri kita sendiri.

Roma 12, 3: “Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

Di satu pihak kita diperintahkan untuk berpikiran yang besar, mimpikan dan cita-citakan hal yang besar, visi yang besar. Tapi perhatikan kebenaran Firman Tuhan di atas ini, bahwa di lain pihak kita diminta untuk “tahu diri”. Berpikir dalam takaran iman. Tuhan ingin kita berpikir dan belajar “tahu diri” dan menerima diri kita. Kita harus tahu siapa diri kita. Memang tidak mudah untuk berpikir tentang siapa diri kita sebenarnya. Ada dua ekstrem yang biasanya terjadi:
• Over estimate: Sombong/angkuh, misal : lulusan luar negeri yang menolak gaji kecil, akhirnya menjadi pengangguran.
• Under estimate: Minder/rendah diri/tidak percaya diri , misal : pada saat berdoa menggambarkan diri sendiri sebagai cacing-cacing kecil. Padahal Tuhan sudah berfirman bahwa kita adalah terang dunia.

Tuhan ingin kita berpikiran yang benar. Setiap diri kita memiliki kadar kasih karunia masing-masing. Oleh karena itu, pada saat kita sedang berada dalam posisi di atas/sukses dalam hidup ini, kita perlu mengingat kebaikan Tuhan agar tidak menjadi sombong. Ketika kita mengalami kebaikan Tuhan yang luar biasa, kita perlu menyadari bahwa itu melampaui talenta kita.

Kiranya lirik lagu rohani berikut ini bisa mengingatkan kita kembali tentang “siapakah diri kita sebenarnya”.. :
“Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji matamu.. dengan apakah kubalas Tuhan, selain puji dan sembah Kau..”

Ketika kita sedang diberkati Tuhan, kita harus ingat untuk membalas kebaikan Tuhan. Apa yang kita terima seringkali melampaui apa yang sebenarnya layak kita terima. Janganlah kita berpikiran terlalu tinggi tentang kesuksesan kita, sadarlah akan siapa diri kita sebenarnya karena semua itu hanyalah anugerah Tuhan semata sehingga kita ada sebagaimana kita ada saat ini.

3. Pikirkan yang benar tentang persoalan kita.
Orang tidak bisa bersyukur karena berpikir salah tentang persoalannya.
Yakobus 1, 2-3: “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”

Kalau kita memiliki pikiran yang benar tentang persoalan kita, maka masalah atau persoalan yang kita hadapi akan menghasilkan ketekunan. Jadi ada sesuatu yang baik terjadi ketika kita menghadapi masalah/problem yang datang dalam hidup kita. Ada berkat di balik setiap masalah kita. Kita bisa bersyukur bukan karena terpaksa/dipaksa, tetapi kita bisa bersyukur dengan sungguh-sungguh bahwa di balik setiap persoalan kita ada berkat. Selama kita hidup di dunia ini pasti akan menemukan masalah.

Melalui masalah yang kita temui, kita bisa semakin dekat pada Tuhan. Ada berkat, mukjizat dan kuasa Tuhan bisa kita saksikan melalui masalah yang kita hadapi. Firman Tuhan lebih dahsyat dari apapun juga di dunia ini karena Tuhan Yesus tidak berubah, dulu sekarang sampai selama-lamanya. Ia ada dimanapun dan kapanpun untuk menjamah kita. Tuhan tidak pernah mengijinkan persoalan atau masalah di luar dari perkiraan kita. Setiap masalah yang Tuhan ijinkan masuk dalam kehidupan kita tidak akan melampaui kekuatan kita, tidak ada kesulitan hidup yang melampaui kekuatan kita bila kita percaya dan senantiasa bersandar pada-Nya. Masalah kita adalah hal yang biasa, tapi Yesus adalah Tuhan yang luar biasa. Oleh karenanya janganlah kita sibuk mengasihani diri kita sendiri. Karena tidak ada masalah yang terjadi dalam hidup kita tanpa seijin Tuhan. Kalau Tuhan anggap hal itu baik, maka terjadilah dalam hidup kita.

Ada beberapa hal yang menyebabkan orang menangis:
• Menangis karena bersyukur atas kebaikan Tuhan/hancur hati/pertobatan
• Menangis karena mengasihani diri sendiri
Kebanyakan orang menangis karena mengasihani diri sendiri. Berhentilah seperti itu. Serahkanlah segala masalah kita pada Tuhan dan percayalah bahwa ada jalan keluar yang Tuhan sediakan untuk kita masing-masing.

1 Tesalonika 5, 18: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Kesimpulan
Kita bisa senantiasa bersyukur kepada Tuhan atas apapun yang terjadi dalam hidup kita, walaupun sedang di dalam problem sekalipun, bila kita melakukan 3 hal di atas, yaitu:
1. Pikirkan yang benar tentang Allah.
2. Pikirkan yang benar tentang diri kita.
3. Pikirkan yang benar tentang persoalan kita.

Pengkhotbah: Pdt. Josia Abdisaputera
(Diringkas oleh: Kresentia) - www.nafiriallah.org

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar