Jumat, 09 April 2010

AJARAN SESAT?




Dalam sebulan terakhir ini YBA menerima beberapa pertanyaan yang mempersoalkan beberapa ajaran di kalangan Kristen yang cenderung berarah kepada penyesatan seperti ajaran 'Toronto Blessing' yang mengajarkan mujizat 'gigi emas' atau soal 'Benny Hinn' yang katanya bertobat dan menyesali ajarannya semula. Berikut diskusi mengenai pertanyaan/tanggapan yang masuk:

1. Saya mengamati bahwa ajaran 'Toronto Blessing' yang begitu menggebu-gebu di tahun 1995-1996 sekarang kok kelihatannya sudah tidak lagi dipraktekkan orang. Apakah saya bisa mengatakan bahwa ajaran tersebut sesat? (Tansen, Bandung)

Bahwa ajaran itu sekarang sudah tidak lagi populer memang menunjukkan bahwa ajaran itu bukanlah ajaran Yesus dan para Rasul yang diberitakan Alkitab, atau dapat disebut menurut sebutan Anda sebagai 'ajaran sesat.' Toronto Blessing memang 'meng-klaim bahwa gejala itu menunjukkan bahwa Roh Allah melawat.' Dengan pandangan demikian maka dengan sepinya gejala itu sekarang, kita dapat mempertanyakan 'kalau begitu sekarang Allah tidak melawat mereka?'



Bambang Wijaya, ketika diwawancarai oleh Majalah Bahana tentang mengapa sebagai pembela gigih 'Toronto Blessing' sekarang kok tidak lagi dan komentarnya sekarang berbeda sekali dengan pendapatnya yang dulu, menjawab: "Ha … ha … ha … Yah, orang kalau semakin dewasa kan juga berkembang. Ini suatu proses." (BAHANA, September 1999, h.23-24).



Pengalaman ini seharusnya mengingatkan kita bahwa kita harus berhati-hati dengan setiap ajaran baru yang tidak didasarkan Alkitab karena ajaran demikian menyesatkan orang dari Injil yang benar. Berita Injil yang begitu kaya disesatkan pada gejala-gejala emosional dan menggunakan cap 'Lawatan Roh Allah' yang kenyataannya samasekali tidak ada hubungannya dengan Roh Allah yang benar.



John Arnott sendiri pendiri 'Toronto Airport Christian Fellowship' (TACF semula disebut sebagai Toronto Airport Vineyard Fellowship) yang mempopulerkan ajaran Toronto Blessing ke seluruh dunia memang cenderung menekankan manifestasi-manifestasi emosional yang aneh-aneh sehingga gereja itu dikeluarkan dari persekutuan 'Vineyard Fellowship' yang dipimpin oleh John Wimber, padahal John Wimber sendiri adalah tokoh yang menekankan 'Signs & Wonders.'



Memang kenyataannya sejak Toronto Blessing kehilangan kegairahan, gereja TACF merosot pengunjungnya dan rupanya kemerosotan itu dicoba diatasi dengan mempopulerkan kembali 'ajaran sensasi baru' yaitu 'mujizat tambalan gigi amalgam yang di-klaim berubah menjadi emas!' Di awal tahun 1999 TAFC memproduksi sebuah video 30 menit berjudul 'Go for the Gold' dimana John Arnott mengajarkan sensasi baru ini dan mengumumkan kepada jemaat bahwa: "Bila Anda menghendaki Tuhan menyentuh gigi Anda, berdirilah dan sentuhlah wajah Anda." Para petugas kebaktian Arnott membawa-bawa flashlight untuk memeriksa gigi-gigi jemaat yang hadir.



Sensasi mujizat tambalan gigi berubah menjadi emas ini didasarkan kutipan ayat Mazmur 81:11 yang berbunyi: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir; bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh." Padahal ayat ini konteksnya berhubungan dengan Israel yang akan diberi makan gandum yang terbaik dan akan dikenyangkan dengan madu dari gunung (ayat.17).



kita harus berhati-hati dengan 'penginjilan' dengan menyalah gunakan ayat-ayat Alkitab dengan maksud menipu demikian sebab kalau praktek ini lagi-lagi ditiru penginjil Indonesia tentu bakal ramai soalnya banyak orang Indonesia tidak menambal giginya dengan amalgam tetapi dengan perak atau emas, dan kalau ini di'aku-aku' sebagai mujizat, sekali lagi jemaat akan tertipu dan disesatkan!





2. Saya sudah membaca Makalah Sahabat Awam berjudul 'The 7 Habits, vitamin atau toksin?' (MSA-52) dan merasa bersyukur dengan adanya informasi tentang 'penyesatan' terselubung demikian. Saya sudah mempelajari buku 'The 7 Habits' dan rencananya saya diminta untuk mengajarkannya kepada guru-guru sekolah minggu di gereja saya, tetapi setelah membaca buku tersebut saya berniat membatalkannya. Lalu, apa yang sebaiknya saya lakukan? (Dona, Jakarta)

Dapat dimaklumi bahwa pada saat Dona membaca buku 'The 7 Habits' Dona tentu tidak sadar, karena banyak pendeta dan tokoh-tokoh Kristen pun banyak yang sudah terkecoh bahkan mengajarkannya 100%, tetapi puji syukur kepada Tuhan yang mengingatkan Dona akan penyesatan terselubung demikian sebelum Dona sendiri menyeret orang lain pada penyesatan yang sama.



Mengenai langkah apa yang sebaiknya dilakukan Dona, sebaiknya tidak membatalkan acara untuk mengajarkan 'The 7 Habits' kepada guru-guru sekolah minggu di gereja, tetapi tetaplah mengajarkan 'The 7 Habits,' dan buku 'T7H of Highly Effective People' (Stephen Covey) bisa dijadikan acuan betapa kita cenderung bisa disesatkan sesuai 'jalan dunia' yang 'berpusat diri sendiri' dan Dona bisa membawa guru-guru sekolah minggu itu kepada sikap 'T7H of Humble Faithful Servant' sesuai teladan Musa (Kel.18:13-27) yang digambarkan dalam MSA-52.





3. Saya sudah lama tertarik MSA dan tertarik soal topik soal "The 7 Habits, vitamin atau toksin?" (MSA-52). Para manager di kantor saya mengikuti training tersebut dan mengaplikasikannya dalam operasional kantor sehar-hari. Saya berbeban membagikan bahan itu kepada mereka, dapatkah YBA mengirimkan file itu melalui e-mail? (Yohanes, Jakarta)

Kalau Anda berbeban, pesanlah beberapa copy MSA-52 dan bagikan kepada para manajer di kantor Anda. Soal file MSA-52 agar dikirimkan via e-mail, YBA sejak Oktober 1999 sudah merintis pelayanan pengiriman MSA melalui internet dan sudah dimulai dengan mengirimkan file MSA-51 (DOM). Akan diusahakan, file berikutnya adalah file MSA-52 tentang 'The 7 Habits, vitamin atau toksin.' Cara memperolehnya, bukalah www.melsa.net.id/~yba atau www.in-christ.net/yba dan daftarkan diri Anda melalui join-i-kan-untuk-yba@xc.org





4. Beberapa pengkhotbah Kharismatik mengatakan bahwa Yesus Kristus tidak hanya berkhotbah tentang kerajaan Allah saja agar orang bertobat, namun Yesus Kristus juga menyembuhkan sakit penyakit (Mat 4:23, 9:35). Yesus Kristus pun ketika memanggil ke-12 murid-Nya memberikan mereka kuasa kepada mereka untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit, bangkitkanlah orang mati, usirlah setan-setan, dan kelemahan (Mat 10:1, 10:8). Bagaimana pandangan pengasuh tentang statement dari kalangan Kharismatik yang mengatakan bahwa pekabaran Injil tidak cukup hanya dengan khotbah saja, namun harus disertai dengan kuasa Allah yang berupa mujizat kesembuhan? (Sonny, Surabaya).

Memang ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa Yesus melakukan kedua pelayanan tersebut dan Ia juga memberi kuasa kepada para rasul untuk melakukannya, tetapi kita harus juga menyadari bahwa tidak semua murid mendapat dan melakukan kuasa yang sama. Paulus sendiri sakit dan tidak disembuhkan (Gal.4:13;2.Kor.12:7-10) dan ia tidak selalu menyembuhkan penyakit murid-muridnya seperti Timotius (1.Tim.3:23) dan Trofimus (2.Tim.4:20). Kita harus menyadari keterbatasan manusia bahwa tidak semua pelayanan Karismatik menghasilkan mujizat dan kesembuhan, dan adanya praktek mujizat dan kesembuhan yang didasarkan nama Tuhan belum tentu dari Tuhan (Mat.7:15-23). Harus dibedakan 'Injil Keselamatan' dengan tanda-tanda yang 'Menyertai Umat Percaya.' Injil bisa ada tanpa tanda-tanda, tetapi tanda-tanda tanpa Injil tidak ada artinya. Tidak semua murid bisa melakukan tanda-tanda (Mar.16:17-18). Lebih dari itu, sepanjang sejarah Tuhan sudah memberikan karunia melalui perkembangan ilmu kedokteran, karena itu pada masa sekarang sudah ada diversifikasi karunia sehingga tidaklah benar kalau ada klaim bahwa keduanya harus berjalan bersama seperti pada abad pertama. Pada abad pertamapun Yesus tidak menyembuhkan semua orang dan tidak semua orang yang disembuhkan mempunyai hubungan iman dengan Yesus. Menghadapi penginjil-penginjil yang terlalu memegang ayat Mar.16:17-18 secara harfiah, sebenarnya pemecahannya tidak sukar. Mintalah mereka untuk mendemonstrasikan bahwa semuanya bisa mengusir setan, berbahasa lidah, memegang ular berbica atau minum racun, dan menyembuhkan setiap orang yang sakit! Kita dapat melihat apakah klaim mereka benar atau hanya kepercayaan kosong!





5. Di Surabaya (juga di Indonesia dan seluruh dunia) gereja Kharismatik mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Semisal, GBI Bethany, GBT Mawar Sharon, GBT Bukit Zaitun, Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB) Masa Depan Cerah, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS). Saya mengamati bahwa ajaran Kharismatik banyak yang tidak alkitabiah, namun jika demikian kemajuan pesat tersebut apakah benar-benar dari Allah? Menurut pengasuh, apakah ajaran Kharismatik akan terus abadi di masa yang akan datang? Dengan kemajuan Kharismatik yang sangat pesat, benarkah saat ini jumlah pengikut Kharismatik (dan juga Katolik Kharismatik) telah mendominasi kekristenan di seluruh dunia? (Sonny, Surabaya).

Pertambahan anggota jemaat tidak otomatis menunjukkan bahwa ajarannya benar dihadapan Allah dan jemaat itu diberkati oleh Tuhan, apalagi sudah terbukti bahwa jemaat-jemaat itu umumnya datang dari gereja lain. Di Jabar, Bimas Kristen mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini ada pertambahan jumlah gereja sebanyak 40% tetapi jumlah pertambahan orang Kristen hanya 0,8% (padahal pertambahan karena kelahiran nasional 2%). Di seluruh dunia, jemaat tunggal yang paling maju dan berkembang adalah Saksi Yehuwa dan kita tahu apa ajarannya. Ajaran Karismatik akan terus berkembang dan berpecah belah selama manusia mengalami krisis dalam hatinya dan haus akan hal-hal transendental. Yang perlu bagi kita adalah mengajarkan Injil yang Alkitabiah dan dibanyak negara justru iman yang besar dijumpai dalam jemaat-jemaat yang sedikit tetapi mengalami penganiayaan dari pihak komunis atau agama lain.





6. Saya membaca dari majalah BAHANA (September 1999, h.16-17), disitu ditulis bahwa orang yang sangat gencar menyerang Benny Hinn adalah Hank Hanegraff dan mengatakan bahwa ajaran Benny Hinn sebagai bidat. Namun, Benny Hinn dikabarkan telah mengubah pandangannya. Tentang `allah-allah kecil' Benny Hinn mengaku bahwa ia telah menggunakan ayat-ayat yang tidak pas. Kitab Suci mengatakan kita ikut mengambil bagian dalam alam ilahi, tetapi kita bukan Allah. Kita tidak akan pernah menjadi Allah. Hanya ada satu Allah. Tentang klaim yang mengatakan bahwa ajaran Benny Hinn dari `wahyu ilahi' Benny Hinn mengaku bahwa Alkitab menjadi otoritas puncak doktrin Kristen. "Dulu saya pernah beberapa kali melakukan kesalahan tentang apa yang saya anggap sebagai wahyu. Saya kira saya mendengar suara Tuhan, tetapi saya salah." Benarkah Benny Hinn sekarang telah berubah sikap dan semakin alkitabiah? Menurut pengamatan pengasuh, apakah sekarang ini banyak pemimpin Kharismatik yang berubah sikap dan semakin alkitabiah? (Sonny, Surabaya)

Benny Hinn adalah suatu fenomena yang menarik untuk diamati. Ia adalah seorang penginjil yang sering bertukar lidah, bahkan begitu mudahnya menyangkali pendapatnya semula kemudian mengajarkannya lagi. Dalam pertanyaan ada tersembul kenyataan, bahkan apa yang disebutnya sebagai 'wahyu Allah' kemudian disangkali. Memang ia sempat menghapus beberapa kasetnya, tetapi kaset-kaset yang telah beredar dan buku-bukunya yang menyesatkan tidak pernah ditarik. Lebih dari itu, pernyataan dalam BAHANA September 1993 itu adalah pengakuan pada majalah Charisma beberapa waktu sebelumnya, sebelumnya ia juga pernah mengaku salah pada majalah Christianity Today (1991), tetapi sesudahnya ia mencaci maki para pengeritiknya dan mengutuk anak-anak mereka sebagai akan mengalami celaka (1992). Setelah komentarnya berubah kembali ia masih melakukan kesalahan yang sama kembali dan pada bulan September 1994 pertemuan 'Evangelical Ministries to New Religions Conference' masih menyebut 'Benny Hinn' masih mengajarkan ajaran-ajaran 'Word of Faith'nya semula. Kita perlu mendoakan penginjil-penginjil yang telah merasa dirinya besar itu agar tidak makin menyesatkan umat Kristen dan kita tetap harus mendoakan para penginjil Karismatik agar mereka makin Alkitabiah. Kita harus bergembira karena sekarang makin banyak pendeta/calon pendeta dari gereja Pentakosta/Karismatik yang mulai belajar teologia di sekolah teologia Injili sehingga diharapkan emosi yang menggebu-gebu dapat diimbangi dengan pengertian Alkitab yang lurus.





7. Bagaimana pendapat YBA mengenai berita yang menyebutkan bahwa pada waktu ada KKR Morris Cerullo di Senayan, Jakarta, di langit terlihat gambar salib? (Kanaan, Jakarta)

Kita harus kritis dalam menerima klaim-klaim demikian. Bila kita mengamati foto yang disebarluaskan, kita dapat mengetahui bahwa bila foto itu benar, sebetulnya gejala demikian adalah gejala wajar tentang fenomena alam dimana sinar matahari sore karena terhalang awan membentuk garis lurus di langit yang memisahkan sisi gelap dan terang. Dalam foto hanya terlihat satu garis padahal kaki salib mempunyai dua garis bila dilihat frontal dan tiga garis bila dilihat tiga demensional. Adanya garis lain yang dikatakan menyilang garis itu adalah fenomena alam yang sama bila berurusan dengan baik sinar matahari atau sinar stadion. Yang menjadi masalah mengapa itu ditafsirkan sebagai salib? Apa hubungan tanda salib dengan KKR Morris Cerullo? Perlu diketahui bahwa Morris Cerullo adalah penginjil yang tidak menghargai salib Kristus dan mengaku dirinya sebagai Tuhan/Yesus, karena itu perlu dipertanyakan kaitan keduanya. Berikut beberapa ucapan Morris Cerullo:

"Tahukah kamu bahwa sejak awal kejadian alam seluruh maksud Tuhan adalah mengembang biakkan dirinya? … Dan bila kita berdiri disini, saudara, kamu tidak melihat kepada Morris Cerullo; kamu sedang melihat Tuhan. Kamu sedang melihat Yesus." (The End Time Manifestation of the Sons of God, Morris Cerullo World Evangelism, tape 1)

"Kata Morris Cerullo: 'Kamu mewakili apa yang menjadi keberadaan Allah dan apa yang dimiliki Allah … Yesus adalah wujud kelihatan dari Allah. Yesus adalah anak Allah yang hidup. Sekarang siapakah kamu? Anak-anak Allah seperti dikatakan setiap orang. Apa yang bekerja di dalam diri kita adalah manifestasinya. Kalau kamu melihat kepadaku, kamu sedang melihat Yesus. Melihat Yesus adalah melihat Allah. (Joels Army," Jewel van der Merwe, Discernment Ministries).

"Meng-klaim bahwa Allah berkata langsung kepadanya, Cerullo mengaskan, 'Maukah kamu menyerahkan buku sakumu kepadaKu, kata Allah, dan membiarkan aku menjadi Tuhan buku sakumu … Yea, hendaknya taat kepad suaraku." (A Word from God at the Deeper Life World Conference,' Deeper Life, March 1982, h.15).

REFLEKSI HARI KASIH SAYANG

Hari ini, tanggal 14 Februari 2007, seluruh dunia merayakan Valentine's Day, merayakan matinya martir seorang imam, St. Valentine's pada 14 Februari.



Memang ada banyak versi cerita tentang sejarah Valentine's Day. Salah satu versi menyatakan bahwa seorang tokoh St. Valentine mati martir di tahun 270 AD di bawah kekejaman kaisar Romawi, Claudius.



Kaisar Claudius menetapkan bahwa kekaisarannya akan kekurangan prajurit terbaik jika para pria memutuskan untuk menikah. Karena itu, ia melarang pernikahan pria dan wanita. Tetapi, karena menerima pasangan yang saling mengasihi, St. Valentine sebagai seorang imam akhirnya menikahkan salah satu pasangan yang datang kepadanya.



Ketika kasus ini sampai ke telinga kaisar Claudius, ia tidak langsung membunuh St. Valentine tetapi mencoba menjadikannya sebagai seorang penganut agama kafir. Sang imam tidak tinggal diam, dia malah merubah strategi dan mencoba mempertobatkan kaisar Claudius menjadi seorang penganut agama Katolik.



Karena upaya ini gagal, akhirnya St. Valentine mati martir, dilempar batu hingga ajal menjemputnya. Apa yang dilakukan oleh St. Valentine dalam versi cerita ini adalah mengasihi dengan tulus dan rela berkorban. Di tengah maraknya komersialisasi dan selebrasi menyambut peringatan Hari Kasih Sayang, kita ingin kembali kepada main dari peringatan ini agar tidak terjebak sekedar kepada supplement, yakni aksesoris dan pesta.



Supplement bersifat contigency, boleh ada, boleh tidak ada tetapi main bersifat sina qua non, tidak boleh tidak ada. Dan kalau menelusuri kembali kepada apa yang terjadi menurut versi cerita di atas, cinta beresensi/ berhakekat di dalam pengorbanan, mengutip lirik salah satu lagu pop memory yang pernah ngetop, “cinta itu pengorbanan”.



Ketika merenungkan hal ini, seyogyanya tidak terjebak memahami cinta sekedar dalam kerangka/ paradigma relasi pria-wanita. Kita perlu memahami cinta secara lebih kaya seperti dalam paradigma pejabat-rakyat, orang tua-anak, guru-murid dan lainnya.



Cinta sebagai pengorbanan mendapat ekspresi di dalam beberapa hal. Pertama, cinta berarti penerimaan. Penerimaan tidak bertanya siapa, apa atau bahkan mengapa. Kita tahu bahwa pertanyaan mengapa lebih penting dari pertanyaan apa, siapa atau bagaimana.



Tetapi penerimaan bersifat melampaui pertanyaan mengapa (acceptance is beyond reason). Tidak berarti bahwa cinta menyebabkan kebodohan seperti yang banyak dipraktekan cinta monyet: cinta tanpa pertimbangan. Cinta tidak bersifat menetang melainkan melampaui akal/ hal yang rasional.



Dengan kata lain, cinta bersifat melampaui segala alasan. Kita perlu membangkitkan cinta sejati di dalam relung jiwa insan bumi pertiwi supaya dapat mengeliminir konflik horizontal antar suku seperti yang pernah terjadi di Kalimantan, atau antar agama seperti yang pernah terjadi di Ambon dan Poso.



Sebab tanpa cinta dalam nurani dan sanubari masyarakat dan elit, sekalipun secara politik negara ini mencapai substansi demokrasi atau secara ekonomi mencapai substansi kesejahteraan rakyat, barangkali masyarakat kita hanyalah masyarakat individualistik, sekuler serta konsumeristik-hedonistik.



Bila kondisi ini yang terjadi, rasionalitas, kritik dan kinerja memang berkembang pesat tetapi kepekaan moral, sosial dan nurani telah menjadi almarhum alias telah mati. Kedua, cinta bersifat melampaui hukum.



Paradigma hukum lex talionis yang mengedepankan keseimbangan menuntut satu kesalahan harus dihukum tidak boleh lebih dari satu hukuman, satu mata korban dipecahkan maka satu mata pelaku juga dipecahkan. Sebelum paradigma ini diberlakukan dalam kebudayaan Mesir, Yahudi dan Babilonia beribu-ribu tahun yang lalu, si pelaku/ terdakwa selalu akan mengalami ketidakadilan pembalasan dendam.



Setiap korban teroris berpotensi menjadi pelaku teroris baru karena si korban ingin mencari kepuasan di dalam pembalasan dendam. Padahal, sama sekali tidak mungkin mendapatkan kepuasan, malah menimbulkan lingkaran setan, karena korban akan menjadi pelaku baru.



Sebagai contoh, mahasiswa perguruan tinggi angkatan 2006 yang diplonco, akan menjadi pelaku kekerasan mahasiswa tahun 2007, membalas dendam kepada adik kelasnya untuk mencari kepuasan. Tidak berarti cinta itu menentang hukum sebab dengan begitu akan timbul anarkisme dan kebencian, sesuatu yang secara substansi bertentangan dengan cinta.



Tetapi cinta ingin melakukan sesuatu yang melampaui hukum. Sekalipun secara yuridis-formal telah mencapai kebenaran dan keadilan tetapi tanpa cinta, hal itu justru akan menjadi monster menakutkan. Sebaliknya dengan cinta, sekalipun seseorang berhak menerima keadilan atas kejahatan yang ia terima, ia tidak akan balas dendam atau main hakim sendiri, melainkan ia mengampuni.



Hal ini pernah dipertontonkan oleh mantan pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, mendiang Paus Yohanes Paulus II, yang mengampuni Mehmed Ali Agca, pemuda Turki yang pernah melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya, tahun 1981.



Ketiga, cinta membangkitkan kepekaan nurani melampaui aspek yuridis formal. Dengan cinta, seorang pejabat tidak hanya akan mempertimbangkan aspek yuridis formal tetapi kepekaan nurani terhadap rasa keadilan masyarakat. Apa yang dilakukan para pejabat di Kalimantan Timur mencederai dan melukai hati rakyat.



Hal semacam demikian bukanlah cinta tetapi benci, bukanlah tindakan altruis tetapi egois, bukanlah eksploitasi diri tetapi mengeksploitasi rakyat yang membayar pajak dari keringat dan air mata.



Jika benar-benar ada cinta, seorang suami yang sudah lelah seharian bekerja, rela mengantar istri/ anaknya yang terserang penyakit, sekalipun pada jam tengah malam, jam istirahatnya.



Jika benar-benar ada cinta, seorang pejabat tidak hanya akan bekerja hingga pukul 16.00, tetapi rela bekerja hingga tengah malam tanpa tuntutan uang lembur, karena ia mengasihi rakyat. Jika seorang guru mencintai muridnya maka ia rela, sekalipun diluar jam dinas, untuk mengajari muridnya hingga kaya ilmu pengetahuan, sekalipun tanpa imbalan. Mencari perilaku demikian di bumi pertiwi barangkali bagaikan mencari air segar di tengah padang gurun.



Antonius Steven Un, Ketua Sekolah Teologi Reformed Injili Malang





Renungan: William Carey

Tokoh Pekabaran Injil Modern



Carey dilahirkan dari sebuah keluarga miskin di Paulerspury, Northamptonshire, Inggris pada tahun1761. Orangtuanya bekerja sebagai pegawai klerikel rendahan, anggota Gereja Anglikan. Tahun 1779 Carey mengalami pertobatan, yaitu ketika berusia 18 tahun. Ia lalu masuk ke Gereja Baptis, menjadi pengkhotbah dan guru sekolah pada siang hari, sedang malam harinya ia bekerja sebagai tukang sepatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.



Carey adalah tipe orang yang suka belajar keras dan tak kenal menyerah dalam menghadapi tantangan. Ia belajar sendiri bahasa Yunani, Ibrani, Belanda dan Perancis hingga menguasainya dengan baik. Sebagai hamba Tuhan yang sudah mengalami pembaharuan, Carey memiliki perhatian yang kuat pada kegiatan penginjilan.

Tahun 1792 Carey menjadi penggerak terbentuknya lembaga pekabaran yang diberi nama Baptis Missionary Society (Lembaga Pekabaran Injil Baptis) di Nottingham. Ia mencetuskan suatu semboyan terkenal, “Mengharapkan perkara-perkara besar dari Allah dan mengusahakan perkara-perkara besar bagi Allah”. Bagi Carey, amanat agung yang diberikan Yesus adalah mengabarkan Injil bagi segala mahluk, dan setiap orang Kristen harus menjadi pemberita kabar baik.

Ia menjadi pendeta di Kapel Gereja Baptis di Moulton tahun 1786. Lalu Lembaga Pekabaran Injil Baptis mengirimnya sebagai misionaris yang pertama ke India pada tahun 1792. Bersama dengan keluarganya ia berangkat ke India menumpang kapal barang dan tiba di Malda, sebagai pusat kegiatan pekabaran Injilnya yang pertama. Namun kemudian perusahaan East India Company melarang Carey memberitakan Injil disitu sehingga ia bekerja pada sebuah perkebunan nila sambil belajar bahasa setempat. Setelah 5 tahun, ia berhasil mempelajari bahasa Bengali dengan baik dan mulai menterjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa tersebut. Di tahun 1799, perkebunan nila tempat Carey bekerja bangkrut, dan hal ini mengharuskannya pindah ke Serampore, daerah koloni Denmark.

Di tempat baru ini Carey bergabung dengan dua orang pekabar Injil Gereja Baptis yang lain, yaitu Joshua Marshman dan William Ward. Mereka bertiga lalu dikenal dengan sebutan “Trio Serampore”. Dengan bantuan kedua teman Inggrisnya ini, Carey berhasil menerbitkan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Bengali. Pada tahun 1801, ia membuka sekolah yang diberi nama “Fort William College” untuk mendidik orang pribumi India menjadi pendeta. “Hanya dengan pemberita kaum setempat, kita bisa berharap negeri yang luas ini mendengar kabar baik,” katanya dengan yakin. Carey berpendapat bahwa Lembaga Pekabaran Injil harus segera mendidik orang pribumi untuk menjadi pemberita Injil bagi bangsanya sendiri. Di sekolah tersebut Carey mengajar bahasa Sansekerta, Bengali dan Marathi kurang lebih 30 tahun.

Selain itu Carey juga aktif menghimpun dana untuk membiayai penelitian di dunia pertanian. Upaya ini dilakukan dalam usahanya untuk memikirkan masalah pangan di negeri dimana Tuhan mengutusnya. Kegiatannya yang lain adalah menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bengali dan bahasa-bahasa lainnya, menyusun tata bahasa dan Kamus Bahasa Sansekerta, Marathi, Punyab dan Telugu.

Selain dikenal sebagai bapa pekabaran Injil, Carey juga dikenal sebagai tokoh oikumenis. Dialah yang mencetuskan ide agar setiap 10 tahun diadakan konferensi bersama dari seluruh Lembaga Pekabaran Injil di Tanjung Harapan. Ide ini belum terwujud semasa hidupnya, tetapi baru tercapai pada tahun 1910 di Edinburg. Pengertian oikumene dalam pengertian modern adalah berasal darinya. William Carey akhirnya meninggal dunia tahun 1834 dalam usia 73 tahun. Pada masa pemerintahan Inggris di Indonesia, orang-orang Kristen di tanah Maluku turut merasakan pekerjaan dan pelayanan anak dari William Carey, yaitu Yabez Carey.

Dalam Momen Apa Anda Merasa Bahagia?

Banyak ahli sepakat bahwa produktivitas dan kinerja seseorang sangat dipengaruhi oleh frekuensi kebahagiaan yang didekapnya. Semakin sering ia tenggelam dalam aktivitas yang membahagiakan, maka mood ini bisa menular dan membuat orang itu menjadi kian produktif.

Yang mengejutkan, momen-momen yang membahagiakan itu acap tidak harus bersangkutan dengan sesuatu yang bersifat heroik dan membutuhkan uang yang banyak. Acapkali momen itu justru muncul dari sejumlah aktivitas yang remeh temeh, murah meriah, dan muncul dalam rutinitas keseharian kita.

Dalam tulisan di salah satu blognya, rekan saya Roni Yuzirman menuliskan bahwa ia sering menemukan kebahagiaan dan kedamaian pada momen-momen yang sangat sederhana, dan sama sekali tidak terkait dengan harga mahal yang harus dibayarkan. Saya sangat sepakat dengan spirit kalimat itu. Pada akhirnya, happiness is about thousand of ordinary and small things in our daily life.

Saya pribadi juga mengalami hal serupa. Banyak aktivitas “kecil” yang entah kenapa selalu membuat saya bisa tenggelam dalam aura kebahagiaan yang mengalir. Jadi kalau ada pertanyaan dalam momen apa Anda sungguh merasa bahagia, maka berikut 4 aktivitas rutin dimana saya selalu bisa merasakan kebahagiaan yang menjalar itu (Anda juga bisa berbaginya melalui kolom komentar).

Membaca majalah bisnis atau buku-buku yang mencerahkan di sore yang teduh dan tenang adalah salah satu aktivitas favorit yang selalu saya nikmati. Membaca kebetulan adalah hobi saya (sorry salah, reading is not just a hobby, it’s part of my inner life). Membaca majalah atau buku yang penuh pesona itu memang menakjubkan, dan entah kenapa, saya selalu merasa bahagia ketika saya berada ditengah-tengahnya.

Membaca, menelisik, dan menjelujuri gagasan-gagasan segar yang tertuang dalam sebuah buku memang selalu merupakan perjalanan yang menentramkan.

Aktivitas kedua yang juga bisa membuat saya bahagia adalah ini : berolahraga treadmill setiap pagi hari ketika udara masih renyah, sambil mendengarkan musik yang mengalun nan menghentak. I really like this ordinary activity. Rasanya fresh dan menyegarkan. Apalagi ketika musik yang mengalun di earphone adalah lagu dari grup A-ha berjudul Hunting High and Low……doh rasanya nikmat banget….. (saya adalah generasi 80-an, sehingga salah satu grup band favorit saya adalah A-ha, selain grup jazz Casiopea. Kalau Anda satu generasi dengan saya, pasti kenal dengan dua grup musik ini).

Aktivitas ketiga yang bisa membuat saya bahagia adalah bercengkrama dan bermain bersama anak-anak saya yang masih kecil. Karena punya usaha sendiri, jadi saya memilih berkantor di rumah. Kalau tidak ada janji meeting dengan klien, saya bekerja dari rumah. Hal ini membuat saya bisa punya waktu luang yang cukup untuk berinteraksi dengan anak-anak di siang atau sore hari. Seperti misalnya : bermain bola, bercerita tentang kisah Tintin, atau juga main PS bareng-bareng (!). Dan saya sungguh bahagia dengan momen-momen seperti ini.

Aktivitas terakhir yang juga saya nikmati adalah : berbagi gagasan dan pengetahuan melalui blog kesayangan Anda ini. Saya mengupdate blog ini setiap Senin. Jadi saya selalu mempersiapkan tulisan baru pada setiap hari Ahad atau Sabtu. Begitulah pada setiap weekend itu saya mulai merancang gagasan, lalu meraciknya kalimat demi kalimat, dan kemudian menyajikannya dalam setangkup hidangan segar di hadapan Anda. Aktivitas ini kadang melelahkan, namun saya sungguh menikmati keseluruhan prosesnya.

Demikianlah catatan mengenai sejumlah aktivitas kecil yang selalu bisa merekahkan sekeping kebahagiaan dalam perjalanan hidup saya. Seperti yang kita lihat, segenap aktivitas itu bersifat ordinary dan tidak membutuhkan banyak uang untuk melakukannya. Semuanya terus berjalan mengalir setiap hari dan setiap minggu.

Dan dari rangkaian aktivitas kecil yang membahagiakan semacam itulah, kita mungkin bisa berbisik : life is so beautiful….



Proses Regenerasi di Astra International

Minggu lalu, Michael D. Ruslim, CEO Astra International yang murah senyum itu mendadak diundang oleh malaikat untuk meeting di alam baka sana. Banyak yang terkejut dengan wafatnya sang komandan ini. Segera setelah ini Astra International dihadapkan pada proses succession planning : atau tentang bagaimana sebuah perusahaan mengelola proses pergantian para key players-nya.

Astra International, salah satu perusahaan di tanah air yang punya reputasi kinclong dalam proses pengembangan human capital-nya, mungkin telah memiliki kepiawaian tersendiri dalam menggodok para future leadersnya mereka. Bersama pengalaman Astra, disini kita barangkali bisa berbagi tiga catatan penting mengenai bagaimana seharusnya sebuah perusahaan meracik strategi career planning mereka.

Catatan yang pertama : sucession and career planning memang jauh lebih mudah dikembangkan oleh sebuah perusahaan yang memiliki size besar (terlebih jika mereka punya lini bisnis yang banyak). Alasannya sederhana : perusahaan dengan size besar akan memiliki banyak posisi manajerial – dan dengan itu akan lebih mudah merotasi pegawainya dalam rangka proses pengembangan.

Astra International beruntung sebab mereka memiliki size yang besar dan anak perusahaan yang beragam. Dengan mudah mereka kemudian bisa mendesain plot pergerakan karir para manajernya – sebab pilihan pergerakannya sangat variatif.

Proses semacam itulah yang juga dilakukan oleh perusahaan dengan skala global seperti GE dan Unilever. Dengan size yang besar dan skala yang bersifat global, mereka dengan mudah merotasi para pegawainya untuk melakukan pergerakan karir di berbagai posisi di belahan negara yang berbeda (dan ini sangat bagus buat pengembangan pengalaman manajerial para eksekutifnya). Proses rotasi karir semacam ini juga relatif mudah dilakukan oleh sebuah perusahaan yang memiliki banyak cabang seperti industri perbankan dan telekomunikasi.

Sebaliknya, jika perusahaan Anda hanya berupa pabrik kecil dengan jumlah pegawai yang terbatas, maka career planning mungkin akan menjadi sebuah kemewahan. Sebabnya sederhana : jumlah posisi manajerialnya sangat terbatas. Jadi pergerakan karirnya hanya ada dua pilihan : menunggu sang bos pensiun, atau pindah ke perusahaan lain dengan size yang lebih besar.

Catatan yang kedua : proses penggemblengan karir para manajer sebaiknya juga disertai dengan pendidikan berjenjang yang sistematis. Disini perusahaan mesti mendesain kurikulum pelatihan terpadu yang ditujukan secara berjenjang mulai dari level asmen, manajer, senior manajer hingga level direktur.

Astra telah lama menerapkan proses pendidikan berjenjang semacam itu untuk menyiapkan para leadersnya. Mereka punya program bernama Astra Basic Management Development Program untuk para calon manajer tingkat dasar; kemudian secara berjenjang mereka juga punya Astra Middle Management Development Program hingga Astra Advance Management Development Program.

Masing-masing program ini memiliki kurikulum yang jelas, dan durasi penyelenggaraannya berlangsung antara 20 – 30 hari tergantung jenjangnya. Dalam pendidikan yang mirip mini MBA ini, para peserta diberi materi manajemen yang ekstensif, studi kasus, penugasan kelompok, dan beragam tugas presentasi. Program ini wajib diikuti sebelum karyawan dapat dipromosikan ke jenjang berikutnya. Jadi hasil pendidikan ini juga digunakan sebagai salah satu kriteria penilaian promosi.

Catatan yang terakhir : untuk menggembleng karir para future managers and leaders, sebuah perusahaan mestinya juga punya pusat pendidikan (semacam learning center) yang terpadu dan dirancang dengan profesional. Banyak perusahaan di tanah air yang telah memilikinya, seperti Danamon Learning Center, Pusat Pendidikan dan Pelatihan BRI, dll. Astra sendiri telah memiliki insitusi semacam ini bernama Astra Management Development Institute (AMDI).

Yang membedakan AMDI dengan lainnya mungkin adalah lembaga ini telah benar-benar berperan sebagai “strategic partner” bagi perjalanan bisnis di Astra; dan memainkan peranan penting dalam mengidentifikasi, mendidik dan memilih siapa yang layak menjadi top executive di Astra International.

Esa hilang dua terbilang, demikian bunyi sebuah pepatah lama. Astra mungkin telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun dengan sistem pengembangan SDM yang kokoh, Astra pasti dengan mudah bisa menyiapkan para generasi penerus yang tak kalah cemerlangnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar