Sabtu, 10 April 2010

Seandainya Aku Datang

Share
by Nadia Maulana (notes) Saturday, March 27, 2010 at 11:09am
Harusnya sekarang aku ada di stasiun. Meski aku tak tau pasti apa aku akan mendapatkannya lagi jika aku datang, tapi paling tidak aku bisa mengantarnya atau yang paling parah aku masih bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Tapi aku tak melakukannya. Aku malah diam di rumah, main play station sama Yoga, adikku, seolah tak menghiraukannya. Aku memang tak ingin memperdulikannya.
“Koq kamu masih di rumah Don?” Reza tiba-tiba nongol dan duduk di sampingku.
“Emang seharusnya aku ke mana?” aku balas bertanya tanpa mengalihkan pandanganku dari layar.
“Ya ke stasiunlah… Nina kan mau berangkat ke Yogya.., kamu nggak pengen nganterin dia?”
“Buat apa?” aku menaruh stik PS-ku dan memalingkan wajah padanya.
“Apa kamu juga harus tanya tentang perasaanmu sama aku?” Reza masih membalas dengan pertanyaan dan setelah itu dia mengambilalih stik PS-ku.
Aku diam saja, tapi tak ingin memikirkan kata-kata Reza. Aku memang menyayanginya, mungkin sangat, tapi rasa kecewa dan sakit itu seolah menjadi pemenang atas semuanya, termasuk rasa sayang dan kenangan. Konyol rasanya, tiga tahun aku bersamanya dan harus terpisah hanya karena alasan konyol. Kadang aku tak mengerti jalan pikirannya, bahkan kadang aku tak mengerti perasaannya.
Ah.., aku tak ingin memikirkannya lagi, tapi entah kenapa kenangan tentangnya terus menggangguku dan rasanya aku ingin bertemu dengannya. Dan tiba-tiba kebimbangan merajaiku. Apa aku harus berangkat ke stasiun dan mendapati lukaku yang masih menganga bertambah parah? Atau aku diam di sini dan membiarkannya berlalu dan setelah itu aku tak akan melihatnya lagi?
Entah apa yang menggerakkanku, aku beranjak ke kamar dan mengambil jaket dan kontak motor lalu melajukan bebekku menuju stasiun Gubeng. Reza bilang jadwal keberangkatannya jam 10 dan sekarang sudah jam 9.50.., yah semoga saja aku tak terlambat, meski sekedar untuk melihatnya.
Jam 10 lebih 15 menit. Aku parkir motorku dan secepat kilat aku berlari memasuki stasiun.
“Mbak, kereta ke Yogya sudah berangkat?” tanyaku pada penjual tiket. Wanita setengah baya itu tak menjawab, hanya mengangkat tangannya dan menunjuk ke belakang, tanda bahwa kereta yang aku tanyakan sedang melaju dan seketika itu aku tahu, aku benar-benar telah kehilangannya.

***

Sudah setahun sejak aku tak mendapati jejak Nina di stasiun, tapi waktu itu sama sekali tak cukup untuk mengobati sakit ini. Reza menyaranku membuka hati untuk seseorang yang mungkin bisa mewarnai hari-hariku, tapi aku tak pernah mengizinkan siapapun untuk mengetuknya, apalagi menjamahnya. Betapapun sakitnya hati ini karenanya, tapi rasa sayang itu tak pernah bisa hilang. Dan kini aku menyesal, kenapa aku tak datang lebih awal ke stasiun setahun yang lalu.
“Nungguin siapa mas?” tanya seorang pedagang asongan, menegurku. Mungkin dia heran, sudah berjam-jam aku duduk di sini, seperti tengah menunggu seseorang. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum menanggapi pertanyaannya. Pemuda yang kira-kira 3 tahun lebih muda dariku ini terlihat begitu lelah. Badannya kurus, matanya sayu dan bajunya lusuh.
“Kerja begini pasti berat banget ya mas?” aku membuka obrolan dengannya.
“Ya mo gimana lagi mas, orang tua saya nggak sanggup membiayai sekolah saya, padahal tinggal setahun lagi saya lulus SMP. Ya.., beginilah jadinya, saya harus membantu orang tua saya,” tuturnya sambil menerawangkan matanya. “Tahun lalu, waktu saya baru saja mulai dagang di sini, saya ketakutan mas. Waktu itu umur saya baru 14 tahun dan sebelumnya nggak pernah tahu bagaimana kehidupan di stasiun,” lanjutnya mengenang.
“Tapi sepertinya seru juga, ya mas?”
“Iya, banyak kejadian yang saya lihat di stasiun ini, paling asyik waktu kita rame-rame ngejar trus ngeroyok copet, Mas. Hehehehe..,” ujarnya sambil tertawa kecil. Aku tersenyum. “Mas ini dari mana to, koq dari tadi duduk di sini terus?” lanjutnya.
“Saya ya dari sini aja, Mas. Nggak lagi nunggu siapa-siapa koq, cuma pengen duduk di sini aja,” sahutku.
“Aneh-aneh saja Mas ini.., biasanya anak muda itu nongkrongnya di mall atau di warung kopi, Mas, bukan di stasiun,” ujarnya. Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara keributan, sepertinya ada orang jatuh. Bocah asongan itu langsung menghampiri kerumunan, aku hanya diam memperhatikan sampai kerumunan itu bubar perlahan.
“Ada apa, Mas?” tanyaku.
“Ada ibu-ibu jatuh dari kereta. Lha wong keretanya blom bener-bener berhenti udah turun duluan.”
“Kasian ya, Mas. Trus gimana lukanya? Parah?”
“Cuma lecet koq. Dulu malah ada mbak-mbak yang tiba-tiba pingsan waktu mau naik ke kereta. Hidungnya berdarah trus langsung dilarikan ke rumah sakit.”
“Ooo…” hanya itu yang terlontar dari mulutku menanggapi ceritanya. Ternyata banyak cerita terjadi di sini, bukan hanya ceritaku yang kehilangan orang yang paling aku sayangi. Tak lama, aku pamit padanya. Pulang dari stasiun, aku sengaja lewat depan rumah Nina. Seperti biasa, aku hanya lewat dan berharap sosok Nina keluar menghampiriku, lalu aku akan kecewa karena sama sekali tak melihatnya.
Aku tahu, yang aku lakukan ini hanya akan menambah rasa sakitku, tapi terkadang aku menikmati rasa sakit ini, kadang aku menyukainya dan membiarkannya tetap ada.
“Cari siapa, Mas?” tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya menghampiriku.
“Oh.., nggak ada, Pak. Saya hanya lewat aja,” sahutku.
“Yang bener? Saya lihat Mas ini hampir tiap hari lewat dan berhenti di depan rumah ini, seperti ada yang dicari,” selidiknya.
“Bapak ada-ada saja. Saya permisi dulu, Pak,” pamitku.
“Mbak Nina baru saja datang ke rumah itu minggu lalu, hampir setiap sore dia duduk di teras samping itu sendirian,” katanya lagi. Aku menghentikan langkah, berpaling dan tersenyum padanya lalu pergi. Ingin rasanya tak peduli dengan perkataan bapak tukang becak yang suka nongkrong di depan rumah Nina itu, tapi rasa yang sama menekanku, rasa ingin menemuinya.

***

Sore itu, setengah hati dan harapan aku mendatangi rumahnya. Mungkin benar kata bapak tukang becak itu, Nina ada di rumah itu. Perhatianku terpusat pada teras samping rumah itu, tapi aku tak mendapati apa-apa, bahkan hingga adzan maghrib terdengar meraung. Aku pergi, kebiasaanku untuk lewat depan rumahnya tak berubah, hanya saja aku tak bisa membenarkan kata-kata bapak tukang becak itu.
Hingga suatu sore aku benar-benar melihatnya. Di duduk di sebuah bangku di teras samping rumahnya, sedang membaca buku. Ragu-ragu aku menghampirinya.
“Nin,” tegurku. Dia terhenyak mendengar namanya tersebut, matanya menatap tajam ke arahku. Wajahnya terlihat sangat pucat. Tanpa berkata apa-apa dia beranjak masuk ke dalam rumah, meninggalkanku terpaku di teras rumahnya.
Perasaan kacau menyergapku, aku tak tahu lagi harus apa. Aku hanya mendudukkan tubuhku di bangku yang didudukinya tadi. Mataku nanar menatap ke depan. Aku tahu aku akan mendapatkan luka ini, tapi aku tetap menjalaninya. Kadang aku pikir aku ini memang konyol dan mungkin aku memang sudah gila.
“Doni?” seorang wanita setengah baya menghampiriku, ibu Nina.
“Ibu?” sahutku, “Maafkan saya, Bu.”
“Kenapa harus minta maaf?” tanyanya. Dia duduk di sampingku.
“Karena saya datang lagi ke sini.”
“Tidak harus minta maaf, kamu nggak salah,” ujarnya dengan suara yang lembut. Aku jadi berpikir, mungkinkah wanita selembut ini tega menyakiti hati anaknya dengan memisahkan kami. “Mungkin saya yang seharusnya minta maaf,” lanjutnya.
“Karena melarang saya berhubungan dengan Nina? Kenapa, Bu?”
“Saya tidak pernah melarang hubungan kalian. Saya senang kamu bisa menjadi pendamping yang baik untuk Nina, tapi Nina bersikeras memutuskan berpisah dari kamu, hanya karena tak ingin melukaimu?”
“Maksud Ibu?” aku sangat terkejut dengan pernyataan ibu Nina. Setahuku, Nina memutuskanku karena ibunya tak setuju dengan hubungan kami, wanita ini yang jadi alasan Nina meninggalkanku.
“Nyonyaaaaaaa….!!!!!!” seseorang berteriak dari dalam rumah. Tergesa kami memasuki rumah. Seorang yang aku kenal sebagai mbok Nar sedang menopang tubuh Nina yang tergeletak di lantai. Darah segar mengalir dari hidungnya. Secepat kilat supir keluarga mereka menyalakan mesin mobil dan melarikan Nina ke rumah sakit. Ibu Nina menangis di sepanjang jalan ke rumah sakit, bahkan hingga Nina masuk ke UGD. Perasaanku campur aduk.
“Nina punya penyakit serius, kanker otak. Setahun terakkhir ini dia terus-terusan keluar masuk rumah sakit. Kepergiannya ke Yogya tahun lalu juga batal karena sebelum naik ke kereta dia sudah lebih dulu pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit, padahal waktu itu kita ada janji dengan dokter ahli yang sedang bertandang ke Yogya,” tuturnya saat dokter sedang memeriksanya di UGD. Mataku semakin nanar mendengar ceritanya.
“Nina pernah bilang, tak ada hal yang lebih melukai hatinya selain melihatmu bersedih. Karena itu dia tak ingin kamu melihatnya sakit, karena dia tahu kamu akan sangat sedih dengan keadaannya, walau sebenarnya dia sangat ingin kamu ada di dekatnya. Dia pikir, jarak yang dia ciptakan antara kamu dan dia bisa membuat kamu mencari perempuan lain yang bisa mendampingi kamu selamanya dan pelan-pelan bisa melupakannya,” ibu Nina mengakhiri ceritanya.
“Nina nggak pernah tahu, Bu, gimana sakitnya saya karena harus menjalani hari tanpanya. Nina nggak pernah tahu setiap hari saya lewat depan rumah ini dan berharap bisa melihatnya ada di rumah ini. Nina juga nggak pernah tahu kesedihan terberat saya adalah karena harus terpisah darinya.”
“Maafkan Nina, ya Don. Maafkan Nina..” kata ibu Nina sambil mengusap air mata yang mengucur dari tadi.
“Hanya satu orang yang boleh berada di dalam, Nina membutuhkan perawatan intensif,” kata dokter yang memeriksa Nina berdiri di pintu UGD.
“Kamu mau masuk, Don?” tawar ibu Nina. Aku mengangguk. Aku pakai baju jenguk sebelum masuk ke ruangan tempat Nina tertidur. Aku menangis melihatnya, matanya tertutup rapat, wajahnya pucat dan tubuhnya kurus sekali.
“Aku sayang kamu, Nin, aku selalu sayang kamu,” bisikku sambil menggenggam tangannya. Aku rasakan tangan itu balas menggenggamku, tapi tak ada reaksi dia akan sadar dari pingsannya. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menemani dia yang pasrah menjalani takdir hidupnya.
Keesokan harinya, dokter menyatakan Nina dalam kondisi koma. Kenyataan ini seolah menuntut kami untuk mempersiapkan diri untuk kehilangannya, dan tak ada hal lain yang bisa kami lakukan, termasuk tim dokter, selain memastikan peralatan untuk mempertahankan hidupnya dalam keadaan baik sembari menunggu berakhirnya koma ini.

***

Suatu sore, aku merasakan senja yang begitu indah dibanding hari-hari sebelumnya di rumah sakit ini. Aku merasa begitu merindukannya. Sudah seminggu Nina koma dan sudah seminggu ini pula aku menghabiskan waktu di rumah sakit ini, aku tak ingin jauh darinya. Aku tak tahu, apa dia merasakan kehadiranku, tapi aku berharap iya. Adzan maghrib sudah terdengar, aku pamit pada ibu Nina untuk sholat maghrib ke masjid yang ada di lingkungan rumah sakit. Kami memang biasa menjaganya bergantian. Di akhir sholatku, aku selalu mendoakannya, berharap Allah menyatukan kami kembali, dan aku bisa melihatnya tersenyum lagi.
Ibu Nina berhambur memelukku ketika aku kembali ke kamar rawat Nina. Dia tak berkata apa-apa ketika aku bertanya “Ada apa?”. Dia hanya menangis dan terus menangis. Aku mengajaknya duduk dan sesuatu menuntunku memasuki kamar rawat Nina. Lengking osiloskop meraung di sekeliling ruangan. Layar kecil dalam benda mati itu menunjukkan garis lurus berwarna hijau.
Nina benar-benar pergi, tanpa pesan, tanpa berkata apa-apa. Dia pergi begitu saja tanpa peduli padaku. Dan sesal itu kembali menyergapku. Lebih dari setahun yang lalu, seandainya aku datang lebih awal ke stasiun, aku pasti ikut membawanya ke rumah sakit ketika dia pingsan karena penyakitnya. Seandainya saat itu aku datang lebih awal, aku akan meyakinkan dia bahwa yang terbaik untukku adalah terus berada dekat dengannya dan aku bisa terus menemaninya di akhir hidupnya. Seandainya waktu itu aku datang lebih awal, tentu aku tak melewatkan lebih dari setahun waktuku jauh darinya.
Seandainya aku datang lebih awal, aku masih bisa berbisik di telinganya dan mengatakan aku sangat menyayanginya.


(a short story by : nadia maulana, published on story magz #8)


--

14 Tips saat Mengendarai Bajaj
Share
by Udi Why (notes) Tuesday, March 23, 2010 at 10:17am
1. Jangan tersenyum sok manis saat menyetop bajaj, nanti ditaksir sama abangnya.

2. Tawarlah ongkos sesuai dengan tujuan. Jgn menawar Tukang Bajaj-nya atau bajajnya.

3. Cobalah ramah sedikit kepada Tukang Bajaj sebelum menawar, ajak komunikasi sebentar supaya keliatan lebih manusiawi sebelum tanya ongkos, contoh: PagiPak/Bang,udah makan belum?? Tadi keluar jam berapa dari rumah?? udah lama narik bajaj?? rute terjauh sampe mana Pak?? Setorannya berapa?? penghasilannya berapa?? dsb....!!

4. Kalo perlu ajak duduk berdua, ngobrol di belakang biar supir merasakan juga jadi penumpang. Ini berguna utk mengetahui jam terbang dan pengalamannya.

5. Jangan pernah minta duduk di depan bareng supir atau jangan juga duduk di depan bajajnya.

6. Bila bawa HP.. matikan saja, jgn harap anda bisa mendengar dering HP. Dan bila dipasang vibrate juga percuma krn "vibrate" bajaj jauh lebih dahsyat bisa mungguncang sekujur tubuh anda bahkan sampai anda turun pun Vibrate Bajaj masih terasa, cukup utk 2 hari. (buat yg masih kuliah/sekolah sebaiknya jgn sering-sering naik bajaj...nanti tulisannya jelek).

7. Bila terasa panas di dalam, mintalah agar sunroof (baca: kap terpal) bajaj dibuka semua biar banyak anginnya (bajaj cabriolet/roadster alias tanpa kap)

8. Carilah bajaj baru keluaran tahun 2004 (terbaru/up to date) dengan stir di kiri (bajaj
import/build up) agar lebih cepat sampe tujuan krn sudah dilengkapi dengan Turbo Boost, Superchip, Power Window, Central Lock, Air Bag, dan supirnya pake dasi,kemeja+celana Icuk Sugiarto (pemain bl.tangkis, pendek & sexy).

9. Carilah supir yg pendek agar pemandangan ke depan cukup jelas tetapi akan lebih jelas lagi bila tidak ada supirnya.

10. Utk mereka yg pacaran, keuntungan naek bajaj: supirnya tidak dengar perbincangan kita, kelemahannya: pacar kita juga nggak dengar apa yg kita bicarakan, jadi gunakan saja "bahasa tubuh" selama perjalanan.

11.Jgn lupa bawa kertas + pulpen utk tulis alamat jelas serta belokannya bila salah arah, langsung kasih catatannya atau bawa juga pengeras suara kalo supirnya "Buta Huruf"
begitu liat huruf langsung buta).

12.Tutup pintu bajaj, krn bila terbuka, orang akan mengira anda adalah kenek bajaj.

13.Untuk cukup nyaman, cari bajaj keluaran Blue Bird-jaj atau kalo mau bajaj dgn tarif lama cari bajaj keluaran Citra-jaj atau Gamya-jaj atau HIBA-jaj.

14.Jangan menyetop bajaj secara mendadak karena dengan kemudi yg sangat power steering akan membahayakan kendaraan di belakangnya.

Segitu dulu aja Tips Bajaj. Mudah2an ada gunanya buat kita semua.
Untuk mereka yg "Bajaj Mania" alias pengguna "Bajaj Sejati" sering-seringlah periksa
pendengaran anda ke Dokter THT,bila perlu ajak Dokter anda naek bajaj bareng sehingga kalian bisa saling kontrol satu sama lain.

--

Surat Cinta Seorang Hacker
Share
by Anthon Upa (notes) Monday, March 22, 2010 at 12:14am
Seandainya hatimu adalah sebuah system, maka aku
akan scan kamu untuk mengetahui port mana yang terbuka Sehingga tidak ada
keraguan saat aku c:\> nc -l -o -v -e ke hatimu,tapi aku hanya berani ping
di belakang anonymouse proxy, inikah rasanya jatuh cinta sehingga membuatku
seperti pecundang atau aku memang pecundang sejati whatever!

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
ingin rasanya aku manfaatkan vulnerabilitiesmu, pake PHP injection Terus aku
ls -la; find / -perm 777 -type d,sehingga aku tau kalo di hatimu ada folder
yang bisa ditulisi atau adakah free space buat aku?. apa aku harus pasang
backdor "Remote Connect-Back Shell"jadi aku tinggal nunggu koneksi dari kamu
saja, biar aku tidak merana seperti ini.

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
saat semua request-ku diterima aku akan nogkrong terus di bugtraq untuk
mengetahui bug terbarumu maka aku akan patch n pacth terus,aku akan jaga
service-mu jangan sampai crash n aku akan menjadi firewallmu aku akan pasang
portsentry, dan menyeting error pagemu " The page cannot be found Coz Has
Been Owned by Someone get out!" aku janji gak bakalan ada macelinious
program atau service yang hidden, karena aku sangat sayang dan mencintaimu.

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
jangan ada kata "You dont have permission to access it" untuk aku, kalau ga
mau di ping flood Atau DDos Attack jangan ah....! kamu harus menjadi sang
bidadari penyelamatku.

Seandainya hatimu adalah sebuah system, ...?

Tapi sayang hatimu bukanlah sebuah system,
kamu adalah sang bidadari impianku, yang telah mengacaukan systemku!
Suatu saat nanti aku akan datang n mengatakan kalau di hatiku sudah
terinfeksi virus yang Menghanyutkan, Ga ada anti virus yang dapat
menangkalnya selain ...kamu.

--

Gan En De Xin: Hati yang Penuh Syukur
Share
by Veryanto Tjung (notes) Sunday, March 21, 2010 at 6:43pm
Alkisah dikala senja akan tiba, di kota kecil taiwan.
ada seorang lelaki yang bekerja sebagai supir taksi, di saat perjalanan pulang, pandangannya tertuju pada sebuah rumput yg bergerak2..

Dengan penuh pertanyaan beliau menhampiri tempat itu.. ternyata di tempat itu ada bayi yg sedang menangis.

Setelah itu beliau membawa pulang bayi tsb.. sesampai d rumah istrinya dengan terkaget-kaget menyambut hangat bayi tsb dengan penuh kasih sayang... dan berkata ini merupakan anugrah terindah yg diberikan oleh Yang Maha Kuasa, sebab selama pernikahannya belum dikaruniai seorang anak..

Waktu terus berjalan,,,, selang usia 2 thn.. karena merasa ada yg janggal dengan kemampuan berbicara dan reaksi pendengarannya yang sangat lambat....

Kedua orang itu membawa anaknya k dokter, kecurigaan merekapun terjawab. anak tersebut memang telah cacat sejak lahir..yaitu bisu tuli.

Walaupun sempat terpukul sesaat, namun perasaan sayang yg telah terpupuk selama ini..membuat mereka memutuskan untuk merawat dan membesarkan si kecil yg sedang lucu2nya...

Tahunpun dengan cepat berganti, walaupun cacat si gadis kecil adalah anak yg cerdas dan mendapatkan pendidikan yg baik di sekolah Luar BIasa.. hingga mampu lulus SMA.

Setelah lulus melalui tes, dia diterima masuk untuk bidang seni di perguruan tinggi di kota besar. perasaan gembira dan sedih pun silih berganti... gembira karena diterimanya si anak di universitas yg terkenal, sedih harus pisah jauh dan membutuhkan biaya besar..

Demi mewujudkan impian sang anak tercinta, kedua orang tua itu bertekad, untuk berhemat dan bekerja mati2 an..sejak saat itu si ayah bekerja sangat keras hampir selalu pulang larut malam

Namun hidup memang sering tidak sesuai dgn rencana manusia..
disaat kuliah memasuki tahun k 2. Si ayah pergi dan tidak perna kembali.. taksi yg dikendarainya bertabrakan dan nyawanya tdk terselamatkan.

Sangi anak tahu betapa berat beban biaya yg harus dipikul ibunya dan dia memutuskan untuk berhenti kuliah, pulang dan bekerja serta menemani ibunya di rumah..


mengetahui itu si ibu sangat tersentuh dgn pengertian anaknya tetapi ia menegaskan,
" Ibu tahu kesedihan mu nak, ibu juga sangat kehilangan ayahmu, tetapi km tdk boleh berhnti kuliah
belajarla yg bnar, selesaikan kuliahmu secepatnya dan ibu tunggu kepulangan mu dgn izajah di tangan


Dan setiap bulan ibu akan berusaha mengirimkan uang untuk biayamu di sana..ingat jgn berpikir pulang sebelum kuliah mu selesai..jika kamu gagal.. ibu dan ayahmu di alam sana pasti kecewa karena kerja keras dan pengorbanan kami akan sia2...


Waktu terus berjalan..selesai wisuda dgn bangga dan kegembiraan yg meluap serta kerinduan yg sangat.
si anak segera pulang ke desanya.

Setiba di rumah dia mengetuk berulang kali pintu rumahnya yg tertutup rapat..dan sungguh tidak pernah diduga sama sekali..pertemuan dgn tetangga nya ternayata membuat hatinya lumpuh seketika

.. Nak ibumu setahun yg lalu telah meninggal dunia.. maafkan Kami tidak memberitahu karena ibumu meminta kami bersumpah untuk merahasiakannya, semua sisa uang tabungan ibumu dititipkan kepada kami

untuk dikirimkan kepadamu setiap bulan dan dia pun meminta kami membalaskan surat suratmu.

Masih ada satu rahasia besar yg sebenarnya ayah ibumu sembunyikan darimu. bahwa kamu sesungguhnya bukan anak kandung mereka.. walaupun kamu cacat dari bayi.. mereka tidak perduli..
mereka tetap menyayangimu melebihi anak kandung sendiri....

Mendengar semua cerita tentang dirinya duka yg mendalam tidak mampu diwujudkan dalam teriakan histeris..
Hanya derasnya air mata yg mengalir tak terbendung...

Di depan makam kedua orang tuanya sambil bersimbah air mata si gadis bersujud dan mendoakan kebahagiaan orang tuanya.. demi mengenang dan mencurahkan rasa syukur yg besar atas kasih sayang dan pengorbananan k2 orang tuanya lahirlah sebuah puisi yg berjudul ......GAN EN DE XIN::: HATI YANG PENUH SYUKUR....


Isi puisi tsb::::::

aku datang dari kebetulan seperti sebutir debu
siapa yg tau.. saat aku begitu lemah
entah dari mana aku datang... dan di manakah cintaku berada
siapa... yang akan menyapaku di kemudian hari

walaupun dunia ini begitu luas
tetapi perjalanan ini begitu berat untuk dilalui
begitu banyak penderitaann terasa mendera
berapa banyak cinta... yg masi kumiliki
berapa banyak tetes air mata yg masi kupunyai

Biarkan Tuhan tau ...Aku tak akan perna mengaku kalah
aku bersyukur ada engkau Ibu yg menemaniku sepanjang hidup ku
hingga membuat ku mampu menjadi diri sendiri
aku bersyukur aku berterima kasih pada keadaan ku ini
dalam duka dan bahagia aku tetap bersyukur

Akhirnya isi puisi ini dijadikan sebuah lagu dan dinyanyikan oleh penyanyi terkenal OW YANG FEI FEI

lagu ini kerap menjadi team song untuk pengambilan dana sosial...dan disumbangkan kepada yang membutuhkan..

Karena sejatinya setiap insan wajib bersyukur atas segala anugrah Tuhan yg diterimanya
dan wujud syukur patut disalurkan kepada mereka yg sedang tidak beruntung..

Semoga kisah ini bisa mengilhami kita untuk senantiasa bersyukur atas hidup yg kita jalani...
Singkatnya apapun keadaan kita, apapun kesedihan-penderitaan yg sedang kita alami.. MARILAH BERSYUKUR !!! Hanya orang yg mampu bersyukur adalah orang yg kaya dalam Arti Kata sebenarnya...

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar