Sabtu, 17 April 2010

Kriteria Memilih Pasangan Hidup yang Tepat

Wednesday, 07 April 2010 10:22

Apa saja yang dapat membuat suatu hubungan berjalan baik? Apa yang harus kita perhatikan dalam memilih pasangan hidup? Bagaimana kita mengetahui bahwa sidia adalah orang yang tepat untuk dinikahi? Anda mungkin pernah mengalami hubungan yang buruk di masa lalu; jadi kriteria apa saja yang perlu Anda temukan dalam diri si dia agar Anda tidak terjebak dalam kesalahan yang sama dan terluka lagi?


Kriteria yang umumnya dicari adalah: ”Seseorang yang memiliki rasa humor dan dapat membuat kita tertawa, seseorang yang bertubuh atletis dan rajin berolah raga, seseorang yang menyukai traveling, shopping dan menonton pertunjukan musik.”

Itulah sebabnya mengapa kita terperangkap ke dalam berbagai masalah. Ketika berbicara mengenai seseorang yang humoris, tegap, ramah, tenang dsb kita sedang mengacu pada kepribadiannya bukan karakternya.

Seorang pembunuh berantai bisa memiliki kepribadian yang menyenangkan dengan rasa humor yang tinggi. Seorang pemerkosa pun bisa memiliki tubuh yang atletis dan suka berolah raga. Seorang psikopat bisa memiliki kepribadian yang ramah dan sangat tenang. Dan seorang pelacur bisa saja menyukai traveling, shopping dan menonton pertunjukan musik.

Apakah ini berarti Anda menyukai seorang pembunuh, pemerkosa, psikopat dan pelacur? Tentu tidak! Akan tetapi jika Anda tidak bersedia mengubah kriteriamu dalam hal ini, maka pada akhirnya Anda akan selalu jatuh ke tangan orang yang salah.

Kunci untuk memilih pasangan hidup yang tepat adalah carilah seseorang yang berkarakter baik, bukan kepribadiannya saja yang baik. Sebab karakter akan menentukan cara ia memperlakukan dirinya, Anda dan anak-anakmu suatu hari kelak. Karakter adalah dasar dari setiap hubungan yang sehat. Hubungan itu seperti kue tart, di mana karakter adalah bahan dasarnya dan kepribadian adalah lapisan gulanya.

Ketika Anda sedang menimbang apakah si dia cocok untuk dijadikan pasangan hidup, daripada bertanya ”Apakah dia mencintaiku?” lebih baik Anda bertanya ”Seberapa mampukah si dia mencintaiku?”

Jika si dia adalah seorang pemarah, jelas dia tidak memiliki kapasitas untuk mencintai Anda. Jika si dia belum dipulihkan dari luka batin masa lalunya, si dia juga sulit mencintai Anda sepenuhnya. Jika si dia tidak bertumbuh dalam Kristus, maka si dia tidak mampu mencintai Anda dengan benar. Jika si dia tidak mampu bersikap tegas terhadap campur tangan orang tuanya, maka si dia akan mengalami kendala untuk mencintai Anda.

Kita akan belajar beberapa kriteria yang harus ada dalam diri si dia. Kriteria ini adalah karakter yang baik dalam diri seseorang.

1. Komitmen Terhadap Pertumbuhan Pribadi
Inilah kriteria utama yang perlu ada dalam diri calon pasangan hidup kita. Jika Anda mampu menemukan seseorang yang memiliki komitmen terhadap pertumbuhan pribadinya, berarti Anda telah meraih setengah dari pernikahan yang bahagia.

Jenis masalah apakah yang paling sering dihadapi oleh para pasangan? Yang satu mau maju yang satunya tidak mau. Yang satu coba membahas persoalan yang dihadapinya, yang satunya menolak. Yang satu melihat celah yang memerlukan perbaikan, tetapi yang satunya menyangkal.

Komitmen terhadap pertumbuhan pribadi artinya:
a. Si dia bersungguh-sungguh terhadap Firman Allah dan gaya hidup yang saleh. Si dia benar-benar yakin bahwa Alkitab adalah sumber iman satu-satunya.
b. Si dia bersedia dibantu dan menerima bimbingan. Bantuan itu bisa berupa buku-buku, kaset kotbah, seminar-seminar, dan bila perlu konseling pribadi.
c. Si dia harus menyadari kelemahan dan masalah emosinya.
d. Si dia harus memiliki target pribadi yang real untuk berubah. Dengan kata lain, kita dapat melihat secara spesifik perubahan positif yang terjadi pada dirinya dari waktu ke waktu.

2. Keterbukaan Emosional
Hubungan yang intim tidak terjalin lewat berbagi tempat tinggal, tempat tidur, atau kamar mandi saja; tetapi dengan berbagi perasaan. Si dia harus memiliki kepekaan. Artinya si dia tahu apa yang sedang dirasakannya dan rindu berbagi perasaannya denganmu, dan tahu cara mengungkapkan perasaannya.

Banyak pria dan wanita yang tidak berbahagia karena mereka terikat dengan pasangan yang tidak mampu mengekspresikan perasaannya.

”Ayahnya tidak pernah bilang bahwa ia mengasihinya, sehingga ia pun tidak mampu berkata bahwa ia mengasihiku.” ”Dia sangat terluka oleh mantan kekasihnya, akibatnya ia sangat sulit menunjukkan perhatiannya kepadaku.” ”Tumbuh di tengah keluarga yang melecehkan membuat dia ngeri menunjukkan perasaannya.”

Jika semua yang dikeluhkan di atas itu benar, berarti mereka semua sedang kehilangan satu hal penting, yaitu: Jika si dia tidak mampu mengenali dan berbagi perasaannya denganmu, berarti si dia belum siap naik ke jenjang hubungan yang lebih intim.

Apa gunanya tinggal bersama seseorang yang perasaannya tumpul? Tinggal bersama seseorang yang tidak mampu berbagi perasaannya sungguh tersiksa. Amsal 18:14 berkata ”Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”

Cara lain untuk menggambarkan ”keterbukaan emosional” adalah ”kemurahan emosional”—seseorang yang bermurah kasih, membagikan kasihnya dengan tulus dan melimpah tanpa hambatan. Jika Anda hidup bersama seorang yang mudah menyatakan kasihnya dan memperlihatkan betapa ia menghargaimu, maksud saya bukan setahun sekali pada saat ulang tahun pernikahan saja, atau pada saat Anda mengancam untuk meninggalkannya. Karena itu Anda perlu berdoa untuk mendapatkan seseorang yang mampu menunjukkan kasih dan pengharapannya secara konsisten.

Keterbukaan emosional adalah hal yang vital dalam diri si dia, karena hal itu memberikan akses kepada jiwanya, menyediakan jalan menuju hatinya. Tanpa keterbukaan emosional, si dia tidak akan menjadi belahan jiwamu.

3. Integritas
Ini adalah konsistensi dari karakter. Tindakanmu cocok dengan perkataanmu. Pilihanmu cocok dengan visimu. Perilakumu cocok dengan keyakinanmu. Agar suatu hubungan kasih dapat berjalan baik, kejujuran dan dapat dipercaya harus menjadi dasarnya. Mengetahui bahwa si dia selalu dapat dipercaya memberi rasa aman tersendiri. Jika tidak ada saling percaya, maka tidak ada hubungan. Apabila Anda selalu ketakutan jangan-jangan si dia membohongimu, hal itu aka membuatmu selalu was-was. Anda akan selalu curiga dan merasa dikhianati. Jika Anda meragukan integritas si dia, maka Anda akan kehilangan respek terhadapnya. Anda tidak dapat mempercayai perkataan dan tindak tanduknya terhadapmu.

Oleh karena itu Anda harus menemukan seseorang yang:
- Jujur terhadap dirinya sendiri
- Jujur terhadap orang lain
- Jujur terhadap Anda

4. Dewasa dan Bertanggung jawab
Banyak sekali orang yang belum siap masuk dalam suatu hubungan berkomitmen. Sekalipun mereka terlihat sangat menyenangkan, dan bahkan sangat mencintaimu, tetapi apabila si dia belum mencapai tingkat kedewasaan tertentu, maka Anda akan merasa sedang mengadopsi seorang anak daripada seorang kekasih. Pada akhirnya Anda akan merasa ”Saya sangat mencintai si dia, dan saya juga berharap si dia akan bertumbuh.”

Dari mana Anda mengetahui bahwa si dia cukup dewasa untuk memasuki suatu hubungan yang berkomitmen?
a. Si dia mampu mengurus dirinya sendiri.
b. Bertanggung jawab.
c. Menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang di sekelilingnya.
d. Memiliki citra diri yang sehat

Yesus berkata ”Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Artinya si dia hanya bisa mengasihimu sebesar ia mengasihi dirinya sendiri. Seorang yang citra dirinya sehat mengasihi karena ia merasa dirinya baik. Semakin sehat citra diri si dia semakin kuat hubunganmu.

Apa ciri-ciri orang yang citra dirinya sehat?
- Ia tahu siapa dirinya di dalam Kristus. Ia memiliki pengertian yang Alkitabiah tentang posisi dan otoritasnya sebagai anak Allah
- Ia tidak melecehkan dirinya, melainkan merawat dirinya dengan baik.
- Ia tidak membiarkan orang lain melecehkan dirinya.
- Bersikap proaktif (tidak pasif)

5. Bersikap Positif Dalam Hidup Ini
Ada dua jenis manusia di dunia ini, 'Manusia Positif' dan 'Manusia Negatif'. Jika Anda harus menghabiskan hidupmu bersama satu di antara dua orang ini, manakah yang akan Anda pilih? Tentu yang positif bukan? Akan tetapi mengapa banyak di antara kita yang akhirnya mendapatkan pasangan hidup yang negatif—selalu kuatir, gelisah dan berfokus pada masalah, selalu bersungut-sungut, tidak mudah percaya dan pesimis akan masa depan.

Orang positif menciptakan hubungan yang positif. Orang yang negatif menciptakan hubungan yang negatif. Itu sebabnya jatuh cinta dengan orang yang negatif bagaikan mendengar orang yang sedang mencakar papan tulis dengan kukunya.

Kasih adalah positif. Ia tumbuh di dalam atmosfir yang positif. Ia tenggelam di dalam atmosfir yang negatif. Hubungan jauh lebih mudah dibangun dengan orang yang positif. Konflik akan lebih cepat diselesaikan, sedikit saling menyalahkan dan ada kerjasama yang baik karena kasih.

6. Ada perasaan tertarik
Sekalipun ini bukan termasuk dalam kualitas karakter, namun tanpa perasaan itu Anda tidak akan pernah mengalami jatuh cinta. Mungkinkah kita memiliki pernikahan yang bahagia dengan seseorang yang kita tidak tertarik? Biasanya ada orang-orang yang bertanya demikian kepada saya karena mereka telah mengalaminya. Mereka mengasihi pasangannya tetapi tidak memiliki perasaan tertarik sama sekali. Secara jujur saya katakan ”Tidak mungkin” Saya tidak yakin Anda akan memiliki hubungan jangka panjang yang sehat dan romantis tanpa perasaan tertarik dengan si dia.

Jatuh cinta dengan seorang sahabat akan menjadi pengalaman yang luar biasa dalam hidup seseorang. Survei membuktikan bahwa pasangan yang menjalin persahabatan terlebih dahulu sebelum mereka meningkat ke hubungan yang romantis akan mengalami pernikahan yang lebih sukses dan memuaskan. (Ps Kong Hee) — TDmail


--

Bagaimana Menyikapi Kritik?
Wednesday, 04 November 2009 12:19
Kritik yang berdasar biasanya disikapi dengan bijak oleh mereka yang bijak. Misalnya sikap Daud saat dikritik Nabi Natan, dalam 2 Samuel 12: 13 ia berkata: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati."

Setiap kritik janganlah disikapi dengan penuh amarah. Tapi sikapilah dengan bijak. Jangan seperti Raja Ahab dan Izebel yang benci dengan kritikan nabi Elia sehingga berusaha sedemikian rupa ingin membunuh Elia. Jangan juga seperti raja Herodes yang membunuh Yohanes hanya karena kritikan berdasarnya mengenai istri Herodes.

Setiap orang bijak akan merendahkan diri, mengecek hatinya apakah kritikan itu mengandung maksud Allah dan bertobat jika memang itu adalah kebenaran.

Petrus tak bisa menolak lagi ketika Tuhan mengkritik sikapnya yang anti orang non Yahudi. Dalam sebuah penglihatan Tuhan menyatakan kepadanya bahwa apa yang DIA anggap halal maka janganlah Petrus bilang haram. Petrus bertobat dan mulai menginjili orang yang bukan Yahudi.

Leo Tolstoy berkata jika orang pintar mengkritik orang lain maka dia harus juga berani mengkritik diri sendiri termasuk menerima kritikan dari orang lain. * (hendra kasenda-gpmagz@gmail.comThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )

--

Kirain Joke Doang
Monday, 23 November 2009 20:54
Ada sebuah email yang beredar cukup lama mengenai sikap wanita. Konon jika wanita itu di bawah 20 tahun maka dia akan bersikap 'siapa gua'. Artinya sangat ego sentries dan sangat memilih pasangan hidupnya. Tapi jika dia sudah mencapai usia di bawah 30 tahun dia akan bersikap 'siapa lu'. Artinya dia akan memilih pasangan hidup yang sudah mapan. Hanya saja ketika memasuki usia di bawah 40 tahun dan tak menemukan juga pasangan hidup maka dia akan bersikap 'siapa saja'.

Saya tertawa mulanya membaca joke itu itu. Saya berpikir itu hanya sebatas becanda saja. Namun minggu lalu adik sepupu saya yang sudah berusia di bawah 40 tahun mengabarkan kalau dia sudah menjalin hubungan dengan seorang pria yang berusia di bawah 40 tahun dan berlainan gereja dengannya. Saya Tanya apa kamu yakin berhubungan dengan dia sementara kalian bisa dikatakan tidak seiman? Dia berkata yang membuat hati saya kecut, “Ya setidaknya ada orang yang mencintai saya itu cukuplah.” Suatu pemikiran yang simple kelihatannya namun tidak saya temukan keluar dari mulutnya 2 atau 4 tahun lalu.

Saya bertanya-tanya mengapa dia berubah, lalu saya ingat joke di atas. Dan saya tertawa ada benarnya juga ya. Hahahaha. Seorang wanita yang tadinya sangat kuat berpegang pada prinsip pasangan hidup yang standar antara lain: ganteng, mapan, seiman, tiba-tiba memilih seseorang hanya berdasarkan hal yang simple bahwa dia mencintai. Saya Tanya lagi dari mana kamu yakin dia mencintai kamu, adik saya bilang karena dia menyatakan cinta pada saya. Oh, begitu rupanya. Lalu saya tanya lagi apakah kamu mencintai dia, adik saya katakan, “Oh, cinta bisa tumbuh dengan sendirinya.”

Saya terkejut tapi tersenyum lagi dalam diri. Ternyata dalam keadaan usianya sekarang dia sudah tidak memakai akal sehatnya. Dia hanya memakai sikap wanita dalam joke di atas, siapa saja yang datang melamar disambar saja. Tanpa berpikir hal itu bisa membuat dia berdarah-darah dalam pernikahannya kelak. Adik saya menambahkan, “Saya ingin berkeluarga, saya ingin punya anak, saya harus menikah sekarang, kalau tidak kapan lagi, umur saya sudah bertambah, saya takut tidak bisa punya anak lagi.”

Oh, jadi itu alasan paling kuat yang ada dalam hatinya. Hanya karena ingin berumah tangga dan punya anak seperti teman-teman lainnya. Rupanya semua temannya sudah melepaskan masa lajang namun dia belum.

Lalu atas desakan orangtua dan juga ledekan teman-temannya yang disimpan jauh dalam lubuk hati bisa membuat ia mengambil keputusan menikah dengan siapa saja yang menyatakan cinta. Saya berkata kepadanya, pernikahan tidak seindah yang dibayangkan orang. Ada orang yang masuk dalam pernikahan dengan sikap yang salah termasuk sikap ingin memiliki anak dan keluarga. Namun ternyata ketika dimasuki kehidupan di dalamnya penuh dengan riak dan gejolak sehingga membuat banyak orang memilih mundur dan menyesal kenapa menikah.

Saya juga memberikan dia nasihat, bahwa sebaiknya mencari pasangan yang seimbang yang bisa memimpin dia sebagai imam keluarga. Jangan memilih pasangan yang tidak bisa membawa keluarga kepada Tuhan. Persoalan berlainan gereja bisa bermasalah dalam hal membawa anak-anak pada Tuhan. Yang satu maunya ke gereja ini dan yang lain ke gereja itu akhirnya karena tidak ada yang mengalah membuat keduanya tidak ke gereja dan anak-anak jadi bingung sehingga tidak ke gereja lagi.

Hal lain saya tanyakan kepada adik saya mengapa dia memili pasangannya sekarang, dia berkata, “Ya orangnya tidak ganteng, malah bisa dikatakan pemalu, tapi saya tertarik dengannya karena dia smart.” Oh, begitu, jadi kembali joke di atas ada benarnya, dulu seingat saya adik saya ini sangat mementingkan penampilan lawan jenis, tapi rupanya seiring waktu pilihannya jadi berubah. Saya kembali tersenyum.

Saya coba katakan kepadanya pernikahan tidak dibangun hanya dengan rasa tertarik saja, melainkan adalah rasa cinta di antara kedua belah pihak. Jika hanya satu pihak saja yang mencintai maka sudah pasti akan timpang. Alasan rasa cinta bisa tumbuh dengan sendirinya hanyalah alasan klasik yang harus ditebus dengan pengorbanan perasaan bertahun-tahun lamanya dan penderitaan akibat ketimpangan tersebut.

Sementara dua orang yang saling mencintai akan memiliki komitmen untuk memegang teguh pernikahan mereka kelak. Maka karena adik saya ngotot, saya hanya bisa katakan kepadanya sabarlah menunggu waktu Tuhan. Jika kamu sabar kamu akan menemukan yang terbaik. Karena kamu adalah permata Tuhan, permata itu mahal harganya, sehingga pembeli pun sangat jarang, namun jika sabar menunggu pasti menemukan yang terbaik. Berbeda dengan batu di pinggir jalan yang bisa siapa saja pungut. Jika ada orang yang mau ambil batu itu bisa diambil kapan saja dan siapa saja, namun setelah itu batu tersebut menjadi tidak berharga.

Saya melihat kecenderungan orang untuk memilih siapa saja ketika usianya merangkak naik sangat berbahaya bagi kehidupan mereka pribadi kelak. Sudah banyak kasus saya temukan para istri yang menjadi korban karena hal ini. Sebulan lalu seorang wanita yang sudah menikah empat tahun menangis dengan sedihnya mengabari dia dipukul suaminya karena kembali bergereja. “Tadinya kami menikah di gereja saya, dia berkata akan ikut ke gereja saya, tapi setelah beberapa tahun dia berubah. Dia kembali ke gerejanya dan mengajak saya ke sana. Saya tidak mau karena saya merasa kering disana dia marah dan mulai membentak saya. Lama-kelamaan malahan memukul saya dan menyuruh anak-anak tidak boleh ke gereja saya juga. Saya sangat putus asa,” ujarnya terisak-isak.

Ada lagi seorang yang mengabarkan melalui email kepada saya, “Hen, coba aku dengarkan nasihat kamu dua tahun lalu ya begini saya tidak menderita. Aduh Hen, dia berubah, saya tidak mengenalinya lagi, saya pikir saya bisa mengubahnya, saya pikir dia gampang diubah, saya pikir dia lemah, tapi ternyata semua sandiwara. Dia yang mulanya ikut saya menjadi berubah setelah kami menikah sekarang. Baru kelihatan sikap aslinya, aduh saya gak kuat, saya ingin kembali ke papa mama saja.”

Sementara seorang teman lagi menelpon saya dan memberitahukan kondisinya sekarang, bahwa dia sudah lari dari suaminya karena tidak tahan. Selain suka memukul suaminya juga selingkuh. “Saya pikir dia baik tapi ternyata dia menyimpan wanita lain aduh hancur saya, lebih baik pisah deh.”

Ketiga teman di atas hanyalah contoh dari sekian kasus yang ada karena menikah dengan siapa saja. Kehidupan pernikahan membutuhkan cinta sebagai pengikat. Kejujuran sebagai batu ujian. Dibutuhkan perasaan saling pengertian, saling mendukung, saling memberi, saling berkorban dan saling lainnya. Hal yang paling penting juga adalah seiman. Karena hal ini akan membawa rumah tangga pada kehidupan kelak ke surga.

Makanya seorang kolega saya di kantor dulu yang sudah mencapai usia 35 tahun mengatakan, “Saya lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan orang yang salah.” Sedangkan yang lain yang sudah berusia 38 tahun berkata, ”Saya bisa lebih bebas melayani Tuhan dengan keadaan seperti ini, tidak dipusingkan dengan suami atau anak-anak. Saya tidak takut menghadapi hari tua karena Tuhan beserta saya, masakan kita yang sudah melayani Dia akan ditinggalkan sendiri.”

Ada lagi seorang wanita lajang diusianya yang mencapai 37 tahun berkata, “Saya happy dengan kondisi saya, saya tidak lagi dibebani dengan keinginan menikah, toh teman-teman saya yang menikah malahan iri dengan saya katanya, kamu enak tidak menikah ya sehingga bisa kemana saja sementara kami sangat terikat harus menyenangi suami yang tidak tahu diri. Hahahaha.”

Ya, pernikahan atau tidak adalah soal pilihan. “Saya sudah berdoa dan puasa kak, sehingga saya memutuskan memilih dia,” kata adik sepupu saya lagi. Saya katakan baik sekali tindakan kamu, tapi apa kamu berdoa dan berpuasa itu untuk memaksa Tuhan menerima kehendakmu atau bagaimana. Karena banyak orang berprinsip yang penting berdoa dulu sebelum bertindak tapi mereka sudah membawa konsep dulu kepada Tuhan dan memohon-mohon agar Tuhan menyetujui konsep itu. Sementara yang benar adalah datang kepada Tuhan seperti kertas kosong dan meminta Dia menggoreskan jalan dan kehendakNya diatas kertas itu. Itulah esensi doa dan puasa yang tepat.

Namun adik saya tetap ngotot juga. Akhirnya saya katakan padanya mintalah tanda pada Tuhan, jalanilah dulu, tidak usah buru-buru menikah, mungkin saja dalam masa pacaran kalian akan menemukan hal yang tidak terduga, menikahlah dengan orang yang mencintai kamu dan juga yang kamu cintai, menikahlah dengan orang yang bisa memimpin kamu kepada Tuhan dan bukan sebaliknya, menikahlah dengan orang yang bisa kamu ajak berkomunikasi, menikahlah dengan orang yang Tuhan kehendaki bukan yang kamu kehendaki. (Hendra Kasenda)

--

Delapan Kado Terindah
Saturday, 10 April 2010 11:55
Umumnya, seseorang memberikan kado/hadiah kepada teman, kerabat atau orang lainnya pada saat-saat khusus dan tertentu saja. Kado yang diberikan juga biasanya adalah berwujud barang atau sesuatu.

Namun tahukah Anda, sebenarnya ada kado yang bisa Anda berikan melebihi sekadar benda tapi memiliki nilai yang jauh berharga bagi orang-orang yang Anda kasihi? Ada delapan macam kado yang bisa Anda berikan melalui sikap Anda, yaitu:

Kehadiran
Kehadiran orang yang dikasihi adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir lewat surat, telepon, foto, e-mail atau fax. Namun dengan berada di sampingnya, Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagiaan.

Mendengar
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan ketimbang mendengarkan. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan Anda memberikan tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekadar ucapan terima kasih pun akan terdengar manis baginya.

Diam
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalaya, diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik, bahkan mengomel.

Kebebasan
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupannya. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah "kamu bebas berbuat semaumu". Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

Keindahan
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan sebuah kado yang indah. Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana di rumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.

Tanggapan Positif
Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap, atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya ada pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir Anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya? Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf) adalah kado indah yang sering terlupakan.

Kesediaan Mengalah
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi pertengkaran yang hebat. Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado "kesediaan mengalah". Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

Senyuman
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali Anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi. (NN)

--

Membagikan Kabar Baik di Facebook
Monday, 22 March 2010 11:07

Apakah Anda tergolong orang yang aktif berbagi aktifitas kehidupan atau curhat kepada teman-teman Anda melalui Facebook? Jika Anda peduli pada teman-teman Anda, khususnya yang belum menerima keselamatan dalam Kristus, manfaatkanlah akun Facebook Anda sebaik-baiknya untuk kemuliaan Tuhan dengan membagikan Injil kepada mereka.


Beberapa ide di bawah ini dirangkum dari Charisma Online yang telah mengumpulkan cara-cara terbaik dari para pembacanya mengenai penginjilan dengan Facebook. Cara-cara ini dapat Anda terapkan dan kembangkan sesuai kebutuhan.

• Membagikan Kesaksian
Facebook memungkinkan Anda untuk membuat tulisan cukup panjang melalui menu "Note". Buatlah tulisan singkat mengenai kehidupan rohani Anda yang telah diperbarui Kristus. Ceritakanlah kepada teman-teman Anda bahwa memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan adalah suatu hal yang sangat berarti bagi Anda. Tidak perlu terlalu rumit, buatlah kesaksian yang sederhana.

• Biarkan Firman Bicara
Menuliskan ayat-ayat firman Tuhan yang menguatkan adalah sebuah ide yang bagus. Tonya Sullivan bercerita sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan temannya yang kini menjauh dari Tuhan. Suatu hari Sullivan menemukan sebuah pesan dalam inbox yang dikirim teman itu yang mengatakan bahwa ayat yang telah dipostingnya telah menegur dan mengingatkannya untuk kembali kepada Tuhan. Ini suatu hal yang luar biasa!

• Keluar dari Dinding Teman Anda
Jangan hanya terpaku pada dinding (wall) Facebook Anda. Pergilah keluar darinya, temui teman-teman lama Anda waktu di sekolah dulu dan jalin kembali persahabatan yang terputus dengan mereka. Melalui reuni ini, Anda bisa mulai membangun hubungan lebih bermanfaat dengan membagikan kasih Kristus kepada mereka.

• Penginjilan Pribadi
Kembangkanlah suatu hubungan dengan seseorang yang baru dikenal atau teman yang berada kota lain atau bahkan benua lain. Tunjukkan kepada mereka bahwa Anda peduli kepada mereka dengan menceritakan kasih Allah dan kemudian Anda dapat memimpin mereka kepada Kristus melalui menu chat.

• Perhatikan Status Facebook Anda
Cobalah setiap hari untuk menunjukkan rasa syukur Anda kepada Tuhan melalui status update Anda. Posting firman Tuhan untuk memberi harapan, kedamaian dan dorongan kepada teman-teman Anda di Facebook. Bagikanlah berkat-berkat rohani dari renungan saat teduh Anda hari ini. Pastikanlah status yang Anda perbarui adalah sesuatu yang positif. Tuliskanlah dengan hal-hal atau orang-orang yang membuat Anda bersyukur atau yang telah memberkati Anda baru-baru ini. Jika Anda tidak memiliki sesuatu yang baik untuk dituliskan, jangan tuliskan itu. Hal-hal positif, seperti halnya yang negatif, adalah sesuatu yang dapat menular.

• Berdoa
Berdoalah untuk orang-orang di Facebook Anda. Berdoalah bagi siapa pun yang memposting suatu kebutuhan, masalah atau penyakit yang sedang diderita. Seorang Facebooker mengatakan, "Aku berdoa bersama mereka saat itu juga melalui Facebook. Aku mengetik setiap doa yang keluar seolah-olah aku sedang menumpangkan tangan pada mereka."

• Menjaga Hati
Terakhir, tetaplah rendah hati dan bersikap jujur. Jangan mencoba untuk menjadi orang yang bukan diri Anda sebenarnya. Selalu tunjukkan kehidupan yang serupa Kristus dalam hidup Anda dalam setiap aktifitas online ataupun offline. Ingatlah bahwa orang tidak peduli seberapa banyak Anda tahu sampai mereka tahu seberapa banyak Anda peduli. Tunjukkan kepedulian Anda, mulailah gunakan Facebook untuk meyakinkan orang bahwa mereka berharga di mata Allah. (Hartono Tj)

--

Berapa Orang ke Sorga Jika Hari Ini Akhir Dunia?
Sunday, 14 February 2010 00:03

Data penganut agama di Dunia The last 2009. Jumlah populasi dunia saat ini (sampai akhir tahun 2009) adalah 6,78 miliar manusia. The World Almanac and Book of Facts 2009 mencatat data 8 jenis keyakinan manusia yang paling banyak dianut di seluruh dunia adalah sbb:

• Muslim 1,57 miliar;
• Kristen 2,2 miliar (1,1 miliar di antaranya adalah Katholik Roma), jika dipisah, Islamlah agama mayoritas di dunia;
• Atheis 1,1 miliar;
• Hindu 900 juta;
• Konghucu/Kepercayaan China 395 juta;
• Buddha 377 juta orang;
• Pengikut ajaran Sikh 23 juta;
• Yahudi itu jumlahnya ‘hanya’ 15 juta saja di dunia ini;
• Lain-Lain 200 juta

Dr. Rod Bell, president of the Fundamental Baptist Fellowship of America, memperkirakan bahwa 50 persen dari anggota gereja hidup tanpa Kristus. Perkiraannya ini sesuai dengan perkiraan Bob Jones, Sr. …yang pada tahun 1940 juga memperkirakan 50 persen. Dr. BR. Lakin memperkirakan bahwa 75 persen masih terhilang. WA. Criswell bahkan akan terkejut bila melihat 25 persen anggota jemaatnya di sorga. Dr. Bob Gray, yang cukup lama melayani sebagai gembala Trinity Baptist Church of Jacksonville, Florida, suatu kali berkata bahwa mungkin 75 persen dari orang-orang yang telah ia baptiskan ternyata belum diselamatkan. Billy Graham meletakkan jumlah pada 85 persen (beberapa tahun lalu) ketika AW. Tozer dan konsultan Southern Baptist Jim Elliff menaikan menjadi 90 persen.

Ini adalah jumlah yang membuat shock untuk diyakini, namun tidak mengherankan… banyak orang masih terhilang walaupun sudah ada dalam gereja yang tak kurang-kurangnya terus meningkatkan berbagai metode penginjilan… Di negeri ini (America) dari pesisir ke pesisir Kekristenan begitu banyak dengan ribuan gedung gereja dan jutaan anggota, sungguh berat untuk menyatakan begitu dalam permasalahannya. Alasannya begitu banyak yang berpikir bahwa mereka telah diselamatkan namun pada kenyataannya masih terhilang sebagai akibat dari kesalahmengertian tentang maksud keselamatan. Banyak orang taat agama yang percaya bahwa mereka adalah orang Kristen sejati karena beberapa kriteria eksternal atau yang tampak dari luar. Ini mungkin karena mereka merasa sudah berdoa untuk diselamatkan. Ini juga mungkin perasaan mereka yang menduga dirinya telah diselamatkan.

Alkitab memberikan peringatan menghadapi dependensi terhadap hal-hal yang salah untuk keselamatan. (Jim Binney, Issues of the Heart, Fall 2000, hal. 4)

Ketika tokoh Injili seperti AW. Tozer berkata bahwa 90% dari anggota gereja kita masih terhilang berarti kita sedang dalam masalah! Bahkan Billy Graham suatu kali berkata bahwa 85% dari anggota gereja kita belum diselamatkan. Ini adalah perkiraan yang menakutkan.

Beberapa tahun lalu, Dave Hunt pernah memperkirakan bahwa dari 1,8 miliar orang Kristen, yang akan terangkat jika hari ini Rapture, maka hanya 250 Juta orang Kristen yang Rapture (Mengalami Pengangkatan).

Berdasarkan data Penduduk Dunia saat ini dari The World Almanac and Book of Facts 2009, Saya memperkirakan hanya 220 juta yang akan masuk Surga jika hari ini semua orang mati. Angka 220 juta didapat dari 20% (15% Kristen + 5% Katolik) terdiri dari 165 juta Kristen (15% dikali 1,1 M) dan 55 juta Katolik (5% dikali 1,1 M).

1Tim. 4:1, Dan Roh mengatakan dengan jelas, bahwa pada waktu-waktu yang akan datang beberapa orang akan gugur dari iman karena memberi perhatian kepada roh-roh yang menyesatkan dan ajaran-ajaran setan-setan,

2Tim. 3:1 Dan ketahuilah ini, bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar,

2Tim. 3:2 karena manusia akan menjadi pencinta diri sendiri, pencinta uang, pembual, takabur, penghujat, tidak patuh kepada orang tua, tidak tahu bersyukur, tidak kudus,

2Tim. 3:3 tiada kasih sayang, tidak mau berdamai, penuduh, tiada kendali diri, ganas, benci akan kebaikan,

2Tim. 3:4 pengkhianat, ceroboh, pongah, cinta akan kesenangan lebih daripada cinta akan Elohim,

2Tim. 3:5 sambil mengenakan suatu bentuk kesalehan tetapi telah memungkiri kuasanya; dan, hindarilah hal-hal ini.

2Tim. 4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, tempelaklah, tegurlah, nasihatilah dengan segenap panjang sabar dan pengajaran!

2Tim. 4:3 Sebab waktunya akan tiba, ketika mereka tidak dapat bertenggang rasa terhadap pengajaran yang sehat, sebaliknya sesuai dengan keinginan mereka sendiri, mereka akan mengumpulkan para pengajar bagi diri mereka sendiri, agar pendengarannya digatalkan,

2Tim. 4:4 dan sesungguhnya mereka akan memalingkan pendengarannya dari kebenaran dan mereka akan dibelokkan kepada dongeng-dongeng.

2Tim. 4:5 Namun engkau, tenangkanlah pikiranmu dalam segala sesuatu, jalanilah penderitaan, lakukanlah pekerjaan pemberitaan injil, tunaikanlah tugas pelayananmu!

Luk. 10:2 Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

Jika anda adalah gembala sidang di Gereja anda, lakukanlah survei kepada semua jemaat di gereja anda, adakah anda bisa yakin bahwa 10% di antara mereka sudah Kristen yang Lahir Baru (yang sudah diSELAMATkan)? Jika YA, bersyukurlah. Tugas masih banyak rupanya. (Dede Wijaya)

--

Tiga Pelajaran Tentang Kebenaran
Friday, 05 March 2010 11:25
Alkisah zaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan.

Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin dari pada Simon, bahkan banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 Rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 Rubel. Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.

Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tidak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan.

Simon ketakutan, "Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja." Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata, "Hai Simon, tak malukah engkau? Kau punya mantel meskipun sudah berlubang, sedangkan orang itu telanjang. Pantaskah orang meninggalkan sesamanya begitu saja?"

Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing. "Simon, siapa ini? Mana mantel barunya?"

Simon mencoba menyabarkan Matrena, "Sabar, Matrena... dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang."

"Bohong! Aku tak percaya... sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!"

"Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?

"Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat. "Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan dari mana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?"

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya. "Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini."

"Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu," demikian Simon menjawab.

Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur."

"Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja." Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya.

"Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?" Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon.

Simon menjawab, "Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia."

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini.

Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam. "Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!"

Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum. Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu.

Simon berkata, "Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara."

Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon. "Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena..."

Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya. "Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja".

"Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon," Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu. Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, "Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?"

Ibu itu menjelaskan, "Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri."

"Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya," kata Matrena.

Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata, "Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit."

Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, "Nanti dulu Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?"

Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, "Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan "kejam".

Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke sorga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, "Mikhail, turunlah ke Bumi dan pelajari ketiga kebenaran ini hingga kau mengerti: PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA? KEDUA, APA YANG TAK DIIZINKAN PADA MANUSIA? KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA?"

"Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut di belakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, “Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?” Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama: “YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH"

"Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua: “MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN"

"Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga: “MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA.”

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup." Mikhail kembali ke sorga. (NN)

--

Apa Untungnya Pergi ke Gereja?
Wednesday, 03 March 2010 11:15

Seorang nenek sedang menyambut cucu-cucunya yang baru pulang dari sekolah. Mereka adalah anak-anak muda yang sangat cerdas dan sering menggoda nenek mereka. Kali ini, Tom mulai menggoda dia dengan berkata, "Nek, apakah nenek masih pergi ke gereja pada hari minggu?"


"Tentu!"

"Apa yang nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek bisa memberitahu kami tentang Injil minggu lalu..?"

"Tidak, nenek sudah lupa. Nenek hanya ingat bahwa nenek menyukainya."

"Lalu apa khotbah dari pak pendeta?"

"Nenek tidak ingat. Nenek sudah semakin tua dan ingatan nenek melemah. Nenek hanya ingat bahwa ia telah memberikan khotbah yang memberi kekuatan, Nenek menyukai khotbah itu."

Tom menggoda, "Apa untungnya pergi ke gereja jika nenek tidak mendapatkan sesuatu dariNya?"

Nenek itu terdiam oleh kata-kata itu dan ia duduk di sana termenung. Dan anak-anak lain tampak menjadi malu. Kemudian nenek itu berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka semua duduk, dan berkata, "Anak-anak, ayo ikut nenek ke dapur."

Ketika mereka tiba di dapur, dia mengambil tas rajutan dan memberikannya kepada Tom sambil berkata, "Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan air, lalu bawa kemari!"

"Nenek, apa nenek tidak sedang melucu? Air di dalam tas rajutan....! Nek, apa ini bukan lelucon?" tanya Tom.

"Tidak.., lakukanlah seperti yang kuperintahkan. Nenek ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu."

Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dengan tas yang bertetesan. "Lihat, Nek," katanya. "Tidak ada air di dalamnya."

"Benar," katanya.

"Tapi lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang. Anak-anak, tidak pernah kamu ke gereja tanpa mendapatkan sesuatu yang baik, meskipun kamu tidak mengetahuinya."

Contoh yang ditunjukkan nenek kepada cucunya di atas hanyalah satu alasan mengapa kita harus ke gereja. Alasan utamanya tentu bukan untuk mendapatkan sesuatu yang baik melalui pemberitaan firman Tuhan, namun lebih kepada ibadah, memuji, menyembah, dan memuliakan Tuhan bersama-sama umat percaya lainnya. (TD)

--

Kasih yang Berkorban
Saturday, 12 December 2009 11:45

Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, "Bu, aku mengasihimu!" Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!"


Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing.

Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut.

Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi." Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini."

Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos." Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan." Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan.

Pesan Moral: Seringkali kita berkata kepada seseorang kalau kita mengasihi mereka. Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orangtua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orangtua dan sesama, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus. *

--

Pit-Stop Kehidupan
Friday, 04 December 2009 10:09
Sekali-kali simaklah pertunjukan balap mobil Formula Satu di televisi. Semua pembalap berlomba memenangkan pertandingan, memacu mobilnya dengan kencang. Ternyata, hal terpenting dalam strategi untuk memenangkan perlombaan adalah Pit-Stop (berhenti sejenak). Tak seorang pembalap, betapapun kencangnya mereka melaju, bisa memenangi lomba tanpa mengambil sekali Pit-Stop.

Dalam Pit-Stop, para pembalap melakukan penyegaran, menerima arahan, melakukan perbaikan mesin, mengisi tangki bensin, mengganti ban, dan berangkat lagi dalam keadaan segar dan semangat baru. Lomba Formula Satu adalah soal adu kecepatan dan strategi. Dan kemenangan sering ditentukan oleh soal penentuan waktu serta manajemen Pit-Stop itu.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, Pit-Stop dapat mewujud dalam berbagai bentuk. Mengikuti pelatihan atau pencerahan. Membaca buku yang mencerahkan. Berdoa dengan penuh sungguh-sungguh. Istirahat makan siang. Melakukan obrolan dengan sahabat. Bercengkerama dengan anak dan istri. Pit-Stop membantu kita dalam meraih kehidupan yang utuh.

Banyak orang yang kelihatannya terlalu sibuk. Mereka bekerja begitu keras untuk meraih kesuksesan hidup. Namun yang terjadi, banyak diantara mereka bagai kelelawar yang terbang di siang hari. Begitu banyak sinar matahari namun justeru sang kelalawar tak mampu melihat.

Mereka yang terlalu sibuk tak mampu melihat kehebatan dan polah tingkah lucu buah hatinya. Mereka tak tahu betapa dalam cinta dan perhatian pendamping hidupnya kepada mereka. Mereka tak menyadari begitu banyak inspirasi kehidupan baru yang berada di sekitarnya. Bahkan terkadang mereka tak menyadari dan tak tahu siapa dirinya. Mereka begitu sibuk, namun justru tak mampu memahami apa makna hidup yang sesungguhnya.

Saatnya kita melakukan Pit-Stop. Renungkanlah untuk apa kita hidup? Mau kemana setelah kehidupan? Sudah berapa lama anda menikah? Dan hal terbaik apa yang pernah anda berikan kepada pasangan hidup anda? Andai satu bulan anda selalu mempersembahkan satu hal yang terbaik buat pasangan hidup anda, saya yakin sang pendamping akan semakin menyayangi anda.

Luangkanlah waktu sejenak (Pit-Stop) untuk mendengarkan celoteh dan cerita anak kita dengan penuh perhatian. Antarkan dan dampingi mereka ke tempat yang mereka amat senangi. Bermainlah petak umpet bersama mereka. Berperilakulah seolah-olah kita adalah teman sepermainan buah hati kita.

Lakukanlah Pit-Stop, maka hidup anda akan semakin bermakna. Keberadaan anda dirindukan orang-orang di sekitar anda. Pit-Stop menjadikan hidup kita lebih hidup.

--

Terry Fox, Anak Muda Pembangkit Semangat
Wednesday, 02 December 2009 10:55

Kehadiran sebuah patung di Kampus Universitas Simon Fraser itu seolah tak henti memompakan semangat pantang putus asa dalam berusaha kepada kaum muda. Itulah patung Terry Fox, dengan kaki kanan palsu dan diresmikan September 2001.


Siapakah Terry Fox? Ia bukan politikus. Bukan pula pengusaha, dan bukan pejabat penting suatu negara. Terry Fox adalah seorang mahasiswa kelahiran Winnipeg, Manitoba-Kanada, 28 Juli 1958, yang terpaksa mengubur cita-citanya karena menderita kanker tulang. Meski demikian, ia gigih menghimpun dana untuk penelitian kanker melalui lari maraton yang disebutnya maraton pengharapan (marathon of hope). Upaya Terry Fox ternyata mengundang perhatian dunia.

Vonis Kanker
Seperti anak muda lain, Terry Fox sejak muda amat menyukai olahraga basket. Kesukaannya itu diteruskan ketika diterima sebagai mahasiswa tahun pertama jurusan kinesiologi di Universitas Simon Fraser di Vancouver, Kanada. Di Universitas itu, ia juga diterima sebagai anggota tim bola basket.

Namun, kesukaan bermain basket ini tidak bisa dipertahankan karena ia sering merasakan kesakitan yang amat sangat pada kaki kanannya. Dari pemeriksaan dokter diketahui, Terry yang baru berumur 18 tahun itu mengidap kanker tulang. Akibatnya, kaki kanan Terry harus diamputasi sekitar enam inci (sekitar 15 cm) di atas lutut.

Pada saat itu, dunia kedokteran belum menemukan cara lain untuk pengobatan kanker, selain diamputasi. Saat diamputasi, Terry sempat kehilangan semangat hidup. Beruntung, keluarganya tak henti memberi semangat untuk hidup. Selain itu, Terry menyadari betapa dukungan masyarakat umum untuk penelitian kanker masih kurang. Dari perenungan itulah, Terry mendapatkan ide untuk melakukan aktivitas maraton pengharapan dengan meintasi Kanada sejauh 5,000 mil.

Meski sempat ditentang banyak orang, termasuk ibunya—Betty Fox—Terry tetap mewujudkan keinginannya. Marathon of Hope pun dimulai pada 12 April 1980 dari St. John, Newfoundland. Dengan menggunakan kaki kanan palsu, Terry Fox berlari tertatih-tatih melintasi jalan-jalan di Kanada. Meski semula banyak orang tak menghiraukan aktivitas Terry, lama-kelamaan perjuangan ini menarik perhatian. Bagai gelombang, antusiasme masyarakat makin lama kamin besar.

Meski Terry pantang menyerah, penyakit kanker agaknya lebih capat dan lebih ganas menyerang. Tanggal 1 September 1980 adalah hari ke-143 Terry melakukan Marathon of Hope. Perjalanan pun sudah ditempuh sejauh 5,373 km dan Terry sudah mencapai Thunder Bay, Ontario.

Saat itu Terry merasakan dadanya amat sakit. Ia lalu dilarikan ke rumah sakit. Ternyata kanker sudah menyerang paru-paru. Dokter meminta Terry menghentikan aktivitasnya. Keingingan Terry untuk melintasi Kanada sejauh 5,000 mil (8,000 km) dan ingin merendam kaki palsu di Lautan Atlantik pun sirna. Pada tanggal 28 Juni 1981, Terry Fox meninggal pada usia 22 tahun.

Menjadi Teladan
Kini, kegigihan, semangat, dan keberanian Terry tidak hanya dikenang, tetapi juga dijadikan teladan bagi kaum muda dan bangsa Kanada. Untuk mengenang Terry, dibentuk yayasan Terry Fox Foundation. Berbagai aktivitas yayasan ini dimaksudkan untuk mengumpulkan dana guna menggalakkan penelitian kanker.

Menjelang olimpiade musim dingin tahun 2010, Pemerintah Kanada juga menggunakan Terry Fox sebagai “maskot” untuk memompa semangat, kegigihan berjuang, dan keberanian para atlet dalam menghadapi tantangan. Masyarakat Kanada tak akan pernah melupakan kegigihan Terry Fox. Tak hanya itu, kebulatan tekad, rasa kemanusiaan, dan tak mementingkan diri telah memjadi inspirasi bagi jutaan masyarakat di dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Pada November 2004, masyarakat Kanada telah memilih Terry Fox sebagai pahlawan besar abad ke-20. Setiap bulan September, Terry Fox selalu dirayakan dan dikenang secara internasional. Penghargaan besar ini ikut memompa semangat anak-anak muda, terutama mahasiswa Universitas Simon Fraser yang sedang menempuh studi. (kompas)



--
Lingkungan Berpengaruh untuk Anda
Thursday, 26 November 2009 10:38

Ada 3 kaleng Coca-cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama. Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng Coca-cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah 'SUPERMARKET LOKAL'. Kaleng Coca-cola pertama diturunkan di sini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng Coca-cola lainnya dan diberi harga Rp 4.000.

Pemberhentian kedua adalah 'PUSAT PERBELANJAAN BESAR'. Di sana, kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp 7.500.

Pemberhentian terakhir adalah 'HOTEL BINTANG 5' yang sangat mewah. Kaleng Coca-cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng Coca-cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp 60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah: Mengapa ketiga kaleng Coca-cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama?



Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP. Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari diri Anda, maka Anda akan 'MENJADI CEMERLANG'. Tapi bila Anda berada di lingkungan yang meng-kerdil- kan diri Anda, maka Anda akan 'MENJADI KERDIL'.

(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA. (eRijk/tm)

--

Menegur Diri Sendiri dan Memaafkan Orang Lain
Thursday, 26 November 2009 10:32

Fan Chunren (1027-c.1101) adalah anak kedua Fan Zhongyan, seorang sastrawan terkenal dalam sejarah China dan tokoh politik penting dalam Dinasti Song (960-1279). Dia mengajarkan anak-anaknya untuk hidup sesuai dengan standar moral yang tinggi.

"Orang yang paling bodoh bisa menjadi sangat rasional ketika dia melihat kesalahan orang lain, dan orang yang sangat pintar bisa menjadi sangat bodoh ketika dia mencari alasan atas kesalahannya sendiri. Oleh karena itu, jika seseorang dapat menegur diri sendiri seperti dia mencela orang lain dan memaafkan orang lain seperti dia memaafkan dirinya sendiri, maka orang itu dapat dengan mudah menjadi seorang bijak," katanya.

Sebagian orang bertanya pada Fan bagaimana pedoman untuk mematut diri sendiri dan orang lain. Dia menjawab, "Hanya orang yang sederhana dapat memupuk rasa hormat dan malu, dan hanya dengan memaafkan dapat membawa kebajikan dan pahala."

Fan berlatih kultivasi diri. Setiap hari setelah kembali dari kantor pemerintah, dia mengganti pakaiannya dengan sesuatu yang murah. Dia juga tidak pernah memilih-milih makanan yang dia makan. Dia terus melakukan ini terlepas dari pangkat yang telah dia capai sepanjang hidupnya.

Dalam berhubungan dengan orang lain, orang Tiongkok kuno mendidik anak-anak mereka untuk bersifat keras terhadap diri sendiri dan memaafkan orang lain. Oleh karena itu Fan menasehati anak-anak dan murid-muridnya bahwa kunci moralitas yang tinggi adalah "mengecam diri dengan cara seperti diri sendiri menemukan kesalahan orang lain dan memaafkan orang lain seperti seseorang memaafkan dirinya sendiri."

Dalam prakteknya, ini tidak begitu mudah. Orang cenderung melihat dunia sebagai tidak memuaskan, korup, merasa tidak puas dan tidak nyaman. Jengkel dan terganggu, mereka mulai menyalahkan dan mencela orang lain.

Kita sering membicarakan banyak prinsip-prinsip besar untuk menutupi masalah kita sendiri. Ketika kita melihat kekurangan orang lain, kita merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Ini bukanlah cara untuk kultivasi tingkah laku seseorang.

Langkah pertama dalam berkultivasi pahala adalah dengan mulai mengidentifikasi kekurangan kita sendiri. Setelah kita mempelajari sebuah prinsip, akan mudah untuk menerapkannya kepada orang lain, tetapi jauh lebih sulit untuk menerapkannya ke diri kita sendiri.

Hanya berbicara tentang prinsip-prinsip itu tidak akan berhasil kecuali kita menerapkannya dalam tindakan nyata. Setiap kali timbul konflik atau kesulitan, kita harus terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri daripada mengkritik atau menyalahkan orang lain. Modal moral kita akan bertambah jika kita dapat terus menerus memeriksa diri sendiri dan toleransi dengan kesalahan-kesalahan orang lain. Hal ini, pada gilirannya akan memungkinkan kita untuk mempengaruhi orang lain dengan cara yang positif.

Masalah yang kita lihat pada orang lain harus berfungsi sebagai pengingat untuk diri kita sendiri untuk tidak membuat kesalahan yang sama. Jika kita dapat sungguh-sungguh memaafkan orang lain dengan cara yang sama kita memaafkan diri sendiri, kesucian akan berada dalam jangkauan. (EpochTimes/Minghui/khl)

--

Ada Tetesan Setelah Tetesan Terakhir
Wednesday, 25 November 2009 14:59

Pasar malam dibuka di sebuah kota. Penduduk menyambutnya dengan gembira. Berbagai macam permainan, stand makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat. Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia kuat ini. Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga berkeping-keping.


Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir. 'Hingga tetes terakhir,' pikirnya.

Manusia kuat lalu menantang para penonton: 'Hadiah yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!'

Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan menekan sisa jeruk... tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal. Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata: 'Aku berikan satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?'

Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba. 'Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung.' Walau dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.

Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras... dan 'ting!' setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung. Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.

Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, 'Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu. Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?'

'Begini,' jawab wanita itu, 'Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima anakku. Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau juga akan mengetahui jalan untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku'.

Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya karena ada Pribadi yang mengasihiku.

'Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya', demikian kata seorang bijak. Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menerima hal tersebut. (Bits & Pieces, The Economics Press)

Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. (Amsal 2:6-8)

--

Yesus, Harapan Saat Ini
Thursday, 19 November 2009 17:30

Banyak para pakar yang berkata bahwa hari-hari ini adalah hari-hari bumi menuju kepada kesudahannya. Ada begitu banyak pendapat dari anak-anak Tuhan hingga masyarakat luas. Suku maya mengartikan 2012 adalah akhir dari segalanya, akan terjadi kehancuran yang dahsyat di bumi ini. Sedikit merenung akan film yang gembar-gembor tiket penjualannya di berbagai kota menjadi luar biasa, semua orang fokus dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di 2012?

Satu ketika ketika, aku sedang merenung di tengah kesibukan. Aku diingatkan mengenai Nuh, nggak tahu apa hubungannya ya?namun begitu aku mempelajari tokoh ini, Tuhan mengingatkan pesan yang sangat penting, Nuh membangun bahtera di tengah-tengah tempat yang jelas-jelas tandus dan tidak mungkin secara manusia air bisa naik, dan ketaatan Nuh membuat ia diolok-olok dan di cemooh oleh orang sekitarnya. Nuh taat saat Tuhan katakan sesuatu, dalam hal ini Nuh tidak melihat kemustahilan menurut manusia. Jika ia menggunakan pikirannya, ia pasti akan membantah Tuhan dan menganggap Tuhan koq nyuruh yang aneh-aneh, orang-orang tidak melihat apa yang sebenarnya yang Nuh lakukan.



Aku di ingatkan, saat ini kita seperti orang-orang yang di sekitar Nuh, hanya melihat satu masalah yang menyebabkan ketakutan. Bedanya orang-orang tidak melihat Tuhan di dalam diri Nuh, dan tidak bersiap-siap dalam menghadapi masalah karena mengira semuanya aman. Kita saat ini tidak melihat Tuhan di dalam dunia ini, kita melihat semuanya tidak aman, takut akan waktu tertentu sehingga membuat kita tidak melihat Tuhan, tidak yakin akan Yesus lagi, fokus kepada ramalan-ramalan dan berfikir untuk mencari jalan aman...

Tuhan Yesus tidak pernah berjanji bahwa dunia ini akan adem ayem saja, namun Ia berjanji akan menyertai kita hingga kesudahan zaman, maksudnya adalah di tengah badai yang membuat iman kita goyah, Ia akan nyatakan kemuliaanNya dan KuasaNya sehingga setia lutut akan bertelut, dan semua lidah akan mengaku Yesus Kristuslah Tuhan…

Apapun yang terjadi ke depan, kita tidak akan pernah tahu, namun kita dapat melakukan sesuatu, yaitu seperti Nuh, kita membangun ‘’bahtera’’ di dalam hidup kita, bahtera yang berkenan kepada Tuhan adalah penyerahan kita full kepadaNya dan terus peka datang kepada Tuhan Yesus. Namun kita tetap percaya akan penyertaan Tuhan bagi hidup kita, hanya Yesus yang dapat membuat kita tenang untuk menghadapi hari-hari ini

Yuk kita nyanyikan pujian ini kepada Tuhan :
Saat ku tak melihat jalanMu…
Saat ku tak mengerti rencanaMu
Namun tetap ku pegah janjiMu
Pengharapanku hanya padaMu…

Reff :
Hatiku percaya…
Hatiku percaya…
Hatiku percaya…
Slalu ku percaya…

--

Kemana Lift Kehidupan Kita Menuju?
Thursday, 19 November 2009 12:18

Kita semua tentu mengenal lift. Dengan alat itu kita bisa naik atau turun tingkat pada sebuah gedung tinggi. Jika kita ingin naik, tinggal menekan tombol naik; lalu lift membawa badan kita naik. Jika kita ingin turun, tinggal pencet tombol turun; lalu lift itu dengan patuh membawa tubuh kita turun. Secara kasat mata, lift membawa kita naik atau turun. Namun, apakah lift juga bisa membawa ‘diri’ kita menuju ke tingkat yang kita inginkan?

Saya pernah berkantor di sebuah gedung perkantoran yang langka di jantung kota Jakarta. Gedung itu bernama GKBI yang letaknya persis diseputaran jembatan Semanggi. Mengapa saya sebut langka, karena gedung itu memiliki lift yang unik. Pada kebanyakan gedung bertingkat lain, jika kita ingin menuju ke lantai tertentu, kita cukup menekan tombol up atau down saja. Jika ada orang lain yang sudah menekan tombol itu, maka kita tidak usah bersusah repot lagi untuk menekannya. Istilahnya, kita bisa nebeng kepada usaha orang lain, untuk tiba di tingkat yang kita inginkan. Ketika salah satu pintu lift akan terbuka. Lalu kita memasukinya. Didalam lift itu, barulah kita menekan tombol nomor lantai yang hendak kita tuju. Jika ada orang lain yang sudah menekan ke lantai yang kita ingin tuju, kita boleh berdiam diri saja. Kita sebut saja system seperti ini sebagai lift konvensional.

Di gedung GKBI tidak bisa begitu. Karena untuk menuju ke lantai tertentu kita harus ‘terlebih dahulu’ menekan nomor lantai yang kita inginkan secara digital ‘di luar lift’. Setelah itu, sistem canggih tersebut memilihkan untuk kita lift mana yang akan membawa kita ke lantai yang kita inginkan. Contohnya, kita menekan angka 1 dan 0 untuk menuju ke lantai 10. Maka sistem itu akan mengarahkan kita kepada lift P, misalnya. Dan itu berarti bahwa kita harus menggunakan lift P untuk bisa sampai ke tempat yang akan dituju.

Ketika pintu lift yang bukan P terbuka, maka kita diam saja. Sekalipun lift itu masih kosong. Sekalipun kita sedang terburu-buru, kita tetap tidak memasukinya. Mengapa? Karena lift itu tidak akan membawa kita ke Lt 10 yang kita tuju. Dan karenanya kita akan tetap fokus kepada lift P. Dan kita hanya akan memasuki lift P, seperti niat kita semula. Ketika pintu lift P terbuka, kita memasukinya tanpa harus menekan apapun lagi. Karena, lift itu akan membawa kita ke lantai 10 yang kita pilih diawal tadi. Saya menyebutnya lift kontemporer.

Lift konvensional versus lift kontemporer. Di lift konvensional, kita boleh saja menyerahkan tujuan hidup kita kepada arus yang diciptakan oleh orang lain. Kita boleh ikut orang lain yang sudah terlebih dahulu menekan tombol. Tidak masalah apakah tujuan orang itu sama dengan tujuan kita atau tidak. Begitu tombol up atau down ditekan oleh orang lain, maka kita tinggal mengikuti arusnya saja.

Di lift kontemporer, kita tidak bisa lagi melakukan hal itu. Artinya, kita tidak bisa mengikuti saja apa yang orang lain lakukan dengan lift itu tanpa tahu tujuannya terlebih dahulu. Kita boleh mengikuti orang itu, hanya jika kita tahu persis bahwa tujuan orang itu adalah lantai yang sama dengan yang ingin kita tuju. Anda tidak boleh mengikuti orang lain jika tujuannya berbeda dengan Anda. Bahkan, Anda pun tidak boleh mengikuti orang lain dan menyerahkan tujuan Anda kepada orang lain yang Anda tidak tahu apakah tujuannya sama dengan Anda atau tidak.

Lift konvensional versus lift kontemporer. Di lift konvensional, kita tidak perlu merencanakan, kemana kita akan pergi. Di lift kontemporer, kita harus merencanakan, kemana kita akan pergi. Sebab, jika kita tidak merencanakan kepergian kita, maka begitu memasuki lift kontemporer ini, kita akan langsung tersesat. Sebab, lift itu tidak membawa kita ke tempat yang ingin kita tuju. Melainkan tempat antah berantah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Jika lantai yang ingin kita tuju itu adalah ‘tujuan hidup’ kita. Dan jika kehidupan kita ini adalah sebuah lift yang akan membawa kita kepada tujuan hidup yang ingin kita capai itu, maka kiranya layak jika kita mengajukan 3 pertanyaan ini:

Pertama, “Apakah kita bisa mengandalkan dan menyandarkan diri kepada orang lain yang belum jelas kemana arah tujuannya?”

Kedua, “Apakah kita bisa memasuki pintu lift peristiwa kehidupan mana saja, yang tidak jelas ke lantai kehidupan mana dia akan menuju?”

Ketiga, “Apakah kita bisa membiarkan diri kita dibawa oleh lift kehidupan itu tanpa harus menentukan terlebih dahulu, lantai dimana tujuan kehidupan kita didefinisikan?”

Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift kehidupan konvensional hingga kita boleh saja menyerahkan seluruh kepentingan hidup dan tujuan hidup kita kepada orang lain yang sudah terlebih dahulu men-set lift itu. Sebab, ada kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. Sehingga kita harus benar-benar melakukan sendiri, dan menentukan sendiri; tujuan yang ingin kita capai dalam hidup kita.

Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift konvensional hingga kita boleh saja memasuki lift kehidupan manapun yang terbuka lebih dahulu. Sebab, ada kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. Sehingga kita harus benar-benar fokus, hanya kepada lift kehidupan yang akan membawa kita kepada tempat tujuan yang sudah kita rencanakan saja.

Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift kehidupan konvensional hingga boleh-boleh saja jika kita tidak menekan dan merencanakan tombol tujuan kehidupan sebelum memulai perjalanan ini. Karena didalam lift kehidupan konvensional, ‘akan ada kesempatan’ untuk menekan tombol itu. Nanti didalam lift. Namun, ada kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. Sehingga untuk bisa sampai kepada tujuan hidup yang kita inginkan; kita harus memulainya dengan merencanakannya terlebih dahulu. Sebab, di dalam lift kehidupan kontemporer ‘tidak akan ada lagi kesempatan’ untuk menekan tombol itu. Semuanya serba terlambat. Dan kita akan segera tersesat.

Namun demikian, lift kehidupan konvensional dan lift kehidupan kontemporer memberi kita inspirasi untuk menentukan; kapan saatnya kita boleh mengikuti arus yang dibuat oleh orang lain. Dan kapan saatnya untuk mengandalkan kemampuan diri kita sendiri. (Dadang Kadarusman)

--

Tingkah Laku Orang Percaya
Sunday, 15 November 2009 23:42

Hidup kita harus dilandaskan pada karya penebusan Yesus Kristus yang telah mati untuk menebus kita dari perbuatan dosa. DarahNya yang mahal telah membayar penuh harga segala kesalahan kita, di masa lalu, masa sekarang dan masa depan (Efesus 1:7).

Dengan menerima pengorbanan Tuhan yang mati demi kita, kita mengalami kelahiran kedua dan menjadi hidup secara rohani. kehadiranNya adalah bukti dari kedudukan kita yang baru di dalam Kristus sekaligus sebagai jaminan atas warisan kita di masa depan dan tempat kita di surga. Sebagai anak-anak Tuhan, kita diperintahkan untuk hidup dalam kekudusan. Hidup yang semacam ini ditandai dengan penghormatan yang mendalam kepada Tuhan.

Kerinduan kita untuk hidup kudus berasal dari pengenalan kita akan karakter Bapa, memahami harga yang harus dibayar untuk bisa diselamatkan dan menyadari bahwa kita akan menghadapi suatu penghakiman di masa depan. Pada suatu hari nanti, kita akan berdiri di hadapan Tuhan, Ia menilai pekerjaan kita dan menentukan ganjaran sorgawi yang kita dapatkan (1 Korintus 3:11-15). Ia memeriksa perasaan hati kita serta perilaku kita. Ketaatan akan diganjar; masa-masa pemberontakan tidak akan memperoleh ganjaran. Dengan kata lain, tingkah laku dan pilihan kita sangat penting, baik di dalam hidup ini maupun di masa depan.

Ambillah waktu secara rutin untuk merenungkan kebenaran-kebenaran ini. *

--
Quality Time
Saturday, 14 November 2009 12:03
“Kamu tidak pernah punya waktu untuk saya....”. Begitu kira-kira keluh-kesah istri saya. “Setiap kali kita makan bersama kamu selalu sibuk dengan PDA-mu. Begitu pula saat malam hari, kamu diam aja, ngobrol dong.... ngobrol! Sudah gak mau ngobrol langsung tidur begitu ketemu bantal. Mau kamu apa sih?”

Tidak mau kalah sayapun berusaha membela diri “Lha, saya gak ada hal menarik yang perlu saya obrolin ke kamu. Seperti biasa aja, masuk kantor, kerja, makan siang, trus pulang. Gak ada yang menarik ! Kalau kamu ada yang mau kamu obrolin ya ngobrol aja. Susah amat sih!”

Saya merasa tertekan untuk bercerita apa yang sebenarnya tidak menarik bagi saya untuk saya ceritakan. Sedangkan istri saya merasa banyak kok yang bisa saya obrolin. Seperti hari ini telat gak trus gimana kerjanya, lalu makan siang sama siapa dan makan apa, enak gak, dan lain sebagainya. Saya merasa dalam hal ini istri saya dan saya tidak pernah klop.

Kita selalu saja merasa tidak mengerti dan tidak dimengerti satu sama lain. Sampai satu saat, setelah mengalami diskusi dan tukar pikiran yang agak menegangkan, akhirnya saya sadar bahwa dalam sebuah relasi pernikahan perlu ada yang namanya Quality Time. Cinta pernikahan akan terus dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan melalui quality time ini.

Quality Time adalah saat suami istri memiliki komunikasi / relasi yang berkualitas. Waktu dimana saatnya untuk sungguh-sungguh mendengarkan dan didengarkan. Saat segala unek-unek, pemikiran dan perasaan di sampaikan untuk didengarkan. Saat itu bukan untuk mencoba memutuskan banyak hal, bukan pula moment untuk terburu-buru dan berusaha untuk memberikan solusi atau jalan keluar. Namun saat itu adalah waktu untuk untuk mendengarkan dan berbicara dari hati kehati. Waktu untuk menyatakan perhatian, dukungan dan cinta. That’s all!!

Waktu itu gak perlu terlalu lama, mungkin sekitar setengah atau satu jam setiap hari. Namun kita perlu untuk mengusahakan mengambil waktu lebih banyak dalam quality time sekali dalam seminggu. Dan sampai hari ini setiap hari saya terus berusaha untuk memiliki quality time dengan istri saya.

Hal ini mengingatkan saya mengenai relasi dengan Allah. Tak bisa dielakkan lagi bahwa relasi dengan Allah juga membutuhkan quality time. Cinta kita akan Allah tidak akan bisa dipertahankan ataupun ditingkatkan bila kita pernah memiliki sebuah quality time dengan Allah. Quality time dengan Allah tidak berbicara mengenai saat dalam persekutuan doa atau betapa seringnya kita doa sebelum makan maupun berapa rajinnya kita ikut doa novena setiap minggu.

Quality time dengan Allah berbicara mengenai kualitas relasi kita dengan Allah bukan kuantitasnya. Walaupun kuantitas sebenarnya dapat membantu kita untuk memiliki kualitas yang lebih baik. Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam quality time dengan Allah seperti menyatakan betapa kita mencintaiNya, mensyukuri segala sesuatu yang telah Ia beri, mengakui Dia sebagai Allah dan keAllahanNya dalam hidup kita, merenungkan kembali FirmanNya, mendengarkan suaraNya, berkeluh kesah, bergumul, memohon, bernyanyi, dan lain sebagainya.

Yang terpenting adalah quality time dengan Allah tidak kita lakukan secara “nyambi” atau karena mumpung. Quality time harus direncanakan dan di-schedule. Kita harus menyediakan waktu, bukan kalau ada waktu saja. Milikilah quality time dengan Allah setiap hari, karena hal ini sangat mempengaruhi kualitas hidupmu. Semakin kita memiliki quality time dengan Allah, semakin kita memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Cobalah maka kita akan bisa melihat betapa Ia adalah Allah yang setia. Tuhan Yesus Memberkati. (Welly Alfons)

--

Hajaran Kasih
Saturday, 14 November 2009 11:59
Dunia mengenal Hellen Keller sebagai orang buta yang berhasil lulus sarjana, dan dalam keterbatasannya menjadi berkat bagi banyak orang. Sebenarnya, di balik sosok Hellen, ada tokoh yang jarang disorot. Yakni Anne Sullivan, guru privat Hellen.

Dialah yang mengajar Hellen banyak hal. Namun, jangan berpikir ia mengajar dengan lemah lembut. Ketika Hellen kecil, Anne bahkan harus mendisiplin Hellen dengan sangat keras supaya ia bisa makan dengan sendok. Awalnya, orangtua Hellen keberatan dengan cara Anne yang menurut mereka terlalu disiplin. Namun, Anne meyakinkan orangtua Hellen bahwa jika mereka ingin anaknya berhasil, Hellen perlu didisiplin. Jika Anne tidak mendisiplin Hellen, dunia mungkin takkan pernah diberkati oleh seorang Hellen Keller.

Demikian pula dengan Bapa di sorga. Karena Dia adalah Bapa yang baik, itu sebabnya Dia mendisiplin kita. Penulis surat Ibrani menuliskan didikan Tuhan dari sudut pandang Tuhan. Ia memberi kita petunjuk bagaimana harus bersikap ketika dihajar Tuhan.

Pertama, jangan anggap enteng. Sikap menganggap enteng membuat kita tidak pernah belajar dari kesalahan yang kita buat, sehingga kita terus-menerus membuat kesalahan yang sama. Kedua, jangan putus asa. Putus asa membuat kita merasa tak punya harapan untuk maju. Ingat saja bahwa Tuhan mendidik bukan karena benci, sebaliknya karena Dia mengasihi dan menganggap kita anak-Nya. Dididik dan dihajar Tuhan memang tidak menyenangkan. Namun, itulah bukti kasih Tuhan yang mendalam pada kita. Selama ini, bagaimana respons kita terhadap didikan Tuhan? Sepatutnya kita bersyukur dan menerima didikan-Nya.

--

Hati yang Mati
Thursday, 12 November 2009 06:06
Dalam aksara China, kata "sibuk" berarti "kematian hati" atau "hati yang mati". Kesibukan cenderung membuat orang "mati rasa" karena terampas hal yang berharga dalam hidup kita, yakni kepekaan. Orang yang sibuk bisa kehilangan kepekaan terhadap Tuhan dan sesama. Lebih parah lagi, orang yang sibuk lama kelamaan bisa menjadi egois -- tidak lagi peduli pada manusia di luar dirinya.

Paulus membukakan tentang kondisi manusia akhir zaman kepada Timotius. Kondisi di mana manusia akan "mencintai dirinya sendiri (egois), menjadi hamba uang, membual, menyombongkan diri, menjadi pemfitnah, berontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, dan tidak mempedulikan agama" (2 Timotius 3:2)

Sebagai anak Tuhan mari kita latih kepekaan rohani dalam mencermati tanda zaman, agar tidak terjebak dalam kematian hati. Berhati-hatilah saat kita mulai mengklaim diri sibuk. Dalam kesibukan-Nya, Yesus masih bisa berdoa. *

--

Perempuan Pembawa Damai
Wednesday, 11 November 2009 12:46
Dalam bahasa Mandarin, kata “an” yang berarti damai, sejahtera, terdiri dari dua bagian. Atap dan nu (perempuan). Menurut orang Cina, dalam sebuah rumah akan ada damai jika dalam rumah itu ada seorang perempuan.

Bacaan kita hari ini bercerita tentang Abigail, seorang perempuan yang bijak. Sekalipun menikah dengan seorang yang kasar dan jahat, namun Abigail tidak terpengaruh karakter buruk itu dan tetap menjaga hatinya. Pada waktunya, kebijaksaannya terbukti tidak hanya menyelamatkan nyawanya sendiri, tetapi juga seluruh isi rumahnya. Abigail mampu membawa damai bagi seisi rumahnya, sekalipun ia berada dalam kondisi yang sulit.

Sebagai seorang perempuan, kata “an” maupun ayat di atas membuat saya berpikir. Selama ini, apakah saya “membangun” rumah saya dengan membawa kedamaian, atau malah meruntuhkannya dengan tangan saya sendiri? Dengan cara apa kita membangun atau meruntuhkan rumah kita? Salah satunya adalah lewat perkataan. Kita dapat membangun dan menguatkan orang dengan mengucapkan kata-kata yang baik, dengan memberikan pujian yang tulus serta ayat-ayat firman Tuhan. Namun, kita juga dapat menjatuhkan banyak orang lewat gosip, keluhan, omelan, juga pernyataan-pernyata an yang negatif. Bahkan meski kita ada dalam kondisi yang sulit, kita tak perlu menjadikannya alasan untuk mengeluarkan kata-kata yang meruntuhkan. Justru dalam kondisi sulitlah, peran wanita sebagai pembawa damai sangat dibutuhkan. Manakah yang akan kita pilih hari ini? Perkataan yang membangun atau yang meruntuhkan?

PILIHLAH SELALU KATA-KATA YANG MEMBAWA BERKAT

--

Keledai
Wednesday, 11 November 2009 12:45

Suatu hari seekor keledai milik seorang petani terjatuh ke dalam sumur dan keledai tersebut menangis selama berjam-jam, sementara si petani berpikir keras mengenai apa yang harus dilakukannya. Akhirnya si petani memutuskan sesuatu! Agar tidak ada lagi korban yang jatuh, maka sumur tersebut harus ditutup. Lagi pula keledainya sudah tua dan tidak berharga untuk diselamatkan. Ia meminta seluruh tetangganya untuk membantu menimbun sumur tersebut dengan tanah.



Para penduduk beramai-ramai menyekop tanah dan memasukkannya ke dalam sumur dan pada awalnya keledai menyadari apa yang sedang terjadi. Dan ia menangis ketakutan. Tidak beberapa lama kemudian, suara tangis keledai tidak terdengar lagi. Si petani melihat ke dalam sumur dan ia menyaksikan satu hal yang menakjubkan. Pada setiap sekop tanah yang mengenai tubuhnya, si keledai mengibaskan tubuhnya dan naik di atas tanah timbunan yang baru.

Para penduduk terus memasukkan tanah ke dalam sumur yang mengenai tubuh si keledai. Sementara si keledai pun terus mengibaskan setiap tanah yang mengenai tubuhnya dan naik di atas tanah timbunan baru. Setelah timbunan hampir menutupi sumur dan semua orang merasa takjub melihat si keledai melompat keluar dari tepi sumur dan berlari kecil.

Sering kali perjalanan hidup kita seperti cerita di atas, banyak timbunan masalah yang ingin mengubur kita. Kita dapat keluar sebagai pemenang bila kita mengibaskan setiap masalah dan mengambil hikmah dari setiap masalah untuk menuju posisi yang lebih tinggi.

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa” (2 Korintus 4:8)


Sumber: 100 Renungan Populer Sepanjang Masa

--

Kehilangan Kekayaan
Tuesday, 10 November 2009 09:14
“Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;” (Mazmur 34:20).

Saya kehilangan semua uang saya karena salah investasi. Apa yang harus saya lakukan? Pertanyaan seperti ini saya temui hari-hari ini. Semakin buruknya keadaan ekonomi, banyak orang telah kehilangan sebagian besar uang mereka. Beberapa orang terkenal dan memiliki kekayaan melimpah memilih untuk mengakhiri hidup ketika mereka kehilangan kekayaan.

Adolf Merckle, orang nomor 5 terkaya di Jerman menabrakkan dirinya pada kereta api ketika dia kehilangan jutaan Euro dalam spekulasi pada saham Volkswagen (VW). Thierry Magon de la Villehuchet, manajer keuangan di New York, mengakhiri hidupnya setelah menghilangkan uang klien-kliennya sebesar $1,4 milyar (sekitar Rp 16,8 triliun) karena menginvestasikannya pada Bernard Madoff Investments (skema penipuan Ponzi).

Kehilangan kekayaan adalah pengalaman yang menyakitkan. Bagaimanapun seseorang yang berusaha untuk menutupinya tidak akan bisa mengubah kenyataan bahwa kehilangan kekayaan membawa “luka” yang menyakitkan. Sebuah studi oleh The Wellcome Trust yang dipublikasikan pada The Journal of Neuroscience menyatakan bahwa kehilangan uang akan mengaktifkan bagian dari otak yang biasanya menanggapi ketakutan dan rasa sakit. Paling tidak, ada empat hal yang bisa kita lakukan untuk membuat rasa sakit dan ketakutan karena kehilangan kekayaan menjadi minimal.

1. Keberartian diri kita bukanlah berasal dari apa yang kita kerjakan dan berapa banyak yang kita hasilkan “tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah” (1 Petrus 3:4). Orang yang merasa keberartian dirinya berdasar pada apa yang dimiliki akan sangat terpukul ketika kehilangan kekayaan. Mereka merasa tidak berarti lagi setelah tidak memiliki kekayaan.

Beberapa orang berpikir bahwa pemimpin yang senantiasa bekerja keras adalah orang yang paling terpukul ketika kehilangan kekayaan mereka. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Beberapa CEO yang bisa menikmati hidup dan memiliki keberartian diri yang sehat menanggapi kehilangan kekayaan mereka dengan tersenyum. Mereka berkata, “Semakin sedikit kekayaan yang saya miliki, semakin sedikit keputusan besar yang harus saya ambil”. Rasa berarti diri mereka tidak ditentukan oleh banyaknya kekayaan yang mereka miliki.

2. Menyadari adanya proses. "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13). Kita harus senantiasa menyadari bahwa hidup kita adalah suatu proses yang panjang. Kehilangan kekayaan harus kita anggap sebagai suatu proses yang nantinya akan membawa kebaikan dalam hidup kita.

3. Miliki jaringan pendukung. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Amsal 17:17). Kita harus memiliki pendukung (keluarga, teman-teman, gereja) yang akan menguatkan ketika kita menghadapi masa-masa sulit. Kita mungkin saja kecewa ketika kehilangan kekayaan, namun jaringan pendukung kita akan senantiasa memberikan dukungan kepada kita. 4. Miliki respons yang benar “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;” (Mazmur 34:20). Kita harus tetap memiliki respons yang benar dan tidak menyalahkan Tuhan, diri sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekat kita. Tetap mengucap syukur, miliki sikap yang baik, dan kita akan merasakan Tuhan melepaskan kita dari semua masalah kita. (Bahana)

--

Sebuah Pensil
Monday, 09 November 2009 05:39
Seorang pembuat pensil sebelum mengutus pensilnya ke dunia memberikan empat pesan.
(1) Kamu bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya jika kamu mau berada di tangan seseorang.
(2) Kamu akan menderita setiap kali kamu diruncingkan, tetapi kamu perlu itu untuk menjadi pensil yang baik.
(3) Bagian yang terpenting dari hidupmu adalah bagian yang ada di dalam, bukan bagian luarnya.
(4) Pada permukaan mana pun juga, selalu tinggalkan jejakmu dan teruslah menulis.

Ilustrasi di atas menyimpan kebenaran rohani yang luar biasa:

Pertama, kita memiliki potensi yang luar biasa dan mampu melakukan hal yang besar. Hanya saja kalau kita membiarkan diri berada di tangan Tuhan.

Kedua, ada kalanya kita akan mengalami proses-proses pengeratan dan peruncingan yang sangat menyakitkan. Itu membuat kita sangat menderita, tetapi mau tidak mau kita akan melewati proses itu demi kebaikan kita sendiri. Proses pengeratan kedagingan kita akan membuat karakter ilahi muncul dalam hidup kita.

Ketiga, bagian yang terpenting dalam hidup kita adalah bagian yang ada di dalam. Jangan pernah terjebak dengan hal-hal yang hanya merupakan penampilan luar saja. Tuhan tidak pernah tergiur dengan topeng-topeng kita. Tuhan lebih melihat kedalaman hati kita.

Keempat, di mana pun Tuhan taruh kita, selalu tinggalkan jejak atau “tulisan-tulisan”yang benar-benar bisa memengaruhi orang yang membacanya.

Jadilah orang kristiani yang berpengaruh dan selalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi setiap orang yang bertemu dengan kita.

Sudahkah kita menjadi pensil yang meninggalkan goresan mendalam?

--

Tuhan, Aku Cinta PadaMu
Wednesday, 04 November 2009 12:09
Judul di atas adalah sebait kalimat dalam puisi budayawan WS Rendra sebelum ajal menjemputnya. Di tengah deraan sakitnya, ternyata ia masih sempat menciptakan puisi, yang menjadi puisi terakhirnya.

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pingin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Alla

Tuhan, aku cinta padamu

Dalam keadaan sakit dan hampir dijemput ajal, setiap orang pasti akan mengingat dari mana dia berasal, apa yang sudah dia buat selama ini dan beragam memori lainnya. Dalam keadaan sendiri dan tak berdaya diatas tempat tidur, selain bayangan-bayangan peristiwa masa lalu dia juga akan memiliki kerinduan akan Tuhan. Maka bisa dimengerti ketika di atas tempat tidur di sebuah rumah sakit si burung merak, WS Rendra, menggubah puisinya yang menyatakan kecintaannnya akan Tuhan.

Sebagai manusia setiap kita merasakan suatu kerinduan yang besar terhadap seorang pribadi yang lebih besar dari kita. Suatu pribadi yang berkuasa yang lebih besar kuasanya dari kita. Suatu pribadi yang layak menerima penyembahan kita dan yang kita yakini dapat menolong kita melewati hari-hari yang penuh kesulitan. Kita merenungkan tentang Pribadi yang selama ini kita layani atau mungkin telah kita tinggalkan.

Seorang yang sudah pernah mengenal Tuhan dan meninggalkan Tuhan, ketika berada dalam keadaan sakit atau hampir mati akan memiliki suatu kerinduan yang besar akan Tuhan. Orang ini akan mendapati air mata dipipinya membayangkan betapa lamanya dia telah meninggalkan Tuhan dan betapa jahatnya perbuatannya selama ini. Disini dia akan meminta ampun dan melakukan introspeksi diri serta pembenahan diri. Maka bisa dimengerti mengapa terkadang ada orang yang sangat bersyukur diberikan sakit oleh Tuhan.

Sudah dua bulan ini saya harus rest di tempat tidur. Saya mengalami apa yang saya tulis tadi yakni rasa syukur kepada Tuhan karena sakit. Sampai orang-orang terheran-heran melihat saya yang masih tetap tersenyum dan menyambut mereka dengan ramah dan penuh antusias serta semangat setiap kali mereka datang menjenguk. Dalam keadaan sakit saya tidak membiarkan diri saya bersungut-sungut atau menyalahkan keadaan, orang lain atau Tuhan. Saya segera menyesali dosa dan meminta ampun pada Tuhan atas pelanggaran saya. Saya banyak merenung dan melahirkan beberapa karya tulis yang akan segera dibukukan. Semuanya adalah berisi perenungan akan Tuhan.

Tuhan aku cinta padaMu, itulah yang terucap di mulut saya juga ketika saya sakit hingga sekarang. Saat kepala saya menyentuh bantal hingga membuka mata di pagi hari, Tuhan aku cinta padaMu, itulah juga yang saya ucapkan. Dan kiranya itulah juga yang anda ucapkan dari mulut anda setiap saat. Jangan tunggu hingga anda sakit baru mengucapkan kata itu. Tuhan Yesus memberkati. (Hendra Kasenda)

1 Korintus 16:22, Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.

--

Tuhan yang Gendong
Wednesday, 04 November 2009 12:08
Mbah Surip, dengan lagunya tak gendong menyedot perhatian seluruh tanah air. Betapa tidak mulai dari anak saya yang terkecil yang berusia 2 tahun, para artis hingga pejabat tinggi Negara suka dengan lagu ini. Tak gendong kemana-mana Tak gendong kemana-mana Enak donk, mantep donk Daripada kamu naik pesawat kedinginan Mendingan tak gendong to Enak to, mantep to Ayo.. Kemana… Syair lagu yang mengundang senyuman bahkan tertawaan.

Akan tetapi publik tanah air segera berduka setelah Mbah Surip meninggal mendadak. Konon akibat kebanyakan show, doyan kopi dan rokok, sang penyanyi gaek itu pun tak bisa lagi menyanyi tak gendong. Dia tidak bisa lagi menggendong dan menghibur penggemarnya. Lantas kalau Mbah Surip sudah tidak bisa menggendong lagi siapakah yang menggendong anda?

Yesaya 46:4 berkata: Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

Yesus telah memikul dosa, pelanggaran, kelemahan, sakit penyakit dan semua penderitaan kita di kayu salib. Dia telah menggendong anda dan saya sejak semula bahkan sampai kita tua nanti. Dia telah melakukannya dan akan terus melakukannya. Karena DIA adalah Allah yang setia yang mau menyelamatkan kita.

Mbah Surip terbatas saja bisa menggendong (baca: menghibur) anda. Tapi Yesus tidak terbatas. Dia selalu ada di samping anda untuk memberikan penghiburan yang sempurna. Dia bersedia menggendong anda. Meskipun anda tidak setia kepadaNya. Meskipun anda menghujat Dia, meskipun anda membenci Dia, meskipun anda seringkali seperti saya melakukan banyak dosa dan pelanggaran di hadapanNya, namun Dia tetap mau menggendong anda. 2 Timotius 2:13 berkata: jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."

Sebuah ilustrasi tentang 'Tapak Kaki' sangat membekas dalam ingatan kita. Di saat-saat kita merasa sangat kesepian, kekurangan, sakit, kehilangan, kesedihan, tak berdaya, lemah, putus asa, kacau dan tak berpengharapan, kita selalu tergoda untuk bertanya Tuhan mengapa hanya aku sendiri yang berjalan dalam dunia ini. Ke manakah Engkau? Lihatlah di sepanjang jalan hanya ada satu tapak kaki manusia saja. Namun suara yang lembut itu berkata, itu bukan tapak kakimu tapi tapak kakiKu yang menggendong engkau.

Daud menyadari hal ini sehingga dia berkata dalam Mazmur 145:8, TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Puji Tuhan kita memiliki Allah yang seperti Yesus, yang kasihNya tak terbatas. Oleh karena Dia pernah menjadi manusia Dia selalu tahu dan turut merasakan semua penderitaan dan pergumulan anda dan saya. Mengapa menunda untuk datang kepadaNya dan menerima pertolongan dariNya? Tuhan Yesus setia menggendong anda. (Hendra Kasenda)

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar