Jumat, 09 April 2010

iPad Apple : Cara Baru Menjelajah Internet




Atmosfer di ruangan hall itu tampak kian bergemuruh. Di podium telah tampil sang dewa inovasi dunia digital, sekaligus CEO Apple, Steve Jobs. Ia tampil dengan dengan seragamnya yang sangat khas itu : kaos turtle neck lengan panjang warna hitam dipadu dengan celana jeans belel warna biru yang telah pudar (sejak 15 tahun silam, seragam khas ini tidak pernah ia ubah sedikitpun).

Steve memang tampak lebih kurus dan kuyu (ia baru melakukan operasi kanker pankreas yang nyaris merenggut nyawanya). Namun dibalik tampilannya yang layu itu, Steve tetaplah pria jenius nan visioner. Bagi banyak pengamat teknologi, Steve dengan Apple-nya tetaplah merupakan dewa yang sangat berperan dalam menentukan jagat digital masa depan.

Dan hari itu, di pagi yang cerah pada awal Februari lalu, Steve kembali muncul ke podium untuk me-launch produk terbaru dari Apple yang sungguh menggetarkan. Produk itu diberi nama iPad, sejenis tablet PC yang elegan nan canggih.

Semenjak internet ditemukan, lautan infomasi digital memang dengan mudah diakses melalui layar PC atau laptop. Disanalah kita bisa membaca ebook, majalah online, koran digital atau membaca blog yang keren (seperti yang sekarang tengah Anda baca ini).

Cuma soalnya, membaca risalah atau ebook yang panjang melalui medium PC atau laptop tetap bukan pengalaman yang menyenangkan. Kita tidak bisa membaca sambil leyeh-leyeh (sembari menenteng PC atau laptop yang berat itu). Memang kini banyak smartphone yang membuat kita bisa membaca informasi digital didalamnya. Namun tetap saja layar smartphone itu terlalu kecil dan kurang nyaman.

Itulah kenapa banyak orang yang memimpikan hadirnya sebuah medium digital reader yang kompak, ringan, namun sekaligus enak ditenteng kemana-kemana. Idealnya medium itu bisa juga dibaca sambil leyeh-leyeh di kamar tidur. Dan persis medium semacam inilah yang coba dijawab melalui produk iPad dari Apple ini.

ipad-2-re.pngSeperti yang Anda lihat di gambar samping, produk ini memang hanya seukuran buku, ramping, dan mudah ditenteng kemana-mana. Tampilannya elegan khas Apple. Melalui iPad ini, orang dengan mudah bisa mendownload ebook, majalah online, video, musik, dan kemudian menikmatinya seperti halnya kita membaca buku atau majalah konvensional. Pengalaman menjelajah dunia online rasanya akan mendapatkan atmosfer yang sangat baru melalui medium iPad ini.

Sebenarnya, produk digital reader semacam ini sudah dikenalkan oleh Amazon melalui produk Kindle. Namun produk ini hanya menggunakan layar hitam putih, dan tidak berwarna seperti iPad. Dan memang, segera setelah iPad diluncurkan, produk Kindle yang begitu dibanggakan oleh Amazon mendadak berubah seperti produk jadul yang ketinggalan zaman (para petinggi Amazon.com dikabarkan pucat pasi begitu melihat tampilan iPad yang sangat nendang ini……)

Namun itulah salah satu keahlian Apple : membuat produk brilian yang membuat para pesaingnya terbengong-bengong. Dulu ketika iPod diluncurkan (dan kini disambung dengan iPod Touch), para petinggi Sony hanya bisa merunduk menahan kegetiran yang teramat memilukan. Lalu tiga tahun lalu, ketika produk iPhone dikenalkan, para petinggi Nokia hanya bisa tertegun-tegun, mungkin sambil berdesis : kok bisa ya mereka bikin produk secanggih itu. Doh.

Dan kini ketika iPad hadir, bukan hanya petinggi Amazon yang pucat pasi. Hampir semua petinggi raksasa teknologi seperti Microsoft, Hewlett Packard, Dell, Acer hingga Google, hanya bisa menghela nafas menahan rasa gundah yang sangat mendalam.

steve-re.jpgDan mereka semua memang layak merasa gundah : hampir semua pengamat gadget meramalkan produk iPad (yang dibandrol seharga 4 jutaan ini) akan segera melesat begitu dijual secara resmi akhir bulan Maret 2010 ini. Semua sepakat, produk ini akan segera diburu oleh jutaan peminatnya di segenap penjuru dunia. Dan ini artinya jelas : dengan segera iPad akan memporakporandakan wajah persaingan bisnis global PC dan laptop.

Melalui produk iPad yang eksotis nan elegan ini, Apple dan Steve Jobs kembali merubah wajah persaingan bisnis teknologi global.

Dan melalui seragamnya yang bersahaja: dengan kaos warna hitam dan celana blue jeans yang pudar, Steve memang layak untuk terus tampil di podium, berdiri pada singgasana paling atas dalam dunia digital masa depan.

Renungan: Keledai Dan Domba

Pada suatu hari yang cerah, si keledai liar, ketika sedang merumput, melihat seekor domba.

Ia mendekati domba itu dan berkata: Hey, rasanya aku belum pernah bertemu denganmu di daerah terpencil ini.

Apakah kamu baru saja lari dari majikanmu?



Si domba menjawab: Saya bukan sedang melarikan diri.

Tadi pagi saya bersama dengan rombongan saya dan pak gembala pergi ke padang rumput. namun, karena asiknya saya mencari rumput-rumput yang hijau, saya rupanya telah berjalan keluar dari rombongan, sehingga saya sampai tersesat di tempat ini dan bertemu denganmu. begitulah kejadiannya.



Si keledai liar berkata: lalu apa bedanya? toh, sekarang kamu sendirian. lebih enak begini, khan?

Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang memarahi dan memukuli kamu, tidak ada yang mengurung kamu setiap malam.

Seperti saya sekarang. Mau apa saja bebas, terserah saya.

Saya punya majikan baru disini dan ia sangat baik pada saya.

Saya jauh lebih bahagia disini, dibandingkan ketika saya berada di tempat manusia.



Si domba berkomentar: baguslah kalau begitu, saya turut senang melihat anda begitu bahagia.

Kalau saya? Saya bahagia berada bersama pak gembala.

Dahulu, ketika saya dibawah pengawasan orang upahan memang tidak bahagia.

Namun sekarang, pak gembala begitu baik pada saya.

Ia yang merawat saya ketika terluka, ia yang membawa saya ketempat yang baik, dan ia pula yang melindungi saya dan teman-teman.

Bagi kami, kami rela memberikan apa saja untuknya. bahkan kami tak keberatan jika ia mengambil nyawa kami.



Si keledai liar terheran sejenak, lalu berkata: Sekarang khan kamu sudah tidak bersama dengan majikanmu. saya berani bertaruh, ia pasti tidak akan berusaha untuk menemukanmu.



Si domba menjawab: Tidak. Anda salah.

Ia pasti sedang berusaha menemukan saya.

Sebab ia begitu mengasihi kami.

Pernah ada kejadian seperti ini, dimana salah seekor teman kami juga tersesat.

Ia berusaha keras untuk mencari teman kami yang hilang itu, dan menemukannya.



Ketika mereka sedang asik bercakap-cakap, terlihatlah oleh mereka dari kejauhan, sesosok manusia yang tegap, dan memegang sebuah tongkat gembala.

Orang tersebut menghampiri si domba dengan tersenyum gembira dan berkata: Oh dombaku! alangkah bahagianya aku, bisa menemukanmu yang sedang tersesat.

Marilah, pulang bersamaku. aku akan mengadakan pesta untuk merayakan kepulanganmu.



Pak gembala bersama si domba yang tersesat itu kembali ke tempat dimana kawanan domba mencari makan di padang rumput.

Si keledai liar melihat mereka berjalan menjauhinya.

Saat itu terlintas di benaknya, apa mungkin, majikannya yang lama juga berusaha mencarinya?

Namun, yang terbayang didalam pikirannya hanyalah wajah sang majikan yang penuh amarah, dan rasa sakit yang begitu pedih, ketika majikannya yang lama memukulinya.

Lalu si keledai liar bergumam, huh! buat apa memikirkan dia? dia jahat, dan selamanya saya tidak akan pernah melupakannya.



Saudara, dalam dunia perhewanan, memang ada majikan yang baik dan yang jahat. Demikian pula kita, manusia.

Kita percaya bahwa Allah itu ada dan kita melihat bahwa ada Allah yang baik dan allah yang jahat.

Namun, standar apakah yang kita pakai untuk menentukan apa yang baik dan jahat dari Allah yang kita sembah?



Tuhan Yesus memberkati.


--

"Titik awal dari semua prestasi adalah keinginan. Perlu terus-menerus dalam benak ini. Lemahnya keinginan membawa hasil lemah, sama seperti api kecil membuat sedikit panas."

Napoleon Hill
1883-1970, Penulis Think and Grow Rich

"Aku tidak pernah bisa melakukan apa yang telah saya lakukan tanpa kebiasaan tepat waktu, keteraturan, dan ketekunan, tanpa tekad untuk berkonsentrasi diri pada satu subjek pada suatu waktu."

Charles Dickens
1812-1870, Novelis


--

"Satu setengah dari hidup adalah keberuntungan; separuh lainnya adalah disiplin - dan itu adalah setengah penting, karena tanpa disiplin anda tidak akan tahu apa yang harus dilakukan dengan keberuntungan."

Carl Zuckmeyer
1896-1977, Penulis dan Playwright

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar