Rabu, 22 Juli 2009

Tikus.




Ayah tikus ingin menikahkan putrinya yang cantik pada seorang suami yang paling hebat agar putrinya berbahagia. Ia berpikir bahwa matahari tentu akan menjadi suami yang hebat bagi putrinya, karena matahari dikagumi setiap makhluk atas sinarnya yang bergitu terang. Maka bertanyalah ayah tikus pada matahari, “Matahari yang perkasa, engkaulah mahkluk paling perkasa yang pernah ada. Maukah engkau menikahi putriku dan menjaganya untukku?” Matahari tersenyum dan berkata, “Ayah yang baik, aku tersanjung. Tapi bukan aku makhluk paling perkasa. Awan lebih perkasa dariku, ia bisa menghalangi sinarku dengan mudah.”

Mendengar hal ini ayah tikus bergegas mencari awan. Di pucuk gunung tertinggi ia bicara pada sang awan, ”Awan yang perkasa, engkaulah satu – satunya makhluk yang bisa mengalahkan matahari. Maukah kau menikahi putriku dan menjaganya sepeninggalku nanti?” Awan pun menjawab, ”Wahai ayah tikus, aku ingin sekali. Tapi angin lebih kuat dariku. Lihatlah, ia bisa mendorongku pergi hanya dengan sekali tiupan saja!” Ayah tikus pun tergetun melihat awan beranjak ditiup angin.

Maka turunlah ia ke lembah mengejar sang angin dan berkata, ”Wahai angin, engkau sungguh perkasa. Maukah menikahi putriku dan menjaganya seumur hidupnya?” Angin pun berhembus dan menjawab, ”Ayah, putrimu sungguh jelita! Tapi aku kuatir bukan aku yang paling perkasa. Temboklah yang lebih perkasa dariku. Aku tak bisa menyingkirkannya dengan sekali tiupan!” Ayah tikus pun melihat bahwa betapapun angin berhembus, tembok tetap diam tak bergeming.

Larilah ayah tikus mendekati tembok. Ia pun berkata pada tembok, ”Tembok yang perkasa, engkau sungguh hebat mampu menahan tiupan sang angin. Bersediakah engkau menikah dengan putriku dan menjaganya?” Tembok tampak merintih dan menahan sakit, lalu menjawab, ”Wahai ayah tikus, putrimu sangat ingin kujadikan istri. Tapi bagaimana bisa aku menjaganya, sementara menjaga diriku saja aku tak mampu... lihatlah! Tikus muda di balik badanku ini tengah sibuk menggerogoti diriku...”

Terkjutlah ayah tikus mendengar jawaban ini. Dibalik tembok itu ternyata terdapat seekor tikus muda tampang yang sedang membangun sarang. Ayah tikuspun tersebyum dan berkata, ”Wahai tikus muda, aku sudah berkeliling dan kudapati bahwa engkaulah makhluk paling perkasa yang kutemui. Maukah kau menikahi putriku dan membahagiakannya?” Tikus muda sangat terkejut dan berbahagia, lalu menerima permohonan ayah tikus. Tikus muda dan putri tikuspun menikah, membangun sarangnya di balik tembok, dan hidup berbahagia.

Pada akhir dari pencarian kita kemana mana, kita akan kembali pada titik awal kita, sebuah lingkaran baru akan sempurna ketika titik akhir kita bertemu dengan titik awal kita. Kita selalu menginginkan yang lebih dalam segalanya, mungkin yang terbaik untuk kita adalah hal2 yang paling sederhana. Salam.


--

Kelelawar.

Suatu hari di tengah hutan hiduplah seekor kelelawar kecil. Tidak seperti kelelawar lain, kelelawar kecil ini memiliki satu ketakutan yang luar biasa terhadap gelap. Jadilah ia begitu tersiksa, karena teman – temannya bangsa kelelawar justru senang terhadap suasana gelap. Jika nangsa kelelawar yang lain tidur di siang hari dan bersuka ria di malan hari, kelelawar kecil ini mengurung diri saat malam dan baru berani keluar di saat siang hari. Akibatnya, si kelelawar kecil selalu kesepian dan tidak punya teman.

Kelelawar kecil yang sedih akhirnya menemui Penyihir yang baik hati di gubuk tepi hutan. Pada si Penyihir, kelelawar mohon agar diberi ramuan yang bisa membuatnya tidak takut gelap, hingga dia bisa bergaul bersama bangsa kelelawar lainnya. Penyihir berkata, ”Hmm.. permintaanmu ini cukup sulit! Untuk membuat ramuan yang kau inginkan, aku membutuhkan serpihan bintang jatuh yang ada di tengah hutan, karena bintang jatuh memiliki daya magis luar biasa untuk mengabulkan segala permintaan!”
”Lalu, apa yang bisa saya lakukan wahai Penyihir?” tanya si kelelawar.
”Pergilah ke tengah hutan untuk mengambil serpihan bintang yang tadi malam jatuh disana. Masukkan serpihannya ke kotak ajaib ini agak khasiatnya terjaga. Ingat, kotak ajaib ini tidak boleh sampai jatuh atau menyentuh tanah!” perintah si penyihir.

Maka berangkatlah si kelelawar menuju tengah hutan. Mula – mula perjalanan cukup mudah, dan cahaya matahari menerangi perjalanan kelelawar kecil. Namun makin ke dalam, pepohonan semakin rimbun dan menutupi cahaya matahari. Si kelelawar kecil pun mulai gentar. ”Tapi aku harus mendapatkan serpihan bintang itu!” ujarnya. Maka dikuatkanlah hatinya melangkah masuk ke kerimbunan hutan. Suasana redup semakin menciutkan nyali si kelelawar.

Tiba – tiba, terdengar suara berisik, dan rumput di depannya bergoyang! Kelelawar kecil kaget dan sangat ketakutan! Maka ia gengam erat – erat kotak ajaib yang dibawanya agar tidak jatuh. Ditunggunya sejenak, makhluk apa yang menghadangnya ini.... dan ternyata seekor Kelinci! Kelelawar lega dan meneruskan perjalanannya.

Tiba – tiba terdengar suara lain, dan muncullah segerombol ngengat di sekeliling si kelelawar. Kelelawar mula – mula ketakutan, tapi setelah menyadari bahwa ngengat tidak berbahaya, ia pun lega dan terus masuk ke tengah hutan. Bahkan cahaya lembut yang berpendar dari sayap – sayap ngengat membantunya melihat di dalam kegelapan hutan yang rimbun.

Kelelawar menemui banyak hewan lain selama perjalanannya hingga akhirnya sampai di tempat bintang jatuh. Bahkan, ia cukup menikmati perjalanan dan kejutan – kejutan yang terjadi. Kelelawar mengambil serpihan bintang jatuh dan membuka kotak ajaib dari penyihir untuk menyimpannya. Tapi tiba – tiba muncullah asap tebal dari kotak tersebut dan penyihir yang baik hati telah berdiri di hadapannya.
”Penyihir! Aku berhasil mendapatkan serpihan bintang jatuh! Sekarang buatkan untukku ramuan agar aku tidak taku gelap!” seru si Kelelawar.

Penyihir tersenyum dan berkata ”Masihkan engkau memerlukannya? Lihatlah, engkau telah berjalan sepanjang malam tanpa rasa takut!” Kelelawar baru menyadari, ternyata hari telah berganti malam dan ia tidak lagi merasa takut terhadap gelap.

Copa Libertadores
Set Piece Mandek

Kiprah Estudiantes di leg pertama final Copa Libertadores pekan lalu memperlihatkan sebuah fenomena menarik. Kubu Argentina, yang biasanya efektif dalam memanfaatkan set piece, gagal mencetak gol dalam 15 kesempatan mengeksekusi sepak pojok serta tendangan bebas.

Bek Estudiantes yang punya sundulan tajam, Rolando Schiavi, menyebut pertahanan Cruzeiro dipersiapkan dengan baik untuk menghadapi bola-bola mati lawan.

“Kiper Cruzeiro, Fabio, juga sangat tangkas memotong umpan-umpan silang,” katanya pada O Globo.

Penampilan gemilang Fabio jelas membuat kiper Estudiantes, Mariano Andujar, sedikit terabaikan. Padahal Andujar, yang hanya kebobolan sekali dalam sepuluh laga sejak putaran grup hingga semifinal. seusai final akan segera hengkang ke Catania. (toen)


--



Oguchialu Chijioke Onyewu
Gulliver di San Siro

Tidak susah mencari bek tengah anyar AC Milan di lapangan musim depan. Cari saja pemain tertinggi yang memakai baju merah hitam. Dapat dipastikan dialah Oguchi Onyewu (27). Seorang pribadi dengan perjalanan hidup yang seunik namanya.

Oguchialu Onyewu, ukurannya mengintimidasi lawan. (Foto: AFP)

Kisah pria berpostur 193 cm dan 95 kg ini menarik untuk disimak. Oguchialu Chijioke Onyewu lahir di Washington setelah orang tuanya emigrasi dari Nigeria. Oguchialu berarti “Tuhan bertarung untuk saya”. Ayahnya, Pete, adalah pemain sepak bola di Nigeria sebelum pindah ke AS untuk mengemban ilmu.

Pete pun ingin anak-anaknya terdidik. Empat saudara-saudari Oguchi menjadi sarjana matematika, belajar di sekolah kedokteran, studi teknik industri dan mengejar PhD. Oleh karena itu, saat Onyewu meminta izin ke orangtuanya untuk turun ke sepak bola profesional setelah lulus SMA, keluarganya terkejut.

“Ide itu tidak disukai. Mereka masih ingin saya kuliah,” ujar pemuda yang akhirnya mendaftar ke Universitas Clemson ini, kepada Boston Globe.

Bersama Clemson Tigers, tim universitas yang cukup terang di dunia sepak bola kampus AS, bakatnya tercium sampai ke seberang Atlantik. Pada 2002 Onyewu ditarik Metz. Namun, klub Prancis itu harus menunggu setahun agar Onyewu dapat melanjutkan pendidikannya hingga tahun kedua.

Disangka Steroid

Hanya selang dua tahun di Metz, Oguchi dibeli permanen oleh Standard Liege setelah sebelumnya dipinjamkan ke klub Belgia itu. Sewaktu tiba di Liege, rekan-rekannya mengira Onyewu menggunakan steroid. “Padahal saya menjadi seperti ini karena sering pergi ke gim, suatu hal yang sangat biasa di Amerika tapi tidak di Eropa, terutama bagi pemain sepak bola,” ujar pemain yang akrab dipanggil Gooch ini.

Onyewu menjadi bintang dalam semalam. Pada akhir musim pertamanya ia terpilih dalam tim impian Liga Belgia dan menyabet gelar pemain asing terbaik. Selama lima tahun, Atlet Sepak Bola Terbaik AS 2006 ini mencetak 179 penampilan dan memenangi dua gelar liga, yakni Piala Super Belgia dan runner-up Piala Belgia.

“Belgia adalah tempat sempurna untuk memulai karier. Anda bisa main setiap minggunya dan turun di laga antarklub Eropa. Jika segala hal berjalan lancar, Anda bisa dilirik klub lain. Ideal sekali,” sebut Kasey Keller, kompatriotnya yang sudah malang-melintang di Liga Inggris, Spanyol, dan Jerman.

Sayang, hingga kontraknya tinggal menghitung hari di akhir musim lalu, pemain yang sempat memperkuat Newcastle di awal 2007 ini gagal menarik perhatian klub besar Eropa. Namun, itu sebelum Piala Konfederasi 2009.

Di Afrika Selatan, Gooch bak Gulliver, raksasa negeri Liliput di novel Gulliver’s Travels yang memimpin lini pertahanan Uncle Sam. Onyewu bermain penuh dalam lima gim AS dan mengundang banyak pujian. Dari seluruh pemain di turnamen, bek tengah gesit ini yang paling banyak mengamankan bola dari kotak penalti (21 kali).

Intimidasi Lawan

Gooch ternyata mempunyai rahasia ampuh. Pria yang benci rasisme ini suka mengintimidasi penyerang lawan dengan menatapnya langsung di mata. “Saya melakukan mental games di hampir semua laga. Ini adalah bagian dari olah raga. Beberapa pemain dapat mengatasinya, sebagian tidak dan akan ciut,” ucap Onyewu.

Ya, bayangkan diri Anda berada di bawah tatapan bek raksasa berotot. Taktik itu pun gemilang. para penyerang Spanyol dinihilkan di semifinal. Padahal monster gol La Roja telah mencetak 19 gol dalam tujuh laga sebelumnya.

Jika pada awalnya hanya Birmingham dan Wolverhampton, klub promosi EPL, yang menginginkannya, setelah AS maju ke final di Afsel, Onyewu menjadi bidikan klub-klub seperti Marseille dan Hamburg. Akhirnya ia menandatangani kontrak tiga tahun dengan AC Milan.

“Saya yakin Onyewu adalah pemain bagus yang akan memperkuat pertahanan kami,” kata Adriano Galliano, Wakil Presiden Milan.

Onyewu menjadi bek kedua Negeri Paman Sam yang bermain di Serie A. Sebelum ini hanya Alexi Lalas, yang pernah memperkuat Padova (1994-96), bek AS alumni lega calcio. “Kebanyakan tim Italia mempunyai setidaknya satu penyerang besar, seperti Zlatan Ibrahimovic atau Vincenzo Iaquinta. Saya percaya Gooch akan menelan mereka semua,” ucap Lalas yakin atas kemampuan kompatriotnya itu. Buktikan Gulliver! (Firzie A. Idris)

DATA-FAKTA
---------------------------------
Nama Lengkap: Oguchialu Chijioke Onyewu
Tempat/Tanggal Lahir: Washington/13 Mei 1982
Postur: 193 cm/95 kg
Posisi: Bek Tengah
Saudara: Uche, Nonye, Chi-Chi dan Ogechi

Karier Klub
2002-04 Metz 3 (0)
2003 La Louviere (pinjam) 24 (2)
2004-2009 Standard Liege 179 (16)
2007 Newcastle (pinjam) 11 (0)
2009 Milan 0 (0)

Karier Timnas
2009-sekarang Amerika Serikat 47 (5)

--




Bob Bradley
Saatnya Mengeksplorasi Tim

Di luar dugaan, Amerika Serikat mampu mengalahkan Spanyol dengan skor 2-0 di semifinal Piala Konfederasi 2009. Mereka juga nyaris mencundangi raksasa Amerika Selatan, Brasil, di laga final. Ya, anak buah pelatih Bob Bradley tersebut berhasil menarik perhatian publik sepak bola dunia walau gagal membawa pulang trofi juara.

Bob Bradley, antusias tampil di Piala Emas. (Foto: Getty Images)

Banyak yang beranggapan penampilan ciamik Amerika Serikat di Piala Konfederasi 2009 sebagai pertanda kesuksesan Tim Paman Sam di Piala Dunia 2010. Meski begitu, pelatih Bob Bradley, enggan berpuas diri. Arsitek tim berusia 51 tahun itu menilai pasukannya masih memerlukan banyak perbaikan.

Berikut ini adalah kutipan wawancara Bradley mengenai kondisi tim nasional Amerika Serikat yang dirangkum dari situs USSoccer dan beberapa sumber lainnya.

Bagaimana persiapan tim menjelang Piala Dunia 2010?

Sejauh ini berjalan dengan baik. Mungkin belum bisa dikategorikan sempurna, tetapi kami berada di jalur yang tepat.

Apakah pengalaman di Piala Konfederasi banyak membantu persiapan tim menghadapi Piala Dunia 2010?

Kami sudah membicarakan semua aspek tentang masalah ini. Hasil latihan telah menyediakan cukup informasi tentang apa yang harus dilakukan tahun depan.

Tapi, tampil di Piala Dunia bukan sekadar mempersiapkan diri sebaik mungkin. Kami juga harus memperhitungkan kondisi stadion, kota, serta cuaca. Beruntung, kami bisa mengumpulkan informasi tersebut ketika tampil di Piala Konfederasi.

Bagaimana dengan pemilihan pemain? Apakah berencana memasukkan beberapa pemain veteran guna mendapatkan pengalaman bagi tim?

Saya pikir tindakan seperti itu sangat penting. Jika melihat perjalanan di Piala Konfederasi bulan lalu, kami harus memperbanyak pilihan, mempertimbangkan bagaimana pengaruh setiap pemain terhadap tim.

Yang dibutuhkan guna membangun tim nan solid adalah keseimbangan. Penting bagi saya untuk terus memantau apa yang terjadi di Liga Sepak Bola Amerika serta melihat pemain mana yang punya peranan penting bagi tim, siapa yang benar-benar tampil maksimal, dan mencoba berbagai kemungkinan guna membentuk tim terbaik.

Lantas apa misi Amerika Serikat pada 2010?

Saya tidak ingin membandingkan Piala Konfederasi dengan Piala Dunia. Satu dekade silam, kami memulai misi untuk menempatkan Amerika Serikat di posisi terhormat di dunia sepak bola. Jika menyinggung hal tersebut, sudah jelas bahwa kami ingin menjadi juara di Piala Dunia 2010. Apalagi setelah kami mampu menampilkan performa cukup baik di Piala Konfederasi.

Namun, semua pemain, staf, dan para suporter tahu misi tersebut tidak mudah untuk dicapai. Tapi, setidaknya kini semua orang lebih mengapresiasi kami. Berdasarkan pengalaman di Afrika Selatan, publik mulai memandang positif mengenai sepak bola Amerika.

Setelah Piala Konfederasi, Amerika harus berlaga di Piala Emas. Apakah turnamen ini pantas digelar di tengah padatnya jadwal kompetisi seperti saat ini?

Selalu ada tantangan jika menyangkut jadwal pertandingan. Tantangan yang memaksa saya mengambil keputusan sulit mengenai komposisi pemain. Namun, semua itu tidak menghilangkan antusiasme untuk berpartisipasi dalam turnamen yang digelar oleh konfederasi kami sendiri. Kami tahu para suporter juga menganggap penting Piala Emas.

Anda tidak khawatir, sejumlah pemain pilar bakal cedera di ajang Piala Emas?

Ancaman cedera selalu ada, tinggal bagaimana seorang pelatih menyikapi situasi tersebut. Saya pribadi menganggap Piala Emas sebagai ajang untuk terus mengeksplorasi kekuatan dan kemampuan tim. Termasuk mencari pemain yang tepat bagi tim menghadapi Piala Dunia 2010.

Sejauh ini, bagaimana menilai penampilan Amerika di Piala Emas?

Ketika memulai kompetisi, tujuan utama kami adalah menjadi juara di babak penyisihan grup dan lolos ke perempat final. Kami berhasil mencapai target tersebut setelah menahan imbang Haiti 2-2 (11/7). Akan tetapi kami juga mendapat pelajaran berharga dari partai tersebut.

Mencetak gol lebih awal adalah sesuatu yang selalu diharapkan. Tapi, ketika gol tersebut datang terlalu awal, kami bisa sulit menemukan ritme permainan dan kondisi itu bisa membawa masalah di sisa pertandingan. Pada partai-partai berikutnya, kami harus berusaha menemukan ritme permainan sejak menit-menit awal. (Wieta Rachmatia)



Kesempatan bagi Adu

Lima tahun silam, dunia sepak bola dihebohkan dengan kehadiran pemain belia berbakat bernama Freddy Adu. Pesepak bola kelahiran 2 Juni 1989 itu tercatat sebagai atlet termuda yang menandatangani kontrak profesional ketika bergabung dengan DC United di usia 14 tahun pada 13 April 2004.

Banyak yang memprediksi Adu bakal menjadi bintang masa depan Amerika Serikat. Sayang, ramalan tersebut meleset. Saat ini, striker kelahiran Ghana itu justru terancam kehilangan tempat di skuad Paman Sam.

Walau masuk dalam daftar pemain, toh Adu tidak sekali pun mendapat kesempatan unjuk gigi di Piala Konfederasi 2009. Pemain Benfica tersebut kalah bersaing dengan Jozy Altidore.

Beruntung pelatih tim nasional Amerika, Bob Bradley, bersedia memberikan kesempatan kedua bagi Adu dan menurunkannya dalam laga babak penyisihan grup Piala Emas 2009 melawan Grenada (4/7) dan Honduras (8/7).

“Saat ini, Jozy telah berhasil menunjukkan bahwa dirinya mampu berikan kontribusi lebih besar bagi tim. Tapi tidak begitu halnya dengan Freddy,” kata Bradley dalam situs USSoccer.

“Freddy harus bisa memperbaiki penampilannya bersama klub. Kami tahu dia punya talenta, tetapi tidak mudah masuk ke tim nasional ketika seorang pemain lebih banyak duduk di bangku cadangan. Jika Freddy mau berusaha keras, saya siap memberinya kesempatan,” ucap arsitek tim yang menangani tim nasional Amerika sejak 2006 tersebut. (wta)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar