Senin, 04 Mei 2009

Si Kaya, Amir dan Joko.



Human Beings are powered by Emotions, Not by Reasons.

Ada 3 orang yang baru saling mengenal, si Kaya, Amir dan Joko. Si Kaya kebetulan akan menyumbangkan uang sebesar 50 juta rupiah pada panti sosial dan baru berkenalan dengan Amir dan Joko; merasa tergerak oleh kedua orang muda ini dan berpikir akan memberikan saja uang sumbangan itu pada mereka.

Si Kaya berkata: “Akan saya sumbangkan uang 50 juta rupiah ini kepada kalian berdua, dengan catatan, Amir yang akan menentukan bagaimana membaginya diantara kalian berdua. Bisa saja 25 juta - 25 juta, 35 juta – 15 juta, atau terserah Amir. Joko hanya berhak menyetujui atau menolak saja. Bila Joko menyetujui, uang akan dibagi sesuai angka pembagian itu, kalau menolak berarti uang tidak jadi saya bagikan dan akan saya serahkan saja ke panti sosial sesuai jadwal semula.”

Amir berpikir sejenak, semestinya berapapun yang diberikan pada Joko, dia akan menerima, dari pada tidak dapat sama sekali. Kata Amir: “Saya mau 49 juta lima ratus ribu rupiah, dan yang lima ratus ribu rupiah sisanya untuk Joko.”

Pertanyaannya, kalau anda menjadi Joko, akan menyetujui atau menolaknya? Survey menunjukkan 94% orang menolak. Lebih baik tidak terima sama sekali dari pada menerima 500.000 sementara Amir dapat 49.500.000.

Tapi bila pertanyaannya diubah, si Kaya menawarkan 500.000 untuk si Joko, apakah Joko mau? 100% bilang mau. Nah sebenarnya kedua keadaan ini sama, tetapi ada faktor ketidak adilan yang dirasa Joko yang membuatnya emotional dan tidak mau. Justice, atau rasa keadilan jadi kata kunci penolakan itu.

Pemikiran bahwa kalau ditampar pipi kirimu berikan pipi kananmu tidak berlaku didunia bisnis dan dunia manusia umumnya. Kalau pesaing anda mengambil 15% market share bisnis anda, apakah akan anda berikan saja semuanya bisnis anda padanya, ataukan anda akan membalas dendam dan merebut kembali bisnis itu? Dalam realitas, rugipun mungkin akan dijalani untuk membalas dendam bisnis itu.

Faktor emotional selalu menjadi faktor kunci dalam seseorang mengambil keputusan. Baik pembeli yang akan membeli produk anda, supplier anda, atasan anda ataupun bawahan anda. Rasional itu penting dan masih diperlukan dan dipertimbangkan, tetapi faktor emosi selalu menjadi kunci dalam membuat seseorang mengambil keputusan dan bertindak. Salam sukses untuk semua.

Cerita yang benar2 sering ditemukan dalam kehidupan, pak.
Saya pernah mendengar ada 7 sifat dasar manusia yang selalu ingin dimenangkan yaitu pada sifat-sifat:
1) RASA PAMRIH.
2) INGIN DIPERHATIKAN.
3) INGIN DIAKUI. ... Baca Selengkapnya
4) TIDAK MAU DISALAHKAN.
5) TIDAK SENANG DIBANTAH.
6) TIDAK SENANG DIGURUI.
7) SENANG DIPUJI.

Sepakbola, Agama, dan Anglikan

London - Ketika beberapa waktu lalu petinggi Gereja Anglikan mengajukan permintaan kepada pemerintah agar melarang penyelenggara sepakbola Inggris untuk tidak lagi memainkan pertandingan pada hari Minggu Paskah maupun hari besar keagamaan lain, tiba-tiba saja pengertian sepakbola adalah agama di Inggris ini seperti mendapat pemaknaan yang sesungguhnya.

Munculnya permintaan dari para petinggi keagamaan Anglikan menimbulkan pertanyaan: jangan-jangan mereka memang menganggap sepakbola telah benar menjadi agama tersendiri? Bukan sekadar itu, tetapi juga jangan-jangan menganggap sepakbola telah secara langsung menganggu eksistensi Gereja Anglikan?

Permintaan itu juga diikuti dengan seruan agar klub-klub Inggris, termasuk penggemar bola, mengingat kembali akar kekristenan mereka. Libur kegamaan adalah waktu bagi umat untuk kembali merenungi nilai-nilai keagamaan, kembali ke gereja? Bukankah klub-klub Inggris kebanyakan memang berawal dari komunitas gereja sebelum sepakbola meledak menjadi kegiatan sosial dan kemudian komersial?

Sebetulnya ketika banyak orang menganggap sepakbola sebagai sebuah agama, tidaklah lalu pernyataan ini menjadikan sepakbola sebagai agama. Tetapi lebih untuk sekadar menunjuk perilaku ritus-sosiologis penggemar bola yang tak beda jauh dengan penganut agama.

Ketaatan untuk mendatangi stadion atau setidaknya menonton siaran langsung pertandingan, bersedekah walau imbalannya bukan janji sorga tetapi mungkin kaos dan tiket musiman, membahas segala sesuatu pernik peristiwa sepakbola layaknya menelaah kitab suci, dan dengan tekun mencari dan percaya munculnya mesiah-mesiah dalam wujud pemain maupun manajer, dan masih banyak lagi.

Yang jelas sepakbola memang menjadi fokus rutinitas kehidupan dengan segala eksesnya, baik yang bersifat material dan sosial (maupupun -- berlebihan mungkin -- spiritual).

Keprihatinan petinggi gereja Anglikan sebetulnya bisa dimaklumi. Cobalah tengok jadwal persepakbolaan Inggris ini. Kapan masa tersibuk dalam kalender tahunan sepakbola Inggris? Jawabnya selalu seputar libur Natal dan Paskah.

Libur Natal dan Paskah jelas pada awalnya diberlakukan untuk memberi kesempatan kepada umat untuk mengonsentrasikan diri merayakan pada dua peristiwa kegamaan paling penting di Inggris ini. Menyegarkan kembali diri pada nilai paling dasar kehadiran Kristus di dunia.

Tetapi kita tahu itu tak berlaku untuk ummat sepakbola Inggris yang notabene juga umat Anglikan. Dua minggu libur Natal oleh para administrator sepakbola Inggris secara sengaja diatur menjadi sebuah jejalan jadwal sepakbola yang tanpa kendat.

Di dua minggu Natal inilah bukannya orang berbicara tentang nilai-nilai dasar kekristenan tetapi malah seringkali dijadikan ukuran apakah kejuaraan akan dimenangi, atau lepas sama sekali. Periode Natal bukannya berbicara tentang kelahiran Kristus tetapi tentang kelahiran peluang menjuarai liga atau ancaman degradasi.

Paskah? Sama saja. Jadwal pertandingan padat total. Umat sepakbola tidak berbicara tentang kebangkitan Kristus tetapi mengenai apakah klub yang sepertinya telah terkubur impiannya untuk menjuarai liga ataupun terperam di zona degradasi bisa bangkit kembali.

Petinggi gereja khawatir bukan hanya bahwa hari libur kegamaan terkooptasi oleh sepakbola tetapi bahkan sepakbola mulai menggunakan analogi keagamaan untuk memaknai kalender kompetisi mereka.

Tetapi berlebihankah kekhawatiran ini? Tak tahulah.

Menghindari 'Hantu' Pemakan Email BlackBerry
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

BlackBerry (Ist.)

Jakarta - Di kalangan komunitas pengguna BlackBerry, kerap terdengar istilah hantu pemakan email (HPE) yakni hilangnya data-data penting di BlackBerry akibat file free memori mendekati angka 0. Apa yang harus dilakukan untuk menghindari hal ini?

Berikut cara-cara sederhananya:

- Hapus aplikasi yang tidak terpakai. Biasanya aplikasi seperti Help paling sering bisa dihapus dan jadi menghemat banyak tempat. Cara menghapusnya masuk ke Options >> Advance Options >> Applications >> Tekan logo BlackBerry pilih menu delete.

- Hapus log. Pergi ke layar utama, sambil menahan alt, tekan secara berurutan L, G, L, G. Lalu tekan tombol logo BlackBerry >> pilih clear log.

- Rajin menghapus percakapan di chat pesan instan, seperti YM dan Gtalk, bila sudah selesai. Apalagi jika percakapan itu disertai gambar atau suara di dalamnya. Cara menghapus masuk ke percakapan, tekan logo BlackBery dan pilih clear history

- Pastikan Anda menyimpan gambar, suara, atau video di dalam kartu memori Anda.

- Lakukan soft reset (tekan sekaligus Alt+Del+Shift pojok kanan bawah) paling sedikit satu kali tiap dua hari. Asal Anda rajin melakukan cara terakhir ini HPE kemungkinan besar tidak akan menyerang.

Artikel ini juga terangkum apik dalam buku "BlackBerry for Everyone" karya perdana Muhammad Sufyan, seorang jurnalis telekomunikasi yang berdomisili di Bandung.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar