Jumat, 01 Mei 2009

17 Rules Between Men and Women




1. The Female always makes THE RULES.

2. THE RULES are subject to change without notice.

3. No Male can possibly know all THE RULES.

4. If the Female suspects the Male knows all THE RULES, she must immediately change some or all of THE RULES.

5. The Female is never wrong.

6. If it appears the Female is wrong, it is because of a flagrant misunderstanding caused by something the Male did or said wrong.

7. If Rule #6 applies, the Male must apologize immediately for causing the misunderstanding.

8. The Female can change her mind at any given time.

9. The Male must never change his mind without the express, written consent of The Female.

10. The Female has every right to be angry or upset at any time.

11. The Male must remain calm at all times, unless the Female wants him to be angry or upset.

12. The Female must, under no circumstances, let the Male know whether she wants him to be angry or upset.

13. The Male is expected to read the mind of the Female at all times.

14. At all times, what is important is what the Female meant, not what she said.

15. If the Male doesn't abide by THE RULES, it is because he can't take the heat, lacks ackbone, and is a wimp.

16. Any attempt to document THE RULES could result in bodily harm.

What is Love ??


Love is



Love is to share one's self

For when in times of sorrow, love is to still spare a thought for others.

Love is to share one's thoughts.

Love is to take time to care, even when your schedule allows not.

Love is to share one's hope.

Love is to give your all, even though sometimes this isn't seen.

Love is to share one's dreams.

Love is to make more friends then to make enemies.

Love is to share one's pain.

Love is a doorway to an infinite life of tenderness and fulfilment.

Love is to share one's hapiness.

Love is a quality we all posses, although a quality not always to hand.

Love is to share one's fears.

Love is but the seeds of an oak tree, for if planted with care,

will grow so strong no wind or storm can ever uproot.

Love is to share one's sorrow.

Love is someone's who's special in every way

Love is to share one's joy

Love is one's perception of a meaning of a word.

Love is to share one's tears

Love is much more than a word, love is what we are.



--



Fabio Cannavaro
Bunga untuk Pengkhianat

Kabar mengejutkan dari Juventus muncul akhir pekan lalu. Fabio Cannavaro akan kembali bergabung dengan I Bianconeri musim depan setelah kontraknya di Real Madrid usai.

Fabio Cannavaro, disambut dingin. (Foto: AFP)

Canna pernah membela Juve pada 2004-2006. Ia pergi ketika La Vecchia Signora didegradasi ke Serie B menyusul calciopoli. Tidak ada yang salah dengan kepindahan Cannavaro ke Madrid, tapi sebagian tifosi Juve tetap menganggapnya sebagai seorang pengkhianat.

Juventus dikabarkan telah menawarkan kontrak empat tahun, satu sebagai pemain dan tiga sebagai salah satu direktur. "Tinggal beberapa detail yang memisahkan kami dengan transfer Cannavaro," kata bos Juve, Giovanni Cobolli Gigli, kepada Football Italia.

Seperti bisa diduga, tifosi menyambut dingin rencana transfer ini. Bukan sekadar masalah "pengkhianatan" Cannavaro, ia juga diragukan karena usianya hampir 36 tahun dan performanya sudah tak seperti tiga tahun silam.

Tapi, awak-awak Juventus justru memberikan bunga untuk "sang pengkhianat". Pelatih Claudio Ranieri, kiper Gianluigi Buffon, dan bek Giorgio Chiellini siap menyambut Cannavaro.

"Perekrutan Cannavaro tidak mengeluarkan biaya. Kami tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Kami bisa memiliki duet Chiellini-Cannavaro, yang kini menjadi andalan tim nasional Italia," ungkap Ranieri.

Chiellini sendiri mengaku merasa terhormat jika bisa kembali bermain bersama Cannavaro. "Ini akan menjadi transfer bagus buat Juve," katanya di Corriere dello Sport.

"Seseorang dengan pengalaman seperti Cannavaro akan berguna bagi semua tim. Ia jelas tidak bisa menjadi bagian dari rencana jangka panjang mengingat usianya, tapi untuk rencana jangka pendek dia sangat penting," ujar Buffon seperti dikutip Sky Italia.

Cannavaro berjanji dia akan berusaha memenangi hati tifosi jika kelak betul-betul kembali ke Juventus. "Saya akan sangat gembira jika bisa pulang ke Juventus. Saya tahu perasaan apa yang dimiliki tifosi. Saya tidak khawatir dengan sambutan tifosi karena akan berbicara kepada mereka," tuturnya. (wid)

++





Juventus vs Lazio 1-2 (Agregat 2-4)
Dicari: Kepala Ranieri!

Seruan agar pelatih Juventus, Claudio Ranieri, diganti pada musim depan bertambah kencang setelah laga 2nd leg semifinal Coppa Italia, Rabu (22/4). Tifosi menginginkan "kepala" Ranieri setelah I Bianconeri tersingkir di tangan Lazio.

Posisi Ranieri sudah genting ketika Juventus kehilangan performa sepanjang bulan ini. Setelah tersingkir dari Liga Champion, posisi mereka di peringkat kedua Serie A juga digeser Milan akhir pekan lalu. Kegagalan di Coppa Italia melengkapi dosa Ranieri.

Juventus, yang hanya membutuhkan kemenangan 1-0 untuk lolos ke final, kalah 1-2 kendati bermain di kandang sendiri. Ranieri pantas disalahkan karena dia melakukan blunder saat menentukan formasi starter.

Mauro Camoranesi, Pavel Nedved, dan Alessandro Del Piero tidak main dari awal. Hasilnya, Lazio bisa mengendalikan permainan dan unggul 1-0 lewat gol indah Mauro Zarate. Setelah trio itu masuk, permainan Juve menjadi lebih hidup dan agresif.

Sayang, semua sudah terlambat. Apalagi Lazio sempat membuat gol kedua lewat tendangan Aleksander Kolarov yang berbelok arah setelah membentur Zdenek Grygera. Tidak heran tifosi mengejek Ranieri dan pasukannya setelah pertandingan.

"Saya mendengar ejekan tersebut. Itu hal wajar. Ketika semua berjalan buruk, Anda pasti akan menerima hinaan. Tifosi selalu benar dan kami harus menerimanya," ujar Ranieri kepada Football Italia.

Pujian untuk Zarate

Sebaliknya, euforia melanda Lazio. Hasil ini menjadi pelipur duka mereka di Serie A. Sekarang Gli Aquilotti memiliki peluang bagus untuk meraih tiket ke Europa League musim depan lewat jalur Coppa Italia. Apabila di final bertemu Inter, tiket itu bahkan akan langsung didapatkan Biancoceleste karena Inter bakal bermain di Liga Champion.

"Saya pikir kami pantas tampil di final setelah berhasil menyingkirkan Milan dan Juventus. Saya bahagia untuk anak-anak. Mereka masih muda, tapi memiliki kualitas. Masa depan ada di pihak mereka," tutur pelatih Lazio, Delio Rossi.

Sang allenatore terutama memuji Zarate, yang mengonfirmasi dirinya sedang dalam performa bagus seperti di awal musim. "Mauro biasanya egoistis. Tapi, dia belajar bekerja untuk tim dan terus berkembang semakin baik."

Lazio akan bertemu pemenang laga Inter dan Sampdoria, yang berlangsung Kamis (24/4). Inter harus memupus ketertinggalan 0-3 di pertemuan pertama. Partai final akan berlangsung di Olimpico Roma pada 13 Mei. (Dwi Widijatmiko)

SEMIFINAL 2ND LEG 22/4
---------------------------------------
JUVENTUS VS LAZIO 1-2
Wasit: Rizzoli.
Pencetak Gol: 0-1 Zarate 38', 0-2 Kolarov 52', 1-2 Del Piero 64'.
Kartu Merah: Camoranesi 81'.
Kartu Kuning: Marchisio, Matuzalem.
JUVENTUS (4-4-2): Buffon; Grygera, Mellberg, Ariaudo, De Ceglie; Marchionni (46' Camoranesi), Tiago, Marchisio, Giovinco (46' Nedved); Iaquinta (60' Del Piero), Trezeguet.
LAZIO (4-4-2): Muslera; Lichtsteiner, Siviglia, Rozehnal, Kolarov; Brocchi (54' De Silvestri), Ledesma, Matuzalem (72' Dabo), Foggia (62' Mauri); Rocchi, Zarate.


--

Gelar Kedua AZ Alkmaar
Memetik Buah Kesabaran

Louis van Gaal bukan tipe orang yang percaya mistis. Ia tergolong individu yang saklek dalam berprinsip. Apa yang diimplementasikan para pemainnya merupakan cerminan dari apa yang ada di benak Van Gaal. So, saat seorang pembaca kartu tarot mengatakan AZ Alkmaar akan menjadi juara Eredivisie pada 19 April, wajar ia hanya tertawa lebar.

Wah, janggal sekali. Saya rasa pada tanggal itu kami belum menjadi juara,” ujar Van Gaal pada sewaktu diramal perempuan bermana Maaike van der Wilt asal Orakeltheater, di Biermuseum, bertepatan dengan pembukaan sebuah toko keju di kota Alkmaar.

Well, suka atau tidak, percaya atau tidak, yang pasti prediksi sang peramal dengan nama beken Rosa Mare itu benar-benar menjadi kenyataan. Ahad (19/4) kemarin, klub AZ Alkmaar, yang dibesut Van Gaal, merebut titel landskampioen musim 2008/09.

Satu hal yang bikin menarik adalah trofi liga Belanda tersebut memang seperti ditakdirkan untuk direbut pada ronde alias pekan ke-31. Mengapa? Pada laga kandang kontra Vitesse Arnhem, yang mentas sehari sebelumnya di Alkmaarderhout itu, si empunya stadion takluk 1-2.

Van Gaal sendiri sebetulnya pun sudah pasrah jika harus menunda pesta juara pada ronde 32. Namun, di luar ekspektasi, Twente dan Ajax Amsterdam, duet yang masih berpeluang mengejar koleksi angka AZ, justru sama-sama mengalami kekalahan. Twente dipukul Feyenoord Rotterdam 1-0, sedangkan Ajax dihajar PSV Eindhoven 6-2.

Jadilah feestje atau pesta digelar hari Minggu lalu. Mulai peluit akhir ditiup wasit Jan Wegereef di Philips Arena milik PSV hingga larut pagi di seluruh pelosok kota penghasil keju nomor wahid Negeri Kincir Angin, yang cuma memiliki total populasi 90-an ribu jiwa itu.

Buah Kesabaran

Setelah titel perdana muncul pada musim 1980/81, inilah gelar kedua AZ sepanjang keikutsertaan mereka di Eredivisie. Silverware yang jelas pantas dibanggakan mengingat merekalah satu-satunya klub pemutus hegemoni De Grote Drie (Ajax, PSV, dan Feyenoord) dalam 27 musim terakhir.

Kembali ke soal ramalan, mungkin celoteh Rosa Mare cuma kebetulan belaka. Tentu mustahil AZ mampu menggapai mahkota tanpa skuad yang mumpuni. Di sinilah kejeniusan Van Gaal melebur jadi satu dengan hamparan pemain murah tapi bermodal kualitas jempolan.

Bayangkan saja, anggaran yang diberikan Dirk Scheringa, pemilik klub, guna belanja pemain hanya 3,6 juta euro. Tak ada apa-apanya dibanding nilai transfer Miralem Sulejmani ke Heerenveen yang bernilai 16,25 juta euro. Pagu gaji pemain AZ per tahun pun terendah keenam di antara personel Eredivisie.

Namun, Van Gaal sanggup mengoptimalkan pasukan mini ini menjadi armada maksi. Mounir El Hamdaoui disulap menjadi mesin gol dengan kontribusi 22 biji gol. Kiper Sergio Romero juga tak kalah piawai karena mampu menjaga clean-sheet hingga 995 menit. Kombinasi ini berperan krusial dalam torehan gelar AZ.

Kesabaran Scheringa dalam menahan Van Gaal di AZ juga memegang kunci. Maklum, pada akhir musim lalu, AZ terkapar di posisi 11. Di awal musim ini, El Hamdaoui cs. bahkan mengalami dua kekalahan beruntun sehingga suara-suara pemecatan sempat mencuat.

Van akhirnya Gaal membayar keraguan dengan menyabet 28 laga tanpa kalah, dengan mengantongi 24 kemenangan dan empat seri. Kekalahan ketiga baru muncul pekan lalu. Tapi, apalah artinya jika dibarengi dengan gelar juara. (Sapto Haryo Rajasa)


--

AZ Mendobrak Kemapanan

Musim 1980/81, AZ '67, yang menjadi nama Alkmaar Zawankaboob di Eredivisie ketika itu, menjuarai kompetisi dengan gagah. Mereka unggul 12 poin dibanding Ajax, sang runner-up. Itu adalah gelar liga perdana AZ Alkmaar.

Namun, apa yang terjadi kemudian? Kompetisi seolah kembali hanya menjadi mainan tiga raksasa klub Belanda, Ajax, PSV, dan Feyenoord. Sebelum AZ tahun 1981, hanya ada tiga klub yang sanggup juara sejak Eredivisi diperkenalkan pada musim 1956/57. Mereka adalah DOS (1957/58), Sparta (1958/59), dan DWS (1963/64).

Setelah AZ berpesta, PSV dan Ajax merajai Eredivisie dengan sesekali Feyenoord memberikan variasi di daftar juara liga. Ya, sebanyak 27 kompetisi setelah AZ meraih gelar pertamanya hanya dimiliki ketiga klub tersebut. Dominasi yang kemudian dicap sebagai bukti ketidakseimbangan kekuatan anggota Eredivisie.

Di posisi kedua pun hanya Roda JC, Willem II, Heerenveen, dan AZ yang mampu menjadi runner-up selain ketiga raksasa.

Roda JC, yang mencoba menyeruak musim 1994/95, tak sanggup mengejar agresivitas Ajax. Perbedaan tujuh poin tampak timpang ketika melihat produktivitas gol kedua tim. Ajax juara dengan mencetak 106 gol dari 34 partai, sedangkan Roda hanya 70.

Feyenoord terlalu perkasa bagi Willem II di musim 1998/99. Keduanya berbeda 15 poin. Semusim kemudian, Heerenveen berbeda 16 nilai dari sang juara, PSV. Lalu AZ tersandung dipengujung musim 2005/06.

Menarik untuk menunggu bagaimana AZ mempersiapkan diri mewakili Eredivisie di Benua Biru. Selama ini, publik hanya percaya pada PSV dan Ajax sebagai wakil terbaik Belanda di Eropa.

Saat tampil di Piala Champion 1981/82, langkah AZ terhenti di babak II. Liverpool menghempaskan mimpi AZ dengan keunggulan 3-2 setelah bermain 2-2 di Belanda. (wesh)

DISTRIBUSI GELAR
SEBELUM AZ JUARA
---------------------------------------
PSV: 14
Ajax: 10
Feyenoord: 3





Sejarah Sukses AZ
Untuk Antisipasi Pelucutan

Tidak ada sejarah gemerlap Alkmaar Zaanstreek yang bertahan lama di Liga Belanda, baik di Eredivisie maupun Eerste Divisie. Letupan prestasi AZ terjadi ketika mereka menjuarai Piala KNVB berturutan pada 1981 dan 1982.

Kiprah yang terhitung sensasional untuk ukuran klub berstatus medioker tersebut pun diikuti dengan keberhasilannya menjadi finalis Piala UEFA di 1981. Naik-turunnya prestasi ini bisa dimaklumi mengingat banyak pilar mereka yang langsung hijrah ke Feyenoord, Ajax atau PSV Eindhoven, saat AZ mulai merambah ke posisi lima besar.

Bila mekanisme pelucutan kekuatan ini gagal dilakukan, apa yang diperlihatkan AZ di awal 80-an mungkin kembali terulang. Kala itu, komposisi pemainnya di musim 1979/80 tidak diganggu setelah mereka berhasil merangsek sebagai runner-up Eredivisie.

Alhasil, musim berikutnya tim asuhan Hans Eijkenbroek itu pun berhasil menjadi kampiun. Nah, belajar dari sejarah itulah kini Louis van Gaal berusaha memagari para pemainnya demi menjaga konsistensi prestasi AZ.

Sekitar lima dari sembilan pemain yang dipinjamkan Van Gaal pun konon akan ditarik kembali di awal musim depan demi menjamin kekokohan AZ saat bertarung di Eropa. Sebut saja nama Ryan Donk (West Bromwich) dan Kemy Agustien (Birmingham), yang sudah menyatakan tertarik dengan proposal anyar AZ menuju Eropa itu. (toen)

REKAMAN PRESTASI JUARA AZ
-----------------------------------------------------
Eredivisie (2) 1981, 2009
Piala KNVB (3) 1978, 1981, 1982


--


Tokoh Kunci Sukses AZ
Tuaian Eks Polisi

Selalu ada tokoh di balik layar dalam setiap cerita sukses. Demikian juga dengan keberhasilan AZ merebut gelar landskampioen musim ini yang menghadirkan nama Dirk Scheringa.

Dirk Scheringa (kiri), menikmati buah komitmen dan investasi belasan tahun. (Foto: AFP)

Mari simak tulisan kolumnis Algemeen Daagblad, Chris van Nijnatten. "Hampir semua orang memuji Van Gaal. Namun, sebenarnya gelar ini adalah buah kerja keras Scheringa selama 15 tahun hingga menjadikan AZ seperti sekarang," tulisnya.

Sejak menjuarai Eredivisie dan Piala Belanda edisi 1980/81 serta menjadi finalis Piala UEFA di tahun yang sama, AZ, yang kala itu bernama AZ '67, memang terus memperlihatkan kemerosotan. Tim asal Alkmaar ini bahkan terbuang dari Eredivisie pada 1988. Kedatangan Scheringa lima tahun berselang mengubah semuanya.

Komitmen Scheringa mulai berbuah saat AZ kembali ke kompetisi utama pada 1995. Satu dekade kemudian, majalah Voetbal International melaporkan bahwa pemilik Bank DSB ini resmi menjadi pemilik AZ dan stadionnya setelah mengambil alih utang klub yang berjumlah 108 juta euro.

Investasi jangka panjang pun dipikirkan. Selain membangun kompleks latihan canggih dan memanfaatkan teknologi komputer, Scheringa berencana memperluas kapasitas DSB Stadion menjadi 40 ribu kursi. Proyek tersebut memakan dana hingga 150 juta euro atau sekitar 2,1 triliun rupiah.

Konsekuensinya jelas. Anggaran transfer tak bisa jorjoran. Musim ini, Scheringa pun hanya menyediakan anggaran sekitar 28 juta euro untuk perjalanan tim semusim (396 miliar rupiah). Dana tersebut merupakan yang keenam terendah di antara kontestan Eredivisie.

"Sangat fantastis bisa melangkah sejauh ini dengan dana yang hanya setengah dari klub lain. Ini adalah pencapaian unik," kata Scheringa, yang memuji kejelian Louis van Gaal dalam membeli pemain bagus dengan harga murah, pada radio RTL pekan lalu.

Jangan kira Scheringa seorang pebisnis tanpa nurani. Ketika AZ menuai kekalahan di dua laga pembuka, pria yang sempat menjadi polisi itu tak lantas menekan pelatih Van Gaal. Padahal, kala itu kesabaran suporter sudah habis mengingat musim sebelumnya AZ hanya finis di peringkat kesebelas.

"Kami memiliki fan paling loyal di seluruh Belanda dan mereka berhak menyuarakan pendapat. Namun, tak ada gunanya saling menyalahkan. AZ adalah klub dengan suasana kekeluargaan. Ketika situasi sulit, kami cenderung jadi lebih berbagi," ucap Scheringa pada Theoffside.

Uniknya, kekhawatiran baru kini menyeruak. Suporter cemas Scheringa bakal mengikuti jejak Klaas Molenaar, presiden klub yang menjual pemain bintang setelah meraih titel pada 1981.

"Kami yakin bisa berprestasi di Eropa. Tapi, ketika itu Molenaar punya pemikiran lain. Scheringa adalah sosok yang berbeda. Dia ingin klub ini terus tumbuh dan berkembang," kata Kees Kist, mantan mesin gol AZ (1972-82 dan 1986-87), mencoba menenangkan. (Andrew Sihombing)


--




--

Tips Bebas Depresi

Pernah merasa depresi menghadapi pekerjaan kantor tidak ada habisnya? Atau, putus asa di tengah deraan masalah yang mengganggu bisnis anda?

Sebenarnya, sangatlah mudah untuk menghindari depresi dan lebih menikmati hidup. Langkah pertama dan yang paling penting adalah berada pada saat ini (In The Moment). Mulai fokus pada hal kecil yang biasa anda lakukan dan nikmati prosesnya. Seperti saat anda membuat kopi di pagi hari kemudian NIKMATI saat anda meminum kopi. Cobalah untuk tidak berpikir tentang hal yang lain.

Kosongkan pikiran dari segala kekhawatiran. Mungkin hal ini berat dilakukan terutama bila anda mempunyai tanggungan atau keluarga. Tapi ini sangat penting paling tidak untuk sementara, dan yakinlah bahwa 80% dari kekhawatiran tidak akan pernah terjadi, dan masalah apapun PASTI akan ada solusinya.

Lakukan apa yang anda senang lakukan pada masa kecil sebagai refreshing, seperti main bola, naik sepeda, berlarian pada saat hujan, dll.

Lihatlah ke ke langit dan nikmati hari yang cerah ataupun hari hujan. Bagaimanapun juga tiap hari adalah karunia Tuhan yang penuh dengan berkah. Tarik nafas panjang dan biarkan pikiran anda lepas

Jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain. Tidak ada seorangpun didunia ini yang seperti anda. Anda menarik, hebat dan luar biasa dengan cara anda sendiri.

Jangan pernah menghukum diri sendiri karena ketidak mampuan orang lain untuk menghargai dan mencintai anda. Katakan pada diri anda sendiri bahwa orang tersebut tidak layak mendapatkan waktu anda dan mulailah kehidupan anda yang baru SEKARANG.



--



Barcelona dan Madrid Selisih Empat
Prahara Bernama Valdes

Hasil imbang di kandang sebuah tim yang tengah menemukan kenikmatan bertanding seharusnya tak perlu dikhawatirkan. Namun, skor 2-2 di Mestalla, Sabtu kemarin, bisa mengganggu perjalanan spektakuler Barcelona.

Sebuah kesalahan mendasar seorang kiper adalah hal yang tak Anda butuhkan ketika tiga hari kemudian melakoni partai semifinal Liga Champion. Apalagi bila sang calon lawan punya keunggulan yang erat kaitannya dengan error sang kiper.

Tak hanya itu, akibat kegagalan mengambil nilai penuh di kandang Valencia, kini jarak yang membedakan Barcelona dengan rival utamanya, Real Madrid, tinggal empat. Laju tujuh kemenangan beruntun Barca pupus. Sebaliknya Madrid mencapai angka tujuh sebagai pemberi tiga poin tanpa putus.

Bayangkan bagaimana situasi di kubu Barcelona bila Selasa ini mereka gagal menekuk Chelsea dan akhir pekan nanti berkunjung ke Santiago Bernabeu melakoni laga klasik melawan Madrid?

Namun, pelatih Josep "Pep" Guardiola mencoba meminimalkan segala kekhawatiran. "Kami bekerja keras di pertandingan ini dan di akhir pertandingan kami mendapatkan ganjarannya," ujar sang pelatih. "Para pemain layak mendapat pujian, mereka bekerja seperti mesin."

Kubu Barcelona tentu wajar menyambut hasil imbang di Mestalla dengan lapang dada karena Pep Guardiola nyata tak ingin tancap gas penuh di Mestalla. Hanya, proses dua gol Valencia layak menjadi peringatan bagi pertahanan The Catalans.

Setelah Lionel Messi membawa Barcelona unggul di menit ke-23 menerima umpan Andres Iniesta, skor menjadi 1-1 karena kegagalan Valdes menepis bola corner David Silva. Di menit ke-42 itu, Valdes malah nyaris menangkap kepala Carles Puyol, kapten Barca. Bola yang gagal dihalau mendarat di kaki Hedwiges Maduro. Gelandang asal Belanda itu tak kesulitan menjebol gawang Barcelona, yang tanpa kawalan.

Situasi Barcelona semakin buruk ketika Pablo Hernandez berhasil memanfaatkan buruknya koordinasi lini belakang Barca sebelum istirahat.

The Catalans beruntung kiper Valencia, Cesar Sanchez, juga melakukan kesalahan. Mantan kiper Real Madrid dan Zaragoza itu gagal menghalau bola free kick yang coba disambut Sergi Busquets. Bola liar berhasil dimanfaatkan Thierry Henry. Valencia gagal menang, Barcelona harus puas bermain seri.

Walau berhasil mengejar keunggulan tuan rumah, kapten Puyol secara terbuka menyesalkan performa timnya di lima menit terakhir babak I.

"Kami terlalu sering kehilangan kontrol bola, Valencia bisa memanfaatkannya dan mereka punya serangan balik yang baik," timpal Iniesta di situs klub.

Dari kubu tuan rumah, protes terhadap sang pengadil terus berlanjut seusai pertandingan. Striker David Villa menuding wasit Vallejo Aznar terlalu sering membiarkan pemain-pemain Barcelona melakukan pelanggaran tanpa hukuman.

"Saat saya mendapat kesempatan terakhir, wasit menyebutnya off side, nyatanya tidak. Contoh lain, Dani Alves terlihat menjatuhkan David Silva di kotak penalti, tapi ia membiarkan hal itu," papar David Villa.

Pemain terbaik malam itu, Pablo Hernandez, mencoba menerima hasil imbang dengan sikap positif. "Kami harus senang karena telah memberikan segalanya dan kami unggul hampir sepanjang pertandingan," tutur sang gelandang pada reporter setelah pertandingan.

Ya, mengacu hasil 0-4 di Camp Nou pada perjumpaan pertama, tentu skor 2-2 pantas pantas diterima kubu Valencia sebagai bukti positif performa El Che. Mereka tak terkalahkan sejak dibekap Numancia pada jornada 26.

Namun, bagi Barca, laju perolehan nilai yang tersendat saat mereka dihadapkan pada jadwal sulit, lokal dan Eropa, layak membuat Pep Guardiola bekerja keras memulihkan kondisi tim. (Weshley Hutagalung)


--




Man. United dan Liverpool
45 Menit ke Puncak

Man. United kembali hanya memperbolehkan Liverpool mencicipi pucuk klasemen selama beberapa jam saja. Namun, United mesti melewati jalan terjal ke puncak.

Walau akhirnya menang, dalam 45 menit pertama menuju puncak kembali, pasukan Rio Ferdinand cs. membuat jantung para pendukung berdetak kencang. Di Old Trafford, Sabtu (25/4), Tottenham membuat kejutan berupa dua gol lewat Darren Bent dan Luka Modric ke gawang Edwin van der Sar.

Mungkin arsitek rival, Rafael Benitez, bakal bersikap sama dengan Harry Redknapp, menyesalkan penalti yang diberikan referee Howard Webb sehingga berbuah gol pertama United. Dakwaan Heurelho Gomes mengganjal Michael Carrick disebut sangat kejam karena terlihat tak seperti pelanggaran.

“Kami sulit memercayainya. Penalti itu mengubah pertandingan. Wasit membuat kesalahan mengerikan. Teknologi sudah harus digunakan. Ofisial keempat seharusnya melihat televisi dan berbicara dengan wasit,” sebut Redknapp di BBC.

“Kami sedikit beruntung. Sepak bola memang lucu seperti itu. Minggu lalu kami tersingkir dari Piala FA karena tak mendapat penalti. Namun, penalti ini tak menggambarkan keseluruhan performa kami di babak kedua,” kata Sir Alex Ferguson, “membela” pemberian 'sepak 11 meter' itu.

Pascaduel, asisten bos United, Mike Phelan, mengakui betapa krusialnya gol pertama dari titik putih ini.

Well, kebenaran pendapat ini terasa benar ketika empat gol menyusul, semua digelontorkan Setan Merah. Walau tak sefenomenal comeback di White Hart Lane pada 2001 --menang 5-3 setelah tertinggal 0-3 saat jeda--, pembalikan ini tetap menakjubkan.

Fergie juga lega dengan membaiknya selisih gol, alasan tahta klasemen dua kali diambil alih. “Kami kini hanya dua gol di belakang Liverpool,” ujar Ferguson.

Mungkin Jatuh

Sekitar dua setengah jam sebelum partai di Old Trafford, Liverpool melanjutkan aksi pemberian tekanan dengan kemenangan 3-1 di kandang Hull.

The Reds, yang mesti berjuang keras menangkal semangat The Tigers, yang ingin menjauhi zona degradasi, terbantu kartu merah Caleb Folan. Dengan 10 pemain, Hull toh masih sempat memperkecil ketertinggalan mereka lewat Geovanni.

“Man. United masih mungkin jatuh,” kata Benitez setelah mengetahui kegagalan Spurs menghentikan rival mereka itu.

“Jika kami terus menang, saya rasa mereka akan merasakan tekanan. Dalam sepak bola, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi,” sebut Rafa. Bisa jadi ia berharap laga di Liga Champion akan menguras konsentrasi Setan Merah. (Christian Gunawan)


--


Degradasi
Ancam Paruh Bawah

Kerasnya persaingan di Premier League musim ini dapat disimak dari fakta baru separuh peserta yang sudah memastikan diri berada di top flight musim depan. Setengah jumlah berikutnya masih mungkin turun divisi.

Blackburn adalah tim terakhir yang memperlebar jarak dari zona berbahaya. Pada Minggu (26/4) di Ewood Park, Benni McCarthy dkk. menang 2-0 atas Wigan guna menjauh sebanyak enam poin. Alasannya jelas. Dengan empat pekan tersisa, kampiun 1995 ini enggan terlena. Kemungkinan kembali dan tertahan di tiga terbawah masih sangat besar.

“Apakah kami sudah aman? Sama sekali belum. Ini masih jauh dari selesai meski sudah lebih dekat,” ujar Sam Allardyce, gaffer Blackburn, seperti dikutip BBC.

Kekalahan Middlesbrough dari tuan rumah Arsenal di hari yang sama mengurangi beban tim seperti Blackburn. The Boro bahkan bisa tergusur ke peringkat 19 bila Newcastle menang pada Senin (27/4, setelah tenggat BOLA).

Kalau sebelumnya selalu menunjukkan keyakinan, bos Boro, Gareth Southgate, mulai frustrasi. “Kami tak cukup berusaha untuk meraih sesuatu dari pertandingan ini. Itu sudah jelas,” katanya.

Hal-Hal Aneh

Keketatan di area bawah toh berutang pada West Brom. Tim juru kunci ini menaikkan temperatur persaingan berkat kemenangan nan penting atas Sunderland. Kubu terakhir kini hanya unggul empat angka dari batas zona turun kasta. Brom sendiri tinggal berjarak satu kemenangan dari Boro.

Tak tanggung-tanggung, tiga gol diceploskan The Baggies tanpa bisa dibalas Sunderland. Thus, pelatih West Brom, Tony Mowbray, mengincar great escape, keberhasilan lolos dari bencana degradasi di saat-saat akhir, seperti yang dibuat Bryan Robson pada 2005.

“Bagi saya selalu laga berikutnya, bukan gambaran yang lebih besar. Tugas ini hampir mustahil, tapi hal-hal aneh dapat terjadi dalam sepak bola,” sebut Mowbray. (chrs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar