Jumat, 22 Mei 2009

3 Gaya Hidup Sehat demi Produktivitas Kerja




Kini kelihatannya kian banyak orang yang relatif masih berusia muda (dibawah 40-an tahun) yang terkena serangan beragam penyakit : entah itu serangan jantung mendadak; terkena stroke, asam urat, hepatitis, hingga kanker paru-paru.

Banyak pihak menduga semua itu tak lepas dari gaya hidup masyarakat modern yang tergelincir dalam belantara kenestapaan : tekanan pekerjaan yang stressfull, pola makan yang sembarangan, dan kegagalan melakukan ritual olah raga secara rutin.

Akibatnya mungkin bisa berujung pada sederet petaka bagi Anda dan juga bagi kantor Anda: produktivitas kerja menurun drastis, klaim biaya kesehatan yang melambung; dan mungkin juga, tubuh Anda bisa tergeletak tak berdaya di ruang bangsal rumah sakit yang penuh dengan bau khas itu.

Jangan. Jangan biarkan tubuh dan raga Anda terpelanting dalam ruang bangsal serba putih itu. Sebab, seperti kata Pak Hendrawan Nadesul, sehat itu murah. Berikut 3 kiat sederhana yang mestinya bisa kita lakoni bersama-sama.

Kiat yang pertama tentu saja adalah : pola makan yang sehat. Sebuah anjuran yang amat sederhana, namun persis disitu pula kita acap tergolek tak berdaya. Semua makanan disantap, yang penting rasanya mak nyoss, begitu mungkin Anda berkilah. Sayangnya kini banyak makanan yang justru pelan-pelan membawa kita pada lorong kematian yang memerihkan.

Fast food, makanan instant, penyedap rasa, bahan pengawet, makanan penuh lemak, dan kawan-kawannya barangkali memang sedap untuk dikudap. Tapi mungkin deretan makanan inilah yang kelak akan mengantar kita ke ruang ICU, jika terus disantap penuh nafsu.

Saya sendiri juga terus mencoba berikhtiar untuk melakoni ritual makan sehat. Setiap pagi, saya selalu sarapan bubur oat meal yang katanya kaya serat dan sehat itu, sambil ditemani empat potong tempe (setiap hari saya setidaknya makan 16 potong tempe). Setelah itu minum susu kalsium satu gelas.

Jika tidak ada jadwal mengajar dan konsultasi, saya lebih banyak ngantor dirumah, dan karena itu saya selalu makan siang dan malam di rumah. Istri saya kebetulan ndak doyan daging (baik daging sapi atau apalagi daging kambing), sehingga kombinasi makan siang kami selalu tak jauh dari ayam kampung atau ikan. Begitulah, menu mingguan kami selalu tampak miskin variasi dan tak menggairahkan : ikan gembung plus sayur bayam plus tempe, berikutnya ayam, lalu ikan tengiri, lalu ikan lele, lalu ikan gembung lagi. Begitu seterusnya. Tak begitu menggairahkan memang; namun mungkin cukup menyehatkan.

Kiat yang kedua adalah : lakukan ritual olah raga secara teratur. Kata ahli kesehatan, olah raga yang baik adalah yang dilakukan secara rutin minimal 30 menit sehari selama 5 kali seminggu (lebih baik setengah jam tapi rutin, daripada lama tapi ndak rutin). Cuman sialnya, banyak orang yang males melakukan riual ini. Alasanya : ndak punyak waktu-lah, ndak ada fasilitasnya-lah, atau mungin ndak punya motivasi.

Padahal, jika sudah menjadi kebiasaan, olahraga setengah jam setiap hari itu sungguh akan menjadi sebuah kenikmatan yang menghanyutkan (dan tentu juga menyegarkan). Saya sendiri merasa, salah satu momen yang selalu saya tunggu-tunggu setiap harinya adalah melakoni kegiatan olah raga harian ini. Begitulah, dikeheningan pagi hari, dalam udara yang masih segar, sambil ditemani alunan music melalui headphone, saya rutin melakukan olahraga jogging threadmill. Sebuah momen yang sungguh menyegarkan. (Dan inspirasi tulisan untuk blog keren ini acap saya temukan melalui kegiatan olahraga yang menghanyutkan ini…..).

Kiat yang terakhir adalah ini : stop smoking bagi Anda yang kebetulan merupakan smokers. Saya sendiri termasuk orang yang aktif merokok sejak usia belia. Namun beruntung, saya bisa berhenti merokok sejak dua tahun silam. Goodbye, fucking A-Mild !! Alasan berhenti merokok? Well, saya kira tak perlu dipaparkan disini.

Begitulah tiga kiat sederhana yang barangkali bisa mengantarkan kita untuk mereguk raga dan jiwa yang sehat. Sehat jasmani. Sehat rohani. Jadi, jika Anda belum melakukan tiga hal diatas, maka pesan saya adalah : lakukanlah mulai dari diri Anda sendiri. Dan lakukanlah mulai hari ini juga!!


--


Succession Planning dan Presiden RI 2014
Succession planning atau regenerasi kepemimpinan tak pelak merupakan sebuah elemen penting dalam memahat kebesaran sebuah organisasi, entah organisasi itu berupa perusahaan bisnis, perkumpulan sepakbola ataupun sebuah pemerintahan negara.

Sejarah keharuman sebuah organisasi dengan kata lain, sangat ditentukan oleh kepiawaian para pengelolanya meracik proses sucession planning yang sistematis nan elegan. Dalam konteks inilah, ingar bingar pemilihan presiden yang sebentar lagi akan di-selebrasikan di negeri tercinta, memberikan sejumlah catatan penting mengenai manajemen sucession planning. Disini kita hanya hendak menjelujuri dua catatan penting diantaranya.

Catatan yang pertama adalah ini : pertarungan pemilihan presiden 2009 sejatinya telah usai. Tak ada terompet kemenangan yang perlu nyaring didendangkan. Jua tak perlu ada karnaval sukacita yang perlu dirayakan. Kita semua sudah tahu siapa yang akan jadi pemenangnya.

Yang perlu diratapi disini adalah : kenyataan bahwa sang pohon beringin pada akhirnya harus mengucapkan salam adios amigos kepada sang saudara muda-nya. Sebuah fakta yang layak dicemasi sebab, koalisi pemerintahan sang jendral dari Pacitan itu pasti akan menemui jalan terjal tanpa topangan partai besar berlambang beringin.

Namun persis disitulah drama kegagalan sucession planning mulai dibentangkan oleh partai Golkar. Hanya demi ambisi jangka pendek Pak Jeka dan kelompoknya (and don’t make me wrong; I love Pak Jeka so much), partai beringin itu melakukan blunder strategi yang amat memilukan dalam kerangka proses sucession planning yang rapi.

Kalau saja partai beringin itu memiliki visi jangka panjang yang jernih, dan ingin memenangkan kursi CEO RI pada tahun 2014, maka tak ada kata lain : mereka mesti menyodorkan dua atau tiga kader terbaiknya yang masih muda (bukan pak Jeka yang sudah berumur 67 tahun !!) untuk menjadi wakil dari a great man from Cikeas.

Sayang, Pak Jeka gagal menunjukkan sikap kebesaran jiwa yang layak dikenang. Ia mengorbankan kepentingan jangka panjang organisasinya, demi kepentingan pribadi dan faksinya (dan ini membuat saya sangat sedih, sebab once again, I really love pak Jeka).

Padahal kalau saja Pak Jeka berkenan menyodorkan dua atau tiga kader terbaiknya (katakanlah, Sri Sultan atau Siswono Yudo Husodo atau Fadel Muhammad) sebagai calon wapres resmi dari partainya, maka siapapun diantara mereka yang dipilih, maka mereka akan memiliki peluang yang amat besar untuk menjadi orang nomer 1 di negeri ini kelak pada tahun 2014.

Alasannya sederhana : berdasar ilmu succession planning, posisi wakil merupakan salah satu arena terbaik untuk menggodok calon penerus. Selama lima tahun itulah, sang wakil akan terus mendapat kesempatan untuk menempa kompetensi leadership-nya. Dan tentu, selama lima tahun itu pula, sang wakil akan mendapat ekspose yang besar dari media – sebuah rute penting untuk mengembangkan popularitasnya di mata masyarakat.

Sayangnya, dihadapan para punggawa partai beringin, logika sucession planning yang terang benderang semacam itu tergeletak tak berdaya, terkapar dibawah ambisi kekuasan jangka pendek yang teramat rapuh.

Jadi siapa yang kelak akan jadi CEO Indonesia di tahun 2014?

Pada akhirnya, Pak Beye mungkin akan memilih kang Hidayat Nurwahid dari Partai Kasih Sayang sebagai calon pendamping. Dan kembali merujuk pada ilmu succession planning, barangkali Pak Hidayat-lah yang kelak (di tahun 2014) memiliki peluang terbesar untuk terpilih menjadi Presiden RI ke 7.

Jika hal itu yang memang benar terjadi, maka impian negeri ini untuk memiliki pemimpin yang bersih, lurus dan kredibel mungkin akan tergapai. Dan persis di tahun itulah, untuk kedua kalinya dalam sejarah, republik ini bisa memiliki presiden yang pandai menjadi khotib sholat Jumat dan fasih mengaji.

Sebagai rakyat jelata, kita mungkin hanya bisa berikhtiar – sesuai dengan peran kita masing-masing, dan berdoa semoga negeri ini bisa terus melaju menggapai cita-cita dan kejayaannya.

Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku semuanya.
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar