Jumat, 01 Mei 2009

Sekilas Kecerdasan Finansial (1)




Anda pernah mendengar tentang kecerdasan finansial (financial quotient) sebelumnya? Bagi yang berkecimpung di bidang keuangan, investasi, dan bisnis sedikit banyak sudah pernah mendengar atau bahkan mempelajarinya secara formal. Kita setiap hari kerja kers peras keringat, untuk mencari uang, yang sedikit demi sedikit kita kumpulkan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup. Hampir sebagian besar waktu hidup kita dipergunakan untuk tujuan mencari uang ini kalau kita mau jujur. Kita sekolah TK, SD, SLTP, SMU total waktu 11 tahun kalau lancar, ditambah sekitar 4 tahun di PT. Berbagai ilmu kita pelajari, bahkan karena begitu banyaknya sampai kita lupa, tujuannya untuk apa? Mencari ilmu ... ya .. jawaban yang idealis sedikit :) . Setelah mendapatkan semua ilmu itu, anda mau apa? Cari kerja? Bisnis? Ok .. cari kerja atau bisnis untuk apa? Untuk aktualisasi diri... :) bagus .. tapi anda perlu uang nggak? Akhirnya mayoritas kegiatan dan aktifitas kita bermuara kepada uang. Iya uang, sekarang menjadi pusat segala aktifitas dan bahkan tujuan dari mayoritas kita. Jaman sekarang memang sudah sangat komersiil, apa-apa sekarang perlu uang, bahkan harga diri seseorang sekarang juga dinilai dari tingkat kekayaan yang dimiliki orang itu. Bukan saya kapitalis, saya kurang setuju juga, tapi demikianlah kenyataannya.

Apakah kita sepakat uang itu penting? Terlepas dari apa tujuannya, dan kita mengakui atau tidak, uang itu adalah penting. Meskipun secara filosofi nilai uang itu sendiri adalah maya. Whuih .. kembali ke laptop :) Tapi yang mengherankan, kenapa mayoritas dari kita, sejak kecil tidak diperkenalkan kecerdasan finansial dan bagaimana uang bisa kita manfaatkan dengan bijaksana, untuk mencapai tujuan hidup dan kemakmuran. Kita sejak kecil diajari berbagai keterampilan dan ilmu pengetahuan dengan tujuan mulianya yaitu agar kita menjadi orang cerdas dan sukses dikemudian hari. Tapi kenapa kecerdasan finansial jarang diperkenalkan kepada kita sejak kecil? Berapa banyak dari kita dibimbing secara sadar oleh tempat sekolah kita dulu selama untuk membuat rencana pengeluaran pribadi bulan ini, membuat tujuan-tujuan finansial kita dalam satu tahun kedepan, lima tahun kedapan, bahkan rencana jangka panjang kita. Bagaimana cara berhemat, bahkan yang lebih penting bagaimana menghasilkan uang dan aset sejak masih muda? Kalau anda mendapat itu ketika masih muda, maka anda termasuk orang yang beruntung.

Untunglah, kecerdasan finansial bukanlah faktor genetik, atau bakat alami. Kecerdasan finansial adalah sesuatu yang bisa kita pelajari. Dan akan merubah cara berfikir kita, gaya hidup kita, dan tentunya tingkat kesuksesan finansial kita. Memang ada istilah buah tidak jauh dari pohonnya dan yang kaya bertambah kaya, yang miskin bertambah miskin. Hal ini memang benar dari sudut pandang kecerdasan finansial. Karena di keluarga yang kaya relatif bisa mengajarkan kecerdasan finansial kepada anak dan keturunannya, selain juga faktor-faktor yang lain termasuk modal dan jaringan. Sedangkan pada keluarga menengah dan miskin relatif tidak terlalu mementingkan pengajaran finansial sejak dini kepada anak-anaknya mengenai kecerdasan finansial. Rata-rata pada keluarga menengah ke bawah akan memberikan tuntutan kepada anak-anaknya untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dengan belajar yang rajin dan bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan gaji yang tinggi. Tapi sekali lagi, gaji yang tinggi tanpa disertai kecerdasan finansial tidak akan menyebabkan kemakmuran. Banyak contoh orang yang pengeluarannya lebih tinggi daripada pendapatannya meskipun gaji nya cukup tinggi untuk standar hidup normal.

Sebelumnya kita telah membicarakan tentang perlunya kecerdasan finansial. Ciri orang cerdas secara finansial adalah dia mampu melihat berbagai peluang yang orang kebanyakan tidak bisa melihatnya. Dia juga mampu membedakan dengan tepat mana-mana yang merupakan aset yang bermanfaat yang akan dimilikinya dan mana-mana liabilitas yang akan sebanyak mungkin dia hindari. Orang yang cerdas secara finansial akan memiliki perencanaan dan tujuan keuangan yang jelas dan terarah. Orang tersebut juga mampu menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran disertai usaha-usaha untuk meningkatkan penghasilan dan menurunkan pengeluaran. Orang yang cerdas secara finansial bukanlah orang yang pelit dan serakah, tapi orang yang tahu menggunakan uang dan hartanya untuk tujuan-tujuan yang jelas dan bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Kecerdasan finansial bukanlah suatu hak ekslusif sekelompok manusia yang kaya. Tapi merupakan keterampilan yang perlu dimiliki semua orang secara personal.

Banyak buku yang membahas tentang kecerdasan finansial, keuangan, dan kemakmuran. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Robert T Kiyosaki dan banyak tokoh-tokoh lainnya. Di Indonesia ada Tung Desem Waringin, Safir Senduk, dan lain-lain yang mengajarkan tentang kecerdasan finansial. Tetapi pada intinya, kecerdasan finansial adalah keterampilan untuk mendapatkan uang dengan cerdas dan benar, mempergunakan uang dengan bijaksana, terencana, dan terukur. Kemampuan untuk meningkatkan aset dan mengurangi liabilitas untuk mencapai kemakmuran dan kebebasan finansial (financial freedom). Kecerdasan ini jarang diajarkan secara formal kepada kita bahkan itu oleh sekolah maupun oleh orang tua kita. Tapi saya merasa sangat beruntung ketika masih kecil diajarkan oleh Ibu untuk membuat perencanaan uang sederhana, minimal satu bulan sekali membuat permintaan uang saku dengan rencana. Diajarkan untuk senang menabung, dan hidup sederhana saja. Hal-hal seperti ini perlu kita ajarkan kepada anak-anak kita. Tetapi, tentunya sekarang sudah sangat berkembang ilmu mengenai kecerdasan finansial, mengelola uang, dan aset-aset yang bisa dipilih untuk dimiliki. Dan kita dengan mudah mempelajari tentang semua ini, karena sudah banyak yang sumber informasi dan tempat untuk mengasah kecerdasan finansial.

Bagaimana cara kita untuk meningkatkan kecerdasan finansial adalah salah satu hal penting yang perlu kita pelajari. Kita dapat meningkatkan kecerdasan finansial dengan membaca berbagai pengetahuan dasar mengenai hal tersebut, mengikuti seminar, traning, dan segala macam pelatihan. Kita juga harus berani mengambil keputusan dan bertindak lebih cerdas. Tryal and error perlu dilakukan untuk mengasah kecerdasan finansial. Bukankah guru yang terbaik adalah pengalaman kita sendiri? Cara paling mudah dan relatif berhasil adalah apabila anda memiliki mentor orang-orang yang telah sukses secara finansial, mempelajari pandangan dan gaya hidupnya, serta secara konsisten mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari.




Poin Penting Dari Kecerdasan Finansial (1)

Sebelumnya kita telah membahas perlunya kecerdasan finansial dan ciri orang yang cerdas secara finansial. Berikutnya kita akan membahas pokok-pokok dari kecerdasan finansial. Disini kita akan membahasnya secara singkat saja. Anda dapat mempelajarinya lebih lengkap dengan membaca ebook-ebook yang tersedia diblog ini. Poin penting dari dari kecerdasan finansial itu adalah :

1. Memiliki tujuan, perencanaan, dan evaluasi keuangan pribadi yang jelas.
2. Mampu meningkatkan pemasukan dan mengurangi pengeluaran.
3. Berusaha mengumpulkan aset dan mengurangi liabilitas.
4. Menekankan cashflow yang positif.
5. Melihat peluang yang banyak orang tidak bisa melihat.
6. Menggunakan kekuatan daya ungkit atau leveraging.
7. Menggunakan kekuatan jaringan.
8. Melihat kondisi makro dan mikro dengan jeli.
9. Menciptakan kemakmuran sosial.


1. Memiliki tujuan, perencanaan, dan evaluasi keuangan pribadi yang jelas.

Coba sekarang kita bertanya pada diri sendiri. Apa yang kita inginkan bulan ini, beli handphone, atau beli reksadana, memiliki tahungan sekian rupiah, atau mungkin kita gak punya keinginan & tujuan bulan ini. Banyak dari kita kebiaasaanya, dapat uang dari gaji atau yang lain, kita belanjakan saja tanpa ada tujuan yang jelas, akhir bulan habis, bahkan minus. Dan anehnya sering kita bertanya-tanya sendiri, kemana habisnya uang kita, kok cepat sekali habisnya. Mari kita tarik lebih jauh, satu tahun kedepan apa tujuan keuangan anda, apa saja ingin anda miliki tahun ini, berapa jumlah aset anda, berapa pemasukan dan pengeluaran anda. Mari kita tarik lagi lima tahun lagi dan sampai tua, apa yang anda inginkan.

Mungkin banyak dari kita sadar, bahwa kita belum memiliki tujuan finansial yang jelas, bahkan untuk satu bulan ini dan kedepan. Kunci pertama dari kesuksesan finansial adalah anda memiliki tujuan finasial yang jelas, terukur, dan dapat dicapai. Anda akan menjadi dan mendapatkan apa yang anda inginkan dan tuju. Setelah anda menetapkan tujuan-tujuan finansial anda, biasakan untuk memiliki perencanaan pemasukan, pengeluaran, target-target bulan ini, satu tahun kedepan secara tertulis. Kemudian catatlah pemasukan dan pengeluaran bulanan anda dengan baik. Hal ini akan sangat mempermudah anda mengatur uang anda dan dapat melihat berapa banyak uang kita masuk dan kemana uang kita pergi. Dan sampai mana tujuan finansial kita dapat dicapai.

2. Mampu meningkatkan pemasukan dan mengurangi pengeluaran.

Salah satu poin penting dalam pengelolaan uang adalah bagaimana meningkatkan pemasukan dan mengurangi pengeluaran. Kita semua pasti sudah paham dengan hal ini.Tetapi pada kenyataannya masih banyak dari kita yang pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, sehingga pengeluaran iditutupi dengan hutang, seringkali dengan kartu kredit, yang berarti kita mengorbankan masa depan untuk menghidupi hari ini. Tapi sejak sekarang anda harus menanamkan dalam pikiran, bagaimanapun kita harus berusaha meningkatkan pemasukan dan mengurangi pengeluaran. Tanpa menekankan mind set itu, kita akan terjebak dalam lingkaran setan hutang.

Bagaimana kita dapat meningkatkan pemasukan sedangkan gaji kita segitu-gitunya, cuma cukup untuk makan dan menghidupi keluarga, bahkan sering kurang. Itu yang akan kita bahas dalam blog ini secara umum, dari sudut pandang mengelola uang dan investasi. Cara yang paling bisa kita lakukan sekarang juga adalah dengan mengurangi pengeluaran. Ini dalam kendali anda sepenuhnya. Untuk mengurangi pengeluaran secara efektif, anda harus tahu mana saja pengeluaran yang produktif, dan mana pengeluaran yang konsumtif. Pengeluaran yang produktif adalah pengeluaran yang kita bisa mengharapkan sesuatu hasil terutama terkait dengan finansial di kemudian hari. Sedangkan pengeluaran konsumtif, adalah pengeluaran yang sifatnya menghabiskan nilai dari suatu baran atau jasa dengan mengorbankan sejumlah uang. Contoh pengeluaran yang produktif adalah membayar orang untuk menjual barang kita, membayar uang warnet untuk membuat website atau blog yang menghasilkan uang, menyewa bis untuk dijual lagi tiket kursinya, membeli reksadana, membeli emas, dan lain-lain. Sedangkan contoh pengeluaran yang konsumtif adalah membeli baju, membeli voucer pulsa, membayar kontrakan, makan, dan lain - lain. Untuk mengurangi pengeluaran kuncinya kita harus menyeimbangkan pengeluaran produktif, agar jangan sampai membebani keuangan, dan seoptimal mungkin mengurangi pengeluaran yang konsumtif meskipun sebagian pengeluaran konsumtif itu benar-benar kita perlukan. Kalau kita coba daftar pengeluaran kita, kita mungkin terkejut bahwa 80% atau lebih pengeluaran kita bersifat konsumtif. Coba anda daftar sekarang pengeluaran anda bulan lalu.

3. Berusaha mengumpulkan aset dan mengurangi liabilitas.

Mengumpulkan aset dan liabilitas adalah kunci kesuksesan finansial. Sederhananya aset adalah apa saja yang kita miliki yang bisa menghasilkan uang masuk dalam dompet kita. Contoh aset : toko yang untung, pabrik yang untung, blog atau website yang menghasilkan, rumah dikontrakkan, saham yang menghasilkan deviden, obligasi yang memberikan interest atau bunga, tabungan, deposito, unit link asuransi, dan sebagainya. Apa saja yang bisa menghasilkan uang. Sedangkan liabilitas adalah apa saja yang kita miliki dan mengeluarkan uang dari dalam dompet kita. Contoh liabilitas adalah handphone membuat kita beli pulsa, televisi, kulkas, kompor, dan lain sebagainya yang membuat kita mengeluarkan uang terus.

Kita harus berusaha seumur hidup untuk menambah aset kita dan mengurangi liabilitas. Apabila ini konsisten kita lakukan, kita tidak akan takut dengan masa depan kita. Pada suatu saat aset anda akan menutupi seluruh pengeluaran anda, bahkan berlebih dan bisa diputar lagi untuk menambah aset-aset yang anda miliki sebelumnya. Begitu seterusnya dan anda akan bebas secara finansial (financial freedom) yaitu ketika pendapatan anda dari seluruh aset dikurangi semua pengeluaran hidup anda lebih besar. Ketika kondisi kebebasan finansial tercapai, maka anda dapat menjadi diri anda sendiri, dan tidak selalu dikejar-kejar ketakutan tidak memiliki uang atau bekerja banting tulang untuk mencari uang. Anda dapat menjadi apapun sesuai mimpi anda sendiri. Anda ingin mendarmakan hidup untuk agama dan sosial? Anda ingin bekerja terus? Anda ingin konsen meningkatkan aset? Anda ingin hidup santai saja? Semua dapat anda pilih dengan leluasa kalau anda sudah mencapai kondisi bebas secara finansial.


4. Menekankan cashflow yang positif.

Cashflow atau aliran uang kas , cukup penting kita perhatikan. Usaha kita untuk menambah penghasilan dan mengurangi pengeluaran serta menambah aset dan mengurangi liabilitas belumlah cukup, kalau cashflow kita masih negatif. Cashflow sederhananya adalah berapa uang riil atau cash yang keluar dan masuk dari dompet kita. Anda boleh memiliki 10 aset yang menghasilkan, dan 2 liabilitas yang mengurangi isi dompet anda, akan tetapi belum tentu anda bebas secara finansial. Apabila ke 10 aset anda menghasilkan cashflow lebih kecil dari pengeluaran dari 2 liabilitas kita, maka kita merugi. Kita bisa bangkrut dan terlilit hutang. 10 aset anda memang menghasilkan, taruhlah 20 juta sebulan, tetapi pemasukan tersebut tidak bisa dicairkan karena dalam bentuk piutang, sedangkan 2 liabilitas anda bulan ini, mengharuskan anda merogoh dompet 5 juta tunai. Itu artinya anda minus dalam cashflow. Dan ini tidak baik.

Kecerdasan finansial menekankan agar kita juga selalu memprioritaskan cashflow yang positif. Apabila cashfow kita positif, anda boleh sedikit bernafas lega. Bagaimana untuk mengetahui cashflow anda? Tentunya anda harus memiliki catatan keuangan yang baik. Sehingga tahu arus uang masuk dan keluar dengan tepat. Uang keluar yang lebih besar daripada uang masuk harus kita tekan dan kita usahakan bagaimanapun caranya agar cashflow menjadi positif. Coba anda perhatikan lagi arus kas masuk dan keluar anda, mungkin ada beberapa pos yang bisa anda perbaiki, sehingga cashflow anda positif.

5. Melihat peluang yang banyak orang tidak bisa melihat.

Apa yang anda perhatikan apabila melihat ada mobil berderet-deret karena macet? Suasana yang menjengkelkan. Ok . lalu apa lagi? Panas yang membakar? Ok .. kalau seperti itu, tukang asongan lebih cerdas finansila daripada anda. Kenapa demikian, karena mereka bisa melihat peluang bisnis lebih baik dari anda. Contoh lagi ketika anda melihat ayam dikampung betina, apa yang ada pikirkan? Ayamnya sudah siap untuk disembelih? Untuk orang yang cerdas finansial dia akan berfikir, kalau dipelihara baik ayam itu akan produktif, menghasilkan telur, dan setahun lagi dia bisa punya 20 ekor ayam. Anda menangkap intinya?

Disitulah perlunya mengasah kecerdasan finansial kita, sehingga kita bisa melihat peluang apapun disemua kondisi yang ada, dan cepat mengambil tindakan yang diperlukan. Ini bisa kita lakukan kalau kita sadar diri akan semua peluang yang bisa tercipta disetiap lokasi dan setiap kejadian. Bagaimana cara mengasah kemampuan melihat peluang disetiap kondisi. Anda harus bersikap positif dan optimis. Dengan sikap mental ini anda akan terbuka dengan semua kemungkinan dan peluang yang ada. Selain itu anda perlu banyak menambah ilmu tentang bisnis dan investasi dengan membaca, mendengarkan, melalui mentor, sehingga ketika peluang itu datang, anda dapat dengan cepat membacanya.

6. Menggunakan kekuatan daya ungkit atau leveraging.

Salah satu penemuan manusia yang luar biasa adalah mampu melakukan suatu pekerjaan melampaui batasan kemampuan fisiknya. Ya anda mungkin telah mengenalnya sejak kecil, daya ungkit. Ketika kita tidak mampu memindahkan benda besar dengan tenaga sendiri, maka kita dapat menggunakan ungkit untuk memindah barang itu atau mengangkatnya. Daya ungkit atau leveraging ini juga memiliki bentuknya didalam kecerdasan finansial. Daya ungkit disini adalah anda melakukan suatu usaha bisnis atau investasi yang relatif besar dengan kemampuan dan keuangan anda yang terbatas. Sehingga bisnis dan investasi yang kelihatannya tidak mungkin kita lakukan, ternyata dapat kita lakukan dengan baik.

Bagaimana kita mampu mengoptimalkan daya ungkit dalam bisnis dan investasi sangat penting kita lakukan. Bukan saja oleh kita yang memiliki uang sedikit, bahkan semakin banyak uang kita, kita tetap memerlukan daya ungkit ini yang lebih besar. Kita dapat menggunakan daya ungkit ini contohnya ketika kita ingin membeli rumah yang jauh lebih mahal dari uang yang anda miliki, anda dapat menggunakan daya ungkit dari bank, sehingga anda akhirnya dapat membeli rumah tersebut. Contohnya lagi, ketika anda belum sanggup untuk membuka tempat makan sendiri, anda mengajak serta teman-teman anda untuk membuka usaha secara patungan, atau anda ingin menjual baju, tapi tidak mungkin membuka toko, anda kemudian dapat menggunakan daya ungkit teknologi, dengan membuka toko online. Kecerdasan finansial juga menekankan kita menjadi cerdas menemukan dan memilih daya ungkit yang tepat untuk anda.

7. Menggunakan kekuatan jaringan.

Jaringan adalah salah satu kekuatan pendorong kesuksesan finansial yang penting untuk dioptimalkan. Sangat sulit untuk kita sukses tanpa jaringan. Kita yang berdiri sendiri akan dengan mudah ditaklukkan oleh kekuatan jaringan. Tetapi yang paling penting, kekuatan jaringan akan meningkatkan kesuksesan finansial anda dengan cepat. Anda dapat berbisnis ataupun berinvestasi sediri, tapi kemungkinan berhasil akan lebih kecil daripada kalau anda memiliki jaringan yang luas yang dapat mendukung bisnis atau investasi anda. Contoh kekuatan jaringan, bisnis online, bisa kita bayangkan kalau kita sendirian, tidak memiliki komunitas, tidak saling membangun jaringan link, dan lain sebagainya, tentu kita tidak akan sukses.

Anda tahu franchise? Franchise adalah contoh nyata pengoptimalan kekuatan jaringan. Sebuah franchisor menjual sistemnya dan membangun jaringan franchise, katakanlah laundy X. Anda bisa membayangkan, bagaimana kalau misalnya franchisor itu melakukan bisnis sendiri dan menggunakan kekuatan jaringan franchise. Hasilnya tentu berbeda jauh. Ini perlu diperhatikan apabila kita menginginkan kesuksesan finansial. Temukan kekuatan jaringan anda sendiri. Apa saja, anda yang dapat menerapkan kekuatan jaringan dengan baik dan efektif, akan memenangkan persaingan disemua sektor.

8. Melihat kondisi makro dan mikro dengan jeli.

Kondisi makro, kondisi mikro, apalagi ini. :) . Kondisi makro adalah kondisi global perekonomian, politik, sosial budaya, kejadian penting dalam negeri maupun dunia. Sedangkan kondisi mikro adalah kondisi diri kita, dan sekitar lingkungan kita. Jalan yang lubang, lahan menganggur, fasilas internet, itu kondisi mikro sekitar kita. Kita dapat meningkatkan kecerdasan finansial dengan jeli terhadap kondisi makro dan mikro. Ini bisa diasah dengan banyak mendengar informasi, melihat, mendengar, merasakan apapun yang terjadi disekitar kita. Contoh peluang yang muncul dengan kondisi makro yang berubah adalah emas, ketika kondisi ekonomi memburuk, saham turun, perusahaan banyak yang bangkrut, kalau anda menangkap pesan resesi itu, dan dengan didukung pengetahuan, anda dapat memilih emas untuk sarana hedging dan investasi yang aman.

Contoh jeli kondisi makro adalah ketika Barrack Obama maju dalam pemilu presiden di US, dan timbul demam Obamania, apa yang terjadi? orang-orang yang mampu melihat peluang makro ini membuat berbagai produk dan atribut yang berasosiasi dengan Obama, bahkan secara langsung membuat produk dengan merek Obama. Ini suatu peluang yang sangat bagus yang sayang dilewatkan. Peluang yang muncul dari lingkungan mikro kita contohnya, ketika rumah kita terpasang jaringan internet, apa yang terpikir oleh kita? Chatting sepuasnya? Game Online sepuasnya? Orang yang cerdas finansial akan melihat ada banyak peluang yang bisa diciptakannya lewat internet yang tersambung itu, mulai dari menjadi blogger , sampai dengan memiliki toko online.. .Dia mengambil semua kesempatan yang muncul karena kondisi makro dan mikro, itulah orang-orang yang memiliki kecerdasan finansial.

9. Menciptakan kemakmuran sosial.

Ini penting saya rasa sebagai bagian dari kecerdasan finansial. Orang yang sukses secara finansial dan kurang cerdas secara finansial, akan berlaku pelit dan serakah. Menggunakan berbagai cara dan diluar etika untuk mengeruk kekayaan pribadi, tanpa memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat sekitar kita. Contohnya skema ponzi dan sub prime mortgage di US sana, salah satu model penipuan dalam dunia keuangan. Memang pada awalnya bankir-bankir itu meraup untung yang sangat besar. Tapi apa terjadi, ketika keserakahan dan ketidakcerdasan finansial terjadi dan perusahaan-perusahaan menabrak rambu-rambu etika, maka mulai terciptalah malapetaka resesi dunia, dan perusahaan-perusahaan investasi yang tidak cerdas dan serakah bertumbangan.

Sedangkan contoh kecil bahwa kecerdasan finansial melibatkan kemakmuran sosial adalah ketika orang berjualan, beras misalnya, dia menjaga betul kualitas berasnya, berusaha jujur dengan timbangan, dan memberikan pelayanan yang baik, dan fair dalam harga, tentu dia akan memiliki banyak pelanggan. Apa jadinya kalau dia melakukan kecurangan dengan mengurangi timbangan, dan ternyata salah satu pelanggannya mengecek berat beras yang dia beli sebelumnya, dan pelanggan itu menemukan kalau jumlahnya kurang. Tentu isu negatif itu akan cepat menyebar dari mulut ke mulut, dan bisnis anda segera mengalami masa buruk. Orang yang cerdas secara finansial tahu bahwa kesuksesan finansial harus didukung dengan memberi pelayanan kepada orang lain sebaik-baiknya dan menghindari keserakahan dan kecurangan.

Dominasi Klub Inggris di Liga Champion
Mulai Merugikan Sponsor?

Dominasi klub Inggris di semifinal Liga Champion mulai mendatangkan kecaman. Keberadaan tiga klub Premier League di babak 4 besar, yang sudah terjadi sejak musim kompetisi 2006/07, justru mulai terasa mengancam kelangsungan hidup Liga Champion sendiri.

Kompetisi antarklub Eropa tertinggi ini hidup dari sponsor dan penjualan hak siar. Pemasukan dari dua sektor ini menjadi sangat besar karena Liga Champion mencakup seantero Eropa, bahkan juga melebar ke belahan dunia lain. UEFA bisa memberikan hadiah uang yang tinggi kepada klub karena angka pemasukan yang sangat besar.

Berbeda dengan liga-liga lokal Eropa, di mana sponsor biasanya berasal dari sebuah perusahaan di dalam satu negara bersangkutan, sponsor Liga Champion bersifat multinasional. Ada banyak perusahaan dari banyak negara yang berpartisipasi.

Begitu pula dengan penjualan hak siar, yang meliputi banyak negara. Pertandingan Liga Champion ditayangkan di lebih dari 70 negara. Beberapa partai pentingnya bisa menarik 200 juta pemirsa layar kaca. Angka ketergantungan Liga Champion pada sukses tidaknya penjualan hak siar terbilang cukup tinggi.

Kesuksesan komersial dari Liga Champion akan tergantung pada statusnya sebagai sebuah ajang seluruh Eropa. Jika hanya ada dua negara yang bertarung di semifinal, sesuatu yang terjadi sejak 2006/07, pengembalian uang ke sponsor akan berkurang.

Ini hal yang wajar. Sebagai contoh ada kelompok masyarakat Italia yang ogah menyaksikan all-English semifinal antara Manchester United dan Arsenal. Otomatis jumlah pemirsa partai tersebut akan berkurang.

Itu sebabnya mulai muncul suara-suara yang mengkritik terjadinya dominasi Inggris di Liga Champion. UEFA diminta berhati-hati. Apabila kompetisi ini terlalu dikuasai satu negara, ada kemungkinan Liga Champion ditinggalkan sponsor.

Kritikan bahkan juga datang dari sebagian perwakian FIFA dan UEFA. Suara dari FIFA semakin kencang setelah melihat kesuksesan klub-klub Inggris banyak ditentukan oleh keberadaan pemain-pemain asing top di kubu mereka.

Menantang UEFA

Di tengah kritikan itu, klub-klub Premier League balik meradang. Mereka merasa tidak melakukan kesalahan. Dominasi mereka di Liga Champion dalam tiga musim terakhir terjadi secara wajar.

"Semua terjadi karena kualitas kerja yang dilakukan. Inggris tidak perlu meminta maaf atas dominasi ini. Mereka justru harus merasa bangga. Beberapa orang tidak senang dengan dominasi ini, tapi Inggris sudah menciptakan kualitas yang tinggi," kata pelatih Arsenal, Arsene Wenger, di Tribal Football.

"Mereka yang sudah menaikkan standar harus disanjung dan ditiru. Mereka tidak boleh malah menjadi korban kecemburuan. Liga Champion adalah kompetisi level tinggi dan Inggris menjadi patokan level itu," ucapnya.

Chief executive Premier League, Richard Scudamore, mengeluarkan pernyataan senada. "Kami hanya menyesal tidak menempatkan empat klub di semifinal," tuturnya seperti dikutip The Sun.

"Tidak ada pertandingan mudah di Premier League. Itu membuat klub-klub kami mempersiapkan diri dengan baik menghadapi kompetisi antarklub Eropa. Yang terpenting adalah klub terbaik memainkan sepak bola terbaik, menghibur suporter, dan menang. Saya tidak bisa menerima ada argumen yang mempertanyakan dominasi Inggris."

Scudamore bahkan menantang UEFA untuk mengubah format kompetisi jika itu dianggap bisa mengurangi dominasi klub-klub dari satu negara di babak-babak terakhir Liga Champion.

"Saat ini klub-klub dari satu asosiasi tidak bisa bertemu sebelum babak perempat final. UEFA mungkin bisa mempertimbangkan melakukan undian terbuka di babak 16 besar. Barangkali tidak perlu ada pembatasan pertemuan dua klub dari satu negara di babak ini," sebut Scudamore. (Dwi Widijatmiko)





Diawali Jerman

Fase knock-out atau sistem gugur menjadi arena yang pas untuk membuktikan dominasi sebuah negara di Liga Champion.

Agar penilaian maksimal, jumlah tim di perempat final akan dijadikan patokan seberapa berkuasa suatu negara di musim kompetisi tersebut. Alasannya sederhana: di fase ini aturan country protection alias larangan tim dari satu negara bertemu sudah tidak berlaku.

Sejak format Liga Champion dimulai pada 1993, sudah ada empat negara yang bisa dibilang menguasai dengan meloloskan tiga sampai empat timnya.

Hingga musim ini, klub Spanyol sudah tiga kali melakukan hal ini. Real Madrid cs. mencatatkan dominasi pada 1999/2000, 01/02 dan 02/03. Italia juga membuat jumlah yang sama (02/03, 04/05, 05/06).

Jawaranya? Dengan empat kali meloloskan kontingen terbanyak (00/01, 06/07, 07/08, 08/09), Inggris menempati peringkat teratas.

Tapi, sebelum ketiga negara ini berjaya di era 2000-an, wakil Jerman sudah terlebih dahulu melakukannya. Bayer Leverkusen, Muenchen, dan Borussia Dortmund menjadi duta pada 1997/98. (gun)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar