Senin, 04 Mei 2009

Dangers Of Forex Trading




There are dangers in FOREX trading if you used the wrong tools and wrong knowledge. The solution for this is to open a mini account first to see whether you're really suitable to play FOREX. You can open mini accounts for just $50. If you find that it is not suitable, you can leave the market. All you've to lose is just $50. If it is suitable, you can win not only $50 but $100 as well.

FOREX is very volatile and risky and you need the right tools, strategies and knowledge to increase your probabilities of winning substantially. In other words, there will be lots of dangers in FOREX trading if you did not use the right tools and knowledge. This is whether online FOREX trading came in.

Let's look at the benefit of trading FOREX online. Accessibility is the first advantage. You're able to trade FOREX 24 hours a day. Transactions can be effortlessly handled through websites planned for this tenacity.

Another vast benefit you can get is there is no commission fee. This means you can cut down transaction expenses with online trading. Other market such as share market needs brokerage fees, the FOREX market is a worldwide inter-bank. Trades can be made between the buyer and sellers in any moment.

When choosing a online FOREX trading, look for the platform that has the most competitive spreads. Currencies are generally traded in pairs of ask bid price. For example of AUS/USD 1.3345/1.3350, the FOREX estimate here means you can buy 1 Aussie money with 1.3350 USD or retail 1 Aussie 1.3345, and the spread is (1.3350 - 1.3345) which equals to 0.0005 and equivalent to 5 pips. FOREX platforms regularly do not charge commissions on investors' trades because they are making money from the spreads. So, it is better if the platform offers more competitive spreads.

Another danger of FOREX trading is some platforms have high spreads and this will expand your trading expenses. Also, some online FOREX trading platform has concealed expenses. So, select tenderly which online platform you want to go before investing your money there.

Your Must-Know Guide To Choose A Genuine Online Trading Forex

The point of this article is to help you to the next level and show you what this amazing subject has to offer.

You can get tons of online trading FOREX on the Internet but which one is the truly genuine online trading FOREX? Investing your money on the dishonest online trading FOREX and your hard earned money will be a sunk cost. They are a lot of frauds on internet these years and we must be above shrewd when selecting an online trading FOREX.

Once you're convinced that it is a genuine online trading FOREX, you must evaluate how good are their offer. Do they have unknown expenses? Do they have experts to help you? Are they giving you the techniques and strategies of trading FOREX online for free? These are all the important questions you want to ask manually before selecting a great and genuine online trading FOREX. If workable, find a genuine online trading platform that you can immediately register, deposit and begin trading

If workable, find an online FOREX trading where you do not have to download any soft wares. Soft wares will take you time to download and you will have to consume more time learning its functions. Find an online FOREX which will bestow you with sufficient tools once you're registered. You also need to check whether they have any unknown expenses. Look whether there is any commission charged on trading and on your profit withdrawals. Find a FOREX trading platform which has a low competitive spreads.

In the beginning of this article, we went over the basics. Now, we will look at this topic a little more in-depth.

Select your FOREX platform prudently or you'll exhaust your money and time. Some online trading FOREX have unknown expenses that are totally costly if you're not shrewd. You'll even take days to learn about their functions if you choose a wrong online trading FOREX. You need to know the features of genuine online trading FOREX before putting your money inside.

Seeing is believing, but sometimes we cant all experience every subject in life. This article hopes to make up for that by providing you with a valuable resource of information on this topic.

Victor Munoz
Korban Terakhir La Liga

Memasuki jornada 33 Primera Division La Liga 2008/09, telah terjadi sembilan kali pergantian pelatih. Recreativo Huelva, Osasuna, Real Madrid, Almeria, Atletico Madrid, Numancia, Real Betis sama-sama sekali memecat pelatihnya. Sementara itu, Espanyol sudah dua kali.

Michel, dipercaya bisa mengangkat Getafe. (Foto: as.com)

Awal pekan ini, Getafe resmi menjadi klub kesembilan yang menggiring sang entrenador ke pintu keluar. Manajemen Los Azulones menganggap tangga 17 di klasemen sementara cukup untuk mendasari alasan mendepak Victor Munoz dari kursinya.

Dalam kampanye yang tinggal menyisakan lima laga, langkah kubu Coliseum Alfonso Perez bisa dibilang terlalu dramatis. Selain posisi tepat di atas zona merah ini sempat diduduki sebelumnya (jornada 27 dan 29), sisa lima laga Getafe juga terbilang tak terlalu berat.

Lawan Roberto Soldado dkk. dari pekan 34 hingga 38 tinggal Real Mallorca (T), Osasuna (K), Deportivo la Coruna (T), Numancia (K), serta Racing Santander (T). Di samping itu, lima rival yang kudu dilawan Geta dalam lima pekan sebelumnya memang superberat.

Finalis Copa del Rey dalam dua edisi terakhir ini berturut-turut harus meladeni Valencia, Sevilla, Barcelona, Madrid, dan Villarreal. So, cukup bisa dimaklumi jika rekor yang mereka bukukan cuma sekali menang dan empat kali kalah.

“Klub ini sampai pada situasi di mana tak ada lagi ruang untuk melakukan kesalahan,” begitu bunyi rilis di situs resmi klub, mengacu pada alasan pemecatan Munoz, seusai kekalahan kandang 1-2 dari Villarreal, Minggu (26/4).

Pada kesempatan yang sama, Angel Torres, el presidente klub, juga menunjuk Michel sebagai pengganti Munoz. “Dengan hanya lima partai tersisa, kami bersandar penuh pada para pemain. Saya pikir Michel punya pengalaman untuk keluar dari situasi sulit ini,” kata Torres.

Michel bukan muka asing di arena sepak bola ranah Spanyol. Pria berumur 46 tahun ini mengantongi 66 cap bareng La Furia Roja dan menyumbang 97 gol dalam 404 laga di El Real. Namun, ini tak diimbangi dengan catatan di level manajerial. Michel cuma bermodal pelatih Madrid B di musim 06/07. Konon, untuk menyokong kinerja, Michel telah menunjuk Juan Esnaider, bekas rekannya di Madrid. (Sapto Haryo Rajasa)



--


Selisih Angka
12 Menjadi 4

Jarak tempuh antara kota Barcelona dan Madrid adalah sekitar 500 kilometer. Dalam perspektif sepak bola, jarak ini bisa terasa beribu-ribu kilometer lebih jauh atau bisa juga hanya bersela sepelemparan batu. Kedua sela ini sempat mewarnai rivalitas kedua raksasa di musim La Liga ini.

Selisih 12 poin adalah gap terjauh yang pernah memisahkan El Barca dengan El Real. Rentang selusin angka ini muncul pada jornada 15 bertepatan dengan mentasnya el clasico jilid 1 yang dimenangi Barca 2-0. Momen ini sudah cukup untuk “menahbiskan” Blaugrana sebagai el campeon 2008/09.

Maklum, saat menjuarai La Liga 04/05, Barca juga mengantongi gap 12 poin sehingga tak terkejar oleh Los Blancos. Akan tetapi, alih-alih melebar atau sekadar bertahan, jarak malah terpangkas menjadi hanya empat.

Ini dikarenakan Madrid mampu mencaplok 17 kemenangan dalam 19 laga seusai el clasico I, sedangkan Barca mendapat 17 nilai penuh dalam 21 jornada. Barca sempat ditahan Betis 2-2 serta kalah dari Atletico dan Espanyol. Skenario mulus kubu Camp Nou pun berpotensi rusak berantakan.

"Hanya Madrid yang punya kapasitas membawa Barca pada skenario maut seperti ini," ujar Carly Rexach, bekas pelatih Barca. (shr)





Duel Pelaku Tersenior

Selain mempertemukan bintang-bintang muda atau anyar yang baru bergabung musim ini, seperti Rafael van der Vaart, Klaas-Jan Huntelaar, dan Lassana Diarra di kubu Real Madrid serta Dani Alves dan Seydou Keita di kubu Barcelona, el clasico juga akan bertindak sebagai tatap muka bagi dua pelakon tersenior di masing-masing klub.

Raul Gonzalez, yang telah memakai seragam kebesaran Si Putih sejak 1994/95, mewakili pasukan El Real. Sementara itu, Xavi Hernandez menjadi wakil Barca lantaran kiprahnya di Camp Nou yang dimulai sejak 98/99. Dalam lingkup yang berbeda posisi, keduanya bakal menjadi sosok penentu.

Tugas utama Xavi bukanlah menjebol gawang. Tapi, uniknya, ia justru sempat menjadi pencetak gol kemenangan Barca di Santiago Bernabeu pada musim 03/04. Raul mungkin tak tajam jika tampil di Camp Nou. Namun, ia selalu mampu masuk score-sheet jika laga mentas di Madrid. Setidaknya ini dibuktikan Raul tiga kali dalam empat musim terakhir. (shr)




--



Penalti Penentu Peringkat

Pembalikan defisit gol menjadi sebuah kemenangan luar biasa ditunjukkan Manchester United pekan lalu. Setelah tertinggal 0-2 di babak pertama, Tottenham digulingkannya dengan skor 5-2 di Old Trafford saat itu.

Howard Webb, mengaku salah. (Foto: Getty Images)

Namun, laga seru di pekan ke-34 tersebut menyisakan rasa pahit di mulut pelatih Spurs, Harry Redknapp. Menurut Harry, United memang hanya bisa menang setelah tertinggal bila lebih dulu terjadi kontroversi.

Sang pelatih flamboyan itu mengacu pada penalti yang membuahkan gol balasan pertama United.

“Keputusan wasit Howard Webb sungguh tak masuk akal. Heurelho Gomes menghalau bola tapi dianggap menjatuhkan Michael Carrick, tim mana pun akan jatuh mental bila diperlakukan seperti itu,” sebut Redknapp pada Premier Plus.

Well, memang eksekusi penalti Cristiano Ronaldo di menit ke-57 tersebut membuat situasi di lapangan benar-benar berubah. Dalam selang waktu 25 menit akhirnya tercipta lima gol alias terjadi satu gol bagi Red Devils setiap lima menit!

Kemenangan itu juga yang membuat United kembali memimpin klasemen setelah beberapa jam sebelumnya Liverpool sempat menyalip. Benarkah keputusan Webb salah?

Tayangan ulang memperlihatkan tangan Gomes menyentuh bola sebelum momentum gerakannya membuat sang kiper asal Brasil itu membentur kaki Carrick.

“Setelah melihat video, saya akui telah salah mengambil keputusan. Tapi, penalti saya jatuhkan dengan sebuah niat yang jujur, untuk memimpin pertandingan dengan baik,” ujar Webb pada Sky Sports.

Webb mengakui melihat Carrick membelokkan bola dan dirinya kemudian dijatuhkan Gomes, tapi ia tidak melihat bola sempat berbelok, akibat sentuhan tangan kiper Spurs itu, sebelum benturan terjadi.

“Saya kecewa atas kesalahan itu karena saya ingin selalu menetapkan standar pribadi yang tinggi dalam memimpin pertandingan. Tapi, orang yang tak pernah bersalah hanyalah orang yang tidak pernah berbuat apa-apa,” ujar Webb tanpa membahas pengaruh kesalahannya dalam perburuan gelar juara Premier League musim ini. (toen)



--



Menelisik Juara Premier League dari Polling PFA
Giggsy Tunjukkan Tanda Zaman

Tahukah Anda bahwa sejak Premier League digulirkan pada 1992/93, terjadi sebuah pola yang bisa dijadikan acuan prediksi juara? Tercatat sembilan kesempatan dalam bentangan 16 musim itu, salah satu pemain dari klub juara terpilih menjadi yang terbaik versi PFA.

Ryan Giggs (kanan), bagai air anggur yang semakin tinggi nilainya. (Foto: daillymail.co.uk)

Sejak 2003/04, bahkan tercatat hanya sekali saja terjadi bahwa player of the year yang dipilih PFA tidak berasal dari klub juara. Itu terjadi di 2005/06 ketika Steven Gerrard (Liverpool) menjadi pemain terbaik, sedangkan juara liga adalah Chelsea.

Tanda-tanda zaman kali mengarah pada Manchester United setelah pada Senin (27/4) PFA alias asosiasi pemain sepak bola profesional Inggris memilih Ryan Giggs sebagai yang terbaik pada 2009. The Welshman terpilih untuk pertama kalinya menyandang penghargaan prestisius itu setelah hampir dua dekade memperkuat United.

Ketua PFA, Gordon Taylor, pada Guardian menyebut Giggsy adalah sosok layaknya air anggur yang bertambah tinggi nilainya seiring perjalanan waktu. Wajar lantaran sang pemain kini memang telah menginjak usia 35 tahun.

Tanda-tanda lain yang memperlihatkan besarnya peluang Setan Merah kembali menjadi kampiun di top flight division adalah fakta bahwa kubu United amat dominan dalam tim terbaik Premier League 2008/09 pilihan PFA.

Tercatat di dalamnya ada lima pemain United yang menguasai hampir semua lini, kecuali di sektor striker. So, ini sejalan dengan prediksi bahwa United akan meluncur mulus mempertahankan gelar.

Dalam lima laga terakhirnya, Fergie’s babes hanya akan menghadapi dua lawan tradisional yang sulit dikalahkan: Middlesbrough dan Arsenal. Alhasil hitung-hitungan terburuk pun mengarahkan Red Devils menjadi juara dengan berselisih dua angka saja dibanding Liverpool.

Bagaimana dengan Chelsea? Nilai akhir The Blues bisa terpaut hingga tujuh angka dengan juara musim ini sehingga klub milik Roman Abramovich itu terpatok di urutan ketiga.

Kocaknya lagi, polling PFA pun sejalan dengan prediksi pemeringkatan di atas karena di tim terbaik musim ini, Liverpool memiliki dua wakil, Gerrard dan Fernando Torres, sedangkan Chelsea hanya satu saja, Nicolas Anelka. (Darojatun)

TIM TERBAIK
PREMIER LEAGUE 2009/09 (versi PFA)
-------------------------------------------------------------------
Edwin VAN DER SAR (Man. United); Glen JOHNSON (Portsmouth), Rio FERDINAND (Man. United), Nemanja VIDIC (Man. United), Patrice EVRA (Man. United); Ashley YOUNG (Aston Villa), Steven GERRARD (Liverpool), Ryan GIGGS (Man. United), Cristiano RONALDO (Man. United); Nicolas ANELKA (Chelsea), Fernando TORRES (Liverpool).

--


Manchester United vs Arsenal 1-0
Pengaruh Kuat Kehadiran Almunia

“Sejak awal kami harus bermain ketat menekan Arsenal. Dari bola-bola yang hilang dari penguasaan mereka itulah serangan kami berawal. Tapi, Arsenal adalah tim yang kuat dan mereka tetap bisa menguasai bola dan kembali mengontrol permainan.”

Pernyataan John O’Shea setelah semifinal pertama Liga Champion di Old Trafford pada Rabu (29/4) itulah yang BOLA catat sebagai hal terpenting dan menjadi kunci kemenangan 1-0 Manchester United.

Penting bukan saja karena sang pemain asal Republik Irlandia yang genap berumur 28 tahun pada keesokan harinya itu adalah pencetak gol tunggal Setan Merah, tapi juga karena aliran bola-bola Arsenal memang sempat tersendat dengan game plan Fergie tersebut.

Namun, hal ini pun sepertinya sudah diantisipasi Arsene Wenger. Dalam konferensi pers yang dihadiri BOLA sehari sebelum pertandingan, pelatih kalem asal Prancis itu mengemukakan pentingnya kehadiran Manuel Almunia di bawah mistar.

Bekas kiper Albacete itu tampil kembali setelah cedera di leg pertama perempat final di Villarreal. Pengaruh kehadiran kiper Spanyol itu amat kuat dengan melakukan enam penyelamatan gemilang di babak pertama saja, termasuk menahan sundulan Cristiano Ronaldo di tiang jauh dengan kaki kanan.

Seperti halnya dalam laga di kandang Villarreal pada awal April lalu, Francesc Fabregas juga tampil dingin dan brilian sebagai inspirator lapangan tengah Gunners di Theater of Dreams. Tanpa ketenangan dan kepemimpinan pemain berumur 22 tahun itu sulit membayangkan Arsenal hanya dibobol satu kali saja oleh United.

Pada sisi lain, BOLA juga menangkap kesan adanya kepanikan skuad Fergie ketika ada satu hal yang luput dari tangkapan kamera televisi. Ketika Jonny Evans masuk pada menit ke-87 untuk menggantikan Rio Ferdinand, Rio sempat kembali masuk lapangan karena menyangka dirinya belum digantikan!

Gibbs Kurang Pengalaman

Bila diamati secara khusus, gol O’Shea pada menit ke-18 adalah kombinasi kesalahan barisan belakang Arsenal dan determinasi United. Gol berawal dari kurangnya dukungan Theo Walcott untuk melapis pertahanan di sisi kanan.

Setelah lolos dari hadangan Bacary Sagna, Michael Carrick leluasa melepas umpan yang sempat tersentuh Mickael Silvestre. Sayangnya di tiang jauh youngster Kieran Gibbs tidak lekas menutup ruang tembak O’Shea.

Secara umum pertandingan ini cukup menarik disaksikan dan memang memperlihatkan atmosfer berbeda dibanding pertemuan kedua tim di ajang-ajang lain sebelumnya.

Meski Arsenal jarang masuk ke kotak penalti tuan rumah, duel perebutan bola di lapangan tengah amat elok dipandang mata. Ya, jangan lupa bahwa ini adalah kali pertama kedua kubu berjumpa di level Liga Champion.

Kemenangan tipis United tidak menjanjikan apa pun dan Arsenal masih tetap berpeluang besar lolos ke Roma. Semua tergantung kebugaran para penyerang milik Gunners di semifinal kedua pada Selasa (5/5) mendatang, yang kembali akan BOLA pantau dan laporkan secara langsung dari London. Sampai jumpa!

DATA-FAKTAs
----------------------------
Man. United vs Arsenal 1-0
Waktu: Rabu, 29 April (20.45)
Stadion: Old Trafford
Wasit: Claus Bo Larsen
Gol: 1-0 O'Shea 17'
Kartu Kuning: Tevez 33' (M)
Kartu Merah: ---
Tembakan ke Gawang: 8-1
Tembakan Melebar: 6-4
Pelanggaran: 11-9
Sepak Pojok: 4-0
Off-Side: 4-2
Penguasaan Bola: 55-45
Jarak Lari Terjauh: Cesc Fabregas (13.077)
Man of the Match: John O'Shea (Man. United)

MAN. UNITED (4-3-3) 1-Van der Sar; 22-O'Shea, 5-Ferdinand/23-Evans 88', 15-Vidic, 3-Evra; 7-Ronaldo, 24-Fletcher, 16-Carrick; 8-Anderson/11-Giggs 67', 32-Tevez/9-Berbatov 67', 10-Rooney Cadangan: 12-Foster; 21-Rafael, 13-Park, 18-Scholes. Pelatih: Sir Alex Ferguson (Sko)

ARSENAL (4-5-1) 1-Almunia; 3-Sagna, 5-Toure, 18-Silvestre, 40-Gibbs; 17-Song, 4-Fabregas, 2-Diaby, 14-Walcott/26-Bendtner 71', 8-Nasri; 25-Adebayor/9-Eduardo 83' Cadangan: 21-Fabianski; 20-Djourou, 27-Eboue, 15-Denilson, 16-Ramsey. Pelatih: Arsene Wenger (Pra)





The Manchester United Supporters Trust
Sudah Menyiapkan Parade

Ini yang namanya percaya diri. Manchester United baru melakoni partai pertama semifinal. Tapi, suporter mereka sudah menyiapkan sebuah parade kepulangan jika United sukses menjadi juara.

Persiapan parade kemenangan itu memang sengaja dilakukan sejak jauh hari. Klub, dewan kota Manchester, dan polisi tidak ingin kejadian tahun 2008 terulang. Saat itu, parade juara United dibatalkan karena "berisiko mengancam keselamatan publik".

"Persiapan dini akan mencegah terulangnya kekecewaan musim lalu," begitu pernyataan yang dikeluarkan oleh The Manchester United Supporters Trust (TMUST) seperti dilansir oleh situs BBC Manchester.

Menurut Sean Bones, Wakil Presiden TMUST, semua suporter harus diberi kesempatan untuk merayakan kemenangan United.

"Menjuarai Liga Champion adalah sebuah pencapaian fantastis. Sangat tepat jika para pemain, manajer, dan staf kepelatihan mendapatkan penghormatan dengan cara ini," ungkap Bones.

Musim lalu, parade United dibatalkan setelah terjadi kerusuhan seusai final Piala UEFA antara Zenit St. Petersburg dan Glasgow Rangers, satu minggu sebelum United menjuarai Liga Champion. Jalan-jalan di Manchester sempat menjadi tempat suporter Rangers melampiaskan kekesalan karena timnya kalah. (wid)



--


Guti Hernandez
Aktor Utama Serangan Madrid

Berdasarkan jajak pendapat harian As, sebanyak 14.776 atau 73 persen pendukung Real Madrid berharap klub kesayangan mereka segera melego Guti. Jika keinginan itu terwujud, artinya Los Blancos telah melakukan usaha bunuh diri.


Guti, tampil maksimal di berbagai posisi. (Foto: AFP)


Faktanya, gelandang serang bernama lengkap Jose Maria Gutierrez Hernandez ini merupakan sosok vital yang mampu menjaga keseimbangan di lini tengah Madrid.

Ada beberapa faktor yang membuat suporter Madrid tidak terlalu bersimpati kepada Guti, mulai dari sikap pembangkang hingga ucapannya yang terkesan blak-blakan dalam mengkritik kebijakan klub. Tapi, penampilan apik di lapangan hijau membuat para petinggi Madrid dan rekan-rekan setimnya tidak rela kehilangan Guti.

Ia bukan sekadar kreator serangan. Bak seekor bunglon, Guti mampu beradaptasi dengan cepat di semua posisi.

Di atas kertas, Guti adalah seorang gelandang serang. Tapi, permainannya tetap optimal kala diplot sebagai second striker, gelandang bertahan, atau menempati posisi sayap kiri.

Kreativitas Guti di lini tengah membuat tingkat ketergantungan para pemain Madrid terhadapnya begitu tinggi.

“Kehadiran Guti menjadikan tugas striker semakin mudah. Tidak banyak pemain yang punya kemampuan seperti dirinya,” kata ujung tombak Madrid, Raul Gonzalez, di La Liga Talk.

Madridista Sejati

Guti sendiri merupakan satu dari segelintir produk asli Madrid yang masih bertahan di Santiago Bernabeu. Pria kelahiran Torrejon de Ardoz itu bergabung dengan akademi sepak bola Los Merengues saat usianya baru menginjak sembilan tahun.

“Sejak kecil, saya sangat mengidolai Madrid. Bisa dibilang, saya adalah Madridista sejati,” tutur Guti.

Tidak butuh waktu lama bagi Guti untuk menarik perhatian pelatih. Ketika memperkuat tim U-20 Madrid, ia mampu mencetak rata-rata 30 gol per musim. Sebuah catatan yang cukup impresif bagi seorang gelandang.

Namun, Guti baru dipromosikan ke tim senior Madrid pada musim 1995/96. Setahun kemudian, ia dipastikan mendapat tempat di skuad utama setelah berhasil mencetak 14 gol dalam satu musim.

Meski musim ini Guti tidak terlalu menunjukkan kepi-awaiannya dalam membobol gawang lawan, ia tetap menjadi salah satu andalan Madrid dalam menerobos lini pertahanan lawan.

Sayang, pemain yang baru mencetak tiga gol sepanjang La Liga 2008/09 itu mungkin tidak dapat tampil saat Madrid menjamu musuh bebuyutannya, Barcelona, pada akhir pekan ini.

Kabar terakhir menyebutkan bahwa Guti mengalami cedera pergelangan kaki dalam sesi latihan tim (29/4) dan sepertinya kudu beristirahat selama beberapa waktu. (Wieta Rachmatia)

DATA DIRI
------------------------
Nama Lengkap: Jose Maria Gutierrez Hernandez
Lahir: 31 Oktober 1976 di Torrejon de Ardoz, Madrid
Posisi: Gelandang
Postur: 76 kilogram/185 centimeter
Kewarganegaraan: Spanyol
Prestasi: Juara La Liga (1996/97, 2000/01, 2002/03, 2006/07, 2007/08), Piala Super Spanyol (1997, 2001, 2003), Liga Champion (1997/98, 1999/00, 2001/02), Piala Super Eropa (2002), Piala Interkontinental (1998, 2002), Piala Eropa U-19 (1995) dan Piala Eropa U-21 (1998)

Karier Klub
1996-... Madrid (354/41 gol)

Karier Timnas Spanyol
1996-1998 Spanyol U-21 8/1 gol
1999 Spanyol 15/3





Serba-Rahasia

Sebagai bintang lapangan hijau, bukan hanya karier Guti yang menjadi sorotan publik. Kehidupan pribadinya juga kerap menjadi konsumsi media.

Namun, tidak seperti kebanyakan pesepak bola yang gemar mengumbar kisah pribadi, gelandang berusia 32 tahun ini justru memilih bersikap tertutup mengenai masalah yang satu itu.

Pernikahannya dengan Arancha de Benito pada 22 Juni 1999 dilakukan secara diam-diam. Begitu pula saat Guti memutuskan bercerai dari bintang televisi terkenal di Spanyol itu.

Bahkan perpisahan dirinya dengan de Benito baru diketahui publik enam bulan kemudian.

“Kami sudah lama bercerai dan sengaja tidak memberitahukan kepada media demi kenyamanan kedua anak kami,” kata ayah dari Zaira (8) dan Aitor (7) tersebut kepada wartawan pada pertengahan April silam.

Secara khusus, Guti juga meminta media tidak mengganggu kehidupan dua buah hatinya yang kini tinggal bersama sang mantan istri.

“Saya akan tetap memenuhi kewajiban sebagai ayah dan bisa menemui kedua anak saya kapan saja, tapi saya sangat berharap media tidak lagi membahas masalah rumah tangga karena hal itu akan berdampak negatif terhadap mereka,” sebut Guti. (wta)




--


Barcelona vs Chelsea 0-0
Ketika Hiddink Ganti Rupa

"Kami akan ke London untuk bermain menyerang dan mencetak gol karena seperti inilah sepak bola yang kami mengerti."

Josep 'Pep' Guardiola bukan sekadar menyatakan targetnya di second leg semifinal Liga Champion Rabu depan. Hasil 0-0 saat menjamu Chelsea telah memunculkan banyak cerita pro dan kontra. Ucapan Pep jelas ditujukan pada taktik Guus Hiddink di Camp Nou, Selasa (28/4).

Kejengkelan kubu Barcelona terhadap pilihan Chelsea bermain condong bertahan sudah terlihat ketika Hiddink memutuskan memainkan John Obi Mikel dan Michael Essien bersamaan sejak awal. Bila Mikel berperan sebagai holding midfielder, Essien lebih diarahkan meredam laju Andres Iniesta, yang oleh Hiddink dianggap sama bahayanya dengan Lionel Messi.

Keunggulan faktor fisik The Blues dan pola permainan 4-2-3-1 memang berhasil meredam produktivitas Barcelona yang sudah mencetak 29 gol di Eropa. Apalagi pasukan Pep memulai laga tidak dengan meyakinkan. Bahkan seorang Thierry Henry, yang lama bermain di Premier League, gagal keluar dari pressing ketat The Blues. Ia kerap kalah duel dari Branislav Ivanovic, bek kanan Si Biru.

Bukannya memperoleh keunggulan, di menit 39 gawang Victor Valdes nyaris jebol oleh Didier Drogba akibat kesalahan fatal Rafael Marquez. Beruntung Valdes tampil sangat tenang mementahkan tendangan Drogba.

Babak II adalah milik tuan rumah, tapi hanya sampai di kotak penalti Petr Cech. Seandainya di menit 69 Samuel Eto'o mau berbagi bola dengan Henry, yang tanpa kawalan di mulut gawang Chelsea, caci-maki atas negative football The Blues tak menjadi topik utama di Benua Biru.

Plus keputusan wasit yang tak memberi hukuman penalti ketika Henry ditarik Jose Bosingwa di kotak terlarang. Bagi kubu tuan rumah, kinerja wasit dipandang buruk karena membiarkan pasukan Chelsea memeragakan tekel berbahaya guna merusak possession football The Catalans.

Sulit menolak kekecewaan kubu Barca ketika data menunjukkan 20 berbanding tiga untuk jumlah tendangan ke gawang atau 66 melawan 34 soal persentase penguasaan bola. Ajakan Pep untuk bermain terbuka ditolak Hiddink. Pelatih Chelsea itu tak mau seperti Juergen Klinsmann, yang percaya diri meladeni permainan ofensif Andres Iniesta dkk.

"Chelsea tim yang sangat baik, sangat mengandalkan kekuatan fisiknya. Selalu ada enam pemain bertahan yang menunggu kami," ujar Pep di situs Barca.

Pep bersikeras mereka telah berusaha mengalirkan bola dan membongkar pertahanan Chelsea melalui Messi dan Iniesta. Tapi, seperti alunan paduan suara, ramai-ramai kubu Barca menuding, "Ketika hanya ada satu tim yang mau bermain, tidak mudah Anda melakukannya!"

Bagaimana Hiddink meladeni tudingan tak sedap ke arahnya? Bukankah pelatih asal Belanda ini dikenal memuja permainan kolektif dalam menyerang dan bertahan? Sulit mengingat kapan Hiddink menginstruksikan timnya bertahan selama 90 menit.

"Secara mental, tim saya punya keberanian dan kemauan untuk berkorban. Melawan tim yang memeragakan sepak bola indah, saya puas terhadap hasil ini," ujar Hiddink pada The Sun.

Tentu Hiddink punya alasan berganti rupa. Bermain seri tanpa kebobolan di kandang lawan membuat Chelsea lebih leluasa memainkan strategi di Stamford Bridge, Rabu (6/5).

Komentar Michael Ballack patut menjadi alasan taktik Hiddink. Katanya, "Kami tahu jadwal Barcelona sangat menyusahkan. Ada Real Madrid setelah kami. Mereka bisa menang banyak, tapi juga kalah banyak."

Well, tanpa kehadiran Carles Puyol dan Rafael Marquez di pertahanan Barca pada laga kedua, hasil 0-0 memang punya makna sangat penting bagi Chelsea. (Weshley Hutagalung)

DATA-FAKTA
-----------------------------
Barcelona vs Chelsea 0-0
Waktu: Selasa, 28 April (20.45)
Stadion: Camp Nou
Wasit: Wolfgang Stark
Gol: ---
Kartu Kuning: Toure 37’, Puyol 74’ (B), Alex 26’, Ballack 29’ (C)
Kartu Merah: ---
Tembakan ke Gawang: 6-1
Tembakan Melebar: 12-2
Penguasaan Bola: 66%-34%
Pelanggaran: 7-20
Sepak Pojok: 10-2
Off-side: 4-3
Jarak Lari Terjauh: Xavi Hernandez (11.904 m)
Man of the Match: Petr Cech

BARCELONA (4-3-3) 1-V. Valdes; 20-D. Alves, 4-Marquez/5 Puyol 52', 3-Pique, 22-Abidal; 6-Xavi, 24-Toure, 8-Iniesta; 10-Messi, 9-Eto'o/11-Krkic 82’, 14-Henry/21-Hleb 87' Cadangan: 25-Jorquera, 7-Gudjohnsen, 15-Keita, 16-Sylvinho. Pelatih: Josep Guardiola

CHELSEA (4-2-3-1) 1-Cech; 2-Ivanovic, 26-Terry, 33-Alex, 17-Bosingwa; 12-Mikel Obi, 13 -Ballack/39-Anelka 95’; 5-Essien, 8-Lampard/35-Belletti 71’, 15-Malouda; 11-Drogba Cadangan: 40-Hilario, 9-Di Santo, 21-Kalou, 42-Mancienne, 43-Stoch. Pelatih: Guus Hiddink (Bld)





Partai Ke-100 Puyol
Berujung Sanksi

Partai 1st leg semifinal antara Barcelona kontra Chelsea di Camp Nou, Selasa (28/4), seharusnya menjadi laga penuh emosi bagi Carles Puyol. Maklum, inilah penampilan ke-100 el capitan di pentas antarklub regional maupun interkontinental.

Puyol mengawali debut di Benua Biru pada 27 Oktober 1999. Tepatnya pada matchday 5 Liga Champion saat Barca bersua AIK Solna. Laga perdana itu berujung spesial karena Blaugrana menang telak 5-0 atas wakil Swedia tersebut.

Tujuh tahun berselang, Puyol memainkan laga regional ke-69. Angka ini tak masuk ukuran sebuah milestone. Namun, level kepentingannya bisa dibilang sangat penting mengingat di partai tersebut lelaki berambut keriwil kelahiran kota La Pobla de Segur, 31 tahun silam itu mengapteni Barca ke tangga juara Eropa.

Ironisnya, di saat Puyol melahap cap ke-100, Barca justru tak mampu memetik hasil optimal. Azulgrana ditahan The Blues imbang tanpa gol. Lebih menyesakkan lagi, Puyol mendapat kartu kuning sehingga dipastikan absen pada 2nd leg di Stamford Bridge.

Sebagai titik kulminasi, rekan Puyol di jantung pertahanan, Rafael Marquez, juga mengalami nasib serupa. Bukan akibat sanksi, tapi karena cedera lutut yang memaksanya istirahat hingga akhir musim. Tentu ini skenario terburuk yang harus diterima Pep Guardiola. (shr)

Perebutan Tempat Keempat
Tiga Kuda Pacu Lagi

Perebutan tempat keempat, yang memberikan tiket ke babak kualifikasi III Liga Champion 2009/10, kembali memanas. Pekan lalu tampaknya tinggal dua tim yang berpeluang, tapi sekarang posisi itu diperebutkan tiga kuda pacu lagi.

Minggu lalu, peluang Roma kelihatan sudah habis. Kekalahan 2-4 dari Lazio di derby della capitale membuat I Lupi tertinggal delapan poin dari peringkat keempat. Minggu (19/4), I Giallorossi memangkas defisit itu menjadi tinggal lima.

Tim Serigala berhasil mengalahkan Lecce 3-2. Dua gol Francesco Totti dan satu dari Matteo Brighi memastikan kemenangan I Lupi walaupun ada aroma kontroversial. Ketika skor masih 2-2, Roma mendapatkan penalti yang bisa diperdebatkan. Julio Baptista kelihatannya melakukan diving, tapi wasit tetap memberikan penalti kepada Roma.

Kemenangan ini membuat Roma bisa mendekati dua tim yang berada di atasnya. Genoa dan Fiorentina sama-sama mengalami kekalahan. Genoa dipukul Lazio 0-1 di kandang sendiri, sementara Fiorentina menyerah 1-3 di rumah Udinese.

"Kami sebetulnya memiliki banyak peluang di awal pertandingan. Jika bisa memanfaatkannya, tentu hasil laga ini bisa berbeda. Kami menerima kekalahan ini, tapi Genoa masih tetap eksis dalam jalur Liga Champion," ucap pelatih Rossoblu, Gian Piero Gasperini, kepada Datasport.

Yang paling merasakan kegagalan adalah Fiorentina. La Viola sebetulnya punya peluang menyalip Genoa kalau mampu menang atas Udinese. Tapi, banyaknya pemain inti yang absen membuat Si Ungu tidak bisa tampil maksimal.

Tim asuhan Cesare Prandelli selalu berada dalam posisi tertinggal. Kehilangan Riccardo Montolivo dan Felipe Melo karena skorsing serta Adrian Mutu karena cedera, Fiorentina sama sekali tidak tajam.

"Kami tidak setajam di beberapa pertandingan sebelumnya. Tapi, saya merasa kekalahan ini belum fatal buat peluang Fiorentina lolos ke Liga Champion. Kami masih memiliki empat partai kandang dalam enam pertandingan sisa. Kami akan bertarung sampai saat terakhir," sebut Prandelli seperti dikutip Sky Sport Italia. (wid)





Persaingan di Zona Merah
Sekoci Tinggal Dua

Persaingan di papan bawah tidak kalah seru dari kompetisi tim yang mengincar tiket ke Liga Champion. Bahkan bisa dibilang sikut-sikutan di zona merah ini lebih keras.

Mengacu pada teori 40 angka untuk salvezza, maka sejak giornata 32 peserta perlombaan maut ini tinggal Chievo, Torino, Bologna, Lecce, dan Reggina. Dengan tiga tim terbawah turun kelas ke Serie B, berarti kapal sekoci untuk tetap di Serie A tinggal dua.

I Mussi Volanti (Si Keledai Terbang), yang belakangan tampil hebat, bisa menjadi kandidat teratas untuk segera mengamankan diri. Dengan dua kemenangan lagi, Chievo bakal mencapai titik aman.

Yang menarik adalah empat tim sisanya. Dengan kombinasi hasil pertandingan yang mereka raih pekan ini, posisi Reggina sebagai juru kunci hanya terpaut empat angka dari Torino, yang menempati posisi aman terakhir.

Blerim Dzemaili cs. kalah 1-5 dari Milan, I Rossoblu takluk 1-4 dari Palermo, sedangkan Lecce menyerah 2-3 pada tuan rumah Roma. Satu-satunya kemenangan malah diraih tim yang awalnya sudah tidak diperhitungkan, Reggina.

Gli Amaranto, yang semula sudah putus asa, kembali optimistis bakal selamat. “Selama hitungan matematis masih memungkinkan, Reggina tak akan berhenti berjuang,” kata pelatih Nevio Orlandi pada Sky Italia.

Dengan enam laga tersisa, selisih poin tipis ini bakal memanaskan persaingan. (gun)


--


Premier League Paralel
Revolusi Gartside

Premier League terbagi dua? Ya, akhir pekan ini muncul isu hangat soal ide pemilahan top flight. Dua tim Skotlandia menjadi bagian penting.

Phil Gartside, pencetus ide ini, bersiap memaparkan pemikirannya tersebut kepada rekan-rekan sesama anggota Premier League pada tengah pekan ini. Chairman Bolton itu membutuhkan persetujuan 14 dari 20 chairman lainnya di Premier League. Idea Gartside, setiap divisi paralel ini akan terdiri atas 16 tim.

Pembagian ini disebut bakal bermanfaat untuk timnas. Jumlah tim yang lebih sedikit akan menelurkan lebih banyak akhir pekan yang bebas dan dapat digunakan untuk persiapan dan partai timnas.

Bagi klub, faedah dapat dirasakan tim papan bawah. Mereka tak kehilangan banyak uang bila jadi turun kasta.

Teorinya, penambahan duet Old Firm akan mengangkat daya tempur kedua klub Glasgow itu. Efek selanjutnya, antusiasme stasiun televisi dan para fan Skotlandia menanjak. Uang masuk dari tetangga diramal cukup untuk menutup jumlah kerugian setiap klub bila liga dikembangkan dari 20 menjadi 32 klub.

Proposal Belum Muncul

Gartside mengatakan liga paralel ini menawarkan stabilitas finansial bagi tim di paruh bawah klasemen. Kesinambungan liga ikut terjaga di masa depan.

Akan tetapi, terdapat beberapa halangan. UEFA secara konsisten menyatakan bahwa klub tak diperkenankan bermain di luar negeri sendiri. FA, FA Skotlandia, dan Football League juga harus memberikan suara setuju.

Yang mungkin jauh lebih sukar adalah mencari kesepakatan dari kubu tim-tim kaya seperti Man. United, Chelsea, Liverpool, dan Arsenal karena akan memengaruhi, tentu dalam arti negatif, penghasilan mereka.

Klub seperti Aston Villa, Everton, atau Tottenham juga mungkin akan menolak karena yakin akan ada di paruh atas klasemen.

Pihak Premier League mengaku belum melihat proposal ini. “Karena itu kami tak bisa mengeluarkan komentar tentang hal tersebut,” kata juru bicara Premier League seperti dikutip BBC.

Bisa jadi Premier League sudah enggan memikirkan perubahan drastis yang memerosotkan pendapatan mereka. Pemerataan bukan semangat kapitalis, 'kan? (chrs)


--







Sejarah Everton vs Chelsea
Maksimal Hanya Semifinal

Chairman Everton, Bill Kenwright, tidak bisa menyembunyikan kesumringahannya ketika The Toffeemen memastikan kelolosannya ke final pada Ahad lalu. Maklum, terakhir kali klub asal Liverpool itu mencapai final Piala FA adalah pada 1995 alias 13 tahun silam.

Khusus bila menyimak pertemuan kedua klub di kancah Piala FA, kita akan menemukan fakta menarik bahwa mereka belum pernah bersua di final. Everton terakhir menjadi juara di 1995, sedangkan The Blues pada 2007 dan nilai sejarah paling tinggi dari perjumpaan mereka adalah di semifinal musim 1914/15.

Kala itu, The Blues unggul 2-0 atas Everton, tapi akhirnya kandas 0-3 di tangan Sheffield United saat final digelar di Old Trafford. Tiap kali Everton berhadapan dengan Chelsea pada Piala FA, situasinya memang kurang menguntungkan bagi The Toffees sehingga mereka hanya bisa menang dua kali dalam delapan pertemuan.

“Saatnya untuk membalikkan keadaan. Banyak orang menyebut kami lolos ke final karena di semifinal Manchester United menurunkan pemain muda. Semua penilaian itu akan berubah bila kami bisa meraih Piala FA untuk keenam kalinya Mei nanti,” kata Kenwright pada BBC Sports.

Kenwright sedari kecil telah menggemari Everton dan tidak pernah sebelumnya, sejak ia menjadi chairman pada 2004, klub tersebut berhasil lolos ke final Piala FA. Wajarlah bila akhirnya sosok yang dikenal luas sebagai produser drama-drama teatrikal di Inggris itu terlihat amat antusias.

Hitung punya hitung, ternyata Everton sendiri lebih sering lolos ke final ketimbang The Blues. Mereka tercatat 12 kali lolos partai puncak, sedangkan Chelsea baru delapan kali (empat kali juara). (toen)


--




Perseteruan Pelatih
Sekutu Anti-Rafa

Musim ini, pertukaran sinisme antara Rafael Benitez dan Sir Alex Ferguson kerap terjadi. Benitez menganggap Ferguson mulai takut terhadap dirinya dan Liverpool. Bos Man. United lalu memutuskan untuk menarik beberapa sekutu.

Arogan, congkak, dan merendahkan. Demikian sebutan Ferguson untuk rival beratnya itu, tanpa menyebut dirinya sendiri sebagai korban.

Sebelum menghadapi Everton di semifinal Piala FA, Ferguson membela Merseyside Biru yang disebut Rafa “klub kecil”. “Everton adalah klub besar, tak kecil seperti yang dikatakan Benitez secara arogan," katanya di Sky Sports.

"Selain itu, sikap merendahkan yang diperbuatnya tak dapat dimaafkan, seperti yang diperlihatkannya pada Sam Allardyce pekan lalu. Setelah Liverpool mencetak gol kedua, ia memberi tanda laga sudah usai. Saya rasa Sam tak pantas mendapatkannya. Menurut pengalaman saya, tak ada manajer Liverpool yang pernah melakukannya,” ujar Ferguson.

Sebelum orang Skotlandia itu mencoba menarik simpati Everton, Allardyce sudah mengungkapkan kegusarannya pada sikap Benitez tersebut.

Sudah Cukup Keras

Big Sam, arsitek Blackburn, mengaku tak berhasil menemui Rafa pascalaga yang berakhir dengan kemenangan telak 4-0 untuk Reds itu. Ia berniat meminta penjelasan atas sikap bos Liverpool itu.

“Ada dua alasan kekecewaan kami. Yang pertama adalah performa tim, meski sebenarnya bisa lebih baik jika tak diganggu cedera. Kedua, gerak tubuh Rafa Benitez setelah gol kedua. Saya merasa mereka menunjukkan sikap meremehkan,” kata Allardyce.

“Saya menanti perbincangan dengan Rafa Benitez di ruangannya, tapi seperti biasa, dan sialnya, ia tak muncul. Melihat rekamannya kembali minggu ini, saya rasa semua orang akan melihat alasan kenapa saya mengeluh,” sebut mantan bos Bolton dan Newcastle ini.

Ferguson sepakat dengan Big Sam. Namun, Allardyce mengaku tak berniat menjadi aktor utama seperti dua bos papan atas itu. “Permainan ini sudah cukup keras tanpa sesama pelatih mencoba melakukan aksi memandang sebelah mata,” ucapnya. (chrs)





Arsene Wenger
Ditawan Prinsip Diri

Seminggu lalu Arsene Wenger mengaku dirinya adalah tawanan dari kebijakannya sendiri di Arsenal. Ya, The Professor kerap kali memaksakan diri memberi kesempatan kepada pemain mudanya daripada membeli pemain dengan harga mahal.

“Saya merasa telah berlaku keras karena terus yakin pada tim ini ketika tak ada yang mau percaya. Namun, saya adalah tawanan kebijakan sendiri. Membeli Gareth Barry atau Xabi Alonso akan mematikan karier Alexandre Song, Abou Diaby, dan Denilson. Kami telah mengangkat mereka,” sebut Wenger pada Sky Sports.

Pada musim ini, The Gunners mendapat cukup pengaruh positif dari kemauan sang pelatih. Selain mentasnya beberapa talenta belia, tempat di empat besar siap dipeluk lagi.

Bos asal Prancis ini tampak tak berkeberatan dengan posisinya itu. Namun, tak semua pihak sepakat. Mantan anak didiknya, Emmanuel Petit, menilai Wenger mesti memikirkan ulang prinsipnya dalam transfer.

“Ini adalah relasi antara aksi di lapangan dan keharusan mengeluarkan uang untuk menjaga aksi itu. Pemain harus diyakinkan bahwa ia dibutuhkan,” kata eks gelandang Les Bleus ini di BBC.

Mathieu Flamini diajukan Petit sebagai contoh pemain yang pergi karena struktur gaji ketat. “Di awal musim setelah kepergian Flamini, Cesc Fabregas tampak sebatang kara. Ia mencari Flamini ke mana-mana, tapi ia sudah ada di Milan.” (chrs)

"Everyone should seek to be creative, even though
creativity is full of risks and uncertainties."
Edward de Bono
The Thinking Manager

Do you believe creativity is a learned skill?
-- Or is it an inborn talent?

Edward de Bono,
The Thinking Manager

Tidak ada komentar:

Posting Komentar