Jumat, 01 Mei 2009

The Fed to prints 1.75 trillion dollars?


29th Apr 09

Press Release

http://www.federalreserve.gov/newsev.../20090429a.htm

Release Date: April 29, 2009
For immediate release

Information received since the Federal Open Market Committee met in March indicates that the economy has continued to contract, though the pace of contraction appears to be somewhat slower. Household spending has shown signs of stabilizing but remains constrained by ongoing job losses, lower housing wealth, and tight credit. Weak sales prospects and difficulties in obtaining credit have led businesses to cut back on inventories, fixed investment, and staffing. Although the economic outlook has improved modestly since the March meeting, partly reflecting some easing of financial market conditions, economic activity is likely to remain weak for a time. Nonetheless, the Committee continues to anticipate that policy actions to stabilize financial markets and institutions, fiscal and monetary stimulus, and market forces will contribute to a gradual resumption of sustainable economic growth in a context of price stability.

In light of increasing economic slack here and abroad, the Committee expects that inflation will remain subdued. Moreover, the Committee sees some risk that inflation could persist for a time below rates that best foster economic growth and price stability in the longer term.

In these circumstances, the Federal Reserve will employ all available tools to promote economic recovery and to preserve price stability. The Committee will maintain the target range for the federal funds rate at 0 to 1/4 percent and anticipates that economic conditions are likely to warrant exceptionally low levels of the federal funds rate for an extended period. As previously announced, to provide support to mortgage lending and housing markets and to improve overall conditions in private credit markets, the Federal Reserve will purchase a total of up to $1.25 trillion of agency mortgage-backed securities and up to $200 billion of agency debt by the end of the year. In addition, the Federal Reserve will buy up to $300 billion of Treasury securities by autumn. The Committee will continue to evaluate the timing and overall amounts of its purchases of securities in light of the evolving economic outlook and conditions in financial markets. The Federal Reserve is facilitating the extension of credit to households and businesses and supporting the functioning of financial markets through a range of liquidity programs. The Committee will continue to carefully monitor the size and composition of the Federal Reserve's balance sheet in light of financial and economic developments.

Voting for the FOMC monetary policy action were: Ben S. Bernanke, Chairman; William C. Dudley, Vice Chairman; Elizabeth A. Duke; Charles L. Evans; Donald L. Kohn; Jeffrey M. Lacker; Dennis P. Lockhart; Daniel K. Tarullo; Kevin M. Warsh; and Janet L. Yellen.

2009 Monetary Policy Releases

Happy days are here again

Umm well, Fed may not physically prints these monies, but... the way I see it..
What the Fed is actually doing is a magic trick.

Take for example that they have $1 in total reserve, consisting of marketable securites such as T-Bills. This amount is the "public debt". Over the courst of a few years the mandrake mechanism turns this into $10 of total debt in the economic system.

Now, lets say that $7 of that debt is mortgage debt and $1 of it is "toxic".

What the fed is doing is taking "cash" from the $10 and "re-circulating it into reserve" by buying the toxic debt as reserve, thereby raising the reserve from $1 to $2. This in-turn raises the total debt from $10 to $20 in the economic system.

I believe this is what they are doing. Whether not I am right or not is another story, but I wish that someone could prove me wrong because this kind of activity by the Fed is completely irresponsible and will decrease USDollar worthiness for sure within 3 fto the next 5 years.

In other words, it used to be the case that "reserve" currency had to come with the guarantee of the government, in the form of something like a T-Bill, but NOW what the Fed can do is create its own reserve without it needing to come from the government with that guarantee.
Reply With Quote




--



Yang saya ceritakan adalah kejadian 1(satu) bulan lalu di Bandara Soekarno-Hatta, namun kemarin saya mengalami kejadian yang lebih parah lagi dengan Lion Air di Bandara Ngurah Rai Bali.

Yang saya maksud tiket promo adalah kelas X, Tanggal 29/04/09 No.penerbangan JT 023 jam 15.10 waktu Denpasar, 30 menit sebelum keberangkatan saya sudah mengantri untuk check in pada saat itu antrian cukup panjang, 10 menit kemudian saya mendengar pengumuman bahwa pesawat mulai boarding, lalu saya dan seorang ibu dengan tujuan lampung via jakarta berinisiatif menanyakan untuk mempercepat check in kami agar kami bisa masuk ke pesawat, namun saya sangat kaget karena petugas tiket dengan enteng mengatakan bahwa penerbangan kami sudah di tutup 30 menit yang lalu & karena tiket kami merupakan kelas X maka tiket kami dianggap hangus.

Dengan nada kesal kami katakan bahwa "Pesawat kami masih ada (belum take off) dan penumpang sedang antri masuk pesawat, kenapa tidak ada sedikit empathy kepada penumpang kelas promo yang jelas-jelas masih melihat pesawatnya ada di depan mata namun mereka mengatakan dengan meremehkan penumpang kelas X"

lalu saya mencoba mengurus kesana kemari untuk mendapatkan solusi, namun jawabanya kami diminta membeli tiket dengan harga yang sama.. namun ironisnya kawan saya yang mengantar saya dan menunggu diluar masih ditawarkan calo untuk tiket dengan penerbangan di jam 15.10 disini saya berfikir bahwa memang sudah permainan petugas tiket untuk menjual sheet yang kosong dengan mengorbankan penumpang kelas promo.

Saya berpesan kepada MC-ers dari yang saya alami khusus pemilik tiket promo Lion Air karena memang sudah merupakan karakter pelayanan mereka yang meremehkan penumpang kelas promo agar ketika sampai di Gate (Soekarno-Hata) terus menanyakan keberangkatan sampai ada kepastian...

Jika di luar Jakarta sudah tidak ada kompromi lagi harus check in 2-3jam sebelumnya karena banyaknya oknum yang memanfaatkan keterbatasan kita untuk keuntungan baik pribadi atau perusahaan.

Untuk Ibu Devi mudah-mudahan pengalaman saya dapat dijadikan masukan, agar tidak mengalami kejadian seperti saya.

Untuk Lion Air kalo merasa rugi dengan tiket promonya, jangan gunakan cara-cara merugikan penumpang yang memang merasa harus memilih perjalanan yang efektif & efisien.




--







Menarik menyimak topik "Apa itu Brand Awareness??" Jadi teringat dengan skripsi S-1 saya, berikut adalah kutipan yang mungkin berguna buat rekan MC-ers sekalian.
Dalam dunia pemasaran modern, manajemen perusahaan tidak cukup hanya
memfokuskan diri untuk membuat suatu produk dengan brand platform yang kokoh, tetapi perlu juga menetapkan suatu harga
yang kompetitif untuk suatu merek, serta membuatnya terjangkau bagi pasar
sasaran. Iklim persaingan yang ketat membuat manajemen pemasaran untuk mampu membuat
merek produk mereka dapat dikomunikasikan pada pasar sasarannya. Dengan
demikian, fungsi komunikator dan komunikan merek tidak dapat dihindarkan. Secara umum, komunikasi suatu merek memiliki tiga tujuan
utama yaitu:
1. Membangun serta meningkatkan brand awareness.
2. Memperkuat, memperjelas dan mempercepat pesan suatu
merek.
3. Menstimulasi dan memotivasi target konsumen untuk
melakukan aksi pembelian.
Brand Awareness sudah banyak diketahui pemasar. Namun menurut saya sering kali rancu, atau salah menafsirkan,ketika kita memasarkan sebuah produk baru, hambatan yang mungkin dihadapi adalah omset yang masih kecil. Seorang teman kerja saya dipanggil atasannya, "Kenapa omset kamu sedikit?", "Karena konsumen belum tahu dengan merek ini, pak!". Mungkin teman saya beranggapan bahwa konsumen belum tahu merek yang dipasarkan olehnya adalah Brand Awareness, berdasarkan buku pegangan untuk skripsi saya Durianto, Darmadi., et all, 2003, Invasi Pasar Dengan Iklan Yang
Efektif : Strategi, Program, dan Teknik Pengukuran, Kesadaran Merek (Brand Awareness) adalah kesanggupan seseorang
calon pembeli untuk mengenali atau mengingat bahwa suatu merek merupakan bagian
dari kategori produk tertentu. Jadi,belum tahu (Recognition) atau belum sadar merek (unAwareness)??.

Pengukuran Tingkatan kesadaran merek dapat dilakukan dengan melakukan survey kuesioner kepada target market konsumen kemudian secara berurutan dapat digolongkan
sebagai berikut:

a. Top of mind (puncak
pikiran)
Apabila responden ditanya secara langsung tanpa diberi bantuan
pengingatan dan ia dapat menyebutkan satu nama merek, maka merek yang pertama
sekali disebutkan merupakan puncak pikiran. Dengan kata lain, merek tersebut
merupakan merek utama dari berbagai merek yang ada di dalam benak responden.Contoh pertanyaan " Apakah Merek yang paling anda ingat? "

b. Brand recall (pengingatan
kembali terhadap merek)
Pengingatan kembali terhadap merek didasarkan pada permintaan kepada setiap
responden untuk menyebutkan tiga merek tertentu yang diingat dalam suatu kelas
produk. Hal ini diistilahkan dengan pengingatan kembali tanpa bantuan, karena
berbeda dari pertanyaan pengenalan merek, responden tidak perlu dibantu untuk
memunculkan merek tersebut dalam ingatan. Contoh pertanyaan"Selain Merek yang anda sebutkan diatas, Merek apa lagi yang anda ingat?"
c. Brand recognition (pengenalan merek)
Tingkat minimal dari kesadaran merek konsumen. Responden diminta untuk
menjawab pertanyaan yang langsung berhubungan dengan pengenalan merek tertentu.
Dalam hal ini ini responden dibantu untuk memunculkan merek dalam ingatan
responden melalui pertanyaan yang langsung berhubungan dengan suatu merek tertentu. Pertanyaan ini dapat membantu
responden pada saat memilih suatu merek saat akan melakukan pembelian. Contoh pertanyaan "Apakah Anda mengetahui merek............................?(Merek yang kita pasarkan)"

d. Unaware of brand (tidak
menyadari merek)

Merupakan tingkat yang paling rendah dalam kesadaran merek, di mana
konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek yang kita pasarkan.

Setelah mengetahui tingkat kesadaran merek (Awareness) konsumen terhadap merek kita, kemudian kita dapat mengkategorikan respon konsumen terhadap merek kita. Dalam hal ini kita mengkaitkan aktifitas promosi yang kita lakukan, utamanya periklanan dengan respon konsumen terhadap merek kita. Respon konsumen diantaranya: Awareness(kesadaran terhadap merek), Comprehend (pemahaman isi
pesan iklan oleh konsumen), Interest (ketertarikan terhadap
produk), Intentions (minat untuk membeli), dan terakhir Action (tindakan pembelian nyata).

Respon konsumen menjadi kecil karena rendahnya respon konsumen terhadap suatu merek (poor response). Variasi rendahnya
respon konsumen bisa disebabkan karena macam – macam alasan, antara lain:
1. Low Awareness,
artinya kesadaran konsumen terhadap suatu merek sangat rendah, dengan kata
lain, mind share (pangsa pikiran) konsumen sangat rendah. Hal ini biasanya
disebabkan kesalahan strategi komunikasi pemasaran. Faktor penyebabnya antara
lain: pemilihan media iklan yang tidak tepat, frekuensi penayangan iklan kurang
banyak, dan eksekusi kreatifitas iklan yang kurang mengena.
2. Poor
Comprehension, artinya pemahaman konsumen pada suatu mereka sangat rendah.
Fenomena ini biasanya disebabkan oleh kesalahan strategi komunikasi pemasaran.
Dan faktornya biasanya adalah kurang cukupnya frekuensi penayangan iklan dan poor ad copy.
3. Low Interest, artinya ketertarikan konsumen pada suatu merek sangat rendah. Fenomena ini
biasanya disebabkan lemahnya positioning produk. Faktor penyebabnya, antara
lain:insufficient benefits, high price, dan poor ad copy.
4. Low Intentions, artinya
niat konsumen untuk membeli masih sangat rendah. Fenomena ini biasanya
disebabkan oleh lemahnya positioning dari
produk. Faktor penyebabnya antara lain: rendahnya produk uji coba (tester) oleh konsumen atau konsumen
merasa bahwa resiko pemakaian produk tersebut terlalu tinggi.
5. Low Purchase
Level, artinya tingkat pembelian oleh target konsumen sangat rendah.
Fenomena ini biasanya disebabkan masalah distribusi dan in – store promotion. Faktor penyebabnya antara lain: tidak
tersedianya produk di pasar, sulit untuk mendapatkan produk di toko atau di
supermarket pada saat konsumen hendak membeli dan pelayanan in – store yang kurang memadai.

Apakah kita sudah puas dengan Awareness konsumen yang tinggi terutama pada tingkat Top OF Mind? Menurut saya, sebagai pemasar, kita seharusnya belum saatnya untuk berpuas diri, karena proses keputusan pembelian belum selesaiharapan kita adalah high level of purchase.Pangsa pikiran (Mind Share) konsumen setiap hari terus tergerus oleh iklan yang ditayangkan oleh kompetitor, apabila kita lengah sedikit, ketika konsumen berada di toko dan melihat iklan dari kompetitor, proses keputusan pembeliannya dapat diubah pada merek milik kompetitor, bukan merek yang kita pasarkan.

Kepastian Dua Negara Final Piala UEFA
Pertama dan Terakhir

Edisi terakhir Piala UEFA sebelum berganti nama menjadi Europa League musim depan menghasilkan kombinasi menarik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, wakil dua negara yang bermain di partai final sudah bisa ditentukan sejak semifinal.

Ya, Ukraina dan Jerman dipastikan saling bertemu di partai puncak setelah di babak empat besar tim dari negara yang sama saling berhadapan. Ukraina mengutus Shakhtar Donetsk dan Dynamo Kyiv, sedangkan Hamburg dan Bremen menjadi representasi nama besar Jerman.

Memang di kejuaraan yang digelar sejak 1971 itu babak semifinal yang mempertemukan wakil dua negara sudah sering terjadi. Namun, hasil undian di 2008/09 sedikit berbeda.

Pada musim 1978/79, tiga wakil Jerman, Duisburg, Moenchengladbach, Hertha, mengepung Crvena Zvezda dari Serbia. Di 2006/07, tiga klub Spanyol, Osasuna, Espanyol, dan Sevilla, mengeroyok Bremen. Namun, di antara waktu itu, ada dua yang kondisinya mirip dengan saat ini.

Di musim 1989/90 dan 94-95, Italia dan Jerman sama-sama mengirimkan dua wakilnya ke semifinal. Namun, yang membedakan ialah wakil kedua negara sudah harus saling berhadapan. (gun)

SEMIFINAL DUA NEGARA
-----------------------------------------------
1978/79
Duisburg (Jerman) vs Moenchengladbach (Jerman)
Crvena Zvezda (Serbia) vs Hertha Berlin (Jerman)
1988/89
Napoli (Italia) vs Muenchen (Jerman)
Stuttgart (Jerman) vs Dresden (Jerman)
1989/90
Bremen (Jerman) vs Fiorentina (Itallia)
Juventus (Italia) vs Koeln (Jerman)
1994/95
Leverkusen (Jerman) vs Parma (Italia)
Juventus (Italia) vs Dortmund (Jerman)
2006/07
Espanyol (Spanyol) vs Bremen (Jerman)
Osasuna (Spanyol) vs Sevilla (Spanyol)





Rivalitas Multi-Dimensi

Rivalitas antara Dynamo Kyiv dan Shakhtar tidak bisa dihindari. Status sebagai dua klub pengoleksi gelar Premier Liga terbanyak menjadi salah satu alasan.

Sejak bergulir pada 1992, total 16 gelar menjadi milik duo tersebut, sedangkan satu sisanya direbut Tayriva Simferopol pada musim pembuka. Kyiv unggul jauh dengan 12 trofi.

Faktor sejarah juga ambil bagian atas persaingan keduanya. Di era Uni Soviet, Kyiv, yang dipimpin Volodmyr Sherbytskyi --Ketua Partai Komunis Ukraina-- menjadi wakil utama negara bagian tersebut dalam Liga Utama Soviet. Ini membuat mereka memiliki privilese mencomot pemain berkualitas dari klub lain, termasuk Shakhtar, gratis!

Perbedaan kelas sosial kedua pendukung juga mempertajam perseteruan. Saat merdeka pada 1992, kota Kyiv merupakan wilayah tercepat yang mendapat pengaruh globalisasi.

Sementara itu wilayah Donbass, tempat sang rival berada, tetap merupakan region miskin yang dipenuhi para penambang batu bara. Arti shakhtar berarti penambang.

"Masyarakat bekerja sangat keras. Karena itulah mereka membutuhkan pertandingan sepak bola sebagai pelampiasan," ujar pelatih Mircea Lucescu. (gun)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar