Rabu, 18 Agustus 2010

Terjajah Dalam Kemerdekaan

Menyebalkan, saya merasa tidak memiliki ikatan apapun dengan kata kemerdekaan. Saya merasa hampa ketika tiba-tiba di bulan Agustus ini kata merdeka itu kembali sering diperdengarkan. Apakah saya benar-benar bisa merdeka? Itu yang tiba-tiba saya pikirkan ketika kembali mendengar kata: merdeka. Pengkotbah di Gereja meneriakkan kata merdeka berulang kali. Tapi tetap saya berpikir: kita ini terjajah, di mana pun dan kapan pun. Mungkin karena pada dasarnya kita terjajah sejak kecil.

1. Waktu SD banyak kasus penjajahan. Guru yang galak sehingga membuat takut. Pelajaran yang begitu banyak. PR yang menumpuk. Seragam yang membelenggu. Uang sekolah yang besar. Pelajaran hanya menghafal. Sulit menemukan rasa senang di sekolah. Bermain pun dibatasi.
2. Waktu SMP dan SMA bertambah lagi kasusnya. Uang gedung membesar lagi. Kebutuhan gaya hidup mulai muncul. Guru tetap galak. Seragam masih ada. Kakak kelas mulai malak. Kehidupan remaja mulai menekan. PR lebih banyak lagi. Masa depan terlihat suram. Sekolah kok ya nganggur. Mau kuliah tidak ada uang.
3. Banyak yang merasa masa mahasiswa adalah masa yang memerdekakan. Tapi banyak hal terlarang dipelajari. Pengenalan kepada sistem-sistem membuka pikiran kalau kita terjajah secara ekonomi. Menentukan hidup sendiri juga kesulitan. Tuntutan hidup makin besar. Ada lagi yang terjebak narkoba dan tindakan haram lainnya. Bahkan untuk bersenang-senang kita dituntun gaya hidup yang katanya membebaskan. Dosen-dosen ternyata banyak yang membosankan. Tembok kuliah serasa membosankan. Ternyata ancaman menganggur makin nampak nyata
4. Bekerja lebih repot lagi. Atasan menekan. Teman menekan. Kebutuhan menghimpit. Istri atau suami menjajah. Anak menuntut. Saudara-saudara menekan. Eh kita tiba-tiba mendengar apapun yang kita lakukan ditentukan oleh negara yang lebih maju.

Mungkin semua terdengar melebih-lebihkan. Tapi pada kenyataannya menggunakan sabun pun kita diatur oleh iklan. Jam berkegiatan ditentukan oleh TV dan acaranya. Begitu keluar rumah kita sudah dibombardir iklan yang sangat sugestif sehingga tanpa sadar kita mengikutinya. Begitulah dalam dunia yang semakin global. Keputusan sekecil apapun sebenarnya dituntun kekuatan amat besar yang tersembunyi dan tak terkendali dan itu bukan Tuhan. Kekuatan ekonomi, kekuatan tata sosial, dan ketakutan kehancuran bumi. Semakin kita berlomba meningkatkan kesejahteraan semakin kita perlu menjajah orang lain. Supaya kita lebih sejahtera. Mungkin memang secara alamiah kita harus saling menjajah.

Ah mungkin saya berlebihan ya... tapi sejatinya kita perlu terus berpikir untuk terbebas dari penjajahan kebodohan dan kemalasan. Mungkin sekali karena kita ini bodoh dan malas, maka dijajah pun kita tidak terasa.

-

Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa yang akan memulihkan semangat yang patah?” Amsal 18:14

Beragam persoalan bisa menimpa siapa saja. Entah orang kaya atau miskin, tua atau muda, setiap orang selama hidup di dunia ini selalu berhadapan dengan berbagai persoalan. Setiap orang, terlepas dari status sosial, pendidikan, profesinya, dan bahkan sebagai hamba Tuhanpun tidak terluput dari yang namanya pergumulan atau persoalan. Manusia harus berhadapan dengan masalah selama hidup di dunia ini. Setiap orang tentunya memiliki persoalan yang berbeda-beda.

Kita tidak boleh menyerah, walau badai apapun yang sedang menerpa. Sebab pencobaan yang kita alami tidak pernah melebihi kekuatan kita, seperti yang disebutkan dalam Firman Tuhan.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya” 1 Kor 10:13
*courtesy of PelitaHidup.com
Allah itu baik. Dia sahabat kita, dalam segala susah Dia selalu datang menghibur. Biasanya ada beberapa hambatan-hambatan dalam meraih sebuah keberhasilan adalah antara lain, sikap yang putus asa, patah semangat, menyerah, keinginan untuk mundur, dan lain sebagainya. Kalau sikap seperti ini dibiarkan akan membuat seseorang itu menjadi frustrasi, dan tetap tinggal dalam masalahnya. Dalam menghadapi setiap masalah, kita membutuhkan sebuah semangat untuk berjuang dan bangkit, dengan pertolongan Tuhan agar kita sampai pada tujuan yang diinginkan.

Dalam cerita di Alkitab kita dapat melihat sebuah kondisi yang mengisahkan seseorang yang tidak lagi bersemangat dalam hidupnya, yaitu kisah nabi Elia. Keberhasilan Elia membunuh 450 orang nabi baal seorang diri membuat Izebel marah dan bermaksud membunuhnya. Mendengar berita itu, larilah Elia untuk menyelamatkan diri, ia dalam ketakutan, putus asa dan patah semangat. Ia lari ke gunung Horeb untuk bersembunyi.

.

Ada beberapa kondisi yang dialami nabi Elia ini, yaitu:

Menjadi Orang Bersemangat dan Optimis Menghadapi Masalaha). Ia kelelahan, lelah jasmani setelah perjalanan panjang, empat puluh hari, empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yaitu gunung horeb.
*courtesy of PelitaHidup.com
“Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku” 1 Raj 19:4b.

b). Ia merasa telah gagal membuat bangsa Israel untuk bertobat,
*courtesy of PelitaHidup.com
c). Ia merasa kesepian, hanya seorang diri saja dalam pergumulan untuk kebenaran Allah.

“Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatNya bagi Tuhan, Allah semesta alam,karena orang Israel meninggalkan perjanjianMu, meruntuhkan mezbah-mezbahMu dan membunuh nabi-nabiMu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku” 1 Raj19:10

Allah tidak tinggal diam, Ia tetap memperhatikan Elia yang sedang patah semangat itu. Ia membiarkan Elia istirahat dan tertidur, kemudian Allah mengirim malaikatNya untuk memberi makan Elia. Allah juga datang untuk memberikan semangat kepadanya dan memperkuat imannya di gunung Horeb itu. Allah sesungguhnya tidak akan meninggalkan nabi ataupun umat-Nya yang setia.
*courtesy of PelitaHidup.com
“Firman Tuhan kepadanya:”, pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Elisa bin Safat, dari Abel Mehola, menjadi nabi menggantikan Engkau” 1 Raj 19:15-16

Ketika anak-anak Tuhan putus asa dimanapun mereka berada, melalui Yesus Kristus mereka dapat memohon kepada Allah, untuk menerima kekuatan dan semangat agar mampu menghadapi situasi.

Orang yang bersemangat adalah orang yang tidak mau menyerah, dan tidak mau terpengaruh oleh keadaan, sekalipun hal itu kurang baik. Tindakan/perbuatannya tidak ditentukan atau dipengaruhi oleh keadaan. Mengapa demikian ? Karena, ia memiliki target dan tujuan yang ingin dicapainya. Orang yang bersemangat akan tetap optimis, mereka percaya karena bersama dengan Allah akan mampu untuk menghadapi setiap kesukaran.

“Segala perkara dapat kutanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” Fil 4:13

Orang yang bersemangat memiliki iman, tetap percaya pada Firman Allah yang berkuasa. Jadilah orang yang bersemangat dalam hidup ini, apapun kondisi yang sedang terjadi, tetap miliki semangat. Semangat sangat diperlukan untuk memperoleh apa yang ingin kita capai. Karena dengan bersemangat kita akan tetap mengarahkan pandangan kita kepada tujuan, dan ada usaha untuk mencapainya.

.
Untuk menjadi orang yang bersemangat yang selalu optimis, kita memerlukan:
1. Keberanian bertindak untuk mengambil resiko

Menjadi Orang Bersemangat dan Optimis Menghadapi MasalahOrang yang bersemangat memiliki keberanian untuk bertindak. Siap hidup dan siap mati, mereka tidak takut dan gemetar karena mempunyai ketetapan hati yang mantap. Ingat, bagaimana kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego ? Ada sebuah perintah yang telah dibuat bahwa ketika mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi atau alat musik lainnya maka haruslah setiap orang sujud menyembah patung yang telah didirikan oleh raja Nebukadnezar. Mereka tidak mau menyembah patung yang telah didirikan oleh raja Nebukadnezar tersebut.

Dalam Kitab Daniel 3:6 “Siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala.”

Didapatilah bahwa mereka tidak mengindahkan titah itu, mereka tidak mau memuja dan menyembah patung tersebut. Adalah sebuah ancaman bagi mereka, dengan resiko mereka harus dimasukkan kedalam perapian. Mereka tidak khawatir, cemas dan takut, malah dengan berani untuk menerima hukuman itu. Mereka tetap mempertahankan iman yang mereka percayai.

Beginilah yang mereka ucapkan kepada raja itu, Daniel 3:17-18 ”Jika Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu ya raja. Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memujja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Mereka berani berkata tidak dan merekapun berani bertindak menerima hukuman yang sudah ditetapkan itu. Dengan amarah raja itu memerintahkan supaya perapian dibuat tujuh kali lebih panas dari biasanya, dan ketika mereka dicampakkan kedalam api, mereka tidak terbakar, rambut di kepala mereka tidak hangus, bahkan bau kebakaranpun tidak ada.

“Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang menyala-nyala itu ; berkatala ia: “Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah kemari!” Dan 3:26

Merekapun keluar dengan selamat dari perapian , Tuhan menyertai mereka. Dengan berani mereka mengatakan sekalipun Allah tidak menolong, mereka siap untuk mati bagi Tuhan. Tetapi Tuhan tidak tinggal diam, mereka diluputkan dari panas api itu, mereka tidak terbakar, tidak ada bau hangus, mereka tetap utuh seperti sediakala.

“Apabila engkau berjalan melalui api engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.” Yes 43:2b

Kalau kita berani bertindak lakukan sesuatu kebenaran, Tuhan pasti menolong, Tuhan juga pasti membela FirmanNya. Jadi, jangan takut, hadapilah setiap persoalan, jangan lari, Tuhan memberi kekuatan agar kita dapat meraih keberhasilan.

.
2. Sikap tidak mau menyerah

Tidak Mau MenyerahDalam Alkitab ada sebuah cerita tentang seorang perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Perempuan ini sudah diobati oleh berbagai-bagai tabib, namun keadaannya makin memburuk. Perempuan ini tidak putus asa, ia tetap memiliki semangat untuk sembuh. Tatkala ia mendengar berita tentang Yesus Sang Penyembuh itu, iapun berusaha untuk mencari Yesus, sebab ia yakin Yesuslah yang dapat menolong untuk menyembuhkannya.

Perempuan ini adalah orang yang bersemangat. Ketika Yesus dalam perjalanan menuju rumah kepala ibadat, ditengah kerumunan banyak orang, perempuan ini berusaha untuk menghampiri Yesus agar menerima kesembuhan dariNya. Perempuan ini tidak mau menyerah, dia tetap memiliki semangat, dia terus berjalan untuk menghampiri Yesus sekalipun ia sedang dalam penderitaan, mungkin ia berjalan tidak seperti orang normal karena penyakitnya itu, jalannya lambat tapi ia terus berusaha untuk maju mendekati Yesus dari arah belakang.

Perempuan ini mempunyai suatu tujuan untuk sembuh, ia memiliki iman, “Karena katanya dalam hatinya:”Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (Mat 9:21). Setelah hal itu dilakukannya iapun menjadi sembuh. Jerih payahnya tidak sia-sia. Ia berhasil, ia sembuh. Setiap orang yang mau mendekatkan diri kepada Yesus tidak akan menyerah, tetap berjuang sampai memperoleh apa yang ingin dicapai.

“Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu” 2 Taw 15:7

“Dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sunggguh-sungguh mencari Dia” Ibr 11:6b

Kalau semangatmu sedang lemah, bangkitlah mencari Tuhan, dengan berdoa, membaca Firman Allah, mengikuti ibadah dan memuji menyembah Dia. Pasti ada kekuatan baru dan upah yang akan diberikanNya, itu janjiNya.

.
3. Iman yang teguh

Menjadi Orang Bersemangat dan Optimis Menghadapi MasalahRasul Paulus setelah pertobatannya, memberikan hidupnya untuk melayani Tuhan, ia memenuhi panggilan Tuhan sebagi salah satu rasul yang ikut menderita bagi Kristus.

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Kor 4:8

“Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian.” 2 Kor 11:27

Dalam mengiring Yesus, Paulus banyak sekali mengalami penderitaan dan aniaya. Paulus juga mengalami kesedihan, ia ditinggalkan oleh teman-temannya.

“Pada waktu pembelaanku yang pertama, tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku, Tetapi Tuhan mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan, Dan Tuhan akan melepaskan aku, dari setiap usaha yang jahat, Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam kerajaanNya di Sorga. Bagilah kemuliaan selama-lamanya”. 2Tim 4:16-18

Di Roma pada saat itu sedang terjadi penganiayaan yang hebat, dan tidak ada seorangpun yang berani mengakui mengenal rasul Paulus. Paulus merasa kesepian dan kecewa, namun ia tetap merasakan kehadiran Tuhan, yang memberikan kekuatan padanya. Paulus mengakui bahwa ia mempunyai keyakinan yang kokoh, sebab Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Paulus sanggup menghadapi dan mengatasi segala rintangan sebab ada Tuhan yang selalu memberi pertolongan dan kekuatan baginya. Karena iman yang teguh Rasul Paulus tetap berjuang, dan bahkan setia sampai mati bagi Tuhan.

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang Adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 2 Tim 4:7-8

Apapun keadaan yang kini tengah kita hadapi, kita tidak boleh hilang pengharapan, putus asa atau melepaskan iman saat menghadapi berbagai masalah. Hadapilah semua bersama Tuhan, kita akan dapat mengalami pengalaman-pengalaman yang baru bersama Tuhan. Setiap Firman Tuhan yang kita butuhkan terjadi atas kita, harus tetap kita percaya, sebab ada firman Tuhan tertulis:

“Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah” Maz 89:35

Semua yang Tuhan janjikan itu melalui Firman-Nya, tidak akan ditarik kembali, dan Tuhan tidak mengingkari Janji-Nya itu. Arahkan pandangan, pikiran dan hati kepada FirmanNya, sebab itulah kebenaran yang akan memulihkan kita. Allah itu sangat baik.

“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” Maz 34:19.

Kita harus percaya pada Firman-Nya. Supaya iman tetap teguh, baca, renungkan dan perkatakanlah Firman Tuhan itu kepada diri kita sendiri maupun kepada orang lain.

Semangat merupakan jalan untuk memperoleh apa yang kita butuhkan. Tetaplah bersemangat, miliki keberanian untuk melakukan Firman Allah, jangan pernah menyerah dan tetap teguh pegang janji Tuhan sampai menjadi sebuah kenyataan. Tuhan memulihkan setiap semangat yang patah. Orang yang bersemangat akan selalu optimis dalam menghadapi setiap persoalan, untuk meraih keberhasilan. Selamat berjuang dan tetap semangat, Tuhan Yesus memberkati kita semuanya.

.
“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat” Wahyu 1:3.

--

Pengibar Bendera
Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik

* Jumat, 06 Agustus 2010 15:40
* Ditulis oleh Kukuh Widyat
* Sudah dibaca: 250 kali

Kepada Sang Merah Putih HORMAT grakkk!!!

Itulah kalimat yang terucap ketika hendak memberikan penghormatan kepada Sang Merah Putih.

Tahun ini Kemerdekaan Indonesia memasuki tahun ke 65. Jika dihitung secara sederhana, berapa kali Anda dan saya memberi penghormatan bendera merah putih maka ketemunya 65 kali, itu bila hanya setiap tanggal 17 Agustus saja. Ternyata ada hal menarik dari pengibaran bendera merah putih saat ditarik, dalam wilayah keimanan terhadap Allah.

Pengibar bendera menaikkan bendera merah putih ke atas, sedangkan peserta upacara memberikan hormat sambil melihat bendera naik secara perlahan pada tiang bendera. Melihat bendera naik ke atas artinya memberi penghormatan kepada para pejuang perebut kemerdekaan.

Momen pengibaran bendera tepat juga ditempatkan pada saat berelasi dengan Allah. Relasi Anda dan saya dengan Allah tepat juga dimengertikan melalui media bendera merah putih. Bendera merah putih merupakan “sesuatu yang bernilai, berharga” maka perlu dijunjung tinggi dan dijiwai dengan sungguh. Bahkan diupayakan secara terus menerus.

Merah putih ditempatkan di posisi atas demikian pula Allah. Hendaknya Allah Anda dan saya tempatkan di posisi lebih tinggi. Hal-hal yang berhubungan dengan Allah posisikanlah di atas. Perkara-perkara-Nya Allah hendaklah dinaikkan dari waktu ke waktu. Perkara-Nya Allah setiap saat Anda dan saya naikkan ke atas. Anda dan sayalah “Pengibar Bendera Allah.”

Dalam Kolose 3:2 dituliskan “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Inilah Bendera-Nya Allah. Kalau Anda dan saya masih mengurusi hal-hal duniawi maka bendera yang dibawa adalah keduniawian bahkan penyembahan kepada berhala. Anda dan saya butuh hal-hal duniawi untuk menyambung hidup, seperti bekerja. Namun seiring dengan menjalankan pekerjaan sisi menaikkan Bendera-Nya Allah perlu dilakukan pula.

Ketika Anda dan saya bekerja serta “Menaikkan Bendera-Nya Allah” rasakanlah karya-karya Allah. Anda dan saya menemukan campur tangan Allah setiap saat. Bukan hanya bantuan saat kesulitan tetapi dorongan untuk selalu “menaikkan Bendera Allah” setiap saat pula. Maka Allah pasti “tersenyum” bahagia.

Yang dikehendaki Allah kepada Anda dan saya, sebagai Pengibar bendera-Nya Allah di bumi. Artinya Anda dan saya tetap hidup di bumi tetapi terus mengurusi perkara-perkara-Nya Allah.

Dengan demikian Anda dan saya selain sebagai Pengibar Bendera juga menjadi Bendera-Nya Allah. Melalui momen ini, ingatlah bahwa menaikkan dan memberi penghormatan bendera merah putih, bukan lagi setahun sekali. Tetapi ternyata setiap saat Anda dan saya perlu melakukan kehendak-Nya. Amin.

--

Waktu Yang Cepat Berlalu…
Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik

* Jumat, 06 Agustus 2010 15:38
* Ditulis oleh Nathanael Channing
* Sudah dibaca: 308 kali

Dua anak remaja yang bersahabat sangat akrab. Mereka sekolah dari Taman Kanak-Kanak sampai lulus SMA. Pada waktu Remaja, mereka mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani. Pada waktu itu Firman Tuhan diberitakan begitu jelas sekali, bagaimana Allah mengasihi manusia sampai DIA rela menderita bahkan mati di atas kayu salib. Setiap orang yang percaya ditebus dan diselamatkan menjadi anak-anak Allah yang dikasihi-Nya. Kita menjadi kawanan domba Allah dan Allah menjadi Gembala Agung kita. Maka sebagai anak-anak Allah, kita dipanggil untuk menjadi rekan kerja Allah. Banyak orang yang belum mendengarkan berita anugerah keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Siapakah diantara anak-anak yang bersedia menjadi seorang hamba Tuhan yang membawa berita Injil kepada semua orang? Pertanyaan itu sangat mendebarkan salah satu hati anak remaja itu. Dengan spontan dia berdiri dan mengatakan “Tuhan ini aku utuslah aku”. Jiwanya begitu hancur ketika mendengar masih banyak jiwa-jiwa yang belum menerima berita anugerah keselamatan Allah. Sedangkan sahabatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat keputusan yang diambil sahabatnya. Dia sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya itu. Padahal mereka berjanji setelah lulus SMA akan mengambil bidang bisnis…

Waktu terus berjalan dengan cepat. Mereka berpisah karena masing-masing mengambil studi lanjutan yang berbeda; satu ke urusan bisnis dan yang satu ke sekolah teologia. Sekolah dan tempat kerja memisahkan mereka, yang dulunya sahabat akrab. Bahkan sampai kematian, membuat mereka lebih tidak bisa bertemu lagi. Berita kematiannya membuat rekan bisnisnya begitu terpukul sekali. Pada saat kebaktian pemakaman, sahabatnya dibawa dari luar negeri menuju ke kampung halamannya. Bukan itu saja, jenasahnya disemayamkan di sebuah Gereja yang paling besar di kota itu. Ribuan orang ikut merasakan duka atas kepergian hamba-Nya yang setia, bahkan bukan saja ribuan tetapi jutaan orang, karena seluruh dunia merasa duka atas kembalinya seorang hamba Tuhan yang setia melayani mengabarkan Injil. Sahabatnya begitu berduka, dia menangis begitu rupa, sampai semua orang heran. Ada apa dengan bapak ini? Apakah sama-sama sebagai seorang penginjil? Setelah ditanya, ternyata bukan! Justru dia sangat kecewa dengan waktu yang berjalan begitu cepat, tetapi dia belum berbuat apa-apa untuk Tuhan. Seperti Pemazmur berkata: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Maz. 90:12. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar