Selasa, 10 Agustus 2010

Berbisnis Dengan Kejujuran


Berbisnis Dengan Kejujuran
TUESDAY, 27 JULY 2010
Total View : 352 times

Kejujuran, hal ini sangat langka dalam dunia bisnis saat ini. Namun sebaliknya, hal inilah yang paling dicari oleh para konsumen. Hal ini bisa menjadi peluang bisnis bagi Anda, jika Anda melihat celah dimana karakter sangan mempengaruhi keberhasilan usaha.

Bethenny Frankel adalah salah satu yang melihat peluangan ini, dengan menyajikan produk seperti buku panduan, video panduan untuk olahraga, produk perawatan kulit, Bethenny mengangkat brand dengan namanya yang mencitrakan karakternya yang murni.

“Semua dibuat sederhana, langsung dan jujur serta membuat para wanita hidup lebih mudah,” demikian jelasnya. “Hal ini memberikan solusi bagi masalah mereka. Tapi saya tidak merencanakan ini. Saya menemukan hal ini dan memutuskan bahwa suara saya dapat dimengerti oleh orang lain. Talenta saya adalah mampu memberitahukan orang lain apa yang harus mereka lakukan.”

Keinginan untuk membantu orang lain berperan utama dalam membangun bisnisnya. Berbagai profesi dan usaha pernah dicoba oleh Frankel, mulai dari catering, EO, bahkan berakting, namun dia sukses dalam bisnis membantu orang lain ini.
DNA wirausaha ini sepertinya diwarisinya dari sang ayah, Robert Frankel seorang pelatih kuda yang legendaries. Namun dia sepertinya tahu bahwa peran Tuhan dalam mengambil porsi paling besar keberhasilan hidupnya.

“Kita merencakan dan Tuhan tertawa,” ungkap Frankel. “Saya sebenarnya tidak tahu betul apa yang saya sedang kerjakan dan akan berakhir dimana, dan apa sebenarnya panggilan hidup saya. Saya selalu katakana bahwa kamu pasti berakhir di jalan. Yang Anda perlu lakukan adalah maju terus ke depan. Anda tidak perlu tahu sebenarnya akhir dari tujuan perjalanan Anda.”

Kemampuan untuk menyeimbangkan antara karis dan keluarga adalah salah satu masalah besar bagi wirausahawan. Namun Frankel berhasil menyeimbangkan hal ini. Menurut Frankel hal itu dilaluinya dengan membuat segala sesuatunya sederhana, dan menikmati apapun yang dilakukannya dengan gembira.

Frankrel ingin membuat para wanita tahu bahwa mereka bisa sukses sebagai seorang ibu, hanya percayailah perasaan Anda. Sama seperti seorang ibu apa yang harus dilakukan untuk merawat anaknya, demikian juga halnya dalam mengurus bisnis. Percayalah insting Anda dan jangan pernah takut, maka Anda akan berhasil.

--

Manager Investasi Bangkrut, Investasi Hilang Atau?
THURSDAY, 29 JULY 2010
Total View : 275 times

Penurunan harga saham serta gejolak pergerakan indeks membuat sebagian investor panik dan kuatir mungkinkah Manager Investasi (MI) bangkrut? Dan jika hal itu terjadi, apakah sama artinya para investor akan kehilangan dana investasi yang dimilikinya?

Secara umum, BAPEPAM & LK memonitoring dan mengawasi secara ketat berbagai aspek dalam kegiatan usaha perusahaan pengelola investasi yang beroperasi di Indonesia termasuk dalam hal kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kecukupan Modal Kerja Bersih Disesuaikan.

Setiap reksa dana yang dikelola oleh MI didasarkan pada Undang-Undang Pasar Modal No 8 Tahun 1995 serta dibentuk dengan akta notarial Kontrak Investasi Kolektif (KIK) antara MI dengan Bank Kustodian yang tidak terafiliasi dengan MI.

MI bertanggung jawab pada pengelolaan reksa dana. Semua aset reksa dana sepenuhnya dimiliki oleh investor secara kolektif. Aset reksa dana dicatat dan disimpan dalam rekening khusus oleh Bank Kustodian serta terpisah baik dari aset Manager Investasi (off balance sheet) maupun dari aset Bank Kustodian. Dalam publikasi data di Bapepam, KSEI maupun media massa, aset ini disebut dana kelolaan (Assets under Management, disingkat AuM), karena memang aset ini adalah sepenuhnya milik investor, bukan bagian dari neraca MI baupun Bank Kustodian.

Sesuai dengan namanya, aset ini adalah aset yang dikelola oleh MI, dalam hal ini MI menerima mandat sebagai pengelola dana. Sedangkan Bank Kustodian diberi mandat untuk menyimpan kekayaan reksa dana dan melakukan administrasi pencatatan maupun monitoring terhadap pengelolan dana oleh MI, termasuk dalam hal ini mengawasi apakah MI memenuhi peraturan mengenai reksa dana setiap saat. Oleh karena itu, aset dari reksa dana terlindungi dari klaim kreditur jika terjadi sesuatu dengan Bank Kustodian maupun Manager Investasi sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Pasar Modal dan Peraturan Bapepam &LK.

Jika karena satu dan lain hal MI tidak dapat lagi melanjutkan kegiatan usahanya alias bangkrut, maka berdasarkan peraturan, MI yang bersangkutan harus melapor ke Bapepam & LK. Bapepam & LK kemudian akan mencarikan MI lain yang bisa mengambil alih pengelolaan dana investor. Jika tidak, maka Bapepam & LK akan memerintahkan MI tersebut untuk mengirimkan surat kepada seluruh investornya mengenai rencana penghentian kegiatan usahanya dan memberitahukan mengenai prosedur pengembalian dana investor secara rinci. Setelah seluruh kekayaan investor dikembalikan, barulah MI tersebut bisa dilikuidasi.

Prosedur ini jauh berbeda dengan bank komersial yang langsung membekukan asetnya jika terjadi rush atau penarikan dana besar-besaran, karena dana deposan adalah bagian dari neraca bank tersebut.

Ada tiga kesimpulan yang perlu Anda pahami:

1. Kontrak Investasi Kolektif (KIK) adalah kerangka legal untuk reksa dana yang mengatur tata cara pengelolaan reksa dana serta memastikan bahwa hak-hak investornya terlindungi.
2. Aset dari reksa dana dimiliki oleh investor secara kolektif dan disimpan di Bank Kustodian, dibukukan secara terpisah dari aset Manager Investasi maupun aset Bank Kustodian sehingga terlindungi dari klaim kreditur.
3. Penghentian usaha suatu Manager Investasi tidak berarti pembekuan aset reksa dana karena aset reksa dana terpisah dari aset Manager Investasi.

-
If You Fail to Plan, You Plan to Fail
Minggu, 08 Agustus 2010 10:00 WIB
Oleh: Emy Trimahanani

(vibizmanagement - Strategic) - Ilmu manajemen mengajarkan kepada kita salah satu cara mengelola suatu aktivitas atau bisnis dengan baik adalah dengan melakukan perencanaan yang baik. Sebuah rencana yang baik harus mengacu pada tujuan atau objective yang jelas dan tahapan-tahapan pelaksanaan yang jelas, atau yang secara sederhana kita sebut sebagai goal setting.

Dalam sebuah games yang biasa dipakai untuk menghidupkan suasana pelatihan, ada sebuah permainan kelompok dimana satu kelompok harus dapat menuju ke sebuah tujuan dengan melewati lima buah lingkaran (hollahoop) yang masing-masing berjarak sekitar 30 cm. Dalam posisi kaki diikat dengan masing-masing kaki teman di sebelah kiri dan kanan, dalam tempo maksimal 1 menit kelompok yang berjumlah 8 orang itu harus sudah tiba di tujuan. Tidak semua kelompok berhasil, tapi ada yang berhasil. Lalu apa strategi kelompok yang berhasil? Mereka mempelajari situasi, mengatur strategi dan segera berlatih sedapat mungkin selama waktu masih ada. Pada saat bermain, Pemimpin berdiri paling depan dan memberikan aba-aba langkah demi langkah dengan suara nyaring untuk memotivasi dan mengarahkan pada tujuan. Mereka berpelukkan bahu satu dengan yang lain supaya bisa mengatur langkah dengan baik dan tidak jatuh. Alhasil, tibalah mereka dengan selamat dan cepat seluruh tim sampai tujuan dan berteriak penuh kegembiraan. Ini hanya permainan, tapi menginspirasikan bahwa kurang lebih seperti itulah kita menjalankan sebuah kegiatan atau bisnis atau masa depan.

Goal Setting yang SMART
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan atau goal setting ada empat macam mekanisme yang akan memotivasi tim sampai pada tujuan yakni : (a) harus mampu mengarahkan perhatian; (b) mengatur upaya dan sumber daya; (c) meningkatkan persistensi; dan (d) menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Ada berbagai pendekatan untuk mencapai tujuan, tetapi disini akan dibahas sebuah pendekatan yang sederhana tapi cukup ampuh bila dilaksanakan dengan baik, yaitu pendekatan yang sering disingkat dengan akronim SMART.

1. Specific
Penetapan tujuan harus specific sesuai dengan apa yang ingin dicapai. Padanan katanya adalah Significant,[Stretching, Simple. Artinya dalam menuangkan objective yang akan dicapai harus tergambar jelas dan mudah dipahami tentang apa yang akan dicapai bersama, seperti diilustrasikan oleh permainan holahoop di atas. Sebagai contoh sebuah department store menetapkan untuk meningkatkan sales volume melalui kunjungan customer sebesar 10% dari total sales per bulan.

2. Measurable
Tujuan yang akan kita capai harus terukur, yang paling mudah adalah depat diukur secara kuantitatif baikdalam jumlah (volume) atau rupiah (cost). Padanan kata untuk membantu pengertian adalah Meaningful, Manageable.Sebagai contoh untuk mencapai peningkatan sales volume, jelas akan ditargetkan sebesar 10%, ini dapat diukur dari rata-rata kunjungan customer per hari dan jumlah rupiah yang dibelanjakan. Dapat juga dibandingkan nantinya antara biaya yang dikeluarkan untuk promosi dalam rangka menarik customer datang dan total kenaikan sales yang terjadi.

3. Achievable
Apakah tujuan yang dicanangkan dapat dicapai? Artinya memungkinkan atau tidak untuk diraih dengan kondisi yang dihadapi. Padanan katanya adalah Appropriate, Agreed,Assignable,Action-oriented,Ambitious, Aligned. Untuk contoh di atas maka hal ini dapat dicapai karena berdasarkan hasil survey masih ada potential market, beberapa jenis produk masih bisa diturunkan harganya, dan lokasi store memang cukup strategis dan dilingkungan bussiness area.

4. Realistic
Dapatkah tujuan dicapai dengan sumber daya yang dimiliki? Padanan katanya adalah Relevant, Results-oriented,Rewarding. Artinya dengan kapasitas yang ada baik sumber daya manusia, system, aset, finance mampu didayagunakan untuk mencapai goal tersebut?

5. Time
Kapan tujuan ini direalisasikan dan kapan ditargetkan untuk tercapai? Padanan katanya adalah Time-oriented, Time framed,Timely,Timetabled, Time limited, Trackable. Harus ditetapkan kapan dimuali dan kapan berakhir baik pekerjaan secara keseluruhan maupun breakdownnya ke dalam sub aktivitas. Untuk proyek di atas misalnya akan dilakukan dalam bulan Agustus-September dimana akan terjadi peningkatan pembelian menjelang Lebaran.

Formula tujuan dalam SMART ini hendaknya dikomunikasikan tidak hanya pada level manajemen tetapi sampai pada seluruh karyawan atau anggota organisasi bagi organisasi non profit motive.

“If you fail to plan, you plan to fail...”

Winston Churchill, si ahli strategi dalam Perang Dunia II memiliki sebuah perkataan yang sangat terkenal dan diacu oleh banyak orang yaitu "He who fails to plan is planning to fail". Memang benar, pekerjaan atau cita-cita atau visi sehebat apapun kalau tidak dipersiapkan dengan perencanaan yang matang akan gagal, minimal tidak tercapai target dan keadaan buruknya adalah gagal atau bangkrut.

Seringkali orang atau organisasi lalai dalam hal ini karena merasa terlalu membuang waktu untuk duduk diam menganalisa dan berdiskusi. Tahap ini memang sering diwarnai dengan adu argumentasi, memerlukan data-data penunjang, hasih survei, historical performance organisasi dan sebagainya. Nampaknya rumit dan membuang waktu, tetapi apabila tidak dilakukan akan menhadapi yang lebih rumit lagi dan perlu waktu yang jauh lebih lama untuk mengatasinya.

Jadi, rencanakanlah usaha atau kegiatan bisnis anda dengan baik, ketika anda tidak merencanakannya maka sebenarnya anda sedang menapaki kegagalan.

--
If You Fail to Plan, You Plan to Fail
Minggu, 08 Agustus 2010 10:00 WIB
Oleh: Emy Trimahanani

(vibizmanagement - Strategic) - Ilmu manajemen mengajarkan kepada kita salah satu cara mengelola suatu aktivitas atau bisnis dengan baik adalah dengan melakukan perencanaan yang baik. Sebuah rencana yang baik harus mengacu pada tujuan atau objective yang jelas dan tahapan-tahapan pelaksanaan yang jelas, atau yang secara sederhana kita sebut sebagai goal setting.

Dalam sebuah games yang biasa dipakai untuk menghidupkan suasana pelatihan, ada sebuah permainan kelompok dimana satu kelompok harus dapat menuju ke sebuah tujuan dengan melewati lima buah lingkaran (hollahoop) yang masing-masing berjarak sekitar 30 cm. Dalam posisi kaki diikat dengan masing-masing kaki teman di sebelah kiri dan kanan, dalam tempo maksimal 1 menit kelompok yang berjumlah 8 orang itu harus sudah tiba di tujuan. Tidak semua kelompok berhasil, tapi ada yang berhasil. Lalu apa strategi kelompok yang berhasil? Mereka mempelajari situasi, mengatur strategi dan segera berlatih sedapat mungkin selama waktu masih ada. Pada saat bermain, Pemimpin berdiri paling depan dan memberikan aba-aba langkah demi langkah dengan suara nyaring untuk memotivasi dan mengarahkan pada tujuan. Mereka berpelukkan bahu satu dengan yang lain supaya bisa mengatur langkah dengan baik dan tidak jatuh. Alhasil, tibalah mereka dengan selamat dan cepat seluruh tim sampai tujuan dan berteriak penuh kegembiraan. Ini hanya permainan, tapi menginspirasikan bahwa kurang lebih seperti itulah kita menjalankan sebuah kegiatan atau bisnis atau masa depan.

Goal Setting yang SMART
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan atau goal setting ada empat macam mekanisme yang akan memotivasi tim sampai pada tujuan yakni : (a) harus mampu mengarahkan perhatian; (b) mengatur upaya dan sumber daya; (c) meningkatkan persistensi; dan (d) menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Ada berbagai pendekatan untuk mencapai tujuan, tetapi disini akan dibahas sebuah pendekatan yang sederhana tapi cukup ampuh bila dilaksanakan dengan baik, yaitu pendekatan yang sering disingkat dengan akronim SMART.

1. Specific
Penetapan tujuan harus specific sesuai dengan apa yang ingin dicapai. Padanan katanya adalah Significant,[Stretching, Simple. Artinya dalam menuangkan objective yang akan dicapai harus tergambar jelas dan mudah dipahami tentang apa yang akan dicapai bersama, seperti diilustrasikan oleh permainan holahoop di atas. Sebagai contoh sebuah department store menetapkan untuk meningkatkan sales volume melalui kunjungan customer sebesar 10% dari total sales per bulan.

2. Measurable
Tujuan yang akan kita capai harus terukur, yang paling mudah adalah depat diukur secara kuantitatif baikdalam jumlah (volume) atau rupiah (cost). Padanan kata untuk membantu pengertian adalah Meaningful, Manageable.Sebagai contoh untuk mencapai peningkatan sales volume, jelas akan ditargetkan sebesar 10%, ini dapat diukur dari rata-rata kunjungan customer per hari dan jumlah rupiah yang dibelanjakan. Dapat juga dibandingkan nantinya antara biaya yang dikeluarkan untuk promosi dalam rangka menarik customer datang dan total kenaikan sales yang terjadi.

3. Achievable
Apakah tujuan yang dicanangkan dapat dicapai? Artinya memungkinkan atau tidak untuk diraih dengan kondisi yang dihadapi. Padanan katanya adalah Appropriate, Agreed,Assignable,Action-oriented,Ambitious, Aligned. Untuk contoh di atas maka hal ini dapat dicapai karena berdasarkan hasil survey masih ada potential market, beberapa jenis produk masih bisa diturunkan harganya, dan lokasi store memang cukup strategis dan dilingkungan bussiness area.

4. Realistic
Dapatkah tujuan dicapai dengan sumber daya yang dimiliki? Padanan katanya adalah Relevant, Results-oriented,Rewarding. Artinya dengan kapasitas yang ada baik sumber daya manusia, system, aset, finance mampu didayagunakan untuk mencapai goal tersebut?

5. Time
Kapan tujuan ini direalisasikan dan kapan ditargetkan untuk tercapai? Padanan katanya adalah Time-oriented, Time framed,Timely,Timetabled, Time limited, Trackable. Harus ditetapkan kapan dimuali dan kapan berakhir baik pekerjaan secara keseluruhan maupun breakdownnya ke dalam sub aktivitas. Untuk proyek di atas misalnya akan dilakukan dalam bulan Agustus-September dimana akan terjadi peningkatan pembelian menjelang Lebaran.

Formula tujuan dalam SMART ini hendaknya dikomunikasikan tidak hanya pada level manajemen tetapi sampai pada seluruh karyawan atau anggota organisasi bagi organisasi non profit motive.

“If you fail to plan, you plan to fail...”

Winston Churchill, si ahli strategi dalam Perang Dunia II memiliki sebuah perkataan yang sangat terkenal dan diacu oleh banyak orang yaitu "He who fails to plan is planning to fail". Memang benar, pekerjaan atau cita-cita atau visi sehebat apapun kalau tidak dipersiapkan dengan perencanaan yang matang akan gagal, minimal tidak tercapai target dan keadaan buruknya adalah gagal atau bangkrut.

Seringkali orang atau organisasi lalai dalam hal ini karena merasa terlalu membuang waktu untuk duduk diam menganalisa dan berdiskusi. Tahap ini memang sering diwarnai dengan adu argumentasi, memerlukan data-data penunjang, hasih survei, historical performance organisasi dan sebagainya. Nampaknya rumit dan membuang waktu, tetapi apabila tidak dilakukan akan menhadapi yang lebih rumit lagi dan perlu waktu yang jauh lebih lama untuk mengatasinya.

Jadi, rencanakanlah usaha atau kegiatan bisnis anda dengan baik, ketika anda tidak merencanakannya maka sebenarnya anda sedang menapaki kegagalan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar