Jumat, 06 Agustus 2010

proses redenominasi


Jakarta, Bank Indonesia (BI) memperkirakan proses redenominasi akan membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Tahapan pertama yang dilakukan bank sentral yakni sosialisasi yang dimulai dari tahun 2011 dan tuntas selesai di 2022.

Demikian disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia terpilih Darmin Nasution dalam konferensi persnya di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (3/8/2010).

"Redenominasi adalah proses penyederhanaan penyebutan satuan harga dan nilai. Rencananya dibutuhkan waktu 10 tahun," jelas Darmin.

Ia memaparkan, redenominasi akan dimulai pada tahun 2011 dimana pada tahap pertama dilakukan tahapan sosialisasi sampai dengan tahun 2012.

"Kemudian dilakukan redenominasi tersebut pada 2013 yang merupakan masa transisi sampai 2015," katanya.

Pada masa transisi Darmin menjelaskan akan digunakan dua penilaian atau dua kuotasi yang tertuang dalam undang-undang.

Misalnya, lanjut Darmin, di toko-toko yang menjual sebuah barang akan tercatat 2 label harga. Yakni dengan rupiah lama dan dengan rupiah baru. Jika nol-nya disederhanakan 3 digit, lanjut Darmin, kalau harga barangnya Rp 10.000 maka akan dibuat dua label yakni Rp 10.000 untuk rupiah lama dan Rp 10 untuk rupiah baru.

"Pada masa transisi tersebut maka akan berlaku kedua-duanya rupiah baru dan rupiah lama. Masyarakat boleh bebas memilih," tutur Darmin.

"Misalkan lagi kalau beli sepatu harga Rp 300.000 maka kita bisa bayar pakai uang rupiah baru Rp 300 atau tetap rupiah lama Rp 300.000. Nanti pun uang rupiah baru akan dicetak atau dicap bertandakan rupiah baru," imbuh Darmin.

"Masa transisi ini dilakukan selama 3 tahun dari 2013 sampai 2015.

Setelah masa transisi dilakukan, Darmin kemudian menjelaskan pada tahun 2016-2018 dilakukan penarikan uang rupiah lama sampai habis.

"Dan pada 2019 sampai 2022 tulisan cap 'baru' pada uang rupiah baru akab dihapus dan nilai rupiah akan semakin tinggi nilainya," tukasnya.

Buat yang takut dari jutawan turun pangkat jadi ribuwan,
Redenominasi tdk sama dengan Sanering.

Redenominasi dilakukan disaat kondisi keuangan tergolong
stabil, sedangkan Sanering dilakukan saat kondisi keuangan
tidak stabil.

Redenominasi : penyederhanaan angka dalam mata uang, spt yg dilakukan Turki (6 digit) dan Rumania. Tanpa pemotongan Nilai Mata Uang.

Sanering : Pemotongan Nilai Mata Uang.

Dengan Redenominasi Rupiah, nantinya akan diterbitkan pecahan sen.

Redenominasi akan diberlakukan tahun 2013, dimasa transisi
nanti akan ada mata uang rupiah lama dan baru, barang2 pun
juga akan dibuat 2 label (label rupiah lama dan label rupiah
baru), sampai akhirnya rupiah lama ditarik seluruhnya dari peredaran.

Info : RCTI 3 Agustus 10 Jam 17.15

Semoga bermanfaat!

--

Rupiah Sekarang Masuk 10 Mata Uang Sampah
Kamis, 05 Agustus 2010 | 11:15 WIB
Besar Kecil Normal
foto

TEMPO/Dinul Mubarok

TEMPO Interaktif, Jakarta - Mata uang rupiah termasuk 10 alat tukar di dunia yang tak berharga. Saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencapai Rp 9.000 an. Seperti tidak bernilai bila dibandingkan dengan mata uang kawasan seperti ringgit sebesar 3,16 per dolar, Bath Thailand 32,205 per dolar, peso Philipina 45,115 per dolar, serta dolar Singapura hanya 1,351 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Farial Anwar mengatakan nilai tukar rupiah yang mencapai 9.000 per dolar Amerika ini sama seperti nilai tukar negara miskin di benua Afrika. “Sehingga mata uang rupiah ini masuk dalam 10 uang sampah (garbage money) karena sudah sangat tidak bernilai,” paparnya kepada Tempo.

Dengan adanya redenominasi dari Rp 1.000 menjadi Rp 1, maka nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika nantinya akan setara dengan Rp 8,9 dibandingkan dengan sekarang Rp 8.900. Transaksi pun, kata dia, akan menjadi lebih efisien.

Banyangkan menghitung Anggaran Belanja Negara yang mencapai Rp 910. 000.000.000.000 (15 dijit) pakai kalkulator, para anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Senayan tidak bisa menghitung pakai kalkulator karena digit angka di kalkulator cuma sampai 12, kadang cuma 9.

Untuk membeli mobilpun nantinya juga hanya butuh beberapa lembar tidak seperti sekarang bertumpuk-tumpuk uang. Biaya operasional moneter juga akan lebih murah karena nantinya untuk mencetak uang tidak akan sebanyak sekarang. Uang yang beredar juga tidak akan sebanyak sekarang “Jadi intinya akan lebih efisien,” ujarnya.

Inilah daftar mata uang tak laku itu dibanding dolar Amerika Serikat:

1 Vietnam Dong 19.095 per dolar
2 Sao Tome and Príncipe Dobra 18.655 per dolar
3 Turkmenistan * Manat 14.250 per dolar
4 Iran Rial 10.000 per dolar
5 Indonesia Rupiah 8.957 per dolar
6 Laos Kip 8.243 per dolar
7 Guinea Franc 5.150 per dolar
8 Paraguay Guarani 4.770 per dolar
9 Zambia Kwacha 4.870 per dolar
10 Cambodia Riel 4.233 per dolar

--

Bankir Nilai Redenominasi Permudah Perhitungan Mata Uang
Kamis, 05 Agustus 2010 | 15:11 WIB
Besar Kecil Normal
foto

TEMPO/Adri Irianto

TEMPO Interaktif, Jakarta -- Senior Vice President Bank DBS Indonesia Budiyanto Winata mengaku senang dengan ide redenominasi yang digulirkan Bank Indonesia karena dapat mempermudah perhitungan. Walau harus menanggung biaya untuk penyesuaian sistem informasi teknologi (IT) perbankan, penyederhanaan rupiah akan membuat sistem akuntansi perbankan jadi lebih mudah.

"Jika diredenominasi maka perhitungan perbankan akan jadi lebih mudah, angka nol jadi lebih sedikit," ujar Budiyanto kepada sejumlah wartawan di Jakarta Theatre, Kamis (5/8).

Dia memastikan tak akan terjadi pengurangan nilai uang atau sanering sebagaimana yang pernah terjadi pada tahun 1965. Namun dia meminta pemerintah mengantisipasi faktor psikologis masyarakat akibat kebijakan redenominasi. Tanpa informasi yang memadai, masyarakat bisa saja menjadi bingung. "Masyarakat harus mendapat penjelasan yang baik agar faktor psikologis bisa ditekan sekecil mungkin. Redenominasi kan bukan sanering seperti tahun 1965."

Implikasi penyederhanaan kepada lembaga perbankan adalah harus diperbaruinya sistem informasi teknologi bank. Apalagi dalam usulan BI menyebutkan akan ada masa peralihan. Pada masa peralihan itu mata uang lama dan baru akan beredar di masyarakat secara bersamaan. "Penyesuaian sistem IT memang harus dilakukan, namun itu akan kita tanggung," kata dia.

Lebih jauh, penyederhanaan akan membuat dirinya lebih mudah membawa uang. "Dompet saya jadi lebih tipis," kata dia.


--

Profesi Akuntan Sambut Baik Rencana Redenominasi
Kamis, 05 Agustus 2010 | 15:08 WIB
Besar Kecil Normal
foto

TEMPO/Dinul Mubarok

TEMPO Interaktif, Denpasar--Ketua Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Binsar H Simanjuntak menyatakan, sistem akuntansi tidak terpengaruh karena pada dasarnya hanya memotret proses transaksi keuangan. "Kami ini hanya mencatat saja, mau berapa digit pun tidak masalah asal memotretnya benar," ujarnya di sela-sela Pertemuan ASEAN untuk Standarisasi Keuangan Pemerintahan di Kuta, Bali, Kamis (5/8).

Menurutnya, dengan perencanaan penerapan redenominasi yang masih cukup lama, kalangan akuntan masih memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari rencana itu. Kalangan profesi akuntan tidak khawatir dengan rencana dilakukannya redenominasi. Yang perlu diwaspadai hanyalah efek pada masa transisi terhadap laporan keuangan agar tetap sesuai dengan standar akuntasi.

Sementara itu, Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Kementrian Keuangan Sonny Loho mengatakan masalah redenominasi akan signifikan dengan kepentingan akuntansi dari segi tehnis pelaporan keuangan. Dengan jumlah digit yang yang lebih sedikit, menurutnya, pelaporan akan menjadi lebih sederhana karena angkanya tidak terlalu banyak. Saat ini, laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, misalnya, sudah lebih dari 1.000 triliun sementara neracanya mencapai lebih dari 2.100.022 triliun.

Namun, dia mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap masa transisi di mana rencananya masih akan diterapkan 2 harga sehingga harus ada kesepakatan dinatar para pengelola akuntansi. Masalah lainnya adalah dalam mengkonversi nilai mata uang asing ke dalam rupiah. "Ini harus jelas aturannya untuk menghindari nilai yang berbeda pada barang yang sama," ujarnya.

Para akuntan, menurutnya, masih menunggu detail penjelasan dari otoritas keuangan sebelum memberikan tanggapan dan penilaian. Namun, kata Sonny, akuntansi adalah proses yang dinamis yang bisa menyesuaikan dengan perubahan kondisi di lingkungannya. "Komitmen kita adalah pada proses yang tepat dan transparan," tegasnya.


--

I Sosialisasikan Penyederhanaan Rupiah Awal Tahun Depan
Kamis, 05 Agustus 2010 | 14:21 WIB
Besar Kecil Normal
foto

TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO Interaktif, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan pihaknya akan mulai melakukan sosialiasi penyederhanaan mata uang awal tahun depan. "Awal tahun depan mulai sosialisasi secara menyeluruh," katanya disela Rapat Kerja Nasional, Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (05/08).

Secara garis besar, kata Darmin, studi penyederhanaan mata uang telah selesai. Pihaknya hanya tinggal menunggu studi cara sosialisasi ke masyarakat serta studi sistem informasi perbankan yang akan akibat penyederhanaan mata uang ini.

Studi sosialisasi tersebut diperkirakan paling lambat selesai awal tahun ini. Selain itu pihaknya juga akan membicarakan hal ini dengan pemerintah dan parlemen. Ia juga berharap penyederhanaan mata uang bisa dimasukkan dalam Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Mata Uang.

Darmin memastikan sosialisasi penyederhanaan mata uang tak akan menelan biaya besar. Sebab, kata Darmin, pihaknya mengandalkan Kantor Bank Indonesia di daerah untuk melakukan sosialisasi.

Adapun mengenai biaya percetakan uang juga tak membutuhkan biaya besar. "Sebenarnya tak menambah banyak biaya karena setiap tahun BI menarik uang lusuh dan rusak dan diganti dengan uang rupiah baru," katanya.

--

Redenominasi Telah Lama Direncanakan
Kamis, 05 Agustus 2010 | 12:00 WIB
Besar Kecil Normal
foto

TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO Interaktif, Jakarta --Pengamat pasar uang Farial Anwar mengatakan wacana Bank Indonesia melakukan redenominasi mata uang rupiah telah lama direncanakan. Menurut Farial, dirinya pernah diundang untuk oleh BI untuk mendiskusikan masalah ini setahun yang lalu.

Karena itu, kata dia, menjadi aneh kalau para pejabat pemerintah mengaku tidak tahu menahu tentang rencana ini, termasuk Wakil Presiden Boediono. “Masalahnya mungkin Pak Darmin Nasution kurang berkoordinasi untuk meluncukan wacana ini, sehingga para pejabat Pemerintah pada bilang tidak tahu,” tuturnya kepada Tempo.

Ia menilai redenominasi sebagai hal positif. Dengan adanya redenominasi dari Rp 1.000 menjadi Rp 1, maka nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat nantinya akan setara dengan Rp 8,9 dibandingkan dengan sekarang Rp 8.900. “Nantinya transakasi akan lebih efisien,” kata Farial.

Sekarang, dengan digit angka yang banyak, bahkan anggota Dewan PerwakilanRakyat pun kesulitasn menghitung Anggaran Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp 910. 000.000.000.000 (15 dijit). Untuk menggunakan kalkulatorpun sulit karena digit angkanya kebanyakan hanya sampai 12 angka bahkan cuma 9 angka.

Namun, untuk menuju ke sana bank sentral butuh sosialisasi yang lama karena beragamnya pendidikan rakyat Indonesia, serta lokasi yang tersebar diribuan pulau dari sabang sampai Merauke. Sehingga dibutuhkan upaya edukasi yang sangat luar biasa agar tidak menimbulkan gejolak.

Pengaruh lainnya, berbagai kontrak-kontrak bisnis yang memakai nominal uang lama juga akan mengalami perubahan karena bila utang di kontrak lama nilainya Rp 1 triliun, nantinya hanya akan menjadi Rp 1 miliar.


--

Dolar AS Menguat, Rupiah Kembali Layu
Kamis, 05 Agustus 2010 | 09:35 WIB
Besar Kecil Normal
foto

TEMPO/Dinul Mubarok

TEMPO Interaktif, Jakarta - Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga patokannya ditengah tingginya laju inflasi membuat rupiah sedikit melemah.

Jakarta--Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga patokannya ditengah tingginya laju inflasi membuat rupiah sedikit melemah. Inflasi tahun kalender yang sudah mencapai 4,02 persen serta inflasi tahunan (year on year) yang mencapai 6,22 persen membuat investor menginginkan kenaikan suku bunga. Namun bank sentral tetap mempertahankan suku bunga BI Rate di 6,5 persen.

Terapresiasinya dolar terhadap mata uang utama dunia karena positifnya data ekonomi Amerika Serikat (AS)yang dirilis semalam membuat mata uang kawasan Asia pagi ini melemah dan tidak terkecuali dengan rupiah.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang rival utamanya naik 0,31 (0,38 persen) ke 80,94. Mata uang euro turun 0,1 persen menjadi US$ 1,3148, franc Swiss turun 0,09 persen menjadi 1,0541 per dolar AS, sedangkan yen Jepang menguat 0,13 persen menjadi 86,155 per dolar AS.

Pada pukul 9:25 WIB, nilai tukar rupiah kembali melemah 11 poin (0,12 persen) ke level 8.961 per dolar AS dibandingkan penutupan Rabu kemarin di 8.950.

Mata uang kawasan juga terlihat melemah. Dolar Singapura melemah 0,15 persen menjadi 1,3543 per dolar AS, dolar Taiwan turun 0,1 persen ke level 31,834, won Korea Selatan melemah 0,06 persen ke posisi 1.169,175, peso Philipina turun 0,04 persen menjadi 45,25, ringgit Malaysia melemah 0,07 persen ke 3,1698, serta yuan Cina juga merosot 0,03 persen menjadi 6,7759 per dolar AS.

Pada transaksi kemarin nilai tukar rupiah ditutup melemah 10 poin ke level 8.950 per dolar AS mengikuti terdepresiasinya mata uang kawasan Asia lainnya.

“Sedangkan indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil naik 0,32 persen ke 2.983,25 setelah BI mempertahankan suku bunga ditengah tingginya ancaman inflasi,” ujar analis ekonomi dari PT Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih.

Harga minyak yang sedikit turun ke US$ 82,47 per barel menurut Lana kurang menguntungkan bagi perdagangan pasar finansial Asia hari ini. “Tetapi pasar domestik mungkin tidak, karena BI Rate yang tetap bertahan di 6,5 persen bisa kembali memacu bursa saham dan mata uang lokal,” paparnya.

Hari ini rupiah akan ditransaksikan akan cenderung menguat ke kisaran 8.940 hingga 8.945 per dolar AS.

--

Waspadai Tipu-tipu Kartu Kredit Gaya Baru
Herdaru Purnomo - detikFinance

Jakarta - Apakah anda menggunakan Kartu Kredit? Mungkin saat ini anda harus lebih waspada dalam menggunakannya. Pasalnya, walaupun telah menggunakan chip, kini ada modus penipuan baru yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab.

Ketua Tim Mediasi Perbankan Bank Indonesia, Sondang Samosir mengungkapkan modus yang dilakukan cukup canggih.

"Layaknya sebuah customer care sebuah bank, oknum tersebut awalnya meminta nasabah untuk melakukan up-grade limit. Siapa yang tidak mau?," jelas Sondang.

Sondang menyampaikan hal tersebut disela Forum Edukasi Nasabah Kartu Kredit Mandiri di Plaza Bapindo, Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (21/07/2010).

Ia melanjutkan pastinya sebagai nasabah akan tergiur oleh godaan si oknum tersebut yang akan menambah jumlah limit kartu kredit.

"Apalagi misalnya kartu kredit kita dari silver ditingkatkan menjadi gold," katanya.

Kemudian, lanjut Sondang, nasabah yang tertarik menambah limitnya tadi dan meng-upgrade kartunya diminta untuk menyamakan data-data pribadi.

"Biasanya diminta berapa tanggal lahir dan sebagainya," jelas Sondang.

"Nanti, customer bohongan itu mengatakan akan ada sebuah kurir yang akan mengambil kartu kredit lama untuk di tukar," imbuh Sondang.

Menurut Sondang, ketika kurir datang menjemput maka disinilah nasabah akan tertipu karena kartu kredit tersebut selanjutnya akan disalahgunakan.

"Kurir bisa menyalahgunakan kartu kredit dengan sepuasnya sampai limit kartu kredit nasabah itu habis," jelasnya.

Menurutnya, semua modus tersebut sangat tersusun rapih. Sehingga saat ini diperlukan nasabah yang smart. "Intinya jika kartu sudah tidak ingin dipakai atau sebelum mengembalikan kita harus menggunting terlebih dahulu," katanya.

Hal itu dilakukan agar nantinya kartu kredit yang akan diganti tidak lagi bisa dipakai apalagi disalahgunakan.

--

Kalau US$ 1 Capai Rp 9.000, RI Seperti Negara Antah Berantah
Whery Enggo Prayogi - detikFinance

Jakarta - Rencana redenominasi yang akan dilakukan Bank Indonesia (BI) terus mendapat dukungan. Redenominasi dinilai sebagai kebijakan bagus, yang bisa menaikkan penilaian asing terhadap Indonesia.

Demikian disampaikan oleh Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) Fuad Rahmany ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (6/8/2010).

"Kalau US$ 1 sama dengan Rp 9.000 kesannya Indonesia negara antah berantah, tapi kalau US$ 1 sama dengan Rp 9 kesannya kita negara maju, dan secara psikologis itu bagus untuk investor asing. Bagus sekali," tuturnya.

Selain itu, lanjut Fuad, penghilangan nol dalam mata uang akan memudahkan perhitungan akuntansi dan itu bagus sekali.

"Itu udh bagus, untuk teknologi zaman sekarang menghilangkan tiga angka nol apa susahnya. Dan lebih mudah ngurus di komputer. Untuk di pasar modal tidak ada pengaruhnya, hanya sosialisasi," ujarnya.

Seperti diketahui, BI akan melakukan redenominasi rupiah karena uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.

BI akan mulai melakukan sosialisasi redenominasi hingga 2012 dan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru. BI menargetkan pada tahun 2022 proses redenominasi sudah tuntas.

--

Nominal Terlalu Besar, Rupiah Sering Jadi Bahan Celaan
Wahyu Daniel - detikFinance

Jakarta - Nominal rupiah yang terlalu besar bahkan hingga ada uang kertas pecahan Rp 100.000, membuat mata uang kebanggaan Indonesia tersebut seringkali menjadi bahan ledekan di mata internasional.

Demikian disampaikan oleh Pengamat Pasar Uang Farial Anwar kepada detikFinance, Kamis (6/8/2010).

"Mata uang kita termasuk mata 'uang sampah'. Waktu di sebuah pertemuan di Singapura, ada orang Malaysia yang meledek. Dia berkata, di Indonesia jika kita belanja kita bisa punya uang ribuan di kantong. Mereka membicarakan itu sambil tertawa meledek," ujar Farial.

Nominal rupiah yang besar menurut Farial membuat rupiah dipandang sebelah mata oleh asing. Bank Indonesia (BI), lanjut Farial, juga merasa harus meningkatkan citra dan gengsi mata uangnya di dunia internasional.

Menurut Farial, rupiah menjadi merupakan salah satu mata uang 'sampah' atau garbage money karena masuk dalam 10 mata uang dengan nilai terendah di dunia jika dibandingkan dengan dolar AS. Karena itu kebutuhan redenominasi sangat penting dan nyata diperlukan.

Seperti diketahui, BI akan melakukan redenominasi rupiah karena uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.

BI akan mulai melakukan sosialisasi redenominasi hingga 2012 dan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru. BI menargetkan pada tahun 2022 proses redenominasi sudah tuntas.

--

BI Sudah Rencanakan Redenominasi Rupiah Sejak Tahun 2009
Wahyu Daniel - detikFinance

Jakarta - Bank Indonesia rupanya sudah merencanakan redenominasi rupiah sejak tahun 2009 lalu sehingga sudah banyak yang tahu soal rencana itu. Jika pemerintah kemudian mengaku tidak tahu menahu soal rencana redenominasi rupiah itu, maka itu berarti kepura-puraan belaka.

Demikian disampaikan oleh Pengamat Pasar Uang Farial Anwar kepada detikFinance, Jumat (6/8/2010).

"Saya saja yang orang biasa sudah mendengar soal rencana redenominasi ini sejak sebelum Ramadhan tahun lalu. Jadi ini bukan rencana yang tiba-tiba. BI sudah melakukan riset sebalum melontarkan wacana tersebut. Jadi bohong kalau pemerintah tidak tahu," tegasnya.

Farial mengatakan, BI membutuhkan kerjasama dan dukungan dari pemerintah untuk melakukan sosialisasi rencana redenominasi ini.

"Memalukan kalau sampai Menteri Keuangan tidak tahu dan hanya cari selamat. Pemerintah harus dukung. Harusnya tidak seperti itu, harus ada back up dari pemerintah. Saya prihatin dengan sikap pemerintah yang seperti itu," ujar Farial.

Dalam kesempatan itu, Farial pun memberikan masukannya untuk pelaksanaan redenominasi tersebut. Menurutnya, harus dipersiapkan mata uang baru untuk pelaksanaan awal redenominasi ini. Namun mata uang lama tetap masih berlaku.

"Harus dilakukan edukasi terus-menerus kepada masyarakat agar tidak muncul kepanikan. Redenominasi ini harus terus dilakukan karena nominal rupiah sudah terlalu besar. Kalau tidak dilakukan, saya tidak tahu akan sebesar apa nominal rupiah nanti," tukasnya.

Seperti diketahui, BI akan melakukan redenominasi rupiah karena uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.

BI akan mulai melakukan sosialisasi redenominasi hingga 2012 dan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru. Redenominasi diharapkan bisa tuntas pada tahun 2022.

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar