Selasa, 10 Agustus 2010

Keuangan yang Didasarkan pada Allah


Keuangan yang Didasarkan pada Allah
MONDAY, 26 JULY 2010
Total View : 481 times

Seorang pria yang pernah menyampaikan keadaan finansialnya, pernah mengatakan kisah sukses. Dia membuka kalimatnya dengan, “Anda berada dalam keadaan Anda sekarang ini di hidup Anda semuanya karena keputusan-keputusan yang sudah Anda buat. Tingkat kesuksesan yang sudah Anda capai ditentukan oleh setiap keputusan dan tindakan yang Anda ambil sehingga Anda berada di tahap kehidupan seperti sekarang ini.”

Pembicara tersebut mengatakan, tidak ada seorang pun yang akan sukses jika mereka tidak lebih dulu menerima tanggung jawab yang ada dalam keadaan mereka saat itu. Tentunya pernyataan seperti ini sangat mudah untuk dikatakan tapi begitu berat untuk dilakukan. Kita mungkin berpikir, apakah perkataannya itu benar? Apakah kita benar-benar menjadi ‘kapten’ atas hidup kita? Terus, bagaimana peran Allah dalam hal ini?

Mari sekarang kita duduk diam sejenak dan mulai membuat list apa saja keputusan yang sudah kita ambil sehingga kita mengalami keuangan yang seperti sekarang ini kita hadapi.

Kita mungkin saja sudah banyak mengikuti kelas-kelas keuangan, ‘Bagaimana Menjadi Kaya dalam Sekejap?’, ‘Mendirikan Usaha Tanpa Modal’, ‘Atur Keuangan Sedini Mungkin’, ‘Hidup Kaya di Hari Tua’, dan lain sebagainya, tapi tetap saja keuangan kita saat ini pasang surut. Pasang saat di tanggal muda dan langsung surut di saat sudah memasuki tanggal tua.

Kita mungkin mengalami kesulitan keuangan karena rekan kerja kita, pasangan hidup, keadaan ekonomi negara ataupun keadaan alam, masalah kesehatan yang memerlukan banyak uang, masalah lainnya yang tidak ada dalam kuasa kita tapi terjadi dalam hidup kita.

Bagaimana kita menghadapi kenyataan bahwa apapun yang kita lakukan atau apapun rencana yang telah kita susun, hasilnya akan berantakan karena kita tidak bisa mengontrol apa yang terjadi.

Roma 8:28 mengatakan, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Apapun alasan yang membuat keuangan kita merosot, Tuhan sudah memberikan kita penawaran yang baru. Dia berjanji kepada mereka yang mencintai-Nya untuk memberikan hadiah yang luar biasa. Hadiah tersebut adalah hari baru, hari yang sudah diperbaharui, dan Dia akan menjadikan kejadian buruk dalam hidup kita dan menciptakan sesuatu yang bahkan lebih baik dari apa yang bisa kita harapkan untuk rencana sukses kita.

Apa yang terkadang tidak kita sadari adalah kita tidak memegang kontrol penuh atas hidup kita. Hal inilah yang menjadi faktor utama dalam kegagalan kita. Kita merasa setiap hal sudah ada di tangan kita dan kita pasti berhasil sehingga kita tidak menyerahkan tanggung jawab pada Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita, menyediakan kebutuhan kita. Kita harus dapat menerima setiap kegagalan dan menyerahkannya kepada Bapa kita di surga. Yakinlah bahwa Dia menyediakan semua ketenangan, keamanan, dan keberhasilan kepada orang yang percaya pada-Nya dan yang mengasihi Dia dengan sungguh-sungguh.

--

Asuransi Untuk Mereka Yang Single, Perlukah?
WEDNESDAY, 28 JULY 2010
Total View : 291 times

Asuransi, hal yang satu ini dulu menjadi momok bagi banyak orang. Namun seiring dengan tingkat kesadaran masyarakat, asuransi kini menjadi bisnis yang sedang bertumbuh dengan pesat di negeri ini.

Seperti namanya, asuransi yang merupakan perlindungan jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, pilihanpun harus lebih cermat. Bagi Anda yang single, asuransi jiwa yang biasanya untuk menjaga kelangsungan hidup keluarga yang ditinggalkan, maka yang satu ini mungkin belum Anda butuhkan. Namun jika Anda menjadi tulang punggung keluarga Anda, bisa dipertimbangkan juga.

Tapi dilain pihak yang sangat dibutuhkan adalah asuransi kesehatan mengingat sakit tidak pernah memilih-milih. Sebelum menentukan pilihan Anda dalam asuransi kesehatan, pastikan Anda telah mempelajari dengan jelas penyakit apa saja yang di tanggung oleh perusahaan asuransi dan amana yang tidak. Selain itu, mungkin Anda juga bisa mempertimbangkan asuransi untuk penyakit kritis. Dengan asuransi jenis ini, jika Anda terdiagnosa maka biaya kesehatan Anda akan teratasi.

Selain asuransi jiwa dan asuransi kesehatan, ada lagi yang namanya asuransi aset seperti asuransi mobil atau motor, asuransi rumah atau property dan juga asuransi untuk beberapa jenis barang penting sesuai dengan kebutuhan Anda.

Dalam memilih asuransi kesehatan, beberapa hal berikut yang perlu Anda pertimbangkan:

1. Reputasi perusahaan. Pastikan Anda memperhatikan hal yang satu ini, seperti apakah ada komplain dari pelanggan mereka, bagaimana proses pencairan dana, dan resiko-resiko lain yang mungkin terjadi.
2. Perlindungan yang ditawarkan. Jika Anda tidak jeli dalam memilih asuransi, seringkali Anda melewatkan proteksi apa saja yang diberikan. Hal ini perlu karena ketika Anda sakit, dan tidak ditanggung perusahaan asuransi maka Anda akan merasa dirugikan.
3. Kemudahan klaim. Jika Anda dipersulit dalam melakukan klaim, bukankah hal tersebut menyebalkan. Maka sebaiknya Anda memastikan perusahaan asuransi dimana Anda membeli asuransi kesehatan memberi kemudahan dan membantu kliennya semaksimal mungkin dalam melakukan klaim.

Jadi, sebagai single bukan berarti Anda tidak butuh asuransi. Namun menentukan jenis mana yang Anda butuhkan dan untuk tujuan apa, hal itulah yang perlu dicermati.

--
Mengenang C.K. Prahalad, Sang Top Thinker dalam Bisnis
Rabu, 28 April 2010 06:30 WIB
Oleh: Rinella Putri

(managementfile – Strategic) – 16 April 2010 lalu, dunia dikejutkan oleh berita meninggalnya salah satu guru manajemen dunia, yakni C.K. Prahalad akibat sakit pernafasan di usia yang ke-68. Beliau adalah seorang profesor di Universitas Michigan dan salah satu pemikir paling berpengaruh di dunia dalam hal corporate strategy. Kontribusi besarnya kepada dunia manajemen tentunya tidak akan terlupakan.

Profil Singkat
C.K. Prahalad dilahirkan di India pada tahun 1941. Setelah lulus sebagai sarjana jurusan Fisika dari Loyola College, Prahalad bekerja di Union Carbide. Setelah itu, ia melanjutkan S2 di Indian Institute of Management Ahmedabad, dan mengambil studi Doktoral di Harvard Business School. Setelah lulus dari Harvard, ia kembali ke India untuk mengajar, namun sesaat kemudian kembali ke Amerika Serikat. Di Stephen M. Ross School, Universitas Michigan, ia menjadi Profesor dalam bidang Corporate Strategy.

C.K. Prahalad semasa hidupnya menghasilkan beberapa karya dalam bidang corporate strategy, diantaranya artikel yang populer di Harvard Business Review, yakni The Core Competence (ditulis bersama Gary Hamel), juga sejumlah buku yang best-seller, diantaranya Competing for the Future (dengan Gary Hamel), The Future of Competition (dengan Venkat Ramaswamy) dan The Fortune at the Bottom of the Pyramid: Eradicating Poverty through Profits, dan The New Age of Innovation (dengan M.S. Khrisnan). Ia juga merupakan konsultan dari perusahaan-perusahaan ternama Forbes 500.

Prahalad sempat juga mendirikan perusahaan Praja, Inc. yang berbasis teknologi, dan bertujuan untuk memberikan akses informasi kepada masyarakat bawah. Namun, perusahaan ini gagal melewati bubble dotcom, mengalami kerugian dan akhirnya harus dijual kepada TIBCO pada tahun 2002. Selanjutnya, Prahalad fokus lagi sebagai konsultan strategi dan pengajar.

Buah Pemikiran Prahalad
Pemikirannya yang paling populer bahkan hingga saat ini adalah mengenai `core competence` yang dituliskannya bersama Gary Hamel dalam Harvard Business Review. Prahalad dan Hamel berpendapat bahwa sebuah perusahaan harus menemukan kelebihan utamanya dan menjadi tidak terkalahkan dalam area tersebut. Produk-produk yang dihasilkan harus berdasarkan pada core competence tersebut.

Prahalad dan Hamel juga yang memperkenalkan konsep “strategic intent”, terutama setelah melihat serbuan perusahaan Jepang di industri otomotif dan elektronik. Keduanya melihat bahwa berbeda dengan perusahaan AS yang fokusnya jangka pendek, perusahaan Jepang punya strategi jangka panjang, dengan intention (tujuan) yang jelas. Keduanya juga menjelaskan mengenai perspektif resource-based, dimana perusahaan-perusahaan mencapai tujuan jangka panjangnya dengan mengembangkan kapabilitas mereka. Contohnya adalah Canon, yang punya core competence dalam Optik. Dengan mengejar tujuan jangka panjang dan mengembangkan kapabilitasnya, perusahaan-perusahaan Jepang dapat melangkahi pesaing-pesaingnya dari perusahaan AS, yang fokusnya cenderung jangka pendek.

Dalam “Competing for the Future” yang ditulis dengan Gary Hamel, Prahalad memberikan saran bagi perusahaan supaya dapat merancang strategi yang jauh ke depan, dibandingkan dengan hanya mempertahankan status quo. Banyak perusahaan yang hanya focus pada saat ini saja, dan tidak berusaha apapun untuk memperoleh keunggulan baru dan merancang masa depannya, sehingga kemudian kalah dengan pesaing mereka.

Selanjutnya, dalam buku “The Future of Competition: Co Creating Unique Value With Customers” , Prahalad bersama Venkat Ramaswamy menghadirkan pendekatan baru dalam hal value-creation. Dalam framework yang diperkenalkannya, Prahalad dan Ramaswamy berpendapat bahwa perusahaan tidak seharusnya berusaha untuk menciptakan nilai sendirian, melainkan sebaiknya melakukan kolaborasi dengan pelanggan, sehingga dapat menciptakan suatu pengalaman pelanggan yang personalized sampai ke tingkat individual.

Namun, buku Prahalad yang paling idealis dan menjadi salah satu penggerak global movement adalah “The Fortune at the Bottom of The Pyramid”. Buku ini mengemukakan mengenai business model dan peluang pasar yang ada pada masyarakat piramida paling bawah, yakni masyarakat miskin. Potensi pasar yang terbesar sesungguhnya ada di piramida bawah, sehingga meskipun perusahaan memproduksi barang-barang dengan harga murah yang memenuhi kebutuhan orang-orang berpendapatan rendah, namun tetap dapat menghasilkan keuntungan dengan business model tersebut. Business model seperti ini, menurutnya cocok digunakan di negara seperti India, yang masyarakat kelas bawahnya merupakan mayoritas.

Prahalad berusaha untuk merubah paradigma dunia, termasuk perusahaan-perusahaan ternama di Forbes 500, supaya punya visi sosial yang dapat membantu dalam mengentaskan kemiskinan. Perhatiannya kepada sosial inilah yang membedakan dia dengan pemikir-pemikir lainnya. Ia bahkan mendirikan Praja, Inc.

The Times of London, bekerjasama dengan Thinkers 50, yang melakukan rating terhadap para strategist utama dunia, memilih Dr. Prahalad sebagai management thinker nomor satu yang paling berpengaruh di dunia. Kontribusinya kepada dunia sangat berarti, dan namanya akan terus dikenang. Selamat jalan, Dr. Prahalad.

--

Pilih Mana: First-Mover atau Late-Mover?
Jumat, 19 Maret 2010 17:00 WIB
Oleh: Rinella Putri

(managementfile – Strategic) – Timing merupakan salah satu keputusan strategis yang harus diambil bisnis. Kesalahan mengambil timing dapat mengakibatkan bisnis kalah bersaing dengan rivalnya.

Dalam menentukan timing memasuki suatu pasar, bisnis dapat memilih untuk jadi first-mover ataupun late-mover. Keduanya punya keuntungan tersendiri masing-masing.

Pihak yang menjadi first-mover biasanya punya first-mover advantage. Menurut makalah Lieberman dan Montgomery yang berjudul `First Mover Advantages`, dalam sebagai pionir, first-mover dapat memperoleh laba yang positif karena punya sejumlah keunggulan. Keunggulan tersebut diantaranya adalah teknologi, lokasi, economies of scale, dan switching cost. Sementara itu, bagi late-mover juga punya keuntungan tersendiri, yakni dapat melengkapi kekurangan dari langkah first-mover, serta mengambil peluang yang mungkin tidak dilihat oleh first-mover.

Lieberman dan Montgomery berpendapat bahwa keputusan untuk menjadi first-mover atau late-mover dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama karakteristik dan skill yang dimiliki oleh bisnis. Perusahaan yang punya keunggulan dalam visi dan R&D akan cenderung menjadi first-mover. Sementara itu, beda halnya dengan perusahaan yang terampil dalam hal manufaktur dan pemasaran.

Menurut keduanya, baik menjadi first-mover ataupun late-mover, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, mencegah terjadinya imitasi dan free-rider. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mencatatkan paten dan trademark, serta menciptakan desain yang sulit untuk ditiru pihak lain.

Sektor teknologi banyak menjadikan paten dan trademark sebagai aset mereka, mulai dari desain, user interface, hingga teknologi yang digunakannya. Imitasi memang tidak bisa dihentikan begitu saja, namun setidaknya dapat membatasi dan membuat pihak lain enggan. Bisa kita lihat berapa banyak produsen ponsel yang meniru gaya iPhone-nya Apple. Perang paten juga sudah jamak terjadi, seperti yang sekarang sedang ramai yakni Apple melawan HTC.

Kedua, pionir juga harus waspada terhadap inersia yang dialaminya. Inersia ini yakni suatu keengganan dalam memperhatikan perubahan teknologi dan kebutuhan konsumen, sehingga memberikan peluang bagi rival untuk masuk.

Teknologi berubah dengan cepat, sehingga perusahaan harus terus update terhadap perkembangannya, baik untuk memperlancar faktor produksi, maupun dalam mengembangkan produk teknologi. Contohnya adalah sekarang sistem operasi Android sedang naik daun, sehingga produsen banyak yang turut mengembangkan smartphone berbasis Android supaya tidak `ketinggalan kereta`.

Bisnis juga harus cermat dalam memperhatikan kebutuhan konsumen. Adakalahnya bisnis dapat menambahkan lini produk yang baru untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Ini juga salah satu cara untuk meraup pasar duluan, sebelum peluang ini diambil oleh rival. Palm contohnya, dulu pernah menjadi pionir dalam smartphone, sekarang malah ketinggalan dibandingkan dengan rival-rivalnya, disebabkan oleh teknologi yang ketinggalan serta kurang paham kebutuhan pasar.

Sementara itu, bagi pihak yang menjadi late-mover atau follower, juga harus memutar otak untuk mencari cara bagaimana bisa menyerang sang pionir. Jika pionirnya merupakan perusahaan kecil dengan sumber daya yang terbatas, maka follower dapat menyerang secara agresif. Misalnya dengan pemasaran besar-besaran melampaui pionir, sehingga dapat melakukan penetrasi pasar secara luas.

Salah satu cara adalah dengan menciptakan me too product, yakni produk yang merupakan imitasi ataupun mirip dengan rival. Contoh yang sukses adalah Mie Sedap, yang melakukan strategi pemasaran dengan agresif. Meskipun sulit untuk menyaingi kebesaran Indomie (Indofood), namun Mie Sedap berhasil mencuri market share yang lumayan, hingga saat ini masih bertahan dalam persaingan. Alternatif lainnya tentu adalah dengan menciptakan diferensiasi, keunggulan unik yang tidak dimiliki oleh rival.

Kadang-kadang sebagai the first mover atau the first entry, biaya edukasi masyarakat untuk memakai produk yang baru tampil terpaksa harus ditanggung olehnya. Hal ini bisa jadi pedang bermata dua. Apabila masyarakat sudah familiar dengan produk pertama ini maka dia enggan pindah ke produk yg dihasilkan late mover. Tapi kalau first mover company terlalu terengah-engah membiayai edukasi masyarakat ini dan dia collapse ditengah jalan, maka produk sejenis yang dihasilkan late mover akan dengan cepat diterima masyarakat.

Jadi, pilih menjadi first-mover atau late-mover? Apapun yang Anda pilih, strategi harus dipikirkan secara matang, dan disesuaikan dengan keunggulan yang dimiliki perusahaan serta kondisi persaingan di pasar. Jika Anda pandai membaca situasi dan strategi Anda hebat, tentu pilihan manapun akan menghasilkan kesuksesan.

RP/RP/dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar