Rabu, 18 Agustus 2010

Multifungsi Seorang Ibu

(Amsal 30:11, Roma 16:13)

Di dalam Alkitab kita dapat membaca ayat yang berbunyi “Ada keturunan yang mengutuk ayahnya dan tidak memberkati ibunya” (Amsal 30:11). Jika hal ini terjadi dalam kehidupan kita, maka ini bukan harapan umat manusia. Namun kita tidak dapat menutup kemungkinan mengalami kondisi seperti ini. Kadang hal ini terjadi karena kecerobohan dan kelalaian dari para orangtua. Oleh sebab itu ayat yang kita baca sebagai peringatan supaya jauh-jauh hari sebelumnya kita harus menjaga dan memelihara kualitas sebagai orangtua yang bertanggung jawab. Kali ini kembali akan kita fokus pada posisi seorang ibu.

Tidak gampang menjadi seorang ibu yang penuh tangung jawab, sebab seluruh tanggung jawabnya ada di pundaknya. Apa yang bisa kita pelajari dari seorang ibu yang bijaksana? Ibu itu memiliki multifungsi dalam keluarga? Kadang mereka yang sudah sibuk bekerja seharian di kantor sesudah pulang ke rumah masih dibebani dengan urusan rumah tangga, oleh sebab itu beban seorang ibu cukup berat. Oleh sebab itu para ayah sudah semestinya menghargai apa yang dilakukan oleh seorang ibu, bila perlu membantunya meyelesaikan segala tugas-tugas rumah yang tidak pernah kunjung habis itu. Ibu yang bijaksana itu seperti apa semestinya?

1. Ibu itu seperti seorang Guru

Ternyata bukan hanya mengandung selama sembilan bulan, lalu melahirkan maka selesai tugas seorang ibu. Tetapi seorang ibu juga harus menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya. Boleh dikatakan guru yang pertama di dunia bagi seorang anak adalah ibunya. Sang ibu harus mengajarkan mana yang baik dan buruk, hal itu dilakukan setiap hari. (lihat Ulangan 6:4-7) “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.“

Kesalahpahaman yang terjadi selama ini adalah, para ibu dalam hal ini orangtua berpikir bahwa tugas mengajar seorang anak adalah para guru di sekolah. Padahal di sekolah hanya diajarkan pengetahuan dan waktunya juga terbatas selama jam sekolah. Selebihnya adalah tugas orangtua, dalam hal ini peran seorang ibu tidak kalah pentingnya.

2. Ibu itu seperti seorang Suster

Kita tidak dapat menyangkalnya, perhatian seorang ibu telah melebihi seorang suster. Ia begitu memperhatikan akan kebutuhan dan kondisi anaknya, bahkan perasaan dan karakter anak-anaknya pun sudah dihafal. Seorang ibu yang baik tidak pernah membuat anak-anaknya kelaparan dan kekurangan, bahkan sering kali makanannya sendiri diberikan kepada anak-anaknya. Tidak jarang pula kita melihat seorang ibu makan makanan sisa dari anak-anaknya.

Ibu yang baik bukan hanya merawat anak-anaknya tetapi ia juga memikirkan masa depan anak itu. Contohnya Musa, sewaktu ia lahir, kondisinya tidak menguntungkan. Raja memberikan perintah agar membunuh anak-anak Israel yang baru lahir. Namun ibu Musa nekad menyimpan anaknya, padahal resikonya besar sekali. Pada saat bayi tersebut mulai besar, dan sang ibu merasa tidak sanggup lagi menyembunyikannya, tetap saja ia tidak putus asa, dan selalu merancang cara untuk menyelamatkan bayinya. Itu sebabnya maka Musa dimasukkan ke dalam sebuah keranjang dan dialirkan ke sungai Nil yang akhirnya diketemukan oleh puteri Firaun. Keluaran 2:8-9 mencatat "Sahut puteri Firaun kepadanya: 'Baiklah.' Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: 'Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu.' Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya."

Bagaimana dengan para ibu jaman sekarang? Sering kita temui bahwa ibu jaman sekarang bukan lagi menganggap anaknya sebagai tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepadanya. Banyak ibu muda yang telah melahirkan namun tidak ingin menyusui anaknya. Tugas dan tanggung jawab lain diserahkan kepada para pengasuh yang sesungguhya para pembantu rumah tangga yang hanya memakai seragam putih. Mereka tanpa berpikir panjang rela kalau anak-anaknya dididik oleh mereka. Para ibu dan lengkapnya orangtua juga perlu hati-hati, jangan menempatkan anak-anak kita sebagai “investasi”. Bila rajin, cantik, pandai maka diharapkan agar masa tuanya lebih aman dan terjamin.

Konon suatu hari seorang anak melihat tetangganya baru membeli mobil mewah, maka ia pun meminta kepada ayahnya untuk membeli mobil yang sama. Sang ayah berkata, “jangan minta yang macam-macam, kita ini orang miskin; makanya kamu harus rajin sekolah supaya menjadi orang kaya” Lalu sang anak menjawab dengan sebuah pertanyaan “Emangnya dulu ayah tidak pernah sekolah?” Lalu ayahnya menjawab singkat “Ada” Kemudian sang anak melanjutkan lagi: “Kenapa ayah dahulu tidak rajin-rajin sekolah supaya bisa beli mobil seperti tetangga kita?” Orangtua sering kali salah kaprah, mereka berpikir anak-anak adalah “modal” mereka di hari tua. Ibu yang benar justru merawat anaknya tanpa pamrih. 1 Tesalonika 2:7 “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang mengasuh dan merawat anak-anaknya”

` 3. Ibu itu seperti seorang Konselor

Tidak jarang kita menemukan seorang anak kecil menjerit "Mama" ketimbang “Papa”. Hal ini membuktikan bahwa anak itu lebih gampang berkomunikasi dengan Mama. Sebagai seorang Konselor seorang ibu biasanya penuh bijak dalam memberikan pengarahan dan nasihat. Kesensitifan seorang ibu merupakan ciri khasnya sehingga ia dapat mengetahui masalah yang dipergumulkan sang anak. Salah seorang tokoh ibu dalam Alkitab yang dapat kita baca terdapat di dalam kitab Hakim-hakim 14:3 Tetapi ayahnya dan ibunya berkata kepadanya: "Tidak adakah di antara anak-anak perempuan sanak saudaramu atau di antara seluruh bangsa kita seorang perempuan, sehingga engkau pergi mengambil isteri dari orang Filistin, orang-orang yang tidak bersunat itu?" Tetapi jawab Simson kepada ayahnya: "Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai." Simson tidak mengindahkan kesensitifan ibunya, sehingga ia mengabaikan nasihatnya, akibatnya cukup fatal.

Contoh lain Maria ibu Yesus. Pada saat mereka menghadiri pesta nikah di Kana, kebetulan waktu itu anggur yang dihidangkan itru habis. Maria ibu Yesus mengetahui apa yang harus diperbuat oleh anaknya. Itu sebabnya maka ia meminta Yesus melakukan sesuatu, maka terjadilah mujizat air menjadi anggur.

Kata-kata dalam sebuah lagu anak-anak tatkala saya masih kecil di Indonesia yang berjudul Kasih Ibu sangat bagus sekali. “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepenjang masa. Hanya memberi dan tak harap kembali. Bagai sang Surya menyinari dunia” Benar kasih seorang ibu yang penuh hikmat dan bijaksana itu tanpa berharap balasan, ia hanya memberi seperti apa yang dikerjakan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Ia bahkan memberikan nyawa-Nya demi menyelamatkan kita.

4. Ibu itu seperti seorang Teman

Amsal 17:17 “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” Sering terjadi di dalam kehidupan manusia, sahabat yang banyak itu tergantung pada seberapa sukses dan berhasilnya kita. Tidak jarang terjadi tatkala kita bermasalah dengan keuangan kita, maka sahabatpun kabur. Ada banyak pengalaman yang terjadi, tatkala kita membutuhkan uang, sahabat itu yang tadinya baik pada hilang semua. Perhatikanlah seorang ibu yang bijaksana tidak demikain, ia merupakan teman yang sejati pada waktu kita susah dan senang. Bahkan merupakan suatu kesedihan tersendiri jika seorang ibu mengetahui masalah anaknya yang belum tuntas.

Kemarin saya sempat berbicara dengan seorang ibu yang kebetulan anaknya baru menikah Kamis lalu. Ibu tersebut merasa senang sekali, sebab anaknya sudah memiliki pendamping. Ia berkata, sekarang kami sudah bebas, kekuatiran kami juga sudah habis, anak kami sudah menikah. Ibu yang sebagai teman yang sejati ini sangat berat hati bila anaknya yang sebagai temannya itu masih bergumul dengan persoalan hidup.

5. Ibu itu seperti Karakter Yesus Kristus

Pengorbanan seorang ibu sangat jelas sekali, hal ini dimulai pada saat ia rela menghadapi bahaya maut pada saat melahirkan sang anak. Tidak hanya itu, ia rela mengorbankan kemolekannya demi menyusui sang anak. Tatkala Salomo menjadi raja, ia telah memperagakan hikmatnya untuk membuktikan seorang ibu yang asli yang pada saat itu sedang berjuang mempertahankan anaknya. Ceritanya begini: “Dua orang ibu yang sama-sama melahirkan bayi, namun karena salah seorang ibunya lasak tidurnya, maka tatkala malam hari ia tidur ternyata ia menindih anaknya dan meninggal dunia. Tatkala diketahui bahwa bayinya sudah meninggal, maka ia menukarnya dengan bayi lain. Singkat cerita, Salomo harus mengadili kasus ini. Salomo diberikan hikmat, bahwa ibu yang sesungguhnya adalah ibu yang rela berkorban demi anaknya, inilah karakter Tuhan Yesus.” 2 Timotius 1:5 mencatat ‘Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas yaitu iman yang pertama-tama di dalam nenekmu Louis dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”

Berbahagialah kalau suatu hari anak-anak anda memuji anda sebagai ibu yang baik, bijak dan penuh kasih. Sebab melalui itu kita dapat menilai bahwa anda adalah seorang ibu yang benar-benar telah mempraktekkan multifungsi anda sebagai seorang ibu yang sejati. Sekali lagi tidak mudah, tetapi anda pasti bisa.



Note: Artikel ini dikutip dari buku Tantangan Hidup Orang Percaya, by Saumiman Saud, penerbit Lentera Kehidupan Literatur, San Jose - Jakarta, 2010 (h. 84-89)

--

Wartakan Kabar Sukacita - Belajar dari para Gembala
Penilaian Pengunjung: / 4
TerjelekTerbaik

* Rabu, 23 Desember 2009 13:54
* Ditulis oleh Manati I. Zega
* Sudah dibaca: 1142 kali

Pendahuluan

Waktu berlalu begitu cepat, kini kita sudah berada dipenghujung tahun 2009. Sejak awal, Tuhan menghendaki agar kita menjadi garam dan terang dunia. Maksudnya, menjadi saksi-saksi Kristus.

Merupakan hal yang baik bila di akhir tahun ini kita akan berefleksi sejauh mana tujuan itu tercapai. Jika belum tercapai maksimal, melalui peristiwa Natal kita akan dimotivasi kembali.

Kisah mengenai para gembala di padang menjadi salah satu peristiwa yang selalu mewarnai perayaan Natal (Lukas 2:8-20). Lukas memang menyajikan kisah ini dengan sangat baik.


Isi

Dalam kisah tersebut, kita menemukan bagaimana Lukas berusaha menggambarkan Allah menyapa realitas sosial yang sebelumnya tidak disapa lagi oleh agama, khususnya orang-orang yang merasa beragama.

Dalam narasi itu, Lukas menampilkan bagaimana para gembala yang selama ini menggembalakan hewan-hewan kurban, kini menerima kabar gembira atas lahirnya Gembala Agung, sekaligus Kurban Suci itu.

Dalam catatan sejarah, secara umum para gembala dianggap sebagai masyarakat kelas dua oleh masyarakat Yahudi. Mereka kurang dihormati. Di depan pengadilan pun kesaksian mereka diabaikan, tidak diperhitungkan. Mereka disingkirkan karena dianggap tidak menjalankan aturan-aturan agama secara ketat.

Akan tetapi, Kabar Baik tentang kelahiran sang Juruslamat untuk pertama kalinya diberitakan kepada para gembala. Tentu saja, ada sifat-sifat yang baik dari diri gembala yang patut diteladani.

Berdasarkan ayat-ayat di atas, setidaknya ada dua hal penting yang perlu kita renungkan.

Pertama, sikap cepat merespons kebenaran (ay. 15-16)

Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan (Lukas 2:15-16).

Para gembala tidak melakukan diskusi ilmiah terlebih dahulu untuk membahas hal yang sedang terjadi. Namun, mereka cepat-cepat merespons. Mereka percaya pada berita yang disampaikan oleh para malaikat. Karena itulah mereka langsung ke Betlehem dan menyaksikan apa yang sedang terjadi.

Bila para malaikat datang kepada kaum elit, lingkaran istana, penguasa negeri, mungkin saja responsnya sangat berbeda. Mungkin beberapa bulan setelah peristiwa bersejarah itu, mereka baru mengirim utusan ke Betlehem. Pastinya, setelah dilakukan telaah menyeluruh terhadap informasi yang disampaikan oleh para malaikat. Namun, lihatlah para gembala! Mereka tidak butuh waktu lama. Mereka bergegas menuju ke Betlehem tempat bayi Natal itu terbaring.

Kedua, sikap cepat bersyukur dan memuliakan Allah (ay. 20)

Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka (Lukas 2:20).

Ekspresi kegembiraan para gembala atas kebenaran berita yang mereka dengar tampak jelas saat mereka memuji dan memuliakan Allah. Padahal, mereka kerap dicap sebagai orang yang tidak menjalankan aturan-aturan agama Yahudi. Mungkin istilah sekarang disebut kurang rohani.

Para gembala tidak menganggap peristiwa yang mereka alami sebagai hal yang biasa. Terbukti, ketika mereka mengalami apa yang dikatakan malaikat itu, mereka cepat-cepat bersyukur, dan memuliakan Allah.


Penutup


Para gembala, secara sosial tidak mendapat perhatian berarti di zaman itu. Namun, mereka yang tersingkirkan disapa dengan cara yang unik. Tuhan berkenan menyampaikan berita surgawi kepada para gembala yang sederhana. Kita pun diminta belajar dari para gembala. Cepat merespons kebenaran, bersyukur dan memuliakan Allah adalah sikap penting bagi kita yang menjadi saksi Tuhan.


Pertanyaan Sebagai Bahan Refleksi.

1. Apakah Anda terbiasa merespons kebenaran dengan cepat? Misalnya, setelah mendengar fiman Tuhan, Anda langsung melakukan dalam kehidupan sehari-hari? Atau, terbiasa menunda bahkan mengabaikannya?
2. Selama tahun 2009, berapa orang yang telah menerima Kabar Baik dari Anda? Atau, justru hanya menerima gosip yang menghancurkan? Jika belum mewartawakan Kabar Baik, apa kendalanya? Bagaimana komitmen Anda di tahun 2010?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar