Selasa, 10 Agustus 2010

Rahasia Sukses Mary Kay


Rahasia Sukses Mary Kay
MONDAY, 26 JULY 2010
Total View : 400 times

Mary Kay Wagner Ash, seorang pebisnis wanita sekaligus pendiri Mary Kay Cosmetics Inc. Mary sangat percaya bahwa seorang wanita hendaknya tidak sembarangan mengungkapkan berapa usianya. Oleh sebab itulah sampai saat ini tidak ada yang pernah tahu berapa usia Mary Kay sebenarnya.

Mary Kay dilahirkan di Texas dan merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Sejak kecil Mary Kay sudah terbiasa menerima tanggung jawab untuk membersihkan rumah, memasak sekaligus merawat ayahnya yang sedang menderita TBC. Sementara ibunya harus bekerja di sebuah restoran. Karena lahir dari keluarga kurang mampu dan kesulitan dalam hal keuangan, Mary Kay gagal melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah dan harus menikah ketika usianya baru menginjak 17 tahun.

Seorang Ibu Sekaligus Wanita Karir

Sebagai seorang ibu yang telah dikaruniai tiga orang anak, Mary Kay juga bekerja di sebuah perusahaan, Stanley Home Products di Houston, Texas. Ia bertugas sebagai sales dan harus mendemonstrasikan semua produk yang dijual di perusahaan tempatnya bekerja, terutama kepada ibu-ibu rumah tangga seperti dirinya.

Mary adalah sosok yang sangat enerjik dan cepat belajar. Ia juga sempat melanjutkan kuliah di ilmu kedokteran, namun akhirnya menyerah dan kembali menjadi seorang sales.

Hidupnya berubah ketika suaminya pulang dari Perang Dunia II dan pergi dengan wanita lain. Pernikahannya pun berakhir saat itu juga. Di tahun yang sama, 1952, Mary bekerja di World Gift Company, di Dallas, Texas. Di sanalah Mary mencoba mengembangkan teori pemasaran dan penjualan, dimana ia berpikir bahwa seorang penjual harus bisa berpikir seperti wanita agar produk yang ditawarkannya laku keras. Sayangnya, saat itu rekan-rekan prianya tak mendukung. Malah teori penjualan dan pemasaran yang dibuatnya ditolak mentah-mentah dan diabaikan. Mary lelah mengahadapi keadaan itu dan akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan menulis buku tentang pengalamannya di dunia pemasaran.

Dukungan anaknya, Richard Rogers, membangkitkan semangat Mary. Pada tahun 1963, bersama dengan anaknya, Mary mencoba untuk mendirikan sebuah perusahaan sendiri dengan bekal investasi sebesar US$ 5 ribu. Ia menamakan perusahaannya Beauty by Mary Kay. Di perusahaannya inilah Mary menerapkan teorinya dan menjual berbagai produk kosmetik yang dipesannya. Ia memberikan label, mengemas produknya dengan sangat cantik dan memasarkan produk tersebut dengan tingkat penjualan yang sangat mengesankan.

Untuk memacu semangat para karyawannya dalam memasarkan produk perusahaannya, Mary selalu memberikan target serta reward kepada para karyawannya yang berprestasi. Hanya dalam kurun waktu 2 tahun, produknya telah terjual senilai US$ 1 miliar.

Perusahaannya berkembang dengan pesat dan banyak produk baru yang ditambahkan. Perusahaan kosmetik yang bermula dari perusahaan kecil ini pun sempat nampang dalam sebuah buku yang berjudul THE 100 BEST COMPANIES TO WORK FOR IN AMERICA.

Tuhan Yang Utama

Motto hidup wanita pekerja keras ini sangat sederhana, “Tuhan adalah yang utama, keluarga yang kedua, dan karir yang ketiga”. Berulangkali Mary Kay menekankan slogan ini kepada anak-anak, keluarga dan karyawan-karyawannya.

Mary Kay sempat kehilangan suami ketiga karena sakit kanker; kejadian ini membuat Mary mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Mary Kay Ash Charitable Foundation. Melalui yayasan ini Mary Kay memerangi kanker dan kekerasan yang terutama terjadi pada wanita.

Hingga saat ini perjuangan, semangat dan kerja kerasnya dikagumi oleh masyarakat. Pada tahun 1989, Mary Kay Cosmetics Inc. menjadi perusahaan pertama dalam industri kosmetik yang berhenti menggunakan hewan sebagai percobaan. Berbagai penghargaan diterima olehnya. Mary Kay adalah satu-satunya perusahaan yang masuk tiga kali dalam majalah Fortune “The 100 Best Companies to Work for in America”. Bahkan Mary Kay Ash adalah satu-satunya pemimpin bisnis wanita yang profilnya tercatat dalam buku Forbes Greatest Business Stories of All Time.

--
Strategic Planning Ala Sun Tzu dalam The Art of War (1)
Rabu, 16 Desember 2009 18:00 WIB
Oleh: Rinella Putri

(managementfile – Strategic) – Sun Tzu, adalah seorang jenderal militer dari Cina pada zaman Sebelum Masehi lampau. Namun, karyanya The Art of War, yang terinspirasi dari kemenangan-kemenangannya di medan perang, hingga kini masih menjadi bacaan yang populer, dan dimanfaatkan oleh para pemimpin masa kini dalam merencanakan, mengembangkan dan mengimplementasikan strategi.

The Art of War merupakan buku yang isinya merupakan filosofi-filosofi dalam berperang dan memenangkannya. Buku ini tidak hanya populer di bidang militer, melainkan juga di bidang politik hingga bisnis. Filosofi yang dibicarakan dalam buku ini mengenai strategi, rupanya dapat diimplementasikan secara luas untuk berbagai macam bidang.

Bagian pertama dari buku Sun Tzu merupakan tentang `Laying Plans` yang dalam dunia bisnis biasa kita sebut dengan Strategic Planning. Pemikiran Sun Tzu dalam strategic planning masih relevan digunakan hingga saat ini. Inilah yang mungkin menyebabkan The Art of War begitu populer.

Menurut Sun Tzu, sebelum masuk ke medan perang, terdapat lima faktor utama yang harus dipertimbangkan, antara lain:
1) The Moral Law, adalah aturan yang memungkinkan orang untuk patuh dengan pemimpinnya, dan bersedia mengikuti tanpa mempedulikan ancaman terhadap hidup mereka. Dalam bisnis, moral law ini sepadan dengan visi, misi dan value organisasi, yang menjadi acuan utama dalam menjalankan strategi

2) Heaven, yakni menandakan kondisi pagi dan siang, dingin dan panas, waktu dan musim. Dalam bisnis, ini sepadan dengan kondisi eksternal, yakni peluang (opportunities) dan ancaman (threats).

3) Earth, yakni terdiri dari jarak yang jauh dan pendek, bahaya dan keamanan, medan terbuka atau pegunungan serta peluang hidup dan mati. Dalam bisnis, ini sama dengan kondisi internal, yakni kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness).

4) The Commander, yakni kebijakan, kredibilitas, baik, berani, dan disiplin. Commander sama saja dengan kepemimpinan, dimana pemimpin membawa para pengikut untuk mencapai visinya.

5) Method & Discipline, yakni chain of command, logistik hingga cost control. Dalam bisnis, ini merupakan cara Anda dalam menjalankan bisnis, penguasaan skill dan proses tertentu.

Jika kita perhatikan, kelima faktor tersebut memang yang biasa digunakan untuk membuat strategic planning. Misalnya Heaven dan Earth, di ilmu manajemen modern ini biasa kita kenal dengan nama SWOT Analysis. Menurut Sun Tzu, kelima faktor diatas sangat penting untuk strategic planning, dan harus dikuasai oleh setiap pemimpin. Bagi yang memahami kelimanya, akan dapat memetik kemenangan, sementara bagi yang tidak akan gagal.

Oleh karena itu, sebelum melakukan penilaian untuk menentukan pihak mana yang mempunyai keunggulan, Sun Tzu menyarankan untuk mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
1. pihak mana yang komandonya menggunakan moral law?
Visi, misi dan value merupakan fondasi yang penting dari strategi. Jika organisasi tidak punya visi, misi dan value yang kuat, maka tidak akan ada tujuan yang ingin dicapai, serta arahan yang jelas untuk mencapainya.

2. pihak mana yang jenderalnya punya kemampuan lebih besar?
kepemimpinan juga punya peran yang penting, karena pemimpin adalah yang memimpin pasukan untuk mencapai tujuan (kemenangan). Pemimpin harus punya kemampuan untuk memimpin organisasi, dan mampu bersikap bijak, kredibel, baik, berani juga disiplin.

(Bersambung)

Lemahnya Eksekusi, Biang Kerok Kegagalan Bisnis
Minggu, 06 Desember 2009 20:00 WIB

(managementfile - Strategic) - Ketidakdisiplinan dalam melakukan eksekusi strategi bisnis ternyata yang menjadi biang kerok kegagalan dalam mencapai sebuah target usaha.

Penulis buku "Execution: The Dicipline of Getting Things Done" asal India, Ram Charan mengatakan, 70 persen penyebab kegagalan strategi yang utama disebabkan oleh lemahnya eksekusi.

Pernyataan Ram diperkuat oleh Board of Partners Dunamis Organization Services, Agi Rachmat, yang menegaskan bahwa lemahnya eksekusi menjadi tantangan perusahaan atau organisasi saat ini, termasuk di Indonesia.

Ia menyebutkan bahwa hampir semua bagian dalam sebuah perusahaan atau organisasi mampu membuat strategi yang, menurut dia, "sophisticated" untuk mencapai tujuan. Namun hasil akhirnya sering mengalami kegagalan.

Jelas jika berdasarkan pada analisa FranklinCovey, organisasi jasa pelatihan pengembangan kepemimpinan asal Amerika Serikat (AS), kegagalan mencapai target bukan karena salah strategi maupun perencanaan tetapi karena ketidakdisiplinan dalam mengeksekusi hal-hal yang telah ditetapkan sejak awal.

Untuk menghilangkan kebingungan mengenai apakah eksekusi itu, Agi menjelaskan bahwa eksekusi merupakan disiplin dalam mencapai hal yang dianggap penting.

Dalam sebuah perusahaan atau organisasi, seorang eksekutor lah yang berkewajiban mengawal strategi yang dibuat untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

"Artinya seorang pemimpin yang ingin target perusahaannya tercapai harus menjadi eksekutor yang mau `mengawal` strategi yang telah dibuat dan memastikan berhasil," ujar Agi.

Karena itu, lanjut dia, seorang pemimpin tidak hanya hebat dalam membuat strategi tetapi juga wajib mampu melakukan eksekusi.

Beberapa hal yang sering kali menggagalkan eksekusi yakni tidak tahu tujuan yang ingin dicapai, tidak tahu bagaimana mencapai tujuan, tidak memiliki ukuran yang memantau progres pencapaian, dan tidak saling bertangung jawab.

Transparan pada karyawan

Peneliti dan pengajar di University of West Indies, Carribean, yang juga menjadi Eksekutif Direktur Pusat Penelitian Tingkat Lanjut FranklinCovey, Dean Collinwood mengatakan sering kali seorang karyawan tidak mengetahui apa yang hendak dicapai sebuah perusahaan.

"Coba tanyakan pada `office boy` soal target perusahaan kita tahun ini, coba tanyakan tukang kebun target kita tahun ini, pasti mereka tidak tahu," ujar Collinwood.

Padahal untuk mencapai sebuah target semua karyawan harus mengetahui apa target kongkrit yang ingin dicapai, ucap dia.

"Bukan pimpinan yang akan mencapai target itu, tapi karyawan yang akan membantu dia mencapai target itu. Jadi karyawan perlu tahu berapa profit yang ingin dikejar perusahaan tahun ini," tegas Collinwood.

Berkaca pada pengalaman sebuah BUMN tambang batubara Meksiko yang produksinya mencukupi 10 persen kebutuhan batubara di dalam negeri. Ia mengatakan di saat kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik meningkat, produksi BUMN tersebut justru turun drastis.

Collinwood menegaskan tidak ada transparansi dari perusahaan kepada karyawannya tentang target yang ingin dicapai, dan lebih parah lagi tidak ada transparansi tentang kondisi perusahaan saat itu.

"Sampai akhirnya manajemen membiarkan karyawan mengetahui kondisi perusahaan, dan mengetahui target perusahaan. Mereka (manajemen) menempelkan hasil capaian produksi perusahaan di dinding sebelum masuk ke dalam tambang, dan ini membangun motivasi pekerjanya," ujar Collinwood.

Transparansi tersebut, menurut dia, tidak saja menular pada karyawan tetapi juga keluarga karyawan. Sehingga keluarga karyawan terbiasa membuat perencanaan, target, dan mengeksekusinya sendiri

"Hasilnya BUMN tambang batubara ini berhasil menaikan produksinya tiga kali lipat," ujar dia.

Collinwood mengatakan pimpinan tertinggi BUMN itu turun tangan langsung memberikan pelatihan kepada karyawannya tentang cara melakukan eksekusi strategi target perusahaan.

"Bagi pimpinan memberikan pelatihan langsung ke karyawannya merupakan bentuk eksekusi strategi," ujar dia.

Pahami inti bisnis

Menjalankan bisnis dengan sepenuh hati menurut Agi Rachmat merupakan hal paling penting. Dan jika kegagalan eksekusi berulang kali terjadi, Agi mengatakan sebuah pertanyaan perlu dilontarkan pada seorang pemimpin. "Pahamkah anda akan bisnis anda sendiri?"

Pertanyaan tersebut, menurut Agi, perlu dijawab oleh seorang pemimpin.

FranklinCovey yang telah mengembangkan pengukuran untuk mengukur seberapa baik suatu organisasi dan unit kerjanya dalam menyelesaikan atau mengeksekusi tujuan dan sasaran pentingnya dengan sukses melalui angka "execution quotient" (xQ).

FranklinCovey juga menetapkan angka indikator nol (buruk sekali), 1-40 (tidak bagus), 41-74 (sedang/medioker), 75-99 (bagus), 100 (sempurna).

Dari ratusan perusahaan yang disurvei, Agi mengatakan 10 perusahaan dengan nilai tertinggi mendapat nilai indikator 78, yang berarti bagus.

Namun, berdasarkan suvei FranklinCovey di berbagai benua, nilai tertinggi 10 perusahaan tersebut belum mampu menyaingi perusahaan-perusahaan multinasional yang kini mampu "mengglobal".

Survei di Asia Pasifik diperoleh nilai indikator tertinggi 84, di Amerika Serikat diperoleh angka tertinggi 85, sedangkan rata-rata global diperoleh angka 81.

Untuk itu, menurut Dean Collinwood, jika ingin menjadikan "great" perusahaan, dimana memperhatikan performa bukan sekedar profit, mendambakan loyalitas konsumen bukan sekedar kepuasan, menginginkan karyawan mencurahkan hati dan pikiran untuk perusahaan bukan sekedar keberadaan fisik di kantor, dan komitmen memberikan hal berharga untuk Indonesia bukan sekedar bisnis belaka, maka eksekusi strategi atau perencanaan menjadi hal yang wajib dijalankan.

Virna Puspa Setyorini/RP/ant

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar