Selasa, 10 Agustus 2010

Acong, Hacker Insaf Pendiri Indowebster


Acong, Hacker Insaf Pendiri Indowebster
FRIDAY, 30 JULY 2010
Total View : 377 times

Juny ‘Acong’ Maimun sudah menjebol ribuan server, dia gemar masuk ke server orang. Bukan untuk mengeruk keuntungan tapi untuk mempelajari source code aplikasi atau desain sebuah database. Pria yang kerap disapa Acong itu, memang aktif di komunitas AntiHackerlink. Di kalangan peretas, ia dikenal dengan nama ‘Bagan’.

Kini Acong tidak mau lagi melakukan hal seperti itu. Kini ia tengah mengembangkan bisnisnya di bidang teknologi informasi yang tengah berkembang pesat. “Sekarang saya cuma pengen nebus dosa,” kata Acong. Ia juga menyarankan rekan-rekan sesama hacker yang salah jalan, untuk insaf kembali ke ‘jalan yang benar’.

Kini, Acong sibuk dengan tiga proyek yang ia jalankan, bisnis warung internet, usaha penyediaan jasa internet, dan menjalankan situs bagi pakai file, foto, dan musik : Indowebster.

Usaha warnet ditekuni sejak dia masih kuliah di New College Stamford. Dari pertama Acong hanya punya satu warnet, kini bekerjasama dengan rekannya, ia mengoperasikan sekitar tujuh buah warnet. Selain bisnis warnet, Acong juga memiliki ISP bernama Maxindo Mitra Solusi. Acong juga mulai terjun ke dunia web saat mendirikan forum khusus bagi para pecinta game, bernama Indogamers.

Sejak sekitar 3 tahun lalu, Acong mendirikan sebuah situs bagi pakai file bernama Indofile. Acong sendiri menginvestasikan dana sekitar Rp 50 juta untuk membeli server untuk keperluan situs bagi pakai file. Situs ini bertahan selama setahun. Hingga pada akhirnya, Acong mengubah Indofile menjadi Indowebster. “Indowebster merupakan perpaduan dari Rapidshare, ImageShack, dan Youtube,” kata Acong.

Dalam mengelola Indowebster, Acong sama sekali tak mau menarik keuntungan dari situs web ini. Hal ini terkait erat dengan filosofi yang dipegang teguh oleh Acong : Internet adalah tempat berbagi, sehingga tak sepatutnya bila sebuah situs web mengutip keuntungan.

Ke depan Acong sedang mempersiapkan sebuah strategi baru untuk memperluas layanan Indowebster, yaitu menyediakan layanan TV internet. Walaupun tak mengkomersilkan Indowebster, Acong tak pernah takut situs itu bangkrut. Biaya operasional Indowebster sendiri, Acong ambil dari berbagai keuntungan yang ia dapatkan dari bisnis ISP dan proyek-proyek yang ia kerjakan bersama tim pengembangan mereka.

Menurutnya, praktek berbagi yang ia terapkan merupakan prinsip dari Open Source. Ia sangat mendukung penyebaran ilmu atau teknologi secara terbuka dan cuma-cuma sehingga semua orang bisa menikmatinya. “Kebaikan yang kita lakukan pasti akan membawa feedback. Semakin kita berbagi, semakin kita akan mendapatkan sesuatu. Kenapa musti takut berbagi?” begitu kata Acong. Buktinya, total investasi dari perangkat-perangkat yang dimiliki Indowebster saat ini sekitar Rp 1.3 miliar.

Bagi Acong sendiri, menjadi pengusaha di bidang IT seperti saat ini bukan cita-citanya sejak kecil, karena Acong mengaku tak pernah punya cita-cita di waktu kecil. Hanya saja, pekerjaannya saat ini memang sangat cocok dengan kegemaran dasarnya, yaitu menyediakan sesuatu untuk digunakan orang lain. “Bila sesuatu yang kita sediakan bermanfaat bagi orang lain, rasanya ada kepuasan tersendiri,” ujarnya kemudian.

--

Melakukan Investasi, Harus Berani Kehilangan Uang
FRIDAY, 23 JULY 2010
Total View : 248 times

Melihat kesuksesan seseorang dalam bidang investasi membuat sebagian dari kita mungkin tergerak untuk melakukan apa yang ia lakukan. Namun, masalahnya itu hanya sejenak saja. Begitu kita mendengar hal-hal buruk yang mereka alami sebelum mencapai apa yang saat ini mereka nikmati, kita menjadi mundur. Padahal, ini sebenarnya baik untuk antisipasi atau pembelajaran kala terjun ke bidang usaha.

Salah satu permasalahan yang sering kali membuat banyak orang urung berinvestasi adalah ketakutan mereka kehilangan uang. Mereka cemas bila nantinya uang yang mereka keluarkan tidak balik modal atau memberikan keuntungan. Di satu sisi, ketakutan ini bisa diterima secara logika, tetapi bila pemikiran ini terus dipegang maka orang tersebut tidak akan pernah bisa melangkah.

Solusi untuk mengatasi hal ini tentu saja adalah mengubah pola pikir. Diakui atau tidak, pola pikir sangatlah memiliki pengaruh dalam kehidupan manusia. Seseorang yang dulunya takut untuk berbicara di depan umum, jika terus diberikan motivasi bahwa “dia mampu” maka lama kelamaan kata-kata itu secara tidak langsung mengubah perilakunya. Ia akan menjadi berani berbicara di hadapan banyak orang. Begitu pun prinsip ini bila dijalankan pada saat Anda hendak berinvestasi.

Jika Anda terus menerus hidup dalam ketakutan akan kehilangan uang maka Anda tidak akan pernah mengalami terobosan dalam keuangan Anda. Perlu diketahui, investasi pada dasarnya adalah membuat uang bekerja setelah Anda memilih produk yang cocok, dan memutuskan tingkat risiko yang bersedia Anda terima. Meskipun begitu, alokasi aset yang terbaik pun tidak akan melindungi Anda dari kerugian secara periodik. Namun sisi baiknya, hal itu akan membantu Anda lebih cermat dalam proses pengambilan keputusan.

Oleh karena itu, sebelum Anda berinvestasi dalam jumlah yang besar dan bidang yang berisiko tinggi, mulailah dari yang kecil dahulu. Investasi reksadana sepertinya cocok bagi mereka yang masih pemula. Cobalah mengikuti naik-turunnya aktivitas tersebut selama beberapa bulan, bila Anda sudah merasa mampu maka tanamkanlah uang Anda lebih banyak untuk diinvestasikan.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang saat ini bingung atau ragu untuk berinvestasi. Tuhan Yesus memberkati.

-

Benchmarking Untuk Mencapai Kinerja Superior
Senin, 25 Januari 2010 10:30 WIB
Oleh: Rinella Putri

(managementfile – Strategic) – Benchmarking merupakan salah satu metode yang ditempuh oleh perusahaan-perusahaan dalam memperoleh competitive edge. Melalui benchmarking, maka Anda dapat menerapkan best practice dalam perusahaan dan menghasilkan kinerja yang superior.

Xerox merupakan salah satu perusahaan yang menjadi pionir dalam menggunakan metode benchmarking. Benchmarking yang mulai diadopsi Xerox sejak awal 80-an ini membantu mereka memperoleh competitive edge dalam industrinya. Benchmarking yang pernah dilakukan Xerox saat itu antara lain dalam hal tagihan dengan partner American Express, plan layout dengan partner Ford), warehouse dan distribusi dengan partner L.L. Bean dan Hershey Foods, dan quality dengan partner Florida Power and Light. Hasilnya yang paling menonjol adalah meningkatnya pelanggan yang sangat puas sebesar 38%, komplain merosot lebih dari 60%. Ini hasil dari menurunnya barang cacat, waktu merespon, biaya persediaan, dan lainnya. Sejak kesuksesan Xerox, perusahaan-perusahaan lain ikut mengadopsi benchmarking, dan kini benchmarking sudah menjadi praktik yang umum.

Benchmarking macam-macam jenisnya, antara lain:
• strategic benchmarking: bertujuan dalam meningkatkan kinerja perusahaan keseluruhan, dengan cara mempelajari strategi jangka panjang dan best practice pada perusahaan-perusahaan yang sukses. Komponen yang dipelajari diantaranya adalah core competence, pengembangan produk/jasa dan inovasi perusahaan-perusahaan tersebut.
• competitive/performance benchmarking: bertujuan membandingkan posisi perusahaan, menurut kinerja dari produk/jasa. Biasanya, perbandingan dilakukan dengan perusahaan dalam sektor yang sama.
• process benchmarking: bertujuan untuk meningkatkan proses atau operasi tertentu, dengan membandingkan dengan perusahaan yang punya proses serupa
• functional/generic benchmarking: bertujuan meningkatkan proses/aktivitas dengan melakukan benchmark dengan perusahaan dari sektor bisnis yang lain, namun punya fungsi atau proses yang serupa
• internal benchmarking: bertujuan untuk mempelajari dari perusahaan yang terbaik atau saat ini sedang memimpin pasar
• international benchmarking: bertujuan melakukan perbandingan dengan perusahaan lain di luar negara tersebut, biasanya karena tidak ditemukan partner benchmark yang sesuai di negara tersebut.

Bagaimana Anda dapat melakukan benchmarking?
Berikut ini adalah 5 langkah dalam melakukan benchmarking:
1. Planning
• Pertama-tama, tentukan subyek yang akan menjadi benchmark, misalnya pemasaran, CRM, keuangan, SDM, operasional, atau lainnya. Penentuan ini krusial, karena area inilah yang nantinya akan Anda tingkatkan.
• identifikasi perusahaan yang jadi best practice untuk melakukan benchmark
• pilih teknik pengumpulan data yang terbaik. Xerox misalnya, mengumpulkan data dengan cara berlangganan majalah dan jurnal perdagangan serta database manajemen & teknik, juga berkonsultasi dengan asosiasi professional & perusahaan konsultan.
2. Analysis
• mengukur dan mempelajari kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan yang menjadi benchmark.
• bandingkan kekuatan perusahaan Anda dengan perusahaan tersebut.
• Buat analisa dan proyeksi competitive gap, untuk melihat gambaran bagaimana posisi Anda saat ini dan di masa depan, dibandingkan dengan perusahaan tersebut

3. Integration
• menetapkan tujuan yang ingin dicapai demi mencapai kinerja terbaik
• mengintegrasikan tujuan ini ke dalam proses perencanaan perusahaan, sehingga perusahaan nantinya akan punya target yang baru

4. Action
• mengimplementasikan rencana yang sudah disepakati
• mengkaji implementasi secara periodic, untuk mengetahui apakah perusahaan mencapai tujuan yang ditetapkannya
• jika terdapat penyimpangan, maka lakukan tindakan koreksi

5. Maturity
• tentukan apakah kinerja perusahaan sudah superior, yang berarti benchmarking berhasil.

Hanya saja, terdapat beberapa kunci sukses supaya benchmarking Anda berhasil

Memilih Acuan
Anda harus pandai-pandai dalam memilih perusahaan yang menjadi acuan benchmark Anda. Anda harus yakin bahwa perusahaan tersebut mempunyai data-data yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Jika Anda melakukan benchmarking, maka ini artinya Anda berbagi informasi internal dengan pihak mereka. Jangan sampai setelah melakukan benchmark, ternyata input yang didapat sedikit dari apa yang telah dibagi dengan mereka.

Fokus pada Area Tertentu
Fokus pada area mana yang ingin Anda benchmark, dan pelajari acuan benchmark Anda dengan baik. Jika Anda melakukan benchmark besar-besaran, belum tentu seluruh data tersebut Anda gunakan nantinya, sehingga malah jadi sia-sia. Oleh karena itu, sebelum benchmark maka Anda harus mengetahui area mana saja yang perlu menjadi fokus.

Benchmarking Secara Legal
Tetaplah berada dalam koridor hukum. Jangan melakukan langkah-langkah yang ilegal seperti mencuri data ataupun menggunakan mata-mata dan sebagainya. The International Benchmarking Clearinghouse Code of Conduct3 menyebutkan bahwa `Anda harus memperlakukan partner benchmarking Anda sebagaimana Anda ingin diperlakukan` .

Benchmark di Luar Industri
Secara logika, mungkin memang lebih relevan untuk benchmark dengan perusahaan yang sejenis. Namun, jika Anda melakukan benchmark dengan perusahaan lain di luar industri, Anda juga bisa memperoleh input-input lain yang relevan dengan bisnis Anda.

Benchmarking yang Kontinu
Lakukan benchmarking secara kontinu, karena bisnis selalu berubah dengan cepat. Jika Anda tidak melakukan benchmark secara update, maka Anda akan mengambil keputusan berdasarkan data yang sudah kadaluarsa.

Menurut Bernhard Sumbayak, founder & chairman Vibizconsulting, benchmarking adalah strategi perusahaan-perusahaan besar nasional yg telah dipakai puluhan tahun yang lalu di Indonesia. Ini merupakan strategi yang bagus asalkan semua jajaran top managementnya memang punya passion utk menjadi unggul dalam industrinya. Perlu ada spirit "strive for excellence" dalam benak para jajaran eksekutifnya sebelum mendengar hasil benchmarking yang akan disampaikan oleh tim proyek benchmarkingnya. Selain itu hal penting lainnya menurut Bernhard Sumbayak adalah berani unggul melintasi industrinya atau berani mencontoh keunggulan industri lainnya yang dianggap melekat pada industri itu. Contohnya beberapa dekade yang lalu siapa yang berani bersaing dengan keunggulan service excellence dari hotel atau keunggulan "fast serving time" dari Mc Donald? Tapi industri perbankan berani melintasi industrinya, rela belajar service excellence dari mereka. Dan sekarang indikator-indikator customer satisfaction sudah merupakan KPI (Key Performance Indicator) bagi para pejabat bank dan mereka familiar dengan hal itu dan bahkan bonus merekapun sebagian dihitung dari situ.

RP/RP/mgf

--

Strategic Planning Ala Sun Tzu dalam The Art of War (2)
Senin, 21 Desember 2009 17:20 WIB
Oleh: Rinella Putri

(sambungan dari artikel sebelumnya)

3. pihak mana yang punya keunggulan berdasarkan Heaven dan Earth?
evaluasi terhadap kondisi eksternal (peluang dan ancaman) yang tidak bisa kita kontrol dan kondisi internal (kekuatan dan kelemahan) yang bisa kita kontrol, atau SWOT Analysis, selanjutnya berperan dalam menentukan strategi yang akan ditempuh oleh organisasi. Strategi yang ditempuh adalah yang memanfaatkan keunggulan yang dimiliki dalam kekuatan dan peluang, dan meminimalisir ekspos terhadap ancaman dan kelemahan.

Dalam bisnis, contoh kondisi eksternal adalah trend yang sedang berkembang pada konsumen dan perkembangan pesat teknologi. Sementara, kondisi internal contohnya adalah economies of scale, atau paten yang dikuasai.

4. pihak mana yang paling disiplin?
Dalam konteks organisasi bisnis, ini berarti evaluasi terhadap bagaimana operasional bisnis dijalankan, mulai dari metode yang dilakukan dalam proses, logistik (supply chain) hingga melakukan kontrol terhadap biaya. Intinya, organisasi bisnis harus menciptakan sistem yang memungkinkan karyawannya untuk menjalankan operasional secara efektif dan efisien. Jika strategi bagus, namun eksekusinya tidak sempurna, maka strategi tersebut berpotensi untuk gagal. Oleh karena itu, ini merupakan poin yang juga penting dalam strategic planning.

5. pihak mana yang pasukannya paling kuat?
6. pihak mana yang punya pasukan terlatih?
Poin 5 dan 6 sama-sama membicarakan mengenai sumber daya manusia. Organisasi yang punya SDM berkualitas tentunya akan mempunyai kinerja lebih baik, sehingga mereka mencapai tujuan secara lebih efektif. Pasukan kuat dalam perang sangat dipengaruhi oleh senjata yang digunakan oleh pasukan. Mereka yang punya senjata lebih kuat dan canggih cenderung lebih kuat dibandingkan dengan lawannya. Ingat betapa digdayanya Jerman dengan mesin panzer-nya waktu Perang Dunia lampau. Dalam konteks organisasi bisnis, kinerja SDM juga disokong oleh teknologi. Pihak yang paling bisa memanfaatkan teknologi dengan baik tentu juga dapat meningkatkan produktivitas dari SDM.

Di samping itu, SDM juga harus terlatih. Teknologi yang canggih tentu akan sia-sia jika tidak dilengkapi dengan SDM yang terlatih untuk menggunakannya. Semakin tinggi skill dan knowledge dari SDM, maka organisasi akan semakin unggul.

7. pihak mana yang menjalankan reward dan punishment paling konsisten?
Terakhir, struktur reward dan punishment harus selaras dengan strategi bisnis yang ditempuh. Misalnya, jika Anda memberikan reward berdasarkan penjualan yang dicapai oleh individual, maka sebaiknya strategi Anda tidak mengandalkan kerjasama tim antar individual (yang bersaing) tersebut.

Menurut Sun Tzu, dengan mengetahui jawaban dari ketujuh pertanyaan diatas, maka kita dapat meramalkan kemenangan atau kekalahan. Kemudian jika terdapat kondisi yang berubah, maka rencana dapat dimodifikasi.

Strategic planning ala Sun Tzu juga mengemukakan bahwa gerakan kita tidak boleh diprediksi oleh lawan. Hancurkan pesaing ketika dia tidak siap dan tidak mengiranya. Intinya, kita harus memahami kelemahan pesaing dan menyerangnya disana ketika dia tidak siap.

Demikianlah poin-poin penting dalam strategic planning dalam buku Art of War yang dikarang oleh Sun Tzu. Poin-poin tersebut masih relevan dalam kondisi modern saat ini, dan dapat bermanfaat untuk para pemimpin bisnis yang akan merancang strateginya. Sebenarnya masih banyak poin-poin penting yang bisa kita petik dari Art of War, namun akan kita bahas dalam kesempatan lain.

RP/RP/mgf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar