Rabu, 18 Agustus 2010

Kesaksian: Saya Ingin Hidup

Kesaksian: Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi kesaksian yang sudah sering saya ceritakan kepada teman-teman saya dan menjadi gambaran hidup kuasa Tuhan.


Saya adalah seorang anak perempuan dari keluarga yg terpecah belah dan tentunya saya masih mengingat bagaimana sewaktu saya berumur 3 tahun, saya berada dalam kondisi pertengkaran hebat antara ayah dan ibu saya yg sampai saat ini menjadi kenangan terburuk yg melekat dalam ingatan saya. Mungkin banyak orangtua tidak menyadari, bahwa daya ingatan anak kecil itu tersimpan dan terkubur dalam menjadi luka yg saya sendiri kadang tidak sadari.

Saya diasuh oleh nenek dari pihak ayah saya, ayah dan ibu saya pergi meninggalkan saya karena mereka mengejar cinta baru mereka. Saya yg masih berumur 3 tahun harus beradaptasi dengan kakak tiri dan rumah yg sangat asing bagi saya. Ditambah lagi saya adalah anak dari istri kedua yg tidak direstui keluarga. Tentunya saya yg masih kecil itu tetap memiliki intuisi bahwa saya tidak disenangi ketika berada di rumah tsb.

Hari demi hari, dan tahun demi tahun saya dibesarkan, saya mengalami depresi dan luka yg terus terpupuk dalam diri saya yaitu cap sebagai anak “broken home”, di rumah itu saya hanya dekat kepada nenek dan tante (yg merupakan adik papa saya), tiba-tiba saja tante yg selama ini saya anggap sebagai ibu, ternyata hamil dan memiliki anak, saya yg saat itu duduk di kelas 2 smp, dan sedang masa-masanya ingin diperhatikan, sangatlah terguncang. Di benak saya hanya berpikir “bagaimana nasib saya kelak? Siapa yg akan menyayangi saya? Saya akan ditinggalkan seperti ayah dan ibu saya meninggalkan saya?” dan tentunya satu kata dari itu semua adalah “saya cemburu”. Saya yg saat itu sedang kurang perhatian membuat ulah, saya bolos sekolah, berbohong agar mendapat uang lebih, kabur dari les saya, dan keras kepala. Saya masih ingat sekali, ketika saya meminta uang kepada nenek saya, dan saya hanya diberi uang lima ribu saya langsung membuang uang tsb. Kesalahan terbesar saya yg hingga saat ini masih saya tangisi. Semua perbuatan yg saya lakukan itu sebagai bukti pemberontakan bahwa saya ingin diperhatikan.

Lalu pada suatu hari saya bertengkar hebat dengan tante dan nenek saya. Saya yg sudah tidak sanggup berperan nakal lagi, ketika dimarahi, hanya bisa diam dan menangis, bahkan tenaga melawan pun sudah tidak saya miliki. Ketika saya masuk kamar, saya melihat ada racun serangga, lalu di benak saya terngiang, “kalau saya minum, maka semua akan beres, tante saya bisa hidup bahagia tanpa perlu mengkhawatirkan saya, saya anak yg tidak diharapkan ini lebih baik pergi saja, saya tidak ada gunanya,dan tidak memiliki apa-apa”

Dan saya pun meminum racun itu. Beberapa lamanya saya minum racun itu, tiba-tiba saja pandangan saya buyar, semua suara menjadi asing, saya ketakutan, dan bayang-bayang indah terlintas di mata saya “SAYA MASIH INGIN HIDUP" saya memiliki impian yg selama ini tidak pernah saya sadari karena tertutup oleh rasa cemburu dan serakah. Saya merangkak di kasur, berteriak dan meminta tolong diselamatkan, saya berusaha memuntahkan isi perut saya, saya masukkan tangan saya ke dalam mulut saya, tapi semua itu tidak berhasil, saya drop dan langsung terjatuh di lantai.

Keluarga saya langsung membawa saya ke UGD dan di situ saya melihat tante dan nenek saya menangis, tante saya yg sedang hamil berlarian menemani saya dibawa ke UGD, memegang tangan saya yg ketakutan dan lemah, sedangkan nenek saya hanya bisa menangis menepuk-nepuk dadanya, seolah-olah menyalahkan dirinya..

Malam itu adalah malam terpanjang bagi saya, saya kesakitan karena selang sudah memasuki hidung dan mulut saya, saya pun tidak bisa bicara dengan jelas, saya hanya bisa berkata sepatah-sepatah “saya haus” itu yg saya katakan pada tante saya, tante saya memohon kepada suster utk memberi saya minum, tapi suster menolak karena racun belum sepenuhnya keluar dari badan saya. “saya kesakitan, tolong lepaskan selang ini,” tante saya pun memohon kembali agar dilepaskan, tapi suster menolak. Dari sini saya sadar, bahwa yg merasakan kesedihan atas sakit dan hausnya saya, hanyalah orang yg memiliki cinta yg begitu mendalam untuk saya.

Malam itu saya digiring ke rawat inap khusus, dan tidak boleh ditemani siapa pun, tante saya yg sedang hamil itu memohon kepada pihak rumah sakit supaya saya dimasukkan ke ruangan rawat biasa, agar bisa ditemani pihak keluarga yg menjaga, tapi pihak rumah sakit menjelaskan, bahwa percobaan bunuh diri bukanlah hal sepele, dan bisa saja penyebabnya dari keluarga itu sendiri, pasien bisa merasa terancam bila ternyata pihak yg menemaninyalah yg menjadi penyebab kasus ini.

Malam itu racun sangat menggigit badan saya, saya mengalirkan air mata tidak bisa tidur, suster di rumah sakit sudah istirahat, hanya bolak-balik sesekali, dalam keadaan saya sudah tidak bisa bergerak lagi, saya menggigil kedinginan, panas dingin, hanya itu yg saya rasakan, badan saya kaku, dan saya tidak berani menutup mata saya... saya takut... takut ketika saya menutup mata tidak akan terbangun kembali. Padahal awalnya saya memang berniat mati, tapi semua berubah ketika saya melihat air mata ketulusan sosok Ibu dari tante dan nenek saya..

Tiba-tiba saja ada sesosok putih bercahaya datang mendekati saya, duduk di samping kasur saya.

Saya yg pada saat itu lemas mencoba memfokuskan pandangan saya, saya pikir itu suster, tapi ternyata ada dua orang yg berada di samping saya, hingga membuat saya berlinangkan air mata, yg pertama adalah tante (kakak ayah) saya yg sudah meninggal tahun sebelumnya, dan yg kedua adalah sosok cahaya yg hangat dan tidak bisa saya lihat wajahnya yang saya yakini adalah Bapa, Ia datang dan duduk di sisi kasur saya, mendekatkan tangan-Nya dan mengelus kening saya, lalu sambil menutupi mata saya dengan tangan-Nya, Ia pun berkata, “Jangan takut, tidurlah... pejamkan matamu, Aku ada di sini menyayangi dan menemanimu.” Saya langsung merasakan badan saya yg tadinya panas dingin, menjadi hangat, dan saya pun terlelap seketika itu juga..

Pagi-pagi saya membuka mata saya, saya memandang nenek dan tante saya yg sudah berada di kamar saya sambil menangis, dan saya pun berkata “Saya masih hidup,” saya yg penasaran bertanya kepada suster, apakah mereka datang kemarin malam, dan mereka bilang terakhir mereka mendatangi saya adalah pada saat mengecek infus saya dan saya tahu bahwa saya masih terbangun pada saat itu.

Saya tidak ingin bertanya apa-apa lagi. Saya tahu bahwa ini kuasa Tuhan, saya tidak ingin memikirkan hal ini dengan logika saya sebagai manusia, tapi saya memandang ini semua dari segi iman saya. Setelah kejadian ini saya pun mulai bersaksi setiap ada perkumpulan iman.

Masih banyak hal-hal dan kesaksian dalam hidup nyata di umur saya yg masih belia ini, mengenai keselamatan saya dari maut, saya yg mencoba bunuh diri, hingga saya yg hampir meninggal karena sakit. Semua itu menguatkan saya menjadi seorang hamba Allah, saya bahagia jika dapat berbuah untuk Allah melalui kesaksian, sebagai ucapan syukur atas kehangatan yg saya rasakan dalam hidup ini.

Semoga kesaksian pertama saya membawa berkat bagi kita semua. Amin.

--

Lebih Banyak Nonton daripada Belajar
Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik

* Kamis, 18 Februari 2010 15:22
* Ditulis oleh Arie Saptaji
* Sudah dibaca: 1770 kali

Diet ternyata tak cuma berurusan dengan makanan. Konsumsi media pun perlu diatur. Lebih dini, lebih baik.

Menurut Salman Faridi, koordinator Aksi Hari Tanpa Televisi 2009 di Yogyakarta, waktu yang dihabiskan anak-anak untuk menonton televisi mencapai 1.500 jam per tahun (kira-kira 4 jam per hari). Padahal, waktu belajar mereka hanya sekitar 750 jam per tahun. Hanya separuhnya!

Itu baru menonton televisi. Teresa Orange dan Louise O’Flynn dalam The Media Diet fo Kids memaparkan data konsumsi layar kaca yang mencakup juga menonton video, main game, dan berselancar di internet. Menurut data 2004, anak-anak usia 11-15 tahun 53 jam seminggu di depan layar kaca---lebih dari 7 jam per hari!

Artinya, konsumsi layar kaca mereka bukan lagi dalam taraf yang sehat, melainkan sudah mengarah pada kecanduan. Di sinilah pentingnya orangtua menerapkan diet media bagi keluarga.

Menerapkan diet berarti menyeimbangkan konsumsi media dalam kehidupan keluarga. Orangtua perlu tega menjauhkan anak dari layar kaca. Agar pendekatan ini efektif, orangtua mesti menyiapkan aktivitas pengganti yang baik.



Membatasi Media

Jangan biarkan teve terus menyala. Ruang keluarga rumah Anda bukan ruang tunggu apotek 24 jam. Begitu juga dengan game komputer, play station, atau koneksi internet. Buatlah jadwal harian, kapan saja anak-anak boleh menyalakan layar kaca.

Lebih baik, konsumsi media elektronik tidak dijadikan rutinitas, melainkan ”hadiah”. Setelah anak menyelesaikan PR, mengerjakan tugas rumah atau aktivitas tertentu, barulah mereka bisa sejenak nonton film atau bermain game.

Selain pembatasan waktu, pemilahan program juga perlu. Pantaulah acara teve yang ditonton, game yang dimainkan, dan situs internet yang dijelajahi. Jauhkan program yang berbau kekerasan dan seks. Sedapat mungkin dampingilah mereka, dan ajaklah mereka mendiskusikan tayangan media tersebut.

Jangan tempatkan teve di kamar anak (juga di kamar Anda). Komputer yang terhubung dengan internet sebaiknya juga dipasang di ruang keluarga untuk memudahkan pemantauan.



Aktivitas Pengganti

Hanya membatasi tanpa menyediakan aktivitas pengganti tentulah tidak efektif. Aktivitas pengganti diperlukan agar kehidupan anak menjadi seimbang, tidak melulu terserap di depan layar kaca.

Pembatasan waktu konsumsi media menyediakan ruang untuk mengisi jadwal dengan aktivitas yang berkualitas. Orange dan O’Flynn menyarankan enam aktivitas berikut ini: mengobrol, membaca, mengembangkan bakat dan kreativitas, berolahraga, membantu di rumah, dan bermain.

Masa kanak-kanak adalah masa terbaik untuk meletakkan landasan bagi pengembangan daya kognitif, afektif, dan psikomotorik mereka. Anak-anak juga sangat memerlukan aktivitas yang menuntut mereka untuk banyak bergerak, yang sangat bagus bagi perkembangan dan kebugaran fisik mereka. Aktivitas yang beragam dan seimbang akan mengembangkan masing-masing ranah tersebut secara optimal.

“Anak-anak membantu kalau diminta, tapi biasanya mereka bermain-main saja: itulah kewajiban anak-anak yang paling utama,” kata Paulo Coelho. Jangan biarkan anak-anak yang seharusnya bertumbuh gesit dan kreatif menjadi si bocah pasif yang tersihir oleh gemerlap layar kaca. ***

--

Hidup Dalam Kerajaan Allah
Penilaian Pengunjung: / 28
TerjelekTerbaik

* Jumat, 23 April 2010 09:12
* Ditulis oleh Sunanto
* Sudah dibaca: 2328 kali

Mat 6:31-33 “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Hampir semua orang kristen mengetahui ayat ini, bahkan ada yang menjadikannya sebagai ayat emas dalam hidup mereka. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya? Mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk mencarinya? Yang pasti bila Tuhan memerintahkan kita untuk mencarinya maka berarti Dia sungguh-sungguh menginginkan kita melakukannya bukan hanya sekedar mengetahuinya. Ayat-ayat dari Firman Tuhan ini bukan hanya perlu kita renungkan melainkan harus kita praktekkan. Setelah seseorang mengalami kelahiran baru, ia perlu mencari Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Pengalaman mendapat Kerajaan Allah akan membuat jiwa kita tenang dan mengalami perhentian sejati.

Oleh hamba-hamba Tuhan yang telah mengalaminya, pengalaman mendapat Kerajaan Allah diuraikan dan dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda. Sekalipun berbeda-beda cara menjelaskannya (bahkan istilah yang dipakai juga berbeda) tetapi tetap mengacu kepada pengalaman yang sama. Sebagai contoh, Jeanne Guyon (Madame Guyon) menjelaskan pengalaman ini sebagai pengalaman menyatu dengan Tuhan (Union With God). Pengalaman menyatu dengan Tuhan ini diuraikan dalam hampir setiap buku-bukunya. Demikian juga Watchman Nee menjelaskan pengalaman ini sebagai pengalaman pemisahan roh dan jiwa. Pengalaman ini dijelaskannya di dalam buku ‘The Spiritual Man’ dan terutama buku ‘Release of the Spirit’. Pengalaman ini diperoleh setelah seseorang mengalami proses disiplin Bapa yang seringkali memakan waktu yang panjang dan juga seringkali ‘aneh’. Tetapi setelah seseorang melaluinya dan setelah manusia rohnya menyatu dengan Tuhan, barulah ia menyadari mengapa Bapa di sorga memimpinnya melalui jalan yang ‘aneh’ tersebut.

Disiplin yang dialami anak Allah sebelum rohnya terbebas dari jiwa dan menyatu dengan Tuhan, akan membuat kehidupan lahiriahnya ‘berantakan’. Anak Allah ini menempuh suatu jalan yang penuh pergumulan dan ‘aneh’, sehingga mungkin saja ia kehilangan banyak teman, keluarga-keluarga dekatnya, pekerjaannya, harta bendanya atau yang lainnya. Ketika sedang mengalami proses ini, anak Allah tersebut seolah-olah tidak diberkati (menurut pengertian banyak orang kristen). Tetapi sesunguhnya ia sedang mengalami proses disiplin dimana tidak semua orang kristen mengalaminya, yaitu suatu proses dimana ia dipersiapkan untuk memerintah bersama Tuhan Yesus di zaman yang akan datang. Tetapi apabila anak Allah ini telah melewati disiplin sehingga ia benar-benar mengalami kematian daging (manusia lama) maka perlahan-lahan kehidupan lahiriahnya akan dipulihkan oleh Bapa di sorga sesuai kerelaan-Nya. Apa yang dahulunya telah ‘berantakan’, mulai dipulihkan satu persatu. Pekerjaan, keuangan, keluarga, pelayanan, dan hal-hal yang lainnya yang mungkin mengalami gangguan akan dipulihkan oleh Tuhan.

Yesus berkata, "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.” Untuk dapat memperoleh Kerajaan Allah kita harus menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Semua ambisi, ego dan hak harus dipersembahkan kepada Tuhan, sang penguasa tunggal dalam hidup kita. Tuhan meminta kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya bukan karena Ia ingin mengambilnya melainkan ingin menyelamatkannya. Harga yang harus dibayar untuk dapat hidup dalam Kerajaan Allah memang mahal (mengorbankan segala sesuatu yang bukan dari Allah). Tetapi bila kita mau membayar harganya maka kita akan menjadi pribadi yang paling merasa kagum dan senang di bumi ini. Kita akan benar-benar memiliki hidup yang bermakna dan kemanapun kita pergi akan menjadi berkat bagi di sekeliling kita. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya (kehidupan, kedamaian, sukacita, kuasa dan hikmat) akan ditambahkan kepadamu!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar