Rabu, 18 Agustus 2010

Melayani Adalah Kunci Sukses Anda.

“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” – Kejadian 1:26-27

Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia berkata, ”Aku menciptakan manusia untuk berkuasa, untuk bertambah banyak, untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya.” Tuhan menciptakan manusia untuk kebesaran dan kesuksesan. Dan untuk itu, Tuhan telah menanamkan benih kebesaran di dalam setiap orang. Dia sudah merajut DNA khusus di dalam manusia yang membuat manusia ingin berhasil dan sukses, tidak terkecuali jenis kelamin, suku, ras atau status sosial.

Bagaimana kita mengembangkan semua benih itu supaya termanifestasi menjadi keberhasilan? Bagaimana seseorang bisa berhasil menurut Tuhan? Lukas 22:24-27 mencatat pertengkaran murid-murid Yesus mengenai siapa dari antara mereka yang paling sukses. Yesus berkata kepada mereka: ”Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan… Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.”

Dari sudut pandang dunia, orang dianggap besar bila banyak orang melayaninya. Tetapi di kerajaan Allah, justru sebaliknya. Untuk menjadi besar, Anda harus menghitung berapa banyak orang yang sudah Anda layani.

Apa yang dimaksud dengan melayani? Kata ”melayani” yang dimaksud oleh Yesus mempunyai makna yang dalam, dan tidak identik dengan pembantu. Yang Yesus maksudkan adalah sikap melayani, bukan profesi melayani.

Sikap melayani adalah sikap yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri, tetapi sebaliknya memikirkan apa yang bisa diberikan demi kebaikan orang lain. Pembantu rumah tangga mempunyai profesi melayani, tetapi belum tentu memiliki sikap melayani. Suatu perbedaan yang tampaknya kecil, tetapi berarti di mata Tuhan.

Dengan mengadopsi sikap melayani, Anda sudah secara langsung menyalurkan potensi dan keahlian Anda pada jalur Tuhan – sama seperti ketika murid-murid Yesus menyerahkan lima roti dan dua ikan kepada Yesus. Ketika Anda melayani, Anda sedang mengkontribusikan potensi Anda ke dalam visi Tuhan. Pada waktu itu, Tuhan akan memultiplikasikan potensi dan benih kebesaran itu menjadi sesuatu yang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya. Anda akan menjadi orang yang diberkati luar biasa.

--

ISU


Di tengah masyarakat yang resah dan bingung, isu bisa menjadi subur. Sebuah dugaan, sebuah penafsiran, bahkan sebuah kabar burung, bisa ditangkap sebagai sebuah kebenaran. Maka, ibarat sebuah bola salju, dia akan terus menggelinding, semakin lama semakin besar; meninggalkan jejak, tanpa orang tahu lagi bentuk aslinya.

Seperti dalam kisah ini. Asrama mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi menerima kiriman paket dari salah seorang alumnus. Paket itu berisi sekeranjang makanan khas sebuah daerah. Tentu saja disambut gembira. Bagi komunitas asrama, kiriman makanan bisa menjadi "anugerah" tersendiri.

Akan tetapi, entah karena kelamaan diperjalanan atau entah dari sananya memang sudah begitu, makanan itu agak berbau tidak sedap. Wah, bagaimana ini? Kalau dibuang jelas sayang. Dan, kok ya tidak menghargai si pengirim yang sudah bersusah payah dan berbaik hati. Tetapi kalau dimakan juga, nanti kenapa-kenapa pula; mending kalau hanya mules, lha kalau sampai harus masuk rumah sakit, bagaimana coba.

"Kita berikan saja dulu sedikit ke si Bujel, anjing Ibu asrama. Kalau si Bujel tidak kenapa-kenapa, berarti bisa kita makan," usul seorang penghuni.

"Itu tidak berperi kebinatangan dong," protes penghuni lain.

"Lha, orang saja banyak yang tidak berperi kemanusiaan; kok situ masih mikirin peri kebinatangan. Apa mau situ yang nyicipi?!"

Alhasil, usul diterima. Si Bujel dipanggil, lebih tepat dipaksa. Tentunya tidak atas sepengetahuan Ibu asrama.

Singkat kata, ternyata si Bujel tidak kenapa-kenapa melahap itu makanan. Anjing itu malah mengaing-ngaing minta lagi. Maka tanpa dikomando dua kali, para mahasiswa menyerbu itu makanan. Dalam waktu singkat ludes. Dan tidak terjadi apa-apa.

Malamnya, mereka mendapat kabar si Bujel mati! Bukan alang kepalang mereka kaget. Keresahan dan ketakutan lantas saja menghantui; bagaimana ini, makanan sudah masuk ke perut mereka?! Ada yang katanya mendadak pusing, malah ada juga yang lalu muntah-muntah.

Dokter segera dipanggil. Para mahasiswa yang tadi ikut makan diperiksa satu per satu. Tidak ada yang janggal. Lalu kenapa si Bujel mati? O, rupanya tergilas truk!
Maka, berhati-hatilah dengan isu. Jangan kita mengambil keputusan atas dasar isu. Terlebih, jangan pula ikut menggelindingkan isu. Salah-salah, justru kita sendiri yang tergilas.

--

DIJAMIN HALAL!
Oleh: John Adisubrata

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” (Roma 11:36)

Akhir-akhir ini banyak banget orang-orang yang pada bingung ‘ngedebatin, terkadang aja ikut diskusi tanpa jadi sewot-melotot, tentang makanan haram atau halal sesuai dengan ajaran hukum Taurat dalam Perjanjian Lama, sebelum Tuhan Yesus Kristus datang untuk menggenapi semuanya itu.

Pertanyaan saya sih: Di jaman serba instan supersonik modern seperti sekarang ini, apakah ada jaminan 100% (seratus persen), bahwa kita tidak (akan) pernah menelan produk-produk makanan yang mengandung bahan-bahan berasal dari binatang-binatang tertentu?

Siapa sih yang kagak pernah pergi makan ke luar, ‘nongkrong di depot ini-itu, ‘nikmatin sate (oke, … yang ayam aja!) bakarannya Pak Miun, atau jagongan bareng-bareng di warung mie kwee tiauw Encek Hong Sien yang beken di ujung Jalan Raya Darmo?

Atau, … diajak temen-temen seiman nyobain makan semangkok soto Ambengan, atau ‘ngerasain sepiring nasi rawonnya Bu Gak Slamet di sebelah sekolah dasar Jalan Ngagel?

Atau, … kadang-kadang mesti beli ‘fish and chips’ kek, yang berminyak banget, ... di ‘take away shops’ atau di ‘foodcourt’-nya ‘mall’, atau ... harus ‘nganterin (‘nemenin) anak-anak atau keluarga, makan ‘junk food’-nya McDonald, Hungry Jack’s (di Indonesia namanya: Burger King), atau Pizza Hut?

Atau, … ikut nyemil-nyemil ‘cornchips’, ‘popcorn’, keripik kentang buatan luar negeri, sambil nonton bioskop, atau sambil rebah-rebahan di atas dipan-dipan rotan ‘ngobrol di halaman belakang rumah antar saudara?

Atau, … gara-gara ‘ngejerin karier melulu (kasarannya: ‘ngebetin uang aja!), supaya penghasilan rumah tangga jadi lebih meningkat, tidak punya waktu lagi untuk belanja di Pasar Pagi, atau masak makanan-makanan yang sehat (kasus ini hanya bagi yang tidak mempunyai pembantu di rumah!), sehingga setiap hari keluarganya dihidangin santapan-santapan instan asal-asalan dari dalam kaleng, atau dari dalam paket-paket plastik, seperti super mie buatan Thailand, bumbu-bumbu masak merk Bamboe, botol-botol saus masak cap Sauschwein, dan lain-sebagainya?

Pertanyaan saya lagi: Apakah ada garanti dalam hal-hal seperti itu, bahwa kita akan selalu bebas dari ancaman engga bakalan nelen makanan-makanan yang ‘ngandung ‘by products’ berasal dari binatang-binatang yang menurut kita haram?

Apakah ada garanti juga, bahwa yang mereka (si pemilik restoran, atau si pemilik depot) katakan kepada kita tentang bahan-bahan masak yang mereka pergunakan, seperti dagingnya kek, minyaknya kek, atau bumbunya kek, adalah yang seperti mereka jaminkan? Ingat ‘nggak peristiwa si Ajinomoto, cap mangkok merah? Kalau tidak salah kasus itu terjadi awal tahun 2002. Saya jadi ikut ‘ndengerin berita-berita dari televisi dan ikut ‘ngebaca artikel-artikel dalam koran tentang kejadian itu, gara-gara lagi kebetulan pulang ‘ngampung ke Indonesia.

Dan pertanyaan saya yang berikutnya: Apakah kita bisa ‘ngerti semua tulisan-tulisan yang dicantumkan di atas paket-paket masakan atau penganan instan yang kita makan? Jaman sekarang bumbu-bumbu di dalamnya biasanya ditulis dalam bentuk nomor-nomor, bukan nama-nama bahan lagi! Mungkin sekali hanya untuk hemat-hemat tempat/kertas, dan juga sekalian ‘ngehematin tinta cetaknya. Entah di Indonesia sekarang gimana, yang jelas kalau di negara ‘Down Under’ prinsipnya mah udah lama diganti model begituan.

Karena itu, meskipun ini hanya merupakan suatu persepsi pribadi saja, saya berani nanggung dah: Engga akan ada garantinya, bahwa kita hanya mau atau bisa ‘nyantap makanan-makanan yang menurut kita halal!

Di kota Brisbane, Australia, saya sering banget ‘ngeliat ibu-ibu berkerudungan pake jubah-jubah panjang asal Timur Tengah, yang sukaannya beli permen-permen jelly di supermarket-supermarket, yang memang terkenal enak, kenyal-kenyal gitu. Mungkin sekali di rumah sendiri masak dagingnya semua berasal dari ‘butchers’ halal, s’bab katanya spesial banget, khan ‘ngebantainya disambil ‘nyeruin salah satu dari mantra-mantra manjur tertentu. Tetapi tanpa disadari oleh mereka sendiri, karena doyan ‘ngemut, … eh kecolongan juga, ... makan permen-permen jelly yang mengandung ‘gelatin’! Anda khan tahu sendiri maksud saya, bahan itu berasal dari mana? Berabe deh, kalau mereka ‘ngecek nomor-nomor rahasia yang tercantum dalam daftar ‘ingredients’-nya

Jadi di jaman seperti ini, … bagaimana cara kita untuk bisa membuktikan kepada orang-orang lain, bahwa tubuh kita sendiri tidak pernah terkontaminasi oleh bahan-bahan makanan yang kita yakini terlarang atau najis? Lalu menyangka bahwa hanya kita saja yang bisa seperti burung-burung ‘peacock’, dengan angkuhnya memamerkan keindahan ekornya, masuk pintu gerbang sorga, sambil ‘ngetawain orang-orang lain yang sukaannya makan sate babi, RW, gulai kambing dan lain sebagainya.

“Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu.” (Roma 14:3)

Ada sih satu kemungkinan, bagi yang mau sungguh-sungguh ‘strict’ ‘ngikutin cara makan sesuai dengan hukum Taurat: Bagaimana yah, kalau kita punya pertanian dan perternakan sendiri aja di belakang rumah untuk dikonsumsi hanya oleh seluruh anggota keluarga sendiri? Tapi, … mikir-mikir lagi, … gimana nih dengan pupuknya? Wah bisa berabe juga kalo itu … eh, jangan-jangan berasal dari perut-perut si ‘Babe’! Yuck, … haram banget?!

Serba pusing juga, yah?!

Karena itu firman Tuhan khan jelas bilangnya gini: ‘Karena: “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.” (1Korintus 10:26) Dan Roma 14 ayat 6 juga ‘nerangin: “... Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah.”

Bukankah Alkitab juga mengatakan, bahwa kita (KITA) penuh (PENUH) dengan (DENGAN) dosa (DOSA)? Dan bukankah seluruh kebaikan-kebaikan kita (yang tentu saja hanya merupakan standar manusia) adalah seperti kain-kain yang kotor di mata Tuhan?

Karena itu, kita semua perlu ‘pembenaran’ melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di Kayu Salib 2000 tahun yang lalu, yaitu untuk dengan sepenuh hati bersyukur menerima anugerah kasih karunia penuh keajaiban, yang sudah diberikan oleh-Nya kepada kita secara gratis. Dan bukan berusaha terus mengerjakan keselamatan kita dengan memakai logika pikiran atau kekuatan sendiri guna menyenangkan hati Bapa di sorga.

Padahal ... tanpa kita sadari, sebenarnya tubuh kita sendiri sudah (lama sekali) terkontaminasi oleh bahan-bahan yang kita gembar-gemborkan ‘haram’, sambil rajin menghakimi umat Tuhan yang lain. Firman Tuhan khan juga jelas mengatakan, bahwa siapa yang ingin terus menjalankan hukum Taurat, … akan diadili kelak menurut hukum tersebut.

Lagipula, … hampir semua orang-orang Kristen khan udah ‘ngerti banget, bahwa hukum Taurat sebenarnya bukan cuman urusan makanan haram/halal doang, … ‘scope’ hukum Taurat mah jauh lebih njelimet! Karena itu, kita semua butuh banget kehadiran Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan kita.

Saya mah udah mutusin untuk ‘ngikutin Tuhan Yesus aja, ah! S’bab saya harus ‘ngakuin nih, … engga bakalan mampu dah untuk menuhin syarat-syarat hukum-hukum Taurat yang rumitnya, … ya ampun!!

Hanya sekedar oret-oret untuk dipertimbangkan, ... betul engganya?

--

Mengenal dan Menikmati Allah

Dalam agama-agama tertentu di dunia ini Allah dibayangkan sebagai Allah yang bengis dan kejam. Matanya melotot atas setiap perbuatan yang kurang berkenan dimataNya dan tangannya memegang rotan yang siap dipukulkannya. Yang benar Dia adalah Allah yang penuh kasih dan anugerah. Allah yang kesukaanNya memberkati dan memberi sejahtera bagi umatNya. Sebagai bukti bahwa Allah itu baik; Ia menciptakan Firdaus untuk kita, Ia menjadi manusia untuk kita.

Kedatangan Tuhan Yesus bukan untuk menawarkan sederetan hukum-hukum dan peraturan ibadah. Tuhan Yesus tidak menawarkan sebuah penjara kehidupan yang membuat seseorang menjadi orang beragama yang ketat melaksanakan syariatnya. Tetapi Tuhan Yesus hanya menawarkan berkat dan anugerah Allah bagi siapa yang mentaati-Nya. Ia datang untuk memberkati (Yoh 10:10; II Kor 8:9).
Tetapi kenyataannya ada banyak orang kecewa dan bahkan ada yang mulai berpaling dari Tuhan karena ternyata tidak memperoleh apa yang diharapkan dapat diperoleh dari Tuhan. Mengapa demikian? Hal itu terletak pada faktor-faktor ini:

Yang pertama, tidak menerima kenyataan bahwa Tuhan Yesus datang membawa kerajaan sorga. Harus diperjelas bahwa Ia datang membawa pemerintahan Allah sebagai prioritasnya. Itu berarti hal yang utama harus diterima oleh setiap orang yang datang kepada Tuhan Yesus adalah : Pertobatan penyucian diri oleh darah Tuhan Yesus, Kehidupan kekal bersama-Nya. Tuhan hendak mengungsikan kita dari dunia ini ke dalam kerajaanNya. Hal ini dijelaskan Paulus dalam Roma 14:17.

Yang kedua, tidak menjadikan Tuhan jalan satu-satunya. Kalau seseorang datang kepada Tuhan Yesus, ia harus menerima dan mengakui bahwa Dialah jalan satu-satu dan sumber pertolongan terakhir yang kita harapkan dan andalkan. Datang kepada Tuhan Yesus tidak boleh karena hendak coba-coba. Mengapa ada orang yang coba-coba ? Sebab tidak mengerti kebenaran bahwa Ia datang membawa Kerajaan Allah. Dalam hal ini harus dipahami bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang tidak boleh diduakan (Matius 6:24; Ul 5:7). Orang yang coba-coba adalah orang yang tidak percaya dan orang yang tidak percaya tidak akan mendapat apa-apa dari Tuhan (Yak 1:6-7). Percayalah bahwa Tuhan baik. Ia suka melihat keadaan kita baik-baik, dalam kelimpahan berkatNya.

Yang terakhir, tidak bertumbuh dewasa. Selanjutnya setelah kita menjadi anak Tuhan, Tuhan mau agar kita menikmati berkatNya. Agar kita dapat menikmati segala berkat yang Bapa sediakan, kita harus bertumbuh ke arah Dia. Dalam hal ini Bapa mau kita dapat menyukakan hatiNya dengan kehidupan yang semakin sempurna. Kenyataan yang kita lihat banyak orang kristen yang kerohaniannya tidak bertumbuh dewasa. Sebagai akibatnya mereka akan disibukkan dengan berbagai persoalan minor yang tidak mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan.

--

Mengasihi Allah Berarti Mengasihi Sesama
Pdt. Bigman Sirait


Reformata.com - DALAM Injil Lukas 10: 25-37, dikisahkan tentang seorang ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentang siapakah sesamanya. Lalu Yesus mengajukan beberapa pertanyaan dan menyuruh dia meniru perbuatan orang Samaria yang murah hati yang berbuat keba-jikan kepada sesama tanpa memandang latar belakang.
Bertanya adalah sesuatu hal yang penting dan baik.

Tetapi hari ini kita melihat bagaimana si ahli Taurat itu mengajukan pertanyaan kepada Yesus. Ia bertanya karena ingin mencobai Yesus. Sikap yang sombong, bukan rendah hati. Ia ingin mencobai Yesus untuk membuktikan bahwa dia orang yang punya banyak pengetahuan, dan berharap Yesus tidak mampu menjawab pertanyaannya. Selanjutnya dia akan memberitahu jawabannya sehingga Yesus dipermalukan. Ahli Taurat bertanya hanya untuk kepuasan rasionya, tidak untuk dijiwai. Sehingga pertanyaan itu sebagai konsumsi untuk memenuhi benak dan pikirannya. Ia bertanya hanya sebatas untuk kepuasan, bukan sesuatu bagian dari dalam hati. Dia bertanya bukan dari apa yang dia tidak tahu, tetapi dari apa yang dia tahu, hanya memang tidak dilakukannya. Itu sebab ketika Yesus memberi contoh dan mengatakan: “Lakukanlah”, ia sangat malu karena ia bertanya dari apa yang dia tahu tetapi tidak pernah dikerjakannya.
Bertanya mestinya menyenang-kan hati karena kita menjadi mengerti apa yang tidak kita mengerti. Dan akhirnya itu melahirkan satu rangsangan untuk melakukannya, karena yang kita tahu itu menyenangkan. Ahli Taurat itu bertanya, padahal dia tahu jawabannya, sehingga dia tidak mendapatkan apa-apa dari pertanyaannya kecuali rasa malu karena terpojok, dan dia terpojok karena perilakunya. Ia mengang-gap diri paling pintar dan hebat, sementara orang lain bodoh, dan ia berpikir bisa menjebak Yesus lewat pertanyaannya.
Ini sesuatu yang lucu, karena kalau dia bertanya: “Siapakah sesamaku”, maka harus diikuti pertanyaan: “Siapakah Allahku?”, karena hukum Taurat itu berbicara tentang kasih kepada Allah, dan kasih kepada sesama. Bagaimana dia bisa mengenal Allahnya kalau dia tidak mengenal sesamanya? Bagaimana dia mampu mengata-kan mampu mengasihi Allah jika tidak mengasihi sesama? Bagai-mana mungkin dia bertanya “yang mana sesamaku” kalau memang dia mengenal Allah? Siapakah sesamaku, adalah sesuatu hal yang mudah dimengerti, bukan untuk diperdebatkan tetapi untuk dilaksanakan. Tetapi dia justru memperdebatkan dan memper-masalahkan hal yang mestinya dikerjakan: mengasihi sesama. Bukannya dia bertindak untuk mengasihi, tetapi membuat sebuah problema menjadi rumit karena mempertanyakan “siapakah sesamaku”.
Pertanyaan ini memang hanya untuk membenarkan dirinya. Di balik kalimat tanya itu dia ingin menyembunyikan bagian yang harus dia kerjakan, yaitu mengasihi sesama seperti diri sendiri, yang tidak pernah dikerjakannya. Dengan pertanyaan itu, si ahli Taurat itu sudah memanipulasi kebenaran yang sebenarnya sangat faktual dengan berdalih dan berargumentasi yang dibuat-buat.

Perdebatkan firman
Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak di antara kita selalu berusaha memanipulasi kebenaran demi kebenaran diri. Dan berapa banyak di antara kita menegur orang lain dengan mengangkat firman Tuhan, dan yang ditegur pun menjawab dengan firman Tuhan, lalu terjadilah perdebatan dengan sama-sama mengangkat firman Tuhan. Memangnya firman Tuhan itu dua posisi berbeda sehinga bisa berdebat? Iblis pernah memakai firman Allah untuk mencobai Yesus, tetapi Yesus menjawab dengan bijak sehingga iblis malu dan menyingkir. Pencobaannya gagal. Tetapi kita begitu suka mengulangi peran si iblis ini dengan mengangkat dan berbicara tentang firman Allah, bukan untuk mengagungkan dan meninggikan kebenaran itu, tetapi untuk membenarkan diri, menambah nilai hidup kita.
Pertanyaan ahli Taurat bukan menjadi jawaban. Dia bukan seorang yang rindu untuk tahu apa yang dia tidak tahu, tetapi hanya memanipulasi kebenaran untuk kepentingan dirinya. Kita juga merenungkan apa yang sudah kita ketahui tadi. Saya tidak tahu maka saya bertanya. Kemudian saya menjadi tahu. Kalau saya sudah tahu, maka yang saya ketahui harus saya renungkan, saya gumuli supaya saya bisa menemukan intisari dari apa yang saya ketahui, supaya yang saya ketahui itu menjadi bagian dari kehidupan saya, bagian dari jiwa saya, bukan cuma rasio saya. Maka sesuatu yang sudah saya ketahui, saya gumuli dan saya simpan di dalam hati, harus menjadi tindakan nyata karena sudah merupakan bagian dari hidup saya. Ia mesti muncul sebagai suatu reaksi yang keluar dari diri saya, sehingga pengetahuan itu keluar menjadi satu tindakan. Tindakan itu menjadi identitas saya, dan dengan tindakan itu orang mengenal saya.
Jika kita suka bertanya tentang kebenaran maka kita tahu banyak tentang kebenaran. Jikalau kita tahu banyak tentang kebenaran maka kita harus merenungkan ke-benaran. Jikalau kita mau merenungkan maka kita harus melakukan kebenaran. Dan dengan melakukan kebenaranlah maka perbuatan kita mengatakan kalau kita memang tahu apa itu kebenaran. Dengan berbuat kebenaranlah identitas kita bisa dimengerti dan dikenal orang lain. Jadi bukan sekadar berargu-mentasi dengan mulut tetapi tidak melakukannya dalam kehidupan. Ini menjadi tantangan. Banyak juga sebenarnya di antara kita yang tidak mau tahu terhadap kebenaran, tidak mau bertanya dan mempertanyakan tentang kebenaran. Kita suka mendengar sesuatu tanpa mempermasalahkan lagi. Kalaupun kita bertanya, kita bertanya seperti si ahli Taurat hanya untuk memperumit sesuatu yang kita tahu. Bertanya penting, tetapi bukan untuk membanggakan diri. Bertanya penting tetapi bukan untuk memanipulasi kebenaran.
Bertanya tentang kebenaran menjadikan kita kritis, tidak menjadikan kita menjadi orang yang mudah tersesat, tetapi juga jangan sekali-sekali menyesatkan diri dalam pertanyaan hanya karena tidak mau melakukannya. Jangan menjadi tersesat karena malu bertanya, sehingga engkau tidak mengerti kebenaran itu secara hakiki. Jadi, marilah kita bertanya untuk mengetahui kebenaran. Jangan sekali-kali bertanya untuk memanipulasi kebenaran demi kebenaran diri sendiri. Biarlah kita bertanding dalam hidup tentang kebenaran. Dengan bertanya maka kita tahu banyak tentang kebenaran. Dengan tahu banyak kebenaran kita memiliki paling banyak kebenaran di dalam hati kita. Dan akhirnya kita menjadi orang yang paling banyak melakukan kebenaran untuk puji hormat nama Tuhan.

1 komentar: