Selasa, 10 Agustus 2010

3 Penawar Ketika Pekerjaan Begitu Menyiksa


3 Penawar Ketika Pekerjaan Begitu Menyiksa
MONDAY, 09 AUGUST 2010
Total View : 13 times

“Seseorang yang merasa tersiksa dengan pekerjaannya akan membuatnya menjadi sinis, frustrasi dan kehilangan semangat ketika mereka pulang di malam hari,” ujar Lencioni. “Pekerjaan itu akan menguras energi, antusiasme dan harga diri mereka. Seseorang yang tersiksa dengan pekerjaannya dapat ditemukan di setiap bidang pekerjaan pada setiap jabatan.”

Untuk para pekerja yang mungkin memiliki tanda-tanda tersiksa karena pekerjaannya, Lencioni merekomendasikan 3 langkah untuk meningkatkan dinamika di atara atasan dan karyawan serta meningkatkan kepuasan kerja.

1. Nilai atasan Anda. Apakah atasan Anda mampu mengatasi pekerjaan mereka meskipun mereka terlihat sinis, frustrasi dan kehilangan semangat? “Kebanyakan manager ingin mengembangkan dirinya meskipun fakta menunjukkan bahwa mereka tampaknya tidak tertarik atau terlalu sibuk,” kata Lencioni.

2. Bantu atasan Anda untuk memahami apa yang Anda butuhkan. Ini bisa berarti bersama dengan atasan Anda meninjau kembali apa yang menjadi kunci pengukur keberhasilan dalam pekerjaan Anda. Lencioni juga menyarankan untuk bertanya langsung pada atasan Anda, “Dapatkah Anda menolong saya untuk memahami mengapa pekerjaan yang saya lakukan bisa begitu penting bagi seseorang?”

3. Bertindaklah lebih dari apa yang atasan Anda harapkan. Carilah cara agar atasan Anda tahu bahwa apa yang mereka kerjakan mendatangkan perbedaan yang positif bagi Anda.

Jadilah Realistis

Richard Philips, pendiri dari Career Advantage Solutions, setuju bahwa “mengelola atasan” adalah sebuah cara yang baik untuk meningkatkan kepuasan kerja, namun Richard memperingatkan bahwa sebagai karyawan Anda harus realistis dengan harapan Anda.

“Atasan bukanlah seorang pembaca pikiran,” ujarnya. “Ambillah tanggung jawab untuk berkomunikasi dengan diri Anda sendiri, dan ingat harus ada dialog terus-menerus antara Anda dan atasan atau perubahan tidak akan terjadi.”a

--

Cara Habiskan Gaji Tanpa Rasa Bersalah
FRIDAY, 30 JULY 2010
Total View : 285 times

Bila Anda membaca judul artikel di atas mungkin Anda akan bertanya-tanya, “ada begitu cara menghabiskan gaji tanpa rasa bersalah?” tentu saja jawabannya ada. Dan percayalah, bila Anda membaca habis artikel ini, Anda akan mengerti bahwa tidak semua hal yang berbicara “menghabiskan” berkonotasi negatif. Mengapa bisa begitu? karena yang berperan disini adalah bagaimana kecerdasan Anda mengelola keuangan Anda dan atau keluarga Anda.

Apabila Anda menerapkan prinsip prioritas dalam mengatur keuangan Anda maka seberapa pun gaji Anda saat maka itu tidak akan menjadi masalah. Problemanya sekarang, prioritas mana yang harus didahulukan? Berikut tahapan prioritasnya:

1. Persepuluhan

Sebagai umat Kristiani adalah kewajiban kita untuk membayar persepuluhan kepada Tuhan. Bagi Anda yang belum pernah melakukannya, hal ini pasti berat. Namun, perlu Anda ketahui bahwa Tuhan memberkati orang-orang yang mengembalikan 1/10 bagian dari apa yang mereka usahakan di muka bumi ini bahkan dengan berlipat-lipat. Oleh karenanya, bayarlah persepuluhan Anda dan lihatlah Anda tidak akan pernah benar-benar hidup berkekurangan.

2. Cicilan utang, maksimal 35 persen dari penghasilan

Pengeluaran ini sifatnya juga fix dan berisiko tinggi. Oleh karena itu, Anda harus memenuhi kewajiban ini setiap bulan saat awal menerima gajian. Cicilan seperti KPR, kendaraan, kartu kredit, dan lainnya perlu dilunasi sesuai pembelanjaan Anda. Sangat disarankan jika Anda tidak sanggup untuk membayar beban dari penggunaan kartu kredit atau cicilan KPR dan kendaraan maka janganlah mengambilnya. Selain aman, Anda tidak perlu dipusingkan dengan bunyi dering telepon dari pihak kreditur yang menghubungi atau melakukan penagihan.

3. Kebutuhan masa depan, minimal 10 persen dari penghasilan

Menabung, berinvestasi, dan membeli asuransi adalah sejumlah bentuk kebutuhan masa depan yang harus dialokasikan dari penghasilan bulanan. Kebutuhan ini menjadi penting karena kondisi keuangan selalu dinamis. Apalagi bagi karyawan, di mana ketahanan gaji memungkinkan untuk naik, turun, atau bahkan tak berpenghasilan alias kehilangan pekerjaan (PHK misalnya). Sifat dari pengeluaran ini fix dan berisiko tinggi.

4. Biaya hidup, 40-60 persen dari penghasilan

Jika ketiga kewajiban di atas sudah dapat dipenuhi pada saat Anda menerima gaji bulanan maka gunakan sisanya untuk memenuhi semua kebutuhan rutin bulanan, seperti sembako, listrik/air, uang sekolah anak (bagi yang berkeluarga), iuran lingkungan/keamanan, termasuk yang terkait hobi seperti membeli buku, menonton film, atau pengeluaran entertainment lainnya (yang sifatnya keinginan).

Jadi, sudah tahu kan harus bagaimana untuk menghabiskan gaji Anda? Sekarang keputusan Anda, mau mengikuti melakukan empat prioritas yang ada di artikel ini atau melupakannya dan mencari cara sendiri? Selamat mengambil keputusan bijak bagi hidup Anda.

--

Ini berita BURUK atau berita LUCU? Seorang kerabat saya yang berasal dari Australia, tertawa (sampai terpingkal-pingkal) dengan berita-berita yang berkeliaran di media-media Indonesia, khususnya berita mengenai Tabung gas meledak. Dia menanyakan, apakah memang tabung di Indonesia bisa meledak seperti layaknya Bom atau granat? "Wah, bagaimana resepnya? Koq kami tidak bisa membuat benda yang sama?"

Saya hanya berusaha menjelaskan, bahwa persisnya tidak seperti itu. Tidak mungkin meledak. Karena setiap berita yang menginformasikan adanya tabung gas yang meledak, ternyata pada layar kaca maupun gambar-gambar tampak jelas kalau tabungnya baik-baik saja, utuh, hanya catnya yang terkelupas dan tentusaja tidak hancur berkeping-keping sebagaimana layaknya bom atau granat yang meledak.

Mengapa banyak media menggunakan kata "MELEDAK"? Menurut saya, biar nampak heboh saja. Dan tentusaja kita lebih senang mendengarkan dan menyampaikan berita yang seru daripada mendengarkan dan menyampaikan informasi yang benar dan lebih bermanfaat. Misalnya, kenapa gas bisa mengakibatkan ledakan? Dan apa sebenarnya penyebabnya.

Kalau orang asing sampai terpingkal-pingkal, seharusnya kita yang ditertawakan merasa malu, mencari tahu kebenarannya dan bukan malah jengkel apalagi masa bodoh dan tetap berada di dalam "kebodohan".

Kenapa Gas Bisa Meledak ?
Sebenarnya yang terbakar adalah gas. Dan tentusaja bukan tabungnya. Suara ledakan, adalah akibat jumlah gas yang cukup banyak dan terkonsentrasi di luar tabung. Kalau gas masih tetap berada di dalam tabung, maka gas tersebut tidak akan terbakar. Gas yang berada di dalam tabung, memberikan tekanan keluar, sehingga tidak mungkin api sampai masuk ke dalam tabung.

Sebagai contoh, saat kita memasak, klep yang berada di atas tabung, terbuka oleh tekanan regulator, lalu gas mengalir menuju kompor melalui selang. Sistem pada kompor, membagi gas secara merata pada masing-masing mata tungku, sehingga kita bisa memasak seperti biasa. Seandainya api dapat "tersedot" atau "menyambar" ke dalam tabung melalui gas yang dialirkan di dalam selang, maka setiap kita memasak pastilah akan terjadi kebakaran.

Sebenarnya, setiap kita memasak, terjadi "KEBAKARAN". Hanya saja, jumlah gas yang keluar jumlahnya tidak banyak, dapat dikendalikan, sehingga "kebakaran" tersebut dapat kita manfaatkan untuk memasak.

Pada prinsipnya, gas akan habis jika bertemu api. Oleh karenanya pada setiap kilang minyak maupun kilang gas, pada ujung cerobong diberikan api. Agar gas tersebut habis terbakar dan tidak menyebar kemana-mana.

Yang BERBAHAYA adalah saat gas keluar dari tabung dan disana tidak ada api. Parahnya, disanapun tidak ada ventilasi yang dapat mengalirkan gas keluar dari ruangan. Akibatnya, gas akan terus berkumpul, menjadi banyak, dan memiliki tekanan yang cukup tinggi. Sehingga pada saat ada yang menyalakan kompor, korek api atau menyalakan listrik maka akan menimbulkan percikan api. Gas yang terkonsentrasi di dalam ruangan dalam jumlah yang banyak, akhirnya terbakar secara bersamaan. Inilah yang menimbulkan suara seperti ledakan dan daya bakar yang luar biasa cepat.

Jadi, penyebab terjadinya kebakaran gas karena adanya 2 unsur yang saling medukung:
Pertama, karena adanya kebocoran gas. Kedua, karena tidak ada ventilasi sehingga gas tersebut terkonsentrasi. Kalau hanya salah satu saja penyebabnya, maka tidak akan terjadi kebakaran besar. Gas yang bocor di tempat terbuka, mungkin saja dapat terbakar, tapi tentulah tidak sedahsyat gas yang bocor di tempat yang tidak berventilasi baik.

Penyebab Kebocoran
Gas dapat keluar dari Tabung yang terbuat baja penyebabnya bisa bermacam-macam sebagai berikut :
1. Tabungnya bocor
2. Regulator rusak atau bocor
3. Regulator tidak menutup dengan rapat
4. Selang rusak atau bocor
5. Sambungan antara selang dengan regulator tidak rapat
6. Sambungan antara selang dengan kompor tidak rapat
7. Knop kompor dalam keadaan terbuka, sehingga terus mengalirkan gas.

Dari 7 penyebab keluarnya gas tesebut, kira-kira berapa persen salah pertamina dan berapa persen salah kita sebagai pengguna ?

Kesalahan dari pihak pemerintah, pertamina dan konsultan yang ditunjuk untuk membagi-bagikan paket tabung dalam program konversi adalah karena tidak mensosialisasikan secara menyeluruh kepada masyarakat mengenai tata cara penggunaan kompor dan tabung gas yang benar dan aman.

Kesalahah lainnya yang cukup fatal adalah TIDAK MEMBERITAHUKAN UMUR SELANG dan REGULATOR kepada masyarakat pengguna kompor dan tabung gas. Selang dan Regulator, rata-rata dapat bertahan dan bekerja dengan baik selama 12 bulan sampai maksimal 20 bulan.

Nah, Kapan terakhir kita mengganti SELANG dan REGULATOR ?
Kalau kita pun tidak ingat kapan terakhir kali mengganti selang dan regulator, artinya, kita pun tinggal menunggu waktu dan PASTI akan menjadi salah satu korban yang banyak diceritakan di berbagai media tersebut.

Kalau kita lupa mengganti baterai remote TV dan menunggu sampai baterainya benar-benar habis, resiko terparahnya kita harus memencet tombol di TV secara langsung. Kalau kita lupa menganti Ban Motor dan membiarkannya aus karena gesekan, resiko terparahnya kita slip dan mungkin tabrakan. KALAU KITA LUPA MENGGANTI SELANG DAN REGULATOR DAN MEMBIARKANNYA RUSAK KARENA USIA, resikonya yah, KEBAKARAN.

Kalau kita sendiri yang lupa menganti selang dan regulator dan menunggunya sampai rusak dan bocor, apakah pantas kita menyalahkan orang lain atau pemerintah?

Memang pemerintah ada andil dalam kejadian kebakaran gas belakangan ini. Tapi kita, juga ikut andil dan menjadi penyebab utama kebakaran tersebut.

Harga paket selang dan regulator yang berkualitas baik, kurang dari
Rp 100.000,- tapi dampak membiarkan selang dan regulator rusak rasanya bisa ribuan kali dari harga tersebut di atas.

Kalau pemerintah kurang sosialisasi, maka marilah kita yang mengerti untuk mensosialisasikan hal ini, minimal kepada keluarga dan kerabat kita. Mari kita berhenti menjadi masyarakat yang suka mengeluh, saatnya menjadi bagian dari solusi…!!!

--



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar