Kamis, 05 Agustus 2010

Mengais Rezeki dari Penghasilan Sampingan, Kenapa Tidak?




Biaya hidup rasanya terus mendaki dari tahun ke tahun, dengan kecepatan yang acap membikin kita terkaing-kaing. Biaya belanja sehari-hari, biaya anak sekolah (lengkap dengan seabrek kursus-kursunya), biaya tak terduga (ah, betapa banyaknya pos yang satu ini!), rasanya terus melambung.

Bagi Anda yang bekerja sebagai karyawan kantoran, dimana kenaikan gaji sering cuman segitu-segitu saja, tentu melambungnya biaya hidup itu acap membikin kepala kliyengan. Belum tiba tanggal gajian, lho kok uangnya sudah habis duluan. Boro-boro liburan sekeluarga ke Bali, uang buat beli susu saja kadang ndak cukup. Doh !

Bagi sebagian besar orang, konsep kebebasan financial (financial freedom) memang masih terasa sebagai sebuah fantasi. Jadi bagaimana dong? Bagaimana agar tidur kita lebih nyenyak, ndak diganggu dengan beban finansial keluarga yang rasanya kian berat?

Dilatari oleh kondisi seperti itulah, lalu muncul gagasan tentang mencari rezeki tambahan dari penghasilan sampingan. Maksudnya, selain gaji sebagai pekerja kantoran, bisa ndak ya kira-kira kita bisa mengais sejumput rezeki tambahan yang halal, dari usaha sampingan?

Jawabannya : bisa. Dan disini kita akan membahas dua pilihan yang mungkin bisa dilakoni untuk mencari sejengkal rezeki sampingan.

Pilihan yang pertama adalah : mulai memberdayakan istri/calon istri untuk mencari sumber penghasilan tambahan (sory, pilihan ini memang hanya berlaku bagi Anda yang berjenis kelamin lelaki). Mungkin sebagian dari kita sudah memiliki istri; dan banyak diantaranya hanya berperan sebagai ibu rumah tangga thok. Kalau begini, kenapa kita tidak mulai mendorong dan memberdayakan pasangan hidup kita untuk ber-metamorfosa menjadi insan yang produktif?

Memang tidak semua istri kita punya bakat untuk menjalani usaha atau pandai berdagang. Namun dengan dorongan Anda, para ibu rumah tangga itu pasti bisa belajar menjadi penghasil rezeki yang tangguh (apalagi jika sudah kepepet).

Contoh : rekan saya yang bekerja sebagai pekerja di sebuah BUMN memberdayakan istrinya untuk menjadi pengelola toko serba ada miliknya. Melalui usaha yang berjibaku, omzet tokonya itu telah menghasilkan keuntungan yang sama dengan gaji bulanan dia. Lumayan.

Apalagi jika istri/calon istri Anda itu punya hobi atau bakat keahlian tertentu, seperti masak, suka fashion/menjahit, atau demen dengan pernik kecantikan. Nah, kalau seperti ini bisa lebih mak nyus. Salah satu tetangga saya misalnya, punya istri yang jago bikin risoles yang renyah. Kini usaha sampingan istrinya itu terus melesat; dan memberikan tambahan rezeki yang melimpah.

Jadi kalau Anda punya istri/calon istri yang potensial, kenapa tidak mulai dari sekarang diberdayakan menjadi pencari rezeki tambahan?

Pilihan yang kedua adalah : mencari penghasilan tambahan melalui keahlian Anda. Kita tahu sebagai pekerja kantoran kita bekerja Senin – Jumat dari jam 8 – 5 sore. Nah bukankah kita masih punya waktu setelah itu. Misal dari jam 7 s/d jam 12 malam? Atau di hari Sabtu. Mengapa kita tidak menggunakan waktu ini untuk mencari penghasilan tambahan?

Misalnya, malam-malam daripada sekedar browsing ndak karuan, mengapa kita tidak melakukan kegiatan online untuk mencari tambahan penghasilan. Seperti teman saya misalnya. Selain bekerja dari pagi sampai sore sebagai pekerja kantoran, di malam hari ia menjalankan kegiatan kursus membaca cepat secara online. Ajaib : peminatnya membludak (peminatnya banyak karena memang kursus membaca cepat-nya bermutu bagus. Kalau ndak percaya, silakan saja datang kesini).

Atau jika Anda punya keahlian sebagai trainer, mengapa tidak mencari tambahan rezeki dengan menjadi trainer pas di hari Sabtu atau di hari kerja dengan cara mengambil cuti. Atau contoh lain : setiap Sabtu atau di malam hari, Anda meluangkan waktu untuk mengelola bisnis Anda sendiri, entah bisnis bikin seragam kantor, bisnis jualan pulsa elektronik, bisnis jualan makanan khas dari kampung halaman Anda, bisnis cuci mobil, bisnis jualan kebab waralaba, atau bisnis pijat refleksi.

Pendeknya, meski bekerja sebagai karyawan kantoran, kita tidak menutup peluang untuk mencari penghasilan tambahan yang halal. Baik pilihan pertama, pilihan kedua atau kombinasi dari dua pilihan diatas, bisa Anda lakukan dengan sepenuh hati. Yang penting : action. Jangan cuma dipikir-pikir doang. Kalau cuman dipikir, kapan aksinya dong.

Oke, selamat bertindak. Mudah-mudahan kita semua bisa mengais rezeki tambahan yang barokah, dan memang telah disediakan oleh Sang Maha Pemberi Rezeki.

--

"I live by this credo: Have a little laugh at life and look around you for happiness instead of sadness. Laughter has always brought me out of unhappy situations. Even in your darkest moment, you usually can find something to laugh about if you try hard enough."

Red Skelton
1913-1997, Comedian

--

"Everyone wants to be appreciated, so if you appreciate someone, don't keep it a secret."

Mary Kay Ash
1915-2001, Founder of Mary Kay Cosmetics

--

Blackberry, Social Proof dan Positive Labeling

Blackberry, kita tahu, kini telah menjadi salah satu gadget yang digandrungi banyak orang. Tentu saja, larisnya produk ini ditopang oleh fitur-fiturnya yang user-friendly. Beragam fiturnya membikin para penggunanya bisa saling ber-BBM, dan juga amat praktis untuk ber-FB atau ber-tweet ria.

Namun dibalik meledaknya penjualan gadget BB itu, terselip sebuah fenonema psikologis yang acap disebut sebagai “sikap latah”. Kalau orang lain atau teman-teman saya pakai BB, saya saya harus pakai juga dong; begitu kira-kira bunyi sikap tersebut.

Dalam ilmu perilaku (behavior science), kejadian ini disebut sebagai “social proof”. Atau sebuah perilaku individu yang dipicu semata-mata karena orang lain juga melakukan hal yang sama.

Jika dimanfaatkan secara cerdik, fenomena social proof itu bisa menjadi alat pemasaran yang mampu meledakkan penjualan sebuah produk – persis seperti yang terjadi pada Blackberry itu.

Strategi social proof ini kemudian dimanfaatkan secara jeli oleh sejumlah produsen. Contohnya : penerapan label best sellers pada sejumlah item (misal produk buku atau CD). Misalkan ada sebuah buku yang lumayan laku (dan karenanya layak masuk kategori best seller); namun begitu label “best seller” itu dipasang didepan sampul buku, maka penjualan buku itu langsung melambung berkali-kali. Riset berulang kali telah membuktikan keampuhan kata-kata “best seller” itu.

Mengapa kata “best seller” begitu sakti dalam melambungkan penjualan. Jawabnya jelas : ada social proof disitu. Para calon pembeli akan membayangkan, bahwa buku itu telah dibeli oleh banyak orang, jadi mengapa saya tidak ikut membelinya.

yes_cialdini.jpgRisalah tentang social proof itu saya baca melalui buku bertajuk : Yes - 50 Scientifically Proven Ways to Be Persuasive. Secara amat memikat buku ini menyajikan kisah 50 hasil riset ilmiah tentang beragam perilaku manusia. Setiap kisah hanya disajikan sepanjang dua halaman. Ringkas, padat namun pekat dengan narasi yang menyegarkan.

Tema lain yang dibahas dalam buku itu adalah fenomena positive labeling. Dalam sebuah riset, dikisahkan ada dua kelompok murid SLTA. Dalam satu kelompok, para guru diminta mengajar sambil sering-sering menyampaikan positive labeling : misal, kalian adalah murid-murid yang gigih dalam belajar, atau kalian adalah murid yang cerdas, dan sejenisnya. Sementara dalam kelompok satunya, para guru hanya diminta mengajar seperti biasanya, alias tidak ada satupun positive labeling yang ditancapkan.

Enam bulan kemudian, ketika dilakukan ujian, maka rata-rata nilai kelompok pertama secara signifikan lebih tinggi dibanding rata-rata nilai kelompok kedua. Riset itu menyimpulkan bahwa positive labeling ternyata memberikan kekuatan sugestif kepada penerimanya. Memberikan label “anda adalah orang yang gigih” ternyata membuat penerimanya terdorong untuk bertindak sesuai dengan label yang diberikan tersebut. Jadi kalau Anda ingin anak atau keponakan Anda menjadi orang sukses, sering-seringlah memberikan positive labeling kepada mereka.

Fenomena lainnya yang juga dibahas dalam buku itu adalah apa yang oleh para peneliti perilaku disebut sebagai “groupthink” atau “kegagalan berpikir secara kelompok”. Fenomena ini merujuk pada gagalnya sebuah kelompok mencapai keputusan yang bermutu karena masing-masing anggota kelompoknya takut/rikuh/khawatir untuk mengekspresikan gagasannya secara mandiri dan bebas.

Acap dalam sebuah rapat/meeting, masing-masing pesertanya segan atau enggan memberikan pandangannya yang berlainan – lebih karena ia tidak mau mengambil sikap konfrotatif, atau sekedar ingin menghargai pendapat umum yang muncul. Sialnya semua peserta memiliki sikap seperti itu. Akibatnya bisa fatal : kesimpulan atau keputusan yang diambil kurang bermutu karena tidak melalui pertarungan gagasan yang mendalam. Atau karena semua peserta menahan diri untuk tidak saling “mengkritisi” pendapat pihak lain.

Itulah sebuah fenonema yang disebut “groupthink”. Dalam arena ini tidak terjadi sinergi. Yang terjadi justru destruksi. Artinya, masing-masing anggota kelompok itu secara individual mungkin cerdas-cerdas dan brilian. Namun begitu semuanya bergabung dalam sebuah kelompok, justru terjerumus dalam “kebodohan kolektif”.

Jadi lain kali ikut meeting, waspadalah dengan fenomena “groupthink” ini. Salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan menghadirkan “devil’s advocate” atau seseorang yang memang ditugaskan untuk selalu mengkritisi keputusan kelompok; menggugat dan mendorong semua anggota kelompok untuk benar-benar memikirkan ulang keputusannya secara mendalam.

Social proof. Positive labeling. Groupthink. Inilah sejumlah fenomena perilaku sosial yang perlu kita cermati. Mudah-mudahan Anda tidak sering terjebak dalam social proof dan terjerumus dalam tragedi groupthink. Dan jangan lupa, sering-seringlah memberikan positive labeling kepada siapapun di sekeliling kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar