Kamis, 18 Juni 2009

MEMBACA DENGAN EFEKTIF




Salah satu unsur penting dalam Manajemen Diri adalah membangun kebiasaan untuk terus-menerus belajar atau menjadi manusia pembelajar yang senantiasa haus akan informasi dan pengetahuan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Henry Ford, pendiri General Motors yang mengatakan, ”Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to keep your mind young.”

Tidak peduli berapa pun usia kita, jika kita berhenti belajar berarti kita sudah tua, sedangkan jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda. Karena hal yang terbaik di dunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita agar tetap muda. Salah satu cara paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca. Namun sayangnya, sebagian besar kita tidak pernah punya waktu untuk membaca. Alasan utama yang sering kita sampaikan adalah kesibukan pekerjaan. Kita terjebak dalam rutinitas dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengasah gergaji kita, seperti yang diceritakan oleh Stephen Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People sebagai berikut: Andaikan saja Anda bertemu seseorang yang sedang terburu-buru menebang sebatang pohon di hutan. ”Apa yang sedang Anda kerjakan? Anda bertanya. ”Tidak dapatkah Anda melihat?” demikian jawabnya dengan tidak sabar. ”Saya sedang menggergaji pohon ini.” ”Anda kelihatan letih!” Anda berseru. ”Berapa lama Anda sudah mengerjakannya?” ”Lebih dari lima jam,” jawabnya, ” dan saya sudah lelah! Ini benar-benar kerja keras.” ”Nah, mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah gergaji itu?” Anda bertanya. ”Saya yakin Anda akan dapat bekerja jauh lebih cepat.” ”Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji,” orang itu berkata dengan tegas. ”Saya terlalu sibuk menggergaji.” Bahkan menurut Covey, kebiasaan mengasah gergaji merupakan kebiasaan yang paling penting karena melingkupi kebiasaan-kebiasaan lain pada paradigma tujuh kebiasaan manusia efektif. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang kita miliki yaitu diri kita. Kebiasaan ini dapat memperbarui keempat dimensi alamiah kita—fisik, mental, spiritual, dan sosial/emosional. Membaca merupakan salah cara kita untuk memperbaiki dan meningkatkan keefektifan diri kita. Meskipun kita memiliki ”keterbatasan waktu”, kita tetap perlu mengasah gergaji kita. Caranya adalah dengan menguasai cara membaca yang efektif sehingga waktu yang kita gunakan menjadi efisien. Namun sebelumnya, kita perlu mengenali berbagai tipe gaya belajar seseorang. Visual. Belajar melalui melihat sesuatu. Kita suka melihat gambar atau diagram. Kita suka pertunjukan, peragaan atau menyaksikan video. Auditori. Belajar melalui Mendengar sesuatu. Kita suka mendengarkan kaset audio, ceramah kuliah, diskusi, debat dan instruksi verbal. Kinestetik. Belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Kita suka ”menangani”, bergerak, menyentuh dan merasakan/mangalami sendiri. Kita semua, dalam beberapa hal, memanfaatkan ketiga gaya tersebut. Tetapi kebanyakan orang menunjukkan kelebihsukaan dan kecenderungan pada satu gaya belajar tertentu dibandingkan dua gaya lainnya. Pada anak-anak kecenderungannya adalah pada kinestetik dan auditori, namun pada saat mereka dewasa, kelebihsukaan pada gaya belajar visual ternyata lebih mendominasi. Memahami gaya belajar pribadi Anda akan dapat meningkatkan kinerja dan prestasi Anda. Anda akan mampu menyerap informasi lebih cepat dan mudah. Anda dapat mengidentifikasi dan mengapresiasi cara yang paling Anda sukai untuk menerima informasi. Anda akan bisa berkomunikasi jauh lebih efektif dengan orang lain dan memperkuat pergaulan Anda
dengan mereka.

Tiga Faktor Penting Meningkatkan Kemampuan Belajar

Ada tiga faktor penting dalam penguasaan keterampilan untuk belajar: pertama adalah pola pikir dan sikap (mindset and attitude) kita terhadap belajar. Kita harus memiliki hasrat (desire) dan kecintaan (passion) yang dalam terhadap nilai-nilai untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Belajar tidak hanya sekadar melalui pendidikan formal semata, tetapi dalam setiap aspek kehidupan kita harus senantiasa mengembangkan sikap belajar. Sikap mau membaca, mendengar, mengerti, dan belajar dari orang lain merupakan sikap yang perlu senantiasa dikembangkan jika kita ingin memperbaiki diri ataupun gagasan kita. Faktor kedua dalam meningkatkan
keterampilan untuk belajar adalah kemampuan kita untuk mendayagunakan kekuatan pikiran kita (terutama pikiran bawah sadar—subconscious mind) untuk mempercepat proses belajar (accelerated learning). Pikiran bawah sadar merupakan kekuatan yang luar biasa jika kita dapat mengoptimalkan potensinya. Seringkali kita melupakan bahwa anugerah yang terindah dan terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita adalah kemampuan pikiran kita. Hal inilah yang membedakan kita dengan ciptaan-Nya yang lain. Hal yang paling mudah kita lakukan untuk mengembangkan keterampilan untuk belajar adalah dengan banyak membaca. Meluangkan waktu sedikitnya satu jam sehari untuk membaca buku merupakan kebiasaan yang baik bagi kita untuk mulai mengembangkan diri kita. Banyak sekali metode untuk meningkatkan kecepatan membaca (speed reading) maupun pemahaman (comprehension) terhadap isi dari suatu buku. Keterampilan inilah yang amat kita perlukan untuk meningkatkan daya serap dan kecepatan kita dalam membaca sebuah buku. Selain membaca, meningkatkan kemampuan dapat diperoleh melalui eminar, pelatihan, maupun mendengarkan kaset-kaset motivasi. Faktor ketiga dalam meningkatkan kemampuan belajar kita adalah disiplin diri dan kegigihan (self discipline and persistence) . Tanpa kedua hal ini, belajar hanyalah kegiatan yang sifatnya tergantung suasana hati (mood) dan kita tidak dapat mencapai keunggulan (excelence) hanya dengan belajar setengah hati. Sudah saatnya kita mengubah kebiasaan-kebiasaan kita. Ada pepatah yang mengatakan,”Your Habits will Determine Your Future”. Miliki kebiasaan belajar, dan mulai langkah pertama Anda. Proses mengubah kebiasaan sangat ditentukan oleh kedisiplinan diri dan kegigihan kita sehingga setelah melakukannya dalam periode waktu tertentu. Hal tersebut tidak lagi menjadi beban tetapi telah menjadi kebutuhan. Jika pada awalnya sulit melakukan, setelah itu Anda jadi terbiasa.

Keterampilan Dasar untuk Membaca yang Efektif

Sebelum kita mengembangkan kemampuan membaca dengan efektif, kita perlu menguasai terlebih dulu beberapa ketrampilan dasar:

Konsentrasi

Kebanyakan kita menganggap bahwa konsentrasi adalah pekerjaan berat dan sangat sulit dilakukan. Kita memiliki suatu keyakinan bahwa hal tersebut susah untuk dilakukan. Padahal kalau kita menyenangi sesuatu, katakanlah menonton konser musik band favorit kita atau film di bioskop, kita akan dapat berkonsentrasi menikmati Pertunjukan yang berlangsung lebih dari dua jam. Kita ternyata dapat berkonsentrasi cukup lama jika kita melakukan sesuatu yang kita senangi. Inilah pola pikir pertama yang harus kita kembangkan untuk belajar berkonsentrasi. Hal yang kedua adalah bahwa mengembangkan daya konsentrasi sama halnya dengan mengembangkan dan menguatkan otot-otot tubuh kita. Kita perlu latihan yang teratur dan terus-menerus. Salah satu teknik untuk mengembangkan daya konsentrasi adalah teknik kontemplasi. Kontemplasi adalah suatu teknik menggunakan pikiran kita seperti sebuah lampu senter (searchlight) untuk mencari dan menemukan informasi baru. Untuk melatihnya, Anda perlu lakukan setiap hari (sedikitnya 5 menit sampai maksimum 10 menit per latihan). Caranya dimulai dengan fokus terhadap apa yang ingin kita ketahui. Misalnya, kita ingin mengetahui cara meningkatkan kecerdasan finansial (membaca buku Robert Kiyosaki misalnya), kemudian pikirkan gagasan tersebut secara mendalam dan tanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanya an seperti,”Apa artinya kecerdasan finansial? Apa implikasinya pada hidup saya? Apakah hal tersebut bisa saya lakukan?” Dan seterusnya, lakukan sampai sekitar 5-10 menit. Jika Anda sudah bisa bertahan konsentrasi 10 menit, tingkatkan kemampuan Anda dengan berlatih langsung membaca sebuah buku 10-20 menit. akukan setiap hari sampai daya tahan konsentrasi Anda meningkat sedikit demi sedikit.

Membuat Peta Pikiran (Mind Mapping)

Teknik ini merupakan cara untuk meringkas suatu tema atau pokok pikiran yang ada dalam buku. Pertama, kita awali dengan menuliskan tema pokok di tengah-tengah halaman kertas kosong. Kemudian seperti pohon dengan cabang dan ranting kita kembangkan tema pokok menjadi subtema di sekelilingnya dengan dihubungkan memakai garis seperti jari-jari roda. Berikut adalah langkah atau prinsip dalam membuat peta pikiran dalam buku Accelerated Learning for the 21st Century karangan Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl.


* Mulai dengan topik di tengah-tengah halaman.
* Gunakan kata-kata kunci.
* Buatlah cabang-cabangnya
* Gunakan simbol, warna, kata, gambar, dan citra lainnya.
* Gunakan seperti poster dengan dasar putih bersih.
* Buat tulisan atau gambarnya warna-warni
* Gunakan alat tulis berwarna terang


Membuat peta pikiran adalah latihan yang perlu dilakukan terus-menerus. Sama halnya seperti teknik kontemplasi, kita perlu berlatih mengunakan peta pikiran untuk mengetahui informasi atau menganalisa masalah.

Relaksasi

Cara ini dikembangkan oleh Sandy MacGregor dalam bukunya Piece of Mind. Pada prinsipnya dikatakan bahwa otak atau pikiran kita lebih mudah menyerap dan mengingat informasi pada saat kondisi pikiran kita relaks yang ditunjukkan dengan frekuensi gelombang otak yang rendah. Mengenai teknik relaksasi pernah dibahas dalam edisi Mandiri sebelumnya. Bagi Anda yang berminat mempelajari dapat membaca buku Sandy MacGregor tersebut atau buku SELF MANAGEMENT: 12 Langkah Manajemen Diri karangan Aribowo Prijosaksono dan Marlan Mardianto.

Teknik Membaca Cepat

Kita hidup dalam zaman di mana kita setiap hari dibanjiri buku baru tentang topik yang kita sukai atau yang berkaitan dengan bidang pekerjaan kita. Pembaca biasa takkan bisa membaca semua buku yang telah diterbitkan tentang topik yang berkaitan dengan bidang bisnis atau profesionalnya. Membaca itu sendiri bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menjengkelkan. Padahal kita semua tahu bahwa membaca sama halnya dengan kita menikmati pertunjukan konser atau film yang bagus. Membaca melibatkan partisipasi aktif kita. Seluruh emosi, hasrat dan minat kita juga harus terlibat dalam proses membaca, sehingga membaca menjadi pengalaman yang menyenangkan. Dengan keterbatasan waktu yang kita miliki, bagaimana kita dapat mengembangkan
kemampuan membaca secara efektif sehingga dengan tenggang waktu yang sama, kita bisa mengambil inti dari lebih banyak buku. Kecuali untuk buku fiksi atau sastra yang memang ingin kita nikmati jalinan cerita, emosi, dan rangkaian kata-katanya, membaca buku nonfiksi (textbook) adalah seperti membaca surat kabar. Yang kita perlukan adalah informasi dan gagasan pokok pengarang. Hanya sedikit orang yang membaca koran dengan cara per bagian, halaman per halaman. Kita biasanya membaca beberapa halaman pertama dengan mendetail, lalu hanya sekilas membaca yang lain, mencari topik yang menarik. Sekarang kita akan belajar melakukan hal yang serupa dengan buku yang akan kita baca. Sebelum mulai membaca ada sejumlah alat bantu yang dapat
membantu kita untuk dapat memahami keseluruhan isi sebuah buku: Sampul buku: Biasanya pokok pikiran terpenting dari sebuah buku tercetak di sampulnya. Informasi ini membantu penjualan buku dan memberikan perspektif penerbit tentang isi buku. Sampul buku memberikan gambaran kepada kita tentang apa yang akan kita dapatkan di bagian dalam. Biografi penulis: Informasi ini akan memberi tahu kita tentang latar belakang pendidikan, pengalaman dan kegiatan penulis saat ini yang membuat ia bisa menulis buku tersebut. Dengan memahami informasi tentang penulis akan membantu kita untuk lebih mudah mengikuti alur pemikirannya dalam
buku tersebut.

Bagian awal: Bagian ini terdiri atas kata pengantar, prakata, atau bab pendahuluan (prolog). Biasanya justru bagian-bagian ini yang perlu secara mendalam kita pelajari karena intisari seluruh gagasan penulis tentang tema buku tersebut terangkum dalam bagian awal buku. Yang jelas bagian ini memaparkan tujuan penulisan—pernyataan misinya. Pada titik ini kita bisa memutuskan untuk membaca lebih lanjut atau kita hanya akan menggunakannya untuk referensi.

Daftar Isi: Sebenarnya bagian ini adalah kerangka buku. Penulis menggunakan masing-masing topik bab sebagai gantungan untuk menjelaskan keseluruhan pemikirannya tentang topik tertentu. Ada berapa bagian? Berapa bab? Bacalah Daftar Isi dengan teliti untuk melihat apakah topik-topiknya sesuai dengan apa yang kita cari.

Indeks: Teliti indeks di bagian belakang buku. Lihat apakah ada kata-kata kunci yang menarik bagi Anda. Kita harus memeriksa semua hal tersebut sebelum membaca bukunya. Inilah yang disebut dengan proses scanning, yaitu kita melihat secara selintas keseluruhan isi dari buku yang akan kita baca. Begitu mulai membaca, kita bisa bebas melompati materi yang sudah kita ketahui atau materi yang tidak kita minati. Pada bagian tertentu kita bisa mendalami karena ada topik atau informasi yang harus kita cermati dan kita cerna lebih dalam. Proses ini disebut dengan proses skimming.

Berikut adalah hal-hal yang perlu untuk membaca dengan efektif.

Setelah melakukan proses scanning, kita dapat membuat peta pikiran (mind charting) buku tersebut. Tidak usah terlalu detail, tetapi cukup informatif untuk menjelaskan isi buku dalam satu halaman kertas. Kalau perlu kita lakukan rekonstruksi terhadap daftar isi digabung dengan informasi lain dari biografi, kata pengantar, pendahuluan, dan sinopsis di sampul buku tersebut. Siapkan stabilo atau alat tulis untuk menandai informasi atau apa saja yang ingin kita ingat. Pahami jalan pikiran penulis. Semakin cepat kita mengetahui topik, tujuan, pokok masalah materi yang kita baca, semakin baik pemahaman dan ingatan kita akan hal itu. Hindari baca kata per kata dan kalimat per kalimat. Coba tangkap sekelompok kata dengan mata Anda setiap kali menggerakkannya.

Apalagi untuk buku berbahasa asing, kita tidak perlu menterjemahkannnya kata demi kata, karena akan menghambat proses penyerapan informasi dalam otak Anda. Bandingkan Anda membaca dengan bersuara dan membaca dalam hati. Kecepatannya akan berbeda jauh. Biasanya saya berkonsentrasi pada kalimat pertama dan kalimat terakhir dari sebuah paragraf, atau mata saya melihat seluruh badan paragraf dan menangkap pesan intinya. Buatlah ringkasan sambil membaca. Jika tak ada ringkasan bab, buatlah sendiri setiap selesai membaca satu bab. Bandingkan dengan tulisan lain bertopik sama yang pernah Anda baca. Ingat teknik kontemplasi. Cobalah mengembangkan pertanyaan-pertanya an dan kaitan satu sama lain seperti Anda mencari sesuatu dengan
senter. Untuk mempermudah kita menggunakan buku tersebut sebagai referensi, kita bisa mencatat isi buku tersebut dalam sebuah buku catatan atau kertas khsusu yang dapat kita simpan dan kita lihat kembali setiap saat. Demikianlah prinsip-prinsip dan langkah-langkah yang perlu kita ketahui untuk meningkatkan efisiensi membaca. Namun sekali lagi, sama seperti keterampilan yang lain, membaca memerlukan jam terbang. Kita perlu berlatih, berlatih dan berlatih sehingga kecepatan dan efisiensi membaca kita meningkat dari waktu ke waktu. Selamat membaca dan meningkatkan aset pribadi Anda yang paling penting, diri Anda sendiri. (berbagai sumber)

Serba-Serbi Piala Konfederasi

Jakarta - Dari tujuh edisi Piala Konfderasi yang telah digelar, lima negara pernah mengangkat piala kemenangan. Cuauhtemoc Blanco dan Ronaldinho adalah pemain yang paling sering bikin gol di turnamen ini.

Piala Konfederasi awalnya dibuat oleh Arab Saudi memperebutkan Piala Raja Fadh. Di edisi pertama di tahun 1992, pesertanya adalah Argentina (juara Copa America 1991), Amerika Serikat (juara Piala Emas CONCACAF 1991), Pantai Gading (Piala Afrika 1992), dan tuan rumah Arab Saudi (juara Piala Asia 1988).

Tiga tahun kemudian dihajat event kedua, yang diikuti enam tim juara di setiap konfederasi, yakni Argentina, Nigeria, Denmark, Meksiko, Jepang, dan Arab Saudi, yang kembali menjadi tuan rumah.

Setelah itu FIFA mengambil alih penyelenggaraan turnamen ini, dan sejak 1997 melibatkan delapan tim, termasuk juara dunia dan tuan rumah. Mulai edisi ketujuh di Jerman 2003, kejuaraan ini diadakan setiap empat tahun sekali, atau setahun sebelum Piala Dunia.

Dari tujuh penyelenggaraan, Brasil adalah tim tersukses. Mereka berpartisipasi lima kali dan memenangi dua di antaranya (1997 dan 2005), dan satu kali runner up (1999).

Prancis juga pernah juara dua kali, dan itu dilakukannya dalam dua kali keikutsertaannya di turnamen ini berturut-turut (2001 & 2003). Tiga negara lain yang berkesempatan mengangkat piala adalah Argentina (1992), Denmark (1995), dan Meksiko (1999).

Di kategori pemain, top skorer keseluruhan adalah Blanco (Meksiko) dan Ronaldinho (Brasil), yang sama-sama mengoleksi sembilan gol. Namun, top skorer untuk satu turnamen adalah Romario (Brasil), yang mencetak tujuh gol edisi tahun 1997.

Data final
1992 Argentina 3-1 Arab Saudi
1995 Denmark 2-0 Argentina
1997 Brasil 6-0 Australia
1999 Meksiko 4-3 Brasil
2001 Prancis 1-0 Jepang
2003 Prancis 1-0 Kamerun
2005 Brasil 4-1 Argentina

Top skorer
1992 - Gabriel Batistuta (ARG), Bruce Murray (AS) 2 gol
1995 - Luis Garcia (MEX) 3 gol
1997 - Romario (BRA) 7 gol
1999 – Ronaldinho (BRA), Cuauhtemoc Blanco (MEX), Marzouq Al-Otaibi (KSA) 6 gol
2001 - Eric Carriere (FRA), Robert Pires (FRA), Patrick Vieira (FRA), Sylvain Wiltord (FRA), Shaun Murphy (AUS), Takayuki Suzuki (JPN), Hwang Sun-Hong (KOR) 2 gol
2003 - Thierry Henry (FRA) 4 gol
2005 - Adriano (BRA) 5 gol

Top skorer keseluruhan
Cuauhtemoc Blanco (Meksiko) 9
Ronaldinho (Brasil) 9
Adriano (Brasil) 7
Romário (Brasil) 7
Marzouq Al-Otaibi (Arab Saudi) 6
Alex (Brasil) 5
John Aloisi (Australia) 5
Robert Pires (Prancis) 5
Vladimír Smicer (Republik Ceko) 5


--

Roma - Andrea Pirlo jadi motor serangan Italia di ajang Piala Konfederasi 2009. Berkat penampilannya yang ciamik, gelandang AC Milan ini pun menuai pujian dari media dan rekannya.

Italia berhasil memetik kemenangan di laga pertamanya di Piala Konfederasi atas Amerika Serikat, Selasa (16/6/09) dinihari WIB. Pemain yang menjadi sorotan utama pada pertandingan tersebut adalah Giusepe Rossi, pemain pengganti yang sukses mencetak dua gol bagi sang juara dunia.

Namun berbagai media di Italia juga menyebut bahwa Pirlo berkontribusi besar dalam pertandingan itu, terutama di menit-menit akhir laga. Pemain berusia 30 tahun ini memang menjadi motor serangan Azzurri di lini tengah dengan kemampuan membagi bolanya yang ciamik tanpa banyak berlari. Pirlo pun dinilai memiliki kemampuan yang berbeda dengan pemain lainnnya.

"Pirlo tidak bermain sepakbola, dia bermain olah raga yang lain," ujar Claudio Cassagrande, jurnalis dari Tuttosport yang mengomentari kehebatan Pirlo seperti dilansir Goal.

"Pirlo memiliki kemampuan unik untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya, bahkan ketika rasa lelah mulai menghinggapi pikirannya di akhir pertandingan," begitu artikel dari La Repubblica.

Tak hanya pihak media saja, rekan setimnya di klub dan Gli Azzurri, Gennaro Gattuso, pun tak ingin ketinggalan untuk melontarkan pujian kepada Pirlo.

"Ketika saya melihatnya di latihan atau ketika berada di lapangan, saya tidak dapat mengerti bagaimana saya dapat berada satu tim dengannya," tambah Gattuso.

Kemampuan Pirlo akan dibutuhkan lagi oleh Italia di laga keduanya di Afrika Selatan 2009 saat sang juara dunia berhadapan dengan Mesir, Kamis (18/6).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar