Kamis, 20 Mei 2010

Seandainya Aku Jadi Aburizal Bakrie*

ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Komp
fotografer & penulis

*Aburizal Bakrie.* Siapa yang tidak kenal beliau ? 99% orang Indonesia

pasti
pernah mendengar namanya tidak hanya di dunia bisnis namun juga di

jagat
perpolitikan. Tidak berlebihan memang, karena sepak terjang Ical,

kerap kali
menarik perhatian, alias membuat geger.

Terlepas dari masalah pengemplangan pajak, yang dituduhkan oleh Dirjen
Pajak, Indonesia Corruption Watch (ICW) dan mantan menkeu, Sri Mulyani

yang
kabarnya mencapai *triliyun-triliyunan,* demikian juga masalah Lumpur
Lapindo, yang telah ditetapkan pemerintah sebagai bencana alam, dan

belum
dapat teratasi hingga sekarang.

Terlepas dari itu semua, kalau boleh jujur, sejak dulu aku amat sangat
mengidolakan sosok Aburizal Bakrie. Dengan kerajaan bisnis yang begitu
menggurita, dari batu bara, perkebunan, minyak, telekomunikasi dan

lain
sebagainya. Bayangkan berapa besar sumbangan yang diberikan oleh

Bakrie
terhadap roda perekonomian Indonesia ? Berapa besar bisnisnya berhasil
menyerap tenaga kerja diseluruh negeri ini ? Berapa besar devisa yang
didatangkan oleh perusahaan-perusahaan mereka ?

*(Bandingkan dengan para koruptor goblok yang tidak tahu malu, yang

bisanya
hanya nyolong, menggertak,main kuasa, memeras, memperkaya diri

sendiri,
tanpa berdampak pada lapangan kerja untuk orang banyak dan kemakmuran
perekonomian bangsa. Kalau berani jadi pengusaha, jangan jago kandang

doang
!!!)*

Buatku pribadi Aburizal Bakrie adalah sosok ideal anak bangsa yang
berkontribusi luar biasa dengan enterpreneur spirit yang dashyat.

Lulusan
ITB ini adalah pengusaha nasional favorite buatku. Perwujudan segala
mimpi-mimpi ku. Pengusaha briliant, sukses sejak muda, kaya raya,

cerdas dan
punya kekuasaan informal yang sangat besar.

Tidak hanya itu, *Ical* juga dikenal jago sihir. Dunia bisnis sering
membuktikan bahwa apa yang bagi sementara orang ‘mustahil’, dapat

dirubah
oleh beliau menjadi ‘kenyataan’.

Tahun 1997, ketika dunia bisnis berantakan dihajar krisis moneter,

group
Bakrie seperti halnya perusahaan-perusahaan lain- termasuk kedalam

daftar
‘sekarat’ dan harus masuk UGD, karena sudah megap-megap. Sepuluh tahun
kemudian, Bakrie sudah mencatatkan dirinya sebagai orang terkaya

pertama di
Asia Tenggara !

Jauh melampaui Robert Kuok (orang terkaya di Malaysia - memiliki 7,6

miliar
dolar AS), Teng Fong (terkaya di Singapura - memiliki 6,7 miliar dolar

AS),
Chaleo Yoovidya (terkaya di Thailand - memiliki 3,5 miliar dolar AS),

dan
Jaime Zobel de Ayala (terkaya di Filipina – memiliki 2 miliar dolar

AS).

Tersebutlah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bisnis perhotelan,

Bumi
Modern namanya. Disekitar tahun 2000, group Bakrie masuk dan mengubah

tidak
hanya nama melainkan juga bidang usaha Bumi. Bumi moderen berubah nama
menjadi Bumi Resources, bidang perhotelan jadi pertambangan batu bara.

Bumi mulai dikenal orang ketika ia membeli perusahaan tambang batubara
bernama PT. Arutmin Indonesia, ini menggemparkan karena jika

dianalogikan
traksaksi pembelian ini mirip ikan teri menelan ikan tongkol. Apa yang
membuat bank dan para peminjam modal percaya akan visi Bakrie yang

belum
tentu benar, dan merelakan penjaman duit sedemikian besar ?

Belum lagi selesai keterkejutan dunia bisnis, ditahun 2003, Bumi

kembali
melakukan hal spektakuler, yang gaungnya sampai kedunia internasional

: Bumi
membeli KPC (Kaltim Prima Coal)-perusahaan tambang batubara terbesar
didunia, dengan kapasitas produksi raksasa- dari tangan Rio Tinto.

Kali ini
ikan teri itu, berhasil menelan ikan paus bulat-bulat !! Transaksi

yang
mustahil, tapi berhasil dibuat jadi kenyataan oleh Bakrie.

Dari mana sumber dana pembeliaan berasal ? Apa yang mengakibatkan Rio

Tinto
mau menjual 100% saham mereka kepada Group Bakrie dengan harga $500

juta,
padahal perkiraan harga pemerintah terhadap KPC sebesar $800 juta ?

Apa
kekuasaan dan pengaruh Bakrie memang sedemikian luar biasa ?

Tidak ada yang dapat memberikan penjelasan dengan pasti. Itu adalah

sebuah
transaksi keuangan yang demikian rumit, lobby-lobby super tangguh,

visi yang
sangat luar biasa. *Transaksi yang hanya bisa dilakukan oleh para dewa

!*

Itu belum seberapa, ketika telah mengambil alih KPC dan Arutmin, entah
kebetulan atau memang mata sihir keluarga Bakrie sudah dapat

melihatnya,
beberapa bulan kemudian harga batu bara duniapun melejit, mencapai

titik
tertinggi. Dengan kapasitas produksi raksasa dan harga jual batu bara

yang
sangat tinggi, bayangkan keuntungan yang diraih oleh Bumi. Luar biasa

!

Tidak munafik, saat itu aku dan beberapa teman yang memang

berinvestasi di
pasar saham (dalam skala kecil tentu saja) ikut kecipratan rejeki

nomplok
dari melambung-liar nya harga saham berkode BUMI ini. Setiap pagi

kami, para
investor kecil-kecilan ini dengan tegang menatap tak berkedip layar

monitor,
menyaksikan geliat saham BUMI. Bahkan *one day trading* yang kami

lakukan
iseng-isengpun menghasilkan hasil yang luarbiasa cukup untuk makan

siang
tiga bulan.

Seorang teman, dengan jumlah lot saham BUMI terbesar diantara kami,

begitu
terobsesi, hingga terbawa mimpi ketika saham BUMI disuspen, karena

otoritas
BEJ menuntut manajemen BUMI memberikan keterbukaan informasi pada

investor
publik. Dalam mimpi temanku itu, ia dan aku (kok bisa-bisanya aku

masuk
dimimpinya) menunggu mondar-mandir gelisah di sebuah pintu ruangan

yang
tertutup yang bertuliskan ‘JANGAN BERISIK BEJ DAN BUMI SEDANG MEETING
DIDALAM’.

Beberapa tahun berlalu, harga saham BUMI yang dulu hanya berkisar 300

-an,
akhirnya sempat menyentuh 8.000-an sebelum kemudian anjlok, *buy back*

dan
bertengger diangka 2.000-an, sampai sekarang.

Rupanya akrobat belum selesai, group Bakrie kembali melakukan sesuatu

yang
menggemparkan dunia bisnis. Mereka menjual Arutmin dan KPC dan nilai

jual
belinya disekitar $3 miliyar (sekitar 27 Triliyun), jauh diatas

transaksi
yang dilakukan keluarga Sampoerna dengan Philip Moris, yakni sekitar

$2
miliyar (sekitar 18 Triliyun). Membeli di harga $500 juta dan menjual
kemudian diharga $3 miliyar !

Beberapa tahun kemudian, kembali terdengar isu bahwa Bumi akan membeli

KPC
kembali dari tangan Tata Power dengan harga sesuai kesepakatan jual

beli,
BUMI berhak menerima penawaran pertama jika Tata berniat menjual KPC

dan
Arutmin. Dan kabarnya, harga itu sangat rendah, hanya 50 persen dari

harga
beli Tata !

*Sedikit menyimpang dari itu semua. Apakah masuk akal jika pengusaha
sekaliber ini kemudian mati-matian hanya berniat jadi presiden
**Indonesia**? Aku meragukannya.
*

Aku rasa Aburizal *sama sekali gak* minat jadi presiden, namun lebih

dari
itu, diatas presiden. Sebuah kekuasaan informal yang sangat amat
mempengaruhi presiden. (persis mirip dengan kekuasaan taipan Yahudi

terhadap
Presiden USA)

Aku rasa itu sah-sah saja. Sepanjang sang saudagar tetap mengedepankan

moral
dan membuat rakyat dan bangsa ini jauh lebih makmur dari sekarang.

Karena
suka tidak suka, waktu sudah membuktikan bahwa kadang lembaga-lembaga
pengawas, tidak terlalu efektif untuk digunakan sebagai alat memonitor

kerja
pemerintahan.

*So what is the plan ?*

Simple walau agak aneh memang, tapi tidak ada salahnya kita coba.

Karena
pengaruh doa sampai kapanpun, adalah mendekatkan kita dengan kepada

siapa
kita berdoa (TUHAN) dan mendekatkan hati kita untuk siapa kita

berdoa.(anak,
istri, sahabat, orang lain, bahkan musuh).

Karena itu mari kita mendoakan 100 orang terkaya di Indonesia dengan

hati
yang tulus, terutama ia yang berada dipuncak kumpulan mereka, Aburizal
Bakrie, supaya TUHAN yang memberikan segenap kecerdasan,

keberuntungan,
keajaiban, kesehatan dan kemuliaan itu semakin memberkati mereka

dengan
kemakmuran yang lebih dashyat, menganugrahkan keluarga mereka dengan
harmonis, kesehatan bagi mereka, istri, anak dan cucunya dan yang

terpenting
dari semuanya itu, menggerakkan para taipan-taipan tersebut untuk

punya hati
yang takut akan TUHAN dan tulus mengasihi bangsa dan rakyat Indonesia.

Sehingga teori gelas penuh yang akan tumpah kesekelilingnya itu

akhirnya
dapat terwujud.

Apakah itu mungkin ? Sebagian kawan dekat ketika kuceritakan hal ini

serta
merta mencibir : “Elu kurang istirahat, Made. Jadi mimpinya kebablasan

!!”.

Demo dan ancaman mungkin dapat melakukan sesuatu. Demikian pula

kekerasaan
dan kerusuhan. Tapi ‘doa’ seringkali sudah dilupakan. Sebuah senjata
pamungkas yang sudah dibuang jauh-jauh, karena dianggap kuno, gak
menghasilkan dan lambat pengaruhnya.

Manusia lupa bahwa ketika kita berdoa kita berurusan dengan kekuatan

Maha
Dashyat yang mengendalikan tidak hanya langit, bumi, laut dan segala

isinya,
namun juga jutaan galaksi dan antariksa. Pribadi yang punya otoritas

tunggal
terhadap waktu, masa dan nasib manusia. Jika IA menutup tak ada yang

dapat
membuka, meninggikan dan tak ada yang sanggup merendahkan, mematikan

dan
tidak ada seorangpun yang dapat menghidupkan.

Doa mengundang intervensi TUHAN. Apapun dapat terjadi jika IA sudah
terlibat. Tidak ada perkara sebesar apapun yang terlalu mustahil bagi

TUHAN,
termasuk mengubah hati seseorang.

*(Bayangkan apa yang terjadi jika ratusan juta orang **Indonesia** ini
berdoa sungguh-sungguh, demi kemajuan dan kemakmuran bangsa)*

Kita kembali menengok judul diatas, kemudian seandainya saja aku

akhirnya
memiliki kecerdasan, kekayaan dan pengaruh seperti Aburizal Bakrie.

Apa sih
yang kira-kira akan kulakukan ?

Aku akan ikut mengawasi pemerintah. Mendesak presiden memutasi
pejabat-pejabat bandel ke pedalaman gunung Jayawijaya. Menekan kepala
daerah, yang waktu berkampanye berjanji ini-itu, mengaku ahli, padahal
‘telmi’ setelah menjabat. Bahkan mengawasi menteri-mentri, yang lebih

suka
tampil di televisi, berfoto jaim di majalah dan pinggir jalan, padahal

tidak
berprestasi kerja. Memonitor oknum anggota DPR yang asyik plesiran,

main
perempuan, korupsi dan lupa bekerja. Mendukung kinerja presiden dan

wapres,
lewat jalur informal.

Aku akan memberikan pensiun Rp. 500 juta, kepada para guru yang sudah
terbukti mengabdi berpuluh-puluh tahun dengan iklash, mencerdaskan

para
bakal gubernur, mentri, presiden dan pengusaha.

Memberikan 1 M, dalam bentuk ternak, modal kerja dan beasiswa, kepada

desa
yang masyarakatnya terbukti telah bergotong royong membangun, menjaga

dan
memakmurkan desa mereka.

Memanggil seluruh orang pintar Indonesia yang terpaksa harus kabur dan
bekerja di luar negeri, hanya karena gaji yang kurang dan kurangnya
penghargaan terhadap nasinalisme mereka.

Menganggarkan Rp. 1 Miliar setiap tahun untuk pesantren dan pusat-

pusat
pendidikan agama diberbagai pelosok Indonesia, sehingga para ulama,

pendeta,
pedanda dan tokoh agama dapat mengarahkan umat mereka kepada jalan

yang
benar. Dan menjadikan pusat-pusat keagamaan iu sebagai pusat

pembentukan
akhlak yang mulia, pemuda-pemuda militan ‘yang berani hidup’ berjuang

untuk
memenuhi takdir mereka sebagai rahmat bagi semesta, dan bukan sebagai

tempat
berakar nya dendam kesumat, kebencian, balas dendam yang pasti akan

menambah
lebar luka, mengeruhkan hati nurani, yang jika dilanjutkan tidak akan
berakhir sampai kapanpun juga.

Hadiah Rp. 100 Miliar kepada para penegak hukum yang berani membongkar
hingga tuntas skandal kejahatan apapun ditubuh lembaga negara.

*(ee..kok jadi mirip janji kampanye..hi..hi..)*

Memberikan pensiun 1 Triliyun bagi kepala negara/presiden dan wapres,

dan
100 Miliar bagi kepala daerah setingkat gubernur, yang dalam masa
pemerintahannya telah berhasil membawa dampak kemakmuran dan kemajuan

yang
signifikan bagi bangsa dan negara.

Dan banyak program lain.

Semoga TUHAN memberkati Aburizal Bakrie dan 100 orang terkaya di

Indonesia,
sehingga menjadi 100 orang terkaya di dunia dan 100 orang terkaya yang
namanya tercantum juga di Sorga ! *Karena sampai kapanpun, sepertinya,

Sorga
tidak akan mungkin terbeli dengan uang, seberapapun besar jumlahnya.

Dan
TUHAN tak mungkin dapat kita akal-akali, seberapapun cerdas otak yang

kita
miliki.* (selesai)

--


Senin, 10 Mei 2010
Melanjutkan ‘Tugas Sekolah’ TREVOR
oleh Made Teddy Artiana, S. Komp
fotografer, penulis dan orang Bali tentunya


Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/2010/05/memutuskan-rantai

-eris-goddess-of.html


Ini proyek unik, yang dimulai oleh seorang anak berusia dua belas

tahun bernama Trevor McKinney. Awalnya, hanya sebuah tugas sekolah :

bagaimana membuat hidup menjadi lebih baik lewat langkah nyata. Ide

unik milik Trevor justru membuat tugas sekolah ini jadi gawean besar

yang melibatkan dan memperngaruhi banyak orang.

Ia mendesain sebuah skema berbentuk piramida – awalnya dengan tiga

kaki disetiap node – mungkin agak mirip dengan MLM, namun piramida

yang satu ini lebih bertumpu pada perbuatan baik dibandingkan hanya

sebuah keuntungan. Trevor memberi nama tugas sekolahnya ini dengan

‘Pay it Forward’.

Seperti namanya, gerakan tersebut memiliki aturan sebagai berikut :

Siapapun yang menerima kebaikan harus meneruskan kebaikan itu kepada

orang lain, dan bukan membalas kebaikan itu kepada si pelaku darimana

ia mendapatkan kebaikan.

Maka sang inisiatorpun mulai beraksi, target pertamanya adalah Jerry,

seorang gelandangan. Sepintas lalu, kebaikan yang dilakukan oleh

Trevor pada Jerry seolah bertepuk sebelah tangan, namun disuatu saat,

waktu membuat Jerry akhirnya meneruskan kebaikan itu kepada seorang

gadis yang mencoba ingin membunuh diri disebuah jembatan. Target

kedua, adalah gurunya sendiri, orang yang memberi tugas sekolah

Trevor. Demikian seterusnya kebaikan itu berjalan, sehingga tidak

hanya Jerry, Eugune, ibu kandung Trevor dan neneknya yang merasakan

namun juga orang-orang yang tidak dikenal oleh Trevor. Hingga suatu

ketika seorang wartawan bernama Chris Candler mendapat hadiah mobil

dari seseorang, yang ternyata adalah kepanjangan dari piramida Trevor.

Tertarik rasa ingin tahu, Chandler akhirnya mencoba men-tracking asal

muasal kebaikan-kebaikan tersebut, hingga pencariannya menghantarkan

ia kepada ‘top of tree’ Pay it Forward, yaitu Trevor. Dalam sebuah

kesempatan Chandler mewawancarai Trevor tentang misi Pay It Forward

miliknya ini, dari sanalah diketahui oleh banyak orang yang terkena

imbas dari ‘tugas sekolah’ Trevor. Dan mereka semua akhirnya

berkumpul, dalam sebuah upacara pemakaman Trevor, yang akhirnya

meninggal karena membela seorang temannya.

Film dan novel ‘Pay It Forward’ ini memang tidak hanya mengharukan

karena menyentuh hati, namun juga sanggup menginspirasi para

pemirsanya tentang arti sebuah kebaikan, betapapun simplenya semua itu

terlihat.

Eh jangan-jangan hanya pengaruh segelas susu, sepotong pisang goreng

atau bahkan senyum tulus hidup seseorang bisa sedemikian berubah.

Pembantu jadi presiden. Kuli jadi konglomerat. Anak-anak yang keras

kepala jadi berbakti. Gelandangan jadi dokter. Penjahat keji jadi

utusan TUHAN…dan lain sebagai-sebagai-sebagainya.

Jadi keburukan(energi negatif) sebagaimana juga kebaikan(energi

positif), selalu berkelilling mengembara mencari manusia yang bisa

dikendarai lalu kemudian dikuasai pikiran, perkataan dan perbuatannya,

dalam usaha untuk mengokohkan kerajaan mereka masing-masing. Kerajaan

kebaikan atau kerajaan keburukan. Positif atau negatif. Kemulian atau

kehinaan. TUHAN atau hantu. Dalam sebuah janji pasti bahwa siapapun

pelakunya, kebaikan atau keburukan itu pasti akan kembali kepada

pemiliknya.

Sepertinya aku harus segera menghentikan tulisan ini disini sementara,

untuk sekedar melakukan check and richeck, dijalur mana saat ini aku

berdiri. Apakah aku perpanjangan tangan Dewi Eris, ataukah aku sedang

terlibat proyek ‘Pay it Forward’ milik Trevor ?
(selesai)
Diposkan oleh Semar Badranaya di 09:00 0 komentar Link ke posting ini
Memutuskan Rantai Sang Dewi ERIS
oleh Made Teddy Artiana, S. Komp
fotografer, penulis dan orang Bali tentunya

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan

http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/2010/05/melanjutkan-tugas

-sekolah-yang.html


Berawal dari pesta pernikahan Peleus dan Thetis yang dihadiri oleh

seluruh orang terkemuka saat itu, bukan hanya ‘orang’, seluruh dewa

dan dewi penghuni bukit Olympus pun ikut diundang ke pesta tersebut.

Semuanya ? Rupanya tidak.

Eris, Dewi Perselisihan tidak turut diundang. (seharusnya dari

namanya, Dewi yang tidak tahu diri ini mengerti benar mengapa ia tidak

diundang). Sialnya ia tidak terima dan merasa dendam akan diskriminasi

ini. Maka beraksilah Dewi Perselisihan dengan seluruh keahliannya :

membuat perselisihan.

Ia membuat sebentuk apel diatas piringan perak yang kemudian menyamar

menjadi seorang pelayan, untuk meletakkan benda itu diatas meja. “For

the Fairest of them all”, begitu kira-kira tulisan provokatif yang

tercantum disana.

Aphrodite (Dewi Asmara), Athene (Dewi Kebijaksanaan) dan Hera (istri

Zeus, ratu dari segala dewi) yang kebetulan duduk didekat meja itupun

mulai memperebutkan benda tersebut.

Pertengkaran para Dewi tak kunjung berakhir bahkan sastu tahun setelah

pesta pernikahan itu sendiri, sehingga Zeus (Ketua para Dewa-Dewi)

menunjuk Paris, salah seorang pangeran kerajaan Troy, yang sangat

terkenal fashionable, untuk memutuskan mengenai siapa yang berhak

mendapatkan benda ‘gak penting’ tersebut.

(Rupanya sejak dahulu kala, dua wanita yang bertengkar akan selalu

lebih memusingkan daripada sepuluh orang laki-laki yang berkelahi)

Pikir punya pikir, Paris lalu menjatuhkan pilihan kepada Aphrodite,

hanya karena Sang Dewi Asmara menjanjikan akan memberikan wanita

pujaan hati Paris kepadanya, siapapun itu.

Perkara menjadi semakin rumit, ketika wanita idaman yang Paris

maksudkan adalah Ratu Helen, istri Raja Menelaus, Raja Greek (Yunani).

Akhirnya sebagai balas jasa Aphrodite mengguna-gunai Helen sehingga

Paris berhasil menculik dan membawanya ke Troy.

Nah kejadian inilah yang menjadi awal mula perang Greek dan Troy yang

berlangsung bertahun-tahun dan memakan korban ribuan orang yang bahkan

tidak tahu apa penyebab awal pertempuran itu sebenarnya. Tidak hanya

itu, keburukan yang dimulai oleh Eris itu berjalan begitu jauh, hingga

sampai didepan pintu istana Odysseus, belasan tahun kemudian !

(jika Anda ingin tahu detailnya silakan baca uraian dibawah (**)

tentang bagaimana dan kemana saja energi negatif Eris itu menjalar)

Memang ini hanya sebuah karya sastra yang terkemuka yang dicomot dari

bagian cerita Illiad dan Odyssey, legenda tua bangsa Yunani. Namun

begitu buatku pribadi, pesan moral yang terkandung didalamnya sangat

luar biasa.

Kita tidak akan pernah dapat memprediksi akibat dari sebuah

‘keburukan’. Entah itu perselisihan, dosa, dusta, hawa nafsu yang tak

terkendali atau energi negatif yang lain, semuanya akan menjalar –

cepat atau lambat- akan meninggalkan noda dan luka yang semakin luas,

dalam dan pekat.

Hal-hal buruk, bisa jadi merupakan akibat-akibat dari sebab-sebab yang

buruk.

Jika rentetannya tidak sejauh cerita diatas mungkin kita dapat

melacaknya bahkan mengobatinya, namun jika rantai yang dilalui oleh

sebab-akibat buruk itu telah begitu panjang. Tak jarang, kita

kehilangan jejak akan penyebab awal dari akibat-akibat buruk yang

terjadi. Untuk melacaknya ? butuh waktu dan seringkali merupakan hil

yang mustahal.

Seorang penculik dan pemerkosa anak-anak dibawah umur misalnya, bisa

jadi merupakan korban dari sebuah hal-hal buruk dilain tempat, lain

waktu dan lain pelaku.

Lalu para remaja yang melakukan kejahatan yang tidak sesuai dengan

umur mereka, besar kemungkinan merupakan akumulasi dari berbagai

sebab-sebab buruk, yang mau tidak mau meninggalkan jejak akibat buruk.

Atasan yang punya kebiasaan menghalang-halangi bawahannya.

Suami yang punya hobby memukul istrinya.

dan lain sebagai-sebagai-sebagainya

Lalu dengan asumsi rantai sebab-akibat diatas, apakah berlebihan jika

kukatakan bisa jadi kekurangan Rp. 1.000 perak waktu kita membayar

angkot, akan memunculkan berita ditemukannya mayat laki-laki terpotong

enam di sungai Ciliwung ?

Jangan-jangan selama ini kita –setua hidup yang sudah kita jalani-

telah mempengaruhi keburukan terhadap anak, istri, saudara, teman atau

siapapun yang kebetulan hidupnya bersentuhan disuatu waktu dengan

hidup kita, tanpa kita sadari.

(Jika demikian rasanya akan amat sangat sulit menemukan seorang

manusia yang sungguh-sungguh memenuhi kriteria TUHAN tentang

kesucian.)

Jadi keburukan(energi negatif) sebagaimana juga kebaikan(energi

positif), selalu berkelilling mengembara mencari manusia yang bisa

dikendarai lalu kemudian dikuasai pikiran, perkataan dan perbuatannya,

dalam usaha untuk mengokohkan kerajaan mereka masing-masing. Kerajaan

kebaikan atau kerajaan keburukan. Positif atau negatif. Kemulian atau

kehinaan. TUHAN atau hantu. Dalam sebuah janji pasti bahwa siapapun

pelakunya, kebaikan atau keburukan itu pasti akan kembali kepada

pemiliknya. (selesai)


(**)

Menelaus, Raja Greek meminta saudaranya, Agammenon dan segenap raja-

raja di Greek menggabungkan angkatan bersenjata mereka dan menggempur

Troy.
Sebuah kerajaan kecil, Theben namanya, menolak ikut perang, yang mana

inipun digolongkan Agammenon sebagai pembangkangan, ia menahan putri

pendeta Theben.
Achilles, seorang pahlawan Greek yang gagah perkasa menegur Raja

Agammenon akan perlakuan yang tidak patut itu. Raja tersinggung,

kemudian terjadilah perselisihan itu. Achilles menolak ikut terjun

berperang membela Greek, negaranya.
Pasukan Greek menunggu angin laut untuk segera berangkat ke Troy,

namun angin yang ditunggu tak kunjung datang. Karena telah dikuasai

amarah, tanpa pikir panjang Agammenon mengorbankan anak gadisnya

sendiri kepada Dewa Laut, demi angin dan gelombang yang akan

menghantarkan mereka ke Troy.
Akhirnya pecahlah perang Troy dan Greek. Beribu-ribu orang terbunuh.
Greek terdesak, hampir kalah, karena Achilles pahlawan mereka tidak

ikut serta. Melihat itu semua Patroclus, sahabat Achilles,

berinisiatif membela negaranya dengan menyamar sebagai Achilles, turun

ke medan pertempuran, namun apes ia terbunuh Hector, salah satu

pangeran Troy.
Achilles murka mendengar kematian sahabatnya, dan akhirnya turun

berperang dan membalas dendam dengan membunuh Hector, dan membuat bayi

Hector menjadi anak yatim.
Tidak terima kakak kandungnya terbunuh, Paris, adik kandung Hector

dengan bantuan Dewa Apollo balas membunuh Achilles.
Walaupun telah bertempur bertahun-tahun Greek belum dapat mengalahkan

Troy
Akhirnya Si Cerdik Odysseus mengusulkan membuat rencana licik kuda

kayu yang merupakan awal kehancuran Troy. Troy dihancurkan. Ratu Helen

yang diculik dibawa kembali pulang.
Setelah perang usai Raja Agammenon kembali ke Greek, namun sesampainya

di istana, istrinya kemudian menikam Sang Raja dengan sebilah pisau,

karena Raja telah mengorbankan anak gadis mereka sebelum pasukan Greek

berangkat ke Troy.
Sementara Odysseus, arsitek perang Greek yang ternama, dalam

perjalanan pulang ke negeranya, terdampar disebuah pulau berpenghuni

Cyclops (raksasa bermata satu). Terjadi pertempuran antara keduanya,

Odysseus membutakan mata Cyclops. Sementara Cyclops mengutuk Odysseus.
Karena kutukan itulah bukan hanya kapal, seluruh pasukan yang

menyertai Odysseus tewas, hanya dirinya sendirilah yang selamat.

Bahkan ia memerlukan waktu sepuluh tahun untuk tiba dinegaranya

sendiri.
Sesampainya disana, ternyata istana, rumah dan keluarganya hancur

berantakan diganggu oleh para bajingan-bajingan dan Odysseus harus

berjuang habis-habisan membasmi para pengacau itu.

(huh..ini masih belum selesai juga !!!)
Diposkan oleh Semar Badranaya di 08:54 0 komentar Link ke posting ini
Senin, 03 Mei 2010
Kau Dengan Gunung Mu, Aku Dengan Gunung Ku
ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
fotografer, penulis & grafik desainer


“Begitu banyak orang takut akan persaingan. Ini aneh. Karena permulaan

kehadiran kita didunia ini dimulai dalam sebuah proses persaingan.

Mungkin kita dapat belajar dari sebuah proses pembuahan. Sel sperma

yang berjuta-juta itu harus bersaing sedemikian rupa untuk membuahi

satu sel telur. Mereka harus berlomba berenang begitu cepat, berebut

untuk mengawini satu sel telur tersebut. Dan yang kuat, cepat, tangguh

akan keluar sebagai pemenang”

Demikianlah uraian yang berulang kali ku dengar dari salah seorang

ulama yang sangat terkenal, guru sekaligus seseorang yang sangat

kukagumi. Tapi kalau boleh jujur, aku tidak terlalu sependapat

dengannya. Uraian beliau tentang persaingan kuanggap tidak seratus

persen benar.

Mengapa ?

Aku dibesarkan dalam sebuah masyarakat yang memelihara sebuah

persaingan sebagai budaya tak terlepaskan dari kehidupan mereka.

(Siapa sih yang tidak ? Aku rasa kita semua mengalami nasib yang

sama).

Mula-mula di dunia pendidikan. Sebagian besar dari kita

terbiasa/terpaksa belajar dan memperoleh prestasi, seolah-olah seperti

dalam sebuah arena persaingan. Juara satu, dua dan tiga. Ranking

sepuluh besar. Kebiasaan ini diteruskan dalam dunia kerja, baik dunia

profesional maupun bisnis.

Tips dan trick memenangkan kompetisi.
Kiat mengalahkan pesaing.
Cara mengetahui strategi Competitor.
Sebelas langkah untuk segera dipromosikan.
Seratus jurus untuk melampaui karir atasan Anda di kantor.

Kepala ini sudah terlanjur terdoktrin tentang dengan hal-hal seperti

itu sehingga hampir tidak ada lagi yang berani bertanya : apakah semua

ini mutlak benar ? Benarkah segalanya begitu terbatas ? Benarkah hidup

ini tidak menyediakan kecukupan untuk semua orang ? Benarkan TUHAN

yang sangat tidak terbatas itu sedemikian miskin, sehingga kita

‘ditakdirkan’ harus saling sikut, saling rampas, adu cepat, adu licik,

main dukun, sogok sana sini hanya atas nama memenangkan persaingan.

Sementara DIA diatas sana berdiri sebagai wasit –sang pengadu domba-

mengganjari para pemenang dan menertawai pecundang-pecundang malang.

Kontradiksi dengan semuanya itu. Bukankah sedari kecil kita juga telah

sering mendengar pengajaran-pengajaran sebagai berikut :

“Mungkin bukan rejeki kita”
“Sudah menjadi rejeki dia”
“Rejeki itu sudah kita bawa ketika kita lahir”
“Setiap manusia sudah punya rejeki masing-masing”
“Menjemput rejeki”
“Rejeki tidak mungkin tertukar”
“Iri hati kita tidak menambah atau mengurangi rejeki orang lain”

Periksalah seluruh kitab suci di atas muka bumi ini dan temukan sebuah

ayat tentang persaingan. Tentang betapa sedikitnya kemampuan TUHAN

memberikan rejeki pada umat-NYA. Tentang betapa terbatasnya segala

sesuatu. Dari sana kita akan mendapat gambaran yang jauh berbeda

dengan dunia yang didalamnya kita sudha bernafas sejak kecil.

Lalu dari mana doktrin ini berasal ? Apakah pendapat dunia sekuler

telah begitu mencemari kita ?

Kita tahu bahwa ada dua jenis manusia didunia ini. Mereka yang beriman

dan mereka yang berotak. Ini tidak berarti orang-orang beriman tidak

memiliki otak sama sekali dikepala mereka, atau begitu juga sebaliknya

mereka yang berotak sama sekali tidak memiliki iman dihati mereka. Ini

hanya sebuah istilah yang ingin menggambarkan “tentang apa yang

mendominasi kehidupan mereka sehari-hari”.

Bagi mereka yang mengagung-agungkan otak, lebih percaya hanya kepada

apa yang mereka lihat, alami dan pelajari. Namun kaum beriman –yang

seringkali bersandar pada hati- menaruh kepercayaan pada apa yang

tidak kasat mata. Janji TUHAN, pahala, dan lain sebagainya.

Kedua golongan ini saling berinteraksi, saling mempengaruhi satu

dengan lain. Mungkinkah diktat besar mengenai persaingan kemudian

ditandatangani disini, lalu diterima sebagai sebuah kebenaran turun

temurun ?

Kita belajar karena ingin menduduki ranking tertentu atau bahkan lebih

parah dari itu : karena takut tidak lulus dan takut tidak memenuhi

syarat pekerjaan di masyarakat. Hanya segelintir orang yang belajar

karena rasa ingin tahu yang tulus.

Ingin mendapat pendapatan atau jabatan yang lebih tinggi. Bisnis yang

lebih hebat. Uang yang lebih banyak. Lalu mulai bermanuver,

politiking, si-sa-si-ji-sa-si : sikut sana sini, jilat sana-sini.

Apakah pendekatan ‘memberikan yang terbaik dan berkarya sehebat

mungkin’ sudah terlalu kuno dan kurang efektif lagi ?

Bukankah ‘memperbaiki diri’ adalah salah satu takdir yang harus kita

penuhi ? Bahwa orang yang keadaannya sama saja dengan hari kemarin

adalah orang-orang yang merugi dan bahwa orang-orang yang keadaannya

lebih buruk dari kemarin adalah orang-orang terkutuk ? Sama sekali

bukan alasan siapa menang dan siapa kalah. Siapa yang mendapat dan

siapa yang terpaksa menyerahkan.

Lalu untuk apa kita belajar, memperoleh gelar Prof, Dr., SH, S. Kom,

MBA, MSI, TKW, HIV ? Untuk apa seluruh daya upaya, pengorbanan,

keringat, strategi, riset, kreatifitas dan usaha yang telah kita

dikerahkan ?

Untuk menggali tambang emas gunung rejeki kita masing-masing !

Itu juga berarti, sama sekali tidak menjadi masalah jika kita saling

membantu, saling sokong, saling memberi informasi rahasia, saling

menyumbangkan tips dan trik, karena kita tidak sedang berebutan

menggali satu gunung rame-rame, tapi yang kita lakukan adalah menggali

gunung rejeki kita masing-masing, yang sudah ditentukan TUHAN menjadi

bagian kita sejak kita lahir.

Saling jegal ? Buat apa !?
Itu hanya sebuah pemborosan energi yang sudah pasti membuat pekerjaan

menambang emas kita masing-masing jauh lebih lambat dari kecepatan

sebenarnya. Lebih jauh dari itu, hanya merupakan kegiatan yang

mengotori hati nurani dan mengundang hal-hal buruk terjadi pada hidup

kita.

Sedikit banyak ini merupakan kabar baik bagi para pencundang, bahwa

ternyata masih begitu banyak harapan dalam hidup ini. Sebaliknya

merupakan kabar buruk buat mereka-mereka yang selama ini membusungkan

dada, karena merasa telah mengalahkan banyak orang dalam hidupnya.

Bahwa ternyata kemenangan yang mereka raih adalah palsu. Para pemenang

palsu ini berlari kesetanan padahal tidak ada yang mengejar mereka.

Menggali membabi buta, padahal yang mereka gali adalah gunung mereka

sendiri, yang tidak mungkin diganggu gugat oleh siapapun. Oooh poor

fake winner…

Bahkan Sun Tzu dalam strategi perangnya mengatakan secara implisit

bahwa musuh yang sebenarnya ada dalam diri kita. Sehingga seorang

jenderal perang yang ceroboh, akan terbunuh. Penakut, akan tertangkap.

Lekas marah, akan mudah terprovokasi dan mereka yang begitu sensitif

akan kehormatan akan dengan mudah dipermalukan. Bukankah itu semua ada

dalam diri kita ? Dengan kata lain yang membuat kita terbunuh,

tertangkap, marah, dan dipermalukan adalah diri kita sendiri dan sama

sekali bukan orang lain. Jadi pemenang sejati adalah mereka yang

mengalahkan bagian dari diri mereka yang buruk dan sama sekali bukan

mengalahkan orang lain.

Jadi bagaimana membuat persaingan tidak relevan lagi ?

Agak sedikit berbeda dengan pendekatan yang Blue Ocean Strategy

tawarkan (ada baiknya jika kita kembali kepada kebenaran awal, takdir

mula-mula manusia) bahwa : kau berhadapan dengan gunung rejeki mu dan

aku berhadapan dengan gunung rejeki ku.

Otomatis persaingan menjadi sangat tidak relevan lagi.

Apakah perenungan ini valid ? Apakah ini sebuah kebenaran yang

terlupakan atau lamunan iseng keblinger dari orang yang baru hidup

sepertiga abad ? Semuanya kembali kepada diri kita masing-masing

tetapi apapun itu : “Terjadilah sesuai dengan iman mu !!!” atau dalam

bahasa lain “TUHAN adalah seperti prasangka hamba-NYA”.

Oh iya ada sesuatu yang hampir saja terlupakan. Mengenai analogi sel

sperma dan sel telur diatas.

Mungkin ada baiknya jika kita melihat dari sudut pandang berbeda.

Yaitu sudut pandang sel telur. Bahkan satu sel telur tidak perlu

merasa kuatir akan sel sperma untuknya, karena TUHAN telah menyediakan

berjuta-juta sel sperma, yang tanpa diminta berenang dan berusaha

membuahinya.

Pola pandang seperti ini memang cenderung ganjil dan nyeleneh.

Tapi paling lewat pola pandang seperti ini berakibat
hidup menjadi begitu luar biasa,
sesama yang selama ini dipandang sebagai ancaman, berubah menjadi

partner yang menyenangkan,
hati yang semula bergejolak dalam pertempuran yang tidak perlu kini

mengalir teduh dan
TUHAN dimuliakan karena ketidakterbatasan kemampuan BELIAU menyediakan

segala sesuatu untuk semua.

What a wonderfull world !
What an abundance life !!
What an exciting journey !!!

(selesai)
Nb.
Ada profile Made Teddy Artiana di Majalah Human Capital terbaru (edisi

73, April 2010)
Diposkan oleh Semar Badranaya di 17:57 3 komentar Link ke posting ini
Minggu, 18 April 2010
Sebuah Doa untuk Perjalanan Hidup (Darat, Laut, Udara)
Sebuah Doa untuk Perjalanan Hidup (Darat, Laut, Udara)
ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Komp


Artikel ini ditulis ketika aku dan istri melntas diatas langit pulau

Jawa menuju Bali kali ini bukan karena alasan memotret client, tetapi

memang rasa rindu yang luar biasa kepada orang tua kami di Bali,

ayahanda ku berulang tahun beberapa hari yang lalu dan inilah kejutan

yang akan mereka terima.Anaknya datang berkunjung tiba-tiba tanpa

pemberitahuan sebelumnya.

Pesawat yang besar, hebat, keluaran terbaru dan mahal tentunya. Disana

berkumpul mimpi yang jadi kenyataan, kecerdasan, kebanggaan, kekayaan

dan sayangnya juga -kadang-kadang sebuah perasaan "sudah menaklukkan".

Mungkin ini yang membuat orang-orang menaiki pesawat memiliki

perasaan, cerita dan gaya berjalan yang berbeda dengan jika kita

menaiki kapa laut, kereta, bus antar propinsi atau truk.

Sedang asyik mengagumi, salah satu puncak ciptaan umat manusia- tiba-

tiba lampu mengenakan sabuk pengaman menyala, tak lama sesudah itu

pilot mengumumkan hal yang paling malas didengar oleh siapapun yang

sering bepergian dengan pesawat : "Para penumpang yang terhormat, kita

sedang terbang dalam cuaca buruk...bla..bla..bla.
Intinya : kembali ketempat duduk Anda dan berdoalah !

Dan pesawat mulai bergetar ketika memasuki kumpulan awan berwarna abu

-abu. Terus bergetar semakin kuat. Kumpulan awan raksasa yang begitu

pekat sudah menunggu didepan pesawat. Ini mulai mencemaskan beberapa

orang disekitarku. Seorang ibu bahkan telah menunjukkan ekspresi

meringis kesakitan sejak tadi, entah karena apa. Seorang bapak yang

telah beruban tampak berkomat-kamit membaca doa, sambil kedua

tangannya mencengkram pegangan kursi disebalah kanan dan kirinya. Ada

yang sedikit lucu, persis di depan kami ada seorang pemuda dengan

earphone ditelinga berukuran cukup besar-nyaris setelah kepalanya-

tengah menggerak-gerakkan kepala dengan gugup kekanan dan kekiri.

Bahasa tubuhnya jelas mengisyaratkan : berpura-pura menikmati musik

sambil berusaha untuk mengabaikan rasa takut. Sementara aku dan

istriku berpegangan tangan, sambil berdoa. Sialnya tidak ada doa-doa

jaim apapun yang dapat teringat. Kadang-kadang memang ketakutan

membuat kita lupa akan TUHAN.

(Mungkin karena alasan inilah, pernah kudengar seorang sahabat berkata

: seseorang yang mengaku bertermu setan lalu sanggup mengingat doa-doa

(hafalan), kemudian mengucapkannya dengan tenang adalah seorang

pembohong besar. Karena sampai kapanpun orang yang takut akan hantu

akan melupakan TUHAN. Tetapi, orang yang takut TUHAN pasti akan

nyuekin hantu, karena gak penting-penting amat)

Dari sebuah perasaan cemas (dan takut) akhirnya lahirlah sebuah

kejengkelan terhadap pesawat yang semula kukagumi. Sosok BJ Habibie -

salah satu manusia yang kukagumi di dunia- yang sebelumnya tersenyum

sambil terbata-bata berbicara bahasa Indonesia sudah lari lintang

pukang, ku usir dari kepala. Kini meluncurlah doa spontanitas itu.

Kasar, apa adanya, tidak sempat dihias namun sungguh-sungguh dari hati

(jenis doa yang sangat disukai TUHAN)

"Ijinkanlah besi bodoh yang penuh dengan kejlimetan yang memuakkan ini

melintas dengan selamat dilangit-Mu yang agung, perkasa dan kudus ini,

ya TUHAN. Tanpa ENGKAU perlu melirik, mudah bagi kami untuk

dihempaskan entah kemana oleh angin dan awan pekat. Tetapi biarlah

semata-mata hanya karena belas kasihan-Mu kami, orang-orang yang

sering tidak tahu diri ini sampai dengan selamat !!"

Begitulah manusia -kita-kita ini- yang kadang begitu terobsesi dengan

kehebatan, kecerdasan, prestasi, harta, kegantengan, kesexyan,

kecantikan dan lupa bila itu semua hanya pemberian yang jika diambil

dan diganti dengan aib dan kebodohan, tidak dapat kita tolak. Mungkin

kadang DIA merasa perlu mendorong kita kepojok sebelum kemudian

menasehati kita., karena jika tidak maka kita cenderung akan menutup

telinga, membutakan mata seolah semua atribut sementara itu tidak akan

lepas dari diri kita. Seolah-olah kita punya kendali hebat atas hidup

ini. dan seolah-olah dua jam dari sekarang kita masih bernafas.

Berusaha sekuat tenaga, setelah mentok, babak belur, berdarah-darah

baru ingat TUHAN. Mengapa tidak dibalik ? menempatkan DIA selalu

didepan segala rencana kita. Jauh diatas segala sesuatu yang kita

anggap sebagai kebanggaan, pencapaian dan tetek bengek lain ? Sungguh

bahkan Mike Tyson dengan segala keperkasaannya bahkan tidak akan bisa

berbuat banyak jika sedang diare ? Atau Eistein tidak akan dapat

berpikir jika sedang sakit gigi. Atau Donald Trump dengan "jambulnya"

jika saja DIA menutup saluran buang air besar selama tiga hari.

Sangat mudah bagi TUHAN -jika IA mau- untuk membuat kita seketika

bodoh, cacat, aib, miskin, jelek dan bau.

oh iya sedikit menyambung cerita besi bodoh yang ngejlimet diatas,

anehnya segera setelah doa blak-blakan itu terucap. Keadaan membaik.

Bukan-bukan itu maksud ku !. Langit tetap gelap, awan tetap menakutkan

dan pesawat itu tetap bergetar, hanya saja -ini yang kumaksud aneh-

hatiku menjadi sangat tenang dan tidak ketakutan lagi. (Seringkali

jawaban doa itu tidak seperti yag kita bayangkan, tetapi selalu baik

untuk kita.)

Seperti ada yang berbisik "Ok, permintaanmu dikabulkan. Damailah". Dan

tidak beberapa lama kemudian pesawatpun mendarat dengan sangat mulus

di Ngurah Rai, tanpa kekurangan "baut" satupun diatas sana.

Semua penumpang bernafas lega. Ibu yang meringis kita segera

menyalakan sebuah Black Berry terbaru lalu menelpon anak-anaknya

dirumah. Bapak yang tadi berkomat-kamit, kini melangkah dengan anggun

bak model di catwalk sambil menenteng laptop ditangan kiri dan jas

dibahu kanan. Berjalan sambil menebar senyuman luar biasa lebar pada

para pramugari yang berejejer dipintu pesawat. Lalu pemuda ber-

earphone didepanku, kini menambah satu asesoris lagi diwajahnya : kaca

mata hitam. Berjalan dengan dada membusung, tak terkalahkan.

(ya..ialah..wong sudah nyampe didarat !!)

Sementara aku dan istriku..tetep..bergandengan tangan.

Ada sebuah doa yang berbisik di hati ini, menggetarkan relung-

relungnya dan membuat bulu kuduk hormat berdiri. Doa baru yang tidak

hanya efektif untuk perjalanan darat, laut, udara, namun juga

perjalanan hidup.

"Ya TUHAN, jangan lepaskan pegangan tangan-MU ini sampai kapanpun.

Sudilah kiranya berjalan didepanku sepanjang KAU ijinkan kaki ini

melintasi hidup yang KAU anugerahkan padaku. Namun jika jalan ini

terlalu sulit untuk didaki, terlalu berat untuk diseberangi, Ya Robb,

jangan turunkan hamba dari gendongan-MU"

(***)
Diposkan oleh Semar Badranaya di 19:37 0 komentar Link ke posting ini
Minggu, 04 April 2010
How To Train Your Dragon

How To Train Your Dragon
oleh Made Teddy Artiana, S. Kom



Ada sebuah film animasi tiga dimensi (3D) yang sangat menghibur, namun

sarat akan pelajaran moral yang luar biasa, yang sepertinya wajib kita

tonton. Sebuah film yang kini kabarnya tengah menduduki puncak

tertinggi urutan box office, dengan penghasilan tertinggi USA. Film

itu adalah "How To Train Your Dragon". Saking uniknya, saya berencana

menonton film ini untuk kedua kali lagi.

Film yang mengambil setting kehidupan bangsa Viking di jaman dahulu.

Diceritakan pada waktu itu musuh bebuyutan orang Viking adalah

Dragon/naga. Tetapi Naga orang Viking berbeda dengan persepsi Naga di

kepala orang Asia, agak berbeda. Yang satu binatang melata berwujud

ular raksasa, namun berkaki, yang lain punya sayap dan bisa terbang.

Yang satu menelan mangsa, yang lain menyemburkan api. Tetapi keduanya

punya wajah dan sisik mirip.

Saking musuh bebuyutannya kedua golongan ini, hingga dari jaman ke

jaman mereka saling bunuh. Bahkan anak-anak orang Viking telah dilatih

secara khusus untuk membunuh para naga. Pelatihan ini demikian serius

hingga ditahapan puncak, mereka laksana gladiator romawi, diharuskan

membunuh naga dalam sebuah gelanggang pertempuran yang ditonton

seluruh suku bangsa mereka.

Ada beberapa jenis naga. Dari yang berkepala dua, kecil mungil

berwarna-warni, bertubuh panjang merah, pendek gempal, hingga Night

Furry, naga siluman yang tidak pernah tampak wujudnya (karena tak

seorangpun pernah melihatnya) namun sangat ditakuti, karena “tembakan

maut” api dari mulutnya laksana peluru kendali yang memiliki ketepatan

yang luarbiasa.

Oleh suku bangsa Viking hampir semua naga memperoleh predikat :

berbahaya dan bunuh ditempat, hanya Nigth Furry yang berpredikat

berbeda : jika ia muncul, bersembunyilah dan berharaplah agar tidak

diketahui alias tidak mungkin untuk dikalahkan dan sia-sia untuk

dilawan.

Tersebutlah seorang remaja Viking bernama Hiccup. Jika bayangan kita

terhadap orang Viking adalah kekar, seram, kuat, berbulu dan berambut

panjang. Hiccup persis kebalikannya. Licin, klimis, letoi, berambut

pendek lurus dan kurus ceking. Ia adalah kijang yang tersasar

digerombolan singa Afrika. Ikan mujair diantara kumpulan para piranha.

Jika orang Viking selalu mengandalkan kekuatan mereka, Hiccup yang

kebetulan tidak memilikinya, lebih mengandalkan sesuatu didalam

kepalanya. Namun demikian karena standar yang mendominasi semua orang

sebangsanya adalah "kekuatan" dan "kebengisan" dan bukannya "otak" dan

"hati", maka kelebihan Hiccup tetap saja tidak mampu memberikan

sumbangsih apapun bagi eksistensi dirinya. Sehingga Hiccup tetap

merupakan noda yang cukup memalukan tidak hanya bagi seluruh kaumnya,

namun terutama juga untuk sang ayah yang kebetulan kepala suku bangsa

Viking yang sangat dihormati. Karena jangankan untuk membunuh naga -

yang notabene adalah kebanggaan orang Viking- bertindak-tanduk sebagai

seorang Viking pun, Hiccup sepertinya tidak akan pernah sanggup.

Inilah yang membuat perasaan inferior tampak membayangi kehidupan

Hiccup.

PadaDalam sebuah penyerangan segerombolan naga kepemukiman bangsa

Viking, seperti yang lain, Hiccup bermaksud ikut berperang mengusir

naga-naga itu. Tetapi ia terlalu lemah dan terlalu sial untuk

berhasil. Namun tanpa sepengetahuan siapapun, Hiccup telah menciptakan

sebuah alat untuk menyerang para naga. Dan alat itu ia gunakan, persis

ketika naga "siluman" yang paling ditakuti -Nigth Furry- datang

menyerang. Sebenarnya ia berhasil menembakkan alat itu kepada Nigth

Furry, tetapi karena memang selalu bernasib sial, Hiccup kembali

menimbulkan kekacauan dan kerugian besar dalam perang tersebut.

Alhasil, ia kembali jadi bulan-bulanan kemarahan ayah dan bangsanya,

walaupun ia berusaha mengatakan pada mereka bahwa senjatanya berhasil

mengenai Nigth Furry, dan naga yang paling ditakuti sekaligus tak

pernah terlihat wujudnya itu terjatuh disebuah bukit tak jauh dari

pemukiman.

Pengakuan yang sangat terlalu mustahil, terlebih bagi seorang Hiccup.

Hingga akhirnya Hiccup berusaha membuktikan penglihatannya sendiri.

Dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui senjatanya itu tidak hanya

berhasil mengenai naga siluman itu, tetapi juga melukainya hingga naga

yang paling ditakuti itu terluka dan tidak berdaya. Namun demikian

Hiccup memutuskan tidak membunuh hewan yang sudah tidak berdaya itu.

Ia terlalu berperasaan untuk melakukannya.

Lewat pemahaman yang pertemanan yang demikian unik, terjalinlah

persahabatan antara Hiccup dan Nigth Furry, yang kemudian ia namai

dengan Toothless. Tidak hanya itu, Hiccup berhasil memahami perilaku

naga itu, dan menjadikan Nigth Furry hewan tunggangannya. Sesuatu yang

luar biasa dan tidak akan pernah terpikirkan oleh seorang Viking, yang

segera akan lari tunggang langgang jika mendengar teriakan Nigth Furry

yang mendirikan bulu roma.

Namun justru disinilah konflik itu mulai terjadi, ketika akhirnya

persahabatan yang diharamkan ini diketahui oleh ayah dan bangsanya,

sehingga mereka sangat murka terhadap Hiccup. Seperti biasa penjelasan

Hiccup tentang naga-naga yang sebenarnya sama seperti perilaku bangsa

Viking, dan manusia umumnya, yang membunuh jika terdesak dan merasa

terancam, tidak pernah mendapat kesempatan untuk masuk kepikiran

mereka. Mindset lama tentang "dibunuh atau terbunuh", terlalu

menguasai pikiran mereka, sehingga pencerahan yang dibawa Hiccup

dianggap sebuah dosa dan kesalahan fatal.

Singkat cerita, pemahaman baru ini justru menjadi sebuah senjata yang

luar biasa bagi Hiccup yang akhirnya membawa ia menjadi seorang

pahlawan yang sangat dikagumi oleh bangsanya, dengan bekerja sama

dengan Nigth Furry untuk membunuh seekor naga raksasa yang jahat, yang

menjadi gembong yang memaksa naga-naga lain yang jauh lebih kecil

untuk mencuri, merampok hewan bangsa Viking.

Akhirnya para naga dan bangsa Viking tinggal berdiam dengan penuh

harmoni di pemukiman yang sama.

Sebuah pelajaran moral yang aku anggap paling mengesankan adalah

betapapun lemah, kurang, berbedanya diri kita dengan standard baku

yang berlaku dimasyarakat, namun keunikan yang kita miliki tetap dapat

dijadikan senjata ampuh untuk meraih kesuksesan hidup. Dan kesuksesan

itu bisa jadi berbeda dengan yang ayah kita, keluarga, boss dikantor,

para motivator, orang kebanyakan gariskan sebagai sebuah kelaziman.

Dulu, hanya Copernicus yang mengatakan dunia ini bulat. Ia jelas-jelas

berbeda dengan seluruh manusia yang ada saat itu. Ia berpendapat,

sedangkan yang lain tidak berpendapat. Mereka hanya menelan bulat-

bulat apa yang sudah terlanjur diturunkan dari moyang mereka. Dan kini

jika ada orang yang mengatakan bahwa bumi ini datar, pastilah semua

orang menganggap orang tadi sudah kehilangan akal warasnya, persis

ketika dulu Copernicus dianggap tidak waras oleh orang sejamannya.

Jadi jelas, bahwa kebenaran tidak selalu identik dengan gerombolan.

Para penyendiri, atau mereka yang dibuat sendiri, karena dianggap aneh

oleh sekitar -walaupun tidak selalu mutlak benar- seringkali membawa

pencerahan luar biasa bagi pola pikir yang sudah jenuh. Namun demikian

memang tidak dapat disangkal bahwa kita adalah mahluk yang cenderung

mengikuti arus masa kebanyakan.


Tapi tunggu dulu, sebelum terlalu jauh ada baiknya jika istilah

“kelemahan” atau “perbedaan” dalam hal ini, tentu bukan merupakan

sebuah perilaku minus yang memang harus diubah.

Sifat kurangajar dan tidak hormat.
Ketidakjujuran.
Kebiasaan merendahkan.
Berkata kasar dan suka menyakiti orang lain.
Malah belajar.
Penunda.
dll

yang seringkali mewakili ungkapan “Suka atau tidak, sifat ku memang

begini” aku rasa diluar kategori pembahasan kita. Itu bukan kelemahan

-kelemahan yang dimaksud. Itu sesuatu yang harusnya –jika kita

memiliki harga diri yang cukup kuat- mendapat prioritas untuk

diperbaiki segera.

Lahir disebuah keluarga miskin.
Tidak punya biaya untuk bersekolah.
Punya keadaan fisik yang serba kurang
(kurang tinggi, kurang cantik, kurang tampan).
Cacat.
Yatim piatu.
Korban brokenhome.
Dianggap bodoh/kurang pandai.
Gagap.
dll.

Adalah sederet keadaan tentunya masuk dalam kategori.

Seorang teman yang dari kecil sangat hobby akan seni ketrampilan

tangan baru-baru ini curhat padaku. Ia merasa keluarga –biasanya

hambatan dan hinaan itu datang dari orang-orang terdekat- menganggap

hobby dan ketrampilannya ini tidak memiliki masa depan, sehingga

keluarga mengharuskan ia mencari pekerjaan yang lebih mapan, yang

sebenarnya tidak ia sukai. Padahal ada sebuah pengalaman yang sampai

kini begitu berkesan dihatinya adalah ketika hasil karyanya dibeli

mahal oleh seseorang karena dianggap sangat unik. Ini terjadi ketika

ia duduk dikelas enam SD. Tapi apa lacur, orang tuanya menganggap itu

semua sebagai sebuah kebetulan belaka.

Lain lagi cerita seorang kenalan, yang menjadi korban orang tua yang

brokenhome. Ayah ibu bercerai. Ayah masuk penjara, ibu kawin lagi.

Kini tinggalah ia sendiri berjuang bersama kedua adiknya yang masih

kecil, bertahan hidup dengan beban psikologi yang begitu berat.

Belum lagi seorang kenalan lain –kali ini wanita- yang karena merasa

diri kurang menarik, memutuskan untuk tidak pernah memulai hubungan

dengan seorang pria, hingga usia nyaris mendekati empat puluh tahun.

“Dari pada terluka, mending tidak”, begitu ungkapan favorite nya.

Seorang karyawan yang di-PHK justru dalam keadaan genting, istrinya

sedang hamil tua, anak ke-3 !!!

Seorang istri dengan dua orang anak yang kemudian ditinggal mati oleh

sang suami.

Dan lain-lain sebagainya. Mungkin kita tidak sadar bahwa cerita-cerita

ini begitu sering hilir mudik didepan hidung kita.

Kontras dengan itu semua, Anthony Robin dalam buku fenomenalnya : The

Awakening of Giant Within bercerita tentang sebuah kekuatan luar biasa

yang ada pada diri setiap insan. Kekuatan yang seringkali tertidur dan

menunggu untuk disadari eksistensinya, untuk kemudian mengambil alih

peran hidup yang sementara ini dilakoni dengan tanpa daya.

Uniknya, seringkali kita membayangkan kekuatan itu sebagai sesuatu

yang dashyat seperti : naga, harimau atau raksasa. Tentu saja tidak

sepenuhnya keliru, karena memang daya dan kekuasaannya memang sehebat

mahluk-mahluk tersebut.

Namun sebagaimana hidup yang selalu bermain petak umpet dalam cara-

cara siluman (berkah dalam kemalangan, kegagalan mendahului

kesuksesan, malaikat dalam rupa tak sewajarnya) kekuatan-kekuatan tadi

lebih sering mengambil rupa justru dalam wujud yang sangat tidak kita

sukai alias yang tidak kita duga. Kelemahan-kelemahan yang memalukan,

yang membuat minder dan menekan urat syaraf itulah wujud mereka mula-

mula.

Kini tergantung kita, apakah kita punya cukup keberanian untuk

berhadapan dengan kelemahan-kelemahan itu –yang sebenarnya adalah

naga, harimau atau raksasa yang sedang malih rupa. Ataukah kita karena

putus asa, minder, merasa sial atau disia-siakan oleh hidup memilih

balik kanan bubar jalan, atau mendekam dipojok ruangan hingga akhir

hidup kita sambil terus bergumam tentang betapa menyedihkannya diriku

ini.

Bahkan seekor naga (baca : kekuatan naga) pun perlu dilatih untuk

memunculkan kekuatan mereka yang sebenarnya. Bagaimana cara melatihnya

? How to train your dragon ? Simple, dengan mengakui keberadaan

mereka, kemudian mensyukuri semua kelemahan, keterbatasan kekurangan

dan ketidakstandaran kita, lalu berhadapan face to face dengan hidup

ini bersenjatakan kelemahan-kelemahan itu.

Maka segera saja kita akan temukan betapa sesuatu yang kita anggap

kelemahan adalah senjata pamungkas yang diberikan Sang Pencipta kepada

kita. Dalam arti kata, kita sudah dipersiapkan sebaik mungkin –jauh

sebelum kita lahir- untuk menjadi lebih dari sekedar pemenang. DIA

adalah pihak yang paling tahu bagaimana cara membentuk kita sehebat

yang prototype yang sebenarnya IA rancang.

***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 07:17 1 komentar Link ke posting ini
Senin, 22 Maret 2010
Tiba-Tiba Tersadar : Terlalu Terlambat !


Tiba-Tiba Tersadar : Terlalu Terlambat !
oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
(company profile developer)

“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start

today and make a new ending.” ~Maria Robinson

Kakekku pernah mengatakan ini padaku.
“Selama kita masih diberi umur dan kesehatan oleh TUHAN, bekerjalah

sekeras mungkin, menabung sebanyak mungkin dan berbuat sebaik-baiknya

untuk diri sendiri dan orang lain. Karena waktu bukan sesuatu yang

tidak terbatas”.

Dan kini, dalam perjalanan meeting ke rumah client kami, aku bertemu

perwujudan nyata dari hal-hal tersebut.

Peristiwa pertama yang kutemui adalah seorang tua, dengan topi dan

kemeja lusuh -yang sudah sangat pantas dijadikan lap kotor- bersandal

jepit kumal keriting, berdiri dipersimpangan jalan. Mengatur lalu

lintas dan berharap belas kasihan uang receh sebagai imbalannya.

Polisi gopek.

Kemudian, seorang tua renta –kali ini jauh lebih tua dari yang pertama

tadi- dengan mata kiri yang cacat, berpakaian tukang parkir berjalan

mendekat kearah mobil ku. Sebenarnya, sedari tadi orang ini sudah

menarik perhatianku. Betapa tidak, dalam usia seperti itu bekerja

sebagai tukang parkir. Setiap hari berkeliaran dipinggir jalan aspal,

dibawah terik matahari membakar, berselimut debu dan asap dari mulut

knalpot seantero kendaraan di Jakarta. Mungkin karena sudah terbiasa,

ia tidak terlalu peduli dengan keadaannya itu. Tetapi bagi ku pribadi

ini adalah pemandangan keadaan dibawah standard kemanusiawian. Orang

tua seperti dirinya seharusnya sudah beristirahat dirumah bersama anak

cucu tercinta. “Ya ampun, biar Pak, nggak usah…”, kataku sambil

bergegas setengah berlari kearahnya. Orang tua itu menggenggam handle

pintu mobil, dan berniat membukakannya bagiku. Aku menyentuh tangan-

tangan keriput berdebu dengan hiasan urat-urat kasar disekelilingnya.

“Pak, anak atau cucu bapak dimana ?”, tanyaku tak sabar lagi.

Ia tersenyum ramah lalu menunduk. Sesaat terdiam, sementara aku tetap

menunggu jawabannya tak mau beranjak. Akhirnya wajah itu terangkat,

kini matanya diselimuti air, sementara pundak-pundak tua itu tampak

bergetar. Ia menangis. “Ada..”, jawabnya lirih. Sekarang rasa haru

menyelimuti dadaku. Mungkin pertanyaan penasaran dariku membuka

kembali luka dan menjadi terlalu berat untuk dicarikan jawabannya.

“Ya sudah Pak..tak perlu diceritakan”, ujarku selembut mungkin, tak

ingin menyiksanya terlalu lama. Setelah membayar parkir, aku segera

berlalu sambil membisikkan sebuah doa baginya, TUHAN menyertaimu.

Kini setibaku di rumah client kami, pemandangan kontraspun terhampar

didepan mata.

Seorang bapak -pemilik sebuah perusahaan minyak ternama, dengan lima

orang anak, dirumah mereka yang elegan, tak lupa seorang sopir,

pengawal dan mobil mewah yang siap mengantar kemanapun ia akan pergi-

tengah membagi-bagikan uang lima puluh ribuan kepada cucu-cucunya,

berjumlah tujuh orang dan beberapa lembar seratusribuan kepada

beberapa orang keponakan beliau. Ada dua cucu beliau, mungkin karena

masih kecil untuk mengerti angka limapuluh ribu, tidak terlalu

menggubris pemberian eyang mereka, meletakkan dengan sembarang uang

itu, lalu asyik berkejar-kejaran dengan cucu yang lain.

“Biasa Mas Made, mereka belum ngerti uang, biasanya sih saya

memberikan hadiah kecil buat mereka. Tapi tadi saya lupa, biar bapak

ibunya aja yang beliin buat dia”, ujar beliau sambil tersenyum.

Jelas laki-laki ini begitu terhormat dan berada dalam status sosial

dan kualitas hidup beratus-ratus tingkat diatas kedua lelaki yang

kuceritakan sebelumnya diatas.

Apakah hidup melakukan sebuah kekeliruan ? Apakah TUHAN yang salah

menempatkan sebuah kemuliaan ? Ataukah kita –para manusia ini- yang

tidak tahu menghormati betapa mulianya diri kita, dan betapa

berharganya hidup ini ?

Kesaksian orang-orang mulia, bijak dan kaya menunjukkan tidak adanya

kesalahan dalam hal-hal tersebut. Bahwa hidup sudah diprogram

sedemikian rupa untuk hanya memberikan kemuliaan hanya kepada mereka

yang hidup didalamnya. Bahwa hidup hanya akan merekam lalu

mengembalikan apa saja yang kita berikan kepadanya. Bahwa TUHAN dengan

segala keagungan dan keadilannya selalu saja mengganjari setiap orang

menurut kesucian tangan dan hidup mereka. Dan bahwa manusia itu sedari

awal adalah berharga dan mulia dimata-NYA. Kita terlalu dicintai-NYA.

Hanya saja banyak diantara kita dulu merasa terlalu perlu menghormati

diri dan hidup ini, mungkin karena merasa terlalu muda, terlalu

tampan, terlalu sexy, terlalu exist, terlalu asyik dengan hal-hal yang

tidak memuliakan diri kita, lalu kemudian tiba-tiba tersadar disuatu

pagi, dan menemukan segalanya sudah terlambat. Terlalu terikat

kebiasaan buruk, terlalu berpenyakit untuk menikmati hidup, terlalu

miskin untuk memberi, terlalu banyak masalah untuk sekedar bernafas,

terlalu tua, terlalu lemah, terlalu terlambat.

Sungguh setiap orang jika diletakkan dalam jajaran waktu adalah

merugi.

Memang benar ada peribahasa : manusia berencana, TUHAN menentukan.

Namun ada benarnya juga jika kita sadar, bahwa rencana-rencana mulia

TUHAN tidak akan terwujud pada hidup kita, jika kita menolak

menjalankan rencana-rencana-NYA. Karena TUHAN bukan lah diktator, yang

kemudian merebut paksa “kebebasan bersikap” yang IA berikan pada kita.

Seandainya saja kita menuruti-NYA. Ya, seandainya saja kita menurut.

(***)
Diposkan oleh Semar Badranaya di 18:17 0 komentar Link ke posting ini
Posting Lama Beranda
Langgan: Entri (Atom)
Arsip Blog

* ▼ 2010 (13)
o ▼ Mei (4)
+ Seandainya Aku Jadi Aburizal Bakrie
+ Melanjutkan ‘Tugas Sekolah’ TREVOR
+ Memutuskan Rantai Sang Dewi ERIS
+ Kau Dengan Gunung Mu, Aku Dengan Gunung Ku
o ► April (2)
+ Sebuah Doa untuk Perjalanan Hidup (Darat, Laut,

Ud...
+ How To Train Your Dragon
o ► Maret (3)
+ Tiba-Tiba Tersadar : Terlalu Terlambat !
+ Oneng, Jangan Kau Curi Kambing Emaaak.!!!
+ We Love You, Bunga Cintra Lestari !!
o ► Januari (4)
+ Rest in Reason, MOVE IN PASSION !!!
+ The “Hidden Message & True Power” of Water
+ Gara-gara Jamil Azzaini !!
+ “Odol” dari Surga

* ► 2009 (24)
o ► Desember (2)
+ Belajar Dari Manusia-Manusia Gerobak
+ Sang Komandan
o ► November (1)
+ U M U R
o ► Oktober (2)
+ Belajar Dari Vagina
+ The Power of KEPEPET vs The Power of PENASARAN
o ► September (1)
+ Ingin Sukses, Bahagia dan Masuk Sorga ? Jadilah

Se...
o ► Juli (2)
+ Seandainya Aku Masih Hidup Sampai Malam Nanti
+ Belajar Goblok Dari Forrest Gump
o ► Juni (4)
+ Dimana Anda “Memancing” Rejeki Selama Hidup ?
+ Tips Presentasi Ala Eyang Kakung
+ Emang Enak Jadi Orang Kaya
+ Persamaan TUHAN dan Jas Hujan
o ► April (8)
+ Anda Achiever Atau Sekedar Komentator ?
+ Pelajaran Dari Raccoon “Culun”
+ Penyembuh Ampuh Bernama : “Keheningan”
+ Yang Paling Penting Adalah “Anu” nya
+ Pelajaran “Hidup” Dari Kolam Renang
+ Mau Jadi Thomas Edison, Hans Bablinger atau Djoko

...
+ Hukum Kekekalan Energi..It's Real !!
+ Fokus : Bukan Sulap Bukan Sihir !
o ► Maret (2)
+ Semua Salah…Kecuali Saya
+ Berubahlah…BABI !!
o ► Januari (2)
+ Antara Cheese…Wisky…dan Witri
+ Pelajaran Terlupakan Dari Seonggok Bunga Bakung

* ► 2008 (24)
o ► Desember (1)
+ Percaya atau Tidak : Kita Semua Adalah Raja !!
o ► November (1)
+ Doa Yabesh : Doa Enterpreneur Zaman Purbakala
o ► Oktober (1)
+ Beberapa Hari Bersama GRAJ Nurkamnari Dewi
o ► September (1)
+ Si Pengacau Yang Meluruskan Kiblat Kami
o ► Agustus (3)
+ Nggak Sekolah ? So What Gitu Loh !!
+ Jelang Ramadhan : Kisah Kucing dan Putera Mahkota
+ Thank’s Papa..Kau Sudah Berbuat Begitu Banyak
o ► Juli (6)
+ Pak Sumendi….oh… Pak Sumendi
+ Panggil Saya..Ibu Gajah Mada !!!
+ Lingkaran-Lingkaran Kehidupan
+ Pak Sutha…Guru Kami Yang ANEH !!
+ Les Miserables dan Harga Seorang Manusia
+ Kisah Sekeping Talenta Emas
o ► Juni (6)
o ► April (5)

Mengenai Saya
Foto Saya

Made Teddy Artiana
Latar belakang pendidikan sebagai Sarjana Komputer, sempat bekerja

di BCA 7 thn, sebagai IT Specialist dan tergabung dlm team developer

Internet Banking.
Bersama Team, mengelola the TJAMPUHAN, perusahaan yang punya

spesialisasi dalam company profile development. Client Kalbe Farma,

Grand Indonesia, KIE (Pupuk Kaltim), Dankos..etc
MTA aktif sebagai photographer freelanche [wedding,

product,jurnalism] yang portfolionya dapat dilihat di
Pernikahan Agung GRAJ Nurkamnari Dewi (Putri Sri Sultan

Hamengkubuwono X) >>nurkamnaridewi.multiply.com
--

Tiba-Tiba Tersadar : Terlalu Terlambat !


Tiba-Tiba Tersadar : Terlalu Terlambat !
oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
(company profile developer)

“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start

today and make a new ending.” ~Maria Robinson

Kakekku pernah mengatakan ini padaku.
“Selama kita masih diberi umur dan kesehatan oleh TUHAN, bekerjalah

sekeras mungkin, menabung sebanyak mungkin dan berbuat sebaik-baiknya

untuk diri sendiri dan orang lain. Karena waktu bukan sesuatu yang

tidak terbatas”.

Dan kini, dalam perjalanan meeting ke rumah client kami, aku bertemu

perwujudan nyata dari hal-hal tersebut.

Peristiwa pertama yang kutemui adalah seorang tua, dengan topi dan

kemeja lusuh -yang sudah sangat pantas dijadikan lap kotor- bersandal

jepit kumal keriting, berdiri dipersimpangan jalan. Mengatur lalu

lintas dan berharap belas kasihan uang receh sebagai imbalannya.

Polisi gopek.

Kemudian, seorang tua renta –kali ini jauh lebih tua dari yang pertama

tadi- dengan mata kiri yang cacat, berpakaian tukang parkir berjalan

mendekat kearah mobil ku. Sebenarnya, sedari tadi orang ini sudah

menarik perhatianku. Betapa tidak, dalam usia seperti itu bekerja

sebagai tukang parkir. Setiap hari berkeliaran dipinggir jalan aspal,

dibawah terik matahari membakar, berselimut debu dan asap dari mulut

knalpot seantero kendaraan di Jakarta. Mungkin karena sudah terbiasa,

ia tidak terlalu peduli dengan keadaannya itu. Tetapi bagi ku pribadi

ini adalah pemandangan keadaan dibawah standard kemanusiawian. Orang

tua seperti dirinya seharusnya sudah beristirahat dirumah bersama anak

cucu tercinta. “Ya ampun, biar Pak, nggak usah…”, kataku sambil

bergegas setengah berlari kearahnya. Orang tua itu menggenggam handle

pintu mobil, dan berniat membukakannya bagiku. Aku menyentuh tangan-

tangan keriput berdebu dengan hiasan urat-urat kasar disekelilingnya.

“Pak, anak atau cucu bapak dimana ?”, tanyaku tak sabar lagi.

Ia tersenyum ramah lalu menunduk. Sesaat terdiam, sementara aku tetap

menunggu jawabannya tak mau beranjak. Akhirnya wajah itu terangkat,

kini matanya diselimuti air, sementara pundak-pundak tua itu tampak

bergetar. Ia menangis. “Ada..”, jawabnya lirih. Sekarang rasa haru

menyelimuti dadaku. Mungkin pertanyaan penasaran dariku membuka

kembali luka dan menjadi terlalu berat untuk dicarikan jawabannya.

“Ya sudah Pak..tak perlu diceritakan”, ujarku selembut mungkin, tak

ingin menyiksanya terlalu lama. Setelah membayar parkir, aku segera

berlalu sambil membisikkan sebuah doa baginya, TUHAN menyertaimu.

Kini setibaku di rumah client kami, pemandangan kontraspun terhampar

didepan mata.

Seorang bapak -pemilik sebuah perusahaan minyak ternama, dengan lima

orang anak, dirumah mereka yang elegan, tak lupa seorang sopir,

pengawal dan mobil mewah yang siap mengantar kemanapun ia akan pergi-

tengah membagi-bagikan uang lima puluh ribuan kepada cucu-cucunya,

berjumlah tujuh orang dan beberapa lembar seratusribuan kepada

beberapa orang keponakan beliau. Ada dua cucu beliau, mungkin karena

masih kecil untuk mengerti angka limapuluh ribu, tidak terlalu

menggubris pemberian eyang mereka, meletakkan dengan sembarang uang

itu, lalu asyik berkejar-kejaran dengan cucu yang lain.

“Biasa Mas Made, mereka belum ngerti uang, biasanya sih saya

memberikan hadiah kecil buat mereka. Tapi tadi saya lupa, biar bapak

ibunya aja yang beliin buat dia”, ujar beliau sambil tersenyum.

Jelas laki-laki ini begitu terhormat dan berada dalam status sosial

dan kualitas hidup beratus-ratus tingkat diatas kedua lelaki yang

kuceritakan sebelumnya diatas.

Apakah hidup melakukan sebuah kekeliruan ? Apakah TUHAN yang salah

menempatkan sebuah kemuliaan ? Ataukah kita –para manusia ini- yang

tidak tahu menghormati betapa mulianya diri kita, dan betapa

berharganya hidup ini ?

Kesaksian orang-orang mulia, bijak dan kaya menunjukkan tidak adanya

kesalahan dalam hal-hal tersebut. Bahwa hidup sudah diprogram

sedemikian rupa untuk hanya memberikan kemuliaan hanya kepada mereka

yang hidup didalamnya. Bahwa hidup hanya akan merekam lalu

mengembalikan apa saja yang kita berikan kepadanya. Bahwa TUHAN dengan

segala keagungan dan keadilannya selalu saja mengganjari setiap orang

menurut kesucian tangan dan hidup mereka. Dan bahwa manusia itu sedari

awal adalah berharga dan mulia dimata-NYA. Kita terlalu dicintai-NYA.

Hanya saja banyak diantara kita dulu merasa terlalu perlu menghormati

diri dan hidup ini, mungkin karena merasa terlalu muda, terlalu

tampan, terlalu sexy, terlalu exist, terlalu asyik dengan hal-hal yang

tidak memuliakan diri kita, lalu kemudian tiba-tiba tersadar disuatu

pagi, dan menemukan segalanya sudah terlambat. Terlalu terikat

kebiasaan buruk, terlalu berpenyakit untuk menikmati hidup, terlalu

miskin untuk memberi, terlalu banyak masalah untuk sekedar bernafas,

terlalu tua, terlalu lemah, terlalu terlambat.

Sungguh setiap orang jika diletakkan dalam jajaran waktu adalah

merugi.

Memang benar ada peribahasa : manusia berencana, TUHAN menentukan.

Namun ada benarnya juga jika kita sadar, bahwa rencana-rencana mulia

TUHAN tidak akan terwujud pada hidup kita, jika kita menolak

menjalankan rencana-rencana-NYA. Karena TUHAN bukan lah diktator, yang

kemudian merebut paksa “kebebasan bersikap” yang IA berikan pada kita.

Seandainya saja kita menuruti-NYA. Ya, seandainya saja kita menurut.

(***)
Diposkan oleh Semar Badranaya di 18:17 0 komentar Link ke posting ini
Minggu, 14 Maret 2010
Oneng, Jangan Kau Curi Kambing Emaaak.!!!
oleh : Made Teddy Artiana, S. Kom
(fotografer & penulis)


“The best way to predict the future is to create it”.
Peter F. Drucker


Kisah yang akan kututurkan ini adalah kisah nyata. Kisah nyata yang

cukup memilukan dan mungkin belum berakhir sampai sekarang. Meskipun

yang menceritakan sudah tidak bekerja lagi padaku, namun kisah ini

akan selalu kuingat sampai kapanpun.

Kadang aku berpikir bahwa inilah luar biasanya kehidupan itu.

Seringkali seperti halnya malaikat yang berada di sekeliling kita,

tidak selalu menampakkan diri dalam rupa yang berkilauan, begitu pula

dengan berkat, rejeki atau apapun namanya, seringkali datang menjumpai

kita tidak dalam wujud uang, harta dan kesuksesan. Kadang ia menyamar

dalam bentuk kesehatan, persahabatan teman-teman, pelukan hangat istri

dan anak-anak kita, atraksi lucu hewan peliharaan dan tanaman

kesayangan yang berbunga, atau bahkan dalam wujud yang ekstrim seperti

sakit-penyakit, kesedihan, kegagalan sementara, kebangkrutan, bahkan

pengalaman pahit milik orang lain.

Keharmonisan kita dengan hidup ini dan keyakinan kita akan cinta

TUHAN-lah yang kemudian memegang peranan penting, sejauh mana semua

itu dapat ditransformasikan ke dalam bentuk kebaikan, karena memang

segala sesuatu yang terjadi disekitar kita berlaku dengan satu maksud,

yakni membaikkan diri kita.

Adalah seorang wanita tua renta bernama Isah (bukan nama sebenarnya).

Diumurnya yang hampir memasuki tujuh puluh tahun, ia masih harus

bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Rambutnya sudah menipis, dan yang tersisa itupun sudah tidak berwarna

hitam lagi. Keriput tidak dapat disembunyikan lagi pada kulit wajah

dan tangannya. Apalagi bau badannya…bau khas nenek-nenek !

Pertemuan kami, pertama kali dengan nya, sempat memunculkan rasa

simpati dan iba yang mendalam. Sejujurnya, tidak sampai hati kami

untuk mempekerjakan Bi Isah –seharusnya kami memanggilnya dengan Nek

Isah- sebagai pembantu rumah tangga, tetapi apa boleh buat, ia sangat

mendesak kami untuk menerimanya bekerja. Bahkan bagaimana ia

memohonpun masih teringat jelas dibenakku. Bergetar parau, sambil

menahan tangis. Seolah ada kesesakan yang begitu besar dalam dadanya.

Bagaimana mungkin kami sanggup menolak permintaan yang demikian itu ?

Permintaan dari seorang nenek tua, untuk bekerja sebagai pembantu

dirumah kami.

Apakah ia tidak memiliki anak dan cucu untuk merawatnya ? Tidak, Bi

Isah tidak sebatang kara. Tetapi hidup –tanpa sebuah pilihan yang

lain- memposisikan ia sama seperti orang yang sebatang kara di dunia

ini.

Belakangan Bi Isah baru bercerita tentang anaknya, sebut saja Oneng.

Seorang anak yang dilahirkannya dari benih seorang lelaki yang sangat

ia benci. Laki-laki itu menipu Bi Isah, sehingga ia bersedia menikah

dengannya. Dan ketika ia sedang hamil, sekonyong-konyong datanglah

seorang perempuan mencaci-makinya, menuduh Bi Isah merebut suami

orang. Seisi kampungpun gempar, orang tua Bi Isah merasa terhina,

parahnya mereka semua melemparkan kesalahan itu padanya. Sementara Si

Lelaki Hidup Belang- Wajah Bopeng ini akhirnya meninggalkan Bi Isah

begitu saja (sekali lagi : begitu saja) seolah-olah tidak terjadi apa

-apa, persis seperti seseorang yang tiba-tiba saja terbangun, karena

ketiduran di pinggir jalan, lalu bangkit, berjalan pulang melenggang

dan meneruskan tidur dikasurnya di rumah.

Dalam kebencian Oneng dikandung. Dalam kebencian juga akhirnya Oneng

dilahirkan.

Merasa belum sanggup melupakan segala dendam dan sakit hati, Bi Isah

lalu menitipkan anaknya ini kepada ibu kandungnya sendiri, walaupun

berjanji tetap akan bertanggung jawab menafkahi Oneng. Ia pun

berangkat dan bekerja berganti-ganti tempat dan majikan, di Jakarta,

Makasar, Bogor dan beberapa daerah yang lain.

Singkat cerita Si Oneng –tepat dihari pernikahannya- mengetahui asal-

usulnya. Ia terguncang. Bom waktu itupun meledak sudah. Bi Isah yang

berharap itu menjadi pertemuan yang mengharukanpun harus kecewa.

Ternyata Oneng bereaksi tidak seperti yang diharapkannya.

Selanjutnya perjalanan hidup Oneng merupakan kisah memilukan dan

memalukan bagi kaum ibu diseluruh dunia. Kawin cerai, menyisakan anak

dimana-mana. Pemuda ugal-ugalan yang tidak pernah mau bekerja

menafkahi anak dan istrinya sungguh-sungguh. Jangankan bakti kepada Bi

Isah, Oneng melakukan persis kebalikan dari semua perlakuan yang

seharusnya dilakukan seorang anak pada ibunya. Ia menelantarkan Bi

Isah, meminta uang dengan kasar, memeras, mencuri tabungan ibunya,

bahkan puncaknya ia merencakan untuk mencuri dan menjual kambing

aqeqah –yang dibeli dari hasil kerja keras ibunya bertahun-tahun

sebagai pembantu.

Bi Isah yang mengetahui rencana Oneng, akhirnya menitipkan dua ekor

kambingnya itu kepada family jauhnya. Namun Oneng tidak menyerah, bak

detektif kelas wahid ia terus memburu, mencari tahu dimana kambing-

kambing itu berada. Niat durhaka Oneng ini membuat Bi Isah dipenuhi

perasaan cemas setiap hari, tak jarang matanya terlihat bengkak karena

menangis. Malam-malam dilalui dengan susah tidur, memikirkan tingkah

laku anak kandungnya itu.

Kami iba, namun tidak sanggup berbuat apa-apa. Sekali lagi, sepertinya

hidup memang memaksa Bi Isah untuk berhadapan seorang diri dengan

anaknya.

Entah bagaimana ujung kisah itu berakhir, yang jelas dalam sebuah

kesempatan Bi Isah menasehatiku dengan mata berkaca-kaca.

“Aden (begitu ia memanggilku)...mumpung Aden masih muda dan masih

banyak kesempatan, Aden harus berhati-hati melangkah dalam hidup.

Karena apapun yang kita buat, apa itu kebaikan atau keburukan, akan

kembali lagi ke kita, Den. Tidak ada tempat untuk sembunyi. Bener-

bener tidak ada tempat…untuk sembunyi”.

Hanya dua tahun Bi Isah bekerja pada kami. Tetapi kenangan dan

pelajaran hidup yang ia tinggalkan sangat dalam terpatri dihati ini.

Pelajaran bahwa hidup ini adalah sebuah investasi, namun tidak seperti

investasi saham, surat berharga dan reksadana, yang mana tidak dapat

kita ketahui hasilnya dengan pasti, namun hidup memiliki HAKIM, yang

menjamin bahwa hasil investasi seseorang akan kembali kepada orang itu

sendiri.

Ini tentu kabar baik untuk mereka yang sudah menginvestasikan hal-hal

baik dalam hidupnya, sekaligus kabar buruk untuk mereka yang

menginvestasikan yang sebaliknya.

(***)
Diposkan oleh Semar Badranaya di 12:00 0 komentar Link ke posting ini
Kamis, 11 Maret 2010
We Love You, Bunga Cintra Lestari !!
oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
-company profile developer-


Jika ada yang bilang ku lupa kau
Jangan kau dengar
Jika ada yang bilang ku tak setia
Jangan kau dengar
Banyak cinta yang datang mendekat
Ku menolak
Semua itu karena ku cinta kau

Jika ada yang bilang ku tak baik
Jangan kau dengar
Jika ada yang bilang ku berubah
Jangan kau dengar
Banyak cinta yang datang mendekat
Ku menolak
Semua itu karena ku cinta kau

Saat kau ingat aku ku ingat kau
Saat kau rindu aku juga rasa
Ku tahu kau s'lalu ingin denganku
Ku lakukan yang terbaik
Yang bisa ku lakukan
Tuhan yang tahu ku cinta kau


Hampir semua orang tahu potongan syair diatas adalah lagu milik Bunga

Citra Lestari. Coba luangkan waktu mengamati syair-syairnya. Isinya

tentang cinta, godaan, kesetiaan yang sungguh dan TUHAN.

Cinta dan kesetiaan memang tidak dapat dipisahkan dari TUHAN.

Sekarang bandingkan dengan syair-syair perselingkuhan yang laku keras

akhir-akhir ini. Lagu-lagu yang memandang remeh terhadap kesetiaan,

cinta dan sekaligus memandang remeh terhadap TUHAN sumber segala

sumber cinta.

(para alim ulama dan tokoh agama berkata : “para artis dan pencipta

lagu-lagu jenis ini suatu saat-cepat atau lambat- akan berurusan

dengan DIA dan merasakan betapa uang yang mereka dapatkan dari semua

itu tidak akan mampu menghibur, mengobati dan mendatangkan damai

sejahtera bagi mereka. As long as lagu-lagu perselingkuhan milik

mereka bergema dan mempengaruhi orang, selama itu pula laknat itu akan

terkirim, bahkan sampai ke liang lahat !!”)

Jika demikian lagu milik BCL itu laksana kolam renang di tengah padang

pasir, emas diantara kotoran sapi yang menggunung atau burung

cendrawasih dianata kumpulan burung bangkai.

Memang lagu tidak dapat dijadikan satu-satunya penyebab terjadinya

segala kekacauan akibat perselingkuhan ini. Semuanya berpulang pada

pribadi masing-masing. Tetapi lagu-lagu, film, TV, radio dan

sebagainya memegang peranan luarbiasa dalam menformat bawah sadar

seseorang.

Tidak percaya ? Silakan buktikan sendiri.
Selama satu minggu kedepan, berhenti mendengarkan lagu-lagu bertema

perselingkuhan (atau segala sesuatu yang tidak membangun) lalu

gantikan dengan sesuatu yang memotivasi.

Bahkan tak jarang lagu-lagu perselingkuhan menjadi semacam theme song

bagi seseorang yang sedang menjalaninya, sehingga mereka seolah-olah

merasa sedang beradegan disebuah video klip.

Memang kadang akibatnya bisa jadi tidak langsung terasa, tetapi lagu-

lagu yang “nakal” (aku lebih suka menyebutnya : jahat) dapat

dianalogikan seperti seseorang yang sedikit demi sedikit sedang

membangun tembok pembatas dan tersadar setelah tembok itu terlalu

tinggi untuk diloncati, terlalu kuat untuk dirubuhkan, terlalu perkasa

untuk dikalahkan.

Siapakah yang dapat membawa bara api dalam bajunya dan tidak terbakar

karenanya ?

Demikian pula perselingkuhan. Dunia terlanjur mempromosikan “racun

tikus” ini sebagai vitamin yang menawarkan petualangan, kesegaran dan

kenikmatan. Aman dan harus dicoba. Padahal perselingkuhan hanya akan

membawa sebuah luka bathin yang susah disembuhkan, kehancuran dan

ketidakharmonisan dengan hidup dan Sang Pencipta.

Bagaimana kira-kira nasib bangsa ini jika orang-orangnya tidak

memandang hormat terhadap cinta, kesetiaan dan pernikahan ? Padahal

manusia dibentuk pertama kali dan terutama didalam keluarga mereka ?

Sementara orang-orang tua –kehilangan hikmat- menanggapi itu hanya

dengan tersenyum tipis : “Dasar anak muda jaman sekarang”. Atau malah

menjadi tauladan bejat dengan berselingkuh bak anak muda.

Bagaimana jika korban perselingkuhan adalah ibu kandung kita ? atau

ayah kandung kita ? Apakah nikmat rasanya jika anak, adik, kakak kita

terluka karenanya ? Atau jika kita korbannya adalah kita sendiri ?

Jika demikian mengapa kita seringkali memposisikan diri sebagai sales

marketing perselingkuhan ?

Client kami, seorang mantan pengusaha ternama (dan anak pengusaha

ternama pula) yang kemudian bangkrut, karena ulah sang ayah yang

berselingkuh dengan artis, nyata-nyata menjadi korban tragis semua

itu. Bahkan dihari pernikahannya, dengan mata basah oleh air mata dan

wajah memendam luka, ia dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan sang

ayah masih bermesraan dengan selingkuhannya, didepan istri dan semua

undangan pernikahan.

Padahal bukti terbesar cinta kita pada anak-anak kita, adalah

mencintai ayah/ibu mereka –atau pasangan kita- dengan tulus dan setia.

Harta, kesuksesan, jabatan hanya nomer sekian yang menyenangkan namun

belum tentu membahagiakan.

Belum lagi seorang client kami yang lain, nyaris bunuh diri karena dua

minggu sebelum acara pernikahannya berlangsung (semuanya telah

disiapkan, bahkan undangan sudah tersebar). Calon istrinya membatalkan

seluruh rencana pernikahan dan kabur dengan selingkuhannya.

Padahal bakti terbesar kita pada kedua orang tua kita adalah menjadi

manusia berakhlak mulia, yang bisa mereka banggakan dihadapan TUHAN

kelak. Karena tidak satupun bentuk kesuksesan, harta, jabatan yang

terlalu hebat dan dapat dibanggakan waktu itu.

Belum lagi curhat via email seorang ibu dengan dua anak, yang begitu

menderita bathin karena terpaksa beradegan palsu setiap hari, dengan

berpura-pura tidak mengetahui perselingkuhan suami, demi keutuhan

rumah tangga dan anak-anak tercinta.

Ada pula seorang pengusaha warung tenda yang sukses yang akhirnya

bangkrut lontang-lantung ditinggal istri karena berselingkuh dengan

wanita lain dan kini terpaksa jadi sopir angkot.

“Saya kualat sama istri saya Mas”, katanya disuatu kesempatan padaku

sambil menangis tersedu-sedu penuh penyesalan,”tapi sekarang sudah

terlambat Mas, sudah terlanjur hancur-hancuran. Sudah kering kali air

mata ini Mas minta ampun”.

Daftar ini jika dipanjangkan besar kemungkinan akan jadi sebuah buku

setebal ratusan halaman.

Seorang sahabat pernah mengingatkan, “Perselingkuhan atas nama apapun

adalah sebuah bentuk penghinaan terhadap keberadaan TUHAN.”

Seorang Ustadz yang sangat terkenal, dalam sebuah kutbah nikah tak

bosan-bosan mengingatkan, bahwa suami yang sukses dan mulia adalah

suami yang mencintai, setia dan memuliakan istrinya.

Akhir kata :

“TUHAN yang tahu, ku cinta kau”

BCL, semoga dirimu dan Ashraf berbahagia selalu dan entah apakah ada

upaya pemakzulan presiden atau tidak, yang jelas…LANJUTKAN !!!

(we love you BCL)

-
Rest in Reason, MOVE IN PASSION !!!
Rest in Reason, MOVE IN PASSION !!!
oleh : Made Teddy Artiana, S. Kom
(photographer & company profile developer)


Peristiwa ini terjadi di hiruk pikuk nya perayaan 17 Agustus “ala

Kalimalang” berlangsung. Kejadian yang sangat unik. Walaupun banyak

orang yang berdiri disana sebagai penonton, tetapi aku berani bertaruh

bahwa hanya sedikit dari mereka yang ngeh akan sesuatu yang tersirat

didalamnya. Itulah untungnya jadi fotografer. Seorang fotografer

biasanya sudah terlatih untuk mengamati detail sesuatu yang unik,

dengan pengamatan yang berada diatas rata-rata orang normal. Ehm ....

(maksudnya, fotografer-fotografer itu pada nggak normal semua !!!???).

Adegannya pasti sudah sangat akrab dimata Anda. Pemerannya : coklatnya

air Kalimalang, kemudian sekumpulan bocah-bocah bertelanjang dada,

sebatang pohon pinang yang licin –karena sudah diserut dan dilumuri

oli, lalu penonton dan yang terakhir –yang paling penting- adalah

hadiah (bisa berupa benda-benda, ataupun he..he..he..amplop).

Nah aturannya sederhana : barangsiapa yang berhasil menaklukan

kelicinan pinang itu dan berhasil mencapai ujung, ia berhak atas

hadiah. Itu jika berhasil, kalau gagal ? Resikonya beragam, tercebur

di Sungai Kalimalang dan meminum airnya –yang lezat- atau benjut,

kejedot batang pinang. So simple !

Walaupun terlihat simple bagi penonton, tetapi sangat tidak mudah bagi

bocah-bocah itu. Sudah lima belas menit berlangsung, tidak satupun

dari mereka jangankan untuk sampai diujungnya, setengah dari pangkal

pinang itu saja, belum ada satupun dari mereka yang berhasil

menapakinya.

Adegan terpeleset, nyebur, kejedot sudah terjadi seluruhnya, bahkan

sudah sempat berulang untuk yang kesekian kali. Keadaan mulai

membosankan. Para penonton yang semula tertawa terbahak-bahak, kini

mulai “hanya” tersenyum sungging, bahkan diantara mereka sudah banyak

yang sibuk ngobrol sendiri-sendiri dan hanya menoleh sesekali ke

arena. Bahkan beberapa ibu-ibu mulai memunculkan raut wajah yang

“mengasihani” bocah-bocah itu. Sudah pada begeng, gak pake baju, basah

kuyub, bibir membiru dan menggigil pula !!

Hingga seseorang menyeruak muncul dikerumunan. Sosok yang menarik

perhatian. Berbadan gempal, berkumis tebal, berwajah seram dengan

mengenakan topi bertulis “FBR”. Ia berjongkok dan memanggil bocah-

bocah malang itu. Bagaikan domba-domba yang baru saja dicukur dimusim

dingin, dengan gemetar mereka mendekati Bang Jampang. Diwajah Si Abang

kental tersirat ketidaksabaran. Nampaknya ia sudah sedari tadi

mengamati pertujukan gagal ini.

“Hoiiiiii…yang elu pelototin itu no…AMPLOPNYEE !!!”, teriaknya

lantang,” bukan pinangnye !! Kallo pinangnye yang elu pelototin, sampe

jadi pocong juga kagak ada yang bisa nyampe !!!!”

Kata-kata yang tidak akan bisa kulupakan seumur hidup.

Kata-kata itu muncul bak mantra sakti mandraguna terlebih ketika dalam

perjalanan hidup meraih impian dan cita-cita, sesuatu dengan label

“kesulitan” atau “ketakutan” atau “tidak mungkin” bagai drakula,

menghadang ditengah jalan sambil menunjukkan taringnya.

Ketika mantra si Bang Jampang itu terngiang, aku sengaja mengulanginya

beberapa kali secara verbal.

“Yang elu pelototin itu…AMPLOPNYEE !!! bukan pinangnye !!”

Lalu segera membayangkan diriku berdiri sebagai salah satu bocah

Kalimalang dalam pertandingan pinang 17-an itu (yang paling ganteng

tentunya). Pikiranku segera kufokus kan pada tujuanku. Sesuatu yang

mewakili passion yang tertinggi. Tanpa mau ditakut-takuti berlebihan

dengan pinang berlumuran oli, coklatnya air Kalimalang bahkan cemoohan

para penonton !

So far….ajian ini selalu menunjukkan kesaktiannya. Sengat ketakutan

itu lenyap – meskipun kesulitan tetap ada- namun akhirnya aku berhasil

meraih “impianku”.(eh tapi nggak selalu amplop lho..!!! he..he..he…)

Dan aku rasa mantra yang sama berlaku bagi siapapun dibidang apapun

mereka berkarya.

Belakangan sebuah tulisan dari seorang penyair luar biasa pun sedikit

banyak menguatkan hal itu. On Reason and Passion karya Kahlil Gibran.


”…
Among the hills, when you sit in the cool shade of the white poplars,

sharing the peace and serenity of distant fields and meadows -- then

let your heart say in silence, "God rests in reason."

And when the storm comes, and the mighty wind shakes the forest, and

thunder and lightning proclaim the majesty of the sky -- then let your

heart say in awe, "God moves in passion.
"
And since you are a breath in God's sphere, and a leaf in God's

forest, you too should rest in reason and move in passion.”

Oh iya hampir lupa !!!

Sedikit melanjutkan cerita 17-an diatas. Akhirnya tidak sampai 10

menit, amplop-amplop diujung pinang itu habis ludes tanpa sisa disikat

bocah-bocah Kalimalang yang sebelumnya “nyaris” pulang sakit hati dan

merana gigit jari jempol kaki .

(eh…foto-fotonya juga kusertakan di attachment lho…!! )



*** Seandainya saja kita mengetahui betapa luar biasanya kita

diciptakan dan betapa diri kita dicintai-NYA, maka hati ini akan

berpesta-pora setiap saat ***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 19:33 0 komentar Link ke posting ini
Minggu, 17 Januari 2010
The “Hidden Message & True Power” of Water
ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
(mail : teddyartiana_photography@yahoo.com)



“Jangan ngomong jorok didepan sumur..mur..mur..mur !!”

Kira-kira itu perintah ‘aneh’ yang kami terima begitu saja –walau

tanpa penjelasan yang kami anggap memadai, dan tanpa echo tentunya-

pada saat kecil dulu.

Paling banter, alasan yang diberikan dari mereka orang-orang tua saat

itu adalah : air sumur itukan untuk diminum, jadi harus ndak boleh

sembarangan. (titik ! siapapun yang nekad mbalelo bertanya-tanya,

pasti akan merasakan akibatnya)

Dengan sama sekali tidak bermaksud untuk musryik, mungkin senada

dengan semua itu, seorang yang sakit berangsur pulih, ketika diberi

minuman yang telah didoakan (bahasa dukunnya : dijampi-jampi). Inipun

tidak mendapat penjelasan apa-apa, selain : yang mendoakan itu sakti

!!

Tiga puluh tahun berlalu, hingga dua buah buku karangan Dr. Masaru

Emoto berada digenggaman. “The Hidden Message from Water” dan “The

True Power of Water” (sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia)

dua buku yang mengungkapkan fakta ilmiah yang luar biasa dari air.

Dalam buku itu Dr. Masaru Emoto menemukan bahwa air dapat menyimpan

segala bentuk pengaruh emosi yang diberikan oleh lingkungannya. Baik

secara sengaja ataupun tidak sengaja. Caranya pun beragam, lewat kata

-kata, perasaan bahkan tulisan ! Dan ini semua dapat dibuktikan oleh

siapa saja lewat analisa molekul dengan cara Water Crystal

Photography.

Maksudnya begini, segelas air yang didoakan, ketika dicek molekul-

molekulnya akan berbentuk persegi enam atau lima dengan sebentuk

bunga-bunga kristal yang sangat indah, namun air yang sengaja dikata-

katai dengan sesuatu yang buruk, akan menampakkan bentuk molekul yang

mengerikan. Hal yang sama berlaku untuk pengaruh yang terjadi pada air

dalam gelas yang diberi tulisan “Thank’s” jika dibandingkan dengan

yang diberikan tulisan “Fool !!”. Bahkan dalam bukunya Sang Penemu

juga membandingkan molekul air yang ada di sebuah bendungan di Jepang

pada saat sebelum didoakan (dengan agama Shinto tentunya) dengan air

yang sama, setelah penduduk mendoakan bendungan tersebut. Bahkan juga

ketika segelas air dari sumber yang sama, diberi tulisan “Mother

Theresa” dan “Adolf Hitler” perbedaan yang sangat jelas pada

molekulnya terjadi. Sungguh menakjubkan !!

Singkat cerita, lewat penyelidikan ini ditemukanlah fakta ilmiah bahwa

air (dengan muatan energi positif) sangat amat dapat menyembuhkan

berbagai jenis penyakit. Untuk yang satu ini orang Indonesia jagonya.

Dari sekedar meminum hingga disembur secara sukarela.

Menariknya semua penyelidikan ini kemudian mengarah kepada tubuh

manusia sendiri, yaitu fakta dimana otak, darah dan lain sebagainya

yang katanya sebesar 70%-80% terdiri dari air.

(dengan persentase beragam, tergantung apakah Anda doyan minum, habis

berenang, habis tenggelam atau bahkan terpaksa hanya meminum air

karena tidak kebagian makanan )

Itu berarti bahwa otak kita (dan tubuh kita tentunya) sangat

dipengaruhi oleh kata-kata, emosi, label baik itu positif atau

negatif.

Berkaca dengan itu semua berarti mulai saat ini kita harus berhati-

hati menempatkan diri kita dalam sebuah lingkungan dan memasukkan

segala sesuatu kedalam diri ini (lewat telinga, mata dan pikiran)

karena semuanya itu secara ilmiah menentukan indahnya molekul-molekul

dalam tubuh ini, yang berarti juga menentukan derajat kesehatan kita,

yang tentunya juga sangat berbanding lurus dengan inner beauty yang

terpancar, sekaligus tingkat kemuliaan dan kesuksesan kita dalam

kehidupan.

Doa-doa, pikiran positif, iman, kesucian, kata-kata yang membangun,

bacaan yang bermanfaat, nasehat-nasehat yang positif dan cara marah

yang wajar tentu akan membuat diri kita begitu indah, bagaikan molekul

air yang terdapat di air Zam-Zam.

Lalu bandingkan jika pikiran kita dijejali
Kekuatiran dan ketakutan,
pornography,
film-film klenik (pocong, kuntilanak dan semua family mereka),
lagu-lagu perselingkuhan (bahkan mereka yang menciptakan dan

menyanyikannya sudah mendapatkan “upah” mereka sendiri-sendiri),
sinetron-sinetron sinting yang ceritanya tidak jauh dari

(pengkhianatan, tamparan, rencana jahat dan amnesia),
acara-acara gossip (yang memamerkan kawin cerai)….dan lain sebagainya

kemudian dalam proses yang sangat pasti dan sangat ilmiah, molekul-

molekul dalam diri ini akan berubah mengerikan, lalu RASAKAN SENDIRI

AKIBATNYA!!!

*** Seandainya saja kita mengetahui betapa hebatnya kita dan betapa

kita dicintai-NYA, maka hati kita akan berpesta pora setiap saat ***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 19:14 2 komentar Link ke posting ini
Senin, 11 Januari 2010
Gara-gara Jamil Azzaini !!
ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
(fotografer yang hobby nulis)


Suatu ketika berada dalam perjalanan menuju kalbe farma untuk

serangkaian acara pemotretan company profile, aku dihubungi seseorang

lewat hp. Setelah beberapa lama berbincang-bincang ngalor-ngidul

akhirnya lelaki itu menutup pembicaraan dengan sebuah sms : “Makanya

Mas Made, jangan motret melulu, bakat nulisnya juga harus dilatih

setiap hari he..he..he..”

Masih jelas teringat reaksi ku ketika itu : kening berkerut, bahkan

kallo boleh jujur-walau agak sedikit malu mengakuinya- bibirku juga

menyunggingkan senyuman rada nyinyir.

Kallo fotografer nggak motret melulu, terus gimana dong boss, kataku

dalam hati.
Bagi trainer senior seperti dia mah gampang nulis..nah aku fotografer

??

Orang yang kumaksud “dia” adalah Jamil Azzaini, trainer dengan

segudang prestasi yang sumbangsihnya bagi pengembangan manusia

Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Tak terhitung jumlah tulisan

beliau yang tersebar diberbagai media. Untuk urusan motivasi dan

inspirasi, dia guruku. Tetapi untuk soal tulis menulis, Maaf Kapten,

kali ini Anda keliru besar. Aku tidak beminat !

Sms itu memang tidak segera kuhapus. Tapi semuanya –waktu itu- mudah

kulupakan begitu saja.

Beberapa minggu berlalu sejak kejadian itu, hingga nyaris dua bulan.

Disuatu malam yang aneh, tiba-tiba saja mata ini terjaga dari

pejamnya. Kantuk menguap begitu saja tanpa menyisakan alasan untuk

melanjutkan tidur. Entah dari mana juntrungannya kata-kata di-sms itu

tiba-tiba saja terngiang ditelinga. Anehnya sms itu melahirkan reaksi

senyuman yang berbeda dari sebelumnya.

Mengapa dia memakai kata “bakat” ? Mengapa bukan skill atau

ketrampilan ? Apa memang aku punya bakat untuk menulis. Ahhh….nggak

dicoba, toh menulis gak seseram yang orang bayangkan.

Akupun bangun, dan bergegas meninggalkan kasur dan istri yang

teronggok diatasnya. Lalu mulai meraih pena dan tinta, kemudian

bersiap menari-narikannya diatas helaian kertas. Waallllaaahhh..ini

mah jaman dulu….nggak pake !

Laptop yang juga sudah pulas tertidur itu kubangunkan kembali. Dan

mulailah jari-jariku menari diatas keyboard.

Mengalir polos. Bebas. Lepas dari segala tuntutan pakem yang

diisyaratkan orang-orang pandai.
Malam itu terciptalah sebuah tulisan berjudul : A Friend for Live
Tanpa menimbang rasa apapun dan siapapun, tulisan itu segera kupload

kebeberapa milist lalu kutinggal tidur.

Paginya….
Inbox ku dipenuhi oleh beberapa email dari mereka yang membaca dan

mengapresiasi tulisan itu. Aku lupa jumlahnya…yang jelas cukup banyak.

Tiba-tiba ada perasaan indah tak terlukiskan meliputi aku. Suatu

bentuk kepuasan bathin yang sulit untuk dideskripsikan, dan ini jelas

-jelas membuat aku ketagihan.

Tidak sampai dua hari, aku menulis lagi dan lagi-lagi mengupload

tulisanku untuk kedua kalinya. Dasar Padang Geblek !!!
Tulisan itu mendapat reaksi menghebohkan yang sangat tidak kusangka-

sangka. Isi nya pun beragam, dari mereka yang menanggapi hingga yang

meminta ijin untuk meletakkan tulisan itu di blog mereka. Mayoritas

dari saudara-saudara kita yang berdarah Minang 

Lagi-lagi sebuah bentuk “orgasme” bathin aku alami.

Hal itupun berulang : kali ini aku menulis sebuah cerita jenaka,

berlatar belakang SMA dulu. Tulisan ini sangat lucu –bagiku- entah

berhasil menghibur orang lain atau tidak aku sendiri tidak tahu.

Panggil Saya Ibu Gajah Mada. Sampai ketika aku mengupload tulisan

“gila” itu, dan ternyata ia mampu membuat orang-orang ngakak..minimal

tersenyum.

Dan aku terus mengasahnya. Otodidak.

Kapan Terakhir Anda Pergi ke Kuburan ?
Dari email yang kuperoleh tulisan ini membuat beberapa pembacanya

“nyebut-nyebut” karena berhasil membuat mereka ingat (walau hanya

sesaat) akan arti hidup dan kematian.

Berlanjut ke Thanks Papa Kau Sudah Berbuat Begitu Banyak, yang kutulis

dengan berlinangan air mata. Inipun membuat inbox email ku dipenuhi

silaturahmi dari berbagai email hingga yang berasal dari luar negri.

Seorang pemilik lembaga training pun meminta ijin menggunakan tulisan

itu untuk menginspirasi para peserta seminarnya waktu itu.

Lucunya…tidak jarang aku menerima telepon lewat HP dari orang-orang di

berbagai penjuru tanah air yang sekedar ingin berkenalan…(GeEr nih)..

Hingga sebuah episode penting terjadi. Penerbit Erlangga

menyelenggarakan lomba menulis KISAH 2009 Cinta Tak Lekang Oleh Waktu,

dengan ketua dewan juri Zarah Zetira (penulis novel kawakan). Iseng

aku ikut. Setelah lama berlalu, sejujurnya aku hampir melupakan lomba

itu. Aku menerima telpon dan Erlangga yang menyatakan bahwa tulisan

itu masuk 20 besar finalis. Wah..tak terlukiskan perasaan ku waktu

itu. 20 Besar !!! Terpikir pun tidak !! Tetapi ini belum puncaknya.

Kemudian aku menerima sebuah surat resmi bersegel yang menyatakan aku

mendapat juara ke-2 dari lomba itu dan Penerbit Erlangga resmi meminta

ijin untuk membukukan tulisanku. Edaaaan !!!! Rasanya mau pingsan !!!

http://www.erlangga.co.id/index.php?

option=com_content&task=view&id=517&Itemid=434

Saat itu juga pikiranku melayang kembali kepada saat dimana seorang

Jamil Azzaini mengirimkanku sebuah sms yang ketika itu kuanggap

“nyeleneh”.

Kenyataannya : Dunia fotografi berkaitan erat dan saling menguatkan

dengan dunia tulis-menulis. Yang satu bercerita dengan gambar, yang

lain bercerita dengan kata-kata.

Terimakasih Pak Jamil Azzaini, kalau saja hari itu Anda tidak

mengirimkan sms itu, betapa tidak berwarnana hidupku. Betapa aku tidak

pernah mencicipi luar biasanya “dunia lain” tulis menulis itu. Berbagi

hal-hal mulia sungguh amat sangat menyenangkan. Untuk yang satu inipun

Anda benar Kapten !!!!


http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/2008/08/thanks-papakau-

sudah-berbuat-begitu.html

http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/2008/07/panggil-sayaibu-

gajah-mada.html

http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/2008/06/kapan-terakhir-

anda-pergi-ke-kuburan.html

***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 17:45 3 komentar Link ke posting ini
Rabu, 06 Januari 2010
“Odol” dari Surga
ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
(fotografer yang hobby menulis)


Cerita menggelikan ini kudengar ketika duduk dibangku SMA dulu. Cerita

yang akhirnya tertulis begitu dalam di relung-relung hati. Cerita yang

meskipun naif, namun bermakna sangat dalam.

Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia

lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu

kehabisan odol dipenjara. Malam itu adalah malam terakhir bagi odol

diatas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk

esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan. Istri yang telat

berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para

sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan.

Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu :

tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan

menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal dan iseng muncul.

Bagaimana jika ia meminta odol pada TUHAN ?

Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar

mendapatkan jawaban dari-NYA . Meminta dibukakan jalan keluar dari

setumpuk permasalahanpun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula

dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat

gagah untuk diucapkan. Tetapi meminta odol kepada Sang Pencipta jutaan

bintang gemintang dan ribuan galaksi, tentunya harus dipikirkan

berulang-ulang kali sebelum diutarakan. Sesuatu yang sepele dan

mungkin tidak pada tempatnya. Tetapi apa daya, tidak punya odol untuk

esok hari –entah sampai berapa hari- menjengkelkan hatinya amat

sangat. Amat tidak penting bagi orang lain, tetapi sangat penting bagi

dirinya.

Maka dengan tekad bulat dan hati yang dikuat-kuatkan dari rasa malu,

lelaki itu memutuskan untuk mengucapkan doa yang ia sendiri anggap

gila itu. Ia berdiri ragu-ragu dipojok ruangan sel penjara, dalam

temaram cahaya, sehingga tidak akan ada orang yang mengamati apa yang

ia lakukan. Kemudian dengan cepat, bibirnya berbisik : “TUHAN, Kau

mengetahuinya aku sangat membutuhkan benda itu”. Doa selesai. Wajah

lelaki itu tampak memerah. Terlalu malu bibirnya mengucapkan kata

amin. Dan peristiwa itu berlalu demikian cepat, hingga lebih mirip

dengan seseorang yang berludah ditempat tersembunyi. Tetapi walaupun

demikian ia tidak dapat begitu saja melupakan insiden tersebut. Sore

hari diucapkan, permintaan itu menggelisahkannya hingga malam

menjelang tidur. Akhirnya, lelaki itu –walau dengan bersusah payah-

mampu melupakan doa sekaligus odolnya itu.

Tepat tengah malam, ia terjaga oleh sebuah keributan besar dikamar

selnya.
“Saya tidak bersalah Pak !!!”, teriak seorang lelaki gemuk dengan

buntalan tas besar dipundak, dipaksa petugas masuk kekamarnya,” Demi

TUHAN Pak !!! Saya tidak salah !!! Tolong Pak…Saya jangan dimasukin

kesini Paaaaaaaaak..!!!”
Sejenak ruangan penjara itu gaduh oleh teriakan ketakutan dari ‘tamu

baru’ itu.
“Diam !!”, bentak sang petugas,”Semua orang yang masuk keruangan

penjara selalu meneriakkan hal yang sama !! Jangan harap kami bisa

tertipu !!!!”
“Tapi Pak…Sssa..”

Brrrraaaaang !!!!

Pintu kamar itu pun dikunci dengan kasar. Petugas itu meninggalkan

lelaki gemuk dan buntalan besarnya itu yang masih menangis ketakutan.
Karena iba, lelaki penghuni penjara itupun menghampiri teman barunya.

Menghibur sebisanya dan menenangkan hati lelaki gemuk itu. Akhirnya

tangisan mereda, dan karena lelah dan rasa kantuk mereka berdua pun

kembali tertidur pulas.

Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun karena kaget. Kali

ini karena bunyi tiang besi yang sengaja dibunyikan oleh petugas. Ia

terbangun dan menemukan dirinyanya berada sendirian dalam sel penjara.

Lho mana Si Gemuk, pikirnya. Apa tadi malam aku bemimpi ? Ah masa iya,

mimpi itu begitu nyata ?? Aku yakin ia disini tadi malam.

“Dia bilang itu buat kamu !!”, kata petugas sambil menunjuk ke

buntalan tas dipojok ruangan. Lelaki itu segera menoleh dan segera

menemukan benda yang dimaksudkan oleh petugas. Serta merta ia tahu

bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

“Sekarang dia dimana Pak ?”, tanyanya heran.
“Ooh..dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi…biasa salah tangkap !”,

jawab petugas itu enteng, ”saking senangnya orang itu bilang tas dan

segala isinya itu buat kamu”.
Petugas pun ngeloyor pergi.

Lelaki itu masih ternganga beberapa saat, lalu segera berlari kepojok

ruangan sekedar ingin memeriksa tas yang ditinggalkan Si Gemuk

untuknya.

Tiba-tiba saja lutunya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri.

“Ya..TUHAAANNN !!!!”, laki-laki itu mengerang. Ia tersungkur dipojok

ruangan, dengan tangan gemetar dan wajah basah oleh air mata. Lelaki

itu bersujud disana, dalam kegelapan sambil menangis tersedu-sedu.

Disampingnya tergeletak tas yang tampak terbuka dan beberapa isinya

berhamburan keluar. Dan tampaklah lima kotak odol, sebuah sikat gigi

baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai

pakaian sehari-hari.

Kisah tersebut sungguh-sunguh kisah nyata. Sungguh-sungguh pernah

terjadi. Dan aku mendengarnya langsung dari orang yang mengalami hal

itu. Semoga semua ini dapat menjadi tambahan bekal ketika kita

meneruskan berjalan menempuh kehidupan kita masing-masing. Jadi suatu

ketika, saat kita merasa jalan dihadapan kita seolah terputus.

Sementara harapan seakan menguap diganti deru ketakutan, kebimbangan

dan putus asa.

Pada saat seperti itu ada baiknya kita mengingat sungguh-sungguh

bahkan Odol pun akan dikirimkan oleh Surga bagi siapapun yang

membutuhkannya. Apalagi jika kita meminta sesuatu yang mulia. Sesuatu

yang memuliakan harkat manusia dan IA yang menciptakan mereka.

Seperti kata seorang bijak dalam sebuah buku : “Seandainya saja engkau

mengetahui betapa dirimu dicintai-NYA, hati mu akan berpesta pora

setiap saat”.


*** Abuna, betapa aku bersyukur TUHAN membuat kau pernah mengalami itu

***

--

Kau Dengan Gunung Mu, Aku Dengan Gunung Ku
ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
fotografer, penulis & grafik desainer


“Begitu banyak orang takut akan persaingan. Ini aneh. Karena permulaan

kehadiran kita didunia ini dimulai dalam sebuah proses persaingan.

Mungkin kita dapat belajar dari sebuah proses pembuahan. Sel sperma

yang berjuta-juta itu harus bersaing sedemikian rupa untuk membuahi

satu sel telur. Mereka harus berlomba berenang begitu cepat, berebut

untuk mengawini satu sel telur tersebut. Dan yang kuat, cepat, tangguh

akan keluar sebagai pemenang”

Demikianlah uraian yang berulang kali ku dengar dari salah seorang

ulama yang sangat terkenal, guru sekaligus seseorang yang sangat

kukagumi. Tapi kalau boleh jujur, aku tidak terlalu sependapat

dengannya. Uraian beliau tentang persaingan kuanggap tidak seratus

persen benar.

Mengapa ?

Aku dibesarkan dalam sebuah masyarakat yang memelihara sebuah

persaingan sebagai budaya tak terlepaskan dari kehidupan mereka.

(Siapa sih yang tidak ? Aku rasa kita semua mengalami nasib yang

sama).

Mula-mula di dunia pendidikan. Sebagian besar dari kita

terbiasa/terpaksa belajar dan memperoleh prestasi, seolah-olah seperti

dalam sebuah arena persaingan. Juara satu, dua dan tiga. Ranking

sepuluh besar. Kebiasaan ini diteruskan dalam dunia kerja, baik dunia

profesional maupun bisnis.

Tips dan trick memenangkan kompetisi.
Kiat mengalahkan pesaing.
Cara mengetahui strategi Competitor.
Sebelas langkah untuk segera dipromosikan.
Seratus jurus untuk melampaui karir atasan Anda di kantor.

Kepala ini sudah terlanjur terdoktrin tentang dengan hal-hal seperti

itu sehingga hampir tidak ada lagi yang berani bertanya : apakah semua

ini mutlak benar ? Benarkah segalanya begitu terbatas ? Benarkah hidup

ini tidak menyediakan kecukupan untuk semua orang ? Benarkan TUHAN

yang sangat tidak terbatas itu sedemikian miskin, sehingga kita

‘ditakdirkan’ harus saling sikut, saling rampas, adu cepat, adu licik,

main dukun, sogok sana sini hanya atas nama memenangkan persaingan.

Sementara DIA diatas sana berdiri sebagai wasit –sang pengadu domba-

mengganjari para pemenang dan menertawai pecundang-pecundang malang.

Kontradiksi dengan semuanya itu. Bukankah sedari kecil kita juga telah

sering mendengar pengajaran-pengajaran sebagai berikut :

“Mungkin bukan rejeki kita”
“Sudah menjadi rejeki dia”
“Rejeki itu sudah kita bawa ketika kita lahir”
“Setiap manusia sudah punya rejeki masing-masing”
“Menjemput rejeki”
“Rejeki tidak mungkin tertukar”
“Iri hati kita tidak menambah atau mengurangi rejeki orang lain”

Periksalah seluruh kitab suci di atas muka bumi ini dan temukan sebuah

ayat tentang persaingan. Tentang betapa sedikitnya kemampuan TUHAN

memberikan rejeki pada umat-NYA. Tentang betapa terbatasnya segala

sesuatu. Dari sana kita akan mendapat gambaran yang jauh berbeda

dengan dunia yang didalamnya kita sudha bernafas sejak kecil.

Lalu dari mana doktrin ini berasal ? Apakah pendapat dunia sekuler

telah begitu mencemari kita ?

Kita tahu bahwa ada dua jenis manusia didunia ini. Mereka yang beriman

dan mereka yang berotak. Ini tidak berarti orang-orang beriman tidak

memiliki otak sama sekali dikepala mereka, atau begitu juga sebaliknya

mereka yang berotak sama sekali tidak memiliki iman dihati mereka. Ini

hanya sebuah istilah yang ingin menggambarkan “tentang apa yang

mendominasi kehidupan mereka sehari-hari”.

Bagi mereka yang mengagung-agungkan otak, lebih percaya hanya kepada

apa yang mereka lihat, alami dan pelajari. Namun kaum beriman –yang

seringkali bersandar pada hati- menaruh kepercayaan pada apa yang

tidak kasat mata. Janji TUHAN, pahala, dan lain sebagainya.

Kedua golongan ini saling berinteraksi, saling mempengaruhi satu

dengan lain. Mungkinkah diktat besar mengenai persaingan kemudian

ditandatangani disini, lalu diterima sebagai sebuah kebenaran turun

temurun ?

Kita belajar karena ingin menduduki ranking tertentu atau bahkan lebih

parah dari itu : karena takut tidak lulus dan takut tidak memenuhi

syarat pekerjaan di masyarakat. Hanya segelintir orang yang belajar

karena rasa ingin tahu yang tulus.

Ingin mendapat pendapatan atau jabatan yang lebih tinggi. Bisnis yang

lebih hebat. Uang yang lebih banyak. Lalu mulai bermanuver,

politiking, si-sa-si-ji-sa-si : sikut sana sini, jilat sana-sini.

Apakah pendekatan ‘memberikan yang terbaik dan berkarya sehebat

mungkin’ sudah terlalu kuno dan kurang efektif lagi ?

Bukankah ‘memperbaiki diri’ adalah salah satu takdir yang harus kita

penuhi ? Bahwa orang yang keadaannya sama saja dengan hari kemarin

adalah orang-orang yang merugi dan bahwa orang-orang yang keadaannya

lebih buruk dari kemarin adalah orang-orang terkutuk ? Sama sekali

bukan alasan siapa menang dan siapa kalah. Siapa yang mendapat dan

siapa yang terpaksa menyerahkan.

Lalu untuk apa kita belajar, memperoleh gelar Prof, Dr., SH, S. Kom,

MBA, MSI, TKW, HIV ? Untuk apa seluruh daya upaya, pengorbanan,

keringat, strategi, riset, kreatifitas dan usaha yang telah kita

dikerahkan ?

Untuk menggali tambang emas gunung rejeki kita masing-masing !

Itu juga berarti, sama sekali tidak menjadi masalah jika kita saling

membantu, saling sokong, saling memberi informasi rahasia, saling

menyumbangkan tips dan trik, karena kita tidak sedang berebutan

menggali satu gunung rame-rame, tapi yang kita lakukan adalah menggali

gunung rejeki kita masing-masing, yang sudah ditentukan TUHAN menjadi

bagian kita sejak kita lahir.

Saling jegal ? Buat apa !?
Itu hanya sebuah pemborosan energi yang sudah pasti membuat pekerjaan

menambang emas kita masing-masing jauh lebih lambat dari kecepatan

sebenarnya. Lebih jauh dari itu, hanya merupakan kegiatan yang

mengotori hati nurani dan mengundang hal-hal buruk terjadi pada hidup

kita.

Sedikit banyak ini merupakan kabar baik bagi para pencundang, bahwa

ternyata masih begitu banyak harapan dalam hidup ini. Sebaliknya

merupakan kabar buruk buat mereka-mereka yang selama ini membusungkan

dada, karena merasa telah mengalahkan banyak orang dalam hidupnya.

Bahwa ternyata kemenangan yang mereka raih adalah palsu. Para pemenang

palsu ini berlari kesetanan padahal tidak ada yang mengejar mereka.

Menggali membabi buta, padahal yang mereka gali adalah gunung mereka

sendiri, yang tidak mungkin diganggu gugat oleh siapapun. Oooh poor

fake winner…

Bahkan Sun Tzu dalam strategi perangnya mengatakan secara implisit

bahwa musuh yang sebenarnya ada dalam diri kita. Sehingga seorang

jenderal perang yang ceroboh, akan terbunuh. Penakut, akan tertangkap.

Lekas marah, akan mudah terprovokasi dan mereka yang begitu sensitif

akan kehormatan akan dengan mudah dipermalukan. Bukankah itu semua ada

dalam diri kita ? Dengan kata lain yang membuat kita terbunuh,

tertangkap, marah, dan dipermalukan adalah diri kita sendiri dan sama

sekali bukan orang lain. Jadi pemenang sejati adalah mereka yang

mengalahkan bagian dari diri mereka yang buruk dan sama sekali bukan

mengalahkan orang lain.

Jadi bagaimana membuat persaingan tidak relevan lagi ?

Agak sedikit berbeda dengan pendekatan yang Blue Ocean Strategy

tawarkan (ada baiknya jika kita kembali kepada kebenaran awal, takdir

mula-mula manusia) bahwa : kau berhadapan dengan gunung rejeki mu dan

aku berhadapan dengan gunung rejeki ku.

Otomatis persaingan menjadi sangat tidak relevan lagi.

Apakah perenungan ini valid ? Apakah ini sebuah kebenaran yang

terlupakan atau lamunan iseng keblinger dari orang yang baru hidup

sepertiga abad ? Semuanya kembali kepada diri kita masing-masing

tetapi apapun itu : “Terjadilah sesuai dengan iman mu !!!” atau dalam

bahasa lain “TUHAN adalah seperti prasangka hamba-NYA”.

Oh iya ada sesuatu yang hampir saja terlupakan. Mengenai analogi sel

sperma dan sel telur diatas.

Mungkin ada baiknya jika kita melihat dari sudut pandang berbeda.

Yaitu sudut pandang sel telur. Bahkan satu sel telur tidak perlu

merasa kuatir akan sel sperma untuknya, karena TUHAN telah menyediakan

berjuta-juta sel sperma, yang tanpa diminta berenang dan berusaha

membuahinya.

Pola pandang seperti ini memang cenderung ganjil dan nyeleneh.

Tapi paling lewat pola pandang seperti ini berakibat
hidup menjadi begitu luar biasa,
sesama yang selama ini dipandang sebagai ancaman, berubah menjadi

partner yang menyenangkan,
hati yang semula bergejolak dalam pertempuran yang tidak perlu kini

mengalir teduh dan
TUHAN dimuliakan karena ketidakterbatasan kemampuan BELIAU menyediakan

segala sesuatu untuk semua.

What a wonderfull world !
What an abundance life !!
What an exciting journey !!!

(selesai)
Nb.
Ada profile Made Teddy Artiana di Majalah Human Capital terbaru (edisi

73, April 2010)

--
Memutuskan Rantai Sang Dewi ERIS
oleh Made Teddy Artiana, S. Komp
fotografer, penulis dan orang Bali tentunya

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan

http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/2010/05/melanjutkan-tugas

-sekolah-yang.html


Berawal dari pesta pernikahan Peleus dan Thetis yang dihadiri oleh

seluruh orang terkemuka saat itu, bukan hanya ‘orang’, seluruh dewa

dan dewi penghuni bukit Olympus pun ikut diundang ke pesta tersebut.

Semuanya ? Rupanya tidak.

Eris, Dewi Perselisihan tidak turut diundang. (seharusnya dari

namanya, Dewi yang tidak tahu diri ini mengerti benar mengapa ia tidak

diundang). Sialnya ia tidak terima dan merasa dendam akan diskriminasi

ini. Maka beraksilah Dewi Perselisihan dengan seluruh keahliannya :

membuat perselisihan.

Ia membuat sebentuk apel diatas piringan perak yang kemudian menyamar

menjadi seorang pelayan, untuk meletakkan benda itu diatas meja. “For

the Fairest of them all”, begitu kira-kira tulisan provokatif yang

tercantum disana.

Aphrodite (Dewi Asmara), Athene (Dewi Kebijaksanaan) dan Hera (istri

Zeus, ratu dari segala dewi) yang kebetulan duduk didekat meja itupun

mulai memperebutkan benda tersebut.

Pertengkaran para Dewi tak kunjung berakhir bahkan sastu tahun setelah

pesta pernikahan itu sendiri, sehingga Zeus (Ketua para Dewa-Dewi)

menunjuk Paris, salah seorang pangeran kerajaan Troy, yang sangat

terkenal fashionable, untuk memutuskan mengenai siapa yang berhak

mendapatkan benda ‘gak penting’ tersebut.

(Rupanya sejak dahulu kala, dua wanita yang bertengkar akan selalu

lebih memusingkan daripada sepuluh orang laki-laki yang berkelahi)

Pikir punya pikir, Paris lalu menjatuhkan pilihan kepada Aphrodite,

hanya karena Sang Dewi Asmara menjanjikan akan memberikan wanita

pujaan hati Paris kepadanya, siapapun itu.

Perkara menjadi semakin rumit, ketika wanita idaman yang Paris

maksudkan adalah Ratu Helen, istri Raja Menelaus, Raja Greek (Yunani).

Akhirnya sebagai balas jasa Aphrodite mengguna-gunai Helen sehingga

Paris berhasil menculik dan membawanya ke Troy.

Nah kejadian inilah yang menjadi awal mula perang Greek dan Troy yang

berlangsung bertahun-tahun dan memakan korban ribuan orang yang bahkan

tidak tahu apa penyebab awal pertempuran itu sebenarnya. Tidak hanya

itu, keburukan yang dimulai oleh Eris itu berjalan begitu jauh, hingga

sampai didepan pintu istana Odysseus, belasan tahun kemudian !

(jika Anda ingin tahu detailnya silakan baca uraian dibawah (**)

tentang bagaimana dan kemana saja energi negatif Eris itu menjalar)

Memang ini hanya sebuah karya sastra yang terkemuka yang dicomot dari

bagian cerita Illiad dan Odyssey, legenda tua bangsa Yunani. Namun

begitu buatku pribadi, pesan moral yang terkandung didalamnya sangat

luar biasa.

Kita tidak akan pernah dapat memprediksi akibat dari sebuah

‘keburukan’. Entah itu perselisihan, dosa, dusta, hawa nafsu yang tak

terkendali atau energi negatif yang lain, semuanya akan menjalar –

cepat atau lambat- akan meninggalkan noda dan luka yang semakin luas,

dalam dan pekat.

Hal-hal buruk, bisa jadi merupakan akibat-akibat dari sebab-sebab yang

buruk.

Jika rentetannya tidak sejauh cerita diatas mungkin kita dapat

melacaknya bahkan mengobatinya, namun jika rantai yang dilalui oleh

sebab-akibat buruk itu telah begitu panjang. Tak jarang, kita

kehilangan jejak akan penyebab awal dari akibat-akibat buruk yang

terjadi. Untuk melacaknya ? butuh waktu dan seringkali merupakan hil

yang mustahal.

Seorang penculik dan pemerkosa anak-anak dibawah umur misalnya, bisa

jadi merupakan korban dari sebuah hal-hal buruk dilain tempat, lain

waktu dan lain pelaku.

Lalu para remaja yang melakukan kejahatan yang tidak sesuai dengan

umur mereka, besar kemungkinan merupakan akumulasi dari berbagai

sebab-sebab buruk, yang mau tidak mau meninggalkan jejak akibat buruk.

Atasan yang punya kebiasaan menghalang-halangi bawahannya.

Suami yang punya hobby memukul istrinya.

dan lain sebagai-sebagai-sebagainya

Lalu dengan asumsi rantai sebab-akibat diatas, apakah berlebihan jika

kukatakan bisa jadi kekurangan Rp. 1.000 perak waktu kita membayar

angkot, akan memunculkan berita ditemukannya mayat laki-laki terpotong

enam di sungai Ciliwung ?

Jangan-jangan selama ini kita –setua hidup yang sudah kita jalani-

telah mempengaruhi keburukan terhadap anak, istri, saudara, teman atau

siapapun yang kebetulan hidupnya bersentuhan disuatu waktu dengan

hidup kita, tanpa kita sadari.

(Jika demikian rasanya akan amat sangat sulit menemukan seorang

manusia yang sungguh-sungguh memenuhi kriteria TUHAN tentang

kesucian.)

Jadi keburukan(energi negatif) sebagaimana juga kebaikan(energi

positif), selalu berkelilling mengembara mencari manusia yang bisa

dikendarai lalu kemudian dikuasai pikiran, perkataan dan perbuatannya,

dalam usaha untuk mengokohkan kerajaan mereka masing-masing. Kerajaan

kebaikan atau kerajaan keburukan. Positif atau negatif. Kemulian atau

kehinaan. TUHAN atau hantu. Dalam sebuah janji pasti bahwa siapapun

pelakunya, kebaikan atau keburukan itu pasti akan kembali kepada

pemiliknya. (selesai)


(**)

Menelaus, Raja Greek meminta saudaranya, Agammenon dan segenap raja-

raja di Greek menggabungkan angkatan bersenjata mereka dan menggempur

Troy.
Sebuah kerajaan kecil, Theben namanya, menolak ikut perang, yang mana

inipun digolongkan Agammenon sebagai pembangkangan, ia menahan putri

pendeta Theben.
Achilles, seorang pahlawan Greek yang gagah perkasa menegur Raja

Agammenon akan perlakuan yang tidak patut itu. Raja tersinggung,

kemudian terjadilah perselisihan itu. Achilles menolak ikut terjun

berperang membela Greek, negaranya.
Pasukan Greek menunggu angin laut untuk segera berangkat ke Troy,

namun angin yang ditunggu tak kunjung datang. Karena telah dikuasai

amarah, tanpa pikir panjang Agammenon mengorbankan anak gadisnya

sendiri kepada Dewa Laut, demi angin dan gelombang yang akan

menghantarkan mereka ke Troy.
Akhirnya pecahlah perang Troy dan Greek. Beribu-ribu orang terbunuh.
Greek terdesak, hampir kalah, karena Achilles pahlawan mereka tidak

ikut serta. Melihat itu semua Patroclus, sahabat Achilles,

berinisiatif membela negaranya dengan menyamar sebagai Achilles, turun

ke medan pertempuran, namun apes ia terbunuh Hector, salah satu

pangeran Troy.
Achilles murka mendengar kematian sahabatnya, dan akhirnya turun

berperang dan membalas dendam dengan membunuh Hector, dan membuat bayi

Hector menjadi anak yatim.
Tidak terima kakak kandungnya terbunuh, Paris, adik kandung Hector

dengan bantuan Dewa Apollo balas membunuh Achilles.
Walaupun telah bertempur bertahun-tahun Greek belum dapat mengalahkan

Troy
Akhirnya Si Cerdik Odysseus mengusulkan membuat rencana licik kuda

kayu yang merupakan awal kehancuran Troy. Troy dihancurkan. Ratu Helen

yang diculik dibawa kembali pulang.
Setelah perang usai Raja Agammenon kembali ke Greek, namun sesampainya

di istana, istrinya kemudian menikam Sang Raja dengan sebilah pisau,

karena Raja telah mengorbankan anak gadis mereka sebelum pasukan Greek

berangkat ke Troy.
Sementara Odysseus, arsitek perang Greek yang ternama, dalam

perjalanan pulang ke negeranya, terdampar disebuah pulau berpenghuni

Cyclops (raksasa bermata satu). Terjadi pertempuran antara keduanya,

Odysseus membutakan mata Cyclops. Sementara Cyclops mengutuk Odysseus.
Karena kutukan itulah bukan hanya kapal, seluruh pasukan yang

menyertai Odysseus tewas, hanya dirinya sendirilah yang selamat.

Bahkan ia memerlukan waktu sepuluh tahun untuk tiba dinegaranya

sendiri.
Sesampainya disana, ternyata istana, rumah dan keluarganya hancur

berantakan diganggu oleh para bajingan-bajingan dan Odysseus harus

berjuang habis-habisan membasmi para pengacau itu.

(huh..ini masih belum selesai juga !!!)

--

Belajar Dari Manusia-Manusia Gerobak
ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
(fotografer yang hobby menulis )



Malam itu jam di handphone sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB,

sementara aku dan istriku masih on the way home. Butiran gerimis kecil

mulai nampak menghiasi kaca depan mobil kami. Sekitar dua ratus meter

dari tikungan jalan menuju rumah, iring-iringan itupun tampak.

Dua kelompok “Manusia Gerobak”. Seorang lelaki berada didepan, menarik

gerobak, sementara seorang perempuan -yang nampaknya istrinya-

berjalan dibelakang mengikutinya. Di dalam gerobak, tampaklah dua

orang anak kecil tertidur lelap berselimutkan botol-botol plastik

bekas. Sedangkan kelompok kedua, kelompok yang lain, agak berbeda.

Seorang lelaki tetap berada didepan, sementara seorang anak kecil

perempuan duduk diujung gerobak sambil bernyanyi-nyanyi kecil, didalam

gerobak, seorang perempuan hamil tua nampak berbaring, bersama koran-

koran bekas. Pemandangan yang sangat unik. Sangat menyentuh.

Segera setelah melewati mereka mobil kami sengaja menepi. Terdorong

oleh naluri dan hobby photography, akupun meraih kamera yang memang

hampir selalu menemaniku kemanapun aku pergi dan bergegas mengabadikan

pemandangan tersebut. Dengan angle dan penerangan seadanya, gambar

keduanya berhasil kudapatkan. Tapi sesuatu dihati ini berbisik, bahwa

apa yang kulakukan masih belum cukup. Aku melewati mereka kembali

untuk kedua kalinya, kini setelah berada dalam posisi sejajar, istriku

menurunkan kaca dan memberikan mereka sesuatu.

(Aku tentunya tidak mau menjadi seorang pemenang Pulitzer, namun

kemudian stress dan mati bunuh diri karena objek fotonya yang notabene

adalah seorang bocah hitam ceking kelaparan, mati digerogoti Burung

Bangkai, hanya karena ia lebih mengutamakan memotret ketimbang

menolong bocah malang tersebut !!!)

“Terimakasih Eneng cantik !”, teriak ibu dirombongan pertama hampir

berbarengan dengan suaminya.
“Terimakasih tante”, teriiak anak kecil dirombongan kedua dengan

sumringah.
“Semoga banyak rejeki ya..”, sapa ibunya yang tengah hamil tua, dari

dalam gerobak, sambil tertawa riang.

Mendengar dan melihat kecerian mereka membuat aku merasa malu seketika

itu juga. Baru saja kami menghadiri sebuah pentas luar biasa gemerlap,

yang dihadiri oleh Agnes Monica. Dan kami nyaris BT karena tidak

kebagian kursi. Kemudian setelah itu, kami menyempatkan diri untuk

makan malam di sebuah Mall yang menyediakan konsep “Makan di Bawah

Langit Terbuka” di roof top mereka, inipun dengan gerutuan karena

lamanya pesanan kami muncul didepan hidung ini, akibat pengunjung yang

luar biasa ramai.
Betapa mudah, kegembiraan dan keceriaan hidup kita direnggut oleh

sesuatu yang sebenarnya “remeh” dan “bukan persoalan hidup mati”

seperti itu. Kita seperti terbiasa, menggolongkan bahwa hal-hal

“tambahan” itu begitu mutlak perlu dalam hidup kita, seakan tanpa itu

semua hidup kita akan berhenti.

Tidak bisa tidur karena harga saham melorot.
Marah karena mobil kita masuk bengkel.
Stress karena gak kebagian ticket premier 2012.
Uring-uringan karena dimarahin boss.
Ngedumel karena pesawat delay.
Bunuh diri di Mall karena putus cinta.
Dendam karena ide kita diserobot teman kantor.
Memaki-maki keadaan karena gak jadi luburan ke Hongkong.
Bertengkar dengan rekan bisnis karena sebuah kesalahpahaman biasa.
Membatalkan umroh hanya karena Dude Herlino batal umroh
(kallo yang ini mah..adegan film..Emak Ingin Naik Haji he..he..)

Dan lain sebagainya…

Padahal kalau dipikir-pikir, semua itu “tidak sampai” membuat kita

demi anak istri menarik gerobak kesana-kemari. Atau “tidak sampai”

menyeret kita untuk tidur dalam gerobak berselimutkan sampah-sampah

yang akan dijual.

Atau bahkan lebih gila dari itu semua : melahirkan dalam gerobak !!

Sepertinya kita perlu mengubah pola pikir kita yang sudah sedemikian

teracuni oleh “gemerlap” kesuksesan, persaingan dan keduniawian.

Menyisihkan waktu untuk sekedar menepi, agar lebih bersyukur dengan

rejeki, pekerjaan dan hidup yang Sang Khaliq berikan kepada kita.

Sehingga “hal-hal tambahan” itu dapat didudukkan dalam porsi yang

lebih rendah atau bahkan jika terlalu membebani kenikmatan hidup dapat

dibuang saja kedalam gerobak sampah. ***

Diposkan oleh Semar Badranaya di 23:39 0 komentar Link ke posting ini
Senin, 07 Desember 2009
Sang Komandan

by Made Teddy Artiana, S. Kom



Ia mengatakannya hanya sekali kepadaku. Hanya sekali. Tetapi kalimat

itu tertancap sedemikian rupa di sanubari hingga sulit kulupakan.

Menginspirasi. Mewarnai pertimbangan-pertimbangan dan membuat

perubahan-perubahan sederhana namun mengharukan. Mungkin karena

kalimat itu diucapkan bukan hanya dari gigi, tetapi jauh dari dalam

relung-relung terdasar seorang prajurit.

Aku mengingat -walau dengan samar- beberapa ekspresi wajah yang aku

anggap khas. Dari sejak ekspresi marah Pak Ketut tetanggaku dulu yang

mengejarku bersenjatakan cangkul ditangan, karena memancing diam-diam

dikolam ikannya. Sampai ekspresi wajah teman gadisku disaat pertama

kali aku mengatakan cinta pada seorang wanita. Dari ekspresi lucu

Sultan Hamengkubuwono X, pada saat menyaksikan anak gadisnya, GRAJ

Nurkamnari, dalam suatu prosesi adat pernikahan digendong oleh

menantunya. Hingga ekspresi jail Bob Sadino, ketika mengejek orang-

orang yang terlalu membanggakan gelar sekolah mereka. Tetapi ekpresi

laki-laki yang mengucapkan kalimat itu sangat-sangat kental kuingat.

Kalimat yang membuat aku tidak pernah bermain-main pada saat upacara

bendera, terutama saat penghormatan kepada Sang Merah Putih. “Kawan,

mereka merebut benda itu dengan darah”, begitu jawabanku pada salah

seorang kawan yang terheran-heran melihat kesungguhan yang

kupertontonkan.

Kalimat itu pun membuat aku begitu bersemangat mengikuti semua lomba

baris-berbaris tujuh belasan sejak duduk di Sekolah Dasar hingga

Sekolah Menengah Atas.

Kalimat itu juga teringat pada saat aku bercita-cita meneruskan

pendidikanku ke AKABRI, namun gagal karena ibunda tidak menyetujuinya.

Ia juga terngiang-ngiang ditelinga. Ketika kuliah ditingkat akhir,

meskipun berstatus sebagai “demontran” pada saat itu, berhutang nyawa

dengan seorang prajurit berbaret hijau yang menyelamatkanku dari

terjebak kerusuhan berdarah di bulan Mei di daerah Pasar Minggu.

Kadang ia seperti kompor raksasa yang membuat darahku mendidih ketika

mendengar TKI-TKI kita diperlakukan tidak sebagai manusia diluar sana.

Begitu juga ketika mendengar atau membaca bagaimana negara tetangga

mencatut budaya kita dengan tanpa rasa malu sedikitpun ! Bagaimana

kekayaan laut kita dicuri negara lain atau bagaimana saudara-saudaraku

di Irian sana, ditinggalkan melarat dengan koteka mereka, sementara

jutaan ton emas milik tanah mereka diboyong keluar.

Bahkan ketika tulisan ini ditulis, kalimat itu melintas lagi

dibenakku, pada saat sebuah stasiun TV Swasta menayangkan berita

bagaimana sekumpulan anak-anak sekolah menangis histeris sambil

memegang erat-erat bangku sekolah mereka yang ditarik paksa, orang-

orang utusan suatu developer karena sekolah itu tidak sanggup membayar

sewa bangku itu kepada mereka.

Kalimat itu juga kuulangi –meskipun dengan konteks yang sedikit aneh-

ketika mengeluhkan bagaimana orang-orang Indonesia -entah karena ingin

tahu atau takut kiamat atau mudah ditipu- lebih memilih menonton film

produksi Holywood “2012” dibandingkan “Emak Ingin Naik Haji” yang

nyata-nyata lebih mendidik.

Kalimat itu ternyata telah membawa menanamkan sesuatu yang tidak

terlalu kukenal sebelumnya. Sesuatu yang sangat penting. Rasa bangga

dan cinta akan tanah airku.

Tak terhitung berapa kali dan pada berapa orang, kalimat itu

kuperdengarkan kembali. Dan setiap kali diperdengarkan, maka sosok

seorang laki-laki tegap berwibawa, dengan tatapan mata tenang dan

berpakaian loreng hijau lengkap dengan baretnya selalu muncul

kepermukaan.


“Jangan sampai bangsa dan negara menganggapmu tidak berguna”


Lettu Alva AG Narande, ketika itu adalah komandan pleton sepasukan

ARMED yang sempat bertugas di Bali. Laki-laki santun yang baik hati

ini tidak hanya dihormati dan dicintai oleh masyarakat sekitar, namun

juga ditakuti oleh preman-preman pendatang kala itu. Tetapi bagi kami,

anak-anak singkong disebuah komplek perumahan persis di sebelah kantor

Koramil di Denpasar, yang kebetulan menjadi markas beliau dan pasukan

saat itu, ia adalah idola. Om Alva atau “Sang Komandan” begitu kami

memanggil beliau.

Dan sebagaimana layaknya seorang idola saat itu, kami meniru-niru

caranya berdiri, berjalan dan berkata-kata, pokoknya apa saja dari

diri Om Alva.

“Saya komandan Alva AG Narande !”, begitu seringkali kami mengaku-

ngaku diri kami berebutan, dengan suara kecil yang dibesar-besarkan,

dan dada rata yang dibusung-busungkan. Sungguh menggelikan kalau

diingat sekarang.

Sebenarnya kami juga ingin sekali meminjam baret hijau yang kerap kali

dipakai Om Alva, tetapi kami terlalu malu untuk mengatakannya. Padahal

jika kami berani mengatakannya, aku rasa Om Alva tidak akan keberatan

sama sekali meminjamkan nya.

Satu hal yang sangat membanggakan bagiku saat itu. Mereka menjuluki

aku sebagai adik Om Alva ! Sebagai efek langsung dari itu : tidak ada

satu orangpun berani pada ku. Tapi walaupun begitu aku semena-mena

memperlakukan teman-temanku saat itu.

(Diusia Sekolah Dasar kelas 4, itu aku telah menyadari bagaimana tidak

memanfaatkan hubungan dekat dengan aparat dengan melakukan sesuatu

yang salah. Betapa mengherankannya banyak orang bahkan setelah ubanan

dan bau tanah, tidak tahu akan hal itu. Kata Rhoma Irama : T E R L A L

U !)

Aku dan Om Alva sering bermain catur bersama. Hampir setiap hari,

sehabis pulang sekolah, aku mendatangi markas pasukannya, untuk

mendengarkan cerita-cerita seru dari beliau. Dari pengalaman tugas

biasa, hingga cerita tentang serangkaian test yang harus dijalani

seseorang sebagai austronout.

Kini setelah tiga belas tahun tidak bertemu dengan beliau. Tiba-tiba

saja sebuah tulisan yang kubuat mengantarkan sosok itu muncul kembali

kedalam kehidupanku. Om Alva AG Narande, tokoh idola kami ketika SD,

mengirimiku sebuah email. Tak terlukiskan perasaan ini ketika itu.

Ingin sekali rasanya aku mengatakan kepada teman-teman masa kecilku

bahwa “Sang Komandan” ada disini. Haru, heran dan tak menyangka sama

sekali.

Betapa bangsa ini memerlukan orang-orang yang mencintainya sungguh-

sungguh. Baik mereka yang berbaret maupun tidak. Orang-orang yang

bertindak sebagai penjaga-penjaga menara, yang mengingatkan TUHAN akan

bangsa ini. Mendoakan siang dan malam agar kebaikan terjadi pada

bangsa yang besar ini. Berbakti dengan tulus, lepas dari siapapun

pemimpin atau politisi yang mengomandoi bangsa ini. Tanpa terlalu

dimabukkan oleh “jasa yang membanggakan” atau dilukai “skandal yang

memalukan” yang mungkin dilakukan oleh para pemimpin bangsa dan negara

ini. Berbakti karena memang TUHAN mengirimkan kita untuk lahir di

tanah air ini sebagai rahmat. Sebab bagaimana mungkin bangsa ini akan

maju, berkembang dan makmur, tanpa orang-orang yang mencintainya

dengan tulus ? Hanya rasa cinta yang akan dapat melakukan perbaikan

dan menggerakkan mukjizat turun atas bangsa ini.

Ditulis pada tanggal 6 Desember 2009, disaat skandal Bank Century

tengah berada dipuncaknya, dan sebuah perkiraan adanya demontrasi

besar pada tanggal 9 Desember 2009. Pada saat hari anti korupsi

sedunia berlangsung.

(Made Teddy Artiana : Praktisi IT sekaligus fotografer yang menaruh

minat besar terhadap dunia tulis menulis)



Diposkan oleh Semar Badranaya di 17:05 0 komentar Link ke posting ini
Senin, 16 November 2009
U M U R
by Made Teddy Artiana
at My birthday, 8 November 2009

Bagi dunia kedokteran khususnya dikalangan penyakit dalam, nama Prof.

dr. Ali Sulaiman, SpPD-KGEH, PhD, FACG, tentunya sama sekali bukan

orang asing. Guru besar FKUI yang baru saja merayakan ulang tahun yang

ke-70, disertai pula dengan lauching buku dengan judul “Meracik Dokter

Bintang Tujuh, Mewujudkan Dokter Hari Esok Indonesia” memang bukan

dokter sembarangan. Begitu banyak pengabdian, penghargaan, peranan

yang telah beliau sumbangsihkan bagi begitu banyak orang. Dengan kata

lain, umur yang diberikan oleh TUHAN, memang sungguh-sungguh

dimanfaatkan oleh beliau untuk membuat hidup ini sebagai karunia yang

indah, bukan saja bagi diri sendiri, tetapi juga sesama. Tidak heran

jika TUHAN -sebagai sponsor tunggal hidup ini- begitu memuliakan

beliau diantara teman, sahabat dan masyarakat beliau. Rupanya,

walaupun dunia berubah begitu cepat, namun TUHAN sejauh ini tidak

berubah. IA akan selalu berpihak pada mereka yang memberikan yang

terbaik bagi kehidupan, yang notabene adalah buatan tangan-NYA.

Berkaca dengan semua itu, dihari ulang tahunku hari ini 8 november

2009, aku segera berintrospeksi apakah selama ini aku sudah

menghormati kehidupan (baca : umur) yang IA anugrahkan padaku. Apakah

sejauh ini kehadiranku didunia, sudah membuat hidup ini menjadi

anugrah bagi sesamaku, ataukah justru kehidupan ku hanya membuat orang

lain mengutuk kehidupan dan membuat mereka memandang kehidupan ini

sebagai sesuatu yang memuakkan, yang harus segera diakhiri. Jelas aku

tidak mungkin mensejajarkan diri dengan Prof. Ali Sulaiman. Terlalu

jauh. Tetapi aku masih muda, semoga masih ada banyak kesempatan untuk

memperbaiki diri dan segera memenuhi takdirku : menjadi anugrah bagi

semesta alam ini. Ada baiknya –demi kemurahan yang masih kurasakan-

aku menyingsikan lengan baju dan bekerja lebih keras lagi, lebih

cerdas lagi, sehingga ketika waktunya antreanku tiba, aku dapat

mempertanggungjawabkan semua ini dihadapan-NYA.

Tulisan ini diperuntukkan juga bagi saudara-saudaraku yang tengah

bergulat, berjuang untuk memperbaiki diri, memperbaiki hidup mereka

sehingga menjadi lebih indah, lebih mulia dihadapan-NYA. Korban PHK

dan kebangkrutan. Mereka yang berusaha keluar dari jerat narkoba,

pornografi, perselingkuhan, korupsi. Mereka yang berjuang dengan

seluruh kesabarannya untuk mendidik anak-anak mereka. Para istri yang

mempertahankan kesetian mereka meskipun menghadapi pengkhianatan.

Mereka yang bertahan dalam kejujuran meskipun dalam tekanan yang tidak

ringan. Mereka yang memutuskan bangkit dari vonis penyakit, trauma

kegagalan, bencana alam…dan lain sebagainya.

Anda tidak berjuang seorang diri. TUHAN –pemilik kehidupan yang

berkuasa melakukan apapun juga- selalu berpihak pada mereka-mereka

yang menghargai kehidupan ini, dan kepada siapapun yang selalu

berusaha membuat kehidupan ini sebagai persembahan indah nan mulia

bagi Dia dan sesama.

***


Video ULTAH dan peluncuran Buku Prof. dr. Ali Sulaiman, Phd.
(Guru Besar FKUI) di Puri Agung Hotel Sahid
http://www.youtube.com/watch?v=Tje9ptch-x8
Diposkan oleh Semar Badranaya di 16:00 0 komentar Link ke posting ini
Minggu, 18 Oktober 2009
Belajar Dari Vagina
by Made Teddy Artiana, S. Kom
photographer, graphic designer & 3D animator



Hari ini termasuk hari yang unik dalam hidupku. Betapa tidak, sore ini

kami (aku, Wida dan dokter kandungan kami) bercakap-cakap secara

intens tentang kandungan yang tentunya melibatkan benda-benda

sensitif, salah satunya "vagina". Tetapi yang mengherankan percakapan

itu lebih mirip diskusi ilmiah di banding obrolan tukang ojek di

pinggiran Kalimalang.

Apa karena istilah yang kami gunakan adalah vagina, yang terdengar

begitu cerdas, begitu ilmiah dan clean. Tidak seperti saudara

kandungnya yang terdiri dari "lima huruf" dalam bahasa gaul Jakarta

yang mengerikan. Yang ketika diucapkan kontan akan segera mendatangkan

efek yang membuat ekspresi wajah siapapun berubah. Pikiran jadi

ngelantur, sementara aura kebun binatang muncul disertai butiran-

butiran pasir bertebaran dikepala.

Dapatkah kita membayangkan jika seorang dokter kandungan menggunakan

"lima huruf" itu daripada menggunakan istilah vagina ? Dijamin detik

itu juga para suami akan segera menyeret keluar pasangan mereka dari

klinik itu. Terlepas seserius atau sesopan apapun ekspresi seorang

dokter kandungan, tetapi jika ia menggunakan "lima huruf" itu kepada

pasiennya, maka Spog dibelakang nama mereka akan akan diganti dengan

gelar "DK" dukun cabul !

Dua istilah yang mengacu ke 'benda' yang sama, namun membawa atmosfir

yang sama sekali berbeda ketika diucapkan. Rupanya tidak semua kata

itu bersifat netral. Mereka ternyata punya intensitas, punya bobot

emosi yang ketika dipakai akan segera menunjukkan taringnya. Entah

menguatkan, melemahkan, membawa kepada hal mulia ataupun menyeret

kepada kenistaan.

Jadi semuanya berpulang kepada diri kita untuk dengan bijaksana

memilih sebuah kata-kata
apakah kita ingin sekedar JENGKEL atau MURKA
apakah kita ingin DIMAKI-MAKI atau DIMARAH
apakah kita 'TOLOL atau KURANG PINTER
apakah kita GAGAL atau BELUM SUKSES

Jika demikian kata-kata tentunya bukan sekedar pewarna kehidupan

tetapi lebih dari itu, ia bisa jadi salah satu unsur penting pembentuk

kehidupan. Jadi sangat beralasan jika setiap orang harus teliti dalam

mengumpulkan perbendaharaan kata dan selanjutkan dengan bijaksana

memilah-milah dalam mengeluarkan kata yang tepat dengan situasi nya.

Sehingga kata-kata itu akan selalu menjadi motivator yang

memperdayakan dan bukannya menjadi provokator yang menghancurkan.

*****
(video "unik" profile singkat dari TJAMPUHAN )
perusahaan kami yang khusus bergerak dalam jasa development profile

baik perorangan atau company

http://www.youtube.com/watch?v=aCCvc0ddqR4
*****

Eh tiba-tiba aku teringat salah seorang manusia yang aku anggap paling

cerdas yang dipunyai oleh Bank Central Asia. Iman Sentosa, mantan

manajerku di Information Technology Division. Selain cerdas beliau ini

sangat terkenal dengan metafora-metafora unik yang sering ia gunakan

untuk melukiskan sesuatu, terutama dibidang kami IT. Sebegitu uniknya

metafora itu, sehingga kami tidak hanya bisa mengerti yang beliau

maksud, tetapi lebih daripada itu, bisa merasakannya.

Misalkan saja untuk melukiskan betapa kita harus selalu belajar untuk

mengantisipasi perkembangan dunia diluar sana, beliau selalu berkata

seperti ini : "Sekarang mumpung masih ada waktu elu harus ngasah

pedanglu setajem-tajemnya, karena pas perang kita gak bakalan punya

waktu buat ngasah, bisa-bisa ntar malah kebacok musuh" atau untuk

menggambarkan sebuah ketidaksiapan sebuah persiapan, beliau melukiskan

dengan cara unik "Jangan sampai elu itu kaya orang belum pake celana

bener udah mau lari, nah akhirnya kejengkang deh lu" atau ketika harus

mengingatkan kami tentang coding/program yang kita develop yang harus

selalu clean sehingga tidak menimbulkan memory leak. "Udah di-cebokin

tuh program elu ?"

Tetapi yang lucu adalah ketika suatu saat ada orang baru dalam team

kami. Waktu itu tengah terjadi gangguan disalah satu server kami dan

dia yang ditugasi untuk memperbaiki hal itu. Bayangkan betapa bingung

ekspresi wajahnya ketika menerima sms dari Pak Iman : " Server mencret

pls investigate !"


***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 23:09 0 komentar Link ke posting ini
Minggu, 04 Oktober 2009
The Power of KEPEPET vs The Power of PENASARAN
By Made Teddy Artiana, S. Kom
~profile developer~


Senin, 5 Oktober 2009
Hari Ultah Almarhum Papa Letkol. Abu Bakar Surin

Kesulitan, keterjepitan, ketakutan mungkin tidak selalu berdampak

negatif bagi seseorang. Bagi segolongan yang lain seringkali, hal-hal

seperti itu menjadi triger yang akan membangkitkan sebuah kekuatan

dalam diri ini. Kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang tersembunyi

yang hanya dapat lahir berbidankan keterpaksaan. Aku menyebutnya

dengan istilah “kepepet”, yang lain menyebutnya sebagai naluri untuk

bertahan dan menang. Ia muncul ketika kita berlari –bak atlit

Olympiade- karena dikejar anjing tetangga. Kekuatan ini juga

mengilhami beberapa pengusaha sukses, berlatar belakang PHK, bahkan

dalam beberapa kasus kekuatan tersebut menyeruak keluar dan menaklukan

kemustahilan. Pernah ku baca kisah nyata mengenai seorang ibu yang

karena ingin menyelamatkan bayinya, mampu mengangkat sebuah mobil yang

begitu berat !

Tetapi di sebuah episode hidupku, aku mengenali pula sebuah kekuatan

lain. Kekuatan yang tidak kalah luar biasanya dengan yang pertama.

Hanya saja kekuatan yang berikut ini sering kali berstatus : tinggal

kenangan. Kekuatan yang menjadi penguasa masa kanak-kanak manusia.

Sayang sejalan beranjak dewasa, secara sadar atau tidak, kekuatan itu

memudar. Ia tersisih karena suatu hal yang berlabel tuntutan hidup.

Untunglah kekuatan itu tidak hilang. Ia tertidur dan menunggu untuk

dibangkitkan. Kekuatan itu juga membuat waktu –menurut Hukum

Relatifitas Einstein- menjadi sungguh-sungguh relatif. Orang-orang

besar, para pencipta luar biasa, pengusaha sukses, para ahli

menyebutnya sebagai : bahan bakar keajaiban.

Aku menamakan hal itu “P E N A S A R A N” atau rasa ingin tahu.

Mungkin tidak terlalu tepat pula, menempatkan kata vs(versus) diantara

keduanya. Karena mereka bisa jadi bukan sebuah pilihan. Keduanya

adalah senjata luar biasa, yang harus digunakan dengan bijaksana.

Suatu hal yang disayangkan adalah jika aku kehilangan salah satu

kekuatan tersebut. Analoginya : menjalani hidup dengan pincang, karena

hanya ditopang satu kaki.

Jika selama ini, aku pernah merasakan sukses karena ditopang oleh

“kepepet” ada baiknya jika aku mulai mencoba kekuatan “penasaran”.

Membangkitkan keajaiban masa kecil yang sempat terbaring didasar

kalbu.

Mahasiswa yang sangat tertarik akan suatu mata pelajaran tentu akan

merasakan sensasi yang jauh berbeda dengan mahasiswa yang telah

mendapat ancaman DO, jika gagal dimata kuliah tersebut. Yang seorang

TER-pacu, yang lain DI-pacu. Yang seorang tidak dapat tidur, ingin

malam berlalu dengan cepat, sehingga bertemu dengan mata kuliah

tersebut, yang lain juga tidak dapat tidur. Ingin malam bertambah

panjaaaaaaaang dan lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.

Sebaiknya mulai saat ini aku berlatih menjalani hidup seperti anak

kecil. Penuh rasa ingin tahu dan membebaskan diri dari segala

tuntutan. Mungkin hidup akan mulai mengeluarkan warna-warninya. Dan

tidak hanya itu, beban dipundak inipun terasa demikian ringan,

sehingga langkah kakiku bergerak lebih lincah, lebih kuat, lebih

fleksibel, namun –ini yang terpenting dari segalanya- tetap bergerak

dalam harmoni yang indah.

Apakah ini merupakan salah satu dari rahasia untuk melihat keindahan

kehidupan. ?


***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 19:33 0 komentar Link ke posting ini
Selasa, 29 September 2009
Ingin Sukses, Bahagia dan Masuk Sorga ? Jadilah Seperti Anak Kecil
By Made Teddy Artiana, S. Kom
company profile specialist


Namanya Lintang, ia berasal dari keluarga melarat. Tetapi bukan karena

itu Lintang berbau hangus. Bukan karena melarat. Bersepeda berpuluh

kilo jauhnya, hanya untuk bersekolah Bersepeda sedemikian jauh hingga

sandal dikakinya nyaris hangus. Jauhnya jarak yang harus ditempuh,

buaya sepanjang pohon kelapa, bahkan kemiskinan tidak sanggup

memadamkan api di dada seorang Lintang. Bersekolah di SD Muhamadyah

yang miskin, adalah harta karun yang luar biasa baginya. Dan Lintang,

anak jenius itu memang jadi permata yang menerangi sekolahnya. Cerita

selanjutnya tentang semangat seorang Lintang, dapat Anda baca di novel

karya Andrea Hirata, tidak mungkin Anda tidak tahu dia siapa, dan

mengenai Laskar Pelangi, siapa yang tidak pernah mendengar dua kata

itu di Indonesia ?

Lain Lintang, lain pula dengan Agus (bukan nama sebenarnya), temanku

bersekolah dulu. Agus miskin, memang tidak semelarat Lintang. Tetapi

tetap saja, kemiskinan besar atau kecil, tetaplah kemiskinan. Sebagian

besar hidup Agus dihabiskannya untuk membantu ibunya berjualan majalah

dan koran. Tidak ada waktu untuk nongkrong, haha hihi dengan teman-

teman, bermain apalagi belajar. 24 jam terasa kurang bagi Agus. Mudah

ditebak, nilai-nilai nyapun sangat jauh dibawah rata-rata. Selain

kemiskinan, soal prestasi di sekolah juga merupakan nilai minus bagi

Agus. Tetapi cobalah bertanya padanya tentang pengetahuan umum, dari

soal mobil balap, menteri kabinet, tempat rekreasi, teknologi terkini,

info makanan sehat dan lain sebagainya, Agus adalah perpustakaan

berjalan. Hampir tidak ada yang tidak diketahui oleh Agus. Mungkin

tingkatannya begini, TUHAN Maha Tahu, Agus tahu banyak, para lelaki-

sok tahu sedangkan ibu-ibu –selalu pengen tahu !

Dua nama itu mengingatkan aku ketika iseng melihat-lihat portfolio

video yang pernah kami kerjakan. World Vision

(http://www.worldvision.org), salah satu client kami, sebuah

perusahaan internasional yang memiliki visi sekaligus sumbangsih

luarbiasa bagi kesejahteraan anak. Sebuah video menarik tentang anak-

anak di Papua sana, yang harus berjalan melintasi bukit, bahkan

berenang menyeberang sungai hanya untuk bersekolah !

Bagi Anda yang ingin menonton video singkat tersebut dapat mengunjungi

link berikut http://www.youtube.com/watch?v=ALCNhVdCqvM

Ketiganya memuat pesan moral yang serupa. “Jika kita ingin belajar

mengenai hidup ini. Tentang kegairahan, tentang cita-cita, tentang

keindahan, belajarlah dari anak-anak”

Kita semua pernah jadi mereka. Semua orang dewasa pernah melintasi

jalan itu. Waktu dimana kita menokuskan diri memandang hidup bukan

lewat kacamata yang begitu sederhana, dimana inflasi,persaingan dan

sejuta beban yang tidak seharusnya dipikul, tidak mendapatkan tempat.

Saat itulah energi “keingintahuan” dan “kegairahan” itu begitu

berkuasa dalam diri kita. Sehingga sebagian besar dari kita –pada

waktu kita anak-anak ataupun remaja- tidak pernah dapat mengerti

mengapa harus tidur siang, sementara hidup diluar sana demikian indah.

Kini setelah kita dewasa, dan merasa tahu banyak akan hidup, seberapa

sering dari kita ingin tidur dan tidak usah bangun-bangun lagi. Atau

sebaliknya, saking pinter dan banyaknya urusan, jadi tidak bisa tidur,

apalagi tertawa !!


Seorang yang sangat sukses namun tetap hidup sederhana, pernah

berpesan pada ku :

“Jika ingin sukses, belajarlah menjadi seperti anak kecil. Jika ingin

bahagia, jadilah seperti anak kecil. Jika ingin masuk sorga,

berubahlah menjadi anak kecil. Karena mereka begitu bergairah akan

hidup ini, begitu positif, begitu percaya akan kebaikan”

***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 19:11 0 komentar Link ke posting ini
Rabu, 29 Juli 2009
Seandainya Aku Masih Hidup Sampai Malam Nanti
Seandainya Aku Masih Hidup Sampai Malam Nanti
By Made Teddy Artiana, S. Kom



Seorang pria bertopi dan jaket hitam berjalan melintas. Ditangannya

terlihat tas beroda yang terasa begitu berat. Berjalan memasuki sebuah

ruangan dan tak lama kemudian..BUUUMMMMM !!!!

Entah sudah berapa kali video ini diputar oleh berbagai stasiun TV.

Rasanya hampir setiap orang di Indonesia paling tidak pasti pernah

menyaksikannya minimal satu kali. Pemboman Ritz Calton dan J.W.

Marriot.

Tetapi baru kemarin malam aku melihat sisi lain dari video itu. Dan

itu membuatku terpengarah…

Beberapa saat sebelum kejadian itu. Segalanya tampak biasa saja. Orang

lalu lalang diloby. Penjaga pintu menyapa tamu dengan ramah. Demikian

juga dua orang wanita, yang sedang bercakap-cakap begitu riang,

berjalan menuju restaurant. Lalu seorang pria, dalam video yang

berbeda, berbaju putih, bertubuh agak gemuk, berjalan mondar-mandir,

kemudian perlahan-lahan seolah digiring berjalan kedalam restaurant

dan tiba-tiba saja….BUMMMMMM !!!

Perhatikan ekspresi orang-orang itu.

Yang jelas, mereka semua sama sekali tidak memperkirakan kejadian itu.

Asyik menjalani rutinitas dan tiba-tiba saja….maut merenggut. Tidak

sempat berpamitan, tidak sempat mengucapkan maaf, dan tidak sempat

memohon ampun.

Sebenarnya bukan hal yang baru. Sedang tidur-tiduran tiba-tiba saja

ada pesawat nyasar yang menabrak rumah. Sedang asyik mengendara mobil

eh ketimpa pohon yang tumbang. Sedang sarapan eh kena bom. Sedang

ketawa-tawa eh ketimpa papan iklan. Main tenis kemudian kena serangan

jantung. Dan selanjutnya…dan selanjutnya…skenarionya bisa jadi tak

terbatas.

Siapakah yang dapat memperkirakan apa yang akan terjadi padanya satu

menit kemudian dalam hidupnya ? Bahkan Mama Laurent yang biasa

berkomentar : Si A akan begini, nanti begitu, besok beginu dan lain

sebagainyapun pasti akan membisu, kalau saja diberi pertanyaan :

“Ramalan Anda tentang hidup Anda sendiri bagaimana ?”. Seandainya dia

tahu –tentunya dengan tidak menipu- aku akan berlari bugil mengitari

Senayan !

Jika demikian,siapa yang dapat menjamin bahwa ia tetap masih hidup,

satu jam kedepan ? Tidak ada.






Apakah benar hidup ini demikian rapuh ?

Bagi sebagian orang jawabannya adalah : ya ! Tetapi belum tentu buat

yang lain. Banyak pula orang yang “dipanggil pulang” dengan cara yang

mulia.


Sama sekali tidak bermaksud menghakimi siapapun. Tetapi jika

seandainya aku mendapat kasih karunia untuk memilih, kiranya Ia

mengijinkanku pulang dengan tenang. Setelah genap umurku, selesai

tugasku dan dalam keadaan siap.

Takdir memang kadang terasa liar, bebas dan tidak berpihak. Easy come,

easy go. Semau-maunya. Untunglah ada DIA, Sang Penguasa Takdir.

Kehadiran Nya menjamin tidak akan ada yang kebetulan dalam hidup ini.

Tidak ada.

Agaknya aku bukanlah pemilik sebenarnya diri ku. Hidup ini adalah

milik-Nya. DIA lah pemilik tunggal : orang tua, istri, anak, tetangga,

saudara dan teman. Pada saat Sang Pemilik ingin mengambilnya, maka

tidak ada yang dapat mempertahankannya. Sehebat apapun dia berusaha.

Jadi seandainya saja aku masih bernafas detik ini, maka aku harusnya

menghormati “kemurahan-Nya” itu. Setiap pagi harusnya aku sambut

dengan sujud syukur.

Aku sewajarnya berusaha hidup menurut standard Nya. Berprestasi habis

-habisan. Mengasihi istri, orang tua, keluarga, pembantu sedalam-

dalamnya. Memberikan kontribusi sebesar mungkin bagi orang lain.

Bukannya malah menyia-nyiakan hidup dengan kekawatiran, frustasi,

dendam, iri hati dan segala yang menghabiskan waktuku dengan percuma.

Benar-benar kesempatan yang harus digunakan sebaik mungkin.

Terima kasih TUHAN, jika selama ini Engkau masih bersabar menungguku

berkubang dalam kebebalan. Maafkan ketidaktahudirian ku ini ya TUHAN.

Terlalu sering aku memperlakukan hidup ini bukan sebagai anugrah luar

biasa dari Mu. Memperlakukannya seolah aku adalah pemilik nyawaku

sendiri. Memperlakukannya seolah-olah Engkau tidak tahu apa yang ku

pikirkan, apa yang ku katakan dan apa yang ku perbuat.

Terima kasih jika selama ini pasukan malaikat Mu, tanpa aku sadari

selalu berjaga-jaga atas ku. Memindahkan paku berkarat yang tergeletak

dijalanku. Menggembosi ban mobilku, agar aku tidak melintasi jalan

yang akan ditumbangi pohon itu. Membuat aku terlambat, agar tidak

menaiki pesawat yang akan celaka itu. Semata-mata agar aku mendapat

kesempatan “pulang” dengan selamat. ***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 16:42 1 komentar Link ke posting ini
Selasa, 21 Juli 2009
Belajar Goblok Dari Forrest Gump
by Made Teddy Artiana, S. Kom
photographer & company profile developer


Novel karya Winston Groom ini akhirnya sukses besar setelah diangkat

kesebuah layar lebar. Forrest Gump, film di tahun 1994, berhasil

menggondol enam penghargaan dari Academy Award. Sepintas lalu kesan

yang kutanggap ketika pertama kali menonton film ini adalah : aneh,

lucu, ngawur. Dan memang benar adanya.

Film ini bercerita tentang seorang pemuda idiot, bernama Forrest Gump

–diperankan oleh Tom Hanks- yang akhirnya mendapatkan keberuntungan-

keberuntungan hidup yang luar biasa, justru karena keidiotannya.

Kebodohan Forrest begitu nampak tidak hanya dari mimik wajah, bahasa

tubuh dan kejadian-kejadian konyol dalam hidupnya. Tidak hanya itu,

sang sutradara Robert Zemeckiz, juga merasa perlu untuk menyisipkan

sebuah dialog unik yang selalu berulang.

“Are You stupid or something ?”

Demikian pertanyaan yang sering dilontarkan lawan bicara Forrest,

tentu lengkap dengan ekspresi sinis atau kening berkerut atau aneh.

Untungnya Forrest yang memiliki seorang ibu yang begitu luar biasa,

telah dilengkapi sebuah jawaban pamungkas-yang besar kemungkinan

sebenarnya juga tidak dimengerti olehnya.

“Stupid is as stupid does”

Kebodohan itu tergantung perbuatannya, kira-kira demikian.

Herannya meskipun sangat tolol, ia selalu saja beruntung. Hidup

Forrest seakan sebuah mata uang, memiki dua sisi yang berlainan.

Kebodohan disisi yang satu, dan “keajaiban” disisi yang lain.

“Miracle happen everyday”, begitu kata ibunya.

Waktu kecil, Forrest yang sebenarnya memiki kelainan di kedua kaki

nya, harus menggunakan sebuah alat bantu berjalan, yang membuat

Forrest seolah sebuah robot aneh. Suatu saat, beberapa anak nakal

melempari Forrest dengan batu, sambil meneriakinya “Bodoh !”. Jenny

sahabat Forrest menyuruhnya berlari. “Run..Forrest..Ruuuuuuunnnnn

!!!!” . Forrest menurut. Dengan susah payah ia berusaha berlari. Dan

keajaibanpun terjadi. Alat bantu berjalan berupa besi yang melingkari

kedua kakinyapun, terlepas dan hancur berkeping-keping. Forrest

berlari, tanpa tersusul oleh ketiga lawan nya meskipun mereka

bersepeda. Sejak saat itu Forrest tidak hanya dapat berjalan normal,

tetapi juga berlari secepat angin.

Kejadian yang sama terjadi ketika Forrest dewasa. Tiga orang pemuda

melemparinya dengan batu, meneriakinya bodoh. “Run..Forrest

Ruuuunnn!”. Adegan berulang. Hanya saja seekarang Forrest lari

tunggang langgang bukan dikejar sepeda, tetapi mobil ! Tiba-tiba saja

ia berbelok da melintasi sebuah lapangan yang didalamnya tengah

berlangsung pertandingan American Football. Forrest berlari disela-

sela pemain, bahkan melewati seorang pemain yang tengah berlari

memegang bola. Semua orang tercengang. Bukan hanya karena kecepatannya

berlari, tetapi lebih karena kebodohan Forrest. Baru kali ini

seseorang berlari demikian tidak perduli, melintasi suatu

pertandingan. Keajaiban terjadi kembali. Salah seorang pelatih

merekrut Forrest menjadi pemain. Forrest menjadi bintang lapangan.

Bintang lapangan yang aneh. Ia akan terus berlari tidak terkendali dan

tanpa pernah tahu dimana harus berhenti. Forrest mendapat beasiswa,

dan menamatkan college, hanya dengan cara sesederhana itu.

Forrest kemudian memutuskan untuk mengikuti wamil. Menjadi tentara. Ia

dan sahabatnya Bubba dikirim berperang ke Vietnam. Pada suatu saat

pasukan mereka disergap oleh tentara Vietkong. Tiba-tiba seseorang

berteriak “Ruuuunnnn!”. Forrest berlari tanpa memperdulikan sekitar.

Hanya berlari. Ternyata sebagian besar dari mereka tewas, sedangkan

Forrest hanya tertembak di bagian pantatnya saja. Keajaiban terjadi

lagi. Ia berhasil menyelamatkan beberapa rekannya., termasuk Leutenant

Dan, yang akhirnya menjadi patner bisnisnya dikemudian hari. Untuk itu

negara menganugerahinya penghargaan.

Begitu seterusnya. Kebodohan dan keajaiban itu selalu berpasangan

hingga akhirnya Forrest memiliki perusahaan besar, menikah dengan

Jenny, bahkan memiliki anak yang cerdas. Tidak sama dengan ayah nya.

Mungkin film itu terlalu menyederhanakan sesuatu dan melebih-lebihkan

yang lain. Tetapi terus terang Forrest Gump begitu membekas dihatiku.

Aku mungkin tidak sebodoh Forrest, tetapi menghadapi hidup yang

misterius membuat aku seringkali tersesat disuatu sisi, dan tersadar

telah melakukan kebodohan. Strategi basi. Mengambil tikungan yang

ternyata buntu. Mengantri dibarisan yang keliru. Dan itu terus

terulang. Untunglah disetiap kebodohanku ada mata uang lain bernama

“keajaiban” yang selalu menolong hidup. Mengangkatku dari labirin,

Menjadi jembatan disebuahjalan yang terputus. Entah apa jadinya jika

TUHAN mendesain hidup ini tanpa sentuhan keajaiban.

Aku rasa kehidupan ku, di mata TUHAN, tidak jauh berbeda dengan

Forrest Gump. Sama-sama bodoh. Sama-sama tidak mengerti. Hanya saja

ada sebuah perbedaan besar disini. Forrest tidak pernah mengklaim

karena “aku”, malah ia selalu menggunakan kata “and just like that…”

atau dengan kata lain “bukan aku”, tetapi sesuatu di luar sana.

Sesuatu yang berada jauh mengatasi logika. Tetapi aku…ehmmm

sebaliknya. Aku begitu sering menampilkan seolah-olah semua

keberhasilan ini karena otak ku. Karena kecerdasanku, karena banyaknya

buku yang kubaca, karena strategi-strategi jitu yang sudah kurancang.

Ini adalah kesuksesanku !!! Tanpa menyisakan syukur, terhadap semua

keajaiban yang selalu menopangku. Tidak ada ruang untuk

berterimakasih. Bagaikan membusungkan dada yang keropos oleh TBC.

Benar-benar memalukan.

Aku rasa mereka, orang-orang pintar itu juga mengalami hal yang sama.

Hidup menyembunyikan petunjuk, kemudian rencana-rencana mereka

mempermainkan diri mereka sendiri. Sebagian dari mereka menyembunyikan

semua itu laksana aib, tetapi yang lain, setelah mereka sukses, kaya

dan makmur mempertontonkan semua itu sebagai bahan pelajaran buat yang

lain. Seolah-olah mereka berhasil mengatasi semua itu dengan kekuatan

mereka sendiri. Dan peramal-peramal itu tak jauh beda. Mereka hanya

bisa menerawang, berkicau tentang hidup orang lain. Si J akan

meninggal. Bencana begini akan terjadi. Musibah itu akan terjadi. Kamu

cocok nya di air. Kamu di udara. Dan seterusnya. Tetapi cobalah

bertanya tentang apa yang akan terjadi pada hidup mereka sendiri.

Tentulah mereka hanya bisa diam membisu, karena semua itu tersembunyi

bagi mata mereka.

Ah…hidup memang menjadi demikian memusingkan terutama jika aku

membiasakan diri menghadapinya hanya dengan otak semata-mata.

Untunglah TUHAN memberikan sebuah senjata lain, yang jauh lebih

dahsyat. Hati. Dengan hati, aku tahu bahwa aku tidak akan pernah

berjalan seorang diri. Dengan hati, hidup terasa begitu indah. Dengan

hati pulalah hidup menghadirkan sentuhan-sentuhan penuh keajaiban.

Terima kasih “keajaiban”…terima kasih sudah menutupi “kebodohan” ku

sedemikian lama.
***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 02:53 0 komentar Link ke posting ini
Senin, 01 Juni 2009
Dimana Anda “Memancing” Rejeki Selama Hidup ?
by MTA(Made Teddy Artiana)


Pada sebuah kesempatan pulang kampung ke Bali, aku menyempatkan diri

untuk menjenguk rumah baru kakak ku. Rumah berarsitektur Bali yang

unik, dengan dua buah kolam ikan. Satu di depan yang dihuni oleh para

Koi, yang lain dibelakang. Ini incaranku. Kolam untuk perut. Pancing,

goreng, buat sambal dan…. sikaaaaattt..

Tetapi walaupun memancing di kolam sendiri, ternyata perkara ini tidak

semudah perkiraanku. Sudah sepuluh menit aku bengong disini. Aku dan

bambu kecil melengkung ini. Namun belum ada seekor bayi ikanpun

berhasil diseret keluar. Agak memalukan memang. Ikan-ikan ini

sepertinya tidak dapat dipandang sebelah mata.

“Coba perhatikan umpannya”, teriak ayahku sambil tersenyum. Tak tahan

menonton adegan itu lama-lama. Umpan ? Oke..saran yang patut didengar.

Kuangkat pancingku keluar dari air. Ternyata ia benar. Cacing pucat,

yang bergantung loyo itu sudah bergeser dari mata pancing. Mata

kailnya tidak tersamar lagi, ujung runcingnya terlihat jelas menyeruak

keluar. Pantaslah. Ikan manapun tidak akan dengan sengaja menggigit

besi itu tanpa alasan. Kecuali kedua matanya jereng.

”Perlu kesabaran dan kreatifitas…”, kata ayahku untuk kedua kalinya.

Hasilnya mulai tampak ketika aku menuruti nasehat itu. Strike !!

Seekor ikan berukuran sedang berhasil kudapatkan. Satu persatu, besar

dan kecil, walau kadang ada yang terlepas. Keadaan yang tadinya

menjemukan kini berubah jadi asyik.

Sepuluh-limabelas menit berlalu, sekonyong-konyong sejumput pemikiran

singgah. Bagai sebuah wangsit dari Mbah Jambrong penghuni alam antah

berantah. Sebuah pertanyaan naïf. Apakah rejeki dalam hidup seperti

ini juga. Seperti memancing ikan di kolam sendiri. Biar kuperjelas

maksudku. Seperti rejeki yang sudah ada ketika kita lahir kedunia,

ikan-ikanpun sudah tersedia disini. Satu-satunya yang diperlukan

adalah menjemputnya. Menjemput yang sudah ada.

Tetapi persoalannya memancing ikan di kolam sendiri tentu berbeda

dengan memancing ikan bersama-sama orang lain di sebuah pemancingan

ikan. Yang satu adalah one to one, yang lain many to one. Yang satu

merupakan urusan pribadi masing-masing pemancing dengan kolamnya

sendiri, yang lain keroyokan menjarah satu-satunya kolam yang ada.

It’s doesn’t’ take a genius untuk menyadari, bahwa memancing di kolam

pemancingan melibatkan satu kata yang kadang memunculkan benci tapi

rindu. Persaingan. Benci ketika kita jadi korban dan rindu ketika kita

adalah pemenangnya. Sebuah candu.

Dan hal ini menjadi mengerucut. Apakah memancing rejeki dalam hidup

seperti memancing sendiri di kolam pribadi ataukah memancing disebuah

tempat pemancingan ? Bagaimana jika seandainya yang benar adalah yang

pertama. Bahwa perkara rejeki sebenarnya adalah seperti memancing di

kolam sendiri. ? Dengan kata lain setiap orang –begitu ia lahir

kedunia- memiliki kolamnya sendiri-sendiri. Anda ya Anda, saya ya

saya. Kita tidak berkuasa menyerobot rejeki milik orang lain. Tidak

ada persaingan. Tidak ada pertempuran. Yang perlu dibangun adalah

kerja sama. Dengan kata lain, sebarkan ilmu memancing Anda kepada yang

lain, siapa tahu itu berguna untuk mereka memancing dikolam mereka

masing-masing !

Mungkinkah peta rejeki dalam hidup ini, tidak seperti kelihatannya.

Tak terhitung jumlah dokter, dosen, pengacara, photographer,

bisnisman, jamu gendong, tukang koran dan lain sebagainya. Jumlah

mereka tidak terlalu penting. Segalanya cukup untuk semua. Sebuah

refleksi dari eksistensi Sang Kahlik yang tidak terbatas pula.

Pencipta yang bertanggung jawab.

Jika wangsit Mbah Jamrong benar, berarti selama ini TUHAN diatas sana

pastilah menutup wajah dengan kedua tangan beliau. Malu hati. Manusia

yang diharapkan dapat membanggakan, untuk kesekian kalinya kembali

mempermalukan Nya dihadapan balatentara surga. Pastilah Beliau, sudah

begitu sering mengirimkan para malaikat untuk memberitahu kita sebuah

kebenaran tentang rahasia hidup. Tetapi bagaikan berbicara dengan

batu, ilmu itu kita abaikan. Manusia terlalu sibuk dengan kebenarannya

sendiri. Lebih bebal dari seekor keledai beban. Berarti juga, iblis

dan setan-setan kecil keponakannya telah begitu lama menyoraki kita.

Mereka berhasil menyakinkan kita betapa tidak cukupnya segala sesuatu

dalam hidup ini. Karena itu harus diperebutkan, harus saling meliciki,

harus saling menjegal.

Jika ini benar berarti teori-teori cerdas Blue Ocean Strategy dan

segala jurus memanangkan “pertempuran rejeki” akan segera menjadi

penghuni tempat sampah. Menggelikan.

Itu juga berarti perjalanan hidup tiga puluh tahun ini, aku lalui

dengan begitu bodoh. Betapa tidak dalam perjalanan hidupku, begitu

sering aku merasa terancam akan keberadaan “pemancing-pemancing lain”.

Ketakutan akan diserobot, kadang begitu menguasaiku, sehingga hidup

ini berubah tidak lagi indah.

Seperti kata pepatah tua : “Sebuah kebohongan jika cukup keras

disuarakan, oleh banyak orang dari waktu ke waktu lambat laun akan

dipercaya sebagai sebuah kebenaran.” Keluarga memunculkan ide itu

kepermukaan. Lembaga pendidikan membakukan dan masyarakat

memeliharanya. Lengkap sudah. Paradigma lomba pemancingan mungkin

sudah demikian berurat akar, sehingga kita sudah malas mencerna dan

dengan sagar menelan bulat-bulat semua itu.

Aku tentunya terlalu beliau untuk memutuskan mana paradigma yang

benar. Begitu banyak orang tua bijak yang sudah mengarungi hidup ini.

Tetapi merekapun belum tentu tahu kebenaran sejati tentang peta rejeki

didunia ini.

Mungkin hidup akan membuka rahasianya kepada kita kalau saja kita mau

mendengar. Jika saja kita dengan rendah hati meminta petunjuk kepada

DIA, yang menciptakan dunia ini dan segala isinya. Teringat sebuah

kalimat yang sering berkumandang ditelinga tentang : TUHAN adalah

seperti prasangka hamba-hambanya, atau dalam sebuah bahasa lain :

Jadilah kepadamu menurut iman mu !! Jangan-jangan bukan hidup yang

mempermainkan kita, tetapi kita para pencipta permainan. Yang

mempersulit hidup yang sebenarnya simple nan indah ini, yang kemudian

jatuh kedalam permainan kita sendiri.


"Life is one big road with lots of signs. So when you riding through

the ruts, don't complicate your mind. Flee from hate, mischief and

jealousy. Don't bury your thoughts, put your vision to reality. Wake

Up and Live! "(Bob Marley)
Diposkan oleh Semar Badranaya di 19:09 0 komentar Link ke posting ini
Tips Presentasi Ala Eyang Kakung
by MTA - Made Teddy Artiana


Seolah sedang menonton sesuatu dihadapannya, wajah dan mata Eyang

Kakung menghadap lurus kedepan. Mungkin sebuah film dokumenter raksasa

tengah dibentangkan disana. Eyang penonton satu-satunya film itu.

Sesekali ia tersenyum lalu menundukan kepala. Kadang pula bibir itu

bergetar. Sementara mata tuanya terlihat meredup, berair berkaca-kaca.

Entah apa yang ia lihat disana, hanya ia yang tahu. Yang jelas,

pemandangan ini sangat menakjubkan bagi ku. Aku kerap kali berpikir,

apakah nanti jika umurku sudah sampai di penghujung batas, aku dapat

melakukan hal yang sama. Apakah nanti ketika seseorang –apakah ia anak

atau cucu- menanyakan kenangan masa mudaku, aku bisa seperti Eyang,

bercerita sambil menonton kembali episode kenangan lama.

Eyang kakung(alm) bukanlah seorang ahli bercerita. Apalagi bahasa yang

digunakannya, biasa saja. Sama sekali tanpa kekuatan sastra. Tekanan

irama yang dipakainya pun tidak terlalu istimewa. Tetapi aneh, ketika

ia bercerita, aku bisa membayangkan adegan-peradegan yang terjadi.

Bahkan lebih dari itu, kepalaku sanggup merekam, hampir semua detail

ceritanya. Apa yang membuat cerita itu begitu kuat tertanam di hatiku.

Berbulan-bulan lamanya, pertanyaan ini tetap tinggal sendirian tanpa

sebuah jawaban. Akhirnya pertanyaan ini terlupakan. Terbenam di alam

bawah sadar. Hingga suatu saat yang ditunggu datang menghampiri.

Menyaksikan adegan ini di sebuah stasiun televisi swasta - kalau mau

jujur- agak menjengkelkan. Betapa tidak, adegannya selalu seperti itu.

Pembawa acara bertanya kepada seorang nara sumber, dan ketika nara

sumber menjawab, si penanya, pada saat bersamaan, justru menimpali

jawaban itu. Padahal sang nara belum selesai memberi jawaban. Maka

terjadilah dua orang itu berebutan bicara. Berisik, nyerocos nggak

karuan. Debat presiden Amerika juga nggak segitunya. Akhirnya jawaban

yang ingin didengar oleh pemirsa, hanyut tertelan suara si pembawa

acara. Harusnya ia tampil sendiri. Bertanya dan menjawab seorang diri.

Entah apa yang ingin dikesankan oleh si pembawa acara. Apapun itu yang

aku tahu ujungnya justru tidak mengesankan. Mirip dengan salesman

property yang kami temui dikantornya beberapa waktu yang lalu. Entah

karena tekanan target atau begitu bernafsu mengclosing transaksi. Ia

berbicara -demikian fasih, dengan nada suara yang menarik,-

menjelaskan ini itu dengan begitu lengkap, dengan bumbu istilah-

istilah canggih. Presentasi mutakhir. Sayangnya, ia tidak memberikan

kesempatan kami untuk memikirkan ucapan-ucapannya. Terlalu lancar dan

lupa berhenti. Pernah lihat seorang motivator berbicara dengan begitu

bersemangat, bermaksud menggugah emosi audiens dengan suara membahana

laksana halilintar, tanpa henti memberondong kita dengan vitamin

motivasinya ? Pasti pernah. Ketiganya setali tiga uang alias sami

mawon.

Tidak diragukan lagi, mereka adalah orang-orang cerdas yang luar

biasa. Tetapi kadang mereka lupa, tidak semua orang yang menjadi lawan

bicaranya secerdas dia. Berapa banyak sih kalimat yang sanggup kita

cerna dalam satu menit ? Apakah pikiran kita sanggup dengan sempurna

menangkap pembicaraan sekaligus mencernanya dalam waktu yang

bersamaan. Bukankah kalimat-kalimat yang luar biasa brilian itu akan

tumpang tindih nggak karu-karuan di buffer kita, sementara pikiran

kita kerepotan untuk membayangkan, apalagi mencerna semua itu. Persis

seperti nasi sepiring yang seluruhnya dimasukkan kedalam mulut kita.

Atau sama repotnya dengan orang yang belum memakai celananya dengan

benar, dan dipaksa untuk berlari saat itu juga. Atau membaca kalimat

panjang tanpa koma atau titik. Akibatnya ? Kelelahan. Lupa. Pikiran

ngelantur. Kehilangan minat. Akhirnya …Ampuuunnnnnn Dj !!!!

Sebuah “jeda yang terlupakan”. Aku rasa, Inilah jurus pamungkas yang

dipakai Eyang Kakung pada saat bercerita. Ia selalu saja, berhenti

berbicara setelah kira-kira 4-5 untaian kalimat selesai diucapkan.

Entah itu kebetulan atau bukan yang jelas, dengan berdiam sejenak

membuat kalimat-kalimat Eyang, bisa meresap lebih dalam di relung hati

ini. Buat kita yang terbilang sering melakukan presentasi dihadapan

client, jeda alias diam beberapa saat terbukti efektif. Paling tidak

untuk mengamati “feedback” bahasa tubuh atau ekspresi lawan bicara

anda. Selebihnya, jeda juga berguna untuk dapat memberikan ruang yang

cukup bagi lawan bicara untuk berpikir, mencerna dan membayangkan ide

-ide yang kita ingin sampaikan kepadanya, bahkan mungkin kesempatan

bertanya. Logis dan it's so simple !! Sayangnya kebanyakan dari kita

hanya diajari bagaimana untuk mengesankan lawan bicara, saking pengen

bagusnya sehingga kita lupa untuk belajar diam. Percayalah, jeda

sejenak dalam pembicaraan atau presentasi Anda lebih akan menghasilkan

daripada nyerocos tanpa rem, dan akhirnya menabrak dinding. Saya sudah

membuktikannya.

“He who does not know how to be silent will not know how to speak.”
Ausonius
Diposkan oleh Semar Badranaya di 19:06 0 komentar Link ke posting ini
Emang Enak Jadi Orang Kaya
by MTA (Made Teddy Artiana)
photographer, graphic designer & profile developer


Istimewa sessi photo prewedding kali ini. Rencananya kami akan

melakukannya di pulau yang 2 jam jauhnya sepelayaran. Bukan kali

pertama ini aku berlayar untuk sebuah pemotretan. Tetapi inilah

pertama kali bagiku untuk preweding disebuah pulau, yang terletak di

gugusan Kepulauan Seribu sana, dengan menggunakan kapal mini yang

begitu mewah dan berangkat dari sebuah rumah tinggal yang mirip

dermaga, yang kesemuanya adalah milik client kami. Milik pribadi.

Iseng bertanya pada salah seorang crew kapal tentang berapa harga

kapal ini..aku pun mendapatkan jawaban yang sudah kukira sebelumnya.

“10 M, Pak” katanya tersenyum. Aku mengangguk-angguk. Tak meleset

lagi. “Ada empat lagi Pak didermaga rumah ? Malah yang lebih besar”,

sambungnya kembali, kali ini dengan tertawa kecil. Dan aku

membelalakkan mataku lebar-lebar. Sebuah pulau, rumah dermaga, lima

buah kapal dan tiga buah jet sky –yang masing-masing seharga satu

mobil honda Jazz- itu baru yang kuketahui. Aku merasa sudah cukup

bertanya, tidak ingin tahu lebih banyak.

Mereka berdua memang pasangan istimewa. Keduanya berasal dari keluarga

luar biasa. Pengusaha sukses. Calon mempelai laki-laki mengelola

sebuah perusahaan telekomunikasi dan networking, sedangkan yang

wanita, seorang dokter muda, yang mempunyai rumah sakit dengan namanya

sendiri, dan sedang melanjutkan sekolah dokter spesialis !! Lengkap

sudah. Pasangan serasi. Muda, berbakat, sukses, cerdas, dari keluarga

terhormat dan saling mencintai. Keadaan yang diinginkan siapapun yang

waras otaknya. Mengagumkan. Tetapi yang membuat ku lebih terkagum-

kagum adalah justru peranan orang tua mereka. Betapa tidak, dalam

limpah ruah harta kekayaan itu mereka, orang tua kedua pasangan ini,

berhasil menanamkan kekuatan yang demikian kepada anak-anak mereka dan

mengarahkan anak-anaknya sehingga menggunakan gelimang harta kekayaan

itu dalam jalur-jalur yang benar.

Itu tidak mudah. Sangat amat tidak mudah !!! Bukan jenis keberuntungan

yang sekonyong-konyong turun dari langit, melainkan pencapaian luar

biasa berat dan mengarungi waktu yang pastilah demikian panjang. Kita

semua tahu harta kekayaan adalah pedang bermata dua. Ditangan yang

tepat akan mendatangkan kemaslahatan, sedangkan jika tidak, akan

berbalik mengancam, mengejar dan akhirnya menikam mereka yang tidak

cuku ilmu dan hati dalam menggenggamnya. Tak terhitung jumlahnya orang

tua yang terbenam dalam kekayaan, sehingga lupa bagaimana mendidik

anak-anak mereka. Mudah ditebak, anak-anak itu kemudian berubah

menjadi monster setelah dewasa. Manja, menghamburkan uang, menyusahkan

orang tua dan membawa bencana buat orang sekitarnya. Pendeknya

melakukan segala perbuatan yang dilakukan oleh orang yang tempurung

kepala dan hatinya nya kosong melompong. Karena semakin kaya kita,

semakin banyak yang kita lihat, semakin luas keinginan, semakin

beragam godaan dan semakin banyak peluang yang menari-nari dipelupuk

mata.

Keadaan ini kontras jika teringat dulu ketika masih kecil, bersama

kedua orang tua dan kakak, kami tinggal dalam sebuah rumah sederhana

di komplek pegawai negeri sipil. Seolah membandingkan pedati tua

pengangkut jerami, dengan Ferarry. Tetangga kami, mereka miskin,

begitu miskin. Keadaan mereka sangat menyedihkan. Bapak, ibu dan anak

-beranak itu tinggal berdesakan disebuah rumah reot yang sewaktu-waktu

bisa saja rubuh tanpa sebab apapun sebelumnya. Bapaknya hanya pesuruh

kantor berpenyakit cacing pita yang kronis. Ibunya penjaga sepetak

kebun bayam, yang juga sakit-sakitan. Sementara anak-anaknya, agak

berbeda. Petantang-petenteng laksana anak Camat yang baru saja menjual

tanahnya berhektar-hektar. Begitu sering kudengar orang tua mereka

mengeluh tentang anak-anaknya. Sayang anak-anaknya tak mendengar

rintihan itu. Mungkin saja mereka mendengar, tetapi sesegera itu

melupakannya. Kempat anak itu punya track record berbeda, meskipun

punya satu hal yang merupakan kesamaan dari keempatnya. Sama-sama

punya kepala tetapi tanpa otak. Anak yang pertama, tak jelas

juntrungannya. Anak kedua menghamili teman sekelasnya ketika SMP, dan

akhirnya menikah. Anak ketiga, berprofesi sebagai preman, dengan tatto

disekujur badan. Anak yang keempat, masuk keluar diskotik, bahkan

dengan uang SPP utangan tetangga yang seharusnya dibayarkan ke

sekolah.

“Kalau mereka ayam”, kata Si Bapak disuatu kesempatan padaku,”sudah

dari dulu saya jual !!”. Anak orang melarat, bodoh, angkuh dan bejat

kelakuannya. Orang tua yang begitu terluka. Sampai saat ini aku masih

bertanya-tanya apakah keadaan mereka disebabkan karena kemiskinan.

Rasa tidak. Aku punya selusin kawan yang berada dalam kondisi

kemiskinan serupa tetapi pandai dan berbakti pada orang tua mereka.

Jadi kedua hal ini nampaknya tidak berbanding lurus.

Disebuah kesempatan peluncuran Buku Kedua Bob Sadino di Gramedia, dan

kebetulan diundang oleh Si Om dan penerbit. Aku menyaksikan adegan

yang aku anggap lucu. “Apa resepnya supaya sukses dan kaya raya

seperti Om Bob ?”. Pertanyaan klise ini begitu sering muncul sehingga

aku sudah agak bosan mendengarnya. Aku yakin benar Si Om juga sudah

muak menjawab hal itu. Herannya pertanyaan ini keluar dari seorang

pembantu dekan disebuah perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta.

Reaksi Om Bob, tampak tersenyum mengejek. “Kamu kira enak jadi orang

kaya !!! Belum rasa diaaaa..””, jawab beliau lantang, kemudian menoleh

kearah kami yang berada dibelakang beliau. Tak jelas maksud “tolehan”

tadi. Kami yang berdiri dibelakang Om Bob ini, belumlah kaya. Tak jauh

bedanya dengan sang penanya. Masih terus berusaha untuk jadi kaya.

Sangat jauh dari level Om Bob. Tolehan ini membuat kami kikuk. Mau

tersenyum, takut disangka kaya beneran. Kalau bengong, malah dimarahi

Om Bob, karena tidak mendukung. “Nanti kamu rasa..bahwa kaya itu nggak

enak !!!”, jawab Om Bob singkat mengetahui kebingungan team pendukung

beliau.

Adegan itu bermakna cukup dalam bagiku pribadi. Setidaknya tentang

kekayaan. Paradigma kekayaan itu bermetamorfose saat itu. Dari sebuah

syarat –center of point- menjadi sebuah perjalanan. Dari sebuah

kesenangan belaka, menjadi sebuah amanat. Aku rasa ada sebuah tanggung

jawab yang berat dalam gunungan harta kekayaan itu. Bagaikan mendapat

sesuatu tetapi harus kehilangan sesuatu. Mendapat harta, tetapi

kehilangan…entahlah. Yang jelas, diperlukan hati dan otak yang cukup

untuk menggenggam kekayaan. Tanpa itu, hampir pasti kekayaan akan

berubah menjadi racun yang mematikan. Tetapi ini hanya hipotesa ku

saja. Karena aku toh belumlah sampai digerbang itu. Nampaknya kekayaan

juga sangat relatif dan selalu berada didepan. Ia menempatkan diri

sedemikian rupa sehingga selalu dalam posisi untuk dikejar. Ada garis

start, tetapi memiliki garis finish. Yang mendapatkan sedikit akan

terus berusaha mendapatkan lebih banyak, sedangkan yang mendapatkan

banyak, tetap akan mengejar yang lebih banyak lagi. Demikian

seterusnya..selalu..dan selalu…Jika demikian nampaknya definis

kekayaan diotak kita harus mengalami pencerahan, karena jika tidak

sepertinya diri kita, istri, anak dan keluarga dalam bahaya. Karena

jangan sampai kita “kehilangan hidup” justru dalam usaha pengejaran

kita yan begitu bernafsu terhadap kekayaan dan kesuksesan.

Jika demikian judul diatas “Emang Enak Jadi Orang Kaya” dapat

mengalami penafsiran berbagai macam, sesuai tanda bacanya. Jika kita

membubuhi tanda tanya :”Emang Enak Jadi Orang Kaya ?”. Menjadi sebuah

pertanyaan yang mungkin dilontarkan oleh orang yang belum kaya dan

sangat ingin kaya. Jika dibubuhi tanda seru : “Emang Enak Jadi Orang

Kaya !”. Cocok untuk OKB (Orang Kaya Baru), yang belum lama berubah

jadi kaya. Yang aneh jika dibubuhi tanda baca tanya dan seru sekaligus

: “Emang Enak Jadi Orang Kaya !!??”. Sepertinya ini diucapkan oleh

mereka yang sudah demikian kaya raya, dan akhirnya memandang sebuah

kekaayaan sebagai sesuatu beban yang cukup menyusahkan.

***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 19:04 0 komentar Link ke posting ini
Persamaan TUHAN dan Jas Hujan
Persamaan TUHAN dan Jas Hujan
by MTA (Made Teddy Artiana)
photographer, designer & profile developer


“Jangan bawa-bawa TUHAN, Mas !” bentaknya dengan nada jauh dari

bersahabat,”ini bisnis Pak…TUHAN itu tempatnya dirumah ibadat !!”.

Wanita muda modern ini jenis orang yang suka sekali berdebat. Menutupi

kesalahan sendiri dengan membolak-balik kata. Mencari secuil apapun

kesalahan lidah lawan. Menghujamkan kata-kata pedas dengan begitu

bernafsu. Memojokkan lawan bicara sedemikian rupa, membuat nya merasa

begitu genius. Rasanya ia lebih pantas menjadi seorang pengacara

dibandingkan seorang ibu rumah tangga. Dan jika diperhatikan lebih

jauh, nada suara, intonasi yang digunakanpun agak ganjil. Terlalu

dibuat-buat. Naskah banget. Tidak jarang membuat bulu kuduk berdiri,

karena risih. Wanita muda ini mungkin banyak menghabiskan waktunya

dengan menonton televisi, cara ia berkata-katapun jadi mirip adegan

sinetron. Calon pengacara yang gagal, karena kebanyakan nonton

sinetron. Dan kini lawan bicaranya yang walau jujur tapi gagap karena

terpojok tak dapat berdalih apapun selain : “Demi TUHAN”. Ternyata dua

kata ini membuat wanita tadi meradang. Tembok yang tampak tinggi kokoh

dan mengesankan kemegahan itu ternyata begitu mudah runtuh dengan

sekali senggol.

**

“Cari selimut yuk..Made”, kata seorang sahabat, yang kebetulan

berprofesi sebagai motivator. “Bukannya di kamar ada selimut, Pak ?”,

sahutku tidak mengerti. “Wah..wah..wah..dasar anak muda gak gaul, kok

nggak ngerti..selimut hidup..ha..ha..ha..”, jawab salah satu rekannya

sambil tertawa. Keningkupun berkerut. Apa nggak salah dengar. Baru

saja ia bicara soal keutuhan keluarga. Soal istri yang setia menemani

saat-saat kebangkrutannya. Soal anak-anak yang menjadi semangat juang.

Soal keluargaku yang menjadi sorga ku didunia…dan sebaginya..dan

sebagainya. Secepat tanah kering melenyapkan gerimis, secepat itu juga

teori-teori moralnya lenyap disela-sela gigi. Meskipun gigi itu belum

kering. Kalau motivatornya begini, bagaimana dengan yang dimotivasi..

Baru sepuluh menit sessi seminar berakhir, karakter asli pun –tak

tertahan lagi- muncrat kepermukaan. Siluman jadi-jadian. Seperti kata

pepatah : babi berbulu merak !!!

**

Sang Ayah adalah seorang tokoh spiritual terkemuka dikomunitasnya.

Gelar jabatan formal seorang pemuka agama terpampang jelas menambah

panjang nama orang itu. Wajah dan penampilan beda tipis dengan para

nabi jaman dahulu kala. Kini anaknya akan menikah. Acara resepsi

outdoor yang cukup mewahpun akan digelar. Segalanya sudah disiapkan

dengan seksama. Tinggal satu hal yang ia anggap belum tersedia.

Sesuatu yang amat kritikal. Ia sangat mencemaskan hal itu. Dalam

setiap meeting keluarga dan panitia, “sesuatu” itu selalu mendapat

penekanan khusus. Sesuatu itupun membuatnya susah memejamkan mata

diwaktu malam. Pawang Hujan. Ia mencari seorang pawang hujan yang

cukup sakti untuk menangkal hujan guna mensukseskan resepsi ini. Tidak

perduli berapapun permintaan dan sesajen yang dibutuhkan, Pawang hujan

itu pasti akan menerimanya. Cukup mengejutkan. Bahkan seorang anak

kecil loper koran gelandangan yang mungkin belum pernah melihat wujud

kitab suci pun ketika langit mendung, berbisik : “Ya TUHAN semoga

hujan jangan turun dahulu.” Kini seorang tokoh agama, yang nyaris

hafal isi kitab suci dan sanggup menerangkan hukum-hukum agama yang

begitu keriting, tiba-tiba saja dapat lupa, jika atas seijin TUHANlah

hujan turun membasahi bumi. Dengan bibir mengumandangkan nama-Nya,

tetapi dengan logika sempit membuang keberadaan-Nya ke tong sampah. Ia

yang tampaknya paling dekat, ternyata berdiri terlalu jauh untuk

mengenal Boss-nya sendiri.

**

Sebagian besar dari kita tentunya tahu dan pernah mencoba seperangkat

jas hujan. Apapun bentuk dan warnanya, menggunakan jas hujan bertujuan

sama. Agar tidak kehujanan. Kalau mau jujur, sebenarnya menggunakan

jas hujan tidak membuat kita nyaman. Gerah, berisik dan membuat

penampilan kita jadi aneh. Batman bukan, Superman apalagi. Belum

pernah ada seorang yang merasa bertambah sexi, ganteng, macho pada

saat menggunakan jas hujan. Yang ada mesti ngedumel….”grrrrhhh hujan

deh..yah terpaksa harus pake nih..”. Dan belum pernah saya jumpai ada

orang yang dengan begitu riang gembira menggunakan jas hujan, pada

saat hari demikian cerah. Kecuali orang itu rada-rada, atau bisa jadi

seorang caleg gagal. Memang begitulah nasib jas hujan. Digunakan jika

dan hanya jika berada dalam keadaan sangat terpaksa. Kemudian buru-

buru dilepas, jika sudah tidak perlu.

Jika kita amati bersama-sama ternyata TUHAN bernasib mirip dengan

seperangkat jas hujan dalam kehidupan kita. Diingat jika terpaksa dan

sebisa mungkin tidak kita harapkan untuk digunakan. Tiga contoh cerita

diatas hanya secuil contoh nyata, dimana TUHAN dikesampingkan

keberadaannya. Tragis, walaupun nyata. TUHAN yang merupakan pencipta

dunia ini hanya disisakan kavling tersempit dalam hidup kita. Itupun

jika tersisa. Who’s The Boss ? Dan jika kita ingat. Dia yang adalah

pemilik kehidupan sekaligus nyawa kita, dikesampingkan sedemikian rupa

seolah bukan siapa-siapa. Pencipta mata, telinga, dan seluruh indera,

dianggap buta, tuli dan tidak dapat berbuat apa-apa. Yang “begituan

itu” tempatnya di gereja, mesjid, pura, wihara dan lain sebagainya,

diluar itu jangan bawa-bawa Tuhan deh… Kita, Anda dan Saya semakin

pandai mengklasifikasi mana daerah yang pantas buat Dia, mana daerah

yang harus disterilisasi dari keberadaan Dia. TUHAN gak mungkin

menyeberang ke areal bisnis, nggak matching. Tahu apa TUHAN soal

bisnis !! Begitu kira-kira. Dirumah ibadah tampak demikian luar biasa

saleh. Bahkan penampilan dan ekspresi kitapun membuat para Malaikat

minder. Diluar ? sikut sana sikut sini, fitnah sana sini, jilat sana

sini, sogok sana sini, selingkuh sana sini. Mempersulit demi duit.

Entertain dengan perempuan. Ganas, peras, jebak, gebuk, habisiiiin.

Dalam hal ini, jangankan orang, setan aja ngeri melihat melihat ulah

kita !! Gilanya ini semakin kita anggap sebagai sebuah kelaziman dalam

dunia yang modern. Semua juga begini, begitu mantra yang sering kita

ucapkan untuk menenangkan diri. Jujur ? Ahhh come on man..be real..!!!

Ada sebuah kalimat dari Mario Teguh yang sangat berkesan bagi saya

pribadi sapai sekarang ini. “Sesungguhnya jalan kebaikan ada milik

TUHAN. Dan orang yang berjalan didalamnya, sebenarnya sedang berjalan

bersama TUHAN. Karena itu berjalanlah dalam jalan-jalan kebaikan.

Kemudian perhatikan apa yang terjadi”. Yang paling saya sukai adalah

kalimat “kemudian perhatikan apa yang terjadi”. Memang tidak perlu

diragukan lagi, entah kita melibatkan Dia dalam kehidupan kita ataukah

tidak. Pastilah ada akibat yang begitu nyata yang dapat kita lihat dan

rasakan. Saya pribadi percaya, dan pengalaman hidup bertutur bahwa

semakin luas pengakuan kita tentang “keberadaan” Nya dalam kehidupan

kita, maka semakin kuat juga otoritas Nya dalam menjaga, melindungi

dan menjamin hidup kita. Dia bukan jas hujan, Dia adalah pemilik

tunggal bumi dan segala isinya, dunia dan segala peradabannya, seluruh

nyawa, seluruh hati, seluruh rizki, seluruh keberuntungan ada dalam

genggamanNya. Jika Ia membuka tidak akan ada yang sanggup menutup, dan

sebaliknya jika Ia menutup tidak satupun yang sanggup membuka.

Akhir kata, ada baiknya jika kita merenungkan kata-kata seorang yang

paling bijaksana yang pernah hidup dimuka bumi ini. Seorang raja yang

kaya raya, penyair luar biasa yang gubahannya dijadikan tuntunan hidup

orang banyak sampai sekarang ini. Dalam sebuah syair, beliau berkata

“Akuilah Dia dalam segenap lakumu, maka Ia akan meluruskan jalan mu”.

***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 19:02 0 komentar Link ke posting ini
Kamis, 30 April 2009
Anda Achiever Atau Sekedar Komentator ?

By Made Teddy Artiana, S. Kom
photographer, graphic designer, profile developer


Untuk persoalan yang satu ini Indonesia juaranya. Itu bukan opini saya

pribadi, tetapi sudah menjadi semacam rahasia umum bahwa kita, sangat

jago dalam hal itu. Anda bisa menemukannya tidak hanya dalam

pertandingan olah raga, dalam dunia politik juga banyak, bahkan di

dunia hiburan. Yang saya maksud adalah komentator alias tukang

komentar. Kita memang sangat jago dalam hal berkomentar. Contoh

sederhana, coba perhatikan pertandingan sepak bola luar negeri, Anda

akan saksikan betapa hebatnya para komentator Indonesia mengomentari

pemain-pemain dunia sekelas Ronaldinho atau Ronaldo. Seharusnya mereka

begitu, begitu, mengapa mereka tidak begini begitu…dst. Herannya

mereka dibayar untuk itu. Jika seorang motivator dibayar untuk

memotivasi, trainer dibayar untuk mentraining, dokter dibayar untuk

mengobati, photographer dibayar untuk memotret, komentator dibayar

hanya untuk berkomentar. Seakan tanpa komentator acara sehebat piala

dunia sekalipun, terasa hambar..ha..ha..ha..

It’s ok dengan para komentator bola, politik, bulutangkis,

pertandingan sulap atau nyanyi, karena jika kita tidak suka, kita

tinggal switch channel TV ketempat lain. Persoalan selesai. Tetapi

komentator yang berbahaya justru yang berada dikeseharian kita,

kantor, sekolah bisnis ataupun dunia bisnis. Setiap saat Anda dan saya

dipaksa untuk berhadapan dengan mereka. No where to hide. Jika di

dunia hiburan, politik atau olah raga, para komentator dibayar, di

dunia real mereka tidak dibayar. Greeetong ! Satu lagi, didunia real

para komentator akan nyeletuk, meskipun Anda dan saya tidak meminta

pendapat mereka sama sekali. Seakan-akan mereka mencari tempat untuk

menyalurkan hobby mereka itu.

Para komentator, sesuai sebutannya sering kali hanya doyan mengamati

dan mengomentari –biasanya yang buruk- tentang apa yang Anda dan saya

coba kerjakan dengan gagah berani. Betapapun besar perjuangan,

seberapa berat mengatasi perasaan takut, seberapa gugup Anda bertahan,

seberapa letih perjuangan, tidak akan mereka pedulikan. Hanya hasil

yang akan mereka komentari. Wajar. Mereka di tribun penonton,

sementara kita di arena pertandingan. Mereka menonton sambil

menggenggam ice cream, Anda dan saya berpeluh menahan haus. Pendeknya

kita di dunia nyata, mereka di awang-awang. Kita babak belur dihajar

resiko, mereka mandi bunga dengan teori-teori.

Anthony Robbin dalam bukunya Unlimited Power menulis demikian, “

Another attribute great leader and achievers have in common is that

they operate from belief that they create their world. The phrase

you’ll hear time and again is,”I am responsible, I’ll take care of

it”. (page 75). Itulah bedanya achievers dengan para komentator.

Komentator bebas lepas, tetapi achievers selalu siap bertanggung jawab

tanpa mencari kambing hitam.

Sering kali para komentator dunia ini membuat para pejuang yang

memiliki cita-cita menjadi ciut nyalinya. Mengapa ? karena komentator

sangat ahli menyatakan apa yang salah dari perjuangan kita. Itu

spesialisasi mereka. Menemukan apa yang salah. Dan kita sebagaimana

wajarnya seorang manusia, sangat takut untuk dituding “bersalah” atau

“gagal”. Siapa sih yang tidak takut terhadap kesalahan ? Dicap

demikian serta merta menggiring kita tontonan dan olokan sekitar.

Sementara secara psikologis itu sangat berpengaruh melucuti

kepercayaan diri kita. Kemungkinan besar menghentikan seluruh potensi

kreasi kita, dan langsung membuat kita beku, laksana mayat hidup.

Kapok.

Ada sebuah tips, yang sekarang ini terus menerus saya disiplinkan

sebagai sebuah “kebiasaan” dalam diri saya. Tips itu adalah, jangan

pernah memandang sebuah kesalahan sebagai kesalahan, tetapi sebagai

pelajaran. Kita melakukan A, mengharapkan hasil A, tetapi ternyata

menghasilkan B. Sebuah kesalahan ? No way ! Toh kita menghasilkan B,

hanya saja kebetulan yang kita harapkan adalah A, jadi mari kita ubah

usaha kita itu. Dengan begitu tidak ada istilah “sia-sia” atau

“failure”, yang ada hanya menghasilkan hasil yang lain.

Ndilalah..Anthony Robbin dalam buku yang sama, mengatakan hal yang

mirip juga. “Winner, leaders, masters –people with personal power-all

understand that if you try something and do not get the outcome you

want,it’s simply feedback. You use that information to make finner

distinctions about what you need to do to produce the result you

desire”. Tidak ada usaha yang sia-sia alias kegagalan, yang ada

hanyalah hasil yang mungkin bukan yang kita harapkan. Dan ini bukan

kesia-siaan karena setiap usaha pasti menghasilkan sesuatu, yaitu

pengalaman. Experience !! Disinilah bedanya pelaku dengan komentator.

Para pelaku entah apapun hasil dari usaha mereka, selalu akan mendapat

upah yang mahal berupa experience.

Ada lagi bagian dalam buku Anthony Robbin yang ingin saya share ke

Anda, rentetan kalimat yang saya anggap powerfull. “People who believe

in failure are almost quaranteed a mediocre existence. Failure is

something that is just not perceived by people who achieve greatness.

They don’t dwell on it. They don’t attach negative emotions to

something that doesn’t work” (page 73).

Itu khan bahasa Sansekerta, nah terjemahan bebasnya kira-kira begini.

“Orang-orang yang percaya pada kegagalan dapat dijamin biasa-biasa

saja keberadaannya. Kegagalan adalah sesuatu yang tidak dipersepsikan

oleh mereka yang mencapai hal-hal besar. Mereka tidak terpuruk pada

kegagalan. Mereka tidak mengaitkan emosi-emosi negatif pada sesuatu

yang tidak berhasil.”

Nah jika sekarang Anda sedang berada dalam keadaan bimbang tentang

sesuatu yang Anda perjuangkan atau mungkin berada dalam suatu

ketakutan yang sangat terhadap binatang bernama kegagalan. Anda tidak

sendirian. Jutaan pejuang seperti Anda, yang dengan gagah berani

berjuang demi cita-cita mereka sedang bertarung juga persis seperti

Anda, termasuk Saya. Mari kita nikmati proses pembelajaran ini, no

matter what will come as a result. Menutup tulisan panjang ini sebuah

humor yang saya dapatkan dari seorang tukang taxi, tentang perbedaan

reporter bola indonesia dan reporter luar negri.

Kalau reporter luar negri, karena sadar bahwa pemirsa juga sedang

menyaksikan apa yang dia saksikan, sedikit ngomongnya. “Ronaldo………

Sebastio………Kaka…”. Pokoknya yang komentarnya yang penting-penting

saja, karena toh sama-sama sedang nonton. Tetapi reporter bola

Indonesia beda banget. Sang reporter merasa cuman dia yang lagi nonton

yang lain gak punya TV !! “Bambang menahan bola dengan kaki kanannya,

kemudian digiring sejenak, mencari teman dia. Kemudian bola dioper ke

Morales. Hampir meleset. Kini bola di Morales, mencari kawan terdekat.

Ambil inisiatif penyerangan. Disana ada Aliyuddin. Agak ragu Morales,

coba memainkan bola sendiri. Lawan datang menghampiri,bergumul mereka.

Akhirnya bola dioper ke Aliyuddin. Hati-hati Ali. Dengan cepat

Aliyuddin menggiring bola maju kedepan berhadapan dengan kiper lepas

tembakan Gooooolllllll….”

***


Diposkan oleh Semar Badranaya di 04:45 1 komentar Link ke posting ini
Pelajaran Dari Raccoon “Culun”
by MTA (Made Teddy Artiana)
photographer, graphic designer & company profile developer


Anda tahu Rakun ? Bukan..bukan makanan ! Apaa ? Wah bukan..yang di

leher itu mah jakun ! Rakun itu binatang. Jika Anda penggemar kartun,

sepertinya Anda paling tidak pernah melihat bentuknya lewat film

keluaran Disney.

Raccoon dengan nama latin Procyon Lotor, adalah binatang yang punya

kampung halaman di Amerika Utara sono. Memiliki ukuran panjang antara

41-71 cm dan berat badan 3,6-9 kg. Mamalia yang satu ini memang unik,

selain bentuknya yang merupakan penggabungan tupai, kucing dan musang,

beberapa fakta mengenai binatang itu sangat menarik. Aku sendiri baru

mengetahuinya ketika iseng menonton sebuah film satwa yang diproduksi

oleh salah satu stasiun TV asing. Nah mari kita mulai…

Pertama, ia termasuk binatang yang enggan berenang, tetapi jika

diperlukan ia adalah perenang yang tangguh. Saking tangguhnya Raccoon

sanggup melawan derasnya arus sungai. Kedua, indra penglihatannya

kurang baik. Beberapa ahli malah membuktikan jika Raccoon sebenarnya

buta warna. Tetapi jika sedang berburu, ia dapat menangkap makanan

yang jaraknya demikian jauh. Bukan lewat matanya, tetapi dengan

menggunakan indra pendengarannya. Kemudian ketiga, Raccoon termasuk

binatang yang mencari makanan dekat dari sarang. Tetapi jika makanan

disekitarnya sudah habis, Raccoon dapat berjalan hingga tujuh mil

untuk mendapatkan makanan dan kembali lagi kesarangnya ! Keempat,

untuk tempat tinggal biasanya Raccon memanfaatkan celah atau sarang

yang sudah ada, tetapi jika tempat itu tidak ditemukan. Maka ia akan

membuat sendiri sarangnya dengan tangannya yang luar biasa. Kelima,

sebenarnya Raccon punya habitat di mixed forest, tetapi karena

penebangan hutan, area hutan mulai terbatas. Anehnya itu tidak membuat

Raccoon punah, malah sebaliknya. Raccoon dapat hidup di mana saja.

Pegunungan, ladang, pantai bahkan perumahan penduduk. Sudah berapa

tuh..? Oke ini yang keenam. Raccoon sebenarnya adalah pemakan

serangga, tetapi jika menu makanan yang satu ini habis. Ia bisa makan

apa saja, dari mulai ikan, burung, kulit kayu, hingga dedaunan.

Mengagumkan bukan ?

Ngemeng-ngemeng soal Raccoon. Pikiranku langsung bercermin. Jika

Raccoon didesign sedemikian rupa sehingga mampu mengatasi apa saja

“permasalahan” hidupnya. Bagaimana dengan kita, manusia. Puncak dari

segala ciptaan Sang Khalik. Manager sekaligus Pemimpin yang diserahi

kekuasaan atas binatang dan seluruh kekayaan alam bumi ini. Pasti nya

kita didesign jauh lebih dashyat dari seekor Raccoon. TUHAN pasti

sudah memperlengkapi kita dengan segala perlengkapan 1000 kali lebih

hebat dari mahluk manapun juga dimuka jagat ini. Kalau Raccoon

diperlengkapi dengan kemampuan fisik dan insting yang mengagumkan,

untuk kita pastilah Ia sudah melengkapi kita dengan benih ilahi. Wong

kita ini special pake telor kok !! Tinggal bagaimana kita menyadari

dan memanggil keluar kekuatan ilahi yang tertanam dalam diri kita.

Seperti halnya Raccoon kemungkinan besar kemampuan luar biasa itu bisa

muncul kepermukaan jika “ditrigger” oleh permasalahan hidup.

Kesulitan-kesulitan membuat “kuasa” itu mencuat kepermukaan. Jika itu

benar, berarti kita harus mengubah sikap dan pandangan psikologis kita

terhadap sebuah persoalan. Persoalan, kesulitan dan tantangan bukan

musuh, melainkan guru, yang akan membuat kita menyadari betapa

hebatnya kita didesign oleh Sang Pencipta. Manusia selalu jauh lebih

dahsyat dari persoalan hidup apapun !! Segala hormat hanya bagi Dia,

yang bersemayam dalam kekekalan, dari selama-lamanya sampai selama-

lamanya.

Sebagai penutup. Ada kejadian lucu yang aku alami sendiri waktu kecil,

yang mungkin dapat dijadikan sedikit gambaran tentang uraian diatas.

Waktu itu lutut ini sering mengalami nyeri-nyeri terutama ketika

menjelang sore. Wah rasanya nggak enak banget. Setiap sore – terutama

jika musim hujan- orang tua ku harus menyiapkan botol berisi air panas

yang digunakan untuk mengkompres kaki. Benar-benar merepotkan.

Kebetulan ada seseorang yang menyarankan ku agar melatih kaki ini

dengan cara jogging teratur. Saran yang waktu itu aku pikir lebih

mirip sebuah ledekan. Boro-boro lari, jalan aja linu ! Waktu berlalu.

Dan terjadilah sesuatu yang merubah semua itu. Aku memang terkenal

suka buah. Tetapi persoalannya buah itu didapat bukan dengan cara

membeli tetapi lewat “maling”. Suatu kali aku kena batunya. Pada saat

sedang mencuri mangga di sebuah taman kanak-kanak sebelah rumah,

keluarlah seekor anjing peliharaan yang pada saat itu kebetulan sedang

tidak dirantai. Bagaikan disambar petir rasanya. Tanpa mengeluarkan

tembakan peringatan alias gonggongan, Si Hitam segera berkelebat

kearah ku. Karena panik, aku segera berlari sekencang-

kencangnya.Tunggang langgang. Dan terjadilah kejar-kejaran yang sangat

seru antara “pencuri mangga” dan “penjaga mangga”. Beberapa yang orang

sempat memergoki adegan dashyat tapi memalukan itu, malah bertepuk

tangan sambil berteriak-teriak. Seolah sedang menonton pertandingan

lari tujuh belasan. Aseemm tenan !!! Cukup lama dan panjang rute yang

kami tempuh, dan Si Hitam tetap tidak sanggup menyusulku. Tiba-tiba

saja dalam waktu sepersekian detik, aku teringat pesan kakek bahwa

anjing takut jika kita berjongkok dan berpura-pura mengambil batu.

Tanpa memperhitungkan jarak antara aku dan Si Hitam, aku sekonyong-

konyong berjongkok mengambil batu sebisanya. Reaksi ku yang tiba-tiba

itu, tampak membuat Si Hitam gelagapan. Wajah sangar itu tiba-tiba

berubah kecut. Kaki-kakinya yang tadi begitu bernafsu memburuku

itupun, terlihat sibuk ngerem, “ngepot” kesana-sini sebisa mungkin,

kemudian ngibrit menjauhiku. Ini dia…it’s my turn..dengan refleks batu

ditangan segera ku ayunkan kearahnya. Ia terlihat semakin panik. Kini

adeganpun berganti “penjaga mangga” terbirit-birit dikejar “pencuri

mangga”. Supporter dipinggir jalanpun ngakak nggak karuan.

Ha..ha..ha..aku pemenangnya. Tetapi bukan itu intinya, setelah insiden

tidak berdarah itu, entah mengapa nyeri lututkupun berkurang. Dan

aneh, aku jadi suka jogging. Alhasil extrakurikuler yang kuikuti pada

saat SMP adalah atletik. Hal itu berlanjut, jadi ikutan berlatih

Taekwondo tiga kali seminggu, berenang disela-sela waktu luang karena

kebagian ticket gratis, bahkan jadi hobby naik gunung ketika SMA. Wah

kegiatan yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya olehku. Apa

jadinya jika waktu itu Si Hitam tidak mengejar aku. Mungkin sampai

saat ini aku tetap ditemani botol berisi air panas untuk mengkompres

lututku. ***


Diposkan oleh Semar Badranaya di 04:40 1 komentar Link ke posting ini
Selasa, 21 April 2009
Penyembuh Ampuh Bernama : “Keheningan”
by MadeTeddyArtiana
photographer, disegner & company developer


Berjalan tergopoh-gopoh menuju tali-tali jemuran. Tangan kanannya

terlihat menenteng seember cucian basah. Dengan benda putih kecil di

kedua telinga ia siap beraksi. Menjemur pakaian, seperti pagi-pagi

yang kemarin. Siti, ABG yang bekerja sebagai pembantu nyokap memang

susah dipisahkan dari benda itu. Earphone, memang hampir selalu

menemaninya bertugas. PRT jaman sekarang memang beda. Gaul, baca koran

dan melek teknologi. Serupa tapi tidak sama dengan adegan diatas.

Beberapa murid sekolah menengah dalam sebuah angkot. Pagi yang sibuk.

Bunyi klakson disana-sini. Perlombaan berangkat kerja yang membuat

kemacetan. Ada yang mengangguk-angguk kecil, yang seorang memejamkan

mata, yang lain memandang lurus kedepan. Phose boleh tak sama, tetapi

ditelinga mereka bertengger benda serupa. Lagi-lagi earphone, saudara

kandung handsfree. Benda bersuara dengan berujung handphone, walkman,

MP4 atau ipod dan sebagainya.
Yang satu ini sekarang bagaikan baju atau celana layaknya. Melekat

erat dikeseharian kita. Tidak sulit untuk menemukan orang berbicara

serius seorang diri di pinggir jalan. Bukan latihan drama, atau caleg

stress yang bermunculan saat ini. Urusan bisnis, hanphone dan

handsfree.Memang benda-benda itu sengaja didesign semakin kecil,

semakin ringan, semakin mobile dan semakin muat menampung apapun

didalamnya. Teknologi selalu mempunyai tujuan mempermudah, itu yang

semua orang cari. Tetapi mengenai efek samping, yang seperti ini tidak

banyak yang perduli.
Menyenangkan memang dapat mendengarkan lagu dimanapun kita mau.

Menghibur stress sekaligus tempat persembunyian dari “kesunyian” atau

“keheningan”. Memang kata yang satu itu sekarang hampir merupakan

binatang yang nyaris punah. Silence. Banyak orang tidak nyaman akan

kesunyian. Seandainya kita mau memperhatikannya, maka kita akan sadar

betapa jari-jemari ini akan begitu cepat meraih remote –apapun itu TV,

radio, tape- mencari “hiburan” untuk mengusirnya. Dan bagi sebagian

besar orang itu sudah menjadi sebuah kebiasaan. Sepanjang pagi kita

dihadang klakson, dan deru knalpot kendaraan bermotor, kemudian bunyi

telepon dan kesibukan kantor. Sore harinya –kembali lagi seperti itu-

bunyi klakson dan knalpot lagi. Dan setelah tiba dirumah : sinetron,

acara seru dan lagu-lagu. Dan berakhir ketiduran ditemani oleh cable

TV atau lagu-lagu MP3.
Kemodernan kerap kali mengusir kesunyian. Sehingga kesunyian buat kita

telah terlajur menjadi “setan lewat”. Mencekam dan ingin cepat-cepat

kita lalui. Memang dalam kesunyian pikiran kita akan terasa berbicara

demikian keras, mengaduk-ngaduk sang diri. Inilah yang seringkali

ditakutkan oleh sebagian kita. Tetapi seandainya kita bersabar, maka

kita akan belajar satu hal. Menenangkan pikiran-pikiran itu. Terasa

sulit untuk pertama kalinya, tetapi menentramkan dan menyembuhkan,

jika kita telah terbiasa.

“Know how to listen and be sure that silence often produces the same

effects as science”
-Napoleon Bonaparte-

Sejarah juga mencatat bahwa begitu banyak pencipta luar biasa yang

dilahirkan dari kesunyian itu. Sebut saja Thomas Alva Edison,

Beethoven, Helen Keller dan sederet tokoh lain sebagainya. Memang

ketulian, merupakan kesunyian yang ekstrim dan sebagian besar dari

kita mungkin tidak mengharapkan menjadi sebesar mereka. Tetapi paling

tidak kita adalah pencipta dunia kita masing-masing.

Kadang kita berpikir bahwa kebisingan dapat diusir dengan kebisingan

lain. Atau sekedar mengalihkan diri dari kebisingan yang tidak kita

sukai, kepada kebisingan yang kita sukai. Padahal kebisingan hanya

dapat ditenangkan oleh kesunyian. Bukan oleh cable TV, sinetron, lagu

-lagu atau riuh rendahnya mall. Dan kesunyian (baca : suara alam)

merupakan obat penyembuh alami yang sangat ampuh yang didesign oleh

Sang Pencipta. Kita tidak lagi peka terhadap suara alam.

“We need to find God, and he cannot be found in noise and

restlessness. God is the friend of silence. See how nature - trees,

flowers, grass- grows in silence; see the stars, the moon and the sun,

how they move in silence... We need silence to be able to touch

souls.”
-Mother Teresa-

Nah, kalau sekarang Anda merasa begitu penat, terlalu mudah marah,

sangat kuatir akan sesuatu atau dalam tekanan luar biasa. Matikan

sejenak handphone dan benda-beda berbunyi lainnya dan datanglah kepada

kesunyian. Dengarkan suara alam. Ternyata alam tidak pernah diam.

Suara kodok, jangkrik, gesekan pohon bambu, kicauan burung, rintik

hujan, gemericik air, deburan ombak, hembusan angin. Semuanya

berbicara dalam nada mereka masing-masing. Bukan kebisingan melainkan

kesesuaian yang dalam. Keharmonian.

Mulai dari sekarang, cobalah sisihkan waktu barang sepuluh menit

setiap harinya dalam keheningan. Pengalaman pribadi saya, efeknya

sangat luar biasa. Kesegaran, kreatifitas dan ketenangan. Vitamin yang

sangat cocok buat pekerjaan dibidang seperti saya ini. Tetapi jangan

percaya saya begitu saja, musryik. Anda harus mencobanya sendiri J.

Mumpung belum terlambat. Karena besar kemungkinan di generasi cucu

kita nanti suara jangkrik, burung dan kodok sudah jadi suara digital

belaka !!!

Ada sebuah kisah menggelikan. Seorang rekan kerja bersama anaknya

kebetulan datang kerumah diwaktu malam. Kami meeting di sebuah bale

bengong dihalaman rumah. Setelah beberapa saat lamanya, mungkin karena

sudah tidak sabar, si anak yang tengah duduk dibangku kuliah bertanya.

“Maaf Mas, itu suara apa sih, kodok yah ?”. Mamanya serta merta

menjawab. “Itu suara mp3...!!”. Kemudian memandangiku, “Iya khan Mas

?”. Kontan aku dan istriku tertawa. “Itu kodok beneran”, sahut

istriku. “Masak sih..?!!!” timpal mereka hampir berbarengan. “Kodok

liar kok..kadang-kdang mereka bulan madu kesini”, kataku. Akhirnya

kami menyempatkan diri untuk mengantarkan kedua anak dan ibu itu

menuju kolam kecil persis didepan teras rumah. Dan dalam remang-remang

itupun samar terlihat dua pasang kodok yang tengah ML…..making love

alias kawin !!

“Silence is a source of great strength.”
-Lao Tzu-

Diposkan oleh Semar Badranaya di 18:47 1 komentar Link ke posting ini
Senin, 13 April 2009
Yang Paling Penting Adalah “Anu” nya
by MTA – Made Teddy Artiana, S. Kom
photographer, designer & company profile developer


Kata “Anu” adalah satu-satunya kata dalam bahasa Indonesia –bahkan

mungkin di dunia- yang begitu unik. Selain sangat emosional, ia juga

sangat powerfull untuk membuat seseorang bereaksi. Paling tidak

tersenyum malu atau nyengir jahil. Entah siapa biang kerok dibalik

semua ini, sehingga kata “Anu” jadi sebegitu ngeseks-nya. Apalagi jika

ia digandeng oleh kata sifat. Makna emosionalnya menjadi begitu kuat.

“Anu nya besar banget”
“Anu nya memerah”
“Anunya aku sakit”

Dan seterusnya dan seterusnya. Begitu mengherankan, padahal kata “Anu”

dapat digantikan dengan kata apapun, teristimewa kata benda. Tapi

demikianlah adanya. “Anu” telah menempati sebuah wilayah di pikiran

kita yang ketika disebut, tanpa diragukan akan segera mentrigger

sesuatu yang bermuatan sangat-sangat emosional.

Hal yang sama terjadi juga dalam dunia bisnis. Karena sudah sangat

overload dengan informasi, kini perusahaan-perusahaan berlomba

mendesign merk, tagline dan symbol yang mampu menciptakan sebuah

muatan emosi tertentu. Dengan harapan jangka pendek, dapat menerobos

alam bawah sadar customer dan dalam jangka panjang, membuat kapling

permanen disana. Sehingga produk mereka dapat menarik perhatian, dan

akhirnya laku terjual.

“People don't buy for logical reasons. They buy for emotional

reasons.”
Zig Ziglar
Secrets of Closing The Sales

Fenomena ini oleh Marc Gobe disebut sebagai gejala emotional branding.

Dalam bukunya yang berjudul “Emotional Branding”, Gobe yang adalah

ahli dalam pencitraan identitas merek, berpendapat bahwa telah terjadi

kesalahan konsep terbesar dalam strategi branding. Branding selalu

dikaitkan dengan pangsa pasar, padahal branding sesungguhnya berkaitan

dengan “pangsa pikiran dan emosi”. Jadi suatu produk harus dapat

menciptakan sebuah dialog -emosi- yang personal sifatnya dengan

customer mengenai “sebuah isu yang paling menarik” bagi mereka.

"A brand should strive to own a word in the mind of the consumer."
Al Ries and Laura Ries
22 immutable law of branding

Uniknya, berdasarkan pengalaman kami mendevelop company profile,

kadang dibanyak perusahaan pengetahuan tentang “sebuah isu yang paling

menarik” atau “Anu nya” ini tidak tersebar merata dalam perusahaan,

bahkan kadang memang tidak ada sama sekali !! Sehingga dalam pembuatan

product profile atau company profile, pertanyaan kami tentang “Anu

nya” ini dijawab begitu general alias seadanya oleh manajemen. Alhasil

terciptalah sebuah company profile yang bagus secara visual, tetapi

kurang menggigit secara emosional.

Tetapi ada sebuah pengalaman menarik, pada saat kami tengah membuat

video profile bagi sebuah institusi berkantor pusat luar negeri yang

kegiatannya berkonsentrasi pada dunia anak. Manajemen nya waktu itu

memberikan kami tidak hanya clue bahkan sebuah panduan yang sangat

jelas mengenai, “Anu nya” yang harus diangkat kepermukaan. Mereka

begitu teliti, sehingga setiap sceene, warna, terang gelap bahkan

background song yang kami buat, dianalisa sehingga akhirnya dapat

bekerja sama sedemikian rupa, mendukung “Anu nya” mereka. Singkatnya,

pesan emosi yang mereka inginkan, sampai ke tujuan.

Sebagai penutup, untuk dapat kita renungkan bersama-sama, sebuah

komentar menarik dari J Mays, pecipta Volkswagen Beetle. “Manusia

memerlukan pelarian dan pengalaman yang berbeda dari kehidupan sehari

-hari mereka. Saya sering mengumandangkan analogi tersebut bersama

desainer-desainer mobil kami; kami tidak menciptakan mobil, kami

mencoba menciptakan pengalaman-pengalaman luar biasa.”

*** what a wonderfull world…an exciting journey !!!
Diposkan oleh Semar Badranaya di 19:33 0 komentar Link ke posting ini
Pelajaran “Hidup” Dari Kolam Renang
Pelajaran “Hidup” Dari Kolam Renang
by MTA – Made Teddy Artiana, S. Kom
email : teddyartiana_photography@yahoo.om


Pernah melihat bapak-bapak kursus privat renang ? Saya untungnya

sudah. Pagi ini, di kolam renang langganan kami. Dua orang lelaki

dewasa –bertubuh tinggi besar- masing-masing dengan pelatih mereka,

baru belajar berenang. Benar-benar menggelikan. Air bermuncratan

kemana-mana, belum lagi melihat wajah yang memerah, ekspresi ketakutan

yang kadang tampak serta dengus nafas mereka yang begitu jelas,

membuat mau tidak mau keduanya menarik perhatian. Tetapi yang paling

unik dari adegan tersebut justru para pelatihnya. Yang satu wajahnya

demikian serius. Saya berani bertaruh jika bertemu dengannya, Anda

pasti menyangka dia berprofesi sebagai guru matematika. Sejak duduk di

Sekolah Dasar hingga sekarang, wajah seserius dia, tidak pernah saya

jumpai di kolam renang.

“Kemaren,” cerita pelatih ini, ”saya habis ngelatih, PM (Polisi

Militer) berenang. Wah susahnya bukan main. Mana cuman punya target 2

minggu lagi. Padahal targetnya harus 25 meter. Saya sih sudah bilang

ke dia…’Pak mana cukup belajar berenang 2 minggu’…tapi ya kita coba

juga. Akhirnya hanya bisa 10 meter doang !!”.

Cerita perkenalan yang membuat down siapa saja yang baru berniat

belajar berenang. Tapi itu belum seberapa, cara berkenalan,

mengarahkan dan lain sebagainya, pelatih ini lebih mirip seorang

penyuluh mengenai bahaya flu burung. “Relaks…jangan kaku..santai saja

kakinya !!!!”, teriaknya dengan wajah yang sangat tidak familiar.

Tanpa senyuman. Hasilnya mudah ditebak, si murid bertambah gugup. Dan

mereka berdua lebih tampak bergumul, ketimbang belajar berenang. Asli,

lama-lama berada didekatnya membuat berenang menjadi sama sulitnya

dengan terbang !!!

Berbeda dengan yang pertama, pasangan yang kedua sangat menikmati

kebersamaan mereka. Jika pasangan pertama lebih banyak menghabiskan

waktunya ditepi kolam, dimana sang murid banyak mendengarkan “petuah-

petuah” dari pelatihnya, pasangan kedua, langsung nyebur. “Berenang

itu gampang Pak…dan menyehatkan”, kata pelatih kedua,”Cuma perlu teori

sedikit, terus coba deh. Asal iramanya sudah ketemu, siapapun pasti

bisa berenang. Yang pasti diperlukan ketenangan. Tapi walaupun

gampang, sebaiknya dikolam cetek dulu, jadi kallo klelep, kaya tadi,

minum airnya gak banyak..ha..ha..ha..”. Merekapun tertawa bersama. Dan

lihatlah, tanpa perlu diteriakin sang murid tampak relak dan sangat

menikmatinya.

Pelatih pertama sering sekali mengucapkan kata “sulit”, pelatih kedua

cenderung menggunakan kata “tantangan”. Contohnya begini, namanya

belajar berenang pastilah kedua orang murid itu, sesekali ‘tidak

sengaja’ tersedak, meminum air kolam seteguk, dua teguk. Pelatih yang

pertama langsung berseru “Yang paling sulit dari berenang, adalah

mengatur nafas. Itu memang sulit”. Sedangkan pelatih kedua, berkata

“Disinilah tantangannya. Pernafasan. Tapi it’s ok..semua orang yang

belajar berenang, pasti pernah minum air kolam”. Luar biasa !!

Sungguh-sungguh adegan langka. Saya sangat beruntung menyaksikan

keduanya dengan mata kepala, serta telinga saya sendiri. Dua orang

pelatih dengan dua orang murid yang berbeda, dikolam renang yang sama,

dalam waktu bersamaan. Jadi teringat pengalaman pertama kali terjun

kedunia enterpreneur sebagai seorang photographer dan resign dari

sebuah Bank Swasta terbesar di Indonesia. Dunia enterpreneur yang

memang asing, menjadi begitu menakutkan. Sampai ketika sekali waktu

saya bertemu dengan seorang begawan enterpreneur Indonesia, Bob

Sadino. Waktu itu, saya diminta oleh Kintamani publishing untuk

membuatkan konsep sekaligus mengeksekusi foto-foto untuk cover 2 buku

Om Bob berjudul “Belajar Goblok dari Bob Sadino” dan “Mereka Bilang

Saya Gila” yang sekarang sudah beredar luas.

Om Bob, dalam satu kesempatan curhat, sempat menasehati saya. “Kamu

masih sangat muda De (Made…sebutan untuk orang Bali, anak

kedua..he..he..), dunia enterpreneur itu sangat mengasikkan. Yang

diperlukan bukan sekolah atau segudang teori. Dunia enterpreneur,

meskipun juga membutuhkan teori, lebih membutuhkan praktik real

dilapangan. Karena dilapanganlah kamu akan belajar nyata, tidak saja

dari kesuksesan tetapi juga dari kesalahan. Langkah pertama adalah,

cintai dunia itu. Kemudian terjun langsung kedalamnya.Kallo mau jadi

jagoan karate kita harus banyak-banyak bertanding, bukan banyak baca

buku”

Betapa benarnya Si Om. Seringkali pendekatan kita terhadap segala

sesuatu secara psikologis, sangat menentukan tingkat keberhasilan

kita. Suatu masalah atau pekerjaan baru menjadi seratus kali lebih

sulit dan mengerikan jika pendekatan kita terhadapnya salah. Tetapi

jika pendekatan kita benar dan positif, hampir bisa dipastikan, setiap

kesulitan yang menghadang akan berubah menjadi tantangan yang

menyegarkan. Jadi jika Anda ingin lingkungan kerja Anda penuh

ketegangan dan low creativity, mudah, maki-maki anak buah Anda,

apalagi mereka karyawan baru ketika melakukan kesalahan, buat mereka

melihat betapa mengerikan dan fatalnya melakukan kesalahan. Kurangi

tawa Anda, bila perlu angker-lah setiap saat. Pertahankan meeting-

meeting yang dingin tanpa sentuhan kemanusiaan. Dijamin apa yang Anda

iginkan akan terwujud. Tetapi… jika Anda merindukan performance yang

luar biasa dari anak buah Anda, jika Anda merindukan setiap orang

dalam team Anda melakukan yang terbaik dan terhebat untuk perusahaan,

lakukan sebaliknya.

Sedikit menyambung soal kedua pelatih dan muridnya diatas. Anda bisa

tebak, kira-kira yang mana dari kedua orang itu akan lebih cepat bisa

berenang. Baru setengah jam dikolam renang, pelatih kedua telah

berhasil membuat muridnya berenang dua tiga kayuhan, sementara pelatih

pertama masih sibuk memberikan jurus-jurus jitunya, dibibir kolam

renang. Nggak nyangka..berenang seperti halnya enterpreneurship,

profesional ataupun skill apapun dalam hidup ini, harus dilakukan

terutama dengan hati. Jadi jika sampai saat ini guru, mentor, dosen

Anda terus-menerus menekankan betapa sulitnya sesuatu, dan lupa

menekankan betapa manfaat, atau keuntungan atau betapa menyenangkannya

sesuatu itu, tinggalkan saja mereka. Kepandaian mereka mempersulit

segala sesuatu, hanya akan membuat kesulitan baru untuk Anda. Sebagai

gantinya. Cari orang lain, lingkungan lain yang membuat pekerjaan,

bisnis, hobby, bahkan tantangan Anda menjadi demikian menyegarkan !

Tetapi jika yang melakukan itu istri atau suami Anda, ya jangan dicari

gantinya, cukup dibawa ke kamar tidur, kunci pintu, pastikan segalanya

aman, redupkan lampu, buka bajunya, kemudian… dikerokin aja !!!


***
Diposkan oleh Semar Badranaya di 04:12 0 komentar Link ke posting ini
Mau Jadi Thomas Edison, Hans Bablinger atau Djoko Jocker ?
Mau Jadi Thomas Edison, Hans Bablinger atau Djoko Jocker ?
by MTA - Made Teddy Artiana, S. Kom


Siapa yang tidak kenal Thomas Alfa Edison, penemu luar biasa yang

pernah hidup itu, pemegang rekor terbanyak jumlah hak paten. Kegigihan

Edison sering dikaitkan pada ribuan kali kegagalan sementara nya dalam

menemukan lampu pijar. Ada sebuah kalimat yang mewakili itu semua yang

tentunya pernah kita dengar, “kesuksesan itu 1% karena kejeniusan dan

99% karena kerja keras.” Tetapi jika Anda menyempatkan diri membaca

kisah hidupnya, Anda akan menemukan sebuah episode yang menarik, yang

jarang diangkat ke permukaan. Episode itu terjadi pada saat pabrik dan

laboraturium beliau hangus “ludes” terbakar. Pada saat itu anak dan

istrinya begitu panik mencari Edison. Jelas, bukan harta benda yang

mereka pikirkan. Satu-satunya yang paling mengkawatirkan mereka adalah

keadaan mental Edison saat itu. Betapa tidak, yang habis terbakar

adalah milik Edison yang paling berharga. Hasil kerja kerasnya selama

bertahun-tahun. Akhirnya mereka menemukan Edison tengah berdiri tegak

diantara puing-puing berasap itu, mereka mendengar Edison dengan tegar

berkata, “Kini saatnya memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah

terjadi dan memulai segalanya dari awal kembali” bukan hanya itu, ada

sebuah komentar Edison yang begitu nyeleneh “sayang istriku tidak

melihat betapa besarnya api itu..”

Hans Bablinger. Anda pasti tidak pernah mendengar nama ini. Wajar.

Sayapun menemukan namanya karena iseng. Tetapi Anda akan terkejut jika

mengetahui bahwa Bablingerlah yang mula-mula punya impian untuk

terbang. Ialah yang pertama kalinya menciptakan sayap-sayap untuk

mengatasi “kecacatan” manusia untuk terbang. Tetapi malang, pada saat

demontrasi terbang dilakukan dihadapan raja, ia gagal. Ia dan pesawat

pertama temuannya itu nyungsep langsung masuk ke sungai. Akhirnya

Bablinger percaya bahwa hanya burung yang ditakdirkan terbang. Ia pun

menyimpan impiannya itu sampai ke liang kubur.

Berbeda dengan Thomas Alfa Edison dan Hans Bablinger….Djoko Jocker.

Siapa tuh ? Memang dia jauh lebih nggak terkenal dibandingkan dua nama

diatas. Djoko “Jocker” adalah salah seorang crew TJAMPUHAN yang kerap

kali menemaniku dalam pembuatan company profile client kami. Banyak

hal-hal gila yang menggelikan yang dilakukan olehnya. Salah satu yang

paling berkesan adalah ketika kami dipercaya oleh PT. Kaltim

Industrial Estate (Pupuk Kaltim) di Bontang sana, untuk mendevelop

company profile perusahaan mereka dan membuat semacam exclussive

organizer/agenda.

Malam pertamanya, kami ditraktir makan oleh staff mereka disuatu pusat

makanan yang begitu meriah, mirip pasar malam. Disanalah Djoko

menyumbangkan suaranya diatas sebuah panggung life music. Pernah

ngeliat pasar malem, kemasukan copet pada saat lampu padam ? Persis.

Keadaan waktu itu tidak jauh berbeda. Entah microphone yang rusak,

atau pendengaran kami yang sedang kacau, atau cuasa yang kurang

bersahabat, suara Djoko terdengar “menakutkan”. Puluhan orang tampak

terperanjat, bahkan beberapa ibu-ibu sempat menutup telinganya, tak

menyangka perubahan suara yang demikian drastis. Satu pasar malam pun

pecah oleh tawa, sorakan dan huuuuuuuuuuu….tetapi yang aneh Djoko

tetap stay cool. Wajahnya terlihat kian serius, meskipun pitch control

kian amburadul. Disaster, kata Simon di American Idol. Hingga akhirnya

lagu Once Dewa 19 berakhir dan Djoko mendapatkan gemuruh tepuk tangan

yang dahsyat. Yang jelas, ini bukan life music lagi, tapi lawakan.

Yang lebih aneh lagi adalah reaksi Djoko setelahnya. Ia terlihat

begitu bangga. Keesokan harinya, ketika aku dan team melakukan

pemotretan di salah satu hotel disana, salah seorang supervisor sempat

bertanya padanya,sambil tersenyum geli “Mas..yang kemaren nyanyi yah

?”. Dan Djoko tersenyum bangga. “Mas…gue ngetop Mas…” serunya padaku

bersemangat. Djoko..Djoko…


“Any fact facing us is not as important as our attitude toward it,
for that determines our success or failure.
The way you think about a fact may defeat you before you ever do

anything about it.
You are overcome by the fact because you think you are.” Dr. Norman

Vincent Peale
Bagi yang belum tahu, Dr. Norman Vincent Peale, adalah penulis buku

“The Power of Positve Thinking” yang terkenal itu. Dan kalimat diatas

begitu sering dikutip dalam buku-buku bertema peningkatan kualitas

pribadi manusia lainnya. Intinya menurut Dr. Peale, fakta yang terjadi

pada kehidupan kita tidak terlalu penting dibandingkan sikap kita

terhadapnya. Dalam kata lain, suatu kejadian yang sama dapat berarti

positif atau negatif pada dua orang yang berbeda. Anthony Robbins

mengatakan dalam istilah yang sedikit berbeda “kita hendaknya dapat

menemukan pemaknaan yang memberdayakan diri kita, dalam setiap

kejadian yang terjadi”.

Kehilangan handphone dapat berarti “kebencian” bagi seseorang, tetapi

berarti “buang sial” bagi orang lain. PHK dapat berarti sebagai

“bencana” bagi seseorang tetapi bisa berarti “kesempatan untuk jadi

direktur diperusahaan pribadi” bagi orang lain. Ditinggal kawin, dapat

diterjemahkan “bunuh diri” bagi seseorang, tetapi juga bisa berarti

“kesempatan mendapatkan pasangan yang lebih baik”, bagi yang lain.

Singkatnya apa saja bisa terjadi dalam hidup kita. Apakah fakta itu

menyedihkan ataupun menggembirakan sementara terasa. Yang jelas urusan

“pelabelan” alias “pemaknaan” adalah urusan kita. Pilihan kita untuk

mencap kejadian itu sebagai “trauma” ataukah “pengalaman berharga”.

“Kapok” atau “mencoba dengan cara lain”. “Fatal” ataukah “dapat

diperbaiki”.

Dan setiap label yang kita kenakan itu akan terekam dibawah sadar kita

dan berdampak langsung perkembangan pribadi kita yang ujung-ujungnya

berdampak jelas pada kehidupan kita.

Konsekuensinya jelas, jika setiap kegagalan atau kesalahan kita anggap

“kiamat”, maka dapat dipastikan kita berubah menjadi mayat hidup yang

terlalu takut untuk mencoba hal baru. Jangankan orang dewasa, anak-

anak yang dibesarkan dalam budaya kritik, kemungkinan besar akan

terhambat kemampuan pribadinya, dibandingkan mereka yang dibesarkan

dalam penghargaan. Karena trauma biasanya akan diikuti trauma yang

lebih besar, sedangkan kesuksesan, biasanya akan diikuti kesuksesan

yang lebih besar. Keduanya akan maembuat rantai yang semakin kuat

seiring perulangan yang terjadi.

Sekarang terserah kita…ingin memilih jadi Edison…Bablinger atau

Djoko…? Saran saya, sebaiknya Edison…contreng Edison…nomer 9.999 !!

***

==

Ngentot dengan Teman Suamiku
Video Bokep ABG SMU

Cerita Dewasa.Sebut saja nama ku Sinta, wanita umur 28 thn dan orang-

orang bilang bentuk tubuhku amatlah proposional, tinggi 170 cm berat

55kg dan ukuran buah dada 34B, ditunjang wajah cantik (itu juga orang

-orang yang bilang) dan kulit putih cerah. Sebelumnya aku memang

sering bekerja menjadi SPG pada pameran mobil dan banyak orang

mengelilingi mobil yang aku pamerkan bukan utk melihat mobil tetapi

untuk melihatku.
Menikah dengan Roni, 30 thn, seorang pekerja sukses. Kami memang

sepakat utk tidak punya anak terlebih dahulu dan kehidupan seks kami

baik-baik saja, Roni dapat memenuhi kebutuhan seks ku yang boleh

dibilang agak hyper..sehari bisa minta 2 sesi pagi sebelum Roni

berangkat kerja dan malam sebelum tidur.
Dan cerita ini berawal dari kesuksesan Roni bekerja di kantornya dan

mendapat kepercayaan dari sang atasan yang sangat baik. Kepercayaan

ini membuat dia sering harus bekerja overtime, pada awalnya aku bisa

menerima semua itu tetapi kelamaan kebutuhan ini harus dipenuhi juga

dan itulah yang membuat kami sering bertengkar karena kadang Roni

harus berangkat lebih pagi dan lewat tengah malam baru pulang.
Dan mulailah cerita ini ketika Roni mendapat tanggung jawab untuk

menangani suatu proyek dan dia dibantu oleh rekan kerjanya Bram dari

luar kota. Pertama diperkenalkan Bram langsung seperti terkesima dan

sering menatapku, hal itu membuatku risih. Bram cukup tampan gagah dan

kekar.
Karena tuntutan pekerjaan dan efisiensi, kantor Roni memutuskan agar

Bram tinggal di rumah kami utk sementara. Dan memang mereka berdua

sering bekerja hingga larut malam di rumah kami. Bram tidur di kamar

persis di seberang kamar kami.
Sering di malam hari aku berpamitan tidur matanya yang nakal suka

mencuri pandang diantara sela-sela baju tidur yang aku kenakan. Aku

memang senang tidur bertelanjang agar jika Roni datang bisa langsung

bercinta.
Pernah suatu saat ketika pagi hari kami aku dan Roni bercinta di dapur

waktu masih pagi sekali dengan posisiku duduk di meja dan Roni dari

depan, tiba-tiba Bram muncul dan melihat kami, dia menempelkan

telunjuk dimulutnya agar aku tidak menghentikan kegiatan kami, karena

kami sedang dalam puncaknya dan Roni yang membelakangi Bram dan aku

juga tidak tega menghentikan Roni, akhirnya ku biarkan Bram melihat

kami bercinta tanpa Roni sadari hingga kami berdua orgasme. Dan aku

tahu Bram melihat tubuh telanjangku ketika Roni melepaskan penisnya

dan terjongkok di bawah meja.
Setelah kejadian itu Bram lebih sering memperhatikan tiap lekuk

tubuhku.
Sampai suatu waktu ketika pekerjaan Roni benar2 sibuk sehingga hampir

seminggu tidak menyentuhku. Di hari Jum’at kantor tempat Roni bekerja

mengadakan pesta dinner bersama di rumah atasan Roni . Rumahnya

terdiri dari dua lantai yang sangat mewah di lantai 2 ada semacam

galeri barang2 antik. Kami datang bertiga dan malam itu aku mengenakan

pakaian yang sangat seksi, gaun malam warna merah yang terbuka di

bagian belakang dan hanya dikaitkan di belakang leher oleh kaitan

kecil sehingga tidak memungkinkan memakai BH, bagian bawahpun terdapat

sobekan panjang hingga sejengkal di atas lutut, malam itu saya merasa

sangat seksi dan Bram pun sempat terpana melihatku keluar dari kamar.

Sebelum berangkat aku dan Roni sempat bercinta di kamar dan tanpa

sepengetahuan kami ternya Bram mengintip lewat pintu yang memang kami

ceroboh tidak tertutup sehingga menyisakan celah yang cukup untu

melihat kami dari pantulan cermin, sayangnya karena letih atau

terburu-buru mau pergi Roni orgasme terlebih dahulu dan aku

dibiarkannya tertahan. Dan Bram mengetahui hal itu.
Malam itu ketika acara sangat ramai tiba-tiba Roni dipanggil oleh

atasannya untuk diperkenalkan oleh customer. Roni berkata padaku untuk

menunggu sebentar, sambil menunggu aku ke lantai 2 untuk melihat

barang2 antik, di lantai 2 ternyata keadaan cukup sepi hanya 2-3 orang

yang melihat-lihat di ruangan yang besar itu. Aku sangat tertarik oleh

sebuah cermin besar di pojokan ruangan, tanpa takut aku melihat ke

sana dan mengaguminya juga sekaligus mengagumi keseksian tubuhku di

depan cermin, tanpa ku sadari di sampingku sudah berada Bram .
“Udah nanti kacanya pecah lho..cakep deh..!”, canda Bram
“Ah bisa aja kamu Bram”,balasku tersipu.
Setelah berbincang2 di depan cermin cukup lama Bram meminta tolong

dipegangkan gelasnya sehingga kedua tanganku memegang gelasnya dan

gelasku.
“Aku bisa membuat kamu tampak lebih seksi”,katanya sambil langsung

memegang rambutku yang tergerai dengan sangat lembut. Tanpa bisa

mengelak dia telah menggulung rambutku sehingga menampak leherku yang

jenjang dan mulus dan terus terang aku seperti terpesona oleh keadaan

diriku yang seperti itu. dan memang benar aku terlihat lebih seksi.

Dan saat terpesona itu tiba-tiba tangan Bram meraba leherku dan

membuatku geli dan detik berikutnya Bram telah menempelkan bibirnya di

leher belakangku, daerah yang paling sensitif buatku sehingga aku

lemas dan masih dengan memegang gelas Bram yang telah menyudutkanku di

dinding dan menciumi leherku dari depan. “Bram apa yang kamu

lakukan..lepaskan aku Bram..lepas..!”,rontaku tapi Bram tahu aku tidak

akan berteriak di suasana ini karena akan mempermalukan semua orang.
Bram terus menyerangku dengan kedua tanganku memegang gelas dia bebas

meraba buah dadaku dari luar dan terus menciumi leherku, sambil

meronta-ronta aku merasakan gairahku meningkat, apalagi saat tiba-tiba

tangan Bram mulai meraba belahan bawah gaunku hingga ke

selangkanganku. “Bram..hentikan Bram aku mohon..tolong Bram..jangan

lakukan itu..”,rintihku, tapi Bram terus menyerang dan jari tengah

tangannya sampai di bibir vaginaku yang ternyata telah basah karena

serangan itu. Dia menyadari kalau aku hanya mengenakan G-string hitam

dengan kaitan di pinggirnya, lalu dengan sekali sentakan dia

menariknya dan terlepaslah G-stringku. Aku terpekik pelan apalagi

merasakan ada benda keras mengganjal pahaku. Ketika Bram sudah semakin

liar dan akupun tidak dapat melepaskan, tiba-tiba terdengar suara Roni

memanggil dari pinggir tangga yang membuat pegangan himpitan Bram

terlepas, lalu aku langsung lari sambil merapikan pakaian ku menuju

Roni yang tidak melihat kami dan meninggalkan Bram dengan G-string

hitamku. Aku sungguh terkejut dengan kejadian itu tapi tanpa disadari

aku merasakan gairah yang cukup tinggi merasakan tantangan melakukan

di tempat umum walau dalam kategori diperkosa.
Ternyata pesta malam itu berlangsung hingga larut malam dan Roni

mengatakan dia harus melakukan meeting dengan customer dan atasannya

dan dia memutuskan aku untuk pulang bersama Bram. Tanpa bisa menolak

akhirnya malam itu aku diantar Bram, diperjalanan dia hanya

mengakatakan “Maaf Sinta..kamu sungguh cantik malam ini.” Sepanjang

jalan kami tidak berbicara apaun. Hingga sampai dirumah aku langsung

masuk ke dalam kamar dan menelungkupkan diri di kasur, aku merasakan

hal yang aneh antara malu aku baru saja mengalami perkosaan kecil dan

perasaan malu mengakui bahwa aku terangsang hebat oleh serangan itu

dan masih menyisakan gairah. Tanpa sadar ternyata Bram telah mengunci

semua pintu dan masuk ke dalam kamarku, aku terkejut ketika mendengar

suaranya’, “Sinta aku ingin mengembalikan ini”‘ katanya sambil

menyerahkan G-stringku berdiri dengan celana pendek saja, dengan

berdiri aku ambil G-stringku dengan cepat, tapi saat itu juga Bram

telah menyergapku lagi dan langsung menciumiku sambil langsung menarik

kaitan gaun malamku, maka bugilah aku diahadapannya. Tanpa menunggu

banyak waktu aku langsung dijatuhkan di tempat tidur dan dia langsung

menindihku. Aku meronta-ronta sambil menendang-nendang?”Bram..lepaskan

aku Bram..ingat kau teman suamiku Bram..jangan..ahh..aku mohon”,

erangku ditengah rasa bingung antara nafsu dan malu, tapi Bram terus

menekan hingga aku berteriak saat penisnya menyeruak masuk ke dalam

vaginaku, ternyata dia sudah siap dengan hanya memakai celana pendek

saja tanpa celana dalam.
“Ahhhh?Braam..kau..:’ Lalu mulailah dia memompaku dan lepaslah

perlawananku, akhirnya aku hanya menutup mata dan menangis

pelan..clok..clok..clok..aku mendengar suara penisnya yang besar

keluar masuk di dalam vaginaku yang sudah sangat basah hingga

memudahkan penisnya bergerak. Lama sekali dia memompaku dan aku hanya

terbaring mendengar desah nafasnya di telingaku, tak berdaya walau

dalam hati menikmatinya. Sampai kurang lebih satu jam aku akhirnya

melenguh panjang “Ahhh?..” ternyata aku orgasme terlebih dahulu,

sungguh aku sangat malu mengalami perkosaan yang aku nikmati. Sepuluh

menit kemudian Bram mempercepat pompaannya lalu terdengar suara Bram

di telingaku “Ahhh..hmmfff?” aku merasakan vaginaku penuh dengan

cairan kental dan hangat sekitar tiga puluh deti kemudian Bram

terkulai di atasku.
“Maaf Sinta aku tak kuasa menahan nafsuku..”bisiknya pelan lalu

berdiri dan meninggalkanku terbaring dan menerawang. hinga tertidur

Aku tak tahu jam berapa Roni pulang hingga pagi harinya.
Esok paginya di hari sabtu seperti biasa aku berenang di kolam renang

belakang,, Roni dan Bram berpamitan untuk nerangkat ke kantor. Karena

tak ada seorang pun aku memberanikan diri untuk berenang tanpa

pakaian. Saat asiknya berenang tanpa disadari, Bram ternyata beralasan

tidak enak badan dan kembali pulang, karena Roni sangat mempercayainya

maka dia izinkan Bram pulang sendiri. Bram masuk dengan kunci milik

Roni dan melihat aku sedang berenang tanpa pakaian. Lalu dia bergerak

ke kolam renag dan melepaskan seluruh pakaiannya, saat itulah aku

sadari kedatangannya, “Bram..kenapa kau ada di sini?” tanyaku, “Tenang

Sinta suaimu ada di kantor sedang sibuk dengan pekerjaannya”, aku

melihat tubuhnya yang kekar dan penisnya yang besar mengangguk angguk

saat dia berjalan telanjang masuk ke dalam kolam “Pantas sajaku

semalam vaginaku terasa penuh sekali”‘pikirku. Aku buru-buru berenang

menjauh tetai tidak berani keluar dr dalam kolam karena tidak

mengenakan pakaian apapun juga. Saat aku bersandar di pingiran sisi

lain kolam, aku tidak melihat ada tanda2 Bram di dalam kolam. Aku

mencari ke sekeliling kolam dan tiba-tiba aku merasakan vaginaku

hangat sekali, ternyata Bram ada di bawah air dan sedang menjilati

vaginaku sambil memegang kedua kakiku tanpa bisa meronta.
Akhirnya aku hanya bisa merasakan lidahnya merayapai seluruh sisi

vaginaku dan memasuki liang senggamaku..aku hanya menggigit bibir

menahan gairah yang masih bergelora dari semalam. Cukup lama dia

mengerjai vaginaku, nafasnya kuat sekali pikirku. Detik berikutnya

yang aku tahu dia telah berada di depanku dan penisnya yang besar

telah meneyruak menggantian lidahnya? “Arrgghh..” erangku menahan

nikmat yang sudah seminggu ini tidak tersentuh oleh Roni. Akhirnya aku

membiarkan dia memperkosaku kembali dengan berdiri di dalam kolam

renang. Sekarang aku hanya memeluknya saja dan membiarkan dia

menjilati buah dadaku sambil terus memasukan penisnya keluar masuk.

Bahkan saat dia tarik aku ke luar kolam aku hanya menurutinya saja,

gila aku mulai menikamti perkosaan ini, pikirku, tapi ternyata

gairahku telah menutupi kenyataan bahwa aku sedang diperkosa oleh

teman suamiku. Dan di pinggir kolam dia membaringkanku lalu mulai

menyetubuhi kembai tubuh mulusku..”Kau sangat cantik dan seksi

Sinta..ahh” bisiknya ditelingaku.
Aku hanya memejamkan mata berpura-pura tidak menikmatinya, padahal

kalau aku jujur aku sangat ingin memeluk dan menggoyangkan pantatku

mengimbangi goyangan liarnya. Hanya suara eranggannya dan suara

penisnya maju mundur di dalam vaginaku, clok..clok..clep..dia tahu

bahwa aku sudah berada dalam kekuasaannya. Beberapa saat kemudian

kembali aku yang mengalami orgasme diawali eranganku “Ahhh..” aku

menggigit keras bibirku sambil memegang keras pinggiran kolam,

“Nikmati sayang?”demikian bisiknya menyadari aku mengalami orgasme.

Sebentar kemudian Bram lah yang berteriak panjang, “Kau hebat

Sinta..aku cinta kau..AAHHH..HHH” dan aku merasakan semburan kuat di

dalam vaginaku. Gila hebat sekali dia bisa membuatku menikmatinya

pikirku. Setelah dia mencabut penisnya yang masih terasa besar dan

keras, aku reflek menamparnya dan memalingkan wajahku darinya. Aku tak

tahu apakah tamparan itu berarti kekesalanku padanya atau karena dia

mencabut penisnya dari vaginaku yang masih lapar.
Setelah Roni pulang herannya aku tidak menceritakan kejadian malam

lalu dan pagi tadi, aku berharap Roni dapat memberikan kepuasan

padaku. Dengan hanya menggenakan kimono dengan tali depan aku dekati

Roni yang masih asik di depan komputernya di dalam kamar, lalu aku

buka tali kimonoku dan kugesekan buah dadaku yang besar itu ke

kepalanya dari belakang, berharap da berbalik dan menyerangku. Ternyta

yang kudapatkan adalah bentakannya “Sinta..apakah kamu tak bisa

melihat kalau aku sedang sibuk? Jangan kau ganggu aku dulu..ini untuk

masa depan kita” teriaknya keras. Aku yakin Bram juga mendengar

teriakannya. Aku terkejut dan menangis, lalu aku keluar kamar dengan

membanting pintu, lalu aku pergi ke pinggir kolam dan duduk di sana

merenung dan menahan nafsu. Dari kolam aku bisa melihat bayangan di

Roni di depan komputer dan lampu di kamar Bram. Tampak samar-samar

Bram keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun menutupi

tubuhnya. Karena di luar gelap tak mungkin dia melihatku.
Tanpa sadar aku mendekat ke jendelanya dan memperhatikan Bram

mengeringkan tubuh. Gila kekar sekali tubuhnya dan yang menarik

perhatianku adalah penisnya yang besar dan tegang mengangguk-angguk

bergoyang sekanan memanggilku. Aku malu sekali mengagumi dan

mengaharapkan kembali penis itu masuk ke dalam vaginaku yang memang

masih haus. Perlahan aku membelai-belai vaginaku hingga terasa basah,

akhirnya aku memutuskan untuk memintanya pada Bram, dengan hati yang

berdebar kencang dan nafsu yang sudah menutupi kesadaran, aku nekat

masuk ke dalam kamar Bram dan langsung mengunci pintu dari dalam. Bram

sangat terkejut “Sinta..apa yang kamu lakukan?”, aku hanya menempelkan

telunjuk di bibirku dan memberi isyarat agar tidak bersuara karena

Roni ada di kamar seberang. Langsung aku membuka pakaian tidurku dan

terpampanglah tubuh putih mulusku tanpa sehelai benagpun di

hadapannya, Bram hanya terperangah dan menatap kagum pada tubuhku.

Bram tersenyum sambil memperlihatkan penisnya yang semakin membesar

dan tampak berotot. Dengan segera aku langsung berlutut di hadapannya

dan mengulum penisnya, Bram yang masih terkejut dengan kejadian ini

hanya mendesah perlahan merasakan penisnya aku kulum dan hisap dengan

nafsuku yang sudah memuncak.
Sambil mulutku tetap di dalam penisnya aku perlahan naik ke atas

tempat tidur dan menempatkan vaginaku di mulut Bram yang sudah

terbaring, dia mengerti maksudku dan langsung saja lidahnya melahap

vaginaku yang sudah sangat basah, cukup lama kami dalam posisi itu,

terinat akan Roni yang bisa saja tiba-tiba datang aku langsung

mengambil inisiatif untuk merubah posisi dan perlahan duduk di atas

penisnya yang sudah mengacung tegang dan besar panjang. Perlahan aku

arahkan dan masukan ke dalam lubang vaginaku, rasanya berbeda dengan

saat aku diperkosanya, perlahan tapi pasti aku merasaskan suatu

sensasi yang amat besar sampai akhirnya keseluruhan batang penis Bram

masuk ke dalam vaginaku “Ahh..sssfff..Braaam!” erangku perlahan

menahan suara gairahku agar tidak terdengar, aku merasakan seluruh

penisnya memenuhi vaginaku dan menyentuh rahimku. Sungguh suatu

sensasi yang tak terbayangkan, dan sensasi itu semakin bertambah saat

aku mulai menggoyangkan pantatku naik turun sementara tangan Bram

dengan puasnya terus memainkan kedua buah dadaku memuntir-muntir

putingku hingga berwarna kemerahan dan keras “ahh..ahh..” demikian

erangan kami perlahan mengiringi suara penisnya yan keluar masuk

vaginaku clok..clok..clok? Tak tahan dengan nafsunya mendadak Bram

duduk dan mengulum buah dadaku dengan rakusnya bergantian kiri kanan

bergerak ke leher dan terus lagi. Aku sungguh tak dapat menahan gairah

yang selama ini terpendam.
Mungkin karena nafsu yang sudah sangat tertahan atau takut Roni

mendengar tak kuasa aku melepaskan puncak gairahku yang pertama sambil

mendekap erat Bram dan menggigit pundaknya agar tidak bersuara,

kudekap erta Bram seakan tak dapat dilepaskan mengiringi puncak

orgasmeku. Bram merasakan penisnya disiram cairan hangat dan tahu

bahwa aku mengalami orgasme dan membiarkanku mendekapnya sangat erat

sambil memelukku dengan belaian hangatnya. Selesai aku orgasme sekiat

30 detik, Bram membalikan aku dengan penisnya masih tertancap di dalam

vaginaku. Bram mulai mencumbuku dengan menjilati leher dan putingku

perlahan, entah mengapa aku kembali bernafsu dan membalas ciumannya

denga mesra, lidah kami saling berpagutan dan Bram merasakan penisnya

kembali dapat keluar masuk dengan mudah karena vaginaku sudah kembali

basah dan siap menerima serangan berikutnya. Dan Bram langsung memompa

penisnya dengan semangat dan cepat membuat tubuhku bergoyang dan buah

dadaku bergerak naik turun dan sungguh suara yang timbul antara

erangan kami berdua yang tertahan derit tempat tidur dan suara

penisnya keluar masuk di vaginaku kembali membakar gairahku dan aku

bergerak menaik turunkan pantatku untuk mengimbangi Bram.
Dan benar saja 10 menit kemudian aku sampai pada puncak orgasme yang

kedua, dengan meletakan kedua kakiku dan menekan keras pantatnya

hingga penisnya menyentuh rahimku. Kupeluk Bram dengan erat yang

membiarkan aku menikmati deburan ombak kenikmatan yang menyerangku

berkali-kali bersamaan keluarnya cairanku. Kugigit bibirku agar tidak

mengeluarkan suara, cukup lama aku dalam keadaan ini dan anehnya

setelah selesai aku berada dalam puncak ternyata aku sudah kembali

mengimbangi gerakan Bram dengan menaik turunkan pantatku. Saat itulah

kudengar pintu kamarku terbuka dan detik berikutnya pintu kamar Bram

diketuk Roni, “Bram..kau sudah tidur?”, demikian ketuk Roni. Langsung

saja Bram melepaskan pelukannya dan menyuruhku bersembunyi di kamar

mandi. Sempat menyambar pakaian tidurku yang tergeletak di lantai aku

langsung lari ke kamar mandi dan mengunci dari luar. Sungguh hatiku

berdebar dengan kerasnya membayangkan apa jadinya jika aku ketahuan

suamiku.
Bram dengan santai dan masih bertelanjang membuka pintu dan mengajak

Roni masuk, Roni sempat terkejut melihat Bram telanjang,”Sedang apa

kamu Bram” tanpa curiga dengan tempat tidur yang berantakan yang kalau

diperhatikan dari dekat ada cairan kenikmatanku. Bram hanya tersenyum

dan mengatakan,”Mau tau aja..” Dasar Roni dia langsung membicarakan

suatu hal pekerjaan dan mereka terlibat pembicaraan itu. Kurang lebih

sepuluh menit mereka berbicara dan sepuluh menit juga hatiku sungguh

berdebar-debar tapi anehnya dengan keadaan ini nafsuku sungguh semakin

menjadi-jadi. Setelah Roni keluar, Bram kembali mengunci pintu kamar

dan mengetuk kamar mandi perlahan,”Sinta buka pintunya..sudah aman”.

Begitu aku buka pintunya Bram langsung menarik aku dan mendudukanku di

meja dekat kamar mandi, langsung saja dibukanya kedua kakiku dan bless

penisnya kembali memenuhi vaginaku “Ahhh..ahh..” erangan kami berdua

kembali terdengar perlahan sambil terus menggoyangkan pantatnya maju

mundur Bram melahap buah dadaku dan putingku.
Sepuluh menit berlalu dan goyang Bram semakin cepat sehingga aku tahu

dia akan mencapai puncaknya, dan akupun merasakan hal yang sama

“Braaam lebih cepat sayang aku sudah hampir keluar..” desahku “Tahan

sayang kita bersamaan keluarnya”, dan benar saja saat kurasakan

maninya menyembur deras dalam vaginaku aku mengalami orgasme yang

ketiga dan lebih hebat dari yang pertama dan kedua, kami saling

berpelukan erat dan menikmati puncak gairah itu bersamaan.

“Braaammm..,” desahku tertahan. “Ahhh Sinta..kau hebat..” demikian

katanya. Akhirnya kami saling berpelukan lemas berdua, sungguh suatu

pertempuran yang sangat melelahkan. Saat kulirik jam ternyata sudah

dua jam kami bergumul. “Terima kasih Bram..kau hebat..” kataku dengan

kecupan mesra dan langsung memakai pakaian tidurku kembali dan kembali

ke kamarku. Roni tidak curiga sama sekali dan tetap berkutat dengan

komputernya dan tidak menghiraukanku yang langsung berbaring tanpa

melepas pakaianku seperti biasanya karena aku tahu ada bekas ciuman

Bram di sekujur buah dadaku. Malam itu aku merasa sangat bersalah pada

Roni tapi di lain sisi aku merasa sangat puas dan tidur dengan

nyenyaknya.
Esoknya seperti biasa di hari Minggu aku dan Roni berenang di pagi

hari tetapi mengingat adanya Bram, kami yang biasanya berenang

bertelanjang akhirnya memutuskan memakai pakaian renag, aku syukuri

karena hal ini dapat menutupi buah dadaku yang masih memar karena

gigitan Bram. Saat kami berenang aku menyadari bahwa Bram sedang

menatap kami dari kamarnya. Dan saat Roni sedang asyik berenang

kulihat Bram memanggilku dengan tangannya dan yang membuat aku

terkejut dia menunjukan penisnya yang sudah mengacung besar dan

tegang. Seperti di hipnotis aku nekat berjalan ke dalam.”Ron aku mau

ke dalam ambil makanan ya..!” kataku pada Roni, dia hanya mengiyakan

sambil terus berenang, Roni memang sangat hobi berenang bisa 2 jam

nonstop tanpa berhenti.
Aku dengan tergesa masuk ke dalam dan menuju kamar Bram. Di sana Bram

sudah menunggu dan tak sabar dia melucuti pakain renangku yang memang

hanya menggunakan tali sebagai pengikatnya. “Gila kamu Bram..bisa

ketahuan Roni lho,” protesku tanpa perlawanan karena aku sendiri

sangat bergairah oleh tantangan ini. dan dengan kasar dia menciumi

punggungku sambil meremas buah dadaku “Tapi kamu menikmatinya khan?!,”

goda Bram sambil mencium leher belakangku. Dan aku hanya mendesah

menahan nikmat dan tantangan ini. Yang lebih gila Bram menarikku ke

jendela dan masih dari belakang dia meremas-remas buah dadaku dan

meciumi punggung hingga pantatku, “Gila kau Bram, Roni bisa melihat

kita,” tapi anehnya aku tidak berontak sama sekali dan memperhatikan

Roni yang benar-benar sangat menikamti renangnya. Di kamar Bram pun

aku sangat menikmati sentuhan Bram. “Sinta kamu suka ini khan?”

tanyanya sambil dengan keras menusukan penisnya ke dalam vaginaku dari

belakang. “AHH..Bram..” teriakku kaget dan nikmat, sekarang aku berani

bersuara lebih kencang karena tahu Roni tidak akan mendengarnya.

Langsung saja Bram memaju mundurkan penisnya di vaginaku..”Ahh.. Bram

lebih kencang..fuck me Bram..puaskan aku Bram..penismu sungguh luar

biasa..Bram aku sayang kamu..” teriakku tak keruan dengan masih

memperhatikan Roni.
Bram mengimbangi dengan gerakan yang liar hingga vaginaku terasa lebih

dalam lagi tersentuh penisnya dengan posisi ini,”Sinta..khhaau

hhebat..” desahnya sambil terus menekanku, kalau saja Roni melihat

sejenak ke kamar Bram maka dia akn sangat terkejut meilhat pemandangan

ini, istrinya sedang bercinta dengan rekan kerjanya. Ternyata kami

memang bisa saling mengimbangi, kali ini dalam waktu 20 menit kami

sudah mencapai puncak secara bersamaan “Teruuus Bram lebih

khheeenncang..ahhhh aku keluar Braaaaam”, teriaku. “Aaakuu juga

Tyyaaasss..nikkkkmat ssekali mmmeemeekmu..aahhhhh.” teriaknya

bersamaan dengan puncak kenikmatan yang datang bersamaan. Setelah itu

aku langsung mencium bibirnya dan kembali mengenakan pakaian renangku

dan kembali berenang bersama Roni yang tidak menyadari kejadian itu.
Setelah itu hari-hari berikutnya sungguh mendatangkan gairah baru

dalam hidupku dengan tantangan bercinta bersama Bram. Pernah suatu

saat ketika akhirnya Roni mau bercinta denganku di suatu malam hingga

akhirnya dia tertidur kelelahan, aku hendak mengambil susu di dapur

dan karena sudah larut malam aku nekat tidak mengenakan pakaian

apapun. Saat aku membungkuk di depan lemari es sekelebat ku lihat

bayangan di belakangku sebelum aku menyadari Bram sudah di belakangku

dan langsung menubruku dari belakang. Penisnya langsung menusuk

vaginaku yang membuatku hanya tersedak dan menahan nikmat tiba-tiba

ini. Kami bergumul di lantai dapur lalu dia mengambil kursi dan duduk

di atasnya sambil memangku aku, “Bram kamu nakal” desahku yang juga

menikmatinya dan kami bercinta hingga hampir pagi di dapur. Sungguh

bersama Bram kudapatkan gairah terpendamku selama ini.
Akhirnya ketika proyek kantor Roni selesai Bram harus pergi dari rumah

kami dan malam sebelum pergi aku dan Bram menyempatkan bercinta

kembali

--

Ngentot Ayu BabySitter Tetanggaku
Video Bokep ABG SMU

Cerita Dewasa.Aku tinggal di komplex perumahan, disitu banyak pasangan

muda yang mempercayakan anak balitanya ke para babay sitter. Kalo pagi

banyak baby sitter yang ngumpul depan rumahku, memang rumahku rada

tusuk sate, sehingga kayanya strategis buat ngerumpi, palagi praktis

gak da mobil yang lalu lalang. Kalo lagi dirumah aku suka

memperhatikan para baby sitter itu. Umumnya si tampang pembokat yang

dipakein seragam baby sitter yang umumnya kalo gak putih, pink atau

birumuda warnanya. Tapi ada satu yang laen dari yang laen. Kalo yang

laen kulitnya pada sawomatang, yang satu ini putih, manis lagi, gak da

tampang pembokat deh. Bodi sih gak kliatan kemontokannya, maklum kan

seragam baby sitter pink yang dipakenya rada kebesaran kayanya,

sehingga menyamarkan lika liku bodinya. Tinggi tubuhnya sekitar 167

cm. Rambutnya tergerai sebahu. Wajahnya cantik dengan bentuk mata,

alis, hidung, dan bibir yang indah. lumayan buat cuci mata. Lama2 dia

tau juga kalo aku sering memperhatikan dia kalo lagi didepan rumah.

Dia senyum2 ke aku, ya buat pantesnya aku juga senyum ma dia juga.

Suatu saat kebetulan dia cuma sendiri di depan rumahku, kesempatan aku

untuk kenalan. “Kok sendirian, yang laen pada kemana?” “Gak tau ni om,

saya kesiangan si keluarnya”. “Ngapain dulu”. “ada yang dikerjain

dirumah”. “Majikan kamu dua2nya kerja ya”. “Iya om, om ndiri kok gini

ari masi dirumah, gak kerja mangnya”. “Aku si bebas kok kerjanya,

sering kerjanya ya dari rumah aja. Kalo keluar paling ke tempat

klien”. “Klien, paan tu om”. “Klien tu langganan”. “Mangnya om jualan

apa”. “aku kerja jadi konsultan”. “apa lagi tu konsiltan, maap ya om,

jadi nanya terus, bis gak ngarti si”. “Mangnya kamu gak skola ya”, aku

bales bertanya. “Cuma sampe SMU om, gak ada biaya buat nerusin, ya

mesti cari kerja lah, bantu2 orang tua juga”. “Mangnya ortu dimana,

tau kan ortu, orang tua”. “Di kampung om, didaerah banten”. “Pantes

kamu putih ya, yang laen pasti dari jawa ya, kulitnya item2″. “Nama

kamu sapa si”. “Ayu om, kalo om?” “Aku edo”. “Om gak punya istri ya,

kayaknya gak perna kliatan prempuan dirumah ini”. “Aku duda kok, kamu

mau jadi prempuan dirumah ini”. “Ah si om, aku balik dulu ya om, dah

siang ni, mataharinya dah tinggi, anaknya kepanasan”. “Ya udah”. Sejak

itu aku belon dapet kesempatan ngobrol ma Ayu berdua aja karena selalu

rame ma baby sitter yang laennya.

Sampe pada suatu sore ketika ku lanja di hypermarket deket rumahku,

aku melihat seorang abg, bodinya asik banget, togepasarlah, dia pake

tshirt ketat dan jins yang ketat juga, kalo aura kasi aja sih lewat

lah. Setelah aku perhattin ternyat Ayu. “Yu,” panggilku. Ayu noleh,

“Eh si om, blanja ya om”. “La iyalah, ke hipermarket masak mo nonton

bioskop. Kamu blanja juga”. “Cuma beli pemalut aja kok om, siap2 kalo

dapet”. “Mangnya dah mo dapet ya”. “Kalo itung kalender si dah ampir

om, persisnya si gak tau”. “Kamu seksi banget kalo pake jins ma tshirt

Yu, kalo jagain anak mestinya kaya gini pakeannya”. “Kalo nungguin

anak kudu pake seragam si om”. “Kamu kok bisa kluyuran kemari”. “Iya

om, majikan dua2nya pergi kluar kota, kerumah ortunya katanya, jadi

anaknya dibawa. Bete ni om dirumah aja, mana tu nenek2 crewet lagi”.

“Nenek2?”. “Iya om, pembantunya, dah tua, crewet banget deh, suka

mrintah2, palagi gak ada majikan. Aku tinggal klayapan aja”. “Kmu

antuin aku blanja ya, ntar pembalut kamu aku bayarin deh, kamu ada

keperluan yang laen gak, skalian aja. Hap kamu tu dah bikinan cina,

jadul banget. Aku beliin yang sama merknya dan ada kameranya ya”. “Hp

kan mahal om, mending beliian aku pakean dan spatu aja”. “Dua2nya juga

bole kok”. “Bener nih om, wah om baek bener deh, pasti ada maunya ni

ye”. Aku tersenyum aja, Ayu langsung ke konter hp, dia mencari hp yang

sama dengan merk hp lamanya tapi yang ada kameranya. Kebetulan lagi

ada program tuker tambah. “Cuma dihargai 50 ribu om”. “Ya udah gak

apa, minta tolong mbaknya mindahin isi hp lama kamu ke yang baru aja”.

Cukup lama, [proses pembelian dan transfer data dari hp lamanya Ayu ke

yang baru. Setelah itu selesai, Ayu menuju ke konter pakean, dia milih

jins dan t shirt. “Beli dalemannya bole ya om”. “Buat kamu apa sih

yang gak boleh”. Ketkia milih bra, aku jadi tau ukuran toketnya, 34C,

pantes kliatan gede banget. Selesainya beli pakean, Ayu milih sendal

yang bagusan, abis itu baru kita blanja. Dia beli pembalut dan makanan

kecil, aku membeli keperluan rumah untuk sebulan sehingga kereta

blanjaan penuh. “Wah balnjanya banyak banget om, sampe sekreta penuh”.

kita blanja sambil ngobrol dan becanda. Ayu orangnya enak buat diajak

becanda, dia slalu terpingkel2 kalo aku guyonin, sampe pelanggan yang

laen pada nengok. “Yu, kalo ketawa jangan keras2, diliat orang tuh”.

“Biar aja diliatin, om si bikin lucu2, mana aku tahan gak ketawa”. “Ya

udah lucu2 nya terusin dirumahku ya”. Ayu diem aja, aku dah slesai

blanjang dan ngantri di kasir. Hari ini rame juga yang blanja jadi

ngantri cukup lama sampe slesai bayar. selama ngantre aku terus aja

becandain Ayu, dan dia ketawa ketiwi karenanya. Dia membantu memsukkan

blanjaanku dan blanjaannya ke mobil dan duduk diseblah aku. “Cari

makan dulu ya YU, dah siang nih. Kamu suka makan apa?” “Makan apa juga

aku suka”. “Pecel lele doyan gak”. “Doyan om”. Mobil meluncur ke

warung pecel lele, aku pesen makanan dan minuman. Kami makan sambil

nerusin becanda. Selesai makan dan minum, “Kita mo kemana lagi Yu”.

“Ya pulang lah om, dah kenyang gini aku suka ngantuk”. “Kerumahku aja

ya, katanya kamu gak mo ketemu sinenek”. “Oke om”. Mobil meluncur

pulang.

Sampe dirumah, Ayu membantu mengeluarkan belanjaan dari mobil, diapun

membantu menyimpan belanjaanku ditempatnya. Belanjaanya ditumpik aja

dideket sofa. Kemudian dia mengeluarkan hp barunya, sambil membaca

buku manualnya dia berkenalan dengan hp barunya. Karena aku

kringetean, aku tinggalkan dia mandi. Selesai mandi aku hanya

mengenakan celana pendek dan kaos buntung aja. “Om santai amat, gak

pergi kerja”. “Kan ada kamu, masak aku tinggal”. “ayu tinggal disini

sampe sore boleh ya om, om kalo mo pergi kerja pergi aja. aku mo

blajar hp baru, makasi ya om, om baek banget deh. Pasti abis ini minta

upah ya om”. “Mangnya kamu mo ngasi upahnya apaan”. “apa yang om

minta, pasti aku kasi, kalo aku bisa’. Wah nantangin ni anak, pikirku.

“Kamu mo nuker baju Yu, aku punya kaos yang gede banget, pasti kalo

kamu pake jadi kaya daster”. “Bole deh om, aku mandi aja ya om, gerah

nih”. Aku mengambilkan baju kaos gombrongku dan memberikan ke Ayu,

“Pake aja anduk aku ya, dikamar mandi ada sabun, mo kramas juga ada

sampo”. “Mangnya mandi junub om, pake kramas segala”. “Mangnya gak

boleh kalo gak junub kamu kramas”. “Bole juga si om”. Dia menghilang

ke kamar mandi. Aku mengambil 2 botol soft drink dari lemari es,

kemudian aku menyiapkan video bokep yang aku belon liat. Aku mo macing

napsunya Ayu pake video bokep.

Selesai mandi Ayu hanya mengenakan baju kaosku, cukup si buat dia,

cuma jadi kaya make rok min saja. 15cm di atas lutut. Paha dan betis

yang tidak ditutupi kaosku itu tampak amat mulus. Kulitnya kelihatan

licin, dihiasi oleh rambut-rambut halus yang pendek. Pinggulnya yang

besar melebar. Pinggangnya kelihatan ramping. Walaupun kaos iru

gombrong, tapi kelihatan sekali bentuk toketnya yang besar kenceng

itu, sangat menggairahkan, palagi pentilnya tercetak di kaos itu.

Rupanya Ayu tidak mengenakan bra. Lehernya jenjang dengan beberapa

helai rambut terjuntai. Sementara bau harum sabun mandi terpancar dari

tubuhnya. sebagai laki-laki normal, kon tolku berdiri melihat

tubuhnya. Dari samping kulihat toketnya begitu menonjol dari balik

kaos itu. Melihat Ayu sewaktu membelakangiku, aku terbayang betapa

nikmatnya bila tubuh tersebut digeluti dari arah belakang.

Kuperhatikan gerak tubuhnya dari belakang. Pinggul yang besar itu

meliuk ke kiri-kanan mengimbangi langkah-langkah kakinya. Ingin

rasanya kudekap tubuh itu dari belakang erat-erat. Ingin kutempelkan

kon tolku di gundukan pantatnya. Dan ingin rasanya kuremas-remas toket

montoknya habis-habisan.

Aku duduk di sofa. Ayu menuangkan soft drink ke gelas, “Kok

softdrinknya 2 botol om”. “Yang satunua buat kamu”. Dia menunagkan

soft drink satunya ke gelas dan membawa ke 2 gelas itu ke sofa. “Om

gak ada pembantu ya”. “Ada kok Yu, cuma datengnya 2 kali seminggu,

buat bebersih rumah dan nyetrika, aku nyucinya seminggu juga 2 kali,

pake mesin cuci, jadi tinggal ngejemur aja kan. Kamu mo nemenin dan

bantu aku disini. aku gak tersinggung lo kalo kamu mau”. “Kerjaannya

dikit om, ntar aku gak ada kerjaannya”. “Kalo gak ada kerjaan, aku mau

kok ngejain kamu tiap ari”, godaku sambil tersenyum. “Ih si om, genit

ah”. “Dah ngerti blon hp barunya”. “Dah om, prinsipnya sama dengan hp

lama, merknya kan sama, cuma lebi canggih aja. kalo dah dipake ntar

juga lancar diri”.

Kembali kita ngobrol ngalor ngidul soal macem2. kesempatan bagiku

untuk menatapnya dari dekat tanpa rasa risih. Akhirnya pembicaraan

menyerempet soal sex. “Yu, kamu perna maen”. “Maen apaan om”. “Maen ma

lelaki”. “Pernah om, ma majikan yang sebelon ini. Aku diprawanin ma

dia. Napsunya gede banget deh, kalo maen, pembantunya yang umurnya

lebih muda dari aku diembat juga. Cuma kali maen ma pembantu cuma

sekali, ma aku bisa ampe 3 kali”. “Ya teranglah, kamu merangsang gini.

Pasti pembantunya item kan kaya babysitter laennya”. “Iya sih om”.

“Terus napa kok brenti?” “Kepergok ibu om, ketika itu aku lagi man ma

majikan, gak taunya ibu pulang mendadak. Langsung deh aku dikluarin.

Baiknya ada temen yang ngasi tau ada lowongan di tempat yang skarang”.

“Ma majikan yang skarang maen juga?” “Enggak bisa om, kan ada si

nenek, bisa dilaporin ibu kalo si bapak macem2 ma aku”. “Kamu dah

sering maen terus gak maen2, pa gak kepengen?” “Pengen si om, tapi ma

siapa, aku suka gesek2 ndiri kalo lagi mandi”. “Mangnya enak”. “Enak

om, ngikutin cara si bapak yang dulu ngegesek”. “Ngegesek apaan Yu”.

“Ih om nanya mulu, malu kan aku”. “Kita nonton film ya, asik kok

filmnya”. “FIlm apaan om”. “Ya udah kamu liat aja”. Aku memutar video

bokep, kayanya orang thai ceweknya sehingga mirip banget ma orang

kita, cowoknya bule. “Ih om gedebanget ya punya si bule”. “Ma punya

majikan kamu yang duluan gede mana”. “Gede ini om, ampe gak muat tu

diemutnya”. “Kamu suka disuru ngemut Yu”. “Iya om, majikan seneng

banget kalo diemut”. Ayu terpaku melihat adegan seru di layar kaca,

suara ah uh merupakan serenade wajib film bokep terdengar jelas.

“Keenakan ya om prempuannya, sampe mengerang2 gitu”. “Mangnya kamu

enggak”. “Iya juga sih”.

Setelah melihat Ayu mulai gelisah duduknya, sebentar kaki kiri

ditopang kaki kanan, terus sebaliknya, aku tau Ayu dah mulai

terangsang. “Napa kok gelisah Yu, kamu napsu ya”, kataku to the point.

Ayu diem saja. Kon tolku dah ngaceng dengan kerasnya. Apalagi ketika

paha yang putih terbuka karena kaosnya yang tersingkap. Kuelus

betisnya. Dia diam saja. elusanku mermabat makin keatas. Ayu

menggeliat, geli katanya. Kusingkapkan bagian bawah dasternya sampai

sebatas perut. Kini paha mulus itu terhampar di hadapanku. Di atas

paha, beberapa helai bulu jembut keluar dari CD yang minim berbentuk

segitiga. Sungguh kontras warnanya. Jembutnya berwarna hitam, sedang

tubuhnya berwarna putih. Kueluskan tanganku menuju pangkal pahanya

sambil kuamati wajah Ayu. Kueluskan perlahan ibu jariku di belahan

bibir no noknya. Aku membungkuk diatas pahanya, kuciumi paha mulus

tersebut berganti-ganti, kiri dan kanan, sambil tanganku mengusap dan

meremasnya perlahan-lahan. Kedua paha tersebut secara otomatis

bergerak membuka agak lebar. Kembali kuciumi dan kujilati paha dan

betis nya. Nafsuku semakin tinggi. Aku semakin nekad. Kulepaskan kaos

Ayu, “Om, Aku mau diapain”, katanya lirih. Aku menghentikan aksiku.

Aku memandangi tubuh mulus Ayu tanpa daster menghalanginya. Tubuh

moleknya sungguh membangkitkan birahi. toket yang besar membusung,

pinggang yang ramping, dan pinggul yang besar melebar. pentilnya

berdiri tegak. Kupandangi Ayu. Alangkah cantiknya wajahnya. Lehernya

jenjang. Toketnya yang montok bergerak naik-turun dengan teratur

mengiringi nafasnya. Pinggangnya ramping, dan pinggulnya yang besar

melebar.

“Yu, aku mau ngasi kenikmatan sama kamu, mau enggak”, kataku perlahan

sambil mencium toket nya yang montok. Ayu diam saja, matanya terpejam.

Hidungku mengendus-endus kedua toket yang berbau harum sambil sesekali

mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahku.pentil toket kanannya

kulahap ke dalam mulutku. Badannya sedikit tersentak ketika pentil itu

kugencet perlahan dengan menggunakan lidah dan gigi atasku. “Om…”,

rintihnya, rupanya tindakanku membangkitkan napsunya juga. Karena

sangat ingin merasakan kenikmatan dien tot, Ayu diam saja membiarkan

aku menjelajahi tubuhnya. kusedot-sedot pentil toketnya secara

berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak kuperkuat sedotanku.

Kuperbesar daerah lahapan bibirku. Kini pentil dan toket sekitarnya

yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dalam mulutku. Kembali

kusedot daerah tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik

wajah Ayu tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan.

Kedua toket harum itu kuciumi dan kusedot-sedot secara berirama. kon

tolku bertambah tegang. Sambil terus menggumuli toket dengan bibir,

lidah, dan wajahnya, aku terus menggesek-gesekkan kon tol di kulit

pahanya yang halus dan licin. Kubenamkan wajahku di antara kedua belah

gumpalan dada Ayu. perlahan-lahan bergerak ke arah bawah. Kugesek-

gesekkan wajahku di lekukan tubuh yang merupakan batas antara gumpalan

toket dan kulit perutnya. Kiri dan kanan kuciumi dan kujilati secara

bergantian. Kecupan-kecupan bibirku, jilatan-jilatan lidahku, dan

endusan-endusan hidungku pun beralih ke perut dan pinggang Ayu.

Sementara gesekan-gesekan kepala kon tolku kupindahkan ke betisnya.

Bibir dan lidahku menyusuri perut sekeliling pusarnya yang putih

mulus. wajahku bergerak lebih ke bawah. Dengan nafsu yang menggelora

kupeluk pinggulnya secara perlahan-lahan. Kecupanku pun berpindah ke

CD tipis yang membungkus pinggulnya tersebut. Kususuri pertemuan

antara kulit perut dan CD, ke arah pangkal paha. Kujilat helaian-

helaian rambut jembutnya yang keluar dari CDnya. Lalu kuendus dan

kujilat CD pink itu di bagian belahan bibir no noknya. Ayu makin

terengah menahan napsunya, sesekali terdengar lenguhannya menahan

kenikmatan yang dirasakannya.

Aku bangkit dan melepaskan semua yang menempek ditubuhku. “Punya om

gede banget, kayanya segede punya si bule deh”. Dengan posisi berdiri

di atas lutut kukangkangi tubuhnya. kon tolku yang tegang kutempelkan

di kulit toket Ayu. Kepala kon tol kugesek-gesekkan di toket yang

montok itu. Sambil kukocok batangnya dengan tangan kananku, kepala kon

tol terus kugesekkan di toketnya, kiri dan kanan. Setelah sekitar dua

menit aku melakukan hal itu. Kuraih kedua belah gumpalan toket Ayu

yang montok itu. Aku berdiri di atas lutut dengan mengangkangi

pinggang ramping Ayu dengan posisi badan sedikit membungkuk. Batang

kon tolku kujepit dengan kedua gumpalan toketnya. Kini rasa hangat

toket Ayu terasa mengalir ke seluruh batang kon tolku. Perlahan-lahan

kugerakkan maju-mundur kon tolku di cekikan kedua toket Ayu.

Kekenyalan daging toket tersebut serasa memijit-mijit batang kon

tolku, memberi rasa nikmat yang luar biasa. Di kala maju, kepala kon

tolku terlihat mencapai pangkal lehernya yang jenjang. Di kala mundur,

kepala kon tolku tersembunyi di jepitan toketnya.

Lama-lama gerak maju-mundur kon tolku bertambah cepat, dan kedua toket

nya kutekan semakin keras dengan telapak tanganku agar jepitan di

batang kon tolku semakin kuat. Aku pun merem melek menikmati enaknya

jepitan toketnya. Ayu pun mendesah-desah tertahan, “Ah… hhh… hhh… ah…”
kon tolku pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut

membasahi belahan toket Ayu. Oleh gerakan maju-mundur kon tolku di

dadanya yang diimbangi dengan tekanan-tekanan dan remasan-remasan

tanganku di kedua toketnya, cairan itu menjadi teroles rata di

sepanjang belahan dadanya yang menjepit batang kon tolku. Cairan

tersebut menjadi pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kon tolku di

dalam jepitan toketnya. Dengan adanya sedikit cairan dari kon tolku

tersebut aku merasakan keenakan dan kehangatan yang luar biasa pada

gesekan-gesekan batang dan kepala kon tolku dengan toketnya. “Hih…

hhh… … Luar biasa enaknya…,” aku tak kuasa menahan rasa enak yang tak

terperi. Nafas Ayu menjadi tidak teratur. Desahan-desahan keluar dari

bibirnya , yang kadang diseling desahan lewat hidungnya, “Ngh… ngh…

hhh… heh… eh… ngh…” Desahan-desahan Ayu semakin membuat nafsuku makin

memuncak. Gesekan-gesekan maju-mundurnya kon tolku di jepitan toketnya

semakin cepat. kon tolku semakin tegang dan keras. Kurasakan pembuluh

darah yang melalui batang kon tolku berdenyut-denyut, menambah rasa

hangat dan nikmat yang luar biasa. “Enak sekali, Yu”, erangku tak

tertahankan. Aku menggerakkan maju-mundur kon tolku di jepitan toket

Ayu dengan semakin cepatnya. Rasa enak yang luar biasa mengalir dari

kon tol ke syaraf-syaraf otakku. Kulihat wajah Ayu. Alis matanya

bergerak naik turun seiring dengan desah-desah perlahan bibirnya

akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di

toketnya. Ada sekitar lima menit aku menikmati rasa keenakan luar

biasa di jepitan toketnya itu.

Toket sebelah kanannya kulepas dari telapak tanganku. Tangan kananku

lalu membimbing kon tol dan menggesek-gesekkan kepala kon tol dengan

gerakan memutar di kulit toketnya yang halus mulus. Sambil jari-jari

tangan kiriku terus meremas toket kiri Ayu, kon tolku kugerakkan

memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarnya,

kepala kon tolku kugesekkan memutar di kulit perutnya yang putih

mulus, sambil sesekali kusodokkan perlahan di lobang pusarnya. kucopot

CD minimnya. Pinggul yang melebar itu tidak berpenutup lagi. Kulit

perut yang semula tertutup CD tampak jelas sekali. Licin, putih, dan

amat mulus. Di bawah perutnya, jembut yang hitam lebat menutupi daerah

sekitar lobang no noknya. Kedua paha mulus Ayu kurenggangkan lebih

lebar. Kini hutan lebat di bawah perut tadi terkuak, mempertontonkan

no noknya. Aku pun mengambil posisi agar kon tolku dapat mencapai no

nok Ayu dengan mudahnya. Dengan tangan kanan memegang batang kon tol,

kepalanya kugesek-gesekkan ke jembut Ayu. Rasa geli menggelitik kepala

kon tolku. kepala kon tolku bergerak menyusuri jembut menuju ke no

noknya. Kugesek-gesekkan kepala kon tol ke sekeliling bibir no noknya.

Terasa geli dan nikmat. kepala kon tol kugesekkan agak ke arah lobang.

Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut lobang no nok

itu menjadi basah. Kugetarkan perlahan-lahan kon tolku sambil terus

memasuki lobang no nok. Kini seluruh kepala kon tolku yang berhelm

pink tebenam dalam jepitan mulut no nok Ayu. Jepitan mulut no nok itu

terasa hangat dan enak sekali. Kembali dari mulut Ayu keluar desisan

kecil tanda nikmat tak terperi. kon tolku semakin tegang. Sementara

dinding mulut no nok Ayu terasa semakin basah. Perlahan-lahan kon

tolku kutusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal separuh batang yang

tersisa di luar. Secara perlahan kumasukkan kon tolku ke dalam no nok.

Terbenam sudah seluruh batang kon tolku di dalam no nok Ayu. Sekujur

batang kon tol sekarang dijepit oleh no nok Ayu dengan sangat enaknya.

secara perlahan-lahan kugerakkan keluar-masuk kon tolku ke dalam no

noknya. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam no nok hanya kepala kon

tol saja. Sewaktu masuk seluruh kon tol terbenam di dalam no nok

sampai batas pangkalnya. Rasa hangat dan enak yang luar biasa kini

seolah memijiti seluruh bagian kon tolku. Aku terus memasuk-keluarkan

kon tolku ke lobang no noknya. Alis matanya terangkat naik setiap kali

kon tolku menusuk masuk no noknya secara perlahan. Bibir segarnya yang

sensual sedikit terbuka, sedang giginya erkatup rapat. Dari mulut sexy

itu keluar desis kenikmatan, “Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…” Aku

terus mengocok perlahan-lahan no noknya. Enam menit sudah hal itu

berlangsung. Kembali kukocok secara perlahan no noknya. Kurasakan

enaknya jepitan otot-otot no nok pada kon tolku. Kubiarkan kocokan

perlahan tersebut sampai selama dua menit. Kembali kutarik kon tolku

dari no nok Ayu. Namun kini tidak seluruhnya, kepala kon tol masih

kubiarkan tertanam dalam mulut no noknya. Sementara batang kon tol

kukocok dengan jari-jari tangan kananku dengan cepatnya.

Rasa enak itu agaknya dirasakan pula oleh Ayu. Ayu mendesah-desah

akibat sentuhan-sentuhan getar kepala kon tolku pada dinding mulut no

noknya, “Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…” Tiga menit kemudian kumasukkan

lagi seluruh kon tolku ke dalam no nok Ayu. Dan kukocok perlahan.

Kunikmati kocokan perlahan pada no noknya kali ini lebih lama. Sampai

kira-kira empat menit. Lama-lama aku tidak puas. Kupercepat gerakan

keluar-masuk kon tolku pada no noknya. Kurasakan rasa enak sekali

menjalar di sekujur kon tolku. Aku sampai tak kuasa menahan ekspresi

keenakanku. Sambil tertahan-tahan, aku mendesis-desis, “Yu… no nokmu

luar biasa… nikmatnya…” Gerakan keluar-masuk secara cepat itu

berlangsung sampai sekitar empat menit. rasa gatal-gatal enak mulai

menjalar di sekujur kon tolku.

Berarti beberapa saat lagi aku akan ngecret. Kucopot kon tolku dari no

nok Ayu.
Segera aku berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhnya agar kon tolku

mudah mencapai toketnya. Kembali kuraih kedua belah toket montok itu

untuk menjepit kon tolku yang berdiri dengan amat gagahnya. Agar kon

tolku dapat terjepit dengan enaknya, aku agak merundukkan badanku. kon

tol kukocokkan maju-mundur di dalam jepitan toketnya. Cairan no nok

Ayu yang membasahi kon tolku kini merupakan pelumas pada gesekan-

gesekan kon tolku dan kulit toketnya. “Oh… hangatnya… Sssh…

nikmatnya…Tubuhmu luarrr biasa…”, aku merintih-rintih keenakan. Ayu

juga mendesis-desis keenakan, “Sssh.. sssh… sssh…” Giginya tertutup

rapat. Alis matanya bergerak ke atas ke bawah. Aku mempercepat maju-

mundurnya kon tolku. Aku memperkuat tekananku pada toketnya agar kon

tolku terjepit lebih kuat. Rasa enak menjalar lewat kon tolku. Rasa

hangat menyusup di seluruh kon tolku. Karena basah oleh cairan no nok,

kepala kon tolku tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan

toket Ayu. Leher kon tol yang berwarna coklat tua dan helm kon tol

yang berwarna pink itu menari-nari di jepitan toketnya. Lama-lama rasa

gatal yang menyusup ke segenap penjuru kon tolku semakin menjadi-jadi.

Semakin kupercepat kocokan kon tolku pada toket Ayu. Rasa gatal

semakin hebat. Rasa hangat semakin luar biasa. Dan rasa enak semakin

menuju puncaknya. Tiga menit sudah kocokan hebat kon tolku di toket

montok itu berlangsung. Dan ketika rasa gatal dan enak di kon tolku

hampir mencapai puncaknya, aku menahan sekuat tenaga benteng

pertahananku sambil mengocokkan kon tol di kempitan toket indah Ayu

dengan sangat cepatnya. Rasa gatal, hangat, dan enak yang luar biasa

akhirnya mencapai puncaknya. Aku tak kuasa lagi membendung jebolnya

tanggul pertahananku. “Ayu…!” pekikku dengan tidak tertahankan. Mataku

membeliak-beliak. Jebollah pertahananku. Rasa hangat dan nikmat yang

luar biasa menyusup ke seluruh sel-sel kon tolku saat menyemburkan

peju. Crot! Crot! Crot! Crot!

Pejuku menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali

semprotannya, sampai menghantam rahang Ayu. Peju tersebut berwarna

putih dan kelihatan sangat kental. Dari rahang peju mengalir turun ke

arah leher Ayu. Peju yang tersisa di dalam kon tolku pun menyusul

keluar dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya

lemah. Semprotan awal hanya sampai pangkal lehernya, sedang yang

terakhir hanya jatuh di atas belahan toketnya. Aku menikmati akhir-

akhir kenikmatan. “Luar biasa… Yu, nikmat sekali tubuhmu…,” aku

bergumam. “Kok gak dikeluarin di dalem aja om”, kata Ayu lirih. “Gak

apa kalo om ngecret didalem Yu”, jawabku. “Gak apa om, Ayu pengen

ngerasain kesemprot peju anget. Tapi Ayu ngerasa nikmat sekali om,

belum pernah Ayu ngerasain kenikmatan seperti ini”, katanya lagi. “Ini

baru ronde pertama Yu, mau lagi kan ronde kedua”, kataku. “Mau om,

tapi ngecretnya didalem ya”, jawabnya. “Kok tadi kamu diem aja Yu”,

kataku lagi. “Bingung om, tapi nikmat”, jawabnya sambil tersenyum.

“Engh…” Ayu menggeliatkan badannya. Aku segera mengelap kon tol dengan

tissue yang ada di atas meja, dan memakai celana pendek. beberapa

lembar tissue kuambil untuk mengelap pejuku yang berleleran di rahang,

leher, dan toket Ayu. Ada yang tidak dapat dilap, yakni cairan pejuku

yang sudah terlajur jatuh di rambut kepalanya. “Mo kemana om”,

tanyanya. “Mo ambil minum dulu”, jawabku. “Kok celananya dipake,

katanya mau ronde kedua”, katanya. Rupanya Ayu sudah pengen aku

menggelutinya sekali lagi.

Aku kembali membawa gelas berisi air putih, kuberikan kepada Ayu yang

langsung menenggaknya sampe habis. Aku keluar lagi untuk mengisi gelas

dengan air dan kembali lagi ke kekamar. Masih tidak puas aku

memandangi toket indah yang terhampar di depan mataku tersebut. mataku

memandang ke arah pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang melebar

indah. Terus tatapanku jatuh ke no noknya yang dikelilingi oleh bulu

jembut hitam jang lebat. Betapa enaknya ngen totin Ayu. Aku ingin

mengulangi permainan tadi, menggeluti dan mendekap kuat tubuhnya.

Mengocok no noknya dengan kon tolku dengan irama yang menghentak-

hentak kuat. Dan aku dapat menyemprotkan pejuku di dalam no noknya

sambil merengkuh kuat-kuat tubuhnya saat aku nyampe. Nafsuku terbakar.

“Ayu…,” desahku penuh nafsu. Bibirku pun menggeluti bibirnya. Bibir

sensual yang menantang itu kulumat-lumat dengan ganasnya. Sementara

Ayu pun tidak mau kalah. Bibirnya pun menyerang bibirku dengan

dahsyatnya, seakan tidak mau kedahuluan oleh lumatan bibirku. Kedua

tangankupun menyusup diantara lengan tangannya. Tubuhnya sekarang

berada dalam dekapanku. Aku mempererat dekapanku, sementara Ayu pun

mempererat pelukannya pada diriku. Kehangatan tubuhnya terasa merembes

ke badanku, toketnya yang membusung terasa semakin menekan dadaku.

Jari-jari tangan Ayu mulai meremas-remas kulit punggungku. Ayu

mencopot celanaku.Ayu pun merangkul punggungku lagi. Aku kembali

mendekap erat tubuh Ayu sambil melumat kembali bibirnya. Aku terus

mendekap tubuhnya sambil saling melumat bibir. Sementara tangan kami

saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai tubuh bagian

depan kami yang saling menempel. Kini kurasakan toketnya yang montok

menekan ke dadaku. Dan ketika saling sedikit bergeseran, pentilnya

seolah-olah menggelitiki dadaku. kon tolku terasa hangat dan mengeras.

Tangan kiriku pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan

pinggul besar Ayu, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutku.

kon tolku tergencet perut bawahku dan perut bawah Ayu dengan enaknya.

Sementara bibirku bergerak ke arah lehernya.kuciumi, kuhisap-hisap

dengan hidungku, dan kujilati dengan lidahku. “Ah… geli… geli…,” desah

Ayu sambil menengadahkan kepala, agar seluruh leher sampai dagunya

terbuka dengan luasnya. Ayu pun membusungkan dadanya dan melenturkan

pinggangnya ke depan. Dengan posisi begitu, walaupun wajahku dalam

keadaan menggeluti lehernya, tubuh kami dari dada hingga bawah perut

tetap dapat menyatu dengan rapatnya. Tangan kananku lalu bergerak ke

dadanya yang montok, dan meremas-remas toket tersebut dengan perasaan

gemas.

Setelah puas menggeluti lehernya, wajahku turun ke arah belahan

dadanya. Aku berdiri dengan agak merunduk. Tangan kiriku pun menyusul

tangan kanan, yakni bergerak memegangi toket. Kugeluti belahan toket

Ayu, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah toketnya

sambil menekan-nekankannya ke arah wajahku. Kugesek-gesekkan memutar

wajahku di belahan toket itu. bibirku bergerak ke atas bukit toket

sebelah kiri. Kuciumi bukit toket nya, dan kumasukkan pentil toket di

atasnya ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot pentil toket kiri

Ayu. Kumainkan pentil di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan

kadang kuperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang

berwarna coklat. “Ah… ah… om…geli…,” Ayu mendesis-desis sambil

menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Aku memperkuat sedotanku. Sementara

tanganku meremas kuat toket sebelah kanan. Kadang remasan kuperkuat

dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-

tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada pentilnya. “Om… hhh…

geli… geli… enak… enak… ngilu…ngilu…” Aku semakin gemas. toket Ayu itu

kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan.

Bukit toket kadang kusedot sebesar-besarnya dengan tenaga isap sekuat

-kuatnya, kadang yang kusedot hanya pentilnya dan kucepit dengan gigi

atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap

sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-

pijit dan kupelintir-pelintir kecil pentil yang mencuat gagah di

puncaknya. “Ah…om… terus… hzzz…ngilu… ngilu…” Ayu mendesis-desis

keenakan. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan

-kiri semakin sering frekuensinya.
Sampai akhirnya Ayu tidak kuat melayani serangan-serangan awalku.

Jari-jari tangan kanan Ayu yang mulus dan lembut menangkap kon tolku

yang sudah berdiri dengan gagahnya. “Om.. Batang kon tolnya besar ya”,

ucapnya. Sambil membiarkan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan

dan menggeluti kedua belah toketnya, jari-jari lentik tangan kanannya

meremas-remas perlahan kon tolku secara berirama. Remasannya itu

memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kon tolku. kurengkuh

tubuhnyadengan gemasnya. Kukecup kembali daerah antara telinga dan

lehernya. Kadang daun telinga sebelah bawahnya kukulum dalam mulutku

dan kumainkan dengan lidahku. Kadang ciumanku berpindah ke punggung

lehernya yang jenjang. Kujilati pangkal helaian rambutnya yang

terjatuh di kulit lehernya. Sementara tanganku mendekap dadanya dengan

eratnya. Telapak dan jari-jari tanganku meremas-remas kedua belah

toketnya. Remasanku kadang sangat kuat, kadang melemah. Sambil

telunjuk dan ibu jari tangan kananku menggencet dan memelintir

perlahan pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas kuat

bukit toket kanannya dan bibirku menyedot kulit mulus pangkal lehernya

yang bebau harum, kon tolku kugesek-gesekkan dan kutekan-tekankan ke

perutnya. Ayu pun menggelinjang ke kiri-kanan. “Ah… om… ngilu… terus

om… terus… ah… geli…geli…terus… hhh… enak… enaknya… enak…,” Ayu

merintih-rintih sambil terus berusaha menggeliat ke kiri-kanan dengan

berirama sejalan dengan permainan tanganku di toketnya. Akibatnya

pinggulnya menggial ke kanan-kiri. Goyang gialan pinggul itu membuat

kon tolku yang sedang menggesek-gesek dan menekan-nekan perutnya

merasa semakin keenakan. “Ayu… enak sekali Ayu… sssh… luar biasa… enak

sekali…,” aku pun mendesis-desis keenakan. “Om keenakan ya? Batang kon

tol om terasa besar dan keras sekali menekan perut Ayu. Wow… kon tol

om terasa hangat di kulit perut Ayu. tangan om nakal sekali … ngilu,

…,” rintih Ayu. “Jangan mainkan hanya pentilnya saja… geli… remas

seluruhnya saja…” Ayu semakin menggelinjang-gelinjang dalam dekapan

eratku. Dia sudah makin liar saja desahannya, rupanya dia sangat

menikmati gelutannya. “om.. remasannya kuat sekali… Tangan om nakal

sekali…Sssh… sssh… ngilu… ngilu…Ak… kon tol om … besar sekali… kuat

sekali…”

Ayu menarik wajahku mendekat ke wajahnya. bibirnya melumat bibirku

dengan ganasnya. Aku pun tidak mau kalah. Kulumat bibirnya dengan

penuh nafsu yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya

dengan kuatnya. Kulit punggungnya yang teraih oleh telapak tanganku

kuremas-remas dengan gemasnya. Kemudian aku menindihi tubuh Ayu. kon

tolku terjepit di antara pangkal pahanya dan perutku bagian bawah

sendiri. Rasa hangat mengalir ke batang kon tolku yang tegang dan

keras. Akhirnya aku tidak sabar lagi. Bibirku kini berpindah menciumi

dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing kon tolku untuk

mencari liang no noknya. Kuputar-putarkan dulu kepala kon tolku di

kelebatan jembut disekitar bibir no nok Ayu. Ayu meraih batang kon

tolku yang sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu terbuka agak

lebar. “Om kon tolnya besar dan keras sekali” katanya sambil

mengarahkan kepala kon tolku ke lobang no noknya. kepala kon tolku

menyentuh bibir no noknya yang sudah basah. dengan perlahan-lahan dan

sambil kugetarkan, kon tol kutekankan masuk ke liang no nok. Kini

seluruh kepala kon tolku pun terbenam di dalam no noknya. Aku

menghentikan gerak masuk kon tolku.

“Om… teruskan masuk… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,”

Ayu protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kon

tolku hanya masuk ke lobang no noknya hanya sebatas kepalanya saja,

namun kon tolku kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan

hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan

tangannya yang harum dan mulus, dan ketiaknya yang bersih dari bulu

ketiak. Ayu menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan. “Sssh… sssh…

enak… enak… geli… geli, om. Geli… Terus masuk, om..” Bibirku mengulum

kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara tenaga

kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! kon tolku

kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam no nok Ayu dengan sangat cepat

dan kuatnya. Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang

sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit

batang kon tolku bagaikan diplirid oleh bibir no noknya yang sudah

basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt! “Auwww!” pekik

Ayu. Aku diam sesaat, membiarkan kon tolku tertanam seluruhnya di

dalam no nok Ayu tanpa bergerak sedikit pun. “Sakit om… ” kata Ayu

sambil tangannya meremas punggungku dengan kerasnya. Aku pun mulai

menggerakkan kon tolku keluar-masuk no nok Ayu. Aku tidak tahu, apakah

kon tolku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang no nok Ayu

yang berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kon tolku yang

masuk no noknya serasa dipijit-pijit dinding lobang no noknya dengan

agak kuatnya. “Bagaimana Yu, sakit?” tanyaku. “Sssh… enak sekali… enak

sekali… kon tol om besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal

penuh seluruh penjuru lobang no nok Ayu..,” jawabnya. Aku terus

memompa no nok Ayu dengan kon tolku perlahan-lahan. toketnya yang

menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan

memompa tadi. Kedua pentilnya yang sudah mengeras seakan-akan

mengkilik-kilik dadaku. kon tolku serasa diremas-remas dengan berirama

oleh otot-otot no noknya sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa

hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kon

tolku menyentuh suatu daging hangat di dalam no nok Ayu. Sentuhan

tersebut serasa menggelitiki kepala kon tol sehingga aku merasa

sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

aku mengambil kedua kakinya dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kon

tolku tidak tercabut dari lobang no noknya, aku mengambil posisi agak

jongkok. Betis kanan Ayu kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis

kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok no noknya

perlahan dengan kon tolku, betis kirinya yang amat indah itu kuciumi

dan kukecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti

betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya

kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa

kali secara bergantian, sambil
mempertahankan gerakan kon tolku maju-mundur perlahan di no nok Ayu.

Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di

bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah toketnya.

Masih dengan kocokan kon tol perlahan di no noknya, tanganku meremas-

remas toket montok Ayu. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat

-kuat secara berirama. Kadang kedua pentilnya kugencet dan kupelintir

-pelintir secara perlahan. pentil itu semakin mengeras, dan bukit

toket itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ayu pun merintih

-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya

dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah. “Ah… om, geli…

geli… … Ngilu om, ngilu… Sssh… sssh… terus om, terus…. kon tol om

membuat no nok aku merasa enak sekali… Nanti jangan dingecretinkan di

luar no nok, ya om. Ngecret di dalam saja… ” Aku mulai mempercepat

gerakan masuk-keluar kon tolku di no nok Ayu. “Ah-ah-ah… bener, om.

Bener… yang cepat. Terus om, terus… ” Aku bagaikan diberi spirit oleh

rintihan-rintihan Ayu. Tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan

kecepatan keluar-masuk kon tolku di no nok Ayu. Terus dan terus.

Seluruh bagian kon tolku serasa diremas-remas dengan cepatnya oleh no

nok Ayu. Mata Ayu menjadi merem-melek. Begitu juga diriku, mataku pun

merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa.

“Sssh… sssh… Ayu… enak sekali… enak sekali no nokmu… enak sekali no

nokmu…” “Ya om, Ayu juga merasa enak sekali… terusss…terus om,

terusss…” Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kon tolku pada

no noknya. “Om… sssh… sssh… Terus… terus… aku hampir nyampe…sedikit

lagi… sama-sama ya om…,” Ayu jadi mengoceh tanpa kendali. Aku mengayuh

terus. Aku belum merasa mau ngecret. Namun aku harus membuatnya nyampe

duluan. Sementara kon tolku merasakan no nok Ayu bagaikan berdenyut

dengan hebatnya. “Om… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar om… mau keluar..ah-

ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…” Tiba-tiba kurasakan kon tolku dijepit

oleh dinding no nok Ayu dengan sangat kuatnya. Di dalam no nok, kon

tolku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari no nok Ayu dengan

cukup derasnya. Dan telapak tangan Ayu meremas lengan tanganku dengan

sangat kuatnya. Ayu pun berteriak tanpa kendali: “…keluarrr…!” Mata

Ayu membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ayu kurasakan mengejang.

Aku pun menghentikan genjotanku. kon tolku yang tegang luar biasa

kubiarkan tertanam dalam no nok Ayu. kon tolku merasa hangat luar

biasa karena terkena semprotan cairan no nok Ayu. Kulihat mata Ayu

memejam beberapa saat dalam menikmati puncaknya. Setelah sekitar satu

menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan

mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara

jepitan dinding no noknya pada kon tolku berangsur-angsur melemah,

walaupun kon tolku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ayu lalu

kuletakkan kembali di atas ranjang dengan posisi agak membuka. Aku

kembali menindih tubuh telanjang Ayu dengan mempertahankan agar kon

tolku yang tertanam di dalam no noknya tidak tercabut.

“Om… luar biasa… rasanya seperti ke langit ke tujuh,” kata Ayu dengan

mimik wajah penuh kepuasan. kon tolku masih tegang di dalam no noknya.

kon tolku masih besar dan keras. Aku kembali mendekap tubuh Ayu. kon

tolku mulai bergerak keluar-masuk lagi di no nok Ayu, namun masih

dengan gerakan perlahan. Dinding no nok Ayu secara berangsur-angsur

terasa mulai meremas-remas kon tolku. Terasa hangat dan enak. Namun

sekarang gerakan kon tolku lebih lancar dibandingkan dengan tadi.

Pasti karena adanya cairan yang disemprotkan oleh no nok Ayu beberapa

saat yang lalu.”Ahhh.. om… langsung mulai lagi… Sekarang giliran om..

semprotkan peju om di no nok aku.. Sssh…,” Ayu mulai mendesis-desis

lagi. Bibirku mulai memagut bibir Ayu dan melumat-lumatnya dengan

gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan

kananku meremas-remas toket Ayu serta memijit-mijit pentilnya, sesuai

dengan irama gerak maju-mundur kon tolku di no noknya. “Sssh… sssh…

sssh… enak om, enak… Terus…teruss… terusss…,” desis Ayu. Sambil

kembali melumat bibir Ayu dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kon

tolku di no noknya. Pengaruh adanya cairan di dalam no nok Ayu,

keluar-masuknya kon tol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-

srrret srrt-srret…” Ayu tidak henti-hentinya merintih kenikmatan, “Om…

ah… ” kon tolku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari

toketnya. Kedua tanganku kini dari ketiak Ayu menyusup ke bawah dan

memeluk punggungnya. Tangan Ayu pun memeluk punggungku dan mengusap-

usapnya. Aku pun memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kon tolku

ke dalam no nok Ayu sekarang berlangsung dengan cepat dan bertenaga.

Setiap kali masuk, kon tol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk no nok

Ayu sedalam-dalamnya. kon tolku bagai diremas dan dihentakkan kuat-

kuat oleh dinding no nok Ayu.

Sampai di langkah terdalam, mata Ayu membeliak sambil bibirnya

mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal pahaku

bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak! Di

saat bergerak keluar no nok, kon tol kujaga agar kepalanya tetap

tertanam di lobang no nok. Remasan dinding no nok pada batang kon

tolku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak

masuknya. Bibir no nok yang mengulum batang kon tolku pun sedikit ikut

tertarik keluar. Pada gerak keluar ini Ayu mendesah, “Hhh…” Aku terus

menggenjot no nok Ayu dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak.

Tangan Ayu meremas punggungku kuat-kuat di saat kon tolku kuhunjam

masuk sejauh-jauhnya ke lobang no noknya. Beradunya daging pangkal

paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kon

tolku dan no nok Ayu menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt…

srottt-srrrt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan

kecil Ayu: “Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…” kon tolku terasa empot-empotan

luar biasa. “Yu… Enak sekali Yu… no nokmu enak sekali… no nokmu hangat

sekali… jepitan no nokmu enak sekali…” “Om… terus om…,” rintih Ayu,

“enak om… enaaak… Ak! Hhh…” Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap

penjuru kon tolku. Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kon

tolku ke no noknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke

dalam, kon tolku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat

lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak

yang luar biasa di kon tol pun semakin menghebat. “Ayu… aku… aku…”

Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak mampu

menyelesaikan ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu. “Om, aku…

mau nyampe lagi… Ak-ak-ak… aku nyam…”

Tiba-tiba kon tolku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya.

Aku tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya.

Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding no nok Ayu mencekik kuat

sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu, aku tidak mampu

lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat kelaminku. Pruttt! Pruttt!

Pruttt! Kepala kon tolku terasa disemprot cairan no nok Ayu, bersamaan

dengan pekikan Ayu, “…nyampee…!” Tubuh Ayu mengejang dengan mata

membeliak-beliak. “Ayu…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh

tubuh Ayu
sekuat-kuatnya. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang.

Pejuku pun tak terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Pejuku

bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding no nok Ayu yang

terdalam. kon tolku yang terbenam semua di dalam no nok Ayu terasa

berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya aku dan Ayu terdiam dalam keadaan berpelukan

erat sekali. Aku menghabiskan sisa-sisa peju dalam kon tolku. Cret!

Cret! Cret! kon tolku menyemprotkan lagi peju yang masih tersisa ke

dalam no nok Ayu. Kali ini semprotannya lebih lemah. Perlahan-lahan

baik tubuh Ayu maupun tubuhku tidak mengejang lagi. Aku menciumi leher

mulus Ayu dengan lembutnya, sementara tangan Ayu mengusap-usap

punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali

berhasil ngen totin Ayu.

--

Tante Ken Aduhai Seksi
Video Bokep ABG SMU

Cerita Dewasa.Kisah ini terjadi kurang lebih setahun yang lalu.

Tepatnya awal bulan mei 2003. Panggil saja namaku Roni. Usiaku saat

ini 27 tahun. Dikampungku ada seorang janda berusia 46 tahun, namanya

panggil aja Tente Ken. Meski usianya sudah kepala empat dan sudah

punya 3 orang anak yang sudah besar-besar, namun tubuhnya masih tetap

tampak bagus dan terawat. Tante Ken mempunyai wajah yang cantik dengan

rambut sebahu. Kulitnya putih bersih. Selain itu yang membuatku selama

ini terpesona adalah payudara tante Ken yang luar biasa montok.

Perkiraanku payudaranya berukuran 36C. Ditambah lagi pinggul aduhai

yang dimiliki oleh janda cantik itu. Bodi tante Ken yang indah itulah

yang membuatku tak dapat menahan birahiku dan selalu berangan-angan

bisa menikmati tubuhnya yang padat berisi. Setiap melakukan onani,

wajah dan tubuh tetanggaku itu selalu menjadi inspirasiku.

Pagi itu jam sudah menunjukan angka tujuh. Aku sudah bersiap untuk

berangkat ke kampus. Motor aku jalankan pelan keluar dari gerbang

rumah. Dikejauhan aku melihat sosok seorang wanita yang berjalan

sendirian. Mataku secara reflek terus mengikuti wanita itu. Maklum

aja, aku terpesona melihat tubuh wanita itu yang menurutku aduhai,

meskipun dari belakang. Pinggul dan pantatnya sungguh membuat

jantungku berdesir. Saat itu aku hanya menduga-duga kalau wanita itu

adalah tante Ken. Bersamaan dengan itu, celanaku mulai agak sesak

karena kontolku mulai tidak bisa diajak kompromi alias ngaceng berat.
Perlahan-lahan motor aku arahkan agak mendekat agar yakin bahwa wanita

itu adalah tante Ken.

“Eh tante Ken. Mau kemana tante?”, sapaku.

Tante Ken agak kaget mendengar suaraku. Tapi beliau kemudian tersenyum

manis dan membalas sapaanku.

“Ehm.. Kamu Ron. Tante mau ke kantor. Kamu mau ke kampus?”, tante Ken

balik bertanya.
“Iya nih tante. Masuk jam delapan. Kalau gitu gimana kalau tante saya

anter dulu ke kantor? Kebetulan saya bawa helm satu lagi”, kataku

sambil menawarkan jasa dan berharap tante Ken tidak menolak ajakanku.
“Nggak usah deh, nanti kamu terlambat sampai kampus lho.”

Suara tante Ken yang empuk dan lembut sesaat membuat penisku semakin

menegang.

“Nggak apa-apa kok tante. Lagian kampus saya kan sebenarnya dekat”,

kataku sambil mataku selalu mencuri pandang ke seluruh tubuhnya yang

pagi itu mengenakkan bletzer dan celana panjang. Meski tertutup oleh

pakaian yang rapi, tapi aku tetap bisa melihat kemontokan payudaranya

yang lekukannya tampak jelas.
“Benar nih Roni mau nganterin tante ke kantor? Kalau gitu bolehlah

tante bonceng kamu”, kata tante Ken sambil melangkahkan kakinya

diboncengan.

Aku sempat agak terkejut karena cara membonceng tante yang seperti

itu. Tapi bagaimanapun aku tetap diuntungkan karena punggungku bisa

sesekali merasakan
empuknya payudara tante yang memang sangat aku kagumi. Apalagi ketika

melewati gundukan yang ada di jalan, rasanya buah dada tante semakin

tambah menempel di punggungku. Pagi itu tante Ken aku anter sampai ke

kantornya. Dan aku segera menuju ke kampus dengan perasaan senang.

Waktu itu hari sabtu. Kebetulan kuliahku libur. Tiba-tiba telepon di

sebelah tempat tidurku berdering. Segera saja aku angkat. Dari

seberang terdengar suara lembut seorang wanita.

“Bisa bicara dengan Roni?”
“Iya saya sendiri?”, jawabku masih dengan tanda tanya karena merasa

asing dengan suara ditelepon.
“Selamat pagi Roni. Ini tante Ken!”, aku benar-benar kaget bercampur

aduk.
“Se.. Selamat.. Pa.. Gi tante. Wah tumben nelpon saya. Ada yang bisa

saya bantu tante?”, kataku agak gugup.
“Pagi ini kamu ada acara nggak Ron? Kalau nggak ada acara datang ke

rumah tante ya. Bisa kan?”, pinta tante Keny dari ujung telepon.
“Eh.. Dengan senang hati tante. Nanti sehabis mandi saya langsung ke

tempat tante”, jawabku. Kemudian sambil secara reflek tangan kiriku

memegang kontolku yang mulai membesar karena membayangkan tante Ken.
“Baiklah kalau begitu. Aku tunggu ya. Met pagi Roni.. Sampai nanti!”

Suara lembut tante Ken yang bagiku sangat menggairahkan itu akhirnya

hilang diujung tepelon sana.

Pagi itu aku benar-benar senang mendengar permintaan tante Ken untuk

datang ke rumahnya. Dan pikiranku nglantur kemana-mana. Sementara

tanganku masih saja mengelus-elus penisku yang makin lama, makin

membesar sambil membayangkan jika yang memegang kontolku itu adalah

tante Ken. Karena hasratku sudah menggebu, maka segera saja aku

lampiaskan birahiku itu dengan onani menggunakan boneka didol montok

yang aku beli beberapa bulan yang lalu.

Aku bayangkan aku sedang bersetubuh dengan tante Ken yang sudah

telanjang bulat sehingga payudaranya yang montok menunggu untuk

dikenyut dan diremas. Mulut dan tanganku segera menyapu seluruh tubuh

boneka itu.

“Tante… Tubuhmu indah sekali. Payudaramu montok sekali tante. Aaah..

Ehs.. Ah”, mulutku mulai merancau membayangkan nikmatnya ML dengan

tante Ken.

Karena sudah tidak tahan lagi, segera saja batang penisku, kumasukkan

ke dalam vagina didol itu. Aku mulai melakukan gerakan naik turun

sambil mendekap erat dan menciumi bibir boneka yang aku umpamakan

sebagai tante Ken itu dengan penuh nafsu.

“Ehm.. Ehs.. Nikmat sekali sayang..”
Kontolku semakin aku kayuh dengan cepat.
“Tante.. Nikmat sekali memekmu. Aaah.. Punyaku mau keluar sayang..”,

mulutku meracau ngomong sendiri.

Akhirnya tak lama kemudian penisku menyemburkan cairan putih kental ke

dalam lubang vagina boneka itu. Lemas sudah tubuhku. Setelah

beristirahat sejenak, aku kemudian segera menuju ke kamar mandi untuk

membersihkan kontol dan tubuhku.
Jarum jam sudah menunjuk ke angka 8 lebih 30 menit. Aku sudah selesai

mandi dan berdandan.

“Nah, sekarang saatnya berangkat ke tempat tante Ken. Aku sudah nggak

tahan pingin lihat kemolekan tubuhmu dari dekat sayang”, gumamku dalam

hati.

Kulangkahkan kakiku menuju rumah tante Ken yang hanya berjarak 100

meter aja dari rumahku. Sampai di rumah janda montok itu, segera saja

aku ketuk pintunya.

“Ya, sebentar”, sahut suara seorang wanita dari dalam yang tak lain

adalah tante Ken.

Setelah pintu dibuka, mataku benar-benar dimanja oleh tampilan sosok

tante Ken yang aduhai dan berdiri persis di hadapanku. Pagi itu tante

mengenakan celana street hitam dipadu dengan atasan kaos ketat

berwarna merah dengan belahan lehernya yang agak ke bawah. Sehingga

nampak jelas belahan yang membatasi kedua payudaranya yang memang

montok luar biasa. Tante Ken kemudian mengajakku masuk ke dalam

rumahnya dan menutup serta mengunci pintu kamar tamu. Aku sempat

dibuat heran dengan apa yang dilakukan janda itu.

“Ada apa sih tante, kok pintunya harus ditutup dan dikunci segala?”,

tanyaku penasaran.

Senyuman indah dari bibir sensual tante Ken mengembang sesaat

mendengar pertanyaanku.

“Oh, biar aman aja. Kan aku mau ajak kamu ke kamar tengah biar lebih

rilek ngobrolnya sambil nonton TV”, jawab tante Ken seraya menggandeng

tanganku mengajak ke ruangan tengah.

Sebenarnya sudah sejak di depan pintu tadi penisku tegang karena

terangsang oleh penampilan tante Ken. Malahan kali ini tangan halusnya

menggenggam tanganku, sehingga kontolku nggak bisa diajak kompromi

karena semakin besar aja. Di ruang tengah terhampar karpet biru dan

ada dua bantal besar diatasnya. Sementara diatas meja sudah disediakan

minuman es sirup berwarna merah. Kami kemudian duduk berdampingan.

“Ayo Ron diminum dulu sirupnya”, kata tante padaku.
Aku kemudian mengambil gelas dan meminumnya.
“Ron. Kamu tahu nggak kenapa aku minta kamu datang ke sini?”, tanya

tante Ken sambil tangan kanan beliau memegang pahaku hingga membuatku

terkejut dan agak gugup.
“Ehm.. Eng.. Nggak tante”, jawabku.
“Tante sebenarnya butuh teman ngobrol. Maklumlah anak-anak tante sudah

jarang sekali pulang karena kerja mereka di luar kota dan harus sering

menetap disana. Jadinya ya.. Kamu tahu sendiri kan, tante kesepian.

Kira-kira kamu mau nggak jadi teman ngobrol tante? Nggak harus setiap

hari kok..!”, kata tente Ken seperti mengiba.

Dalam hati aku senang karena kesempatan untuk bertemu dan berdekatan

dengan tante akan terbuka luas. Angan-angan untuk menikmati

pemandangan indah dari tubuh janda itu pun tentu akan menjadi

kenyataan.

“Kalau sekiranya saya dibutuhkan, ya boleh-boleh aja tante. Justru

saya senang bisa ngobrol sama tante. Biar saja juga ada teman. Bahkan

setiap hari juga nggak apa kok.”

Tante tersenyum mendengar jawabanku. Akhirnya kami berdua mulai

ngobrol tentang apa saja sambil menikmati acara di TV. Enjoi sekali.

Apalagi bau wangi yang menguar dari tubuh tante membuat angan-anganku

semakin melayang jauh.

“Ron, udara hari ini panas ya? Tante kepanasan nih. Kamu kepanasan

nggak?”, tanya tante Ken yang kali ini sedikit manja.
“Ehm.. Iya tante. Panas banget. Padahal kipas anginnya sudah

dihidupin”, jawabku sambil sesekali mataku melirik buah dada tante

yang agak menyembul, seakan ingin meloncat dari kaos yang menutupinya.

Mata Tante Ken terus menatapku hingga membuatku sedikit grogi, meski

sebenarnya birahiku sedang menanjak. Tanpa kuduga, tangan tante

memegang kancing bajuku.

“Kalau panas dilepas aja ya Ron, biar cepet adem”, kata tante Ken

sembari membuka satu-persatu kancing bajuku, dan melepaskannya hingga

aku telanjang dada…

Aku saat itu benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan tante padaku.

Dan aku pun hanya bisa diam terbengong-bengong. Aku tambah terheran-

heran lagi dengan sikap tente Ken pagi itu yang memintaku untuk

membantu melepaskan kaos ketatnya.

“Ron, tolongin tante dong. Lepasin kaos tante. Habis panas sih..”,

pinta tante Ken dengan suara yang manja tapi terkesan menggairahkan.

Dengan sedikit gemetaran karena tak menyangka akan pengalaman nyataku

ini, aku lepas kaos ketat berwarna merah itu dari tubuh tante Ken. Dan

apa yang berikutnya aku lihat sungguh membuat darahku berdesir dan

penisku semakin tegang membesar serta jantung berdetak kencang.

Payudara tante Ken yang besar tampak nyata di depan mataku, tanpa

terbungkus kutang. Dua gunung indah milik janda itu tampak kencang dan

padat sekali.

“Kenapa Ron. Kok tiba-tiba diam?”, tanya tante Ken padaku.
“E.. Em.. Nggak apa-apa kok tante”, jawabku spontan sambil menundukkan

kepala.
“Ala.. enggak usah pura-pura. Aku tahu kok apa yang sedang kamu

pikirkan selama ini. Tante sering memperhatikan kamu. Roni sebenarnya

sudah lama pingin ini tante kan?” kata tante sambil meraih kedua

tanganku dan meletakkan telapak tanganku di kedua buah dadanya yang

montok.
“Ehm.. Tante.. Sa.. Ya.. Ee..”, aku seperti tak mampu menyelesaikan

kata-kataku karena gugup. Apalagi tubuh tante Ken semakin merapat ke

tubuhku.
“Ron.. Remas susuku ini sayang. Ehm.. Lakukan sesukamu. Nggak usah

takut-takut sayang. Aku sudah lama ingin menimati kehangatan dari

seorang laki-laki”, rajuk tante Ken sembari menuntun tanganku meremas

payudara montoknya.

Sementara kegugupanku sudah mulai dapat dikuasai. Aku semakin

memberanikan diri untuk menikmati kesempatan langka yang selama ini

hanya ada dalam angan-anganku saja. Dengan nafsu yang membara, susu

tante Ken aku remas-remas. Sementara bibirku dan bibirnya saling

berpagutan mesra penuh gairah. Entah kapan celanaku dan celana tante

lepas, yang pasti saat itu tubuh kami berdua sudah polos tanpa

selembar kainpun menempel di tubuh. Permaianan kami semakin panas.

Setelah puas memagut bibir tante, mulutku seperti sudah nggak sabar

untuk menikmati payudara montoknya.

“Uuhh… Aah…” Tante Ken mendesah-desah tatkala lidahku menjilat-jilat

ujung puting susunya yang berbentuk dadu.

Aku permainkan puting susu yang munjung dan menggiurkan itu dengan

bebasnya. Sekali-kali putingnya aku gigit hingga membuat Tante Ken

menggelinjang merasakan kenikmatan. Sementara tangan kananku mulai

menggerayangi “vagina” yang sudah mulai basah. Aku usap-usap bibir

vagina tante dengan lembut hingga desahan-desahan menggairahkan

semakin keras dari bibirnya.

“Ron.. Nik.. Maat.. Sekali sa.. Yaang.. Uuuhh.. Puasilah tante

sayang.. Tubuhku adalah milikmu”, suara itu keluar dari bibir janda

montok itu.
Aku menghiraukan ucapan tante karena sedang asyik menikmati tubuh

moleknya. Perlahan setelah puas bermain-main dengan payudaranya

mulutku mulai kubawa ke bawah menuju vagina tante Ken yang bersih

terawat tanpa bulu. Dengan leluasa lidahku mulai menyapu vagina yang

sudah basah oleh cairan.

Aku sudah tudak sabar lagi. Batang penisku yang sudah sedari tadi

tegak berdiri ingin sekali merasakan jepitan vagina janda cantik nan

montok itu. Akhirnya, perlahan kumasukkan batang penisku ke celah-

celah vagina. Sementara tangan tante membantu menuntun tongkatku masuk

ke jalannya. Kutekan perlahan dan…

“Aaah…”, suara itu keluar dari mulut tante Ken setelah penisku

berhasil masuk ke dalam liang senggamanya.

Kupompa penisku dengan gerakan naik turun. Desahan dan erangan yang

menggairahkanpun meluncur dari mulut tante yang sudah semakin panas

birahinya.

“Aach.. Ach.. Aah.. Terus sayang.. Lebih dalam.. Lagi.. Aah.. Nik..

Mat..”, tante Ken mulai menikmati permainan itu.

Aku terus mengayuh penisku sambil mulutku melumat habis kedua buah

dadanya yang montok. Mungkin sudah 20 menitan kami bergumul. Aku

merasa sudah hampir
tidak tahan lagi. Batang kemaluanku sudah nyaris menyemprotkan cairan

sperma.

“Tante.. Punyaku sudah mau keluar..”
“Tahan seb.. Bentar sayang.. Aku jug.. A.. Mau sampai.. Aaach..”,

akhirnya tante Ken tidak tahan lagi.

Kamipun mengeluarkan cairan kenikmatan secara hampir bersamaan. Banyak

sekali air mani yang aku semprotkan ke dalam liang senggama tante,

hingga kemudian kami kecapekan dan berbaring di atas karpet biru.

“Terima kasih Roni. Tante puas dengan permainan ini. Kamu benar-benar

jantan. Kamu nggak nyeselkan tidur dengan tante?”, tanya beliau

padaku.
Aku tersenyum sambil mencium kening janda itu dengan penuh sayang.
“Aku sangat senang tante. Tidak kusangka tante memberikan kenikmatan

ini padaku. Karena sudah lama sekali aku berangan-angan bisa menikmati

tubuh tante yang montok ini”

Tante Ken tersenyum senang mendengar jawabanku.

“Roni sayang. Mulai saat ini kamu boleh tidur dengan tante kapan saja,

karena tubuh tante sekarang adalah milikmu. Tapi kamu juga janji lho.

Kalau tante kepingin… Roni temani tante ya.”, kata tante Ken kemudian.

Aku tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Dan kami pun mulai saling

merangsang dan bercinta untuk yang kedua kalinya. Hari itu adalah hari

yang tidak pernah bisa aku lupakan. Karena angan-anganku untuk bisa

bercinta dengan tante Ken dapat terwujud menjadi kenyataan. Sampai

saat ini aku dan tante Ken masih selalu melakukan aktivitas sex dengan

berbagai variasi.

--


Situs Cerita Dewasa-Cerita Panas-Cerita Porno-Cerita Seks

* Tentang Cerita Dewasa

Kisah Cinta Terlarang
Video Bokep ABG SMU

Cerita Dewasa.Aku Dina. Pertama kali aku mengenal cinta, hatiku sangat

berbunga-bunga. Hanya sayangnya cinta pertamaku jatuh tidak pada orang

yang tepat. Dia seorang pria yang sudah berkeluarga. Jadilah kami

backstreet. Aku kenal dia, yang kupanggil MAS, ketika aku datang ke

ultah temenku. Dia saat itu enjadi event organizer acara ultah

tersebut. Sejak awal melihat dia aku sudah tertarik. Dia ganteng dan

badannya atletis, aku diperkenalkan ma dia oleh temanku yang ultah.

“Din, ini MAS, dia yang nyelenggaraan pesta ini, asik kan pestanya.

Kamu nemenin MAS ngobrol ya”. Temanku itu tau kalo aku suka dengan

pria yang umurnya jauh lebih tua dari aku. Kami jadi asik ngobrol

ngalor ngidul. Dia sangat humoris sehingga aku selalu terpingkal-

pingkal
mendengar guyonannya. Makin lama guyonannya makin mengarah yang

vulgar, aku sih ok aja. Ketika aara makan, dia menemani aku menikmati

hidangan yang tersedia. Ketika acar dansa, dia mengajak aku turun,

ketika itu lagunya slow. Aku larut dalam dekapannya yang sangat mesra.

Dia berbisik: “Din, kamu cantik sekali, kamu yang paling cantik dari

semua prempuan yang dateng ke pesta ini. Aku suka kamu Din”. “Mas kan

dah punya keluarga, masak sih suka ma abg kaya aku”. “Justru karena

kamu masih abg, kecantikan kamu masih sangat alami, bukan polesan make

up yang tebal”.
Memang sih dandananku biasa saja, tanpa make up yang tebal. Perempuan

mana sih yang gak suka dipuji lelaki yang kebetulan dikaguminya.

Ketika pulang dia mengantarkan aku pulang, sebelum aku turun dari

mobil, pipiku dikecupnya, “Kapan2 kita ketemuan lagi ya Din, ni nomer

hpku”. Kami bertukaran no hp.

Sejak pertemuan pertama itu, kami sering jumpa di mal, di bioskop atau

ditempat fitnes.

Karena dia tau aku suka fitnes, makanya diapun mendaftar menjadi

member ditempat aku biasa fitnes. Karena sering ketemu, hubungan kami

makin lama makin akrab. Dia adalah lelaki pertama yang mencium

bibirku. Itu kejadiannya ketika kami sedang dibioskop. Karena bukan

weekend, jumlah penontonnya sedikit, sehingga dia milih tempat duduk

yang jauh dari penonton lain. Dia berbisik: “Din, aku sayang sekali ma

kamu. Kamu?’ “Aku juga sayang ma Mas, sayangnya ma dah keluarga ya”.

“Kita jalani aja dulu Din, gak apa kan kalo backstreet kaya gini.

Pokoknya aku akan berusaha untuk ketemu kamu sesering mungkin,

sayang”. Dia meluncurkan rayuan mutnya, sehingga
aku makin berbung-bunga. “Din..”, panggilnya lagi. aku menoleh

karahnya. Karena duduk kami berdempetan, dia langusng merangkul

pundaknya dan mendekatkan bibirnya ke bibirku. aku memejamkan mataku,

terasa lembut sekali bibirnya menyentuh bibirku, kemudian terasa

bibirnya mulai mengisap bibirku. aku pasrah ketika dia cukup lama

mengecup bibirku. “Mas”, desahku ketika dia melepas bibirnya, seakan

aku gak rela dia melepaskan bibirku. Diapun mengecup bibirku lagi,

kali ini lebih lama lagi. Demikianlah sepanjang film itu kami tidak

menikmati filmnya tetapi aku menikmati bagaimana bibirnya mengulum-

ngulu bibirku. “Mas, aku sayang sekali ma mas, aku mau jadi pacar

mas”.

Sejak kejadian dibioskop itu, kami menjadi rutin berciuman kalo

ketemu, paling tidak kami melakukannya sebentar di mobil sebelum mobil

jalan atau sebelum aku turun didepan rumahku. Temenku mengingatkan aku

agar jangan terlalu larut dalam berhubungan dengan Mas, karena dia dah

berkeluarga. “Nanti kamu yang nyesel lo kalo dia harus mutusin

hubungan kamu dengan dia”. Tapi aku tidak mengindahkan himbauan

temanku. Aku seakan buta tertutup cinta yang makin lama makin

berkobar-kobar.

Sampai suatu weekend, dia mengajakku ke satu vila diluar kota, katanya

dia
mau survei tempat itu karena akan diadakan perhelatan disana. “Temenin

aku yuk, mumpung bisa keluar kota ma kamu. Mau ya sayang”. Karena aku

dah lama pengen berdua dia seharian, aku turuti saja ajakannya. Ke

ortu, aku pamit mo jalan ma temen2 ke vila mereka. Aku seneng sekali

ketika dah duduk disebelahnya dalam mobilnya. Mobilnya meluncur arah

luar kota. Saat itu aku mengenakan celana ketat dari kain yang cukup

tipis berwarna putih sehingga bentuk bokongku yang bulat padat begitu

kentara, dan bahkan saking ketatnya CDku sampai kelihatan sekali

berbentuk segitiga. Atasannya aku mengenakan baju kaos putih ketat dan

polos sehingga bentuk toketku yang membulat terlihat jelas, kaosku

yang cukup tipis membuat braku yang berwarna putih terpampang jelas

sekali. “Din, kamu seksi sekali deh pake pakean kaya gitu”. “Mas suka

kan”. “Suka banget, palagi kalo amu gak pake baju Din”. “Ih mas, mulai

deh genit, aku turun disini aja deh”, aku pura2 merajuk, padahal dalam

hati seneng sekali mendengar pujiannya. “Ya udah turun aja he he”,

tertawanya berderai ketika dia mengatakan hal itu, tetpi mobil tetap

melaju kencang. “Katanya disuruh turun, kok gak minggir”. “Loncat aja

kalo berani”. “mas, iih”, kataku sambil mencubit pinggangnya, mesra.

Dia menggeliat kegelian, “Jangan dikitikin dong, nanti nabrak lo”.

“abis mas sih
mulai duluan”. Sepanjang jalan kami bercanda rian, sesekali tangannya

gantian menggelitiki pinggangku, sehingga aku menggelinjang. Kadang

tangannya mendarat di pahaku dan mengelus2nya sampe kedeket pangkal

pahaku. aku menjadi merinding karena rabaannya. Maklum deh dia pria

pertama yang melakukan hal ini. “Maas”, aku hanya melenguh ketika

pahaku dielus2 begitu. Karena aku tidak menolak, maka dia meneruskan

elusannya dipahaku. aku menjadi gelisah, dudukku gak bisa diam, ada

rasa geli bercampur nikmat dan aku merasa pengen kencing. “Mas maih

jauh ya”.
“Napa Din”. “aku pengen pipis”. “Bentar lagi juga sampe. Itu bukan

pengen pipis biasa Din”. “abis apaan?” “Pasti kamu terangsang ya

karena aku ngelus2 paha kamu”. “Ih”, kucubit lagi pinggangnya.

Mobilnya sudah masuk ke satu vila. Ada seorang bapak2 yang menyambut

di gerbang vila. Dia orang yang ditugaskan pemilik vila untuk

menunggui vila itu. Aku keluar dari mobil, ikut dengan dia melihat

lokasi. Vilanya tidak terlalu besar tetapi halamannya luas. Dia mulai

mengeluarkan catatannya, mengukur sana mengukur sini, mencoret2 di

buku catatannya. Kadang dia menanyakan pendapatku tentang satu hal.

Aku menjawab setauku saja. “Setelah selesai, dia berkata kepada si

bapak, “Pak kami mo menginap di vila ini”. “Iya, yang
punya dah kasi tau bapak, ya silahkan saja pak. sudah saya sediakan

makanan secukupnya di lemari es, kalo mo makan ya silahkan dihangatkan

dulu. soalnya bapak mo pulang”. Si bapak meninggalkan kami berdua.

“Din, kita honimun ya”, katanya sambil tersenyum. aku jadi

berdebar2membayangkan apa yang aka dilakukannya padaku. Aku sering

mendengar cerita teman2ku ang sudah pernah berhubungan sex dengan

cowo2nya, mendengar betapa nikmatnya kalo memek kemasukan kontol. Aku

jadi merinding sendiri, aku pengen juga mengalami kenikmatan itu.

Aku menghempaskan pantatku di sofa, dia menyusulku segera dan duduk

rapat di sampingku, “Dina sayang” katanya sambil menggenggam erat dan

mesra kedua belah tanganku. Selesai berkata begitu dia mendekatkan

mukanya ke wajahku, dengan cepat dia mengecup bibirku dengan lembut.

Hidung kami bersentuhan lembut. Dia mengulum bibir bawahku, disedot

sedikit. Lima detik kemudian, dia melepaskan kecupan bibirnya dari

bibirku. Aku saat kukecup tadi memejamkan mata, “Aku pengen melakukan

itu ma
kamu, sayang. Kamu bersediakah?”, rayunya lebih lanjut. Dia berusaha

mengecup bibirku lagi, namun dengan cepat aku melepaskan tangan

kananku dari remasannya, dadanya kutahan dengan lembut. “Mass” bisikku

lirih. “Dina sayang, mau ya”, rayunya lagi. “Tapi mass, aku takut

Mas”, jawabku. “Takut apa sayang, katakanlah”, bisiknya kembali sambil

meraih tanganku. “Aku takut Mas nanti meninggalkan aku”, bisikku. Dia

menggenggam kuat kedua tanganku lalu secepat kilat dia mengecup

bibirku. “Dina sayangku, aku terus terang tidak bisa menjanjikan apa-

apa sama kamu tapi percayalah aku akan membuktikannya kepadamu, aku

akan selalu sayang sama kamu”, bujuknya
untuk lebih meyakinkanku. “Tapi Mas” bisikku masih ragu. “Din,

percayalah, apa aku perlu bersumpah sayang, kita memang masih baru

beberapa bulan kenal sayang, tapi percayalah, yakinlah sayang, kalau

Tuhan menghendaki kita pasti selalu bersama sayang”, rayunya lagi.

“Lalu kalau aku sampai hamil gimana mass?” ujarku sembari

menatapnya.”Aah, jangan khawatir sayang, aku akan bertanggung jawab

semuanya kalau kamu sampai hamil, bagaimana sayang?” bisiknya. Rasioku

sudah tidak jalan dengan baik, tertutup oleh rayuan mautnya dan rasa

ingin merasakan kenikmatan yang makin menggebu.
Tangannya bergerak semakin berani, yang tadinya hanya meremas jemari

tangan kini mulai meraba ke atas menelusuri dari pergelangan tangan

terus ke lengan sampai ke bahu lalu diremasnya dengan lembut. Dia

memandangi toketku dari balik baju kaosku yang ketat, “Mas harus janji

dulu sebelum…” aku tak melanjutkan ucapanku. “Sebelum apa sayang,

katakanlah”, bisiknya tak sabar. Kini jemari tangan kanannya mulai

semakin nekat menggerayangi pinggulku, ketika jemarinya merayap ke

belakang diusapnya belahan pantatku lalu diremasnya dengan gemas.

“aahh… Mas”, aku merintih pelan. “Mas aah mmas.. aku rela menyerahkan

semuanya asal Mas mau bertanggung jawab nantinya”, aku berbisik

semakin lemah, saat itu jemari tangan kanannya bergerak semakin

menggila, menelusup ke pangkal pahaku, dan mulai
mengelus gundukan bukit memekku. Diusapnya perlahan dari balik

celanaku yang amat ketat, dua detik kemudian dia memaksa masuk jemari

tangannya di selangkanganku dan bukit memekku itu telah berada dalam

genggaman tangannya. Aku menggelinjang kecil, saat jemari tangannya

mulai meremas perlahan. Dia mendekatkan mulutnya kembali ke bibirku

hendak mencium, namun aku menahan dadanya dengan tangan kananku,

“eeehh Mas..berjanjilah dulu Mas”, bisikku di antara desahan nafasnya

yang mulai sedikit memburu. “Oooh Dina sayang, aku berjanji untuk

bertanggung jawab, aahh aku menginginkan keperawananmu sayang”,

ucapnya. Sementara jemari tangannya yang sedang berada di sela-sela

selangkangan pahaku itu meremas gundukan memekku lagi. “Ba.. baiklah

Mas, aku percaya sama Mas”, bisikku. “Jadi?” tanyanya. “hh. lakukanlah

mass, aku milik Mas seutuhnya.. hh..” jawabku. “Benarkah? ooh..Dina

sayanggg.” Secepat kilat bibirku kembali dikecup dan dikulumnya,

digigit lembut, disedot. Hidung kami bersentuhan lembut. Dengus

nafasku terdengar memburu saat dia mengecup dan
mengulum bibirku cukup lama. DIa mempermainkan lidahnya di dalam

mulutku, aku mulai berani membalas cumbuannya dengan menggigit lembut

dan mengulum lidahnya dengan bibirku. Lidah kami bersentuhan, lalu dia

mengecup dan mengulum bibir atas dan bawahku secara bergantian.

Terdengar suara kecapan-kecapan kecil saat bibir kami saling mengecup.

“aah Dina sayang, kamu pintar sekali, kamu pernah punya pacar yaach?”

tanyanya curiga. “Mm aku belum pernah punya pacar Mas, kan Mas yang

selama ini ngajari aku ciuman”, sahutku. “Wah kamu belajarnya cepat

seklai ya, jangan-jangan kamu sering nonton film porno yaa?” godanya.

Aku tersenyum malu, dan
wajahku pun tiba-tiba bersemu merah, aku menundukkan mukaku, malu.

“I…iya Mas, beberapa kali”, sahutku terus terang sambil tetap

menundukkan muka. “Dina sayang, kamu nggak kecewa khan karena aku

benar-benar sangat menginginkan keperawananmu sayang?” tanyanya. “Aku

serahkan apa yang bisa aku persembahkan buat Mas, aku ikhlas,

lakukanlah Mas kalau Mas benar-benar menginginkannya”, sahutku lirih.

Jemari tangan kanannya yang masih berada di selangkanganku mulai

bergerak menekan ke gundukan memekku yang masih perawan, lalu diusap-

usap ke atas dan ke bawah dengan gemas. Aku memekik kecil dan mengeluh

lirih, kupejamkan mataku rapat-rapat, sementara wajahku nampak sedikit

berkeringat. Dia meraih kepalaku dalam pelukannya dengan tangan kiri

dan dia mencium rambutku. “Oooh masss”, bisikku lirih. “Enaak sayang

diusap-usap begini”, tanyanya. “hh… iiyyaa mass”, bisikku polos.

Jemarinya kini bukan cuma mengusap tapi mulai meremas bukit memekku

dengan sangat gemas. “sakit Mas aawww” aku memekik kecil dan pinggulku

menggelinjang keras. Kedua pahaku yang tadi menjepit pergelangan

tangan kanannya kurenggangkan. Dia mengangkat wajah dan daguku

kearahnya, sambil merengkuh tubuhku agar lebih merapat ke badannya

lalu kembali dia mengecup dan mencumbu bibirku dengan bernafsu.

Puas mengusap-usap bukit memekku, kini jemari tangan kanannya bergerak

merayap ke atas, mulai dari pangkal paha terus ke atas menelusuri

pinggang sampai ujung jemarinya berada di bagian bawah toketku yang

sebelah kiri. Dia mengelus perlahan di situ lalu mulai mendaki

perlahan, akhirnya jemari tangannya seketika meremas kuat toketku

dengan gemasnya. Seketika itu pula aku melepaskan bibirku dari kuluman

bibirnya, “aawww… Mas sakitt, jangan keras-keras dong meremasnya”,

protesku. Kini secara bergantian jemari tangannya meremas kedua

toketku dengan lebih lembut. Aku
menatapnya dan membiarkan tangannya menjamah dan meremas-remas kedua

toketku.

“Auuggghh..” tiba2 dia menjerit lumayan keras dan meloncat berdiri.

Aku yang tadinya sedang menikmati remasan pada toketku jadi ikutan

kaget. “Eeehh kenapa Mas?” “Aahh anu sayang… kontolku sakit nih”,

sahutnya sambil buru-buru membuka celana panjangnya di hadapanku. Aku

tak menyangka dia berbuat demikian hanya memandangnya dengan

terbelalak kaget. Dia membuka sekalian CDku dan “Tooiiing”, kontolnya

yang sudah tegang itu langsung mencuat dan mengacung keluar

mengangguk-anggukan kepalanya naik turun . “aawww… Mas jorok”, aku

menjerit kecil sambil memalingkan mukaku ke samping dan menutup mukaku

dengan tangan. “He…he…” dia terkekeh geli, batang kontolnya sudah

kelihatan tegang berat, urat-urat di
permukaan kontolnya sampai menonjol keluar semua. Batang kontolnya

bentuknya montok, berurat, dan besar. Sementara aku masih menutup muka

tanpa bersuara, dia mengocok kontolnya dengan tangan kanannya,

“Uuuaahh…nikmatnya”. “Din sebentar yaa… aku mau cuci kontolku dulu

yaa… bau nih soalnya”, katanya sambil ngibrit ke belakang, kontolnya

yang sedang “ON” tegang itu jadi terpontang-panting sambil mengangguk

-anggukkan kepalanya ke sana ke mari ketika dia berlari. Aku masih

terduduk di atas sofa dan begitu melihatnya keluar berlari tanpa pakai

celana jadi terkejut lagi melihat kontolnya yang sedang tegang

bergerak manggut-manggut naik
turun. “aawww…” teriakku kembali sembari menutup mukaku dengan kedua

jemari tanganku. “Iiihh… Din… takut apa sih, kok mukanya ditutup

begitu”, tanyanya geli. “Itu Mas, kontol Mas”, sahutku lirih. “Lhoo…

katanya sudah sering nonton BF kok masih takut, kamu kan pasti sudah

lihat di film itu kalau kontol cowok itu bentuknya gini”, sahutnya

geli. “Iya…m..Mas, tapi kontol Mas mm besar sekalii”, sahutku masih

sambil menutup muka. “Yaach… ini sih kecil dibanding di film nggak ada

apa-apanya, itu khan film barat, kontol mereka jauh lebih gueedhee…

kalau kontolku kan ukuran orang Indonesia sayang, ayo sini dong

kontolku kamu pegang sayang, ini kan milik kamu juga”, sahutnya nakal.

“Iiih… malu aah Mas, jorok.” “Alaa.. malu-malu sih sayang, aku yang

telanjang saja nggak malu sama kamu, masa kamu yang masih pakaian

lengkap malu, ayo dong sayang kontol Mas dipegang biar kamu bisa

merasakan milik kamu sendiri”, sahutnya sembari meraih kedua tanganku

yang masih menutupi mukaku. pada mulanya aku menolak sambil

memalingkan wajahku ke samping, namun setelah dirayu-rayu akhirnya aku

mau juga.

kedua tanganku dibimbingnya ke arah selangkangannya, namun kedua

mataku masih kupejamkan rapat. Jemari kedua tanganku mulai menyentuh

kepala kontolnya yang sedang ngaceng. Mulanya jemari tanganku hendak

kutarik lagi saat menyentuh kontolnya yang ngaceng namun karena dia

memegang kedua tanganku dengan kuat, dan memaksanya untuk memegang

kontolnya itu, akhirnya aku hanya menurut saja. Pertama kali aku hanya

mau memegang dengan kedua jemarinya. “Aah… terus sayang pegang erat

dengan kedua tanganmu”, rayunya penuh nafsu. “Iiih… keras sekali Mas”,

bisikku sambil tetap memejamkan 0

--

Kisah Pilu Aku Diperkosa
Video Bokep ABG SMU

Cerita ku ini bermula ketika aku sedang memenuhi panggilan interview

pekerjaan di pusat kota Surabaya, meski lulusan sebuah perguruan

tinggi yang cukup ternama di Malang namun berpuluh kali aku mengikuti

interview namun tak satu pun mengangkatku menjadi salah satu

pegawainya.

Aku menginap di rumah tetangga kampung yang pindah ke Surabaya namun

sudah ku anggap saudara sendiri karena mereka cukup baik pada

keluargaku dan sudah kuanggap sebagai keluarga dan aku memanggil

mereka PakDhe dan BuDhe, hari itu kebetulan aku sedang mengikuti

interview di hotel Tunjungan Plasa Surabaya.

Oh ya.. namaku Rinelda. 24 tahun. Aku pernah menjadi Finalis Putri

sebuah kontes kecantikan di malang, Aku pernah menikah tapi belum

mempunyai anak karena usia perkawinanku baru berjalan 4 bulan dan

sudah 3 bulan ini menjanda karena suamiku sangat pencemburu akhirnya

ia menceraikan aku dengan alasan aku terlalu mudah bergaul dan gampang

di ajak teman laki-lakiku.

Dari teman dan suami aku mendapat pujian bahwa aku cantik, tubuh yang

cukup sintal dengan tinggi 173 cm mulus dan 2 bongkahan Susu yang tak

terlalu gede tapi untuk ukuran seorang janda tak mengecewakanlah,

cocok dengan body ku yang cukup atletis. Soal sexs, dulu setiap ber

“ah-uh” dengan suamiku aku merasa kurang, mungkin karena gairah sex

yang kumiliki sangat kuat sehingga kadang-kadang suamiku yang merasa

tak mampu memuaskan tempikku, meski aku bisa orgasme tetapi masih

kurang puas!

Kulihat jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 16.15 menit, aku

sedikit dongkol karena seharusnya aku sudah dipanggil sejak pukul

15.00 tadi, padahal aku sudah datang sejak pukul 14.30 tadi. “He..eh”

aku pun Cuma bisa menggerutu sambil mencoba untuk memahami bahwa aku

butuh kerja untuk saat ini.

“Hallo!” suara perempuan mengagetkan ku dari lamunan.
“Ya !” jawabku sambil berdiri. Sejurus aku memandang kearah perempuan

itu, Cantik!
“Nona Rinelda ?” dia bertanya sambilmengulurkan tangan mempersilahkan

aku kembali duduk.

Beberapa saat kami berbicara dan ku tahu namanya adalah Rifda, dia

memakai jam gede di tangan kanannya, dengan nama dan pakaian yang

lumayan seksi mengingatkan ku pada teman SMP ku di Malang, ternyata

dia mengaku seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan dan

sedang mencari model, setelah berbicara tentang diriku panjang lebar

akhirnya dia berkata bahwa aku cocok untuk menjadi salah satu

Modelnya. Akhirnya aku mendapatkan kepastian esok hari aku akan

bekerja, aku pun berjalan pulang dengan langkah seolah lebih ringan

dari biasanya.

Sesampainya di jalan sebelum rumahku , sekedar anda tahu bahwa sejak

aku mencari kerja aku tinggal di rumah BuDhe Tatik saudara dari Ibu

ku. Ada beberapa anak muda bergerombol, ketika aku lewat di depannya,

mereka menatapku dengan mata yang seolah-olah mengikuti gerakan

pantatku yang kata teman-teman ku memng mengundang mata lelaki untuk

meremas dan mendekapnya.
“Wuih, kalau aku jadi suaminya ga tak bolehin dia pake celana dalam !”

Ucap salah satu dari mereka namun terdengar jelas di telingaku.
“Rai mu ngacengan!” timpal temannya, disambut tawa teman-teman lainya.

Sampai di rumah pukul 18.30. aku langsung mandi untuk mengusir

kepenatan dan panas yang hari itu kurasa sangat menyengat.
“Gimana hasil kamu hari ini Rin?” ku dengar suara BuDhe Tatik dari

dalam kamarnya.
“Besok aku sudah mulai kerja BuDhe” jawabku.” kerja yang benar jangan

melawan sama atasan terima saja perintah atasan karena mencari

pekerjaan itu sulit dan yang penting kamu suka dan menikmati apa yang

kamu kerjakan” kata-kata dan wejangan dari orang tua pada umumnya

namun ada poin tertentu yang terasa ganjil menurutku. Sosok BuDhe

Tatik adalah Wanita yang dalam berbicara cukup seronok apalagi jika

berbicara dengan pemuda di kampungnya sekitar 38 tahun an, cukup seksi

dalam penampilannya, suaminya adalah seorang PNS di KMS, dia pun juga

tak kalah ngawur kalau berbicara yang berbau saru dengan BuDhe atau

teman-temannya. Tak berapa lama setelah ngobrol aku pun beranjak ke

kamar,

Kamarku sendiri adalah bekas ruang tamu yang dipasang sekat dari

triplek. Sekitar pukul 22.30 an aku mendengar suara aneh bercampur

derit kursi seperti didongong atau ditarik berulang-ulang dari ruang

tamu depan kamarku persis, sejenak kuperhatikan secara seksama suara

tersebut dan aku penasaran dengan suara tersebut.

Sedikit kubuka pintu kamarku, betapa kaget setelah mengetahui BuDhe

sedang duduk di kursi sambil mengakangkan kakinya sementara PakDhe di

depannya sambil memegang kedua kaki BuDhe pada pundak sedangkan pantat

nya bergerak maju mundur..

“Och…u..o..” suara yang keluar dari mulut BuDhe. Seolah menikmati apa

yang dilakukan oleh suaminya, badanku terasa panas dan pikiran yang

tak tahu harus bagaimana karena baru kali ini aku benar-benar melihat

hal ini live di depan mataku. Selama kurang lebih 10 menit kedua orang

itu melakukan sambil duduk akhirnya PakDhe menarik tongkolnya dari

dalam Tempik BuDhe, Yak ampun ternyata tongkol nya lumayan gede lebih

gede dari pada milik mantan suamiku yang biasa mengocok isi tempikku,

akhir-akhir ini aku sering nonton BF saat PakDhe dan Budhe sedang

kerja, pernah sekali aku hampir kepergok oleh PakDhe saat aku sedang

nonton BF sambil mempermainkan liang nikmatku, namun ternyata PakDhe

tidak peduli dan mungkin mengetahui bahwa aku seorang wanita yang

butuh kesenangan pada salah satu bagian tubuhku, namun saat itu PakDhe

hanya tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam kamarnya yang

mungkin tertinggal dan segera pergi lagi.

Kusaksikan BuDhe mengambil posisi menungging dengan kedua tangan nya

memegang kursi di hadapannya “ayo mas cepet keburu tempiknya kering”

pinta BuDhe dengan suara yang pelan mungkin agar orang luar tidak

mendengar dan mengetahui tapi kenyataanya aku malah menyaksikan dan

memperhatikan secara detil apa yang mereka perbuat. Kulihat kali ini

PakDhe mengeloco tongkolnya sebelum dimasukkan ke tempik yang sudah

minta di jejeli tersebut.

“Ach…ack…sh” suara yang keluar dari mulut laki-laki tersebut. akhirnya

kulihat lagi adegan itu dari belakang karena mereka menmbelakangi

kamarku. Ada yang berdenyut pada tempikku tanpa terasa tangan ku masuk

ke dalam celana dalam yang kupakai, ku tekan pada itilnya “ahk” terasa

geli dan benar terangsang tempikku kali ini. Aku tersenyum mendapatkan

pengalaman ini.
“Tempikmu… ue.nak .Tik pe… res… tongkol ku” kata kata terputus dari

Pakdhe seolah tak kuasa menahan nikmat yang dirasakannya.
“Lebih cepat… mas… cep… at!” BuDhe pun seakan mengharapkan serangan

dari suaminya lebih hebat lagi.
“A… ach… aku keluar ma… s!” suara BuDhe terdengar setengah

berteriak.Wanita itu terlihat melemas tapi PakDhe tetap menggenjot

dengan lebih giat kali ini tangan nya memegang pantat BuDhe yang bulat

mulus itu dan akhirnya laki-laki itupun menekan tongkolnya lebih dalam

kearah tempik didepannya tersebut. Sambil menahan sesuatu. Ketika

konsentrasiku tertuju pada tongkol dan tempik yang sedang beradu

tersebut tanpa kusadari sambil digenjot BuDhe menoleh ke arah pintu

kamarku dan tersenyum, “hek” aku kaget setengah mati segera ku tutup

pelan-pelan pintu kamar dan kembali ke tempat tidurku, beribu pikiran

menyeruak dalam benakku antara bingung dan takut karena mungkin

kepergok saat mengintip tadi. Aku kecewa karena tidak melihat

bagaimana raut muka PakDhe ketika mencapai puncak kepuasan.

Terasa ada yang basah di selangkanganku saat aku menyaksikan adegan

tadi, “yah aku terangsang” terakhir kali aku merasakan nikmatnya

berburu nafsu dengan suamiku adalah hampir 4 bulan yang lalu.

Memang aku mudah terangsang jika melihat hal-hal yang berbau porno.

Sering kali aku melakukan masturbasi dengan membayangkan laki-laki

yang kekar dan memiliki batang tongkol yang kokoh tegak berdiri dan

akhirnya aku memasukkan sesuatu ke dalam tempikku yang seolah lapar

akan terjangan tongkol laki-laki, tapi terkadang aku merasa ada yang

kurang dan memang aku butuh tongkol yang sebenarnya, Tanpa kupungkiri

aku butuh yang satu itu. Kulihat jam didinding kamarku menunjukan

pukul 11.35, ya ampun besiok aku kan mulai kerja! Sialan gara-gara

tongkol dan tempik perang diruang tamu akhirnya aku tidur kemalaman!

Emang dikamar kurang luas apa? “ah sialan!” umpatku dalam hati.

Pukul 04.30 aku terbangun, ketika akan membuka pintu kamar aku

teringat akan kejadian yang baru aku saksikan semalam, pelan-pelan

kubuka ternyata tak kulihat orang diluar, aku langsung menuju dapur

untuk memulai aktivitas pagi, terkadang aku harus membantu memasakkan

sarapan pagi dan menyapu lantai sebelum menjalankan altivitasku

sendiri, aku merasa adalah suatu vyang lumrah karena aku menumpang

disini.

Aku berjalan melewati depan pintu kamar BuDhe yang terbuka lebar,

sekali lagi aku terhenyak kali ini aku menyaksikan dua orang sedang

tidur tanpa memakai baju sama sekali, kulihat senyum di bibir Budhe

Tatik, tanda kepuasan atas perlakuan suaminya tadi malam mungkin.

Di kamar mandi aku kembali memikirkan kejadian semalam yang membuatku

“terus terang cukup terangsang” apalagi jika mengingat tongkol yang

gede milik PakDhe. “ahh” rupanya tangan ku sudah berada di sela-sela

pahaku yang mulus dan bulu hitam yang tampak olehku cukup lebat meski

tak terlalu banyak diantara garis melintang ditengahnya, tiba-tiba

nafasku berburu kala kuteruskan untuk menggosok bagian atasnya,

“sialan!” pikirku dalam hati. Kusiram tubuhku untuk mengusir nafsu

yang mulai mengusik alam pikiran ku.

Sebelum berangkat kerja di hari pertamaku, kusempatkan untuk sarapan

pagi siapa tahu nanti aku harus kerja keras di kantor.
“Jaga diri baik-baik Rin” kata BuDhe sambil menepuk pundakku,
“Eh.. iya.. BuDhe Rinel tahu kok” kataku sambil ngangguk. Kulihat

BuDhe baru keluar kamar dengan mengenakan handuk pada bagian susu

sampai atas lulutnya wajahnya tampak masih berseri meskipun tampak

kecapean.
“Edan udah jam 7!” pekikku dalam hati.
“BuDhe aku berangkat dulu” pamit ku.
“Yo ati-ati Nduk ingat ikuti dengan baik perintah atasan lakukan

dengan baik tanpa banyak kesalahan” katanya sambil tersenyum padaku,

senyum itu penuh makna sama seperti tadi malam.
“Enggeh BuDhe… ” aku pun keluar rumah menuju tempat kerjaku yang baru.

Dari depan kantor itu aku berjalan menuju pos sekuriti,
“Permisi” aku mendekati seorang sekuriti,
“Ada yang bias saya Bantu mbak?” Tanya nya dengan sopan. Tubuh yang

lumayan atletis tangan yang kekar serta tonjolan di bawah perutnya

cukup menantang dibalut celana yang agak ketat di bagian pahanya.
“Ruangan Ibu Rifda dimana ya?” tanyaku.
“Bu Rifda Miranti? pasti sampeyan mbak Rinelda!” terlihat senyum

dibibirnya masih dengan ramah dan sopan. Aku cuma mengangguk.
“Tunggu sebentar mbak” sambil mengangkat intercom di depannya, ketika

dia berbicara dengan seseorang aku melihat suasana sekeliling “Kok

sepi ya?” tanyaku dalam hati.
“Sebentar lagi karyawan Ibu Rifda akan menemui mbak, silahkan

menunggu” katanya sambil menunjuk kursi sofa di tengah ruangan yang

cukup besar. Ketika aku baru akan meletakkan pantatku aku melihat

sesuatu yang ganjil di lingkungan perkantoran ini, tak terlalu banyak

orang yang biasa ada pada sebuah perkantoran, kuperhatikan sekuriti

tadi kulihat dia berbicara dengan temannya tersenyum-senyum sambil

memandang kearahku, tak berapa lama kudengar namaku dipanggil seorang

wanita
“Rinelda?”
“Saya” jawabku sambil memalingkan muka kea rah datangnya suara tadi,
“Hai, kamu mau kerja disini?” tanyanya lagi.
“Lho Agatha, kamu kerja disini ya?” kataku sambil kenbali bertanya
“Tadi aku disuruh sama bu Rifda untuk menemui kamu, ayo ikut aku!”

sambil ngobrol kami pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan Bu

Rifda.
“Tunggu sebentar ya” kata Agatha. Pintu di ruangan itu sedikit terbuka

ketika dia masuk kulihat didalamnya ada 3 wanita yang menurutku

cantik, berbusana mahal dan seksi. Itu mungkin beberapa model yang

dimilikinya.
“Masuk Rin” Agatha membuka pintu lebih lebar. Ternyata didalam ada 2

laki-laki yang sedang melihat 3 wanita didepannya ” nah ini dia cewek

baru yang aku dapatkan kemarin di Tunjungan, namanya Rinelda” kata bu

Rifda sambil menunjuk ke arahku pada ke dua laki-laki itu.

“Rin, mas-mas ini dari Jakarta mereka akan menguji kemampuan kamu

dalam memakai barang mereka” aku segera mengambil kesimpulan bahwa

mereka adalah desainer atau rekan kerja bu Rifda. Aku mendekat dan

berjabat tangan dengan keduanya,
“Rif, kami perlu kerja di dalam studio” kata laki-laki yang sedari

tadi melotot melihat 3 wanita dihadapannya sambil menenteng kamera.

Lelaki itu berjalan diikuti oleh ketiga gadis.
“Tunggu sebentar ya Rin” kata bu Rifda sambil mengajak lelaki yang

satunya serta Agatha. Aku terdiam sebentar sambil melihat ruangan yang

cukup besar tersebut, ketika melewati ruangan yang baru di masuki oleh

tiga gadis dan seorang lelaki tadi aku mendengar suara tertawa wanita

kegelian dari dalamnya, ku coba untuk mendekat pada ruangan itu, aku

semakin penasaran lerja macam apa kok suaranya seperti… Yah aku ingat

suara itu mirip desahan BuDhe Tatik semalam! Kucoba lebih dekat untuk

mengetahuinya tapi… “Rin?” tiba-tiba Bu Rifda sudah berada di

sampingku.

“Ada yang mau aku tunjukan padamu” katanya sambil berjalan ke ruangan

pribadinya, tertulis didepan pintu ruangan tersebut.
“Mana Agatha? Sama lelaki yang tadi?” tanyaku dalam hati. Didalam

ruangan itu terdapat banyak Foto diatas meja.
“Duduk Rin” katanya mengetahui aku sedang menunggu dipersilahkan.
“Bu, maaf kamar kecil dimana? Saya kebelet pipis” tanyaku sambil

nyengir menahan sesuatu dibawah selakangku. “ah..ya..” dia menunjuk

kearah belakangnya. Aku langsung bergerak ke sana, masuk kamar kecil

itu aku langsung melorotkan celana dalam yang kupakai dan Chessh….”

Suara khas air
yang keluar dari tempikku, saat ku jongkok aku mendengar samara-samar

suara laki-laki.
“Aah….uh…ya …ayo..terus …sedot…ah nah gitu dong…” setelah itu

terdengar suara wanita tertawa, segera lu ceboki tempikku, kuangkat

kembali CD, sebentar aku terdiam sambil mencari asal suara tadi,

setelah yakin tak kudengar lagi akupun keluar dan menuju ke meja bu

rifda sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya pekerjaan

disini, saat ku berjalan mendekati meja bu Rifda kulihat wanita itu

sedang berganti pakaian, kulihat tubuh yang sangat seksi dan mulus,

pahanya yang putih dan pantatnya bulat putih cukup memberi bagiku

untuk berkesimpulan bahwa dia adalah wanita yang sempurna.

“Maaf bu” kataku,
“Oh tidak apa-apa kok Rin, bisa tolong ambilkan itu” katanya sambil

menunjuk kearah kursi kerjanya, “ini bu?” kulihat sebentar ini adalah

baju yang sering dipakai oleh bintang film luar negri “ah” aku

teringat saat aku melihatnya di sebuah film BF. Aku berikan padanya

dan dia memakainya dengan cekatan terlihat bahwa ia sudah terbiasa

mengenakan pakaian model itu.
“Kita bekerja dengan scenario dan harus tampil cantik serta se-seksi

mungkin karena target penjualan kita adalah kaum Pria” kata nya sambil

membenahi pakaianya,

“Hari ini adalah saat dimana kamu akan menjadi seorang entertainer

seperti gadis-gadis diluar tadi” , aku mendengarkannya sambil mengira

-ira apa kerjaku sebenarnya;
“Maaf sebelumnya Agatha di sini sebagai apa bu?” tanyaku,
“Kenapa?” dia balik bertanya,
“Kamu mau tahu tugas dia?” katanya sambil mengambil sebuah remote

control di laci mejanya,
“Tugas dia adalah menjamu para tamu dan melayani mereka sebelum mereka

memulai kerja yang sebenarnya” katanya sambil menunjuk sebuah televise

berukuran raksasa di belakangku, betapa kaget aku melihat apa yang

terpampang dihadapanku, ternyata Agatha sedang bergumul dengan laki-

laki di
sebuah ruangan kosong yang hanya di lapisi karpet tebal diseluruh

ruangan itu, setengah tak percaya kembali kulihat kea rah bu Rifda,

dia hanya tersenyum sambil matanya berbinar-binar seolah bernafsu

karena melihat kejadian di layer tersebut, aku segera mengetahui apa

yang sedang dan akan kualami maka aku berjalan menuju pintu keluar,

tapi apa yang ku dapat pintu itu terkunci! Aku menoleh kearah wanita

itu tapi wanita itu hanya tersenyum sambil matanya tetap menyaksikan

adegan Agatha dan laki-laki itu dihadapanya.

“Kamu bisa berteriak kalau kamu mau tapi itu tak akan berguna karena

seluruh ruangan disini telah kedap jadi tak akan ada yang mendengar”

katanya.
“Duduklah maka tidak akan terjadi sesuatu padamu atau jika tidak aku

panggilkan satpam didepan agar membuatmu diam” kali ini nadanya

terdengar sedikit mengancam. Aku pun telah paham bahwa aku tak bias

berbuat apa-apa, saat terduduk aku dihampiri oleh wanita itu dan tanpa

kusadari dia telah menarik tangan ku kebelakang dan mengikatnya dengan

tangkas, aku berontak tapi tak bisa karena kursi yang ku duduki besar

dan berat, akhirnya aku terdiam.

“Sudah kita nikmati saja tontonan yang disuguhkan teman SMP kamu itu”

katanya, sialan rupanya Agatha telah bercerita banyak tentang aku,

Agatha adalah temanku saat duduk di bangku SMP di Malang, dia adalah

type cewek yang cukup berani tampil seksi dan punya teman cowok yang

cukup banyak, dan dia pun telah kehilangan keperawanannya saat

perayaan kelulusan di suatu acara yang diadakan oleh teman-temannya,
“Kurang ajar, kenapa aku harus melewati hari yang seperti ini?” kataku

dalam hati.

Dari layer raksasa dhadapanku kulihat Agatha sedang duduk di atas pria

itu sambil menaik-turunkan pantatnya yang bahenol.
‘Oh… oh… ouh… ha… enak maass?” tiba-tiba suara Agatha terdengar sangat

keras, rupanya Bu Rifda menikan volume pada remote controlnya.
“Ga seru kalau tidak ada suaranya ya Rin?” kata wanita itu namun aku

tak mempedulikan kata-katanya. Aku menunduk tak mau melihat apa yang

ada dilayar TV besar itu, tapi suara yang menggoda nafsu itu tetap

terdengar.
“Setiap aku kesini… kurasa… tempik kamu masih… ouckh… tetap… keset…

Th..ah” suara laki itu tersendat-sendat.
“Tapi tongkol mas….kok rasanya.. tam.. baa.. ah… aha…” suara Agatha

tak terselesaikan.
“Jangan munafik Rin kamu past terangsang kan?” lagi suara Rifda

terdengar tak kupercaya wanita yang kemarin kutemui ini terlihat

anggun dan sopan kini…
“Perempuan macam apa kamu Rif?” kataku tapi tak kudengar jawaban

darinya yang kudengar hanya suara dia sedikit tertawa.

Tak berapa lama kembali kudengar Agatha berteriak
“Ack… a… yah… terus… tete… rus… sentak lagi… mas!” kali ini aku

mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang saat ini dilakukan laki-

laki itu pada Agatha, kulihat Agatha sudah nungging dengan bertumpu

pada lututnya sementara laki-laki itu menekan-nekan tongkolnya yang

besar itu maju-mundur ke arah tempik Agatha yang tampak menganga dan

berdenyut-denyut itu, cukup lama mereka saling mengimbangi gerakan

maju mundur itu satu sama lainnya, akhirnya…
“Aku… ke… luar… mas… aih… ya… ah!” nampak Agatha telah mencapai puncak

orgasme tubuhnya terlihat sedikit melemah namun si lelaki itu terus

mengocok tongkolnya yang masih menegang itu sambil tangannya memegang

bongkahan pantat Agatha, aku sendiri terangsang melihat semua ini dan

merasa ada yang mulai membasah di tempikku, seandainya tanganku tidak

di ikat pasti aku sudah memegang itil kecil ku.

“Ackh… sh… oh… sh… ” nampaknya laki itu sudah memuntahkan pejunya di

dalam tempik Agatha. Tiba-tiba Rifda mematikan layer tersebut dan

berkata
“Gimana Rin, apa yang kamu rasakan pada Tempikmu?” seolah mengetahui

apa yang aku rasakan.
“Lepaskan! Aku mau keluar dari tempat ini!” teriakku menutupi

rangsangan yang aku rasakan.
“Keluar? sebentar, ada yang mau aku perlihatkan sama kamu!” lalu dia

menekan kembali remote di tangannya kea rah layer raksasa di dan… “ya

ampun!” ternyata BuDhe Tatik!
Mengenakan baju berwarna merah menantang seperti yang dipakai oleh

Rifda, dia sedang sibuk mengulum tongkol seorang laki-laki disebuah

ruangan yang hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup bagus, ku lihat

Pria itu memegang kepala BuDhe agar lebih cepat emutannya, sementara

tangan kiri
BuDhe mempermain kan tempiknya sendiri.
“Eh… eh… e… gm… emph… !” suara wanita dilayar itu seperti menikmati

tongkol yang panjang dan besar di dalam mulutnya.
“Itu di rekam 2 hari yang lalu” kata Rifda seperti sedang menerangkan

sesuatu padaku.
“Maksudmu?” tanyaku,
“Lihat dulu baru komentar sayang!” aku pun kembali menyaksikan adegan

di depanku itu, belum pernah aku menyaksikan orang yang aku kenal

berbuat dengan orang lain seperti yang dilakukan oleh BuDhe dan

Agatha.

“tongkol mu hot banget mas… besar pa… njang… aku… akua… suka… !” kali

ini BuDhe nampak gemas memegang tongkol besar itu dengan kedua

tangannya, tongkol Pria itu memang sangat besar dibanding dengan milik

PakDhe yang kulihat semalam kelihatan kokoh berdiri dan lebih berotot

apalagi kepala tongkol Pria ini nampak besar dan mengkilap karena

sinar dari kamera, nampak sekali bahwa pria itu sangat menikmati

emutan mulut BuDhe, mendengar suara Budhe dan laki-laki itu saling

ah..uh.. membuat aku jadi terangsang, aku jadi salah tingkah

karenanya, ku toleh ke arah Rifda ternyata wanita itu sedang sibuk

memasukan sesuatu kebawah tubuhnya kutahu dia sedang mencari

kenikmatan di tempiknya mengetahui aku melihatnya wanita itu mendekati

aku dang menunjukan sebuah tongkat kecil yang mirip… tongkol!

“Kamu akan suka dengan yang seperti ini sayang” katanya sambil menarik

kedua kakiku hingga aku terlentang di atas kursi besar itu.
“Tenang Rin, cari nikmatnya dulu ya” aku diam dan tak terlalu banyak

bergerak aku tak tahu mengapa aku diam dengan perlakuan Rifda di

hadapanku kali ini, Rifda mengosok-gosokkan tongkol mainan itu ke arah

selakanganku, aku menggelinjang geli karenanya, aku tahu apa yang akan

dilakukannya, dan benar! Dia membuka resleting celanaku, sekali lagi

aku diam aku terangsang terasa tempikku berdenyut-denyut menginginkan

sesuatu. Dengan tangkas Rifda sudah menarik ke bawah celana yang

kupakai, diringi suara desahan nikmat yang disuarakan BuDhe Tatik dari

layer didepanku
“Oh… yaa… ya… be… nar… yang situ enak… mas… sh… ah!” kali ini kulihat

laki-laki itu sedang menciumi tempik BuDhe yang mengakang memberi

ruang yang bebas pada laki-laki itu, terdengar pula suara mulut laki-

laki itu berkecipak. Nampak bokong BuDhe yang bulat itu diangkat agar

mulut laki-laki itu dapat masuk lebih jauh mempermainkan lidahnya.

Tanpa kusadari paha dan selakangan ku terasa dingin ternyata Rifda

telah sukses melepaskan CD ku.
“Wah ternyata Jembut kamu tebal juga Rin” kata Rifda kemudian

tangannya menyentuh mulut tempikku, terasa hangat tangannya, kutatap

matanya seolah ingin kubiarkan apa yang dilakukannya, sudah kepalang

basah kubiarkan apapun yang dikerjakannya,

Saat Rifda sedang sibuk meng emek-emek tempikku dari depan, tiba-tiba

lampu ruangan mennjadi sangat terang, dan kulihat ada dua orang laki-

laki masing memegang kamera dan mengabadikan suasana di ruangan ini.

Tak kusadari ada sentuhan tangan pada pundakku.
“Rin, rupanya kamu sudah merasakan kenyamanan di ruangan ini” ternyata

aku kenal suara laki-laki dari belakangku yah itu suara PakDhe!

tanganku berusaha menutupi bagian bawahku yang menganga karena ulah

Rifda.
“Sudah nikmati saja, toh aku tahu kamu butuh yang seperti ini” kata

Pakdhe sambil menempelkan sesuatu yang hangat lunak dan membesar

ditanganku yang masih terikat kebelakang. Kupegang dan tahu apa yang

aku pegang namun terasa makin hangat dan memanjang.

Aku diam memikirkan semua rentetan dan semua orang yang ada disekitar

ku saat ini, saat kuterdiam ternyata Rifda berdiri di depanku dengan

menggerakan lidah ke bibir sambil memainkan celah tempiknya dan

matanya menatap ke arah PakDhe, laki-laki itu tahu apa yang dinginkan

Rifda dan segera berdiri mendekat dengan tangan memegang pantat Rifda.
“Ayoh, kita bikin janda muda ini tersiksa dan memohon agar tempiknya

di isi sesuatu yang hangat! Ha… ha… ha… !” kata Rifda sambil

melihatku, tangannya yang cekatan dan terampil mulai mengurut-urut

tongkol PakDhe yang sudah mulai kembali menegang, sementara tangan

PakDhe meremas-remas susu Rifda yang Cuma terbuka pada putingnya

sementara aku tetap menatap mereka berdua seolah tak percaya.

“U… uh” kata Rifda gemas mengocok tongkol di tangannya.
“Sudah, langsung aja masukin tongkolmu pak!”
“Lho Rin, tempik Rifda sudah basah! Kamu ga pengin niih?” Kata PakDhe

yang mempermainkan tangannya di sekitar tempik Rifda. Kusaksikan

gerakan Rifda membalikkan badannya memnbelakangi tubuh PakDhe, dengan

cukup sigap pakDhe segera menggiring batang tongkol yang dipegangnya

kearah tempik Rifda yang berada ditengah bongkahan pantat mulus Rifda

yang sudah menganga karena bibir tempiknya di kuak sendiri oleh tangan

kanannya sementara tangan kirinya menggosok itil yang sedikit menonjol

di bagian atasnya.
“Hrm ouch… masukin… te… rus… ah sampai men… tock pak!” kata Rifda

sambil menarik pantat PakDhe agar segera menekankan tongkolnya lebih

dalam.

Kali ini mereka merubah posisinya menyampingiku sehingga tampak susu

Rifda bergerak-gerak karena gerakan tubuhnya sementara tongkol PakDhe

yang sedang berusaha memasuki liang sempit itu semakin didorong

kedepan.
“Ah….” tongkol itu sudah tenggelam kedalam tempik rifda PakDhe

kemudian menarik tongkolnya pelan-pelan tampak olehku buah pelir

tongkol itu menggelantung.
“Sabar ya Rif, sebentar… ” kata pakDhe sambil menoleh kea rah ku

sambil mengedipkan mata kirinya seolah berkata.”Tunggu giliranmu”.
“Betapa nikmat kalau tongkol itu bersarang pada tempikku” kembali aku

sudah dirasuki hawa nafsu yang sedari tadi menghinggapi pikiranku yang

mulai tak terkontrol. Aku mulai menggepit paha agar tempikku yang

terasa gatal dan membasah tak diketahui oleh mereka, andai tangan ku

tak terikat mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang nikmat!

“Eh… ah… mpffh… yang cepat dong… genjot… terus… pak!” teriakan nikmat

Rifda sambil menggerakan bongkahan pantatnya kekiri –kanan mengimbangi

sentakan PakDhe.
“Plak… plak… ” suara benturan paha kedua orang didepanku serta kecipak

tempik Rifda yang diterjang tongkol gede itu seolah bersorak senang.

Saat ku sedang memperhatikan mereka ikatan pada pergelangan tanganku

terasa melonggar sedikit kutari tangan kananku dan terlepas! Sebentar

aku bingung apa yang harus kulakukan, namun diluar kesadaran ku saat

itu ternyata aku tidak mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri

lagi pula disitu ada 2 pria berkamera yang pasti akan mennghentikan

ku, yah otakku mungkin sudah dirasuki nafsu. Aku butuh keprluan

biologis itu! Aku butuh tongkol yang hangat dengan terjangan yang

sesungguhnya bukan seperti yang selama ini kudapatkan dengan

masturbasi! Semakin kuperhatikan secara seksama apa yang dikerjakan

PakDhe dab Rifda didepanku, Rifda nampak sangat menikmati genjotan

PakDhe dari arah belakang.

‘Ay… o.. pak… ayo… terus… kerasin… sentakanmu pak… !”
“Tempik nakal… nakal… nakal… ” kata PakDhe setiap kali si tongkol

menerobos tempik Rifda.
Kulihat tongkat mainan persis tongkol yang diletakkan dimeja oleh

Rifda, tak kuhiraukan 2 orang berkamera yang sedang mengabadikan

setiap gerakan dan erangan nikmat PakDhe dan Rifda, kuambil mainan

wanita itu dan mulai kugesekkan pada tempikku, tak kuhiraukan

segalanya!
Aku tersenyum karena aku merasa tak tersiksa sama sekali dengan

keadaanku saat ini, kali ini aku bermaksud memasukkan tongkol mainan

lembut ini pada liang tempikku dan…
“Eh… auch… ” bersamaan dengan sodokan PakDhe pada tempik Rifda setiap

PakDhe menarik tongkolnya kutarik pula mainan ini dari tempikku.Saat

aku sedang menikmati tontonan didepanku tiba-tiba pintu ruangan

terbuka dan masuk seorang laki-laki yang tadi bergumul dengan Agatha

menghampiriku sambil tersenyum, sambil berjalan dia melepas satu

persatu kancing baju dan membuka resleting celananya. Kukeluarkan

pelan-pelan tongkol mainan dari dalam tempikku.

Aku membayangkan isi didalam celana itu adalah tongkol besar seperti

yang dirasakan oleh Agatha tadi, yang pasti akan memberi kenikmatan

pada tempikku yang sangat merindukan tongkol, kutatap matanya seolah

aku memberinya ijin untuk segera menyerang tubuhku, aku sadar bahwa

semua perbuatanku saat ini akan direkam dan disebar luaskan, aku tak

pedulikan itu aku Cuma butuh laki-laki saat ini yang bisa membuatku

menggelepar penuh kenikmatan! Ketika Rifda mengetahui laki-laki itu

lewat didepannya tangan kanannya memegang tongkol laki-laki itu.
“Tempikku… masih… cukup… ah..ah… untuk… tongkolmu… auh… Rudi… say…

ang… eh… ” Rifda berkata sambil menikmati sodokan PakDhe. Sebentar

laki-laki itu berhenti dan memasukan tongkolnya kemulut Rifda.
“Ech… mpfh… Rud… empfh… di..kont… tol… ” tampak mulut Rifda seperti

kewalahan menelan sebuah Pisang yang besar, aku segera bangkit dan

menghampiri mereka, yaah aku tak rela jika tongkol dihadapanku ini

akan di telan juga oleh tempik Rifda dan aku lagi-lagi jadi penonton,

Rifda dan PakDhe tidak terlalu kaget melihatku.
“Oh… rupanya kamu baru bisa lepas dari tali tadi ha… ha… ha!” Rifda

tertawa setelah tongkol dimulutnya terlepas setelah laki-laki bernama

Rudi itu membalikkan diri padaku tampak tongkol besar setengah

mengacum itu mengarah padaku.
“Wao… ” Tanpa kuhiraukan si Rudi aku langsung jongkok didepannya dan

bersiap mengulum tongkol idamanku itu.
“Lihat pak… ah… si… ja… ech… janda… tak tahan… juga… a yes… !” kata

Rifda
seolah senang dengan apa yang kuperbuat, kumasukan kedalam mulutku dan

kepalaku mulai bergerak maju mundur, kurasa sesuatu yang besar sedang

berdenyut-benyut di dalam mulutku,
“Ach… ternyata pandai juga kamu mempermain kan tongkol dengan mulut.
“Oh… !” tangan Rudi mulai meremas pentil susuku yang mulai mengeras.
Aku memang pandai melakukan oral sex hal itu pun diakui oleh mantan

suamiku dulu bahwa mulutku sangat hebat dal;am hal ciuman bibir dan

mengulum tongkolnya bahkan sering kali saat oral sex suamiku

mengeluarkan spermanya di mulutku.
“Ehm… ehm… ehm… ” Aku sangat senang dan sangat merindukan batang

hangat dan kenyal ini! “Oh… oh… ya… ouh… ” Rudi tampak sangat menyukai

kulumanku kupermainkan lidahku pada kepala tongkolnya, sambil

memberikan Rudi kenikmatan kulihat PakDhe semakin mempercepat

genjotannya, tak lama kemudian.
“Arch… a… ah… aku… sudah… kel… luar… pa… ak… a… ” kata Rifda, matanya
merem-melek menahan sesuatu yang keluar dari dalam tempiknya. Saat

Rifda mulai sedikit lemas ternyata PakDhe mengeluarkan tongkolnya dan

melihat kearah Rudi seolah mengetahui maksud PakDhe Rudi pelan-pelan

menarik tongkolnya dari mulutku, yah PakDhe menuju kearahku sedang

Rudi menuju tubuh Rifda, aku ragu apakaha aku akan melakukannya dengan

orang yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku ini, namun PakDhe

ternyata langsung menarik pantatku hingga tuibuhku telentang pada

kursi besar di belakangku dan tongkolnya berada tepat didepan

tempikku, mengetahui aku sudah terangsang dengan sekali tekan tongkol

PakDhe segera menerobos lobang tempikku sesaat terasa sakit

“Adu… h… pelan-pelan… dong PakDhe… !” Teriakku.
“Ah sorry Rin, lupa aku, tempik kamu sudah lama tak terisi ya! Tahan

sebentar ya… kamu tahu ini ..enak..” kata PakDhe sambil menarik

tongkolnya dari dalam tempikku, aku merasa seluiruh isi tempikku

tertarik.
“Pelan-pelan… ” kataku lagi, tapi ternyata Pakdhe langsung menggenjot

tongkolnya itu keluar masuk. Tiba-tiba rasa sakit yang kurasakan

menjadi rasa geli dan nikmat
“Ah… a… ayou… lagi PakDhe… terus… sh… haa… ” yang kurasakan tempikku

jebol
luar dalam namun ennaak sekali, sudah cukup lama bagiku waktu 4 bulan

menanti yang seperti ini, aku tak peduli meski ini kudapat dari

seorang yang selama ini menampungku. Saat sibuk menikmati sodokan

tongkol di tempikku sempat kulihat Rudi memompa pantatnya sementara

Rifda mulutnya terbuka menahan nikmat yang akan dia dapat untuk kedua

kalinya dengan posisi miring dan kaki kirinya terangkat sehingga

memudahkan tongkol gede milik Rudi mengobrak abrik isi tempiknya, tak

berapa lama Rifda sudah memiawik…

“Sudah Rud… aku… ah… !” tampak Rifda sudah mengalami orgasme yang

keduanya. sementara kulihat muka PakDhe memerah menahan sesuatu
“Rin… torok… kamu… serr… et… aku tak… tahan… ah” PakDhe rupanya sudah

mendapatkan ganjaran karena berani memasukan tongkolnya ke milikku

yang memang masih peret, dia menarik tongkolnya dan mengeluarkan

pejunya pada Susuku dan wajahku
“Ah… ah… ” teriak PakDhe setiap kali cairan itu keluar dari kepala

tongkolnya.
“Ya… PakDhe… !” kataku kecewa, aku belum merasa orgasme! Tak

kuhiraukan PakDhe sibuk dengan tongkolnya yang mulai mengecil, saat

kumandang Rudi yang mengocok tongkolnya sendiri dia tersenyum padaku

dan akhirnya tongkol yang cukup gede itu datang padaku, tangan Rudi

memegang pantatku, aku tahu dia ingin posisi anjing nungging, kubalik

tubuhku menghadap sandaran kursi sedang kedua lututku tersangga

pinggiran kursi, tak nerapa lama tongkol Rudi sudah digesekgesekkan

pada pantatku yang putih mulus,
“Ayoh Rud kamu mau merasakan seperti yang di rasakan PakDhe?” kataku

nakal, aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang kulakukan yang pasti aku

mendapatkannya saat ini, akhirnya Rudi pun memasukan tongkolnya ke

dalam tempikku.
“A… euh… ah… em… ya… ” tongkol yang menerobos di bawahku memang terasa

sangat gede seolah menyentuh rongga-rongga di dalam tempikku. Pantas

Rifda mulut Rifda tak bersuara apa-apa ternyata ini yang dirasakannya.
“Eh… eh… eh… ” Rudi menekan maju mundur tongkolnya sementara tangannya

meremas susuku dan bibirnya mencium punggungku, cukup lama Rudi

menggenjot tubuhku dari belakang, kini dia memintaku untuk berdiri

menghadap tubuhnya dengan mengangkat kaki kiriku dia memasukan

tongkolnya dari depan
“Ya… h… he… he..lagi… lagi… ” nafasku terengah-engah menahan serangan

Rudi yang belum pernah ku lakukan dengan mantan suamiku dulu. Sensansi

yang luar biasa aku dapatkan dari laki-laki ini, sentakannya sangat

mantab dan sodokkan tongkolnya sangat luar biasa
“Rud… puaskan… puaskan… a.. ku… tongkol… Ter… us… sh… ” kata-kataku

tak terkontrol lagi karena tempikku merasakan hal yang sangat luar

biasa dan belum pernah aku merasakan yang seperti ini. Akhirnya aku

merasa kebelet pipis dan geli bercampur menjadi satu…
“Aku… ae… kelu… ar Rud… ah..” Puas, aku puas! Jeritku dalam hati ini

tongkol yang aku harapkan setiap masturbasi, sementara Rudi tetap

mengocok tongkolnya sambil menahan tubuhku yang terasa lemas agar tak

terjatuh,
“Pepek kamu… mem… mang… enak… ach” akhirnya Rudi menarik tongkolnya

dari tempikku dan menyemprotkan Spermanya ke mukaku.
“Ah… hangat… enakkan… Rud?” tampaknya tempikku memuaskan Rudi.

Cahaya terang dari kamera yang merekam semua tadi tampak meng-close up

muka ku yang tampak ceria!

Akhirnya, aku menikmati semua ini, semua kulakukan dengan senang hati.

Karena BuDhe adalah ketua dari semua pekerjaan ini dan Rifda dan

Agatha adalah Teman SMPku, sehingga aku bekerja menjadi pemain film

blue seperti yang dulu sering kulihat di keping VCD.

--


Situs Cerita Dewasa-Cerita Panas-Cerita Porno-Cerita Seks

* Tentang Cerita Dewasa

Kereta Panas
Video Bokep ABG SMU

Namaku Rasti, tinggiku 163 cm, kulitku putih mulus, umurku baru saja

mencapai 16 tahun 1 minggu lalu, aku bersekolah di sebuah SMA ternama

di JakSel. Semua temanku selalu memuji kecantikan wajahku yang

merupakan wajah campuran Jepang (ibuku) dengan Amerika (ayahku), juga

aku selalu merawat tubuhku dengan fitness sehingga hasilnya bongkahan

pantatku kencang dan padat serta dadaku berukuran 34B yang membusung

dan kencang, dan karena aku memakai salep khusus, putingku menjadi

warna pink kemerahan meskipun sering disedot oleh lelaki. Pertama kali

aku kenal sex yaitu ketika aku baru kelas 3 SMP, waktu itu aku

penasaran dengan penis cowok, maka dari itu aku meminta pacarku yang

sudah kelas 2 SMA untuk memperlihatkan penisnya padaku, dan tentu saja

dia senang memperlihatkannya, lalu entah kenapa waktu itu aku

terangsang oleh sentuhannya dan akhirnya terjadilah peristiwa yang

menyebabkan hilangnya keperawananku.
Biasanya kan, cowok yang “minta” duluan tapi aku tidak pernah malu

untuk “minta” duluan karena nafsuku memang tinggi. Cerita ini dimulai

ketika aku baru pulang dari rumah temanku pada jam 8 malam, tak

disangka kereta yang kutunggu datang terlambat.
Aku terus menunggu walaupun agak boring. Memang sih, ortuku menyuruhku

untuk memakai kendaraan pribadi tapi aku lebih memilih kendaraan umum

karena aku tidak mau jadi anak manja yang kemana-mana naik mobil.

Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 9 malam, akhirnya

keretaku tiba juga, langsung saja aku masuk.
Di gerbong yang aku masuki, hanya ada aku dan 5 orang bapak-bapak yang

duduknya saling berjauhan. Ketika aku masuk, mata ke 5 bapak itu

memandang liar terhadapku karena pada saat itu, aku memakai seragam

sekolah yang paling nakal diantara semua seragamku. Rok abu-abuku

berjarak 15 cm di atas lutut, dan juga aku membuka 2 kancing baju

seragamku. Aku memang suka memakai pakaian yang seksi karena selain

aku percaya diri dengan tubuhku yang sintal, aku juga suka sekali

memperlihatkan tubuhku yang indah kepada para lelaki atau yang biasa

orang bilang eksibisionis.
Sebagai balasan pandangan mereka, aku hanya memberikan senyum kepada

mereka. Lalu aku duduk di depan seorang bapak yang kutaksir berumur

50an, tampangnya bijaksana mengingatkanku pada guruku yang killer di

sekolahku. Kulihat bapak itu tersenyum kearahku sambil melihat ke arah

rokku seolah-olah bisa melihat apa yang dibalik rokku. Aku sih malah

senang diliati seperti ini. Karena mungkin aku sudah kelelahan, aku

tertidur.
Tiba-tiba kurasakan geli pada kedua buah dada dan putingku, spontan

aku membuka mataku lalu aku mendapati tanganku sudah terikat ke salah

satu besi yang berada di atas kepalaku (itu tuh… tempat buat taruh

barang bawaan) dengan posisiku yang masih duduk di bangku kereta, juga

seragam dan rokku sudah robek, mungkin karena aku terlalu lelah

sampai-sampai aku tidak sadar ketika mereka merobek baju dan rokku.
Bhku sudah tak tahu entah kemana, kini dadaku yang kencang, putih

mulus, dan berukuran 34B menjadi bulan-bulanan ke 4 laki-laki yang

sedang mengerjaiku. Lalu aku merasakan ada yang menusuk-nusuk vaginaku

yang masih terbungkus celana dalamku yang berwarna pink.
Ternyata ada seorang lagi yang menusuk-nusukkan jarinya ke dalam

vaginaku, aku mendesah “aaahh…. terus….. jaaaa…..ngan be…..rhenti!!”

karena sensasi jari yang menusuk-nusuk vaginaku serta jilatan-jilatan

dari 4 orang yang menjilati setiap sudut dadaku membuat nafsuku yang

memang tinggi menjadi tidak tertahankan. “wah, nih cewek malah suka,

udah cantik, sexy, nafsunya tinggi lagi….” komentar bapak yang berada

di depan vaginaku, aku tidak mendengar jelas karena aku mencapai

orgasme yang pertama, mungkin kalau aku dengar dengan jelas, aku sudah

ketakutan setengah mati. Lalu celana dalamku yang sudah basah karena

cairan deras yang keluar dari vaginaku akibat orgasme dibuang ke luar

kereta lewat jendela. Aku hanya bisa mendesah “mmmaaahhh….” ketika

bapak yang berada di depan vaginaku mulai menjilati dan menyentil-

nyentil klitorisku.
Si bapak itu terus menyapu sekitar bibir kemaluanku dengan lidahnya

sampai cairanku habis ditelannya, sementara itu ke 4 bapak yang

menjilati dadaku berebutan melahap dadaku. Lalu tiba-tiba ke 4 bapak

menyingkir dari ke dua buah dadaku yang sudah basah oleh air liur

mereka, dan 2 dari bapak itu mengangkat kakiku ke atas sehingga

vaginaku yang merekah, berwarna kemerahan, dan masih sempit terlihat

jelas oleh mereka. Lalu bapak yang tadi menjilati vaginaku, kini

meletakkan kepala penisnya di pintu masuk vaginaku, lalu dia langsung

menghujamkan penisnya yang besar,hitam, dan berurat ke dalam vaginaku

yang sudah basah. Aku berteriak “aaahhh… sakit pak”, “sakit tapi enak

kan….” balas bapak yang mengangkat kaki kiriku, lalu bapak yang sedang

mengaduk-aduk vaginaku berkata “gila nih cewek, memiawnya sempit

banget, gak kuat gue nih lama-lama”, lalu bapak itu langsung memompa

vaginaku secara perlahan namun pasti , ketika aku sedang asyik-

asyiknya merasakan sodokan dan adukan penis bapak itu di dalam

vaginaku, tiba-tiba kedua putingku digigit oleh 2 bapak yang dari tadi

berdiri saja. Lalu 2 bapak yang memegangi kakiku, mengikat kakiku ke

besi yang ada ikatan tali tanganku sehingga kini vaginaku lebih

terangkat. Kemudian 2 bapak tadi mengambil handycam dari tas mereka

masing-masing dan mulai merekam tubuhku yang sedang digarap oleh ke 3

temannya,lalu salah satu bapak itu berkata “waduh, nih cewek udah

cantik, sexy, mulus, suka *******, coba bini gua, cantik ‘n mulus

kayak gini, bisa betah gue di rumah” lalu mereka semua tertawa kecuali

bapak yang sedang gencar menggenjot vaginaku, tiba-tiba bapak itu

menekan penisnya sangat keras ke dalam vaginaku sehingga aku kesakitan

tapi aku hanya bisa mendesah pelan “mmmmaahhh….” karena tenagaku sudah

terkuras habis, dan sensasi dari kombinasi antara jilatan di kedua

putingku dan sodokan-sodokan penis di dalam vaginaku membuatku

mencapai orgasme yang ketiga sehingga aku berteriak “akkkkhhh….. aku

keeee….. luuaaaarr!!!”, 15 menit kemudian bapak yang menggenjot

vaginaku mempercepat genjotannya, tak lama kemudian dia berkata

“aakkhh….keluar”, lalu menyemburlah sperma yang terasa sangat hangat

di dalam vaginaku, lalu bapak itu berkata “gila, memiawnya kayak

ngisep ****** gue ke dalem, enak banget memiawnya”, sedangkan aku

hanya mendesah “hhhhaaaahhh…” karena kehabisan tenaga, lalu vaginaku

terus digenjot sampai mereka berlima mengeluarkan sperma mereka ke

dalam vaginaku, lalu mereka membuka ikatan di pergelangan tangan dan

kakiku.
Mereka membiarkanku istirahat sejenak, sambil mengobrol-obrol denganku

dan menanyakan nomor hpku. Aku bertanya kepada mereka kenapa

memperkosaku, salah satu dari ke 5 bapak itu menjawab “siapa sih yang

gak mau nyobain tubuh neng cantik dan sexy kayak neng”, “akh, bapak

bisa aja. Bapak-bapak ini udah saling kenal ya?” balasku. Lalu bapak

yang tadi berkata lagi “ya, kami teman SMA, kami abis reunian,

kebetulan ketemu neng, jadi bisa refreshing, abisnya reuniannya isinya

orang-orang yang umurnya 50an kayak kami, kami kan juga pengen

ngerasain daun muda”, aku hanya tersenyum saja mendengar jawaban dari

orang yang baru saja menyetubuhiku dan orang itu sepantasnya menjadi

bapakku.
Setelah 15 menitan aku duduk di bangku kereta, mereka sudah bernafsu

lagi dan mereka mulai berebutan mengkorek-korekkan jari mereka ke

dalam vagina dan anusku serta meremas-remas payudaraku yang montok.

Ketika aku sedang merasakan sensasi nikmat dari korekan jari di kedua

lubangku dan remasan-remasan di dada serta putingku oleh ke 5 bapak

itu tiba-tiba kereta tiba di stasiun dan pintu kereta terbuka,

untungnya tidak ada yang masuk ke gerbong kami. Tapi dari gerbong

lainnya muncul petugas karcis yang sudah kakek-kakek, umurnya

kuperkirakan 65 tahunan ke atas. Awalnya dia kaget melihat seorang

gadis telanjang dikerumuni oleh 5 orang bapak-bapak, tapi mungkin

karena melihat tubuh telanjangku yang begitu menggoda, kakek itu

berkata “lagi asyik nih, boleh ikutan gak?”, “boleh pak, tubuhku kan

emang buat muasin laki-laki” jawabku.
Kakek itu mendekati kami berenam, lalu mereka melucuti pakaian mereka

sendiri. Kini, ada 6 orang laki-laki yang berebutan untuk meraba-raba

tubuhku. Mereka terus meraba-raba tubuhku sampai aku mencapai orgasme

yang entah keberapa kali. Ternyata, salah satu dari 5 orang bapak itu

ada yang membawa tikar, langsung saja bapak itu menggelar tikar di

lantai gerbong kereta.
Lalu sang kakek diberikan kesempatan pertama mencicipi vaginaku di

ronde kedua ini, sang kakek langsung tidur di atas tikar, kemudian aku

disuruh menaiki penisnya yang sudah tegang. Aku naik ke atas badannya

dan mengarahkan penisnya ke vaginaku, ketika kepala penisnya berada di

depan vaginaku, dia langsung menggerakkan pinggulnya ke atas sehingga

penisnya masuk ke dalam vaginaku dengan sangat keras sampai aku merasa

kesakitan dan berteriak “aaauuuwww……sakit…..”, tapi sepertinya dia

tidak menghiraukannya.
Kakek itu menggenjot vaginaku dengan cepat dan kuat sehingga membuatku

merasa nikmat sekali dan mendesah “aaahh….te…russ…jangan…..ber…..henti

“, ketika aku sedang merasakan nikmatnya genjotan di vaginaku, tiba-

tiba aku merasakan ada 2 jari yang mengkorek-korek anusku, tak lama

kemudian, kurasakan penis yang hangat menyeruak masuk ke dalam anusku,

lalu kudengar pemilik dari penis itu berkata “gila, lobang pantatnya

sempitnya minta ampun…..enak banget”. Kini, aku merasakan sodokan di

kedua lubangku, aku memejamkan mata untuk menghayati hujaman demi

hujaman penis yang kulitnya sudah mengkerut tapi tetap nikmat yang

mengaduk-aduk vagina dan anusku. 20 menit kemudian, sang kakek

mempercepat frekuensi genjotannya sedangkan bapak yang menggenjot

anusku kelihatannya belum mau orgasme, kurasakan penis yang ada di

vaginaku berdenyut, tak lama kemudian sang kakek berkata

“aaaakkhhh…..ke….luuu….aaaarr!!”, sang kakek menyemburkan lahar putih

dan kentalnya yang hangat ke dalam vaginaku berbarengan dengan

orgasmeku yang kedua di ronde kedua ini.
Daerah selangkanganku menjadi sangat basah karena sperma bapak itu dan

juga cairanku sendiri sampai-sampai ada yang mengalir keluar dari

vaginaku ke pahaku yang mulus. Kemudian tubuhku yang sudah lemas

diangkat oleh bapak yang masih gencar mengerjai pantatku, lalu kakek

tadi bangkit dari tikar dan digantikan dengan bapak yang lain, lalu

aku didudukkan di penis bapak yang baru tidur di tikar oleh bapak yang

mengerjai pantatku. 5 menit kemudian, akhirnya bapak yang menggenjot

lubang anusku menyemburkan spermanya ke dalam lubang anusku dan

sebagian spermanya mengalir keluar dari lubang anusku ke vagina dan

pahaku kemudian lubang anusku dimasuki oleh penis lainnya, dan seperti

sebelumnya dua lubang kenikmatanku digenjot oleh 2 penis yang berbeda,

dan ketika sudah menyemburkan sperma di dalam vagina dan anusku,

posisinya digantikan oleh bapak lainnya, begitu seterusnya sampai

masing-masing bapak itu menyemburkan spermanya ke dalam vagina, anus,

dan mulutku. Semua persenggaman yang terjadi direkam dalam handycam.
Setelah mereka puas menggarap tubuhku selama lebih dari 1 1/2 jam,

mereka membiarkanku tidur di tikar untuk istirahat dan mereka memotret

dengan kamera yang dibawa kakek itu serta mereka juga merekam tubuhku

yang sudah belepotan karena sperma mereka dengan handycam mereka. 10

menit kemudian, akhirnya kereta yang kutumpangi sampai di stasiun yang

kutuju, lalu mereka ber6 mengucapkan sampai jumpa dan berjanji akan

menelponku. Aku keluar dari kereta dengan tidak memakai apa-apa karena

selain seragamku sudah dirobek oleh 5 bapak tadi, aku juga takut pintu

kereta akan tertutup, jika itu terjadi maka tubuhku akan digarap lagi

oleh mereka karena nafsu mereka besar entah karena nafsu mereka memang

besar atau karena melihat tubuh montokku yang kapan saja bisa mereka

nikmati.
Di stasiun ini ada kamar mandi, maka dari itu aku langsung mengambil

langkah seribu ke kamar mandi dengan sperma yang masih menetes dari

vagina dan lubang anusku meninggalkan jejak putih kental ke lantai.

Untungnya, setelah dari rumah temanku, aku sempat ke mall untuk

membeli tank top, rok mini, parfum, dan pelembab rambut. Langsung saja

kupakai semua agar tidak ketahuan oleh orang-orang kalau tubuhku habis

digarap selama 1 1/2 jam lebih oleh 6 orang laki-laki tapi aku tidak

mencuci vaginaku (ya iyalah, masa mau cuci vagina di wastafel….hehe)

karena aku suka bau sperma baik yang masih cair maupun yang sudah

kering dan juga aku lupa membeli celana dalam dan bh sehingga aku

tidak memakai apa-apa dibalik tank top dan rok miniku. Aku menyetop

taksi dan menuju ke rumahku. Aku tau kalau si supir taksi melihat

badanku yang putih mulus dan sexy ini, kalau saja aku tidak kelelahan

pasti sudah kugoda dia sampai dia tidak tahan dan akhirnya memperkosa,

tapi badanku sudah sangat lemas sehingga aku menjadi tidak bernafsu.

Setelah sampai di rumah, aku membayar supir taksi itu dan langsung

memencet bel. Mbok Parti berlari dari dalam rumah untuk membukakan

gerbang, sambil membukakan gerbang Mbok Parti “aduh non dari mana aja

sih non? mbok kan khawatir”, “tadi Rasti ke rumah temen dulu, terus

pulangnya naik keretanya, eh keretanya datang terlambat, ya jadinya

Rasti pulangnya telat” jawabku. Mbok Parti ini memang seperti kakakku

karena dia yang merawatku dari kecil kalau orang tuaku sedang pergi ke

luar negeri. Aku langsung menuju kamarku, dan menjatuhkan badanku ke

kasurku. Karena aku sangat kelelahan, maka aku langsung tertidur

sambil memikirkan apa yang akan terjadi besok ya

--


Situs Cerita Dewasa-Cerita Panas-Cerita Porno-Cerita Seks

* Tentang Cerita Dewasa

Bercinta dengan Dua Pria
Video Bokep ABG SMU

Cerita Dewasa ini terjadi sekitar setahun yang lalu, tahun kedua-ku

bersekolah di luar negeri. Aku sedang mandi dan mempersiapkan diri

untuk pergi ke pesta malam itu di rumah temanku, Ita, yang juga

sekolah di universitas yang sama denganku.
Semester kami baru saja berakhir, dan pesta ini untuk merayakan itu.

Hampir semua mahasiswa Indonesia diundang ke pesta ini di rumah Ita.

Ita memang anak orang kaya dan orang tuanya membelikan dia sebuah

rumah ketika dia memutuskan untuk meneruskan sekolah di sini.

Sedangkan aku, hidup pas-pasan saja, tinggal di sebuah apartemen

mungil di dekat sekolah. Meskipun menurutku, apartemen itu lebih enak

dan mudah diurus, toh yang datang biasanya hanyalah Ita, atau cowok-

cowok ku. Ya, sejak aku kehilangan keperawananku tak lama setelah tiba

di sini, aku jadi sering uring-uringan seperti ketagihan seks. Sebagai

akibatnya, aku sering mengundang cowok-cowok, baik orang Indonesia,

atau bule, untuk ke apartemenku berhubungan seks. Untuk menjaga

reputasi dan nama baik-ku, aku hanya tidur dengan 3 cowok indonesia

yang kupercaya bisa tutup mulut, dan aku malah lebih sering tidur

dengan orang bule yang baru sekali bertemu.
Malam itu aku memutuskan untuk mengenakan baju yang seksi, karena Ita

menyuruhku untuk menemani Tom. Tom adalah orang bule yang sering

bergaul dengan orang-orang Indonesia, dia juga sekelas denganku di

universitas. Orangnya ganteng, dan kudengar dia memang menaruh hati

pada Ita, tetapi Ita sudah punya cowok, dan hubungan mereka sudah

serius, jadi Ita memintaku untuk mengalihkan perhatian Tom darinya.

Setelah memilih-milih baju dari lemariku, aku mulai mengenakan celana

dalam G-string yang berenda-renda, dengan rok mini hitam, tube top

pink tanpa bra. Tak lupa pula aku mengenakan anting hadian ulang tahun

dari orang tuaku, dan sebagai aksesori terakhir yang kubawa, beberapa

kondom. Aku tidak tahu apakah Tom bebas dari penyakit menular atau

tidak, dan aku pun tidak ingin mengambil resiko tertular.
Sesampainya aku di rumah Ita, aku langsung mencari Ita untuk lapor

diri dan mengucapkan selamat ultah.

“Vanessa, Tom masih belum nyampe tuh, ntar kalo gua ngeliat dia gua

panggil elu deh,” kata Ita.
“OK. gua mau nyari minuman dulu deh. Happy birthday, yah!” ujarku

sambil ngeloyor pergi mencari minum.
Aku mulai berjalan ke arah wet bar yang ada di rumah Ita, ketika aku

bertemu dengan Indra, tak sengaja aku menubruk dia ketika dia keluar

dari WC.
“Ouch.. sori nih. Eh, Vanessa, udah lama engga ketemu,” kata Indra

sambil matanya mengerling nakal. Indra termasuk salah satu cowok yang

pernah one night stand denganku, dulu sebelum aku menyadari bahwa dia

ternyata tidak bisa dipercaya untuk tutup mulut.
“Eh.. Indra.. gak apa-apa. Iya nih udah lama engga ketemu,” kataku

sambil beringsut pergi. Aku selama ini berusaha menghindari ketemu

Indra soalnya dia pasti akan minta jatah lagi. Tapi Indra dengan sigap

bergerak dan mengapit tubuhku ke tembok, “Ness, gua udah lama kangen

banget sama elo nih. Elo tau kan, gua sekarang udah putus sama si

Cynthia. Adik gua ini udah sebulan belum dipuasin. Gua jadi inget

terus waktu dulu tidur sama elo. Apa elo engga pengen merasakan

kejantanan gua lagi?”
Aku mulai merasakan sesuatu yang keras mendesak perutku di bawah.

“Dra, please jangan.. gua ada date nih malem ini. Kan engga enak sama

date gua,” kataku sambil berusaha mendorong Indra, tetapi Indra tetap

lebih kuat dariku, dan menekan tubuhku ke tembok,”ayo dong Ness,

bentar aja.. gimana kalo elu oralin gua deh.”
“Dra, nanti deh.. kalo pesta udah beres, gua puasin elo. gimana?” aku

sudah mulai putus asa, dan terpaksa menawarkan itu.
Indra tersenyum sesaat, lalu matanya turun ke arah buah dadaku yang

tertutup tube top tipis. Puting susuku sudah mulai mengeras akibat

kejantanan Indra yang menekan perutku dari tadi dan kemungkinan harus

memuaskan dua cowok malam itu.
“oke.. nanti aku cari kamu, sayang,” sambil berbicara, Indra

menyelipkan tangan-nya ke dalam rok mini-ku dari bawah, dan meremas

pantatku. Lalu dia pergi.

Aku berdiri menyender ke tembok sesaat, tanpa kusadari napasku sudah

terengah-engah dan jantungku berdebar-debar gara-gara adrenalin yang

mengalir deras.
Kuteruskan berjalan ke wet bar dan mengambil minuman Bombay Sapphire.

Sambil meminum sedikit-sedikit, aku berjalan ke balkon rumah Ita. Di

perjalanan ke balkon itu aku melihat beberapa cowok yang pernah

merasakan tubuhku. Jack(bule) adalah orang pertama yang meniduriku di

LA, pada hari pertama sekolah semester pertama di sini. Anto suka

sekali bersenggama di tempat-tempat tersembunyi di sekolah, beberapa

kali kami melakukan-nya di WC perpustakaan dan di kelas-kelas kosong.

Budi, dengan badan-nya yang berotot dan atletis, sering menusukkan

kejantanan-nya dulu ke dalam tubuhku di kamar mandi fitness center

sekolahku. Kami dulu memang suka pergi bersama ke sana untuk

berolahraga. Tapi hari ini aku menghindari semua cowok-cowok itu, dan

pergi menunggu datangnya Tom.

Tak lama kemudian, Tom muncul di balkon diganden Ita yang kelihatannya

sudah ingin melepaskan tangan Tom. “Tom, ini dia.. dari dulu gua

pengen ngenalin elu duaan, kayaknya cocok deh hehe.. Enjoy!” Ita pun

pergi kembali ke dalam.

“Tom, nama gua Vanessa,” aku mengulurkan tangan untuk bersalam.
“Halo, gua kayanya sekelas dengan elu deh. EE411 ?”
Kami mulai mengobrol tentang sekolah, kelas, dan teman-teman kami. Tom

mengobrol sambil sesekali mencuri pandang ke arah Ita. Ita memang

kelihatan hot sekali malam itu dengan gaun potongan rendah di dada-

nya. Chris, cowok Ita, berdiri di sampingnya, dan kelihatannya sudah

tak sabar ingin menyeret Ita ke kamar tidur, tangannya dari tadi sudah

menjelajahi punggung, pantat, dan kadang-kadang buah dada Ita.

Tom tampaknya mulai menyadari bahwa Ita sama sekali tak tertarik

dengan dia.
Kami sudah mengobrol di balkon selama sekitar satu jam, dan Ita tidak

sekalipun datang ikutan mengobrol, atau melihat ke arah kami. Kupikir,

ini lah kesempatanku dengan Tom, kuambil tangan Tom, “Tom, I know you

like Ita, but she’s already with someone else” kucium perlahan bibir

Tom, dan aku melihat dalam-dalam ke matanya yang biru indah, hampir

membuatku orgasme di situ juga. Tom membalas ciumanku, dan kami

french-kiss di balkon sambil berpelukan hampir selama setengah jam.

Aku memutuskan untuk mengajak Tom ke tempat yang lebih sepi.. Kutarik

tangan Tom menuju pintu kedua di balkon itu, yang kelihatannya gelap.

Kubuka pintu kaca itu, dan ternyata itu menuju kamar tidur Ita.

Kudorong Tom ke atas ranjang, dia menari aku ke atas tubuhnya, dan

kami pun mulai berciuman dengan lebih panas. Tangan kanan Tom mulai

turun ke arah pantatku, dan menarik rok-ku ke atas. Sementara itu

tangan kirinya menurunkan tube-top ku dan mulutnya mulai menjilat-

jilat puting susuku. Kutarik kepalanya ke dadaku yang telanjang sambil

mendesah-desah. Enak sekali rasanya.
Tiba-tiba Tom mendorong tubuhku ke ranjang, dan dia naik ke atasku.

“Ness, gua dari dulu udah pengen mencicipi tubuh elu, sejak gua

ngeliat elu di kelas, elu selalu terlihat seksi. Sudah lama aku ingin

melakukan ini denganmu,” Tangan-nya meraba-raba ke bawah perutku, dan

menggosok-gosok kelentitku. Aku menggelinjang tidak karuan sambil

tanganku meremas sprei. Dengan sekali sentakan, Tom merobek celana

dalamku, dan menghujamkan penisnya ke dalam tubuhku. Napasku

tersentak, orgasme pertamaku malam itu tiba-tiba melanda tubuhku,

hampir saja aku menjerit kalau Tom tidak menutup mulutku dengan

tangannya.

Sementara itu Tom terus bergoyang di atasku, kejantanannya yang kekar

dan panjang bergerak keluar masuk lubang senggamaku. “Gua suka banget

cewek asia, cantik-cantik, dan cepat sekali basahnya,” ujar Tom

ditengah mengent*tiku. Tangan Tom mulai mencubit puting susuku, dan

mulutnya sesekali menjilati buat dadaku, membuatku hampir menjerit-

jerit lagi. Kali ini, Tom menciumi aku dalam-dalam sambil bergoyang-

goyang. Aku pun menutup mata, dan menggoyangkan pinggulku menikmati

persetubuhan ini.
Tom berganti posisi lagi dengan menarik tubuhku untuk duduk di

pangkuan dia. Rok dan tube-top ku masih bergantung di pinggangku

menyerap sedikit keringat yang mulai keluar, sementara Tom masih

berpakaian lengkap, hanya penisnya saja yang keluar. Kami berdua

bersenggama sambil menghadap ke pintu kaca yang menuju ke balkon.

Ditengah desahan nafsuku, aku melihat Indra sedang merokok sambil

mengobrol dengan Budi di balkon.
Tangan Tom yang kiri meremas-remas buah dadaku, dan tangan kanan-nya

mengusap-usap kelentitku sambil penisnya menusukku dari bawah.

“Toommm… aku sebentar lagi keluarr…”
“Ness, tunggu bentar… ahh.. aku juga udah mau keluarrrr”

Kami berdua pun berpacu menuju kenikmatan, dan akhirnya kurasakan

tubuh Tom menegang, dan penisnya membesar. Cairan sperma kurasakan

hangat di dalam vaginaku, membuatku juga orgasme. Tom menjilat-jilat

payudaraku sambil menungguku “turun” lagi. Rasanya aku hilang tenaga

sama sekali, dan akupun tiduran di dada Tom sambil bernapas terengah-

engah.
“Vanessa, apa ini berarti kita sekarang pacaran? ” tanya Tom.

Aku tersenyum,”Engga Tom, ini berarti kita sudah pernah have sex

bersama. Seriously, gua cuma mau have fun, engga ada apa-apa lagi

kok.”
Tom menarik napas lega, dia bangkit dari ranjang, mencium keningku,

sambil meremas buah dadaku sekali lagi, lalu dia memasukkan penisnya

lagi, dan pergi keluar kamar tidur.
Sebelum keluar, dia mengambil celana dalamku yang robek, dan

memasukkannya ke dalam kantung kemeja dia,”untuk kenang-kenangan”

katanya sambil tersenyum nakal.

Aku pun bangun, dan membereskan pakaianku seperti semula minus celana

dalamku.
Setelah berkaca, dan memastikan aku kelihatan rapi, aku mulai berjalan

keluar sambil berhati-hati untuk menghindari Indra yang masih sedang

di balkon rumah.

“Ness!” Ita memanggilku dari ruang keluarga. Akupun berjalan cepat-

cepat ke arah Ita, sambil mengawasi balkon. “Ness, thanks banget yah

tadi bicara sama Tom. Tadi dia dateng & bilang ke gua good luck dengan

Chris, kayanya dia udah engga terobsesi sama gua lagi deh.” Huh.. kalo

aja Ita tahu apa yang mesti gua lakukan untuk itu, pikirku,”Gak apa-

apa Ita, Happy birthday! Gua mau pulang dulu deh, capek nih” ujarku.

Ita memelukku sebelum aku pulang,”Vanessa, kok kamu keringetan sih ?”

tanya Ita. Aku sedikit merasa bersalah tadi meniduri Tom di ranjang

Ita,”ah.. enggak tadi dapur terlalu banyak orang.”
Ita perlahan-lahan menurunkan tatapannya ke arah kakinya. Aku

mengikuti arah tatapannya penuh tanda tanya, dan setelah aku melihat

segumpal cairan putih di jari kaki Ita, akupun menyadari apa yang

terjadi. Ternyata cairan sperma Tom telah mengalir keluar vaginaku,

dan karena aku tidak mengenakan celana dalam, menetes ke kaki Ita.

Rumah ita memang penuh dengan dentuman house music, dan sebagai

akibatnya, aku harus berdiri dekat Ita dan berbicara di kuping Ita.
Ita pun ternyata menyadari apa yang telah terjadi, dan tersenyum

padaku,”I hope you had a good time tonight.. ayo deh pulang, capek kan

?” Aku tersenyum lemah, dan berjalan ke arah pintu rumah Ita.
Karena aku tiba di pesta terlambat, mobilku diparkir agak jauh dari

rumah Ita.

Begitu aku sampai di mobilku, aku mulai mencari-cari kunci mobilku di

dalam tas tanganku.
Tiba-tiba kudengar ada orang berjalan di belakangku. Sebelum aku

sempat membalik, dia telah mendorong tubuhku keras-keras ke mobilku

dan membekap mulutku. “Ness, elo suka ngent*tin orang bule ya? Tapi

sama gue elo engga mau? Gua juga tau udah berbulan-bulan elo

ngehindarin gua terus” Ternyata Indra! “Loe kira tadi gua engga bisa

ngedenger ranjang di rumah Ita ngebentur tembok pas elu ngent*tin Tom

? Nih rasain tongkol gue bikinan dalam negeri!” Indra meraba-raba

selangkananku untuk melepaskan celana dalamku, tapi tentu saja dia

tidak bisa menemukannya karena disimpan oleh Tom. “Engga pake celana

dalem Ness ? Tentu aja.. elu sebenernya dateng ke pesta Ita udah

pengen ngent*t, yah ? sengaja mencari mangsa ? ”
Tanpa memberi kesempatan padaku untuk menjawab, Indra dengan kasar

menyetubuhiku dari belakang sambil masih membekap mulutku. “Ohhh..

enak banget deh memiawlu, ness. Ahhhhh.. Si Cynthia engga ada apa-

apanya dibanding badan elo.” Tangan Indra yang satunya lagi meraba-

raba dan memilin puting susuku. Rok miniku sudah naik ke pinggangku,

dan penis Indra keluar masuk dengan cepat dari liang senggamaku. Aku

mulai merasakan nafsuku naik, dan orgasme mendekat. Terus terang aku

terangsang sekali dengan omongan jorok Indra, dan perkosaan dengan

kasar seperti ini. “Ness,.. elo emang cewek bispak.. Ngent*t dengan

dua cowo satu malem. cewek gila seks yah elo..” Diomongi seperti itu

terus, aku pun hilang kendali, dan orgasme sambil menggeliat di

pelukan Indra. “Ohh.. gua bisa ngerasain memiaw elo meremas-remas

tongkol gua. Suka yah di perkosa seperti ini ? huh?” Indra kembali

menghinaku dengan omongannya. Tapi apa daya.. memang aku menikmatinya,

dan malah orgasme diperkosa seperti ini.

Tak lama kemudian, Indra pun orgasme, dan menyemprotkan spermanya di

dalam rahimku. Entah sudah berapa kali aku orgasme diperkosa olehnya.

Tanpa bicara, Indra memasukkan kembali penisnya, dan menarik

retsleting celananya. Sebelum dia berjalan kembali ke rumah Ita, aku

sempat menggumamkan.. “Dra, kapan lagi maen?”. Indra hanya tersenyum,

dan langsung berjalan.
Aku merasa lemas sekali, dan terduduk di samping mobilku sampai merasa

cukup kuat untuk menyetir kembali ke apartement ku. Air mani Tom dan

Indra bercampur dengan cairan birahiku mengalir keluar dari vaginaku.

Akupun masuk ke mobil, dan mulai menyetir pulang, tak sabar untuk

mandi dan tidur setelah melayani dua pria malam itu.

--

Success Story

Profesi Idaman Karena Keasyikan Main Uang

Rupiah terpuruk, perekonomian gonjang-ganjing, dan negara di ambang kebangkrutan. Ekonom bersuara, tak ketinggalan pula para anggota DPR. Pengamat baru bermunculan. Makin bingunglah orang. Uraian siapakah yang jadi pegangan? "Tak ada yang bisa memberikan gambaran soal pasar uang dengan lebih jelas selain para pemain Forex (Valas)," kata Theo Francisco Toemion (42), pengamat pasar uang sekaligus pemain Forex (Valas), meski kini lebih banyak membagi pengetahuan soal dunia yang telah belasan tahun ditekuninya itu kepada orang lain.

Ada perbedaan antara pandangan para pakar dengan Theo F. Thoemion sehubungan dengan krisis ekonomi yang memburuk sejak kuartal terakhir tahun lalu. Pihak pertama lebih melihat krisis berpangkal pada lemahnya sistem perbankan, kebocoran anggaran, buruknya pengawasan, monopoli, kolusi, korupsi, nepotisme, dan ekonomi biaya tinggi. Sedangkan Theo lebih melihat ulah spekulan di pasar uang sebagai sebab paling dominan. Sisi-sisi negatif penyebab keroposnya fondasi ekonomi itulah yang menyebabkan krisis tak segera bisa diatasi. Kalau Korea, Thailand, Filipina, Singapura, dan Malaysia bisa pulih dalam hitungan bulan, negara kita jauh lebih lama.

Sebagai pelaku pasar Forex (Valas), Theo tahu betul, tanda-tanda bencana telah muncul sejak lama. Semuanya adalah permainan para fund manager atau pemain pasar Forex (Valas), yang diwarnai keinginan untuk menguji ketangguhan otoritas moneter suatu negara. Ia tahu bagaimana pedagang besar Forex (Valas) - yang acap disebut spekulan - semacam George Soros memainkan peran dalam Yendaka, melambungnya nilai tukar Yen terhadap AS $, pada 1994. Ia juga mencatat, permainan para spekulan di Eropa memaksa pembahasan mata uang tunggal Eropa (Euromoney) lebih diintensifkan pada 1996. Selewat masa itu, para spekulan memang menurunkan aktivitas. Tapi lewat media massa Theo memperingatkan, "Hati-hati, bukan mustahil mereka akan mengalihkan perhatian ke Asia," begitu antara lain tulisnya saat itu. "Mereka menunggu kesempatan bermain mata uang menarik, exotic currencies seperti Won, Bath, Peso, Ringgit, atau Rupiah. Jangan lupa, Indonesia negara kaya. Karena itulah mereka membidik kawasan ini, bukan ke Afrika, misalnya."

Betapa tidak. Salah satu kawasan paling dinamis di dunia, dengan pertumbuhan ekonomi tiap negara rata-rata 7%/tahun, itu tak punya batasan berarti bagi lalu-lintas devisa. Otoritas moneternya juga belum teruji. Kalau dalam persaingan di Amerika, Eropa, dan Jepang para spekulan sering kalah, siapa tahu di kawasan ini. Maka bermainlah mereka.

Pertengahan tahun lalu, saat pemerintah memperlebar pita intervensi, mereka menangkap sinyal "tantangan" itu, dan terpacu gairah untuk bermain dengan Rupiah. Ketika Oktober 1997 duet Soedradjat Djiwandono - Mar'ie Muhammad memutuskan untuk melepas ambang intervensi, mereka pun mendobrak. Rupanya, keputusan historis untuk membiarkan Rupiah mengambang bebas itu tak didukung kondisi yang cukup. Nilai tukar dikuasai dan dimainkan, bahkan dalam seminggu bisa terdepresiasi sampai 50%. Utang membengkak, harga barang melonjak, produksi mandek, banyak perusahaan bangkrut. Inflasi membubung, dan perekonomian nyaris ambruk. Tak disangka, fondasi ekonomi kita demikian keropos.boleh ada berita buruk.

Ada 4 faktor yang menurut Theo bisa jadi penentu naik turunnya kurs: fondasi ekonomi makro, carta/grafik berdasarkan rumus, faktor teknis-psikologis, dan ulah para spekulan. Soal fondasi ekonomi, menurut Theo, pasar telah mendapat bukti rentannya perekonomian kita. Carta atau grafik pun sudah dibuat saat kita menempuh rezim devisa terkontrol; misalnya dengan mematok depresiasi tahunan 3 - 4%. Sedangkan faktor psikologis sangat berhubungan dengan ulah spekulan, apa lagi dalam rezim devisa bebas. "Sekali pasar memperoleh bukti mata uang suatu negara bisa didikte, mereka mendikte terus."

Pendiktean harga, yang terjadi setelah ada dorongan psikologis, berawal dari berita-berita politik yang berpotensi "dimainkan". Theo menunjuk contoh, seluruh dunia tahu Indonesia pra-11 Maret 1998 menghadapi suksesi. Maka berita tentang Presiden Soeharto dan situasi sosial politik menjadi bahan permainan spekulan. Keadaan sakit, yang dalam bahasa Inggris bisa dirumuskan dalam beberapa kata, mulai dari He's sick, He's ill, sampai He's seriously ill, mengakibatkan beraneka nilai kurs.

Memang benar. Menurut catatan Theo, grafik penurunan itu berlangsung sejak bank sentral ketahuan tak punya nyali sehingga menyebabkan Rupiah turun dari Rp 3.000,- ke Rp 3.800,- terhadap AS $. Angka turun lagi ke Rp 4.400,- karena Pak Harto istirahat. Kemudian menjadi Rp 4.800,- karena imbas krisis Korea, turun ke Rp 5.600,- karena Pak Harto batal ke Malaysia, dan dari Rp 6.200,- ke Rp 9.000,- karena pencalonan B.J. Habibie sebagai wakil presiden. Kurs membaik setelah penandatanganan nota kesepakatan dengan IMF 15 Januari, namun turun lagi setelah terjadi beberapa kerusuhan dan demonstrasi.

Kenyataan itu membuktikan, dalam rezim devisa bebas segala berita dan peristiwa baik menjadi syarat utama. Dalam berbagai kesempatan Theo mengingatkan, membiarkan Rupiah mengambang bebas sama dengan bunuh diri tanpa dibarengi perbaikan di segala sektor yang akhirnya melahirkan berita buruk. Percuma ada janji segala macam reformasi, penghapusan monopoli dan oligopoli, tetapi tak ada wujudnya.

Dapat dimengerti, naik-turunnya nilai Rupiah tak lagi ditentukan oleh hukum ekonomi, keseimbangan antara penawaran dan permintaan. "Tak ada teori yang bisa menjelaskan hal ini," kata Theo. "Saat masyarakat makin tahu persoalan, omongan para ekonom sering diabaikan. Pemain seperti saya yang diperhatikan"

Lantas, berapa kurs AS $ yang wajar? "Ambil nilai terakhir sebelum krisis Rp 2.400,-. Ditambah 80%-lah, sekitar Rp 4.320,-." Penjelasannya, dalam 10 tahun terakhir perbedaan suku bunga antara AS $ dan Rupiah sekitar 10%. Suku bunga AS $ 5% dan suku bunga Rupiah 15%. Selisihnya 10%, dan dalam 10 tahun menjadi 100%. Sementara depresiasi per tahun, katakanlah 4%. Jadi dalam 10 tahun menjadi 40%. "Nah, selisih antara perbedaan suku bunga dan depresiasi dalam 10 tahun, 100% - 40% = 60%. Tak usah dipatok 60%; beri kemungkinan sampai 80% untuk ditambahkan pada kurs terakhir. Jadi 180% dari Rp 2.400,- = Rp 4.320."

Tapi sekali lagi kenyataan membuktikan, segala teori dan hukum ekonomi tak berlaku bagi kurs yang liar karena permainan.

Kalau kita konsisten, pasar akan respek

Dunia perdagangan Forex (Valas) dewasa ini bagaikan dikontrol para fund manager besar yang disebut big boys. Menurut Theo, jumlah big boys yang tercatat saat ini 2.500 orang. Akumulasi modal mereka sekitar AS $ 1.300 miliar, dan dalam keadaan terpaksa bisa mendapat pinjaman hingga 10 kali lipatnya. Jumlah ini sungguh raksasa, sebab cadangan devisa negara-negara kaya yang tergabung dalam OECD pun kalau digabung tak lebih dari AS $ 700 miliar. Maka bisa dibayangkan betapa konyolnya gagasan untuk melawan spekulan dengan cadangan devisa hanya AS $ 20 miliar, misalnya.

Dari 2.500 big boys itu terbawa serta ribuan orang lain sebagai mitra atau pelaksana. Sudah menjadi kebiasaan, pengambilan posisi para pelaksana ditentukan oleh tokoh besar. Jika Soros, misalnya, mengambil posisi Rp 9.000,- untuk 1 AS $, yang lain pasti mengikuti. Jika esoknya Soros menjual dengan harga Rp 9.500,-, yang lain pun pasti ikut. Semua serempak, dan begitulah nilai mata uang dimainkan.

Kalau mata uang suatu negara dipatok pada nilai tetap, spekulan memang tidak lagi bisa main. Hanya saja, menurut Theo, konsekuensinya ada dalam perekonomian negara yang bersangkutan. Bagi Theo, reformasi ekonomi apa pun yang dipilih pemerintah tak penting benar, asal bisa mengatasi segenap konsekuensinya. Misalnya, pelepasan batas intervensi mensyaratkan perbaikan ekonomi total, sedangkan pematokan nilai uang mensyaratkan cadangan devisa yang cukup dan perbankan yang sehat.

"Tak bisa pula dilepaskan faktor keberanian bank sentral. Kepada siapa pun yang mau memaksakan kehendak, bank sentral tak boleh setengah hati. Kalau perlu habis-habisan berintervensi. Jika ini terus berlanjut, dan dunia membuktikan konsistensi kita, pasar pun akan segan," kata Theo. "Betapa pun kuat dan nafsunya spekulan, kalau menghadapi otoritas moneter yang teguh dan konsisten, mereka juga berpikir untuk main-main. Seperti pernah dialami Hongkong, para spekulan menghentikan serbuan karena tahu Inggris berada di belakangnya. Tak seorang pun ragu ketangguhan sistem keuangan Inggris."

Kasus Indonesia, menurut Theo, adalah bukti kesekian dari pelecehan para big boy terhadap otoritas moneter. Permainan selisih kurs antara Rupiah - AS $ jauh lebih mudah ketimbang permainan selisih kurs Yen - AS $ atau Mark Jerman - AS $ yang didukung otoritas moneter sangat berwibawa, dan karenanya disebut hard currencies. Akibatnya sangat mudah diterka, bahkan oleh ibu-ibu rumah tangga, pihak yang acap disalahkan karena dikira ikut-ikutan berspekulasi. Masalahnya, menurut Theo, selain tuduhan itu tak benar karena jumlahnya tak seberapa dibandingan dengan aktivitas pasar uang, pemikiran para ibu sangat simpel. Jika dulu mudah menghitung depresiasi, 3 - 4% setahun, siapa sangka tiba-tiba depresiasi bisa 20% dalam sehari? Kalau punya simpanan Rupiah dan berbunga, katakanlah 40%, pada akhir tahun tak akan mencapai jumlah jika didolarkan. Pada akhirnya memang tak ada pihak yang bisa disalahkan kalau terjadi perburuan mata uang asing, karena negara menganut rezim devisa bebas.

Menggelinding seperti bola salju

Di pasar uang, komoditas yang diperdagangkan tak cuma valuta asing. Menurut Theo, meski pemerintah mematok kurs Rupiah, tak berarti kegiatan berhenti. Ada pelbagai macam surat berharga dan surat-surat komersial yang diperdagangkan.

Memang, belakangan problem ekonomi negara kita tak cuma berasal dari dalam negeri, melainkan dari luar negeri. Lembaga pemeringkat semacam Standard's & Poor, sekalipun banyak dicibir, pengaruhnya terhadap pasar sangat besar. Peringkat buruk yang disandangkan kepada Indonesia, Maret lalu, adalah klimaks dari kesulitan eksternal. Alat pembayaran berjangka seperti letter of credit (L/C) tak diterima, investor asing pun tak serta merta datang buat menanamkan modal. "Dengan peringkat itu, pembeli kertas berharga dari Indonesia tak lagi dianggap berinvestasi, melainkan dicurigai mau berspekulasi," kata Theo. "Kalaupun saya, misalnya, menempatkan diri sebagai broker untuk mendatangkan uang dari investor asing, sekarang ini sangat sulit. Ketidakpercayaan demikian kuat, perlu waktu lama untuk memulihkannya."

Pasar uang dunia memang sulit dilawan. Kalau kekayaan big boys sangat besar, itu konsekuensi dari hakikat pasar uang. "Istilahnya a snowball business, bisnis yang menggelinding bagai bola salju. Orang harus jadi besar untuk survive."

Bisnis pasar uang, menurut Theo, menganut filosofi dasar: bukan soal berapa jumlah uang yang akan Anda peroleh, melainkan berapa jumlah uang yang siap Anda habiskan. Gambarannya, jika seseorang kerja keras sepanjang tahun hingga memperoleh uang Rp 1 miliar, akan sangat keliru kalau menggunakannya untuk main forex. Tetapi jika seseorang mendapat lotere Rp 1 miliar, yang Rp 800 juta untuk beli rumah/tanah, Rp 100 juta untuk beli kendaraan, dan sisanya untuk main forex, silakan saja. "Maka, kalau ada seorang fund manager siap menghabiskan AS $ 5 miliar di pasar forex, tak terbayang berapa besar kekayaannya"

Bisnis di pasar uang tak sama dengan judi. Kata Theo, jika judi nasib pelaku 100% tergantung pada kartu, "Di pasar uang ada hal-hal yang bisa diperhitungkan dan dicarikan peluang."

Menurut Theo, ada 7 tingkat yang harus dicapai untuk betul-betul memahami bisnis ini. Selain 4 faktor penentu nilai mata uang yang sudah disebut tadi, ada beberapa hal lain seperti lobi atau hubungan, termasuk kemampuan berbahasa, faktor intelijen alias daya endus informasi, dan hal paling abstrak dan sulit, sehingga orang tak sanggup berpikir lagi. "Misalnya, semua faktor telah terpenuhi, prediksi sudah dilakukan, tapi tak ada action. Ketika faktanya sama dengan yang sebelumnya telah diperhitungkan, muncul rasa sesal kenapa tidak begini kenapa tidak begitu. Itulah yang saya maksud tingkat ketujuh."

Sekalipun menggiurkan, bisnis di pasar uang penuh kekecewaan. "Karena apa? It's about money. Orang hanya tergiur melihat angka. Mereka ramai-ramai bermain, sementara tatanan dan hukumnya tak mudah dipelajari. Lagi pula dunia itu sudah dikuasai mafia, big boys, dalam cara kerja yang terintegrasi. Apa pun permainan para pendatang, mafia-lah yang memperoleh keuntungan"

Menurut Theo, setelah perang dingin reda dan komunisme runtuh, tak ada lagi kekuatan yang punya daya penghancur sangat dahsyat selain uang. "Ketika uang menjadi komoditas, dampaknya global. Bencana keuangan di suatu negara segera bisa merembet ke negara lain. Siapa sekarang orang kaya di kawasan krisis yang merasa terjamin hingga 7 keturunan? Tak terbayangkan, uang bisa berlipat kali atau hancur sama sekali hanya dalam hitungan hari."

Jika ditarik ke dimensi filosofis, kata Theo, krisis ekonomi adalah akibat ulah manusia yang menganggap uang sebagai ideologi. Fakta menunjukkan, miliaran AS $ telah menguap entah ke mana. Lembaga keuangan banyak yang rugi, Soros rugi, demikian pula para big boy. Tak jelas ke mana uang-uang itu pergi.

"Inilah tanda-tanda zaman," kata Theo. "Tuhan kasih antibiotik untuk mereka yang terlalu menghamba pada uang. Orang kaya pusing, konglomerat pusing. Rasain."

Main uang karena ingin menikmati hidup

Terjunnya Theo di kancah pasar uang agaknya tak terduga sebelumnya. Pria kelahiran Manado, 21 September 1956, ini semula berangan-angan jadi pastor, tapi dikeluarkan saat naik ke kelas 3 Seminari Menengah Tomohon tahun 1974. Anak ke-4 dari 7 bersaudara ini sama saja dengan ayah, paman, para sepupu, dan saudaranya, yang pernah masuk ke seminari namun gagal jadi pastor. "Saya menanggung harapan besar. Nilai dan aktivitas sekolah bagus. Maka ibu terguncang dan jatuh sakit ketika saya keluar," kenangnya.

Pastor pembimbing waktu itu mengatakan, ia akan lebih sukses hidup di luar biara. Kendati sedikit menyesalkan keputusan itu, ia berbalik haluan. Ia melamar ke Bank Indonesia dan diterima di BI cabang Surabaya. Setelah 2 tahun bekerja, timbul keresahan di antara teman-temannya yang cuma berijazah SMA. Sebab dengan begitu, mereka tak mungkin bisa masuk jajaran staf. "Nggak bakal pakai dasi dong seumur-umur," papar Theo mengenang.

Nampaknya BI tanggap pada kegalauan itu dan mengadakan seleksi untuk promosi. Yang lolos akan disekolahkan sejajar dengan universitas. Dari BI Surabaya lulus 4 orang, salah satunya Theo. Sementara dari seluruh Indonesia terjaring 60 orang. Mereka dimasukkan ke Pendidikan Ahli Administrasi dan Keuangan Bank di Jakarta, menjalani pendidikan maraton dari pukul 08.00 - 17.00 setiap hari dengan fasilitas penuh, selama 3 tahun. "Gelarnya sejajar akuntan, tapi BI nggak kasih gelar, takut kami keluar."

Sempat bekerja di bagian pengawasan BI selama setahun, ia kembali mengikuti seleksi intern guna ditempatkan di London. Dari 40 peserta hanya Theo yang lulus. Di London ia langsung jadi staf termuda pada umur 23 tahun. Kesempatan di sana ia gunakan untuk mengikuti serangkaian pelatihan dan praktek. Belajar forex di Paris, London, Amsterdam, dan Kopenhagen. Mempelajari bank sentral di Denmark dan Belanda, menggeluti cadangan emas di Swis, juga duduk dan bermain di banyak ruang transaksi forex. "Waktu itu kepala dealing room Jakarta pindah, jadi saya disiapkan untuk menggantikannya. Saya sadar, untuk jadi dealer harus punya pengalaman dan cakrawala dengan duduk di pusat keuangan dunia."

Penempatan dealer di BI sebenarnya bertujuan untuk mengelola cadangan devisa sejumlah AS $ 6 miliar dengan menempatkannya di posisi yang tepat. Bukan untuk memperdagangkannya. "Maka di luar jam kerja, saya main margin trading atas nama pribadi, bukan BI."

Setelah 5 tahun bermukim di Inggris, Theo sebenarnya ingin pulang ke tanah air, tetapi pemerintah Inggris mengetahui reputasinya dan memberi izin tinggal tetap. Ia bisa bekerja apa saja. "Wah, percaya dirilah saya. Pekerjaan BI yang diidamkan banyak orang nggak terlalu menggiurkan lagi," kata Theo.

Maka, ketika benar-benar pulang ke Indonesia ia sekaligus minta izin keluar dari BI untuk masuk ke London School of Economics (LSE). Maksudnya sebagai batu loncatan untuk bekerja di Bank Dunia atau IMF. Tapi keasyikan bermain forex membuatnya malas bersekolah. "Jiwa saya player, jadi saya tak jadi masuk LSE meskipun sudah diterima. Saya main valas terus, dan ingin menikmati hasilnya. Saya ingin menikmati hidup bukan sebagai pegawai BI yang bertahun-tahun cuma bisa naik mobil sederhana."

Saat main margin trading, pertengahan 1980-an, modal dengkul masih berlaku. Modalnya dipinjami, tapi kalau untung masuk kantung sendiri. Pokoknya main untuk meramaikan. Masa itu tak sulit mereguk untung lantaran pasar gampang diterka. Dolar turun searah. Tapi sejak 1987, peluang meraup keuntungan makin sulit. Selain pemain makin banyak, modal pun mulai diatur. Saat itulah Bank Duta terpuruk karena permainan valas.

Soal kesempatan meraup untung memang tak ada yang lebih cepat daripada main valas. "Saya masih ingat, hanya dengan mengangkat telepon dari vila di Puncak sambil main gaple dan makan pisang goreng, bisa dapat AS $ 60.000 semalam."

Telepon memang diibaratkan cangkulnya buat cari makan. Juga berbagai perangkat komunikasi. Baik untuk bertransaksi ke seluruh dunia, memantau pasar yang berjalan 24 jam sehari, juga melihat kerugian dan keuntungan uangnya. "Tapi hidup saya tak habis di sana. Apa lagi saya harus membagi pengetahuan kepada banyak orang. Kalau menulis dan bikin analisis, saya tak main. Saya meramal dan menghitung, biar orang lain yang dapat keuntungan."

Theo tak terikat pada suatu lembaga keuangan. Kalau mau main, ia sendiri yang menentukan. Sejak tahun lalu, ia mendirikan perusahaan jasa konsultasi pasar uang Speed Currency. Bagi yang ingin tahu atau ingin main valas boleh jadi pelanggan. Dengan membayar AS $ 100/bulan, Theo pun memberi analisis dan panduan.

"Cita-cita saya membuat Speed Currency seperti Bloomberg. Ia besar dan disegani, meski awalnya juga dirintis di garasi," ia menunjuk garasi di rumahnya yang berhalaman luas di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ia mempekerjakan 4 orang yang, selain mengolah analisis, juga bertindak sebagai fund manager. "Mereka jago-jago yang tak bisa dianggap remeh, karena lewat tangannya sering terjadi transaksi miliaran dolar," kata Theo bangga.

Karena bekerja di rumah, Theo tak terikat pada aturan dan jadwal kerja yang pasti. Ia adalah pegawai bagi dirinya sendiri. Juga pegawai yang mengantar anak-anak ke sekolah, menemani mereka bepergian, bahkan mendampingi saat mereka mau tidur.

Theo menganggap, anak-anak lebih memerlukan kebersamaan ketimbang uang. Tak soal ia telah punya vila di Puncak, Jawa Barat, dan hotel di atas tanah 10 ha di Manado. Anak-anak pula yang menghadirkan cerita unik bagi perjalanan hidup Theo. Saat masih di dalam kandungan, kecuali si bungsu Daniel (hampir 2 bulan), mereka berada di tempat yang jauh dari rumah. Dari yang sulung tempatnya paling jauh, sampai si bungsu yang paling dekat. Namun akhirnya semua lahir di Jakarta.

Menurut istrinya, Sandra Pingkan Adriana Lolong (38), si sulung Monika (12) berada di dalam kandungan saat mereka di New York . "Barulah 2 bulan menjelang melahirkan, saya kembali ke Jakarta," kata Sandra. Begitu pula Abi (9) yang dikandung saat mereka tinggal di London. Keisha (7) anak ketiga, dikandung di Singapura. Sedangkan Dorothea (5) dikandung sewaktu mereka di Manado. Barulah anak ke-5, Daniel, menghabiskan seluruh masa janin hingga lahir di Jakarta.

Jumlah anak sampai 5, bagi pasangan Theo dan Sandra juga cerita tersendiri. Theo memang dari keluarga besar, namun Sandra hanya 2 bersaudara. Setelah kelahiran Abi, keduanya ingin ber-KB. "Tapi apa mau dikata, kebobolan terus. Selain mengalami beberapa kegagalan, saya pun pernah kehilangan spiral," kata Sandra. "Akhirnya, setelah melahirkan Daniel, saya minta disteril."

Buat pasangan ini, anak-anak adalah segalanya. Mereka yang terbiasa memanggil "Papa Theo" adalah rekan sepanjang hidup, sekaligus jadi rem manakala Theo terlalu keasyikan bermain uang. (G. Sujayanto/A. Heru Kustara/Mayong S. Laksono)


--



Renungan: Kasih Tuhan Bagi Drugs Dealer

Sumber Kesaksian : Agus Heryana

Saya adalah anak yang tumbuh dengan sedikit perhatian. Saat saya di bangku SMP, saya mulai berkenalan dengan obat-obatan. Kemudian saya lebih jauh mencoba obat-obatan hingga saya mengenal ganja. Saya sangat menyukai dan menikmati ganja itu. Setelah menjadi pemakai saya memutuskan untuk menjadi pengedar.

Orang tua saya tidak pernah mengontrol keuangan saya. Apa yang saya minta selalu diberi. Akhirnya dengan semua kesempatan itu saya mulai menjual barang-barang yang haram. Kampus adalah ladang bagi saya. Setiap hari saya selalu siap dengan segala jenis obat dan minuman keras yang dicari banyak anak muda. Saya bahkan kemudian dijuluki bandar serba ada. Di kampus setiap hari saya harus melayani banyak "pasien" yang membeli barang yang saya jual.

Obat-obatan dan narkotika semakin menguasai hidup Agus. Agus menangani bisnisnya dengan keras dan tidak kenal ampun. Ia menjadi anak muda yang sensitif dan mudah tersinggung. Jika tersinggung, maka Agus akan menyelesaikannya dengan kekerasan dan ilmu bela diri yang ia kuasai. Kekerasan dan kehidupan yang kacau akhirnya menyeret Agus pada suatu kejadian perkelahian di kampusnya.

Saat itu ada satu kejadian perkelahian antar mahasiswa di kampus Agus. Perkelahian yang brutal antara mahasiswa itu turut menyeret nama Agus hingga membuatnya harus mendekam selama berbulan-bulan di balik terali besi. Namun di balik terali besi ini ia mengalami suatu keadaan yang kemudian mengubah hidupnya.

Saat saya masuk ke lembaga pemasyarakatan tersebut, saya merasakan ketakutan yang amat sangat yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Saya tahu saya dapat mempertahankan diri di lembaga itu dengan semua ilmu bela diri saya. Tapi saat itu ketakutan yang luar biasa melanda saya. Disitulah saya pertama kali berteriak : "Tuhan Yesus tolong saya!".

Tuhan mendengar teriakan Agus yang berseru dari hatinya itu. Seorang hamba Tuhan datang, mengunjungi serta melayani Agus di penjara. Lewat hamba Tuhan ini Agus mengetahui tentang kasih bahwa bagi hidup manusia. Agus tidak dapat melupakan perkataan hamba Tuhan ini bahwa Tuhan sangat mengasihi dia.

Tanpa sadar airmata saya mulai menetes. Saya malu, saya merasa saya laki-laki yang tidak semestinya menangis. Namun Tuhan menjamah hati saya. Saya mulai minta ampun pada Tuhan untuk semua yang pernah saya lakukan. Saya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Ketika itu saya lakukan, saya mendengar suatu suara yang berkata : "Jangan takut, engkau tidak sendirian!". Saat itulah saya merasakan turun suatu damai sejahtera yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya merasakan kelegaan. Dalam ruangan penjara yang dingin dan dikelilingi jeruji besi, disitu saya mengetahui siapa Tuhan yang sebenarnya.

Pertemuan dengan Tuhan membuat Agus berubah. Ia lepas dari ikatan narkotika dan tidak lagi menjadi pengedar. Pengadilan kemudian memvonis dia bebas sehingga Agus dapat meneruskan studinya. Suatu hal yang sebelumnya tidak mungkin terjadi dalam hidupnya. Jika Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu yang tidak ada menjadi ada maka Dia juga sanggup membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. (Mazmur 126:1-3)


--

PENGANTIN BARU YANG MENJADI MARTIR


Lorenzo adalah seorang pemuda yang pendiam, lemah lembut dalam berbicara, dan serius. Ibunya, Veronica, dekat dengannya karena ia berbakti dan patuh. "Ia melakukan apa yang telah dikatakannya. Ia adalah seorang pemuda yang baik," kata Veronica. Pada usia 18 tahun, Lorenzo diundang menghadiri ibadah gereja injili tidak jauh dari rumahnya. Ketika ia menerima Kristus, keluarganya melihat sebuah perubahan terjadi dalam perilakunya. "Ia menjadi lebih baik terhadap orang lain dan anggota keluarganya," kata Veronica, "ia ingin bernyanyi dan mengabarkan firman. Ketika ia berdoa pada malam hari, ia biasanya berdoa selama 2 atau 3 jam dan meminta Tuhan mengampuninya atas kesalahan selama 1 hari."

Ketika Lorenzo tumbuh makin dewasa, ia jatuh cinta kepada seorang gadis tetangga, Patricia, yang telah ia kenal selama bertahun-tahun. Pada usia 20 tahun, Lorenzo menikahinya. Mereka berencana membangun rumah mereka sendiri dan memenuhinya dengan anak-anak. Kedua mempelai berasal dari suku Tzotzil, dan tradisi mengharuskan Lorenzo untuk membayar pesta pernikahan tersebut. Lorenzo meminjam 500 peso (sekitar Rp 500.000) dari pamannya. Kemudian, 3 minggu setelah pernikahannya, Lorenzo yang merupakan pengantin baru ini memberanikan diri mengunjungi desa pamannya untuk membayar setengah dari utangnya. Sepupu Lorenzo dan kakaknya, Juan, ikut dengannya. Mereka tahu, masuk wilayah Jomalho akan berisiko bagi mereka. Mereka adalah orang Kristen dan orang-orang di desa itu menjalankan ritual tradisional Mayan. Orang-orang di desa itu mengusir orang Kristen keluar dan tidak menerima mereka masuk ke dalam desa mereka.

Saat itu paman Lorenzo tidak berada di rumah ketika mereka tiba. Oleh karena itu, Lorenzo, Juan, dan sepupunya melangkah masuk ke dalam sebuah warung di desa itu untuk membeli minuman bersoda. Orang-orang desa mengetahui keberadan mereka dan tidak lama berselang sekumpulan kecil orang berkumpul di luar warung tersebut. Ketika ketiga pemuda Kristen berdiri untuk pergi, salah seorang dari mereka menunjuk Lorenzo sambil berteriak, "Hentikan dia! Dia baru saja merampok gereja!" Ketika pemuda ini tahu bahwa tuduhan itu adalah tidak benar dan tuduhan itu dikatakan sebagai alasan untuk menyerang mereka, mereka diingatkan akan sebuah ayat favorit Lorenzo dari Mazmur 102:2, "Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu."

Juan dan sepupunya lari menuju hutan, tetapi Lorenzo ditangkap oleh gerombolan yang sedang marah ini. Ketika orang-orang desa memukuli dan menendanginya, Lorenzo berteriak memohon, "Jangan bunuh saya! Jangan bunuh saya! Saya baru saja menikah!" Gerombolan tersebut mengikat leher Lorenzo, dan pengantin baru yang menangis ketakutan ini dipaksa menggali kuburannya sendiri. Beberapa saksi berkata beberapa orang desa memukuli gigi Lorenzo dan kemudian mencungkil kedua bola matanya. Beberapa pria menarik tali yang mengikat leher Lorenzo dan pria lain menarik Lorenzo ke arah yang berlawanan. Lorenzo mati tercekik, mereka membuang mayatnya ke dalam lubang yang dalam dan memukul tengkorak kepalanya dengan batu besar. Mereka menutupi lubang tersebut dengan kotoran dan kembali ke rumah dan tempat pekerjaan mereka seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.

Para penyidik dari pemerintahan daerah Chiapas tiba di desa itu 3 hari setelah kejadian dan memindahkan mayat Lorenzo. Hanya 1 orang saja yang dihukum penjara. Ia dijatuhi hukuman 25 tahun penjara, tetapi sepertinya ia akan dibebaskan sebelum masa hukuman tuntas dijalaninya. Lorenzo adalah seorang Kristen yang percaya kepada kebenaran dan menyerahkan hidupnya demi kebenaran itu. Walaupun ia tidak jahat terhadap mereka, gerombolan itu membenci apa yang ia pegang teguh -- ia mengikut damai Yesus. Mereka menginginkan peperangan. Ia ingin mengisi anggur baru ke dalam kantung tua. Lebih dari 8 bulan telah berlalu sejak kematian Lorenzo. Veronica pun terus bergumul. Dengan uang pendapatan yang pas-pasan, ia sekarang bergantung kepada putrinya yang berumur 17 tahun untuk mengisi kekosongan ini. Veronica berkata, mengatasi kehilangan putra yang dikasihinya, Lorenzo, sangat sulit. "Saya telah menerima kematian putra saya dan melepaskannya pergi," katanya. "Saya telah meminta Tuhan untuk memberikan kepada saya kekuatan dan kasih karunia untuk melihat apa yang terjadi."



Source:

Buletin KDP (Kasih Dalam Perbuatan) Edisi November – Desember 2008

P.O. Box 1411

Surabaya 60014

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar