Senin, 17 Mei 2010

berita baik

Mempercayakan Diri E-mail

Timotius Andi Tan

Hari itu adalah tanggal 30 Juni 1958. Pagi hari itu, air terjun Niagara mendere dengan megahnya di aras baru sebelah bawah. Kawat sepajang 340 meter telah terbentang dari tepi yang satu ke tepi yang lainnya. Charles Blondin, juara jalan di atas kawat sedunia, akan berjalan melalui kawat itu.

Para penonton berdatangan dengan naik kereta api istimewa dari Toronto dan Buffalo untuk menyaksikan pertunjukkan yang sangat menarik ini.

Charles Blondin menggunakan sebuah tongkat seberat 18 kg untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Ia mulai bergerak maju melintasi kawat, dan penonton terdiam semua. Yang terdengar hanyalah deru air terjun Niagara saja. Ketika dia tiba dengan selamat di ujung kawat yang satu lagi, penonton bersorak-sorai dengan gegap gempita, melebihi deru air terjun! Kemudian, Charles Blondin menatap wajah setiap penonton yang hadir dan meminta seorang penonton yang hadir dan meminta seorang penonton untuk ikut bersamanya menyeberang lagi di atas punggungnya. Ia menantang para penonton, "Siapa yang berani ikut?" Para penonton saling tunjuk dan mendorong. Ia tiba-tiba lalu menunjuk seorang yang berada paling depan dan bertanya, "Percayakah Anda bahwa saya dapat menyeberangkan Anda dengan selamat sampai ke tempat tujuan?" "Tentu," jawab orang itu. "Kalau begitu mari ikut dengan saya!" "Oh… kalau itu saya tidak mau." Beberapa orang ditantang untuk menyeberang, tetapi tidak ada seorang pun yang berani bertindak untuk menerima ajakannya.

Tiba-tiba ada seorang yang maju ke depan dan berani menerima ajakan dari sang juara, namanya Henry Colcord, pengurus harta milik Charles Blondin. Orang ini percaya akan kemampuan sang juara dan berani mempertaruhkan nyawanya. Mereka lalu mulai berjalan dengan hati-hati, dan para penonton pun menahan napas. Tongkat sepanjang 10 meter itu ikut bergerak, dan tiba-tiba kawat menjadi melengkung karena berat badan kedua orang itu. Setapak demi setapak, dengan perlahan-lahan, tetapi pasti, mereka terus berjalan. Mereka sampai di tengah-tengah. Di bawah mereka terdapat air yang deras membuih, dan kedua orang itu seperti tergantung di awan saja. Mereka lalu mendekati tepi yang di seberang. Keadaan menjadi tegang, orang-orang mulai khawatir ketika kawatnya bergoyang dengan kuat. Sang juara meminta temannya untuk turun. Colcord lalu berdiri dengan kakinya pada kawat, kedua tangannya memegang bahu Blondin. Blondin berkata, "Bersatulah dengan saya, jika saya goyang, ikutlah goyang. Jangan melakukan gerakan menurut gerakan menurut kemauan sendiri kalau Anda ingin selamat!" colcord menurutinya. Kawatnya pun lebih bergoyang lagi. Blondin berjalan lagi. Tiada seorang pun yang mengetahui bagaimana mereka bias berjalan seimbang dengan tenang dan hati-hati. Akhirnya, langkah terakhir pun selesai sudah dan kedua orang tersebut berdiri di atas tanah lagi dengan selamat. Para penonton histeris, berteriak, dan menyerbu kedua orang ini dengan gembira. Tiada ketegangan lagi, dan pengalaman yang menakutkan sudah berakhir.

Kawat besar keselamatan membentang di antara tepi jurang. Di sebelah jurang itu adalah masa sekarang dan di seberangnya adalah alam maut. Kawai itu selalu ada, tidak pernah putus. Hanyalah Yesus Kristus yang sudah dan mampu menyeberanginya.

Anda mungkin sudah pernah mendengar tentang hal itu. Mungkin Anda sama seperti penbonton yang diajaka oleh Blondin, dimana Anda sampai pada tingkat "percaya" bahwa Yesus mampu nenyeberangkan Anda. Tetapi "percaya" saja tidaklah cukup. Anda harus berani bertindak. Percaya itu sebenarnya berarti "MEMPERCAYAKAN DIRI" sepenuhnya kepadaNya agar Anda diseberangkan. Tindakan inilah yang harus anda lakukan setiap hari dalam mengiringi Tuhan Yesus: MEMPERCAYAKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA TUHAN YESUS.

"Demikian juga halnya dengan iman: jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yakobus 2:17)

Sumber: Secangkir Sup bagi jiwa Anda 1

--

Mempercayakan Diri E-mail

Timotius Andi Tan

Hari itu adalah tanggal 30 Juni 1958. Pagi hari itu, air terjun Niagara mendere dengan megahnya di aras baru sebelah bawah. Kawat sepajang 340 meter telah terbentang dari tepi yang satu ke tepi yang lainnya. Charles Blondin, juara jalan di atas kawat sedunia, akan berjalan melalui kawat itu.

Para penonton berdatangan dengan naik kereta api istimewa dari Toronto dan Buffalo untuk menyaksikan pertunjukkan yang sangat menarik ini.

Charles Blondin menggunakan sebuah tongkat seberat 18 kg untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Ia mulai bergerak maju melintasi kawat, dan penonton terdiam semua. Yang terdengar hanyalah deru air terjun Niagara saja. Ketika dia tiba dengan selamat di ujung kawat yang satu lagi, penonton bersorak-sorai dengan gegap gempita, melebihi deru air terjun! Kemudian, Charles Blondin menatap wajah setiap penonton yang hadir dan meminta seorang penonton yang hadir dan meminta seorang penonton untuk ikut bersamanya menyeberang lagi di atas punggungnya. Ia menantang para penonton, "Siapa yang berani ikut?" Para penonton saling tunjuk dan mendorong. Ia tiba-tiba lalu menunjuk seorang yang berada paling depan dan bertanya, "Percayakah Anda bahwa saya dapat menyeberangkan Anda dengan selamat sampai ke tempat tujuan?" "Tentu," jawab orang itu. "Kalau begitu mari ikut dengan saya!" "Oh… kalau itu saya tidak mau." Beberapa orang ditantang untuk menyeberang, tetapi tidak ada seorang pun yang berani bertindak untuk menerima ajakannya.

Tiba-tiba ada seorang yang maju ke depan dan berani menerima ajakan dari sang juara, namanya Henry Colcord, pengurus harta milik Charles Blondin. Orang ini percaya akan kemampuan sang juara dan berani mempertaruhkan nyawanya. Mereka lalu mulai berjalan dengan hati-hati, dan para penonton pun menahan napas. Tongkat sepanjang 10 meter itu ikut bergerak, dan tiba-tiba kawat menjadi melengkung karena berat badan kedua orang itu. Setapak demi setapak, dengan perlahan-lahan, tetapi pasti, mereka terus berjalan. Mereka sampai di tengah-tengah. Di bawah mereka terdapat air yang deras membuih, dan kedua orang itu seperti tergantung di awan saja. Mereka lalu mendekati tepi yang di seberang. Keadaan menjadi tegang, orang-orang mulai khawatir ketika kawatnya bergoyang dengan kuat. Sang juara meminta temannya untuk turun. Colcord lalu berdiri dengan kakinya pada kawat, kedua tangannya memegang bahu Blondin. Blondin berkata, "Bersatulah dengan saya, jika saya goyang, ikutlah goyang. Jangan melakukan gerakan menurut gerakan menurut kemauan sendiri kalau Anda ingin selamat!" colcord menurutinya. Kawatnya pun lebih bergoyang lagi. Blondin berjalan lagi. Tiada seorang pun yang mengetahui bagaimana mereka bias berjalan seimbang dengan tenang dan hati-hati. Akhirnya, langkah terakhir pun selesai sudah dan kedua orang tersebut berdiri di atas tanah lagi dengan selamat. Para penonton histeris, berteriak, dan menyerbu kedua orang ini dengan gembira. Tiada ketegangan lagi, dan pengalaman yang menakutkan sudah berakhir.

Kawat besar keselamatan membentang di antara tepi jurang. Di sebelah jurang itu adalah masa sekarang dan di seberangnya adalah alam maut. Kawai itu selalu ada, tidak pernah putus. Hanyalah Yesus Kristus yang sudah dan mampu menyeberanginya.

Anda mungkin sudah pernah mendengar tentang hal itu. Mungkin Anda sama seperti penbonton yang diajaka oleh Blondin, dimana Anda sampai pada tingkat "percaya" bahwa Yesus mampu nenyeberangkan Anda. Tetapi "percaya" saja tidaklah cukup. Anda harus berani bertindak. Percaya itu sebenarnya berarti "MEMPERCAYAKAN DIRI" sepenuhnya kepadaNya agar Anda diseberangkan. Tindakan inilah yang harus anda lakukan setiap hari dalam mengiringi Tuhan Yesus: MEMPERCAYAKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA TUHAN YESUS.

"Demikian juga halnya dengan iman: jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yakobus 2:17)

--

Kasih yang Tak Pernah Padam E-mail
Tony Campolo

Beberapa waktu silam saya menonton sandiwara karya Lorraine Hansberry berjudul Raisin in the Sun, dan mendengar ucapan yang terus menghantui pikiran saya. Dalam sandiwara tersebut, sebuah keluarga Amerika keturunan Afrika mewarisi 10.000 dollar dari polis asuransi jiwa sang ayah. Si ibu melihat warisan tersebut sebagai kesempatan untuk melepaskan diri dari kehidupan di Harlem yang miskin dan pindah ke rumah kecil di daerah pedesaan dengan pot-pot bunga di halaman depannya. Putrinya yang berotak cemerlang melihat warisan tersebut sebagai kesempatan untuk mewujudkan impiannya dan melanjutkan studi di fakultas kedokteran.

Namun sang kakak memiliki permintaan yang sulit untuk diabaikan begitu saja. Ia meminta uang itu agar ia dan “temannya” dapat berbisnis bersama. Ia mengatakan bahwa dengan uang itu ia akan memiliki penghasilan dan membuat hidup mereka lebih baik. Ia juga berjanji apabila ia diizinkan menggunakan uang itu, kelak ia akan mengembalikan semua kebahagiaan yang telah terenggut dari kehidupann mereka yang sulit di masa silam.

Setelah mempertimbangkannya, sang ibu mengabulkan permintaaan putranya. Ia mengakui bahwa selama ini putranya itu belum pernah memiliki kesempatan yang baik dan kini ia pantas memperoleh kesempatan untuk menggunakan uang tersebut.

Seperti dapat Anda duga, “teman” pemuda itu menghilang dari kota bersama uang tersebut. Pemuda yang mengalami nasib sial itu terpaksa pulang dan menyampaikan kabar kepada keluarganya bahwa pengharapan mereka akan masa depan telah terenggut dan impian mereka akan kehidupan yang lebih baik telah lenyap. Adiknya menghujaninya dengan kata-kata makian yang sangat kasar. Ia menyebut kakaknya sebagai makhluk yang paling keji. Penghinaannya terhadap kakaknya tak kunjung berhenti.

Ketika ia menarik napas di tengah semburan kata-katanya yang penuh keamrahan, ibunya menyela dan berkata, “Ibu rasa, ibu mengajarimu untuk mengasihi kakakmu.”

Beneath, putrinya menjawab, “Mengasihinya? Tak ada lagi kasih yang tersisa.”

Lalu si ibu berkata, “Akan selalu ada kasih yang tersisa. Dan jika kau belum belajar tentang hal itu, maka sesungguhnya kau belum belajar apa-apa. Apakah kau sudah menangis untuk kakakmu hari ini? Maksud ibu bukan menangisi dirimu sendiri atau keluarga kita karena kita kehilangan semua uang itu, melainkan menangis untuknya karena apa yang dialaminya dan akibat dari semya itu pada dirinya. Anakku, menurutmu kapan kita dapat mengasihi seseorang dengan tulus hati. Apakah ketika mereka telah melakukan hal-hal yang baik dan membuat segalanya menjadi lebih mudah bagi setiap orang? Jika demikian, berarti kau belum mengerti tentang kasih, karena kasih tidak ada hubungannya dengan waktu. Kita dapat mengasihi seseorang dengan tulus saat ia mengalami kehancuran dan tak lagi memiliki keyakinan karena dunia telah mengecewakannya. Apabila kau menilai seseorang, nilailah ia dengan benar, anakku, nilailah ia dengan benar. Pastikan bahwa kau telah memikirkan kesulitan-kesulitan yang dilewatinya sehingga ia menjadi seperti sekarang ini.”

Itulah anugerah! Anugerah adalah kasih yang dilimpahkan saat kita tidak layak menerimanya. Anugerah adalah pengampunan ynag dikaruniakan saat kita tidak berbuat apa pun untuk memperolehnya. Anugerah adalah hadiah yang mengalir laksana air yang menyegarkan untuk memadamkan kobaran api kemarahan yang menghanguskan.

Betapa lebih besar pengampunan dan kasih Bapa bagi kita! Dan betapa lebih besar anugerah Allah bagi kita.

--

Jatuh dan Bangun E-mail

Gary Richmond

Allah telah merancang ribuan cara bagi para hewan untuk hadir di bumi ini. Namun menurut saya, diantara semua hewan yang ada, hanya kelahiran bayi jerapah yang paling menarik. Jika melihatnya, anda tidak akan pernah melupakannya.
Pada pukul 9.30, pusat kesehatan kebun binatang mendapat panggilan karena jerapah Angola akan melahirkan. Jika dokter hewan dan saya ingin melihatnya, kami bisa ke sana. Tak seorangpun diantara kami yang pernah menyaksikannya, sehingga kami bergegas ke sana. Kami bertujuh mendapat kesempatan untuk melihat dari dekat peristiwa tersebut. Saya memilih duduk di atas tumpukan jerami dekat Jack Badal, seseorang yang menurut kami adalah pemelihara hewan yang terhebat. Orang ini tak banyak bicara. Kalau pun berbicara, ia benar-benara mempertimbangkan kata-katanya. Dan saat duduk didekatnya, ia hanya menganggukan kepala dan melanjutkan kegiatannya mengisap sebatang tanaman yang ia cabur dari tumpukan jerami.
Saya perhatikan kaki depan dan kepala anak jerapah mulai tampak, diikuti tetesan cairan. Saya juga memperhatikan sang induk tetap berdiri. “Kapan ia berbaring?” Tanya saya pada Jack, yang belum mengucapkan sepatah kata pun.
“Tak akan,” jawabnya.
“Tetapi kaki belakang dan pinggangnya tingginya tiga meter dari tanah. Bayinya tentu akan terluka bila keluar nanti,” kata saya. Jack memandang saya, seolah hendak mengatakan sesuatu tentang keluguan saya.
Saya heran mengapa tidak dipasang jarring untuk menadahi si bayi bila ia lahir nanti, sehingga saya pu bertanya. “Perhatikan, Gary,” kata Jack, “Kamu boleh mencoba menangkap si bayi. Namun ingat, kaki belakang sang indung cukup kuat untuk menendang kepalamu. Mereka telah membunuh singa-singa yang mencoba untuk mendekati anak-anak mereka.”
Untuk sementara waktu saya duduk dengan tenang dan mengamati proses kelahiran si bayi. Leher dan kaki depannya telah menjulur utuh keluar dan bergerak bebas, siap terjatuh dari ketinggian tiga meter. Saya hamper tak percaya bahwa hanya dalam beberapa menit stelah dilahirkan, si bayi harus mengalami semacam trauma, terjun dari ketinggian tiga meter. Tiga meter! Di atas tanah yang keras lagi! (Saya sendiri membutuhkan waktu dua belas tahun untuk berani melompat dari ketinggian sekitar 3 meter ke dalam air. Sementara bayi jerapah ini harus terjun dari ketinggian tersebut sesaat setelah kelahirannya.)
Saat-saat yang kami nantikan ternyata tidak mengecewakan. Anak jerapah itu jatuh dan mendarat dengan punggungnya. Dalam beberpa detik ia sudah dapat duduk tegak dengan kaki terlipat di bawah tubuhnya. Pada posisi semacam inilah ia memandang dunia untuk pertama kalinya, sambil menghilangkan sisa-sisa cairan yang masih menempel pada mata dan telinganya.
Induk jerapah merendahkan kepalanya untuk memandang wajah anaknya sekilas. Lalu ia menempatkan diri hingga tepat berdiri di atas anaknya. Ia menunggu sekeitar semenit, lalu melakukan hal yang tak masuk akal. Ia mengayunkan kaki dan menendang anaknya hingga jatuh terjengkang. Saya berpaling kea rah jack dan berseru, “Mengapa ia lakukan hal itu?”
“Ia ingin anaknya bangkit, dan bila si anak tak kunjung berdiri, ia akan menendangnya lagi.”
Jack benar, tindak ekkerasan itu terjadi berulang kali. Perjuangan untuk berdiri merupakan saat-saat yang penting, dan saat si anak mulai kelelahan, sang induk akan mendorongnya untuk terus berusaha dengan tendangan yang keras.
Akhirnya si anak jerapah dapat berdiri walau belum stabil, diiringi sorak-sorai staf pemeliharaan hewan. Lalu kami terdiam menyaksikan sang induk kembali menendangi si anak.
Hanya wajah Jack yang tidak menunjukkan ekspresi keheranan, “Ia menghendaki anaknya mengingat bagaimana caranya ia harus bangkit,” katanya menjelaskan. “Itulah sebabnya ia menendangnya lagi. Kehidupan di alam bebas sangat membutuhkan kecekatan dalam berdiri untuk mengikuti rombongannya. Singa, hyena, macan tutul, dan anjing-anjing pemburu gemas memburu jerapah-jerapah muda. Mereka akan mudah tertangkap bila sang induk tak mengajarkan kepada anaknya untuk cekatan berdiri dan terbiasa melakukannya.
Jack member salam perpisahan dengan melambai-lambaikan batang tanaman. Lalu ia kembali ke pekerjaannya merawat hewan-hewan. Dari orang-orang yang saya kenal, tak seorang pun yang mampu melakukan pekerjaan itu lebih baik darinya.
Sejak itu, saya sering merenungkan kelahiran anak jerapah tersebut. Saya melihat adanya kesesuaian dengan hidup saya. Ada begitu banyak masa ketika saya baru saja dapat berdiri setelah mengalami pencobaan, kemudian jatuh lagi pada masa berikutnya. Allah telah menolong saya untuk senantiasa berjalan bersama-Nyam dalam naungan pemeliharaan-Nya.
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan (Yakobus 1:2-3).

--

Bagaimana Allah Memandang Anda E-mail

Kathy Collard Miller

Jika berbicara tentang harga diri yang bernilai ilahi, saya sering menggunakan kisah dalam buku A Marriage Made in Heaven:

“Di suatu masyarakat primitive, setiap gadis yang akan dipinang harus ditebus dengan ternak. Gadis yang tidak begitu disukai, ditebus dengan seekor lembu; gadis yang biasa, ditebus dengan dua ekor lembu; sedangkan gadis yang istimewa, ditebus dengan tiga ekor lembu."

“Lalu datang seorang pria kaya dan menawan untuk mencari istri. Semua keluarga memamerkan putrid mereka. Namun semua orang terkejut dengan keputusan pria itu. Ia mengadakan perundingan dengan pihak keluarga dari seorang gadis yang tidak menarik dan kaku."

“Mungkin ia mengajukan penawaran.” Orang-orang berspekulasi tentang kemungkinan ditukarnya lembu dengan ayam sebagai gantinya. Namun, mereka takjub saat pria itu menawarkan enam ekor lembu untuk mendapatkan si gadis, dan segera membawanya berbulan madu."

“Ketika mereka kembali beberapa bulan kemudia, tak seorangpun mengenali si wanita. Tubuhnya tak lagi membungkuk, matanya tak lagi suram. Ia kembali sebagai orang yang baru, memancarkan kecantikan dan percaya diri yang kuat."

“Tidak, suaminya tidak membawanya ke tempat perawatan kecantikan maupun bedah plastic. Ia hanya memulai hubungan dengan menunjukkan betapa si istri begitu berharga dan penting baginya. Dan si istri mulai melihat dirinya sebagaimana suaminya memandangnya. Sepanjang sisa hidupnya, si istri dikagumi oleh teman-temannya.”

Demikianlah Allah memandang mereka (dan Anda), bukan sebagai wanita (atau pria) dengan enam lembu emas, melainkan anak Allah yang berharga seribu lembu. Sejak Dia mengirimkan hadiah yang begitu berharga, yakni Yesus, maka semakin kita memusatkan diri kepada-Nya, semakin besar harga diri ilahi yang akan kita miliki.

--

Besyukur Atas Hal-hal yang Tidak Menimpa Kita E-mail

Jessica Shaver

Suatu saat saudara laki-laki saya mengatakan bahwa apa yang menjadi masalah bagi orang ateis adaah jika sepeda motor mereka masuk ke jurang dan ia tidak mati, ia tak dapat mengucap syukur kepada siapa pun. Saya orang Kristen, namun terkadang saya lupa bersyukur kepada Allah atas perkara-perkara yang tidak terjadi. Namun tidak demikian dengan tahun ini.

Saya bersyukur karenan terhindar dari kecelakaan, penyakit, dan perampokan yang mungkin menimpa saya.

Saya bersyukur rumah saya tidak terbakar saat lalai meninggalkan setrika yang menyala selama lima jam. Saya bersyukur ketika saya lupa mengunci garasi semalaman, tak satu barang pun dicuri. Saya bersyukur karena tetangga saya memergoki seseorang yang dituduh sebagai pemerkosa di luar jendela kamar mandi kami sebelum orang itu masuk ke dalam rumah.

Saya bersyukur karena telepon di tengah malam itu salah sambung, bukan berita kematian salah seorang keluarga kami.

Saya bersyukur karena suami saya bersikeras membicarakan masalah-masalah kami saat saya sebenarnya enggan, yakni ketika masalahnya masih tidak terlalu sukar untuk diatasi. Saya bersyukur karena tidak harus bekerja di luar rumah sehingga saya dapat menyediakan diri bagi teman-teman anak-anak saya yang membutuhkan tempat atau seseorang untuk diajak bicara. Walaupun sudah tinggal di daerah yang paling rawan gempa menuntut saya untuk lebih beriman, saya beryukur kepada Allah sebab kami tak perlu kuatir akan longsoran salju, badai tornado, gunung berapi, tanah longsor ataupun banjir.

Saya berterima kasih sebab Allah htidak mengutus kami dalam pelayanan ke luar negeri dan Dia menunjukkan bahwa Kalifornia Selatan juga adal;ah lading pelayanan.

Saya beryukur sebab berulang kali tersandung tas sekolah anak lelaki saya atau tidak dapat menemukan tempat untuk menaruh mentega di lemari es yang penuh dengan botol-botol cat kuku anak perempuan saya. Itu semua mengingatkan saya bahwa saya memiliki keluarga yang membuat saya sangat bahagia.

Saya bersyukur karena belum dapat mengendarai mobil ketika masih ibu muda, sehingga saya harus menghabiskan sepanjang pagi untuk berjalan kaki, sambil menuntun anak saya yang sedang berlajar jalan, untuk berbelanja. Saya beryukur karena dengan begitu saya mendapat kesempatan untuk mengamati ulat dan batu-batu kecil berwarna-warni yang tidak akan saya perhatikan jika tidak ditunjukkan oleh anak saya.

Saya bersyukur karena ibu saya tidak tinggal cukup dekat untuk menolong saya, sehingga sebagai gantinya saya dapat menulis surat kepadanya. Dan surat-surat itu mengabdikan kenangan atas setiap perasaan bahagia maupun frustasi terhadap anak-anak saya yang tak dapat disimpan hanya dalam ingatan.

Sejak jari anak perempuan saya hamper terjepit di pintu kamar mandi, saya bersyukur untuk setiap hari tanpa kecuali. Saya bersyukur karena saya memiliki Pribadi yang kepadaNya saya dapat mengucap syukur.

--

Lima Hari Setelah Kematiannya E-mail

Unknown Author

Beberapa tahun yang lalu, seorang gasis berumur 15 tahun bernama lisa marie meninggal gantung diri di rumahnya. Dia seorang gadis manis dan tinggal di Michigan. Lima hari setelah kematiannya, ibunya menemukan buku hariannya di kamarnya. Ibunya ingin mengetahui sebab kematiannya. Berikut adalah isi buku harian tersebut:

November 7
Dear Diary, hari ini hari pertama sekolah di Michigan. Pada saat saya masuk kelas, saya diejek murid-murid cowok yang menyebut saya orang aneh. Inilah awal hari yang buruk. Kemudian beberapa murid cewek cantik dan popular mendatangi saya dan memperkenalkan diri mereka. Mereka mengatakan saya orang terjelek yang pernah mereka temui. Saya pun menangis.
Saya lalu pulang ke rumah dan menelepon Jake. Saya piker hari ini akan lebih baik. Namun dia katakana bahwa hubungan jarak jauh tidak bisa bertahan, sekarang dia tinggal di California. Lalu saya katakana bahwa saya mencintainya dan rindu padanya. Tetapi dia mengakui bahwa alas an dia pacaran dengan saya adalah karena dia ditantang teman-temannya. Dia lalu memutuskan hubungan padahal kami sudah berpacaran 2.5 tahun.

November 9
Saya sungguh rindu pada Jake. Tapi dia merubah nomor teleponnya sehingga saya tidak bisa menghubunginya. Hari ini seorang cowok popular mengajak saya ke pesta dansa. Kemudian cewek-cewek cantik kemarin mengajak saya makan siang bersama. Wow, sungguh menyenangkan!

November 10
Saya sedang menangis sekarang. Ternyata cowok itu brengsek! Dia menumpahkan minumannya pada baju saya lalu cewek-cewek itu mengoyak baju saya. Semua orang mentertawakan saya. Lalu nenek memberitakan bahwa papa dan mama kecelakaan pagi ini dan mereka dalam keadaan kritis. Saya tidak sanggup menulis lagi.

November 11
Hari ini Sabtu, nenek dan saya di rumah sakit sepanjang malam. Papa meninggal pagi ini. Mama lumpuh seumur hidup. Sewaktu di rumah sakit, nenek baru tahu dia diserang kanker perut dan harus dikemoterapi. Saya masih tidak percaya Papa sudah meninggal. Saya sudah capek menangis. Saya letih. Saya harus tidur.

November 12
Papa telah meninggal! Tidak mungkin! Ini semua hanya mimpi. Hidup saya sempurna. Jake masih mencintai saya. Saya tidak bisa menulis lagi. Saya sudah menangis terlalu lama. Saya ingin mati. Bawalah saya.

Keesokan harinya Lisa ditemukan tewas gantung diri dengan tali berwarna kuning.

Ingatlah semua orang ingin dicintai dan dipeluk setiap hari. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang pantas diejek dan dihina atau disingkirkan, karena keberadaan kita lahir di dunia adalah pemberian Tuhan semata dan bukan suatu pilihan yang kita bisa pilih.

--

Utamakan yang Utama E-mail

Manati I. Zega

Zig Ziglar adalah pembicara motivasional terkenal di Amerika. Dalam God’s way is Still the Best Way, ia menuturkan kisah menarik yang telah mempengaruhi hidupnya. Kisah itu berasal dari seorang pebisnis andal bernama Truett Cathy. Cathy adalah pengusaha sukses berskala nasional di Amerika. Restoran Chick-fil-A adalah bukti keberhasilannya. Produk perusahaan itu dipasarkan secara luas di mal-mal, bandara, rumah sakit serta kampus-kampus. Respons pasar santa positif sehingga perusahaan berkembang pesat. Karena kemampuannya melejitkan perusahaan, menyebabkan Cathy dihargai dan disegani banyak kalangan.

Akan tetapi, di puncak kejayaan, tantangan serius dialamatkan padanya. Bagaikan peluru yang menembus jantung musuh, demikian pula Cathy. Pusat kekuatannya, yakni iman kepada Allah diuji. Mal-mal yang selama puluhan tahun menjadi mitra bisnis memintanya membuka restoran pada hari Minggu. Dari sisi bisnis Cathy jelas diuntungkan. Anda coba bayangkan sebentar. Seandainya berada pada posisi itu, anda mungkin segera mengambil kesempatan tersebut. Bukankah secara natural, siapa pun senang diuntungkan? Setiap orang butuh uang. Bahkan orang sering mengatakan time is money. Waktu adalah uang. Tak heran orang-orang seperti ini menggunakan seluruh waktunya demi mengejar uang. Namun, Truett Cathy tidak demikian. Baginya uang bukan segalanya. Maka, tanpa keraguan sedikitpun, ia menolak membuka restorannya pada hari Minggu. Mengapa? Rupanya, ia ingin belajar mempraktikkna firman Tuhan. Ia rindu membangun bisnis berdasarkan firman Tuhan.

Kitab keluaran memberinya inspirasi. Di sana disebutkan, “Ingatlah dan kuduskalah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu” (Kel. 20:8-10). Berdasarkan ayat tersebut, Cathy belajar menempatkan Allah pada posisi teratas. Secara konkret firman Tuhan itu diterapkan dalam bisnis. Konsekuensinya, setiap hari Minggu restoran ditutup. Karyawan diberi kesempatan beribadah dan berkumpul bersama keluarga. Banyak orang berkomentar negative terhadap sikap Cathy. Kata fanatic dan sejenisnya sering terlontar. Namun, Cathy tidak membuang energy untuk memikirkan hal-hal negative itu.

Menempatkan Tuhan pada posisi tertinggi berdampak luas. Dengan cara unik Tuhan memberkati perusahaan itu hingga level tertinggi. Kini, tercatat lebih dari 1.300 restauran tersebar di 37 negara bagian Amerika dan Washington D.C. Sebuah kemajuan spektakuler bersama Tuhan. Langkah Cathy yang mengutamakan persekutuan dengan Allah adalah jurus jitu yang berbuah manis. Cathy tidak mengejar keuntungan besar. Sebaliknya, keuntunganlah yang mengejar Cathy. Restoran yang diliburkan pada hari Minggu sehingga karyawan dapat beribadah adalah pilar bagi kemajuan Chik-fil-A. Cathy, keluarga, dan karyawannya menjadi saksi perbuatan Allah.

Di pihak lain, kesuksesan kerap membuat orang terlena. Namun, Cathy tidak demikian. Ia tidak lupa daratan apalagi lupa Tuhan. Ia tetap rendah hati dan bersahabat. Ia juga tidak memperkaya diri dan menumpuk harta sebagai bekal masa tua. Sebaliknya, digunakan untuk hal-hal yang berdampak. Hati yang penuh kasih mendorongnya menyalurkan 20.000 beasiswa kepada mereka yang mau belajar. Demikian pula anak-anak terlantar yang tak punya tempat tinggal, ia bangunkan rumah.

Cara hidup Cathy sungguh inspiratif. Ia senantiasa mengutamakan Tuhan dalam segala hal. Ia juga menjadikan perusahaannya sebagai lading misi. Maka, Tuhan menyatakan rencana-Nya bagi perusahaan tersebut. Berarti, Cathy mengalami living at the next level, menjadi sahabat Allah. Jika Cathy mengalaminya, maka Anda pun bisa. Bukankah begitu?

--

The Meaning of Life E-mail

Banyak orang yang menginginkan hidup yang sempurna, bentuk tubuh yang sempurna, keluarga yang utuh dan kehidupan dengan ekonomi yang sangat baik.
Ayu seorang remaja perempuan yang berusia 22 tahun menderita penyakit kronis yaitu kanker tulang dan dokter sudah menvonis bahwa hidupnya hanya 2 tahun saja. Keluarganya adalah keluarga yang bisa dibilang kurang dalam bidang ekonomi, banyak hal yang mebuat Ayu pada akhirnya menjadi sosok yang tidak percaya diri, pendiam, dan pesimis karena situasi dan kondisi yang dia alami.
Tapi seiring berjalannya waktu ternyata Ayu menjadi satu sosok yang aktif, ceria, percaya diri dan optimis. Melihat perkembangan anakanya tentu saja si orang tua bingung bercampur senang dan bahagia, hingga suatu saat orang tuanya bertanya kepada Ayu, “Kamu gak sakit, Nak?” ya sakit Bu tapi bukan berarti kita harus diam saja kan Bu, jawab Ayu.
Sejak saat itu meskipun senang, orang tua Ayu tahu bahwa sebenarnya anaknya sedang berjuang menahan sakit yang ada pada tubuhnya. Hingga suatu hari Ayu menulis sebuah buku yang menceritakan tentang kisah hidupnya sebagai penderita kanker tulang dan dari buku tersebut Ayu memotivasi bagi semua generasi muda yang sakit atau menderita kanker tulang untuk terus semangat dalam menjalani hidup. Selain itu dibuku itupun tertulis bahwa hidup ini adalah kesempatan yang Tuhan beri agar kita bisa memberi atau mempersembahkan yang terbaik dalam hidup kita bagi Tuhan yang telah mati di kayu salib untuk menebus dosa kita.
Seringkali kita mengeluh atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Seringkali pula kita tidak pernah bersyukur atas apa yang kita punyai. Kehidupan Ayu adalah sebuah contoh bagi kita semua. Sekarang apa arti hidupmu? Jangan pernah membuang masa mudamu dengan mengeluh! Tapi berusahalah beri yang terbaik dan selalu optimis serta positive thinking. Tuhan memberkati.

--

Lompatan E-mail

Tania Gray

Setelah sepanjang hari bekerja di ruangan kecil, yang diinginkan oleh laki-laki muda itu adalah segera pulang, bersantai, dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan esok hari. Saat berjalan menuju lift, ia mendengar jeritan dan melihat asap hitam serta kobaran nyala api menyembur melalui lorong jalan. Kepanikan mencekamnya sementara pikirannya berkecambuk, aku berada di lantai enam. Aku tidak mungkin turun. Aku akan mati! Satu-satunya jalan keluar yang dipikirkannya adalah lorong jalan itu, namun lorong itu kini sudah dipenuhi kobaran api dan tak mungkin untuk dilewati. Sementara terus memutar otak, ia mendengar suara mobil pemadam kebakarn dan teringat bahwa kantor ini dikelilingi oleh jendela-jendela tinggi. Ia terbatuk-batuk dan terhuyung-huyung menuju jendela dengan harapan memperoleh pertolongan secepatnya. Namun, saat memandang ke bawah ia tak dapat melihat apapun kecuali asap tebal meliputi seluruh area itu. Melalui asap dan nyala api itu, ia tahu bahwa kerumunan orang banyak yang sudah berkumpul bersama para petugas pemadam kebakaran berseru-seru, “Lompat!” “Lompat!” ketakutan meliputi laki-laki muda itu. Melalui pengeras suara terdengar suara petugas pemadam kebakaran, “Satu-satunya jalan untuk selamat adalah jika Anda melompat. Kami sudah menebarkan jala penyelamat. Anda pasti akan selamat.” Sementara orang banyak terus-menerus berteriak, pria muda itu menyadari bahwa ia tak berani melompat tanpa terlebih dahulu melihat jarring itu. Kedua kakinya seolah melekat pada lantai. Kemudian, melalui pengeras suara terdengar suara ayahnya, “Tidak apa-apa Nak, kau dapat melompat.” Saat suara yang dikenalnya sampai ditelinganya, ia merasa ketakutan yang mencengkeramnya terangkat. Rasa percaya dan kasih yang terbentuk di antara ayah dan anak itu membuat ia memiliki keberanian untuk dapat melompat dengan aman sampai ke jarring.

Apakah kita mengenal dan mempercayai kasih Bapa surgawi kita sedemikian besar?

--

Racing Towards Inclusion E-mail

David Tereshchuk

Dick and Rick Hoyt are a father-and-son team from Massachusetts who together compete just about continuously in marathon races. And if they’re not in a marathon they are in a triathlon — that daunting, almost superhuman, combination of 26.2 miles of running, 112 miles of bicycling, and 2.4 miles of swimming. Together they have climbed mountains, and once trekked 3,735 miles across America.
It’s a remarkable record of exertion — all the more so when you consider that Rick can't walk or talk.
For the past twenty five years or more Dick, who is 65, has pushed and pulled his son across the country and over hundreds of finish lines. When Dick runs, Rick is in a wheelchair that Dick is pushing. When Dick cycles, Rick is in the seat-pod from his wheelchair, attached to the front of the bike. When Dick swims, Rick is in a small but heavy, firmly stabilized boat being pulled by Dick.
At Rick’s birth in 1962 the umbilical cord coiled around his neck and cut off oxygen to his brain. Dick and his wife, Judy, were told that there would be no hope for their child’s development. "It’s been a story of exclusion ever since he was born," Dick told me. "When he was eight months old the doctors told us we should just put him away — he’d be a vegetable all his life, that sort of thing. Well those doctors are not alive any more, but I would like them to be able to see Rick now."
The couple brought their son home determined to raise him as "normally" as possible. Within five years, Rick had two younger brothers, and the Hoyts were convinced Rick was just as intelligent as his siblings. Dick remembers the struggle to get the local school authorities to agree: "Because he couldn’t talk they thought he wouldn’t be able to understand, but that wasn’t true." The dedicated parents taught Rick the alphabet. "We always wanted Rick included in everything," Dick said. "That’s why we wanted to get him into public school."
A group of Tufts University engineers came to the rescue, once they had seen some clear, empirical evidence of Rick’s comprehension skills. "They told him a joke," said Dick. "Rick just cracked up. They knew then that he could communicate!" The engineers went on to build — using $5,000 the family managed to raise in 1972 - an interactive computer that would allow Rick to write out his thoughts using the slight head-movements that he could manage. Rick came to call it "my communicator." A cursor would move across a screen filled with rows of letters, and when the cursor highlighted a letter that Rick wanted, he would click a switch with the side of his head.
When the computer was originally brought home, Rick surprised his family with his first "spoken" words. They had expected perhaps "Hi, Mom" or "Hi, Dad." But on the screen Rick wrote "Go Bruins." The Boston Bruins were in the Stanley Cup finals that season, and his family realized he had been following the hockey games along with everyone else. "So we learned then that Rick loved sports," said Dick.
In 1975, Rick was finally admitted into a public school. Two years later, he told his father he wanted to participate in a five-mile benefit run for a local lacrosse player who had been paralyzed in an accident. Dick, far from being a long-distance runner, agreed to push Rick in his wheelchair. They finished next to last, but they felt they had achieved a triumph. That night, Dick remembers, "Rick told us he just didn’t feel handicapped when we were competing."
Rick’s realization turned into a whole new set of horizons that opened up for him and his family, as "Team Hoyt" began to compete in more and more events. Rick reflected on the transformation process for me, using his now-familiar but ever-painstaking technique of picking out letters of the alphabet:
" What I mean when I say I feel like I am not handicapped when competing is that I am just like the other athletes, and I think most of the athletes feel the same way. In the beginning nobody would come up to me. However, after a few races some athletes came around and they began to talk to me. During the early days one runner, Pete Wisnewski had a bet with me at every race on who would beat who. The loser had to hang the winner’s number in his bedroom until the next race. Now many athletes will come up to me before the race or triathlon to wish me luck."
It is hard to imagine now the resistance which the Hoyts encountered early on, but attitudes did begin to change when they entered the Boston Marathon in 1981, and finished in the top quarter of the field. Dick recalls the earlier, less tolerant days with more sadness than anger:
"Nobody wanted Rick in a road race. Everybody looked at us, nobody talked to us, nobody wanted to have anything to do with us. But you can’t really blame them - people often are not educated, and they’d never seen anyone like us. As time went on, though, they could see he was a person — he has a great sense of humor, for instance. That made a big difference."
After 4 years of marathons, Team Hoyt attempted their first triathlon — and for this Dick had to learn to swim. "I sank like a stone at first" Dick recalled with a laugh "and I hadn’t been on a bike since I was six years old."
With a newly-built bike (adapted to carry Rick in front) and a boat tied to Dick’s waist as he swam, the Hoyts came in second-to-last in the competition held on Father’s Day 1985.
"We chuckle to think about that as my Father’s Day present from Rick, " said Dick.
They have been competing ever since, at home and increasingly abroad. Generally they manage to improve their finishing times. "Rick is the one who inspires and motivates me, the way he just loves sports and competing," Dick said.
And the business of inspiring evidently works as a two-way street. Rick typed out this testimony:
"Dad is one of my role models. Once he sets out to do something, Dad sticks to it whatever it is, until it is done. For example once we decided to really get into triathlons, dad worked out, up to five hours a day, five times a week, even when he was working."
The Hoyts’ mutual inspiration for each other seems to embrace others too — many spectators and fellow-competitors have adopted Team Hoyt as a powerful example of determination. "It’s been funny," said Dick "Some people have turned out, some in good shape, some really out of shape, and they say ‘we want to thank you, because we’re here because of you’."
Rick too has taken full note of their effect on fellow-competitors while racing:
"Whenever we are passed (usually on the bike) the athlete will say "Go for it!" or "Rick, help your Dad!" When we pass people (usually on the run) they’ll say "Go Team Hoyt!" or "If not for you, we would not be out here doing this."
Most of all, perhaps, the Hoyts can see an impact from their efforts in the area of the handicapped, and on public attitudes toward the physically and mentally challenged.
"That’s the big thing," said Dick. "People just need to be educated. Rick is helping many other families coping with disabilities in their struggle to be included."
That is not to say that all obstacles are now overcome for the Hoyts. Dick is "still bothered," he says, by people who are discomforted because Rick cannot fully control his tongue while eating. "In restaurants - and it’s only older people mostly - they’ll see Rick’s food being pushed out of his mouth and they’ll leave, or change their table. But I have to say that kind of intolerance is gradually being defeated."
Rick’s own accomplishments, quite apart from the duo’s continuing athletic success, have included his moving on from high school to Boston University, where he graduated in 1993 with a degree in special education. That was followed a few weeks later by another entry in the Boston Marathon. As he fondly pictured it: "On the day of the marathon from Hopkinton to Boston people all over the course were wishing me luck, and they had signs up which read `congratulations on your graduation!’"
Rick now works at Boston College’s computer laboratory helping to develop a system codenamed "Eagle Eyes," through which mechanical aids (like for instance a powered wheelchair) could be controlled by a paralyzed person’s eye-movements, when linked-up to a computer.
Together the Hoyts don’t only compete athletically; they also go on motivational speaking tours, spreading the Hoyt brand of inspiration to all kinds of audiences, sporting and non-sporting, across the country.
Rick himself is confident that his visibility — and his father’s dedication — perform a forceful, valuable purpose in a world that is too often divisive and exclusionary. He typed a simple parting thought:

"The message of Team Hoyt is that everybody should be included in everyday life."

--

Kasih yang Tak Pernah Padam E-mail
Tony Campolo

Beberapa waktu silam saya menonton sandiwara karya Lorraine Hansberry berjudul Raisin in the Sun, dan mendengar ucapan yang terus menghantui pikiran saya. Dalam sandiwara tersebut, sebuah keluarga Amerika keturunan Afrika mewarisi 10.000 dollar dari polis asuransi jiwa sang ayah. Si ibu melihat warisan tersebut sebagai kesempatan untuk melepaskan diri dari kehidupan di Harlem yang miskin dan pindah ke rumah kecil di daerah pedesaan dengan pot-pot bunga di halaman depannya. Putrinya yang berotak cemerlang melihat warisan tersebut sebagai kesempatan untuk mewujudkan impiannya dan melanjutkan studi di fakultas kedokteran.

Namun sang kakak memiliki permintaan yang sulit untuk diabaikan begitu saja. Ia meminta uang itu agar ia dan “temannya” dapat berbisnis bersama. Ia mengatakan bahwa dengan uang itu ia akan memiliki penghasilan dan membuat hidup mereka lebih baik. Ia juga berjanji apabila ia diizinkan menggunakan uang itu, kelak ia akan mengembalikan semua kebahagiaan yang telah terenggut dari kehidupann mereka yang sulit di masa silam.

Setelah mempertimbangkannya, sang ibu mengabulkan permintaaan putranya. Ia mengakui bahwa selama ini putranya itu belum pernah memiliki kesempatan yang baik dan kini ia pantas memperoleh kesempatan untuk menggunakan uang tersebut.

Seperti dapat Anda duga, “teman” pemuda itu menghilang dari kota bersama uang tersebut. Pemuda yang mengalami nasib sial itu terpaksa pulang dan menyampaikan kabar kepada keluarganya bahwa pengharapan mereka akan masa depan telah terenggut dan impian mereka akan kehidupan yang lebih baik telah lenyap. Adiknya menghujaninya dengan kata-kata makian yang sangat kasar. Ia menyebut kakaknya sebagai makhluk yang paling keji. Penghinaannya terhadap kakaknya tak kunjung berhenti.

Ketika ia menarik napas di tengah semburan kata-katanya yang penuh keamrahan, ibunya menyela dan berkata, “Ibu rasa, ibu mengajarimu untuk mengasihi kakakmu.”

Beneath, putrinya menjawab, “Mengasihinya? Tak ada lagi kasih yang tersisa.”

Lalu si ibu berkata, “Akan selalu ada kasih yang tersisa. Dan jika kau belum belajar tentang hal itu, maka sesungguhnya kau belum belajar apa-apa. Apakah kau sudah menangis untuk kakakmu hari ini? Maksud ibu bukan menangisi dirimu sendiri atau keluarga kita karena kita kehilangan semua uang itu, melainkan menangis untuknya karena apa yang dialaminya dan akibat dari semya itu pada dirinya. Anakku, menurutmu kapan kita dapat mengasihi seseorang dengan tulus hati. Apakah ketika mereka telah melakukan hal-hal yang baik dan membuat segalanya menjadi lebih mudah bagi setiap orang? Jika demikian, berarti kau belum mengerti tentang kasih, karena kasih tidak ada hubungannya dengan waktu. Kita dapat mengasihi seseorang dengan tulus saat ia mengalami kehancuran dan tak lagi memiliki keyakinan karena dunia telah mengecewakannya. Apabila kau menilai seseorang, nilailah ia dengan benar, anakku, nilailah ia dengan benar. Pastikan bahwa kau telah memikirkan kesulitan-kesulitan yang dilewatinya sehingga ia menjadi seperti sekarang ini.”

Itulah anugerah! Anugerah adalah kasih yang dilimpahkan saat kita tidak layak menerimanya. Anugerah adalah pengampunan ynag dikaruniakan saat kita tidak berbuat apa pun untuk memperolehnya. Anugerah adalah hadiah yang mengalir laksana air yang menyegarkan untuk memadamkan kobaran api kemarahan yang menghanguskan.

Betapa lebih besar pengampunan dan kasih Bapa bagi kita! Dan betapa lebih besar anugerah Allah bagi kita.

--
Allah telah merancang ribuan cara bagi para hewan untuk hadir di bumi ini. Namun menurut saya, diantara semua hewan yang ada, hanya kelahiran bayi jerapah yang paling menarik. Jika melihatnya, anda tidak akan pernah melupakannya.
Pada pukul 9.30, pusat kesehatan kebun binatang mendapat panggilan karena jerapah Angola akan melahirkan. Jika dokter hewan dan saya ingin melihatnya, kami bisa ke sana. Tak seorangpun diantara kami yang pernah menyaksikannya, sehingga kami bergegas ke sana. Kami bertujuh mendapat kesempatan untuk melihat dari dekat peristiwa tersebut. Saya memilih duduk di atas tumpukan jerami dekat Jack Badal, seseorang yang menurut kami adalah pemelihara hewan yang terhebat. Orang ini tak banyak bicara. Kalau pun berbicara, ia benar-benara mempertimbangkan kata-katanya. Dan saat duduk didekatnya, ia hanya menganggukan kepala dan melanjutkan kegiatannya mengisap sebatang tanaman yang ia cabur dari tumpukan jerami.
Saya perhatikan kaki depan dan kepala anak jerapah mulai tampak, diikuti tetesan cairan. Saya juga memperhatikan sang induk tetap berdiri. “Kapan ia berbaring?” Tanya saya pada Jack, yang belum mengucapkan sepatah kata pun.
“Tak akan,” jawabnya.
“Tetapi kaki belakang dan pinggangnya tingginya tiga meter dari tanah. Bayinya tentu akan terluka bila keluar nanti,” kata saya. Jack memandang saya, seolah hendak mengatakan sesuatu tentang keluguan saya.
Saya heran mengapa tidak dipasang jarring untuk menadahi si bayi bila ia lahir nanti, sehingga saya pu bertanya. “Perhatikan, Gary,” kata Jack, “Kamu boleh mencoba menangkap si bayi. Namun ingat, kaki belakang sang indung cukup kuat untuk menendang kepalamu. Mereka telah membunuh singa-singa yang mencoba untuk mendekati anak-anak mereka.”
Untuk sementara waktu saya duduk dengan tenang dan mengamati proses kelahiran si bayi. Leher dan kaki depannya telah menjulur utuh keluar dan bergerak bebas, siap terjatuh dari ketinggian tiga meter. Saya hamper tak percaya bahwa hanya dalam beberapa menit stelah dilahirkan, si bayi harus mengalami semacam trauma, terjun dari ketinggian tiga meter. Tiga meter! Di atas tanah yang keras lagi! (Saya sendiri membutuhkan waktu dua belas tahun untuk berani melompat dari ketinggian sekitar 3 meter ke dalam air. Sementara bayi jerapah ini harus terjun dari ketinggian tersebut sesaat setelah kelahirannya.)
Saat-saat yang kami nantikan ternyata tidak mengecewakan. Anak jerapah itu jatuh dan mendarat dengan punggungnya. Dalam beberpa detik ia sudah dapat duduk tegak dengan kaki terlipat di bawah tubuhnya. Pada posisi semacam inilah ia memandang dunia untuk pertama kalinya, sambil menghilangkan sisa-sisa cairan yang masih menempel pada mata dan telinganya.
Induk jerapah merendahkan kepalanya untuk memandang wajah anaknya sekilas. Lalu ia menempatkan diri hingga tepat berdiri di atas anaknya. Ia menunggu sekeitar semenit, lalu melakukan hal yang tak masuk akal. Ia mengayunkan kaki dan menendang anaknya hingga jatuh terjengkang. Saya berpaling kea rah jack dan berseru, “Mengapa ia lakukan hal itu?”
“Ia ingin anaknya bangkit, dan bila si anak tak kunjung berdiri, ia akan menendangnya lagi.”
Jack benar, tindak ekkerasan itu terjadi berulang kali. Perjuangan untuk berdiri merupakan saat-saat yang penting, dan saat si anak mulai kelelahan, sang induk akan mendorongnya untuk terus berusaha dengan tendangan yang keras.
Akhirnya si anak jerapah dapat berdiri walau belum stabil, diiringi sorak-sorai staf pemeliharaan hewan. Lalu kami terdiam menyaksikan sang induk kembali menendangi si anak.
Hanya wajah Jack yang tidak menunjukkan ekspresi keheranan, “Ia menghendaki anaknya mengingat bagaimana caranya ia harus bangkit,” katanya menjelaskan. “Itulah sebabnya ia menendangnya lagi. Kehidupan di alam bebas sangat membutuhkan kecekatan dalam berdiri untuk mengikuti rombongannya. Singa, hyena, macan tutul, dan anjing-anjing pemburu gemas memburu jerapah-jerapah muda. Mereka akan mudah tertangkap bila sang induk tak mengajarkan kepada anaknya untuk cekatan berdiri dan terbiasa melakukannya.
Jack member salam perpisahan dengan melambai-lambaikan batang tanaman. Lalu ia kembali ke pekerjaannya merawat hewan-hewan. Dari orang-orang yang saya kenal, tak seorang pun yang mampu melakukan pekerjaan itu lebih baik darinya.
Sejak itu, saya sering merenungkan kelahiran anak jerapah tersebut. Saya melihat adanya kesesuaian dengan hidup saya. Ada begitu banyak masa ketika saya baru saja dapat berdiri setelah mengalami pencobaan, kemudian jatuh lagi pada masa berikutnya. Allah telah menolong saya untuk senantiasa berjalan bersama-Nyam dalam naungan pemeliharaan-Nya.
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan (Yakobus 1:2-3).

-

Jatuh dan Bangun E-mail

Gary Richmond

Allah telah merancang ribuan cara bagi para hewan untuk hadir di bumi ini. Namun menurut saya, diantara semua hewan yang ada, hanya kelahiran bayi jerapah yang paling menarik. Jika melihatnya, anda tidak akan pernah melupakannya.
Pada pukul 9.30, pusat kesehatan kebun binatang mendapat panggilan karena jerapah Angola akan melahirkan. Jika dokter hewan dan saya ingin melihatnya, kami bisa ke sana. Tak seorangpun diantara kami yang pernah menyaksikannya, sehingga kami bergegas ke sana. Kami bertujuh mendapat kesempatan untuk melihat dari dekat peristiwa tersebut. Saya memilih duduk di atas tumpukan jerami dekat Jack Badal, seseorang yang menurut kami adalah pemelihara hewan yang terhebat. Orang ini tak banyak bicara. Kalau pun berbicara, ia benar-benara mempertimbangkan kata-katanya. Dan saat duduk didekatnya, ia hanya menganggukan kepala dan melanjutkan kegiatannya mengisap sebatang tanaman yang ia cabur dari tumpukan jerami.
Saya perhatikan kaki depan dan kepala anak jerapah mulai tampak, diikuti tetesan cairan. Saya juga memperhatikan sang induk tetap berdiri. “Kapan ia berbaring?” Tanya saya pada Jack, yang belum mengucapkan sepatah kata pun.
“Tak akan,” jawabnya.
“Tetapi kaki belakang dan pinggangnya tingginya tiga meter dari tanah. Bayinya tentu akan terluka bila keluar nanti,” kata saya. Jack memandang saya, seolah hendak mengatakan sesuatu tentang keluguan saya.
Saya heran mengapa tidak dipasang jarring untuk menadahi si bayi bila ia lahir nanti, sehingga saya pu bertanya. “Perhatikan, Gary,” kata Jack, “Kamu boleh mencoba menangkap si bayi. Namun ingat, kaki belakang sang indung cukup kuat untuk menendang kepalamu. Mereka telah membunuh singa-singa yang mencoba untuk mendekati anak-anak mereka.”
Untuk sementara waktu saya duduk dengan tenang dan mengamati proses kelahiran si bayi. Leher dan kaki depannya telah menjulur utuh keluar dan bergerak bebas, siap terjatuh dari ketinggian tiga meter. Saya hamper tak percaya bahwa hanya dalam beberapa menit stelah dilahirkan, si bayi harus mengalami semacam trauma, terjun dari ketinggian tiga meter. Tiga meter! Di atas tanah yang keras lagi! (Saya sendiri membutuhkan waktu dua belas tahun untuk berani melompat dari ketinggian sekitar 3 meter ke dalam air. Sementara bayi jerapah ini harus terjun dari ketinggian tersebut sesaat setelah kelahirannya.)
Saat-saat yang kami nantikan ternyata tidak mengecewakan. Anak jerapah itu jatuh dan mendarat dengan punggungnya. Dalam beberpa detik ia sudah dapat duduk tegak dengan kaki terlipat di bawah tubuhnya. Pada posisi semacam inilah ia memandang dunia untuk pertama kalinya, sambil menghilangkan sisa-sisa cairan yang masih menempel pada mata dan telinganya.
Induk jerapah merendahkan kepalanya untuk memandang wajah anaknya sekilas. Lalu ia menempatkan diri hingga tepat berdiri di atas anaknya. Ia menunggu sekeitar semenit, lalu melakukan hal yang tak masuk akal. Ia mengayunkan kaki dan menendang anaknya hingga jatuh terjengkang. Saya berpaling kea rah jack dan berseru, “Mengapa ia lakukan hal itu?”
“Ia ingin anaknya bangkit, dan bila si anak tak kunjung berdiri, ia akan menendangnya lagi.”
Jack benar, tindak ekkerasan itu terjadi berulang kali. Perjuangan untuk berdiri merupakan saat-saat yang penting, dan saat si anak mulai kelelahan, sang induk akan mendorongnya untuk terus berusaha dengan tendangan yang keras.
Akhirnya si anak jerapah dapat berdiri walau belum stabil, diiringi sorak-sorai staf pemeliharaan hewan. Lalu kami terdiam menyaksikan sang induk kembali menendangi si anak.
Hanya wajah Jack yang tidak menunjukkan ekspresi keheranan, “Ia menghendaki anaknya mengingat bagaimana caranya ia harus bangkit,” katanya menjelaskan. “Itulah sebabnya ia menendangnya lagi. Kehidupan di alam bebas sangat membutuhkan kecekatan dalam berdiri untuk mengikuti rombongannya. Singa, hyena, macan tutul, dan anjing-anjing pemburu gemas memburu jerapah-jerapah muda. Mereka akan mudah tertangkap bila sang induk tak mengajarkan kepada anaknya untuk cekatan berdiri dan terbiasa melakukannya.
Jack member salam perpisahan dengan melambai-lambaikan batang tanaman. Lalu ia kembali ke pekerjaannya merawat hewan-hewan. Dari orang-orang yang saya kenal, tak seorang pun yang mampu melakukan pekerjaan itu lebih baik darinya.
Sejak itu, saya sering merenungkan kelahiran anak jerapah tersebut. Saya melihat adanya kesesuaian dengan hidup saya. Ada begitu banyak masa ketika saya baru saja dapat berdiri setelah mengalami pencobaan, kemudian jatuh lagi pada masa berikutnya. Allah telah menolong saya untuk senantiasa berjalan bersama-Nyam dalam naungan pemeliharaan-Nya.
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan (Yakobus 1:2-3).

--

Bagaimana Allah Memandang Anda E-mail

Kathy Collard Miller

Jika berbicara tentang harga diri yang bernilai ilahi, saya sering menggunakan kisah dalam buku A Marriage Made in Heaven:

“Di suatu masyarakat primitive, setiap gadis yang akan dipinang harus ditebus dengan ternak. Gadis yang tidak begitu disukai, ditebus dengan seekor lembu; gadis yang biasa, ditebus dengan dua ekor lembu; sedangkan gadis yang istimewa, ditebus dengan tiga ekor lembu."

“Lalu datang seorang pria kaya dan menawan untuk mencari istri. Semua keluarga memamerkan putrid mereka. Namun semua orang terkejut dengan keputusan pria itu. Ia mengadakan perundingan dengan pihak keluarga dari seorang gadis yang tidak menarik dan kaku."

“Mungkin ia mengajukan penawaran.” Orang-orang berspekulasi tentang kemungkinan ditukarnya lembu dengan ayam sebagai gantinya. Namun, mereka takjub saat pria itu menawarkan enam ekor lembu untuk mendapatkan si gadis, dan segera membawanya berbulan madu."

“Ketika mereka kembali beberapa bulan kemudia, tak seorangpun mengenali si wanita. Tubuhnya tak lagi membungkuk, matanya tak lagi suram. Ia kembali sebagai orang yang baru, memancarkan kecantikan dan percaya diri yang kuat."

“Tidak, suaminya tidak membawanya ke tempat perawatan kecantikan maupun bedah plastic. Ia hanya memulai hubungan dengan menunjukkan betapa si istri begitu berharga dan penting baginya. Dan si istri mulai melihat dirinya sebagaimana suaminya memandangnya. Sepanjang sisa hidupnya, si istri dikagumi oleh teman-temannya.”

Demikianlah Allah memandang mereka (dan Anda), bukan sebagai wanita (atau pria) dengan enam lembu emas, melainkan anak Allah yang berharga seribu lembu. Sejak Dia mengirimkan hadiah yang begitu berharga, yakni Yesus, maka semakin kita memusatkan diri kepada-Nya, semakin besar harga diri ilahi yang akan kita miliki.

--

Besyukur Atas Hal-hal yang Tidak Menimpa Kita E-mail

Jessica Shaver

Suatu saat saudara laki-laki saya mengatakan bahwa apa yang menjadi masalah bagi orang ateis adaah jika sepeda motor mereka masuk ke jurang dan ia tidak mati, ia tak dapat mengucap syukur kepada siapa pun. Saya orang Kristen, namun terkadang saya lupa bersyukur kepada Allah atas perkara-perkara yang tidak terjadi. Namun tidak demikian dengan tahun ini.

Saya bersyukur karenan terhindar dari kecelakaan, penyakit, dan perampokan yang mungkin menimpa saya.

Saya bersyukur rumah saya tidak terbakar saat lalai meninggalkan setrika yang menyala selama lima jam. Saya bersyukur ketika saya lupa mengunci garasi semalaman, tak satu barang pun dicuri. Saya bersyukur karena tetangga saya memergoki seseorang yang dituduh sebagai pemerkosa di luar jendela kamar mandi kami sebelum orang itu masuk ke dalam rumah.

Saya bersyukur karena telepon di tengah malam itu salah sambung, bukan berita kematian salah seorang keluarga kami.

Saya bersyukur karena suami saya bersikeras membicarakan masalah-masalah kami saat saya sebenarnya enggan, yakni ketika masalahnya masih tidak terlalu sukar untuk diatasi. Saya bersyukur karena tidak harus bekerja di luar rumah sehingga saya dapat menyediakan diri bagi teman-teman anak-anak saya yang membutuhkan tempat atau seseorang untuk diajak bicara. Walaupun sudah tinggal di daerah yang paling rawan gempa menuntut saya untuk lebih beriman, saya beryukur kepada Allah sebab kami tak perlu kuatir akan longsoran salju, badai tornado, gunung berapi, tanah longsor ataupun banjir.

Saya berterima kasih sebab Allah htidak mengutus kami dalam pelayanan ke luar negeri dan Dia menunjukkan bahwa Kalifornia Selatan juga adal;ah lading pelayanan.

Saya beryukur sebab berulang kali tersandung tas sekolah anak lelaki saya atau tidak dapat menemukan tempat untuk menaruh mentega di lemari es yang penuh dengan botol-botol cat kuku anak perempuan saya. Itu semua mengingatkan saya bahwa saya memiliki keluarga yang membuat saya sangat bahagia.

Saya bersyukur karena belum dapat mengendarai mobil ketika masih ibu muda, sehingga saya harus menghabiskan sepanjang pagi untuk berjalan kaki, sambil menuntun anak saya yang sedang berlajar jalan, untuk berbelanja. Saya beryukur karena dengan begitu saya mendapat kesempatan untuk mengamati ulat dan batu-batu kecil berwarna-warni yang tidak akan saya perhatikan jika tidak ditunjukkan oleh anak saya.

Saya bersyukur karena ibu saya tidak tinggal cukup dekat untuk menolong saya, sehingga sebagai gantinya saya dapat menulis surat kepadanya. Dan surat-surat itu mengabdikan kenangan atas setiap perasaan bahagia maupun frustasi terhadap anak-anak saya yang tak dapat disimpan hanya dalam ingatan.

Sejak jari anak perempuan saya hamper terjepit di pintu kamar mandi, saya bersyukur untuk setiap hari tanpa kecuali. Saya bersyukur karena saya memiliki Pribadi yang kepadaNya saya dapat mengucap syukur.

--

Lima Hari Setelah Kematiannya E-mail

Unknown Author

Beberapa tahun yang lalu, seorang gasis berumur 15 tahun bernama lisa marie meninggal gantung diri di rumahnya. Dia seorang gadis manis dan tinggal di Michigan. Lima hari setelah kematiannya, ibunya menemukan buku hariannya di kamarnya. Ibunya ingin mengetahui sebab kematiannya. Berikut adalah isi buku harian tersebut:

November 7
Dear Diary, hari ini hari pertama sekolah di Michigan. Pada saat saya masuk kelas, saya diejek murid-murid cowok yang menyebut saya orang aneh. Inilah awal hari yang buruk. Kemudian beberapa murid cewek cantik dan popular mendatangi saya dan memperkenalkan diri mereka. Mereka mengatakan saya orang terjelek yang pernah mereka temui. Saya pun menangis.
Saya lalu pulang ke rumah dan menelepon Jake. Saya piker hari ini akan lebih baik. Namun dia katakana bahwa hubungan jarak jauh tidak bisa bertahan, sekarang dia tinggal di California. Lalu saya katakana bahwa saya mencintainya dan rindu padanya. Tetapi dia mengakui bahwa alas an dia pacaran dengan saya adalah karena dia ditantang teman-temannya. Dia lalu memutuskan hubungan padahal kami sudah berpacaran 2.5 tahun.

November 9
Saya sungguh rindu pada Jake. Tapi dia merubah nomor teleponnya sehingga saya tidak bisa menghubunginya. Hari ini seorang cowok popular mengajak saya ke pesta dansa. Kemudian cewek-cewek cantik kemarin mengajak saya makan siang bersama. Wow, sungguh menyenangkan!

November 10
Saya sedang menangis sekarang. Ternyata cowok itu brengsek! Dia menumpahkan minumannya pada baju saya lalu cewek-cewek itu mengoyak baju saya. Semua orang mentertawakan saya. Lalu nenek memberitakan bahwa papa dan mama kecelakaan pagi ini dan mereka dalam keadaan kritis. Saya tidak sanggup menulis lagi.

November 11
Hari ini Sabtu, nenek dan saya di rumah sakit sepanjang malam. Papa meninggal pagi ini. Mama lumpuh seumur hidup. Sewaktu di rumah sakit, nenek baru tahu dia diserang kanker perut dan harus dikemoterapi. Saya masih tidak percaya Papa sudah meninggal. Saya sudah capek menangis. Saya letih. Saya harus tidur.

November 12
Papa telah meninggal! Tidak mungkin! Ini semua hanya mimpi. Hidup saya sempurna. Jake masih mencintai saya. Saya tidak bisa menulis lagi. Saya sudah menangis terlalu lama. Saya ingin mati. Bawalah saya.

Keesokan harinya Lisa ditemukan tewas gantung diri dengan tali berwarna kuning.

Ingatlah semua orang ingin dicintai dan dipeluk setiap hari. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang pantas diejek dan dihina atau disingkirkan, karena keberadaan kita lahir di dunia adalah pemberian Tuhan semata dan bukan suatu pilihan yang kita bisa pilih.

--

Utamakan yang Utama E-mail

Manati I. Zega

Zig Ziglar adalah pembicara motivasional terkenal di Amerika. Dalam God’s way is Still the Best Way, ia menuturkan kisah menarik yang telah mempengaruhi hidupnya. Kisah itu berasal dari seorang pebisnis andal bernama Truett Cathy. Cathy adalah pengusaha sukses berskala nasional di Amerika. Restoran Chick-fil-A adalah bukti keberhasilannya. Produk perusahaan itu dipasarkan secara luas di mal-mal, bandara, rumah sakit serta kampus-kampus. Respons pasar santa positif sehingga perusahaan berkembang pesat. Karena kemampuannya melejitkan perusahaan, menyebabkan Cathy dihargai dan disegani banyak kalangan.

Akan tetapi, di puncak kejayaan, tantangan serius dialamatkan padanya. Bagaikan peluru yang menembus jantung musuh, demikian pula Cathy. Pusat kekuatannya, yakni iman kepada Allah diuji. Mal-mal yang selama puluhan tahun menjadi mitra bisnis memintanya membuka restoran pada hari Minggu. Dari sisi bisnis Cathy jelas diuntungkan. Anda coba bayangkan sebentar. Seandainya berada pada posisi itu, anda mungkin segera mengambil kesempatan tersebut. Bukankah secara natural, siapa pun senang diuntungkan? Setiap orang butuh uang. Bahkan orang sering mengatakan time is money. Waktu adalah uang. Tak heran orang-orang seperti ini menggunakan seluruh waktunya demi mengejar uang. Namun, Truett Cathy tidak demikian. Baginya uang bukan segalanya. Maka, tanpa keraguan sedikitpun, ia menolak membuka restorannya pada hari Minggu. Mengapa? Rupanya, ia ingin belajar mempraktikkna firman Tuhan. Ia rindu membangun bisnis berdasarkan firman Tuhan.

Kitab keluaran memberinya inspirasi. Di sana disebutkan, “Ingatlah dan kuduskalah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu” (Kel. 20:8-10). Berdasarkan ayat tersebut, Cathy belajar menempatkan Allah pada posisi teratas. Secara konkret firman Tuhan itu diterapkan dalam bisnis. Konsekuensinya, setiap hari Minggu restoran ditutup. Karyawan diberi kesempatan beribadah dan berkumpul bersama keluarga. Banyak orang berkomentar negative terhadap sikap Cathy. Kata fanatic dan sejenisnya sering terlontar. Namun, Cathy tidak membuang energy untuk memikirkan hal-hal negative itu.

Menempatkan Tuhan pada posisi tertinggi berdampak luas. Dengan cara unik Tuhan memberkati perusahaan itu hingga level tertinggi. Kini, tercatat lebih dari 1.300 restauran tersebar di 37 negara bagian Amerika dan Washington D.C. Sebuah kemajuan spektakuler bersama Tuhan. Langkah Cathy yang mengutamakan persekutuan dengan Allah adalah jurus jitu yang berbuah manis. Cathy tidak mengejar keuntungan besar. Sebaliknya, keuntunganlah yang mengejar Cathy. Restoran yang diliburkan pada hari Minggu sehingga karyawan dapat beribadah adalah pilar bagi kemajuan Chik-fil-A. Cathy, keluarga, dan karyawannya menjadi saksi perbuatan Allah.

Di pihak lain, kesuksesan kerap membuat orang terlena. Namun, Cathy tidak demikian. Ia tidak lupa daratan apalagi lupa Tuhan. Ia tetap rendah hati dan bersahabat. Ia juga tidak memperkaya diri dan menumpuk harta sebagai bekal masa tua. Sebaliknya, digunakan untuk hal-hal yang berdampak. Hati yang penuh kasih mendorongnya menyalurkan 20.000 beasiswa kepada mereka yang mau belajar. Demikian pula anak-anak terlantar yang tak punya tempat tinggal, ia bangunkan rumah.

Cara hidup Cathy sungguh inspiratif. Ia senantiasa mengutamakan Tuhan dalam segala hal. Ia juga menjadikan perusahaannya sebagai lading misi. Maka, Tuhan menyatakan rencana-Nya bagi perusahaan tersebut. Berarti, Cathy mengalami living at the next level, menjadi sahabat Allah. Jika Cathy mengalaminya, maka Anda pun bisa. Bukankah begitu?

--

The Meaning of Life E-mail

Banyak orang yang menginginkan hidup yang sempurna, bentuk tubuh yang sempurna, keluarga yang utuh dan kehidupan dengan ekonomi yang sangat baik.
Ayu seorang remaja perempuan yang berusia 22 tahun menderita penyakit kronis yaitu kanker tulang dan dokter sudah menvonis bahwa hidupnya hanya 2 tahun saja. Keluarganya adalah keluarga yang bisa dibilang kurang dalam bidang ekonomi, banyak hal yang mebuat Ayu pada akhirnya menjadi sosok yang tidak percaya diri, pendiam, dan pesimis karena situasi dan kondisi yang dia alami.
Tapi seiring berjalannya waktu ternyata Ayu menjadi satu sosok yang aktif, ceria, percaya diri dan optimis. Melihat perkembangan anakanya tentu saja si orang tua bingung bercampur senang dan bahagia, hingga suatu saat orang tuanya bertanya kepada Ayu, “Kamu gak sakit, Nak?” ya sakit Bu tapi bukan berarti kita harus diam saja kan Bu, jawab Ayu.
Sejak saat itu meskipun senang, orang tua Ayu tahu bahwa sebenarnya anaknya sedang berjuang menahan sakit yang ada pada tubuhnya. Hingga suatu hari Ayu menulis sebuah buku yang menceritakan tentang kisah hidupnya sebagai penderita kanker tulang dan dari buku tersebut Ayu memotivasi bagi semua generasi muda yang sakit atau menderita kanker tulang untuk terus semangat dalam menjalani hidup. Selain itu dibuku itupun tertulis bahwa hidup ini adalah kesempatan yang Tuhan beri agar kita bisa memberi atau mempersembahkan yang terbaik dalam hidup kita bagi Tuhan yang telah mati di kayu salib untuk menebus dosa kita.
Seringkali kita mengeluh atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Seringkali pula kita tidak pernah bersyukur atas apa yang kita punyai. Kehidupan Ayu adalah sebuah contoh bagi kita semua. Sekarang apa arti hidupmu? Jangan pernah membuang masa mudamu dengan mengeluh! Tapi berusahalah beri yang terbaik dan selalu optimis serta positive thinking. Tuhan memberkati.\

--

Interview Dengan Tuhan E-mail

Unknown Author

Saya bermimpi saya mewawancarai Tuhan “Mari masuk,” kata Tuhan. “Jadi, kamu ingin mewawancarai Saya?”
Kalau Engkau ada waktu,” kataku.
Tuhan tersenyum dan berkata, “Waktuku kekal. Cukup untuk melakukan semua hal. Apa yang ingin engkau tanyakan?”
Aku bertanya, “Apa yang mengejutkan Anda tentang manusia?”
Tuhan berpikir sebentar kemudian menjawab, “Mereka bosan menjadi anak-anak, ingin cepat-cepat tumbuh dewasa, kemudian mereka ingin menjadi anak-anak lagi.

*
Bahwa mereka kehilangan kesehatan untuk mencari uang, kemudian kehilangan uang untuk mengembalikan kesehatan mereka.
*
Bahwa mereka kuatir tentang masa depan, sehingga lupa masa kini, jadi mereka tidak hidup di masa depan maupun masa kini.

Bahwa mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati, dan mereka mati seolah-olah mereka tidak pernah hidup.”
Tuhan meraih tangan saya, menaruhnya dalam tangan-Nya, dan kami terdiam sebentar. Kemudian saya bertanya, “Sebagai orang tua, apa pelajran-pelajaran kehidupan yang Engkau mau anak-anakmu ketahui?”
Tuhan menjawab dengan senyum,
Untuk belajar bahwa mereka tidak dapat membuat siapapun mengasihi mereka. Apa yang bias mereka lakukan adalah membiarkan dirinya dicintai.
Untuk belajar bahwa yang paling berharga bukanlah apa yang mereka miliki dalam hidup, tetapi siapa yang mereka miliki dalam hidup.
Untuk belajar bahwa tidak baik untuk membandingkan satu dengan yang lain. Semua orang akan dihakimi secara satu per satu atas dasar perbuatan mereka, bukan atas dasar perbandingan dengan yang lain.

*
Untuk belajar bahwa orang yang kaya bukanlah orang yang memiliki paling banyak barang, tetapi mereka yang paling sedikit membutuhkan barang atau hal-hal dalam hidup.
*
Untuk belajar bahwa hanya dibutuhkan beberapa detik untuk melukai orang-orang yang kita cintai, tetapi dibutuhkan bertahun-tahun lamanya untuk menyembuhkan mereka.
*
Untuk belajar mengampuni dengan mempraktekkan pengampunan. Untuk belajar bahwa ada orang-orang yang mengasihi mereka dengan sungguh, tetapi tidak tahu bagaimana menunjukkan perasaan mereka.
*
Untuk belajar bahwa uang dapat membeli segala sesuatu kecuali kebahagiaan.
*
Untuk belajar bahwa dua orang dapat memandang hal yang sama tetapi melihatnya secara berbeda.
*
Untuk belajar bahwa teman yang sejati adalah seseorang yang mengetahui semuanya tentang mereka, tetapi tetap menyukai mereka.
*
Untuk belajar bahwa tidak cukup untuk diampuni oleh orang lain, tetapi mereka harus mengampuni diri mereka sendiri.”

Saya duduk di sana untuk beberapa waktu menikmati kunjungan saya bertemu dengan-Nya. Saya berterima kasih untuk waktu yang Ia berikan dan semuanya yang telah Ia lakukan untuk saya dan keluarga saya. Ia menjawab, “Kapan saja kamu bisa dating. Saya berada di sini 24 jam sehari. Kamu tinggal meminta, dan saya akan menjawabnya.”

--

Racing Towards Inclusion E-mail

David Tereshchuk

Dick and Rick Hoyt are a father-and-son team from Massachusetts who together compete just about continuously in marathon races. And if they’re not in a marathon they are in a triathlon — that daunting, almost superhuman, combination of 26.2 miles of running, 112 miles of bicycling, and 2.4 miles of swimming. Together they have climbed mountains, and once trekked 3,735 miles across America.
It’s a remarkable record of exertion — all the more so when you consider that Rick can't walk or talk.
For the past twenty five years or more Dick, who is 65, has pushed and pulled his son across the country and over hundreds of finish lines. When Dick runs, Rick is in a wheelchair that Dick is pushing. When Dick cycles, Rick is in the seat-pod from his wheelchair, attached to the front of the bike. When Dick swims, Rick is in a small but heavy, firmly stabilized boat being pulled by Dick.
At Rick’s birth in 1962 the umbilical cord coiled around his neck and cut off oxygen to his brain. Dick and his wife, Judy, were told that there would be no hope for their child’s development. "It’s been a story of exclusion ever since he was born," Dick told me. "When he was eight months old the doctors told us we should just put him away — he’d be a vegetable all his life, that sort of thing. Well those doctors are not alive any more, but I would like them to be able to see Rick now."
The couple brought their son home determined to raise him as "normally" as possible. Within five years, Rick had two younger brothers, and the Hoyts were convinced Rick was just as intelligent as his siblings. Dick remembers the struggle to get the local school authorities to agree: "Because he couldn’t talk they thought he wouldn’t be able to understand, but that wasn’t true." The dedicated parents taught Rick the alphabet. "We always wanted Rick included in everything," Dick said. "That’s why we wanted to get him into public school."
A group of Tufts University engineers came to the rescue, once they had seen some clear, empirical evidence of Rick’s comprehension skills. "They told him a joke," said Dick. "Rick just cracked up. They knew then that he could communicate!" The engineers went on to build — using $5,000 the family managed to raise in 1972 - an interactive computer that would allow Rick to write out his thoughts using the slight head-movements that he could manage. Rick came to call it "my communicator." A cursor would move across a screen filled with rows of letters, and when the cursor highlighted a letter that Rick wanted, he would click a switch with the side of his head.
When the computer was originally brought home, Rick surprised his family with his first "spoken" words. They had expected perhaps "Hi, Mom" or "Hi, Dad." But on the screen Rick wrote "Go Bruins." The Boston Bruins were in the Stanley Cup finals that season, and his family realized he had been following the hockey games along with everyone else. "So we learned then that Rick loved sports," said Dick.
In 1975, Rick was finally admitted into a public school. Two years later, he told his father he wanted to participate in a five-mile benefit run for a local lacrosse player who had been paralyzed in an accident. Dick, far from being a long-distance runner, agreed to push Rick in his wheelchair. They finished next to last, but they felt they had achieved a triumph. That night, Dick remembers, "Rick told us he just didn’t feel handicapped when we were competing."
Rick’s realization turned into a whole new set of horizons that opened up for him and his family, as "Team Hoyt" began to compete in more and more events. Rick reflected on the transformation process for me, using his now-familiar but ever-painstaking technique of picking out letters of the alphabet:
" What I mean when I say I feel like I am not handicapped when competing is that I am just like the other athletes, and I think most of the athletes feel the same way. In the beginning nobody would come up to me. However, after a few races some athletes came around and they began to talk to me. During the early days one runner, Pete Wisnewski had a bet with me at every race on who would beat who. The loser had to hang the winner’s number in his bedroom until the next race. Now many athletes will come up to me before the race or triathlon to wish me luck."
It is hard to imagine now the resistance which the Hoyts encountered early on, but attitudes did begin to change when they entered the Boston Marathon in 1981, and finished in the top quarter of the field. Dick recalls the earlier, less tolerant days with more sadness than anger:
"Nobody wanted Rick in a road race. Everybody looked at us, nobody talked to us, nobody wanted to have anything to do with us. But you can’t really blame them - people often are not educated, and they’d never seen anyone like us. As time went on, though, they could see he was a person — he has a great sense of humor, for instance. That made a big difference."
After 4 years of marathons, Team Hoyt attempted their first triathlon — and for this Dick had to learn to swim. "I sank like a stone at first" Dick recalled with a laugh "and I hadn’t been on a bike since I was six years old."
With a newly-built bike (adapted to carry Rick in front) and a boat tied to Dick’s waist as he swam, the Hoyts came in second-to-last in the competition held on Father’s Day 1985.
"We chuckle to think about that as my Father’s Day present from Rick, " said Dick.
They have been competing ever since, at home and increasingly abroad. Generally they manage to improve their finishing times. "Rick is the one who inspires and motivates me, the way he just loves sports and competing," Dick said.
And the business of inspiring evidently works as a two-way street. Rick typed out this testimony:
"Dad is one of my role models. Once he sets out to do something, Dad sticks to it whatever it is, until it is done. For example once we decided to really get into triathlons, dad worked out, up to five hours a day, five times a week, even when he was working."
The Hoyts’ mutual inspiration for each other seems to embrace others too — many spectators and fellow-competitors have adopted Team Hoyt as a powerful example of determination. "It’s been funny," said Dick "Some people have turned out, some in good shape, some really out of shape, and they say ‘we want to thank you, because we’re here because of you’."
Rick too has taken full note of their effect on fellow-competitors while racing:
"Whenever we are passed (usually on the bike) the athlete will say "Go for it!" or "Rick, help your Dad!" When we pass people (usually on the run) they’ll say "Go Team Hoyt!" or "If not for you, we would not be out here doing this."
Most of all, perhaps, the Hoyts can see an impact from their efforts in the area of the handicapped, and on public attitudes toward the physically and mentally challenged.
"That’s the big thing," said Dick. "People just need to be educated. Rick is helping many other families coping with disabilities in their struggle to be included."
That is not to say that all obstacles are now overcome for the Hoyts. Dick is "still bothered," he says, by people who are discomforted because Rick cannot fully control his tongue while eating. "In restaurants - and it’s only older people mostly - they’ll see Rick’s food being pushed out of his mouth and they’ll leave, or change their table. But I have to say that kind of intolerance is gradually being defeated."
Rick’s own accomplishments, quite apart from the duo’s continuing athletic success, have included his moving on from high school to Boston University, where he graduated in 1993 with a degree in special education. That was followed a few weeks later by another entry in the Boston Marathon. As he fondly pictured it: "On the day of the marathon from Hopkinton to Boston people all over the course were wishing me luck, and they had signs up which read `congratulations on your graduation!’"
Rick now works at Boston College’s computer laboratory helping to develop a system codenamed "Eagle Eyes," through which mechanical aids (like for instance a powered wheelchair) could be controlled by a paralyzed person’s eye-movements, when linked-up to a computer.
Together the Hoyts don’t only compete athletically; they also go on motivational speaking tours, spreading the Hoyt brand of inspiration to all kinds of audiences, sporting and non-sporting, across the country.
Rick himself is confident that his visibility — and his father’s dedication — perform a forceful, valuable purpose in a world that is too often divisive and exclusionary. He typed a simple parting thought:

"The message of Team Hoyt is that everybody should be included in everyday life."

--

Lompatan E-mail

Tania Gray

Setelah sepanjang hari bekerja di ruangan kecil, yang diinginkan oleh laki-laki muda itu adalah segera pulang, bersantai, dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan esok hari. Saat berjalan menuju lift, ia mendengar jeritan dan melihat asap hitam serta kobaran nyala api menyembur melalui lorong jalan. Kepanikan mencekamnya sementara pikirannya berkecambuk, aku berada di lantai enam. Aku tidak mungkin turun. Aku akan mati! Satu-satunya jalan keluar yang dipikirkannya adalah lorong jalan itu, namun lorong itu kini sudah dipenuhi kobaran api dan tak mungkin untuk dilewati. Sementara terus memutar otak, ia mendengar suara mobil pemadam kebakarn dan teringat bahwa kantor ini dikelilingi oleh jendela-jendela tinggi. Ia terbatuk-batuk dan terhuyung-huyung menuju jendela dengan harapan memperoleh pertolongan secepatnya. Namun, saat memandang ke bawah ia tak dapat melihat apapun kecuali asap tebal meliputi seluruh area itu. Melalui asap dan nyala api itu, ia tahu bahwa kerumunan orang banyak yang sudah berkumpul bersama para petugas pemadam kebakaran berseru-seru, “Lompat!” “Lompat!” ketakutan meliputi laki-laki muda itu. Melalui pengeras suara terdengar suara petugas pemadam kebakaran, “Satu-satunya jalan untuk selamat adalah jika Anda melompat. Kami sudah menebarkan jala penyelamat. Anda pasti akan selamat.” Sementara orang banyak terus-menerus berteriak, pria muda itu menyadari bahwa ia tak berani melompat tanpa terlebih dahulu melihat jarring itu. Kedua kakinya seolah melekat pada lantai. Kemudian, melalui pengeras suara terdengar suara ayahnya, “Tidak apa-apa Nak, kau dapat melompat.” Saat suara yang dikenalnya sampai ditelinganya, ia merasa ketakutan yang mencengkeramnya terangkat. Rasa percaya dan kasih yang terbentuk di antara ayah dan anak itu membuat ia memiliki keberanian untuk dapat melompat dengan aman sampai ke jarring.

Apakah kita mengenal dan mempercayai kasih Bapa surgawi kita sedemikian besar?

--

Kasih yang Tak Pernah Padam E-mail
Tony Campolo

Beberapa waktu silam saya menonton sandiwara karya Lorraine Hansberry berjudul Raisin in the Sun, dan mendengar ucapan yang terus menghantui pikiran saya. Dalam sandiwara tersebut, sebuah keluarga Amerika keturunan Afrika mewarisi 10.000 dollar dari polis asuransi jiwa sang ayah. Si ibu melihat warisan tersebut sebagai kesempatan untuk melepaskan diri dari kehidupan di Harlem yang miskin dan pindah ke rumah kecil di daerah pedesaan dengan pot-pot bunga di halaman depannya. Putrinya yang berotak cemerlang melihat warisan tersebut sebagai kesempatan untuk mewujudkan impiannya dan melanjutkan studi di fakultas kedokteran.

Namun sang kakak memiliki permintaan yang sulit untuk diabaikan begitu saja. Ia meminta uang itu agar ia dan “temannya” dapat berbisnis bersama. Ia mengatakan bahwa dengan uang itu ia akan memiliki penghasilan dan membuat hidup mereka lebih baik. Ia juga berjanji apabila ia diizinkan menggunakan uang itu, kelak ia akan mengembalikan semua kebahagiaan yang telah terenggut dari kehidupann mereka yang sulit di masa silam.

Setelah mempertimbangkannya, sang ibu mengabulkan permintaaan putranya. Ia mengakui bahwa selama ini putranya itu belum pernah memiliki kesempatan yang baik dan kini ia pantas memperoleh kesempatan untuk menggunakan uang tersebut.

Seperti dapat Anda duga, “teman” pemuda itu menghilang dari kota bersama uang tersebut. Pemuda yang mengalami nasib sial itu terpaksa pulang dan menyampaikan kabar kepada keluarganya bahwa pengharapan mereka akan masa depan telah terenggut dan impian mereka akan kehidupan yang lebih baik telah lenyap. Adiknya menghujaninya dengan kata-kata makian yang sangat kasar. Ia menyebut kakaknya sebagai makhluk yang paling keji. Penghinaannya terhadap kakaknya tak kunjung berhenti.

Ketika ia menarik napas di tengah semburan kata-katanya yang penuh keamrahan, ibunya menyela dan berkata, “Ibu rasa, ibu mengajarimu untuk mengasihi kakakmu.”

Beneath, putrinya menjawab, “Mengasihinya? Tak ada lagi kasih yang tersisa.”

Lalu si ibu berkata, “Akan selalu ada kasih yang tersisa. Dan jika kau belum belajar tentang hal itu, maka sesungguhnya kau belum belajar apa-apa. Apakah kau sudah menangis untuk kakakmu hari ini? Maksud ibu bukan menangisi dirimu sendiri atau keluarga kita karena kita kehilangan semua uang itu, melainkan menangis untuknya karena apa yang dialaminya dan akibat dari semya itu pada dirinya. Anakku, menurutmu kapan kita dapat mengasihi seseorang dengan tulus hati. Apakah ketika mereka telah melakukan hal-hal yang baik dan membuat segalanya menjadi lebih mudah bagi setiap orang? Jika demikian, berarti kau belum mengerti tentang kasih, karena kasih tidak ada hubungannya dengan waktu. Kita dapat mengasihi seseorang dengan tulus saat ia mengalami kehancuran dan tak lagi memiliki keyakinan karena dunia telah mengecewakannya. Apabila kau menilai seseorang, nilailah ia dengan benar, anakku, nilailah ia dengan benar. Pastikan bahwa kau telah memikirkan kesulitan-kesulitan yang dilewatinya sehingga ia menjadi seperti sekarang ini.”

Itulah anugerah! Anugerah adalah kasih yang dilimpahkan saat kita tidak layak menerimanya. Anugerah adalah pengampunan ynag dikaruniakan saat kita tidak berbuat apa pun untuk memperolehnya. Anugerah adalah hadiah yang mengalir laksana air yang menyegarkan untuk memadamkan kobaran api kemarahan yang menghanguskan.

Betapa lebih besar pengampunan dan kasih Bapa bagi kita! Dan betapa lebih besar anugerah Allah bagi kita.

--

Masa Lalu Bukan Alasan E-mail
Nancy Dinar

“Jangan pedulikan seberapa buruk masa lalu seseorang, yang penting masa depannya bersih tak bernoda” (anonim)

Suatu hari saya bertemu dengan seorang gadis. Tak seorangpun yang akan mengira bahwa ia seorang perempuan hanya dari penampilan, tampang dan cara bicaranya. Total seluruh keberadaannya persis seperti seorang anak laki-laki: rambut pendek, tubuh berotot, wajah bergurat keras dan nada suara tegas. Dari ujung rambut ke ujung kaki, ia memakai baju dan aksesori milik pria.

Sebenarnya itu bukan pertemuan pertama karena tiga tahun sebelumnya saya pernah bertemu dengannya. Waktu itu ia mempunyai masalah dengan orientasi seksual. Nasib telah membawanya untuk melakukan dan terlibat dalam hubungan homoseksual. Sayang, keberadaanya sebagai seorang TKW yang seluruh komunitasnya adalah wanita menutup jalan keluarnya untuk lari dari masalah ini.

Kali ini masalahnya lebih dari yang kemarin. Ia mengaku terlalu dalam terikat dengan minum minuman keras dan sedang berusaha untuk melepaskannya. Baik homoseksuality maupun alchoholism keduanya dianggap oleh sebagian besar psychologist sebagai problem yang ‘immutable’ (tidak dapat disembuhkan). Namun, secara pribadi saya tidak percaya theori itu buktinya banyak sudah orang yang kemudian lepas dan sembuh dari keduanya.

Tanpa tahu banyak tentang masa lalunya, siapapun akan dengan mudah mengira kalau gadis ini telah melalui banyak sekali kekerasan hidup. Tidak seorangpun yang akan sampai pada tahap emosi seperti dia sekarang hanya dikarenakan pengaruh lingkungan yang biasa-biasa. Dengan penasaran saya kemudian meminta ia bercerita tentang masa lalunya dan sekalian meminta izin untuk menulis kisah hidupnya.

Ia kemudian bercerita tentang hal yang membuat saya terganga, tidak percaya. Adakah di dunia ini orang yang diperlakukan demikian kejam???

Kisahnya dimulai sejak usia 3 tahun, ketika ia kehilangan kedua orang tua karena bencana alam. Bersama ke-enam saudara-saudarinya mereka kemudian dibagi-bagikan ke sanak saudara. Gadis ini tinggal dengan Om dan Tante yang kemudian menjadi orang tua angkatnya.

Di rumah itu segala bentuk penyiksaan dan penganiayaan diterimanya. Di pukul dengan balok kayu, dilempar dengan batu karang, dilempar ke bawah kolong mobil berjalan, diperkosa, ratusan pukulan dan makian menjadi makanannya sehari-hari. Kehidupan dan kematian baginya hanya dipisahkan oleh satu tirai yang tipis. Suatu hari ia lari dalam keadaan setengah pingsan karena seluruh tubuh penuh luka dan lumuran darah. Ia hampir tidak dikenal oleh orang yang menemukannya. Dan ketika saya bertanya usianya waktu mengalami semua itu ia menjawab : “tujuh!”.

Dianggap sebagai babu, ia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Bangun jam tiga pagi untuk memasak, mengisi bak mandi besar, membereskan rumah, dan pekerjaan rumah lainnya baru bisa ke sekolah. Dan karena tidak pernah diberi uang ia tidak memiliki pakaian yang pantas atau buku yang bagus. Ia hanya memiliki dua pasang pakaian yang dipakainya secara bergantian. Jika kebetulan pakaiannya dicuci dan tidak sempat kering iapun akan memakainya dalam keadaan basah. Ia biasa mengumpulkan buku dari tempat sampah, mencari halamannya yang kosong dan meng-hekter-nya jadi satu.

Bukan hanya tidak diberi jajan dan sarapan, ia bahkan tidak diberi air minum sebagai bekal ke sekolah. “Kata mereka, air juga kan dimasak dengan minyak!” ceritanya dengan suara tertahan. “Suatu hari karena haus saya terpaksa minum air dari toilet” waktu megenang kisah ini, ia sudah belinangan air mata. Pernah ia dipaksa memakan sisa tepung di dapur, memakan sisa makanan di jalan, atau dimana saja ia bisa temukan makanan untuk mengatasi rasa lapar.

Hebatnya, dalam tekanan dan penderitaan ini semangat belajarnya sangat tinggi. Ia berhasil menyelesaikan Sekolah Menengah. Bekerja sebagai tukang bangunan pun dilakukannya untuk membiayai sekolah. Ia tidak pernah menerima biaya sekolah dari orang tua angkatnya itu. Beberapa tetangga yang kasihan biasanya memberinya pekerjaan kecil sebagai alasan untuk memberinya jajan. Dari uang persenan tetangga sebagai hasil ia ke pasar, bersih-bersih, disuruh ini itu, ia pun bisa membeli seragam, sepatu dan baju. Dan kenangan itu dimulai dari kelas enam SD.

Untung ada kesempatan bagi dia bekerja di luar negeri dan mengumpulkan sedikit uang. Setelah beberapa tahun bekerja ia bertekad untuk melanjutkan sekolah walau dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas. Saat cerita ini diutlis is sedang menggapai cita-citanya yang tertunda untuk kuliah. Semangatnya untuk belajar dan berjuang melawan segala ketidakberuntungan hidupnya sangat menyentuh.

Aku melupakan apa yang dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku (Filipi 3:13).

--

PLANNING VS KEHENDAK TUHAN - Yakobus 4:13-17 E-mail

planning.jpgMenjadi orang kristen itu bisa dikatakan membingungkan. Jika kita membuat sebuah perencanaan, bahkan perencanaan itu sudah matang dan tinggal dikerjakan, apakah semua itu sungguh-sungguh kehendak Tuhan? Tetapi jika kita diam saja, tanpa membuat perencanaan sama sekali, apakah kita tidak memiliki hikmat untuk membuat kebaikan yang akan menolong hidup kita? Padalah, biasanya di awal tahun baru, kita selalu ingin membuat perencanaan bagi hidup kita, minimal untuk tahun yang akan segera dilewati.

Yakobus, seorang gembala sidang di gereja Yerusalem memberikan nasehat praktis bagi jemaat-nya melalui surat yang ditulisnya sebelum ia meninggal dunia sebagai martir. Pada perikop yang berjudul "Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan" memaparkan beberapa prinsip rohani dalam membuat perencanaan dalam hidup manusia.

1. Jangan mengandalkan kemampuan sendiri (13-14)

Pada ayat ini dengan jelas penulis memberikan contoh yang dapat di rangkum dalam beberapa kata : waktu (hari ini atau besok, setahun), tempat (di kota anu), tujuan (berdagang) dan hasil yang diharapkan (mendapat untung). Dalam membuat perencanaan, faktor-faktor diatas memang sangat diperlukan, tetapi seolah-olah manusia tahu bahwa dia dapat mengusahakan sesuatu jika dia mampu melakukannya tanpa mengingat sedikit pun pada Pencipta-Nya yang memberikan hikmat kepadanya untuk memikirkan hal yang baik. Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan hatinya jauh dari Tuhan, diberkati orang yang mengandalkan Tuhan. (Yeremia 17:5, 7).

Sebagai orang percaya, kita perlu mengikutsertakan Yesus dalam membuat perencanaan bagi hidup kita, karena Dialah yang memiliki hidup ini. Yakobus menanyakan "apakah arti hidup kita? Hidup ini seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (14)." Dengan kata lain Yakobus ingin mengatakan bahwa hidup ini sangat singkat, dan kita tidak tahu atau tidak bisa memprediksi kapan akhir hidup tiap-tiap orang, ini adalah rahasia Allah. Oleh sebab itu, dalam setiap perencanaan yang kita buat, jangan lupa untuk mengikutsertakan Yesus sebagai Allah kita, agar rencana yang kita buat berkenan bagi-Nya.

2. Berserah pada kehendak Tuhan (15)

Yakobus, dalam terjemahan lain mengajarkan bagaimana kita harus membuat perencanaan dalam hidup dengan mengatakan "Jika Tuhan menghendaki, dan jika kita masih hidup, saya akan melakukan hal ini dan itu." Kata-kata ini tidak boleh diartikan bahwa kita hanya berpangku tangan saja tanpa mengerjakan atau merencanakan sesuatu. Kata "akan" merupakan kata yang mengacu pada sesuatu yang akan datang atau dalam konteks ini perencanaan. Penekanan Yakobus disini adalah penyerahan total hidup kita pada kehendak Tuhan selama kita masih memiliki kesempatan untuk hidup. Dalam pengertian lain, kita harus mengisi hidup kita dengan sesuatu yang dikehendaki Tuhan, bukan mengikuti keinginan kita sendiri.

3. Jangan congkak (16)

Ketika manusia sudah berada pada puncak kesuksesannya, ia cenderung mengaggap segala sesuatu itu mudah di dapat dan mudah di kerjakan. Apalagi hidup yang bergelimang harta, lebih mudah untuk membuat perencanaan-perencanaan yang besar dan sangat menguntungkan bagi-nya. Bukan hanya dalam hal duniawi, dalam hal rohani pun manusia dapat dengan mudah membuat rencana jika ada sokongan materi yang kuat. Tetapi Yakobus mengingatkan, jangan bermegah dalam kecongkakan. Semua kemegahan yang membawa manusia menjadi sombong adalah salah.

Membuat perencanaan yang baik memerlukan kerendahan hati di hadapan Tuhan, karena kita adalah hamba-Nya yang merencanakan segala sesuatu yang kita kerjakan di dunia ini untuk mensukseskan rencana-Nya yang kekal bagi hidup kita.

4. Peduli (17)

Di akhir perikop ini, Yakobus menegaskan bahwa berdosa orang yang tahu bagaimana harus berbuat baik, tetapi tidak melakukannya. Jika kita tahu sesuatu yang baik yang harus kita kerjakan, maka kita harus mengerjakannya dengan tulus dan tidak menghindarinya. Perduli dengan semua disekeliling kita, bahkan merencanakan dan melakukan segala yang baik di hadapan Tuhan dengan tulus, bukan membiarkan atau menghindarinya, karena jika demikian kita akan berdosa.

Dalam mengawalai tahun baru ini, sangat baik membuat perencanaan yang akan menolong hidup kita lebih terarah dan teratur. Tetapi jangan melupakan prinsip-prinsip yang telah diajarkan oleh Yakobus kepada kita untuk : tidak mengandalakan kemampuan sendiri, berserah pada kehendak Tuhan, jangan congkak dan perduli pada pekerjaan baik. Tuhan Yesus memberkati. By Anie

--

BERPIKIR POSITIF E-mail

Suatu ketika di Negara Eropa, seorang kriminal buronan negara berhasil

tertangkap. Sang kriminal adalah buronan kelas kakap yang telah melakukan

banyak sekali kejahatan, perampokan, pembunuhan, terorisme dan tidaklah

terhitung daftarnya.


Pengadilan Negara menjatuhkan vonis hukuman mati kepadanya dan mereka mulai

mendiskusikan hukuman apa yang akan mereka berikan kepada sang kriminal.

Mereka memilih beberapa alternatif, diantaranya hukuman gantung, hukuman

tembak, kursi listrik, ruang beracun, dll.

Pada saat diskusi tersebut berlangsung, seorang ilmuwan mencadangkan suatu

metode baru sebagai percobaan untuk memberi vonis hukuman mati, suatu

metode yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Mereka pun mendengarkan ide

tersebut dan akhirnya mereka pun menyetujui ide tersebut dan membiarkan

sang ilmuwan melakukan riset terhadapnya.

Sang kriminal dimasukkan kedalam suatu ruangan dan dibaringkan dengan tubuh

terikat. Matanya ditutup dan dibisikkan

"Kamu akan segera dihukum mati! dengan metode terbaru maka urat nadi di

pergelanganmu akan kami potong dan darahmu akan segera menetes. Kamu tidak

akan merasa sakit karena teknologi yang kami gunakan sangat canggih.

Darahmu akan menetes perlahan-lahan dan akan membiarkan dirimu mendengar

suara tetesannya. Secara perlahan kamu akan kehabisan darah dan tubuhmu

akan melemah, detak jantungmu semakin perlahan.. semakin lemah.. sampai

akhirnya kamu akan mati !”

Mereka pun kemudian eksekusi, sang kriminal mulai merasakan potongan di

pergelangan tangan kanannya, segera ia merasakan aliran darahnya menetes..

tes..tes... suara tetesan tersebut membuatnya tahu bahwa dia semakin

kehilangan darah.. dan tubuhnya semakin lemah.. sampai jantungnya berdetak

semakin perlahan.. dan tragisnya diapun mati.

Ironisnya... walaupun sang kriminal tersebut mati. Dia tidak sempat

menyadari bahwa percobaan yang dilakukan terhadapnya bukanlah teknologi

canggih untuk memotong pergelangannya. Tetapi.. yang mereka lakukan

hanyalah.. mengambil sepotong es dingin yang tajam.. kemudian digunakannyathink.jpg

potongan tersebut melewati pergelangannya yang sesungguhnya tidak memotong

apapun!

Sang kriminal, yang dibuat percaya bahwa pergelangannya telah dipotong,

mengikuti semua sugesti palsu yang dikatakan oleh sang ilmuwan. Walaupun

yang dikatakan palsu, tetapi sugesti tersebut menjadi 'kenyataan' karena

sang kriminal memang mempercayainya!

Apa inti cerita diatas?? Dalam otak kita, ada sesuatu yang dinamakan alam

bawah sadar, dan apapun yang kita berikan kedalamnya, akan menjadi

kenyataan! Tubuh kita akan mempercayai informasi apapun, walaupun itu

palsu! Jika kita mempercayainya, maka tubuh kita akan bereaksi seolah-olah

itu adalah kenyataan. Sama juga dengan kehidupan, Jika Anda menonton TV

yang membentuk pikiran Anda dengan hal-hal yang tidak berguna setiap

harinya.. maka diri andapun menjadi pribadi yang tidak berguna.

Karena itu, jika Anda menginginkan hal yang terbaik segera isilah pikiran

Anda dengan hal-hal positif.. Jika ingin kaya.. isilah otak Anda dengan

kekayaan.. Jika ingin sukses, isilah pikiran Anda dengan kesuksesan.

Statistik menyatakan 90% dari orang di sekitar Anda adalah Negatif! Apakah

Anda salah satunya?? Jika ya, maka segera keluarlah dari zona nyaman Anda

serta isilah segera diri Anda dengan ide-ide dan kepercayaan dari 10% orang

yang kaya dan sukses!!! Kebanyakan orang berpikir bahwa 'Orang Kaya' itu

berbeda, mereka lebih pintar, mereka lebih beruntung, atau lebih

berpendidikan daripada kita.

Sesungguhnya 'Orang Kaya' berbeda karena mereka berpikir dengan cara yang

berbeda!!! Jika Anda ingin menjadi seperti mereka, maka Anda harus belajar

kepercayaan- kepercayaan dan pola pikir mereka tentang uang. Jika Anda ingin

kaya, buang semua kepercayaan lama, ubah mindset negatif Anda tentang uang,

ubah kepercayaan Anda tentang uang, maka Anda akan segera berhenti mengejar

uang, dan yang terjadi malah sebaliknya Uang yang akan mengejar Anda!!!

Untuk mengubah keadaan di sekitar Anda, semua harus dimulai dari dalam

pikiran Anda dan dari kepercayaan Anda.. ~Ishak~

--

FOKUS E-mail
"Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya. Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu."(Lukas 11:33-34)

231-focus.jpgPhrase "jika matamu baik" dalam King James Version :when thine eye is single, ini adalah suatu ekspresi tentang fokus, pikiran yang terpusat, tujuan yang terpusat. Dengan kata lain, waktu kita fokus, maka pikiran kita akan dibanjiri dengan ide-ide kreatif untuk menggenapi tujuan kita. Tetapi kreativitas tidak akan dilepaskan kalau pikiran kita tidak fokus.

Ada kekuatan di saat kita fokus. Hal ini bisa kita pelajari dari terang. Terang yang difokuskan memiliki kekuatan yang luar biasa. Misalnya saja: terang matahari yang difokuskan lewat kaca pembesar bisa membakar kertas, sinar laser yang bisa mengoperasi tanpa menyayat tubuh, sinar laser yang bisa memotong baja dsb. Sinar yang terfokus dengan sinar yang tidak terfokus memiliki kekuatan yang berbeda dan prinsip yang sama juga berlaku untuk area-area dalam kehidupan kita.

Jadi fokus dan kekuatan yang ada pada fokus membuat segala informasi tentang ide-ide memusat pada satu titik dan menghasilkan suatu kekuatan. Paulus juga berbicara tentang mengarahkan seluruh kekuatan, memfokuskan pada sasaran dalam Filipi 3:13-14. Dia tidak mau terlibat dalam hal-hal yang tidak menguntungkan pencapaian tujuannya walaupun dia mungkin memiliki kebebasan untuk melakukan hal tersebut.

Yesus pun adalah pribadi yang sangat fokus pada tujuan-Nya. Di hadapan Pilatus Dia dengan penuh keyakinan menyatakan alasan keberadaan-Nya di bumi ini (Yohanes 18:36-37 To this end was I born, and for this cause came I into the world). Dia menyadari bahwa untuk bisa mencapai tujuan-Nya ada sengsara (salib) yang harus Dia lewati. Tetapi Dia fokus terhadap sukacita yang ada di balik salib tersebut.

Dalam Amsal 4:25-27 ditulis, "Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan." Ayat ini berbicara tentang prinsip untuk tetap fokus pada tujuan kita.

Setan akan "mengganggu" kita dari pencapaian kita akan tujuan kita. Dan dia akan menggunakan beberapa cara untuk "mengganggu" kita :

a. Tipuan

Hal ini terjadi waktu kita menerima kebohongan sebagai suatu kebenaran, hal yang invalid sebagai hal yang valid. Yesus pun pernah dicobai untuk menjadi raja tanpa melalui proses salib.

b. Salah Tempat

Setan akan berusaha mengeluarkan kita dari lokasi dimana kita mendapat support lingkungan dan hubungan agar kita bisa menggenapi tujuan kita. Ada banyak orang Kristen yang tidak mau komit dengan suatu gereja tertentu karena ada konflik dengan orang-orang di gereja tersebut yang sebenarnya justru Tuhan tempatkan untuk membantu mereka menggenapi tujuan mereka.

c. Kekacauan

Kalau ini terjadi maka segalanya akan berantakan. Pada waktu itu Saudara akan bertanya-tanya, mengapa saya sampai di sini? Bagaimana saya sampai di sini?

d. Iri Hati

Iri hati adalah roh kompetisi. Waktu Saudara tidak melihat lagi tujuan Tuhan bagi Anda sedangkan Anda malah melihat tujuan Tuhan bagi orang lain, maka iri hati mulai muncul. Saudara mulai berkompetisi dengan orang tersebut dan kehilangan fokus. Setiap kita memiliki sebuah tujuan yang spesifik dari Tuhan (Yohanes 3:27), karena itu jangan sampai kita disibukkan dengan mengurusi tujuan Tuhan bagi orang lain. Petrus pernah melakukan ini. Yesus sementara bernubuat kepada dia, tetapi dia "lebih sibuk" mengurusi apa yang akan Tuhan kerjakan dalam kehidupan Yohanes! (Yohanes 21:15-23)

Fokus juga bukan berarti kita tidak sadar dengan keadaan sekeliling kita, tetapi fokus adalah kita tetap sadar akan keadaan sekeliling namun kita konsensrasi pada apa yang Tuhan mau untuk kita kerjakan. Tuhan Yesus memberkati. -chc-

--

Penjaga Mata Air E-mail
Charles R. Swindoll

air.jpgPeter Marshall almarhum, seorang pembicara yang fasih dan menjadi pendeta di Senat Amerika Serikat selama beberapa tahun, sering mengisahkan cerita tentang “Si Penjaga mata Air,” seorang penghuni hutan berpembawaan tenang yang tinggal di dataran tinggi di pedusunan Austria, sepanjang lerang Pegunungan alpen bagian Timur. Pria tua itu dipekerjakan oleh dewan kota untuk membersihkan sampah pada genangan air di celah-celah gunung yang mengalir ke sumber mata air indah yang melewati kota mereka. Dengan setia dan teratur ia berpatroli mengelilingi bukit, membuang ranting-ranting dan dedaunan, juga limbah yang berpotensi menyumbat dan mencemari air. Segera dusun tersebut menjadi tempat yang memiliki daya tarik dan popular bagi para pengunjung. Angsa-angsa yang anggun berenang di sepanjang air yang jernih, kincir angin yang menggerakkan roda bisnis di daerah itu berputar siang-malam, tanah pertanian mendapatkan irigasi secara alamiah, dan pemandangan yang tampak dari restoran sangat indah bagai lukisan.

Tahun demi tahun berlalu. Pada suatu hari dewan kota mengadakan rapat enam bulanan. Saat meninjau anggaran, seseorang menyoroti masalah gaji yang dibayarkan kepada penjaga mata air yang tidak dikenalnya. Sang bendahara berkata, “Siapa orang itu? Mengapa kita terus mempertahankannya? Tak seorang pun pernah melihatnya. Kita semua tahu penjaga yang tak dikenal itu tak ada gunanya. Ia tidak diperlukan lagi!” Dengan suara bulat mereka memutuskan untuk memecat pria itu.

Selama beberapa minggu tak ada yang berubah. Menjelang musim gugur daun-daun mulai berguguran. Ranting-ranting kecil bergemeretak dan jatuh ke dalam kolam, menghambat aliran air yang berkilauan. Pada suatu siang seseorang melihat setetes warna coklat kekuningan di mata air itu. Beberapa hari kemudian warna air itu bertambah gelap. Setelah seminggu, selaput tipis mulai menutupi sebagian air dan segera tercium bau tak sedap. Kincir-kincir angin berputar lebih lambat, dan beberapa diantaranya akhirnya berhenti. Angsa-angsa mulai meninggalkan tempat itu, demikian pula para turis. Tangan-tangan yang basah berkeringat karena penyakit mulai merambah desa-desa.

Segera para anggota dewan yang malu akan tindakan mereka mengadakan pertemuan khusus. Setelah menyadari telah melakukan penilaian yang salah, mereka mempekerjakan kembali penjaga mata air itu. Dan beberapa minggu kemudian mata air itu mulai jernih kembali. Kincir-kincir angin mulai berputar, dan dusun kecil di Pegunungan Alpen itu sekali lagi menampakkan tanda-tanda kehidupan.

Meski terdengar seperti khayalan, kisah di atas bukanlah dongeng pengisi waktu. Kisah tersebut menyajikan analogi yang sangat jelas, relevan, dan berkaitan langsung dengan jaman kita hidup. Peranan dari penjaga mata air bagi dusun tersebut sama pentingnya dengan peranan hamba-hamba Kristus bagi dunia. Garam yang mengawetkan dan memberi rasa serta sinar yang menerangi dan member pengharapan mungkin tampak kecil dan tak berarti, namun tak ada masyarakat yang dapat hidup tanpa keduanya! Ketahuilah, tanpa sang Penjaga Mata Air, dusun itu merupakan cerminan yang tepat dari dunia yang tidak memiliki garam dan terang.

--

* Mahasiswa
* Kesaksian Alumni
* Editorial Newsletter

Harapan Yang Membawa Perubahan E-mail

Jack Canfield

Sejak kecil saya mengalami kecacatan dalam cara saya melihat sesuatu yang disebut dyslexia. Anak dyslexia dapat belajar mengenai kata dengan cepat. Namun anak dyslexia sulit untuk mengenali kata huruf demi huruf,karena huruf-huruf tersebut seolah “terbang ke sana kemari”. Saya tidak dapat melihat seperti anak-anak lain melihatnya. Karena kelemahan ini, saya menjadi seorang pemalu, gugup, dan tidak dapat belajar membaca, matematika atau pelajaran lain dengan normal. Di kelas 5 SD, guru saya, Ibu bardy merupakan guru yang lain dari pada yang lain.

Ia merangkul saya dan berkata, ”Kamu tidak cacat, tetapi sedikit istimewa dan berbeda dari yang lainnya.” Ia memberikan perhatian dan dukungan yang sangat positif pada saya. Ia membantu saya untuk belajar dan akhirnya saya berhasil. Dua tahun saya berada di bawah pimpinannya, kelas 5 dan kelas 6 SD. Walaupun saya tidak lagi berada dibawah pimpinannya, saya terus berhubungan dengan Ibu Hardy tahun demi tahun. Beberapa tahun lalu saya dengar bahwa ia menderita sakit kanker ganas yang akan merengut nyawanya. Dengan segera saya membeli tiket pesawat untuk mengunjunginya. Ternyata tidak hanya saya yang datang, namun sebuah kelompok besar, ratusan bekas muridnya mengunjunginya. Suatu kelompok yang luar biasa: 3 senator Amerika, 12 gubernur Negara bagian, dan puluhan CEO. Yang paling menarik dari kumpulan ini, yaitu kami semua masuk ke kelas 5 SD dengan penuh ketakutan karena kami merasa tidak sanggup. Namun Ibu Hardy percaya bahwa kami adalah orang-orang yang mampu, penting dan berpengaruh, yang dapat membawa perubahan bagi dunia ini. Dan itulah yang terjadi….

--

Saling Percaya E-mail

Steve Stephens

Kasih percaya akan segala hal.
Pada tahun 1910 DeWitt Wallace mendapat ide untuk menerbitkan majalah. Majalah itu akan berisi kumpulan ringkasan artikel, dan ia akan menamakannya Reader’s Digest. Ia membuat contoh untuk diusulkan dan dikirimkan ke para penerbit di seluruh Negara. Tampaknya tak satu pun dari mereka tertarik. DeWitt benar-benar merasa putus asa.

Pada saat itulah ia berkenalan dengan Lila Bell Acheson, putrid seorang pendeta Presbyterian. Tak lama kemudian keduanya saling jatuh cinta. Lila menaruh keyakinan pada impian DeWitt. Ia tidak membiarkan DeWitt putus asa dan mendorongnya untuk terus berusaha mewujudkan gagasannya yang sangat bagus untuk menerbitkan majalah itu. Didukung oleh keyakinan Lila pada dirinya, DeWitt mulai mengirimkan beberapa surat edaran kepada para calon pelanggan yang potensial.

Pada bulan Oktober 1921 DeWitt menikah dengan Lila. Sekembali dari bulan madu, mereka menemukan setumpuk surat dari calon pelanggan yang berminat. Bersama-sama mereka mengerjakan Volume 1, nomer 1, yang terbit pada bulan Februari 1922. DeWitt Wallace menuliskan nama lila Bell Acheson sebagai pendiri, editor, dan pemilik bersama. Tahun berganti tahun, majalah mereka yang kecil semakin berkembang. Kini Reader’s Digest dicetak dalam sekurang-kurangnya delapan belas bahasa dan merupakan majalah terlaris di dunia.

DeWitt dan Lila bukan sekadar pasangan suami-istri, tetapi juga teman sejati. Mereka saling member semangat, saling mendukung, dan saling mempercayai. Mereka bekerja bahu-membahu untuk mewujudkan impian mereka, dan mereka saling menghormati. DeWitt pernah berkata, “Saya rasa Lila-lah yang membuat Reader’s Digest menjadi kenyataan.” Saya dapat membayangkan bahwa Lila akan mengatakan hal yang sama mengenai DeWitt.

Ya, kasih percaya akan segala hal. Kasih tetap bertahan demi meraih impian yang tampaknya mustahil, member semangat untuk berjuang mencapai impian itu, dan bersorak-sorai saat impian itu pada akhirnya menjadi kenyataan.

--

Mengatasi Badai Hidup E-mail

Billy Graham

Selama tiga tahun terakhir saya belajar untuk memandang rumitnya badai kehidupan dengan cara yang baru, yakni ketika hidup saya dilanda badai penyakit. Peristiwa itu terjadi bersamaan dengan perubahan politik besar-besaran di akhir tahun 1989 dan menjelang awal 1990. Pada saat itu saya mengalami berbagai perubahan.
Awalnya tangan saya terasa gemetaran. Mungkin kegiatan saya terlalu padat. Tak lama kemudian saya juga mengalami kesulitan saat harus berjalan agak jauh atau melakukan pekerjaan sepele seperti menaiki tangga mimbar untuk berkotbah. Akhirnya saya memeriksakan diri ke klinik di Mayo. Dokter mengatakan bahwa saya terserang gejala awal penyakit Parkinson. Tentu saja bukan berita seperti itu yang ingin saya dengar. Namun meski cukup mengejutkan, saya berusaha untuk tidak menanggapinya secara berlebihan. Saya mencoba bersikap tenang, mengikuti semua anjuran dokter, dan melihat apakah saya bisa mengatasi penyakit ini atau tidak.


Selama sekitar 20 tahun terakhir saya telah bergumul dengan berbagai penyakit, mulai dari yang berat sampai yang ringan. Ini merupakan pengalaman baru bagi saya, tetapi saya bersyukur semuanya dapat saya lalui dengan baik. Saya hanya diminta untuk bnayak beristirahat, dan setelah beberapa saat dokter pun mengatakan bahwa ia puas dengan kemajuan saya.
Pada dasarnya iman Kristen juga demikian. Ada darah, keringan, dan airmata. Allah memanggil kita menjadi pengikutNya bagaimanapun keadaan kita. Saat kita dating kepadaNya, Dia mengambil alih semua masalah kita – doa, kesalahan, keterasingan, keputusasaan, dan keterpisahan dari Allah – dan berfirman kepada kita, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu” (Matius 11:29). Tak ada beban yang terlalu berat untuk dipikul, karena Allah ikut memikulnya bersama kita. Yesus juga berkata, “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun rinagn” (Matius 11:30). Allah memanggil kita untuk mengikut Dia, berapapun harga yang harus kita bayar. Dia tidak pernah berjanji jalan hidup kita akan sealu mulus. Tak ada kehidupan yang tidak bermasalah. Jika di masa muda saya memutuskan untuk menyerahkan hidup kepada Allah, itu bukan karena saya berharap Dia akan mengatasi semua kesulitan saya. Bukan, bukan karena itu. Saya percaya kepadaNya karena Dia menjanjikan hidup yang kekal. Saya percaya dia akan selalu menyertai dan member kekuatan kepada saya dalam mengatasi berbagai masalah yang saya hadapi. Mungkin saya tidak selalu dapat memahami maksudNya, namun saya percaya Allah akan selalu menolong saya untuk memiliki hidup yang berkemenangan. Itulah yang telah dilakukanNya selama ini, bahkan lebih dari itu.
Corrie Ten Boom sering berkata, “Yang terburuk boleh terjadi, namun yang terbaik pasti akan dating.” Pesan ini sungguh indah, karena mau tak mau kita semua harus menghadapi badai dalam hidup. Tidak ada yang menandingi indahnya kehidupan baru dalam Kristus, yang belum tentu mudah untuk dijalani. Namun seperti yang saya katakana, saya terus belajar tentang kebenaran ini hari demi hari.

--



* Article
* Inspirational
* Kesaksian Mahasiswa
* Kesaksian Alumni
* Editorial Newsletter

Melayani Yesus E-mail

Penny Carlevato

Sambil menyeberangi tempat parkir menuju rumah sakit pada suatu siang di bulan Agustus, saya meminta Tuhan memakai saya untuk menyatakan kasih-Nya kepada pasien-pasien saya. Sebagai perawat, saya memiliki banyak kesempatan untuk berdoa bagi para pasien dan keluarga mereka, dan menjadi bejana yang dipakai Allah. Hati saya sangat sedih hari itu karena teringat akan pasien saya, Donald: seorang pria yang beristri cantik dan dikaruniai putra berusia dua tahun. Donald diidagnosa menderita leukemia kira-kira setahun yang lalu, dan staf perawat mengamati bahwa kesehatan tubuhnya semakin lama semakin memburuk. Menjelang hari-hari terakhirnya, istrinya yang masih muda dan cantik terus menjaganya di sisi tempat tidurnya. Seringkali istrinya menyelinap keluar, bersandar pada dinding dan menangis. Jika putranya melihatnya, ia kan melingkarkan lengannya yang monthok di kaki ibunya dan bertanya, “Bu, mengapa Ibu sedih?” Ketika Donald pertama kali dirawat di rumah sakit, ia ramah dan menyenangkan. Namun selanjutnya, setiap kali menjalani kemoterapi, ia menjadi pemarah dan suka menyendiri. Setiap perawatan membuatnya tinggal lebih lama di rumah sakit, dan bila ia menjadi pasien saya, saya selalu berdoa, “Ya Tuhan, berilah saya kata-kata yang tepat, dan tolonglah agar ia mau membuka hati untuk mendengar tentang Engkau.” Ia tetap sopan seperti dulu, tetapi jarang berbicara, dan itu membuat saya hanya memiliki sangat sedikit kesempatan untuk bercerita.
Dalam kebaktian di gereja pagi itu, seorang pendeta tamu berkotbah di Matius 25:42-44 dan mengatakan bahwa jika kita melayani orang lain, itu berarti kita juga melayani Yesus. Saya tahu bagaimana orang lain dapat memperoleh berkat Yesus melalui kita, tetapi saya kurang paham bagaimana kita bisa dikatakan telah melayani Dia saat kita melayani orang lain. Maka pagi hari itu saya berdoa agar Tuhan menunjukkan bagaimana saya dapat melayani-Nya melalui orang lain. Tetapi hal itu sudah terlupakan ketika saya tiba di tempat kerja.
Pada pukul 8 malam saya mulai berjalan dari kamar ke kamar untuk mengecek. Akhirnya saya sampai di kamar Donald, dan saya masuk, saya berdoa agar Tuhan membukakan hati Donald dan menolong saya melayaninya. Saya merasa bahwa saat ini mungkin merupakan saat terakhir saya dapat merawatnya. Tubuh Donald menjadi sangat kurus sehingga setiap tulang belakang dan sendinya tampak melalui kulitnya yang putih. Ia selalu duduk karena tak dapat bernapas bila berbaring. Ia membungkukkan tubuh dan bersandar pada kerangka berbentuk T berisi bantalan yang dibuat oleh seorang sahabatnya. Kamar itu tampak suram dan sunyi, yang terdengar hanya desah napasnya yang tersengal-sengal. Saya memberinya obat, menggantungkan botol infuse baru dan merapikan tempat tidur.
“Pak Donald,” panggil saya dengan suara pelan, “apa yang dapat saya lakukan agar Anda merasa lebih nyaman?”
Ia menjawab dengan suara pelan yang lembut namun parau, seperti suara pria berusia setengah baya dan bukan pria berusia tiga puluhan, “Tolong gosokkan punggung saya, sakit sekali.”
Sambil menggosokkan minyak pada punggungnya dengan hati-hati, saya mulai berdoa dan kembali memohon kata-kata yang tepat dari Allah. Namun tak sepatah kata pun muncul dalam benak saya. Saya memejamkan mata dan memusatkan pikiran pada Yesus sambil terus memijat punggungnya yang lemah dengan hati-hati. Donald terlihat lebih santai, napasnya lebih tenang dan teratur. Kedamaian memenuhi kamar itu. Saya membuka mata dan melihat bahwa yang duduk di atas tempat tidur bukan lagi Donald, melainkan Yesus! Segera saya menutup mata lagi. Saya pasti salah lihat! Lalu saya mengintip – Ya, benar-benar Yesus! Saya terus menggosok punggung Yesus dan kedamaian yang sempurna memenuhi kamar itu. Kemudian berangsur-angsur tampaklah kembali Donald di tempat tidurnya.
Ia telah tertidur. Perlahan saya meninggalkan kamar itu. Terima kasih, Yesus. Saya tidak tahu bagaimana saya dapat melihatMu, namun yang pasti saya telah melihatMu! Saat itulah saya menyadari bahwa jika kita mau meberi diri dan melayani orang lain, berarti kita benar-benar sedang melayani yesus.

--

Paulus Sang Pewarta Rahmat E-mail

Bayu Probo

Peletak dasar iman Kristen, terus mewartakan Kabar Baik walaupun dirintangi kelemahan fisik. Ia setidaknya mengarungi 9.000 km, tiga kali didera, sekali dirajam, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam terkatung-katung di tengah lau (2 Kor. 11:25). Itu semua demi memberitakan rahmat Kristus.

Pertobatan

Seorang pemuda Farisi, yang sedang memperdalam ilmu agama di Yerusalem, siang itu berada di tengaj keributan dan kemarahan. Ia juga marah merasa ada yang menodai agama dan Allahnya. Sewaktu orang-orang memutuskan merajam Stefanus “si penghujat itu,” pemuda itu pun mengalaminya (Kis. 7:54 – 8:1).

Saulus, nama pemuda itu, ternyata tidak berhenti di situ. Ia meminta surat kuasa dari Imam Besar untuk menyeret orang-orang Yahudi pengikut Kristus di Damaskus, Suriah ke Yerusalem untuk dipenjarakan. Namun, sewaktu mendekati kota itu, tiba-tiba secercah sinar dari langit memancar di sekelilingnya. Ia jatuh ke tanah lalu mendengar suara berkata kepadanya, “Saulus, Saulus! Apa sebabnya engkau menganiaya Aku?” “Siapakah Engkau, Tuan?” Tanya Saulus. Suara itu menjawab, “Akulah Yesus, yang engkau aniaya (Kis. 9:1-5). Itulah awal pertobatan Saulus yang lebih terkenal dengan nama Yunaninya, Paulus. Paulus, rasul besar penulis paling produktif kitab Perjanjian Baru.

Latar Belakang

Sang rasul punya latar belakang unik. Dilahirkan di Tarsus, Turki, kota berbudaya Yunani dan akademis dengan banyak perpustakaan. Orang tuanya orang Yahudi terpelajar dan berwarga negara Roma. Namun, di sisi lain, walau berwarga negara Roma, ia mengaku disunat pada hari kedelapan, keturunan Benyamin, Israel, dan orang Farisi (Flp. 3:5). Perpaduan unik ini muncul dalam tulisan-tulisannya.

Sebagai orang Farisi taat, ia harus menghidupi dirinya dengan tangannya. Oleh karena itu, ia punya pekerjaan sebagai tukang kemah. Profesi yang tidak pernah ia tinggalkan walau sedang memberitakan Injil (Ki. 3:18).

Pelayanan

Sejak kejadian di Damaskus itu, Paulus melayani Allah dengan cara baru. Awalnya is merasa menaati Taurat dengan teliti, akan menyenangkan-Nya. Namun, ia keliru dan bertobat. Ia kini menyatakan “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa denga Dia dalam kematiann-Nya (Flp 3:10). Dan, untuk itulah ia bersemangat mengabarkan kabar Baik ini ke mana pun ia dapat menjangkau. Kitab Kisah Para Rasul menceritakan sepak terjang Paulus ini. Ia menjadi penginjil paling berhasil di jamannya walaupun mengalami kelemahan fisik yang cukup mengganggunya (2 Kor. 12:7-10).

Akhir Hidup

Tidak ada catatan tertulis tentang akhir hidupnya. Kisah Para Rasul 28 seperti terputus. Di situ hanya dikisahkan Paulus dalam tahanan. Menutut tradisi, ia mati dipenggal di Roma pada jaman Kaisar Nero. Namun, kematiannya tidak mematikan benih-benih Injil yang ditabur bertumbuh hingga sekarang.

Inti ajaran Paulus yang menegaskan bahwa keselamatan manusia adalah rahmat Kristus (Rm. 3:24). Ia juga menuliskan inti kekristenan adalah kasih dan ia menjabarkannya dengan sangat indah dalam 1 Korintus 13. seorang yang dahulu dikuasai kebencian kini mengakui, “Demikian tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Kor 13:13).

Sumber: Duta Bagi Kristus, Intisari No. 71




Berdamai dengan Masa Lalu E-mail

Welko Henro Marpaung

Masa lalu yang kelam telah menjadi momok menakutkan bagi banyak orang. Keluarga yang broken home, pelecehan seksual di masa kanak-kanak, pola pengasuhan yang salah, kesulitan ekonomi yang akut, ditinggal kekasih, narkoba dan sebagainya. Keadaan ini menjadi bayangan kelam yang mengejar sepanjang perjalanan kehidupan. Situasi ini menjadi beban yang menghambat untuk mencapai kepenuhan potensi diri. Lingkaran setan masa laulu bagaimanapun beratnya haruslah diputuskan. Caranya adalah berdamai dengan masa lalu. Merekonstruksi ulang makna masa lalu dalam kehidupan kita. Kalau dulu masa lalu dimaknai dengan ingatan yang membangkitkan kekesalan dan putus asa di dalam hati, kini masa lalu dimaknai sebagai keadaan yang mengarahkan kita pada rencana ilahi. Bukankah Dia sanggup menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya?

MEMBUKA DIRI UNTUK SEBUAH PROSES

Kesadaran bahwa ada sesuatu yang salah dengan kehidupan berkaitan dengan cara menyikapi masa lalu merupakan sebuah modal untuk melangkah ke jenjang berikutnya dari tangga menuju pemulihan. Trauma seseorang akan masa lalu kerap kali membuat mereka mempertanyakan kemampuannya mengatasi kenangan tersebut. Pertanyaan yang tepat untuk diajukan adalah maukah ia menggumulkan secara sungguh-sungguh proses pemulihan itu.

TITIK BALIK

Titik balik yang saya maksudkan dalam hal ini adalah keadaan yang memberikan energy bagi seseorang untuk berdiri dan secara tegas berkata ini merupakan hal yang salah dan tidak pantas diteruskan. Titik balik ini adalah situasi yang menyadarkan seseorang bahwa ia bukanlah korban dari keadaan, namun keadaan menjadikan ia korban tatkala ia mengizinkan hal tersebut.

Kerapkali orang yang terbelenggu dengan masa lalu digoda untuk mengatakan bahwa dirinya tidak beruntung. Dirinya adalah orang yang paling sial di dunia. Oleh sebab itu penting sekali bagi mereka untuk menemukan momentum titik balik.

Bill Wilson adalah gambaran seorang yang memiliki masa lalu yang kelam. Hidup dalam kemiskinan, orang tuanya bercerai, ibu yang alkoholik, ayah yang sakit-sakitan, bullying oleh teman-teman seusianya. Ia bahkan mengaku tidak pernah merasa dicintai oleh orang tuanya. Keadaan ini menjadikan Bill tidak percaya diri dan selalu menyendiri. Klimaksnya adalah pada usia emp[at belas tahun, ia ditinggal oleh ibunya di sebuah trotoar. Dalam keadaan yang begitu menyedihkan, seorang diaken dari dari sebuah gereja local menghampirinya selama tiga hari melihatnya luntang-lantung. Diaken yang bernama Dave Rudenis itu memberinya makan dan menawarinya untuk mengikuti retreat kaum muda. Dalam salah satu kebaktian, ia mengalami titik balik dalam kehidupannya. Remaja kurus kerempeng dengan gigi menonjol keluar dan rahang yang tampak cacat dan celana yang selalu berlubang itu untuk pertama kalinya mendengar ada Tuhan yang mau mati bagi dia, Pribadi yang mengasihinya. Bill menyatakan bahwa masa depannya tidak akan pernah sama lagi sejak malam itu. Bill kemudian dikenal sebagai pendiri Metro ministries International di Brooklyn New Yerk. Organisasi pelayanan yang menjangkau lebih dari 22.000 anak setiap minggu.

TEKAD

Perjalanan berdamai dengan masa lalu pastilah dipenuhi dengan rintangan, halangan, dan onak duri. Mungkin saja itu adalah intimidasi dalam diri sehingga dorongan untuk tidak memperjuangkan pemulihan menghujam dengan keras. Disinilah diperlukan tekad. Kemauan yang pasti, kebulatan hati. Niat dikombinasikan dengan tekad akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa untuk melangkah terus di tengah hujan intimidasi.

Berdamai dengan masa lalu memerlukan ruang kegagalan. Barangkali kita ingin mundur, ingin pasrah, sambil bernyanyi sendu "takdir memang kejam," menerima keadaan secara negative. Kita harus menyadari bahwa di tengah perjalanan menuju perubahan yang lebih baik rintangan dan halangan akan terjadiu. Kalaupun kita jatuh tersungkur dan kemudian berniat untuk berhenti bahkan lebih parah lagi mundur, tekad memungkinkan kita untuk terus bangkit dan kembali pada track pemulihan.

MENGUBAH PERSPEKTIF

Manusia hanya dapat melihat secara pasti masa lalu dan masa kini. Masa depan adalah proyeksi dari apa yang kita putuskan pada hari ini. Banyak orang yang dibelenggu oleh masa lalu karena memproyeksikan masa depan berdasarkan masa lalu sehingga membuat keputusan yang salah pada masa kini.

Berdamai dengan masa lalu artinya bersedia untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda terkait dengan sebuah peristiwa ataupun rentetan peristiwa yang tidak menyenangkan dalam kehidupan. Saya mengenal seorang teamn yang memiliki masa lalu yang tidak "bersahabat" sehubungan dengan narkoba. Hari ini dia menjadi pemimpin dari sebuah pasnti rehabilitasi korban narkoba. Dulu ia mengutuki kemalangannya. Tapi, perspektif yang benar membawanya menjadi seorang yang sangat efektif dalam mengangkat orang keluar dari lubang narkotika.

Mulai hari ini, melangkahlah dengan kemauan yang besar, kebulatan tekad. Bagaikan kerang yag tetap bertahan waktu merasa kesakitan akibat kemasukan benda asing dalam tubuhnya, pandanglah masa lalu yang menyakitkan pun potensial untuk memproduksi mutiara-mutiara kehidupan yang indah. Dennis Waitley, seorang pembicara, motivator dan penulis terkenal berkata, "Ada dua pilihan utama dalam kehidupan: menerima keadaan sebagaimana adanya atau menerima tanggung jawab untuk mengubahnya." Berdamailah dengan masa lalu dan maknailah masa lalu dengan benar!

Sumber: Inspirasi No. 7

7 Sikap Pemenang vs. Pecundang E-mail

Jimmy B. Oentoro

1. Pemenang berkata, “Mari kita cari tahu…”

Pecundang berkata, “Tidak ada seorang pun yang tahu…”

2. Ketika seorang pemenang berbuat kesalahan, ia berkata, “Aku memamng salah…”

Ketika seorang pecundang berbuat kesalahan, ia berkata, “Bukan salahku…”

3. Pemenang berjalan menghadapi masalah.

Pecundang berputar-putar dan tidak pernah menyelesaikannya.

4. Pemenang membuat komitmen.

Pecundang membuat janji-janji.

5. Pemenang berkata, “Aku memang baik, tetapi belum sebaik yang seharusnya…”

Pecundang berkata, “Aku tidak seburuk seperti kebanyakan orang lain…”

6. Pemenang berusaha untuk belajar dari mereka yang lebih baik darinya.

Pecundang berusaha menghancurkan mereka yang lebih baik darinya.

7. Pemenang berkata, “Seharusnya ada cara lebih baik untuk mengerjakan hal ini.”

Pecundang berkata, “Dari dulu memang begini caranya…”

--

Galeri Iman E-mail

Jimmy B. Oentoro

*
Setelah kehilangan pendengarannya secara berangsur-angsur dalam beberapa tahun, composer dari Jerman, Ludwig von Beethoven menjadi tuli pada usia 46 tahun. Tetapi, ia menulis musiknya yang paling indah, termasuk lima simfoni pada tahun-tahun terakhir hidupnya.
*
Franklin D. Roosevelt lumpuh karena polio pada umur 39 tahun, tetapi ia menjadi salah seorang presiden Amerika yang disukai dan pemimpin yang memberikan pengaruh yang besar. Ia dipilih menjadi presiden Amerika selama empat kali.
*
Winston Churchill tidak naik kelas saat ia kelas 6 SD. Ia baru menjadi perdana menteri Inggris pada usia 62 tahun, setelah mengalami kegagalan dalam kehidupan yang cukup panjang. Sumbangannya yang sangat besar bagi Inggris terjadi ketika ia telah menjadi “orang yang lanjut usia.”
*
Pada tahun 1952, Edmund Hillary berusaha untuk mendaki gunung Everest, gunung tertinggi di dunia – 29,000 kaki tingginya. Beberapa minggu setelah kegagalannya, ia diminta untuk berbicara di hadapan sekelopmpok orang Inggris. Hillary berjalan ke ujung podium, menunjukkan jarinya pada gambar gunung itu, dan berkata dengan lantang, “Gunung Everest, kamu mengalahkan aku kali ini, tetapi aku akan mengalahkan engkau setelah ini karena engkau sudah berhenti bertumbuh… tetapi aku masih bertumbuh!” Tanggal 29 Mei tahun berikutnya, Edmund Hillary menjadi orang pertama yang berhasil mendaki gunung Everest.
*
Seorang tahanan yang paling terkenal menjadi seorang presiden yang paling terkenal di dunia, Nelson Mandela. Dua puluh tujuh tahun lamanya ia berada di penjara dalam perjuangan damainya mengubah Afrika Selatan dari Negara apartheid menjadi Negara demokrasi. Akhirnya, ia diangkat menjadi presiden yang dipilih melalui pemilu pertama yang demokratis pada bulan Mei 1994.
*
Melawan kolonialisme tanpa senjata? Tetapi itulah yang dilakukan oleh Mohandas Gandhi dalam mengakhiri kekuasaan Inggris di India yang sudah berjalan selama 190 tahun, yang mencapai klimaksnya pada tahun 1947. Filosofi “tanpa kekerasan”nya memobilisasi sebuah gerakan nasional yang melibatkan seluruh rakyat melawan imperialism. Dan kata-katanya diingat oelh para pemimpin dunia yang mengikuti jejaknya seperti Dalai Lama dan Nelson Mandela: “Bila mata dibalas mata, maka seluruh dunia akan menjadi buta.”

Sumber: The 7-40 Journey

Sukses E-mail

Timotius Adi Tan

Anda berada dipuncak sukses ketika …

1.
Anda telah bersahabat dengan masa lalu Anda dan Anda memusatkan perhatian pada masa kini serta optimis tentang masa depan.
2.
Anda memiliki cinta teman-teman dan rasa hormat musuh Anda.
3.
Anda penuh dengan iman, harapan, dan cinta kasih, dan Anda hidup tanpa kemarahan, ketamakan, rasa bersalah, iri hati, dan pikiran untuk membalas dendam.
4.
Anda tahu bahwa kegagalan untuk berdiri guna mempertahankan apa yang secara moral benar merupakan awal untuk menjadi korban apa yang secara criminal salah.
5.
Anda mencintai orang yang tidak bisa dicintai, memberikan harapan kepada orang yang putus asa, menawarkan persahabatan kepada orang yang tidak punya teman, dan dorongan kepada orang yang patah semangat.
6.
Anda tahu bahwa kesuksesan (kemenangan) tidak membentuk anda, dan kegagalan (kerugian) tidak menghancurkan Anda.
7.
Anda bisa melihat kebelakang dalam pemberian maaf, kedepan dalam harapan, ke bawah dalam belas kasihan, dank e atas dengan rasa syukur.
8.
Anda merasa aman memikirkan siapa (dan milik siapa) diri Anda, sehingga Anda berdamai dengan Tuhan dan bersahabat dengan sesama manusia.
9.
Anda dengan jelas memahami bahwa kemarin berakhir semalam dan bahwa hari ini adalah hari baru—dan itu milik Anda.
10.
Anda menyenangkan bagi orang yang menggerutu, sopan kepada orang-orang kasar, dermawan kepada orang-orang yang kekurangan karena Anda tahu bahwa keuntungan jangka panjang dari memberi dan memaafkan jauh melampaui keuntungan jangka pendek dari meminta.
11.
Anda mengenali, mengakui, mengembangkan, dan menggunakan anugrah Tuhan berupa kemampuan fisik, mental, dan spiritual demi keagungan Tuhan dan keuntungan umat manusia.

Sumber: Dare To Change

Membangun Tim E-mail

Samuel H. Tirtamihardja

Membangun tim untuk menjadi winning team memerlukan karakteristik berkinerja tinggi. Karakter ini sangat kritis dalam mencapai suatu tujuan yang jelas, dan memberdayakan tim. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mebangun suatu tim:

1.
Membutuhkan seorang pemimpin yang besar.
Dikatakan bahwa segala sesuatu akan bangkit dan jatuh tergantung pada pimpinannya. Pemimpin yang baik akan memberikan dorongan motivasi. Pemimpin percaya pada timnya dan ia juga akan menciptakan keadaan untuk mencapai sukses. Cara terbaik untuk memperoleh dan mempertahankan kesetiaan tim adalah menaruh minat dan perhatian pada mereka melalui kata dan tindakan.
Ada tiga daerah penting yang harus diperhatikan seorang pemimpin yang baik, yakni keuangan, personalia, dan perencanaan. Selain itu pemimpin akan menghadapi manajemen paradox, yakni dimana organisasi harus berfungsi sebagai suatu kesatuan, namun juga secara individual melakukan berbagai kegiatan bisnis pada waktu yang sama.
2.
Mempunyai staf yang baik.
Staf yang baik dan kompeten harus dicari. Kita tidak dapat membina tim yang kuat dengan individu yang lemah. Makin kecil organisasi kita, makin kita membutuhkan staf yang baik. Kalau tidak ada, carilah staf yang masih muda yang natinya akan menjadi staf yang baik. Oleh karena itu kita harus menetapkan kebutuhan dan standard staf yang baik. Kemudian kita juga harus menyelidiki kemampuan yang terdapat pada staf yang kita ajak untuk bekerjasama memberntuk tim.
3.
Bekerja untuk menang.
Perbedaan antara bekerja untuk menang dan bekerja untuk tidak kalah adalah perbadaan antara sukses dan kerja yang biasa-biasa saja. Kita harus member tantangan kepada para staf dalam tim agar berani mengambil resiko, mengambil keputusan sulit, dan membuat perbedaan dalam hidup. Orang yang hanya main aman sering kehilangan kesempatan dan jarang membuat kemajuan. Tim yang bekerja untuk ingin menang biasanya mempunyai komitmen untuk menang. Memang banyak orang akan memujinya kemudian, tetapi tim ini tahu bahwa mereka bekerja untuk menang.
4.
Membuat anggota tim lebih berhasil.
Kalau kita berada dalam tim, maka kita akan bekerja lebih baik daripada kalau kita bekerja sendiri-sendiri. Sama dengan sapu lidi yang akan membersihkan lantai dengan lebih bersih, daripada hanya sebatang lidi saja. Demikian juga kalau kita bermain sepakbola akan berbeda dengan bermain badminton. Sebuah tim sepakbola tidak akan pernah memainkan pertandingan, kalau dia tidak bekerjasama walaupun secara individu para pemainnya sangat terampil. Oleh karena itu kita harus saling menaruh perhatian satu dengan yang lainnya dan saling mengasihi, hal ini kita kenal dengan istilah team spirit.
Kita biasanya mempunyai yel atau slogan kebersamaan yang dapat membangun semangat tim. Kita juga tidak mempergunakan kata saya tetapi kita. Komunikasi antar tim juga sangat penting. Kita senang kalau seluruh tim berhasil dan bukan kalau hanya kita yang berhasil.
5.
Selalu melakukan perbaikan.
Tim yang berhasil selalu melakukan perbaikan terus menerus. Dunia tidak akan berhenti dari penemuan-penemuan baru. Lihat saja computer, handphone, TV, setiap tahun keluar model baru dan fitur baru. Hal ini dapat terjadi karena perusahaan pembuatnya menanamkan demikian banyak uang untuk riset dan berusaha mengadakan perbaikan terus menerus dari produk yang sudah diluncurkan. Jadi, dalam pekerjaan tim, kita harus selalu mengadakan evaluasi terhadap kinerja tim. Pelatihan dari hari ke hari lebih penting daripada penghargaan tahunan. Jadi kita selalu menetapkan tujuan dan mengevaluasi kemajuannya. Hasilnya adalah keberhasilan tim.

Sumber: Jangan Berhenti Bermimpi

--

Be Healthy Emotionally E-mail

Anthony Dio Martin

Stress, kecemasan, ketakutan, dan kepanikan merupakan gangguan kesehatan emosi yang dapat mengakibatkan dampak desdruktif yang sama hebatnya dengan kanker, AIDS, atau hepatitis. Untuk mendapatkan kesehatan total (total wellness), Anda perlu meredakan emosi-emosi negative yang mungkin selama ini mendominasi jiwa Anda.

1. Kenali emosi Anda
Mengenali emosi akan memmbantu mengatasi amsalah emosi Anda. Ilmu psikologi menggolongkan “emosi dasar” secara universal teridiri dari enam jenis emosi: senang, marah, sedih, kaget, takut, dan jijik. Menurut pakar emotional quotient (EQ) JP. Du Preez, emosi manusia selalu terkait dengan 3 aspek penting, yaitu persepsi, pengalaman, dan proses berpikir. Hati-hati dengan persepsi, pengalaman, dan pemikiran Anda, belum tentu semuanya benar. Ambillah waktu untuk tenang, melakukan refleksi diri, dan temukan akar penyebab masalah emosi Anda.

2. Kendalikan emosi secara tepat
Nalar kita berperan besar dalam mengendalikan emosi. Orang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik dapat mengendalikan pikiran, perasaan, dan tindakan mereka. Mereka merasa nyaman dengan diri mereka sendiri dan memiliki hubungan-hubungan yang baik. Mereka mampu menempatkan masalah pada perspektif yang tepat. Mereka memiliki keyakinan diri dan dapat menerima penolakan dengan sehat, tanpa mengakibatkan membenci diri sendiri. Kendalikan emosi Anda, biasakan berpikir sebelum bertindak. Pertimbangkan konsekuensinya dan carilah solusi terbaik bagi semua pihak.

3. Kembangkan kejujuran emosi
Gustav Jung, pakar psikologi analisis, mengemukakan bahwa terdapat topeng dalam diri setiap orang. Topeng tersebut merupakan perindungan sekaligus mekanisme adaptasi terhadap kondisi eksternalnya. Kita sering memakai topeng dengan membangun citra diri yang tampak positif. Kita takut kelemahan kita terlihat orang lain. Kita kuatir kelihatan rapuh. Kita cemas dinilai negatif, maka kita menciptakan sebuah citra tertentu melalui pakaian, tutur kta, gelar kesarjanaan, dan tingkah laku kita. Membangun kejujuran emosi berarti mencari dan melihat jati diri kita yang sesungguhnya. Jati diri kita tidak ditentukan oleh apa kata orang. Pada hakekatnya kita diciptakan sebagai makhluk mulia, sesuai citra Sang pencipta. Inilah yang seharusnya menjadi “kompas” jati diri kita.

4. Miliki kejernihan dan ketenangan
Meditasi diyakini banyak orang dapat menetralkan kegelisahan, ketakutan, menenangkan emosi dan menjernihkan pikiran. Meditasi semacam ini bukanlah meditasi “abstrak” yang mengosongkan pikiran dan mengakibatkan kondisi ketiadaan (state of nothingness), melainkan justru mengkonsentrasikan seluruh fungsi jiwa (pikiran, perasaan, dan kehendak) untuk merenungkan kebenaran-kebenaran hakiki. Meditasi yang berdampak pada perilaku emosi positif selalu mengarah pada inspirasi-inspirasi Ilahi (Devine Inspiration).

Sumber: Mpower no.1

Discipline or Disadvantage E-mail

Jakoep Ezra

Disiplin sangat diperlukan oleh setiap orang yang ingin meraih sukses. Ketidakdisiplinan akan menghambat tujuan-tujuan penting kita, bahkan sangat berpotensi menggagalkan seluruh tujuan hidup kita. Beberapa tips yang diilhami buku Getting Things Done karya Roger Black ini mengetengahkan pentingnya disiplin. Temukan langkah-langkah praktis untuk mewujudkan kebiasaan disiplin, manfaat disiplin, serta kenali kerugian jika kita tidak disiplin.

1. Mengubah paradigma keliru
Banyak orang menganggap disiplin sesuatu yang tidak menyenangkan, membatasi diri, dan membuat hidup tidak nyaman. Jika kita menyadari disiplin adalah kebiasaan yang kita perlukan untuk meraih lebih banyak tujuan yang menarik, maka kita akan punya minat atau kesenangan untuk melakukannya.
2. Hindari akibat buruknya
Tak disiplin mengakibatkan kehidupan yang stres, penuh tekanan, memiliki hubungan buruk dengan orang lain karena sulit menepati janji. Kinerja terus memburuk, karena tidak dapat memenuhi tenggat waktu sesuai yang dijadwalkan. Merasa terus kekurangan waktu karena tidak dapat mengelola waktu dengan benar.
3. Dapatkan kesenangan sesungguhnya
Ketidakdisiplinan seringkali disebabkan oleh penetapan prioritas yang keliru terhadap kesenangan. Orang yang tidak disiplin cenderung bersenang-senang dahulu, bersusah-susah kemudian. Menikmati santai di awal dan menumpuk kesulitan di akhir, sungguh pemikiran yang salah. Perasaan senag yang sesungguhnya justru didapatkan setelah kita berhasil melalui masa-masa sukar sebelumnya. Tundalah kesenangan kecil saat ini untuk mencapai kesenangan yang lebih besar kemudian.
4. Miliki target yang realistis
Orang yang disiplin berarti hidup tanpa arah dan tujuan. Hidup tanpa target adalah hidup yang tidak akan mencapai apa-apa. Mulailah menetapkan target yang memungkinkan untuk dicapai. Mencapai sesuatu adalah hal yang menyenangkan dan akan memotivasi kita untuk melakukannya lagi, dan pada akhirnya membuat kita disiplin, karena untuk mencapai target apapun diperlukan kedisiplinan.
5. Temukan manfaatnya
Meraih produktivitas yang lebih tinggi, meningkatkan efektivitas pribadi, memiliki lebih banyak waktu yang tersisa, pikiran yang tenang, bekerja dalam suasana yang nyaman, meraih sukses yang lebih besar dan hidup yang lebih baik. Keuntungan-keuntungan ini pasti kita dapatkan ketika kita mulai hidup disiplin dan teratur. Samuel A. Cypert, penulis buku-buku motivasi sukses, menegaskan, disiplin membuat kita dapat mengontrol pikiran, kebiasaan, dan emosi.

Sumber: MPower No. 1

Winner’s Curse E-mail

Prof. Roy Sembel

Tiga paket calom pemimpin Negara sedang bersaing ketat untuk menang dalam pemilu presiden. Di Eropa, tim sepakbola Barcelona dan Manchester United berjuang untuk menjadi tim terbaik di Eropa. Di AS, tim bola basket NBA dari wilayah barat dan timur juga bertarung habis-habisan untuk merebut kemenangan. Semuanya memiliki kesamaan: ingin menang.
Pertanyaannya, benarkah menang itu akan membawa kebahagiaan? Dalam jangka pendek mungkin benar, namun dalam jangka panjang belum tentu begitu. Kalau kita tidak siap untuk menang, kemenangan bisa membawa kutukan atau tulah.
Dalam bidang ilmu keuangan, dikenl fenomena winner’s curse (tulah bagi pemenang). Dalam lelang amplop tertutup dengan criteria kemenangan berdasarkn penawaran harga tertinggi untuk membeli suatu obyek, ada kecenderungan terjadi winner’s curse. Pemenang lelang tersebut adalah pihak yang paling optimis memperkirakan nilai obyek yang dilelang. Celakanya, pihak yang paling optimis itu biasanya memperkirakan bilai obyek yang dilelang terlalu tinggi disbanding harga wajarnya. Akibatnya, nilai sesuangguhnya dari obyek yang diperoleh (“menang”) jauh lebih rendah dari harga yang dibayarkan (“tulah”). Kelihatannya menang, namun sebenarnya mendapat tulah.
Kemenangan juga sering membuat orang lupa diri. Akibatnya, orang menjadi tidak waspada dan jatuh ke dalam bencana. Di dalam Alkitab ada beberapa contoh seperti itu. Saul memulai kariernya dengan sangat cemerlang sebagai raja Israel sebagai orang yang dipilih dan diurapi tuhan melalui Nabi Samuel (1 Samuel 10:1), serta memimpin orang Israel menang atas orang Amon (1 Samuel 11:11). Saying sekali, kemenangan dan posisi sebagai raja akhirnya justru menjadi boomerang bagi Saul. Saul mengakhiri kariernya dengan tragis, yaitu mati bunuh diri (1 Samuel 31:4).
Raja Salomo, yang demikian terkenal dengan hikmatnya, mengakhiri kehidupannya dengan frustasi, karena ia tidak lagi setia kepada Tuhan. Kekayaan dan kejayaan yang diperoleh hasil dari hikmat yang dimilikinya membuat Salomo beristri ratusan dan bergundik lebih banyak lagi. Istrin dan gundik yang tidak seiman menyeretnya untuk menyembah ilah lain. Masih ada beberapa contoh lagi dalam alkitab tentang orang yang tidak waspada setelah menerima anugerah dan kemenangan, misalnya Simson dan Tudas Iskariot.
Bangsa Israel, segera setelah merasakan kemenangan besar dengan merebut kota yang dibentenginya dengan tembok tinggi yaitu Yerikho, menjadi tidak waspada dan menderita kekalahan dari kota kecil Ai. Untungnya, mereka kembali bertobat mengikuti petunjuk Tuhan, sehingga kembali memperoleh kemenangan.
Jadi untuk mendapatkan best and blessed win kemenangan yang terbaik dan membawa berkat (bukannya kemenangan yang membawa tulah atau petaka atau wimner’s curse), kita harus tetap waspada dan tetap bertindak mengikuti perintah Tuhan. “…Hanya kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi…” (Yosua 1:7).
Selamat meraih kemenangan yang membawa berkat di dalam Tuhan.

--

Galeri Iman E-mail

Jimmy B. Oentoro

*
Setelah kehilangan pendengarannya secara berangsur-angsur dalam beberapa tahun, composer dari Jerman, Ludwig von Beethoven menjadi tuli pada usia 46 tahun. Tetapi, ia menulis musiknya yang paling indah, termasuk lima simfoni pada tahun-tahun terakhir hidupnya.
*
Franklin D. Roosevelt lumpuh karena polio pada umur 39 tahun, tetapi ia menjadi salah seorang presiden Amerika yang disukai dan pemimpin yang memberikan pengaruh yang besar. Ia dipilih menjadi presiden Amerika selama empat kali.
*
Winston Churchill tidak naik kelas saat ia kelas 6 SD. Ia baru menjadi perdana menteri Inggris pada usia 62 tahun, setelah mengalami kegagalan dalam kehidupan yang cukup panjang. Sumbangannya yang sangat besar bagi Inggris terjadi ketika ia telah menjadi “orang yang lanjut usia.”
*
Pada tahun 1952, Edmund Hillary berusaha untuk mendaki gunung Everest, gunung tertinggi di dunia – 29,000 kaki tingginya. Beberapa minggu setelah kegagalannya, ia diminta untuk berbicara di hadapan sekelopmpok orang Inggris. Hillary berjalan ke ujung podium, menunjukkan jarinya pada gambar gunung itu, dan berkata dengan lantang, “Gunung Everest, kamu mengalahkan aku kali ini, tetapi aku akan mengalahkan engkau setelah ini karena engkau sudah berhenti bertumbuh… tetapi aku masih bertumbuh!” Tanggal 29 Mei tahun berikutnya, Edmund Hillary menjadi orang pertama yang berhasil mendaki gunung Everest.
*
Seorang tahanan yang paling terkenal menjadi seorang presiden yang paling terkenal di dunia, Nelson Mandela. Dua puluh tujuh tahun lamanya ia berada di penjara dalam perjuangan damainya mengubah Afrika Selatan dari Negara apartheid menjadi Negara demokrasi. Akhirnya, ia diangkat menjadi presiden yang dipilih melalui pemilu pertama yang demokratis pada bulan Mei 1994.
*
Melawan kolonialisme tanpa senjata? Tetapi itulah yang dilakukan oleh Mohandas Gandhi dalam mengakhiri kekuasaan Inggris di India yang sudah berjalan selama 190 tahun, yang mencapai klimaksnya pada tahun 1947. Filosofi “tanpa kekerasan”nya memobilisasi sebuah gerakan nasional yang melibatkan seluruh rakyat melawan imperialism. Dan kata-katanya diingat oelh para pemimpin dunia yang mengikuti jejaknya seperti Dalai Lama dan Nelson Mandela: “Bila mata dibalas mata, maka seluruh dunia akan menjadi buta.”

--

Sukses E-mail

Timotius Adi Tan

Anda berada dipuncak sukses ketika …

1.
Anda telah bersahabat dengan masa lalu Anda dan Anda memusatkan perhatian pada masa kini serta optimis tentang masa depan.
2.
Anda memiliki cinta teman-teman dan rasa hormat musuh Anda.
3.
Anda penuh dengan iman, harapan, dan cinta kasih, dan Anda hidup tanpa kemarahan, ketamakan, rasa bersalah, iri hati, dan pikiran untuk membalas dendam.
4.
Anda tahu bahwa kegagalan untuk berdiri guna mempertahankan apa yang secara moral benar merupakan awal untuk menjadi korban apa yang secara criminal salah.
5.
Anda mencintai orang yang tidak bisa dicintai, memberikan harapan kepada orang yang putus asa, menawarkan persahabatan kepada orang yang tidak punya teman, dan dorongan kepada orang yang patah semangat.
6.
Anda tahu bahwa kesuksesan (kemenangan) tidak membentuk anda, dan kegagalan (kerugian) tidak menghancurkan Anda.
7.
Anda bisa melihat kebelakang dalam pemberian maaf, kedepan dalam harapan, ke bawah dalam belas kasihan, dank e atas dengan rasa syukur.
8.
Anda merasa aman memikirkan siapa (dan milik siapa) diri Anda, sehingga Anda berdamai dengan Tuhan dan bersahabat dengan sesama manusia.
9.
Anda dengan jelas memahami bahwa kemarin berakhir semalam dan bahwa hari ini adalah hari baru—dan itu milik Anda.
10.
Anda menyenangkan bagi orang yang menggerutu, sopan kepada orang-orang kasar, dermawan kepada orang-orang yang kekurangan karena Anda tahu bahwa keuntungan jangka panjang dari memberi dan memaafkan jauh melampaui keuntungan jangka pendek dari meminta.
11.
Anda mengenali, mengakui, mengembangkan, dan menggunakan anugrah Tuhan berupa kemampuan fisik, mental, dan spiritual demi keagungan Tuhan dan keuntungan umat manusia.

--

Membangun Tim E-mail

Samuel H. Tirtamihardja

Membangun tim untuk menjadi winning team memerlukan karakteristik berkinerja tinggi. Karakter ini sangat kritis dalam mencapai suatu tujuan yang jelas, dan memberdayakan tim. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mebangun suatu tim:

1.
Membutuhkan seorang pemimpin yang besar.
Dikatakan bahwa segala sesuatu akan bangkit dan jatuh tergantung pada pimpinannya. Pemimpin yang baik akan memberikan dorongan motivasi. Pemimpin percaya pada timnya dan ia juga akan menciptakan keadaan untuk mencapai sukses. Cara terbaik untuk memperoleh dan mempertahankan kesetiaan tim adalah menaruh minat dan perhatian pada mereka melalui kata dan tindakan.
Ada tiga daerah penting yang harus diperhatikan seorang pemimpin yang baik, yakni keuangan, personalia, dan perencanaan. Selain itu pemimpin akan menghadapi manajemen paradox, yakni dimana organisasi harus berfungsi sebagai suatu kesatuan, namun juga secara individual melakukan berbagai kegiatan bisnis pada waktu yang sama.
2.
Mempunyai staf yang baik.
Staf yang baik dan kompeten harus dicari. Kita tidak dapat membina tim yang kuat dengan individu yang lemah. Makin kecil organisasi kita, makin kita membutuhkan staf yang baik. Kalau tidak ada, carilah staf yang masih muda yang natinya akan menjadi staf yang baik. Oleh karena itu kita harus menetapkan kebutuhan dan standard staf yang baik. Kemudian kita juga harus menyelidiki kemampuan yang terdapat pada staf yang kita ajak untuk bekerjasama memberntuk tim.
3.
Bekerja untuk menang.
Perbedaan antara bekerja untuk menang dan bekerja untuk tidak kalah adalah perbadaan antara sukses dan kerja yang biasa-biasa saja. Kita harus member tantangan kepada para staf dalam tim agar berani mengambil resiko, mengambil keputusan sulit, dan membuat perbedaan dalam hidup. Orang yang hanya main aman sering kehilangan kesempatan dan jarang membuat kemajuan. Tim yang bekerja untuk ingin menang biasanya mempunyai komitmen untuk menang. Memang banyak orang akan memujinya kemudian, tetapi tim ini tahu bahwa mereka bekerja untuk menang.
4.
Membuat anggota tim lebih berhasil.
Kalau kita berada dalam tim, maka kita akan bekerja lebih baik daripada kalau kita bekerja sendiri-sendiri. Sama dengan sapu lidi yang akan membersihkan lantai dengan lebih bersih, daripada hanya sebatang lidi saja. Demikian juga kalau kita bermain sepakbola akan berbeda dengan bermain badminton. Sebuah tim sepakbola tidak akan pernah memainkan pertandingan, kalau dia tidak bekerjasama walaupun secara individu para pemainnya sangat terampil. Oleh karena itu kita harus saling menaruh perhatian satu dengan yang lainnya dan saling mengasihi, hal ini kita kenal dengan istilah team spirit.
Kita biasanya mempunyai yel atau slogan kebersamaan yang dapat membangun semangat tim. Kita juga tidak mempergunakan kata saya tetapi kita. Komunikasi antar tim juga sangat penting. Kita senang kalau seluruh tim berhasil dan bukan kalau hanya kita yang berhasil.
5.
Selalu melakukan perbaikan.
Tim yang berhasil selalu melakukan perbaikan terus menerus. Dunia tidak akan berhenti dari penemuan-penemuan baru. Lihat saja computer, handphone, TV, setiap tahun keluar model baru dan fitur baru. Hal ini dapat terjadi karena perusahaan pembuatnya menanamkan demikian banyak uang untuk riset dan berusaha mengadakan perbaikan terus menerus dari produk yang sudah diluncurkan. Jadi, dalam pekerjaan tim, kita harus selalu mengadakan evaluasi terhadap kinerja tim. Pelatihan dari hari ke hari lebih penting daripada penghargaan tahunan. Jadi kita selalu menetapkan tujuan dan mengevaluasi kemajuannya. Hasilnya adalah keberhasilan tim.

--

Be Healthy Emotionally E-mail

Anthony Dio Martin

Stress, kecemasan, ketakutan, dan kepanikan merupakan gangguan kesehatan emosi yang dapat mengakibatkan dampak desdruktif yang sama hebatnya dengan kanker, AIDS, atau hepatitis. Untuk mendapatkan kesehatan total (total wellness), Anda perlu meredakan emosi-emosi negative yang mungkin selama ini mendominasi jiwa Anda.

1. Kenali emosi Anda
Mengenali emosi akan memmbantu mengatasi amsalah emosi Anda. Ilmu psikologi menggolongkan “emosi dasar” secara universal teridiri dari enam jenis emosi: senang, marah, sedih, kaget, takut, dan jijik. Menurut pakar emotional quotient (EQ) JP. Du Preez, emosi manusia selalu terkait dengan 3 aspek penting, yaitu persepsi, pengalaman, dan proses berpikir. Hati-hati dengan persepsi, pengalaman, dan pemikiran Anda, belum tentu semuanya benar. Ambillah waktu untuk tenang, melakukan refleksi diri, dan temukan akar penyebab masalah emosi Anda.

2. Kendalikan emosi secara tepat
Nalar kita berperan besar dalam mengendalikan emosi. Orang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik dapat mengendalikan pikiran, perasaan, dan tindakan mereka. Mereka merasa nyaman dengan diri mereka sendiri dan memiliki hubungan-hubungan yang baik. Mereka mampu menempatkan masalah pada perspektif yang tepat. Mereka memiliki keyakinan diri dan dapat menerima penolakan dengan sehat, tanpa mengakibatkan membenci diri sendiri. Kendalikan emosi Anda, biasakan berpikir sebelum bertindak. Pertimbangkan konsekuensinya dan carilah solusi terbaik bagi semua pihak.

3. Kembangkan kejujuran emosi
Gustav Jung, pakar psikologi analisis, mengemukakan bahwa terdapat topeng dalam diri setiap orang. Topeng tersebut merupakan perindungan sekaligus mekanisme adaptasi terhadap kondisi eksternalnya. Kita sering memakai topeng dengan membangun citra diri yang tampak positif. Kita takut kelemahan kita terlihat orang lain. Kita kuatir kelihatan rapuh. Kita cemas dinilai negatif, maka kita menciptakan sebuah citra tertentu melalui pakaian, tutur kta, gelar kesarjanaan, dan tingkah laku kita. Membangun kejujuran emosi berarti mencari dan melihat jati diri kita yang sesungguhnya. Jati diri kita tidak ditentukan oleh apa kata orang. Pada hakekatnya kita diciptakan sebagai makhluk mulia, sesuai citra Sang pencipta. Inilah yang seharusnya menjadi “kompas” jati diri kita.

4. Miliki kejernihan dan ketenangan
Meditasi diyakini banyak orang dapat menetralkan kegelisahan, ketakutan, menenangkan emosi dan menjernihkan pikiran. Meditasi semacam ini bukanlah meditasi “abstrak” yang mengosongkan pikiran dan mengakibatkan kondisi ketiadaan (state of nothingness), melainkan justru mengkonsentrasikan seluruh fungsi jiwa (pikiran, perasaan, dan kehendak) untuk merenungkan kebenaran-kebenaran hakiki. Meditasi yang berdampak pada perilaku emosi positif selalu mengarah pada inspirasi-inspirasi Ilahi (Devine Inspiration).

--
Discipline or Disadvantage E-mail

Jakoep Ezra

Disiplin sangat diperlukan oleh setiap orang yang ingin meraih sukses. Ketidakdisiplinan akan menghambat tujuan-tujuan penting kita, bahkan sangat berpotensi menggagalkan seluruh tujuan hidup kita. Beberapa tips yang diilhami buku Getting Things Done karya Roger Black ini mengetengahkan pentingnya disiplin. Temukan langkah-langkah praktis untuk mewujudkan kebiasaan disiplin, manfaat disiplin, serta kenali kerugian jika kita tidak disiplin.

1. Mengubah paradigma keliru
Banyak orang menganggap disiplin sesuatu yang tidak menyenangkan, membatasi diri, dan membuat hidup tidak nyaman. Jika kita menyadari disiplin adalah kebiasaan yang kita perlukan untuk meraih lebih banyak tujuan yang menarik, maka kita akan punya minat atau kesenangan untuk melakukannya.
2. Hindari akibat buruknya
Tak disiplin mengakibatkan kehidupan yang stres, penuh tekanan, memiliki hubungan buruk dengan orang lain karena sulit menepati janji. Kinerja terus memburuk, karena tidak dapat memenuhi tenggat waktu sesuai yang dijadwalkan. Merasa terus kekurangan waktu karena tidak dapat mengelola waktu dengan benar.
3. Dapatkan kesenangan sesungguhnya
Ketidakdisiplinan seringkali disebabkan oleh penetapan prioritas yang keliru terhadap kesenangan. Orang yang tidak disiplin cenderung bersenang-senang dahulu, bersusah-susah kemudian. Menikmati santai di awal dan menumpuk kesulitan di akhir, sungguh pemikiran yang salah. Perasaan senag yang sesungguhnya justru didapatkan setelah kita berhasil melalui masa-masa sukar sebelumnya. Tundalah kesenangan kecil saat ini untuk mencapai kesenangan yang lebih besar kemudian.
4. Miliki target yang realistis
Orang yang disiplin berarti hidup tanpa arah dan tujuan. Hidup tanpa target adalah hidup yang tidak akan mencapai apa-apa. Mulailah menetapkan target yang memungkinkan untuk dicapai. Mencapai sesuatu adalah hal yang menyenangkan dan akan memotivasi kita untuk melakukannya lagi, dan pada akhirnya membuat kita disiplin, karena untuk mencapai target apapun diperlukan kedisiplinan.
5. Temukan manfaatnya
Meraih produktivitas yang lebih tinggi, meningkatkan efektivitas pribadi, memiliki lebih banyak waktu yang tersisa, pikiran yang tenang, bekerja dalam suasana yang nyaman, meraih sukses yang lebih besar dan hidup yang lebih baik. Keuntungan-keuntungan ini pasti kita dapatkan ketika kita mulai hidup disiplin dan teratur. Samuel A. Cypert, penulis buku-buku motivasi sukses, menegaskan, disiplin membuat kita dapat mengontrol pikiran, kebiasaan, dan emosi.

--

Winner’s Curse E-mail

Prof. Roy Sembel

Tiga paket calom pemimpin Negara sedang bersaing ketat untuk menang dalam pemilu presiden. Di Eropa, tim sepakbola Barcelona dan Manchester United berjuang untuk menjadi tim terbaik di Eropa. Di AS, tim bola basket NBA dari wilayah barat dan timur juga bertarung habis-habisan untuk merebut kemenangan. Semuanya memiliki kesamaan: ingin menang.
Pertanyaannya, benarkah menang itu akan membawa kebahagiaan? Dalam jangka pendek mungkin benar, namun dalam jangka panjang belum tentu begitu. Kalau kita tidak siap untuk menang, kemenangan bisa membawa kutukan atau tulah.
Dalam bidang ilmu keuangan, dikenl fenomena winner’s curse (tulah bagi pemenang). Dalam lelang amplop tertutup dengan criteria kemenangan berdasarkn penawaran harga tertinggi untuk membeli suatu obyek, ada kecenderungan terjadi winner’s curse. Pemenang lelang tersebut adalah pihak yang paling optimis memperkirakan nilai obyek yang dilelang. Celakanya, pihak yang paling optimis itu biasanya memperkirakan bilai obyek yang dilelang terlalu tinggi disbanding harga wajarnya. Akibatnya, nilai sesuangguhnya dari obyek yang diperoleh (“menang”) jauh lebih rendah dari harga yang dibayarkan (“tulah”). Kelihatannya menang, namun sebenarnya mendapat tulah.
Kemenangan juga sering membuat orang lupa diri. Akibatnya, orang menjadi tidak waspada dan jatuh ke dalam bencana. Di dalam Alkitab ada beberapa contoh seperti itu. Saul memulai kariernya dengan sangat cemerlang sebagai raja Israel sebagai orang yang dipilih dan diurapi tuhan melalui Nabi Samuel (1 Samuel 10:1), serta memimpin orang Israel menang atas orang Amon (1 Samuel 11:11). Saying sekali, kemenangan dan posisi sebagai raja akhirnya justru menjadi boomerang bagi Saul. Saul mengakhiri kariernya dengan tragis, yaitu mati bunuh diri (1 Samuel 31:4).
Raja Salomo, yang demikian terkenal dengan hikmatnya, mengakhiri kehidupannya dengan frustasi, karena ia tidak lagi setia kepada Tuhan. Kekayaan dan kejayaan yang diperoleh hasil dari hikmat yang dimilikinya membuat Salomo beristri ratusan dan bergundik lebih banyak lagi. Istrin dan gundik yang tidak seiman menyeretnya untuk menyembah ilah lain. Masih ada beberapa contoh lagi dalam alkitab tentang orang yang tidak waspada setelah menerima anugerah dan kemenangan, misalnya Simson dan Tudas Iskariot.
Bangsa Israel, segera setelah merasakan kemenangan besar dengan merebut kota yang dibentenginya dengan tembok tinggi yaitu Yerikho, menjadi tidak waspada dan menderita kekalahan dari kota kecil Ai. Untungnya, mereka kembali bertobat mengikuti petunjuk Tuhan, sehingga kembali memperoleh kemenangan.
Jadi untuk mendapatkan best and blessed win kemenangan yang terbaik dan membawa berkat (bukannya kemenangan yang membawa tulah atau petaka atau wimner’s curse), kita harus tetap waspada dan tetap bertindak mengikuti perintah Tuhan. “…Hanya kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi…” (Yosua 1:7).
Selamat meraih kemenangan yang membawa berkat di dalam Tuhan.

--

Things To Do On Mid Year E-mail

Things To Do On Mid Year:

1.
Evaluasi kerja
Saatnya untuk kembali mengevaluasi pencapaian Anda di tiga bulan pertama yang lalu. Kini, waktu yang paling tepat untuk melihat kembali seberapa jauh pencapaian yang berhasil diraih dari target tahunan Anda. Jika belum mencapai sasaran, maka inilah saat yang tepat untuk merencanakan antisipasi strategis atau mulai memikirkan alternative lain.
2.
Jaga stamina
Saat-saat ini merupakan hari-hari kerja yang padat. Tak ada hari libur nasional di pertengahan tahun. Cuaca pancaroba sering membawa berbagai macam penyakit yang mengganggu saluran pernafasan, seperti flu, batuk, dan radang tenggorokan. Jaga stamina Anda lebih ekstra. Hiduplah seimbang antara waktu kerj dan istirahat. Berolahragalah secara teratur dan banyak makan buah segar yang mengandung vitamin C untuk menguatkan daya tahan tubuh.
3.
Hindari sikap pecundang
Jika Anda telah mencapai target atau mencapai hasil kerja yang lumayan di pertengahan tahun ini, hindari sikap seorang pecundang. Biasanya, pecundang cenderung santai dan mudah puas jika telah mencapai hasil yang baik. Ia cenderung berpikir: lumayan sudah mencapai target, enam bulan ke depan tidak perlu terlalu repot, tinggal melanjutkan saja seperti biasanya. Atau jika belum mencapai target, dia terbiasa menenangkan diri: Masih ada enam bulan lagi tahun ini. Cukup banyak waktu, santai saja dulu. Hilangkan mental pecundang seperti itu. Seorang pecundang selalu merasa cukup ada waktu sampai akhirnya semuanya terlambat dan gagal. Miliki mental pemenang yang selalu menghargai waktu dan memilih “berakit-rakit dahulu lalu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, dan bersenang-senang kemudian.”
4.
Nikmati liburan
Manfaatkan kelimpahan sinar matahari pertengahan tahun. Menjelang akhir pecan, rencanakan hari-hari Anda untuk mengunjungi tempat yang pas di masa liburan. Pergi ke pantai, wisata bahari atau berenang, menikmati berbagai sarana permainan air adalah pilihan menarik untuk melepas penat di bulan ini.
5.
Saatnya berbenah dan open air
Apa saja yang biasanya sulit Anda lakukan ketika musim hujan, lakukanlah sekarang. Renovasi rumah, berbenah, mengecat rumah, membetulkan atap yang bocor, pesta kebun, pool side party, dna berbagai kegiatan outdoor lainnya bisa Anda lakukan di pertengahan tahun yang relative aman dari guyuran hujan.
6.
Ikuti acara besar
Ada banyak acara-acara besar yang menarik untuk disimak, bahkan mungkin dikunjungi.

--

Hasilkan Buah Yang Mulia E-mail

H.B. London Jr.

Sepasang suami istri yang menjadi gembala dari sebuah gerja di Ohio, bergiliran berkotbah setiap minggu. Selain sebagai seorang istri dan ibu, wanita ini adalah pengkotbah yang bagus. Sementara suaminya, walaupun dia seorang gembala yang sangat dihargai, adalah seorang yang introspektif, pemalu, dan tidak berbakat sebagai pembicara.
Bila tiba gilirannya untuk berkotbah, pria ini bisasanya bangun dengan keraguan diri dan secara terus terang mengungkapkannya pada istrinya dan memohon kepada istri dan anak-anaknya untuk mendoakannya. Dia selalu merasa tidak yakin akan firman yang disampaikannya, meragukan kesanggupannya untuk berkotbah dan menyangsikan hubungannya dengan Kristus. Ini merupakan hal yang sangat melemahkan semangat.
“Tuhan, tolonglah Edward,” istrinya berdoa selagio dia membantu anak-anak mereka mempersiapkan diri ke gereja. “Engakau tahu dia dapat melakukannya. Dan Engkau akan menolongnya. Dia telah melayani Engkau dengan setia sepanjang minggu, dan Engkau akan menolong dia sekarang.” Istri gembala ini memberikan suatu pesan penting bagi pendeta masa kini. Sekalipun pada masa yang sulit, kita dapat menyelesaikan pelayanan yang besar karena Allah yang member kita kekuatan. Yosua 1:9 menjanjikan: “Kuatkan dan teguhkan hatimu. Janganlah kecut dan tawar hari sebab Tuhan Allahmu menyertai engkau ke manapun engkau pergi.”
Kuatkanlah hatimu dalam setiap pelayanan. Ingatlah bagaimana Allah membantu orang-orang biasa untuk mengatasi kesulitan mereka. Anggaplah kemenangan mereka sebagai janji kemenangan bagi Anda:
• Danielo tidur dengan pulas di kandang singa.
• Yusuf menolak seorang wanita perayu.
• Daud mengalahkan seorang raksasa.
• Elia menantang penyembahan yang sesat.
• Yohanes Pembaptis mengalihkan kehormatannya kepada Yesus.
• Paulus menyanyi untuk mengusir ketegangan di penjara di tengah malam.
• Yesus menjadi teladan kasih Allah di kayu salib.
Daftar ini member dorongan semangat bagi pelayanan Anda bahkan dalam keadaan yang paling sulit. Bergabunglah dengan ratusan gembala jemaat yang bertekad membawa Injil kepada kehidupan modern.
Para pemeran serta akan merasakan kehadiran Tuhan di tengag-tengah pelayanan yang penuh dengan tantangan yang besar, dan juga merasakan suatu keberhasilan yang luar biasa.

--

Kualitas Sebuah Visi yang Efektif E-mail

Stan Toler & Glen Martin

Beberapa tahun silam Charlton Heston diwawancarai dalam siaran televise Merv Friffin Show. Topiknya berkaitan dengan kehidupan serta keberhasilan karier Heston yang berturut-turut sehingga permainannya dalam dua buah filmnya yang super, The Ten Commanments dan Ben Hur banyak mendapay sorotn. Dalam wawancara tersebut, Griffin, sebagaimana banyak di antara kita, mengajukan pertanyaan kepada actor handal yang membibntangi film bernuansa agama itu: “Aakah penampilan rohani Anda berubah akibat bermain di kedua film ini?”
Heston merenung sejenak dan kemudian menjawab, “Wah Merv, tanpa alas kaki, Anda tidak dapat turun dari Gunung Sinai dalam kondisi fisik yang sama seperti ketika Anda naik ke sana.”
Jawaban yang jitu. Mengapa Musa tampil berbeda ketika ia menuruni aGunung Sinai? Di atas gunung itu ia ditangkap oleh visi kemuliaan Tuhan. Visi sanggup menampakkan kemuliaan Tuhan. Petrus menyaksikan mukjizat Tuhan ketika Ia membuat jumlah ikan berlipat ganda, dan ia meninggalkan pekerjaannya sebagai penangkap ikan untuk mengikut Kristus. Paulus mendapat visi Tuhan kita yang sudah bangkit, dan ia meninggalkan hidup lamanya sebagai penganiaya orang Kristen untuk mengikut Yesus. Sepanjang sejarah, banyak sekali pria dan wanita yang meninggalkan apa saja yang mereka sayangi untuk mewujudkan visi yang Yesus taruhkan dalam hati mereka, sebuah visi untuk membuat suatu perubahan di dunia. Kualitas-kualitas apa yang membuat sebuah visi menjadi begitu luar biasa sehingga orang termotivasi oleh visi dan Kerajaan sorga dibangun akibat visi tersebut?

*
Visi harus berakar dalam kehendak Tuhan
Kualitas pertama dari visi yang efektif untuk umat Tuhan ialah, visi harus dilandaskan pada apa yang, sebagaimana yang mereka yakini, Tuhan ingin mereka lakukan. Kehendak Tuhan tidak boleh diperlakukan bak permainan petak-umpet. Tuhan ingin gereja mengetahui rencana-Ny. Tuhan kita sudah memaparkan apa yang pernah suatu kali dianggap sebgai “misteri kehendak-Nya” bagi gerej. Selidikilah firman Tuhan. Misi untuk gereja sudah diberitahukan dengan jelas, dan namanya Amanat Agung. Luangkan waktu untuk memahami visi tersebut. Buatlah visi itu menjadi impian gereja, doakan visi itu dan carilah pimpinan-Nya untuk menggunakan visi tersebut dalam pelayanan yang sudah Ia percayakan kepada gereja.
*
Visi memotivasi orang untuk bertindak
Visi yang efektif memotivasi seseorang untuk meninggalkan zona nyamanny. Simak baik-baik penyataan ini: pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya dapat menjadi malas. Banyak orang lebih suka memilih pelayanan “remote control” yang memungkinkan mereka untuk tetep berada ditempat, member komando ini itu, namun tidak terjun sendiri ke lapangan. Setiap orang perlu dimobilisasi untuk melakukan perkara-perkara besar. Visi harus sanggup membuat hati kita remuk sehingga kita mampu melihat apa yang Tuhan lihat – orang-orang yang kesepian yang jiwanya terhilang dan tengah mencari-cari kebenaran. Selain itu, visi harus sanggup menantang hati kita agar kita menyadari bahwa pemimpin ingin kita menjadi bagian dari rencana penjangkauan orang-orang yang terhilang itu.
*
Visi memberi gambaran tentang masa depan
Visi menyinggung masalah logika sekaligus perasaan. Visi membangkitkan pengharapan bahwa aka nada keberhasilan di waktu mendatang. Yesus memanggil murid-murid yang ada di sekeliling-Nya dan menunjuk kea rah orang-orang yang dating kepada-Ny. “… pandanglah lading-ladang” (Yohanes 4:35). Sebetulnya, yang Ia maksudkan ialah, “Carilah kemungkinan-kemungkinan untuk menghadirkan pengharapan bagi orang-orang yang tidak berpengharapan itu!”
*
Visi membangkitkan antusiasme dan keterbukaan untuk berubah
Visi selalu menghasilkan perubahan. Misalnya, diterimanya visi Tuhan dalam kehidupan seseorang adalah proses perubahan rohani yang kita namakan sebagai pengudusan. Adalah fakta bahwa Tuhan mengasihi kita sebagaimana kita ada, namun sangatlah tidak wajar kalau Ia mengasihi kit agar kita tetap seperti kita ada! “Visi diprakarsai oleh Allah, diinginkan oleh manusia dan dinyatakan melalui Roh Kudus. Tuhan memberikan visi-Nya hanya kepada mereka yang gigih dalam mengenal Dia secara lebih dekat, karena visi-Nya merupakan bagian yang kudus dari pernyataan rencana-Nya yang kekal.” Visi untuk melayani akan memacu orang untuk menginginkan apa yang Tuhan inginkan – memberitakan kabar baik tentang pengharapan bagi mereka yang tidak berpengharapan.
*
Visi harus praktis
Visi harus layak diraih dan layak dipercaya. Mungkin saja bahwa hasil akhirnya tidak diperoleh sesuai dengan waktu kita. Hanya Tuhan yang dapat menentukan kapan kita siap untuk memperolehnya. Namun, ketika visi disodorkan, pemimpin harus memastikan bahwa orang-orangnya dapat melihat hasil yang diinginkan dan percaya bahwa visi itu dapat diwujudkan sesuai dengan waktu Tuhan.
*
Visi harus cukup jelas untuk menjadi pedoman dalam mengambil keputusan
Visi member orang-orang yang tengah menjalankan visi suatu kesanggupan untuk mengatakan, “Tidak” kepada aktivitas-aktivitas yang tidak akan member kontribusi bagi pewujudan visi. Georgr barna menulis, “Visi itu kasat mata di mata yang melihatnya. Kendati visi hanyalah sebuah konsep atau perspektif dari realitas yang tidak eksis, visi sendiri eksis demikian jelas dalam pikiran seorng visioner sehingga dapat dianggap sebagai sebuah gambar hidup. Visi semacam ini memotivasi dan mengarahkan pelayann, menyaring informasi dan berperanb sebagai katalis – pemicu perubahan – dalam pengambilan keputusan dan menjadi sarana pengukur kemajuan.”
*
Visi menfokuskan sumber-sumber daya pada arah yang sama
Tidak mudah untuk melayani dalam dunia postmodern ini. Adakalanya kaidah-kaidah untuk penggembalaan maupun kepemimpinan gereja ditentukan dengan baik, dan rambu-rambu juga dijabarkan dengan jelas. Namun di millennium baru ini segalanya sudah berubah. Meminjam analogi olahraga bola basket, maka kondisi sekarang ini dapat disamakan dengan aturan-aturan pertandingan yang diubah pada saat pertandingan sudah berlangsung setengah jalan. Bayangkan saja, para pemain sudah mempelajari segala strategi yang berlaku apabila ingin memenagkan sebuah kejuaraan bola basket. Dan, bayangkan pula bahwa kita sudah ditetpkan sebagai pelatih bola basket disebuah universitas bergengsi. Tetapi, tiba-tiba kita disodori peraturan peraturan baru seperti di bawah ini:
Pemain hanya diizinkan melakukan dribel sebanyak tiga kali sebelum ia melempar bola.
• Pemain hanya diizinkan berada di atas garis selama lima detik.
• Melempar bola ke keranjang dengan mata tertutup memperoleh lima poin,
• Hanya penjaga 9biasanya pemain dengan tubuh terpendek) yang boleh membuat rebound (melambungkan bola).
• Pelatih dari kedua belah pihak boleh mengeluarkan satu orang pemain dari tim lawan pada waktu permainan sudah berlangsung setengan jalan.
Saya kira, kita semua akan berkata, “Wah nanti dulu! Saya tidak pernah dilatih untuk melatih dengan peraturan semacam ini!” ucapan yang sama mungkin saja dilontarkan oleh gembala-gembala di abad dan millennium baru ini. Peraturan sudah berubah. Pelayanan tidak lagi berlangsung “dari balkon penonton.” Balkon penonton sudah ditata ulang atau bahkan sudah tidak dipakai lagi.
*
Visi akan hidup lebih lama dari penerima visi
Jika sebuah visi benar-benar berasal dari Tuhan, visi itu tidak akan pudar juka “sang visioner” dipanggil pulang untuk bersama Tuhan atau pindah ke pelayanan lain. Visi Rasul Paulus jelas dan riil: “Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, dimana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain” (Rm. 15:20).
Paulus menanam banyak gereja untuk mewujudkan visi yang diberikan kepadanya. Langkahnya kreatif dan ia dikenal sebagai pengambil resiko. Ujar Paulus, “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat” (1Kor 9:19-21).
Strategi-strategi Paulus melahirkan landasan baru dalam penginjilan. Namun, visinya tidak berakhir dengan kematian Paulus. Semangat penginjilannya menembus banyak gereja dewasa ini.

--

Evangelism As A Lifestyle E-mail

Budi Hidajat

Tuhan ingin memakai tiap orang Kristen untuk memperkenalkan Kristus kepada semua orang. Kita tahu dengan baik perintah Tuhan yang dikenal sebagai amanat Agung: “Karena itu pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus…” (Matius 28:19). Namun seringkali kita berpikir ayat itu hanya berlaku bagi para misionaris, penginjil atau pendeta yaitu mereka yang pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk memberitakan Injil.
Alkitab ISV menerjemahkan ayat itu sebagai berikut: “…as you go, disciple all the nations” yang berarti “sambil kamu pergi”: ke kantor, ke sekolah, ke mana saja, jadikanlah segala bangsa murid Tuhan Yesus. Amanat agung itu berlaku bukan saja untuk para misionaris, penginjil atau pendeta, melainkan semua orang Kristen. Memberitakan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus bukan lagi hanya ketika kita pergi untuk perjalanan misi atau penginjilan, melainkan aktivitas yang dapat dan harus kita lakukan tiap hari, bagian dari aktivitas sehari-hari. Jika Anda seorang professional dan pengusaha yang setiap hari berjumpa dengan banyak orang, pergunakanlah network Anda untuk memperkenalkan Yesus kepada mereka yang belum mengenal Dia. Jika Anda seorang pelajar, Anda akan berjumpa dengan teman-teman yang kepadanya Anda dapat memperkenalkan Yesus di kampus atau di sekolah. Jika Anda seorang ibu rumah tangga, sambil beraktivitas (berbelanja, mengantar ana sekolah, ke bank, ke salon, dsb) Anda dapat menggosipkan kebaikan Tuhan Yesus kepada teman arisan Anda.
#1 Ketahuilah bahwa Tuhan mau memakai hidup Anda untuk memberitakan Injil. Mulailah dengan meminta belas kasih Allah memenuhi hidup Anda, sehingga Anda dapat mengasihi orang lain yang belum menerima kasih Allah seperti Yesus melihat mereka. Mat 9:35-38 “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan… Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti doma yang tidak bergembala.”
#2 Berdoa untuk oikos Anda. Tuhan telah menempatkan Anda di dalam kehidupan orang lain, orang-orang terdekat Anda adalah “oikos” Anda. Berdoalah untuk teman-teman Anda dan minta Tuhan membukakan kesempatan serta memberikan Anda keberanian untuk Anda bisa memberitakan Injil Yesus Kristus kepada mereka yang belum percaya. Mintalah hikmat, pimpinan serta tuntunan dari Roh Kudus; Dia adalah mitra Anda yang setia.
#3 Belajarlah untuk menjadi pribadi yang menyenangkan. Jadilah seorang yang dapat dipercaya dan jalinlah persahabatan dengan semua orang. Berinisiatif untuk memulai pembicaraan yang ringan dengan orang yang baru Anda temui baik itu di pasar swalayan, mal, tempat olahraga, tempat makan, kantor, marketplace dan dimanapun Anda punya kesempatan. Gunakan rasa keingintahuan alamiah Anda untuk mengembangkan minat pada orang lain, tanyakan siapa namanya, dimana tempat tinggalnya, apa yang menjadi hobby anda sebagai pintu masuk untuk mengenal lebih jauh teman-teman Anda.
#4 Selalu cari kesempatan untuk memulai percakapan tentang kehidupan rohani mereka. Anda dapat memperbincangkan apapun, bisnis, sekolah, trend busana, gadget; namun cari kesempatan untuk mulai menanyakan kehidupan rohani mereka. Tunjukkan ketertarikan yang trulus pada kehidupan mereka. Setelah itu, giliran anda menceritakan pengalaman pribadi Anda denga Tuhan Yesus. Beri kesaksian pribadi bagaimana Yesus Kristus telah menjamah hidupmu dan perkenalkan Yesus Kristus kepada orang yang Anda temui. Jangan takut untuk mebawa mereka kepada Yesus, ajak mereka untuk menerima Yesus Kristus menjadi Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Dorong mereka untuk masuk dalam komunitas orang percaya dan bergabung dalam gereja local.
#5 Sambil Anda pergi, beritakanlah Injil! Mulailah dengan “oikos” Anda, mulai dengan relasi bisnis anda, mulai dengan teman-teman di sekolah. Sekarang Anda menjadi misionaris, di kantor, di sekolah, di lingkungan Anda. Lakukanlah sebagai bagian dari kehidupan Anda sehari-hari. Anda akan heran melihat begitu banyak kesempatan yang ada disekitar Anda.
--

Hasilkan Buah Yang Mulia E-mail

H.B. London Jr.

Sepasang suami istri yang menjadi gembala dari sebuah gerja di Ohio, bergiliran berkotbah setiap minggu. Selain sebagai seorang istri dan ibu, wanita ini adalah pengkotbah yang bagus. Sementara suaminya, walaupun dia seorang gembala yang sangat dihargai, adalah seorang yang introspektif, pemalu, dan tidak berbakat sebagai pembicara.
Bila tiba gilirannya untuk berkotbah, pria ini bisasanya bangun dengan keraguan diri dan secara terus terang mengungkapkannya pada istrinya dan memohon kepada istri dan anak-anaknya untuk mendoakannya. Dia selalu merasa tidak yakin akan firman yang disampaikannya, meragukan kesanggupannya untuk berkotbah dan menyangsikan hubungannya dengan Kristus. Ini merupakan hal yang sangat melemahkan semangat.
“Tuhan, tolonglah Edward,” istrinya berdoa selagio dia membantu anak-anak mereka mempersiapkan diri ke gereja. “Engakau tahu dia dapat melakukannya. Dan Engkau akan menolongnya. Dia telah melayani Engkau dengan setia sepanjang minggu, dan Engkau akan menolong dia sekarang.” Istri gembala ini memberikan suatu pesan penting bagi pendeta masa kini. Sekalipun pada masa yang sulit, kita dapat menyelesaikan pelayanan yang besar karena Allah yang member kita kekuatan. Yosua 1:9 menjanjikan: “Kuatkan dan teguhkan hatimu. Janganlah kecut dan tawar hari sebab Tuhan Allahmu menyertai engkau ke manapun engkau pergi.”
Kuatkanlah hatimu dalam setiap pelayanan. Ingatlah bagaimana Allah membantu orang-orang biasa untuk mengatasi kesulitan mereka. Anggaplah kemenangan mereka sebagai janji kemenangan bagi Anda:
• Danielo tidur dengan pulas di kandang singa.
• Yusuf menolak seorang wanita perayu.
• Daud mengalahkan seorang raksasa.
• Elia menantang penyembahan yang sesat.
• Yohanes Pembaptis mengalihkan kehormatannya kepada Yesus.
• Paulus menyanyi untuk mengusir ketegangan di penjara di tengah malam.
• Yesus menjadi teladan kasih Allah di kayu salib.
Daftar ini member dorongan semangat bagi pelayanan Anda bahkan dalam keadaan yang paling sulit. Bergabunglah dengan ratusan gembala jemaat yang bertekad membawa Injil kepada kehidupan modern.
Para pemeran serta akan merasakan kehadiran Tuhan di tengag-tengah pelayanan yang penuh dengan tantangan yang besar, dan juga merasakan suatu keberhasilan yang luar biasa.

--

Kualitas Sebuah Visi yang Efektif E-mail

Stan Toler & Glen Martin

Beberapa tahun silam Charlton Heston diwawancarai dalam siaran televise Merv Friffin Show. Topiknya berkaitan dengan kehidupan serta keberhasilan karier Heston yang berturut-turut sehingga permainannya dalam dua buah filmnya yang super, The Ten Commanments dan Ben Hur banyak mendapay sorotn. Dalam wawancara tersebut, Griffin, sebagaimana banyak di antara kita, mengajukan pertanyaan kepada actor handal yang membibntangi film bernuansa agama itu: “Aakah penampilan rohani Anda berubah akibat bermain di kedua film ini?”
Heston merenung sejenak dan kemudian menjawab, “Wah Merv, tanpa alas kaki, Anda tidak dapat turun dari Gunung Sinai dalam kondisi fisik yang sama seperti ketika Anda naik ke sana.”
Jawaban yang jitu. Mengapa Musa tampil berbeda ketika ia menuruni aGunung Sinai? Di atas gunung itu ia ditangkap oleh visi kemuliaan Tuhan. Visi sanggup menampakkan kemuliaan Tuhan. Petrus menyaksikan mukjizat Tuhan ketika Ia membuat jumlah ikan berlipat ganda, dan ia meninggalkan pekerjaannya sebagai penangkap ikan untuk mengikut Kristus. Paulus mendapat visi Tuhan kita yang sudah bangkit, dan ia meninggalkan hidup lamanya sebagai penganiaya orang Kristen untuk mengikut Yesus. Sepanjang sejarah, banyak sekali pria dan wanita yang meninggalkan apa saja yang mereka sayangi untuk mewujudkan visi yang Yesus taruhkan dalam hati mereka, sebuah visi untuk membuat suatu perubahan di dunia. Kualitas-kualitas apa yang membuat sebuah visi menjadi begitu luar biasa sehingga orang termotivasi oleh visi dan Kerajaan sorga dibangun akibat visi tersebut?

*
Visi harus berakar dalam kehendak Tuhan
Kualitas pertama dari visi yang efektif untuk umat Tuhan ialah, visi harus dilandaskan pada apa yang, sebagaimana yang mereka yakini, Tuhan ingin mereka lakukan. Kehendak Tuhan tidak boleh diperlakukan bak permainan petak-umpet. Tuhan ingin gereja mengetahui rencana-Ny. Tuhan kita sudah memaparkan apa yang pernah suatu kali dianggap sebgai “misteri kehendak-Nya” bagi gerej. Selidikilah firman Tuhan. Misi untuk gereja sudah diberitahukan dengan jelas, dan namanya Amanat Agung. Luangkan waktu untuk memahami visi tersebut. Buatlah visi itu menjadi impian gereja, doakan visi itu dan carilah pimpinan-Nya untuk menggunakan visi tersebut dalam pelayanan yang sudah Ia percayakan kepada gereja.
*
Visi memotivasi orang untuk bertindak
Visi yang efektif memotivasi seseorang untuk meninggalkan zona nyamanny. Simak baik-baik penyataan ini: pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya dapat menjadi malas. Banyak orang lebih suka memilih pelayanan “remote control” yang memungkinkan mereka untuk tetep berada ditempat, member komando ini itu, namun tidak terjun sendiri ke lapangan. Setiap orang perlu dimobilisasi untuk melakukan perkara-perkara besar. Visi harus sanggup membuat hati kita remuk sehingga kita mampu melihat apa yang Tuhan lihat – orang-orang yang kesepian yang jiwanya terhilang dan tengah mencari-cari kebenaran. Selain itu, visi harus sanggup menantang hati kita agar kita menyadari bahwa pemimpin ingin kita menjadi bagian dari rencana penjangkauan orang-orang yang terhilang itu.
*
Visi memberi gambaran tentang masa depan
Visi menyinggung masalah logika sekaligus perasaan. Visi membangkitkan pengharapan bahwa aka nada keberhasilan di waktu mendatang. Yesus memanggil murid-murid yang ada di sekeliling-Nya dan menunjuk kea rah orang-orang yang dating kepada-Ny. “… pandanglah lading-ladang” (Yohanes 4:35). Sebetulnya, yang Ia maksudkan ialah, “Carilah kemungkinan-kemungkinan untuk menghadirkan pengharapan bagi orang-orang yang tidak berpengharapan itu!”
*
Visi membangkitkan antusiasme dan keterbukaan untuk berubah
Visi selalu menghasilkan perubahan. Misalnya, diterimanya visi Tuhan dalam kehidupan seseorang adalah proses perubahan rohani yang kita namakan sebagai pengudusan. Adalah fakta bahwa Tuhan mengasihi kita sebagaimana kita ada, namun sangatlah tidak wajar kalau Ia mengasihi kit agar kita tetap seperti kita ada! “Visi diprakarsai oleh Allah, diinginkan oleh manusia dan dinyatakan melalui Roh Kudus. Tuhan memberikan visi-Nya hanya kepada mereka yang gigih dalam mengenal Dia secara lebih dekat, karena visi-Nya merupakan bagian yang kudus dari pernyataan rencana-Nya yang kekal.” Visi untuk melayani akan memacu orang untuk menginginkan apa yang Tuhan inginkan – memberitakan kabar baik tentang pengharapan bagi mereka yang tidak berpengharapan.
*
Visi harus praktis
Visi harus layak diraih dan layak dipercaya. Mungkin saja bahwa hasil akhirnya tidak diperoleh sesuai dengan waktu kita. Hanya Tuhan yang dapat menentukan kapan kita siap untuk memperolehnya. Namun, ketika visi disodorkan, pemimpin harus memastikan bahwa orang-orangnya dapat melihat hasil yang diinginkan dan percaya bahwa visi itu dapat diwujudkan sesuai dengan waktu Tuhan.
*
Visi harus cukup jelas untuk menjadi pedoman dalam mengambil keputusan
Visi member orang-orang yang tengah menjalankan visi suatu kesanggupan untuk mengatakan, “Tidak” kepada aktivitas-aktivitas yang tidak akan member kontribusi bagi pewujudan visi. Georgr barna menulis, “Visi itu kasat mata di mata yang melihatnya. Kendati visi hanyalah sebuah konsep atau perspektif dari realitas yang tidak eksis, visi sendiri eksis demikian jelas dalam pikiran seorng visioner sehingga dapat dianggap sebagai sebuah gambar hidup. Visi semacam ini memotivasi dan mengarahkan pelayann, menyaring informasi dan berperanb sebagai katalis – pemicu perubahan – dalam pengambilan keputusan dan menjadi sarana pengukur kemajuan.”
*
Visi menfokuskan sumber-sumber daya pada arah yang sama
Tidak mudah untuk melayani dalam dunia postmodern ini. Adakalanya kaidah-kaidah untuk penggembalaan maupun kepemimpinan gereja ditentukan dengan baik, dan rambu-rambu juga dijabarkan dengan jelas. Namun di millennium baru ini segalanya sudah berubah. Meminjam analogi olahraga bola basket, maka kondisi sekarang ini dapat disamakan dengan aturan-aturan pertandingan yang diubah pada saat pertandingan sudah berlangsung setengah jalan. Bayangkan saja, para pemain sudah mempelajari segala strategi yang berlaku apabila ingin memenagkan sebuah kejuaraan bola basket. Dan, bayangkan pula bahwa kita sudah ditetpkan sebagai pelatih bola basket disebuah universitas bergengsi. Tetapi, tiba-tiba kita disodori peraturan peraturan baru seperti di bawah ini:
Pemain hanya diizinkan melakukan dribel sebanyak tiga kali sebelum ia melempar bola.
• Pemain hanya diizinkan berada di atas garis selama lima detik.
• Melempar bola ke keranjang dengan mata tertutup memperoleh lima poin,
• Hanya penjaga 9biasanya pemain dengan tubuh terpendek) yang boleh membuat rebound (melambungkan bola).
• Pelatih dari kedua belah pihak boleh mengeluarkan satu orang pemain dari tim lawan pada waktu permainan sudah berlangsung setengan jalan.
Saya kira, kita semua akan berkata, “Wah nanti dulu! Saya tidak pernah dilatih untuk melatih dengan peraturan semacam ini!” ucapan yang sama mungkin saja dilontarkan oleh gembala-gembala di abad dan millennium baru ini. Peraturan sudah berubah. Pelayanan tidak lagi berlangsung “dari balkon penonton.” Balkon penonton sudah ditata ulang atau bahkan sudah tidak dipakai lagi.
*
Visi akan hidup lebih lama dari penerima visi
Jika sebuah visi benar-benar berasal dari Tuhan, visi itu tidak akan pudar juka “sang visioner” dipanggil pulang untuk bersama Tuhan atau pindah ke pelayanan lain. Visi Rasul Paulus jelas dan riil: “Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, dimana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain” (Rm. 15:20).
Paulus menanam banyak gereja untuk mewujudkan visi yang diberikan kepadanya. Langkahnya kreatif dan ia dikenal sebagai pengambil resiko. Ujar Paulus, “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat” (1Kor 9:19-21).
Strategi-strategi Paulus melahirkan landasan baru dalam penginjilan. Namun, visinya tidak berakhir dengan kematian Paulus. Semangat penginjilannya menembus banyak gereja dewasa ini.

--

The Power of Hope E-mail

Joyce Meyer

I define hope as "the happy anticipation of good things." Are you aggressively hoping for something good to happen to you? Do you wake up in the morning excited and expectant about life? You can do that by learning how to celebrate and enjoy this journey called life.
Everything in life is a process in motion. Without movement, advancement and progression, there is no life. Once a thing has ceased to progress, it is dead. In other words, as long as we live, you and I are always going to be heading somewhere, and we should be enjoying ourselves on the way. God created us to be goal-oriented visionaries. Without a vision, we become bored and hopeless. Hope deferred makes the heart sick, according to Proverbs 13:12, but when the desire is fulfilled, it is a tree of life.

There's something about hope that makes people lighthearted and happy. You're not going to be happy if you don't have hope. The more hope you have in God, the happier you become. Biblical hope is a close relative to faith. I don't see how you can have faith without hope because hope is the foundation on which faith stands. Hope believes everything is going to turn out all right—hope is positive! To enjoy life you must maintain a good, positive attitude. God is positive, and He wants positive things to happen to each of us, but that isn't likely to happen if we're not filled with hope and faith.
Some people are afraid to hope because they have experienced so much hurt and disappointment that they don't think they can face any more pain. They refuse to hope so they won't be disappointed. Disappointment is painful! Rather than being hurt again, they simply refuse to hope that anything good will ever happen to them. This type of behavior sets up a negative lifestyle. Everything becomes negative because their thoughts are negative. Proverbs 23:7 says, For as he [a person] thinks in his heart, so is he....

Your Future Has No Room For Your Past!
Many years ago I was extremely negative because of the devastating abuse that had taken place in my past. The result was that I expected people to hurt me, and they did. I expected people to be dishonest, and they were. I was afraid to believe that anything good might happen. I thought I was protecting myself from being hurt by not expecting anything good to happen. When I really began to study the Word and trust God to restore me, I began to realize that all of my negativism had to go. In Matthew 8:13, Jesus says that it will be done for us as we have believed. I believed everything was negative, so naturally many negative things happened to me.
I needed to let go of the past and move into the future with hope, faith and trust in God. I had to get rid of the heaviness of despair, depression and discouragement. And I did, once I dug into the truth of God's Word! I found out that God is ...a shield for me, my glory, and the lifter of my head (Psalm 3:3). I began to turn my negative thoughts and words into positive ones! Now, I am not saying that you and I can get whatever we want by just thinking about it. God has a perfect plan for each of us, and we can't control Him with our thoughts and words. But we can think and speak in agreement with His will and plan for us. We can practice being positive in every situation that arises. Even if what is taking place in your life at the moment seems negative, expect God to bring good out of it as He has promised in His Word. You must understand that before your life can change, your attitude must change.
Hope is a powerful, spiritual force that is activated through our positive attitude. We are assured and know that [God being a partner in their labor] all things work together and are [fitting into a plan] for good to and for those who love God and are called according to [His] design and purpose (Romans 8:28). What Satan means for harm, God intends for good. All things work together for good for those who love God. Satan wants to hurt you and have you spend your life distrusting everyone because somebody hurt you when you were a child, while you were in school, in your marriage, on your job, etc. The list of who, what, where and how you can be hurt is endless. You have to say, "No! That is subject to change! I am a child of the living God! Something good is going to happen to me!"
[After all] the kingdom of God is not a matter of [getting the] food and drink [one likes], but instead it is righteousness (that state which makes a person acceptable to God) and [heart] peace and joy in the Holy Spirit (Romans 14:17). What this means is that after all the painful things that have happened in your past have come and gone, God still wants you to enjoy every single day of your life. This won't happen, however, until you make up your mind to take hold of the abundant life that Jesus' death and resurrection purchased for you. Until then, the devil will always try to take it away. Jesus said, The thief comes only in order to steal and kill and destroy. I came that they may have and enjoy life, and have it in abundance (to the full, till it overflows) (John 10:10).
You are a new creation. You don't have to allow the old things that happened to you continue to affect your new life in Christ. As a new creature in Christ Jesus, you can have your mind renewed according to the Word of God: And be constantly renewed in the spirit of your mind [having a fresh mental and spiritual attitude], and put on the new nature (the regenerate self) created in God's image, [Godlike] in true righteousness and holiness (Ephesians 4:23,24). Things will change for the better when you keep your thoughts filled with hope.

Rejoice In Hope
The Bible is full of hope-filled promises for you and me. Through Him also we have [our] access (entrance, introduction) by faith into this grace (state of God's favor) in which we [firmly and safely] stand. And let us rejoice and exult in our hope of experiencing and enjoying the glory of God (Romans 5:2). Good things begin to happen to you when you rejoice in the hope of experiencing God's favor on a regular basis. Luke 2:52 tells us that ...Jesus increased in...favor with God and man. You and I are introduced to the favor of God by faith. All of God's promises are activated by faith. We shortchange ourselves when we believe in Jesus but don't believe in His blessings. Believe that you walk in holiness and righteousness (see Ephesians 4:24), believe that you are anointed (see 2 Corinthians 1:21), and believe that you are blessed with every spiritual blessing as promised in Ephesians 1:3. Believe Romans 8:37 when it says you are more than a conqueror!
Everything that is promised in the Bible is for us to rejoice in now. Be glad! Raise your expectancy level. Rejoice in the hope of experiencing God's glory right now. My husband and I believe for many things, but beyond them all, we believe in Someone—Jesus. We don't always know what is going to happen. We just know that it will always work out for our good! The more positive and hopeful we are, the more we will be in the flow of God. In Ephesians 1:17,18, the apostle Paul prayed, [For I always pray to] the God of our Lord Jesus Christ, the Father of glory, that He may grant you a spirit of wisdom and revelation [of insight into mysteries and secrets] in the [deep and intimate] knowledge of Him, by having the eyes of your heart flooded with light, so that you can know and understand the hope to which He has called you, and how rich is His glorious inheritance in the saints (His set-apart ones).
This glorious inheritance is for you and me! Second Peter 1:3 says, For His divine power has bestowed upon us all things that [are requisite and suited] to life and godliness, through the [full, personal] knowledge of Him Who called us by and to His own glory and excellence (virtue).

The Hope Of Seeing Change
If there is anything in this world that you can be sure of, it is change. Something is always changing. Why is it, then, that we find ourselves thinking, "Nothing will ever change... I'm always going to be like this... My situation will never change... He'll never change... She'll never change... I'm never going to be as good as so-and-so"? The only thing that will never change is God. For I am the Lord, I do not change... (Malachi 3:6). Everything else can change. If you have no hope of seeing change in your situation, change probably isn't going to come. We endure so many things emotionally that we really wouldn't have to suffer if we put our hope in God and stopped looking at all of the circumstances we can't control. We will never enjoy life unless we decide to! In order to live as God intends for us to live, we must truly believe that it is God's will for us to experience continual joy. Then we must decide to enter into that joy, which is essential to our physical, mental, emotional and spiritual health.
Proverbs 17:22 says, A happy heart is good medicine and a cheerful mind works healing, but a broken spirit dries up the bones. Hope makes joy available, just as a lack of hope produces misery. We can choose to enjoy righteousness and peace or stay in the midst of condemnation and turmoil. There are blessings or curses available, and that is why Deuteronomy 30:19 tells us to choose life and blessings. What do you do while you wait for change? You pray, believe and expect to receive. Maintain a positive attitude, knowing that God is working on bringing your change and that you will see it. Throughout your waiting time, the devil will scream, "It's not going to change; it's going to get worse!" Don't listen to this and become discouraged. Instead, wake up in the morning and say out loud, "This is the day that the Lord has made, and I will rejoice and be glad! Something good is going to happen to me today! Everything in my life that is not right is subject to change! The One who never changes is changing my situation. And while He's doing it, I'm going to enjoy my life!" Put your confidence in God and stop wearing yourself out trying to make things happen. The decision to have a good attitude while your change is coming can change you! Now is the time to decide to enter into the full and abundant life that God wants you to have.

God Is Working Right Now!
Most of us have a hard time believing that God is working on our behalf until we see something happening with our natural eyes. This usually isn't the way God works. He works behind the scenes much of the time. Right now He is changing hearts and drawing sinners unto Him. Right now He is working in our government. Right now God has a plan for your promotion. He may be speaking to your boss about giving you a raise. God is busy working in your life as long as you believe. Hebrews 11:1 says, Now faith is the assurance (the confirmation, the title deed) of the things [we] hope for, being the proof of things [we] do not see and the conviction of their reality [faith perceiving as real fact what is not revealed to the senses].
This scripture begins with the word now. Although the Greek word from which it is translated actually means “but, and, etc.,” rather than “at this point in time,” I still believe the term can be used to describe faith and hope. Faith and hope operate right now! Without them, life isn't enjoyable. Every time I lay aside faith and hope, I stop believing and I lose my peace. And as soon as I lose my peace, my joy goes with it. Make a decision to be a now person. God has a good plan for your life right now. Trust Him today. Believing God brings you into His rest and puts an end to the torment caused by impatience and anxiety while you're waiting. No matter how hopeless your situation seems to be or how long it has been that way, I know you can change because I did. It took time and heaping helpings of the Holy Spirit, but it was worth it. It will be worth it for you, too. Whatever happens, trust in the Lord and trust in the power of hope! My hope is in God who never changes. Nothing is impossible with Him. He is a big God, and I'm believing Him for big things. How about you?

--

Perubahan – Dirindukan Tetapi Mudah Diabaikan E-mail

Jimmy Oentoro

Bicara tentang perjalanan, adalah bicara tentang perubahan. Dalam perjalanan ada perubahan cuaca, kadang perubahan waktu antara dua kota, ada pula perubahan pemandangan dan suasana. Perjalanan hidup kitapun penuh dengan perubahan. Manusia baru berhenti berubah saat mereka dibatasi oleh peti kayu 2 X ½ meter, yaitu saat mereka menghadap Sang Pencipta. Perubahan bukan sekedar penting untuk hidup, perubahan adalah hidup itu sendiri. Ada sebuah cerita tentang sebuah kapal perang yang sedang berlayar. Dalam kabut yang tebal, mereka menerima pesan melalui morse yang mengatakan, “Ganti arah Anda 10° ke utara.” Tetapi kapten kapal tersebut menolak dan mengirimkan pesan balasan, “anti arah Anda. Saya seorang kapten.” Tidak lama pesan yang sama diterima, “Ganti arah Anda,” dan dibalas lagi oleh sang kapten dengan kata-kata, “Ganti arah anda, kami adalah kapal perang.” Jawaban yang diterima cukup mengejutkan sang kapten, “Ganti arah Anda, kami adalah mercu suar!” menolak perubahan dan menolak untuk berubah adalah fatal. Bila ditanya, hamper setiap orang mengakui bahwa mereka membutuhkan perubahan dalam kehidupan mereka. Beberapa mengatakan mereka ingin memiliki keluarga yang lebih harmonis, pekerjaan yang lebih berarti, gaji yang lebih tinggi, menjadi orang tua yang lebih baik, bahkan beberapa mengakui bahwa mereka ingin menjadi orang dengan karakter tertentu seperti idola mereka. Kita tidak bisa menjadi apa yang kita inginkan dengan cara mempertahankan apa adanya kita saat ini. Diperlukan perubahan demi perubahan.

Kemajuan-kemajuan yang ada di diduniapun terjadi karena adanya perubahan-perubahan. Bila perjalanan dari satu kota ke kota lain mungkin memakan waktu 1 hari penuh dengan kuda, kini dapat ditempuh dalam 1 jam dengan mobil. Informasi yang dahulu bisa memakan waktu berminggu-minggu lewat pos, kini bisa dilakukan dalam hitungan detik lewat email melalui internet. Peristiwa-peristiwa dari sekluruh duniapun dapat Anda lihat di ruang keluarga anda melalui televise saat hal itu terjadi. Bayangkan bila anda harus berbelanja dan memasak makanan Anda tiap hari karena tidak ada lemari es yang sanggup menimpan bahan makanan dalam waktu lama. Maka sebagian besar waktu kita akan dihabiskan untuk mencari dan mengolah makanan, dan banyak makanan terbuang karena busuk. Betapa merepotkan! Mereka yang menolak untuk berubah, menolak untuk maju. Perubahan identik dengan kemajuan.

Perubahan juga membawa akhir yang menyenangkan. Saya tidak dapat membayangkan bila anak saya tidak berubah, dari dulu tetap menjadi bayi yang lucu. Alangkah menyenangkan melihat anak saya berjalan, mulai bersekolah, menjadi gadis yang cantik. Saya juga menikmati perubahan-perubahan dalam kehidupan saya pribadi, melihat kemajuan dalam pekerjaan saat kami pindah dari kantor yang kecil ke gedung yang besar, bahkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam pribadi saya sejalan dengan bertambahnya pengalaman dan usia saya. Perubahan memberikan warna warni yang indah dalam kehidupan. Seperti warna coklat tananh yang sedang dibajak, berubah menjadi sawah yang hijau menyejukkan mata, berubah menjadi padi yang menguning saat panen tiba. Namun, perubahan juga ada harganya. Perubahan tidak dapat terjadi tanpa “rasa tidak nyaman” atau bahkan kadang mengakibatkan rasa sakit. Ada nada ketidakpastian dalam sebuah perubahan. Kadang juga ada sedikit kesedihan karena kita harus meninggalkan sesuatu dari masa lalu. Untuk beberapa orang, perubahan berarti kehilangan. Karena itulah beberapa orang mengambil sikap bermusuhan terhadap perubahan. Mereka tidak menolak perubahan, tetapi mereka menolak untuk diubah. Saya teringat beberapa tahun lalu saat terjadi perubahan yang cukup besar dalam organisasi yang saya pimpin. Kami pindah dari kantor yang lama yang terdiri dari ruko sempit empat lantai ke sebuah gedung yang cukup luas lengkap dengan auditorium, lapangan, dan ruang-ruang perkantoran yang nyaman. Perubahan yang menyenangkan tapi membutuhkan pengorbanan yang cukup besar karena kantor kami yang baru cukup jauh dari pusat kota Jakarta, dimana sebagian besar karyawan tinggal. Mereka harus berangkat kerja pagi-pagi sekali untuk dapat masuk kantor tepat waktu. Hamper semua karyawan bersedia ikut pindah kantor bersama kami, walaupun ada satu dua orang memilih untuk tetap bekerja didaerah pusat kota Jakarta, berhenti bekerja bersama kami. Perubahan menuju visi, image, dan tantangan yang lebih besar membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit.

Jadi, kita setuju bahwa perubahan itu harus terjadi untuk kemajuan kita, walaupun mungkin ada rasa tidak nyaman, ada tantangan atau ketidakpastian.

--

The Climber E-mail

Ir. Superno Lembang

Manusia dibagi berdasarkan kelompok macam-macam, ada orang yang membagi orang dengan berambut lurus dan keriting. Ada yang membagi berdasarkan kelamin pria dan wanita. Kalau di airport dibagi berdasarkan kantong; Business Class, Economy Class, Executive Class.Lain lagi kalau di catatan statistic,dibagi dari keturunan, suku man ? Suku Tapanuli, Suku ambon, Jawa, dan lain sebagainya. Adalagi orang yang dibagi berdasarkan orang pandai, orang bodoh, dan orang setengah bodoh. Macam-macam cara orang membagi jenis-jenis orang.

Orang di kelompokkan dan digolongkan, tetapi Firman Tuhan yang say abaca, manusia dibagi menjadi tiga jenis. Bangsa Israel memang terdiri dari 12 suku, mulai dari yang paling besar Ruben sampai yang paling kecil Benyamin. Israel dibagi 12 suku dengan ciri masing-masing yang berbeda. Yehuda berbeda dengan Benyamin, berbeda dengan Ruben, berbeda dengan Simeon.

Tiap suku mempunyai cirri masing-masing. Suku-suku Israel merupakan gambaran orang Kristen dan saya membagi menjadi 3 golongan:

Golongan pertama, mari kita baca keluaran 14:9–12, Adapun orang Mesir segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon. Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN, dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kau perbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakana kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” Golongan pertama, adalah Golongan ‘the Quitter’, adalah golongan pecundang.

Bangsa Israel sudah dapat janji dari Tuhan untuk masuk ke dalam Tanah Perjanjian dimana terdapat susu dan madu.Allah berjanji akan menyertai mereka dengan kuat kuasa yang heran. Tetapi sekelompok Bangsa Israel ini, begitu menghadapi masalah mereka langsung bilang “aduh…lebih bagus kami menjadi budak di Mesir, lebih bagus mereka ‘quit’berhenti. Bukan sekali ini saja mengeluh, didalam bangsa Israel ada sekelompok yang ingin kembali lagi. Bukan seluruhnya, namun ada sekelompok didalam bangsa Israel, bukan semuanya.Kembali lagi dalam Keluaran 17 : 3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan ?"

Jadi ada satu Golongan dalam bangsa Israel yang setiap kali ketemu masalah pengennya “Cuma kabur”. Maunya kembali lagi ke yang lama, jadi saya golongkan mereka ini adalah ‘the Quitter’. Mestinya mereka tetap berjalan, berjalan, bukan hanya berjalan tapi harus bahkan mendaki sampai ketujuannya, yaitu ke Bukit Sion. Karena Bukit Sion adalah yang paling tinggi di mana Allah berhadapan muka dengan muka dengan mereka. Tapi para ‘the Quitter’ ini, mereka menyerah. Waktu ada masalah sedikit menyerah! Baru ada rintangan sedikit menyerah ! Baru ada tekanan sedikit mereka Quit. Mereka pilih menjadi budak daripada berjuang.

Golongan ini, mereka menolak kesempatan yang di berikan Tuhan, mereka buang, mereka jadikan suatu hambatan. ’The Quitters’ ini mengabaikan, menutupi, atau meninggalkan banyak hal yang ditawarkan Tuhan dalam kehidupan ini. Sesungguhnya kehidupan ini menawarkan kita banyak hal.Mereka meninggalkan impian, mereka dan memilih jalan yang mereka anggap lebih datar, lebih mudah.Ironisnya Golongan ‘the Quitters’ ini akan menderita dalam jangka panjang.Mereka sudah jalan kemudia mereka ingin kembali.

John Witter berkata; dari semua kata-kata sedih yang terucap, tertulis kata-kata yang paling menyedihkan adalah ‘kalau saja…’,’ seandainya…’,’dulu…’ banyak orang yang menyesal. ”seandainya dulu saya…” ini adalah kata-kata yang menyesal.Ciri-ciri ‘the Quitters’ ini antara lain; mereka sinis terhadap kehidupan ini, mereka cenderung murung, perasaannya mati, mereka menjadi pemarah dan frustasi, mereka menyalahkan sekelilingnya, mereka benci orang yang mau maju, karena mereka tidak ada dorongan untuk maju.

’Quitters’ ini mencari pelarian sering mereka justru terlibat narkoba, mereka kemudian juga menjadi pecandu Alkohol, bahkan mereka mengikat diri pada acara TV cengeng yang tidak bermutu.Ini adalah ‘the Quitters’, mereka hidup tanpa bermakna, hidup seperti sebuah balok kayu yang terhanyut gelombang badai kehidupan ini, terombang-ambing. ‘the Quitters’ ini banyak di muka bumi ini. Saudara bisa jumpai dia ‘the Quitters’ ini ada dimana-mana, mulai dari Gedung yang paling tinggi, di puncak-puncak Perusahaan juga saya temui orang seperti itu. Sampai di Warung-warung di tepi jalan, orang-orang yang berdiri di tepi jalan, di Sekolah, di Kantor, di Gereja, banyak juga. Siapa saja termasuk dalam golongan ‘the Quitters’ini? orang yang kalau begitu kena masalah terus menjerit, merengek. Mereka adalah pelarian dari pendaki Bukit Sion, mereka adalah pelarian dari panggilan mimpi mereka, mungkin mereka mempunyai cita-cita besar, tapi waktu dalam dalam perjalanan mereka mengalami persoalan dan masalah, mereka quit! Kembali menjadi orang yang tidak punya mimpi.

Anda tidak perlu menunggu sampai akhir hayat untuk mengetahui orang yang benar-benar takut mati. Mereka adalah ‘the Quitters’, karena mereka belum pernah benar-benar hidup, mereka hidup sebentar, tapi takutnya lebih banyak, di kantor orang ini dikenal sebagai ‘minimalis’, ”pokoknya saya asal absen”, masuk boleh pagi-pagi tapi jam Lima dia pulang, meskipun pekerjaan setumpuk. Di Sekolah juga saudara bisa temui orang seperti itu,”asal angka 6, gue seneng deh, yang penting daripada 5, 6 saja cukup…”.Orang-orang seperti ini asal hidup, asal lulus, minimalis. Ini adalah Golongan ‘the Quitters’orang pelarian.

Bangsa Israel rupanya ada sejenis segolongan orang yang begitu lihat Bangsa Firaun, mereka langsung teriak : “Aduhh, Musa mengapa kami kesini, mendingan kami menjadi budak”, mereka tidak berani mengejar mimpi mereka. Para Quitters ini ngak pernah merasa kesepian, mereka bisa banyak teman, teman ngerumpi, betapa beratnya hidup ini tanpa teman-temannya. Teman-temannya akan berkata “hidup ini sungguh berat” lebih baik kami kabur, ngumpet di balik cangkang yang hangat, mereka adalah orang yang kalah sebelum berperang, begitu liat musuh sebelum turun ke lapangan pertandingan mereka sudah gemetar.Mereka kadang menyalahkan Genetik mereka, mereka menyalahkan “habis papah saya begitu…”, dia salahkan keluarganya, dia salahkan orang tuanya, kadang menyalahkan Tuhannya. The Quitters ini menolak tanggung jawab. Padahal sebetulnya hidup ini adalah keputusan-keputusan yang harus mereka buat dan mereka lebih senang memilih untuk kalah, mereka bukan orang-orang kalah tapi sengaja untuk kalah. Dari kemampuan golongan the Quitters ini dengan dengan Golongan yang lain hamper sama, mereka adalah bangsa Israel juga,Bangsa yang dapat janji Tuhan, mereka di sertai Allah juga tapi mereka tidak punya daya juang, mereka lari, mereka selalu bilang ‘too late’ terlambat! Banyak alas an, mereka ini ‘the Quitters’

Golongan yang ke Dua, kita lihat di Bilangan 32:1–7 Adapun bani Ruben dan bani Gad ternaknya banyak, bahkan sangat banyak sekali.Ketika mereka melihat tanah Yaezer dan tanah Gilead, tampaklah tempat itu tempat yang baik untuk peternakan. Lalu datanglah bani Gad dan bani Ruben dan berkata kepada Musa, imam Eleazar dan para pemimpin umat itu: “Atarot, Dibon, Yaezer, Nimra, Hesybon, Eleale, Sebam, Nebo dan Beon, negeri yang telah di kalahkan oleh TUHAN untuk umat Israel, itulah suatu negeri yang baik untuk peternakan dan hamba-hambamu ini memang ada ternaknya.” Lagi kata mereka:”Jika kami mendapat kasihmu,biarlah negeri ini diberikan kepada hamba-hambamu ini sebagai milik; janganlah kami harus pindah ke seberang sungai Yordan.” Jawab Musa kepada bani Gad dan ban Ruben itu:”Masakan saudara-saudaramu pergi berperang dan kamu tinggal disini? Mengapa kamu hendak membuat enggan hati orang Israel untuk menyeberang ke negeri yang diberikan TUHAN kepada mereka? Cerita sebagai berikut;Bangsa Israel telah 40 tahun keliling-keliling dan mereka sampai di tepi sungai Yordan tinggal nyebrang.Mereka tinggal selangkah, tapi mereka memilih tidak menyebrang. Mereka berkemah sebelum Sungai Yordan, mereka ini Golongan ke Dua. mereka adalah : ‘The Campers’, tukang kemping!

Jadi ‘the Campers’ ini berbeda dengan ‘the Quitters’, the Quitters baru jalan saja uda kabur, tapi ‘the Campers’ ini sudah jalan, tapi dia berpuas diri, ”ah…yang penting kan gue sudah tidak di Mesir…” tapi tinggal sedikit lagi,mereka menyerah, mereka ada di Sekolah biasanya ada di semester terakhir. Dikit lagi tugas Akhirnya selesai, mereka kemping nggak lulus-lulus padahal satu semester lagi bikin tugas akhir selesai, mereka suka kemping,” dari pada orang nggak kuliah, mendingan gua, mahasiswa…” mahasiswa abadi! Kita sering ketemu ‘the Campers’ini.

Mereka orang yang suka berkemah, suka puas dengan apa yang mereka cari, mereka cepat-cepat kemping di puncak perjalanan hidup, berpuas diri. Golongan orang yang puas diri sering berkata “Sejauh ini sajalah saya mendaki…” entah karena bosan, karena capek, karena malas, karena jenuh, mereka akhirnya memilih tempat yang datar, tempat yang nyaman, mereka kemudian bersembunyi dari situasi yang tidak bersahabat.Mereka memilih duduk menghabiskan sisa hidup mereka ditempat itu.

Mereka berbeda dengan Golongan yang pertama ‘the Quitters’, karena mereka sudah menanggapi tantangan untuk mendaki, mereka katakana “oke, saya mendaki…” Namun mereka berpuas diri karena baru mengalahkan bukit yang kecil, padahal hidup ini masi banyak bukit yang harus kita daki. Masih ada puncak Sion yang harus kita jalani, bukankah hidup ini adalah ‘Konstan Battle’ perjuangan terus-menerus.

”Hidup ini tentunya untuk mencari dan menemukan, bukan menyerah” itu kata Tennesm seorang pujangga yang luar biasa. Orang the Campers ini sering berkata “ini sudah cukup baik…”, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya harga yang mereka bayar sudah sangat mahal.

Seperti Ruben dan Gad, sudah jalan Empat puluh tahun. Mereka berdua sudah melewati badai-gurun, mereka sudah lewati haus-lapar, mereka tinggal menyebrang,tetapi mereka pilih kemping. Nggak salah kalau pilih kemping sejenak, tarik nafas, tapi jangan seperti Ruben dan Gad, mereka memilih untuk tidak berperang sehingga Musa marah kepada mereka. Musa katakan “Hai Ruben dan Gad, kalian tinggal menyebrang saja, sudah empat puluh tahun jalan, tinggal dua minggu sampai”,tetapi mereka bilang “ah…saya suka di lereng Gunung saja…” orang seperti ini sesungguhnya membuat bagi dirinya sebuah penjara, namanya ‘penjara nyaman’. Rasa nyaman adalah penjara modern saat ini.

The Campers ini termotivasi takut kehilangan sesuatu.Mereka lebih parah daripada seekor burung, Karena seekor burung kalau dibuka sangkarnya dia akan lari keluar dan pergi dari sangkarnya. Mereka lebih parah. Kalau mereka jadi burung walaupun sudah dibuka sangkarnya, mereka memilih untuk diam diam di dalam, mereka tidak berani keluar dan mencari kebebasan. Ironisnya Ruben dan Gad ini akhirnya punah. Dari 12 suku bangsa Israel, 10 punah, tidak di temukan sampai sekarang.yang masuk hanya Yehuda, makanya mereka di sebut Yahudi, ‘The Jews’ dari kata Yehuda. Karena hanya mereka ‘the Climbers’ itu. Mereka yang kemping disikat oleh Bangsa-bangsa Moab, padahal Bangsa Moab tadinya dilindas oleh mereka, tetapi mereka pilih hidup nyaman.Suatu hari bangkit kembali keturunan Moab, Gad dan Ruben dikejar seperti anjing, saudara dapat membaca cerita itu selanjutnya.’The Campers’ tidak sadar dengan cara dia bertahan, lama-lama mereka tertinggal dan musnah.

Yang Ketiga, yang ini Golongan yang luar biasa, mari kita baca Mazmur 87 : 6 TUHAN menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa: “Ini dilahirkan di sana.” Sela Kalau saudara baca judul dari Mazmur 87 ‘Sion Kota Allah’ jadi Tuhan mencatat sekelompok orang yang lahir di puncak gunung, mereka ini adalah’the Climbers’, Climbers! Pendaki-pendaki kehidupan. Adalah segolongan orang-orang yang terus bekerja, mereka ini tidak pernah akan puas, kecuali kalau mereka sampai di ujung puncak sukses.

Mereka tidak akan berhenti kalau impian mereka belum menjadi kenyataan.Impian mereka tidak luntur oleh kesulitan, dia tidak menghiraukan latar belakang. Mereka terus mendaki, mendaki, mendaki sampai tujuan.

Kaleb dan Josua waktu dia masuk dalam tanah Perjanjian untuk mengintai Kadesy.Kabar yang mereka bawa sangat berbeda, antara Kaleb dan Josua dengan teman 10 orang.Mereka melihat satu desa, desanya sama tapi melihatnya berbeda. 10 orang ini adalah ‘the Quitters’ mereka bilang:”raksasanya besar, nggak mungkin maju, persoalannya dahsyat”. Tetapi Kaleb dan Josua, mereka bilang “tidak lihat raksasa, dia lihat buahnya, buah jeruknya sebesar jeruk Bali, inilah tanah yang penuh madu dan susu”. Mereka berkata persoalan ini kalah besar, mereka adalah ‘the Climbers’. Mereka justru memfokuskan diri bukan pada persoalan, tapi janji Allah dalam kehidupan ini.

Climbers adalah orang-orang yang bertahan meskipun angin menerpa, mereka tidak gugur.Mereka tidak biarkan umur mereka, cacat fisik, cacat mental, ataupun jenis kelamin, Ras, kekalahan, untuk menghambat mereka mencapai tujuan dari Tuhan.Seperti seorang bernama Yefta, siapa itu Yefta? siapa bapaknya, dia tidak kenal, karena ibunya adalah perempuan sundal, dia kalau jalan di tengah-tengah bangsa Israel, orang berkata “ ini anak sundal “. Tetapi Yefta dia tidak peduli karena dia adalah golongan pendaki, latar belakangnya rusak, tapi dia bawa alat-alat pendakinya dan dia mencapai puncak paling tinggi dalam kehidupan ini.Yefta menjadi salah satu Hakim yang luar biasa dari Bangsa Israel, tidak ada kata berhenti dalam kamus mereka, the Climbers ini gigih, ulet, tabah, saat batu besar datang menghadang mereka dijalan, mereka cari jalan lain.

Ingatlah bahwa Climbers juga manusia biasa kadang-kadang mereka juga bosan, bisa ragu-ragu, bisa kesepian, tapi mereka menanti-nantikan kekuatan Tuhan.Kekuatan mereka segera di perbaharui, mereka teruskan lagi perjalanan, mereka bisa memotivasi diri sendiri.

Jimmy Carter pada tahun 1980 bulan Desember, dia dikalahkan telak oleh presiden Ronald Reagan.Jimmy Carter pada waktu itu dia menghadapi masalah yang luar biasa.Kedutaan Besar di Taheran di serbu oleh pengikut Khomeni, di dalamnya sudah ada Duta Besar yang sudah di tahan 365 hari, ini Presiden Adidaya Dunia tidak dapat berbuat apa-apa warganya di tangkap dan Jimmy Carter segera membuat satu keputusan. Dia buat serangan dengan yang terkenal dengan nama ‘the Blue Stone’ adalah serangan fajar, dia bawa pesawat helicopter yang dahsyat untuk masuk Taheran untuk mengambil orang-orang itu keluar.Operasi Militer di gelar, tapi tragisnya anak-anak muda yang di kirim untuk misi ini bukannya mati gara-gara orang Iran,tapi mati tersapu badai.Karena mereka harus melalui dari daerah utara, mereka tidak bisa potong Irak, tidak bisa porong dari selatan, akhirnya potong dari utara dan mereka di habisi badai.

Jimmy Carter di telepon “you are finished” kata musuh politiknya, tidak bisa jadi Presiden selanjutnya. Betul saudara dia kalah dengankepala tertunduk dia keluar dari Kantor Presiden, tapi sesungguhnya Jimmy Carter ini dapat uang pensiunnya yang banyak, dan dia adalah seorang the Climbers. Setelah keluar dari Kepresidenan dia buat Yayasan Carter Center, Carter Center ini adalah satu yayasan yang kerjanya seperti perang, tapi dia bukan perangi lagi orang Iran. Dia perangi penyakit. Di tengah-tengah resa malu yang luar biasa karena khomeni sengaja mempermalukan Jimmy Carter, begitu ganti Presiden, dia lepas semua jabatan. Ia kembali ke Amerika, dia merasa malu sekali. Tapi Jimmy Carter berkata bahwa dia akan berperang. Yayasan ini memerangi penyakit, dia adalah seorang Pendeta Baptis, dia pergi kemana-mana, dia perangi Kusta, dia perangi AIDS, dia sekarang pergi ke seluruh dunia dimana ada pertikaian paling ganas di dunia, titik-titik perang. Bahkan dulu seperti di Nikaragua, dia pergi kesana sebagai negosiator, dia biarkan dirinya maju di tengah tapi karena ia adalah ‘the Climbers’.

Jimmy Carter bisa saja dia menjadi dia bisa saja berkemah dengan uang pensiunnya.Dijaga oleh bodyguard kemana dia pergi, dia bisa saja hidup enak seperti banyak mantan Presiden Amerika. Tetapi Jimmy Carter tidak berkemah, dia pilih hidup untuk mendaki, dia jalani hidup ini, dia dating ke Indonesia sebelum Suharto turun, dkia lihat dimanaada kecurangan Pemilu di Indonesia.

Hari ini Jimmy Carter dicatat dalam sejarah. Sewaktu dia di wawancarai Larry King, dia menulis satu buku yang terakhir “Dengan Kemuliaan memasuki usia senja”, Larry King berkata “Mr.president, tahukah engkau pada hari ini engkau lebih terkenal dari pada waktu engkau menjadi Presiden ?”, hari ini dia lebih terkenal. Sewaktu dia jadi Presiden, dia boleh kalah, musuh politiknya boleh bilang “You’re finished”. Banyak orang boleh mengecam dia ‘Presiden Lembek’, tapi jalan cerita belum berakhir. Jimmy Carter sekarang dianggap sebagai seorang yang luar biasa,dia yang membuat dua orang bermusuhan bersalaman, Menahem Begin dengan Anwar Sadat bersalaman. Sekarang dia dikenal sebagai orang yang membawa damai. Waktu di Tanya “ngapain sih kamu mau susah-susah ke tempat perang, mbok pulang aja jaga cucu…” tapi jawabnya “

Berbahagialah orang yang membawa damai karena ia akan disebut Anak Allah”. Dia adalah seorang pendaki ‘the Climbers’, umur boleh lanjut tapi sampai akhir hayat dia berbakti kepada Tuhan dan Kemanusiaan. Ia tidak takut menjelajah potensi dalam dirinya, dan dia menerimakekuatan dari Tuhan. Memang tidak selalu mudah, banyak sakit, banyak kecewa, banyak air mata, banyak tantangan tapi dia sampai di Sion.

DR.Paul Stozt. Phd, berkata : kesuksesan sekarang tidak lagi di ukur dari IQ tetapi namanya Adversity Quotion” Adversity ini adalah kemampuan orang melawan tantangan, orang yang mampu memecangkan tiang dengan teguh, dia tetap berjalan.orang yang seperti ini mudah mengubah masalah, hambatan menjadi peluang, peluang menjadi sukses, mereka ini adalah the Climbers. Statistik mengatakan dunia ini bukan paling banyak the Quitters, dari seluruh manusia 20% adalah the Quitters, yang paling banyak the Campers 60%, the Climbers 20%. Mungkin engkau lagi sekolah sekarang, jangan jadi minimalis, jangan jadi the Quitters, bagi para pelajar, dan jemaat yang Tuhan kasihi jadilah the Climbers, jangan mau hanya dapat 6, jangan mau jadi the Campers.

Jadikan ini titik tolak dalam hidupmu, jadilah the Climbers jangan menyerah. Pemenang Piala Oscar tahun ini Russer Crow, dia adalah seorang pecundang tadinya. Dia adalah orang buangan di tepi jalan di Selandia Baru. Waktu dia pegang piala itu dia berkata: “Kepada para Gelandangan dan anak jalanan jangan berhenti bermimpi, engkau bisa paling tinggi di dunia ini.“ Saat mendengar kata-kata tersebut saya yakin dia adalah the Climbers. Walaupun dia dari golongan yang kumuh, namun dia berjuang.

Apalagi saudara yang punya Roh Kudus, apalagi kita punya Tuhan yang punya segala-galanya, apalagi saudara punya Firman Tuhan yang dahsyat. Kekuatan Tuhan yang menggerakkan anda. Orang yang di lahirkan di Sion tidak pernah puas sebelum sampai di Sion. Jangan menyerah! kita terus naik, Tuhan adalah kekuatan kita.

--

Fakta Tentang Otak E-mail
Nancy Dinar

fakta_otak.jpgPada saat lahir seorang bayi memiliki 1.000.000.000.000 sel otak (neuron). Bandingkan dengan jumlah penduduk bumi abad 21 sebanyak 6.000.000.000. Ini berarti dalam kepala bayi terdapat sel otak sebanyak 166 kali lipat jumlah manusia yang tinggal di planet ini.

Tiap sel otak memiliki ratusan dan ribuan cabang atau tentakel yang mirip sekali dengan gurita yang berukuran mikro.

Masing-masing tentakel ini berisi jamur atau spina dendrit yang mengandung ribuan zat kimia. Inilah yang membawa pesan diantara sel otak, semua informasi dalam setiap pikiran, setiap pengalaman belajar, dan setiap daya ingat yang dimiliki.

Contoh:

Ketika kita berpikir, sebuah gelombang elektromagnetis bergerak turun ke cabang sel otak, memicu zat kimia di dalam salah satu jamur, yang kemudian dengan cepat menyebrangi jarak pendek untuk memicu zat kimia di dalam spina dendrit lainnya. Hal ini kemudian memicu respons elektromagnetis dari sel otak sebelahnya.

Proses ini berjalan terus sehingga membentuk jejak setapak yang menyerupai jejak setapak berliku-liku di dalam hutan besar. Dan kecepatan gerak zat kimia ini jika dilihat akan seperti air terjun Niagara.

Dan diselidiki jumlah jejak pikiran ini jika dibuat bentuk teks normal akan membentuk deretan angka sepanjang 10,5 juta km!

Dengan begitu banyaknya kemungkinan tersebut otak manusia, jika seumpama keyboard dapat memainkan ratusan juta juta melodi. Tidak seorangpun yang masih hidup yang pernah mendekati penggunaan otak secara maksimal. Kekuatan otak manusia ini tidak ada batasannya. (Petr Akhonin, Ilmuwan Otak).

Beda manusia normal dengan jenius…

“Rata-rata manusia menggunakan 3% kapasitas otaknya dan jenius menggunakan 4%”

Semua serangga, ikan, burung atau hewan memiliki sel otak yang sama dengan yang kita miliki. Hanya jumlahnya lebih sedikit. Jumlah sel otak yang dimiliki inilah yang menentukan kecerdasan satu makhluk hidup.

Bandingkan dengna seekor lebah…

Seekor lebah memiliki kurang dari 1.000.000 sel otak. (1/1000.000 jumalh yg dimiliki manusia).

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh seekor lebah adalah:

Terbang, berkelahi, melihat, mendengar, mencium, mengecap, meraba, menyentuh, membangun rumah, mengendalikan suhu, menghitung, melindungi, kemampuan bernavigasi, berjalan, berlari, mengingat, bermain, mengasuh, berkembang biak, bekerja secara konstruktif dan kooperatif dalam sebuah komunitas.

Jika seekor lebah dengan jumlah sel otak kurang dari satu juta dapat melakukan semua itu, pikirkan apa yang dapat dilakukan oleh manusia!!

Pada waktu kecil dalam otak kita terjadi suatu ledakan. Saat itu setiap sel otak (neuron) yang jumlahnya berjuta-juta mengeluarkan sejumlah serat yang sangat halus dan kecil ke segala arah, mencari dan membuat sambungan dengan ribuan sampai puluhan ribu sel otak lainnya. Ini yang dinamakan interkoneksi. Proses ini kemudian berlanjut seterusnya seumur hidup. Pada saat lahir jumlah sel otak kita tidak akan bertambah lagi. Yang akan bertambah adalah jumlah interkoneksi inilah.

Fakta penting…

Yang menentukan kecerdasan seseorang bukan jumlah sel otaknya. Sel otak kita sudah memiliki kapasitas yang jauh lebih dari sekedar jenius. Namum, kecerdasan seseorang adalah jumlah interkoneksi sel otak ini. Jumlah interkoneksi ini sebagian besar ditentukan oleh mutu yang sangat baik dari Makanan Otak. Makanan Otak adalah Oksygen, Nutrisi, Kasih Sayang dan Informasi.

(Dari apa yang saya baca dibukunya TONY BUZAN “BRAIN CHILD”)

Catatan:

Tuhan memberikan manusia kemapuan yang tidak terbatas yang belum pernah ter-ekplopre oleh jenius paling pintar sedunia sekalipun. Tujuan semuanya itu agar manusia bisa menaklukkan dunia dan menjadi penguasa atas semua cipataanNya. Seharusnya manusia sadar bahwa kecerdasannya itu adalah anugerah Tuhan sebagai makhluk ciptaan yang mulia yang seharusnya dipakai untuk menyembahNya dan bukan untuk menentangNya.

Semakin banyak seseorang belajar, makan semakin ia tahu bahwa betapa sedikitnya apa yang telah ia ketahui.

--

Waktunya Mengubah Hidup Anda E-mail

Joyce Meyer

Rahasia terbesar untuk dapat berurusan dengan waktunya Tuhan adalah mengerti kekuatan dari perubahan. Anda ingin menurunkan berat badan? Pekerjaan yang lebih baik? Kuliah kembali? Menemukan pasangan? Lebih dekat dengan Tuhan? Apapun itu, kita tahu bahwa perubahan yang sejati adalah salah satu hal tersulit yang dapat kita lakukan. Namun, agar Tuhan dapat menggunakan kita sepenuhnya, kita harus menyambut berbagai perubahan yang menjadi kesempatan bagi Dia untuk bekerja.

Saya telah menghabiskan hidup saya untuk menolong gereja-gereja dan badan-badan pelayanan untuk mengerti bagaimana perubahan dapat memampukan mereka untuk menjangkau generasi baru dengan kuasa Firman Tuhan. Dalam prosesnya, saya mempelajari beberapa kunci penting yang dapat membantu untuk membuat perubahan benar-benar terjadi dalam hidup Anda: penang-bridge-12.jpg

1. Tinggalkan Masa Lalu Anda

Hal yang terpenting bukan berapa kali Anda terjatuh, namun berapa kali Anda bangkit kembali. Kegagalan di masa lalu tidak berarti karena Tuhan adalah Tuhan yang mengampuni. Namun Anda harus melakukan sesuatu. Berhentilah menoleh ke belakang dan mulailah berfokus pada masa depan.


2. Miliki Tujuan Anda

Jika Anda tidak tahu kemana Anda menuju, Anda tidak akan pernah tahu kapan Anda sampai ke sana. Sebelum Anda memulai perjalanan untuk berubah, Anda harus tahu dengan pasti apa yang ingin Anda capai. Dan jangan lupa untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri selama perjalanan itu. Tidak ada yang salah sama sekali dengan tujuan-tujuan tersebut, namun jika pencapaiannya membutuhkan waktu jangka panjang, Anda akan lebih mudah untuk menyerah dan melepaskannya begitu saja. Jadi, mengapa Anda tidak menciptakan tujuan-tujuan jangka pendek untuk lebih memotivasi diri Anda?


3. Kendalikan Prioritas Dan Kurangi Hal-Hal Yang Mengganggu Fokus Anda

Jangan ijinkan gangguan-gangguan yang tidak signifikan mengganggu niat Anda untuk melakukan perubahan dalam hidup. Ada banyak orang yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting sementara hidup mereka semakin tidak terkendali. Anda tidak akan pernah dapat mencapai tujuan Anda kecuali Anda mengerti kekuatan dari prioritas. Berikan waktu yang lebih sedikit pada hal-hal yang terlihat mendesak pada saat ini saja dan waktu lebih banyak pada apa yang benar-benar penting.


4. Atasi Ketakutan Dan Rasa Tidak Aman

Apa yang Anda takuti? Rasa tidak aman dan ketakutan menghambat orang untuk mencapai kesuksesan lebih daripada hal-hal lainnya, dan dalam hampir semua kasus, mereka sama sekali tidak berdasarkan pada kenyataan. Anda adalah anak-Nya, diciptakan segambar dengan Dia. Apa yang mampu menahan Anda untuk mencapai potensi maksimal? Setiap hari, ambillah langkah pertama ke area atau hal-hal yang Anda takuti, dan setiap harinya, Anda akan menempatkan batu bata yang baru pada pondasi untuk kehidupan yang lebih baik. Anda adalah seseorang yang istimewa, Anda telah dipilih oleh Tuhan, dan tidak ada satu hal pun yang tidak dapat ditangani oleh Anda dan Dia bersama-sama.


5. Temukan Penyemangat Anda

Kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang percaya pada anda, orang-orang yang yakin pada kemampuan dan potensi Anda. Kurangi waktu bersama orang-orang berpikiran negatif yang menghabiskan energi Anda dan habiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang mencintai dan mendukung impian dan tujuan Anda.


6. Hargai Misteri Kehidupan

Hidup bukan tentang menemukan semua jawaban yang benar, namun tentang menanyakan pertanyaan yang benar. Kita mungkin tidak mempunyai semua jawaban, tapi kita menyembah Tuhan yang mempunyai semua jawaban. Kuncinya adalah mempercayai Tuhan. Pernahkah Anda benar-benar mempercayai Tuhan dari alam semesta secara utuh? Ataukah Anda masih memegang kendali kuat-kuat, mengkuatirkan keluarga, pekerjaan dan masa depan Anda? Belajarlah untuk percaya, dan kemudian bersantailah dalam lengan Penyelamat Anda.


Mengubah hidup Anda merupakan sebuah proses, namun beberapa kunci sederhana di atas akan membantu Anda untuk menikmati perjalanannya, sehingga Anda dapat menikmati kehidupan Anda setiap hari!

--

10 Kesalapahaman Tentang Kesuksesan E-mail

Jim M. Allen

success.jpgKesalahpahaman 1
Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain.
Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan. Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.


Kesalahpahaman 2

Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan.
Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.


Kesalahpahaman 3

Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90...) seminggu.
Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja.
Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.


Kesalahpahaman 4

Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan.
Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu.


Kesalahpahaman 5

Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses.
Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum.
Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.


Kesalahpahaman 6

Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses.
Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan.
Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.


Kesalahpahaman 7

Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.
Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.


Kesalahpahaman 8

Sukses adalah bila semua orang mengakuinya.
Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.


Kesalahpahaman 9

Sukses adalah tujuan.
Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda.
Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan "atas hal apa?"


Kesalahpahaman 10

Saya sukses bila kesulitan saya berakhir.
Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan.
Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya.

--

Fast Facts About Online Learning E-mail

k12.gifOnline public schools, also known as “virtual schools” or “e-Schools,” are among of the fastest growing fields in education. Lawmakers and education officials at all levels are rapidly embracing public online education to meet increasing demand from students, teachers, and parents.

K-12 online learning and virtual public schools are experiencing steady growth and high demand from students, teachers, and parents:

* As of September 2006, 38 states have state-led online learning programs, significant policies enabling online education, or both, with an estimated growth of 25% annually.
* In 2002-2003, there were 328,000 distance education enrollments in K-12 public schools (US Department of Education National Center of Education Statistics).
* The Peak Group estimated 2005 online enrollments of 500,000, and projects 1 million online enrollments in 2006.
* There are 147 virtual charter schools with more than 65,000 students in 18 states.
* 72% of school districts with distance education programs planned to expand their online offerings.
* In April 2006, Michigan became first state to require online learning for high school graduation.

(From the North American Council of Online Learning—the leading organization representing the interests of administrators, practitioners, businesses and students involved in online learning in North America)

--

Belajar Efektif E-mail

• Bertanggung jawab atas dirimu sendiri. bible_study.jpg
Tanggung jawab merupakan tolok ukur sederhana di mana kamu sudah mulai berusaha menentukan sendiri prioritas, waktu dan sumber-sumber terpercaya dalam mencapai kesuksesan belajar.


• Pusatkan dirimu terhadap nilai dan prinsip yang kamu percaya.

Tentukan sendiri mana yang penting bagi dirimu. Jangan biarkan teman atau orang lain mendikte kamu apa yang penting.

• Kerjakan dulu mana yang penting.

Kerjakanlah dulu prioritas-prioritas yang telah kamu tentukan sendiri. Jangan biarkan orang lain atau hal lain memecahkan perhatianmu dari tujuanmu.

• Anggap dirimu berada dalam situasi "co-opetition" (bukan situasi "win-win" lagi).

"Co-opetition" merupakan gabungan dari kata "cooperation" (kerja sama) dan "competition" (persaingan). Jadi, selain sebagai teman yang membantu dalam belajar bersama dan banyak memberikan masukkan/ide baru dalam mengerjakan tugas, anggaplah dia sebagai sainganmu juga dalam kelas. Dengan begini, kamu akan selalu terpacu untuk melakukan yang terbaik (do your best) di dalam kelas.

• Pahami orang lain, maka mereka akan memahamimu.

Ketika kamu ingin membicarakan suatu masalah akademis dengan guru/dosenmu, misalnya mempertanyakan nilai matematika atau meminta dispensasi tambahan waktu untuk mengumpulkan tugas, tempatkan dirimu sebagai guru/dosen tersebut. Nah, sekarang coba tanyakan pada dirimu, kira-kira argumen apa yang paling pas untuk diberikan ketika berada dalam posisi guru/dosen tersebut.

• Cari solusi yang lebih baik.

Bila kamu tidak mengerti bahan yang diajarkan pada hari ini, jangan hanya membaca ulang bahan tersebut. Coba cara lainnya. Misalnya, diskusikan bahan tersebut dengan guru/dosen pengajar, teman, kelompok belajar atau dengan pembimbing akademismu. Mereka akan membantumu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

• Tantang dirimu sendiri secara berkesinambungan.

Dengan cara ini, belajar akan terasa mengasyikkan, dan mungkin kamu mendapatkan ide-ide yang cemerlang.

Author Unknown

--

Kualitas Hidup Ditentukan oleh Pilihan E-mail

Nancy Dinar

There are some things in this life that are important and a whole lot of things that aren’t. (Richard Templar)


Hidup ini memiliki banyak pilihan. Dari pilihan-pilihan yang kita ambil itulah kualitas hidup kita ditentukan.Salah satu pilihan penting yang harus kita buat adalah pendidikan, entah itu formal atau informal semua penting untuk membangun indentitas diri kita. Dengan belajar pengetahuan bertambah, kemampuan (skill) dilatih dan kecerdasan diasah. Brigham Young berkata “Education is the movement from darkeness to light” , dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari kurang jelas menjadi lebih jelas, dari gelap menjadi terang.

Oleh karena itu tidak heran kalau pepatah mengatakan ‘belajar adalah proses seumur hidup’. Namun sayang kebanyakan orang berhenti belajar pada tahap tertentu. Tuntutan untuk bekerja dan mendapatkan nafkah telah mengesampingkan pendidikan. Alasan ‘tidak ada waktu’, ‘tidak ada biaya’, ‘tidak ada program yang cocok’ seringkali terdengar. Jika seorang pekerja kembali ke bangku sekolah dan belajar, siapakah yang akan membiayai sekolah dan keluarga?

Puji Tuhan, dengan adanya teknologi semua batasan ini dapat dilalui. Saat ini seseorang dapat terus bekerja sambil belajar. Dengan HIC Online waktu dan biaya tidak menjadi hambatan lagi. Anda dapat mulai belajar kapan dan dimana saja. Bahkan program “Afiliasi HIC Online” Anda juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk membayar biaya sekolah.

HIC Online memberikan nilai tambah yang sangat besar bagi setiap pekerja, hamba Tuhan, ibu rumah tangga, pelajar, atau siapa saja untuk belajar Firman Tuhan sambil mengeksplore dunia e-learning, metode pendidikan yang sedang booming sekarang. Dengan kurikulum teruji dan pengajar yang masyur dan diurapi setiap mahasiswa akan mengalami dimensi baru dalam kehidupan rohani dan karirnya.
Yang akan membedakan Anda dengan orang lain adalah ketika Anda mengambil kesempatan untuk belajar lewat HIC Online sebagai suatu pilihan penting.

--

Untung Rugi E-Learning E-mail
keyboard.png
Keuntungan utama dari E-learning adalah fleksibilitas, kenyamanan dan kemampuannya untuk diakses dari mana saja dan kapan saja. Dengan E-learning seseorang dapat belajar tanpa menganggu aktivitas hariannya. Inilah yang memungkinkan E-learning menjadi pilihan tak terelakan bagi seseorang yang memiliki komitment lain seperti pekerjaan dan keluarga atau bagi yang tidak mampu secara fisik menghadiri sekolah traditional. Keuntungan lain adalah waktu dan biaya yang harus dihabiskan pulang pergi ke kampus menjadi minimal.



Tidak seperti belajar dikelas, dengan E-learning seseorang dapat mengulang proses belajar mengajar tanpa menambah biaya. Biasaya biaya untuk menyelenggarakan E-learning sangat besar pada permulaan pengembangan (once-off development cost), tapi dengan semakin banyaknya pelajar yang menggunakan materi kursus tersebut biaya akan semakin berkurang.




Keuntungan lain dari E-learning adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan rekan pelajar lainnya dengan tidak dibatasi oleh jarak, program yang sesuai dengan kebutuhan, dan pengalaman untuk memakai multimedia dan non verbal presentasi dari materi pengajaran. Video atau MP3 files memberikan kemudahan bagi pelajar untuk mengulang atau review pelajaran baik secara audio maupun visual sebanyak yang ia mau.



Kerugian dari E-learning adalah kurangnya interaksi tatap muka antara pelajar dengan guru/dosen. Kritik mengatakan bahwa E-learning telah menyalahi esensi dari pendidikan yang sebenarnya. Namun para penyokong E-learning menjawab bahwa kritik ini tidak berdasar, karena interaksi sesama manusia bisa didapatkan dengan adanya audio-video web conference dan discusion board.



Perasaaan terisolasi dari pelajar juga sering dijadikan issue, walaupun sebenarnya forum diskusi dan computer-based komunikasi yang lain membantu menghubungkaan pelajar satu dengan lainnya, bahkan seringkali juga membantu mereka untuk bertemu muka dengan muka jika saja tidak dibatasi oleh jarak dan lokasi tempat tinggal. Kelompok diskusi juga bisa diadakan secara online. Dalam program E-learning interaksi harus dibentuk untuk menjalin hubungan sesama manusia dengan cara apa saja.



E-learning sepertinya lebih baik diterapkan jika topiknya memungkinkan untuk belajar mandiri. Jika topik membutuhkan kolaborasi dengan pelajar yang lain, maka akan bermasalah dengan pelajar yang kurang disiplin. Sebagai contoh, beberapa pelajar hanya mengecek agendanya sekali seminggu atau bahkan kurang dari itu, sehingga goal yang sebenarnya tidak tercapai. Web dan software juga bisa jadi sangat mahal terutama dengan system yang berhubungan dengna E-learning. Pengembangan materi juga memakan waktu sangat banyak.

--

1 komentar: