Selasa, 25 Januari 2011

Warren Buffett Tetap Sederhana di Usia Senja

Minggu, 29 Agustus 2010 - 08:42 wib
Warren Buffet. Foto: Corbis

OMAHA - Salah satu orang terkaya di dunia pada Senin besok (30/8/2010), Warren Buffett, akan genap berusia 80 tahun. Tentu saja, angka itu bukanlah sebuah perjalanan singkat bagi Buffett.

Apalagi jika dibandingkan dengan berbagai hal yang telah dia capai hingga seperti saat ini. Boleh dibilang, Buffett adalah orang sukses dengan gayanya sendiri. Sejak memimpin Berkshire Hathaway Inc, pria asal Omaha, Nebraska, Amerika Serikat (AS) itu tidak pernah menaikkan gaji sendiri. Bertahun-tahun, dia hanya menerima gaji USD100.000 (sekira Rp903,7 juta).

Kekayaan pribadi Buffett sangat tergantung pada laba perusahaannya. Tak hanya itu, ketika orangorang kaya memilih kota besar seperti New York, London, dan Hong Kong untuk membangun “kerajaannya”, Buffett justru menuai kesuksesan dari kota kecil yang juga kampung halamannya, Omaha. Dia juga sosok sederhana yang mempertahankan rumah berlantai dua yang telah ditinggalinya selama puluhan tahun.

Inilah yang lantas membuat Buffett disebut telah membangun kariernya berdasarkan kontradiksikontradiksi. CNNmenyebutnya sebagai pahlawan kapitalis bertopi putih, sementara pemerintah, politikus, dan perusahaan berjuang mendapatkan kembali reputasiprakrisis mereka di hadapan publik.

Reputasi Buffett makin bagus pada 2006 saat dia berjanji mendonasikan kekayaannya yang tahun ini diperkirakan mencapai USD47 miliar (Rp424,7 triliun) untuk amal dan usahanya bersama Bill dan Melinda Gates tahun ini sehingga para miliarder dunia bersedia mendonasikan separuh kekayaan mereka.

“Jelasnya, dia tidak sama seperti Rockefeller atau model taipan lain,” papar Laura Rittenhouse, penulis 20 Buffett Bites: Delicious Morals for Turbulent Times“

Dia seorang kapitalis yang tidak materialistis. Putra seorang pengusaha dan anggota kongres empat periode serta duda ini mulai berinvestasi saat masih duduk di bangku SMA dan kuliah. Namun, salah satu pengaruh terbesar bagi Buffett hingga menjadi miliarder adalah Benjamin Graham,seorang ekonom yang menjadi dosennya di Columbia University. Pria itu menyarankan Buffett untuk membeli saham perusahaan yang harganya sedang turun. (CNN/Alvin)(//css)

--

Wow...Usia 14 Tahun Sudah Jadi CEO!
Minggu, 22 Agustus 2010 - 08:45 wib
Ade Hapsari Lestarini - Okezone
Leanna Archer. Foto: Straits Times

SINGAPURA - Bisakah Anda membayangkan menjadi kaya raya dengan usaha sendiri di usia yang sangat muda? Semua itu bisa terjadi jika ada kemauan dan kerja keras.

Lihat saja Leanna Archer, seorang gadis muda asal Central Islip, Long Island, New York, Amerika Serikat ini memulai bisnis perawatan rambutnya sendiri ketika dia baru berusia sembilan tahun. Fantastis bukan!

Dilansir dari Strait Times, Minggu (22/8/2010), saat ini, diumurnya yang ke-14, dia sudah menjadi seorang CEO dari sebuah perusahaan bernama Leanna Inc, yang mempunyai pendapatan lebih dari USD600 ribu per tahun.

Ya, Leanna telah menjadi salah satu pengusaha muda yang sukses, dan juga juara. Bahkan, dia ditunjuk menjadi salah satu dari 12 pembicara muda yang akan berbagi kisah sukses mereka di yang diselenggarakan oleh Universitas Nasional di Singapura.

Dikutip dari situs andriewongso.com. Leanna memiliki dan memimpin perusahaannya sendiri pada usia 13 tahun. Pada 2007, laba perusahaan itu bahkan sudah mencapai USD100 ribu (Rp1,041 miliar). Hebatnya, pada 16 Oktober 2008, dia diberi kehormatan untuk memulai aktivitasnya di Bursa Saham New York.

Semua ini bermula ketika Leanna mempunyai rambut yang hitam panjang dan tumbuh amat indah berkat perawatan teratur krim dan minyak rambut tradisional buatan neneknya. Banyak orang memuji rambut Leana, baik keluarga, teman, guru, maupun orang asing.

Dari sana, Jiwa wiraswasta Leanna langsung tumbuh. Pada usia delapan tahun, dia meminta izin pada orangtuanya untuk memasarkan produk perawatan rambut sang nenek. Awalnya, orangtuanya menolak. Alasannya, Leanna masih terlalu kecil. Bagaimana mungkin dia bisa membagi waktunya antara sekolah dan bisnis? Leanna dan keluarganya juga tidak punya pengetahuan yang cukup mengenai bisnis.

Dia pun patuh pada orangtuanya. Namun, keinginan dan semangatnya menjadi pengusaha tetap berkobar-kobar. Jika ada waktu luang, dia mencari informasi di internet mengenai kewirausahawan, pemasaran, pajak, dan lisensi.

Jika neneknya sedang merawat rambutnya, dia mengambil sebagian krim atau minyak untuk dimasukkan ke dalam botol kosong. Sampel krim atau minyak rambut itu kemudian diberikannya ke teman-teman sekolahnya dan orang-orang yang dikenalnya.

Kemudian, dia meminta pendapat mereka. Ternyata, sebagian besar memuji krim atau minyak rambut itu. Mereka bahkan menyatakan ingin memesan atau membelinya.

Karena Leanna terus membicarakan mengenai ide dan keinginannya ini, serta terus berusaha tanpa kenal lelah, hati orangtuanya luluh. Mereka mengizinkan Leanna menjadi seorang pengusaha ketika dia berumur 10 tahun dan mendirikan sebuah perusahaannya sendiri.

Pada Juni 2005, Leanna mulai menjual berbagai macam produk secara resmi melalui website (www.leannashair.com), toko, dan salon. Produk-produk yang dijualnya antara lain: hair dressing, hair dressing with shea butter, hair oil treatment, shampoo, conditioner, deep conditioner, moisturizing hair mist, pure shea butter for the skin, scented hand and body lotions, facial mask, french green clay mask, dan scented dead sea salts.

Leanna pun mempunyai prinsip "kepuasan konsumen adalah prioritas dan motivasi terbesar bagiku". Mengenai kiat menghadapi krisis ekonomi, dia berkata untuk tetap menjadi orang yang positif dan optimistis. "Jika kamu tetap memiliki tekad yang kuat, terus maju, dan benar-benar bekerja keras, semuanya akan baik-baik saja!"

Hingga kini, Leanna tetap bisa membagi waktu antara sekolah dan bisnis. Ini semua berkat bantuan orangtua dan kedua kakak lelakunya. Dia bahkan menjadi siswa teladan.

Baru-baru ini, kesibukan Leanna bertambah. Dia menjadi pembicara khusus untuk membangkitkan motivasi dan inspirasi bagi anak-anak. Dia tampil di majalah, surat kabar, dan televisi. Dia pun juga beramal bagi anak-anak miskin di Haiti melalui yayasan Leanna Archer Foundation.(ade)

--

Bisnis Sampingan yang Omzetnya Puluhan Juta Rupiah
Minggu, 15 Agustus 2010 - 13:54 wib
Ilustrasi

Di mana ada usaha, di sana ada jalan. Begitulah prinsip hidup Bernart Ferry Ferdinand. Dia tidak pernah menyia-siakan kesempatan sehingga akhirnya sukses menjadi pengusaha garmen dengan pendapatan Rp40 juta per bulan.

Pria yang akrab disapa Ferry ini tidak pernah menyangka menjadi wirausahawan sukses seperti saat ini. Anak kedua dari empat bersaudara ini memulai usahanya dari nol dan membuktikan dengan bermodal niat dan kerja keras setiap orang bisa sukses. Ferry saat ini bekerja penuh (full time) di salah satu stasiun televisi nasional sebagai teknisi. Dia menjadikan usaha garmen sebagai bisnis sampingannya.

Meski begitu, dia mengakui usaha sampingannya tersebut lebih menjanjikan dan menghasilkan pendapatan yang lebih besar. Usaha yang telah empat tahun dijalankannya tersebut berawal dari proyek kecil-kecilan. Menurut Ferry, di tempatnya bekerja, banyak karyawan yang memesan jaket ataupun pakaian secara massal untuk keperluan kantor. Tanpa menunggu lama, dia langsung memutuskan untuk menggarap proyek pemesanan kantornya.

“Dulu saya hanya sebagai distributor, penghubung antara pengusaha garmen dan pembeli. Namun,setelah kenal seluk-beluk usaha ini, tanpa pikir panjang langsung berminat buka usaha garmen,” kata kelahiran 21 Desember 1979 itu. Kebetulan, sejak bangku sekolah atas, Ferry hobi dan pandai membuat sketsa pakaian, khususnya jaket untuk pengendara motor. “Waktu itu masih iseng-iseng, belum terpikirkan untuk dijadikan bisnis,” ujar penyuka makanan pedas ini.

Ferry sempat kaget saat mengetahui modal yang dibutuhkan untuk membangun usahanya tidak sedikit. Otaknya pun berputar untuk mengakali rintangan pertama tersebut. Setelah berpikir matang, dia memutukan untuk meminjam modal dari bank sebesar Rp35 juta. Dari modal tersebut, Ferry melakukan efisiensi pengeluaran hanya untuk keperluan yang penting, seperti sewa tempat, mesin jahit dan bahan pakaian.

"Benar-benar modal nekat, Rp35 juta sudah saya perhitungkan pembagiannya untuk apa saja, agar tidak menghabiskan biaya yang tidak penting,” paparnya. Jalan Sukajadi No 46 Bandung dia pilih sebagai tempat usaha garmen pertamanya. Menurut Ferry, di daerah tersebut banyak sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang garmen. Selain faktor tersebut, bahan pakaian relatif lebih murah, jika diperoleh di ibu kota Jawa Barat itu.

Tidak hanya sebagai pusat pembuatan usaha garmen, Ferry juga menjadikan tempat tersebut menjadi butik untuk memperjualkan barang dagangannya, seperti jaket, kemeja seragam, hingga kaus. Dengan tekad, kerja keras dan linkke beberapa perusahaan,lulusan Teknik Elektro Universitas Kristen Krida Wacana, Bogor, ini berhasil mencapai titik impas (break event point/BEP) dalam tempo dua tahun.

Setelah modal awal kembali, Ferry memutuskan untuk membuka toko garmen cabang terbaru. Setelah sempat melakukan survei ke beberapa tempat di wilayah Jabodetabek, Ferry akhirnya memilih Jalan Margonda Raya No 436 Depok menjadi lokasi cabang pertama usaha garmennya. “Margonda dikelilingi banyak kampus dan perkantoran, tempat yang tepat untuk membuka usaha dengan segmen target keduanya,” beber pria yang hobi automotif tersebut.

Saat ini Ferry membawahi 12 orang karyawan, delapan di Bandung sedangkan sisanya di Depok. Bandung dijadikan tempat pembuatan usaha garmennya, sedangkan cabang Depok hanya sebagai toko untuk memasarkan barang dagangannya. Pria yang masih betah melajang ini mengaku tidak pernah kesepian order. “Tapi waktu tahun ajaran baru sekolah biasanya pendapatan menurun, tidak signifikan.

Pesanan tetap banyak, baik itu dari mahasiswa maupun karyawan kantoran,” tandasnya. Dari usaha yang dijalankannya, Ferry mengaku dapat memperoleh keuntungan kotor hingga Rp35 juta per minggunya. Menurut dia ,mayoritas konsumen atau sebanyak 60 persen memesan jaket secara massal. Pembeli di toko yang dinamakan Zero Nine tersebut sebagian besar adalah karyawan kantoran, tapi Ferry juga mengatakan, banyak mahasiswa yang memesan untuk jaket almamater.

Harga jaket yang ditawarkan berkisar Rp150 ribu-170 ribu per potong. Jika konsumen memesan lebih dari dua lusin, Ferry menawarkan harga diskon yang relatif lebih terjangkau. “Harga jaketnya bisa turun jadi Rp120 ribu-140 ribu. Semakin banyak semakin murah harga yang ditawarkan,”ujarnya. Untuk kemeja,Ferry memberikan pilihan harga mulai Rp60 ribu-85 ribu per potong.

Harga bergantung bahan yang dipesan. Semakin bagus bahannya, semakin mahal pula harga kemeja tersebut. Dia juga membebaskan konsumen untuk memilih desain jaket yang mereka inginkan.Ferry mengakui tidak ada penambahan harga untuk pemesanan model tersebut. “Selama tidak terlalu banyak aksesori yang digunakan,” tambahnya.

Saat ini,Ferry berencana untuk menambah satu butik dari usaha garmennya tersebut. Untuk butik yang ketiga ini, dia berencana membuka cabang di wilayah Jakarta Timur dan Bekasi. Dia beralasan,banyak konsumen yang tinggal dan berdomisili di kedua wilayah itu. “Kalau harus ke Depok kan jauh, sebab itu saya berencana akan menambah di Jakarta Timur atau Bekasi,” bebernya.

Ferry menyadari, usaha garmen sudah begitu menjamur. Apalagi di Bandung. Karena itu, untuk membedakan butik dan usaha garmennya dengan yang lain, setiap konsumen yang ingin memesan pakaian di Nine Zero boleh diukur sesuai dengan ukuran dan model yang diinginkan.

Hal ini menurutnya membedakan Nine Zero dengan tempat lainnya. “Kalau dibutik lain, hanya ada ukuran S,M dan L. Sedangkan kami mengukur panjang dan lebar dari pakaian setiap konsumen, hal ini memberi kesan lebih personal, karena setiap individu mempunyai ukuran badan yang berbeda-beda,” ujar Ferry. Dia mengakui dengan pengerjaan berdasarkan ukuran masing-masing konsumen, penyelesaian pakaian berjalan relatif lebih lama.

Namun, ini menjadi tantangan bagi Ferry untuk menyelesaikan pesanan tepat waktu,sesuai dengan perjanjiannya dengan konsumen. “Untuk pemesanan minimal dua lusin, biasanya kami dapat menyelesaikan dalam kurun waktu dua minggu. Pemesanan lebih dari itu juga kami usahakan diselesaikan maksimal dua minggu,” tandasnya. Meskipun pengerjaan relatif lebih lama, Ferry juga selalu menjaga kualitas produknya dan berupaya memuaskan konsumen.

“Kepuasan konsumen adalah harga yang tidak ternilai, begitu juga saat konsumen komplain, rasanya seperti terpecut untuk lebih baik lagi,” tutup Ferry. Dalam berbisnis, setiap orang pasti mengalami pasang surut.Begitu pula dengan pria yang besar di kota Bogor tersebut. Sejak didirikan pada akhir 2006, usaha garmen Zero Nine belum pernah mengalami kerugian berarti.

Meskipun begitu,pengalaman dengan berbagai jenis karakter sifat konsumen pernah dihadapi Ferry. Pengalaman yang tidak terlupakan saat melayani konsumen dari komunitas pengendara sepeda motor atau yang jamak disebut bikers. Ferry bercerita, dia pernah didatangi beberapa orang yang ingin memesan jaket di butiknya. Dari pakaiannya, terlihat bahwa mereka adalah komunitas pecinta sepeda motor.

Setelah panjang lebar, konsumen tersebut memesan barang yang diinginkan.“Mereka minta pesanan cepat diselesaikan.Tapi, begitu selesai dikerjakan, mereka malah mengudur jatuh tempo waktu pembayaran dengan alasan uang belum terkumpul semua. Sebenarnya sih tidak masalah, tapi saya terpaksa harus menutupi biaya operasional untuk pengerjaan jaket tersebut,” paparnya. (heru febrianto)(adn)(Koran SI/Koran SI/rhs)

--

Bisnis Clothing "Just Persib" Beromzet Puluhan Juta Rupiah
Minggu, 8 Agustus 2010 - 15:18 wib
Foto: Okezone

Kota Bandung, Jawa Barat, sepertinya tidak akan pernah kehabisan orang-orang yang berjiwa kreatif. Kreativitas seperti sudah melekat pada diri setiap warga Kota Kembang ini.

Hal tersebut ditandai dengan makin berkembangnya industri kreatif di kota ini dalam beberapa tahun terakhir. Bermodal kreativitas, kemauan keras, serta penuh inovasi, ide kreatif menjadi satu ladang penghasilan warga Bandung untuk meraup keuntungan besar. Seperti yang saat ini tengah dirintis beberapa anak muda Bandung. Adalah Gani Kurniawan, Derry Candra Budiman, Indra, Oki Ahmad Ismail, dan Muhammad Taufik yang mencoba meraup keuntungan dari segudang ide kreatif mereka. Bukan berbisnis suvenir khas Paris van Java, bukan pula bisnis kuliner. Clothing (pakaian) dan membuka distro (distribution outlet) menjadi bidikan mereka.

Kualitas clothing buatan anakanak Bandung memang sudah terkenal hingga pelosok negeri ini. Bahkan,tidak ada yang meragukan barang-barang industri manufaktur berlabel Bandung. Mereka bukanlah yang pertama merintis bisnis clothing atau distro di Kota Bandung. Sebelumnya, banyak pendahulu mereka yang juga anak-anak muda Bandung telah menorehkan cerita sukses dari bisnis ini. Berbekal kualitas barang produksi manufaktur yang bernilai tinggi, bisnis ini menjanjikan keuntungan besar. Syaratnya mesti dilakukan dengan tekun dan tidak pernah berhenti berinovasi agar tidak tertinggal dari para pesaing yang jumlahnya sudah bukan puluhan lagi, melainkan ratusan.

Gani Kurniawan berbagi cerita mengenai impiannya dari bisnis industri kreatif ini. Bisnis clothing yang kini dijalani bersama rekanrekannya merupakan bisnis sampingan dari pekerjaan utamanya sebagai seorang pewarta foto di sebuah media di Kota Bandung. Tidak tebersit sedikit pun dalam benak Gani untuk menjadi seorang entrepreneur di bidang industri kreatif. Langkah awalnya menjajaki dunia industri kreatif dimulai setelah Gani menggelar sebuah pameran foto bertajuk olah raga yang khusus menampilkan sepak terjang klub sepak bola kesayangan Kota Bandung, yakni Persib Bandung.

“Tahun lalu (2009), pameran saya bisa dibilang lain dari yang lain karena foto-foto saya ditampilkan dengan media kaus atau t-shirt,” kenang Gani saat berbincang dengan harian Seputar Indonesia (SI). Melihat hasil foto Gani dalam paduan t-shirt yang cukup baik dan menarik, Gani diusulkan untuk mencoba bisnis kaus atau t-shirt dengan konsep yang lain daripada yang sudah ada sebelumnya. Konsepnya adalah hasil jepretan kamera Gani dipadu dengan kualitas t-shirt yang baik ditawarkan kepada publik dan tidak hanya dipamerkan. Gani pun memulai langkahnya menjajaki dunia bisnis. Awalnya, hanya satu desain kaus atau t-shirt yang ditawarkan.

Itu pun baru dicetak atau diproduksi setelah ada peminat minimal untuk diproduksi tiga lusin. “Sekarang memang sudah banyak yang jual kaus bergambar Persib atau sepak bola. Tapi belum ada yang pakai konsep foto asli. Di sinilah saya melihat adanya peluang itu,” papar Gani. Awal memulai kariernya, dia hanya menggunakan media jejaring sosial di internet untuk menawarkan bisnis clothing miliknya. Namun, hal ini dirasa belum maksimal. Dalam benaknya, jika ingin serius harus memiliki outlet atau gerai tetap. Tapi hal itu tidak mudah. Lantaran keterbatasan dana, Gani pun mengurungkan niatnya memiliki sebuah gerai yang rata-rata di Bandung disewakan seharga Rp100 juta per tahun.

Otaknya tidak berhenti, ide segar dan inovasi dilakukan agar barang produksinya bisa menjangkau seluas-luasnya dan tidak terpaku di satu tempat saja. Gani melirik minibus sebagai media untuk memasarkan hasil produksinya. Dengan modal yang dimilikinya dan didukung tabungan serta bantuan rekan dan keluarga, Gani pun memutuskan untuk membeli sebuah minibus dan mempercantiknya sebagai gerai berjalan. Modal awalnya saat itu tidak lebih dari Rp200 juta untuk memulai usahanya ini.“Untuk beli minibus sampai diperbaiki dan dipercantik, biaya yang dihabiskan sekitar Rp175 juta. Biaya produksi kaus dengan 14 desain sampai Rp15 juta,” jelasnya. Merek yang dipilih adalah “Maenball” dan “Just Persib”.

Dua merek tersebut digunakan untuk dua konsep kaus, merek Maenball untuk konsep sepak bola secara umum dan Just Persib yang lebih spesifik berdesain tim Persib Bandung. Gani mengakui, jika menjual segala hal yang berbau klub Maung Bandung tersebut, sudah tentu akan diburu para bobotoh yang terkenal dengan fanatismenya. Minibus ini mudah ditemui di sudut Kota Bandung. Biasanya, minibus tersebut mangkal di stadion Persib untuk memudahkan masyarakat yang datang meskipun sekadar melihat-lihat kreativitas Gani dan kawan-kawan yang dituangkan dalam bentuk kaus atau t-shirt dan jaket. Gani mengenang, bisnis kaus yang tengah dimulainya sempat mengalami booming pada saat dirinya mengeluarkan desain PSSI sekitar dua bulan lalu. Desain ini, kata dia, banyak diminati dan dicari- cari.

Desain kaus yang berisi kritikan membangun bagi persepakbolaan Indonesia tersebut laku keras hingga 800 buah. “Selama ini belum ada yang penjualannya mencapai angka itu,” tambahnya. Kunci sukses lainnya, lanjut Gani, adalah mempertahankan kepercayaan pembeli dengan menjaga kualitas barang produksi yang tidak menurun dan selalu baik. Dia menjelaskan, dari sisi kualitas, barang produksinya tidak kalah dibandingkan clothing distro lainnya. Sebab, dia memproduksi dan mencetak di tiga produsen yang sudah terkenal mampu menghasilkan kaus dengan kualitas tinggi. Yang membedakan dan membuat barang produksinya laris adalah harga yang terbilang lebih murah jika dibandingkan dengan para pesaing-pesaingnya.

Dia pun tidak khawatir ditinggal pembelinya. “Kita punya pangsa pasar khusus, yaitu bobotoh, jadi harga pun harus menyesuaikan dengan mereka yang rata-rata menengah ke bawah. Kalau yang lain jual Rp80.000, kita hanya Rp65.000 saja, tapi kualitas sama,” ujarnya. Terbukti sudah, meskipun baru menjalani bisnis ini dalam hitungan di bawah satu tahun, Gani dan rekan-rekannya tidak mengalami kerugian. Meskipun omzetnya setiap bulan tidak tetap, dia yakin dengan inovasi ide-ide segar dan kreatif, bisnisnya akan tetap menjanjikan. Saat ini saja, kata dia, omzet dari bisnis clothing-nya sudah berada di kisaran angka Rp20 juta per bulan.

“Minimal, dalam waktu dekat ini, kita ingin ‘Go Pulau Jawa’ saja dulu,” kata Gani saat ditanya mimpinya dari bisnis industri kreatif yang kini tengah dijalankannya bersama rekan-rekannya.

Mimpi tersebut mulai dirintis sejak saat ini. Dengan minibus yang dimilikinya, pergerakan gerai berjalan ini sudah mencoba untuk menguasai minimal wilayah Jawa Barat. Momentum pertandingan klub sepak bola Persib Bandung ke wilayah-wilayah di Jawa Barat dimanfaatkan Gani untuk memasarkan produk buatannya tersebut. Dia menilai, di mana ada kerumunan fans fanatik Persib Bandung,di sanalah ladang meraup keuntungan. Namun, Gani belum memberanikan diri mengirimkan minibusnya ke wilayah Jakarta. Fanatisme yang cenderung menjurus ke arah radikalisme pendukung tim sepak bola di Indonesia yang masih memprihatinkan menjadi salah satu alasannya. Untuk menyiasatinya, Gani mengoptimalkan jaringan internet untuk pemesan produknya yang berasal dari luar Kota Bandung.

Melalui website yang dimilikinya, pemesan dapat langsung memilih produk unggulan dengan desain yang maksimal.“Pemasaran untuk seluruh wilayah di Indonesia saat ini kita coba melalui jaringan internet dulu,” katanya seraya menyebutkan produknya mulai banyak dipesan dari Medan, Makassar, dan Manado. Dia berkeinginan mengembangkan barang produksi hasil kreativitas dan ide segarnya hingga pelosok Indonesia. Namun tentu dengan konsep yang lebih plural dan tidak khusus seperti yang banyak diproduksi di Bandung. Dia mengatakan, banyak pesanan dari luar Kota Bandung, tapi sejauh ini masih sebatas untuk dipakai perseorangan saja.

Adapun dia mulai berpikir untuk membentuk cabang-cabang di berbagai kota untuk mendistribusikan produknya. Kini, Gani baru memiliki satu cabang sebagai distributornya di wilayah Cikampek. “Kalau punya banyak cabang akan memudahkan distribusinya di berbagai kota di Indonesia,” tandasnya. Untuk di Kota Bandung sendiri, secara perlahan barang produksinya mulai dilirik banyak orang. Event-event penting yang diselenggarakan di Kota Bandung menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan produk-produk andalannya. Gelaran clothing terbesar di Kota Bandung beberapa waktu lalu menjadi salah satu momentum bagi Gani untuk mulai menunjukkan keberadaan produk mereka di tengah masyarakat pencinta sepak bola dan mode.

Gani meyakini, suatu saat produk hasil karya dan ide kreatifnya akan mampu unjuk gigi dan bersaing dengan produk lain yang sudah lebih dulu ada. Bahkan, kata dia, tidak menutup kemungkinan hasil produksinya menyebar ke berbagai pelosok negeri ini dan dipergunakan masyarakat dari Sabang sampai Merauke. (wisnoe moerti)(adn)(Koran SI/Koran SI/rhs)

--

Kisah Pengusaha Kaca Ukir yang Bangkit dari Krisis
Jum'at, 6 Agustus 2010 - 10:11 wib
ilustrasi Foto: runic.com

DIDIK Wachyudi yang mengembangkan usaha ukir kaca dengan bendera Keramat Art Glass kini memiliki usaha lumayan besar. Bagi pria yang kini tinggal di Jalan Sucipto Situbondo ini, tidak mudah menapaki jalan menuju kesuksesan.

“Pada 1995, saya sudah memulai usaha mebel, tapi pada 1998 terimbas krisis moneter sehingga usaha itu gulung tikar,” kata Didik Wachyudi.

Dia lalu mencoba bangkit lagi pada 2003 dengan menekuni bidang usaha kaca ukir. Usaha itu ternyata terus berkembang. Pembuatan aksesori seperti kaca jendela dan pintu rumah juga dikerjakan meski saat itu pemasarannya hanya berdasarkan pemesanan.

Kemudian, Didik berupaya melakukan inovasi dalam pemasaran. Dia menggandeng toko penjual kaca. Toko penjual kaca mempromosikan usaha Didik. Begitu pun sebaliknya. Jika ada orang berniat membeli kaca, Didik mengarahkan ke toko langganannya itu.

Adapun jika ada orang yang datang ke toko dan berminat pada kaca ukir, pemilik toko mengarahkan untuk membeli ke Didik Wachyudi. Pengembangan usaha kaca ukir yang digeluti Didik perlahan merambah ke art glass, yakni kerajinan ukir kaca dengan nilai seni tinggi.

“Pesanan mulai meningkat, dari papan nama pejabat atau karyawan swasta hingga bingkai foto keluarga,” ujar suami Dian Herijani ini.

Didik mengungkapkan, proses pembuatan kaca ukir memang tidak mudah, tapi bisa dipelajari. Dia mempelajarinya dari buku maupun internet. Dalam memproses kaca ukir, Didik menggunakan mata bor yang sangat kecil, terutama ketika memproduksi kaca ukir yang desainnya cukup rumit dan tidak membutuhkan produksi terlalu banyak.

Adapun untuk produksi dalam jumlah besar, Didik menggunakan sand blasting, teknik semburan pasir kwarsa dan pasir besi. Sebelum pengukiran dengan teknik ini, kaca terlebih dahulu didesain dan dilukis tahap awal.

Bahan baku pasir kwarsa putih didatangkan dari Tuban, sedangkan pasir besi dari Lumajang. “Soal kendala, memang besar karena risiko tidak jadi juga sangat besar. Untuk itu, karyawan harus hati-hati dan mengerjakan sesuai dengan desain maupun pesanan. Kalau ada pelanggan komplain yaharus kita ganti,” terangnya.

Kendala lain yang dihadapi terkait permodalan, khususnya jika dia menerima pesanan dalam jumlah besar. Didik menuturkan, untuk memproduksi kaca ukir, awalnya dia menggunakan mesin kecil seharga Rp12 juta dengan produksi 1–1,5 meter.

Usahanya makin berkembang ketika dia mendapatkan modal dari Bank BRI. Awalnya, dia berkenalan dengan seorang pegawai Bank BRI Situbondo.

“Dia saat itu pesan kaca ukir dan kemudian puas dengan hasil kaca ukir yang saya buat. Lama-lama dia memesan banyak dan kemudian saya ditawari modal kemitraan untuk wirausaha kecil dan menengah dari Bank BRI,” ujarnya.

Didik lalu mendapat pinjaman Bank BRI sekira Rp20 juta. Pinjaman modal digunakan untuk membeli mesin yang bisa menghasilkan kaca ukir berukuran dua meter.

Didik mengaku sangat mudah mendapatkan pinjaman dari Bank BRI. “Saya langsung teken di rumah, termasuk pengisian formulir. Account officer juga datang melihat perkembangan usaha saya,” katanya.

Selain itu, Bank BRI memberi fasilitas lain seperti mengikutsertakan debitor pada berbagai pameran. Pada 24–28 Maret 2010, Didik diikutkan pameran di Jakarta Convention Center setelah melalui seleksi perajin se-Jawa Timur (Jatim).

Keramat Art Glass menjadi salah satu wakil Jatim bersama peserta lain dari Kabupaten Mojokerto dan Malang. “Sekarang Alhamdulillah kami ada kontrak dengan galeri seni terkemuka,” ungkapnya.

Sebelum menjalin kemitraan dengan Bank BRI, Didik mengakui usahanya hanya sebatas seni ukir kaca. Namun setelah dibantu Bank BRI, dia bisa mengembangkan usaha hingga merambah bisnis pembuatan suvenir kerajinan tangan seperti gelang dan kalung berbahan baku dari biota laut.

“Alhamdulillah sekarang di desa kami di Talkandang ada dua plasma yang memiliki usaha padat karya dan bekerja sama dengan usaha kami,” tutur Didik.

Berkat kerja sama dengan Bank BRI pula kini semua order bisa direalisasikan. Bahkan produksinya kini meningkat dari 1-2 buah per hari menjadi 5-10 kaca ukir per hari.

Produksi kaca ukir hingga 10 buah per hari,panjang rata-rata dua meter per buah, keuntungan yang diperoleh Didik bisa mencapai jutaan rupiah per hari.

Didik menegaskan, selain dukungan modal dari Bank BRI, kesuksesan yang dia raih juga berkat motivasi yang kuat untuk maju serta kemauan bekerja keras. Berkat usaha yang ditekuni,Didik mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.

“Anak saya yang pertama, Sona Aisyah Yuliani, kuliah di Teknik Sipil Universitas Negeri Jember, lalu Shela Aisyah Yuliani kini sudah kelas 3 SMA dan ingin kuliah mengambil jurusan seni desain interior di Institut Teknologi Bandung (ITB).Adapun yang masih kecil sudah kelas 5 sekolah dasar,” tuturnya. (p juliatmoko/Koran SI)(adn)(Koran SI/Koran SI/rhs)


--

Diawali Coba-Coba, Asetnya Kini Ratusan Juta
Kamis, 5 Agustus 2010 - 10:00 wib
ilustrasi. foto: corbis

Mintarya Sonjat, pendiri usaha jamur Solagracia, tak pernah membayangkan jika dirinya bakal menjadi pengusaha jamur sukses seperti sekarang.

Semula pria kelahiran Cianjur, Jawa Barat, ini hanya iseng membudidayakan bibit jamur merang di sekeliling rumahnya. Tanpa dinyana, hasilnya bagus. Produk jamurnya disukai para tetangga dan lingkungan sekitar rumah.

Makin banyak yang suka, Mintarya bertekad untuk memproduksi jamur lebih banyak. Terlebih, anggota keluarganya juga menyukai masakan dari bahan baku jamur. Dengan modal sekira Rp1 juta yang didapat dari pinjaman salah seorang temannya, dia pun memulai usaha jamur.

Uang tersebut digunakan untuk membuat tempat pengolahan jamur berukuran 1x2 meter di rumahnya. “Karena saya yakin usaha jamur ini bagus, saya mantap menggunakan uang pinjaman untuk modal awal usaha,” ungkap Mintarya.

Berbekal pinjaman Rp1 juta, Mintarya dengan tekun memulai usaha. Dia memutuskan untuk serius menekuni budi daya jamur pada 2002. Fokusnya adalah budi daya jamur merang.

“Saya memilih jamur merang karena produksinya lebih gampang,” kata lelaki yang juga berprofesi sebagai pendeta ini.

Di 2007, Mintarya memutuskan mencari kredit lunak untuk pengembangan usaha.Keputusan ini diambil dua tahun sejak dirinya ditawari oleh bank untuk mengajukan kredit. Sebelumnya Mintarya cenderung takut meminjam dana dari bank.

“Saat itu saya takut meminjam uang ke bank karena dari berbagai cerita yang saya dengar, bank identik dengan proses yang berbelit dan penyitaan. Ternyata saya salah. Justru karena meminjam bank, usaha saya ternyata mampu berkembang,” tuturnya.

Berbekal akta tanah miliknya, Mintarya menjadi nasabah Bank BRI dan mengajukan pinjaman. Bank BRI memberikan bantuan modal usaha sekira Rp50 juta. Mendapat kepercayaan yang begitu besar dari pihak perbankan menjadikan Mintarya semakin termotivasi. Apalagi,sebagai nasabah pemula, mendapatkan pinjaman besar seperti itu jelas merupakan tantangan besar baginya.

“Layanan yang diberikan membuat saya memberanikan diri untuk mengajukan diri sebagai nasabah Bank BRI. Selain itu, Bank BRI hampir tiap bulan melakukan pembinaan dengan mengarahkan dan memotivasi kami,” terang Mintarya.

Peran Bank BRI dalam membina usahanya begitu besar. Setelah mendapatkan pinjaman, usahanya meningkat. Kapasitas produksi usaha jamurnya bahkan mencapai 50 kilogram (kg) untuk jamur kering maupun jamur segar per harinya.

Untuk mencapai produksi hingga 50 kg per hari,Mintarya meluaskan tempat produksi jamurnya menjadi ukuran 6x12 meter sehingga dia mampu membukukan omzet antara Rp20 juta–Rp30 juta per bulan. Kini usahanya kian maju, aset usaha jamur milik Mintarya telah tembus ke angka ratusan juta rupiah.

Menariknya, Mintarya mempelajari semuanya secara autodidak. Mintarya kerap membaca literatur soal jamur di toko-toko buku untuk mengetahui seluk beluk pembudidayaannya.

Dia pun tak segan melancong ke luar daerah untuk belajar lebih dalam tentang budi daya jamur dari petani lain agar pengetahuannya bertambah.

Usahanya untuk terus belajar dan menimba ilmu dari banyak petani jamur lain terbukti membuahkan hasil. Mintarya bahkan sukses membudidayakan jamur di wilayah Cianjur yang sebenarnya kurang cocok untuk budi daya jamur karena letaknya di daratan rendah.

“Banyak orang yang mengatakan tidak akan jadi kalau memproduksi jamur di suhu yang tidak cocok. Namun,karena saya penasaran dan mencoba, akhirnya berhasil juga. Terbukti saya bisa memproduksi hingga sekarang,” ujarnya.

Menurutnya, usaha budi daya jamur sangat menguntungkan. Selain menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi, bahan baku usaha ini mudah didapat.

Serbuk gergaji yang menjadi bahan baku produksi mudah diperoleh lantaran sebagian orang menganggap serbuk gergaji adalah limbah.

Menurut ayah dari seorang putra ini, faktor lokasi atau kendala lainnya bukan menjadi sebuah alasan untuk tidak memulai usaha budi daya jamur. Asal tahu ilmunya dan belajar tentang perkembangan teknologi pertanian mutakhir, hambatan apa pun bisa dilalui.

Terbukti, Mintarya yang mengembangkan usaha di dataran rendah tetap mampu menghasilkan produk jamur yang kualitasnya setara dengan produkproduk jamur dari dataran tinggi.

Produk jamur usaha Mintarya dengan nama Solagracia, yang berarti “karena anugerah”, telah menyebar ke banyak daerah seperti Lembang, Ciledug, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Lelaki tamatan SLTA ini mengaku senang karena usahanya berkembang. Dia semakin bersyukur, Solagracia mampu mewujudkan cita-citanya untuk turut memajukan masyarakat sekitar.

“Banyak masyarakat di sini yang ikut bekerja kepada kami. Kami harap, setelah mereka mendapatkan ilmu, nantinya bisa membuat usaha sendiri agar mereka mampu mandiri,” tutur Mintarya. Mintarya yang pernah dilibatkan dalam gelar pameran Karya PKBL BUMN di Jakarta Convention Center (JCC) beberapa waktu lalu itu tetap berharap usahanya tambah besar.

Dia optimistis, usahanya dapat terus berkembang dan dalam jangka pendek ini dia ingin meningkatkan kapasitas produksi. Mintarya tidak hanya meningkatkan kapasitas.

Dia pun terus berinovasi, baik terkait bahan baku,proses pengolahan,hasil produksi, maupun pemasaran.Semua itu adalah bagian dari upaya mewujudkan impian besarnya. “Ekspansi ke seluruh Nusantara dengan pengembangan plasma adalah impian terbesar saya,” ujarnya.

Mintarya merasa yakin pengembangan plasma di seluruh daerah Indonesia tidak terlalu susah. Sebab, sejak awal dia sudah melakukan pelatihan gratis kepada para petani jamur.

Bukan hanya untuk petani di Cianjur, dia juga memberikan pelatihan kepada para petani dari berbagai daerah lain. “Ini menjadi kebahagiaan tersendiri. Banyak orang bisa belajar dari pengalaman saya,” tuturnya.

Kerelaan Mintarya berbagi ilmu inilah yang membuatnya sukses mengembangkan jaringan plasma selama ini. Dalam skema plasma, Mintarya menyediakan bibit jamur dan menampung hasil panen.

“Jadi, petani tinggal memelihara tanamannya saja. Ke depan saya berharap bisa merangkul ribuan orang yang pernah mendapat pelatihan, khususnya yang berasal dari luar Jawa,” ujarnya.

Mintarya dengan senang hati akan memberikan bimbingan dan konsultasi bagi mereka yang mau menjadi petani plasma. Bagi para petani dari luar daerah yang hendak menimba ilmu terkait budi daya jamur di lokasi pertaniannya, Mintarya telah menyediakan fasilitas penginapan.

Dia mengatakan, sukses yang diraihnya saat ini merupakan buah kerja keras dan usaha. Mintarya memiliki kiat lain dalam berbisnis yang mungkin bisa saja dijalankan pebisnis lainnya.

“Kunci sukses berbisnis adalah ketekunan. Selain itu, jangan pelit berbagi ilmu. Dengan berbagi ilmu, kita semakin banyak memiliki kawan,” tutur Mintarya. (ricky susan)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Berdayakan Warga Desa, Tercipta Peluang Usaha
Rabu, 4 Agustus 2010 - 09:54 wib
ilustrasi. foto: runic.com

Pasangan suami-istri, Askari dan Uwinah, berhasil mengubah kesulitan petani jeruk di Desa Weragati, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menjadi peluang usaha yang menghasilkan keuntungan.

Tanaman jeruk sambal dan jeruk peras yang ditanam di area seluas 22,5 hektare (Ha) sangat melimpah di Desa Weragati. Masa panen buah ini memang tidak ada putusnya, baik di musim hujan maupun kemarau.

Sayangnya, harga buah ini naik-turun sehingga kadang bisa anjlok. Menurut Uwinah, 45, Kepala Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) setempat, harga jeruk sambal sempat anjlok hingga Rp300/kg pada 2006 dari biasanya Rp7.000-Rp15.000/kg.

Para petani jeruk sambal enggan memetik buah karena harga jual dengan ongkos memetik tidak seimbang. Uwinah bersama Askari, 46, suaminya, yang menjabat Kepala Desa Weragati, prihatin terhadap kesulitan warganya.

Keduanya berpikir agar bisa memecahkan masalah yang dihadapi petani jeruk di desanya. Mereka meminta Kepala Urusan Ekonomi dan Pengembangan (Kaur Ekbang) desa setempat, Didi Suryadi, lulusan sarjana teknik pertanian Universitas Widya Mataram Yogyakarta, untuk meneliti kandungan jeruk sambal.

Hasilnya, jeruk sambal memiliki kandungan minyak asiri. Setelah dihitung, keuntungan dari minyak asiri terlalu kecil serta hanya bagian kulit jeruk yang dimanfaatkan, sedangkan dagingnya terbuang.

Uwinah dan Askari lalu bermusyawarah dengan warga dan Didi Suryadi untuk memanfaatkan bagian daging jeruk. Terciptalah pengolahan daging jeruk menjadi sirup. Sirup dari jeruk sambal itu diberi nama Jestika, kepanjangan dari Jeruk Sambal Weragati Majalengka.

Modal saat usaha ini mulai dijalankan dibantu dari Koperasi Bina Mandiri di Desa Weragati sebesar Rp6 juta. Sambil meneliti lebih lanjut, Uwinah yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Desa Weragati bersama anggotanya mencoba menampilkan hasil pengolahan jeruk itu pada Pameran Pembangunan Kabupaten Majalengka di Lapangan Gelanggang Generasi Muda (GGM) pada 2006. Hasil karyanya mendapat sambutan luar biasa, termasuk dari Pemerintah Kabupaten Majalengka.

“Saat itu kami belum mengantongi izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), apalagi sertifikasi halal. Namun, permintaan pengunjung yang ingin membeli produk Jestika cukup banyak sehingga pegawai dari Dinas Kesehatan mempersilakan kami untuk menjualnya. Alhamdulillah, produk Jestika terjual laris dan habis,” kata Uwinah di tempat produksi sirup Jestika, Blok Pasar Desa Weragati belum lama ini.

Menurut Uwinah, tempat produksi Jestika pertama kali di balai desa dengan enam pegawai bagian pengupas kulit dan dua pegawai penyuling. Peralatan yang dimiliki masih terbatas pada alat-alat manual serta belum mengantongi izin PIRT dan sertifikat halal. Kelengkapan tersebut baru dapat terpenuhi setelah mendapatkan bantuan keuangan program pembinaan dari Bank BRI.

Wanita kelahiran 2 November 1965 itu menuturkan, pernah mengalami kesulitan membeli beberapa peralatan yang rusak pada 2008. Atas dasar itu, pihaknya mendapatkan penawaran program pembinaan dari Bank BRI pada September 2008 lebih dari Rp20 juta setelah mengisi dialog di TVRI Bandung.

“Kami menyambut baik program tersebut dan Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Peralatan yang rusak diganti dengan yang baru dan bisa membeli peralatan pelengkap lainnya. Sisanya kami gunakan untuk pengembangan usaha,” kata Uwinah.

Setelah berjalan satu tahun empat bulan, tepatnya pada Maret 2010, saat mengikuti pameran di Jakarta, Jestika mendapatkan penawaran kedua dari Bank BRI untuk memperpanjang program pembinaan. Nilai bantuan bertambah menjadi sekira Rp50 juta.

Bantuan tersebut digunakan untuk pengembangan usaha dan peningkatan sarana dan prasarana di antaranya tempat produksi, outlet Jestika, perizinan, dan sertifikat halal.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bank BRI yang telah membantu usaha yang dikelola oleh Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) yang di dalamnya adalah ibu-ibu dari tim penggerak PKK Desa Weragati,” ujar Uwinah.

Kini Uwinah dan Askari telah mengenyam hasil jerih payah mereka. Sebanyak 50 warga dari keluarga eks penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) bekerja sebagai pengupas kulit. Aset yang dimiliki Jestika pun bertambah menjadi sekira Rp200-an juta.

Untuk itu, ibu dua anak ini mengaku optimistis dengan usaha yang dikelolanya meski harus bersaing dengan minuman segar produksi pabrik.

“Minuman segar Jestika sangat natural karena berasal dari buah jeruk asli dan memakai gula tebu. Selain natural, Jestika juga bisa menjadi ikon minuman segar asal Kabupaten Majalengka. Jestika bisa jadi oleh-oleh khas Majalengka. Kami yakin Jestika akan berkembang dengan pesat,” ujar Uwinah. (taofik hidayat)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Membuat Wayang Sejak SD, Kini Omzetnya Puluhan Juta
Selasa, 3 Agustus 2010 - 10:52 wib
Ahmadi dan Wayangnya, Foto: Koran SI

LAHIR dari keluarga miskin membuat Ahmadi, 45, terbiasa bekerja keras sejak kecil. Etos kerja keras dan ketekunan itulah yang akhirnya membawa Ahmadi menjadi perajin wayang kulit sukses.

Kini bisa dibilang Ahmadi menikmati hasil kerja kerasnya. Tiap bulan 20-30 wayang kulit dipesan dari galerinya, Ahmadi Art, di Dusun Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Satu wayang kulit, tergantung tingkat kerumitan pembuatannya, dijual dengan rentang harga Rp1,5 - Rp2 juta. Dengan demikian, setiap bulan, bapak tiga anak ini mampu membukukan omzet puluhan juta rupiah. Belum lagi jika mendapat pesanan wayang khusus dengan tingkat kerumitan sangat tinggi.

Biasanya dia akan memasang harga lebih dari Rp5 juta tiap buah. Dengan usahanya ini, Ahmadi bisa menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Anak pertamanya, Sidiq Arifin, lulus dari Jurusan Seni Kriya, Institut Seni Indonesia Surakarta. Anak kedua, Romy Hasyim, masih kuliah pada jurusan yang sama. Adapun anak ketiga, Arif Maulana, masih duduk di bangku SMKI Surakarta.

Menyekolahkan anak, apalagi hingga lulus perguruan tinggi, tidak pernah terlintas dalam benak Ahmadi yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD). Ahmadi kecil hidup serba berkekurangan. Orang tuanya hanya buruh tani dengan pendapatan pas-pasan yang harus menghidupi enam bersaudara. Karena itulah dirinya bertekad untuk keluar dari situasi kemiskinan yang membelenggu keluarganya.

Dalam pikirannya waktu itu, satu-satunya cara untuk bisa beranjak dari kemiskinan adalah dengan mahir membuat wayang kulit seperti yang dilakukan kebanyakan orang di desanya. Jika mahir membuat wayang, lapangan kerja akan terbuka lebar. Bukan hanya menjadi buruh tani atau penggembala kambing. “Saya belajar membuat wayang sejak kelas lima SD,” ujarnya.

Dia kemudian belajar dari kakak pertamanya, Muhidin, yang sudah terlebih dulu menjadi perajin wayang. Dari kakaknya inilah Ahmadi kecil belajar natah (mengukir) dan nyungging (mewarnai) wayang kulit. Lulus SD, Ahmadi pergi ke Madiun, Jawa Timur. Di sana dia bekerja pada salah seorang perajin wayang bernama Joko Suparno. Setelah dari Madiun, Ahmadi hengkang ke Jakarta, bekerja pada seorang perajin wayang asal Solo.

Di Jakarta, Ahmadi bertahan tiga tahun dan selanjutnya kembali ke tempat asalnya bekerja, Madiun. Pemilik bengkel kerajinan memanggilnya untuk membantu menggarap pesanan dalam jumlah besar. Sekira pada 1994, Ahmadi memenangi lomba kerajinan wayang tingkat nasional. Wayang kulit gaya Yogyakarta buatannya dinilai juri mengandung unsur artistik tinggi dan mengalahkan puluhan peserta lomba lain.

Inilah titik tolak karier Ahmadi sebagai perajin wayang kulit. Sejak menjuarai lomba, puluhan tawaran kerja datang kepadanya. Mereka bersedia membayar berapa pun gaji yang diminta Ahmadi. Namun, Ahmadi berpikiran lain. Baginya, inilah momentum untuk membangun usaha kerajinan wayang kulit secara mandiri, tak lagi bekerja pada orang lain. Modal pertama selembar kulit kerbau dan kambing yang dia beli dari hasil tabungannya.

Kulit kerbau seharga Rp250 ribu, sedangkan kulit kambing Rp10 ribu. Dengan modal inilah Ahmadi mendirikan usaha kerajinan wayang kulit. “Kalau modalnya habis, saya kerja ke tempat lain. Nanti setelah modal terkumpul, saya beli kulit lagi,” ujarnya. Kulit kerbau adalah bahan untuk wayang yang digunakan dalam pentas. Adapun kulit kambing cocok untuk wayang yang dijadikan cenderamata.

Tak perlu waktu lama untuk membuat produknya terkenal. Sebentar saja para pencinta wayang mengetahui kualitas wayang buatannya. Usaha Ahmadi terus berkembang. Modal awal untuk membeli bahan baku didapat Ahmadi dengan menggunakan uang muka yang disetorkan pelanggan. Dia menggunakan uang itu untuk membeli kulit kerbau. Kini, wayang buatannya menjadi langganan dalang-dalang kondang dalam jagat perwayangan.

Sebut saja Ki Manteb Soedharsono, Ki Joko Edan, Ki Enthus Susmono setia menggunakan wayang buatannya. Saat ini Ahmadi memiliki tujuh pekerja yang membantunya memenuhi pesanan wayang. Dia juga mempunyai enam mitra. Mitra ini sebutan bagi perajin yang sudah mandiri, tapi menggunakan kulit dan modal miliknya. Tambahan modal dari Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI) dirasa sangat membantu usahanya berkembang.

Menurut Ahmadi, hal paling membanggakan adalah saat dirinya bisa berbagi ilmu dengan generasi muda. Baginya, menjaga tradisi nenek moyang adalah kewajiban yang harus terus-menerus dikerjakan. Hingga saat ini, dirinya telah membimbing lebih dari 20 orang pemuda di desanya untuk menjadi perajin wayang. Semuanya kini sudah menjadi perajin mandiri dengan produk yang mampu bersaing.

Mereka juga menjadi mitra kerjanya memenuhi pesanan saat dirinya tidak menyediakan barang keinginan pelanggan. “Saya juga mengajar keterampilan membuat wayang di SMP 23 Solo. Generasi muda harus dididik untuk menjaga budaya bangsa,” ujarnya. Soal usahanya, Ahmadi ingin mempunyai koleksi lengkap seluruh karakter wayang. Jumlahnya sekitar 200 wayang. Jika sudah bisa mengoleksi, dia akan lebih mudah memenuhi pesanan pelanggan.(mn latief/Koran SI) (adn)(//rhs)

--

Siasati Kondisi Pasar dengan Ciptakan Produk Antik
Senin, 2 Agustus 2010 - 10:33 wib
ilustrasi. foto: Koran SI

Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dituntut pandai membaca peluang. Begitu pula Sukardi, perajin patung cor kuningan asal Trowulan, Kabupaten Mojokerto, sukses mengembangkan usaha berkat jeli melihat celah pasar.

Menjadi perajin patung kuningan seakan telah menjadi jalan hidup Sukardi, 37. Dibesarkan di lingkungan perajin patung di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, jiwa perajin Sukardi terasah sejak kecil.

Terlahir dari pasangan Supardi dan Ngatemi yang juga perajin patung cor kuningan, Sukardi mulai menggeluti usaha ini sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Berbekal keterampilan yang diajarkan ayahnya, Sukardi kecil mulai mencoba menjadi perajin. Meski masih berseragam biru putih, pria kelahiran tahun 1973 itu sudah mulai mencari penghasilan dari patung-patung yang dibuatnya. ”Sejak SMP, biaya sekolah sudah saya tanggung sendiri,” kata Sukardi.

Dengan hanya bekerja seorang diri, Sukardi memang tak bisa menghasilkan produk dalam skala besar. Namun hanya dengan lima patung yang dihasilkan, dia sudah mampu memenuhi kebutuhan biaya sekolahnya saat itu, termasuk uang jajannya. Ringkasnya Sukardi tidak merepotkan orang tua. ”Sekira tahun 1986, dalam sebulan saya bisa mengantongi omzet Rp1,5 juta,” kenangnya.

Usaha Sukardi terus berkembang. Dia pun memutuskan untuk terus menggeluti usaha ini. Tanpa merepotkan orang tua dia bisa mengembangkan usaha dan berhasil membiayai pendidikannya hingga lulus dari bangku sekolah menengah atas (SMA). ”Hingga saya SMA usaha ini saya jalankan sendiri. Memproduksi dan memasarkannya pun sendirian,” ungkap bapak dua anak ini.

Dalam perjalanannya usaha Sukardi, yang diberi nama Mojo Art, memang menyimpan cerita suka duka. Lantaran pasar yang tak menentu, usaha kerap dalam kondisi kembang kempis.

Meski demikian, Sukardi tetap gigih dengan berinovasi membuat produk-produk baru. ”Saya sudah kenyang dengan kondisi jatuh dan bangun,” paparnya.

Tahun 1998 menjadi masa emas usahanya. Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat usahanya melejit. Saat itu bahan baku berupa kuningan, tembaga dan perak masih terbilang terjangkau.

Di sisi lain, produk-produknya yang khas dengan motif Majapahit dihargai dua kali lipat oleh pembeli luar negeri. ”Krisis moneter menjadi berkah. Tak hanya saya, semua perajin cor kuningan di Bejijong juga merasakannya,” ungkap Sukardi.

Di tahun keemasan itu Sukardi justru tak lengah. Dia pun memacu produksinya hingga merekrut empat karyawan yang dipekerjakan di rumahnya sendiri. Tepat tahun 2000, Sukardi sudah melipatgandakan jumlah produksinya. Selain dipasarkan di Bali, Yogyakarta, dan Jakarta, dia juga mulai bisa menimbun produk-produknya.

Pada masa keemasan itu pula, meski usaha masih terbilang kecil, Sukardi sudah bisa mengantongi keuntungan rata-rata Rp25 juta sebulan. Dengan keuntungan sebesar itu, Sukardi semakin leluasa mengembangkan usaha, seperti memperlebar pemasaran dan memperbanyak jenis produk yang dibuat.

”Tak terhitung lagi berapa jenis produk yang saya buat. Jumlahnya ratusan,” tegas pria lulusan SMA Taman Madya, Mojoagung, Jombang ini. Sukardi memang tak lama mengalami masa keemasan.

Sekitar tahun 2002 usahanya kembali lesu. Bukan lantaran sepinya order, melainkan akibat anjloknya harga di kalangan konsumen. ”Usaha hampir mati, tapi tetap saya tekuni,” katanya.

Kondisi pasar yang lesu dan mulai tak sehat itu memaksanya memutar otak. Dia pun mulai banting setir untuk memasuki pasar yang berbeda. ”Bukan lagi produk biasa. Saya menciptakan produk yang antik dan unik. Masih seputar patung, tapi lebih memiliki nilai sejarah dan ekonomi,” paparnya.

Keahlian Sukardi membuat patung cor kuningan, berbeda dengan perajin patung lain. Dia mampu meramu bahan hingga membuat patung-patungnya mirip dengan yang asli (peninggalan Kerajaan Majapahit).

Tentu saja dengan pembuatan yang jauh lebih rumit itu, nilai ekonomisnya juga lebih tinggi dibanding produk biasa. Harga sebuah patung antik bisa mencapai Rp30 juta. Memang, produk seperti ini tak banyak memiliki pasar. Justru pasar seperti inilah yang bisa menyelamatkan usahanya untuk tetap bisa memproduksi patung-patung massal.

”Membuatnya sangat rumit. Proses pengecorannya sama. Hanya saja bahan baku dan proses akhir (finishing) yang berbeda,”katanya sembari menyebut bahwa produk antik itu salah satunya perlu penguburan dalam tanah untuk jangka waktu tahunan.

Layaknya UMKM, Sukardi juga sempat kesulitan modal. Namun tahun lalu, usahanya kembali bersinar setelah mendapatkan kucuran dana dari Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI).

Dengan suntikan dana itu, kini dia membidik dua pasar yang berbeda, yakni produk massal dan produk unik. ”Keduanya jalan. Produk massal terus kami buat, produk antik juga kami tekuni,” paparnya.

Untuk produksi patung cor kuningan massal bermotif majapahitan, dewa, dan berbagai jenis hewan, dia menggandeng salah satu adik iparnya, Suwandi. Tanpa melepaskan proses produksi Sukardi lebih intens merambah pasar baru untuk produk-produk itu.

Salah satunya dengan mengikuti pameran-pameran. ”Setiap pameran kami ikuti. Ini untuk merambah pasar baru,” katanya.

Di tempat usahanya yang terletak di bagian belakang rumah Suwandi, dia telah mempekerjakan 12 karyawan. Pekerja laki-laki lebih banyak bergelut di pembuatan cetakan patung yang terbuat dari lilin.

Juga untuk melakukan pengecoran yang masih menggunakan cara manual. Pekerja perempuannya lebih banyak menangani proses menuju pengecoran dan finishing. Saat ini usaha Sukardi terbilang cukup stabil. ”Sudah cukup aman. Terpenting usaha ini terus berjalan dan bisa bermanfaat untuk para pekerja,” tuturnya.

Produk massal yang dia buat bersama Suwandi kini telah memiliki ratusan bentuk dan jenis patung cor. Baik yang terbuat dari kuningan, logam ataupun perunggu. Dengan berbagai bentuk, jenis dan ukuran itu, harga produknya berada di kisaran terendah Rp20 ribu hingga Rp3 juta per buah. ”Motifnya lebih banyak majapahitan dan dewa-dewa. Juga motif binatang,” ungkapnya.

Ada saatnya pada bulan-bulan tertentu terjadi peningkatan order dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya. “Bulan Agustus biasanya bulan panen karena pesanan meningkat,” katanya.

Ada sisi lain kenapa Sukardi masih saja bertahan untuk tetap menjadi perajin. Bukan semata alasan ekonomis. Lebih dari itu, dia merasa jika pekerjaan ini merupakan pekerjaan leluhur yang perlu dilestarikan.

Menjadi perajin patung memiliki tantangan tersendiri, terutama saat membuat sejumlah patung petinggi Kerajaan Majapahit. Menurutnya, tuntutan agar bentuk patungnya persis dengan patung asli menjadi tantangan terberat.

”Prinsip saya, jangan sampai membuat patung yang wajah dan bentuknya, terutama tokoh Majapahit, tak sama dengan aslinya. Itu yang sulit,” paparnya.

Dia mendedikasikan pekerjaannya untuk leluhurnya. Tak mengherankan jika dia berani menolak pesanan patung dengan motif selain yang dipertahankannya, yakni majapahitan.

”Itu yang kami pegang. Jangan sampai lupa sejarah dan leluhur.Bahkan untuk pengecoran pun prosesnya sama dengan saat zaman Majapahit dulu,” katanya. (tritus julan)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Hanya Bermodal Tepung, Pengusaha Kerupuk Jadi Bos!
Minggu, 1 Agustus 2010 - 08:54 wib
Foto: Koran SI

JAKARTA - Bagi Nurati, 38, menjadi pengusaha kerupuk tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Maklum pada tahun 1992, dia dan sang suami Carkendi, 41, tidak memiliki modal sepeser pun.

Dibantu oleh salah satu anggota keluarganya, dia memulai usaha kerupuk ikan dan udang di Desa Kenanga,Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu. Modal usahanya pun tidak berupa uang, melainkan bantuan satu ton tepung tapioka sebagai bahan utama membuat kerupuk. Meski tanpa modal uang tunai, Nurati tetap gigih menjajaki usaha yang baru digelutinya ini. Awalnya, pembuatan kerupuk dilakukan dengan cara tradisional. Bersama sang suami, dia pun membuat adonan kerupuk.

Dengan peralatan seadanya. Setelah jadi kerupuk,dia mulai memasarkan hasil usahanya ke sejumlah warung di Desa Kenanga dan sekitarnya. Nurati juga mengakui awalnya, dia mengalami kesulitan memasarkan produksi usahanya ini. Maklum, Desa Kenanga merupakan sentra kerupuk. Selain Nurati, sudah ada sejumlah usaha kerupuk. Bahkan bisa dikatakan usaha kerupuk sudah menjamur di sana.Beberapa di antara pesaing Nurati telah memiliki permodalan yang cukup besar.

Namun, hal itu tidak membuat Nurati patah arang. Dengan ketekunan dan keuletannya mengelola bisnis kecil-kecilan ini, hasil produksinya mulai diminati konsumen. Seiring semakin derasnya pesanan kerupuk, dia pun mulai mendapatkan harapan cerah terhadap industri kerupuk yang digelutinya ini. Perlahan tapi pasti,usaha yang digelutinya ini, mampu memberikan harapan bagi keluarganya.Semakin banyaknya pesanan kerupuk mengangkat perekonomian keluarganya.

Setelah mampu bertahan, dia pun memberanikan diri untuk menambah modal usaha dua tahun berikutnya. Pada tahun 1994, ia meminjam uang sebesar Rp25 juta kepada salah satu kerabatnya. Bantuan modal ini jelas menyuntikkan ”darah segar” bagi geliat usahanya. Saat itu juga ia pun memberikan label kerupuk hasil produksinya dengan nama perusahaan kerupuk Cap Dua Mawar. Pemberian label kerupuk ini, diharapkan menjadi trade markkerupuk yang dihasilkan.

”Nama atau label ini hanya sebagai identitas usaha saja, karena ini sudah menjadi kebutuhan di pasaran,”ujarnya. Usaha pembuatan kerupuk ini pun lambat laun semakin diminati oleh konsumen.Bahkan,produksinya berhasil merambah pasar ke luar daerah.Salah satu daerah yang menjadi langganannya adalah Kota Surabaya Jawa Timur. Pelanggan kerupuk Cap Dua Mawar di Kota Surabaya berasal dari pedagang di pasar tradisional, industri rumahan,serta rumah makan.

”Produksi per harinya yang sebelumnya hanya satu ton kini bertambah menjadi 2 ton,” ujarnya. Perusahaan kerupuk Cap Dua Mawar yang sebelumnya hanya mempekerjakan 5-10 karyawan lalu bertambah hingga 40 karyawan. Meski sempat mengalami pasang surut usaha,namun kerupuk Cap Dua Mawar tetap mampu bertahan dan eksis.”Tidak dipungkiri selalu ada kendala usaha, tapi secara umum, usaha kami tetap dapat berjalan,” ungkapnya.

Nurati mengaku, semakin tingginya pesanan kerupuk dalam beberapa tahun terakhir, karena dia selalu menjaga kualitas hasil produksi. Menurut dia, kualitas kerupuk sangat mempengaruhi pelanggan. Nurati mengaku tidak pernah mengurangi takaran bumbu- bumbu serta racikan ikan dan udang. Pasalnya, bila dikurangi, maka kualitas atau cita rasa kerupuk hasil produksinya turun.

”Masalah harga, terkadang pelanggan tidak mempersoalkan, yang penting kualitas rasa tetap terjamin,”bebernya. Pada tahun 2007 lalu, Nurati pun mencoba peruntungan kembali dengan mengembangkan usaha agar bisa lebih maju lagi. Dia ingin memiliki lokasi usaha yang lebih representatif dan meningkatkan alat-alat pembuat kerupuk. Saat itu, Nurati belum memiliki tempat menyimpan kerupuk yang bisa menampung 2 ton adonan kerupuk.

Dia kerap kali kesulitan untuk mencari tempat yang paling nyaman. Untuk itu, dia membutuhkan tempat penyimpanan kerupuk dengan luas yang cukup memadai. Tepat pada tahun 2008,dia mendapatkan tawaran kredit usaha kecil menengah (UKM) dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Tawaran kredit UKM ini, langsung direspons olehnya. Dia mendapatkan persetujuan kredit Rp1 miliar.

”Uang kredit ini sebagian besar digunakan untuk menambah gudang penyimpanan kerupuk dan alat pembuat kerupuk,”tandasnya. Sarana infrastruktur tersebut menurutnya sangat membantu dalam pengembangan usaha yang dijalani. Dengan sarana yang memadai, usaha pembuatan kerupuk Cap Dua Mawar semakin maksimal dan mampu memproduksi dengan kualitas yang semakin baik. Nurati juga menceritakan, setelah mendapatkan bantuan modal dan pengembangan usaha,omzet penjualan pun terus merangkak naik.

Jika pada tahun 1992, omzet per bulan hanya mencapai Rp70 juta. Perlahan tapi pasti omzet usahanya semakin bertambah. Bahkan saat ini penghasilan per bulannya sebesar Rp390 juta. Kredit usaha kecil menengah yang digulirkan perbankan ini, menurut Nurati, dapat meningkatkan usahanya ini.”Kalau diberikan kredit usaha lanjutan, akan saya manfaatkan untuk pengembangan permodalan terutama modal untuk bahan baku produksi,” bebernya.

Bahan baku produksi tersebut, seperti rasa kerupuk yang lebih variatif dan beraneka ragam. Hal ini bertujuan agar konsumen memiliki banyak pilihan dalam memiliki kerupuk Cap Dua Mawar. Cita rasa kerupuk yang variatif juga menjadi rencana jangka panjangnya dalam menggeluti usaha ini. Di lokasi produksi kerupuk Cap Dua Mawar di kawasan sentra industri kerupuk Desa Kenanga, produksinya sebesar 2 ton per harinya.

Tiap minggu, Nurati terus memasok Kerupuk Cap Dua Mawar ke Kota Surabaya. Mengenai armada angkut kerupuk ke luar daerah, Nurati memanfaatkan truk pengangkut buah asal Surabaya yang biasa bolakbalik ke Indramayu. ”Kalau harus menggunakan armada sendiri, biaya operasionalnya lebih tinggi,” ujarnya. (Tomi Indra)(//css)

--
Korban PHK yang Punya Bisnis Beromzet Rp500 Juta
Jum'at, 30 Juli 2010 - 10:45 wib
Ahyani, korban PHK yang kini jadi pengusaha kerajinan. Foto: Koran SI

Ahyani dulunya hanya karyawan biasa. Berkat keinginan untuk maju, kini dia telah menjadi bos dengan 50 karyawan.

Deru suara mesin disertai kesibukan para karyawan menyambut saya ke tempat usaha perhiasan yang dikelola Ahyani di Cilincing, Jakarta Utara, belum lama ini. Kesibukan yang terlihat mencerminkan usaha itu bergerak dinamis mengikuti perjalanan waktu.

Usaha perhiasan dengan mengusung bendera CV Abadi Fitrah Sejahtera tersebut dirintis Ahyani sejak 2002. Lelaki kelahiran Cirebon tersebut memutuskan untuk mendirikan usaha didasari motivasi ingin menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. ”Sejak muda tekad saya memang ingin mandiri dan bisa berbagi dengan orang lain,” tutur Ahyani.

Keinginan menciptakan lapangan kerja bagi orang lain juga dilandasi pengalamannya bekerja sebagai karyawan di perusahaan perhiasan di Jakarta.

Ahyani yang hanya lulusan SMA awalnya diajak merantau ke Ibu Kota oleh kakaknya. Di Jakarta, lelaki yang mengaku hobi melukis dan mendesain sejak sekolah dasar ini langsung diterima kerja di perusahaan perhiasan.

Ketika mendapat pekerjaan di perusahaan perhiasan, Ahyani mengaku seperti menemukan tempatnya. Bakat melukis dan desainnya secara langsung dapat diaplikasikan dalam proses pembuatan perhiasan. ”Saya benar-benar menikmati pekerjaan,” tutur ayah dari tujuh orang anak ini.

Lantaran kecintaannya dengan pekerjaan, tak terasa perjalanan Ahyani sebagai karyawan berjalan hingga memasuki waktu 15 tahun. Posisi puncak yang diembannya adalah sebagai kepala produksi. Sayang, perjalanan Ahyani sebagai karyawan harus berhenti seiring krisis moneter yang melanda bangsa ini pada 1997.

Pada 1998, Ahyani terpaksa meninggalkan pekerjaan lantaran perusahaan perhiasan yang menjadi tempatnya mengadu nasib kolaps. ”Krisis turut menghancurkan perusahaan-perusahaan perhiasan saat itu,” ungkap Ahyani.

Namun, luar biasanya, bukannya meratapi nasib karena kehilangan pekerjaan, Ahyani justru menemukan secercah harapan. Seperti ada tangan yang menuntun, krisis malah menjadi momentum baginya untuk berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, dengan mendirikan usaha kerajinan perhiasan. Usaha yang sudah sangat dikenalnya.

”Sempat memang ada perusahaan perhiasan lain yang hendak merekrut saya dengan iming-iming gaji lebih besar dan fasilitas lain. Tapi saya berketetapan hati ingin mandiri. Saya ingin mewujudkan cita-cita saya membantu orang lain dengan membuka lapangan kerja bagi sesama,” tutur suami Esti Sucianti itu.

Pada 2002, upaya Ahyani membuat usaha sendiri dimulai. Dengan dibantu lima karyawan yang merupakan mantan anak buahnya di perusahaan terdahulu, Ahyani mencoba peruntungannya.

Mungkin karena niat mulia yang diemban, tanpa menunggu lama, usahanya pun berkembang. Perkembangan usahanya turut disokong pulihnya bisnis perhiasan selepas krisis moneter 1997. ”Pada 2003 saya sudah memiliki 25 karyawan,” ujar Ahyani.

Bisnis yang dijalani Ahyani makin berkibar setelah Bank BRI turut membantu dari sisi permodalan. Dari bantuan Bank BRI pulalah Ahyani mengaku bisa membuat badan usaha dengan nama CV Abadi Fitrah Sejahtera.

”Bank BRI mau membantu setelah beberapa kali melihat produk kami, lalu memberikan fasilitas kredit,” kata Ahyani.

Menurut Ahyani, total fasilitas bantuan usaha yang digelontorkan Bank BRI hingga sekarang mencapai lebih dari Rp700 juta. ”Awalnya sekira Rp50 juta hingga mencapai angka yang sekarang,” ujarnya.

Selain itu, Bank BRI juga memfasilitasi usahanya ikut dalam banyak pameran. CV Abadi Fitrah Sejahtera kini mampu memproduksi berbagai jenis perhiasan dari bahan emas serta berlian.

Perusahaan ini juga membuat perhiasan dari batu bacan yang berasal dari wilayah Maluku Utara dan mutiara asal Lombok. ”Malah kedua produk ini sekarang tengah menjadi primadona,” terang Ahyani.

Sebagai produk perhiasan yang menggunakan bahan emas, berlian, ditambah batu bacan dan mutiara, banderol yang dikenakan untuk beragam jenis produk seperti kalung, cincin, gelang, bros, giwang, liontin, dan lainnya relatif mahal. Harga termurah dibanderol Rp5 juta. Malah ada juga produk kalung yang bernilai sekira Rp50 juta karena mengombinasikan perpaduan antara berlian, mutiara, dan batu bacan.

Ahyani mengungkapkan, semua produk yang diciptakannya memiliki keunggulan pada sisi desain karena terus mengikuti mode yang sedang menjadi tren.

Untuk menciptakan desain perhiasan yang elegan,cantik,dan eksklusif, Ahyani senantiasa berkiblat pada perkembangan mode perhiasan di Hong Kong. Tiap kali pasar perhiasan Hong Kong menciptakan mode terbaru, dia langsung menciptakan sesuatu yang baru dan unik.

Dengan 50 karyawan yang kini dimiliki, tiap hari CV Abadi Fitrah Sejahtera mampu memproduksi 200–250 pieces perhiasan dengan sasaran pasar tak hanya di dalam negeri, tapi juga telah merambah Amerika Serikat, Jepang, Turki, dan sejumlah negara lain. ”Banyak warga asing enggak percaya bahwa produk tersebut berasal dari Indonesia,” ujarnya.

Untuk pengiriman ke luar negeri, Ahyani rutin mengirim produknya tiap dua bulan sekali. Kadang pengiriman juga dilakukan sebulan sekali. Sejalan dengan pasar yang telah mengglobal, manisnya pendapatan pun diperoleh.

Dari catatan Ahyani, usahanya mampu membukukan omzet stabil rata-rata Rp300 juta–Rp500 juta per bulan. Pernah juga usahanya membukukan omzet hingga Rp800 juta. Sadar bahwa kesuksesan yang direngkuh berkat bantuan karyawan dan lingkungan di sekitar bengkel usahanya,Ahyani pun merasa perlu berbagi dengan mereka

Adapun untuk 50 karyawannya, terutama yang belum berkeluarga,Ahyani menyediakan mes lengkap dengan berbagai fasi litas. Sementara di lingkungan yang berada di bengkel usahanya, Ahyani mengaku terlibat aktif dalam kegiatan sosial keagamaan.

Dia juga turut mengaktifkan kegiatan pengajian di wilayah sekitar usahanya. Kegiatan bantuan sosial juga sering diselenggarakan. Kini Ahyani yang telah menjadi wirausaha sukses mengaku tengah menikmati hasil usaha kerasnya.

Lalu apa arti kesuksesan baginya? Lelaki yang tetap sederhana di posisinya sekarang ini mengatakan, kesuksesan hakiki adalah ketika dia bisa berbuat lebih banyak lagi untuk orang lain.

”Saya senang dengan adanya usaha ini karena bisa membantu menghidupkan ekonomi warga sekitar. Saya senang bisa memberikan peluang kerja bagi orang lain. Saya juga senang bisa bermanfaat bagi lingkungan,” ungkapnya. (sugeng wahyudi)(Koran SI/Koran SI/ade)

--
Cinta, Bikin Usahanya Bertahan & Terus Berkembang
Kamis, 29 Juli 2010 - 10:01 wib
ilustrasi. foto: Koran SI

Cinta menyimpan kekuatan luar biasa. Ina Indrawati, pemilik Wimo Shoes ini telah membuktikannya. Karena kecintaannya pada dunia sepatu, dia mampu mempertahankan usaha hingga sekarang.

“Usaha yang kami jalankan berangkat dari rasa cinta. Ketika mengawali usaha ini kami bahkan tidak pernah memikirkan soal untung karena kami mencintai apa yang kami kerjakan. Semua mengalir dan berjalan begitu saja,” kata Ina saat mengawali perbincangan di kantornya yang terletak di Jalan Kemang I No 7, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Ibu dua anak ini mengungkapkan, eksistensi usaha sepatu yang dikelolanya tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran Mandiri Business Banking. Meski pada awal membuka usaha menggunakan modal sendiri, dalam perkembangannya Ina mendapat bantuan dari Mandiri Business Banking.

Ina mengaku telah lama bekerja sama dengan Mandiri Business Banking. Selama itu Mandiri Business Banking memberikan dukungan agar Wimo Shoes terus maju dan berkembang. “Mandiri Business Banking terus mendorong kami untuk maju, maju, hingga seperti sekarang,” tuturnya.

Perempuan ramah ini menceritakan, usaha sepatu yang kini dia kelola pada awalnya dirintis oleh ibunya, Wiwih Reksono, pada 1966. Ibunya tertarik mengembangkan usaha sepatu karena waktu itu sebagai perempuan merasa tidak menemukan sepatu yang pas dengan kaki.

“Ibu saya merasa, tiap kali memakai sepatu kok kaki malah jadi pegal-pegal, kepala jadi pusing dan rasa tak enak lainnya,” tutur Ina.

Dari situ kemudian terpikir ide untuk membuat sepatu yang aman, nyaman, dan tetap memperhatikan aspek estetika pemakai. Kebetulan, kata Ina, ibunya adalah sosok yang amat mencintai dunia sepatu.

“Sejak kecil saya sudah dikenalkan dengan dunia sepatu oleh ibu saya. Melihat sepatu berserakan di atas meja tamu atau meja makan bagi saya adalah pemandangan biasa,” beber Ina yang mengaku banyak belajar dari ibunya soal dunia sepatu sebagai bekal mengelola usaha.

Berangkat dari kecintaan terhadap dunia sepatu dibarengi rasa ingin mengembangkan sepatu sebagaimana produk mode lain yang bergerak dinamis, Ina mengatakan, ibunya belajar sungguh-sungguh menciptakan produk sepatu berkualitas.

Dari proses belajar tersebut jalan mulai terbuka. Ina mengungkapkan bahwa ibunya berhasil membuat sepatu-sepatu dengan model menarik, tapi tetap memperhatikan aspek kenyamanan pemakai. Meski demikian, tak mudah memang memulai sesuatu.

“Banyak juga yang mencibir dan memandang sebelah mata,” ungkapnya. Namun karena semua dikerjakan dengan rasa cinta, tantangan seperti apa pun mampu dia lewati.

Tanpa mengenal kata menyerah, upaya untuk mengenalkan produk terus dilakukan. Dari mulut ke mulut, dari satu pintu ke pintu rumah yang lain, hingga akhirnya Wimo dapat bertahan sampai detik ini.

“Tak terasa usaha yang dirintis oleh ibu saya dari nol sekarang telah berusia 44 tahun. Apalagi yang membuat usaha ini eksis sampai sekarang kalau tidak karena kekuatan cinta?” ujar Ina.

Sebagai penerus usaha, Ina mengaku akan berupaya mengemban amanat sebaik mungkin. Dalam perjalanannya, Wimo Shoes, yang mengkhususkan produksinya dengan membuat sepatu bagi kaum hawa dari anak-anak hingga usia senja, melakukan sebuah terobosan.

Wimo Shoes memproduksi sepatu kesehatan dengan teknologi ortho. “Kami mungkin satu-satunya di Asia yang membuat customized sepatu fashion dengan teknologi ortho,” kata perempuan yang memiliki hobi dansa ini.

Dengan teknologi ortho konsumen bisa membuat sepatu yang sesuai dengan bentuk kaki, struktur tulang, dan berat badan.Teknologi ortho juga memungkinkan orang yang memiliki masalah dengan kaki, cacat, dan sebagainya memiliki sepatu yang pas dengan kakinya.

Teknologi yang telah marak di luar negeri tapi baru diperkenalkan Wimo Shoes setahun belakangan ini ternyata mendapat sambutan positif. Telah banyak pelanggan Ina yang memanfaatkan teknologi ini. “Karena kami juga melayani pembuatan customized,” ujarnya.

Melalui teknologi ortho, Wimo Shoes berharap dapat lebih banyak lagi membantu orang lain yang memiliki masalah dengan kaki. “Belum lama ini kami membuatkan sepatu untuk orang cacat. Dia tak memiliki sepatu sejak kecil. Senang rasanya bisa berbagi,” ujar Ina.

Melalui penggabungan produk antara mode, kesehatan, dan seni, perempuan yang memiliki motto hidup ingin melakukan yang terbaik dengan segala yang dilakukan, ini bertekad produknya dapat bersaing dengan produk-produk luar negeri. “Bangsa ini mampu kok bersaing,”ujarnya,sangat yakin. (sugeng wahyudi)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Gara-Gara Sayuran Jadi Ingin Sehatkan Bangsa
Rabu, 28 Juli 2010 - 10:10 wib
ilustrasi. foto: corbis

PT Kebun Sayur Segar berupaya turut menyehatkan masyarakat Indonesia melalui beragam produk sayuran segar.

Dengan pola pertanian yang mengutamakan keseimbangan alam, perusahaan ini juga ingin terlibat langsung dalam upaya penyelamatan bumi.

”Ya, usaha yang kami jalankan diharapkan mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Produk sayuran segar kami turut menyehatkan bangsa, sedangkan pola pertanian yang kami jalankan semoga juga turut membantu dalam upaya penyelamatan bumi dari ancaman global warming,” terang Presiden Direktur PT Kebun Sayur Segar Matius Aritonang, belum lama ini.

Usaha yang dijalankan PT Kebun Sayur Segar dengan brand Parung Farm selama ini mendapat dukungan penuh dari Mandiri Business Banking. Bantuan tersebut digunakan untuk pengembangan dan peningkatan kinerja perusahaan.

Menurut Matius, kehadiran Mandiri Business Banking memberi dampak positif bagi PT Kebun Sayur Segar. Seiring bantuan usaha dari Mandiri Business Banking, PT Kebun Sayur Segar lebih berani menghadapi tantangan.

”Kerja sama ini saling menguntungkan. Terlebih pihak Mandiri Business Banking begitu mendukung kami dari sisi permodalan dan lainnya. Sebagai imbalannya, kami pun berusaha membayar apa yang menjadi kewajiban kami,” tuturnya.

Matius menjelaskan, produk-produk pertanian PT Kebun Sayur Segar bisa disebut turut menyehatkan bangsa karena dihasilkan dari pola pertanian modern yang amat memperhatikan setiap aspek dalam pengelolaannya.

Menerapkan metode pertanian hidroponik, PT Kebun Sayur Segar menjadi salah satu produsen sayuran sehat di Indonesia. Pertanian hidroponik diartikan sebagai sebuah sistem atau teknologi di mana tanaman ditumbuhkan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam. Karena itu hidroponik juga disebut sebagai budi daya tanam tanpa tanah atau soil less culture.

Matius mengatakan, pola pertanian hidroponik menerapkan beberapa aturan ketat yang wajib dijalankan. Di antaranya tidak menggunakan pestisida, tidak menggunakan air kotor dalam proses penyiraman, serta ekonomis lantaran setiap bagian sayuran bisa dikonsumsi, kecuali akar, dan pertumbuhannya lebih cepat.

Lantaran beberapa aturan ketat tersebut, tak mengherankan bila sayur yang dihasilkan adalah produk-produk terbaik. Jika dibandingkan dengan hasil produk pertanian biasa, rasa sayuran produk hidroponik terkesan lebih crispy. Saat dimasak, sayuran pun akan tetap berwarna hijau.

”Bisa dibuktikan, produk-produk kami mulai dari aneka selada, kangkung, chai sim (sawi hijau), bayam hijau, pak choi hijau, tomat, wortel, dan lainnya adalah produk-produk pertanian berkualitas dan sehat,” tutur Matius yang mendapat amanat memimpin PT Kebun Sayur Segar sejak 2002.

Selain mampu menghasilkan produk sayur sehat dan berkualitas, pola pertanian hidroponik, kata Matius,juga turut membantu upaya penyelamatan bumi. Alasannya, lantaran tidak menggunakan tanah, pola pertanian hidroponik tak akan merusak bumi.

Selain itu, pola pertanian ini juga efisien dalam pemanfaatan air sehingga tak ada air yang terbuang percuma. ”Pola pertanian ini sehat, ramah lingkungan, dan turut menyelamatkan bumi,” terang Matius.

PT Kebun Sayur Segar resmi didirikan pada Juni 2003. Namun perjalanan hingga menjadi perseroan terbatas telah dilalui perusahaan sejak November 1998.

Perjalanan perusahaan ini juga tak lepas dari peran beberapa sarjana muda dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang memperkenalkan teknologi pertanian hidroponik.

Menurut Matius, kehadiran PT Kebun Sayur Segar pada awalnya juga dilandasi keprihatinan terhadap merebaknya kasus-kasus makanan mengandung racun seperti formalin, boraks.

”Bangsa kita adalah bangsa agraris. Jadi, kenapa tidak kembali ke alam, menanami ladang kita dengan sayuran yang menyehatkan?” ujarnya.

Sejak awal pengembangannya hingga sekarang, PT Kebun Sayur Segar bisa dikatakan sebagai pelopor perusahaan penghasil produk pertanian terbaik di Tanah Air.

Kualitas produk dan metode pertanian yang diterapkan terbukti telah mendapat banyak pengakuan. PT Kebun Sayur Segar yang juga mengembangkan produk pertanian organik telah memperoleh sertifikat untuk produk organik dari lembaga internasional.

Sertifikat itu semakin mengukuhkan komitmen perusahaan untuk menghasilkan produk sayur lokal yang berkualitas. Seiring perjalanan waktu, PT Kebun Sayur Segar juga menjadi rujukan berbagai kalangan, mulai masyarakat biasa, petani hingga para ahli dari dalam dan luar negeri untuk belajar tata cara pertanian modern.

Kantor sekaligus tempat pelatihan yang berada di Jalan Raya Parung 546, Parung, Bogor, setiap harinya tak pernah sepi dari kunjungan masyarakat yang ingin menimba ilmu.

”Kami mempersilakan siapa saja yang ingin belajar bertani secara modern dengan kami. Kami terbuka dengan siapa saja,” ungkap Matius.

Jika selama ini produk sayurnya telah mampu memenuhi etalase berbagai hipermarket terkenal di Tanah Air, ke depan PT Kebun Sayur Segar ingin produknya juga bisa masuk ke pasar luar negeri. (sugeng wahyudi)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Mantan Pemulung yang Kini Memiliki Pabrik
Selasa, 27 Juli 2010 - 10:37 wib
Foto: Koran SI

Kucuran keringat dan rasa malu menjadi pemulung tak dia hiraukan karena keyakinan untuk meraih sukses.

Menjadi mahasiswa jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), tak membuat John Pieter malu dan risih untuk memungut serta mengumpulkan sampah plastik yang banyak berserakan di belakang kosnya di kawasan Geger Kalong Tengah, Kota Bandung, Jawa Barat.

Sampah-sampah plastik itulah yang menginspirasinya untuk membuka usaha pada 1987. Pada awal memulai usaha John berpikiran, jika dibandingkan harga gabah yang saat itu Rp600 per kg, harga limbah plastik di tingkat pengepul sudah mencapai Rp1.000 per kg.

Saat itu dia memantapkan diri untuk memulai bisnis daur ulang sampah plastik sambil tetap kuliah. Menurut John, seorang pengusaha sejati harus memiliki sifat visioner, memandang jauh ke depan, ditambah keyakinan diri pada usaha yang dilakukannya.

“Melihat perbandingan harganya yang begitu besar, saat itu saya yakin bisnis ini akan menghasilkan potensi besar. Dan perlu diingat, untuk menjalankannya bisnis ini tidak memerlukan modal sama sekali. Hanya dengan catatan, buang jauh-jauh perasaan malu,” tandas John saat ditemui di ruang kerjanya di Cipamokolan, Kota Bandung, belum lama ini.

Dibarengi kerja keras dan tak kenal lelah,usahanya makin maju. Hingga suatu hari ada surat kabar nasional memberitakan sosok John sebagai pengusaha sukses yang berangkat dari pemulung sampah plastik.

Hal ini berlanjut dengan adanya tawaran kucuran modal dari Mandiri Business Banking. Sejak saat itu John resmi menjadi nasabah Mandiri Business Banking.

“Modal yang saya terima benar-benar saya gunakan untuk menjalankan roda bisnis. Saat menerima kucuran modal itu, saya sudah memiliki mesin pengolah sampah dan sarana pendukungnya hingga tempat usaha. Jadi, saya berani menerima ajakan untuk bermitra dari Mandiri Business Banking sehingga kredit modal itu bisa digunakan secara optimal,” papar John.

Dengan bantuan modal dari Mandiri Business Banking, usaha John yang menggunakan nama Peka Group semakin berkibar. Biji plastik hasil olahannya menjadi primadona pengusaha yang banyak bergerak di bidang home industry.

“Mereka membeli produk saya untuk berbagai keperluan seperti bahan baku pembuatan tali plastik, tali rafia, helm, alat-alat rumah tangga, dan lainnya,” tutur ayah dari Yediza dan Ishak ini.

Keyakinan John menggeluti bisnis pengolahan sampah plastik semakin kuat karena keinginannya untuk menjadi orang kaya. “Saya berpikiran, jika jadi pekerja, meskipun lulusan dari kampus ternama, tidak berarti memberikan jaminan bisa menjadi orang kaya. Di pikiran saya hanyalah bagaimana caranya menjadi orang kaya melalui jalan yang benar,” ungkapnya.

John merasakan betul bagaimana aktivitasnya mengumpulkan satu per satu sampah plastik di halaman kosnya untuk dijual kepada pengepul. John mengungkapkan, kedua orang tuanya yang tinggal di Sumatera tidak mengetahui jika anaknya menjadi pemulung selepas kuliah.

“Tetapi, saat bertandang ke Bandung, orang tua saya pun akhirnya tahu jika selama ini saya menjadi pemulung. Saat melihat apa yang saya lakukan, mereka menangis karena sedikit pun tidak pernah terlintas dalam pikiran kedua orang tua saya jika anaknya harus memunguti sampah,” tutur lelaki asal Tanah Karo, Sumatera Utara itu.

Namun, hal itu tak menyurutkan langkah John untuk menekuni usaha yang telah dia rintis. Usahanya sedikit demi sedikit terus mengalami kemajuan dan dia memberanikan diri meminjam modal pada temannya sebesar Rp4 juta.

Dengan modal tersebut, akhirnya John menjadi seorang pengepul dan memindahkan tempat usahanya ke kawasan Cikutra, Kota Bandung. Di Cikutra John menyiapkan tempat khusus yang bisa ditinggali pemulung.

Namun, dia sering meninggalkan tempat usahanya karena harus kuliah dan kadang mengajar. Untuk itu, dia pun memercayakan kepada seseorang.

“Tanpa sepengetahuan saya, ternyata pemulung yang kerap tidur dan makan bersama itu menohok dari belakang. Sampah plastik yang sudah saya bayar kembali diambil. Modal saya pun habis,” kenangnya.

Kegagalan itu diakui John sebagai pengalaman paling berharga. Sebab, sejak kejadian itu, dia memutuskan untuk fokus menekuni bisnisnya. Aktivitas mengajar pun akhirnya dia lepaskan dan tempat usaha tersebut hanya ditinggalkan saat John kuliah.

John pun memantapkan diri menjadi pengusaha limbah plastik. Bisnis jual beli limbah plastiknya terus berkembang hingga bisa mempekerjakan tiga orang karyawan. Sadar usahanya terus berkembang pesat, setelah menyelesaikan kuliah John benar-benar tak ingin mencari pekerjaan sesuai ilmu yang dia peroleh di ITB.

Suami Ninik Maryani ini tetap berkeyakinan, usaha limbah plastik bisa mengantarkannya menjadi orang kaya. Selama ini John selalu berusaha menghasilkan produk yang berkualitas. Diawali dengan pemilahan, sampah plastik mengalami beberapa kali proses pembersihan untuk menghilangkan kotoran yang menempel.

Setelah itu, sampah plastik itu dipotong-potong kecil hingga akhirnya kembali dipisahkan berdasarkan titik lelehan melalui proses pemanasan. Ditanya nilai omzetnya kini, John tidak bersedia mengungkapkan. Begitu pula dengan total aset yang dia miliki. “Lumayan lah, yang pasti usaha ini hingga kini terus berkembang,” kata John singkat.

Kini, setelah lebih dari 20 tahun menjalankan usaha limbah plastik, John menyerahkan kepada orang-orang kepercayaannya untuk mengelola. John juga telah membuka cabang usaha biji plastik di Makassar, Medan, dan Banjarmasin.

Selain itu, dia juga mendirikan pabrik pengolahan biji plastik di kawasan Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. “Hasil produksi di beberapa daerah tersebut semua dikirim ke Bantar Gebang,” katanya.

Banyaknya cabang itu sampai membuat John tak tahu persis berapa jumlah seluruh karyawannya. Tidak ketinggalan, John melibatkan sang istri yang juga teman satu almamaternya ikut berperan dalam memajukan usaha limbah plastik.

Bahkan, sejak tiga tahun lalu Ninik mengelola sebuah koperasi mikro yang bisa memberikan pinjaman modal usaha bagi para pemulung dan warga biasa dengan bunga sangat rendah. Selain itu, John dan istrinya memberikan pelatihan kewirausahaan kepada pemulung dan warga sekitarnya. (agung bakti sarasa)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Usahanya Berawal dari Sebuah Kisah Asmara
Senin, 26 Juli 2010 - 14:19 wib
Foto: Rani Hardjanti/okezone

Kisah asmara berujung pada pernikahan dan berdirinya sebuah usaha. Itulah jalan yang dilalui Priscilla Herawati, pemilik usaha batik KRT Daud Wiryo Hadinagoro dan Ny Indo.

Masa pacaran bagi kebanyakan pasangan kekasih umumnya digunakan sebagai ajang mengenal lebih dekat satu dengan lainnya, untuk bersenang-senang, dan untuk hal-hal yang bersifat rekreatif lainnya.

Namun, Priscilla Herawati memiliki gaya pacaran tersendiri. Bersama pasangannya, Moses Adya Saputro, yang sekarang telah menjadi suaminya, Priscilla menjadikan masa pacaran justru sebagai sarana belajar berbisnis.

Waktu-waktu pacaran Priscilla dan Moses dihabiskan untuk mempelajari seluk-beluk dunia usaha. Seolah telah berjodoh, keduanya menjalaninya dengan penuh ketekunan dan saling menguatkan. Hingga pada 1998, Priscilla dan Moses mengawali bisnis batik.

Ketika mengawali bisnis ini, mereka mendapat pinjaman barang tanpa agunan dari seorang pengusaha batik Solo yang bangkrut senilai Rp30 juta. ”Kebetulan pengusaha itu teman calon mertua,” kenang Priscilla ketika ditemui belum lama ini.

Dari modal pinjaman barang tersebut, Priscilla dan Moses menjualnya secara door to door, dari orang ke orang,dari satu rumah ke rumah lainnya. ”Ya pokoknya yang penting dagangan terjual, kami bisa setor uang yang ngasih pinjaman barang,” tutur Priscilla.

Tak terlalu lama, usaha Priscilla dan Moses berkembang. Di tahun yang sama, pasangan yang mengaku berkenalan pada sebuah kegiatan peribadatan di gereja ini telah mampu memasarkan produknya di sebuah hotel di Yogyakarta.

Pada 2000, mereka juga telah mampu memproduksi kain batik sendiri tanpa harus mengambil barang dari orang lain. Priscilla mengatakan, mereka juga telah mampu merekrut karyawan meski baru satu orang.

Selang setahun setelah memproduksi kain batik sendiri, pasangan kekasih ini akhirnya memutuskan menikah pada 2001. Pada 2002, anak pertama mereka bernama Michelle Nadya Saputra lahir.

Kehadiran buah hati turut mengangkat perkembangan usaha mereka. Perkembangan usaha batik yang dikelola Priscilla dan Moses dengan mengambil brand KRT Daud Wiryo Hadinagoro untuk produk premium dan Ny Indo untuk produk reguler makin moncer ketika mereka berkenalan dengan Mandiri Business Banking.

Priscilla yang mengaku awalnya antiperbankan mengatakan, bantuan modal usaha yang dikucurkan Mandiri Business Banking terbukti ampuh mendongkrak usahanya. Melalui modal usaha tersebut, mereka mengembangkan usahanya dari skala kecil menuju skala industri.

Mandiri Business Banking, tutur perempuan yang kini tengah mengandung anak keduanya tersebut, membuat usahanya semakin dinamis. Melalui kucuran dana dari Mandiri Business Banking, usahanya yang berawal dari bisnis kecil kini bertambah besar dengan jumlah karyawan mencapai 250 orang.

Priscilla mengaku,selama menjadi nasabah Mandiri Business Banking, dia terkesan dengan sikap yang ditunjukkan manajemen. Menurutnya, pihak manajemen Mandiri Business Banking bersikap ramah, kekeluargaan, dan mau langsung turun melihat usaha yang dijalankannya.

Dengan Mandiri Business Banking, Priscilla juga mengaku bisa mengembangkan pelayanan dan pengembangan produk premium untuk pelanggan pejabat, pengusaha, ekspatriat, dan tokoh-tokoh nasional lain serta memenuhi kebutuhan ready to wear untuk kalangan umum.

”Saya sih merasa terbantu dengan adanya bantuan modal dari Mandiri Business Banking,” terang Priscilla. Satu hal yang membuat produk batik KRT Daud Wiryo Hadinagoro dan Ny Indo yang memiliki show room di Hyatt Regency, Yogyakarta dan Belezza Shopping Arcade G-53-55, Arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan ini berbeda terletak pada kualitas produk yang ditawarkan.

Menggunakan bahan tenun sutera yang dikerjakan oleh tangantangan terampil perajin Yogyakarta dan Solo, istilahnya dikenal sebagai seni tenun sutera tangan, kualitas produk batik yang ditawarkan memang begitu eksklusif.

Cita rasa seni yang tinggi juga tecermin dari perpaduan warna, minimal menggunakan delapan warna, serta desain produk yang dikerjakan setelah lebih dulu melalui serangkaian riset.

”Untuk pengembangan produk, kami memang senantiasa melakukan riset terlebih dahulu,” tutur Priscilla. Lantaran mengunggulkan kualitas, eksklusivitas, dan cita rasa seni yang tinggi, kapasitas produksi usaha Priscilla pun tak banyak.

Tiap minggu paling banyak mereka mampu memproduksi 15-an sarimbit dengan satu sarimbit terdiri atas tiga pieces bahan berupa kain sarung, selendang, dan bahan kemeja. Harga jualnya berkisar antara Rp2,5 juta-27,5 juta untuk produk premium dan Rp500 ribu-Rp15 juta untuk produk reguler.

Perempuan yang memegang prinsip bersyukur, kerja keras, pantang mengeluh,dan selalu rendah hati dalam menjalankan roda bisnisnya ini mengaku masih memiliki obsesi lain meski kini usahanya yang dirintis dari nol bisa dikatakan tengah merasakan manisnya madu keberhasilan. Ke depan dia ingin memiliki semacam museum batik tersendiri.

Apalagi batik kini menjadi salah satu warisan leluhur budaya bangsa yang telah diakui UNESCO. ”Saya bersama suami berangan-angan bisa mengembangkan bisnis secara idealis dengan pembuatan museum atau koleksi sekaligus batik untuk skala komersial,” tutur Priscilla yang mengaku memiliki koleksi satu kain batik yang dikerjakan selama lebih dari setahun dengan kombinasi 40-an warna. (sugeng wahyudi)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Modal Autodidak, Omzetnya Capai Hingga Rp4 Juta
Minggu, 25 Juli 2010 - 12:25 wib
foto: Ade/okezone.com

Keberanian memulai usaha dengan modal autodidak, ternyata tidak menghalangi Sahid s Collection Creative Manufacture of Homeware, untuk berkembang dan maju. Bahkan, usaha kerajinan itu, bisa menghasilkan omzet Rp3 juta–Rp4 juta per hari.

Tidak semua orang berani memutuskan menggeluti usaha tanpa memiliki keahlian atau keterampilan di bidang bisnis yang digeluti. Banyak alasan masuk akal untuk itu, misalnya takut dengan risiko gagal yang lebih besar, hingga tidak memiliki keberanian untuk memulainya.

Namun, hal itu terbantahkan dengan keberanian menggeluti usaha kerajinan fiber yang digeluti oleh keluarga Ali Munawar sebagai pemilik dari Sahid s Collection. Walaupun butuh perjuangan untuk memulainya, namun setelah berjalan beberapa tahun, Sahid s Collection berhasil menjadi pusat kerajinan tangan yang menyediakan aneka hiasan rumah terlengkap di Jakarta.

Berbagai jenis hiasan rumah dihasilkan di pusat produksi hiasan rumah tangga ini.Bahkan,untuk seluruh wilayah di Jakarta, Sahid s Collection kini menjadi pemasok (supplier) satu-satunya aneka produk kerajinan yang terbuat dari bahan fiber.

Kisah sukses Sahid s Collection ternyata diawali oleh seorang lakilaki paruh baya bernama Ali Munawar. Bersama adik laki-lakinya bernama Sahid Masrun, berdua mereka memulai usaha aneka kerajinan fiber.

Walaupun tidak memiliki keahlian sama sekali dalam membuat kerajinan berbahan fiber tersebut, tapi usaha itu berhasil dirintis dengan perlahan namun pasti.

Ide awal memulai bisnis kerajinan fiber,ditekuni oleh dua bersaudara ini, setelah mereka menyaksikan pada 1995 dengan banyaknya produk kerajinan fiber berbentuk aneka buah-buahan, seperti apel, anggur, pisang, dan semangka yang diimpor dari China.

Hiasan berbentuk buah-buahan itu ternyata sangat digemari di Indonesia dan banyak ditemukan di rumah tangga Indonesia. Hiasan berbentuk buah-buahan, pada saat itu, banyak menjadi pajangan di meja makan bahkan ruang tamu. Peluang itu terbuka, ketika dua saudara ini memutuskan untuk memulai usaha pada tahun tersebut.

Diawali dengan membeli kerajinan fiber dengan bentuk aneka buah sebagai contoh, hingga akhirnya kakak beradik ini memutuskan untuk membuat sendiri dan menambah jumlah buah-buahan yang ada dan melengkapinya dengan buah-buahan lain khas Indonesia.

“Kami akhirnya memutuskan untuk membuat sendiri kerajinan fiber itu. Awalnya dengan memperbanyak jenis buah-buahan,” kata pemilik Sahid s Collection Ali Munawar.
Sebelum memutuskan untuk memproduksi sendiri aneka kerajinan fiber, Ali memutuskan untuk mempelajari bagaimana proses membuat kerajinan itu dengan cara autodidak dan sekali-kali melihat proses pembuatan di sentra industri kerajinan fiber.

Setelah ahli, barulah mereka memutuskan untuk membuat sendiri. “Tahun-tahun begitu, kerajinan fiber khususnya yang menggambarkan aneka buah-buahan sangat laris di pasar,” katanya.

Walaupun saat itu, sedang booming kerajinan fiber buahbuahan, namun Ali mengaku tidak mudah baginya untuk memasarkan kerajinan yang telah dihasilkannya. Bahkan karena sulitnya menemukan pasar yang terbuka, Ali memulai memasarkan produknya dengan menjualnya ke sesama penjual kerajinan fiber.

“Awalnya sulit, karena kita sama sekali tidak punya keahlian untuk bisnis kerajinan fiber, apalagi pemasaran,” tandas pria yang memiliki tempat industri kerajinan fiber di Jalan Inerbang, Jakarta Timur tersebut.

Lama kelamaan, kata Ali, produksi kerajinan fiber yang dihasilkan di Sahid s Collection mulai dikenal masyarakat. Bahkan lebih diminati khususnya di areal Jakarta karena kerajinan fiber aneka buah yang mereka hasilkan jauh lebih lengkap dibandingkan produk kerajinan yang sama dari China.

“Kita menjadi semakin laris karena koleksi buah-buahan kita sangat lengkap. Kalau produk China hanya ada apel, anggur saja, kita lengkap, semua jenis buah ada,” katanya.

Berbeda dengan produk impor dari China, di Sahid s Collection kata Ali, buah-buahan khas Indonesia, seperti jagung, pisang, alpukat, wortel bahkan pare dijadikan aneka kerajinan fiber.

“Itu salah satu bentuk inovasi yang kita lakukan, hingga sekarang kita menjadi satu-satunya supplier kerajinan fiber terbesar di Jakarta,” katanya.

Setelah 15 tahun berdiri, Sahid s Collection kini sudah sangat dikenal sebagai pusat kerajinan fiber. Produk kerajinan yang dibuat oleh Sahid s Collection bahkan menjadi kerajinan yang pemasarannya sudah melingkupi seluruh Indonesia. Walaupun sekarang Sahid s Collection tidak memasarkan produk kerajinannya di toko-toko atau gerai kerajinan sendiri.

“Pembeli kita adalah toko-toko souvenir atau toko kerajinan, kita sekarang menjadi pemasok,umumnya mereka datang membeli langsung ke tempat produksi,” papar Ali.
Usaha kerajinan fiber yang digeluti dua bersaudara ini, ternyata akhirnya bisa memberikan kehidupan dan penghasilan yang layak bagi keluarga mereka.

Bahkan dari awalnya, tanpa dibantu karyawan, dengan kemajuan usaha yang dimilikinya, kini Sahid s Collection telah memiliki 24 orang karyawan tetap dan belum terhitung karyawan kontrak. “Selama inovasi dilakukan pasar akan bisa dikuasai,” tandas Ali. (bernadette lilia nova)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Si Workaholic yang Jadikan Karyawan Aset Perusahaan
Jum'at, 23 Juli 2010 - 11:21 wib
Foto: Heru Haryono/okezone.com

Bagi Ali Utomo, Presiden Direktur (Presdir) PT Arezda Purnama Loka, kemampuan perusahaan untuk maju dan berkembang tak bisa dilepaskan dari peran karyawan dan masyarakat di sekelilingnya.

Mengingat kontribusi besar karyawan dan masyarakat itulah, sebagai balasannya Ali Utomo berusaha memberikan apresiasi sepadan kepada mereka.

Beragam program untuk karyawan dan bantuan sosial kepada masyarakat melalui corporate social responsibility (CSR) dirancang PT Arezda Purnama Loka. Kepada para karyawan yang senantiasa menjadi tulang punggung produksi perusahaannya, Ali beberapa kali menggelar program-program untuk membantu perekonomian mereka.

Di antaranya kredit lunak kepemilikan sepeda motor, bazar murah untuk keluarga karyawan dan memberangkatkan haji setiap tahun bagi karyawan berprestasi.

“Karyawan kami berjumlah 300 orang, dari engineer sampai tukang kebun. Bagi kami mereka adalah aset paling berharga. Jadi, sudah sepantasnya bagi kami memberikan yang terbaik kepada mereka,” terang Ali Utomo yang ditemui belum lama ini.

Selain kepada karyawan, PT Arezda Purnama Loka juga memberikan bantuan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik melalui program CSR.

Warga yang tinggal di sekitar pabrik di Citeureup, Bogor, Jawa Barat mendapatkan bantuan pendidikan, pembagian sembako, pembangunan jalan dan tempat ibadah,serta pembagian susu bagi balita.

“Kami membangun sekolah, musala, jalan, dan memberikan bantuan makanan bagi warga sekitar pabrik. Semua itu kami lakukan karena mereka adalah bagian tak terpisahkan dari maju mundurnya perusahaan,” tutur Ali.

Untuk semua program sosial bagi karyawan dan warga sekitarnya, Ali mengambil 30 persen dari omzet perusahaan yang bernilai Rp50 miliar-Rp60 miliar per tahun. Pria kelahiran Medan, 2 Desember 1949 ini menceritakan, kemajuan yang ditorehkan perusahaannya juga tak lepas dari peran Mandiri Business Banking.

Pada 1974, Ali menjadi nasabah Bank Bumi Daya, bank yang selanjutnya dimerger menjadi Bank Mandiri. “Saya mungkin salah satu nasabah terlama Mandiri Business Banking. Sejak saya pulang ke Indonesia sekira 1974, saya tidak pernah pindah-pindah bank sampai sekarang,” ujar lulusan metalurgi dari salah satu universitas di Taiwan tersebut.

Ali mengaku tak berpindah ke bank lain karena sudah merasa cocok dengan pelayanan, kontribusi, dan kerja sama yang selama ini terbangun dengan Mandiri Business Banking. Selama puluhan tahun bermitra, Ali menangkap ada perubahan besar pada tubuh bank ini.

Sekarang, kata dia, pimpinan Bank Mandiri tak lagi kaku, mau turun ke lapangan menjemput bola menemui nasabahnya. “Saya pikir ini adalah perkembangan positif dari sebuah bank pelat merah di mana pimpinannya tak lagi seperti birokrat, tapi mau membuka wawasannya terhadap kami para pemain di sektor swasta,” terangnya.

PT Arezda Purnama Loka yang memproduksi di antaranya sealing products, finned tubes, pressure vessels, jointing sheets dan rubber untuk perusahaan-perusahaan perminyakan, kimia energi, dan lainnya, berdiri pada 1982.

Ali Utomo mendirikan perusahaan tersebut setelah sejak 1974 menjadi agen produk sejenis di dalam negeri. Pria yang mengaku gila kerja itu menceritakan, sebelum menjadi agen produk sejenis di dalam negeri.

Selepas menyelesaikan pendidikannya di Taiwan, dia juga sempat bekerja paruh waktu di perusahaan serupa di Amerika Serikat. Dari sanalah, Ali menemukan ide mendirikan pabrik untuk produk serupa di Indonesia.

“Kalau soal penemuan ide dan teknologi orang asing memang jagonya. Tapi untuk penguasaan teknologi, saya pikir bangsa ini mampu melakukannya,” kata Ali mengungkapkan motivasinya ketika mendirikan perusahaan.

Kata-kata Ali bahwa bangsa ini mampu dalam hal penguasaan teknologi terbukti benar. Selang 28 tahun setelah PT Arezda Purnama Loka berdiri, perusahaannya menjadi salah satu yang terbesar di sektor tersebut. Yang lebih membanggakan lagi adalah 70 persen bahan-bahannya telah menggunakan muatan lokal.

PT Arezda Purnama Loka pun mampu meyakinkan dan menggandeng perusahaan-perusahaan besar seperti Pertamina, Pupuk Kujang, Petrokimia, Chevron hingga Conoco untuk menggunakan produk-produknya.

Perkembangan PT Arezda Purnama Loka pun bisa dilihat dari luas areal pabrik yang sekarang dimiliki. Kalau pada awal-awal pendirian hanya seluas 400 meter persegi sekarang telah menjadi enam hektare.

Ali mengakui, ke depan, tantangan yang dihadapi usahanya akan semakin berat. Baik berupa tantangan internal antara lain kebijakan-kebijakan pemerintah yang kontraproduktif seperti perizinan, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan lainnya maupun tantangan eksternal dengan munculnya kompetitor baru.

Menyikapi hal tersebut, pengagum berat almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut mengaku siap menghadapinya. Bahkan dia tak takut apabila ada karyawannya yang menjadi kompetitor.

“Dulu sebagai seorang engineer saya memang egois. Sulit berbagi ilmu. Tapi, sekarang saya terbuka. Justru kalau ada kompetitor saya semakin tergugah lagi untuk lebih maju,” ujarnya.

Pria yang juga amat terkesan dengan ungkapan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif (yang dalam satu kesempatan pernah mengatakan bahwa manusia juga harus belajar mencintai apa yang tak dicintainya) tersebut juga memiliki obsesi besar dalam kariernya.

Dia ingin mendirikan pabrik pipa tanpa las sebagai yang pertama dan satu-satunya yang pernah ada di Indonesia. (sugeng wahyudi)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Diawali Jualan Ikan Asin Menuju Tanah Suci
Kamis, 22 Juli 2010 - 10:35 wib
Pengusaha Ulat Hong Kong, Hadi Rumpoko. Foto: Koran SI

Berikhtiar selama bertahun-tahun merawat dan menjual ulat Hong Kong, Hadi Rumpoko, 54, warga Kelurahan Satriyan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, kini menjadi pengusaha yang berhasil.

Namun suami Hj Nurul Hayati, 49, ini tidak akan pernah lupa, kesuksesan yang diraihnya merupakan buah dari kerja keras. Sebelum menyandang status haji serta memiliki aset bernilai ratusan juta rupiah, Rumpoko hanyalah pedagang kecil yang menjual dagangannya secara obrok (keliling).

Rumpoko mengungkapkan, kesuksesan yang dia raih juga tak lepas dari bantuan Mandiri Business Banking yang selama ini memberi dukungan modal bagi usahanya.

Apalagi sebagai nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR), dia selalu mendapat sokongan pinjaman modal dari Mandiri Business Banking. Diakui Rumpoko, berkat bantuan modal tersebut, usaha peternakan ulat Hong Kong yang dia geluti maju pesat.

Usaha ini mampu mendatangkan rezeki ratusan juta rupiah setiap bulannya. ”Mandiri Business Banking sangat membantu usaha saya,” terang Rumpoko tanpa mau menyebut omzetnya secara terperinci.

Mengilas balik perjuangannya, terbayang jelas di mata Rumpoko,setiap pagi dia dan sang istri harus membungkusi ikan asin, terasi, garam, dan gula. Selanjutnya, semua bahan untuk memasak itu ditempatkan di dua keranjang bambu yang sebelumnya sudah terpasang di sepeda onthel miliknya.

Mata pencaharian itu dia tekuni selama dua sampai tiga tahun pada 1980-an. Itu setelah usaha perkebunan tebu yang dia geluti bangkrut. Bagi ayah Nur Isna Kusumastuti,21,dan Nurega, 13, ini, hidup tidak boleh menyerah dengan keadaan sesulit apa pun.

Dia bahkan sempat menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Namun dia memilih kembali ke Blitar karena tidak bisa berpisah lama dengan keluarga.

Dia lalu memulai menjadi pedagang obrok. Keuletan serta semangat disiplin tinggi membuat usahanya berkembang. Rumpoko bisa membeli sepeda motor dan dia gunakan untuk berjualan menggantikan sepedanya.

Semangat pantang menyerah dan berani mencoba mendorong Rumpoko melirik usaha lain dengan harapan bisa meraih keuntungan yang lebih besar. Masih bekerja sebagai pedagang obrok, Rumpoko mengalihkan sebagian modalnya untuk memproduksi minuman limun.

Dia lalu membeli satu mobil pick up untuk angkutan distribusi produk limunnya. ”Ini berlangsung pada 1984-1986,” terang Rumpoko. Distribusi limun itu menjangkau sebagian daerah Kabupaten Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Blitar, dan Kediri.

Rumpoko pun beralih usaha dari pedagang obrok menjadi penjual limun. Dari rutinitasnya mengantarkan sendiri limun ke sejumlah konsumen, Rumpoko mengenal ulat Hong Kong dari salah seorang warga di Kabupaten Malang.

Rumpoko tertarik dengan usaha yang menurut penglihatannya sederhana sekaligus menjanjikan keuntungan lebih dibandingkan menjual limun. Tahun 1987, bersama sang kakak bernama Puji Purwanto, Rumpoko mencoba membeli bibit ulat di Pasuruan.Kurangnya modal membuat Rumpoko terpaksa menjual perhiasan emas milik istrinya.

”Saat itu saya beli 70 kg bibit ulat dengan harga Rp40.000/kg. Saya jual kalung istri saya dengan harga Rp700.000,” terangnya.

Minim kemampuan dan lemah dalam pengelolalan, ditambah harga bibit ulat hong kong sedang merosot, membuat usaha yang baru dirintis selama enam bulan itu berantakan.

Selain harga bibit jatuh menjadi Rp1.500/kg, banyak bibit yang mati saat proses pemeliharaan. Sebab semuanya dikerjakan oleh Rumpoko secara autodidak. Kegagalan tak membuat Rumpoko patah arang. Setelah sempat terhenti, dia kembali mencoba usaha peternakan ulat Hong Kong.

Sebanyak 20 kg bibit dia beli senilai Rp800.000. Sedikit demi sedikit keuntungan berhasil diraih Rumpoko. Keuntungan yang diperoleh hampir seluruhnya digunakan untuk mengembangkan ulat.

Dengan optimistis dia menggeser produksi limun hanya sebagai pekerjaan sampingan. Setiap bulan Rumpoko secara rutin melayani pesanan ulat Hong Kong sebanyak 11 ton. Permintaan datang dari Jawa Barat, Kudus (Jateng), Pasuruan (Jatim), Surabaya, dan Jakarta.

”Informasinya ulat ini diekspor ke Amerika dan Jepang untuk makanan ular dan kura-kura. Kalau di sini biasanya untuk makan burung ocehan,” jelasnya.

Dia membeli ulat dari petani seharga Rp28.000/kg dan dijual Rp30.000/kg. Rata-rata transaksi yang dia lakukan setiap minggu berkisar Rp25 juta-Rp30 juta. Untuk biaya perawatan sekaligus pakan ulat Hong Kong sebelum dikirim ke penjual, Rumpoko menghabiskan biaya Rp5 juta per minggu.

Dari hasil usaha yang terus berkembang, Rumpoko bersama istrinya, Nurul Hayati, bertolak ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji pada 2007. Dia juga membeli tanah yang di atasnya kini dibangun tempat tinggalnya. ”Saya juga membeli mobil dan mampu menyekolahkan anak sampai universitas di Surabaya,” ungkapnya.

Seiring meningkatnya usaha, musibah datang menghampiri. Hubungan arus pendek listrik di tempat pemeliharaan ulat menghanguskan hampir seluruh bangunan.

Untung, api berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke rumah induk yang berjarak hanya beberapa meter. ”Itu terjadi tahun 2009,” katanya.

Meski cukup membuat shock, musibah itu tidak sampai mengganggu kelancaran usahanya. Apalagi setelah kembali mendapat pinjaman dana dari Mandiri Business Banking, Rumpoko makin optimistis bisa mengembangkan usahanya lebih besar. Jumlah karyawan yang sebelumnya hanya lima orang kini menjadi 10 orang.

Untuk menjaga hubungan sosial di lingkungan terdekatnya, Rumpoko juga menggunakan modal pinjaman dari Mandiri Business Banking untuk menolong warga miskin dengan cara memberi pinjaman dengan bunga lunak.

Sebab, tidak semua warga mengetahui cara-cara meminjam uang di bank. Rumpoko mengatakan, ada sejumlah kepala keluarga yang sebelumnya menganggur kini menekuni pekerjaan setelah memperoleh manfaat dari separuh pinjaman modal dari Mandiri Business Banking.

Bagi Rumpoko, kucuran modal dari Mandiri Business Banking sangat membantu usaha mikro kecil menengah di lingkungan terdekatnya.” Rata-rata untuk usaha ternak kambing. Nominalnya bervariasi, ada yang Rp5 juta hingga Rp10 juta,” ujarnya. Saat ini dia hanya mengawasi kinerja anak buah selain menjaga hubungan baik dengan mitra kerja.

Kendati demikian, tebersit di pikirannya untuk membuka usaha lain yang bisa menghasilkan keuntungan lebih besar. ”Kalau ditanya cita-cita, saat ini saya ingin membuka usaha dealer motor. Kalau memang ada cukup dana, termasuk pinjaman dari Mandiri Business Banking, saya akan mencobanya,” tandas Rumpoko. (solichan arif)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Anak Petani yang Sukses Bisnis Kopi Gayo
Rabu, 21 Juli 2010 - 10:50 wib
ilustrasi. foto: corbis

Sadarsah yang kini menjabat sebagai Direktur CV Arvis Sanada, sejak 2001, dengan tertatihtatih berupaya mengangkat derajat emas hitam (kopi) dari Gayo ini ke mata penikmat kopi dunia.

Dengan usaha dan semangat pantang menyerah, ayah dari dua orang putri ini akhirnya bisa meraih kesuksesan. Kini dia telah mampu menjual kopi gayo ke luar negeri sebanyak 12 kontainer per bulan.

Sadarsah mengungkapkan, usahanya menekuni bisnis kopi ini tak bisa dilepaskan dari dukungan Mandiri Business Banking yang telah memberikan modal.

Kredit dari Mandiri Business Banking diperolehnya mulai tahun 2003 melalui program Pembiayaan Unit Kredit Kecil (PUKK). Lalu pada 2009 lalu, dia kembali mendapatkan tambahan modal melalui program Kredit Modal Kerja dan tahun ini dia kembali mengajukan tambahan modal ke Mandiri Business Banking.

“Usaha emas hitam ini saya geluti berangkat dari keinginan saya sebagai anak seorang petani untuk mengangkat derajat kopi gayo ke mata dunia internasional,” ujar Sadarsah saat ditemui di kantornya, CV Arvis Sanada, Jalan Selamat No 38 A, Lintasan Medan Binjai Kompos KM 12, belum lama ini.

Bisnis ekspor biji kopi ini digeluti alumnus Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) itu sejak 2001.

Di awal usahanya, Sadarsah menjadi tenaga pemasaran eksportir kopi dan belum memiliki perusahaan sendiri. “Saya hanya memasarkan kopi dari lima perusahaan kopi di Sumut. Saya bertindak sebagai marketing perusahaan tersebut ke luar negeri. Namun, usaha ini terus saya geluti dengan fokus hingga tahun 2006,” kata suami dari Nafsiah ini. Titik balik sukses bisnis yang digeluti Sadarsah dimulai pada 2006.

Di masa itu terjadi resesi kopi dunia. Hampir rata-rata perusahaan kopi kolaps karena panen hanya mampu menyuplai 50 persen kopi dunia.

Di masa inilah Sadarsah nekat mengambil inisiatif untuk mendirikan usaha sendiri yakni bisnis ekspor kopi ke luar negeri. “Ketika itu, Haji Abu Bakar memberikan modal kepada saya untuk dikelola. Dia juga yang menyiapkan gudang dan sebagainya,” ungkap lelaki kelahiran 19 November 1974 ini.

Lewat bantuan koleganya inilah usaha yang dirintis Sadarsah didirikan dengan sederhana. Awal usahanya dimulai dengan mengekspor satu kontainer kopi ke luar negeri.

“Di masa itu, langsung banyak permintaan kopi kepada kita.Rata-rata,penikmat kopi dari luar negeri menginginkan kopi organik,” kata anak dari pasangan Mude dan Ratih ini.

Dia pun berupaya memperoleh sertifikat kopi organik dari lembaga sertifikasi Control Union di Belanda. Syarat untuk memperoleh sertifikasi tersebut harus mendirikan koperasi yang bermanfaat untuk menaungi petani kopi. Sadarsah lalu mendirikan koperasi bernama KSU Arinagata.

Pada 2006,anggota KSU Arinagata sebanyak 335 orang dan saat ini mencapai 2.600 orang dengan total area penanaman kopi 2.700 hektare di Aceh Tenggara dan Bener Meriah (Takengon). Saat ini Sadarsah juga membina dua koperasi.

Yang pertama Koperasi Tunas Indah beranggotakan 3.958 orang beserta area 4.140 hektare penanaman kopi di Aceh Tenggara dan Bener Meriah. Selanjutnya, Koperasi Lintong dengan anggota asosiasi petani kopi lintong organik.

Koperasi ini memiliki anggota 120 orang dengan jumlah penanaman kopi di Lintong seluas 200 hektare. Untuk kopi gayo, CV Arvis Sanada mengusung merek Sumatera Arabica Gayo, untuk kopi lintong memakai merek Sumatera Arabica Lintong.

Adapun untuk kopi konvensional menggunakan merek Sumatera Arabica Mandailing. Namun pembeli dari luar negeri juga menginginkan lisensi keterurutan barang, manajemen koperasi, dan berdagang secara adil, yaitu lisensi Fair Tradedari Jerman.

“Perdagangan yang adil ini harus mengatur mata rantai yang tegas dan jelas dari anggota (petani kopi) ke koperasi, koperasi ke CV Arvis Sanada, dan dari CV Arvis Sanada ke pembeli di luar negeri,” sebutnya.

Dengan adanya lisensi itu,maka penikmat kopi dari luar negeri dapat mengetahui dari mana asal kopi yang diminumnya.

Sebaliknya, petani kopi binaan juga langsung mendapatkan pembagian keuntungan. Sebab, dari 1 kg kopi yang dinikmati peminum kopi di luar negeri, sebesar Rp1.800/kg dari harga kopi akan dikembalikan kepada petani kopi untuk kesejahteraan mereka.

Bahkan pada 2009–2010, dana yang dikembalikan penikmat kopi organik ini terkumpul Rp2 miliar. Dana inilah yang harus kembali diberikan kepada petani kopi dengan berbagai program yang telah dilakukan CV Arvis Sanada.
Antara lain pembagian sembako, pendirian tempat-tempat kursus, sarana air bersih,unit usaha seperti toserba yang kemudian hasilnya dibagikan kepada seluruh anggota koperasi. Dana pengembalian yang terkumpul dari penikmat kopi ini juga harus benar-benar disalurkan kepada petani yang tergabung dalam koperasi.

Saat ini CV Arvis Sanada mengekspor kopi ke Amerika Serikat,Eropa, dan Asia. Negara-negara yang jadi tujuan ekspornya antara lain Taiwan, Korea, Australia, Jepang, Laos.

Pertumbuhan bisnisnya begitu cepat. Pada 2006, omzetnya hanya mencapai Rp600 juta per bulan dengan mengekspor satu kontainer dan harga kopi Rp30.000/kg saat itu.

Tahun 2007, omzetnya mencapai Rp1,5 miliar per bulan dengan mengekspor 3 kontainer dengan harga kopi Rp30.000/kg. Pada 2008, omzetnya Rp3 miliar per bulan de-ngan mengekspor lima kontainer dan harga kopi Rp32.500/kg.

Tahun 2009, omzetnya sudah mencapai Rp5 miliar dengan mengekspor 8 kontainer per bulan dan harga kopi Rp35.000. Tahun 2010 ini,omzetnya telah mencapai Rp7,6 miliar per bulan dengan mengekspor 12 kontainer dan harga kopi Rp35.000/kg. Jika pada 2006 lalu Sudarsah hanya mampu mempekerjakan 15 orang karyawan, saat ini karyawan perusahaan eksportir biji kopi miliknya sudah mencapai 100 orang. Berbagai kesulitan dan kendala dalam membesarkan usaha pernah dialami lelaki yang awalnya tak pernah bercita-cita menjadi pengusaha ini.

“Pertama, kesulitan yang kita alami adalah modal. Saat ini kita belum mampu memenuhi permintaan pembeli luar negeri yang per bulan meminta 20 kontainer. Kita hanya mampu menyuplai 12 kontainer. Itu terjadi karena kita masih terbatas modal, apalagi sekarang kita membina tiga koperasi,”katanya. Tak hanya itu, ujarnya, bisnis kopi membutuhkan modal besar pada masa-masa panen raya yang hanya terjadi dua kali dalam setahun.

“Kalau kita memiliki modal yang besar,tentunya saatmasapanenbisa melakukan stok bahan mentah. Itu memerlukan modal besar.Apalagi dalam bisnis ini kontrak pembelian dilakukanselamasetahun,tentunya kita harus memiliki stok biji kopi selama satu tahun.Tambahan modal sangat diperlukan,”terangnya.

Sudarsah mengatakan, pilihan terhadapMandiriBusinessBanking dalam pengajuan modal karena selama ini prosesnya tidak rumit.Tak hanya itu,kata Sudarsah,prosesnya juga cepat. “Selain itu, dalam proses persetujuan pengajuan kredit, karyawan Mandiri Business Banking bekerja sangat profesional,” ujarnya mengapresiasi. (lia anggia nst)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Berawal Keisengan, Kini Bisnis Jilbabnya Beromzet Puluhan Juta
Minggu, 18 Juli 2010 - 10:43 wib
salah satu model kerudung Rizhani Foto: www.kerudungrizhani.com

MEMULAI sebuah usaha tak harus menunggu tua atau sudah tidak lagi berjaya di dunia kerja. Sukses menjadi seorang pengusaha juga tak harus menunggu usia senja, masih muda pun bisa.

Kutipan tersebut melekat erat pada sosok Rizki Rahmadianti. Bagaimana tidak? Di usianya yang baru 33 tahun, dia dengan leluasa menapaki serta memantapkan diri pada dunia bisnis kerudung atau jilbab. Kini, usaha yang berawal dari coba-coba tersebut mendatangkan omzet puluhan juta rupiah setiap bulannya. Maklum, jilbab buatannya laris manis dipasarkan karena sedikitnya 30 agennya tersebar di tanah air yang dirangkul secara online.

Pasarnya tersebar hingga Bontang, Batang, Bekasi, Mataram, Papua, Magetan, Magelang, Kediri, Madiun, Malang, Jember, Mojokerto dan lainnya. Lantaran pangsa pasar yang sudah mapan berikut upaya penambahan jumlah agen baru, bisnis jilbab Rizki berlabel Rizhani ini sama sekali tak terusik semakin menjamurnya usaha serupa. Sebaliknya, usahanya menggurita di mana-mana.

”Semua ini bermula dari iseng-iseng disela kesibukan saya sebagai teknisi di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Sebelum tahun 2003, saya coba-coba membuat sesuatu yang unik, dan kebetulan saya suka menyulam, akhirnya saya coba menyulam jilbab saya,” kata Rizki saat ditemui di workshop-nya di kawasan Perumahan Rungkut Barata, Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Awalnya,jilbab yang dibeli dari Royal Plaza, Surabaya, dibongkarnya untuk dipelajari. Baik desain aplikasi pita dan benang sulamnya.

Lantas dia berupaya memasukan unsur kreasinya dalam modifikasi tersebut, dan tetap mengedepankan estetika. Dari upaya ini, Rizki yang semula hanya bisa menjahit lurus, kini semakin lihai. Beberapa kerudung modifikasi karya sendiri kerap dipakai bepergian, baik di sekitaran Perumahan Rungkut Barata VI Surabaya, dalam maupun luar kota.Tak jarang banyak orang yang menanyakan tempat pembelian jilbab, tak lama setelah melihat jilbab yang dikenakan si empunya.

Kontan saja dengan bangga Rizki bertutur, jika jilbab tersebut adalah hasil buah tangannya, termasuk kreasi serta modifikasinya. Menangkap adanya peluang bisnis, Rizki langsung saja menyanggupi pesanan perdana dari seorang kenalannya. Kala itu dia tak sebatas melayani satu pesanan saja. Berbekal modal awal Rp300 ribu, alumni Fakultas Teknik Elektro Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang ini sengaja membuat aneka jilbab dengan beragam model.

Buah tangan nonpesanan lantas ditawarkan kepada ibu-ibu pengajian di kampungnya. ”Respons ibu-ibu kelompok pengajian di kampung saya begitu menggembirakan,” ungkap sulung tiga bersaudara ini. Dan sejak tahun 2003, perempuan yang pernah mengenyam pendidikan mode di sekolah mode Suzan Budiharjo ini resmi melayani pesanan aneka kreasi jilbab.

Macam-macam sampel untuk meyakinkan mereka yang berkerudung dibuat. Hal ini dilakukan untuk menyasar semua segmen, mulai anak-anak, belia atau remaja, dewasa hingga kalangan orang tua. Rizki yang pernah tahu banyak tentang media dan menguasai penggunaan perangkat teknologi informasi, tak sebatas menerapkan promosi pemasaran secara tradisional, dari mulut ke mulut atau sebatas antar relasi.

Sebaliknya, sarana internet dimanfaatkan dengan bukti dibuatnya website www.rumahjilbabananda. com dan www. kerudungrizhani.com. Semua contoh jilbab hasil kreasinya pun di-upload. Hasilnya, luar biasa. Di awal pemanfaatan website, pesanan 200 jilbab dari seseorang di Jakarta sudah di depan mata, bahkan langsung dibayar di muka. ”Ini betul-betul kejutan bagi saya. Promosi lewat online kalau display-nya bagus memang manjur. Saya menjadikan keponakan dan saudara sebagai model. Editing photoshop-nya saya maksimalkan,” kata ibu dua anak ini.

Pesanan Naik Dua Kali Lipat saat Masuki Lebaran

Pucuk dicinta ulam tiba. Bisa jadi pepatah tersebut yang kini dirasakan Rizki Rahmadianti. Meski saat pertama kali pembuatan kerudungnya tidak memiliki tenaga kerja, tapi dia tetap berani menggarapnya.

Perlahan tapi pasti usahanya pun kini semakin tumbuh hingga akhirnya bisa mempekerjakan sekitar 80 karyawan baik tetangga, teman dan kenalan lainnya. Dari jumlah tenaga kerja itu, 30 orang di antaranya sebagai karyawan tetap, dan 50 lainnya karyawan lepas.
Bahkan, menjelang Lebaran seperti sekarang, Rizki mau tidak mau harus menambah stok bahan baku dan tenaga kerja lepasnya karena pesanan kerudungnya meningkat 100 persen bahkan hingga 200 persen.

Pada hari biasa yang jauh dari momen puasa dan Lebaran, Rizki bisa memproduksi jilbab rata-rata 3.000 potong per bulan. Seperti usaha-usaha lainnya, pada mulanya Rizki sempat kesulitan memasarkan produk karena harus memasarkan ke toko-toko dan bersaing dengan produk lain. Harga yang dipatok Rp20 ribu per potong dianggap mahal. Namun, setelah membuka keagenan dengan sistem online, kini upaya memasarkan produk bukan lagi hal yang sulit.

Dia memanfaatkan agen serta jaringan distribusi lainnya diyakini lebih menguntungkan. Meski demikian, Rizki tidak mematok harga penjualan semurah mungkin untuk setiap potong jilbabnya. Namun, dia bisa memberikan diskon jika agen atau distributor membeli produknya dengan nilai minimal Rp6 juta.”Diskonnya tidak per potong, tapi per jumlah pembelian. Misalnya kalau pembelian minimal Rp6 juta akan diberi diskon sampai 40 persen, kalau pembelian Rp200 ribu, diskonnya cuma 5 persen,” katanya.

Memanfaatkan sistem pemasaran online membuat bisnis tersebut tanpa batas. Pasar jilbab yang mampu ditembus Rizki tak sebatas pasar domestik. Dia juga pernah mengecap manisnya ekspor produk buatannya, ke Hong Kong dan Malaysia.“Permintaan ke Hong Kong sudah ada. Mungkin nanti saya akan jajaki ke Malaysia dan kantong-kantong TKI (Tenaga Kerja Indonesia) lainnya.

Untuk mengembangkan pasar ekspor, saya minta difasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim melalui P3ED (Pusat Pelatihan dan Promosi Ekspor Daerah),” ujarnya. Kendati demikian, pasang surut usaha tak jarang dirasakannya. Terlebih lagi di akhir 2009 ketika semakin banyak pemain di bidang yang sama.

“Permintaannya mulai stag di 2009, bahkan awal 2010 pesanan menurun.Tapi terus saya siasati dengan membuat desain yang inovatif,” katanya. Hasilnya, kini omzet Rp60–70 juta per bulan mampu diperolehnya. Dari jumlah tersebut, 20 persen di antaranya merupakan keuntungan bersih.

Diversifikasi Usaha

Pada awal usahanya, Rizki memilih nama Ananda sebagai merek buat produk buatannya. Namun,ketika berupaya mematenkan merek tersebut, ternyata ada warga Bekasi, Jawa Barat, yang lebih dulu menggunakan dan mematenkan merek Ananda.

Karena ingin jilbab kreasinya mendapat hak paten, Rizki lalu menggunakan nama Rizhani sebagai brandbaru.

Akibatnya penjualannya sempat drop karena ganti nama. Beruntung kini omzet kerudung merek Rizhani yang sudah dipatenkan kembali meningkat. Kini Rizki juga tak sebatas membuat aneka kerudung saja.Seiring bergulirnya waktu dia juga membuat busana muslim, berupa kaos lengan panjang. Dalam sehari dia bisa memproduksi 200 kaos kreasinya. ”Obsesi saya ke depan ingin membuat seluruh busana, mulai kaki sampai kepala,” tandasnya. (adn)
(Soeprayitno/Koran SI/rhs)

--

Dalam beberapa tahun ke depan, arus dana asing yang masuk ke Asia (capital inflow) akan semakin kuat. Hal itu disebabkan oleh kebijakan capital easing 2 The Fed dan menjadi daya tarik Asia yang menjadi poros ekonomi baru dalam tahun mendatang.

DBS Chief Economist David Carbon menilai, arus dana masuk ini akan berdampak positif pada apresiasi nilai tukar rupiah. "Dengan arus dana asing yang terus mengalir, nilai tukar rupiah bisa terapresiasi terus ke Rp 8.700 atau lebih," ungkap David, Selasa (25/1/2011).

Namun dengan capital inflow tersebut, David menilai, dalam jangka pendek akan mengakibatkan tekanan pada tingkat suku bunga. Kondisi tersebut akan menjadi tantangan untuk bank sentral di Asia dalam meningkatkan suku bunga untuk menekan inflasi.

Oleh karena itu, David menyarankan agar bank sentral dalam mengelola arus dana masuk akan menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan inflasi dan tingkat suku bunga.

Di tahun ini, DBS memprediksi akan ada kenaikan suku bunga di Asia termasuk Indonesia. "Prediksinya akan naik 150 bps menjadi 8 persen sampai akhir nanti," tambahnya.

Selain itu, dengan permintaan minyak mentah yang tinggi dari Asia akan mendorong kenaikan harga minyak sebesar 10 dollar AS/barrel/tahun dalam 5 tahun mendatang. "Nilai tukar mata uang di Asia juga bakal menguat 5 persen per tahun dalam 5 tahun mendatang," jelasnya.

--


Cara Asing Keruk Keuntungan di Indonesia


JAKARTA, KOMPAS.com - Investor asing yang menarik dananya dari bursa efek Indonesia atau BEI diperkirakan memang sengaja ingin menekan indeks harga saham gabungan atau (IHSG).

Dengan turunnya IHSG asing ingin mengirimkan sinyal ke otoritas moneter, yakni Bank Indonesia atau BI bahwa mereka terganggu dengan tren kenaikan laju inflasi di dalam negeri.

"Market membuat inflasi menjadi alasan, untuk menekan BI dan mendorong BI menaikkan BI Rate (suku bunga acuan BI). Kalau suku bunga naik, maka mereka (investor asing) akan mendapatkan keuntungan lebih besar lagi," ujar Ekonom Kepala Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Selasa (25/1/2011).

Atas dasar itu, Yudhi demikian Purbaya kerap dipanggil, menyarankan, BI jangan menaikkan BI rate sekarang. Sebab, pergerakan harga komoditas masih diselimuti tren musiman, dan belum menunjukkan tren jangka panjang.

"Kalau mau menaikkan (laju BI rate) jangan sekarang. Inflasi ini masih diselimuti musiman. Kalau jangka panjang naik, maka BI baru mengambil langkah. Sekarang masih terlalu dini. BI harus tegas. Mungkin sampai April 2011 tetap tahan saja. Kecuali kalau inflasi tinggi. Misalnya pembatasan di luar perkiraan, mungkin BI bisa menaikkan BI rate setelah itu," ujar Yudhi.

Seperti diketahui, BI tetap mempertahankan BI rate di level 6,5 persen sejak Agustus 2009, atau genap 17 bulan hingga saat ini. Belakangan, laju inflasi melonjak ke level tinggi yakni inflasi tahunan 2010 mencapai 6,96 persen.

Tingginya laju inflasi tersebut membuat sebagian kalangan mendesak BI melakukan tindakan moneter dengan menaikkan BI rate. Naiknya BI rate dipercaya akan menyedot likuiditas di pasar, sehingga meredam lonjakan inflasi.

--
Broker Asing Kembali Berburu Saham


JAKARTA, KOMPAS.com — Indeks Harga Saham Gabungan kembali ke jalur positif pagi ini dan kembali ke posisi 3.400. Hal itu tidak terlepas dari perburuan investor asing atas saham-saham lapis pertama.

Sebagai bukti, sejumlah broker asing tampak kembali menggenggam saham-saham unggulan di Bursa Efek Indonesia. IHSG sesi pertama pun ditutup menguat 54,40 poin atau 1,63 persen ke posisi 3.400,461.

Berikut daftar saham yang menjadi incaran asing:

- PT Astra International (ASII)

Pada pukul 11.00, saham ASII tercatat naik 3,42 persen menjadi Rp 48.400. Broker asing yang membeli saham produsen ini antara lain Credit Suisse Securities senilai Rp 29,24 miliar, JP Morgan Securities senilai Rp 24,29 miliar, dan Macquarie Capital senilai Rp 16,98 miliar.

- PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI)

Saham BBRI tercatat naik 2,05 persen menjadi Rp 4.975 pada pukul 11.02. Broker asing yang membeli saham ini di antaranya Credit Suisse Securities senilai Rp 41,47 miliar, Deutsche Securities senilai Rp 40,40 miliar, dan CLSA Indonesia senilai Rp 40,25 miliar.

- PT Perusahaan Gas Negara (PGAS)

Saham PGAS tercatat naik 3,21 persen menjadi Rp 4.025. Broker asing yang mengoleksi saham PGAS di antaranya Credit Suisse Securities senilai Rp 18,26 miliar, CLSA Indonesia senilai Rp 10,04 miliar, dan Kim Eng Securities senilai Rp 4,10 miliar.

- PT United Tractors (UNTR)

Saham UNTR melesat 5,69 persen menjadi Rp 21.350. Broker asing yang menghimpun saham UNTR antara lain UBS Securities senilai Rp 15,70 miliar, CIMB Securities senilai Rp 15,60 miliar, dan JP Morgan Securities senilai Rp 11,74 miliar. (Kontan/Barratut Taqiyyah)

--

Pasokan Pangan RI Mengkhawatirkan?


JAKARTA, KOMPAS.com — Kondisi krisis pangan di Indonesia tahun ini cukup mengkhawatirkan. Di tengah harga pangan dunia yang melonjak, ancaman terjadinya kekurangan pasokan pun kini menghantui Indonesia.

Pakar ekonomi pertanian dari Institut Pertanian Bogor, Rina Oktaviani, dikutip Radio Netherland, Selasa (25/1/2011), menyatakan bahwa kondisi di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Hal itu karena krisis pangan kali ini disebabkan oleh menurunnya pasokan pangan dunia.

Dia menyebutkan, sebagai dampak perubahan iklim, negara-negara pengekspor makanan pun mengurangi ekspor mereka untuk mengamankan pasokan pangan dalam negeri. "Akibatnya, harga pangan dunia naik. Indonesia masih mengimpor beberapa bahan makanan: beras, kedelai, dan gandum terutama. Jadi, memang situasi ini mengkhawatirkan," tutur Rina.

Sementara itu, sebelumnya diberitakan pemerintah mengambil kebijakan membebaskan bea masuk 59 komoditas pangan.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan langkah yang diambil pemerintah melakukan penghapusan bea masuk 59 bahan pangan sebagai antisipasi lonjakan harga pangan dunia yang mulai dirasakan di sejumlah belahan bumi.

”Kita sudah lihat apa yang harus kita lakukan, kita harus maksimal antisipasi lonjakan harga luar negeri terhadap harga dalam negeri, makanya kita ambil 59 itu berdasarkan apa yang kita ingin tak terjadi. Ada gandum, ada kedelai, bahan pakan ternak, dan bahan pupuk,” ungkap Mari.

Kalau melihat prediksi badan pangan dan pertanian dunia (FAO) untuk komoditas pangan sudah mengalami kenaikan selevel dengan yang terjadi 2008, kecuali beras. Dia melanjutkan penghapusan bea masuk komoditas pangan biasanya bertujuan untuk menjaga stok pangan cukup di dalam negeri (seperti yang dilakukan 2008), dan meningkatkan olahan. ”Jadi biasanya progresif, mentah lebih tinggi dari yang olahan, yang related dengan komoditas,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, FAO memperingatkan bahwa tahun 2011 ini akan terjadi krisis pangan dunia. Sejak Desember 2010, harga pangan dunia naik tajam, bahkan telah mencapai rekor tertinggi indeks harga pangan FAO. (Srihandriatmo Malau)

--

Beli Pesawat, AirAsia Akan "Go Public"

JAKARTA, KOMPAS.com - Para saham Indonesia AirAsia (IAA) terus melakukan pembahasan rencana go public-nya. Paling tidak anak usaha dari AirAsia Berhad asal Malaysia menargetkan dana segar untuk membeli dua hingga lima unit Airbus A320-200 dan dana operasional maskapai.

Dari initial public offering (IPO) ditargetkan digelar pada semester II 2011 "Dananya akan kami gunakan untuk biaya operasi dan membeli pesawat yang kami butuhkan. Rencana awal kami akan membeli dua unit Airbus A320, tetapi nanti bisa berubah lagi karena kebutuhan pesawat lima unit," kata Komisaris Utama IAA, Sendjaja Widjaja saat dihubungi di Jakarta, Minggu (23/1. 2011).

Dalam rilis berita Airbus yang diterima di Jakarta, pekan lalu, menyebutkan bahwa harga pesawat Airbus naik sebesar 4,4 persen. Untuk jenis Airbus A320-200, harganya naik dari 81,4 juta dollar AS menjadi 84,9 juta dollar AS.

Untuk membeli dua unit dibutuhkan dana sebesar 169,8 juta dollar AS. Sedangkan untuk membeli lima unit dibutuhkan dana sebesar 424,5 juta dollar AS.

Dijelaskan Sendjaja, saat ini sebenarnya IAA membutuhkan dana untuk membeli lima unit pesawat, hal ini untuk memenuhi persyaratan Undang-Undang No 1 tahun 2009 yang mensyaratkan maskapai harus memiliki minimal lima unit pesawat dan harus diterapkan mulai awal 2012.

Hingga saat ini IAA mengoperasikan 11 unit Airbus 320-200 dan empat unit Boeing 737-300,, namun status pesawat tersebut masih sewa sifatnya , karena itu IAA harus mengejar target kepemilikan pesawat , agar tidak melanggar peraturan yang ada.

Sendjaja menambahkan, pihaknya sedang memilih perusahaan penjamin emisi (underwriter) yang nantinya akan menilai berapa harga saham yang bisa ditawarkan ke publik. "Februari nanti sudah ada underwriter-nya, nanti akan ketahuan berapa dana yang bisa kita targetkan," jelasnya.

Manajemen akan memilih perusahaan asing yang besar dan berkomitmen sehingga penjualan saham bisa maksimal. Proses seleksi sudah dilakukan sejak Desember 2010, targetnya pada Februari sudah ketahuan siapa perusahaannya.

Nantinya, ungkap Sendjaja yang memegang 21 persen saham IAA tersebut, seluruh pemegang saham akan turut serta dalam penawaran saham. "Seluruh pemegang saham akan menjual sahamnya, tetapi berapa yang akan dilepas itu belum tahu. Tunggu underwriternya," tandas Sendjaja.

Selain Sendjaja, pemegang saham lokal IAA adalah keluarga Pin Harris sebanyak 20 persen, PT Fersindo Nusaperkasa 10 persen. Sedangkan 49 persen lainnya dipegang oleh AirAsia International Limited (AAIL), anak usaha dari AirAsia Berhad.

--

1 komentar: