Selasa, 25 Januari 2011

Ini Dia 10 Wanita Perkasa di Kancah Bisnis Dunia

Senin, 29 November 2010 - 16:15 wib
Chairman dan CEO PepsiCo Indra Nooyi

OKTOBER lalu sederet nama wanita berpenghasilan tertinggi dilansir sebuah majalah kenamaan dunia, Fortune. Di antara mereka ada yang mendapat posisi teratas wanita paling berpengaruh dalam bisnis.

Sudah menjadi kelaziman bagi majalah Fortune dalam mengeluarkan laporan khusus mengenai peringkat 50 wanita paling berkuasa dalam bisnis (50 Most Powerful Women in Business) di Amerika Serikat setiap tahun.

Pemeringkatan ini dilakukan berdasarkan kemampuan mereka dalam memimpin perusahaan. Ini merupakan kegiatan tahunan yang diadakan majalah terkemuka dalam keuangan tersebut.

Nama Chairman dan CEO PepsiCo Indra Nooyi menduduki urutan teratas. Setidaknya, sudah lima tahun ini Nooyi selalu mendapatkan urutan teratas dalam daftar wanita paling berpengaruh di dunia bisnis versi majalah Fortune.

Penempatan Nooyi di posisi puncak wanita paling berpengaruh dalam bisnis karena wanita berusia 54 tahun ini mampu membuat PepsiCo memproyeksikan pendapatannya hingga USD60 miliar.

Kini dia harus mewujudkan janjinya untuk efisiensi biaya operasional tahunan perusahaan dengan penghematan sebesar USD400 juta per tahun.Para pemegang saham tampak meyakininya. Sementara kinerja pasar saham meningkat 12 persen sejak September 2009.

Untuk semua prestasinya itu, tahun lalu Nooyi berhasil meraup pendapatan USD14 juta. Nooyi memang dikenal sebagai tokoh panutan banyak wanita yang telah merasakan sukses. Dia dikenal sebagai sosok yang memiliki wawasan luas di sektor bisnis.

Dia bahkan seringkali menjadi pembicara dalam acara World Economic Forum dan seminar-seminar bisnis kelas dunia. Nooyi menjabat sebagai CEO PepsiCo sejak empat tahun lalu di mana dia sukses sebagai suksesor CEO sebelumnya, Steven Reinemund.

Sejak bergabung dengan Pepsi pada 1994, beberapa kisah sukses dia hadirkan untuk perusahaan tersebut di antaranya ketika dia melakukan strategi bisnis yang sangat efektif dan menguntungkan perusahaan seperti yang diperlihatkan saat merancang akuisisi Tropicana pada 1998 dan strategi merger terhadap Quaker Oats Company, termasuk pembelian Gatorade.

Menurut Fortune, berdasarkan hasil survei yang dilakukan dalam setahun terakhir, dia memperoleh kompensasi USD14.917.701 juta dengan rata-rata gaji sebesar USD1,3 juta (Rp11,7 miliar) dan bonus USD2,6 juta (Rp 23,4 miliar). “Wanita Besi” di kancah bisnis lain yang tak kalah hebatnya ialah Irene Rosenfeld yang menjabat Chairman dan CEO Kraft Foods.

Perjuangan Rosenfeld dalam pertarungan di antara produsen permen untuk mengakuisisi Cadbury dikabarkan menuai kontroversi di antara pemegang saham. Pemegang saham terbesar Warren Buffet Berkshire Hathaway bahkan dikabarkan mengalami kekecewaan.

Namun, para analis menilai pembelian sebesar USD19 miliar berbuah manis dan menjadi salah satu proses akuisisi tersukses di dunia bisnis sehingga mendorong pertumbuhan pendapatan Kraft mencapai USD48 miliar dan memberikan peluang untuk ekspansi ke pasar baru yang besar seperti di India.

Wanita berumur 57 tahun ini terbilang memiliki karier yang cukup panjang.Sebelum masuk ke dalam jajaran direksi pada 2006, dia sempat menjadi salah satu direksi di PepsiCo dan mengepalai pimpinan produksi Frito-Lay. Selama dua tahun dia memegang jabatan tersebut hingga akhirnya pindah ke Kraft Foods dan berhasil memenangkan seleksi untuk menjadi CEO Kraft Foods pada Juni 2006.

Bisa dibilang, jabatan tersebut merupakan hasil kesuksesan sepanjang kariernya selama 25 tahun di industri makanan. Dalam setahun terakhir, jumlah penghasilan yang dia terima USD26 juta (Rp234 miliar).

Nama Patricia Woertz, Chairman, Presiden, dan CEO Archer Daniels Midland, menduduki tempat ketiga. Perempuan kelahiran Pennsylvania pada 1953 dan merupakan lulusan Penn State University ini membangun kariernya di perusahaan utama yang besar.

Namun, kini 240 pabrik utama sudah dibangun yang fokus pada produk agrikultur dan kimia. Archer Daniels Midland telah dinobatkan sebagai perusahaan pengolah jagung terbesar, namun kini Woertz fokus pada sumber bahan bakar alternatif.

Para pemegang saham jelas menyukai langkah ini dan kinerja saham meningkat 13 persen dalam 12 bulan terakhir. Di posisi selanjutnya di tempati Angela Braly, Chairman, Presiden, dan CEO WellPoint.

Wellpoint menjadi simbol kebijakan yang salah dalam jaminan kesehatan ketika Braly sudah menjalankan kebijakannya sebelum Kongres Februari 2010 ini. Dia mempertahankan proposal kenaikan tarif 39 persen di California, yang akhirnya keputusan dianulir kembali.

Reformasi kesehatan menimbulkan tantangan besar bagi Wellpoint, namun perusahaan ini masih menjadi penjamin lebih banyak jumlah penduduk Amerika Serikat (AS) ketimbang perusahaan lain sehingga masih memberikan keuntungan besar bagi perusahaan.

Kemudian, nama Andrea Jung, Chairman dan CEO Avon Products, berada di posisi lima wanita paling berpengaruh dalam bisnis. Pada Desember 2009, Jung masuk menjadi salah satu dalam jajaran direksi Apple, sebuah peran prestisius yang langka dan diberikan kepada perempuan. Jung juga masuk dalam jajaran direksi General Electric.

Namun, Avon memiliki nasib kurang menguntungkan, pendapatan dan penghasilannya menurun tahun lalu, di mana ketika banyak perusahaan sudah mulai pulih dari terpaan dampak krisis.

Nah, perempuan yang satu ini sudah sangat dikenal publik lewat acara televisi. Kehadirannya selalu ditunggu pemirsa di seluruh dunia lewat acara yang menggunakan namanya itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Oprah Winfrey, yang kini menjabat Chairman Harpo dan OWN.

Majalah Fortune menempatkan Oprah di posisi keenam. Setelah 25 tahun lamanya Oprah menjadi host talkshow televisi paling populer, dia kemudian mengakhirnya dengan meluncurkan OWN (The Oprah Winfrey Network) pada 1 Januari 2010. Perusahaannya Harpo juga berhasil membuat beberapa brand terkenal seperti Dr Phil, Dr Oz, dan Nate Berkus seorang master desain.

Di posisi ketujuh ditempati Ellen Kullman, Chairman dan CEO DuPont. Namanya masuk dalam daftar wanita berpengaruh karena dia berhasil menyelamatkan perusahaan raksasa bidang kimia ini dua tahun lalu ketika resesi melanda dunia.

Hal itu dibuktikan dengan banyaknya permintaan untuk produk Teflon dan cat. Sebagaimana wilayah pertumbuhan yang berubah, dia kemudian memperkenalkan bisnis, sebuah langkah maju yang dibayar dengan pemulihan ekonomi. Penjualan meningkat secara lintas bisnis, setelah DuPont sempat mengurangi karyawannya.Tetapi, kini perusahaan tersebut kembali merekrut karyawan.

Nama Ginni Rometty, Senior Vice Presiden, Group Executive, Sales, Marketing and Strategy IBM, menempati posisi kedelapan wanita paling berpengaruh dalam bisnis. Sebagai seorang yang me-mimpin penjualan secara global, Rometty sangat diperhitungkan mampu mendatangkan pendapatan, keuntungan, dan kepuasan klien IBM yang memiliki pasar global 170 negara.

Dalam peranannya, Rometty bertanggung jawab atas hasil pendapatan yang diperoleh IBM yang mencapai USD95 miliar pada 2009. Dia juga bertanggung jawab atas strategi global IBM dalam melakukan penjualan. Dengan segala strateginya, perempuan ini merupakan kandidat kuat untuk menggantikan CEO Sam Palmisano. Ursula Burns, Chairman dan CEO Xerox, berada di urutan kesembilan.

Burns bergabung dengan Xerox sejak 1980, dan pada Juli 2009 dia terpilih sebagai CEO. Kemudian baru pada Mei 2010 dia memiliki peranan sebagai Chairman Xerox, selain juga masuk dalam jajaran anggota direksi Amerixan Express.

Berkat prestasi, kini Xerox menjadi perusahaan manajemen dokumen dan proses bisnis terbesar di dunia dengan pendapatan mencapai USD22 miliar.

--

Bisnis Pisang Goreng Beromzet Miliaran berkat Inovasi
Minggu, 5 Desember 2010 - 10:21 wib
Pisang Goreng

Berani mencoba dan tekun bisa menjadi kunci sukses bisnis.Bermodal ketekunan dan kegigihan itulah Wildan yang hanya tamatan SMA menjadi wirausahawan sukses. Wildan–demikian panggilan akrabnya– tak pernah bermimpi menjadi sukses seperti saat ini. Dia cukup tahu diri. Bekal pendidikan yang dia dapatkan hanya pas-pasan.

Namun, kerja keras yang telah dirintisnya beberapa tahun mampu membalikkan nasib bapak lima anak ini. Ihwal sukses Wildan berawal dari sebuah gerai berukuran 9x10 M berlokasi di bawah flyover Jalan ExitTol RC Veteran,Bintaro,Jakarta Selatan, yang ia sewa empat tahun yang lalu. Bermodal awal Rp75 juta, pria asal Lampung ini mencoba peruntungan membuka bisnis pisang goreng.Keberanian Wildan membuka gerai jajanan pasar pisang goreng boleh diacungkan jempol.

Pasalnya, hampir di setiap sudut jalan di Jakarta pasti ditemui jajanan pasar ini.Namun, berkat inovasi produk yang dia beri nama ”Pisang Goreng Pasir” ini diminati banyak orang. Menggelitik memang ketika mendengar kata ”pisang goreng pasir”,dan pasti timbul pertanyaan apakah pisang itu dimasak dengan pasir. Menurut si empunya, nama pasir berasal dari butiran-butiran kecil kecokelatan yang mirip dengan pasir yang ada pada tepung yang menyelimuti pisang goreng.

Wildan berpikir,nama pasir ini akan menjadi magnet tersendiri. Wildan bercerita, mendapat ide berbisnis pisang goreng berawal dari menjamurnya gerai-gerai pisang goreng yang berada di daerah Bintaro.”Pada 2005 lalu di jalan sekitar sini banyak gerai pisang goreng,dan yang paling laku yakni pisang goreng pontianak”, ujar pria kelahiran Lampung. Setelah mengantre dan ikut mencoba mencicipi pisang goreng pontianak yang memang sedang booming saat itu.Wildan melihat bentuk tepungnya begitu unik namun dari segi rasa menurutnya kurang nikmat.

Wildan memutuskan mengkreasikan pisang goreng miliknya dengan rasa yang berbeda. Minyak penggorengan yang digunakannya juga terus diganti setelah enam jam pemakaian.”Tujuannya agar lebih bersih dan tidak menggunakan minyak yang memiliki kolesterol tinggi,”katanya. Mengenai jenis pisang yang digunakan,Wildan memilih pisang lampung karena potensi pisang di Lampung cukup banyak dan tidak kalah kualitasnya dengan pisang dari Pontianak.

Hasil dari cobacoba dan terus inovasi, ide ayah lima anak ini berbuah manis. Di hari pertama penjualannya,pisang goreng pasir laku hingga 500 potong. Didukung embel-embel nama pasir, ternyata membuat orang makin penasaran dengan pisang goreng hasil olahannya. Tantangan Wildan dalam membesarkan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Stok bahan baku yang ia dapatkan terkadang kosong.

Pernah ia siasati dengan mengganti bahan baku yang jenis pisangnya berbeda namun kualitasnya di atas pisang kepok kuning dari Lampung tapi sebagian besar pelanggannya kecewa. Hingga kini Wildan selalu menjaga mutu.Ketika stok bahan baku tidak ada,gerainya akan tutup padaesokataulusanya.Namun,saat ini dirinya dapat mengantisipasi kekosongan bahan baku.setiap hari ia menerima 300 tandan pisang yang langsung didatangkan dari Lampung.

Untuk menyimpan seluruh pasokan pisangnya, ia memusatkan pada satu gudang yang terletak di daerah Cipete. Selain itu,Wildan selalu menjaga citra dagangannya dengan cara menjadikan produknya bisa masuk ke semua kalangan.Dia mengatakan, walaupun berupa jajanan pasar, produknya bisa menjadi makanan yang bersih dan semua orang bisa menyukainya. Usaha yang ia geluti hampir lima tahun ini akhirnya membuahkan hasil. Saat ini ia memiliki 100 pegawai yang tersebar di 15 gerai di seluruh Jabodetabek.

Dia mampu menjual 1.000 potong pisang pada hari biasa dengan harga per potong Rp2.500. Sementara, di akhir pekan bisa mencapai 4.000 potong pisang. Itu pun hanya untuk setiap gerainya. Jika dihitung,Wildan bisa mengantongi omzet penjualan Rp2,5 juta per hari tiap gerainya. Bila saat ini ia memiliki 15 gerai, berarti Wildan memiliki omzet penjualan Rp37,5 juta per hari dan dalam sebulan omzetnya mencapai Rp1,125 miliar. Selain bisnis pisang goreng,Wildan melakukan inovasi baru yakni membuat kompor pintar untuk mendongkrak penjualan pisang gorengnya.

Wildan mengaku, dengan adanya kompor pintar ini dapat memberikan berbagai keuntungan. Salah satu keuntungan yangiadapatyaknibisamenghemat 20% bahanbakardalampemakaian gas 12 kg. ”Bila dengan kompor gas biasa setiap menggoreng hanya bisa 20 pisang.Tetapi sekarang dengan kompor pintar bisa menggoreng hampir 100 pisang sekali goreng,” ucapnya sumringah. Penghematan waktu menggoreng juga diamini pria yang dulunya pernah bekerja sebagai salesman panci ini.

”Rata-rata setiap menggoreng tanpa kompor pintar berkisar 15–20 menit namun sekarang 10 menit saja sudah bisa dicapai,” demikian Wildan bertutur. Dengan kesuksesan yang sudah diraihnya saat ini tidak membuat Wildan berpuas diri.Wildan selalu mencari celah untuk bisa memasarkan produknya ke segala lapisan konsumen. Ini terlihat dari rencananya ke depan yang akan menjual pisang goreng pasir ke tempattempat yang tidak mungkin dijangkau olehnya.

Seperti terminal ataupun kampus-kampus dengan cara menggunakan sepeda motor yang sedang dia modifikasi saat ini. Rencananya untuk memasarkan produk melalui delevery order atau sepeda motor adalah salah satu solusi un-tuk para konsumen yang selalu meminta dirinya menjadi partner bisnis.

Wildan juga sempat mendapat tawaran di dalam negeri maupun di beberapa negara tetangga untuk menjadi rekanan. Lagi-lagi Wildan belum siap menerima tawaran itu. ”Dikhawatirkan akan merusak bahan baku pisang karena terlalu lama dalam pengirimannya,”paparnya. (

--

Raup Untung Besar dari Kejelian Bisnis Ikan Hias
Minggu, 12 Desember 2010 - 12:11 wib
ilustrasi ikan louhan Foto: wordpress

BERTAHAN hingga 20 tahun dalam bisnis ikan hias bukanlah waktu yang sebentar. Ketekunan disertai kerja keras dan semangat pantang menyerah menjadi modal terbesar.

Adalah Suryanto, 63, yang mampu bertahan puluhan tahun dalam bisnis ikan hias. Usaha yang ditekuninya memang mengandalkan hobi dari orang lain. Namun semangatnya yang tinggi mengantarkan Suryanto dari seorang penjual ikan eceran menjadi pengusaha ikan untuk partai besar.

Sekira tahun 1982, Suryanto hanyalah seorang pedagang ikan hias pinggir jalan protokol di Lampung. Saat itu, dia hanya menjajakan ikan hias kecil. Namun, tidak diduga, keberuntungan menghampiri Suryanto. Pria kelahiran Kota Bandar Lampung, Lampung, ini justru mendapat keuntungan yang cukup besar.

Dia menceritakan, saat itu untuk menjajakan ikan di pinggir jalan saja dibutuhkan dana yang cukup besar. ”Modal awal saya waktu itu sekira Rp2 juta. Jualan ikan kecil di emperan depan toko,” ungkap Suryanto saat ditemui harian Seputar Indonesia (SINDO) di rumahnya kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, kemarin. Saat memulai usaha, usianya menginjak 28 tahun.

Sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menggeluti bisnis ikan hias hingga puluhan tahun. Keyakinan akan prospek yang bagus dalam usaha ikan disampaikan oleh kakak kandungnya yang sudah terlebih dahulu menggeluti bisnis tersebut.

Secara perlahan namun pasti Suryanto mulai belajar merintis usahanya. Hasilnya, meskipun hanya berjualan di emperan toko, Suryanto mendapat keuntungan cukup besar. ”Empat bulan jualan di pinggir jalan, saya sudah bisa menikah walaupun sedikit dibantu kakak,” kenangnya. Keuntungan yang diperoleh selama lima tahun menjalani usaha menjual ikan di pinggir jalan membuat usahanya semakin besar.

Bermodal sekira Rp18 juta, Suryanto mulai membuka toko kecil di Lampung yang lebih permanen tanpa harus dibayangi ketakutan penggusuran aparat penegak peraturan daerah. Meskipun masih berstatus menyewa seharga Rp35 juta per tahun, toko itu bertahan hingga saat ini. ”Modal itu saya gunakan untuk tambahan membeli ikan dan perlengkapan akuarium yang bisa dijual,” imbuhnya.

Suryanto menceritakan, saat itu keuntungan yang didapat bisa mencapai 100 persen. Sebab, belum banyak pengusaha ikan hias yang menjadi pesaingnya. Namun belakangan untungnya secara perlahan berkurang lantaran mulai tumbuhnya pengusaha ikan baru. Dia menyebutkan, saat ini keuntungan mungkin hanya berkisar 20 persen.

Meski demikian, Suryanto tidak merasa khawatir. Sebab, sebagai pemain lama dalam usaha ini, dia memiliki banyak pengalaman dan pelanggan. Terlebih, harga yang ditawarkan bisa bersaing dengan pengusaha lain. Ketika sumber daya ikan di sekira Lampung menipis, Suryanto dituntut berpikir cepat dengan mencari sumber ikan lain untuk mengisi stok di tokonya.

Setidaknya, ada tiga kantong sumber ikan, yakni di Tulungagung (Jawa Timur), Bogor, dan Sukabumi (Jawa Barat), yang saat ini mengisi tokonya di Lampung. Dia juga pernah mengembangkan usahanya dengan mengekspor ikan alam ke sejumlah negara melalui bantuan eksportir.

Biasanya, ikan alam yang banyak berasal dari daerah Lampung dikirim ke Jepang. Ikan jenis ini biasanya untuk konsumsi. ”Tapi tidak bertahan lama karena sekarang stok atau sumber daya ikan alam sudah habis,” paparnya. Meskipun omzet yang diperoleh tidak sebesar saat pertama kali merintis usahanya, Suryanto sudah merasa berkecukupan.

”Sekarang omzet hanya Rp40 juta per bulan. Itu sudah dikurangi biaya untuk distribusi dari Jakarta ke Lampung (pulang pergi) sebesar Rp1,4 juta setiap minggunya,” kata Suryanto. Hampir setiap akhir pekan, Suryanto mengirimkan ikan-ikan hias segar ke tokonya di Lampung. Jarak tempuh yang terbilang cukup jauh itu tentu memiliki tingkat risiko yang cukup besar.

Tidak jarang pula, ketika waktu tempuh yang dibutuhkan sangat lama, ikan hias menjadi mati lantaran kekurangan oksigen. Dengan demikian, Suryanto harus memastikan ikan hias dalam kondisi sehat ketika memulai perjalanan dari Jakarta menuju Lampung. Meskipun terbilang pemain lama, Suryanto tidak berpikir untuk melakukan budi daya ikan hias untuk menjaga stoknya.

Selama 20 tahun menjalani bisnis ikan hias, Suryanto mengaku tidak menemui hambatan yang besar. Mulai menjamurnya pedagang ikan hias bermodal besar merupakan satu-satunya hambatan yang ditemuinya selama ini. Dia melihat, pada dasarnya prospek besar untuk bisnis ikan hias di Lampung cukup besar dibandingkan dengan di Jakarta.

Namun, lantaran persaingan di Lampung sudah sangat ketat, keuntungan bisnis ikan hias di Jakarta menjadi semakin besar. ”Di Jakarta banyak juga yang hobi ikan. Hobi tidak ada matinya dan selalu saja ada orang-orang baru,” tandasnya. Dalam menjalankan usahanya, Suryanto mengaku tidak bisa melakukannya seorang diri mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi.

Saat ini, dia dibantu oleh anak-anaknya dan dua karyawan. Kedua karyawan bertugas mendistribusikan ikan hias dari Jakarta menuju Lampung. Tokonya yang berada di kawasan strategis di Lampung menjadi salah satu kekuatan bisnis yang digelutinya tetap bertahan. Suryanto memang pernah punya niat untuk beralih ke jenis usaha lain.Namun,dia menyadari, ketika seseorang tidak mendalami dan mengetahui seluk-beluk usaha yang akan digeluti,suatu saat akan mengalami keterpurukan, sehingga dia tetap memilih menjalankan usahanya saat ini.

”Usaha ini sudah jadi mata pencaharian. Anak saya lulus sarjana dan S-2 juga karena hasil atau keuntungan dari usaha ini,”katanya.

Bagi Suryanto, salah satu momentum yang tidak terlupakan selama 20 tahun menjalankan usahanya adalah ketika hobi ikan louhan sedang booming di pasar Indonesia dan dunia.

Tidak diragukan lagi, saat ikan yang dipercaya mendatangkan keberuntungan itu banyak diburu kolektor, masyarakat yang awalnya tidak hobi ikan pun mulai melirik untuk memelihara louhan. ”Karena banyak dicari, kita bisa jual hingga ribuan ekor ikan,” jelas Suryanto. Meski banyak orang memasang harga tinggi untuk ikan louhan, Suryanto mengaku tidak terlalu berambisi menjual dengan harga setinggi langit. Di saat orang lain menjual ikan louhan hingga miliaran rupiah, Suryanto hanya menjual jenis ikan itu sekitar Rp15 juta per ekor.

Baginya, tidak penting menjual dengan harga tinggi. Terpenting bisa menarik banyak orang untuk membeli ikan tersebut. ”Itu momentum paling besar dan tidak bisa dilupakan. Keuntungan kita saat itu dari hasil jual louhan saja sudah 30–40 persen,”katanya mengenang masa keemasan bisnisnya. Untuk memenuhi keinginan orang yang hobi mengoleksi ikan louhan, Suryanto mengaku tidak boleh kekurangan stok ikan bermotif tersebut. Selain itu, dia dituntut banyak memiliki pengetahuan mengenai ikan louhan. Dia tidak segan-segan mengumpulkan setiap informasi dan seluk-beluk ikan itu. Booming ikan louhan memang tidak terlalu lama, tapi Suryanto tidak boleh ketinggalan.

”Setiap ada model baru, kita harus cari agar tidak ketinggalan dengan yang lain.Motif mengikuti model yang berkembang. Keuntungan dari sini bisa sampai jutaan rupiah,” ujarnya. Selain ikan louhan, Suryanto juga pernah menggeluti bisnis ikan arwana.Saat itu,dia harus memiliki badan hukum untuk bisa mendapatkan sertifikat penjualan ikan arwana. Diakui Suryanto, bisnis ikan arwana tidak terlalu booming dibandingkan louhan. (wisnu moerti)(adn)

--

Raup Untung Jutaan Rupiah Lewat Bisnis TI
Minggu, 2 Januari 2011 - 11:33 wib
Ilustrasi. Foto: Corbis

BAGI sebagian orang, berurusan dengan teknologi membuat kepala jadi pusing. Namun, bagi sebagian orang lagi, teknologi bisa menjadi hal yang sangat menyenangkan, bahkan menguntungkan.

Cerdas dan berbakat. Itulah Achmad Zaky. Pria berusia 24 tahun ini memutuskan untuk menggeluti bisnis di bidang teknologi informasi (TI). Zaky mengaku mempunyai hobi dengan apapun yang berhubungan dengan TI sejak masih kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dengan modal awal sekira Rp20 juta, lalu Zaky mendirikan sebuah perusahaan software developer SMS di Bandung pada 2006, yakni Deft Technology. Sebagai seorang wirausaha pemula, omzet yang didapatkannya bisa dibilang cukup besar, yakni sekira Rp15 juta untuk satu produk perangkat lunak. Pada saat itu, biasanya Zaky menangani enam proyek dalam satu tahun.

Setelah lulus kuliah pada 2008, Zaky memutuskan untuk meneruskan bisnisnya di Jakarta. Pasalnya, kata dia, potensi pasar di Jakarta jauh lebih besar daripada Bandung. Sesampainya di Jakarta, perjalanan yang dilalui Zaky tidak semulus seperti apa yang diharapkan. Bahkan, Zaky sempat ditolak beberapa klien ketika menawarkan proposal bisnis.

Namun, Zaky tidak langsung putus asa. Lambat laun, bisnisnya terus berkembang. Pada saat ini, perusahaan yang dijalankan Zaky berganti nama menjadi Suitmedia. Zaky lantas mengajak dua temannya, Nugroho dan Fajrin, untuk ikut bergabung.

"Mereka adalah teman baik saya dan mahasiswa terbaik pula di angkatan saya waktu itu, jadi saya ajak bergabung,” jelas Zaky ketika ditemui di kantornya di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta.

PT Kreasi Online Indonesia (Suitmedia) adalah perusahaan yang memberikan berbagai jasa solusi new media seperti membuat perangkat lunak berbasis internet dan mengembangkan aplikasi Android dan BlackBerry untuk beberapa koran nasional. Selain solusi teknis, Suitmedia juga membantu perusahaan untuk menganalisis dan mengembangkan strategi.

"Akhirnya setahun lalu kita baru bikin Suitmedia dan ada badan hukumnya. Sebelumnya kan hanya CV. Saya memiliki rekan kerja yang sangat kompeten. Di sisi lain, saya tidak mau hanya kerja saja, tapi juga terpanggil untuk creating jobsdan memberikan manfaat terhadap orang lain lewat produk kami," kata Zaky.

Menurutnya, Suitmedia telah dipercaya menangani proyek dari perusahaan-perusahaan besar, sebut saja Samsung, Telkomsel, dan PT Recapital Advisors. Maka, tak pelak, omzet yang didapat Zaky pun terus bertambah. Hingga akhir tahun 2010 saja, Suitmedia mampu meraup omzet sekira Rp800 juta, dengan modal kerja sebesar Rp40 juta per bulan. Zaky pun optimistis akan mendapatkan omzet hingga Rp1 miliar pada 2011.

“Sebenarnya ada enam proyek baru,tapi tiga di antaranya dikerjakan pada 2010. Adapun tiga proyek lain dikerjakan pada 2011,” tutur Zaky.

Suitmedia merupakan induk usaha dari beberapa anak usaha seperti Bukalapak.com. Pada saat ini, jumlah pengunjung Bukalapak.com sudah mencapai 11 ribu orang dengan page view sebanyak 200 ribu.

Padahal, website yang berbasis jual beli online ini baru resmi beroperasi pada April 2010. "Kami sadar manfaat Bukalapak.com ini banyak, tapi ada komunitas khusus yang bakal merasakan manfaat lapak ini. Nah, kami excited dengan hal ini,” papar Zaky.

Untuk memperkuat fondasi bisnisnya, Zaky melakukan dua pendekatan, yakni secara eksternal atau dengan klien dan internal atau dengan sumber daya manusia (SDM) di dalam perusahaan.

“Yang penting adalah bagaimana kita memberi nilai tambah yang lebih besar. Misalnya, kami janji memberikan lima, tapi pada hasil akhirnya memberikan tujuh, jadi klien juga senang. Untuk mendapatkan klien baru, biasanya kita terus menjalin komunikasi, mulai dari obrolan secara nonformal. Di situ kita jadi tahu kebutuhan mereka. Networking penting sekali,” ujar Zaky.

Selain itu, SDM juga merupakan salah satu poin yang menjadi prioritas Zaky. Pada saat ini, Suitmedia telah mempunyai karyawan 13 orang. Ke depan, Zaky akan merekrut tambahan SDM. “Kita sangat concern untuk pengembangan SDM, maka ada konsep mentor. Jadi seorang manajer harus bisa mementor lah, tidak bisa hanya perintah ini itu,” tutur Zaky.

Menurut Zaky, ke depan, bisnis TI sangat berpotensi besar untuk berkembang. Maka, Zaky berencana melakukan beberapa hal guna memajukan usahanya, yakni mulai dari memperbaiki sistem keamanan di Bukalapak.com hingga membuat website jejaring sosial.

“Ke depan, rencananya akan mengembangkan potensi-potensi yang kami punya. Untuk saya, bisnis adalah menciptakan nilai tambah,yakni bagaimana kita menyelesaikan masalah klien. Kita pikirkan yang terbaik untuk mereka,” ujar Zaky.

Zaky mengakui, hingga saat ini, dia masih terkendala beberapa hal seperti masalah komunikasi, terutama dengan klien asing, keterbatasan SDM hingga cara mengatur pemasukan dan pengeluaran.

“Tantangan berbisnis yang terbesar ya SDM tadi, rekrutmen sangat susah.SDM kita masih amat sangat susah. Kebanyakan TI di Indonesia lebih ke teknis dan bukan hal-hal yang fundamental seperti konseptual. Saya juga harus belajar bagaimana mengatur pemasukan supaya tidak kebanjiran order,” tegas Zaky.

Tak hanya itu, Zaky juga sadar betapa pentingnya untuk belajar lebih banyak mengenai manajerial. "Maka dari itu, setiap hari Jumat, kita biasanya datangkan tokoh-tokoh yang tahu betul tentang manajerial dan kita bisa belajar bersama di situ. Kawan-kawan di sini juga bisa terpacu masing-masing untuk mengembangkan diri mereka sendiri, melalui open source contohnya. Hal ini kan sangat menarik,” papar Zaky yang lulus kuliah dengan predikat cum laude ini.

Kendati demikian, Zaky memastikan, hingga saat ini dia belum pernah menerima keluhan yang serius dari klien.

“Soal keluhan dari klien ya hampir tidak ada. Mungkin pernah ya, kita kerjakan suatu project, tapi kendalanya lebih ke komunikasi. Bukan merupakan kekecewaan customerpada produk akhir kami,” jelasnya.

Zaky berharap, masih banyak anak muda Indonesia lainnya yang tertarik menggeluti dunia bisnis. Potensi anak muda Indonesia besar sekali. Pesan Zaky ke mereka yang mau memulai bisnis adalah kerjakan yang mereka suka dan tekuni saja. Tekun, sabar, dan kerjakan apa yang disukai. Lantas, jangan selalu ingin hasil yang instan karena semua butuh proses,” tandas Zaky. (sandra karina)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Sukses dari Bisnis Sewa Sepeda
Minggu, 9 Januari 2011 - 10:59 wib
Ilustrasi

ALI Akbar optimistis usaha penyewaan sepeda yang digelutinya masih akan berkembang.Apalagi dia melihat ada tren baru di korporasi.

Saat ini perusahaan cenderung mengurangi intensitas outbond dan menggantinya dengan acara bersepeda bersama pada hampir setiap minggu. Bahkan, kini dia juga bekerja sama dengan sejumlah hotel dan tempat wisata untuk menyewakan sepedanya.

“Sejumlah hotel dan tempat wisata telah menyediakan jalur sepeda,”ujarnya saat ditemui di basecamp penyewaan sepedanya di kawasan Koja, Jakarta Utara,belum lama ini.

Selain memberikan keuntungan bagi penghidupannya,usaha penyewaan sepeda Ali juga memberikan manfaat kepada pemilik penyewaan truk atau pikap.Apalagi tempat acara sepeda bersama yang diadakan korporasi biasanya tidak terbatas di Jakarta,tapi merambah daerah Jawa Barat seperti Sukabumi dan Tangkupan Perahu.

Saat ini,Ali telah memperlebar usahanya dengan menjadi bike service company di mana pemilik sepeda menitipkan sepeda mereka kepada www.sepedajakarta.com untuk dikelola, dipelihara, dan bahkan disewakan atas seizin pemilik kepada pihak ketiga/perusahaan yang menyelenggarakan acara sepeda santai. Untuk itu, Ali tengah mencari tempat strategis untuk ekspansi usahanya.

”Kami juga telah membuka peluang bagi investor pada bike investment di mana pemilik dana memberikan sejumlah pinjaman untuk kerja sama bagi hasil atas aktivitas www.sepedajakarta.com. Bagi hasil diberikan dengan skema pembayaran bulanan berkisar 2–5 persen per bulan,”jelas dia.

Dengan berbagai macam skema tersebut, tidak mengherankan kalau dari penyewaan sepeda dia bisa meraih pendapatan Rp128 juta per bulan. Nilai itu bisa lebih tinggi lagi karena Ali kerap mendapatkan fee dari rekanan seperti penyewaan truk, tempat wisata, dan hotel yang nilainya cukup besar.

Apalagi penambahan frekuensi hari bebas kendaraan (car free day/CFD) oleh Pemprov DKI Jakarta dari semula sebulan sekali menjadi dua kali memberikan kesempatan lebih banyak kepada warga Jakarta menikmati suasana Ibu Kota.

Penambahan frekuensi itu juga ternyata mendapatkan sambutan positif dari masyarakat.Hal tersebut terlihat dari banyaknya warga maupun perusahaan yang menggelar acara sepeda santai di akhir pekan. Ali pun melihat peluang bisnis dengan memanfaatkan sepeda miliknya untuk disewakan.

Ini dilakukannya karena dia melihat tidak semua pegawai perusahaan memiliki sepeda.Awalnya dia berpikir bahwa korporasi bakal membutuhkan sepeda dalam jumlah yang cukup banyak jika ada event sepeda santai. Kalaupun ada, tentunya sebagian besar dari pekerja tidak mau repot membawa sepedanya ke acara sepeda santai yang diadakan perusahaan.

Untuk mendukung usahanya, Ali lalu membuka situs www.sepedajakarta. com sejak 3 Agustus 2007 lalu. Dia beralasan, internet sudah menjadi bagian dari hidup masyarakat sehingga apa pun kebutuhan konsumen, internet akan jadi jalan keluarnya.

”Saya memulai bisnis ini karena hobi bersepeda. Awalnya jual beli sepeda bekas.Tapi kemudian saya masuk dan fokus di bisnis sewa sepeda. Saya melihat setiap permintaan dan penawaran yang ada di internet.Permintaan tinggi,tapi penawarannya relatif rendah. Ini bisa dilihat sebagai peluang bisnis,” kata Ali Akbar.

Saat pertama kali membuka penyewaan sepeda, Ali hanya memiliki 30 sepeda. Seiring dengan perkembangan bisnisnya, kini koleksi yang dimilikinya mencapai 800 unit. Kendati cukup banyak, Ali masih saja kesulitan memenuhi permintaan pasar.

“Kalau car free day, sejumlah perusahaan kerap mempergunakannya untuk gathering bersama keluarga pegawai,”katanya.

Karena itulah Ali menggandeng sejumlah pengusaha sepeda bekas yang tersebar di Jakarta Utara.Selain untuk meningkatkan jumlah cadangan sepeda, hal itu juga untuk mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu ada konsumen yang hendak menyewa sepeda,tapi jenisnya tidak tersedia, seperti jenis BMX. Sistem pemasaran via internet dipilih karena lebih powerful. Itulah sebabnya, Ali Akbar menggunakan sistem mesin pencarian website rental sepeda.

Dengan begitu, ketika orang mengetikkan “penyewaan sepeda” ,“sewa sepeda murah”, “sewa sepeda di Jakarta”, larinya pasti ke tempatnya. Langkah tersebut ternyata cukup efektif meningkatkan permintaan penyewaan sepeda. Indikasinya terlihat dari repeat order dari korporasi yang pernah menyewa sepeda di tempatnya. Strategi itu juga terlihat dari semakin banyaknya pengguna internet yang mengklik website miliknya.

Jika pada 2009,sebulan hanya 300 kali pengguna yang mengklik, saat ini frekuensinya meningkat hingga empat kali lipat atau sekitar 1.200 kali per bulan. Dia mengaku, setiap kali ada pesanan, terutama dari perusahaan, rata-rata penyewa menggunakan sepeda hingga 200 unit atau lebih.” Beberapa waktu lalu ada bank yang menyewa 600 unit,”jelas dia.

Guna melayani kebutuhan konsumen yang beragam,Ali pun menyediakan aneka jenis sepeda mulai dari sepeda mini, sepeda lipat, sepeda tandem, sepeda low rider, sepeda ontel hingga sepeda fixie yang sedang tren.Semua jenis sepeda ini, selain sepeda fixie, sudah tersedia di sepedajakarta.com.

Namun, berdasarkan tren yang sudah sudah, kalangan korporasi lebih menyukai menyewa sepeda mini, lipat,dan low rider. Selain itu, Ali membedakan sepeda yang disewakan pada dua level, yakni low end dan high end. Sepeda low end merupakan sepeda standar yang biasa dipergunakan kebanyakan orang. Adapun high end merupakan sepeda yang harganya lebih mahal.

Biasanya sepeda level high end disewa korporasi untuk dipergunakan direktur,manajer atau kepala bagian. Ali memang lebih menyukai menyewakan sepeda-sepedanya kepada korporasi.Alasannya, sistem keamanan dan tanggung jawabnya jauh lebih terjamin.Apalagi, sepeda merupakan barang yang suku cadangnya gampang diganti.Apalagi dia tidak mungkin mengawasi satu per satu sepeda yang baru dikembalikan dari penyewa.

Namun, kata Ali, meski kalangan perusahaan lebih sering menyewa, bukan berarti jasa penyewaan sepeda yang dikelolanya tertutup bagi individu. Lalu berapa harga sewanya? Di sepedajakarta.com dia mematok harga tergantung pada jenis dan kuantitasnya.

Kisarannya sekitar Rp95.000–600.000 per unit per event. Ali Akbar juga memberikan nilai tambah bagi penyewa sepedanya, antara lain voucher resort, voucher restoran dan tempat makan, voucher tracksepeda hingga voucher pembelian aksesori sepeda.Penyewa sepeda di sepedajakarta. com akan mendapatkan helm sepeda dan/atau kaus untuk acara dengan gratis,tentunya berdasarkan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Namun,Ali menegaskan bahwa sepeda yang akan disewa minimal 10 unit. Ini karena alasan pengiriman agar lebih efisien. Pasalnya, dia harus menyewa satu mobil pikap untuk membawa sepeda ke tempat acara penyewa. Lalu bagaimana dia merawat sepedanya? Sebelum sepeda disewakan, Ali memeriksanya di bengkel sendiri. Dia harus meyakinkan bahwa sepeda yang akan dikirim tidak bermasalah.

”Selesai acara kami kembali lakukan cek fisik. Sebab kadangkadang ada sepeda yang jatuh atau apa. Kalau dianggap ada kerusakan, kita akan minta ganti kerusakan karena kita memang mempunyai skema ganti rugi,”terang dia.

--

Pengusaha Trading Saham Bermental Baja
Minggu, 26 Desember 2010 - 11:42 wib
ilustrasi Foto: Corbis

HENRY SETIAWAN, 30, adalah sosok muda kreatif yang memiliki semangat tak kunjung padam. Ide-ide segarnya selalu muncul atas dorongan rasa keingintahuan.

Sudah tak terhitung yang berhasil bahkan mampu untuk membuka peluang usaha dengan strategi baru. Kemandirian yang ditunjukkannya menjadi jawaban atas keraguan para generasi tua pada umumnya. Sepak terjang di dunia bisnis yang dilakukannya dimulai pada saat dia kuliah di Ohio State University, Amerika Serikat.

Saat itu dia mengenal sesuatu yang baru dalam hidupnya, yakni jual beli (trading) saham. Walau hanya bermodalkan "uang jajan", namun dia bisa mengumpulkan uang sampai USD40 ribu. Proses itu memang tidak gampang, sekira tahun 2000-an dia sempat jatuh bangun hingga harus bekerja di sebuah perusahaan produk makanan ternama di Amerika. "Waktu itu nilai dolar mencapai Rp17 ribu per dolar. Saya bisnis trading saham sambil kuliah, cuma iseng-iseng saja. Sempat jatuh sampai hancur juga, sampai uang sekolah, uang makan semua dipakai. Tapi saya tidak kapok biarpun harus kerja menjadi pelayan,"tutur Henry, dalam wawancara di sebuah factory outlet di Jalan Setia Budhi, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Menjadi trader saham merupakan pelajaran pertamanya dalam memahami dunia bisnis. Namun naluri bisnis yang diwariskan dari orang tuanya, Edhi Setiawan dan Anne Setiawan, tertanam cukup kuat. Meski dalam keadaan terpuruk dia tidak pernah mengeluhkan hal itu kepada orang tua. Semua dihadapi sendiri hingga bisa mengembalikan modal plus keuntungan dalam bisnis saham tersebut. Walau hanya iseng, tetapi justru dari pengalaman itu Henry mengenal bisnis saham.

"Saya juga sampai bekerja di perpustakaan sekolah, karena jatuh dan harus mengembalikan keuntungan. Orang tua saya tidak tahu.Memang mereka tidak usah tahulah; saya yang berbuat,maka saya pula yang bertanggung jawab," katanya. Setelah lulus pada akhir 2001, Henry menyandang gelar bachelor science of bussines administration in finance. Pehobi sepak bola, basket, dan voli itu sempat bekerja di sebuah perusahaan broker saham ternama di Amerika. Pengalaman yang dijalaninya membawa Henry ke dalam satu dinamika hidup yang sempurna. Walau masih muda, tapi anak pertama dari tiga bersaudara itu tidak pernah ceroboh dalam mengambil keputusan.

Hal itu didasari oleh kematangan sikap hingga mencapai kesuksesan dalam kariernya. Sebelum pulang ke Tanah Air, pada 2002 hingga 2003, Henry bekerja di sebuah perusahaan industri plastik di Fujian, China, dengan jabatan VP Marketing. Setelah itu pindah ke Hong Kong, bekerja di Wing Crown Co,Ltd, dengan jabatan yang sama hingga 2004. Kemudian pekerjaan itu dia lepas lantaran lebih terpanggil untuk mengurus perusahaan keluarga, yakni PT Muara Teguh Persada milik sang ayah Edhie Setiawan. Dia mengaku, rasa tanggung jawab untuk melanjutkan dan mengembangkan perusahaan milik ayahanda yang bergerak di bidang pendistribusian Pupuk Kujang cukup besar. Padahal Henry merasa ilmu dan pengalamannya belum cukup untuk melanjutkan secara penuh perusahaan tersebut.

"Saya butuh gemblengan untuk mengembangkan perusahaan ini. Karena itu saya sengaja menggali pengalaman dengan membuka bisnis sendiri, agar suatu saat benar-benar sudah matang untuk mengembangkan perusahaan tersebut," katanya. Mencapai kesuksesan ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pahit getir selama menggeluti dunia bisnis dirasakan pula oleh Henry. Tak tanggung-tanggung, sekira tahun 2007 dia harus mengganti sendiri uang milik para kliennya sebesar Rp10 miliar,setelah modal dan keuntungan perusahaan yang bergerak di bidang investasi dibawa kabur oleh rekannya sendiri. Perusahaan yang dibinanya bergerak di bidang investasi tersebut didirikan pada 2004 lalu.

"Tapi saya tidak boleh merugikan para investor, kerugian para klien saya hadapi sendiri sampai uang saya terkuras habis," terang Henry yang enggan menyebutkan nama perusahaan tersebut. "Saya berguru pada papa saya dalam menggeluti dunia bisnis. Dia orangnya sangat ulet dan tidak ada kata menyerah, walau seberat apa pun cobaannya," ungkap Henry. Setelah beberapa tahun mengelola perusahaan tersebut, kemudian dia menjualnya. Bukan karena ketidakseriusan, tapi ayah dari Axton Setiawan (tiga bulan) ini selalu 'gatal' untuk mencari tantangan demi menggali pengalaman baru. "Perusahaan itu dijual sekira tiga tahun yang lalu. Saya lakukan itu dengan sebuah pertimbangan yang matang setelah saya dengan tangan sendiri mengatasi kemelut di tubuh perusahaan. Saya yakin itu adalah sebuah keputusan yang tepat," ucap Henry.

Henry tentu cukup cerdik dalam menggeluti dunia usaha. Beruntung perusahaan itu bukan satu-satunya yang didirikan Henry. Dia pun mendirikan PT Muara Teguh Persada yang berkembang hingga sekarang. Selain itu, pada 2005, dia juga mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, Founder Weston Financial Group.Dalam mengelola dana para investor besar yang dipercayakan kepadanya, transparansi menjadi kunci yang senantiasa dipegang teguh untuk memelihara kepercayaan orang lain.

Dana para investor itu pun dikelola secara terbuka, dan saling menguntungkan. Alumnus SMA St Aloysius Bandung tahun 1998 itu membentuk sebuah team workyang solid dalam menjalankan perusahaan. Untuk memperkokoh target keberhasilan, dia lebih mengedepankan edukasi terhadap nasabah atau investor yang akan mempercayakan uangnya.Dia mengaku enggan mengumbar janji muluk yang belum tentu akan membuahkan kepercayaan. Benih kesuksesan yang lebih besar mulai tampak pada diri Henry. Sosok muda ini dipercaya orang tua untuk menjadi salah satu pewaris PT Muara Teguh Persada, sebuah perusahaan distributor Pupuk Kujang yang terbesar di Jawa Barat.

Bukan hanya itu, dia pun dipercaya untuk mengelola PT Jawimas Trans, perusahaan expeditur Pupuk Kujang yang berbasis di Bandung Jawa Barat.Meski saat ini belum terjun secara penuh, Henry cukup konsisten dalam menjalani kariernya di bidang tersebut. Kini dia tengah berkonsentrasi penuh mengelola bisnisnya sendiri di Zivaro Production, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa label rekaman, konsultan musik, event organizer, dan manajemen artis.Henry mengambil peran sebagai chief executive office (CEO) di perusahaan tersebut. Bahkan dalam waktu dekat Zivaro Record akan mempromosikan artisnya, yaitu EX-MEMBER Band. Henry pun terlibat di dalamnya sebagai penggebuk drum.

"Menjalankan perusahaan label ini sebetulnya terdorong oleh hobi saya di dunia musik. Ya mengelola, ya main musik juga," papar laki-laki kelahiran Bandung, 5 Juni 1980,ini. Kakak dari Erwin Setiawan dan Felix Setiawan ini boleh dibilang sebagai generasi muda yang multitalenta. Dia merupakan salah satu contoh produk keluarga pebisnis yang sukses. Sosok yang tahu akan keadaan dan tanggung jawab keluarga di masa yang akan datang itu lebih dulu menggali potensi diri semaksimal mungkin dengan pengalaman dan pemahaman ilmu yang beragam, dari pendidikan formal hingga mempraktikkan bisnisnya sendiri.

"Walau harus jatuh bangun, saya lakukan semua ini demi sebuah kematangan secara lahir maupun batin sebelum diberikan tongkat estafet oleh ayah saya untuk memimpin perusahaan keluarga," kata Henry.

"Life is gambling (hidup adalah tebakan)," demikian moto hidup yang dipegang Henry Setiawan, suami dari Astrid Teadi. Baginya, bisnis apa pun adalah masa depan. (atep abdillah kurniawan)(adn)(Koran SI/Koran SI/rhs)

--

Perempuan Tangguh di Dunia Bisnis Indonesia
Selasa, 30 November 2010 - 16:16 wib
Wakil Direktur Utama BNI Felia Salim. Dok BNI

KIPRAH perempuan Indonesia di kancah bisnis kini sudah tidak diragukan lagi. Saat ini kian banyak perempuan yang memainkan peran penting di dunia bisnis, khususnya di kursi eksekutif.

Ya, perempuan dan bisnis seakan menjadi topik yang tidak ada habisnya. Ada kalangan yang masih meragukan kepatutan perempuan duduk di puncak korporasi. Tetapi, tidak sedikit pula yang berasumsi sebaliknya.

Saatnya perempuan terus berkarya di kancah bisnis. Sebuah studi bertajuk A Woman’s Nation Changes Everything yang dirilis Maria Shriver dan The Center for American Progress akhir tahun lalu sangat layak disimak.

Di mana dalam laporan tersebut diungkapkan fakta bahwa separuh dari karyawan di Amerika Serikat (AS) perempuan. Tidak sedikit yang justru menduduki posisi puncak di perusahaan. Nah, bagaimana dengan perempuan Indonesia?

Perempuan Indonesia terus memperlihatkan perannya di sektor ekonomi. Hal ini dibuktikan dengan adanya sejumlah perempuan Indonesia yang menduduki jabatan penting di perusahaan besar. Sebut saja Felia Salim, Wakil Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI).

Felia berperan penting dalam pengambilan kebijakan bank pelat merah tersebut. Jabatan ini diemban Felia sejak 6 Februari 2008. Sebelum memegang jabatan ini, Felia sudah melanglang buana di sejumlah posisi strategis bidang keuangan seperti menjabat komisaris BNI sejak 2004 hingga 2008. Pada periode 1994–1999, Felia mengemban amanah di PT Bursa Efek Jakarta dengan menjabat posisi direktur.

Peraih gelar Bachelor of Arts dari Carleton University (1983) ini juga pernah menjadi Ketua Sekretariat Komite Kebijakan Sektor Keuangan (2000–2001) dan Deputi Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (2001).

Tidak hanya sampai di situ, portofolio karier Felia juga diisi dengan jabatan Pjs Executive Director Partnership Governance Reform (2002) dan Pjs Executive Director Tifa Foundation (2003).

Jabatan lainnya sebagai Komisaris Independen Good Year (mulai 2003), Advisory Board–Financial Governance Technical Support AUSAID (mulai 2004), dan Ketua Governing Board of The Partnership for Governance Reform (mulai 2004), dan Komisaris Independen (2004-2008).

Tokoh wanita lain yang juga tak kalah suksesnya di pucuk pimpinan korporasi adalah Aviliani. Namanya memang sudah akrab dalam dunia ekonomi Indonesia. Maklum, Komisaris Independen Bank Rakyat Indonesia (BRI) sejak 2005 ini sudah lama dikenal sebagai pengamat ekonomi.

Wanita kelahiran Malang 16 Desember 1961 ini merupakan peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sejak 1995. Perempuan yang akrab dipanggil Mbak Avi ini pernah menjabat sejumlah jabatan akademis seperti Ketua Jurusan Manajemen FE Universitas Paramadina (2002–2005), Pembantu Ketua II STIE Perbanas (2000–2002), dan Wakil Direktur Penelitian dan Pengabdian STIE Perbanas (1997-1999).

Kepiawaian Aviliani dalam bidang ekonomi pernah mengantarkannya menjadi moderator debat presiden pada Pemilu 2009. Saat ini Aviliani juga ditunjuk sebagai Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa bulan lalu.

Nama Parwati Surjaudaja semakin menambah panjang daftar top eksekutif perempuan di Tanah Air. Parwati menjabat sebagai Presiden Direktur Bank OCBC NISP sejak 2008. Sebelumnya dia menjabat sebagai Wakil Direktur Bank NISP yang dijalaninya sejak 1997.Sebelumnya Parwati menjabat Direktur Bank OCBC NISP, yang kala itu masih bernama NISP (1990-Juni 1997).

Peraih gelar MBA dan BSc dari San Fransisco State University Amerika Serikat (AS) ini juga pernah menjadi konsultan senior di SGV Utomo/Arthur Andersen (1987-1990). Perjalanan Bank NISP berkembang pesat selepas krisis ekonomi yang mendera Indonesia pada 1998. Hal ini pun menarik minat Bank OCBC Singapura dan membeli 74,73 persen saham NISP.

Pembelian ini membuat nama bank berubah menjadi OCBC NISP seperti yang sekarang dikenal. Sejumlah perubahan pun dilakukan. Daftar perempuan berpengaruh di kancah bisnis Indonesia makin panjang dengan munculnya Friderica Widyasari Dewi yang menjabat Direktur Pengembangan Usaha Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kehadiran perempuan yang akrab dipanggil Kiki di jajaran direksi menjadikan BEI lebih berwarna. Sebelumnya alumnus Universitas Gadjah Mada ini sudah lama dikenal sebagai artis dan model. Sebelum masuk dalam jajaran direksi, dia pernah menjabat Corporate Secretary BEI. Karena itu, Kiki wajar jika fasih menjelaskan berbagai istilah dunia keuangan yang rumit.

Dia juga tak segan bekerja keras untuk membantu memulihkan pasar modal Indonesia yang terkena imbas krisis global sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI terpangkas habis. Dunia Kiki saat ini tentu berbeda dengan dunia yang digelutinya pada era 1990-an.

Saat itu dia lebih dikenal dalam dunia hiburan sebagai artis dan model. Dunia yang penuh glamor ini ditinggalkan kala dia melanjutkan studi di California State University, Fresno, AS pada awal 2000.

Usai meraih gelar MBA pada 2004, dia memutar haluan kariernya ke Bursa Efek. Wanita kelahiran 28 November 1976 ini mengaku makin mencintai dunianya saat ini. Dalam blog pribadinya dia menulis “Bagiku, hidup ini seperti air sungai, mengalir.”

Nama Karen Agustiawan tentu tidak bisa dilepaskan jika berbicara mengenai top eksekutif wanita. Maklum, Karen adalah sosok perempuan Indonesia yang membuat sejarah baru di dunia bisnis perminyakan.

Dia adalah wanita pertama yang menduduki kursi Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina. Sebelum menjabat Dirut Pertamina, Karen sudah melewati karier panjang dalam dunia perminyakan.

Wanita kelahiran Bandung 19 Oktober 1958 ini usai me-nyelesaikan studinya di Institut Teknologi Bandung pada 1983 langsung terjun di bisnis perminyakan dengan bergabung bersama MobilOil Indonesia.

Dia menjabat analis dan programmer dalam pemetaan sistem eksplorasi. Sukses di posisi ini, pada 1987 Karen menjadi Seismic Processor and Quality Controller MobilOil Indonesia untuk beberapa proyek seismik Rokan, Sumatra Utara, dan Madura. Pengalaman kerja di luar negeri dirasakan Karen ketika pada 1989 dia diboyong MobilOil Dallas ke AS.

Sampai akhirnya Karen ditarik ke Indonesia pada 1992 dan menjadi Project Leader di bagian Eksplorasi MobilOil yang menangani seluruh aplikasi studi G&G dan infrastruktur yang dijalaninya sampai 1993. Sejumlah jabatan lain dilakoni Karen di perusahaan perminyakan dan oli hingga pada 2008 ketika Ari H Soemarno, Dirut Pertamina kala itu, mengangkatnya sebagai Staf Ahli Dirut.

Kemudian dia diangkat sebagai Direktur Hulu PT Pertamina. Hingga akhirnya menduduki kursi orang nomor satu di Pertamina dan mencatat sejarah baru. (abdul malik/islahuddin)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Modal Nekat, Peternak Ini Omsetnya Rp500 Juta
Sabtu, 22 Januari 2011 - 13:24 wib
R Ghita Intan Permatasari - Okezone
Triyono. Foto: Dok Pribadi

NEKAT, itulah kata pertama yang keluar dari mulut seorang pengusaha agrobisnis, Triyono ketika ditanya bagaimana awal mula merintis usahanya hingga maju seperti sekarang ini.

Pria asal Malang ini merupakan pengusaha agrobisinis yang khusus menangani peternakan dan juga pemotongan hewan ternak sapi dan ayam dengan nama perusahaan Tri Agri Aurum Multifarm.

Sebelum terjun ke dunia pemotongan dan peternakan sapi dan ayam, Triyono mengawali usahanya dengan mengelola bebek potong. Usahanya ini dia rintis sejak tahun 2006 hingga sekarang.

"Pertanyaan besar sewaktu saya kuliah, kalau lulus nanti mau jadi apa? Karena kalau bekerja adalah hal yang sulit bagi saya. Ya akhirnya mulai 2006 saya mencoba merintis usaha waktu itu, bebek potong waktu itu. Jadi nekat, tidak punya uang, utang ke bank. Nekat-nekatan saja," ungkap Triyono sambil tersenyum kepada okezone di Jakarta, belum lama ini.

Setelah itu pada tahun 2007, Triyono terinspirasi sewatu melihat hewan-hewan kurban dan mulai tepikir untuk membangun sebuah peternakan (farm). Dan tentu saja untuk membangun sebuah farm diprlukan dana yang tidak sedikit. Untuk itu, Triyono berinisiatif untuk membentuk sebuah Kelompok bersama agar bisa berinvestasi dalam usaha ini. Yakni dengan teman-teman kuliah Triyono dan orang yang minat pada usaha peternakan ini mereka bersama-sama berinvestasi pada bisnis ini.

Perlahan namun pasti usaha ini pun mulai berkembang, dimana pada tahun 2008, dengan mengandalkan lahan yang awalnya tidak terlalu besar untuk mebangun kandang-kandang dan mulai ada ternak sapi.

Setahun kemudian yaitu pada tahun 2009, pria yang merupakan sarjana peternakan dari Univesitas Sebelas Maret ini mulai mencari inisiatif lagi untuk dapat mempertahankan usaha, yaitu dengan mulai melirik bisnis yang tidak jauh dari bidang peternakan juga yaitu peternakan dan pemotongan ayam.

Lalu Triyono berpikir jika dirinya hanya melakukan bisnis pada satu hewan ternak saja yaitu sapi, perusahaannya tidak akan kuat. Baik dari segi finansial atau infrastruktur.

Dengan modal awal yang hanya berkisar puluhan jutan dan ditambah dengan modal investasi sekitar Rp300 juta, kini Triyono dapat meraup omset rata-rata sekitar Rp500 juta.

Saat ini selain bergerak di pemotongan dan peternakan ayam dan sapi, Triyono juga mengolah limbah-limbah perusahaan untuk dijadikan pupuk organik. Dan saat ini Triyono memiliki lebih dari 30 ekor sapi dan ayam sekitar 25 ribu ekor.

Pada tahun 2011 ini Triyono pun bercita-cita untuk melalukan ekspansi usaha dengan memasuki pasar Jakarta untuk daging sapi. Triyono pun ingin mempunyai usaha yang besar untuk sapi ini, karena Triyono melihat Indonesia merupakan importir terbesar di dunia untuk daging sapi.

Dari sini Triyono melihat bahwa ada peluang di sektor ini. Tidak muluk-muluk Triyono pun bercita-cita untuk menggantikan Australia dalam hal ekspor daging sapi. "Saya berharap Indonesia bisa menggantikan Australia untuk ekspor daging. Ya tidak harus jauh-jauh ke sekitar Singapura, Malaysia, Qatar dan Arab," jelasnya.

Perjalanan Triyono dalam merintis usaha ini bukan tanpa rintangan. Rintangan, kendala, batu kerikil pasti selalu ada dalam perjalanan menuju sebuah kesuksesan. Adapun kendala-kendala yang dihadapi oleh Triyono antara lain dalam kurun waktu 12 bulan, ada tiga atau empat bulan yang penjualannya tidak memuaskan atau minus, akibatnya tagihan dari bank membengkak.

"Namun jika semua permasalahan bias diselesaikan dengan baik, maka rintangan atau kendala seberat apapun bisa terselesaikan," tuturnya.

Tips sukses ala pria berkacamata ini adalah jika ingin menjadi pengusaha yang baik dan benar maka berpikirlah unutk menjadi pengusaha. Triyono yakin bahwa apa yang manusia pikirkan itulah yang akan terjadi.

Dimana jika ingin menjadi pengusaha, berpikirlah bagaimana caranya untuk menjadi pengusaha yang baik, kreatif, inovatif, karena untuk menjadi pengusaha bukanlah merupakan hal yang mudah. Tidak seperti karyawan yang hanya menunggu perintah dari bosnya saja. Selain itu, modal lain untuk menjadi pengusaha adalah harus berani mengambil resiko.

"Kalau mau jadi pengusaha itu, jangan lihat nanti bagaimana. Tapi bagaimana nanti saja, sikat dulu urusan leher belakangan. Saya tidak akan menceritakan masa lalu saya dengan detail. Tapi saya bisa menceritakan pemikiran saya dan hasil pemikiran saya ke depan dengan detail," tutupnya.(wdi)

--

--
Poles Kaos Islami Jadi Pencetak Laba
Minggu, 16 Januari 2011 - 15:24 wib
Ilustrasi. Foto: Corbis

BISNIS online kurang menguntungkan? Pengusaha busana distro online Ines Handayani membuktikan sebaliknya. Kendati calon pembeli hanya disuguhi data dan tampilan visual belaka, jika mampu menjaga kepercayaan, pemasaran pun akan lancar dan terbuka.

Jeli dan kreatif, itulah gambaran pemilik bisnis distro (distribution outlet) online muslimdistro.com Ines handayani. Ia jeli melihat peluang pemasaran secara online untuk bisnis busana muslim yang digelutinya.

Ia juga kreatif memoles busana muslim, produk yang dijualnya, dengan nuansa anak muda yang “gaul” dan segar yang cocok dengan cara pemasarannya. Menggabungkan keduanya, Ines sukses menjalankan usaha yang dimulainya bersama sang suami sekitar tiga tahun silam.

Secara umum, bisnis yang digeluti Ines tak banyak berbeda dengan bisnis distro pada umumnya, yakni menyediakan busana dan perlengkapannya. Namun, produk yang diliriknya memang agak berbeda, yakni pakaian muslim yang umumnya dijual secara tradisional.

Tapi uniknya, Ines memilih anak muda sebagai segmen pasarnya sehingga pakaian distro yang ditawarkannya pun berbeda dengan busana muslim pada umumnya yang formal dan cenderung “itu-itu” saja. Ines banyak memilih pakaian jenis T-shirt atau kaos yang umumnya identik dan digandrungi anak muda.

Namun, sesuai ide awalnya, identitas pakaian muslim tetap muncul melalui gambar dan kata-kata yang tercetak pada barang dagangannya itu. “Dari sekian banyak kaos distro,belum ada yang spesifik menargetkan konsumen muslim, artinya kaosnya hanya untuk segmentasi anak muda saja. Nah muslimdistro.com ini adalah diferensiasi dari keadaaan pasar itu,” jelas ibu tiga anak kelahiran Jombang ini.

Ines mengaku memulai bisnisnya dengan modal hanya sekitar Rp24 juta. Dari total modal tersebut, jumlah terbesar digunakannya untuk pengadaan barang, yakni Rp16 juta. Sisanya, Rp8 juta digunakannya untuk menjalankan toko online-nya.

“Running online store itu terdiri dari membuat website, pemotretan studio foto, biaya komunikasi seperti peralatan pengirim pesan pendek (SMS),untuk software-nya, dan lain-lain,” paparnya.

Pemilihan bisnis online, kata Ines, didasari pertimbangan bahwa hal itu akan mendatangkan banyak keuntungan baginya, antara lain tidak harus mengeluarkan biaya untuk membayar sewa tempat dan memungkinkannya menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya murah.

Melalui cara pemasaran online, jelas dia, para pelanggan cukup melakukan pemesanan melalui telepon atau menggunakan aplikasi yang ada di laman miliknya. Setelah order masuk, pihaknya akan menyiapkan barang dan melakukan konfirmasi pembayaran oleh pembeli melalui rekening yang telah disiapkan. “Kalau semua oke, barang akan langsung dikirim,” tuturnya.

Ines mengaku menggunakan jasa ekspedisi untuk mengirim produknya. “Kami menggunakan jasa logistik yang sudah ada seperti pos, tergantung dikirimnya ke mana. Kalau untuk mengirim ke luar negeri pakai jasa kiriman yang tersedia,” kata Ines.

Mengenai biaya pengirimannya, menurut Ines, hal itu dibayarkan oleh pembeli karena harga produk yang dijualnya belum termasuk biaya pengiriman. Satu hal penting yang harus dilakukan sebelum melakukan pengiriman, imbuh Ines, adalah memeriksa barang yang dipesan pelanggan, demi memastikan tidak terjadi cacat produk. Itu penting untuk menjaga kepercayaan para pelanggan atas produk-produknya.

Dalam berbisnis secara online, pembeli hanya bisa menilai barang yang dijual secara visual dan tidak bisa langsung merasakan produk yang diminatinya. Karena itu, tegas Ines, penting untuk menjamin para pembelinya bahwa barang yang dibelinya adalah barang bagus dan sesuai spesifikasi yang disebutkan.

Hal ini menurut dia menjadi tantangan yang terbesar, bagaimana untuk selalu mengedepankan kepercayaan pelanggan-pelanggannya. “Kami akan tanggung 100% uang kembali jika terjadi kerusakan barang.Yang penting adalah kepercayaan,” papar Ines.

Namun, tegas Ines, distribusi secara online juga bukan perkara mudah. Banyak yang harus dilakukan untuk mengenalkan bisnisnya pada calon pelanggan. Antara lain, ia harus sigap membuka jaringan dengan membentuk kemitraan dengan pedagang sejenis, sebut saja moslemchannel yang kini menjadi mitra bisnisnya.

Kendati demikian, menurut dia, saat memulai bisnisnya di bulan Maret tahun 2008, muslimdistro. com langsung mampu menggaet sejumlah pelanggan. Muslimdistro. com, kata dia, bisa menjual hingga 2.000 potong pakaian pada bulan ketiga setelah pendiriannya.

Saat itu, kaos yang ditawarkan Ines dibanderol dengan harga Rp80.000 per potong. Hal ini yang membuat Ines optimistis terhadap bisnis online yang saingannya saat itu sudah cukup banyak, bahkan di antaranya adalah distro-distro yang sudah memiliki nama.

“Menurut kami yang masih trial saat itu, not bad,” tutur Ines sambil tersenyum mengingat awal menjalankan bisnisnya. Menurut Ines, dalam menjalankan bisnis seperti yang dilakoninya, seseorang harus bisa mencari celah untuk memasarkan produknya.

Dia juga harus pandai membaca kapan naikturunnya penjualan dan memanfaatkan momen tersebut sebaik-baiknya. Khusus busana muslim, kata dia, ada siklus tertentu di mana penjualan akan meningkat tajam.

“Dari satu bulan sebelum puasa, biasanya penjualan akan naik, inilah karakteristik bisnis busana muslim,” tuturnya.

Selanjutnya, kata Ines, menjelang akhir tahun hingga awal tahun, biasanya merupakan bulan-bulan sepi. Untuk bulan yang terbilang sepi Ines hanya mampu menjual 100-200 potong pakaian per bulan.

Namun sebaliknya,pada bulan-bulan ramai, Ines mengaku bisa menjualnya 800-1.000 potong pakaian per bulan. Di bulan-bulan ramai itu, kata dia, keuntungan yang diperoleh biasanya 25 persen dari total omzet yang diperolehnya selama setahun.

Menurut Ines, untuk menggenjot penjualan, resep lain juga dipakai. Antara lain, desain baju yang dijual tidak dibikin ulang. Dengan demikian, pelanggan tak akan bosan. Dari sisi kualitas, kata dia, peningkatan juga dilakukan.

Terkait dengan kualitas, Ines mengatakan bahwa hal itu memang memiliki konsekuensi harga jual akan meningkat.Tahun ini misalnya, kaos distro yang dijual Ines mengalami kenaikan hingga menjadi Rp85.000 per potong.

Namun, itu diimbangi dengan pemilihan bahan dan teknik penjahitan yang lebih baik. Lebih lanjut, Ines mengatakan bahwa dalam usaha ini, pihaknya juga harus siap melayani pelanggan eceran maupun grosir. Karena itu, untuk menarik pelanggan Ines membuat sistem diskon harga yang menarik.

Misalnya, pembeli yang memesan tiga potong pakaian mendapatkan potongan harga Rp10.000. Mengenai persaingan, Ines mengaku bahwa hal itu tidak bisa dihindari. Menurut dia, pemain di bisnis distro makin hari kian menjamur.

Namun, dia berharap bisnisnya tetap eksis kendati semakin banyak pesaing di bidang yang sama. Sebagai yang termasuk paling awal terjun ke bisnis kaos distro muslim, Ines cukup percaya diri bahwa bisnisnya telah memiliki basis konsumen dan akan dapat terus berkembang. Kini, Ines sudah mengirim produknya hingga ke daerah Mimika dan Bau-Bau. (cahyo kurnia perdana)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Evan Williams Rancang Berjuta Cara Twitter Hasilkan Uang
Rabu, 24 November 2010 - 08:07 wib
Logo Twitter

PENDIRI Twitter, Evan Williams, pekan lalu menutup Web 2.0 Summitdi San Francisco dengan berbicara terus terang tentang bisnisnya.Secara tegas dia mengatakan layanan microblogging memiliki rencana masa depan yang menguntungkan.

Tahun ini Williams memang berbicara banyak di forum tahunan itu, berbeda dengan tahun sebelumnya yang pelit ngomong. Sampai- sampai,moderator pada konferensi tersebut,John Battelle,menggarisbawahi bahwa Williams “telah memulai menjawab setiap pertanyaan yang muncul”.

Williams mengakui, dirinya butuh waktu untuk mengenal dan mempromosikan tren tweet, yang berfungsi sebagai iklan. Selain itu, dia menganggap perusahaan-perusahaan memiliki alasan untuk berhati- hati jika akan melakukannya.

”Kita tidak bisa meletakkan sesuatu di hadapan seseorang jika mereka tidak peduli dengan hal itu karena tidak semua hal akan bekerja sebagaimana promosinya.Tapi sekarang, tren kenaikan percakapan tentang sebuah topik mencapai 3–6 kali,”ujar Williams seperti dikutip CNNMoney.

Namun, pria kelahiran 31 Maret 1972 itu tidak mau berkomentar banyak mengenai angka-angka atau nilai dolar secara spesifik terkait proyeknya di masa mendatang. Dia hanya menegaskan bahwa perhitungannya cukup baik pada produk yang dipromosikan dan membuat sebagian besar pengiklan kembali menggunakan medianya.

”Ada berjuta cara untuk menghasilkan uang lewat Twitter. Saya yakin kami akan mencobanya lagi,” ujar William.

William sadar, untuk bersaing di bisnis internet, pihaknya harus selalu membuat inovasi.Maka,dia pun bersama timnya melakukan pengembangan berupa peluncuran ”New Twitter” pada musim panas lalu.

Salah satu inovasi yang diusungnya adalah dengan membuat tata letak dan fitur sosial seperti ”Who to Follow”.

”Kami sedang berada pada periode transisi sebelumnya, kami menghabiskan sangat sedikit waktu untuk melakukan peningkatan produk. Itulah mengapa kami harus menggunakan semua waktu yang kami miliki,”ujar Williams.

Dia menambahkan, sudah memperoleh poin bahwa perusahaannya memiliki waktu dan sumber daya untuk melakukan sejumlah peningkatan tahun ini. Williams yang sebelumnya bekerja pada perusahaan pengelola software, Pyra Labs,mengakui jika dia sendiri sudah mengalami masa transisi di Twitter.

Hal itu ditunjukkan dengan diserahkannya jabatan chief executive officer (CEO) di Twitter kepada mantan chief operation officer (COO)-nya Dick Costolo. Ini dilakukan dengan alasan agar dia lebih fokus pada produk dan desain Twitter.

“Menjadi CEO di perusahaan swasta, lalu mengambil sesuatu yang berisiko bagi perusahaan adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan,” ujarnya.

Transisi Twitter juga melibatkan kemitraan dengan perusahaan teknologi lainnya. Tahun lalu, Twitter membuat kesepakatan untuk memasukkan alirannya ke mesin pencari Google dan Bing dari Microsoft. Williams menuturkan, seiring dengan semakin banyaknya permintaan untuk data, Twitter diklaim telah melebihi kapasitas. Akhirnya, Twitter pun menandatangani kesepakatan dengan Gnip untuk menjual sebagian dari data ”firehose”di Twitter.(Rosmiyati Dewi Kandi/Koran SI/wdi)

--

Berani Mulai dari Awal, Usahanya Beromzet Rp100 Jt
Minggu, 21 November 2010 - 15:14 wib
ilustrasi. foto: corbis

JAKARTA - Karier mulus, jabatan tinggi, untuk sebagian orang bukanlah tujuan akhir. Bahkan, bagi mereka, kembali memulai dari bawah sama sekali bukan masalah demi mengembangkan usaha sendiri.

Avianto Suwito adalah salah satu dari orang-orang dengan visi dan keberanian berlebih tersebut. Pada 2000, Avian, demikian dia biasa dipanggil, memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai area manajer supermarket Hero wilayah DKI Jakarta–Jawa Barat, tempatnya mengabdikan diri bekerja selama lebih dari 15 tahun. "Waktu di Hero saya bekerja di bagian processing food development," ujar Avian.

Namun, terbukti bahwa keputusan, keberanian, dan perhitungannya tepat. Kini, Avianto Suwito menjelma menjadi seorang pengusaha sukses di bidang pengolahan makanan.

Berbekal pengetahuan di bidang pengolahan makanan yang diperolehnya selama bekerja, dia merintis usaha di bisnis makanan olahan. Mahir dan memiliki pengetahuan serta pengalaman cukup dalam bidang pembuatan roti dan makanan, Avian memilih untuk membuka usaha pembuatan roti.

Alasan dia memilih bidang usaha itu karena industri pengolahan roti terbilang sederhana dan tidak membutuhkan proses yang mengedepankan kontrol penuh selama 24 jam dalam sehari.

Dengan tekad bulat, tahun 2000 dia realisasikan mimpinya dengan mendirikan Tulip Bakery yang berlokasi di Pamulang, Tangerang Selatan. Dia mengakui, modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha di bidang pengolahan makanan ringan itu terbilang besar untuk ukuran industri kecil dan menengah. "Tahun 2001 saya buka usaha ini dengan modal cukup besar, sampai Rp500 juta,” paparnya.

Modal tersebut diperolehnya dari hasil menabung selama bekerja 15 tahun lamanya. Avian mengaku tidak meminjam modal dari bank untuk membuka usahanya.

Menurut Avian, tingginya modal adalah karena peralatan yang dibutuhkan untuk proses produksi pembuatan roti terbilang sangat mahal. Begitu pula dengan bahanbahan yang dibutuhkan untuk proses pengolahan, juga terbilang sangat mahal.

Sebab, bahan-bahan pembuat roti sebagian besar tidak bisa diperoleh di dalam negeri. Menurut Avian, dia maupun pengusaha roti lainnya memesan bahan pembuat roti langsung dari Malaysia, Singapura, dan negara-negara Eropa yang terkenal sebagai penghasil roti kualitas dunia semisal Prancis dan Italia.

"Selain untuk kebutuhan bahan-bahan tadi, modal yang besar juga dibutuhkan untuk sewa tempat, yakni sebesar Rp30 juta," ujarnya.

Dia memahami konsekuensi awal dari upayanya saat merintis usaha tersebut, yakni tidak akan mendatangkan keuntungan yang besar pada saat awal. Avian memaparkan, enam bulan pertama usahanya dijalankan, tidak ada hasil yang maksimal yang diperolehnya.

“Itu saya sadari sejak awal. Tantangan terberat pengusaha baru adalah tidak memperoleh keuntungan pada masa awal merintis usaha,” tuturnya.

Avian mengatakan, enam bulan pertama usahanya berjalan, omzet yang didapatnya hanya sebesar Rp30 juta-Rp40 juta per bulan. Hasil itu hanya cukup untuk membiayai produksi dan menggaji karyawannya.

Namun, tidak menyerah sampai di situ, Avian tetap bersemangat dalam merintis usahanya.Alhasil, secara perlahan tapi pasti, omzet usahanya mulai meningkat. “Pelan-pelan omzet mulai naik. Sekarang sudah di atas Rp100 juta per bulan,” kenangnya.

Menurut Avian, dalam merintis usaha pengolahan makanan, yang dibutuhkan adalah improvisasi dan inovasi tanpa henti. Hal itu, kata dia, harus disadari penuh dan dijalankan tanpa kecuali.

Sebab, tanpa improvisasi dan inovasi baru, usaha yang dirintis akan segera tertinggal pesaing-pesaing di bidang yang sama. “Dengan berinovasi dan kreatif, maka produk yang dihasilkan akan lain dan membuat kita berada di posisi depan dalam persiangan usaha yang sehat,” bebernya.

Beberapa inovasi yang sempat dijalankannya, kata dia, adalah hasil dari pembelajaran dan ilmu yang didapatnya selama bekerja. Sebagian lainnya, diperoleh saat menjalankan usaha dan bersinggungan langsung dengan konsumennya.

Dia mencontohkan, di tahap dasar ia belajar mengenai roti ala Eropa yang cenderung keras. Maka, roti jenis itu pula yang diproduksinya. Namun, dalam perkembangannya, dia mempelajari bahwa karakteristik konsumen Indonesia justru tidak memungkinkan dia untuk mempertahankan jenis roti Eropa.

Lantas, kiblatnya pun beralih ke jenis roti Taiwan yang lebih halus dan lebih digemari masyarakat Indonesia. Bahkan, kata dia, dari pengalamannya dia tahu bahwa untuk kawasan Asia Tenggara, jenis roti Taiwan yang sangat halus adalah yang paling tinggi permintaan pasarnya.

“Sesuai dengan karakteristik itu, inovasi dan ide-ide segar pun dihadirkan dengan mengadopsi jenis roti yang lebih halus. Kita juga harus pandai melihat permintaan masyarakat atau segmennya. Jadi, masyarakat Indonesia bisa menikmati yang di suka,” ungkapnya.

Mengenai kendala, selama 10 tahun merintis usahanya, Avian mengatakan bahwa rintangan terbesar yang dihadapinya untuk mengembangkan usaha adalah persoalan tenaga kerja.

Untuk proses pembuatan roti, papar dia, dibutuhkan tenaga kerja yang terampil dan memiliki keahlian khusus di bidang tata boga. Saat ini, Avian mempekerjakan sebanyak 11 orang karyawan yang diambil melalui paradigma pemberdayaan masyarakat sekitar.

“Kesulitannya, lulusan SMK tata boga jarang ada yang langsung tertarik bekerja ke sini, mereka lebih memilih melanjutkan kuliah. Jadi, kita harus memberdayakan dan mendidik tenaga kerja yang ada,” ujarnya.

Kendati kendala menghadang, Avian tidak surut untuk mengembangkan usahanya. Dia mengaku, jerih payah dan keringat yang dicurahkannya selama 10 tahun dalam merintis usahanya, akan terus dioptimalkan untuk menghadirkan pola pelayanan dan pemasaran yang lebih baik bagi konsumennya.

Menurut dia, kendaraan operasional diyakini mampu menjawab tantangan ke depan sekaligus mewujudkan harapan dan keinginannya. “Saya merencanakan, tahun depan akan membeli tiga sampai lima unit sepeda motor untuk operasional dan pemasaran. Saya yakin itu akan lebih efektif,” tuturnya.

Kini, setelah 10 tahun, Avian mengaku cukup berbangga dengan hasil yang telah dinikmatinya. Kualitas roti bercita rasa tinggi dengan mengedepankan inovasi dan kreasi, membuat usaha yang dirintisnya tetap diminati berbagai kalangan. (wisnoe moerti)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

CEO Liberty Media Corp yang Bergaji Tertinggi di AS
Kamis, 18 November 2010 - 11:02 wib
Pimpinan Liberty Media Corp Gregory B Maffei.

Pimpinan Liberty Media Corp Gregory B Maffei dinobatkan sebagai eksekutif bergaji tertinggi tahun ini dalam survei terbaru Wall Street Journal yang dirilis akhir pekan lalu.

MAFFEI, 50, dilaporkan memperoleh total kompensasi langsung sebelum pajak senilai USD87,1 juta sepanjang 2009. Jumlah tersebut empat kali lipat dibanding pendapatannya pada 2008.

Setelah Maffei, di urutan kedua terdapat Chief Executive Officer Oracle Larry Ellison yang total kompensasinya tahun ini mencapai USD68,6 juta. Pendapatan utama Ellison berasal dari kepemilikan saham senilai USD61,9 juta.

Eksekutif lain yang masuk daftar CEO bergaji tertinggi adalah Ray Irani, pimpinan Occidental Petroleum Corp. Posisinya tergeser ke peringkat ketiga dengan jumlah gaji total sebesar USD52,2 juta.

Besarnya pendapatan Irani dianggap cukup merefleksikan kinerja Occidental dalam setahun terakhir yang dinilai membaik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Padahal pada Oktober lalu pemegang saham perusahaan minyak itu sepakat memotong kompensasi eksekutifnya maksimal tiga per empat dari gaji sebelumnya.

“Total pembayaran Irani pada 2009 merefleksikan kepemimpinannya yang luar biasa dan luar biasa juga bagi pemegang saham,” ujar Juru Bicara Occidental.

Di urutan keempat, CEO Yahoo Carol Bartz memperoleh pendapatan USD44,61 juta dan kelima CEO CBS Laslie Ray dengan kompensasi senilai USD38,93 juta. Di urutan berikutnya, CEO Viacom Inc Philippe P Dauman membukukan total pendapatannya USD33,7 juta, termasuk dari bonus tahunan dan kompensasi atas kinerja perusahaan media itu.

Pemimpin bisnis lain yang masuk daftar bergaji tertinggi adalah Marc N Casper, CEO Thermo Scientific Inc. Pria yang ditunjuk sebagai CEO Thermo pada Oktober tahun lalu itu mengantongi pendapatan USD33 juta yang sebagian besar berasal dari kepemilikan saham, saham terbatas, dan bonus kinerja.

“Lebih 90 persen dari total kompensasi langsung Casper terdiri dari penghargaan jangka panjang sejak dia ditempatkan sebagai CEO pada Oktober 2009,” ujar Juru Bicara Thermo Fisher.

Masa kerja singkat juga bukan halangan bagi CEO Boston Scientific Corp J Raymond Elliot mengumpulkan pundi-pundi pendapatannya yang mencapai USD32,1 juta. Dari jumlah tersebut USD1,5 juta di antaranya berupa bonus atas prestasi kerjanya.

Dia sendiri baru ditunjuk sebagai CEO Boston mulai Juli 2009. Eksekutif lain yang masuk deretan bergaji tertinggi di AS adalah Ralph Lauren, pendiri sekaligus perusahaan fashion Ralph Lauren Corp.

Menurut survei, pendapatan Lauren tahun ini mencapai USD27 juta yang berasal dari bonus kinerja dan kepemilikan saham yang meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Terakhir, eksekutif bergaji tertinggi versi Wall Street Journal-Hay Group adalah John H Hammergren, pimpinan McKesson Corp dengan total kompensasi USD24,5 juta. Sama seperti kebanyakan CEO lainnya, kekayaan Hammergren terbanyak dari kepemilikan saham dan bonus kinerja tahunan.

Pada survei Wall Street Journal - Hay Grop yang digelar selama periode 1 Oktober 2009 hingga 30 September 2010 terhadap 456 perusahaan publik terbesar di Amerika Serikat (AS) itu, diketahui total pendapatan Chief Executive Officer (CEO) mencapai USD4 miliar.

Dalam survei itu, diketahui bonus tahunan para CEO di AS mengalami kenaikan hampir 11 persen atau rata-rata sebesar USD1,67 juta, dibandingkan survei sebelumnya yang hanya naik 3,4 persen. Sebanyak 53 persen CEO juga dilaporkan memperoleh hibah saham terbatas, naik dari 48 persen pada studi April.

Survei Wall Street Jornalmenunjukkan adanya hubungan berbanding lurus dengan tingkat pengembalian para pemegang saham. Misalnya saja pemegang saham Liberty yang memperoleh gain 247 persen pada 2009,tertinggi di antara 10 besar perusahaan yang masuk daftar CEO bergaji tertinggi. Ukuran ini termasuk keuntungan dari harga saham ditambah dividen yang diinvestasikan kembali.

Secara keseluruhan, total rata-rata kompensasi langsung untuk CEO pada sampel tersebut naik tiga persen selama tahun fiskal 2009. Sementara, para pemegang saham memperoleh keuntungan hingga 29 persen.

Total kompensasi langsung yang dijadikan ukuran pendapatan tertinggi terdiri atas gaji, bonus dan nilai saham, kepemilikan, dan insentif jangka panjang lainnya. (rd kandi)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Raup Untung Jutaan Rupiah Lewat Rasa
Minggu, 7 November 2010 - 15:15 wib
ilustrasi brownies.

SIGIT Susilo adalah salah satu dari segelintir anak muda yang sukses. Bagaimana tidak, di usianya yang masih 24 tahun, Sigit mampu meraup penghasilan hingga puluhan juta rupiah dari usaha yang dijalaninya. Ide dan kreativitas merupakan modal utama Sigit dalam menjalankan bisnisnya.

Buktinya, dia mampu menghasilkan produk, yakni kue brownies yang terbuat dari tepung singkong, mengingat kebanyakan brownies yang dijual di pasaran saat ini menggunakan tepung terigu.

Kemudian, brownies ciptaannya itu dia jual dengan merek mr BrownCo. Konsep mr BrownCo adalah memadukan antara produk pangan lokal dengan modern. Sigit mendirikan mr BrownCo pada 6 Februari 2008 di lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga.

Sejak berdiri, sambutan konsumen sangat tinggi. Ini terlihat dari semakin meningkatnya angka penjualan dari bulan ke bulan. Kemudian diversifikasi dan inovasi produk terus dikembangkan dengan selalu mengikuti selera konsumen dan mengedepankan pelayanan terbaik.

Ketertarikan Sigit memulai bisnis bermula pada tahun 2004 sewaktu masih menjadi mahasiswa tahun pertama di IPB. Saat tinggal di asrama, kata Sigit, dia tertarik berjualan setelah melihat banyak teman-temannya yang jualan.

"Saya menjual produk orang lain, yakni nata de coco. Namun, sebenarnya peraturan asrama sendiri enggak membolehkan mahasiswa berjualan karena mengganggu ketertiban asrama. Selepas dari asrama tahun 2005, saya enggak jualan nata de coco lagi," papar Sigit.

Pada waktu itu, Sigit dan seorang temannya, Indra, memutuskan untuk membuat brownies biasa yang berbahan dasar tepung terigu. Bisnis kecil-kecilan itu mampu berjalan hingga tahun 2008 dan pemasarannya sebatas di lingkungan komunitas IPB.

"Awalnya kami membuat sebanyak dua kotak per hari, dan mendapatkan pendapatan sebesar Rp60 ribu per hari. Lama-lama, pendapatan kami bertambah menjadi sebesar Rp200 ribuper hari. Tapi tidak hanya menjual di kelas, kami juga menjual ke perumahan sekitar kampus. Walaupun produksi terbatas, mengingat waktu itu kami masih kuliah," papar Sigit.

Lalu pada tingkat akhir kuliah, bisnis yang dijalani Sigit dan Indra semakin berkembang, dan anggota tim pun bertambah dua orang, yakni Bahtiar dan Irna Melviyana. Ekspansi usaha pun coba dilakukan mereka, apalagi ketika itu mereka mendapatkan dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional sebesar Rp4 juta.

"Saya mengajukan proposal bisnis brownies ke PKM. Jadi sambil berbisnis, kami juga sekaligus menjalankan program PKM selama setahun. PKM semacam kompetisi seluruh kampus di Indonesia. Waktu itu proposal program kami adalah brownies ubi jalar dan talas. Sementara modal yang kami miliki sendiri sebesar Rp2 juta, jadi modal awal total Rp6 juta. Itu bisa dibilang kami ikut lomba bikin business plan," kata Sigit.

Modal Rp6 juta tersebut kemudian digunakan Sigit untuk membeli etalase toko di Bogor seharga Rp600 ribu, oven, mixer, sewa tempat sebesar Rp1,5 juta per tahun, pembuatan leaflet sebanyak 500 lembar, bahan baku brownies, dan sebagainya.

"Dalam setahun, modal itu berputar, dan pendapatan per bulan Rp9 juta. Waktu itu masih membuat brownies berbahan baku ubi jalar dan talas. Kita juga sering ikut pameran dan bazar. Selepas dari program PKM, kami mulai mengembangkan bisnis sendiri," kata Sigit.

Kreativitas Sigit terus berlanjut dengan melakukan inovasi mencoba berbagai bahan baku umbi-umbi lainnya, mulai dari tepung ganyong hingga tepung singkong untuk membuat brownies. Sampai pada akhirnya, dia menemukan bahan baku yang cocok untuk membuat brownies, yakni tepung singkong.

"Karena kami memang selalu mengutamakan untuk mengembangkan bahan baku pangan Indonesia. Yang namanya industri kan bukan hanya sekadar unik, tapi kontinuitas dari bahan baku itu tetap harus ada. Kalau memakai singkong murni dikukus kan buat industri tidak efektif," ujarnya.

Selain tertarik untuk menggunakan bahan baku pangan Indonesia, Sigit mengaku, juga ingin menekan penggunaan produk tepung terigu yang merupakan produk impor. Sementara itu, tahap percobaan menggunakan tepung singkong dan tes pasar hanya berlangsung selama sebulan.

Seiring dengan waktu, pada pertengahan 2009, Sigit berhasil meraup omzet sebesar Rp25 juta per bulan. Namun sayangnya, di tengah semakin berkembangnya usaha, semua anggota tim Sigit memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. "Setelah lulus, saya baru kembangkan usaha sendiri," ucapnya.

Kendati hanya seorang diri, Sigit tidak langsung putus asa dan tetap semangat untuk menjalankan usahanya. "Saya berharap brownies mr BrownCo ini nantinya bisa menjadi ikon oleh-oleh khas Bogor," tutur Sigit.

Strategi marketing yang dilakukan adalah dengan melakukan bazar dan pemeran, baik di sekitar kampus IPB maupun di wilayah Bogor dan Jakarta. Selain itu, promosi via online juga sudah dilakukan untuk mempromosikan produk mr BrownCo ke seluruh wilayah Indonesia, yakni melalui www.mrbrownco.com, www.oleholehbogor.com, maupun melalui situs jejaring sosial.

Saat ini, Sigit sudah memiliki satu outlet yang berlokasi di kampus IPB yang merupakan tempat utama untuk memasarkan produknya. Dia juga memasok hasil produksi di Botani Square dan beberapa agen di sekitar Bogor.

Rencana pengembangan bisnis mr BrownCo adalah dengan memperluas pasar di pusat kota Bogor dan merambah area Jabodetabek. Ada dua rencana pengembangan bisnis. Pertama, konsep booth, display, atau stan di tempat-tempat strategis, seperti mal, pusat jajanan khas Bogor, tempat rekreasi, atau jalan-jalan utama di Bogor.

Kedua, membuka outlet atau gerai yang memadukan antara brownies, kopi, dan makanan khas Bogor, di mana konsumen juga disediakan tempat untuk menikmati secara langsung produk-produk yang ditawarkan sambil menikmati hidangan kopi dan menu aneka brownies siap saji.

Tahap pertama yang segera direalisasikan, yaitu meresmikan pembukaan mini cafe di kampus IPB Darmaga. Mini cafe pertama yang akan dibuka pada November 2010 adalah perpaduan antara brownies dan kopi. Untuk membuka mini cafe, Sigit bekerja sama dengan seorang temannya, Asyhar. Dana yang dibutuhkan untuk membuka mini cafe itu sebesar Rp100 juta.

“Kami sekarang mengarah kepada sistem cafe. Konsepnya sekarang orang bisa makan dan minum sambil nongkrong. Karena menurut saya cocok, menghubungkan brownies dengan kopi. Untuk keuntungannya, sistemnya nanti bagi hasil,” ungkapnya.

Sigit mengaku, mampu menjual sebanyak 25-40 kotak brownies singkong setiap harinya. Biasanya, Sigit memproduksi 48 kotak brownies singkong panggang, 16 brownies singkong kukus, dan 100 cup brownies per hari dengan kisaran harga mulai dari Rp2.000 hingga Rp55 ribu.

"Tapi tergantung event, kalau puasa dan Lebaran biasanya akan lebih dari itu. Pada waktu liburan panjang juga meningkat, karena para mahasiswa IPB yang ingin pulang ke rumahnya, biasanya membeli untuk oleh-oleh. Jadi, ya sudah menjadi semacam gaya hidup mereka. Bahkan dulu, produk saya pernah sempat diberi tagline ‘gawenya anak IPB’," ucapnya.(Sandra Karina/Koran SI/ade)

--

Dari Kaset Bekas, David Jadi Bos Alat Musik Beromzet Rp350 Juta
Minggu, 31 Oktober 2010 - 12:15 wib
ilustrasi Foto: wordpress

HIDUP itu seperti roda yang selalu berputar, kadang di atas dan tidak menutup kemungkinan berada di bawah. Jika kini pria bernama lengkap David P Siagian mempunyai toko alat musik dengan penghasilan Rp350 juta per bulan, dulu hidupnya sempat terkatung-katung di Ibu Kota dengan pekerjaan sebagai penjual kaset bekas.

Ayah dua orang anak yang akrab disapa David ini tidak mendapatkan secara instan dari usaha yang kini telah sukses diraihnya. Bila sekarang David telah memiliki ruko (rumah toko) empat lantai di kawasan strategis Margonda Raya, Depok, dulu sebelum sukses itu datang, pria berambut gondrong ini sempat merasakan pahit getir berjuang di Kota Jakarta.

”Saya sempat menjual kaset bekas dari penyanyi dan band rock lawas, tanpa toko dan gerobak, hanya beralaskan terpal plastik,” ujar David mengenang masa lalunya. Meskipun hanya memiliki usaha penjualan kaset bekas, namun usaha yang diakuinya tanpa modal tersebut, pelan tapi pasti berbuah pendapatan yang lumayan. Dengan ilmu manajemen yang diperoleh dari pengalaman hidupnya, David mulai menabung sedikit demi sedikit dari penghasilannya menjajakan kaset bekas. ”Kalau ditanya modal, bener-benar nol besar. Saat itu saya hanya bermodalkan 30 kaset bekas koleksi pribadi yang dibawa dari rumah,” akunya. Tahun 2004 menjadi langkah awal David membuka toko musik yang kini telah enam tahun dibantu dengan beberapa sahabat.

Meskipun hanya memiliki modal yang pas-pasan, namun kelahiran Padang, 6 Februari 1974 ini yakin, mampu mengelola toko musik dengan kekurangan yang dimilikinya saat itu. ”Semua serba paspasan, tokonya masih ngontrak, alat musiknya ada yang beli, namun tidak banyak juga yang berupa titipan dari relasi atau teman,” ungkap David. Tidak hanya menjajakan berbagai macam jenis alat musik, David yang memang pernah kuliah teknik mesin itu, melebarkan sayap usahanya dengan menawarkan jasa servis alat musik dan sound sistem. Meski mengaku tidak pernah mengiklankan usahanya, pria berparas kurus ini mengaku selalu kebanjiran orderan servis reparasi beberapa alat musik.

”Mereka (pelanggan) biasanya tahu dari mulut ke mulut, saya tidak pernah mengiklankan ke media massa,sekarang sudah lebih dari cukup pelanggan yang datang ke toko ini,” beber David. Toko yang bernama Toko Musik Dav ini bisa dibilang toko musik terlengkap di kota Depok. Toko yang beralamat di Jalan Margonda Raya No 1 itu menawarkan berbagai macam jenis alat musik baik tiup, gesek, petik dan sebagainya. Selain berbagai jenis alat musik, pelanggan juga bisa mendapatkan perlengkapan alat musik lainnya, seperti sound sistem, amplifier, senar gitar, sarung gitar, semua lengkap di toko berornamen sederhana ini. Saat ditanya kunci kesuksesan tokonya, David menjawab secara bijak, kuncinya adalah loyalitas yang tinggi kepada pelanggan.

Dia tidak hanya menganggap pelanggan sebagai mitra bisnis, tetapi juga relasi yang akrab sebagai kawan. Setiap pelanggan yang datang ke Toko Musik Dav, selalu diberi penawaran yang terbaik. David tidak pernah membedakan pelanggan kelas menengah atas yang sebagian besar musisi terkenal, maupun pemain musik jalanan, semuanya dilayani secara total. ”Biasanya sebelum membeli, kami memberi jasa konsultasi gratis dulu,mereka mau alat musik seperti apa? Apakah untuk akustik atau elektrik? Harga yang mereka tawarkan berapa? Di sini harga barang fleksibel, masih bisa ditawar,” ujar penyuka musik rock ini. Selain itu, hal yang selalu membuat pelanggan datang dan terus datang adalah pelayanan purna jual di Toko Musik Dav.

Jika di tempat lain, pelanggan tidak mendapatkan garansi dari barang yang telah dibelinya, lain halnya di toko ini, pelanggan bisa menyervis dengan harga yang relatif murah bahkan gratis, jika kerusakan memang disebabkan oleh produsen. ”Sebagian besar pelanggan kami setelah membeli alat musik di sini lama kelamaan jadi teman dan sahabat, karena mereka sudah nyaman saat beli alat musik di sini,” umbar David. Dengan pelayanan ekstra tersebut, tak ayal pria berkulit gelap ini mampu meraup keuntungan kotor hingga Rp350 juta per bulannya. Bos yang memiliki 12 orang karyawan ini berencana untuk melebarkan usahanya hingga menjadi lebih luas lagi.

Tahun depan, penyuka automotif ini bersiap untuk membangun one stop musik store yang rencananya akan dibangun di ruko empat lantai yang baru dibelinya. Tidak hanya menjual alat musik dan perlengkapannya, di toko yang rencananya di buka Maret 2011 itu, David berencana membuat studio rekaman, studio musik, event orgenizer, servis center, dan pelatihan musik. Dia mengakui, saat ini usaha terbarunya itu sudah berjalan 50 persen, namun David masih harus mencari sumber daya manusia (SDM) yang bisa mengelola dan mudah diajak kerja sama. Pria yang telah memiliki empat rumah ini mengaku tidak mau terburu-buru untuk membangun usaha barunya tersebut, tanpa melupakan target, David lebih berkonsentrasi dengan apa yang sedang dijalaninya saat ini.

Memasuki masa liburan sekolah seperti saat ini, David mengaku, usaha yang dikelolanya tersebut bisa meningkat pendapatannya 20 hingga 40 persen. Bahkan pada libur hari raya Idul Fitri kemarin, pria keturunan Batak tersebut kebanjiran pelanggan hingga dua kali lipat dibanding biasanya. Menurut dia, setelah hari raya banyak pelanggan yang memperoleh THR (tunjangan hari raya), untuk itu kemarin David hanya menutup tokonya pada hari pertama dan kedua Lebaran saja.

Meskipun telah menjadi pengusaha toko musik sukses, pria yang pernah bermain musik di kafe ini tidak melupakan teman seperjuangan saat masih sulit dulu.

David bahkan sempat membiayai beberapa temannya hingga ke perguruan tinggi. Sebagian besar karyawannya adalah sahabatnya sejak dulu. Meskipun begitu, pria yang hobi menggunakan motor gede ini pernah dibohongi dengan seorang kerabatnya sendiri. Bukannya kapok, David namun malah simpatik dengan orang yang telah membawa kabur uangnya tersebut. Dirinya menyayangkan hal tersebut bisa terjadi, pada hal David selalu ingin membantu rekan-rekannya yang kesulitan. Sebelum toko musik yang dikelolanya sukses seperti sekarang, seorang kerabat sempat menawarkan kerja sama bisnis untuk memodalkan toko musik tersebut.

Awalnya David tertarik, karena modal yang ditawarkan cukup besar, yaitu senilai Rp2 miliar, namun setelah bertukar pikiran dan membagi ide pembangunan usaha, keduanya batal menjalin kerja sama karena perbedaan konsep dan ideologi. Menurut David, relasinya tersebut hanya mementingkan pendapatan dan keuntungan tanpa mengutamakan pelayanan kepada konsumen. Sedangkan filosofinya, yaitu konsumen adalah sahabat, sedangkan keuntungan hanyalah sebagai bonus. Penyuka makanan pedas ini mempunyai pelanggan dari kalangan musisi terkenal,di antaranya Radja, Bonky BIP dan sebagian besar artis Republik Cinta Manajemen yang dikelola oleh musisi Ahmad Dhani.

Saat road show (konser keliling), artis-artis Republik Cinta Manajemen biasanya membutuhkan perlengkapan alat musik seperti senar gitar, pickgitar, stick drum,dan hal lainnya, di sanalah David berperan sebagai distributor untuk menyediakan keperluan musisi tersebut dalam bermain musik. Meskipun telah mempunyai dua cabang toko musik,yang jaraknya bersebelahan, pria yang berencana membuat album musik rock ini masih menjual kaset bekas di Toko Musik Dav. Dirinya berikrar tidak pernah melupakan asal mula dagangan yang telah menyukseskannya tersebut.

”Sampai sekarang saya masih menjual kaset bekas, peminatnya juga masih banyak,t api sekarang yang dijual bukan hanya kaset, tapi juga laser disc, kepingan hitam,dan VHS.Semua berawal dari barang bekas ini dan saya akan tetap menjual meskipun hingga tidak ada peminatnya lagi,” kata David sambil berkelakar. (heru febrianto)(adn)(Koran SI/Koran SI/rhs)

--

Usaha Kecil Seni Ukir yang Beromzet Puluhan Juta
Minggu, 24 Oktober 2010 - 11:04 wib
ilustrasi. foto: Koran SI

NATA Nasarudin, 37, pria asal Jepara, Jawa Tengah, mengaku tidak memerlukan modal besar untuk menjadi seorang pengusaha kecil yang cukup sukses di Ibu Kota.

Bermodal keahlian dalam seni ukir mengantarkan Nata bukan hanya untuk bertahan hidup di kota besar, tapi juga menghidupi orang lain dengan keuntungan yang diperolehnya.

Nata menginjakkan kaki pertama kali di Jakarta sekira tahun 1993. Lulusan sebuah SMK bidang seni ukir di Jepara ini mulai bekerja di daerah Bogor sebagai seorang desain interior. Namun, dia merasa ruang lingkup pekerjaannya tidak cocok dan membuatnya terbatas dalam berkreasi.

Selain itu, imbalan yang diterimanya juga dirasa sangat minim. “Waktu itu saya kerjanya hanya menggambar untuk interior dan dibayar cuma Rp400 ribu per bulan,” ucap Nata saat ditemui di galerinya beberapa waktu lalu.

Berbekal ilmu dan pengetahuannya di bidang seni ukir dan patung, Nata mencoba peruntungan di kerasnya Ibu Kota. Berbekal keahliannya, Nata mencoba peruntungan sebagai pekerja seni di sebuah galeri di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Nata menceritakan, berprofesi sebagai pekerja seni memang terlihat lebih santai.

“Kerja di bidang seni memang menghasilkan untung yang besar, tapi tidak bisa dipastikan karena keinginannya hanya untuk berkarya,” kata Nata.

Bahkan, dia bisa meraup keuntungan puluhan juta dari hasil karya seni yang dihasilkannya. Nata pernah satu ketika meraup keuntungan hingga Rp10 juta dari hasil karyanya yang dibeli pecinta seni di kawasan Ancol.

Dia menyadari, dengan kondisi saat ini, tidak realistis jika dirinya bertahan sebagai pekerja seni yang hanya mengandalkan orangorang yang menggemari karya seni untuk mendatangkan keuntungan baginya. Dia pun hanya tujuh bulan menekuni profesi pekerja seni di Pasar Festival Ancol.

Namun, keinginannya yang kuat untuk tetap mengandalkan seni ukir sebagai basis mendatangkan keuntungan disambut seorang konsultan yang memiliki modal cukup besar. “Tahun 1996 saya diberi kepercayaan mengelola sebuah galeri seni di kawasan Ragunan dengan modal dari seorang konsultan. Saya diminta mengelola galeri sambil menghasilkan karya seni yang bisa dijual di sana,” katanya.

Tetapi, di galeri tersebut dia hanya bekerja empat bulan. Nata mengundurkan diri setelah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Tapi, kejadian itu bukan lantaran tindakannya yang tidak disenangi oleh pemilik galeri.

“Kejadian itu karena teman saya sesama pekerja seni dulu waktu di Ancol. Jadi, saya memilih mengundurkan diri,” kenangnya.

Galeri furnitur berukuran tidak lebih dari 200 meter persegi yang berlokasi di Jalan Siliwangi, Kota Tangerang Selatan, menjadi saksi sekaligus tonggak awal perjuangan Nata. Sekira tahun 1997–1998, Nata mulai merintis usahanya sendiri yang didasarkan atas hobi dan keahliannya di bidang seni ukir.

Dia memilih usaha bidang produksi furnitur lantaran tidak jauh berbeda dengan hobinya di bidang seni ukir. Disinggung mengenai modal awal mendirikan usaha furniturnya, Nata hanya tersenyum. “Modal saya hanya keahlian. Tanpa keahlian, modal sebesar apa pun tidak akan bisa,” ujarnya singkat.

Tapi, dia menyebutkan harus merogoh uang sekira Rp8 juta untuk mengontrak sebuah rumah di Jalan Siliwangi itu yang akan dipergunakan untuk merintis usahanya. Uang tersebut dikumpulkan dari hasil bekerja sebagai pekerja seni di Ancol.

“Kalau usaha furnitur, begitu ada pesanan, uangnya langsung cepat dicairkan. Kalau sebagai pekerja seni, justru kebalikannya,” katanya sambil tertawa.

Nata menuturkan, kurun waktu tahun 1999–2004 merupakan tahun keemasan bagi usaha yang dirintisnya. Alasannya, pada kurun waktu lima tahun tersebut banyak orderan furnitur menghampiri usahanya. “Banyak keuntungan yang bisa didapat saat itu. Justru saat krisis moneter banyak orang asing yang pesan dan harga jualnya bisa mendatangkan untung 50 persen,” ujarnya.

Saat itu, lanjut dia, hanya dengan modal kecil, dia bisa meraup keuntungan yang besar. Dengan bahan baku hanya Rp75 ribu, Nata bisa menjual barang furniturnya seharga Rp350 ribu. Bahkan, pernah suatu ketika Nata mengerjakan proyek dalam jumlah besar senilai lebih dari Rp60 juta. Dari sana dia bisa meraup keuntungan di atas Rp10 juta. Dia juga menyadari, usaha furnitur yang dijalaninya tidak selalu mulus.

Sebab, saat ini banyak pengusaha furnitur dengan kualitas yang sama namun lebih berhasil. Nata menyadari, dengan banyaknya pengusaha yang bergerak di bidang yang sama, persaingan semakin ketat. Bahkan, banyak pula pengusaha furnitur yang sudah go internasional.

Ketika disinggung mengenai rencana jangka panjangnya, Nata belum terpikir untuk mengekspor barang-barang furnitur yang diproduksinya. “Banyak yang ekspor tapi tanpa perhitungan. Hasilnya, dengan perjalanan yang panjang, banyak produk yang justru rusak dan akhirnya jadi gulung tikar,” paparnya.

Kini pengusaha muda beromzet puluhan juta ini tetap mengedepankan kemampuannya dalam bidang seni ukir demi melanjutkan usahanya. Nata menuturkan, meski usahanya mengalami kondisi pasang surut, dengan keyakinan yang kuat, dia mampu bertahan di tengah gelombang pengusaha furnitur yang berskala lebih besar. Nata mengaku, kecintaannya terhadap dunia seni, sesungguhnya bisa menghantarkan dia ke Bali.

Sebab, di sana karya seni sangat bernilai tinggi dan banyak diburu. Tentunya, hal itu berbanding lurus dengan keuntungan yang cukup besar. Namun, dia berpikir tidak perlu ke Bali untuk tetap mempertahankan kecintaannya terhadap karya seni.

“Asalkan kita punya niat besar, kemampuan kita bisa dikembangkan untuk tetap menghasilkan keuntungan,” kata pria rendah hati ini.

Kini, dia memiliki tiga galeri yang berada tidak terlalu jauh dari galeri pertamanya. Dia galeri tersebut kini dikelola oleh adik-adiknya yang sebelumnya ikut berjuang bersama dia membesarkan usaha furnitur yang dirintisnya. Sekali lagi, karya seni menghasilkan keuntungan bagi Nata.(Wisnoe Moerti/Koran SI/ade)

--

Selamatkan Lingkungan dalam Proses Pembuatan Batik
Sabtu, 16 Oktober 2010 - 10:05 wib
Kemas Irawan Nurrachman - Okezone
Pembatik.

BATIK tentu bukan barang asing bagi masyarakat negeri ini. Salah satu ciri khas Indonesia ini kian naik daun setelah Unesco mengakui batik secara internasional pada 2 Oktober 2009.

Namun, apakah Anda tahu kalau proses pembuatan karya bangsa Indonesia bercita rasa tinggi ini ternyata mengorbankan sumber daya alam yang begitu besar?

Kementerian Lingkungan Hidup mengidentifikasi UKM Batik sebagai salah satu penyebab pencemaran sungai terburuk di Indonesia. Penggunaan air, pewarna bahan, dan kompor minyak tanah yang berlebihan membuat pencemaran lingkungan.

Sejumlah penelitian mengungkapkan, industri batik menghasilkan emisi CO2 yang cukup tinggi. Jika hal ini tidak segera disadari oleh pengusaha batik, maka berpotensi pada menghilangnya persedian air di daerah tersebut saat musim kemarau.

Salah satu contoh dampak dari proses pembuatan batik yakni tercemarnya Sungai Tempuran di kawasan Kampoeng Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah. Berdasarkan catatan, 15 tahun yang lalu sungai tersebut sangat jernih dan menjadi tempat hidup ikan-ikan sungai.

Namun saat ini, sungai yang menjadi salah satu pembuangan limbah itu mengalami perubahan warna menjadi hitam pekat. Ini menjadi salah satu dampak paling ekstrim dari pencemaran akibat proses pembuatan batik.

Project Officer Clean Batik Initiative (CBI) Adnan Tripradipta menjelaskan, limbah-limbah tersebut terjadi karena para pengusaha tidak peduli terhadap lingkungan.

“Mereka biasanya tidak mengolah limbah tersebut sebelum dibuang ke sungai. Penggunaan air yang berlebihan membuat air tanah semakin habis. Belum lagi penggunaan zat pewarna yang berlebihan, sehingga jika tidak terpakai langsung dibuang,” kata Adnan saat ditemui okezone, beberapa waktu lalu.

Padahal jika peduli lingkungan, para pengusaha itu dapat melakukan efisiensi di sejumlah lini dalam proses pembuatan batik. Di sinilah diperlukan kesadaran dari para pengusaha batik agar mau melakukan perubahan.

Hal senada diungkapkan Officer CBI Junny Saraswati. Junny mencontohkan, limbah lilin yang biasa dibuang dalam proses pembuatan batik ternyata dapat dimanfaatkan kembali.

“Mereka hanya cukup menyaring air lilin tersebut, dan sisanya dapat dimanfaatkan kembali untuk proses selanjutnya. Jika ini dilakukan, maka para pengusaha dapat melakukan penghematan,” tuturnya.

Tak cuma air lilin, sejumlah alat dan bahan dalam pembuatan batik ternyata dapat diolah menjadi ramah lingkungan dan bermanfaat secara ekonomi.

Misalnya, pemanfaatan kembali larutan bekas pencelupan padding dapat mengurangi konsumsi bahan kimia sehingga dapat menghemat pembelian zat pewarna hingga Rp6,48 juta per tahun dengan biaya investasi Rp400 ribu. Bahkan, dengan teknik ini mampu mengurangi limbah zat pewarna terbuang ke lingkungan mencapai 1.800 liter.

Memasang bak penampungan di sekitar proses pencucian plankan, dapat menghemat konsumsi air hingga 140 m3 per tahun. Secara nominal, penghematan biaya pengolahan limbah Rp700 ribu per tahun.

Tidak hanya itu, dengan memasang alat penghubung antar bak pada unit mesin haspel dapat mengurangi konsumsi air dan menghemat pengelolaan air limbah sebesar Rp18 juta per tahun. Sekaligus dapat mengurangi air bersih lebih dari tiga juta liter per tahun.

Kata Adnan, sebenarnya pengusaha batik dapat berhemat. Namun lagi-lagi karena kurangnya kesadaran dari para pengusaha, terjadi pemborosan dalam proses pembuatan batik.

Selain itu, penggunaan kompor minyak dalam proses canting ternyata memboroskan para pengusaha. Belum lagi, asap dan dampak lainnya dapat mengganggu kesehatan pekerja.

“Kita memperkenalkan penggunaan kompor listrik. Jika dengan menggunakan kompor minyak, bisa berapa liter penggunaan minyak yang dihabiskan. Namun penggunaan kompor ini dengan listrik yang rendah dapat menghemat pengeluaran. Tetapi infrastruktur listrik pasti dilakukan oleh pihak-pihak terkait,” tandasnya.

Dalam program kerja sama Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (EKONID) dengan Uni Eropa ini, setidaknya sudah 60 industri kecil menengah yang ikut dalam program ini.

“Tahun ini kami menargetkan sekira 100 IKM dapat bergabung dengan kita. Namun, kita memang tidak bisa mengubah mindset para pengusaha ini dalam sekejap mata,” tuturnya.(ade)

--

Bryan Tilaar, Kekayaan Datang dari Kerja Keras & Berkat Tuhan
Selasa, 25 Januari 2011 - 07:01 wib
Tuty Ocktaviany - Okezone
Bryan Tilaar. Foto: Tangguh Putra/Okezone

PRIA penerus tahta kerajaan bisnis kosmetik Martha Tilaar, Bryan Tilaar tampaknya memiliki kemampuan analisa yang baik. Hal itulah yang menjadi alasannya mencatatkan saham PT Martina Berto Tbk (BMTO) ke bursa.

Bryan pun memberanikan diri untuk membawa perusahaan yang dipimpinnya untuk melepas sahamnya ke publik. Tapi sebelumnya, dia meyakinkan sang ibunda yaitu Martha Tilaar dan seluruh direksi.

“Kita melakukan IPO supaya bisnis makin besar serta menerapkan good corporate governance dalam skala publik, Saya sampaikan kita hidup di dunia kalau tidak maju otomatis orang lain yang akan membuat kita mundur,” katanya belum lama ini saat ditemui di Bali beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, saham Martina Berto dibuka menguat di hari pertama saat diperdagangkan di pasar saham Indonesia. Tapi, tak lama berselang saham ini langsung anjlok.

Awalnya, harga saham MBTO ini menguat Rp60 ke Rp800 dari harga awal Rp740. Tapi perlahan penguatan tersebut terkikis, hingga akhirnya tercatat minus. Pada perdagangan hari perdananya, harga terendah saham ini adalah Rp670, atau turun Rp70 per saham. Tapi, pada pukul 10.48 waktu JATS, saham ini stagnan di level Rp680, atau turun Rp60.

Kendati demikian, Bryan dan Martha mengaku tidak menyesali akan hal itu. Mereka menyadari bahwa ini adalah sebagai langkah awal untuk lebih memajukkan perseroan. “Saya pribadi enggak terpikir menyesal, ibu juga enggak. Ini adalah langkah awal untuk lebih maju dengan melalui IPO,” ungkap Bryan.

Orang nomor satu di Martina Berto ini cukup handal dalam menjalankan bisnis kecantikan. Terlepas dari itu, peran keluarga khususnya sang ibu yaitu Martha Tilaar memiliki andil yang cukup besar dalam jalannya agar bisa meneruskan usaha keluarga ini.

Walau anak pemilik perusahaan, anak pertama dari empat bersaudara ini mengawali kariernya dari bawah sekali. Pria lulusan University of Redlands Amerika Serikat ini, mengawali kariernya dengan menjadi jenjang Management Trainee untuk Divisi Bisnis Internasional Martina Berto.

Baru setelah 11 tahun menjalani kariernya, Bryan akhirnya dipercaya Martha Tilaar memegang kepemimpinan perusahaan di 2010. Sepanjang waktu kariernya tersebut, Bryan terus mengasah ketajaman berbisnisnya dengan menggali penjualan dan pemasaran perusahaan.

“Memang ujung-ujungnya kekayaannya, tapi itu buah dari kerja keras dan berkat Tuhan YME,” tutup Bryan

--
Omzet Rp400 Juta/Bulan dari Hobi Barang Antik
Minggu, 28 November 2010 - 10:14 wib
Ilustrasi

BERAWAL dari kecintaannya mengoleksi barang-barang zaman dulu yang penuh dengan sejarah dan bernilai seni tinggi, Sinta Dewi Nugraheni kini sukses mendirikan bisnis Galeri Siwil Art di Bawen, Semarang,Jawa Tengah.

Kini perempuan berjilbab ini pun tidak susah-susah lagi mengumpulkan omzet hingga Rp400 juta per bulan dari penjualan lukisan, furniture, rustic dan barang antik lainnya.

Padahal, Sinta sebelumnya tidak pernah berminat menjual barang-barang yang awalnya jadi koleksi pribadinya. Apalagi beberapa barang telah dimiliknya sejak puluhan tahun dan diperoleh dari hasil perburuannya dengan suaminya,Yurianto, yang memang memiliki hobi sama.

“Saya dan Mas Yurianto memang mempunyai kegemaran yang sama, kami sama-sama suka mengoleksi barang dari zaman dahulu kala.Semakin tua barang tersebut, makin tinggi nilai seninya di mata kami,” ujar pasangan yang telah menikah dua puluh tahun tersebut saat ditemui di sebuah pameran di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta,Jumat (26/11).

Hingga suatu ketika, seorang kerabatnya tertarik membeli salah satu koleksi lukisan Sinta. Tidak tanggung-tanggung,lukisan berpotret nona Belanda itu ditawar dengan harga Rp45 juta. Sinta yang awalnya berpikir panjang, langsung memutuskan menjual lukisan berukuran dua kali tiga meter itu.

“Lukisan itu nilai sejarahnya panjang sekali, karena saya mencarinya benar-benar ke pelosok Kota Semarang.Menurut pemiliknya, lukisan itu telah berusia lebih dari 40 tahun,”ujar Sinta.

Bukan hanya alasan memperoleh keuntungan semata Sinta menjajakan sebagian dari koleksinya. Ibu lima anak itu punya alasan tersendiri menjual barang jadul tersebut. Dia mengaku merasa bisa berbagi dengan orang lain yang juga mempunyai hobi yang sama, sebagai kolektor barang tempo dulu.

“Koleksi saya masih banyak Mas, lukisannya saja kalau dihitung ratusan. Dengan berbagi kepada kolektor lainnya saya mempunyai kepuasan tersendiri, jadi saya tidak hanya memprioritaskan keuntungan semata,”katanya.

Sinta menambahkan, untuk memasarkan barang jadul-nya merelakan kediamannya di bilangan Bawen Bukit Permai B-15, Bawen, Kabupaten Semarang, dijadikan galeri barang antik. Pasangan suami istri itu secara resmi membuat rumah pribadinya jadi Galeri Siwil Art pada pertengahan 1990.

“Kebetulan waktu itu kami memiliki empat rumah di wilayah Bawen, karena keempat rumah tersebut memang didekorasi seperti galeri,jadi saya tidak perlu menambahkan hiasan lagi untuk Galeri Siwil Art itu,” tutur perempuan kelahiran Salatiga,15 Juni 1973 itu.

Sinta memang mengaku dulu sempat memiliki empat buah toko galeri barang antik di wilayah Bawen. Namun, karena imbas krisis ekonomi di Tanah Air pada 1998,kedua toko galerinya terpaksa dijual untuk menyambung hidup.

“Bisnis barang antik ini memang naik turun, bergantung perekonomian bangsa Indonesia, awal 1990-an sempat sukses diminati masyarakat. Namun, pada akhir 1990-an malah tidak dilirik sama sekali,karena masyarakat lebih memilih untuk membeli sembako dibandingkan mengoleksi barang jadul,” ungkap perempuan berdialek Jawa itu.

Meskipun demikian, Sinta bersyukur bisnis galeri yang telah dirintis bersama suaminya selama dua puluh tahun itu telah kembali pulih.Jika dulu Sinta dan keluarga sempat bangkrut dan terpaksa menjual dua unit kendaraan pribadinya untuk menopang pengeluaran keluarga, kini perempuan berkulit sawo matang itu malah sudah bisa membeli dua kendaraan baru.

Perempuan yang sebelumnya sempat bekerja sebagai perawat itu mengaku usahanya ini memberikan pemasukan yang lumayan besar. Dari total omzet Rp400 juta per bulan, dia mengaku bisa memperoleh pendapatan sebesar Rp150 juta saban bulan.

“Alhamdulliah semua sudah kembali seperti semula, intinya kerja keras dan mau berusaha.Satu hal lagi, kami selalu menganggap konsumen sebagai saudara karena mempunyai hobi dan minat yang sama yaitu mengoleksi barang antik,”tuturnya.

Buah dari pelayanannya yang ramah tersebut, banyak dari konsumen di Galeri Siwil Art menjadi pelanggan tetap. Hitungan Sinta, ada 15 orang yang telah menjadi pelanggan loyalnya di galeri itu. Mayoritas pelanggannya malah datang dari luar wilayah Jawa Tengah, bahkan ada yang berdomisili di wilayah Jabodetabek.

“Mereka sering ke Bawen hanya untuk membeli barangbarang antik seperti lukisan, lemari dan cermin dari tahun 1960-an. Tapi tidak jarang juga pelanggan kami menelepon dan minta dikirimkan barang yang sama tanpa harus datang ke Bawen,”kata Sinta.

Meskipun sebagian besar konsumennya bertempat tinggal dan berdomisili di wilayah Jabodetabek, namun pemilik usaha dengan empat orang karyawan itu masih belum berniat membuka cabang toko galeri barang antik di Ibu Kota. Hal ini karena sebagian besar bahan baku barang-barang antik tersebut banyak diperoleh di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.

“Selain itu ada rasa kesenangan tersendiri bagi konsumen untuk dapat mengunjungi galeri kami di Bawen,menurut mereka pusat barang antik memang berasal dari kota kecil di Jawa Tengah itu,”ungkap Sinta.(Koran SI/Koran SI/wdi)


--
Game Online Tawarkan Keuntungan Menggiurkan
Jum'at, 26 November 2010 - 09:28 wib
Ilustrasi. Foto: Corbis

Motif seorang gamers di Barat pada mulanya adalah anak remaja yang terkurung di lantai dasar rumahnya, bermain World of Warcraft (WoW) sambil ditemani sekotak minuman ringan.

Akan tetapi, game online saat menjamurnya situs jejaring sosial seperti Facebook seperti saat ini mendefinisi ulang genre itu. Para pengelolanya kini menjangkau pelanggan yang sebelumnya tidak tersentuh, yaitu kalangan berusia lebih tua sebagai penggemar kunci.

Para ”pemain” game itu login ke situs seperti Facebook untuk bermain Farmville Zynga dan Happy Pets CrowdStar tanpa batas waktu. Ini memicu para pembuat game berlomba mencari keuntungan.

”Permainan game ini tidak seperti dalam arti tradisional. Ini lebih seperti hiburan. Game ini mendatangkan pemain game baru dari demografi yang tidak diduga. Game menjadi mesin uang yang potensial,” ujar Net Jacobsson, mantan eksekutif Facebook yang akan meluncurkan perusahaan game Play-Hopper bulan depan.

Berdasarkan laporan dari perusahaan penelitian National Purchase Diary (NPD) Group pada Agustus lalu, 35 persen dari pengguna internet yang bermain game online mengaku belum pernah memainkan segala jenis game digital sebelumnya. Hampir 20 juta orang Amerika Serikat (AS) baru saja memainkan game ini.

Pada Januari sebuah studi dari Information Solutions Group yang melakukan penelitian atas nama Bejeweled PopCap Games menunjukkan gamers yang berasal dari Amerika dan Inggris.

Anda tahu berapa usia rata-rata para gamers pada studi itu? Mereka ternyata perempuan, 43 tahun. Pada games santai generasi saat ini khalayak dibujuk dengan pandangan desain lebih simpel namun menarik.

Ada banyak warna cerah dengan animasi kelap-kelip, disertai seruan seadanya.Game ini berkutat pada aktivitas sederhana seperti beternak sapi dan memberi makan hewan peliharaan. Jauh dari protipe gamesebelumnya yang berhadapan adegan tembak-tembakan hingga berdarah-darah.

”Game ini memiliki aspek mendidik dan pemain menerima dorongan positif. Ini seperti anjing Pavlov,jika Anda mendapat imbalan, Anda ingin terus bermain,” tutur Jacobsson.

Keith Rabois, wakil presiden eksekutif bidang strategi di perusahaan pembuat aplikasi Slide, mengaku terkejut ketika pada 2009 perusahaannya menemukan penggemar yang besar di kalangan wanita yang berusia lebih tua untuk game SuperPoke! Pets.

Ini karena audiens Slide mendapat keuntungan, berupa mengunduh gratis SuperPoke! meski sejumlah dekorasi dan hadiah virtualnya tetap dijual. ”Orang ingin terlihat cerdas dan keren di Facebook meskipun harus mengeluarkan sejumlah uang. Kami menyediakan sarana untuk mereka melakukan hal itu,” ujar Rabois kepada CNNMoney beberapa waktu lalu.

Playfish, pengembang software yang diakuisisi Electronic Arts (EA) pada 2009 lalu, juga tidak mau ketinggalan. Mereka berencana mendigitalkan game yang dicintai sepanjang masa seperti Monopoli. Proyek ini dilakukan setelah melihat segerombolan pemain dengan usia lebih tua cenderung mau mengeluarkan uang dan itu membuat mereka menjadi target utama para kreator game.

”Aspek sosial sudah memperluas konsep permainan game, dan pengembang wajib merespons,” ungkap Direktur Komunikasi Global Playfish Tom Sarris.

Analis dari firma riset Think Equity Atul Bagga menuturkan, pengguna internet awam kini bersedia membayar game online antara 1-3 persen dari jumlah uang yang dikeluarkan pemain game yang benarbenar membeli sebuah jenis game.

Estimasi itu sejalan dengan perkiraan industri game online raksasa Zynga yang menemukan fakta bahwa 3-5 persen pemain game berpotensi mendatangkan uang.Angka itu disampaikan Kepala Perancang Game Zynga, Brian Reynolds, dalam konferensi industri awal tahun ini. Namun, pendapat berbeda diungkapkan pimpinan perusahaan games hi5 Alex St John.

Untuk memastikan berapa besar pengeluaran konsumen terhadap games online harus dilakukan penelitian lebih akurat.Selama ini kebanyakan pemain game masih anak-anak yang menggesek kartu kredit milik ibunya. “Jadi kami melihat pengeluaran untuk game yang menggunakan kartu kredit sama sekali bukan data akurat,”ulas St John. (rd kandi)(Koran SI/Koran SI/ade)
-

Pengalaman Pahit Jadi Modal Meraih Sukses
Minggu, 14 November 2010 - 12:19 wib
foto: Ade/okezone.com

PENGALAMAN menjadi guru paling berharga dalam menggeluti bisnis. Itu dibuktikan oleh Dudi Purwanto yang kini sukses menekuni bisnis bengkel Vespa beromzet Rp500 ribu per hari.

Tidak mudah memulai bisnis, apa pun bentuknya.Hal itu dibuktikan oleh pemuda kelahiran Jakarta bernama Dudi Purwanto. Sukses yang didapatnya saat ini dengan membuka bengkel Vespa di Jalan Kayu Manis Timur 11, Jakarta Timur, diraih setelah melewati waktu bertahun-tahun.

Itu pun setelah melalui kerja keras sejak merintis usaha. Sebelum bengkel bernama Gaya Mandiri (GM) tersebut berdiri, jatuh bangun membangun bisnis dijalani pria yang dikenal dengan sapaan akrab Doyok itu. Bahkan berkali-kali dia ditipu rekan bisnis sendiri yang dianggapnya memiliki niat baik dan bisa menjalankan bisnis bersama-sama.

Kisah sukses Doyok membangun bisnis dengan membuka bengkel berawal dari pemikirannya ketika bekerja di sebuah perusahaan swasta. Menurut dia, menjadi karyawan tidak ada jaminan untuk hari depan, termasuk tak mendapatkan kesejahteraan di hari tua. “Kalau bekerja sebagai karyawan, masa depan tidak terjamin. Belum hari tua nanti,” katanya ditemui di bengkel miliknya.

Sejak pemikiran itu muncul, dari situlah Doyok mulai berencana untuk membangun bisnis sendiri. Waktu itu pada 1995, Doyok memutuskan untuk keluar dari perusahaan tempat dia bekerja.

Langkah pertama berbisnis, Doyok melakukan kerja sama dengan temannya. Namun sayang, ketika usaha pertama yang dirintisnya, yakni bengkel untuk motor Jepang berkembang, Doyok justru ditipu teman bisnisnya.

“Waktu itu saya hanya kuat berbisnis dengan teman selama enam bulan, saya ditipu,” ungkapnya mengenang masa pahit menjalankan bisnis.

Setelah ditipu teman sendiri, Doyok kembali kehilangan segalanya. Modal awal untuk membuka bengkel motor pertamanya itu ludes dibawa kabur oleh rekan bisnisnya.

Namun, kegagalan pertama tersebut tidak membuat Doyok menyerah. Pria berkacamata tersebut akhirnya memutuskan untuk kembali membuka bengkel dan melakukan kerja sama. “Waktu itu, untuk memulai lagi, saya terpaksa meminjam uang,” kenangnya.

Namun, usaha bersama tersebut kembali runtuh. Doyok kembali tertipu teman sendiri. Dalam masa-masa trauma untuk menggeluti bisnis kembali, Doyok mendapat saran dari orang-orang dekatnya untuk kembali membuka bengkel, namun bukan motor buatan Jepang.

Dia disarankan untuk membuka bengkel khusus Vespa. Saran itu akhirnya diterima oleh Doyok dan akhirnya membuka bengkel Vespa dengan nama GM. Awal membuka usaha tersebut, bengkel milik Doyok hanya berukuran kecil dan terletak di beranda depan rumah orang tuanya.

Ujian bagi Doyok untuk merintis bisnis saat itu kembali terulang. Setelah tiga bulan bengkel tersebut berdiri, belum satu pelanggan pun datang untuk memperbaiki Vespa, apalagi datang meminta bodinya dicat biar lebih bagus. “Kalau diingat-ingat, tiga bulan pertama buka bengkel itu, tidak ada satu pun pelanggan yang masuk,” katanya.

Namun, Doyok tetap bersabar. Memasuki bulan keempat, pelanggan pertama pun datang meski teman sendiri. “Ada Vespa satu yang masuk, rasanya senang sekali. Vespa itu akhirnya saya pinjam dan saya pelajari detailnya,” kata Doyok.

Sejak itu, keberuntungan Doyok mulai terlihat. Sejak itu pula satu demi satu bengkelnya banyak didatangi para pemilik Vespa. Mulai dari servis hingga mengecat bodi dengan berbagai warna yang menarik dan inovatif. “Sejak itulah bengkel ini mulai banyak diminati. Saat ini saya kewalahan melayani perbaikan Vespa yang masuk,” ujarnya bersemangat.

Dari pengalaman menjadi mekanik di bengkel miliknya, Doyok menjadi tahu bahwa pelayanan yang berkualitas dan hasil pekerjaan memuaskan membuat dia tidak pernah takut kehilangan pelanggan. “Bagi kami kepuasan pelanggan itu nomor satu,” ungkapnya.

Selain itu, pengalaman ditipu teman, bahkan sampai dua kali, membuat Doyok menjadi lebih percaya diri bahwa dia bisa menjalankan bisnis sendiri. Dalam mengelola bengkelnya, Doyok tidak mau tanggung-tanggung.

Untuk itu, walaupun sudah memiliki tiga orang karyawan, Doyok tidak sungkan-sungkan ikut membantu karyawannya memperbaiki atau mengecat motor keluaran Italia tersebut dengan tangan sendiri. “Jangan mentang-mentang sudah bos, anak buah disuruh kerja sendiri,” katanya merendah.

Berkat ketelatenan dan semangatnya untuk terus maju, sekarang Doyok sudah memiliki ratusan pelanggan. Bahkan menurut Doyok, ada satu keluarga yang menggunakan Vespa selalu memperbaiki atau menyervis ke bengkelnya.

“Sejak angkatan ayahnya, sekarang anaknya ya servis di bengkel ini,” katanya bangga. (bernadette lilia nova)(Koran SI/Koran SI/ade)

--
Sukses lewat Pisau Unik, Omzetnya Rp5 Juta/Bulan
Senin, 18 Oktober 2010 - 09:55 wib
ilustrasi. Dok blogspot

UNIK. Mungkin kata itu bisa menggambarkan usaha yang dirintis Dimas Satrio Pamungkas. Pria 24 tahun ini lebih memilih untuk menjadi pembuat pisau, ketika banyak anak muda memilih jenis usaha yang populer.

Ketertarikan Dimas pada pisau bermula saat menjalani kerja praktik sebagai salah satu syarat kelulusan dari Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung. Dimas menjalani kerja praktik di salah satu perusahaan pisau ternama di Indonesia yakni PT Kardin Pisau Indonesia.

”Waktu itu tugas saya mendapat proyek untuk membuat pisau hias dengan image Gatot Kaca. Tak disangka, pisau pertama buatan saya ”Gatot Kaca series” mendapat perhatian dari banyak orang, mulai dari dosen hingga kolektor,” ujarnya.

Setelah kerja praktik, Dimas juga harus menyelesaikan tugas akhir. Pria yang mengambil jurusan desain produk ini lalu membuat pisau yang agak berbeda dari sebelumnya, yakni pisau tebas yang mengedepankan aspek desain seperti fungsi, teknologi, ergonomi, hingga aspek keamanan penggunaan pisau yang dapat meningkatkan produktivitas kerja.

Dalam proses pembuatan pisau tersebut, Dimas mendapatkan banyak masukan dari perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung, Wanadri.

”Dari situlah saya melakukan observasi untuk mengetahui seperti apa pisau yang dibutuhkan oleh para pecinta alam, misalnya untuk merintis jalan di hutan. Selanjutnya, saya mendapat bantuan dari salah seorang rekan untuk menganalisis shocking impact pada setiap alternatif desain yang saya buat. Pisau yang saya desain, central shooking impact diposisikan pada bilah pisau (bukan handle), sehingga dapat mengurangi tingkat kelelahan pengguna dan dapat menaikkan produktivitas kerja” papar Dimas.

Awal 2009, tak lama setelah lulus kuliah, Dimas mendapat uang jajan terakhir dari orang tuanya sebesar Rp1 juta. Tanpa pikir panjang, Dimas menggunakan uang tersebut sebagai modal awal untuk mendirikan usahanya, Javasmith Indonesia Blacksmith.

Dari modal awal itu, Dimas membuat tiga pisau dan kemudian di jual melalui Forum Pisau Indonesia di situs Kaskus, dengan kisaran harga Rp300 ribu–Rp700 ribu. Dalam waktu dua minggu, semua pisau itu terjual.

Dari situ, kreativitas Dimas terus terasah dan katalognya semakin terisi dengan desain pisau hasil coretan tangannya. Saat ini Dimas menjual pisaunya dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp350.000 hingga Rp1,8 jutaan. Untuk proses produksi satu pisau, biasanya memakan waktu kurang lebih satu bulan.

”Pisau Gatot Kaca saya pernah ditawar Rp5 juta oleh seorang kolektor, tapi saya enggak kasih karena itu karya pertama saya,” ungkapnya.

Berbicara mengenai produktivitas, keberhasilan Dimas tidak lepas dari bantuan tim produksi. Seiring waktu, Dimas kini punya tim produksi yang terdiri atas empat orang pengrajin di Soreang, Bandung. Untuk lokasi pembuatan pisau, Dimas menggunakan bengkel kecil dan sederhana milik salah seorang tim produksi. ”Awalnya, kami buat pisau di dapur rumah,” ujar Dimas sambil tertawa.

Setelah berjalan beberapa bulan, Dimas mulai menawarkan desain produknya ke jasa keamanan swasta, yakni PT Garda Utama Security Services.

”Awalnya saya tawarkan jasa men-develop desain atribut security tersebut dan mereka approve.Saya desain satu set. Waktu itu dibayar Rp2,5 juta. Setelah itu, mereka meminta saya untuk membuat pisau yang bentuknya menyerupai senjata api sebanyak 100 buah. Dari situ, saya mendapatkan uang sebesar Rp9 juta,” ceritanya.

Nahas, ketika usahanya menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, Dimas ditipu klien sehingga modalnya habis. ”Saat itu, yang saya miliki tinggal katalog desain pisau,” lirihnya.

Toh, peristiwa itu tidak menyurutkan semangat Dimas untuk berkarya. Pada Desember 2009, Dimas memutuskan untuk mengumpulkan modal agar bisa membangun kembali usahanya dengan bekerja di perusahaan desain produk furniture di Jakarta Selatan.

Setelah enam bulan bekerja, Dimas akhirnya mengundurkan diri dan fokus untuk mengembangkan usahanya. Kebetulan Dimas mendapatkan tawaran untuk mengerjakan proyek pembuatan pisau khusus kelapa sawit dari sebuah perusahaan sawit nasional. Saat ini proyek tersebut masih dalam tahap riset yang sudah berjalan selama tiga bulan.

”Saya belum bisa memberi tahu nama perusahaannya. Namun, mereka meminta saya untuk mendesain dan membuat pisau yang khusus untuk kelapa sawit, mulai dari segi ergonomis hingga keamanannya, karena selama ini banyak pisau khusus kelapa sawit yang perlu ditingkatkan aspek desain, keamanan, dan kenyamannya,” paparnya.

Untuk urusan marketing, mulai dari promosi hingga memasarkan produk, Dimas melakukannya sendiri. Ilmu pemasaran dipelajarinya secara autodidak atau learning by doing. ”Selama ini, saya mempromosikan produk hanya dari Facebook, forum pisau di Kaskus, forum pisau American Blacksmith Community, dan mulut ke mulut,” kata dia.

Akhirnya, semua usaha Dimas membuahkan hasil. Produknya berhasil menembus pasar Dubai, Toronto, Amerika Serikat (AS), dan Malaysia, meski tidak dengan volume yang besar.

”Pertama kali saya kirim ke Dubai, ada pembeli yang pesan dua pisau yang bernilai sekira Rp2 juta. Setelah itu, saya mendapat order dari Toronto dan Malaysia. Dari Facebook pun, saya berhasil merambah ekspor ke AS,” tutur Dimas.

Dimas pun mengungkapkan alasan banyak orang tertarik dengan pisau. Menurut dia, ciri khas pisau buatannya adalah desain yang kental dengan budaya Indonesia.

”Mereka bilang ke saya bahwa lebih suka pisau tradisional. Dan menurut mereka, buatan saya lebih baik daripada pisau yang ada di negaranya. Selama ini pasar mereka dikuasai oleh perusahaan pisau ternama asal Australia yang khusus membuat pisau tradisional Indonesia dengan harga yang tinggi, jadi itu adalah celah saya agar bisa masuk dengan menawarkan harga lebih kompetitif,” jelasnya.

Dimas mengaku, saat ini keuntungan yang dikantonginya rata-rata mencapai Rp5 juta per bulan. ”Walau mungkin nggak ada apa-apanya jika dibandingkan bekerja di perusahaan, tapi ada kepuasan tersendiri,” ucapnya.(Sandra Karina/Koran SI/ade)

--

Terinspirasi Anak, Botol Bekas Jadi Pendulang Rezeki
Minggu, 17 Oktober 2010 - 14:23 wib
Ade Hapsari Lestarini - Okezone
kerajinan dari botol bekas Foto: Ade Hapsari Lestarini/okezone

JAKARTA - Tak perlu mempunyai jiwa seni untuk membuat sebuah barang menjadi unik. Asal ada kemauan, apapun yang Anda pegang bisa unik bahkan bisa menghasilkan uang banyak.

Lihat saja Bob Novandy. Kesadarannya akan lingkungan membuat pria ini mengolah barang bekas menjadi barang berharga. Istilahnya, dia mendaur ulang barang tersebut menjadi sesuatu yang lebih berguna dan bisa digunakan oleh siapapun.

Awal mula dia mengembangkan bisnis daur ulang botol bekas pun cukup unik. Kalau bukan karena sang anak, mungkin hingga kini bisnisnya tak pernah ada. Sang anak yang menderita autis sejak 2003, selalu membuang sampah bekas air mineral secara sembarangan di depan mata pria yang akrab disapa Bob ini.

"Waktu itu saya masih kerja di DPR jadi sekretaris pribadi di Komisi I tahun 2003. Anak saya yang kedua autis. Dialah yang membuat saya mikir untuk melakukan tugas negara atau tugas keluarga. Setiap mengantar anak saya ke sekolah, dia selalu kabur. Nah, dia suka minum air mineral dan dibuang saja, saya ambil, ini buang sampah di depan saya, apalagi yang enggak saya lihat, ini yang bikin banjir," ceritanya kepada okezone, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lepas itu, dirinya iseng membuat sesuatu yang unik dari botol-botol bekas yang tak sengaja dikumpulkannya. Hasilnya, ternyata selain lucu juga banyak peminatnya. Dirinya bisa membuat lampion, mobil-mobilan, hingga lampu klasik. Dia menambahkan, awal pertama kali karyanya ketika berpartisipasi membuat janur yang bahannya berasal dari botol dan bambu pada saat 17 Agustusan.

"Setiap pulang kerja, akhirnya saya cari-cari botol. Jadi keasikan sendiri. Terus saya bikin-bikin sendiri dan bisa jadi lampion, lampu, ternyata makin lama makin asik. Saya bikin semuanya sendiri," tukas pria kelahiran 12 November 1955 itu.

Bob pun dalam menjalankan bisnisnya hanya bekerja sendiri. Di mana pekerjaan ini diakuinya membutuhkan ketelitian. Namun apabila sedang banyak orderan, dia akan memberdayakan anak-anak muda di sekitar lingkungannya untuk membantu.

Kesabaran, banyak berzikir, membuatnya mampu bertahan, di kala dirinya sudah tidak lagi bekerja di lingkungan DPR. Karya pertama yang dibuatnya pun berupa lafaz tulisan Allah yang dibuat dari 99 botol.

"Karya saya sekarang ada di Taman Safari ada 280 unit di Balairiung, Hotel Safari Garden ada 80 unit. Ada juga yang sudah sampai Hong Kong berupa lampion. Jadi diambil dari untuk merchandise dari Coca Cola dikirim ke Hong Kong untuk Coca Cola sana," tukas pria lulusan IISIP ini bangga.

Dia menjelaskan, untuk membuat semua karyanya tersebut tak membutuhkan modal yang besar. Sekira Rp100 ribu. Dia pun menyebut modalnya hanya butuh KGB, CIA, dan FBI. Apa itu? Ternyata Kater, Gunting, Botol (KGB), Cat, Inovasi, Apresiasi (CIA), serta Fantasi, Budaya, Indonesia (FBI).

"Modal awal paling Rp100 ribu lah, jadi itu untuk semua, kater, gunting, lem tembak. Saya cari botol ke lapak pemulung, saya beli kiloan, per kilo cuma Rp4 ribu. Jadi semua enggak dikonsep, apa yang ada di otak saya saja, semua sudah diperhitungkan, dan saya juga enggak pernah ke sekolah seni," tandasnya.

Demi ingin membagi ilmunya, dia pun membuka workshop di rumah di Jalan Jeruk Manis VI nomor 59 Jakarta Barat. Ini dilakukannya agar orang mulai sadar lingkungan, dan bisa membuat sesuatu yang bekas menjadi berharga. Dia pun tak memungkiri bila ada kendala yang menimpa bisnisnya, seperti masalah hak cipta dan kurang luasnya wadah untuk menapung apresiasinya.

"Saya butuh tempat yang lebih besar lagi, kalau perlu bikin museum, jadi bisa nampung semua. Selain itu untuk hak cipta juga mahal. Pernah saya mau ke Ditjen Haki, saya bayar Rp600 ribu per item, mahal. Jadi saya berencana mau bikin buku. Pemerintah harus mikir itu," tegasnya.

Untuk omzet, dirinya tidak bisa memastikan pemasukan yang datang per bulan. Karena semua berdasarkan pesanan dan hasilnya selalu berbeda-beda serta dari tingkat kesulitan membuat suatu karya. Sehingga, baginya ini merupakan karya seni yang tak bisa dinilai harganya.

"Lampion ini paling banyak peminatnya. Modalnya cuma Rp20 ribu kalau enggak pakai lampu dan dijual Rp100 ribu," ujarnya. (adn)

--

Yul Eko, Sukses Garap Outbound di Perusahaan-Perusahaan Kakap
Rabu, 6 Oktober 2010 - 12:52 wib
Widi Agustian - Okezone
Yul Eko Rubianto. Foto: yuleko.com

OUTBOUND sekarang ini memang tengah digemari. Hal ini pun dilihat sebagai peluang oleh Yul Eko Rubianto. Sekarang ini, perusahaan-perusahaan kelas kakap pun bergantian menjadi klien yang menggunakan jasa outbound yang digawanginya, Binadika Outbound.

Ayah dua orang anak ini mengatakan jika sejumlah perusahaan-perusahaan merupakan kliennya. Sebut saja PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Garuda Indonesia (Persero), serta PT Pertamina (Persero).

Tak hanya itu, sejumlah lembaga-lembaga negara juga merupakan kliennya. Mulai dari Kementerian Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan sejumlah lembaga negara lainnya.

“Dalam seminggu bisa ada dua sampai tiga proyek (outbound), jadi sebulan sekira 12 proyek," tuturnya kepada okezone belum lama ini.

Suami dari Lestariani ini menceritakan jika awalnya gabung ke bisnis ini pada 2005. Itu adalah awal booming-nya outbound di Indonesia. Di mana, pada saat itu, sekolah-sekolah tengah gencar mengadakan outbound.

Selain itu, menurut Eko, bisnis outbound ini tak melulu tentang keuntungan. Dari outbound ini, maka akan terlatih kebersamaan, integritas dan loyalitas. Peserta, maupun trainer juga akan lebih menaruh perhatian kepada lingkungan dan keadaan sekitar. "Karena kepekaan kita akan lingkungan dan alam sekitar juga diasah dengan outbound ini," ungkap dia.

Momentum itulah yang membuat pria yang akrab disapa Eko ini menawarkan jasa outbound ke sekolah-sekolah. Saat itu, Eko mangaku tidak memiliki alat-alat outbound sendiri, lantas dia pun menyewa alat kepada salah seorang temannya. Tapi, saat itu ‘keberanian’ Eko menyediakan jasa outbound baru sampai di level sekolah-sekolah, belum ke segmen perusahaan.

Pernah suatu waktu, dia menangani outbound sebuah sekolah di daerah Komplek Bank Mandiri, Cilandak. Kala itu, permainan khas outbound, flying fox pun dia gelar dengan sangat menarik. Tanpa disangka, salah satu orang tua siswa sekolah itu, yang kebetulan merupakan salah satu Kepala Cabang Bank Mandiri sangat tertarik, dan menawarkan Eko untuk mengelola outbound untuk kantornya.

Proyek yang dia dapat dari orang itu pun lumayan besar, dia lantas membeli peralatan sendiri yang tota nilainya sekira Rp20 juta untuk menangani proyek ini. “Baru dari situ semakin percaya diri untuk maju masuk ke pasar perusahaan-perusahaan,” ungkap dia.


Berkah Internet Marketing

Tapi, ternyata menjalankan bisnis ini tak semudah yang dibayangkannya. Awal Eko menggarap pasar outbound untuk segmen perusahaan, dia berusaha menawarkan jasa outbound-nya dengan cara mengajukan proposal ke sejumlah perusahaan. “Tapi itu kayanya cuma nyangkut di satpam, enggak pernah sampai di tangan HRD-nya,” selorohnya.

Alhasil, dari belasan proposal yang dia kirimkan hanya satu yang mendapat respons. “Hanya satu yang telepon balik. Lalu saya presentasi di depan perusahaan itu, dan itu pun tidak tembus,” bebernya.

Tapi hal itu tak membuatnya patah semangat, dia pun mencari strategi baru untuk memasarkan jasa outbound-nya pun dilakukan. Kali ini, pria kelahiran Jakarta 28 Juli 1979 ini menggunakan media internet. Website out bond-nya, http://www.binadikaoutbound.com, dimaksimalkannya sebagai alat promosi Binadika Outbound.

Dengan internet marketing ini, Eko melanjutkan jika dia tidak perlu membuang banyak energi. Selain itu dia juga menuturkan hal itu akan meminimalisir penggunaan kertas.

“Website sudah dibuat, lalu digabung dengan internet marketing. Selanjutnya, kita kirim ke perusahaan-perusahaan yang ada emailnya. Lebih mudah, lebih murah, dan tidak perlu panas-panasan. Juga ramah lingkungan kan?” ungkap ayah dari Romzy dan Nakia ini.

Tampaknya, ini merupakan titik awal dari majunya Binadika Outbound yang dikelolanya. Dari situ, order dari sejumlah perusahaan mulai menghampirinya. ”Kita juga sering isi blog, sering mengadakan forum, sekarang Binadika Outbond sudah tidak asing lagi di kalangan netter. Sejak itu kita tak pernah kirim email lagi. Klien biasanya klik http://www.binadikaoutbound.com, lalu telepon, kami datang, presentasi, dan deal harga,” bebernya.

Kendati sudah mendapat banyak job dari perusahaan-perusahaan kelas kakap, Eko juga tetap melayani proyek-proyek kecil yang umumnya berasal dari sekolah-sekolah. “Untuk sekolah masih jalan, ada satu taman kanak-kanak (TK) yang tiap tahun manggil kita untuk acara perpisahannya. Tapi, karena nilainya kecil, tidak cukup kalau pakai trainer (profesional), kita pakai saja remaja masjid untuk jadi trainer-nya,” pungkas Eko.
(wdi)

--

Buka Usaha Distro Omzetnya Rp40 Juta/Bulan
Senin, 13 September 2010 - 09:30 wib
Wilda Asmarini - Okezone
foto: Ade/okezone.com

Istilah distribution store (Distro) mungkin kini sudah tidak asing lagi di telinga Anda, khususnya di kalangan remaja. Banyak remaja kini cenderung memilih distro sebagai tempat mereka berwisata belanja pakaian, ketimbang di sejumlah toko-toko retail besar kenamaan di negeri ini.

Terlebih ciri khasnya yang memiliki edisi model dan jumlah kaos terbatas (limited-edition), maka kaos maupun produk distro lainnya makin digemari para muda-mudi.

Namun, kini bisa dikatakan harga kaos-kaos distro memang sudah kompetitif dan tidak lagi semurah saat di awal distro ada. Makin banyaknya pebisnis distro ini disinyalir sebagai alasan harga-harga maupun varian produk distro kini makin meningkat.

Apalagi bahan-bahan kaos buatan garmen lokal kini juga makin tinggi akibat makin banyaknya bahan kain impor China, serta kenaikan tarif dasar listrik (TDL).

Merasa harga kaos distro semakin tinggi, seorang lelaki bernama Mohammad Affandi (26) merasa penasaran dan tergerak ingin mencari tahu mengapa harga kaos saja bisa semahal itu.

Dia yang pada saat itu bekerja di sebuah distro cukup ternama di Bandung mulai memperhatikan dan tidak malu bertanya kepada rekanannya di sana bagaimana proses pembuatan kaos tersebut. Setelah mengetahuinya, dia pun tergerak ingin mempunyai usaha sendiri.

"Awalnya saya bekerja di sebuah distro di Bandung. Saya melihat kok harga-harga kaos makin mahal saja ya, saya pun jadi tergerak untuk mencari tahu bagaimana prosesnya dan apa benar harga aslinya juga semahal itu. Saya pun bertanya kepada teman saya yang berpengalaman di sana, lama-lama jadi tahu. Dari situ lah saya ingin bergerak punya usaha sendiri," tutur lelaki yang mengaku tidak menamatkan kuliahnya di jurusan desain grafis, kepada okezone, belum lama ini.

Namun, bukan usaha distro lah yang dipilihnya sebagai lahan usahanya, melainkan usaha bagian produksinya yaitu sablonan. Meski usaha sablon, dia tetap memilih sablon khusus pakaian distro yang diproduksinya, bukan sablon spanduk, kaos olahraga, jaket, atau pun kaos-kaos pesanan partai politik.

"Saya memutuskan untuk membuka usaha sablonan ini karena saya hobi mendesain yang sangat erat hubungannya dengan proses sablon dan harus detail. Selain itu, modal usahanya minimalis, kerjaannya juga santai, tapi tetap menguntungkan," ujarnya.

Mula buka usahanya itu, dia mengaku mengeluarkan modal awal Rp15 juta. Itu pun hanya untuk membeli peralatan sablon seperti cetakan sablon, 400 papan tempat kaos yang akan dicetak, meja sablon, dan perlengkapan lainnya. Sementara untuk kain atau bahan kaos, menurutnya itu sudah masuk ke bagian produksi, sehingga modal untuk bahan dimasukkan ke dalam biaya pemesanan pelanggan.

"Modal awal tersebut saya peroleh dari hasil tabungan saya bekerja di distro sebelumnya dan juga hasil pekerjaan saya yang pernah menjadi agen penyalur pesanan dari pelanggan ke orang-orang sablonan," ungkap pebisnis sablon sejak dua tahun lalu itu.

Meski modal awal yang dikeluarkan cukup besar, menurutnya itu berlaku dan bermanfaat untuk jangka panjang. Buktinya, katanya, sampai saat ini dia masih menggunakan peralatan yang dia beli di awal tersebut.

Bahkan, dia mengatakan sejak setahun lalu dia sudah menambah satu mesin press (mesin cetak) seharga Rp14 juta. Sebelum memiliki mesin cetak tersebut, dia mengaku menitipkan ke sablonan lain yang memiliki mesin cetak tersebut.

"Sebenarnya dua sampai tiga bulan mula bisnis, itu (mesin press) sudah bisa dibeli, tapi masih ada kebutuhan-kebutuhan yang lebih penting lainnya," tukasnya.

Dia mengatakan, dari usahanya itu dia bisa memperoleh omzet Rp40 juta per bulan dengan laba sekira 25 persennya atau sekira Rp10 juta. Penghasilan tersebut berasal dari pemesanan sekira 2.000 lembar (pieces) kaos tiap bulannya. Tapi bila pemesanan sedang ramai, khususnya saat jelang Ramadhan, libur sekolah, dan akhir tahun, maka produksi bisa mencapai 6.000 kaos.

"Bila Ramadan, omzet bisa naik tiga kali lipat dan laba bisa mencapai Rp40 juta. Itu dari pemesanan 6.000 pieces (full order)," ungkapnya.

Meski berlokasi di Bandung, tapi menurutnya banyak pemesanan justru datang dari luar Bandung, yakni dari Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Alasannya, karena distro-distro di Bandung biasanya sudah memiliki usaha produksi atau sablonan sendiri.

Kini, usaha sablonan itu telah mempekerjakan 15 orang, bertambah dari awal usaha yang hanya memiliki delapan orang karyawan.

Untuk mengembangkan bisnis sablonannya itu, menurutnya tidak terlepas dari prinsip kepercayaannya kepada pelanggan. Selain itu, jujur, tepat waktu, dan tetap menjaga kualitas produk harus tetap dikedepankan.

"Kita harus menjaga kualitas dan memberikan excellent service (servis terbaik) kepada pelanggan, dan tentunya saling percaya," imbuhnya.

Kendati demikian, bukan berarti usahanya itu tidak mengalami satu pun kendala. Kendala, menurutnya pasti ada, seperti dalam mencari bahan.

Karena menurutnya di pabrik itu belum tentu selalu tersedia stok warna bahan yang dia butuhkan. Solusinya, dia harus bisa mengakali mencari jenis warna bahan yang tidak begitu jauh dari tipe warna yang dia butuhkan.

"Kalau dari pembayaran pemesanan, Alhamdulillah tidak pernah (ada kendala). Karena di antara kami juga ada kesepakatan akan adanya sistem pembayaran mundur.
Misalnya, produksi selesai 1 Agustus, maka pelunasannya bisa satu bulan setelah itu," tuturnya.

Produksi Desain Sendiri

Selain menerima desain orang lain dan memproduksinya, ternyata usaha sablonan Affandi ini juga memproduksi kaos merek dan desainnya sendiri. Ilmu yang diperolehnya sewaktu masa kuliah di jurusan desain grafis ternyata tidak disia-siakannya. Dia pun memiliki dua merk desainnya, yaitu Mellow dan Littlecake.

"Kalau produksi merk kaos sendiri sih tidak banyak, proporsinya paling hanya sekitar 20 persen dari total produksi. Itu juga kalau ada sisa-sisa bahan kaos yang sudah tidak terpakai lagi," ujarnya.

Menurutnya, dari bahan sisa pemesanan pelanggannya itu bisa dia manfaatkan untuk mengolahnya lagi menjadi kaos mereknya itu. Dia pun menjual seharga Rp80 ribu untuk kaos hasil desainnya itu. "Itu dijual Rp80 ribu, tapi kan limited edition (edisi terbatas)," tukasnya.

Ternyata kaos desainnya itu juga banyak peminatnya. Meski dia hanya mempromosikannya dari mulut ke mulut atau dari internet, seperti facebook, ternyata animo teman-temannya cukup baik. Dia pun banyak memperoleh pesanan kaos desainnya itu. "Ya, lumayan juga ternyata peminatnya," imbuhnya.

Selain diproduksi menjadi kaos desain sendiri, ternyata sisa-sisa bahan produksi itu juga masih bernilai ekonomis. Pasalnya, sisa-sisa bahan menurutnya terkadang juga dibeli penadah kain bekas yang biasa mereka olah lagi menjadi jok kursi dan sebagainya. Sisa kain bekas itu bisa dihargai Rp8 ribu per kg.

"Lumayan juga hasilnya, yang tadinya cuma kain bekas dan tidak bisa diapa-apakan lagi, ternyata masih bisa menghasilkan uang lagi," pungkasnya.(ade)

--

Olah Limbah Jadi Kain Batik, Omzetnya Rp120 Juta/Tahun
Minggu, 12 September 2010 - 12:23 wib
Wilda Asmarini - Okezone
Kain Batik. Foto: Rani Hardjanti/okezone

Bisnis pakaian batik beberapa tahun belakangan mulai meramaikan sejumlah pusat perbelanjaan di negeri ini. Harga yang makin kompetitif dan corak serta model nan beragam, meningkatkan peminat para konsumen batik. Tak ayal banyak orang yang beralih menjual produk-produk batik.

Sama halnya dengan Leni Mangiri (33), perempuan asal Semarang ini juga memutuskan untuk terjun ke dalam usaha batik sejak sekira delapan tahun yang lalu. Tapi bedanya, bahan baku produk batiknya itu bukanlah berasal dari kain batik jadi nan utuh, melainkan dari limbah batik atau biasa dikenal perca batik.

Selain karena harganya pun lebih murah. Ketertarikannya untuk mengolah dan mengreasikan limbah-limbah batik itu lah yang mendorongnya memutuskan untuk bergelut di bisnis kain perca batik ini.

"Awalnya, karena ketertarikan saya terhadap limbah batik yang terbuang. Kok sayang saja rasanya padahal ini bisa dikreasikan lagi dan menghasilkan uang juga. Lalu saya buat lah perca itu menjadi tas, selimut, sarung bantal, bedcover, dan lain-lain," tutur perempuan lulusan sarjana hukum Universitas Diponegoro ini, kepada okezone, belum lama ini.

Tak hanya itu, risiko penjualan yang lebih rendah pun semakin meningkatkan optimismenya untuk menggeluti usaha perca ini. Meski target pasar yang menjadi sasarannya adalah masyarakat golong ekonomi menengah rendah, dia pun mengaku tidak masalah. Karena justru segmen pasar itu lah menurutnya lebih sesuai dengan jenis produk jualannya dan lebih banyak peminatnya.

"Kalau kain perca itu kan harganya lebih murah, tidak semahal kain batik jadi, sehingga risiko penjualannya pun lebih sedikit. Apalagi produk perca ini kan target pasar dan peminatnya memang banyak datang dari masyarakat kelas menengah rendah, jadi tidak masalah," ungkapnya.

Mula usahanya, ceritanya, dia hanya bermodalkan satu mesin jahit dan empat karyawan, serta uang Rp500 ribu. Dari modal tersebut, menurutnya dia bisa memproduksi 50-100 buah (pieces) produk dengan perolehan laba dua kali lipatnya. Namun untuk mencetak laba tersebut, dia mengakui itu tidak lah mudah. Butuh proses yang cukup lama sekira setengah tahun lamanya untuk mencapai laba tersebut.

"Labanya memang dua kali lipat modalnya, tapi prosesnya lama, sekira setengah tahun. Ini karena masih belum ada yang mengenal produk kami," ujarnya.

Namun kendala di awal tersebut tidak membuatnya patah semangat. Dia pun terus mempromosikannya melalui rekan-rekannya, dari mulut ke mulut.

Bahkan dia pun punya inisiatif untuk mendaftarkan produknya ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Semarang. Dari sejumlah informasi Dinas Perindag inilah menurutnya usahanya itu kian berkembang.

"Awalnya saya ikut diajak berpartisipasi pada bazar yang diselenggarakan Dinas Perindag. Biaya stand pun pada awalnya saya masih dibiayai Dinas Perindag. Dari situ lah produk saya mulai dikenal. Lalu, saya makin banyak dapat informasi tentang bazar-bazar, lalu saya pun ikut, tapi sudah dengan biaya sendiri," bebernya.

Kerja kerasnya itu kini bisa dikatakan telah membuahkan hasil. Sekarang, usaha kelolaannya itu telah memiliki 20 orang karyawan dengan omzet per tahun mencapai Rp120 juta. Produk yang dihasilkannya pun saat ini sudah terdiri dari 50 jenis (item) dengan jumlah berbeda-beda, bisa mencapai ratusan buah, tiap item-nya.

"Omzet dalam setahun bisa mencapai Rp120 juta. Penghasilan terbesar biasanya diperoleh pada masa sebelum lebaran, karena produksi kami genjot dan lebihkan dua kali lipat, sehingga omsetnya bisa dua kali lipat dibanding bulan biasa. Tapi setelah lebaran anjlok lagi karena tidak ada pesanan. Dua bulan setelah lebaran baru normal lagi," paparnya.

Meski sudah meraup omzet ratusan juta, dia mengaku kini usahanya itu justru makin memiliki tantangan besar. Pasalnya, menurutnya kini makin banyak pengusaha kain perca, sehingga harga jual pun makin kompetitif dan keuntungan pun makin berkurang.

"Makin sekarang makin banyak pengusaha kain perca, apalagi harga kain perca di pabrik-pabrik juga makin mahal, sehingga kami pun harus berebutan memperolehnya. Tapi saya juga tidak bisa sembarang menaikkan harga produk karena pembeli suka protes, paling keuntungan yang coba ditekan, dari yang biasanya mencapai laba 40-45 persen, sekarang hanya 20-35 persen," curhatnya.

Untuk itu, lanjutnya, dia pun harus terus berupaya mengembangkan inovasi baru tiap produknya dan kualitas produk tetap dijaga, bahkan ditingkatkan.

"Ya, tetap optimis saja lah, tetap lakukan pekerjaan sebaik mungkin. Tapi harus tetap memberi tahu konsumen bahwa kualitas produk kita berbeda, meskipun harga lebih tinggi dibanding produk lain," pungkasnya.(ade)

--

Charles Saerang, Patahkan Pameo Perusahaan Keluarga
Minggu, 12 September 2010 - 09:37 wib
Rifa Nadia Nurfuadah - Okezone
Charles Saerang. Foto: Rifa Nadia/okezone

Ada pameo tentang perusahaan keluarga yang mengatakan, “Generasi pertama menciptakan, generasi kedua mengembangkan, generasi ketiga menghancurkan”.

Pameo ini tampaknya tidak berlaku bagi Charles Saerang, generasi ketiga dari perusahaan jamu keluarga PT Nyonya Meneer.

Di tangan Charles, PT Nyonya Meneer bukan hanya maju dalam teknik produksi, produknya kini bahkan merajai pasar jamu di Indonesia, bahkan di mancanegara.

Charles yang kelahiran Semarang, 20 Februari 1952 ini adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Saat berusia 24 tahun, dia memegang pucuk pimpinan menggantikan ayahnya, Hans Ramana, yang wafat karena kanker.

Enam bulan sebelum kematian Hans, Nyonya Meneer terkena stroke mengalami kesulitan berbicara. Ironisnya, keluarganya sepakat merahasiakan kematian Hans agar tidak mengganggu kesehatan Nyonya Meneer.

Pada 1978, Nyonya Meneer akhirnya meninggal tanpa mengetahui Hans sudah meninggal. "Jika ibu (Nyonya Meneer) tahu anaknya meninggal, ibu bisa shock," cerita Charles, beberapa waktu lalu.

Kepemimpinan Charles di PT Nyonya Meneer bermula ketika dia diminta ayahnya, Hans Ramana, untuk meneruskan bisnis keluarganya. Saat itu Charles sedang menempuh studi di Miami University Ohio pada 1976.

Sebelum meninggal, Hans meminta agar Charles untuk kembali ke Indonesia meneruskan bisnis keluarganya. Namun, perjalanan Charles menggawangi perusahaan yang kini memiliki sekira 3.000 karyawan tersebut tidaklah mudah. Ketika tiba di Tanah Air, dia harus berjuang keras menaklukkan para pemegang saham keluarga.

Charles yang saat itu terbiasa dengan pola pikir independen akibat pendidikannya di Amerika Serikat pun harus memutar otak menghadapi keluarga besarnya. “Saya merasakan susahnya menghadapi generasi tua. Bagaimanapun juga saya harus menggunakan kultur timur, harus nurut sama yang tua,” jelas Charles.

Keluarga besarnya menentang kepemimpinan Charles. Para paman dan bibinya bahkan membuang Charles ke berbagai daerah seperti Jambi, Palembang, Pekanbaru, Bali, hingga Ambon untuk menjadi tenaga pemasaran Nyonya Meneer.

“Saya buktikan kalau saya bisa menjalankan tugas dari mereka. Kuncinya komitmen. Kalau tidak ada komitmen yang kuat, maka akan sulit meraih kepercayaan keluarga,” papar Charles.

Ibunda Charles bahkan sempat menyarankan suami dr Lindawati Suryadinata tersebut untuk menjual sahamnya di Nyonya Meneer karena tekanan bertubi-tubi dari saudara lainnya. Keluarga besar Charles tidak menginginkan dia duduk di tampuk pimpinan perusahaan.

Dengan tetap memegang adat timur, Charles meneruskan perjuangan membangun dan mengembangkan perusahaan. “Ribuan pekerja bergantung pada perusahaan. Jadi, saya tidak boleh menyerah pada tekanan keluarga besar,” tegasnya.

Charles melakukan perombakan besar dalam tubuh Nyona Meneer. Pengelolaan perusahaan yang selama ini diterapkan ditinggalkan. Charles menggantinya dengan sistem baru yang mengedepankan profesionalisme.

“Sebelum Charles masuk, pengelola perusahaan hanya tahu bagaimana mencari untung tanpa memperhatikan pangsa pasar. Ironisnya, jika mereka mendapat untung lebih banyak dari yang diperkirakan, mereka malah pusing,” papar ayah dua putri tersebut.

Charles mengaku, perselisihan panjang antarkeluarga, sejak 1976 hingga 2000, yang tak kunjung hentilah yang membuatnya kelelahan.

Perselisihan selama 24 tahun tersebut bukan hanya sebatas persoalan penolakan ide atau sikap sinis dan skeptis para anggota keluarga terhadapnya; tetapi juga sengketa perebutan saham keluarga yang menggiring Charles ke meja hijau.

“Akhirnya saya borong semua saham milik keluarga. Semua saudara yang memegang jabatan operasional saya ganti menjadi komisaris. Kemudian saya tempatkan orang-orang profesional untuk mengelola Nyonya Meneer,” kenangnya.

Terbukti, kebijakan yang dinilai banyak pihak sebagai langkah drastis justru mengantarkan sukses bagi Nyonya Meneer. Nyonya Meneer bahkan sedang mempertimbangkan untuk go international.(ade)

--
Kisah Sukses Arifin Panigoro (1)
Arifin, Korban Sanering yang Sukses Jadi Bos Medco
Jum'at, 10 September 2010 - 09:16 wib
Widi Agustian - Okezone
Arifin Panigoro. Foto: Forbes

JAKARTA - Masih ingat dengan istilah redenominasi alias pemotongan nilai mata uang yang diikuti turunya barang dan jasa. Pasti Anda juga masih ingat dengan istilah sanering. Momok pemangkasan nilai mata uang, tapi tanpa diiringi dengan penurunan harga barang.

Terbayang bagaimana menakutkan sanering ini. Parahnya, kejadian ini sempat mendera Indonesia pada era tahun 1965-an. Sanering ini juga, dulu, meruntuhkan bisnis keluarga Arifin Panigoro. Tapi, sekarang, siapa tak kenal tokoh yang sukses membawa Medco ke puncak kejayaannya.

Dahulu keluarga Arifin Panigoro merupakan keluarga yang berwirastasta atau berusaha. Di mana ayah Arifin, Jusuf Panigoro mengembangkan usaha, sementara kakeknya, Halim berjualan batik.

Jusuf aktif berdagang, di mana barang yang dijajakannya beragam antara lain gula, kebutuhan dapur sehari-hari dan kopiah alias peci.

"Dan bisnis tidaklah selamanya langgeng. Bisnis bapak saya anjlok karena imbas pemotongan nilai mata uang atau sanering," jelas Arifin seperti tertulis dalam bukunya berjudul Berbisnis Itu (Tidak) Mudah, seperti dikutip okezone.

Akibatnya, usaha orang tuanya tersebut jatuh. Selanjutnya, rumah yang selama ini ditinggalinya pun harus dijual guna menutup utang. "Saya merasakan betul bahwa survival itu tidak gampang," tuturnya.

Tapi, selanjutnya, bapak Arifin bangkit dan menjadi agen radio dan televisi Philips. Televisi barang dagangan Jusuf ini juga laku keras ketika stasiun relay TVRI di Tangkuban Perahu sudah bekerja.

Karena terlalu terfokus dengan bisnis elektroniknya tersebut, Jusuf jadi melupakan bisnis tektil serta perkembangan yang terjadi atas indstri tersebut. Di mana ketika pedangan lain mengganti dagangannya dari tekstil ke pakaian jadi, Jusuf tidak melakukannya. Alhasil, tokonya ditinggalkan pelanggannya yang umumnya juga beralih lebih meminati pakaian jadi ketimbang bahan tekstil.

Sedikit kisah inilah yang membentuk Arifin menjadi sosok yang berdaya juang tinggi, dan fleksibel. Nilai-nilai itu mendarang daging, dan memicunya berusaha dengan keras.

Arifin merupakan pendiri kelompok usaha Medco yang kegiatan utamanya eksplorasi serta produksi minyak dan gas bumi. Pengalaman masa lalu Arifin itu sangat mendominasi perjalanan bisnisnya yang dimulainya dari bawah dalam hal mengolah emas hitam ini, sampai akhirnya Medco melakukan akuisisi serta berkerjasama dengan sejumlah perusahaan minyak kelas dunia.

Sekarang ini, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) telah beroperasi tak hanya di Indonesia, tapi juga di Kamboja, Yaman, Oman, Linya dan Amerika Serikat.(ade)

--
Kisah Sukses Arifin Panigoro (2)
Medco, Perusahaan Keluarga yang Sukses Jadi Perusahaan Publik
Sabtu, 11 September 2010 - 10:23 wib
Widi Agustian - Okezone
Arifin Panigoro. Foto: Forbes

JAKARTA - Umumnya, suatu perusahaan melakukan go public dengan tujuan meraih dana segar. Tapi, selain itu ada unsur transparansi yang harus dijunjung perusahaan, baik itu bagi kinerja keuangan, maupun operasional.

Untuk itu, otoritas bursa pun sangat mendorong langkah perusahaan, khususnya perusahaan yang dimiliki keluarga untuk melakukan initial public offering (IPO). Salah satu contoh adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), perusahaan keluarga yang dinahkodai Arifin Panigoro pada Mei 1994 itu melakukan IPO.

"Praktis, setelah go publik, status Medco sebagai perusahaan keluarga pun surut dan berganti jatidiri menjadi perusahaan publik," jelas Arifin seperti tertulis dalam bukunya, Berbisnis Itu (Tidak) Mudah, dikutip okezone.

Waktu itu, Medco melepas sebanyak 21,7 persen sahamnya ke publik. Dia mengaku ingin memberikan kesempatan pada publik buat menikmati keuntungan yang didapatkan dari perusahaan ini.

Padahal, Arifin bisa saja menjadikan perusahaannya tersebut menjadi perusahaan tertutup kembali dengan melakukan delisting. Menurutnya, membuat perusahaan tersebut untuk delisting bukanlah hal yang sulit.

"Tapi ada kepentingan lain lagi. Saya tetap disorot. Kalau perusahaan ini saya kuasai lagi 100 persen, bisa-bisa rating perusahaan terganggu," ungkapnya.

Lebih jauh, Arifin menjelaskan, jika dirinya tidak ingin bermain-main dalam dunia yang gelap. Karena itu dia meng-IPO-kan Medco.

Dia menegaskan, berbisnis itu harus dilakukan dengan adil dan transparan. Dengan demikian, perusahaan harus selalau akuntabel dan prudent dalam berbisnis. "Bila akuntabilitanya yang terjaga, ujung-ujungnya justru akan terasa nilai tambah yang lebih tinggi," bebernya.(ade)

--
Mantan Bankir yang Ingin Pegadaian Ada di Mana-Mana
Selasa, 7 September 2010 - 11:47 wib
Widi Agustian - Okezone
Direktur Utama Perum Pegadaian Chandra Purnama

JAKARTA - Walau berlatar belakang bankir, Chandra Purnama terbukti sukses membawa Perum Pegadaian maju dengan pesat. Tapi, apakah Chandra puas dengan Pegadaian sekarang ini?

Mantan bankir PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BNI) ini membuat perubahan positif yang mendasar di Pegadaian. Terbukti, Chandra mampu membuat nilai aset Pegadaian tumbuh hingga 146,05 persen, dari awalnya hanya Rp 7,6 triliun pada saat ia baru menjabat direktur utama pada 5 Mei 2008, menjadi sebesar Rp18,7 triliun.

“Kalau saya sih tidak puas, saya kan orangnya tidak pernah puas,” jelas Chandra saat berbincang dengan okezone di kantornya, Jakarta, belum lama ini.

Bapak tiga orang anak ini mengakui jika ‘mimpi’ yang dia punya memang terlalu tinggi. Chandra hanya ingin melihat ada Pegadaian ke mana saja ia pergi. “Dream saya memang tampaknya terlalu tinggi. Saya mau Pegadaian ada di mana-mana,” ucapnya bijak.

Padahal, sekarang ini jumlah outlet Pegadaian sudah sebanyak 4.700 outlet, atau bertambah sekira 3.500 outlet dalam waktu dua tahun, yakni sejak awal Chandra menjadi leader di BUMN jasa keuangan tersebut.

“Untuk 2010 ini kita targetkan jumlah outlet bertambah sebanyak 1.500 outlet,” kata Mantan Wakil Direktur Utama PT Bank Permata Tbk (BNLI) ini mantap.

Sedikit bercerita, dia menceritakan jika pada awal dia menjabat, dirinya langsung menggebrak dengan mematok tambahan jumlah outlet baru harus sebanyak 800 outlet pada akhir 2008 dari jumlah 1.200 outlet sehingga menjadi 2.000 outlet.

“Ada beberapa orang yang (ragu) bagaimana mewujudkannya, 800 outlet itu bukan jumlah yang sedikit. Tapi nyatanya, pada akhir 2008 jumlah outletnya mencapai 2.087, itu lebih dari yang kita targetkan,” imbuhnya.

Ambisi pria kelahiran Curup, Bengkulu, 23 September 1953 ini memang terkesan ‘dreaming’. Tapi dia bersikukuh jika hal itu bukanlah suatu hal besar yang sulit diwujudkan. “Itu bukanlah hal sulit, semuanya mudah saja,” imbuhnya.

Jika menilik bagaimana pemikirannya, memang semuanya tampak sederhana. Sekarang ini jumlah pasar di Indonesia berjumlah sekitar enam belas ribuan pasar, dan Pegadaian baru masuk di sekira ratusan pasar saja.

Begitu juga dengan jumlah nasabahnya sekarang ini baru 19-20 juta nasabah. Tapi, jumlah penduduk Indonesia sekarang ini sudah mencapai 200 juta lebih jiwa. “Kan jumlah itu masih kecil,” ungkapnya.

Sikap optimis sosok yang mendapat gelar S1 dari Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta dan MBA dari Baldwin Wallace College, Ohio, USA ini memang patut dianjukan jempol. Dia yakin, jika pada 2013 Pegadaian bakal menjadi champion sebagai perusahaan pembiayaan bagi kalangan menengah ke bawah. “Kan saya orangnya selalu optimis,” tukasnya.(ade)

--

Ayam Bakar Mas Mono Goes to New York!
Jum'at, 3 September 2010 - 11:08 wib
Candra Setya Santoso & Widi Agustian - Okezone
Foto: ayambakarmasmono.wordpress.com

JAKARTA - Kesuksesan rumah makan Ayam Bakar Mas Mono tampaknya sudah tidak diragukan. Setelah malang-melintang di dalam negeri, kini Mas Mono membawa usaha ayam bakarnya ini berekspansi ke luar negeri.

Ayam Bakar Mas Mono yang sudah memiliki cabang di Tokyo, Jepang, London, dan Inggris ini juga sering disebut-sebut dan mendapatkan dukungan oleh para tokoh pengusaha yang telah sukses. Sandiaga S Uno, pengusaha muda yang juga merupakan Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang UMKM dan Koperasi juga memberikan dorongan kepada Mas Mono ini untuk terus memperluas sayap bisnisnya.

"Ayam Bakar Mas Mono sekarang ada di Tokyo dan London. Ini akan memperkuat perekonomian kita,” jelas Sandi dalam sambutannya di acara Rapat Koordinasi Nasional UMKM yang diselenggarakan Kadin Indonesia, di JCC, Jakarta, Jumat (3/9/2010).

Sementara itu, Pejabat Sementara Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Adi Putera Taher juga memberikan dukungannya jika Ayam Bakar Mas Mono berekspansi ke New York, Amerika Serikat (AS). "Jika tadi Pak Sandiaga Uno mengharapkan Ayam Bakar Mas Mono mampu berekspansi ke New York, itu pasti bisa," kata Adi.

Seperti dikutip dari ayambakarmasmono.wordpress.com, Ayam Bakar Mas Mono ini dirintis oleh Agus Pramono, yang akrab disapa Mas Mono sejak tahun 2000 lalu dengan membuka lapak di depan Universitas Sahid, Jakarta.

Dengan dukungan istrinya, Nunung yang jago memasak dan Mono yang menjalankan bisnis ini. Pertama kali jualan, Mono hanya membawa lima ekor ayam yang ia jadikan 20 potong. Hanya saja pada waktu itu yang laku hanya 12 potong.

Kombinasi antara menu yang enak dan ketekunan, sedikit demi sedikit membuat ayam bakar mas mono membuahkan hasil. Hari demi hari, minggu berganti minggu, tahun beranjak tahun, ayam bakarnya pun semakin laris. Warungnya yang semula hanya menghabiskan lima ekor ayam sudah mampu menjual 80 ekor ayam per harinya. Karyawan yang semula hanya satu orang bertambah menjadi beberapa orang.

Selanjutnya, Mas Mono mulai melakukan ekspansi warungnya. Dari salah satu pelanggannya, ia mendapatkan penawaran tempat di jalan Tebet Raya Nomor 57, meski lapaknya terbilang kecil. Di tempat ini, Mono hanya bisa menempatkan dua bangku kecil, tetapi di luar dugaan pelayannya membludak sehingga mereka rela makan sambil berdiri.

Setelah sukses di tempat ini, baru Mono mengusung nama Ayam Bakar Kalasan Mas Mono untuk jualannya. Sebelumnya, ia tidak memakai merek untuk warungnya. Sekarang ini, jumlah cabang dari warungnya telah mencapai lebih dari 15 cabang di Jakarta. Antara lain di Jalan Tebet Raya, Jalan Tebet Timur Dalam, Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang, serta Jalan Raya Jati Makmur.

Selanjutnya, Mas Mono juga berniat membuka sejumlah cabang lagi di daerah Jabodetabek. Selain itu, dia juga bersiap-siap membuka cabang di luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, dan Saudi Arabia.

--

Ikut Bazar, Manisnya Omzet Madu Bisa Capai Rp100 Juta
Senin, 13 September 2010 - 16:23 wib
Wilda Asmarini - Okezone
Ilustrasi Madu. Foto: Safrezi Fitra/okezone

Madu, siapa yang tidak mengetahui khasiat minuman alami dari perut lebah ini? Beragam khasiat dan manfaat bisa diperoleh dengan meminum cairan manis nan kental ini.

Produk yang kaya antioksidan ini tentunya berguna untuk meningkatkan kesehatan fisik dan daya tahan tubuh, membantu memperlambat proses penuaan, memperbaiki tatanan jaringan kulit, meningkatkan daya konsentrasi dan daya ingat, bahkan disebutkan berkhasiat untuk meredakan stress atau depresi akibat kelelahan.

Selama ini mungkin Anda hanya terpaku menikmati rasa manisnya dan mengagumi khasiat madu. Tapi pernahkan terpikir oleh Anda betapa berpotensinya madu untuk dijadikan sebagai peluang bisnis?

Seorang perempuan bernama Sherly mampu melihat peluang bisnis madu ini. Sejak lima tahun lalu, sekira 2005, dia mampu menjalankan bisnis madu, hasil inisiatif sang suami. Sang suami yang juga seorang wiraswasta mengajaknya untuk mengelola usaha madu hutan asli Sialang, Riau.

"Usaha madu ini sudah sejak lima tahun yang lalu. Awalnya suami saya yang menawarkan. Melihat saya sering lelah akibat kerja kantoran, dia merasa tidak tega dan menganjurkan agar saya mencoba berbisnis sendiri saja. Ya, saya coba saya jalani saja. Ternyata, menyenangkan juga," tutur perempuan mantan karyawan kontraktor ini, kepada okezone, belum lama ini.

Untuk mengelola usaha madu ini ternyata tidak melulu harus dengan membangun atau mempunyai toko sendiri. Seperti halnya yang dilakukan Sherly, dia lebih memilih memasarkan produk jualannya itu melalui berbagai acara bazar, ketimbang harus memiliki toko sendiri.

Selain hemat biaya,menurutnya, melalui bazar dia bisa lebih banyak memperoleh pelanggan baru.

"Justru dari bazar ini lebih enak (memasarkan dan menjual), karena kalau toko itu kan hanya berupa barang diam, sementara bazar itu kan sifatnya bergerak, berpindah-pindah lokasi. Jadi, sudah pasti (ada penghasilan dan keuntungannya)," ujarnya.

Mulanya dia mengikuti acara-acara bazar karena diinformasikan dan diajak temannya. Lalu dia pun banyak berkenalan dengan pengisi stand bazar tersebut.

Dari perkenalan dengan para pengisi stand itulah selanjutnya dia sering memperoleh informasi akan adanya sejumlah acara bazar.

"Ikut bazar sudah hampir tiga tahun ini. Awalnya tahu dari teman, lalu saya banyak berkenalan dengan pengisi-pengisi stand bazar tersebut, sehingga jadi banyak informasi dari mereka, ya selanjutnya mengalir saja. Dalam satu bulan, saya bisa mengikuti tiga kali bazar, biasanya di awal dan akhir bulan dari kantor ke kantor," bebernya.

Dia mengatakan, dengan menjual seharga Rp50 ribu per botol, dalam tiga hari omzetnya bisa berjumlah sekira Rp2,5 juta pada bazar-bazar hari biasa.

Namun, pada Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang berlangsung tiap tahun selama sebulan ini ternyata dia bisa menerima omzet lebih dari Rp100 juta.

"Di PRJ, omset saya bisa mencapai Rp100 juta. Per harinya bisa mendapat Rp7-8 juta, lebih dari 100 botol laris terjual," ungkapnya.

Dengan semakin meningkatnya omzet usahanya itu, dia pun mengaku makin menikmati menjadi pebisnis. Tidak seperti menjadi karyawan yang harus bergantung pada gaji yang diberikan orang lain, dengan membuka bisnis sendiri dia malah bisa menggaji karyawannya yang kini telah berjumlah 10 orang.

"Lebih enak usaha atau dagang sendiri daripada jadi karyawan, karena saya bisa mengaturnya sendiri. Apalagi yang biasanya saya menerima gaji, sekarang saya malah bisa memberi gaji ke orang lain. Beda aja rasanya," imbuhnya.

Meski dia mempunyai karyawan penunggu stand bazarnya (sales promotion girl/SPG), menurutnya bukan berarti dia hanya melenggang dan menerima hasil penjualannya.

Dia menuturkan, setiap kali bazar dia pasti akan tetap datang memantau stand usahanya itu. Bukan berarti tidak pecaya kepada karyawannya, tapi menurutnya pembeli akan lebih tertarik bila dijamu oleh pemiliknya langsung.

"Setiap bazar saya selalu datang. Karena tidak bisa hanya mengandalkan SPG. Apalagi pembeli lebih tertarik bila langsung berhadapandengan pemiliknya langsung ketimbang karyawan," tukasnya.

Meski usaha madunya ini sudah mengalami banyak kemajuan, tapi menurutnya bukan berarti dia tidak mengalami kendala satu pun.

Hambatan, katanya, pasti selalu ada, terutama bila pasar lagi sepi dan lesu. Dia mengatakan, bila dalam kondisi pasar sepi tersebut, omzetnya bahkan bisa menurun hingga 50 persen.

Tapi kendala tersebut menurutnya tidak terlalu dipikirkan. Dalam berdagang, menurutnya pasti ada kondisi pasang-surut. Jadi, dia pun pantang menyerah.

"Ya, pantang menyerah saja, jangan putus asa, harus semangat. Naik-turun dalam berdagang itu hal yang biasa," ungkapnya.

Usaha Sandal Gabus

Selain mengelola usaha madu, sejak 2007 pun dia juga mulai menjalankan usaha sandal gabus. Tak hanya menjual ukuran anak-anak, sandal gabusnya pun bisa dipakai untuk orang dewasa.

Tak ayal dalam tiap bazar yang diikutinya dia tidak hanya menawarkan produk madunya, tapi juga sandal gabus.

"Usaha sandal gabus ini sejak sekitar 2007. Ini sebenarnya usaha keluarga, saya hanya bantu turut memasarkannya," ujarnya.

Dengan mematok harga Rp25 ribu sampai Rp35 ribu per sandal, menurutnya sekitar 10 pasang per hari bisa laris terjual.
Dia pun mengaku tidak tertarik untuk menjualnya secara grosiran. Alasannya, untuk menghindari penipuan dan tetap ingin fokus pada usaha madunya.

"Kalau penjualan sandal gabus ini tidak terlalu kami targetkan. Sehari bisa terjual kurang lebih 10 pasang," imbuhnya.

Meski terbilang bisnis sandal gabusnya ini tidak selaris usaha madunya, tapi upaya dan inisiatifnya untuk terus melakukan inovasi dan mengembangkan bisnisnya itu patut kita acungkan jempol.

Bila Sherly tidak menyesal berganti profesi menjadi wiraswasta serta memilih usaha madu dan sandal gabus, bagaimana dengan Anda?(ade)

--

Bisnis Kulit Pari Bisa Reguk Rp30 Juta per Bulan
Rabu, 15 September 2010 - 11:03 wib
Rheza Andhika Pamungkas - Okezone
Kulit Pari. Foto: Rheza Andhika/okezone

JAKARTA - Di saat kerajinan kulit mulai banyak dijadikan lahan usaha, mungkin usaha yang satu ini patut Anda coba. Kerajinan kulit ikan pari. Walaupun tak sedikit pula yang berbisnis di pasar ini, namun diakui salah satu pengrajin tersebut, omzet dari bisnis ini sangat menjanjikan.

"Biarpun banyak yang main, namun omzetnya bagus," ujar salah satu pengrajin kulit pari took Romi Andre, Tanzil Indrianto, saat ditemui okezone, beberapa waktu lalu, di JCC Senayan, Jakarta.

Berkat bisnis ini, lanjutnya, dirinya meraih penghasilan bersih per bulannya tak kurang dari Rp30 juta walaupun dengan modal secukupnya. Sementara bahan kulit pari tersebut didapatkannya dari sejumlah pedagang kulit pari di Muara Angke Jakarta, Tuban, Pekalongan, dan paling banyak didapatkannya dari pekalongan.

Untuk bahan kulit pari paling kecil berukuran enam sampai tujuh cm harganya minimal Rp35 ribu. "Itu masih mentah dan belum disamak (proses kulit agar menjadi berwarna)," ujar pria yang telah ikut program pameran Mitra Binaan Bank Mandiri selama dua tahun ini.

Dengan modal tersebut, lanjutnya, dia lalu dapat memproduksi berbagai jenis produk kerajinan kulit pari mulai dari dompet, ikat pinggang, dan sebagainya dengan harga jual antara Rp300 ribu-Rp1,5 juta.

Namun, diakuinya untuk menjalankankan bisnis ini, ia tetap menemui kendala walaupun pasarnya bagus. Kendala pertama adalah sulitnya mencari pengrajin yang mengerjakan dan menjahit kulit pari tersebut. "Karena teknik pengerjaannya berbeda dengan kulit sapi, ini jauh lebih sulit. Jarang yang bisa," terangnya.

Selanjutnya, kendala yang kedua adalah modal. Dirinya memang mengakui walaupun telah memperoleh modal dari Bank Mandiri sebesar Rp20 juta, namun dirinya merasa masih sangat kurang.

"Karena kita kan masih harus beli mesin jahit untuk menjahit kulit pari tersebut. Dan karena kulit pari jauh lebih keras dibandingkan kulit sapi maka mesin jahitnya harus yang berkualitas baik. Minimal produksi Korea Tidak bisa memakai buatan China," jelasnya.

Menurutnya, jika hitung-hitungan modal idealnya, ia menilai Rp100 juta saja masih belum cukup. Hal ini karena harga per satuan mesin jahitnya sekira Rp5 juta.

Untuk menyiasati terbatasnya modal, maka ia membentuk perusahaan patungan bersama kedua rekan bisnisnya. Wawan Purnomo yang memiliki toko di Banyudono Boyolali, Agung yang bertempat di Karawaci Tangerang dan dirinya sendiri yang memiliki toko di Ciumbeulit Bandung.

Selain itu, dirinya juga menyiasati dengan tidak hanya menjual kulit pari saja tetapi juga kulti ular dan kulit sapi. Untuk kulit sapi dibelinya minimal per 500 squarefeet dengan harga Rp15 ribu per squarefeet-nya. "Tetapi masih lebih cepat laku kulit pari. Soalnya bahannya unik dan banyak digemari konsumen," tambahnya.

Produknya tersebut sudah merambah pasar ke luar pulau Jawa melalui beberapa cutomer di Bali, Kalimantan, Sulawesi, Lombok, dan Lampung.

"Untuk pasar ekspor lagi dalam tahap proses penjajakan ke Amerika Serikat (AS) dan kita juga telah mengirimkan beberapa sample ke Jepang. Mudah-mudahan kita bisa segera dapat suntikan modal lagi dari pemerintah," pungkasnya.(ade)

--

Juragan Tahu yang Kini Beromzet Jutaan
Minggu, 19 September 2010 - 16:03 wib
Ilustrasi. Foto: Wordpress

RODA kehidupan memang berputar. Kesabaran, ketekunan, kerja keras,dan pantang menyerah menjadi modal utama seorang pedagang tahu keliling yang kini menjadi bos pabrik yang memproduksi bahan makanan beromzet jutaan rupiah.

Adalah Acim Artasin (45) yang pertama kali menginjakkan kakinya di Jakarta, tepatnya di daerah Kebayoran Lama, sekira 1971 silam. Ketika itu, dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Kedatangannya di Jakarta langsung membawanya mengenal acara berdagang di pasar tradisional. Akhirnya, sembilan tahun kemudian, Acim mulai menggeluti proses jual beli bahan makanan. Berdagang tahu menjadi pilihan pekerjaan baginya. Bisnis keluarga menjadi salah satu latar belakang Acim untuk ikut serta memasarkan tahu dengan sasaran rumah tangga. Mulailah Acim berdagang tahu keliling yang kala itu keuntungan yang didapatnya tidak lebih dari seratusan ribu rupiah per hari.

Meskipun setiap harinya Acim harus berjalan menyusuri jalan di bawah terik matahari, dia melakukannya untuk kehidupan yang diyakini akan lebih baik. ”Sambil berjualan keliling kompleks perumahan, saya juga mulai mengumpulkan modal untuk usaha,” ujar Acim saat ditemui harian Seputar Indonesia (SINDO) di pabrik tahu miliknya di daerah Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Kesabaran, ketekunan, dan kerja keras tanpa mengeluh ternyata membuahkan hasil. Setelah lebih kurang 19 tahun berjualan tahu keliling, modal yang dikumpulkan Acim pun mulai menumpuk. Tidak banyak memang,namun bisa membuat pekerjaannya sedikit lebih ringan. Minimal, dengan modal yang dia punya, bisa membuatnya berjualan tahu di pasar tradisional tanpa harus keliling.

Tahun 2000 mulailah Acim memasarkan tahunya di pasar tradisional. Meskipun sudah berjualan di pasar, Acim tidak berhenti mengumpulkan dana untuk memajukan usahanya. Tiga tahun lamanya di berjualan di pasar, peluang membesarkan usahanya nampak di depan mata. ”Awal 2003, ada pengusaha pabrik tahu yang bangkrut dan menawarkan saya untuk membeli pabrik dan alat-alat produksinya. Kesempatan itu langsung saya ambil,” ucapnya mengenang. Sebuah pabrik pengolahan tahu yang berdiri di atas tanah seluas 100 meter persegi menjadi titik balik perjalanan usaha Acim yang lebih besar. Untuk memulai menjadi seorang bos industri pengolahan bahan makanan, Acim tentu harus merogoh kantong lebih dalam.

Untuk membeli bangunan pabrik pengolahan, dibutuhkan dana yang tidak sedikit, yakni berkisar Rp9 juta. Sementara untuk membeli perabotan dan beberapa alat produksi pengolahan tahu seperti mesin uap,tungku air,dan lainnya, Acim membutuhkan dana minimal Rp7 juta. Tentu saja dana tersebut lumayan besar di mata Acim. Namun, tekadnya sudah sebesar gunung untuk mengambil kesempatan ini dan bisa memulai bisnis dengan keuntungan yang cukup menjanjikan di kemudian hari. Dua tahun kemudian, Acim memutuskan menjalankan bisnis ini. Awal tahun 2005, Acim memberanikan diri meminjam modal ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp35 juta yang untuk membeli lahan pabrik dan bangunannya beserta peralatan pengolahan tahu.

”Harga tanah sendiri sudah sangat mahal sekitar Rp50 juta, tapi bisa dicicil.Jadi pinjaman dari bank bisa untuk memulai usaha sambil menabung untuk melunasi utang tanah dan utang ke bank,” jelasnya. Sadar tidak mampu menjalankan industri pengolahan makanan seorang diri, Acim merekrut tujuh tenaga kerja yang sudah terampil dalam menjalankan mesin pengolahan maupun yang masih baru. Bahkan,dia pernah mempekerjakan 20 orang sekaligus. Namun, jumlah tersebut tidak bertahan lama.Kini,di pabrik kecil miliknya itu, dia mempekerjakan sedikitnya sembilan tenaga kerja.

Acim menceritakan, pada awalnya, industri pengolahan tahu miliknya hanya mampu memproduksi sedikitnya 1 kuintal tahu per hari yang kemudian didistribusikan ke pasar tradisional di daerah Ciputat dan sekitarnya. Menurutnya, tidak banyak keuntungan atau omzet yang diperolehnya pada masa awal menjalankan bisnis ini. ”Paling besar keuntungan per hari hanya Rp300.000. Itu pun sudah dikurangi dengan belanja bahan dasar pembuat tahu dan upah pekerja di sini,” paparnya. Optimisme terpancar dalam diri Acim. Meskipun kondisi awal tidak menguntungkan dan jauh dari ekspektasinya, dia tetap yakin bisnis yang dijalankan akan membawanya pada kehidupan yang lebih baik.

Optimisme yang tinggi membawanya bekerja lebih keras. Alhasil, perlahan tapi pasti, pabrik miliknya mulai berkembang. Acim bukanlah orang pertama yang memiliki pabrik pengolahan tahu di daerah Ciputat dan sekitarnya. Kerasnya persaingan dan kualitas bahan makanan jadi yang diolah di pabrik dan dipasarkan di pasar tradisional membuat Acim tidak boleh menyerah. Alhasil,kini pabrik pengolahan tahu miliknya mampu memproduksi sedikitnya 6 kuintal tahu per hari untuk dipasarkan di rekanannya di pasar Ciputat dan sekitarnya. Lebih dari 1.000 tahu putih ukuran besar dan 790 tahu ukuran kecil yang biasanya dikonsumsi di rumah tangga dihasilkan dari pabrik kecil miliknya. Tentu saja, kuantitas ini harus dibayar cukup mahal.

Biaya produksi dalam sehari mencapai Rp5 juta. Biaya itu tidak hanya dipergunakan untuk membeli bahan dasar pengolahan tahu, biaya proses pengolahan,dan upah bagi para pekerjanya. Jika sehari saja biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp5 juta,maka selama kurun waktu satu bulan, dana sebesar Rp150 juta harus dikeluarkan untuk memproduksi tahu-tahu berkualitas dan bergizi tinggi. Keuntungan yang didapatnya pun terbilang sudah cukup besar baginya. Jika pada awalnya hanya meraup keuntungan Rp300.000 per hari, kini omzetnya jauh di atas itu. Sayangnya, dia enggan menyebutkan omzet yang didapatnya kini.

”Yang jelas bisa untuk menutupi biaya produksi dan bisa membayar cicilan utang ke bank,” katanya sambil tersenyum. Untuk mendistribusikan hasil pengolahannya, Acim juga memiliki sebuah mobil operasional berjenis pikap yang siap mengantarnya ke pasar tradisional setiap malam. Salah satu kebanggaannya dengan bisnis ini, Acim sudah berhasil mengantarkan anaknya menjalani proses pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi di Kota Bandung.

Setiap usaha menuju kesuksesan kerap menemui hambatan. Begitu pula yang terjadi pada bisnis industri pengolahan bahan makanan yang dirintis Acim.

Langkahnya menapaki dunia usaha tidak berjalan mulus. Insiden kebakaran yang melanda pabrik tahu miliknya adalah duka terdalam selama dia menjalankan bisnis ini. Amukan si jago merah pada 2005 silam membumihanguskan seluruh bangunan pabrik tahu beserta isinya. Beruntung, rumah tinggalnya yang persis berdampingan dengan pabrik itu tidak ikut habis terbakar. ”Semua ludes dan tidak bersisa. Yang tersisa hanya pakaian yang menempel di badan saja. Ini cobaan terberat selama saya menjalankan usaha ini,” kenang Acim. Kebakaran yang terjadi lima tahun silam bermula karena mampetnya minyak tanah dalam tungku sehingga membuat api di tungku uap membesar dan melahap seluruh barang di dalamnya.

Kerja keras Acim pun seolah habis tidak bersisa. Akibat insiden amukan si jago merah tersebut, Acim mengalami kerugian sekitar Rp100 juta,angka yang cukup besar baginya. Pascakebakaran,tentu saja semua harus dimulai dari awal lagi. Acim mulai mengumpulkan modal untuk melanjutkan usahanya. Acim pun menggadaikan mobil operasional miliknya untuk mendapatkan dana Rp35 juta. ”Waktu itu tidak berutang lagi karena dibantu oleh saudara-saudara saya yang menyumbangkan barang-barang berharga untuk modal saya.Dari saudara-saudara,saya dapat Rp30 juta,”papar Acim. Tidak mau menyerah dengan keadaan, Acim mulai merangkai kembali usahanya.Tragedi kebakaran tersebut justru semakin memperbesar usahanya.

Bangunan pabrik yang semula hanya 100 meter persegi kini diperlebar hingga menjadi 200 meter persegi.Bangunan pabrik miliknya terlihat lebih luas dan bisa dipergunakan untuk memaksimalkan produksi tahu.Selain itu,dia juga berhasil menebus kembali mobil operasional yang digadaikan untuk memulai usaha pascakebakaran. Bahkan, kini Acim sudah terlihat lebih maju beberapa langkah. Pada sepetak lahan di depan pabriknya, terparkir sebuah mobil keluarga. Meskipun dibeli dengan mencicil Rp4,5 juta per bulan, mobil itu seolah menjadi bukti keberhasilan kerja keras Acim.(wisnoemoerti)(adn)(Koran SI/Koran SI/rhs)

--

Said Didu: Hari Ini Puncaknya Saya Bahagia
Jum'at, 24 September 2010 - 17:40 wib
Wilda Asmarini - Okezone
Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu. Foto: Koran SI

JAKARTA - Lepas dari jabatan sebagai Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu merasa hari ini merupakan puncak kebahagiaannya. Terlebih setelah berhasil menjelaskan kepada anaknya yang baru berusia 10 tahun terkait pencopotan dirinya dari jabatannya di Kementerian BUMN.

"Hari ini puncaknya saya bahagia, setelah jam enam pagi tadi saya menjelaskan ke anak saya, Saddam (10), mengapa saya diganti. Kalau wartawan yang nanya gampang jawabnya, tinggal tanyakan saja ke Menteri, tapi kalau ke anak kecil kan susah," tutur Said saat ditemui usai prosesi pelantikan jajaran eselon I baru Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (24/9/2010).

Dia menceritakan, anaknya bertanya mengapa dirinya diganti, padahal anaknya menganggapnya sebagai orang yang baik dan bekerja dengan baik pula, bahkan sering pulang kerja larut malam. Dia pun menjawab, bahwa jabatannya itu bukan diganti, tapi amanah dari Allah sudah ditarik.

"Tapi dia tanya lagi, kalau Papi (Said) orang baik, kenapa amanah Allah ditarik? Lalu saya ralat lagi, bukan ditarik, tapi amanah dari Allah diganti jadi peneliti, seperti jadi peneliti mobil dan pesawat," ceritanya.

Setelah disebutkan pekerjaannya kini berganti menjadi peneliti, baru lah anaknya itu berhenti bertanya dan mendukung pekerjaannya tersebut.

"Saya harus menjelaskan secara rasional mengapa Papi-nya diganti, akhirnya dia bilang 'Oh Pa bagus itu'," imbuhnya.

Usai prosesi pelantikan pejabat eselon I baru Kementerian BUMN yang dihadiri sejumlah pimpinan perusahaan plat merah, Said pun terlihat santai. Setelah menyalami rekan-rekannya yang baru dilantik, dia pun turut disalami oleh sejumlah direksi maupun komisaris BUMN yang hadir pada acara tersebut. Meski wajahnya terlihat terus tersenyum, tapi dalam hati siapa yang tahu bukan?

Harapan Terhadap Pejabat Baru Kementerian BUMN

Meski tidak lagi menjabat sebagai Sekretaris Kementerian BUMN, dia percaya rekan-rekannya di posisi baru struktur eselon I Kementerian BUMN adalah orang-orang yang lebih hebat dari dirinya. Namun dia tetap menitipkan pesan agar pejabat esselon I baru tetap meneruskan program rightsizing, menjaga BUMN dari intervensi pihak nonkorporat, dan tetap menjalankan good corporate governance (GCG).

"Saya percaya yang dipilih itu orang-orang baik, yang menggantikan saya pasti lebih hebat," ujarnya.

Saat ini beredar kabar bahwa Said akan dipinang oleh Kementerian Keuangan untuk menjabat sebagai Dirjen Perbendaharaan dan Anggaran. Menanggapi kabar tersebut, Said enggan mengomentari lebih lanjut. Menurutnya dia tidak terlalu memusingkan jabatan apa pun.

"Saya tidak pernah mencari, mencintai, dan menikmati jabatan. Itu prinsip saya. Tapi saya mencintai tugas. Saya orang fungsional, tanpa jabatan oke, dengan jabatan juga oke," tandasnya.(adn)(ade)

--

Diawali Door to Door, Kini Penghasilannya Rp40 Jt/Bulan
Minggu, 26 September 2010 - 09:10 wib
ilustrasi. foto: corbis

BERBEKAL pendidikan sebagai sarjana teknik tekstil dan pengalaman menjadi manajer produksi di perusahaan garmen, Bambang bertambah yakin akan usaha produksi aksesori tempat tidur yang dijalaninya bakal meraih sukses, walaupun bermodal pas-pasan.

Jenuh dengan rutinitas kantoran menyebabkan pria bernama lengkap Bambang Suryanto ini berani membuka usaha produksi aksesori tempat tidur. Selain itu gaji yang menurut dia pas-pasan juga memotivasinya untuk membuka usaha kecil.

Dengan keahlian pendidikan sebagai sarjana teknik tekstil, Bambang menentukan pilihannya usahanya dengan membuka produksi garmen khusus aksesori tempat tidur pada tahun 1998 lalu.

”Saat itu saya memutar otak, tidak bisa mengandalkan pendapatan dari satu mata pencaharian saja. Maka pada tahun 1998 saya dan istri memberanikan diri untuk berwirausaha,” ujar lulusan Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta tersebut.

Saat itu, menurut Bambang, modal yang dimilikinya juga pas-pasan. Dirinya mengaku hanya memiliki modal sebesar Rp5 juta. Dengan modal tersebut, pria berusia 51 tahun itu mulai merencanakan dan mengatur usaha yang akan dikelolanya.

Dia hanya membeli dua buah mesin jahit dan bahan baku produksi, seperti kain,benang dan jarum. Karyawannya waktu itu cuma empat orang, itu juga saya ambil dari lingkungan sekitar,” akunya.

Dengan berlokasikan di rumah pribadinya, yaitu di bilangan Bekasi, Bambang yakin usaha yang dijalankannya akan membuahkan hasil meskipun dia mengaku sempat mengalami kesulitan ketika memulai usahanya. Waktu pertama kali, cerita Bambang, untuk mempromosikan barang dagangannya sangat sulit.

”Saya tawarkan secara door to door, mereka menolak mentah-mentah tanpa alasan yang jelas,” kenang pria kelahiran Ngawi itu.

Bukannya patah semangat, pria yang hobi memancing tersebut malah tertantang untuk membuka pangsa pasar yang lebih luas lagi dengan menawarkan produknya kepada setiap orang yang dia temui dan kenal di jalan.

Cara ini terbukti sukses, di mana pun Bambang berada, dirinya selalu mempromosikan barang dagangannya. ”Semakin luas pangsa pasarnya, semakin besar keuntungan yang nanti saya peroleh,” tutur Bambang.

Dari promosi mulut ke mulut, usaha yang dia namakan Nice Sleep Collection ini mulai dikenal banyak orang. Meskipun tidak membuka toko penjualan aksesori dan hanya memproduksi barang, dia mengaku usaha yang dikelolanya tersebut sudah bisa memberikan pemasukan yang cukup memadai untuk keluarganya.

”Waktu memulai usaha ini saya masih bekerja di perusahaan garmen, yah awalnya hanya sebagai usaha sampingan,” ungkap penyuka makanan pecel tersebut.

Dengan semakin banyaknya permintaan pemesanan barang, membuat Bambang kewalahan dan harus memindahkan usaha yang dibangunnya tersebut ke tempat produksi yang lebih besar.

Tahun 2000, pria kelahiran 8 Juni 1959 itu mulai membuka tempat usaha baru, yaitu di wilayah Tangerang. ”Tempat ini saya pilih karena lokasinya yang dekat dengan kantor saya dulu,” tambahnya.

Menurut Bambang, dengan banyaknya pesanan maka usahanya membutuhkan modal yang tidak sedikit sehingga dia pun mencari pinjaman perbankan. Pada tahun 2008, PT Bank Tabungan Negara Tbk akhirnya mengabulkan permohonan kreditnya senilai Rp100 juta.

“Awalnya memang menggunakan dana sendiri, namun karena kebutuhan bertambah untuk mengembangkan usaha, maka kita meminjam dari BTN,” katanya.

Hingga saat ini, Bambang mengaku hubungannya dengan BTN terus terjalin dengan baik. Dia menilai bunga yang diberikan BTN kepada pengusaha kecil dan menengah, seperti dirinya sangat kompetitif sehingga dia pun berencana kembali mengajukan kredit ke BTN.

“Rencananya kami juga akan mengembangkan usaha dan akan kembali mengajukan kredit ke BTN. Alasan kami meminjam ke BTN lantaran suku bunganya kompetitif dan prosedur yang diajukan mudah,” ungkap Bambang.

Pria berkulit gelap itu menuturkan, yang membedakan usaha konveksi garmen yang dikelolanya dengan usaha sejenis lainnya, menurut Bambang, Nice Sleep Collection menawarkan harga yang kompetitif dengan kualitas terbaik. Dengan harga yang lebih terjangkau, Bambang menekan biaya produksi melalui penempatan tenaga kerja dengan tempat tinggal dalam satu atap.

”Dengan begitu saya bisa meneken biaya produksi dengan SDM yang borongan dan bisa diproduksi lebih cepat, karena mereka bisa bekerja kapan saja,” ujar bapak tiga orang anak itu.

Setelah 13 tahun mengelola usaha konveksi pembuatan aksesori, Bambang saat ini mulai menikmati buah dari kerja kerasnya. Jika sebelumnya dia hanya mempunyai karyawan empat orang, saat ini pria berlogat Jawa tersebut membawahi 40 orang karyawan di antaranya menjabat sebagai penjahit, pemotong pola dan pembuat desain.

”Sebagian besar karyawan saya adalah masyarakat kecil yang kekurangan, mereka tidak punya keahlian, namun karena semangatnya yang besar, saya termotivasi untuk memberdayakan mereka,” ujar suami dari Sutiah itu.

Karena harus fokus dengan usaha yang dijalankan, Bambang memutuskan untuk keluar dari kantor pada tahun 2003. Setelah itu, dirinya mulai melebarkan sayap usaha, selain memproduksi konveksi perlengkapan tempat tidur yang sudah ada, dia juga mulai membuka usaha jasa pembuatan aksesori tempat tidur sesuai pesanan.

Beberapa hotel di Jakarta dan Bali sempat bekerja sama dengannya, untuk pembuatan aksesori tempat tidur, seperti seprai, sarung bantal dan selimut. ”Sekarang bukan hanya hotel, beberapa departement store juga sudah ada beberapa yang berminat untuk kerja sama,” ujarnya.

Dengan usahanya tersebut, pria yang bercita-cita menjadi petani ini dapat mengantongi pendapatan kotor sebesar Rp40 juta setiap bulannya. Pendapatan tersebut bisa melonjak hingga dua kali lipat pada saat mendekati liburan sekolah atau libur akhir tahun.

Menurut dia, beberapa hotel bisa memesan perlengkapan aksesori tempat tidur meningkat hingga 100 persen. ”Hal ini karena pengunjung hotel meningkat pesat pada saat liburan, sekarang ini kami sedang mempersiapkan liburan Natal dan Tahun Baru,” kata Bambang. (heru febrianto)(Koran SI/Koran SI/ade)

--

Zong Qinghou Terkaya di China
Jum'at, 1 Oktober 2010 - 07:29 wib
Zong Qinghou. Foto: Forbes

BEIJING - Pendiri perusahaan minuman ringan terbesar di China,Wahaha, Zong Qinghou, menduduki peringkat pertama dalam daftar orang terkaya di China menurut versi Hurun Rich List 2010.

Sedangkan orang terkaya di China tahun lalu Wang Chuanfu harus rela terlempar ke posisi 12 dari daftar Taipan terkaya meski kekayaannya mencapai USD4,6 miliar.

“Kekayaan Zhong, 65, melesat 11 peringkat dibanding tahun lalu menjadi USD12 miliar,” ujar pendiri Hurun Report Ruport Hoogwerf di Beijing.

Dalam pemeringkatan tersebut, yang termasuk individu terkaya di China harus memiliki kekayaan pribadi minimal satu miliar yuan (USD150 juta). Khusus Zhong, kekayaannya melonjak setelah perusahaannya berhasil mengakhiri kerja sama dengan produsen makanan Prancis Danone yang menyepakati penjualan kembali 51 persen sahamnya kepada Wahaha.

Daftar ini muncul sehari setelah investor miliarder Warren Buffett dan pendiri Microsoft Corp Bill Gates menjadi tuan rumah bagi puluhan orang China terkaya di sebuah makan malam pribadi untuk amal di Beijing. Kiprah Zong di dunia bisnis dimulai sejak 1986 ketika dia menciptakan merek minuman ringan Wahaha yang dalam bahasa Inggris artinya “Bayi Ketawa”.

Saat itu dia menjual produknya di toko-toko kecil dan sekolahan di sebelah tenggara Hangzhou. Dari tahun ke tahun produk buatan Zhong semakin bervariasi termasuk minuman ringan rasa susu.Lalu pada 1996,raksasa Prancis Danone membeli 51 persen saham Wahaha dan sukses memberikan kontribusi sekitar 10 persen terhadap pendapatan Danone.

Saat ini Zhong bersama istrinya menguasai 60 persen saham Wahaha. Di posisi enam besar setelah Zong terdapat nama pendiri perusahaan farmasi Shenzhen Hepalink Pharmaceutical, Li Li, dengan kekayaan sekitar USD6 miliar. Kemudian Zhang Yin, pendiri raksasa kertas daur ulang Nine Dragons Paper (USD5,6 miliar); Liang Wengen, pemilik Sany Heavy Industry Co Ltd (USD5,4 miliar); Robin Li Yanhong, pendiri mesin pencari Baidu Inc (USD5,3 miliar); dan Yan Bin, pemilik perusahaan properti Ruoy Chai International Group dan merek minuman Red Bull dengan kekayaan USD5,3 miliar. Dari urutan enam besar daftar Hurun List 2010,perhatian tertuju pada pemilik situs pencari Baidu, Robin Li Yanhong.

Maklum, selain usianya paling muda yakni 42 tahun, Robin juga dinilai mendapatkan keuntungan dari hengkangnya mesin pencari raksasa Google dari China. Kondisi ini berbuah positif bagi pendapatan Baidu sehingga tidak mengherankan jika kekayaan pribadi Robin terkerek dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Baidu bahkan diperkirakan terus tumbuh setelah mereka berencana mengambil alih situs belanja online Taobao. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Hurun Rich List yang melakukan survei sejak 1993 memasukkan orang terkaya di China mulai usia 34 tahun. Angka ini 15 tahun lebih muda dibanding usia orang terkaya yang disurvei di Eropa dan Amerika Serikat.

“China bisa jadi kini memiliki jumlah orang terkaya terbanyak di dunia,”ujar Hoogwerf. Berdasarkan data yang dikutip dari situs Hurun Report,orang terkaya di China terbanyak bermarga Wang (103), Zhang (95), Li (92), Chen (89), Liu (59), Huang 47, dan Wu (40).

--

Bisnis Sandal Inovatif Reguk Rp7 Juta/Bulan
Minggu, 10 Oktober 2010 - 10:16 wib
foto: Ade/okezone.com

JAKARTA - Bisnis sandal dan sepatu tak selalu harus besar. Asal punya kiat jitu, laba pasti bisa ditangguk. Itulah yang dilakukan Rio Pernando, pemilik Kios Brombek Sandal dan Sepatu Inovatif di Jalan Kayu Manis VIII, Jakarta Timur.

Dari bisnis sandal dan sepatu inovatif yang digelutinya, kios kecil Rio mampu mengeruk keuntungan Rp5 juta-Rp7 juta per bulan. Prinsip bisnis yang dianut Rio sederhana saja, sandal dan sepatu adalah barang yang selalu dibutuhkan oleh setiap orang. Karena itu, pemuda kelahiran Padang, Sumatera Barat (Sumbar) itu yakin selalu ada pasar untuk barang dagangannya. Tinggal lagi, memilih produk yang tepat yang akan selalu mampu menarik minat pembeli.

“Karena sepatu dan sandal adalah benda yang dibutuhkan hampir semua orang, dari awal impian saya sudah bulat untuk menekuni bisnis tersebut,” ungkap Rio kepada SINDO.

Karena itu, walaupun tidak sanggup memiliki toko sepatu yang mewah seperti yang berada di pusat-pusat perbelanjaan di kota besar, Rio yakin kios sandal dan sepatu kecilnya cukup untuk memulai bisnis impiannya.

Impian tersebut diwujudkannya dengan membuka kios sandal dan sepatu di Jalan Kayu Manis VIII, Jakarta Timur. Namun, sadar bahwa kios kecilnya tidak akan menarik jika tidak menawarkan sesuatu yang lebih, Rio pun berinovasi.

Maka,kios kecilnya pun meriah dengan warnawarni dari sandal dan sepatu yang dipajang di depan serta di dalam etalase tokonya. Strategi itu efektif, maka mantaplah Rio menggeluti dan menekuni bisnis yang disebutnya sepatu dan sandal inovatif.

Inovatif, menurut dia, karena sepatu dan sandal yang dijualnya memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan sandal yang dijual di tempat lain. Sandal dan sepatu yang dijualnya berdesain menarik, bahkan unik, dengan warna dan motif yang beragam.

Dengan menjual produk yang demikian, kata dia, segmen pasarnya pun beragam, mulai dari anak-anak,remaja hingga orang tua. “Sepatu dan sandal yang kita jual di sini semuanya harus bernuansa inovatif dan kreatif. Bukan sekadar sepatu atau sandal biasa seperti yang dijual di toko-toko pada umumnya,” jelasnya.

Bisnis sepatu dan sandal inovatif yang ditekuni pemuda kelahiran 1975 ini menurut dia memang baru berjalan sejak dua tahun yang lalu. Namun, sejak bisnis itu digelutinya, Rio mengaku tidak tertarik untuk beralih ke bisnis lain. Padahal, sebelum menggeluti bisnis sepatu dan sandal inovatif, Rio mengaku telah mencoba berbagai jenis usaha dan bisnis lain. Hal itu tak lepas dari perjalanan panjangnya dalam berbisnis.

Kendati masih terbilang muda, Rio mengaku memiliki pengalaman hidup serta bisnis yang cukup panjang. Hal itu, jelas dia, menjadi faktor yang membentuk keteguhannya dalam berusaha, salah satu modal yang terpenting untuk memulai bisnis.

Rio bercerita, dia memulai perjalanan usahanya sejak meninggalkan tanah kelahirannya di Padang, saat dirinya masih kelas lima sekolah dasar menuju ke Jambi. “Waktu itu saya ingat sekali, saya masih ingusan dan masih memakai celana pendek, tapi saya sudah nekat ingin berjuang sendiri,” tuturnya.

Di Jambi, Rio ikut dengan orang dan membantu berjualan sepatu dan sandal. Sambil bekerja di Jambi, Rio menyelesaikan pendidikannya di tingkat sekolah menengah pertama (SMP).

Namun, tekad Rio kecil untuk terus mengembangkan diri rupanya amat kuat. Maka, Rio pun berniat pindah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Untuk mencapai Jakarta dari Jambi, ia menumpang pada sebuah truk karena tidak memiliki uang cukup untuk ongkos naik bus. “Sebenarnya ada saudara di Jakarta, tapi sampai di Jakarta saya tidak menemukan alamat saudara itu,” kenangnya.

Karena tidak bertemu dengan saudaranya itu, akhirnya selama tiga tahun Rio terkatung-katung di Ibu Kota. Lakon sebagai anak jalanan pun terpaksa dijalaninya, mengais rezeki di mana pun itu berada. Bertahun-tahun tanpa modal di Jakarta, berbagai pekerjaan dilakoni Rio.

Mulai dari menjadi kernet angkutan kota hingga tukang cuci mobil, semua ditempuhnya. Kehidupan yang lebih baik dijalaninya ketika menjadi sopir angkutan kota. “Waktu itu ekonomi mulai membaik. Namun saya tetap berpikir bahwa menjadi seorang sopir tidak bisa membuat masa depan cerah,” katanya.

Sambil menikmati lakon sebagai seorang sopir angkutan kota, Rio terus berpikir bagaimana caranya untuk memulai bisnis sendiri. “Saya dari dulu sudah mandiri.Dari kecil saya tidak mau jadi kacung,” tegasnya.

Sambil bekerja sebagai sopir, Rio melanjutkan sekolahnya ke STM III Jakarta. Setelah itu, dia kembali mencari peluang di tempat berbeda. Dia berangkat ke Bandung, Jawa Barat, untuk menemukan peluang yang dicarinya.

Di Bandung, pemuda yang berulang tahun pada bulan Agustus itu kembali menjadi sopir angkutan kota, tapi dia juga menyempatkan diri untuk menggeluti bisnis pakaian bekas yang dibelinya dari Batam. “Waktu itu, sambil menjalani bisnis itu, saya mulai yakin bahwa tetap saja yang paling berpeluang adalah bisnis sepatu dan sandal,” kata Rio.

Karena itu, tekadnya pun bulat untuk membuka bisnis sepatu dan sandal. Dari segala jerih payahnya di Bandung, Rio pun mengumpulkan uang untuk modal memulai bisnisnya di Jakarta.

Di Jakarta, Rio membeli kios seharga Rp10 juta. Untung, kios yang dibelinya dijual dengan segala isi yang ada di dalamnya,termasuk sandal hias. “Jadi saya tinggal mengelola dan melanjutkan. Itu sesuai dengan yang saya inginkan,” tuturnya.

Seiring waktu, usaha Rio pun berkembang. Dia rajin mencari produk baru yang menarik untuk dijual di kiosnya. Para pelanggan pun terus berdatangan. Soal prospek bisnis sepatu dan sandal inovatif yang digelutinya, Rio menjawab bijak.

Menurut dia, kunci sukses adalah mencintai pekerjaan yang dilakoni. Sebab, jika tidak mencintai bisnis yang digeluti, bisnis itu tidak akan berjalan, apalagi memberikan keuntungan.

“Apa pun yang dilakukan, khususnya dalam dunia bisnis,pasti ada hasil yang akan dituai. Kalaupun belum sukses, setidaknya menghasilkan.Tapi akan jauh lebih baik jika kita juga mencintai bisnis itu,” ujarnya.

Dua tahun menggeluti bisnis sepatu dan sandal inovatifnya, Rio mengaku sudah mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, menabung, dan bahkan menyewa satu lagi kios di samping kios sepatu dan sandal miliknya.“Tanpa bisnis ini, hidup saya tidak akan seperti sekarang,” tuturnya. (bernadette lilia nova)(Koran SI/Koran SI/ade)

-

Bisnis Menghias Kerudung pun Prospeknya Menjanjikan
Minggu, 3 Oktober 2010 - 11:51 wib
ilustrasi Dok : Kerudung Rizhani

BISNIS kerudung dan aksesorisnya saat ini mulai naik daun seiring banyaknya wanita Indonesia yang mengenakan busana muslimah. Namun, tidak banyak yang tahu di balik munculnya tren busana muslim juga terdapat bisnis jasa menghias kerudung yang cukup menjanjikan.

Peluang bisnis menghias kerudung inilah yang ditangkap oleh Eni Fitriah dan Desy Ria Saputri. Keduanya memanfaatkan momentum tren busana muslim dengan membuka bisnis jasa kursus menghias kerudung. Keahlian menghias kerudung Eni dan Desy tidak datang sendiri melainkan dari hasil belajar selama keduanya bekerja di perusahaan fashion muslimah. “Pada akhir 2009, kami memutuskan untuk membuka usaha menghias kerudung sendiri dengan berbekal pengalaman menghias kerudung di perusahaan fashion muslimah. Kita terbiasa dulunya menjadi stylist acara fashion show dan talkshow,” ujar Eni kepada harian Seputar Indonesia.

Eni menjelaskan, niat membuka kursus menghias kerudung ini sebetulnya lebih kepada syiar agama Islam. Baik Eni dan Desy berharap dengan adanya kursus menghias kerudung tersebut semakin banyak wanita muslimah yang mengenakan kerudung. “Saat ini pemakaian kerudung tidak seperti yang dibayangkan pada zaman dahulu. Ada berbagai gaya sederhana, namun tetap sesuai ajaran Islam,” papar lulusan S1 Akuntansi ini. Dalam mengawali usahanya tersebut, Eni dan Desy berinisiatif memasang iklan jasa menghias kerudung di salah satu tabloid. Hasilnya, ternyata cukup mengesankan. Jasa kursus menghias kerudung dengan nama kursus kreasi kerudung cantik ini pun mulai dilirik oleh para kaum hawa.

Adapun biaya yang harus dikeluarkan untuk memasang iklan di tabloid berkisar Rp500 ribu-1 Juta. “Saat ini peserta paling banyak adalah yang membaca iklan kami di tabloid,” tutur Eni. Selain mengeluarkan biaya untuk iklan, modal awal untuk membangun jasa kursus menghias kerudung ini, ujar Eni, tidak terlalu besar. Beberapa item yang dibutuhkan sebagai modal awal hanya kerudung, aksesori, jarum pentul, dan cermin. “Modal dari dana pribadi kami berdua. Modal tersebut digunakan untuk membeli beberapa perlengkapan untuk kursus, seperti kerudung, aksesori, jarum pentul, dan cermin. Totalnya sekira Rp3-5 Juta” ungkap wanita kelahiran Tangerang, 1 Juni 1987 tersebut.

Eni menjelaskan, jasa kursus menghias kerudung yang dijalankannya ini lebih banyak private, yakni dengan mendatangi langsung konsumen. Eni dan Desy membagi kursus menghias kerudungnya tersebut menjadi tiga kelas. Untuk kelas pertama adalah basic private dengan harga Rp300-400 ribu per orang. Sementara untuk kelas intermediate, para pelanggan harus membayar sebesar Rp500-600 ribu. Kemudian kelas yang ketiga adalah kelas pernikahan (wedding), di mana konsumen harus merogoh kocek di atas Rp2 juta.

“Itu harga khusus untuk satu orang private. Tetapi kalau ada konsumen yang ingin ikut kursus berjumlah lima orang, harga per orang bisa lebih murah atau bisa setengahnya,” tutur Eni. Lamanya waktu kursus, papar Eni, juga bergantung dari kelas yang dipilih. Untuk kelas basic private, para konsumen memperoleh kursus menghias kerudung selama 3–4 jam. Sementara untuk kelas intermediate dan wedding sekira 4–6 jam.

“Kalau untuk intermediate dan wedding biasanya lebih lama waktu kursusnya,” ungkapnya. Menurut Eni, konsumen kursus kreasi kerudung cantik datang dari berbagai latar belakang. Mulai dari perias pengantin hingga ibu rumah tangga. Eni menjelaskan, umumnya para perias pengantin tersebut tertarik mempelajari cara menghias kerudung karena saat ini cukup banyak pengantin yang mengenakan kerudung.

“Perias pengantin sebenarnya ingin belajar karena saat ini banyak pengantin berjilbab. Konsumen dari salon juga banyak. Selain itu, ada ibu rumah tangga dari kalangan menengah ke atas dan wanita pekerja,” ungkapnya. Eni menuturkan, selain tidak membutuhkan modal yang besar, biaya operasional yang dikeluarkan setiap bulannya pun tidak terlalu besar. Biaya untuk membeli kerudung, aksesori dan transportasi hanya sekira Rp500 ribu-1 juta.

“Angka tersebut tergantung kebutuhan. Setiap bulan kami membeli kerudung untuk kemudian diberikan kepada para konsumen setelah mengikuti kursus. Sekarang juga kami lebih memperbanyak perlengkapan,” ujar Eni. Selain membuka jasa kursus menghias kerudung, Eni dan Desy juga membuka jasa menghias kerudung pengantin. Jasa menghias kerudung pengantin ini bersamaan dengan usaha kursus. Menurut Eni, keuntungan dari merias kerudung pengantin ini cukup besar.

“Omzet rata-rata per bulan dari kursus dan merias kerudung pengantin sekira Rp3–5 juta. Namun, itu bergantung dari jumlah acara pernikahan dan kursus,” tuturnya.

Peluang untuk terjun di dalam mode muslim terbuka lebar dewasa ini. Eni mengakui, prospek jasa menghias kerudung yang sudah dijalaninya hampir sepuluh bulan ini cukup menjanjikan apabila ditekuni dengan serius.

“Kalau kita berniat menekuni, jasa menghias kerudung merupakan suatu keuntungan besar karena hasil yang diperoleh cukup lumayan,” papar Eni. Dia menjelaskan, saat ini kebutuhan akan stylist kerudung sangat tinggi. Sebagai contoh stylist kerudung untuk fashion show busana muslim. Menurut Eni, para perancang busana muslim juga menaruh perhatian kepada aksesori, termasuk kerudung yang dikenakan oleh para model.

“Jasa stylist kerudung untuk acara fashion show cukup tinggi sebab mereka tidak punya stylist kerudung. Kemudian acara talkshow agama juga biasanya membutuhkan stylist kerudung. Jadi, pada dasarnya prospek bisnis ini ke depan sangat bagus,” ujarnya.

Eni mengakui, tidak semua orang mengetahui ada yang namanya kursus menghias kerudung. Padahal, jasa kurus menghias kerudung ini sudah cukup lama dikenal di dunia mode. Adapun setiap jasa kursus menghias kerudung yang ada saat ini memiliki ciri khas tersendiri. “Kalau kita berniat untuk mengajarkan teknis dasar cara memakai kerudung yang nyaman sekaligus tetap fashionable,” papar Eni. (maya sofia)(adn)(Koran SI/Koran SI/rhs)

--

Rahasia Sukses ala Richard Branson
Selasa, 28 September 2010 - 08:22 wib
Sir Richard Branson. Foto: Koran SI

JAKARTA - Miliarder papan atas dunia asal Inggris Sir Richard Branson akhirnya datang ke Indonesia.Dia berbagi pengetahuan serta pengalaman meraih kesuksesan dalam berbisnis.

“Ikuti mimpi dan buatlah perbedaan,” ujar Branson tentang rahasia suksesnya di hadapan peserta kuliah umum bertajuk Transformation through Innovation–The Richard Branson Story di Jakarta, Senin (27/9/2010) malam.

Branson bukan tipe pengusaha yang mengikuti pakem-pakem atau teori yang tercantum dalam buku ekonomi.Dia berdiri dengan filosofi bisnisnya sendiri.Bagi para pelaku bisnis pemuja teori ekonomi, filosofi bisnis Branson mungkin terdengar aneh.

Nyatanya,usaha Branson terus berkembang dan meraih banyak kesuksesan. Branson kini memimpin Virgin Group, perusahaan yang memiliki lebih dari 300 anak usaha, termasuk Virgin Records,Virgin Megastores, dan Virgin Atlantic Airways.

Majalah Forbes pada tahun lalu menempatkan Branson sebagai orang terkaya ke-261 dunia. Nilai kekayaannya diperkirakan mencapai USD3,9 miliar (Rp35 triliun). Tadi malam, Branson bercerita tentang masa lalunya dan kiat-kiatnya berbisnis. “Saya berhenti sekolah pada usia 15 tahun,” ujarnya.

“Ibu saya tidak punya banyak uang untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Saya akhirnya keluar dari sekolah untuk bekerja,” kenangnya.

Branson adalah sosok menyenangkan. Dia kerap berkelakar dengan mimik lucu.Namun, di balik gaya santai dan apa adanya,dia punya semangat dan kegigihan luar biasa. Paling tidak, dia kerap melontarkan pesan sederhana, tapi berarti bagi generasi muda yang ingin terjun ke dunia bisnis.

“Jangan cuma duduk di belakang meja.Bergerak. Cari sesuatu yang membuat Anda tertarik,” cetusnya.

Sesuatu itu,menurut Branson, akan membuat manusia memiliki gairah.“Apa pun yang membuatmu tertarik,kejar dan raihlah itu,”katanya sambil mengepalkan tangan, tanda bahwa dia sungguh bersemangat.

Branson seperti tak pernah kehabisan energi.Dia berkeliling dari satu negara ke negara lain tanpa mengeluh. Rahasianya, seperti dituturkan Branson, adalah semangat untuk membuat perbedaan bagi hidup orang lain. “Kalau punya rasa itu,maka saya jamin,Anda tidak bakal mengeluh kelelahan,” papar lelaki berambut pirang ini.

Peserta kuliah umum Branson sangat antusias. Banyak peserta mengajukan pertanyaan. Branson pun tertawa senang. Dia mengaku tidak menyangka, orang muda Indonesia punya semangat yang melebihi gairahnya selama ini.Kepada peserta,Branson meminta supaya mereka terus bertransformasi.

“Jangan berhenti bertransformasi. Siapkan diri untuk terus, terus, dan terus bertransformasi,” pesan Branson yang seusai acara langsung terbang ke New York, Amerika Serikat.

Direktur BNI Darmadi Sutanto mengatakan,inovasi Branson sejalan dengan program transformasi bisnis yang saat ini tengah diupayakan perusahaan. Dia berharap pengalaman bisnis Richard Branson yang kerap di luar pakem dapat memberikan motivasi bagi kalangan muda, pengusaha, dan masyarakat Indonesia. Darmadi menuturkan, Branson yang brilian tapi terkesan radikal memiliki keberanian untuk keluar dari zona aman.

“Dia berani melakukan transformasi,tanggap akan perubahan lanskap bisnis serta memiliki daya saing luar biasa,”katanya.

Branson adalah salah satu pengusaha legendaris Inggris. Dia memiliki perusahaan penerbangan, label rekaman, perusahaan telepon genggam, sejumlah restoran mewah, serta Pulau Karibia. Semua usaha bisnis Branson berada di bawah satu naungan, yaitu Virgin Company. Selaku pemilik Virgin Company, Branson terus berupaya memperluas gurita bisnisnya.

Branson kerap meluncurkan usaha yang terdengar tidak masuk akal,tapi sungguh-sungguh terjadi. Bayangkan, dia menciptakan Necker Nymph,perpaduan antara pesawat dan kapal selam yang bisa menyelam hingga kedalaman 130 kaki. Ternyata kesanggupan Necker NymphbelummemuaskanBranson.

Rencananya,dia bakal memperbarui si pesawat bawah laut supaya mampu menyelam sampai 35.000 kaki. Necker Nymph mampu mengangkut seorang pilot dan dua penumpang dalam perjalanan bawah laut selama dua jam. Necker Nymph bukan satu-satunya “mainan” Branson.

September tahun lalu, dia memperkenalkan produk terbaru Virgin Galactic, Space Ship Two (SS2). Dua tahun mendatang, pesawat ini siap membawa penumpangnya ke luar angkasa. Pesawat luar angkasa sepanjang 18 meter ini mampu menampung satu pilot, dua kru, serta dilengkapi ruang istimewa untuk enam penumpang.SS2 memang belum diujicobakan.

Namun, hingga kini sudah tercatat 300 orang yang memesan tempat dalam penerbangan perdana SS2. Untuk menikmati sensasi melayang-layang dalam SS2, calon penumpang itu rela mengeluarkan USD200.000.(anastasia ika/Koran SI/wdi)

--

Kisah Penjual Bakso
"Lonjakan Untung Hanya di Awal Puasa, Seterusnya Normal"
Jum'at, 10 September 2010 - 13:23 wib
Safrezi Fitra - Okezone
Warung Bakso Gaul. Foto: Safrezi Fitra/okezone

"Kita buka puasa di Bakso Gaul aja yuk!" ujar salah satu remaja di Cengkareng Timur. Bakso Gaul memang cukup terkenal di Cengkareng Timur. Hal inilah yang membuat kami tertarik untuk mengobrol dengan pemilik warung bakso tersebut.

Muhammad Kasrudi, pemilik Warung Bakso Gaul menuturkan bahwa dia dan istrinya baru melakukan usaha bakso sejak dua tahun yang lalu. Sebelumnya Mas Rudi membuka usaha Warung Tegal bersama keluarganya.

Niatnya untuk mengalihkan usaha dan beranjak dari warteg ke bakso diakui Mas Rudi adalah karena melihat kesusksesan saudara sepupunya yang lebih dahulu melakukan hal yang serupa.

Namun berbeda dengan warung bakso lain di daerah cengkareng yang mengalami peningkatan omset setiap bulan puasa dan lebaran. Warung Bakso Gaul mengalami sebaliknya.

Dia mengatakan bahwa setiap bulan puasa omzetnya malah menurun karena hanya mengandalkan pembeli saat berbuka sampai Isya.

"Kalau bulan puasa waktunya sempit sih, paling pas buka saja. Nanti pas Isya saya tutup, nanti habis tarawih baru buka lagi sampai sahur," ujarnya, saat ditemui okezone, di warungnya, belum lama ini.

Membuka warung dari malam sampai sahur juga menurut Mas Rudi, terkadang percuma karena pembelinya hanya sedikit, mereka hanya berharap bisa menemani warga yang bergadang sampai sahur.

"Kalau buka malam sampai pagi itu kaya sia-sia sih ya, waktu awal-awal puasa itu rame, tapi kesini-sininya udah sepi lagi. Nah nanti baru rame lagi pas H-4 atau H-5, soalnya udah pada libur, jadi banyak yang bergadang," ujarnya.

Saat ditanya mengenai omzet per hari, Mas Rudi mengatakan lebih bagus omzetnya saat hari pertama dan hari kedua puasa. Dia juga mengatakan lebih bagus lagi pada hari-hari biasa, karena pendapatannya bisa stabil. "wah, yang enak waktu awal-awal puasa, itu omzet saya sampai satu setengah (juta)," tandasnya.

Dikatakan olehnya, bahwa pendapatannya sehari-hari di luar bulan puasa hanya mencapai Rp500 ribu sampai Rp700 ribu.
Menurutnya peningkatan pendapatan tersebut terjadi karena awal puasa banyak warga yang libur, dan tidak tidur sampai sahur. Sama halnya dengan pada waktu menjelang Lebaran.

"Mungkin kalau Lebaran bisa lebih bagus, tapi saya enggak pernah buka pas Lebaran. Pulang kampung, nanti buka lagi seminggu abis Lebaran," ujarnya.(ade)

--

2 komentar: